//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)  (Read 95530 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #90 on: 18 November 2011, 10:31:25 AM »
Ini tampaknya jadi integorasi.  Semaki miripsaja dengan orang2 dari K. Bro Gandalf, Anda sungguh benar :)

jadi Bro Gandalf berdiri di belakang layar sebagai supporter bagi anda? bukankah Bro Gandalf juga member di sini dan bisa posting sendiri, kenapa harus titip postingan ya?

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #91 on: 18 November 2011, 10:34:24 AM »
tidak heran, sutra2 mahayana membengkak menjadi sangat banyak ;D

tidak heran, membengkak juga masing opini2 para pengikutnya sesuai dengan 'selera yang diracik' utk menambah omset  ;D
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #92 on: 18 November 2011, 10:37:02 AM »
jadi Bro Gandalf berdiri di belakang layar sebagai supporter bagi anda? bukankah Bro Gandalf juga member di sini dan bisa posting sendiri, kenapa harus titip postingan ya?

biasalah, memang suka sembunyi2 dan banyak rahasia kok.  :))
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #93 on: 18 November 2011, 10:50:37 AM »
jawaban mas sobat tentang keberadaan Arahat,

Yakin sekaligus tidak yakin. Aku justru balik bertanya padamu, kalau Arahat ternyata tidak ada, apakah kamu akan meninggalkan praktik Buddhadharma. Jawabku adalah, Bahkan kalau seandainya ada yang mampu membuktikan Arahat tidak ada sekalipun, aku tetap akan mempraktikkan Buddhadharma. Bagaimana dengan kamu? 


Tidak tahu

demikian yang kutahu, kesimpulannya apa ?
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.229
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #94 on: 18 November 2011, 11:03:43 AM »
Tampaknya contoh seperti apapun akan Anda bantah. Jadi aku pikr percuma menjelaskan pada Anda.
Kalau memang ada korelasi, mengapa saya harus bertanya lagi ? Justru karena saya tidak mengerti baru saya bertanya, hanya ada 2 kemungkinan, kemungkinan pertama saya tidak sanggup mengerti, atau kemungkinan kedua anda tidak sanggup memberikan penjelasan/penjelasan anda mengada-ada..Jadi saya tidak tahu kemungkinan mana yang tepat/benar, biarkan orang lain yang menilainya.. :)

Quote
Anehnya Anda menyinggung soal mampu atau tidak mampu dalam diskusi ini: tampaknya diskusi ini hanya soal uji kemampuan bagi Anda? Kalau itu maksud Anda berdiskusi dengan saya: aku ngaku kalah saja deh... dan Anda pemenangnya  :)) Selesai nggak :))

Seperti komentar saya diatas...Nah, anda melihatnya dari sisi yang negatif, jadi ya terserah Anda, toh pikiran anda adalah pikiran Anda... :)


Quote
Ini ukan soal urusan siapa, tapi siapa yang telah memperlakuan triratna seperti "tuhan baru". Tanya saja siapa ke forum ini, semoga ada yang mau mengaku :))
Nah, apakah anda sendiri merasa tidak memperlakukan "ajaran Buddha" sebagai "tuhan baru" ?


Quote
Kalau disebut jimat kenapa? Jimat kan fungsinya untuk melindungi?
Melindungi dalam arti apa ? :) , jadi Anda sekarang beralih lagi bahwa jimat itu berfungsi melindungi ?Apakah sutra anda telah melindungi anda sehingga anda menjadi tidak peduli Buddha itu nyata atau tidak nyata, yakin dan tidak yakin dengan adanya Arahatta ?Sampai-sampai ngotot dengan "jalan yang anda tempuh yang anda sebut sebagai praktik BuddhaDhamma?"


Quote
Dan terimakasih, Anda sudah bersedia untuk berputar2 bersama saya. Anda berputar2 saya berputar2 juga. Apa salahnya?
Maka Sang Buddha berkata kepada Angulimala, " Saya telah lama berhenti, kamulah yang masih berlari." , jadi bro sobat tidak capek ni lari-lari ? :)


Quote
Nah, Anda terus memasakan lari ke figur. "Buddha" yang Anda maksud itu Buddha yang mana? Apakah Siddharta Gotama sebagai figur pribadi?
Saya tidak memaksakan figur apapun koq, yang memberi contoh soal figur kan itu Anda, bukan saya, yang berasumsi soal figur itu  juga Anda bukan saya..bagi saya "Buddha = Buddha"...


