//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: No Escape for the Ego  (Read 10190 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
No Escape for the Ego
« on: 23 November 2011, 10:10:17 AM »
No Escape for the Ego
 
Sebuah wawancara dengan Master Sheng-yen
Oleh Carter Phipps

WIE: Menurut Buddhisme Ch'an, apakah ego itu?

Master Sheng-yen: Dalam Buddhisme Ch'an gagasan mengenai ego berkisar di sekitar gagasan mengenai keterikatan atau kemelekatan. Sejatinya ego itu tidak ada. Ia dihasilkan sebagai akibat dari keterikatan pada tubuh dan kemelekatan pada gagasan-gagasan seseorang atau sudut pandang sendiri. Tetapi karena baik tubuh maupun batin adalah tidak kekal dan selalu berubah dari waktu ke waktu, kemelekatan kita kepadanya selalu berubah-ubah juga. Dan dikarenakan kemelekatan ini berubah-ubah, ego juga berubah. Jadi dari perspektif Ch'an, ego tidak ada sebagai entitas yang permanen, yang tidak berubah. Ego tidak ada secara mandiri terpisah dari kemelekatan yang berubah-ubah pada seseorang ke tubuhnya dan gagasannya.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Apa maksud dari melampaui ego?
« Reply #1 on: 23 November 2011, 10:27:01 AM »
WIE: Apa maksud dari melampaui ego?

SY: Ada dua cara yang berbeda untuk mencapai transendensi dari ego. Salah satunya adalah pengalaman, yaitu melalui mengalami transendensi diri. Dan ini dapat dilakukan melalui praktik, latihan meditasi duduk dan menyelidiki koan [pertanyaan paradoks]. Dimungkinkan untuk mencapai pengalaman ini tanpa praktik, namun hal demikian sangat jarang; kebanyakan orang perlu melakukan praktik. Maksud dari praktik semacam ini pada dasarnya  adalah untuk mendorong ego ke sudut hingga tiada lagi tempat lain untuk pergi. Ego tidak dapat melarikan diri ke manapun.

Jadi ego dan metode yang Anda gunakan untuk melampaui ego saling bertentangan secara langsung satu sama lain. Seperti yang saya katakan, ego didasarkan pada kemelakatan –kemelekatan kita pada tubuh dan gagasan-gagasan. Oleh karena itu, metode melampaui ego adalah untuk mengatasi kemelekatan ini, meletakkan kemelekatan ini. Tatkala ego terpojok dan tidak bisa lari ke manapun lagi, satu-satunya yang dapat dilakukan adalah dengan meletakkannya. Dan tatkala seseorang meletakkan ego, maka itulah pencerahan.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Menyudutkan Ego dengan Koan
« Reply #2 on: 23 November 2011, 10:58:49 AM »
WIE: Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut bagaimana menyelidiki koan dapat membantu untuk "menyudutkan ego"?

SY: Dalam metode ini, Anda sebenarnya tidak sedang mencoba untuk memecahkan koan tersebut. Sebaliknya, metode tersebut meminta pada koan untuk memberikan jawabannya. Sebuah koan mungkin seperti, "Apakah wu [ketiadaan] itu?" Jadi Anda terus-menerus bertanya dan meminta koan untuk memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Tapi sebenarnya, tidak mungkin untuk menjawab. Tentu saja, dalam proses bertanya, pikiran Anda akan memberikan jawaban, tapi apa pun jawaban Anda dapatkan harus Anda tolak. Dan Anda semata-mata tinggal dengan metode ini --terus bertanya dan terus menolak apa pun jawaban yang muncul dalam pikiran Anda. Pada akhirnya Anda akan mengembangkan sensasi keraguan (doubt sensation). Anda tidak akan sanggup bertanya mengenai koan lagi. Bahkan, tidak ada artinya lagi untuk bertanya. Maka tidak ada yang harus dilakukan kecuali pada akhirnya meletakkan diri dan itulah ketika pencerahan muncul di hadapan Anda. Tetapi apabila Anda bertanya tentang koan dan Anda hanya menjadi lelah, apabila Anda tidak dapat menemukan jawaban dan sehingga Anda berhenti, ini bukan pencerahan. Hal demikian hanyalah kemalasan.

Cara kedua untuk melampaui ego adalah cara konseptual. Hal ini terjadi ketika muncul perubahan tiba-tiba dan menyeluruh dalam sudut pandang seseorang. Hal ini dapat terjadi, misalnya, ketika seseorang membaca sebuah sutra atau mendengarkan ceramah dharma. Dengan seketika, seseorang dapat tercerahkan. Tapi agar hal demikian terjadi, seseorang harus terlebih dahulu memiliki hasrat mengetahui jawaban atas pertanyaan, "Apakah ego itu, apakah diri itu?" Mereka harus sudah terlibat dengan pertanyaan ini dalam pikiran mereka sendiri. Dan kemudian, ketika mereka menemukan sebuah kalimat tertentu, mereka tiba-tiba dapat mengenali jawaban dan seketika mencapai pencerahan. Salah satu contoh yang sangat baik adalah Patriark Keenam, Hui Neng. Beliau mendengar satu kalimat dari Sutra Intan dan tercerahkan. Namun, bagi orang yang tidak pernah berpikir tentang permasalahan dan pertanyaan ini dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang tidak peduli tentang apakah ego itu dan tidak memiliki keinginan untuk mengetahui apakah diri itu, ini tidak akan terjadi. Mendengarkan kuliah dharma atau membaca sutra saja tidak akan membantu mereka


« Last Edit: 23 November 2011, 11:06:43 AM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Peran Guru
« Reply #3 on: 23 November 2011, 02:08:30 PM »
WIE: Apa peran guru dalam membebaskan murid dari egonya?

SY: Pertama-tama, hal yang paling penting adalah bahwa siswa itu harus benar-benar ingin tahu apa hakikat dari ego. Mereka perlu memiliki hasrat yang membara untuk tahu. Lalu, apa yang seorang guru dapat lakukan adalah memberikan siswa itu metode atau alat untuk menyelidiki, serta menunjukkan kepada mereka bagaimana cara menjalani praktik dengan metode ini. Banyak murid yang mungkin telah memiliki metode, namun tidak dapat menggunakannya dengan baik. Sehingga guru dapat menunjukkan pada murid bagaimana menggunakan metode mereka dengan baik, selain juga menunjukkan pemahaman konseptual dan sikap yang benar sesuai kebutuhan mereka dalam menjalani praktik mereka. Dan apabila siswa itu memiliki keinginan yang kuat untuk memahami hakikat diri sejati mereka, maka metode akan menjadi bermanfaat. Mereka akan dapat melihat bahwa diri ini yang didasarkan pada kemelekatan adalah ilusi. Tidak nyata. Dan ketika mereka menyadari hal ini, mereka juga akan melihat bahwa ego itu tidak ada.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Perbedaan kebahagiaan dari ego dan pencerahan
« Reply #4 on: 29 November 2011, 10:23:27 AM »
WIE: Dalam buku terbaru Anda ”Subtle Wisdom,” Anda menulis, "Kadang-kadang pikiran mengalami sesuatu yang dikiranya sebagai pencerahan, tetapi sebenarnya hanya ego dalam keadaan sangat bahagia." Bisakah Anda menjelaskan perbedaan antara kedua pengalaman ini  --antara pencerahan asli dan kondisi semata-mata karena ego, seperti yang Anda katakan, "dalam keadaan sangat bahagia"?

SY: Pengalaman akan kebahagiaan bisa juga menjadi bagian dari pencerahan; seseorang dapat merasa bahagia apakah mereka tercerahkan atau tidak. Akan tetapi, biasanya ketika seseorang dalam kegirangan ini, kebahagiaan ini, itu karena, pada saat itu, orang itu tidak merasa terbebani lagi oleh tubuhnya atau oleh pikiran dan emosi, maka orang itu merasa sangat tentram. Namun, hal ini bukanlah pembebasan. Seseorang mungkin merasa sangat ringan; hal ini tidak berarti apapun. Sebuah perasaan sangat damai, girang, bahagia tidak sama dengan pencerahan. Pencerahan adalah ketidakmelekatan pada sudut pandang apapun atau tidak memiliki kemelekatan apapun pada tubuh. Tidak ada beban sama sekali, dan itulah mengapa orang akan merasa bahagia. Sebagai contoh, Buddha Shakyamuni, setelah pencerahan-Nya, duduk di bawah pohon bodhi selama tujuh hari untuk menikmati kebahagiaan, sukacita dharma dari pembebasan itu. Tapi seseorang bisa merasakan kebahagiaan tidak peduli apakah ia tercerahkan atau tidak tercerahkan. Jadi kita harus mampu membedakan hal ini.

Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Tidak ada Diri besar ataupun diri kecil
« Reply #5 on: 09 December 2011, 03:48:02 PM »
WIE: Dalam buku Anda selanjutnya Anda mengatakan bahwa ego ini berada dalam keadaan sangat bahagia dapat terjadi dikarenakan, ”ego bahkan mungkin dikenali sebagai menyatu dengan alam semesta atau keilahian." Bisakah Anda menjelaskan apa yang Anda maksudkan?

SY: Perasaan menyatu dengan alam semesta tersebut sebenarnya adalah salah satu jenis samadhi [absorpsi meditasi], hasil dari konsentrasi mendalam, dan tatkala seseorang berada dalam tahap ini, mereka mengenali seluruh alam semesta adalah sama seperti dirinya sendiri. Yang terjadi adalah ia memperluas ego kecilnya menuju ke luar, untuk mencakup semua sudut pandang, untuk mencakup semua alam semesta dan segala isinya. Jadi pada titik ini, seseorang  tidak akan lagi memiliki gagasan-gagasan atau pikiran egois yang bersifat individu, yang biasanya muncul dari egoisme sempit. Bahkan, seseorang mungkin mengalami kekuatan yang luar biasa yang dihasilkan dari samadhi ini, kekuatan yang berasal dari gagasan bahwa "alam semesta itu sama dengan saya." Orang yang memiliki realisasi demikian seringkali dapat menjadi pemimpin agama yang sangat besar.

Akan tetapi, Sang Buddha, setelah pencerahan-Nya, tidak mengatakan, "Aku pusat alam semesta." Tidak juga Beliau menyatakan bahwa ia mewakili seluruh alam semesta. Apa yang Beliau katakan adalah bahwa Sang Buddha hadir untuk mendorong semua makhluk hidup untuk melihat bahwa ego itu berasal dari kemelekatan, dan apabila kita semua dapat melepaskan kemelekatan ini, maka kita akan terbebaskan. Dan Sang Buddha melihat dirinya sebagai seorang teman, seorang teman yang bijaksana bagi semua makhluk hidup, yang mendorong mereka untuk memahami bahwa ego berasal dari kemelekatan serta mendorong semua orang untuk berpraktik, melepaskan kemelekatan ini.

Oleh karenanya, dalam Nirvana Buddha, tiada lagi kemunculan dan tiada lagi pemadaman. Tidak ada Diri –tidak ada Diri besar, tidak ada diri kecil –dan inilah pencerahan sejati. Inilah pencerahan Buddha.

WIE: Jadi, apabila seorang individu disamakan dengan alam semesta sebagai keseluruhan, dalam kasus ini, masih terdapat kemelekatan pada ego yang belum dilepaskan oleh orang tersebut?

SY: Ya.

« Last Edit: 09 December 2011, 03:59:23 PM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Metode didik keras untuk hapus kemelekatan ego?
« Reply #6 on: 09 December 2011, 04:37:35 PM »
WIE: Beberapa patriark agung Ch'an dan Zen terkenal sebagai guru sangat galak yang akan berusaha dengan keras untuk mencapai hasil dan menggunakan tindakan yang sangat ekstrim untuk membebaskan murid mereka dari ego. Dalam buku Anda, Anda menulis tentang bagaimana beberapa guru Anda sendiri juga sangat keras terhadap Anda. Apakah dikarenakan kemelekatan kita pada ego yang sedemikian mendalam dan sedemikian kuatnya, maka para master yang mulia ini butuh menggunakan cara-cara ekstrim demikian untuk membuat murid mereka melampaui ego?

