//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Peraturan Meditasi duduk (?? ?/Zuo-Chan-Yi)  (Read 13869 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Peraturan Meditasi duduk (?? ?/Zuo-Chan-Yi)
« on: 12 April 2013, 03:08:22 PM »
Oleh: Changfu Zongze

 

Seseorang yang ingin menjadi Bodhisattva harus memahami bahwa welas asih agung (mahakaruna) adalah syarat mutlak untuk mengembangkan kebijaksanaan (prajna). Ikrar agung harus ditempuh agar keadaan Samadhi dapat diusahakan. Semua makhluk harus diselamatkan dan keegoisan dikecilkan. Jangan melekat pada wujud eksternal, dan lepaskan kemelekatannya dalam berbagai peristiwa eksternal. Seimbangkan tubuh dan pikiran sehingga keduanya menjadi ‘satu’, dan mengalami ketiadaan dualitas antara ‘gerak’ dan ‘keheningan’.

Ukur (dan atur) asupan makanan dan minuman –tidak terlalu sedikit ataupun terlalu banyak. Menyeimbangkan kebutuhan tidur —waktunya tidak terlalu panjang ataupun terlalu pendek .

Untuk bermeditasi secara efektif, cari tempat yang tenang dan duduk di atas tikar tebal. Kendurkan ikat pinggang dan pakaian.

Menerapkan tingkah laku yang teratur, yang dapat membangkitkan rasa hormat, memandang segalanya setara, dan kemudian duduk dengan posisi kaki disilangkan sepenuhnya (posisi ‘teratai penuh’)

Posisi Teratai Penuh

Pertama tempatkan kaki kanan di atas area atas kaki kiri  (yaitu ‘paha’), dan kemudian tempatkan kaki kiri di atas area atas kaki kanan (yaitu ‘paha’) – kedua kaki dengan telapak kaki menghadap ke atas. Namun, duduk dengan posisi kaki setengah disilangkan (posisi ’setengah teratai’) juga dapat diberlakukan. Di mana kaki kiri diletakkan di atas kaki kanan – dengan kaki kiri ditumpangkan di atas area atas kaki kanan (yaitu ‘paha’)

Posisi Setengah Teratai

Kemudian pada kaki kiri, tempatkan tangan kanan (telapak tangan menghadap ke atas). Letakkan tangan kiri (telapak tangan menghadap ke ke atas ) di atas telapak tangan kanan dan biarkan kedua jempol bersentuhan. Dengan tenang dan lembut angkat dan bangkitkan batang tubuh ke depan bersama tarikan nafas ke dalam – dan kemudian menghembuskan napas – secara bersamaan guncang (atau ayunkan) tubuh ke kiri dan ke kanan. Kemudian biarkan tubuh untuk menetap sehingga postur duduk yang benar (dan tegak) dapat dicapai. Jangan bersandar ke kiri, ke kanan, tidak membungkuk kedepan atau bersandar ke belakang. Gunakan kendali tubuh untuk membuat tulang pinggang, punggung, leher dan kepala semua sejajar satu sama lain – hal ini akan mencegah nafas dari menjadi pendek dan terganggu.

Telinga harus sejajar dengan bahu, hidung dengan pusar. Lidah harus menyentuh langit-langit, serta bibir dan gigi harus ditutup.

Mata harus tetap sedikit terbuka sehingga dapat mencegah rasa kantuk. Bermeditasi dengan cara seperti ini menjamin pencapaian yang sangat kuat dari Samadhi. Pada zaman kuno, para bhikkhu belajar meditasi duduk dengan cara ini – dengan mata sedikit terbuka. Master Ch’an  Fayan Yuantong menyalahkan dengan keras orang yang bermeditasi dengan mata tertutup – dengan menyebut mereka sedang berdiam dalam ’Gua Hantu Gunung Hitam.’ Ini memiliki makna yang dalam bagi mereka yang mempraktikkan metode meditasi dan memahami kebijaksanaan ini.

Tubuh harus stabil dan tenang. Nafas ke dalam dan ke luar harus seimbang sehingga chi (daya vital) didistribusikan secara merata. Ketegangan harus dibebaskan dari seluruh bagian tengah, membebaskan area bagian pusar.

Jangan memunculkan pikiran baik dan buruk. Ketika pikiran muncul – menyadari hal itu – kesadaran membubarkan pikiran. Bila metode ini diterapkan selama jangka waktu yang panjang – semua pikiran dilupakan dan kesatuan dicapai. Adalah penting untuk menguasai keahlian dalam bermeditasi duduk (Zuochan).

