//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Cerita-Cerita Zen (Koan)  (Read 69899 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #45 on: 17 November 2008, 02:21:49 AM »
Cerita Zen -10 : Belajar Zen
-------------------------------------

Di sebuah monastery Zen terdapat seorang master Zen dan seorang muridnya.
Untuk mengajarkan kesunyataan, maka di depan murid, sang Guru mengangkat patung Buddha dari keramik dan kemudian menjatuhkannya hingga pecah.
Murid terbengong sejenak dan kemudian merasa tercerahkan.
Setelah peristiwa itu, si murid mohon diri untuk turun gunung.  Sang Guru sedih dan hendak menahannya, tapi si murid bersikeras. Tak lama kemudian, sang guru meninggal dan ada peristiwa2 yang menunjukkan bahwa beliau telah menjadi Bodhisattva.

Si murid mengajarkan hal itu kepada masyarakat desa di kaki gunung. Setiap ia menemukan pemilik rumah memiliki patung Buddha ia selalu membanting dan memecahkannya. Demikianlah seterusnya, penduduk2 desa itu mengajar ke desa-desa lain dimana orang2 semuanya mulai membanting dan memecahkan patung Buddha. Mereka berkata : patung is patung, buang ketahayulan!

Sampai suatu ketika terjadi gempa bumi dahsyat dan semua dari mereka mati. Ternyata si murid dan mereka semua terlahir di neraka.

Koan : Perbuatan yang sama, tapi terlahir di tempat yang berbeda. Mengapa???

Hints:
- Belajar Zen harus memahami esensinya, bukan sekedar meniru penampilan luarnya belaka.
- Apa yang nampak diluarnya mungkin sama, tapi proses dalam batin adalah tanggung jawab masing2 pribadi.
- Belajar memutuskan kemelekatan janganlah menjadi sebuah kemelekatan baru.
Tanggungjawab masing-masing??

Bagaimana bisa memahami suatu bentuk standard (default) Zen bila masing-masing hanya bertanggungjawab sendiri-sendiri??

Seorang guru Zen bernama X membuahkan sebuah konsep X.
Seorang guru Zen bernama Y membuahkan sebuah konsep Y.

Lantas, kepada siapa seorang murid akan bertanya?
Apakah kepada guru Zen X, atau kepada guru Zen Y?

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #46 on: 17 November 2008, 02:29:23 AM »
Cerita Zen - 11 : DIALOG PERDAGANGAN UNTUK MENGINAP
--------------------------------------------------------------------
 
Asalkan memajukan dan memenangkan sebuah argumentasi tentang agama Buddha dengan orang-orang yang tinggal di sana, seorang bhikshu kelana boleh menginap di sebuah vihara Zen. Jika kalah, ia harus pergi dan melanjutkan perjalanan.
 
Di sebuah vihara di belahan utara Jepang, tinggallah dua orang bhikshu. Yang lebih tua adalah seorang terpelajar, sedangkan yang lebih muda adalah orang bodoh dan hanya mempunyai sebuah mata.
 
Seorang bhikshu datang dan memohon untuk menginap. Sebagaimana biasanya, ia menantang mereka untuk berdebat tentang ajaran yang tertinggi. Saudara yang lebih tua, karena keletihan belajar sepanjang hari itu, meminta saudara mudanya untuk menggantikannya. "Pergilah dan hadapi dialognya dengan tenang," ia memperingatkan.
 
Demikianlah, bhikshu muda dan orang asing itu pergi ke altar dan duduk. Tidak lama kemudian, pendatang itu bangkit dan menghampiri saudara tua dan berkata, "Saudara muda anda adalah seorang yang mengagumkan. Ia mengalahkan aku." "Ceritakan dialog itu kepadaku," kata saudara yang tua.
 
"Baiklah", jelas si pendatang, "Pertama-tama, saya mengacungkan sebuah jari,  melambangkan Buddha, Ia yang mencapai Pencerahan. Ia pun mengacungkan dua jari, melambangkan Buddha beserta ajaran Beliau. Saya mengacungkan tiga jari, melambangkan Buddha, ajaran, dan pengikut Beliau, yang hidup dalam keharmonisan. Kemudian, ia melayangkan kepalan tinjunya ke wajah saya, menunjukkan bahwa ketiga-tiganya berasal dari kebijaksanaan. Demikianlah dia menang dan saya tidak berhak untuk menetap." Setelah itu, si pendatang pun pergi.
 
