//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Cerita-Cerita Zen (Koan)  (Read 72912 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline oddiezz

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 325
  • Reputasi: 12
  • Gender: Male
  • in vain
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #30 on: 08 September 2008, 02:59:25 PM »
di sini senang

di sana senang

di mana mana hatiku senang

Eschew Obfuscation! Espouse Elucidation!

Offline thioboeki

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 122
  • Reputasi: 5
  • Dimana ada Kebahagian disitu ada Penderitaan,,
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #31 on: 25 September 2008, 07:25:37 PM »
ada lagi ngak postingnya?? memang tak paham,tapi rasanya di klitik2..
Dimana ada Kebahagian disana ada Penderitaan,,

Offline Yong_Cheng

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 279
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #32 on: 11 October 2008, 06:06:39 PM »
Patuh

Ajaran Guru Bankei tak hanya diikuti oleh murid-murid zen saja, tetapi juga oleh orang-orang dari berbagai kalangan dan aliran. Ia tidak pernah mengutip sutra-sutra atau asyik berteori ilmiah. Alih-alih, kata-katanya diucapkan langsung dari hatinya kepada hati para pendengarnya.

Banyaknya jumlah orang yang menjadi pengikut Bankei menimbulkan kemarahan dalam diri seorang pendeta aliran Nichiren karena orang-orang yang semula menjadi pengikutnya pergi untuk mendengarkan ajaran Zen. Pendeta Nichiren yang egois ini mendatangi kuil, bertekad untuk berdebat dengan Bankei.

"Hai,Guru Zen!" serunya. "Tunggu sebentar. Orang yang menghormatimu akan menuruti apa yang kau katakan, namun orang seperti aku ini tidak menghormatimu. Apa kau bisa membuatku mematuhimu?" "Marilah duduk di samping saya dan saya akan menunjukkan kepada anda," kata Bankei.

Dengan angkuhnya pendeta itu menyeruak kerumunan orang untuk mendekati sang guru. Bankei tersenyum, "Silakan duduk di sebelah kiri saya." Pendeta itu mematuhinya.

"Oh," kata Bankei lagi," kita bisa bicara lebih nyaman kalau anda duduk di sebelah kanan saya. Tolong pindah ke sini." Sang pendeta dengan angkuh pindah ke sebelah kanan.
"Coba lihat, ujar Bankei, "Anda mematuhi saya dan saya rasa anda orang yang sangat sopan. Sekarang, duduk dan dengarkan."
Perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah kaki

Offline Yong_Cheng

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 279
  • Reputasi: 16
  • Gender: Male
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #33 on: 11 October 2008, 06:07:28 PM »
Tidak Jauh dari Ke-Buddha-an

Ketika mengunjungi Gasan, seorang mahasiswa bertanya: "Pernahkah anda membaca Kitab Injil?" "Belum, tolong bacakan," jawab Gasan.

Mahasiswa tersebut membuka injil dan membaca dari Kitab Matius:  "Mengapa engkau khawatir tentang pakaianmu? Lihatlah bagaimana bunga-bunga bakung tumbuh di padang. Bunga-bunga itu tidak bekerja dan tidak menenun; dan kukatakan kepadamu, bahkan Raja Salomon yang begitu kaya pun, tidak memakai pakaian yang sebagus bunga-bunga itu! Oleh sebab itu, janganlah khawatir tentang hari esok, sebab esok akan mengatasi segala sesuatunya."

Gasan berkata: "Siapa pun yang mengatakan itu, saya rasa seorang yang tercerahkan."

Sang mahasiswa melanjukan membaca: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan,"

Gasan berkata: "Luar biasa. Siapa pun yang mengatakan itu, ia tidak jauh dari ke-Buddha-an."
Perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah kaki

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.552
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #34 on: 12 October 2008, 09:33:54 AM »
Tidak Jauh dari Ke-Buddha-an

Ketika mengunjungi Gasan, seorang mahasiswa bertanya: "Pernahkah anda membaca Kitab Injil?" "Belum, tolong bacakan," jawab Gasan.