Quote
Saddha saya ada pada praktik, dan saddha adalah bagian dari praktik saya, sedangkan praktik saya adalah saddha.
Oh gitu, ya sudah kal gitu.
Saddha adalah bagian dari praktik anda, sebelum muncul saddha anda, apakah anda langsung praktik ?Sebelum tahu sesuatu beracun atau tidak beracun, langsung anda makan ?wah...anda tipe pemberani yang bodoh kalau begitu ( kata dalam novel fiksi Harry Potter, berati anda Grifindor...pemberani tapi bodoh???)

Quote
Bukan kalimatnya, tapi motif di balik ketika kalimat itu diucapkan.
Dan setelah itu?Apakah motifnya menurut Anda ?Masih bermasalah atau mengarah ke asumsi pertama anda bahwa bro Adi "mengindolakan Buddha" ? ya atau tidak, dan tolong dijelaskan secara gamblang.. :)


Quote
Nah, mana tahu. Setelah mengundang lalu Sag Buddha datang dan berbicara, barusan jelas apakah penilaiannya tehadap Sang Buddha nanti dikarenakan bias atau tidak. Kalauia mengatakan: " Sang Buddha hebat karena temanku mengatakannya hebat," itu bias. Tai kalau ia dapat melihat secara obyektif apa yang dikatakan oleh Sang Buddha tanpa dipengaruhi penilaiannya pada refernsi temannya, ya itu baru tidak bias.

tai juga kalau orang yang percaya referensi temannya dan bisa dipengaruhi seperti contoh anda sebelumnya, kalau tidak enak ya tidak enak, bagaimana mungkin bisa dipengaruhi menjadi enak ?itu mah namanya "g****k"..jadi "refernsi" itu menurut saya sama sekali tidak ada masalahnya, dan malah "referensi" itu sangat dibutuhkan untuk diselidiki kemudian dibuktikan, tidak seperti anjuran Anda yang mengimbau orang "makan" dulu baru "selidiki" >>> apakah cara anda mempelajari sutra Mahayana seperti begitu ? Telan dulu bulat-bulat semua sutranya baru selidiki ?Ini mah baru namanya kepercayaan membabi buta bagi saya... :)

Quote
Menyelidiki di sini, maksudnya "tanya teman". Tolong lhat konteks kalimat dan diskusi ketika itu.
Sama saja, tolong diperhatikan kata-kata didalam diskusi...Menyelidiki dengan bertanya dengan teman, bukan dengan anjuran anda yang "makan dlu(tidak peduli beracun atau tidak beracun), baru diselidiki ( kalau belum mati )..." :)

Quote
Ya, kala itu asumsi Anda. Apa boleh buat. Itukan asumsi Anda.
Kalau itu menurut Anda sebagai asumsi saya, coba anda jelaskan asumsi anda, dan dijawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan asumsi Anda.. :)


Quote
Oh gitu...  Jadi "memercayai" dan "mengetahui" itu hal yang sama ya? Jadi ketika Anda percaya bahwa Arahat ada, saat itu jga Anda "mengetahui" Arahat itu ada. Sungguh keercayaan yang luar biasa, dapat menjadikan kepercayaan sebagai pengetahuan.
Jadi, kesimpulannya anda tidak mempercayai bahwa Buddha/Arahat itu nyata ? (sekali lagi mohon dijawab secara langsung )..

Oh 1 hal lagi, kalau anda suka membaca sutta-sutta, disana anda bakal melihat banyak para naga, para deva, para manusia yang percaya akan Buddha ( walau belum bertemu Buddha ) dan selalu menanti-nantikan Buddha, apakah menurut anda itu salah ? :)


Quote
Nah, kalau "menyelidiki" yang dimaksud di sini "harus tanya teman dulu" ya memang tidak perlu. Kalau menyeldiki dengan indera kita ya sudah otomatis terjadi tatkala makanan ada di depan mata, tanpa bisa ditolak.

Wah-wah, kalau anda tersesat di hutan bersama seorang "pemandu handal", kemudian anda lapar, dan kala itu disana adalah buah yang mengiurkan ( yang tampak tidak beracun), langsung anda ehipassiko ?tidak perlu tanya dulu kepada pemandu handalnya ?Persis seperti kisah Jataka...Si dungu yang sombong.. :)

Quote
Tapi, bagaimana pun Bo Riky Dave sangat bijaksana loh :) Anda menang kok, saya mengaku kalah saja :)

Apakah praktik Sutra Mahayana masih mengajarkan "menang dan kalah" ? Sangat berbeda dengan sutta yang saya pelajari yang mengajarkan untuk meninggalkan "kedua sifat yang bercorak anicca" tersebut...