"Kemanakah rekan itu?" tanya saudara muda, berlari menjumpai saudara tuanya.
"Saya tahu anda memenangkan perdebatan tadi."
"Menang apa! Saya ingin memukulnya."
"Ceritakanlah tentang perdebatan tadi," pinta saudara tua itu.
 
"Mengapa, begitu melihat saya, ia mengacungkan satu jari, menghina saya dengan menyindir bahwa saya hanya mempunyai sebuah mata. Oleh karena ia adalah pendatang, saya kira saya harus bertindak sopan terhadapnya, sehingga saya mengacungkan dua jari, bersyukur baginya karena mempunyai dua mata. Kemudian, bedebah yang tidak sopan itu mengacungkan tiga jari, menyiratkan bahwa di antara  kita berdua hanya ada tiga bola mata. Oleh karenanya, saya marah dan mulai meninjunya, tetapi ia berlari keluar dan perdebatan itu pun berakhir."


Sumber: Buku Daging Zen, Tulang Zen.
;D ;D

Komunikasi tidak jelas dan tidak terarah (salah paham).
Kesalahan pahaman adalah kodrat manusia.
Itulah yang sering terjadi dalam cerita-cerita Zen (di atas).

Yang menunjuk tiap-tiap manusia memiliki keunikkan (ego) yang jelas (nyata). Sehingga tidaklah mengherankan bahwa banyak kebingungan dari murid-muridnya (umatnya) yang bertanya-tanya sebagai akibat masing-masing bertanggungjawab sendiri-sendiri.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #47 on: 17 November 2008, 02:44:30 AM »
Pemotong Batu

Pada jaman dahulu, di sebuah kaki gunung, hiduplah seorang pemotong batu untuk bahan bangunan yang merasa tidak puas akan kehidupan dan statusnya di dunia.

Suatu hari ia pergi ke kota dan melintasi rumah seorang saudagar kaya raya. "Betapa enaknya jadi orang berpunya, tinggal di rumah megah, berpengaruh dan tiada kurang suatu apa!", bathinnya. Ia merasa iri dan berharap bisa seperti saudagar itu. Alangkah kagetnya ia, entah kenapa tiba-tiba saja ia menjadi seorang saudagar hartawan, menikmati segala kemewahan, memiliki kekuasaan, serta diirikan oleh orang yang hidupnya kurang sejahtera.

Suatu hari orang pejabat tinggi negeri yang ditandu dalam sebuah joli mewah melewati rumahnya diiringi oleh para prajurit. Setiap orang di sepanjang jalan bagaimanapun status ekonominya harus berhenti,minggir ke tepi jalan, dan membungkuk menghormat kepadanya."Betapa berkuasanya dia," pikirnya, "Aku ingin menjadi pejabat tinggi negara!"Terjadilah! Seketika ia menjadi seorang pejabat tinggi negara yang berkuasa, ditandu kemana -mana di atas joli diiringi oleh sepasukan prajurit, dihormati sekaligus ditakuti rakyat. 

Suatu hari di musim panas, ketika melakukan inspeksi keliling, sengat matahari telah membuatnya tidak merasa nyaman dan gerah. Disibakkannya tirai joli, sambil memandang matahari yang tampak gagah di langit, ia berkata, "Betapa hebatnya matahari, andai aku bisa jadi matahari"Lalu ia menjadi matahari, bersinar sepanjang masa, menyengat segala sesuatu dan setiap orang dengan teriknya, serta diumpat kala musim panas oleh petani yang bekerja di ladang.

Tetapi sekali waktu segumpal awan hitam menghalanginya sehingga sinarnya tidak dapat mencapai bumi. "Betapa hebat awan hitam badai ini," pikirnya,"Aku berharap ingin jadi awan badai."Ia kemudian menjadi awan hitam, berarak kian kemari dari suatu tempat ke tempat lain dan dibenci oleh setiap orang. Namun suatu hari sebuah kekuatan besar telah membuatnya buyar. Angin. "Betapa kuatnya ia," bathinnya, "Semoga aku bisa jadi angin!"