Ini adalah pendapat saya bahwa Praktik meditasi duduk (Zuochan) adalah pintu gerbang dharma sukacita dan ketentraman. Beberapa praktisi mengembangkan ketidaksukaan terhadap metode ini dan menjadi sakit – hal ini dikarenakan mereka tidak mengikuti instruksi dan menerapkan metode dengan benar. Sehubungan dengan hal ini pikiran digunakan tanpa alasan yang luhur. Namun, jika kebajikan dikembangkan dan metode ini sepenuhnya dipahami, maka tubuh diubah sebagai empat unsur utama dalam Buddhisme (tanah, air, api dan udara), berpengalaman dengan sikap (dan wawasan) ringan yang tentram. Esensi spiritual akan menjadi terbuka nyata dan jelas. Pikiran menjadi terang dan benar. Cita rasa dharma memperkuat esensi spiritual – dan hal ini menciptakan sebuah pengalaman yang damai, murni dan tentram. Orang yang memahami kebenaran ini ibarat naga yang telah menemukan air, atau harimau yang telah berdiam di pegunungan. Metode yang benar (pengembangan pikiran) membutuhkan usaha lainnya – sekali praktik yang tepat terbentuk – karena memuat di dalamnya suatu kekuatan inheren (yang lengkap sendiri-) – seperti angin yang meniup api dan menjadikannya semakin kuat sebagai hasilnya.

Begitu seseorang berkembang ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi, mungkin akan banyak setan yang menyebabkan segala macam pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Namun, jika pikiran tetap lurus dan benar – setan ini tidak berbahaya. Teks seperti  ’Surangama Sutra’, ‘Wawasan Tenang’ (Zhiguan) Tiantai, ‘Peraturan Realisasi Kultivasi’ (Xiuzheng yi) Guifeng, menerangkan dengan jelas bagaimana setan ini dapat dihadapi, dan bagaimana para praktisi dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu- oleh karena itu, dengan mendalami teks-teks ini kekhawatiran atas masalah ini dapat teratasi.

Ketika keluar dari kondisi Samadhi (yaitu pikiran mendalam yang tidak terusik), tetap sangat tenang dan tidak menggerakkan tubuh tiba-tiba, atau dengan tergesa – kondisi damai harus dipertahankan melewati transisi dari satu kondisi ke kondisi lainnya.

Ketika praktik meditasi formal selesai, penting untuk mempertahankan kekuatan Samadhi yang dikembangkan (dalam kehidupan sehari-hari) melalui cara-cara yang tepat. Melindungi kekuatan Samadhi harus menjadi usaha yang serius – seperti dalam melindungi hidup seorang bayi. Dengan cara ini kekuatan Samadhi akan terus meningkat dengan mudah.

Mempraktikkan meditasi (dan merealisasikan Samadhi) adalah ajaran yang paling penting. Jika meditasi tidak dilakukan dan disempurnakan melalui realisasi pikiran yang tenang dan penuh wawasan (dhyana), itu akan terjadi kurang lengkapnya pemahaman dan kehilangan arah. Oleh karena itu mutiara (kebijaksanaan) ditemukan ketika air dalam kondisi hening – jika air terganggu mutiara tidak dapat ditemukan. Ketika pikiran diam ia menjadi murni dan jernih (seperti air yang tidak terusik) – dalam kejelasan ini mutiara dari pikiran bermanifestasi secara alami. Oleh karena itu, ‘Sutra Pencerahan Sempurna’ mengatakan, ‘kebijaksanaan murni dan bersih (yang menembus di mana-mana tanpa halangan) – berasal dari berlatih meditasi.’ ‘Sutra Teratai’ mengatakan, ‘Di tempat yang tenang ia berlatih meditasi dengan mengendalikan pikiran. Dia duduk tak bergerak laksana Gunung Semeru.’

Kemampuan untuk melewati (dan melampaui) keadaan yang biasa dan suci sepenuhnya tergantung pada praktik dhyana. Kemampuan mengabaikan tubuh ini sementara duduk, dan meninggalkan kehidupan ini sementara berdiri – sepenuhnya tergantung pada kekuatan Samadhi. Bahkan jika ada kehidupan latihan meditatif, hal itu mungkin tidak cukup waktu. Mereka yang tidak berkomitmen sepenuhnya untuk praktik ini tidak dapat mengatasi kebiasaan karma. Untuk alasan ini ujaran kuno mengatakan, “Jika kekuatan Samadhi tidak ada, maka seseorang dapat dengan mudah akan menghasilkan di gerbang kematian. Mata terpejam setelah tidak mencapai apa-apa (dalam kehidupan ini) menghasilkan gelombang (terdelusi) kelahiran kembali yang tak berujung. ‘Nasib baik dan persahabatan yang telah membawa kita bersama-sama untuk belajar Ch’an. Teks ini harus dibaca berulang-ulang, sehingga makna mendalamnya disempurnakan (dan dipahami). Ini akan menguntungkan diri serta semua orang lain – dan sebagai konsekuensinya semua makhluk akan mencapai pencerahan sejati.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

 

anything