//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)  (Read 95529 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #45 on: 16 November 2011, 03:00:53 PM »
Buddha dalam Trisarana bukan soal figur historis. Berserah total kepada Sang Buddha adalah berserah total pada Kebijaksanaan dan Cinta kasih, potensi pencerahan yang ada dalam di dalam setiap makhluk hidup.

Jika kita menafsirkan "Buddha" dalam Trisarana semata-mata sebagai sosok manusia/pribadi/person Buddha Gotama, maka kita akan terjebak dalam pengidolaan figur.


berlindung pada Buddha menurut pemahaman saya atas ajaran Theravada adalah berlindung pada Sang Buddha dengan kualitas2nya spt yg didefinisikan dalam Buddhanussati. misalnya "Yang mencapai penerangan sempurna", "yang sempurna pengetahuan dan perilaku", dst. saya masih tidak bisa mengerti tentang bagaimana seseorang bisa menyerah secara TOTAL pada kualitas2 tidak nyata dari seorang yg juga tidak nyata. bagaimana menurut Mahayana?

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #46 on: 16 November 2011, 03:02:51 PM »

berlindung pada Buddha menurut pemahaman saya atas ajaran Theravada adalah berlindung pada Sang Buddha dengan kualitas2nya spt yg didefinisikan dalam Buddhanussati. misalnya "Yang mencapai penerangan sempurna", "yang sempurna pengetahuan dan perilaku", dst. saya masih tidak bisa mengerti tentang bagaimana seseorang bisa menyerah secara TOTAL pada kualitas2 tidak nyata dari seorang yg juga tidak nyata. bagaimana menurut Mahayana?

Dengan merelakan atau melepasan apa yang dimiliki selama ini (kualitas-kualitas yang dipenuhi oleh lobha, moha, dan dosa), maka kita mulai menyerahkan diri kepada kualitas Kebuddhaan tersebut.

Kualitas itu sendiri adalah nyata sebagai potensi dalam setiap makhluk hidup, meski belum tentu (bukan "Tidak ada") ada figur historis dibaliknya.
« Last Edit: 16 November 2011, 03:06:20 PM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #47 on: 16 November 2011, 03:16:16 PM »
Dengan merelakan atau melepasan apa yang dimiliki selama ini (kualitas-kualitas yang dipenuhi oleh lobha, moha, dan dosa), maka kita mulai menyerahkan diri kepada kualitas Kebuddhaan tersebut.

Kualitas itu sendiri adalah nyata sebagai potensi dalam setiap makhluk hidup, meski belum tentu (bukan "Tidak ada") ada figur historis dibaliknya.

belum tentu artinya berlaku sama baik untuk kasus "ada" maupun "tidak ada", nah bagaimana jika "tidak ada"?

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #48 on: 16 November 2011, 03:21:17 PM »
belum tentu artinya berlaku sama baik untuk kasus "ada" maupun "tidak ada", nah bagaimana jika "tidak ada"?

Saya tidak mau berspekulasi :) Daripada menghabiskan waktu untuk berspekulasi, lebih baik mempraktikkan Buddhadharma.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #49 on: 16 November 2011, 03:25:13 PM »
Saya tidak mau berspekulasi :) Daripada menghabiskan waktu untuk berspekulasi, lebih baik mempraktikkan Buddhadharma.

tapi anda sendiri pun berandai2, maka apa salahnya kita lanjutkan sedikit dengan "seandainya tidak ada"?

Quote
"Seandainya Buddha adalah dongeng pun, samsara yang nyata kurasakan bukanlah dongeng."

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #50 on: 16 November 2011, 05:54:11 PM »
tapi anda sendiri pun berandai2, maka apa salahnya kita lanjutkan sedikit dengan "seandainya tidak ada"?


nah itu karena sering 'mengkhayal' akhirnya tidak tahu arti kata 'berandai'.  ^-^
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #51 on: 16 November 2011, 05:59:53 PM »
kau merasa dirimu sebagai "Buddhis fanatik"?

kriteria 'Buddhis fanatik' seperti apa, tolong dijelaskan, supaya bisa tahu apakah saya termasuk buddhis fanatik atau buddhis ideal !  :))
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #52 on: 17 November 2011, 05:41:31 AM »
Buddha dalam Trisarana bukan soal figur historis. Berserah total kepada Sang Buddha adalah berserah total pada Kebijaksanaan dan Cinta kasih, potensi pencerahan yang ada dalam di dalam setiap makhluk hidup.