Seketika ia berubah menjadi angin, yang bisa mengangkat atap-atap rumah, mencerabut pohon-pohon dari akarnya, serta menimbulkan ombak besar yang meneggelamkan perahu-perahu di lautan. Ditakuti oleh apapun yang ada di bawahnya. Tapi suatu hari, sesuatu yang besar dan kuat mampu menghalangi kekuatannya betapupun kuat ia meniupnya. Sebuah batu karang yang membukit. "Betapa kuatnya ia,"serunya," betapa ingin aku menjadi karang."

Ia kemudian berubah menjadi batu karang yang kuat. Tak bergeming dari tempatnya dari jaman ke jaman. Akan tetapi suatu hari, ia merasa ada sesuatu yang berubah pada dirinya, sebuah palu godam besar yang secara berirama dihantamkan pada sebuah pahat perlahan lahan telah melobangi permukannya yang keras, dan akhirnya memotong-motongnya bagian demi bagian. "Siapakah yang lebih kuat dari aku, sang karang?" herannya.


Ia menengok jauh ke bawah dan melihat seorang pemotong batu.

Hawa nafsu dan keinginan, selalu merusak jalan-jalan menuju pencerahan.
Dari sekian milyard manusia di dunia, ada berapa persen orang yang mampu memiliki pencerahan yang bisa dikendalikannya?

Bila guru Zen mampu mengendalikan dirinya, apakah murid-muridnya bisa?
Jelas, berbeda situasinya.
Bukannya tidak bisa, tetapi berbeda, berbeda dalam porsinya. Tergantung tanggungjawab masing-masing untuk mencarinya. Apakah nantinya dia akan mendapatkan pencerahan sebanyak 80%, 65%, 70%, 55%, dst dari jumlah porsi yang diperoleh guru Zen? Tidak diketahui pasti.. Serba buram..

Dan apakah setelah mendapatkan pencerahan itu, apakah akan berguna untuk sesama? Juga kurang jelas juga..

Seperti warisan yang diturunkan,
Zen Pertama = 100%
Zen A = 99%
Zen B = 98%
Zen C = 97%
Zen D
dst, dst.. sampai jaman sekarang..

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #48 on: 17 November 2008, 03:02:04 AM »
Zen Buddha


Buddha berkata : " Bagiku kedudukan raja dan penguasa bagai butiran debu, Aku melihat harta emas permata bagai bata dan batu, Aku melihat jubah sutra terhalus bagai kain usang, Aku melihat alam semesta yang maha luas ini bagai seonggok bebijian, dan Danau terbesar di India bagai setetes minyak di kaki - Ku.
Bagiku pengetahuan tertinggi pembebasan bagai benang emas dalam mimpi, dan
memandang jalan mulia mereka yang tercerahkan bagai bunga-bunga yang muncul di mata seseorang.
Aku melihat meditasi sebagai pilar sebuah gunung, Nirvana bagai mimpi di siang bolong.
Aku melihat penilaian benar atau salah bagai liukan tarian seekor naga, dan memandang timbul tenggelamnya keyakinan tak lain bagai jejak-jejak yang di tinggalkan oleh ke empat musim.

( di kutip dari buku 101 Koan Zen , Yayasan penerbit Karaniya )

:lotus:
Beliau seperti berada di angkasa tinggi melihat ke bumi.
Dia beruntung memiliki pencerahan yang bagus.
Dia menyadari batas-batas (limit) dirinya sebagai seorang manusia
Dia menyadari 'sebuah' kebijaksaan bisa terlihat dari pancaran mata seseorang
Dia menyadari bahwa kebijaksanaan akan membawa seseorang 'mampu' memandang surga dengan jelas
Dan kebijaksanaan jauh melebihi emas permata, atau semuanya menjadi tidak ada arti apa-apa
Karena keyakinan manusia bisa berubah-ubah sepanjang hidup maka kebijaksanaan sebagai pembimbingnya 

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #49 on: 17 November 2008, 03:16:20 AM »
Meniru Sang Guru

Ada suatu cerita dimana terdapat seorang bhiksu muda yang berguru kepada seorang Mahabhiksu Zen yang terkenal telah memperoleh Pencerahan, sehingga dinamakan Yang Tercerahkan. Namun sesudah mengikuti sekian tahun segala tingkah laku gurunya tersebut, mulai dari bangun siang, makan berisik, jalan seenaknya, sampai hal2 lainnya termasuk cara berteriak dan berbicara, tetap saja bhiksu muda ini merasa belum mencapai pencerahan. Akhirnya timbul keraguan dalam dirinya bahwa kemungkinan besar gurunya ini belum mencapai pencerahan sebagaimana julukan yang diberikan kepadanya.

Keesokan harinya, si bhiksu muda menemui gurunya dan telah memutuskan untuk pergi dengan berkata, "Guru, saya telah mengikuti guru sekian lama dan telah meniru segala perbuatan guru seperti bangun siang, makan berisik, dan berteriak seenaknya sampai kadang2 tiga hari tidak mandi juga sebagaimana kebiasaan guru, namun saya tetap merasakan belum memperoleh pencerahan. Dan saya sendiri ragu kalau guru telah mencapai pencerahan. Untuk itu saya memutuskan untuk meninggalkan guru".

Mendengar hal itu Sang Mahabhiksu tertawa, "Ha..ha..ha.., muridku yang malang. Siapa suruh engkau mencari pencerahan di luar dari dirimu sendiri. Masih untung saya tidak bertingkah laku seperti seorang suci yang telah mencapai pencerahan, karena kemungkinan engkau nantinya akan membenci semua orang suci yang kau temui". Begitulah akhirnya bhiksu muda itupun menyadari akan suatu Kebenaran Sejati dan langsung tercerahkan, kemudian dia membatalkan keputusannya untuk meninggalkan gurunya.

Kesimpulan: Pada saat kita menyadari Kebenaran Sejati, maka pada saat itulah kita telah memperoleh Pencerahan. Sering terdapat orang yang berusaha mencari kebahagiaan dari hal2 di luar dirinya, padahal Pencerahan itu sendiri ada dalam diri masing2. Bentuk luar hanyalah merupakan penampakan maya yang menghalangi pandangan sejati kita.


Seseorang tidak mungkin tercerahkan sepanjang hidupnya, bila ia tidak mau mencarinya.

Pencerahan harus dicari sepanjang hidup, tidak bisa berhenti, dan merasa sudah mendapatkan sebuah keutuhan pencerahan. Padahal pencerahan yang baru diperolehnya hanya sebatas dirinya.

Pencerahan lebih luas, lebih besar, daripada dirinya, makanya tiap-tiap orang menyebutnya 'pencerahan' yang artinya membuat cerah bukan pada dirinya sendiri saja tetapi kepada siapa saja yang mau mengenalnya dan mencarinya.

Sederhananya,
X menerima pencerahan X
Y menerima pencerahan Y

Pada saat yang sama, X dan Y masing-masing memperoleh 'sekeping' pencerahan, sebut saja 'sekeping pencerahan X' dan 'sekeping pencerahan Y'. Apakah X dan Y dapat disebut memperoleh 'sebuah' pencerahan?

Belum.
Belum cukup disebut demikian.
Masing-masing baru menerima 'sekeping'.
Belum 'seutuhnya'.

Maka X dan Y bersama-sama mencari pencerahan yang lebih tinggi lagi.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #50 on: 17 November 2008, 03:25:47 AM »
Patuh

Ajaran Guru Bankei tak hanya diikuti oleh murid-murid zen saja, tetapi juga oleh orang-orang dari berbagai kalangan dan aliran. Ia tidak pernah mengutip sutra-sutra atau asyik berteori ilmiah. Alih-alih, kata-katanya diucapkan langsung dari hatinya kepada hati para pendengarnya.