SY: Sebenarnya, tidak semua orang membutuhkan metode yang keras. Jenis metode yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan individu si murid dan kondisi saat itu. Penentuan waktu adalah sangat penting. Misalnya, tatkala saya mengajari murid-murid saya, saya hanya menggunakan metode keras apabila dibutuhkan. Seringkali saya lebih banyak menggunakan cara menyemangati, khususnya bagi siswa pemula. Bagi mereka yang telah berlatih untuk beberapa saat, yang telah memiliki keyakinan kuat akan praktiknya namun masih memiliki kemelekatan pada ego ini, maka saya akan menggunakan beberapa metode yang lebih keras untuk membantu mereka maju. Tapi dibutuhkan seorang guru yang sangat berpengalaman, yang sangat baik, untuk mengetahui kapan waktu yang tepat menggunakan metode tersebut.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Individu ber-Ego besar dan kecil
« Reply #7 on: 12 December 2011, 10:06:16 AM »
WIE: Bagian lain dari buku Anda berbunyi, ”Jika rasa kedirian Anda kuat, padat, dan dahsyat, maka Anda tidak mungkin dapat mengalami pencerahan.” Apa yang Anda maksudkan dengan ini? Mengapa sulit bagi seseorang dengan rasa kedirian yang kuat, atau apa yang orang Barat sebut sebagai “ego yang kuat”, untuk mengalami pencerahan?

SY: Tidaklah selalu benar demikian, bahwa orang dengan ego yang sangat kuat tidak dapat tercerahkan. Bahkan, mereka yang tahu bahwa mereka memiliki ego yang kuat, pada kasus tertentu, sebenarnya adalah calon terbaik untuk mempraktikkan Buddha-dharma. Anda lihat, ada tipe orang yang sangat egosentris namun pada saat yang sama memiliki keinginan yang kuat akan pencerahan. Karena keinginan yang kuat, mereka secara alami akan sangat tidak bahagia dan tidak puas dengan memiliki ego besar, dan sikap demikian baik untuk praktik mereka. Bila Anda memiliki ego kuat demikian, Anda harus rela melakukan sesuatu terhadapnya. Jadi orang seperti ini bisa menjadi kandidat yang baik untuk berlatih dan belajar Ch'an.

Kemudian ada juga individu yang memiliki apa yang kita sebut ego yang lebih lemah atau lebih lembut. Hal ini dapat membantu mereka, tetapi hanya apabila mereka masih sungung-sungguh ingin mengatasi ego mereka. Apabila tidak demikian, mereka tidak akan semakin maju mendekati pencerahan, karena mereka tidak akan memiliki kepercayaan diri dalam praktik. Mereka tidak akan memiliki ketekunan dalam berlatih. Namun apabila seorang individu yang memiliki ego yang lebih lemah atau lebih lembut dan masih memahami bahwa mereka harus berlatih dengan tekun untuk mengatasinya, maka kita bisa mengatakan bahwa orang-orang ini, dikarenakan mereka memiliki keinginan yang kuat akan pembebasan maupun ego yang lebih kecil, mereka lebih dekat dengan pencerahan .

Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Psikoterapi dan Praktik Ch'an
« Reply #8 on: 12 December 2011, 10:53:36 AM »
WIE: Saat ini banyak guru spiritual Barat percaya bahwa jalan spiritual tradisional, termasuk Buddhisme, tidak dapat memenuhi semua kebutuhan para pencari modern. Secara khusus, mereka merasa bahwa dibutuhkan psikoterapi untuk melengkapi latihan spiritual mereka dalam rangka mengatasi kemelekatan emosional mereka dan persoalan ego mereka. Apakah Anda juga merasa bahwa jalan Ch'an tidak lengkap dalam mengatasi penderitaan para pencari modern dan bahwa seseorang lebih baik disarankan untuk mempertimbangkan pendekatan-ganda ini --psikoterapi dan spiritual—dalam pencarian mereka akan pencerahan? Atau praktik spiritual saja, apabila dilakukan dengan tulus dan tekun, cukup untuk membebaskan kita dari ego?

SY: Terdapat dua permasalahan berbeda di sini. Pertama, individu yang memiliki masalah psikologis yang sangat berat tidak dianjurkan menggunakan metode Ch'an. Ini tidak baik bagi mereka. Bila mereka sekadar ingin belajar meditasi duduk untuk pemula, kami akan mengajarkannya dan mereka akan menuai faedah darinya, misalnya kesehatan yang semakin membaik. Namun, orang dengan masalah [kejiwaan] berat harus pergi ke dokter untuk memulihkan mereka sebelum memulai praktik Ch'an.