Jika kita menafsirkan "Buddha" dalam Trisarana semata-mata sebagai sosok manusia/pribadi/person Buddha Gotama, maka kita akan terjebak dalam pengidolaan figur.

ini persepsi anda dalam penafsiran.
tapi tidak semua punya persepsi sama dengan mas Sobat.
ternyata saya tidak seperti yang anda tafsir.

memang Buddha Gotama adalah guru THE BEST, toh guru idola mas Sobat alm. Sheng Yen aja praktek ajaran Beliau (Buddhadharma) dan termasuk anda sendiri .
atau mas Sobat latihan ajaran 'buda' lainnya ?.
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.229
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #53 on: 17 November 2011, 09:05:03 AM »
Dalam Mahayana juga terdapat Trisarana, yang rumusannya sama dengan yang ada di Theravada. Dalam hal ini saya juga sudah menerima transmisi Trisarana, dan sampai hari ini kalau ada waktu luang saya selalu megulang Trisarana secara mandiri. Jadi kalau soal keraguan akan "iman" saya, seperti  yang didesakkan terus oleh Bro Adi Lim, sebenarnya tidak diperlukan.

Yang saya ajak untuk direnungkan bersama adalah, soal makna Trisarana itu sendiri.

Maaf nyela, saya sudah baca dari awal ( menurut saya yang dipertanyakan saudara sobat adalah "kepercayaan" yang dimiliki oleh adi terhadap Buddha ( Triratana ), ini menurut saya setelah saya membaca beberapa komentar saudara sobat dan adu argumentasi antara bro sobat dan bro adi ), jadi saya nimbrung bertanya, apakah yang saudara sobat maksudkan dalam kata ,"
Dalam hal ini saya juga sudah menerima transmisi Trisarana, dan sampai hari ini kalau ada waktu luang saya selalu megulang Trisarana secara mandiri" dan "Yang saya ajak untuk direnungkan bersama adalah, soal makna Trisarana itu sendiri."

1.Bro sobat apabila ada waktu luang selalu melafalkan Tisarana atau Tiratana(???) secara mandiri, melafalkan tisarana untuk apa ya bro ?
2.Merenungkan Tisarana atau Tiratana dalam kaitannya untuk apa?

Quote
Ketika Bro Adi Lim, berkata bahwa Buddha Gotama adalah Guru yang THE BEST, sebenarnya apakah yang dimaksud? Apakah ini adalah bentuk keyakinannya akan Sang Buddha dan ajaran-Nya atau semata pemujaan akan suatu figur semata dengan memberinya label "keyakinan akan Tisarana"?
Menurut saya, ini tergantung pribadi masing-masing, karena kalau tidak salah murid Buddha ( YM Ananda ) atau umat awam ( Anathapindika ) pernah bertanya kepada Buddha soal ini, dan Buddha menjawab didalam salah satu suttanya ,"Benar, bahwa apabila seseorang hanya dengan menyakini Buddha Dhamma Sangha ( Buddha saja juga bisa ), maka pada kelahiran selanjutnya di akan lahir di alam yang lebih berbahagia " ( walau pun tujuan umat Buddha adalah mengakhiri dukkha (nibbana), tapi kita kesampingkan yang ini dlu ).

Nah, apakah keyakinan bisa diukur ?Bisa saja seseorang "terlihat" fanatik dalam hal tertentu, tapi bisa saja "prateknya" lebih nyata daripada orang yang omdo ( omong doang ).

Quote
Keyakinan akan Trisarana, sebagaimana yang saya pahami dalam Mahayana (maaf kalau tidak sama dengan di Theravada), adalah suatu sikap penyerahan diri secara total kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, yang berarti mengabdikan selalu upaya kita, segenap tubuh dan batin kita, untuk mempraktik Buddhdharma guna mencapai pelepasan tertinggi. "Berlindung" dalam hal ini adalah melepaskan keangkuhan ego.

Sedangkan, mengartikan keyakinan akan Trisarana sebagai pemujaan/pengidolaan akan suatu figur adalah sama sekali adalah hal yang berbeda. Hal ini hanya melahirkan rasa kepemilikan akan figur tersebut, seperti konsep Guru-KU, Dharma-KU, Sangha-KU yang TERBAIK, yang secara tersirat di dalam DIRI munculkah peng-AKU-an Trisarana sebagai keyakinan dirinya.

Seperti pertanyaan saya sebelumnya, pribadi orang berbeda-beda dan soal keyakinan itu tidak bisa / sulit untuk diukur secara kasat mata, apalagi bila kita tidak memiliki kemampuan apapun seperti kemampuan yang di milik oleh para Arahat atau SammaSambuddha dalam memberikan "komentar" terhadap suatu "objek"(dalam hal ini makhluk hidup), nah mengatakan Sang Buddha sebagai "the best" , apakah bisa dikategorikan sebagai "pemujaan/pengindolaan"?Apakah para umat awam dan para raja pada zaman keemasan Buddha, membangun segala keadaan yang mewah ( seperti Vihara, taman Veluvena, taman milik Anathapindika yang menghabiskan ribuan ton emas, bisa disebut pengindolaan terhadap Buddha ?Karena pemberiaanya seakan-akan "memaksa" dan terlalu "mewah" untuk seorang yang Tercerahkan, Sempurna dan tidak melekat pada bentuk duniawi apapun lagi )

Jadi, apa kriteria orang yang termasuk "pengindolaan" dan "bukan pengindolaan" menurut bro sobat ?

Quote
Ketika seseorang mengatakan bahwa Guru-KU adalah yang THE BEST, maka sebenarnya di dalam dirinya secara diam-diam tersirat bahwa AKU adalah yang THE BEST. Karena yang THE BEST adalah adalah Guru-KU, sedangkan Guru-MU adalah sebaliknya: THE WORST. Karena itu kemudian dalam pikirannya ia berkata "Kalau kamu tidak mau mengikuti Guru-KU dan keyakinan-KU akan Guru-KU, maka kamu sebenarnya adalah bodoh. Betapa beruntungnya diri-KU karena telah mendapatkan Guru-KU yang THE BEST dan betapa sialnya kamu yang tidak mau meng-AKU-i Guru-KU sebagai yang THE BEST." Sebenarnya, seakan-akan ia memuja Guru-nya, namun orang ini sebenarnya hanya sedang memuja Ego-nya: karena yang dipuja adalah "Guru-KU, bukan Guru-MU," "Dharma-KU, bukan Dharma-MU, Sangha-KU, bukan Sangha-MU"

Bukankah ini semua ada "asumsi" dari bro sobat?apakah mungkin asumsi ini muncul karena dalam "ego" bro sobat muncul segala sesuatu yang berlawanan dari yang disebutkan di atas ini ?

Coba tilik dalam beberapa sutta ( dalam hal ini berdasarkan sutta yang pernah saya baca ), bahwa seringkali petapa yang berpandangan salah yang telah di cerahkan oleh Buddha ( dalam hal ini mencapai 4 tingkat kesucian atau hanya sekedar memiliki "saddha" kepada Tiratana dan menyatakan Tisarana ), ketika umat pengikut petapa pandangan salah ini datang, dan melihat Buddha dengan petapa berpandangan salah, maka ketika itu sering diakhir cerita bahwa petapa yang telah "diluruskan" terbang ke atas menyatakan "Buddha adalah gurunya" atau petapa tersebut bersujud, dll, nah kalau kita membaca dengan adanya label "telah tercerahkan" , "telah mencapai arahat, anagami, sakadagami, sotapanna" mungkin kita bisa memakai argumentasi "oh, itu karena si petapa sudah mencapai A,B,C,D otamatis itu bukan "kemelekatan" itu "saddha", nah bagaimana kalau kita cabut semua "label" tersebut untuk sementara, kalau bro sobat melihatnya itu sebagai apa ?

Kalau dengan kacamata awam, saya bisa melihatnya sebagai :
1. Kesombongan Buddha untuk diakui sebagai "guru" dibandingkan petapa sesat tersebut
2. Petapa mengakui "apa yang diajarkan oleh Buddha" adalah sebagai benar menurut petapa tersebut, walau dalam hal ini, kita semua tahu bahwa petapa tersebut hanya "mendengarkan khotbah dari Sang Bhagava" belum mempraktikan, jadi menurut anda ini "keyakinan" atau "pengindolaan"?


Quote
Jika Trisarana dianut dengan cara demikian, maka seseorang akan sulit "berlindung", yaitu melepaskan egonya untuk berserah diri kepada praktik Buddhadharma. Daripada mengenali Budhadharma melalui praktik, ia hanya semakin menyimpang pada pemujaan buta akan ego-nya sendiri dan kemudian berpuas diri.

Saya dalam hal ini, hanya berharap Bro Adi Lim bukanlah yang demikian. Karena itulah saya bebincang-bincang dengannya sejenak untuk lebih mengenali motif dibalik kata-katanya.       


seperti komentar-komentar saya di atas sebelumnya...mohon tanggapannya...anumodana...
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #54 on: 17 November 2011, 09:14:17 AM »
memang Buddha Gotama adalah guru THE BEST, toh guru idola mas Sobat alm. Sheng Yen aja praktek ajaran Beliau (Buddhadharma) dan termasuk anda sendiri .
atau mas Sobat latihan ajaran 'buda' lainnya ?.

Ehhhmmm.... Ternyata di matamu semuanya hanya soal siapa yang lebih tinggi, siapa yang lebih rendah. Sementara tidak ada komen lagi dari saya.

Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #55 on: 17 November 2011, 09:51:21 AM »
- Untuk point 1, saya bingung dengan pernyataan yang berstandart ganda dari Saudara Sobat, itu seperti pertanyaan dari petapa aliran sesat yang bisa di baca dalam Tipitaka keluaran DC, atau dalam beberapa sutta ( dimana petapa tersebut menjawab pertanyaan umatnya dengan kata , " Antara Ya atau Tidak " )

Saya sudah menjelaskan soal ini saat Bro Indra bertanya, silahkan baca kembali perumpamaan tentang anak panah beracun dan pengelana. Tidak ada soal “antara ya dan tidak”.


Saudara Sobat sendiri tidak tahu mengenai kondisi batinnya, apakah dia meyakini Tiratana dan berlindung dalam Tisarana, bahkan dia menyatakan tidak peduli tentang hal tersebut,
Berlindung pada Triratna bukan soal peraya atau tidak percaya… Kalau kamu meafsirkannya demikian kamu tidak ubahnya dengan umat agama K yang meyakini Trinitas. Berlindung pada Triratna tidak sama dengan cara Umat K meyakini Trinitas. Berlindung pada Triratna adalah penyerahan total pada hakikat Kebuddhaan dan praktik Buddhadharma, bukan pemujaan pada satu sosok figur. 


lha...sedangkan Buddha menekankan dalam Dhammanussati untuk MENYELIDIKI...So...????
Bddhanusat adalah praktik Buddhadharma juga, so?

Orang yang bahkan tidak tahu mengenai dirinya sendiri, bagaimana sih caranya dia melakukan praktik BuddhaDhamma ?
Ini kesimpulan dari mana? Coba kasih alur logika yang lebih sistematis.


Ibarat seseorang memakan sepiring masakan dari Chief Handal, orang tersebut memakan masakan tersebut karena percaya dari historynya Chief Handal tersebut ( biografi ) dan setelah percaya dengan "kemampuan" Chief tersebut baru memesan makanan, dan setelah dimakan(diselidiki/ehipasiko) ternyata terbukti "enak" maka dari kepercayaan tersebutlah timbul "keyakinan"..

Tampak peduli latar belakang Chef tersebut kita bisa memutuskan makanan itu enak atau tidak. Cicipi langsung saja makanannya. Dengan mencicipi langsung makanannya, kita bisa menilai rasa makanan itu secara obyektif. Justru sernkali orang yang tahu tentang latar belakang chef yang memasak makanaan tersebut akan menjadi bias penilaiannya, karena dipengaruhi oleh pengetahuan akan lata belakang chef-nya.