Banyaknya jumlah orang yang menjadi pengikut Bankei menimbulkan kemarahan dalam diri seorang pendeta aliran Nichiren karena orang-orang yang semula menjadi pengikutnya pergi untuk mendengarkan ajaran Zen. Pendeta Nichiren yang egois ini mendatangi kuil, bertekad untuk berdebat dengan Bankei.

"Hai,Guru Zen!" serunya. "Tunggu sebentar. Orang yang menghormatimu akan menuruti apa yang kau katakan, namun orang seperti aku ini tidak menghormatimu. Apa kau bisa membuatku mematuhimu?" "Marilah duduk di samping saya dan saya akan menunjukkan kepada anda," kata Bankei.

Dengan angkuhnya pendeta itu menyeruak kerumunan orang untuk mendekati sang guru. Bankei tersenyum, "Silakan duduk di sebelah kiri saya." Pendeta itu mematuhinya.

"Oh," kata Bankei lagi," kita bisa bicara lebih nyaman kalau anda duduk di sebelah kanan saya. Tolong pindah ke sini." Sang pendeta dengan angkuh pindah ke sebelah kanan.
"Coba lihat, ujar Bankei, "Anda mematuhi saya dan saya rasa anda orang yang sangat sopan. Sekarang, duduk dan dengarkan."
Nah ini yang sering terjadi pada orang-orang yang merasa sudah 'tercerahkan'.
Merasa sudah bisa 'berdiri sendiri' dari pencarian pencerahannya.

Dua orang ini masing-masing memiliki yang disebut, kelekatan nyata, dan ego nyata.
Jelas, masing-masing berusaha memberikan 'pengaruh', padahal hal ini berlawanan dengan bentuk 'kelekatan' (?), benar begitu?

Jangan sampe terjadi, nilai-nilai yang dibawakan oleh seorang guru adalah mencari popularitas (ego, kelekatan) yang mengabaikan esensi pencerahan itu sendiri. Dengan menyerap pengikut sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri. Ini tidak adil dan tidak jujur, dan menjadikan 'makluk' pencerahan ini hanya sebagai 'sapi perah' bagi keuntungan 'ego' dan 'kelekatan' dirinya.


note:
Aku kurang paham konsep 'kelekatan' ini.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #51 on: 17 November 2008, 03:32:18 AM »
Tidak Jauh dari Ke-Buddha-an

Ketika mengunjungi Gasan, seorang mahasiswa bertanya: "Pernahkah anda membaca Kitab Injil?" "Belum, tolong bacakan," jawab Gasan.

Mahasiswa tersebut membuka injil dan membaca dari Kitab Matius:  "Mengapa engkau khawatir tentang pakaianmu? Lihatlah bagaimana bunga-bunga bakung tumbuh di padang. Bunga-bunga itu tidak bekerja dan tidak menenun; dan kukatakan kepadamu, bahkan Raja Salomon yang begitu kaya pun, tidak memakai pakaian yang sebagus bunga-bunga itu! Oleh sebab itu, janganlah khawatir tentang hari esok, sebab esok akan mengatasi segala sesuatunya."

Gasan berkata: "Siapa pun yang mengatakan itu, saya rasa seorang yang tercerahkan."

Sang mahasiswa melanjukan membaca: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima; dan setiap orang yang mencari, mendapat; dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan,"

Gasan berkata: "Luar biasa. Siapa pun yang mengatakan itu, ia tidak jauh dari ke-Buddha-an."

Gasan memahami arti sebuah 'ego' dirinya.
Dia memahami bahwa dirinya manusia terbatas, banyak kelemahan.
Tentunya dia akan berusaha mengatasi kelemahan dirinya ini. Wajar manusiawi.
Tetapi sewaktu dia mendengar dari Injil itu, dia langsung melihat bahwa 'kelemahan' dirinya ini berubah menjadi sebuah 'harapan' yang kuat dan baru. Dia sangat kagum.

Offline ZenMarco

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #52 on: 17 November 2008, 03:44:25 AM »
Bukan Karena Marah Lahir ke Dunia
Oleh : Tan Chau Ming

Cin Tai adalah seorang master Ch'an/Zen yang menyukai bunga anggrek. Beliau
telah menanam dan mengumpulkan banyak jenis anggrek di vihara. Pada suatu
hari beliau pergi bertugas dan berpesan kepada para siswanya untuk menjaga
serta merawat bunga anggrek tersebut dengan baik.