Quote
Ini tampaknya jadi integorasi.  Semaki miripsaja dengan orang2 dari K. Bro Gandalf, Anda sungguh benar :)

Silakan dijawab, tidak perlu berbelit-belit..Thanks
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #95 on: 18 November 2011, 11:03:57 AM »
saya tidak terbiasa dgn jawaban ambigu, jadi sebenarnya tiga atau satu? jika satu, bukankah cukup hanya berlindung pada Buddha, atau hanya pada Dhamma, atau hanya pada Sangha, saja? apakah demikian pemahaman mahayana? karena dalam Theravada, kami dituntut untuk berlindung pada ketiga itu, bukan salah satu saja.

Oh, gitu. Semua tulisan saya dianggap ambigu Percuma dong, kalau menjawab, semuanya jadi ambigu lagi. Kalau sudah demikian, enaknya pilih diam aja deh... Ambigu atau tidak, silahkan pembaca lain yang menilai.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #96 on: 18 November 2011, 11:04:58 AM »
jadi Bro Gandalf berdiri di belakang layar sebagai supporter bagi anda? bukankah Bro Gandalf juga member di sini dan bisa posting sendiri, kenapa harus titip postingan ya?

Saya hanya menyebut Bro Gandalf, kok kesimpulannya jadi sejauh ini... :)) Makanya tidak heran, semuanya jadi ambigu :)
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.229
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #97 on: 18 November 2011, 11:05:28 AM »
jawaban mas sobat tentang keberadaan Arahat,


demikian yang kutahu, kesimpulannya apa ?

Wajar saja bro Adi, Mahayana kan selalu mengajarkan "standar ganda" dan memanganggap orang lain sebagai "fanatisme" tanpa menyelidiki diri sendiri...
« Last Edit: 18 November 2011, 11:11:37 AM by Riky_dave »
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #98 on: 18 November 2011, 11:33:17 AM »
Kalau memang ada korelasi, mengapa saya harus bertanya lagi ? Justru karena saya tidak mengerti baru saya bertanya, hanya ada 2 kemungkinan, kemungkinan pertama saya tidak sanggup mengerti, atau kemungkinan kedua anda tidak sanggup memberikan penjelasan/penjelasan anda mengada-ada..Jadi saya tidak tahu kemungkinan mana yang tepat/benar, biarkan orang lain yang menilainya.. :)

Ya... Andakan sudah terges2 menyimpulkan ini soal siapa yang sanggup atau tidak sanggup. Tampaknya emang soal sanggup atau tidak sanggup kan. Okeh deh, aku yang bodoh dan tidak sanggup. Puas :) Anda sepenuhnya yang paling sanggup.

Seperti komentar saya diatas...Nah, anda melihatnya dari sisi yang negatif, jadi ya terserah Anda, toh pikiran anda adalah pikiran Anda... :)
Betul, ini cuma pikiran saya.

Nah, apakah anda sendiri merasa tidak memperlakukan "ajaran Buddha" sebagai "tuhan baru" ?
Tidak. Anda?

Melindungi dalam arti apa ? :) , jadi Anda sekarang beralih lagi bahwa jimat itu berfungsi melindungi ?
Melindungi dari hal yang jahat kan? Jimat kan berfungsi melindungi dari hal yang buruk. Dalam praktik Buddhadharma, hal yang buruk tersebut adalah lobha, moha dan dosa.

Apakah sutra anda telah melindungi anda sehingga anda menjadi tidak peduli Buddha itu nyata atau tidak nyata, yakin dan tidak yakin dengan adanya Arahatta ?Sampai-sampai ngotot dengan "jalan yang anda tempuh yang anda sebut sebagai praktik BuddhaDhamma?"
Menurut saya jalan yang saya tempuh adalah Buddhadharma, kalau menurut tidak ya sudah. Dari awal kan saya tidak memaksa orang lain untuk mengakuinya. Coba telusuri lagi postingan saya.

Maka Sang Buddha berkata kepada Angulimala, " Saya telah lama berhenti, kamulah yang masih berlari." , jadi bro sobat tidak capek ni lari-lari ? :)
Kalau sudah berhenti, kok masih mengetik Bro :)

Saya tidak memaksakan figur apapun koq, yang memberi contoh soal figur kan itu Anda, bukan saya, yang berasumsi soal figur itu  juga Anda bukan saya..bagi saya "Buddha = Buddha"...
Oh gitu.... Ingat dalam kitab suci agama K, Tuhan berkata "Aku adalah Aku." Tuhan=Tuhan, jangan samakan Tuhan dengan apapun. Lantas Anda sekarang berkata Buddha=Buddha. Oh.... Betapa miripnya.

Saddha adalah bagian dari praktik anda, sebelum muncul saddha anda, apakah anda langsung praktik ?
Begitu saddha muncul ya berarti saya sudah menjalani praktik Buddhadharma, begitu juga ketika praktik Buddhadharma dijalankan saddha sudah muncul.


Sebelum tahu sesuatu beracun atau tidak beracun, langsung anda makan ?wah...anda tipe pemberani yang bodoh kalau begitu ( kata dalam novel fiksi Harry Potter, berati anda Grifindor...pemberani tapi bodoh???)
Dan setelah itu?
Saya memang bodoh. Itu sudah kuakui dari awal.

Apakah motifnya menurut Anda ?Masih bermasalah atau mengarah ke asumsi pertama anda bahwa bro Adi "mengindolakan Buddha" ? ya atau tidak, dan tolong dijelaskan secara gamblang.. :)

Loh, diskusiku dengan Bro Adi kan belum selesai. Ia lantas malah balik mempertanyakan apa saya memiliki keyakinan yang mirip dengannya. Jadi belum terjawab. Kalau mau tahu motif Bro Adi Lim, tanya pada dia saja.

tai juga kalau orang yang percaya referensi temannya dan bisa dipengaruhi seperti contoh anda sebelumnya, kalau tidak enak ya tidak enak, bagaimana mungkin bisa dipengaruhi menjadi enak ?itu mah namanya "g****k"..jadi "refernsi" itu menurut saya sama sekali tidak ada masalahnya, dan malah "referensi" itu sangat dibutuhkan untuk diselidiki kemudian dibuktikan, tidak seperti anjuran Anda yang mengimbau orang "makan" dulu baru "selidiki" >>> apakah cara anda mempelajari sutra Mahayana seperti begitu ? Telan dulu bulat-bulat semua sutranya baru selidiki ?Ini mah baru namanya kepercayaan membabi buta bagi saya... :)

Setiap referensi harus diterima dengan sikap netral, tidak langsung ditolak juga tidak langsung diyakini. Hanya dengan pengalaman langsung, referensi itu diuji kebenarannya. Kalau ini kamu sebut kepercayaan membabi buta, boleh saja.

Sama saja, tolong diperhatikan kata-kata didalam diskusi...Menyelidiki dengan bertanya dengan teman, bukan dengan anjuran anda yang "makan dlu(tidak peduli beracun atau tidak beracun), baru diselidiki ( kalau belum mati )..." :)
Kalau itu menurut Anda sebagai asumsi saya, coba anda jelaskan asumsi anda, dan dijawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan asumsi Anda.. :)
Wah saya orang yang terlalu bodoh untuk memahami kata-kata Anda. Mohon maaf, kalau saya "tidak sanggup/tidak mampu" memahaminya.


Jadi, kesimpulannya anda tidak mempercayai bahwa Buddha/Arahat itu nyata ? (sekali lagi mohon dijawab secara langsung )..
Ya, ampyunnnn :)) :)) :)) :)) :))

Aku mau dianggap kafir :)) :)) :)) :)) :))
Oh 1 hal lagi, kalau anda suka membaca sutta-sutta, disana anda bakal melihat banyak para naga, para deva, para manusia yang percaya akan Buddha ( walau belum bertemu Buddha ) dan selalu menanti-nantikan Buddha, apakah menurut anda itu salah ? :)
Tidak.

Wah-wah, kalau anda tersesat di hutan bersama seorang "pemandu handal", kemudian anda lapar, dan kala itu disana adalah buah yang mengiurkan ( yang tampak tidak beracun), langsung anda ehipassiko ?tidak perlu tanya dulu kepada pemandu handalnya ?

Buddha adalah pemandunya, memberikan petunjuk, yang menentukan adalah diri kita sendirikan. Percumakan kalau saya sangat memuja pemandunya, tapi tetap memakan buahnya. Jadi, bukan soal siapa figur penunjuknya yang penting, tapi bagaimana kita menyelidiki secara langsung apa yang ditunjuk olehnya dan kemudian memutuskan apa yang  kita lakukan. Menyelidiki buah yang beracun kan tidak perlu dicicipi langsung, bisa dilihat dari bentuknya, ciri-ciri2nya, isinya, dan lain2.   

Persis seperti kisah Jataka...Si dungu yang sombong.. :)

Ya aku memang dungu, lagi sombong. Terimakasih atas penilaiannya.

Apakah praktik Sutra Mahayana masih mengajarkan "menang dan kalah" ? Sangat berbeda dengan sutta yang saya pelajari yang mengajarkan untuk meninggalkan "kedua sifat yang bercorak anicca" tersebut...
Wah, mulai membanding-bandingkan. Aku sudah capek dengan diskusi komparasi Mahayana dan Theravada. Kalau yang ini aku tidak terlibat.

Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #99 on: 18 November 2011, 11:35:04 AM »
Wajar saja bro Adi, Mahayana kan selalu mengajarkan "standar ganda" dan memanganggap orang lain sebagai "fanatisme" tanpa menyelidiki diri sendiri...

Ternyata, langsung digeneralisir sebagai "Mahayana". Ini cuma saya sendirian: sobat-dharma. Saya yang bertanggungjawab atas kata-kataku pribadi, jangan bawa2 orang lain deh. Kok dijadikan soal kelompok?

Lagipula, emangnya aku menujuk secara spesifik pada seseorang atau sebuah kelompok sebagai fanatik?
« Last Edit: 18 November 2011, 11:36:53 AM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.229
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #100 on: 18 November 2011, 11:36:37 AM »
terima kasih saudara Sobat, semoga praktik BuddhaDhamma anda membuat anda melihat kebenaran jangan sampai tersesat seperti YM Bahiya Sutta... :-)

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta...
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #101 on: 18 November 2011, 11:39:10 AM »
terima kasih saudara Sobat, semoga praktik BuddhaDhamma anda membuat anda melihat kebenaran jangan sampai tersesat seperti YM Bahiya Sutta... :-)

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta...

Terimakasih juga. Janan lupa praktik Buddha-Dhamma ya Bro Riky Dave :)
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #102 on: 18 November 2011, 12:12:51 PM »
Oh, gitu. Semua tulisan saya dianggap ambigu Percuma dong, kalau menjawab, semuanya jadi ambigu lagi. Kalau sudah demikian, enaknya pilih diam aja deh... Ambigu atau tidak, silahkan pembaca lain yang menilai.

jawaban ambigu yg saya maksudkan adalah jawaban tidak tegas antara tiga dan satu, bisakah anda menjawab dengan tegas "tiga" dengan penjelasan, atau "satu" juga dengan penjelasan, tidak dua2nya sekaligus. karena tiga tentu bukan satu, sebaliknya satu juga bukan tiga.

"Tiga adalah satu" ini bagi orang awam spt saya sungguh membingungkan.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #103 on: 18 November 2011, 01:10:49 PM »
mas sobat, saya tegaskan lagi, saya tidak punya motif lain, selain mengatakan sebenar-benarnya bahwa Buddha Gotama, BEST TEACHER, karena demikian adanya.

cuma sayangnya mas sobat seperti kebakaran jenggot (istilah awam), sehabis saya mengatakan demikian, dan bertanya saya kembali ? serta dengan meminta pendapat saya, apakah Buddha Gotama benar atau tidak benar ada, atau tokoh fiksi dst....
kemudian mas sobat juga meragukan keberadaan dan pencapaian para Arahat, dengan menjawab 'yakin dan tidak yakin'.

sepertinya anda bukan praktek BuddhaDharma tapi budadama,
jadi mas sobat memang harus hati2 dengan guru2 anda yang tidak bisa menjelaskan dengan baik dan benar kepada anda mengenai Buddha Dhamma :)

Andaikan anggapan mas sobat benar, menganggap saya meng idola kan Buddha Gotama dan para pencapaian para Siswa-i Beliau, apakah dilarang ?, apakah salah ?

bagaimana ?  ;D
« Last Edit: 18 November 2011, 01:24:00 PM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #104 on: 18 November 2011, 01:19:30 PM »
terima kasih saudara Sobat, semoga praktik BuddhaDhamma anda membuat anda melihat kebenaran jangan sampai tersesat seperti YM Bahiya Sutta... :-)

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta...

sesat apa-nya ?
mohon diperjelas...
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

 

anything