Nah, kalau saudara sobat sendiri gimana ya ?karena dalam point 2 s/d 6, seakan-akan yang saya lihat Saudara Sobat membombandir soal praktik BuddhaDhamma, lha, dari point 1 Saudara bilang "tidak peduli", point selanjutnya Saudara malah membombandir praktik Buddha seakan-akan praktik tersebut adalah pasti benar, nah darimana saudara memiliki "keyakinan" tersebut ?

saya hanya bertanya pada Bro Ai Lim, apakah ia akan tetap mempraktikkan Buddhadharma (sebagaimana yang ia yakini), seadainya suatu saat ia menemuka bukti2 tersebut. Ini sama sekali tidak terkait dengan praktikku pribadi.


Jangan-jangan itu hanya seperti yang Saudara katakan, "pengindolaan", kalau bro Adi disebut "pengindolaan terhadap sosok figur Buddha", kalau anda bisa tidak disebut sebagai "pengindolaan terhadap ajaran Buddha" ?

Saya tidak mengidolakan ajaran siapapun. Saya melihat sendiri apa yang dikatakan oleh Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari saya sendir. Ajaran Buddha menunjukkan sesuatu, dan saya melihat kemudian menemukannya sendiri. Maka saya mempraktikkannya karena merasakan faedahnya. Tidak ada pemujaan apapn di sini.


« Last Edit: 17 November 2011, 10:20:23 AM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Riky_dave

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.229
  • Reputasi: -14
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #56 on: 17 November 2011, 09:55:32 AM »
Mari, kita coba merangkumkan beberapa pernyataan Saudara Sobat mengenai keberadaan Tiratana dan kita akan mencoba mengkaji apa sebenarnya "ciri-ciri" keyakinan menurut Saudara sobat, dan apa yang dimaksudkan dengan "pengindolaan" seperti yang di arahkan kepada Saudara Adi, karena Saudara adi mengatakan bahwa dia mengakui "Buddha sebagai yang paling best ( yang tercerahkan, yang tersempurnakan, yang tindak-tanduknya sempurna, sesuai Buddhanussati, perenungan terhadap Buddha menurut saya ).Karena saya sedikit bingung, mengapa orang yang mengatakan "the best" dipertanyakaan ?Bukankah malah Buddha mengimbau kita selalu merenungkan kualitas-kualitas Buddha ( Buddhanusatti ), yang menurut saya kalau diterjemahkan secara gamblang ya "Buddha is the best "

beberapa point pernyataan yang berhasil saya rangkum dan cukup menarik untuk di diskusikan :

Sobat said :

1."Saya tidak pernah tahu apakah saya meragukan atau mempercayai ajaran Sang Buddha Gotama, bahkan saya tidak pernah peduli apakah Buddha Gotama itu, Guru THE BEST atau Guru jelek, tokoh nyata atau sekadar tokoh dongeng: Yang pasti saya mempraktikkan Buddhadharma dalam kehidupan sehari2 saya. Bahkan kalau seandainya ada bukti sangat ilmiah yang menyatakan bahwa Buddha Gotama itu tidak pernah ada atau sebenarnya bukan orang suci, saya tidak akan peduli: Praktik Buddhadharma saya tidak akan terpengaruh.

Menurutmu ini disebut apa? ragu atau yakin?"


Sobat said :

2."Buddha dalam Trisarana bukan soal figur historis. Berserah total kepada Sang Buddha adalah berserah total pada Kebijaksanaan dan Cinta kasih, potensi pencerahan yang ada dalam di dalam setiap makhluk hidup.


Sobat said :
3."Lagipula, ketika saya menerima Trisarana, sebenarnya saya telah menerima bahwa Hakikat Kebuddhaan ada di dalam diri saya dan di dalam setiap makhluk hidup secara natural. Dikarenakan Citta adalah Buddha, Buddha adalah Citta. Menolak adanya Hakikat Kebuddhaan dalam diri saya dan dalam setiap makhluk hidup adalah kemunduran dalam praktik: mengabaikan Citta. Bagaimana mungkin saya bisa menolak Buddha ?"


sobat said :
4."Dimulai dari menyadari kehidupan coraknya adalah dukkha (dipenuhi oleh ketidakpuasaan), anitya (berubah-ubah), dan anatman (tidak memiliki inti) dikarenakan makhluk hidup dikuasai oleh kegelapan batin dan nafsu, lantas meyakini adanya hakikat Kebuddhaan dalam setiap makhluk hidup, mengembangkan tekad untuk mencapai pelepasan, selanjutnya mempratikkan enam paramita (dana, sila, ksanti, virya, dhyana, prajna) serta metta, karuna mudita, & upeksa,  untuk mencapai pantai seberang, yaitu padamnya nafsu dan persepsi.  Inilah praktik "Buddhadharma" saya."

sobat said :
5."Dengan merelakan atau melepasan apa yang dimiliki selama ini (kualitas-kualitas yang dipenuhi oleh lobha, moha, dan dosa), maka kita mulai menyerahkan diri kepada kualitas Kebuddhaan tersebut."

sobat said :
6."Keyakinan akan Trisarana, sebagaimana yang saya pahami dalam Mahayana (maaf kalau tidak sama dengan di Theravada), adalah suatu sikap penyerahan diri secara total kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, yang berarti mengabdikan selalu upaya kita, segenap tubuh dan batin kita, untuk mempraktik Buddhdharma guna mencapai pelepasan tertinggi. "Berlindung" dalam hal ini adalah melepaskan keangkuhan ego."



pertanyaan dari saya untuk point - point di atas :

- Untuk point 1, saya bingung dengan pernyataan yang berstandart ganda dari Saudara Sobat, itu seperti pertanyaan dari petapa aliran sesat yang bisa di baca dalam Tipitaka keluaran DC, atau dalam beberapa sutta ( dimana petapa tersebut menjawab pertanyaan umatnya dengan kata , " Antara Ya atau Tidak " )

Saudara Sobat sendiri tidak tahu mengenai kondisi batinnya, apakah dia meyakini Tiratana dan berlindung dalam Tisarana, bahkan dia menyatakan tidak peduli tentang hal tersebut, lha...sedangkan Buddha menekankan dalam Dhammanussati untuk MENYELIDIKI...So...????Orang yang bahkan tidak tahu mengenai dirinya sendiri, bagaimana sih caranya dia melakukan praktik BuddhaDhamma ?Ibarat seseorang memakan sepiring masakan dari Chief Handal, orang tersebut memakan masakan tersebut karena percaya dari historynya Chief Handal tersebut ( biografi ) dan setelah percaya dengan "kemampuan" Chief tersebut baru memesan makanan, dan setelah dimakan(diselidiki/ehipasiko) ternyata terbukti "enak" maka dari kepercayaan tersebutlah timbul "keyakinan"..

Nah, kalau saudara sobat sendiri gimana ya ?karena dalam point 2 s/d 6, seakan-akan yang saya lihat Saudara Sobat membombandir soal praktik BuddhaDhamma, lha, dari point 1 Saudara bilang "tidak peduli", point selanjutnya Saudara malah membombandir praktik Buddha seakan-akan praktik tersebut adalah pasti benar, nah darimana saudara memiliki "keyakinan" tersebut ?

Jangan-jangan itu hanya seperti yang Saudara katakan, "pengindolaan", kalau bro Adi disebut "pengindolaan terhadap sosok figur Buddha", kalau anda bisa tidak disebut sebagai "pengindolaan terhadap ajaran Buddha" ?

Mohon dijawab...thanks
Langkah pertama adalah langkah yg terakhir...

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #57 on: 17 November 2011, 10:00:20 AM »
Ternyata bro Riky Dave ini pengacaranya Adi Lim. Toh :)) Atau pakai kata2-nya Bro Indra "klonengan"
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #58 on: 17 November 2011, 10:06:29 AM »
Ternyata bro Riky Dave ini pengacaranya Adi Lim. Toh :)) Atau pakai kata2-nya Bro Indra "klonengan"

hati2, banyak penonton. atau apakah anda lebih suka agar bro Riky tdk meng-counter anda? adalah wajar jika seorang member memberikan suatu pernyataan, dan member lain mempertanyakan pernyataan itu.

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #59 on: 17 November 2011, 10:19:07 AM »
hati2, banyak penonton. atau apakah anda lebih suka agar bro Riky tdk meng-counter anda? adalah wajar jika seorang member memberikan suatu pernyataan, dan member lain mempertanyakan pernyataan itu.

Saya hanya meniru cara-cara Anda :)
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek