//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - wen78

Pages: 1 [2] 3 4 5 6 7 8 9 ... 68
16
iyah itu kalau dilahirkan jadi dewa dan kita masih ingat akan dhamma seperti di bumi ini skrg, kalau gak ingat dhamma gimana? krn da keenakan di sorga jadi dewa dan berusia panjang, karena menurut yg pernah saya baca biasanya kl da jadi dewa da enak berumur sangat panjang banyak yg gak ingat dhamma, bersenang2 sampai waktu usia dewanya udah habis, ciri2nya biasanya gak pernah keringatan jadi keringatan (salah satu pertanda seorang dewa usianya telah habis), kemudian timbul gelisah dan hanya bisa duduk menanti kelahiran kembali.

Apa kita dilahirkan di alam dewa lalu pikiran kita bisa seperti skrg ini tahu dan paham akan dhamma? bukannya terbentuk kepribadian dan pemikiran baru? apalagi di sana cuma ada senangnya gak ada susahnya, jangan2 malah menganggap dhamma itu lebih rendah dr pangkat dia sbg dewa. saya juga gak begitu yakin hahaha mau tanya yg pernah jadi dewa :)

sedangkan di pureland buddha amitabha sudah pasti yg terlahir di sana akan diajar dhamma, jadi meskipun kita dilahirkan di sana pikiran kita masi tahu akan Dhamma, dan pureland bukanlah surga atau jadi dewa di sana dan hidup bersenang2 tp masih harus belajar lagi. saya ambil sisi positifnya saja loh... percaya atau gak percaya yah urusan masing-masing :)

Meski saya Naif seperti yg dikatakan bro Kelana, oklah kita anggap saja sutra amitabha ataupun pureland cuma tambahan atau karangan orang tertentu/sutra palsu, jadi meski nianfo amitabha gak akan pernah dilahirkan di sukhavati dan sukhavati pureland itu tak pernah ada.
Di sini Saya juga mengingat akan Karma dan Hukum alam Semesta pasti tidak sembarangan dan berlaku adil. dengan ketekunan nian fo, membayangkan sifat luhur para buddha, samadhi, menjalankan kebajikan dan DJMB8 meski tidak dilahirkan di sukhavati, krn sukhavati itu rupanya cuma karangan, menurut temen2 setelah mati saya akan dilahirkan di mana? (ini gak usah dijawab tar saya mati dulu baru saya ceritakan ke kalian)  ;D

Karena pribadi saya "Yang penting adalah apa yang saya lakukan sekarang ini dan saya tidak pernah memikirkan hasilnya"   _/\_

anda tidak naif bro, justru saya salut dengan anda.
yg di bold justru menunjukan anda hidup dimasa kekinian  ^:)^

17
Saya jadi berpikir,tentang sebuah permainan pesan berantai.Yang kami mainkan dulu.
Pada start awal isi pesannya:KUKU KAKI KUDA KAKAKKU KAKU, KUKU KAKIKU KAKU,KAKI KUDA KAKAKKU KAKU KAKU. Setelah dibisikkan dari orang per orang,sampai orang yang terakhir.Pesannya jadi :KUKUKU TERASA KAKU KAKU,KUDA KAKAKU JADI KAKU,KAKI KAKAKKU KAKU KAKU.

Saya pikir inilah yang terjadi sehingga banyak aliran.Dan kemudian yang satu merasa benar dari yang lain.Jika saya melihat prosesnya,saya cenderung mencari yang terdekat.Kalau dalam permainan pesan berantai,yang pertama menerima bisikkan yang akan saya cari.Jika memang pada bisikan pertama sudah beda maka tidak akan terlalu jauh bedanya.

Pernah saya membaca sutta theravada dan sutra mahayana.Walaupun belum banyak yang saya baca.Saya melihat pada sutta theravada dalam pemaparannya singkat,lugas dan padat.Butuh konsentrasi untuk mencernanya.Dan dalam sutra mahayana,disaat membacanya terkadang seperti sebuah cerita.Dan maaf sebelumnya,cara pemaparannya sama seperti saya membaca INJIL.


Entah memang itu cara menyesuaikan dengan umat atau memang sudah terjadi perubahan.Tapi kalau saya cenderung berpikir memang karena perubahan.Bagaimana agama itu dibuat perubahannya semakin manusiawi dan menyesuaikan dengan perubahan jaman.Dan sekali lagi saya minta maaf jika yang saya tulis ini kurang berkenan.Pernah terpikir bahwa mungkin saja karena turun temurun ajaran,ada yang mencontek dan membuat aliran dengan nama yang berbeda seperti kr****n.Dimana ajarannya lebih dipermudah dan tidak rumit.Umatnya boleh hidup berumah tangga.Tapi menikah hanya 1 kali.Hidup berpasangan sampai mati.Tapi pemimpin agamanya tidak boleh menikah.Kemudian datang orang bijaksana dizaman berikutnya melihat bahwa itu masih kurang bijaksana.Dan ingin melakukan perubahan.Sehingga mengaku ada wahyu atau bisikan Tuhan.Pemimpin agamanya boleh menikah.Boleh beristri lebih dari 1.Perceraian diperbolehkan.Yang saya rasa itu tidak mungkin dari Tuhan.Tapi mungkin dari hasil pikiran saat melihat satu kejadian.

Contoh:
-Seorang wanita yang terikat dalam 1 pernikahan.Ternyata si suami sering main tangan kepada si istri.Gemar berjudi dan lain-lain.Dan agamanya tidak memperbolehkan perceraian.
-Ada seorang laki-laki yang terikat dalam 1 pernikahan,ternyata si istri penyakitan dan tidak bisa melayani kebutuhan batinnya.Atau tidak bisa memberikan keturunan.

Perubahan demi perubahan terjadi.
Dan jangan heran jika besok terjadi, musik diperbolehkan dalam agama Buddha.Malah mungkin 100th ke depan,bhikku boleh menikah.

yg hijau,
sutra mahayana yg anda maksudkan adalah....

yg biru,
bisa jelaskan kearah mana maksudnya? sutra mahayana adalah hasil sebuah perubahan atau apa yg anda maksudkan terjadi perubahan?

yg merah,
disini anda mengatakan bahwa musik tidak diperbolehkan dalam Buddhsim. bisa anda tunjukan sutta dari Theravada dimana memiliki arti dan makna terdalamnya yaitu musik tidak diperbolehkan dalam Buddhism atau yg memiliki arti dan makna terdalamnya dimana mengenarisil tidak diperbolehkannya musik dalam Buddhism apapun tujuan dan manfaatnya dari musik itu sendiri?

18
Mau nanya adakah temen-temen Buddhis yang menganut aliran TheraMahavadayana?
saya pribadi penganut theravada tetapi ada juga ajaran Mahayana yang menurut saya bermanfaat jadi diamalkan juga seperti nianfo (melafalkan nama Buddha) dan amitabha sutra. apakah saya termasuk aliran baru ini?  ;D  _/\_

bukan aliran baru. berarti bro freecloud79 melihat dari makna/inti dari ajaran tanpa melihat pembatas/perlabelan/pengkategorian.
sebenarnya banyak yg seperti bro freecloud79, hanya saja ada yg cenderung mengatakan menganut aliran tertentu, karena lebih terasa dekat/nyaman terhadap aliran tsb.

19
Lingkungan / Re: Mengapa ada anggota monastik melakukan kekerasan?
« on: 05 November 2010, 06:53:36 PM »
bro Wirandi yg baik,
saya setuju dgn anda, bagi petapa seharusnya meninggalkan urusan keduniawian memang ajaran dhamma, bukan utk terlibat kekerasan spt contoh diatas....saya secara pribadi AMAT SANGAT kecewa juga, sedangkan di Srilanka lain lagi, sejak awal sy masuk kuliah sy udah terkaget2 melihat anggota sangha demonstrasi, kalo ga salah sy pernah posting menanggapi ttg thread anggota sangha demonstrasi. lupa di thread mana. musti nyari ditimbunan segunung postingan....hehe...

mettacittena,

ada yg saya ingin tanyakan,
jika petapa/bhikku seharusnya meninggalkan urusan keduniawian, yg saya ingin tanyakan, apakah menolong, menyebarkan, dan mengajarkan dharma termasuk kategori urusan keduniawian? jika bukan, termasuk urusan kategori apa?
pemahaman saya, petapa/bhikku bukanlah meninggalkan urusan keduniawian, tetapi meninggalkan kemelekatan pada kenikmatan keduniawian yg menghambat tercapainya pencerahan.
jika dikatakan meninggalkan urusan keduniawian, seharusnya seorang petapa/bhikku hidup diluar keduniawian ini yaitu hidup mengasingkan diri seperti tinggal di dalam hutan dimana tidak akan "menyenggol" baik sengaja atau pun tidak sengaja terhadap segala sesuatu dengan keduniawian yg mayoritas manusia hidup saat ini.

mohon penjelasannya  _/\_

20
Kafe Jongkok / Re: apakah coecoed mencerahkan atau menyesatkan?
« on: 04 November 2010, 11:59:29 AM »
aye gak vote, krn dibalik sesuatu yg dianggap menyesatkan, bisa menjadi sebuah pencerahan jika mampu mencerna sesuatu yg dianggap menyesatkan, dan sesuatu yg dianggap mencerahkan bisa menjadi sebuah penyesatan jika tidak mampu mencerna sesuatu yg dianggap mencerahkan.

sekarang tinggal pengadilannya....

butuh pengacara gak?  ;D

21
Meditasi / Re: meditasi kekosongan?
« on: 02 November 2010, 11:07:03 PM »
Tentu saja meditasi kekosongan yang saya maksudkan bukan membayangkan semuanya adalah kosong, melainkan meditasi untuk menyelami hakekat kekosongan (sunyata) dari semua fenomena (dharma) seperti dalam Prajna Paramita Sutra. Walaupun menjelaskan tentang kekosongan atas semua fenomena, dalam Prajna Paramita Sutra (Heart Sutra/Sutra Hati) tidak menjelaskan secara detail bagaimana kita bisa mengkontemplasikan kekosongan (walaupun dalam komentarnya, Master Sheng-yen berusaha menjelaskan kontemplasi kekosongan dari sudut pandang Zen).

Mungkin sdr. Wen bisa menjelaskan bagaimana mengkontemplasikan kekosongan berdasarkan Surangama Sutra atau menurut pandangan Zen.

saya belum bisa komentar, karena saya belum baca, belum mengerti, belum memahami, belum melaksanakan, dan belum mengalami segala sesuatu yg adalah isi dari Surangama Sutra.
tapi, IMO, mengkontemplasikan kekosongan dalam meditasi adalah bagian dari proses perjalanan meditasi itu sendiri sesuai perjalanan meditasi nya itu sendiri. tidak bisa langsung loncat ke tahap tersebut, malah bisa2 menjadi sebuah illusi dan masuk dalam lingkaran piti.

yg sudah dijelaskan oleh para guru, adalah apa adanya. saya sendiri belum bisa mencerna kalimat Master Sheng Yen, karena belum mengalaminya secara langsung.
akan saya coba tanyakan mengenai cara untuk "mengkontemplasikan kekosongan" , tapi tidak janji :)


jika tertarik, mungkin bisa ikut retret Chan intensive bulan Febuari selama 14 hari. ada beberapa persyaratan untuk ikut retret ini. jika berminat, akan saya foward informasinya.

22
Meditasi / Re: meditasi kekosongan?
« on: 02 November 2010, 12:07:49 AM »
^
rasanya gak ada yg namanya meditasi kekosongan.
AFAIK, Surangama Sutra salah satu sutra utama dalam Chan/Zen. belum pernah membaca isinya, baru ringkasannya, dan rasanya tidak ada meditasi kekosongan yg seperti yg dimaksud oleh TS, yaitu membayangkan semua ini adalah kosong.
"membayangkan" sendiri adalah sebuah illusi. jika sebuah illusi menjadi sebuah yg real, maka akan menjadi "salah jalan" yg sudah diluar meditasi Buddhism.
merujuk ke Heart sutra, dimana secara sederhana ada point penting dimana, isi adalah kosong, kosong adalah isi, isi tapi kosong, kosong tapi isi.
meditasi Chan/Zen itu sendiri adalah Samantha dan Vipasanna berjalan secara bersama2, sehingga tidak ada istilah "membayangkan" dalam meditasi.
dan AFAIK, meditasi dalam mahayana yaitu Chan/Zen itu sendiri.

jika memang ada, tolong di kutip kalimatnya. akan saya foward ke guru Chan dan beberapa senior untuk konfirmasi/penjelasan utk hal tsb.
thx.

23
Gadget dan Toys / Re: canon atau sony atau merek lainnya?
« on: 29 October 2010, 10:59:28 PM »
Untuk kamera dslr bagusny merk apa yah? Budget 3jtan

IMO, semua merek kualitasnya utk harga segitu hampir sama. yg penting after sales-nya ok dan accesoris-nya gampang dicari & byk yg jual.
yg penting bukan kamera-nya, tp yg photo nya. dan kl bisa di save dlm RAW. sisanya di utak atik di Photoshop.

24
Mahayana / Re: Re: Apakah ada aturan Bhante Mahayana boleh main musik?
« on: 27 October 2010, 08:19:43 PM »
Duh,kg ngikutin dr awal thread,jd kg ngarti..
Klo soal musik,bukannya udh umum yah dlm upacara2 mahayana pakai "alat musik" cth : tambur, krincing2 ato yg mangkok dipukul itu? Bukannya alat2 tersebut termasuk dlm kategori "alat musik"?
Teruss,misalkan sutra yg pembacaannya "dinadakan"..Bukannya kategori musik jg?
kalo maen biola,celo,dll di pertunjukan kayak si TNH gimana bro?

Dengar dengar sih TNH bukan Mahayana, tetapi Engaged Buddhism.
Jadi ada kemungkinan Sila dan Vinaya yang diikuti berbeda.

amat sangat lucu Thich Nhat Hanh dari aliran Engaged Buddhism =)) =)) =))

25
Sutta Vinaya / Re: Apakah ada aturan Bhante boleh main gitar?
« on: 24 October 2010, 12:13:07 AM »
Spoiler: ShowHide

berarti anda bisa mengatakan membunuh, merampok menipu dengan tujuan menyampaikan dharma maka seharusnya dalam kasus tertentu perilaku tersebut tidak bermasalah?

Dalam catatan kita berapa banyak perbuatan demikian yang bisa menyampaikan dharma?  Apakah ada kasus di mana perbuatan yang anda sebutkan memberikan dampak postif kepada si pelaku, korban maupun orang lain? Sebaliknya, tarian, nyanyian dan musik cenderung lebih netral dibandingkan dengan perbuatan-perbuatan yang anda sebutkan. Mereka adalah media netral yang bisa digunakan sebagai penyampaian pesan yang beragam. Baik atau buruk tergantung dari cara memanfaatkannya.
pernah mendengar cerita zen yang membunuh kucing?

pernah dengar koan Zen dimana jika bertemu Buddha, bunuh Buddha?

mohon kata "bunuh" di telaah dengar benar!

Nanchuan melihat para bhikkhu dari gedung bagian timur dan barat berkelahi atas seekor kucing. Mengukur ukuran kucing tersebut, ia mengatakan kepada para bhikkhu: “Jika salah satu dari kalian dapat mengatakan kalimat dari Zen, anda akan menyelamatkan kucing.” Tidak seorang pun menjawab. Nanchuan memotong kucing tersebut menjadi dua. Malam itu Zhaozho kembali ke biara dan Nanchuan menyampaikan kepadanya apa yang telah terjadi. Zhaozho melepas sandal-sandal-nya, meletakkan sandal-sandal tersebut di kepalanya, dan berjalan keluar. Nanchuan berkata: “Jika saja anda berada di sana, anda pasti menyelamatkan kucing tersebut.”

silahkan telaah.

The koan “Nansen Cuts the Cat in Two” is, as I see it, one of the most important koans ever. It not only reveals the deepest of the Zen of Hui-neng, but it also depicts the main conflict within Zen, that is to say the friction between the Gradual and the Sudden Schools during the Tang and Sung years.What comes first, Sunyata or Prajna? The koan gives a lucid answer, an answer that divided Zen into Soto and Rinzai.

Nansen Cuts the Cat in Two (The Gateless Gate, Case 14; translated by Koun Yamada. Center Publications 1979)

The Case

Once the monks of the eastern and western Zen halls were quarreling about a cat. Nansen held up the cat and said, “You monks! If one of you can say a word, I will spare the cat. If you can’t say anything, I will put it to the sword.” No one could answer, so Nansen finally slew it. In the evening, when Joshu returned, Nansen told him what had happened. Joshu, thereupon, took off his sandals, put them on his head and walked off. Nansen said, “If you had been there, I could have spared the cat.”

Mumon’s Commentary

What is the meaning of Joshu’s putting his sandals on his head? If you can give a turning word concerning this matter, you will be able to see that Nansen’s command was not meaningless. But if you can’t, look out! Danger!

The Verse

Had Joshu been there He would have given the command instead Had he snatched away the sword, Even Nansen would have begged for his life.

Why does Nansen kill the cat?

Nansen cuts off the entangled discussion of the monks by using “the sword of Prajna”. Nansen’s sword points to Prajna or wisdom. Nansen is the Bodhisattva Manjushri.

Manjushri’s most dynamic attribute is his Vajra sword. The sword cuts through ignorance and the entanglements of conceptual views. It cuts away ego and self-created obstacles. It can cut things in two, but it can also cut into one, by cutting the self-other dichotomy. It is said the sword can both give and take life.

Verse 31 from Yoka Daishi’s “Song Of Enlightenment”:

A man of great will carries with him a sword of Prajna, Whose flaming Vajra-blade cuts all the entanglements of knowledge and ignorance; It not only smashes in pieces the intellect of the philosophers But disheartens the spirit of the evil ones.

So when Nansen kills the cat he points to non-duality. To show the monks that Zen is not based on words, he points to emptiness of thought by cutting the cat in two, that is, cutting LOGIC thus conveying non-thought or non-duality. Nansen tries to remove the dual and logic thinking of the monks.

The problem with logic is, that logic is relative, not absolute. What is logical depends on where one is in time and space. So there is not one absolute logic, there are many “logics”. What is evident seen from one position is not evident seen from another position, hence logic is not logic but conflict. There IS nothing high or low, right or wrong. High or low and wright or wrong are concepts, the result of comparison not reality itself. That means our “logical” conclusions are conditioned and relative and this is the main source of illusions, conflicts, suffering and war.

But it is Joshu not Nansen who knows the true method of how to use the sword of Prajna. Why could the answer of Joshu have saved the cat’s life? Because Joshu demonstrates his method is superior to that of Nansen. Nansen makes the mistake of not only negating words but also of negating forms. He is actually killing life through his method of total negation of both words and forms. Nansen’s sword of negation becomes a pointer to nothingness, not to emptiness, that is, wu-nien, no thought. The way of Nansen is nihilism, the destruction of life.

Moreover, Nansen is doing an act of will when he cuts duality, but using will is the same as creating duality, a split between what ought to be and what is. Instead cultivation must be carried out by non-cultivation. That is what Joshu does. A mirror cannot be made by grinding a brick. The ordinary way, the ordinary mind is the Way. The method of Nansen is intellectualization which Zen utterly opposes, since intellectual efforts create duality hence karma.

Joshu knows that to gain true insight, negation (denial) of not only thoughts but also of forms (appearences) only lead to nothingness. But nothingness is a dual concept, an abstraction, since it can only exist opposed to something. Hence negation of forms becomes denial of reality. Forms are THE empty reality, they are “what is”. Form is emptiness and emptiness is form Negation of forms is thus gazing at a void and reality freezes into an abstraction of nothingness.

Hui-neng clarified, that negation is crucial when it comes to words and concepts, but it is a big mistake to use negation when it comes to conceive reality as it is. To overcome such an extreme nihilism one has to use NEGATION OF NEGATION that is, instead of excluding forms (negating appearances) one has to include forms, that is, see thoughts (and cats) as they appear in suchness, in a detached, empty manner.That is seeing, yet not seeing. Its not pure negation, it is the middle way.

See things as they appear,in emptiness, is seeing with MIND (Hsing), which is very different from staring at a negated nothingness. The killing of the cat is a negation of form, of life. Seeing life as it is, empty yet not empty, is Prajna. Negating reality is the killing of life.

Joshu experiences forms as functions of Mind, not as something which must be cut to nothingness.Seeing with the eyes of Prajna is experiencing that the spirituality of life is vital.

Below is a small and incredible sharp mono on the difference between seeing in nothingness and in emptiness.

A mondo on Prajna

Yunju was crossing the river with Dongshan.

Dongshan said, “How deep is it?”

Yunju said, “it’s not wet”

Dongshan said, “You rustic!”

Yunju said, “What would you say, Master?”

Dongshan said, “Not dry” .

The small mondo is beautiful and exceptionally sharp: “it’s not wet” points to emptiness and “Not dry” points to Prajna (or Mind) because:

“Not wet” leaves out anything, it points to nothingness. If not wet, then what is it? There is no pointer to any reality. The negation is total.

“Not dry” is not a total negation. “Not dry” points to water without using the word “water”. The negation is just a negation of words but not of our conscience, our mind. It is empty mind or emptiness.

Hence “not wet” is not prajna, it is just pointing to nothingness, whereas “not dry” is Prajna since it points to water, but not to the concept of “water”. Hence it is “knowing in emptiness”. Knowledge not based on words but on intuition is Prajna. It is the middle Way.

So a NATURAL response to circumstances, not a response conditioned by the intellect is the Way and that is the way of Joshu. Nansen represents the Zen INTELLECT, while Joshu is the SPIRIT of Zen. Joshu puts the shoes on his head thereby showing his empty innocence, while Nansen demonstrates his rational goal and will by cutting the cat in two. In order to cut duality he creates duality. The intellect IS dual. It is a killer because when one chooses A one must logical reject (kill) B. The mistake of Nansen is his choosing which is conditioned by his words. He had to kill the cat. Words create their own reality.

Why would even Nansen have begged for his life had Joshu snatched away the sword? Because the ultimate truth cannot be reached with language, doctrines, not even with negation. Prajna can only be reached with a Mind totally devoid of any concepts, but not devoid of conscience. One has to negate the the idea of oneself. Nansen has to turn the sword, the knife, against the concept of himself not against a cat.

A Japanese Zen Master in the Tokugawa period named Shido Bunan had a waka poem:

Die while alive, and be completely dead,
then do whatever you will, all is good.

The koan is an attack on any tendency to intellectualize Zen. It is not an incident that Nansen says “You monks! If one of you can say a word, I will spare the cat. This “say a word” is the key to the main question of the koan and the silence of Joshu is the answer of the koan. The koan is a defense of the most ancient definition of zen: “A specific transmission outside writings, no dependence with respect to words and letters ·”

As formulated by Yi-hsuan:

“Only do ordinary things with no special efforts, relieve your bowels, pass water wear your clothes, eat your food, and, when tired, lie down! Simple fellows will laugh at you, but the wise will understand.”

The koan is deeply rooted in Hui-neng Zen with its emphasis on suchness and Prajna as opposed to a more formalized type of Zen.The distinctions between monastic authorities and lay followers and between Buddha and ordinary being are here called into question by the person of Joshu who has a striking similarity with Vimalakīrti, a layman and ordinary man of the world who nevertheless rivals the Bodhisattva Mañjuśrī (Nansen) himself in understanding.

In essence, Vimalakirti (Joshu) clears up the confusions surrounding the central Buddhist concept of emptiness, or voidness— presenting it not as nihilism but rather “as the joyous and compassionate commitment to living beings born form an unwavering confrontation with the inconceivable profundity of ultimate reality.”

The koan shows a turn in its presentation of the Mahāyāna teaching of emptiness (śūnyatā). The koan is a homage to Joshu who demonstrates the ‘thunderous silence of Vimalakīrti’ and the admiration is understandable. The succinct and profound sayings and koans of Joshu are unsurpassable in their Zen purity.

However, there is a more genuine Zen way of expressing the meaning of “Nansen kills the cat”, since koans are certainly not meant to be interpreted but to be understood in suchness that is, as self-evident:

Cut words about what is, but do not cut what is.

The Haiku poet and Zen monk Basho is beautifully in accordance with this principle:

A flash of lightening:
throug the darkness goes
the cry of a night heron

Note

It is not even worth discussing whether Nansen actually killed the cat or not, since the killing of the cat is nothing but a pointer. “Killing the cat” is Zen talk just like when Zen Master Lin Chi says, “If you meet the Buddha, kill the Buddha. If you meet a Patriarch, kill the Patriarch.” Zen sayings and koans use concrete phenomena as pointers to abstract principles to avoid theorizing and speculations. Koans are always formulated concretely not philosophical. They are upayic or pedagogic answers or stories by the masters.

www.zenhsin.org

26
Sutta Vinaya / Re: Apakah ada aturan Bhante boleh main gitar?
« on: 23 October 2010, 11:33:22 PM »
berarti anda bisa mengatakan membunuh, merampok menipu dengan tujuan menyampaikan dharma maka seharusnya dalam kasus tertentu perilaku tersebut tidak bermasalah?

Dalam catatan kita berapa banyak perbuatan demikian yang bisa menyampaikan dharma?  Apakah ada kasus di mana perbuatan yang anda sebutkan memberikan dampak postif kepada si pelaku, korban maupun orang lain? Sebaliknya, tarian, nyanyian dan musik cenderung lebih netral dibandingkan dengan perbuatan-perbuatan yang anda sebutkan. Mereka adalah media netral yang bisa digunakan sebagai penyampaian pesan yang beragam. Baik atau buruk tergantung dari cara memanfaatkannya.
pernah mendengar cerita zen yang membunuh kucing?

pernah dengar koan Zen dimana jika bertemu Buddha, bunuh Buddha?

mohon kata "bunuh" di telaah dengar benar!

27
sedikit pandangan saya mengenai yg dikatakan oleh Thich Nhat Hahn,

Ronald Epstein menjelaskan bahwa akan menjadi sebuah kesalahan fatal bila menyamakan sangha para umat dan sangha para bhikku, yg menjadikan seolah2 para umat adalah para bhikku.

This famed Zen Master said that it was possible for corporations or parliaments to cultivate happiness and compassion within. He explained that each of these institutions can be treated as Sangha, very much like the traditional community of monks and nuns.
Thich Nhat Hahn mengatakan instusi ini dapat diperlakukan sebagai sangha, hampir menyerupai komunitas tradisional bhikku atau bhikkuni.
jelas disini Thich Nhat Hahn sudah membedakan 2 jenis sangha yg sama penyebutannya namun beda pengartiannya, dimana yg 1 sangha diartikan sebagai sebuah komunitas awam/umat dan yg 1 nya lagi sangha diartikan sebagai komunitas bhikku/bhikkuni.
jika dilihat dari arti kata, sangha diartikan sebagai perkumpulan.
jika dilihat sejarah, perkumpulan Buddhism pertama diisi oleh para bhikku dan bhikkuni. sehingga kata sangha dianggap diartikan/memiliki image sebagai perkumpulan para bhikku/bhikkuni.

disini bagi saya sudah sangat jelas dimana hanya perbedaan arti dari kata sangha itu sendiri terletak pada penggunaan kata sangha itu sendiri.
bila Thich Nhat Hahn menggunakan kata "gathering", saya rasa tidak akan permasalahan seperti ini.
mungkin, Thich Nhat Hahn menggunakan kata sangha karena kata sangha "sudah milik"/memiliki image Buddhism yg berati perkumpulan.
mungkin sebagian besar menganggap, kata sangha hanya boleh digunakan dan diartikan sebagai perkumpulan para bhikku/bhikkuni.

[at] Bro Wen
Buddhisme di Jepang secara umum sudah terdistorsi sedemikian jauhnya dibanding di belahan-belahan dunia lain tempat Buddhisme berkembang. Monastik di Jepang kebanyakan telah menikah dan makan daging, entah dari aliran apa saja tak terkecuali Zen. Memang tidak semuanya demikian dan mungkin masih ada beberapa yang bertahan dengan idealisme mereka. Tapi banyak yang sudah tidak lagi. Apalagi gencarnya Kriting-nisasi di Jepang terhadap umat awam, dan konon per tahun ratusan kuil (termasuk kuil-kuil Shinto) terpaksa tutup, yang memaksa para Bhiksu di Jepang untuk melakukan manuver-manuver demi mempertahankan umat dan kuil mereka. Di salah satu video yang pernah saya post kemarin, ada Bhiksu Zen yang membuka Bar dan menjadi master merangkap bartendernya.
Bahkan ada kritik dari beberapa guru Zen Jepang masa kini terhadap Zen Jepang, misalnya:
Quote
Some contemporary Japanese Zen teachers, such as Daiun Harada and Shunryu Suzuki, have criticized Japanese Zen as being a formalized system of empty rituals in which very few Zen practitioners ever actually attain realization. They assert that almost all Japanese temples have become family businesses handed down from father to son, and the Zen priest's function has largely been reduced to officiating at funerals.
Demikian yang Samaneri maksud dengan kalimat: "memang aliran jepang ini yg bikin makin melenceng jauh dari ajaran yang benar." Setidaknya demikian interpretasi saya. CMIIW.

be happy
_/\_

terima kasih bro Jerry atas jawabannya, tapi tidak menjawab aliran mana yg dimaksud, yaitu aliran Zen di USA atau aliran Tendai(tepatnya Jodo Shinshu) atau Thich Nhat Hahn.

saya tidak akan memperdebatkan apakah telah makin melenceng jauh dari ajaran yang benar, atau tidak melenceng jauh dari ajaran yang benar.
saya hanya ingin tau aliran mana yg dimaksud telah makin melenceng jauh dari ajaran yang benar dan apa alasannya.

28
ada artikel menarik sehubungan dengan hal ini

The So-Called Lay "Sangha" in America
by Ronald Epstein (Upasaka I Guorong)
Originally published in Vajra Bodhi Sea, v. 16, ser. 38, no. 188, Jan. 1986, p. 18.
(Chinese translation published in Wan-fo Ch'eng, Sept. 1985, p. 18.)

Many of America's new Buddhists are spreading the idea that they are a "sangha" and that their lay "sangha" movement is the correct adaptation of Buddhism to the American scene. Where does this peculiar and dangerous idea come from?

Traditionally the Sangha is considered the third of the Three Jewels---Buddha, Dharma, and Sangha--which are the foundation of Buddhism. Sangha refers to the community of fully ordained monks (Bhikshus) and nuns (Bhikshunis) who de-vote their lives, full-time, to the Buddhist Path. In both Northern (Mahayana) and Southern (Theravada) Buddhism, the moral relations governing the life of the Sangha community are practically identical. They insure a lifestyle that is pure, celibate, and free from worldly desires. In both Northern and Southern Buddhism, the great teachers and enlight-ened masters have come almost exclusively from the Sangha. There have been a few enlightened Buddhist laymen and laywomen in the past, but not one of them failed to wholeheartedly support the Sangha as the foundation of the larger Buddhist community.

How can laypeople constitute a "sangha"? This is a case of a little knowledge being a dangerous thing. They hear that the Sanskrit word sangha means community and say to themselves: we are a community, so we should call ourselves "sangha."

Why do they ignore the traditional meaning of Sangha within Buddhism? Why do they try to usurp the roles of the monks and nuns without taking on their commitment, vows, and responsibilities? This is a case of an initially valid insight leading to wrong conclusions because of lack of correct information.

Most of those in the lay "sangha" movement were introduced to Buddhism through American Zen Centers that see themselves in the tradition of the Japanese Zen schools, which belong to Northern, Mahayana, Buddhism. They see that the teachers in those schools, both Japanese and American, are married and in many cases lead lives that are far from being austere and pure. It strikes them that there is no reason for them to support these so-called "priests" or "monks" whose way of life is not really superior or more laudable than their own. That makes sense. But then, instead of supporting a real Sangha, they set them-selves up as "sangha." They don't realize that their own Japanese Zen tradition was derived from Chinese Ch'an (Zen being the Japanese pronunciation) and that the lineages of Chinese Ch'an are traced back to India and ultimately to the Buddha. They don't know that all the great Japanese Zen masters strongly supported the monastic traditions as they existed in India and China as being absolutely essential to the survival of the Japanese Zen tradition. They don't realize that it was only in 1868, a little over a hundred years ago, that the Japanese government closed all Buddhist monasteries and sent all the monks and nuns back to lay life. The reason for abolishing the real Sangha in Japan was political, and no one in Japan has ever tried to justify it on religious grounds. The Sangha was simply never reestablished there.

Most of the people in the lay "sangha" movement are well-meaning, thinking that they are building a truly American Buddhism. Unfortunately, they are unaware that, throughout history, wherever the Sangha has been strong and pure, Buddhism has flourished, and wherever the Sangha is weakened and corrupt, Buddhism decays. By setting themselves up as "sangha," instead of encouraging, aiding, and supporting the real Sangha, they are not only failing to help build American Buddhism, but are directly opposing and undermining it. These well-meaning people should educate themselves about their own traditions, so that they can understand the harm they are doing, change their ways, and enter the right Path.
Ngga tepat juga kalau dikatakan monastik jepang baru menikah setelah Restorasi Meiji, kenyataannya ini telah berlangsung cukup lama dalam sekte Jodo Shinshu.

Monastics in Japan are particularly exceptional in the Buddhist tradition because the monks and nuns can marry after receiving their higher ordination. This idea is said to be introduced by Saichō, the founder of the Tendai school, who preferred ordaining monks under the Bodhisattva vows rather than the traditional Vinaya. There had long been many instances of Jōdo Shinshū priests and priestesses marrying, influenced by the sect's founder Shinran, but it was not predominant until a government Nikujiku Saitai Law (肉食妻帯) was passed during the Meiji Restoration that monks or priests of any Buddhist sect are free to seek wives.
wiki

memang aliran jepang ini yg bikin makin melenceng jauh dari ajaran yang benar. apa yg diramalkan sang Buddha bhw para bhikkhu/ni kelak hanya menggunakan pita kuning saja di lengan dan tidak mengikuti Vinaya yg asli. beberapa para Bhikkhu di srilanka pun sering juga membicarakan hal ini, sehingga mereka selalu menanyai yg "mata sipit dan berkulit kuning" dg pertanyaan anda dari jepang? jika iya, maka mereka segera akan menolak utk duduk bersama, krn mereka anggap itu umat yg pake jubah. di srilanka umat tidak boleh duduk, harus berdiri, wlu berjam2 hingga mau pingsan, tetap harus berdiri, selama ada anggota sangha yg duduk, kecuali ada tempat tersendiri yg disediakan utk umat, baru mrk akan disuruh duduk oleh anggota sangha baru mereka berani duduk, selama tdk ada "ijin" maka mrk akan berdiri terus selamanya (kasihan juga sering hati saya ga tega).

mettacittena,

saya ingin menanyakan, aliran yg mana yg anda maksudkan? sebab yg anda quote terdapat 2 aliran yaitu Zen dan Tendai.
dan bisakah anda jabarkan secara jelas dan terperinci dimanakah letak kesalahannya?

29
Kesehatan / Re: [ASK] Air Galon
« on: 15 October 2010, 04:58:53 PM »
^

harus dibawa ke lab. kl mo coba sendiri juga bisa dengan bawa air sample terus di taruh zat kimia. kl air nya berubah warna, berarti ada zat kimia tsb.
untuk tau berapa persentase nya, kurang tau... musti liat buku kimia lagi.. dah lupa ;D

iya sih.. seperti kandungan timah. setelah sekian lama baru tubuh merasa keracunan.
paling... kl merasa air nya gak aman, bw air minum sendiri ;D

30
Kesehatan / Re: [ASK] Air Galon
« on: 15 October 2010, 04:40:34 PM »
tergantung definisi bersih.
air murni (H2O) tidak mengandung mineral dan bakteri, tidak boleh terkena langsung di ruang terbuka. langsung ada bakteri/mineral yg langsung bersatu dengan air.
air bersih dengan mineral sedikit, biasa dipake untuk air aki yg biasa kandungan mineralnya dibawah 7 ppm. jadi kandungan minrealnya sangat sedikit sehingga bisa dikatakan boleh diabaikan. tapi tidak bisa dikatakan air tsb layak diminum. sebab air ini belum tentu bebas dari bakteri dan virus. jadi tetap air harus di masak terlebih dahulu.
air bersih dari bakteri/virus, bisa jadi banyak mineralnya. bisa jadi ada mineral bahaya yg tidak boleh terminum seperti timah, dll. seperti air selokan yg dimasak, bersih dari virus dan bakteri, tapi msh ada kandung mineral yg berbahaya.
kl minum air yg terlalu bersih(bersih dari mineral), biasanya minum air nya banyak. kl minum air yg bermineral, sehaus2nya, cukup minum 1 gelas cukup.
kira2 begitu

Pages: 1 [2] 3 4 5 6 7 8 9 ... 68