Akan tetapi, pada umumnya, bagi individu yang tidak memiliki masalah kejiwaan yang parah, praktek Ch'an sudah cukup. Tidak perlu  mencari bantuan seorang psikiater atau terapis. Bahkan, kadang-kadang psikiater atau terapis datang dan meminta bantuan saya.


« Last Edit: 12 December 2011, 10:56:11 AM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Guru tercerahkan dan Sila
« Reply #9 on: 12 December 2011, 11:53:58 AM »
WIE: Dalam tiga puluh tahun terakhir ini, terdapat banyak guru yang berpengaruh, yang memiliki pemahaman dan pengalaman spiritual mendalam, serta telah menarik minat sejumlah besar siswa, akan tetapi pada akhirnya reputasinya rusak dikarenakan pembusukan dan skandal, kadang-kadang dengan cara yang sangat mencengangkan. Apakah mungkin bahwa pengalaman dan pemahaman spiritual, pada kasus tertentu, sebenarnya dapat menguatkan ego?
 

SY: Sulit untuk dikatakan demikian. Sebenarnya aku tidak ingin mengomentari hal ini. Ini adalah masalah. Ada beberapa individu yang berpikir bahwa mereka tercerahkan, bahwa mereka terbebaskan, dan mereka juga memiliki gagasan bahwa setelah mereka terbebaskan, sehingga mereka tidak membutuhkan moralitas apapun lagi, mereka merasa tidak perlu lagi menegakkan sila [kewajiban dasar yang dilakukan oleh umat Buddha ] lagi. Dan menurut pemahaman Buddhisme saya –-di sini, saya hanya bisa berbicara untuk diri saya sendiri—kami meneladani Buddha Shakyamuni, dan apabila kita melihat Sang Buddha setelah Beliau tercerahkan, Beliau tidak mabuk-mabukan. Beliau tidak bergaul bebas dengan wanita, ’meniduri’ di sana sini, dan menipu uang orang lain. Dan itulah yang kita teladani. Para master Ch'an Cina menekankan pentingnya menegakkan sila [aturan-moralitas].


WIE: Untuk semuanya, guru maupun murid?


SY: Dalam sutra, kitab suci Buddha, disebutkan bahwa apabila Anda benar-benar tercerahkan, secara natural Anda tentu akan menegakkan sila.
« Last Edit: 12 December 2011, 11:55:37 AM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Ego 'Barat' dan Ego 'Timur'
« Reply #10 on: 12 December 2011, 11:54:57 AM »
WIE: Anda adalah seorang guru yang dihormati yang memiliki murid di Taiwan dan di Barat, di Amerika ini. Beberapa guru spiritual Barat dan psikolog, yang telah kita singgung dalam masalah ini, mengatakan bahwa ego orang Barat berbeda dari ego orang Timur—bahwa orang Barat lebih melekat pada diri individu dan identitas pribadi. Apabila hal ini benar, secara teoritis, maka pada umumnya seharusnya lebih mudah bagi orang Timur untuk mencapai pencerahan dibandingkan Orang Barat. Apakah Anda setuju dengan hal ini? Apakah menurut pengalaman Anda demikian?

SY: Belum tentu demikian. Semuanya bergantung pada apakah Anda memiliki keinginan akan pencerahan ---apakah, seperti yang telah saya katakan, Anda benar-benar ingin memahami hakikat ego.
 
WIE: Menurut Anda inilah kunci keberhasilannya?

SY: Ya, ini kuncinya. Anda mungkin memiliki ego yang lemah atau kecil, tetapi apabila Anda tidak peduli akan hal ini dan Anda tidak memiliki keinginan yang kuat, maka Anda takkan semakin dekat dengan pencerahan.

--END--
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Mr. Wei

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.074
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
Re: No Escape for the Ego
« Reply #11 on: 13 December 2011, 09:16:42 PM »
Menarik sekali, bisa menemukan bacaan2 seperti ini di situs mana bro?

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: No Escape for the Ego
« Reply #12 on: 14 December 2011, 09:21:04 AM »
Sumber untuk terjemahan artikel ini dari web ini bro:
http://www.enlightennext.org/magazine/j17/sheng.asp?page=2

semoga bermanfaat :)

Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek