//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kisah Para Sesepuh Chan silsilah Tiongkok  (Read 5628 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Kisah Para Sesepuh Chan silsilah Tiongkok
« on: 05 March 2009, 03:05:46 PM »
Kisah Para Sesepuh Chan (Zen Buddhisme China)

1. Bodhidharma
Pada tanggal 21 September tahun 527 M selama pemerintahan Dinasti Liang, Bodhidharma (dikenal sebagai sesepuh Zen silsilah India ke-28) tiba di Cina. Kaisar pada saat itu, Kaisar Liang Wu Ti sangat menyukai Buddhisme dan beliau sering memakai pakaian Buddhis, vegetarian dan melantunkan lagu buddhis. Pada tanggal 1 Oktober atas undangan kaisar Liang, Bodhidharma pergi ke ibukota Nanjing dan menemui Kaisar.

Kaisar : Sejak aku naik tahta, aku telah membangun banyak kuil, menyalin banyak naskah dan menyokong kehidupan banyak biksu dan biksuni. Apa kebajikan dari semua ini ?
Bodhidharma : Tidak ada kebajikannya. Apa yang kamu lakukan hanyalah kegiatan duniawi dan tidak bisa dianggal sebagai pahala sejati. Kebajikan sejati terdiri dari kesadaran murni, indah dan sempurna. Intinya adalah kekosongan. Seseorang tidak bisa mendapatkannya dengan cara-cara duniawi.

Pada tanggal 17 Oktober, Bodhidharma, setelah menyadari bahwa Kaisar Liang tidak dapat memahami maksudnya menyeberang sungai Yangtze dan pergi ke utara.

Penasehat keagamaan kerajaan : Di mana biksu bijak India itu sekarang ?
Kaisar : Ia telah menyeberang sungai dan pergi ke utara. Siapakah orang ini ?
Penasehat : Ia adalah bodhisatva yang menyebarkan esensi buddhisme. Yang Mulia, Anda bertemu orang ini tapi sepertinya Anda tidak melihatnya. Anda berkenalan dengannya tapi Anda tidak mengenalnya.
Kaisar : Kirim seseorang ke seberang sungai dan kejar bodhidharma.
Penasehat : Tidak ada gunanya. Meskipun anda mengirim seluruh rakyatmu, ia tidak akan kembali.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2. Hui Ke (Sesepuh Chan ke-2)

Setelah Bodhidharma menyeberang sungai Yangtze, ia menuju biara shaolin di gunung Song. Bodhidharma menghabiskan waktunya duduk bermeditasi dan menghadap dinding. Suatu hari, biksu bernama Seng-guang yang serius mempelajari ajaran datang dan berdiri tak bergerak di antara salju, menunggu bertemu bodhidharma.

Bodhidharma : Apa yang membuatmu datang ke sini dan berdiri di salju ?
Seng Guang : Kuharap guru berbelas kasih dan mengajariku esensi buddhisme.
Bodhidharma : Untuk mencapai kebuddhaan tidak membutuhkan waktu latihan yang lama. Tapi bila tekadmu tidak kuat, aku ragu bahwa kamu mampu mencapainya.

Seng-Guang kemudian mengeluarkan sebilah pisau dan memotong tangan kiri-nya.

Bodhidharma : Untuk mencapai kebuddhaan, seseorang boleh tidak menganggap tubuh atau hidup sebagai miliknya. DAlam hal ini, kamu memotong tanganmu bisa dianggap sebagai hal yang baik.
Seng-Guang : Guru, Tolong tenangkan pikiranku. (menurut cerita, Seng-guang sering mengalami mimpi buruk tentang pembunuhan)
Bodhidharma : Tunjukkan padaku, pikiranmu dan aku akan menenangkannya. Bila kamu menemukannya, bisakah itu dianggap milikmu ?
Seng Guang : Aku telah mencari pikiranku, tapi tidak bisa ditemukan.
Bodhidharma : Itulah, aku telah menenangkan pikiranmu. Apakah kamu telah mengerti sekarang ?
Seng-Guang : Aku mengerti, Inti-nya semua adalah kekosongan, dan itulah sebabnya bodhisatva tidak tertipu. Tidak memiliki ilusi adalah menyeberang ke tepian lain-nya.

Bodhidharma menerima Seng Guang sebagai muridnya dan namanya diganti menjadi Hui Ke.

---

Pada tahun 532 M dan bodhidharma merasa sudah waktunya kembali ke India setelah menghabiskan sembilan tahun di biara Shaolin. Ia memanggil muridnya untuk menguji pemahaman mereka.

Bodhidharma : Katakan padaku apa yang kamu pahami ?
Murid I : Kita tidak boleh melekat pada dunia tapi juga tidak mencampakannya, tapi hanya menggunakannya sebagai alat.
Bodhidharma : Kamu hanya memahami kulitku.
Murid II : Sebagaimana saya pahami, kebenaran adalah penampakan dari buddha. Kita melihatnya sekali lalu tidak pernah lagi.
Bodhidharma : Kamua hanya menangkap dagingku.
Murid III : Empat unsur adalah kosong dan lima gabungan kemelekatan adalah ketiadaan. Nyatanya tak ada yang bisa dipahami.
Bodhidharma : Kamu hanya menangkap tulangku.

Akhirnya, giliran Hui Ke. Ia tidak mengatakan apapun hanya membungkuk pada Bodhidharma dalam dalam.

Bodhidharma : Kamu telah menangkap inti-ku.

Hui Ke kemudian menjadi pemimpin Chan ke-2. Ia melanjutkan karya bodhidharma membebaskan makhluk yang terpedaya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3. Seng Can (Sesepuh chan ke-3)
Pada tahun 559, seorang umat mengunjungi Hui Ke.

Umat : Aku mungkin telah melakukan hal buruk pada kehidupan lampauku, dan itulah sebabnya sekarang aku kena kusta. Kumohon guru, bisa menghapuskan dosaku.
Hui Ke : Bawalah dosamu padaku dan akan kuhapuskan untukmu.
Umat : Aku telah mencari dosaku tapi aku tidak menemukannya.
Hui Ke : Kalau begitu, aku telah menghapus dosamu. Kamu harus hidup sesuai dengan BUDDHA, Dharma dan Sangha.
Umat : Setelah bertemu Anda hari ini, aku menyadari sesuatu. Tolong katakan apakah Buddha dan apakah Dharma itu ?
Hui Ke : Pikiran adalah buddha dan juga dharma. Tidak ada bedanya antara Buddha dan Dharma.
Umat : Sekarang aku mengerti. Dosa bukan sesuatu yang di dalam, di luar atau diantaranya.
Hui Ke : Aku menerimamu sebagai muridku dan menyampaikan dharm padamu. KAmu akan dikenal sebagai Seng Can sejak saat ini.

Seng Can akhirnya menggantikan Hui Ke dan menjadi pemimpin Zen ketiga.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

4. Dao Xin (sesepuh Chan ke-4)
Seng Can membantu menyebarkan hujan kebenaran. Suatu hari seorang biksu muda datang mengunjungi-nya.

Biksu Muda : Jenis pikiran apa yang bisa dianggap sebagai pikiran buddha ?
Seng Can : Jenis apa pula pikiranmu sekarang ?
Biksu Muda : Aku tidak tahu pikiranku.
Seng Can : Karena kamu pun tidak tahu pikiranmu, bagaimana bisa ada pikiran buddha ?
Biksu Muda : Kumohon guru, tunjukkan belas kasihmu dan bimbing saya menuju pembebasan gerbang dharma.
Seng Can : Siapa yang telah mengurungmu ?
Biksu Muda : Tak seorang-pun mengurungku.
Seng Can : Karena tak seorang pun mengurungmu, itu artinya kamu sudah bebas. Mengapa kamu tetap mencari pembebasan ?