Suatu waktu, ketika salah seorang siswa beliau menyiram bunga, tanpa
disengaja dia tersandung rak bunga dan membuat beberapa pot anggrek terjatuh
dan pecah. Siswa tersebut sangat takut dan kebingungan.

Ketika Master Cin Tai kembali, dengan berlutut di hadapan sang master siswa
itu menyatakan penyesalan dan memohon pengampunan seraya berkata: "Guru,
maafkan saya. Saya telah memecahkan pot bunga anggrek kesayangan Anda. Saya bersedia menerima segala macam hukuman. Saya mohon welas asih sang guru agar tidak marah!"

Setelah mendengar laporan siswa itu Master Cin Tai dengan tenang menjawab:
"Saya menanam bunga anggrek, tujuan yang pertama adalah untuk memberikan
persembahan kepada Sang Buddha. Tujuan yang kedua untuk memperindah
lingkungan. Bukan bertujuan untuk melampiaskan amarah, saya menanam bunga anggrek ini"

Kita datang ke dunia ini, bukan untuk melampiaskan angkara murka dan juga
bukan untuk menikmati rasa kesal. Hubungan suami istri, mendidik anak,
hubungan antar teman dan relasi, jika dilakukan dengan menghayati kata-kata
yang diucapkan Master Cin Tai "BUKAN BERTUJUAN UNTUK MELAMPIASKAN AMARAH, SAYA MENANAM ANGGREK," maka kesalahpahaman dan ketegangan akan berkurang banyak.

Orang yang batinnya penuh dengan welas asih, melihat dan merasakan segala
sesuatu dengan perasaan tenang dan gembira. Orang yang batinnya dapat
merasakan keheningan di dalam jalan kebenaran akan merasakan keindahan hidup ini. Orang yang dapat mengerti dan menghayati Kebuddhaan di dalam batinnya akan selamanya berbahagia.

Bukan untuk melampiaskan amarah, kita datang ke dunia ini. Kata-kata
tersebut memusnahkan kabut kelam dalam sanubari, dan memberikan inspirasi,
kegembiraan, ketenangan serta kedamaian bagi batin kita.

Ps : Copas from email.. so kalo repost, pls delete  _/\_
Bagus.
Memang membuat damai.

Tujuan pertama adalah mempersembahkan, lalu membuat indah.

Begitu juga dengan memiliki sebuah piaraan, kucing misalnya.
Tujuan pertama adalah persembahan.
Tujuan kedua adalah menyayangi.

Maka sewaktu kucing itu ditabrak motor di jalanan yang membawa kematiannya, sebagai manusia normal, tentu hal ini berakibat menyakitkan. Timbul rasa kesal dan menyalahkan diri sendiri, menyalahkan lalu lintas yang semerawut, menyalahkan ketidakdisplinan, dst, dst. Rasa sedih ini membawa kekecewaan dan kemarahan. Lantas, dimanakah damai itu pergi? Apakah suatu pencerahan bisa membantunya?

Offline wen78

  • Sebelumnya: osin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.014
  • Reputasi: 57
  • Gender: Male
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #53 on: 19 June 2009, 11:34:20 AM »
Ada 4 pelajar Zen sedang berlatih meditasi bersama2 didalam sebuah gua dengan sebuah lilin saja. mereka berkomitmen untuk tidak berbicara dan bermeditasi selama beberapa minggu.
Pada suatu malam, angin bertiup dan api lilin mulai padam..
Pelajar pertama berkata "Astaga, lilinnya padam!"
Pelajar kedua berkata "Eh, kamu tak seharusnya berbicara."
Pelajar ketiga menyahuti "Bodoh kalian berdua !! kenapa kalian bicara !."
Tak lama kemudian pelajar terakhir sambil tetap menutup matanya "Hanya aku saja yang tidak bicara"
segala post saya yg tidak berdasarkan sumber yg otentik yaitu Tripitaka, adalah post yg tidak sah yg dapat mengakibatkan kesalahanpahaman dalam memahami Buddhism. dengan demikian, mohon abaikan semua statement saya di forum ini, karena saya tidak menyertakan sumber yg otentik yaitu Tripitaka.

Offline samanthabhadra

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 4
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
  • Samanthabadra
ReTanggungjawab masing-masing?? Bagaimana bisa memahami suatu bentuk standard (
« Reply #54 on: 02 September 2009, 06:12:51 PM »
Tanggungjawab masing-masing??

Bagaimana bisa memahami suatu bentuk standard (default) Zen bila masing-masing hanya bertanggungjawab sendiri-sendiri??

Seorang guru Zen bernama X membuahkan sebuah konsep X.
Seorang guru Zen bernama Y membuahkan sebuah konsep Y.

Lantas, kepada siapa seorang murid akan bertanya?
Apakah kepada guru Zen X, atau kepada guru Zen Y?

Seorang master zen hanyalah memberi pengarahan kepada murid tentang hakekat zen. pencerahan zen hanya akan muncul dari "hati murni" murid. sehingga dalam kasus siapa guru zen yang mampu untuk mencerahkan kita adalah sesuai denngan kecocokan pemamahaman antara guru dan murid.

Offline wi2liam

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #55 on: 21 September 2009, 01:07:51 PM »
PIKIRAN BATU

 Hogen,  seorang  guru  Zen  dari  China,  hidup sendirian di sebuah vihara kecil di sebuah desa. Suatu hari, empat  orang bhikshu  kelana  datang  dan  bertanya  apakah  mereka boleh menyalakan   api   unggun   di   halaman   viharanya   untuk menghangatkan tubuh mereka.
 Ketika  mereka  sedang  membuat  api unggun, Hogen mendengar mereka   sedang   bertengkar   tentang   subyektivitas   dan obyektivitas. Ia pun bergabung dan berkata, "Ada sebuah batu besar. Apakah anda menganggapnya berada  di  dalam  atau  di luar pikiran anda?"
 Salah  seorang  bhikshu  itu  menjawab,  "Dari sudut pandang agama Buddha segala sesuatu adalah obyek dari pikiran,  jadi saya bisa katakan bahwa batu itu ada di dalam pikiran."
 "Kepala  anda  pastilah  berat  sekali,"  demikian  pendapat Hogen, "Jika anda membawa bawa batu  seperti  itu  di  dalam pikiran."

Offline Sudhana

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 2
  • Reputasi: 0
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #56 on: 29 September 2009, 02:27:40 PM »
cuci piring kebanyakan sabun,
pyaarrrrrr......

Offline thioboeki

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 122
  • Reputasi: 5
  • Dimana ada Kebahagian disitu ada Penderitaan,,
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #57 on: 16 November 2009, 01:45:28 AM »
weeeiiiiii,,  :o mana guru2 zen kita,,,,! semuanya kemana??
PLANGGK!
« Last Edit: 16 November 2009, 01:47:09 AM by thioboeki »
Dimana ada Kebahagian disana ada Penderitaan,,

Madagascar

  • Guest
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #58 on: 06 January 2010, 09:21:40 AM »
Cerita nya aku copy yah....
Master Zen cerita lagi dong....

Offline wen78

  • Sebelumnya: osin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.014
  • Reputasi: 57
  • Gender: Male
Re: Cerita-Cerita Zen (Koan)
« Reply #59 on: 27 April 2010, 04:44:38 PM »
A monk came to say good bye to Ch'an master Niaowo (Bird's Nest). He said:
-Thank you, Sir, for everything you've done for me. Now I got to go.
Niaowo asked:
-Where will you go?
-Any place where I can learn Buddha dharmas.
-Of Buddha dharmas, I got some.
-Where is it?
Niaowo pulled a thread out of his cloth sleeve, and asked:
-Is this not a Buddha dharma?
segala post saya yg tidak berdasarkan sumber yg otentik yaitu Tripitaka, adalah post yg tidak sah yg dapat mengakibatkan kesalahanpahaman dalam memahami Buddhism. dengan demikian, mohon abaikan semua statement saya di forum ini, karena saya tidak menyertakan sumber yg otentik yaitu Tripitaka.