Mahasiswa tersebut membuka injil dan membaca dari Kitab Matius:  "Mengapa engkau khawatir tentang pakaianmu? Lihatlah bagaimana bunga-bunga bakung tumbuh di padang. Bunga-bunga itu tidak bekerja dan tidak menenun; dan kukatakan kepadamu, bahkan Raja Salomon yang begitu kaya pun, tidak memakai pakaian yang sebagus bunga-bunga itu! Oleh sebab itu, janganlah khawatir tentang hari esok, sebab esok akan mengatasi segala sesuatunya."

Gasan berkata: "Siapa pun yang mengatakan itu, saya rasa seorang yang tercerahkan."

Sang mahasiswa melanjukan membaca: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan,"

Gasan berkata: "Luar biasa. Siapa pun yang mengatakan itu, ia tidak jauh dari ke-Buddha-an."


Uuuhhhh King of Solomon???

Bagaimana KEBIJAKSANAAN King of SOlomon dpt dikalahkan oleh cewek2 (cantik)?
Apa artinya kebijaksanaan? Pengedalian pikiran? Cewek cantik?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline chizz_roll

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.028
  • Reputasi: 74
  • Gender: Female
  • Be Mindful
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #35 on: 17 October 2008, 08:24:33 PM »
Bukan Karena Marah Lahir ke Dunia
Oleh : Tan Chau Ming

Cin Tai adalah seorang master Ch'an/Zen yang menyukai bunga anggrek. Beliau
telah menanam dan mengumpulkan banyak jenis anggrek di vihara. Pada suatu
hari beliau pergi bertugas dan berpesan kepada para siswanya untuk menjaga
serta merawat bunga anggrek tersebut dengan baik.

Suatu waktu, ketika salah seorang siswa beliau menyiram bunga, tanpa
disengaja dia tersandung rak bunga dan membuat beberapa pot anggrek terjatuh
dan pecah. Siswa tersebut sangat takut dan kebingungan.

Ketika Master Cin Tai kembali, dengan berlutut di hadapan sang master siswa
itu menyatakan penyesalan dan memohon pengampunan seraya berkata: "Guru,
maafkan saya. Saya telah memecahkan pot bunga anggrek kesayangan Anda. Saya bersedia menerima segala macam hukuman. Saya mohon welas asih sang guru agar tidak marah!"

Setelah mendengar laporan siswa itu Master Cin Tai dengan tenang menjawab:
"Saya menanam bunga anggrek, tujuan yang pertama adalah untuk memberikan
persembahan kepada Sang Buddha. Tujuan yang kedua untuk memperindah
lingkungan. Bukan bertujuan untuk melampiaskan amarah, saya menanam bunga anggrek ini"

Kita datang ke dunia ini, bukan untuk melampiaskan angkara murka dan juga
bukan untuk menikmati rasa kesal. Hubungan suami istri, mendidik anak,
hubungan antar teman dan relasi, jika dilakukan dengan menghayati kata-kata
yang diucapkan Master Cin Tai "BUKAN BERTUJUAN UNTUK MELAMPIASKAN AMARAH, SAYA MENANAM ANGGREK," maka kesalahpahaman dan ketegangan akan berkurang banyak.

Orang yang batinnya penuh dengan welas asih, melihat dan merasakan segala
sesuatu dengan perasaan tenang dan gembira. Orang yang batinnya dapat
merasakan keheningan di dalam jalan kebenaran akan merasakan keindahan hidup ini. Orang yang dapat mengerti dan menghayati Kebuddhaan di dalam batinnya akan selamanya berbahagia.

Bukan untuk melampiaskan amarah, kita datang ke dunia ini. Kata-kata
tersebut memusnahkan kabut kelam dalam sanubari, dan memberikan inspirasi,
kegembiraan, ketenangan serta kedamaian bagi batin kita.

Ps : Copas from email.. so kalo repost, pls delete  _/\_
ketika kehidupan memberimu seribu alasan untuk menangis, tunjukkan kalo kamu mempunyai sejuta alasan untuk tersenyum.. Tersenyumlah selalu.. :)

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #36 on: 17 November 2008, 01:00:18 AM »
Apa itu Zen?

--------------------------------------------------------------------------------

Ikan kecil bertanya pada ikan besar :

Ikan kecil : Aku sering mendengar ikan lain bicara tentang laut. Tapi apa itu laut?
Ikan besar : Di sekelilingmu adalah laut.
Ikan kecil : Mengapa aku tidak bisa melihatnya ?
Ikan besar : Kamu tinggal, bergerak, dan hidup di laut. Laut ada di dalam dan di luarmu. Laut memberimu kehidupan dan pada saat kematian kamu kembali ke asalmu. Laut melingkupimu seperti dirimu sendiri.

Catatan : Ikan-ikan hidup di sungai dan didanau tidak menyadarinya. Manusia hidup di lautan ZEN tetapi tidak mengenal hakikat ZEN.
Bagus sekali !
Maknanya dalam.

Jelas menunjuk bahwa ikan itu tidak tahu dunianya, sehingga ia bertanya, "apa itu laut?"

Ikan itu menunjuk manusia, sama seperti kita.
Yang juga tidak tahu dunianya.
Dimana hal yang begitu mudah ditemukan sehari-hari tidak ia sadari, lebih-lebih "dunia Zen".

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #37 on: 17 November 2008, 01:09:53 AM »
Cerita Zen 2 - Membawa gadis menyeberangi sungai

--------------------------------------------------------------------------------

Guru Zen Jepang Tanzan dan rahib muda Ekido bertemu dengan seorang gadis cantik yang tidak bisa menyeberangi sungai kecil.

Tanzan : Aku akan menggendongmu menyeberangi sungai. (kata Tanzan kepada gadis tersebut)

Setelah di seberang sungai.
Gadis : Guru, terima kasih dan selamat tinggal.

Tanzan dan rahib muda Ekido kemudian meneruskan perjalanan. Setelah setengah hari perjalanan. Rahib muda Ekido berkata

Ekido : Guru, kita bhiksu tidak boleh mendekati perempuan. Mengapa tadi anda menggendong gadis tersebut ?

Tanzan : Gadis mana yang kamu maksud ? Aku sudah menurunkannya sejak tadi. Mengapa anda masih memikirkannya ?

Catatan : : Orang yang menggendong gadis tersebut melakukan tanpa nafsu. Dia melakukannya dengan spontan dan tanpa pamrih. Bukankah rahib muda yang punya nafsu ?

Rahib muda masih ada sifat 'kemelekatan' bahkan setelah mereka berjam-jam meninggalkan wanita muda di belakangnya.

Apakah ini adalah hubungannya dengan konsep 'kemelekatan'?

Bahwa orang (seperti Zen atau Buddha) sudah memiliki tingkat tertinggi pencerahan sehingga beliau bisa mengendalikannya?

Bagaimana dengan "rasa haus", atau rasa lapar, rasa sakit, dst, yang merupakan kodrat kemanusiaannya, bisakah dikendalikan juga?

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #38 on: 17 November 2008, 01:37:49 AM »
Cerita Zen 3 - Bila aku tidak masuk neraka, siapa yang mau ??

--------------------------------------------------------------------------------

Seorang Umat bertanya pada master Zen.

Umat : Setelah hidup seratus tahun, kemana seorang bhiksu seperti anda akan berakhir ??

Master : Aku akan menjadi keledai atau kuda.

Umat : Dan setelah itu ?

Master : Aku akan masuk neraka.

Umat : Tapi anda adalah simbol kebajikan. Mengapa anda turun ke neraka ?

Master : Bila aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka untuk mencerahkanmu ?????

Catatan :
Bila orang menghubungkan dharma dengan tempat yang bersih saja, apakah ini berarti bahwa dharma tidak ada di tempat yang kotor seperti toilet jorok? Dharma meliputi semua dan tidak punya tempat yang tetap. Dharma ada di surga, tapi bukankah di neraka Dharma lebih diperlukan ???

Aku melihatnya begini,

Umat itu bodoh dan bebal, dan sering bertanya hal-hal yang bodoh yang sering membuat kesal Master Zen. Seorang manusia normal tentu bisa saja kehilangan kesabaran dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang dilontarkan, dan tidak mengerti-mengerti apa yang sudah diajarkan oleh Master Zen kepadanya.

Sehingga Master Zen memilih dirinya sebagai contoh untuk menyindir umat nya yang bebal itu, bahwa Zen telah gagal mendidik dia.

Caranya bagus dan jitu, tetapi sasarannya tidak kena kepada umatnya yang (masih) bebal itu.
AKan lain bila umatnya pinter-pinter (yang sudah mendapat pencerahan).

Malahan dalam pikiran umatnya itu akan terpikir begini,

Wah.. bukankah dia seorang guru Zen?
Dia seorang guru, hebat, bijak, mendapat pencerahan tertinggi, dst, tetapi akhirnya dia masuk ke neraka!! Bagaimana dengan aku yang jauh lebih bodoh yang tidak mendapat-dapat pencerahan?? Ohh nasib..
Untuk apa aku berlatih diri, mencari pencerahan, melelahkan, dst, dst, bahkan nasibku lebih buruk daripada guru Zen? Aku akan membuang seluruh konsep ajarannya dan keluar mencari guru yang lebih baik !


Bagaimana tanggungjawab moral guru Zen membawa umatnya menuju pencerahan?

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #39 on: 17 November 2008, 01:44:12 AM »
Cerita Zen 4 - Warna Bambu

--------------------------------------------------------------------------------

Seorang kaya mengundang seorang pelukis ternama untuk melukis lukisan bambu.

Orang Kaya : Wah, lukisan bambunya sangat indah. Sayang warna bambu-nya merah. Salah.

Pelukis : Lantas, kamu mau bambu-mu warna apa ??

Orang Kaya : Hitam donk.

Pelukis : Siapa yang pernah tahu warna bambu hitam.

Catatan :
Kita sering menunjukkan kesalahan orang lain. Tetapi kesimpulan kita belum tentu juga benar.

Umum dan wajar dan manusiawi, menjadi seorang kritikus.  :P

Tetapi menjadi seorang kritis tentu berbeda dengan yang 'cuma tukang kritik saja'. :P

Master Zen seorang kritis, pintar, dan dia rajin sekali melakukan kritik-kritik untuk mengajar, tetapi ada ajaran-ajarannya yang 'terlalu keras' untuk umatnya yang bebal, sehingga kritikan beliau malah menjadi mentah dan sia-sia.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #40 on: 17 November 2008, 01:52:20 AM »
Cerita Zen 5 - Berdamai dengan diri sendiri

--------------------------------------------------------------------------------

Ada seorang dokter militer yang mengikuti pasukan ke medan perang. Ia mengobati tentara yang terluka di medan perang.

Bila pasiennya sembuh dari luka, mereka di kirim kembali untuk bertempur. Akibatnya, mereka terluka lagi, lalu terbunuh.

Setelah melihat skenario ini berulang-ulang, dokter tersebut akhirnya mengalami patah semangat.

Pikirnya : Bila seseorang ditakdirkan untuk mati, mengapa aku harus menyelamatkannya ? Bila pengetahuian medisku ada gunanya, mengapa ia pergi ke medan perang dan kehilangan nyawanya.

Dokter tersebut tidak memahami apakah ada artinya ia menjadi dokter militer, dan ia sangat sedih sehingga ia tidak mampun menyembuhkan orang lagi.

Karenanya, ia naik gunung untuk mencari seorang master Zen.

Setelah bersama seorang master Zen selama beberapa bulan ...

Akhirnya, ia mengerti masalah dia sepenuhnya. Ia turun gunung untuk terus berpraktek sebagai dokter.

Katanya : INI KARENA AKU SEORANG DOKTER.

Catatan
Tidak meng-identifikasi diri sendiri dengan sesuatu atau menghubungkan sesuatu dengan "aku" dan mengerti bahwa ide adanya "aku" yang berbeda dari benda lain adalah noda, itulah kebijaksanaan sejati.

Aku kira, bentuk jatidiri, identitas seseorang (ego) sangatlah penting. Yang menunjuk bahwa dia (aku) tidaklah sama dengan si X. Sebab bila sama dengan si X, lantas bagaimana 'ego X' dan 'ego aku' hidup untuk berpikir, merasakan, bertindak, dst, bukankah mereka menjadi sama dengan suatu produk barang, alias, kodi an (sama semua)?

Kucing saja terlihat sama wajahnya. Tetapi masing-masing mempunyai 'ego' yang berbeda sehingga tidak mungkin kucing tetangga yang biasanya dipanggil 'pussy' lalu malah yang datang kucing jalanan?

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #41 on: 17 November 2008, 01:57:44 AM »
Cerita Zen 6 - Barang antik jenderal

--------------------------------------------------------------------------------

Seorang Jendral perang sedang mengagumi barang antiknya yang sangat berharga. Tiba-Tiba...

Jendral : AIYAH !!! Hampir saja jatuh... (saking terkejutnya, keringat jendral bercucuran).

Kemudian dia berpikir : "Aku telah memimpin sepuluh ribu pasukan dalam medan perang, dan tak pernah takut, bahkan tidak pernah takut mati. Mengapa aku begitu cemas oleh cangkir sekecil ini ??? "

Ia akhirnya menyadari bahwa kecintaan yang membawa rasa takut kehilangan menyebabkan kecemasannya. Ia pun melempar cangkir itu melewati bahunya dan cangkir itu hancur.

Catatan
Dimana ada pengetahuan dan perasaan untung serta rugi, ada kesenangan dan kesedihan. Bisa mengatasi baik dan buruk, untung dan rugi adalah keberuntungan sejati.

Seorang jendral ...

Pangkat tinggi, pasti hidupnya kaya raya..

Untuk sampai mencapai pencerahan seperti itu, dia yang seorang jendral, harus melepaskan seluruh hartanya, membuang pangkat jendralnya, membuang kemewahan, lalu hidup menjadi seorang yang miskin berat. Bila tidak, setiap hari dia akan tergoda oleh harta kesayangannya dan tidak akan mendapatkan pencerahan.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #42 on: 17 November 2008, 02:01:01 AM »
Cerita Zen 7 - Ke mana orang pergi setelah mati ?

--------------------------------------------------------------------------------

Kaisar Jepang Goyozei sedang mempelajari Zen di bawah guru Zen Gudo Toshuku.

Raja : Dalam Zen, pikiran itu adalah Buddha, benar ??

Gudo : Jika kukatakan ya, kamu akan berpikir bahwa kamu mengerti tanpa berusaha memahami, Jika kukatakan tidak, aku terpaksa membantah fakta yang sudah dipahami orang banyak dengan baik.

Raja : Kemana orang suci pergi setelah mati ??

Gudo : Saya tidak tahu...

Raja : Mengapa kamu saja sampai tidak tahu ??

Gudo : Karena saya belum mati.

Catatan
Ketika hidup, orang harus menghargai keindahan dan misteri hidup menurut pandangan orang hidup. Tidak perlu memikirkan tentang dunia setelah mati. Hari ini, hiduplah untuk hari ini. Tidak perlu mencemaskan esok hari karena kejadian esok akan datang esok hari.

Bagus.

Cuma, dia seorang kaisar. Dia seorang pemimpin kerajaan.
Bila dia hanya memikirkan tentang hari ini, bisa-bisa kerajaannya akan berantakan.

Akan sangat bagus bila cerita itu mengambil kisah seorang petani tua yang khawatir tentang sawahnya yang terancam rusak oleh hujan deras berhari-hari..

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #43 on: 17 November 2008, 02:09:08 AM »
Cerita Zen 8 - Bagaimana berlatih Zen ?

--------------------------------------------------------------------------------

Seorang umat bertanya kepada guru Zen.

Umat : Orang seperti apa yang mempraktekkan Zen ?

Guru : Orang seperti saya.

Umat : Guru, bagaimana kamu melatih Zen ?

Guru : Berlatih Zen adalah mengganti pakaian, mandi, tidur dan makan.

Umat : Tapi Itu kan pekerjaan duniawi. Pelajaran pikiran yang bagaimana yang bisa disebut dengan berlatih Zen ?

Guru : Menurutmu, apa yang aku lakukan setiap hari ?

Catatan
Latihan Zen berasal dari percakapan setiap hari, mencuci muka, makan dan hal-hal seperti itu. Orang harus melakukannya dengan penuh KESADARAN. Persepsi atas hakikat benda berasal dari melakukan hal-hal itu dengan sepenuh hati.

Bisa diartikan,

manusia melakukan tugas sehari-hari yang rutin cendrung menjadi terbiasa, serba otomatis, dan menjadi 'malas berpikir' (tidak sadar) akan setiap kebiasaannya itu. Mirip mesin. Dari pertama start, terus jalan sendiri dan berulang-ulang seperti kaset rusak. Akan lain bila kebiasaan menggosok gigi di pagi hari terganggu oleh habisnya pasta gigi yang kelupaan dibeli lagi. :P

Mirip dengan usaha orang-orang mencari pencerahan. Terbiasa dengan 'pola rutinnya' yang membawa dia pada ketidaksadaran akan arti dan fungsinya.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #44 on: 17 November 2008, 02:15:55 AM »
Cerita Zen 9 - Tidak ada pengganti...

--------------------------------------------------------------------------------

Seorang umat bertanya kepada guru zen.

Umat : Bisakah anda membantu saya memahami arti Zen ?

Guru : Aku sangat ingin membantu, tapi sekarang aku harus buang air kecil dulu.

Guru beranjak dari tempat duduknya dan mendekati umat tersebut kemudian berkata dengan suara lirih.

Guru : Coba pikirkan, bahkan untuk hal sepele seperti ini aku harus melakukannya sendiri. Boleh tanya, bisakah kamu melakukannya untukku ???

Catatan
Untuk memahami masalah hidup dan mati, seseorang harus mengandalkan dirinya sendiri. Orang lain tidak bisa melakukannya untukmu. Hanya Mengandalkan penjelasan dari orang lain adalah seperti burung kakak tua belajar bicara. Ia mengatakan apa yang diajarkan tapi tidak tahu arti dari kata kata tersebut.

Untuk seorang anak kecil, bayi, mula-mula yang dilakukan oleh orang tuanya untuk mengajar bayi itu berjalan adalah menuntunnya, bukan membiarkannya.

Begitu juga untuk seorang murid baru yang ingin memahami arti Zen ini.
Tanpa dibimbing, bagaimana murid itu akan tahu?
Tanpa sekolah, bagaimana seorang murid akan dapat membaca?

Atau, apakah Zen hanya menjadi milik orang-orang pintar saja? Atau Zen tidak jelas (tidak memiliki 'bentuknya') untuk bisa disampaikan, hanya ber-metode pada diri sendiri yang masing-masing itu?