Biksu Muda itu tercerahkan setelah mendengar kata kata ini. Ia melanjutkan Seng Can menjadi pemimpin Chan ke-4, Dao Xin.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

5. Hong Ren (sesepuh Chan ke-5)

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

6. Hui Neng (sesepuh Chan ke-6)

Pemimpin Chan ke-6, Hui Neng dianggap sebagai pemimpin Chan paling berhasil, karena di bawah kepemimpinannya, Chan berkembang pesat di China.
Pemikiran, kata-kata dan tindakannya di catat oleh murid-murid-nya dalam suatu karya yang dikenal sebagai Platform Sutra (Sutra Dasar) dari Pemimpin Chan ke-6. Dan mungkin satu-satu-nya karya dalam sejarah Buddhisme China yang diakui sebagai Sutra.

Nama asli keluarga Hui Neng adalah Lu. Ia dilahirkan tahun 638 dan penduduk asli Ling Nan di provinsi Guang Dong. Ayahnya, pejabat yang dicopot dan di buang sebagai orang biasa ke Xin Zhou di Ling Nan. Ayah Hui Neng wafat saat ia masih kecil dan ia hidup sangat miskin dengan ibunya yang sudah tua. Ia menjual kayu bakar di pasar untuk makan. Hui Neng tidak pernah belajar membaca dan menulis. Suatu hari ketika pulang dari pasar setelah menjual kayu bakarnya, Hui Neng mendengar seorang biksu pengelana berkata :

Biksu pengelana : Biarkan pikiran berfungsi bebas dan tidak tinggal pada apapun.
Hui Neng : Bolehkah kutanya, apa yang anda lantunkan ?
Biksu Pengelana : Isi dari Sutra Intan.
Hui Neng : Darimana anda mempelajari naskah itu ?
Biksu pengelana : Dari pemimpin Chan ke-5 Hong Ren yang tinggal di gunung Huang Mei di provinsi He Nan.

Dipenuhi semangat untuk mengetahui lebih banyak, Hui Neng memutuskan untuk pergi ke sana dan mengatur agar ibunya dirawat oleh seseorang. Maka ia memulai perjalannya ke He Nan untuk mencari dharma. Setelah berjalan selama lebih dari tigapuluh hari, akhirnya Hui Neng tiba di gunung Huang Mei dan segera bertemu dengan Hong Ren.

Hong Ren : Darimana asalmu dan apa yang kamu inginkan ?
Hui Neng : Hambamu adalah rakyat jelata dari Xin Zhou di Ling Nan. Saya datang untuk mengabdimu dan tujuanku adalah mencapai kebuddhaan.
Hong Ren : Jadi kamu adalah seorang barbar dari Ling Nan. BAgaimana kamu bisa mencapai kebuddhaan ?
Hui Neng : Manusia bisa digolongkan menjadi orang utara atau orang selatan, tapi jangan katakan bahwa sifat buddha memiliki perbedaan utara selatan ini. Tubuh seorang barbar mungkin berbeda dari tubuh seorang biksu, tapi apakah bedanya menurut pandangan sifat buddha ?

Hong Ren berpikir (Barbar ini terlalu kritis sifat dan wataknya) lantas berkata,

Hong Ren : Pergilah ke halaman belakang dan bekerjalah sebagai penumbuk padi.
----


Hui Neng bekerja selama delapan bulan di gunung Huang Mei sebagai penumbuk padi.
Suatu hari, Hong Ren merasa bahwa waktunya telah tiba untuk menyampaikan segel pencerahan dharma (dalam hal ini yang diserahkan adalah jubah sesepuh dan mangkok pindapata yang konon merupakan mangkok pindapata buddha sakyamuni) sebagai tanda pewarisan kedudukan pemimpin Chan.

Hong Ren : Aku ingin kalian semua menulis gatha berdasarkan pemahaman kalian akan dharma. Siapa yang mengerti kebenaran sejati akan mewarisi jubah dan dharma sebagai pemimpin Chan ke-6. 

Semua murid menganggap Shen Xiu, biksu kepala, sebagai orang yang paling berpeluang mewarisi jubah penerus. Shen Xiu menulis gatha di sebuah dinding vihara.

TUBUH ADALAH POHON PENCERAHAN.
PIKIRAN ADALAH TIANG TEMPAT CERMIN TERANG.
BERSIHKAN TERUS MENERUS DENGAN RAJIN DAN SELALU WASPADA
AGAR TIDAK TERCEMAR OLEH DEBU DEBU DUNIAWI.[/
color]

Gatha ini mendapat pujian dari banyak rekan-rekan biksu Shen Xiu.

Secara tidak sengaja, seorang biksu muda mengulang Gatha Shen Xiu di belakang vihara tempat Hui Neng bekerja. Lantas Hui Neng menanyakan

Hui Neng : Siapa yang mengarang gatha ini ?
Biksu Muda : Gatha itu dikarang oleh Shen Xiu dan ditulis di tembok vihara.
Hui Neng : Bisa aku ke sana melihatnya ?
Biksu Muda : Tentu Saja. Gatha itu tertulis di sana.
Hui NEng : Orang yang menulis ini belum tercerahkan !!
Biksu lainnya : Kamu tahu arti gatha ini ? Hebat !!
Hui Neng : Bahkan orang terendah bisa memiliki kebijaksanaan tertinggi, sebaliknya orang yang tertinggi mungkin memiliki ide konyol tentang kebijaksanaan.

Aku juga punya sebuah Gatha. Bisakah kamu menuliskannya di dinding untukku ?
Biksu lainnya : Tentu saja.

ASALNYA, TIDAK ADA POHON PENCERAHAN,
JUGA TIDAK ADA TIANG DENGAN CERMIN TERANG.
KARENA SEGALA SESUATU PADA MULANYA KOSONG.
DI MANAKAH DEBU DEBU MISA MELEKAT ?[/
color]

Hui NEng : Ayo pergi.

Gatha Hui Neng menimbulkan kehebohan di kalangan vihara karena menjadi semacam tandingan dari Gatha Shen Xiu. Akhirnya Hong Ren mengetahui tentang hal ini dan melihat sendiri Gatha Hui NEng.

Hong Ren : Gatha itu tidak mencerminkan pencerahan. Hapuskan !!

Hari-hari berikutnya, Hong Ren diam diam memperhatikan Hui Neng. dan pada suatu saat Hong Ren meminta Hui Neng datang ke kamar pribadinya pada tengah malam.
Malam itu, Hong Ren menjelaskan Sutra Intan kepada Hui Neng, yang tercerahkan sepenuhnya ketika mendengar kata-kata ini : "JAGALAH PIKIRANMU TETAP WASPADA TANPA MELEKAT PADA APAPUN DIMANAPUN."

Hong Ren memberikan jubah pewaris kepada Hui Neng.

Hong Ren : Di masa lalu, ketika bodhidharma datang ke Cina, orang tidak percaya pada kebenaran yang dikatakannya. Maka dalam Chan ada tradisi menurunkan jubah dan meneruskan pencerahan. Mulai sekarang kamu adalah pemimpin Chan ke-6. Jaga dirimu dan pergilah bertapa sebelum memberikan ajaran. Penyerahan jubah ini mungkin menimbulkan iri hati. Jadi kamu harus pergi dari tempat ini segera.

Sesampainya di tepi sungai.

Hong Ren : Mari kuseberangkan.

Setelah sampai di tengah sungai.

Hong Ren : Ketika murid masih kebingungan, guru harus menyeberangkannya. Bila ia sudah tercerahkan, ia harus menyeberang sendiri.

Hui Neng kemudian mengambil alih dayung.

Hong Reng: Di masa depan, dharma akan berkembang pesat melaluimu. Pergilah ke selatan. Dharma tidak mudah disebarkan. Tunggulah sampai waktunya tiba sebelum menjelaskannya.
Hui Neng : Terima kasih atas nasihat guru.
Hong Ren : Sebarkan benih di antara makhluk yang sadar, dan ia akan berbuah di tanah yang subur. Tanpa kesadaran takkan ada benih yang tumbuh; demikian pula tak ada hidup tanpa alam.
« Last Edit: 05 March 2009, 03:53:59 PM by dilbert »
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan