//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)  (Read 95528 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #30 on: 16 November 2011, 10:56:21 AM »
maaf nyela, pandangan benarnya yang seperti apa? dan pandangan benarnya menurut siapa?

tahu dari mana mereka tidak mempunyai kemelekatan? apa seperti biksu yang menggendong wanita? biksu yang membunuh kucing? biksu yang main gitar? biksu yang mengkoleksi foto cewe? biksu yang main FB

mungkin hal demikian tidak bisa kita diskusikan terlalujauh, karena kalau mau tahu lebih jelas engkau harus tanya pada Master Sheng-yen sendiri. Tapi sayang beliau sudah meninggal. Jadi kalau mau tahu lebih banyak, saya sarankan baca buku2 beliau, mungkin ada jawabannya di sana. Tulisan ini saya posting dengan tujuan agar teman-teman yang menghormati Master Sheng-yen untuk  mempelajari lagi kata-kata dari beliau, bukan untuk memancing pedebatan intelektual.

Mohon maaf sekali kalau saya tidak bisa meladeni pertanyaan bro ryu karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan saya. Trims. 
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #31 on: 16 November 2011, 10:59:08 AM »
yang ini mah BODHISATVA tingkat 9,
biksu guru demikian memang tidak boleh di cela, tidak boleh dikatai, tidak boleh di pergunjingkan, biar saja apa adanya.
karena Bodhisatva memang lagi melatih diri dan mengumpulkan 'kebajikan' utk meraih pencerahan tingkat 10.
Dan jika ada umat mengatai perbuatan biksu/guru berarti umat itu tidak memahami ajaran tsb dan ilmu masih rendah (setingkat SD), dan guru/biksu tsb memang sedang praktek Upaya Kausalya (titik)  :)) :))

Bukankah pada postingan pertama Master Sheng-yen juga mengatakan kalau Master yang double-standar sudah pasti guru yang palsu. Mohon merujuk juga ke postingan awal saya, sebelum melemparkan tuduhan demikian.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.403
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #32 on: 16 November 2011, 11:18:50 AM »
mungkin hal demikian tidak bisa kita diskusikan terlalujauh, karena kalau mau tahu lebih jelas engkau harus tanya pada Master Sheng-yen sendiri. Tapi sayang beliau sudah meninggal. Jadi kalau mau tahu lebih banyak, saya sarankan baca buku2 beliau, mungkin ada jawabannya di sana. Tulisan ini saya posting dengan tujuan agar teman-teman yang menghormati Master Sheng-yen untuk  mempelajari lagi kata-kata dari beliau, bukan untuk memancing pedebatan intelektual.

Mohon maaf sekali kalau saya tidak bisa meladeni pertanyaan bro ryu karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan saya. Trims. 

ya soal kemelekatan dalam maha memang standar ganda.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #33 on: 16 November 2011, 11:26:44 AM »
saya memahami bahwa kita memiliki keyakinan berbeda dalam hal ini.
dalam Theravada, prasyarat untuk praktik buddhadhamma adalah Tisarana, yaitu menerima Buddha, Dhamma, Sangha sebagai perlindungan.

Berlindung pada Buddha bermakna, menerima Sang Buddha bahwa Sang Buddha adalah seorang yg tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, guru para dewa dan manusia, dst, dst.

Jadi Tisarana ini menuntut saddha yg diarahkan pada bukan hanya sekedar keberadaan sosok Sang Buddha, tetapi juga termasuk atribut-atribut Sang Buddha spt di atas.

Apakah metode Tisarana ini tidak berlaku dalam Mahayana? kalau boleh tau, apa makna Trisarana dalam Mahayana?

Dalam Mahayana juga terdapat Trisarana, yang rumusannya sama dengan yang ada di Theravada. Dalam hal ini saya juga sudah menerima transmisi Trisarana, dan sampai hari ini kalau ada waktu luang saya selalu megulang Trisarana secara mandiri. Jadi kalau soal keraguan akan "iman" saya, seperti  yang didesakkan terus oleh Bro Adi Lim, sebenarnya tidak diperlukan.

Yang saya ajak untuk direnungkan bersama adalah, soal makna Trisarana itu sendiri.

Ketika Bro Adi Lim, berkata bahwa Buddha Gotama adalah Guru yang THE BEST, sebenarnya apakah yang dimaksud? Apakah ini adalah bentuk keyakinannya akan Sang Buddha dan ajaran-Nya atau semata pemujaan akan suatu figur semata dengan memberinya label "keyakinan akan Tisarana"?

Keyakinan akan Trisarana, sebagaimana yang saya pahami dalam Mahayana (maaf kalau tidak sama dengan di Theravada), adalah suatu sikap penyerahan diri secara total kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, yang berarti mengabdikan selalu upaya kita, segenap tubuh dan batin kita, untuk mempraktik Buddhdharma guna mencapai pelepasan tertinggi. "Berlindung" dalam hal ini adalah melepaskan keangkuhan ego.

Sedangkan, mengartikan keyakinan akan Trisarana sebagai pemujaan/pengidolaan akan suatu figur adalah sama sekali adalah hal yang berbeda. Hal ini hanya melahirkan rasa kepemilikan akan figur tersebut, seperti konsep Guru-KU, Dharma-KU, Sangha-KU yang TERBAIK, yang secara tersirat di dalam DIRI munculkah peng-AKU-an Trisarana sebagai keyakinan dirinya.

Ketika seseorang mengatakan bahwa Guru-KU adalah yang THE BEST, maka sebenarnya di dalam dirinya secara diam-diam tersirat bahwa AKU adalah yang THE BEST. Karena yang THE BEST adalah adalah Guru-KU, sedangkan Guru-MU adalah sebaliknya: THE WORST. Karena itu kemudian dalam pikirannya ia berkata "Kalau kamu tidak mau mengikuti Guru-KU dan keyakinan-KU akan Guru-KU, maka kamu sebenarnya adalah bodoh. Betapa beruntungnya diri-KU karena telah mendapatkan Guru-KU yang THE BEST dan betapa sialnya kamu yang tidak mau meng-AKU-i Guru-KU sebagai yang THE BEST." Sebenarnya, seakan-akan ia memuja Guru-nya, namun orang ini sebenarnya hanya sedang memuja Ego-nya: karena yang dipuja adalah "Guru-KU, bukan Guru-MU," "Dharma-KU, bukan Dharma-MU, Sangha-KU, bukan Sangha-MU"

Jika Trisarana dianut dengan cara demikian, maka seseorang akan sulit "berlindung", yaitu melepaskan egonya untuk berserah diri kepada praktik Buddhadharma. Daripada mengenali Budhadharma melalui praktik, ia hanya semakin menyimpang pada pemujaan buta akan ego-nya sendiri dan kemudian berpuas diri.

Saya dalam hal ini, hanya berharap Bro Adi Lim bukanlah yang demikian. Karena itulah saya bebincang-bincang dengannya sejenak untuk lebih mengenali motif dibalik kata-katanya.       

 
« Last Edit: 16 November 2011, 11:32:16 AM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #34 on: 16 November 2011, 11:27:24 AM »
ya soal kemelekatan dalam maha memang standar ganda.

Kritik anda sangat membantu. Terimakasih.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #35 on: 16 November 2011, 11:44:17 AM »
Dalam Mahayana juga terdapat Trisarana, yang rumusannya sama dengan yang ada di Theravada. Dalam hal ini saya juga sudah menerima transmisi Trisarana, dan sampai hari ini kalau ada waktu luang saya selalu megulang Trisarana secara mandiri. Jadi kalau soal keraguan akan "iman" saya, seperti  yang didesakkan terus oleh Bro Adi Lim, sebenarnya tidak diperlukan.

Yang saya ajak untuk direnungkan bersama adalah, soal makna Trisarana itu sendiri.

Ketika Bro Adi Lim, berkata bahwa Buddha Gotama adalah Guru yang THE BEST, sebenarnya apakah yang dimaksud? Apakah ini adalah bentuk keyakinannya akan Sang Buddha dan ajaran-Nya atau semata pemujaan akan suatu figur semata dengan memberinya label "keyakinan akan Tisarana"?

Keyakinan akan Trisarana, sebagaimana yang saya pahami dalam Mahayana (maaf kalau tidak sama dengan di Theravada), adalah suatu sikap penyerahan diri secara total kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, yang berarti mengabdikan selalu upaya kita, segenap tubuh dan batin kita, untuk mempraktik Buddhdharma guna mencapai pelepasan tertinggi. "Berlindung" dalam hal ini adalah melepaskan keangkuhan ego.

Sedangkan, mengartikan keyakinan akan Trisarana sebagai pemujaan/pengidolaan akan suatu figur adalah sama sekali adalah hal yang berbeda. Hal ini hanya melahirkan rasa kepemilikan akan figur tersebut, seperti konsep Guru-KU, Dharma-KU, Sangha-KU yang TERBAIK, yang secara tersirat di dalam DIRI munculkah peng-AKU-an Trisarana sebagai keyakinan dirinya.

Ketika seseorang mengatakan bahwa Guru-KU adalah yang THE BEST, maka sebenarnya di dalam dirinya secara diam-diam tersirat bahwa AKU adalah yang THE BEST. Karena yang THE BEST adalah adalah Guru-KU, sedangkan Guru-MU adalah sebaliknya: THE WORST. Karena itu kemudian dalam pikirannya ia berkata "Kalau kamu tidak mau mengikuti Guru-KU dan keyakinan-KU akan Guru-KU, maka kamu sebenarnya adalah bodoh. Betapa beruntungnya diri-KU karena telah mendapatkan Guru-KU yang THE BEST dan betapa sialnya kamu yang tidak mau meng-AKU-i Guru-KU sebagai yang THE BEST." Sebenarnya, seakan-akan ia memuja Guru-nya, namun orang ini sebenarnya hanya sedang memuja Ego-nya: karena yang dipuja adalah "Guru-KU, bukan Guru-MU," "Dharma-KU, bukan Dharma-MU, Sangha-KU, bukan Sangha-MU"

Jika Trisarana dianut dengan cara demikian, maka seseorang akan sulit "berlindung", yaitu melepaskan egonya untuk berserah diri kepada praktik Buddhadharma. Daripada mengenali Budhadharma melalui praktik, ia hanya semakin menyimpang pada pemujaan buta akan ego-nya sendiri dan kemudian berpuas diri.

Saya dalam hal ini, hanya berharap Bro Adi Lim bukanlah yang demikian. Karena itulah saya bebincang-bincang dengannya sejenak untuk lebih mengenali motif dibalik kata-katanya.       

 

dengan definisi Trisarana spt itu, bagaimana mungkin seorang yg sudah menerima Trisarana masih mempertanyakan eksistensi Sang Buddha?

atau

mungkinkah seseorang yg telah menerima Trisarana tidak peduli terhadap eksistensi Sang Buddha? mungkinkah seseorang mempraktikkan buddhadharma seandainya sosok Sang Buddha hanyalah dongeng?
« Last Edit: 16 November 2011, 11:48:05 AM by Indra »

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #36 on: 16 November 2011, 11:53:22 AM »
dengan definisi Trisarana spt itu, bagaimana mungkin seorang yg sudah menerima Trisarana masih mempertanyakan eksistensi Sang Buddha?

Apakah saya menanyakan eksistensi Sang Buddha? Pada bagian mana ya? Mohon diperhatikan, semua kata saya dibuka dengan: "seandainya..." Dan ini adalah cara saya berkomunikasi dengan Bro Adi Lim.

Lagipula, ketika saya menerima Trisarana, sebenarnya saya telah menerima bahwa Hakikat Kebuddhaan ada di dalam diri saya dan di dalam setiap makhluk hidup secara natural. Dikarenakan Citta adalah Buddha, Buddha adalah Citta. Menolak adanya Hakikat Kebuddhaan dalam diri saya dan dalam setiap makhluk hidup adalah kemunduran dalam praktik: mengabaikan Citta. Bagaimana mungkin saya bisa menolak Buddha ?
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #37 on: 16 November 2011, 12:04:00 PM »
Apakah saya menanyakan eksistensi Sang Buddha? Pada bagian mana ya? Mohon diperhatikan, semua kata saya dibuka dengan: "seandainya..." Dan ini adalah cara saya berkomunikasi dengan Bro Adi Lim.

Lagipula, ketika saya menerima Trisarana, sebenarnya saya telah menerima bahwa Hakikat Kebuddhaan ada di dalam diri saya dan di dalam setiap makhluk hidup secara natural. Dikarenakan Citta adalah Buddha, Buddha adalah Citta. Menolak adanya Hakikat Kebuddhaan dalam diri saya dan dalam setiap makhluk hidup adalah kemunduran dalam praktik: mengabaikan Citta. Bagaimana mungkin saya bisa menolak Buddha ?

maaf, makanya saya menambahkan pertanyaan alternatif untuk menghindari kesalahpahaman,

mungkinkah seseorang yg telah menerima Trisarana tidak peduli terhadap eksistensi Sang Buddha? mungkinkah seseorang mempraktikkan buddhadharma seandainya sosok Sang Buddha hanyalah dongeng?

pertanyaan ini terkait dengan statement anda "bahkan saya tidak pernah peduli apakah Buddha Gotama itu, Guru THE BEST atau Guru jelek, tokoh nyata atau sekadar tokoh dongeng"

Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #38 on: 16 November 2011, 12:50:44 PM »
 [at] sobat
Biarkan segala sesuatu berjalan apa adanya
Sadari saja dalam diri anda,
Pikiran dengan sendirinya berhenti
Tidak punya kesempatan
Tidak ada Diri yang muncul
Tidak ada yg tidak terpuaskan
Tidak ada penderitaan

Segala sesuatu memang berjalan sesuai apa adanya,
Segala sesuatu memang tidak memuaskan kita
jangan sampai anda terprovokasi
Jika anda bisa seperti itu dan tetap seperti itu, maka ada Kebenaran


Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #39 on: 16 November 2011, 02:11:00 PM »
maaf, makanya saya menambahkan pertanyaan alternatif untuk menghindari kesalahpahaman,

mungkinkah seseorang yg telah menerima Trisarana tidak peduli terhadap eksistensi Sang Buddha? mungkinkah seseorang mempraktikkan buddhadharma seandainya sosok Sang Buddha hanyalah dongeng?

pertanyaan ini terkait dengan statement anda "bahkan saya tidak pernah peduli apakah Buddha Gotama itu, Guru THE BEST atau Guru jelek, tokoh nyata atau sekadar tokoh dongeng"

Untuk menjawab ini, izinkan saya menggunakan bantuan perumpamaan yang sebagian memang sudah terdengar klise:

Seandainya sebatang anak panah beracun menancap pada kaki seseorang, namun orang tersebut tidak menyadarinya. Kemudian, seorang pengelana memberitahukan pada orang tersebut, lantas ketika orang tersebut mulai melihat adanya anak panah tersebut dan sesaat itu juga rasa sakitnya mulai terasa.

Apakah yang seharusnya dilakukan orang tersebut? Segera mencabut anak panah tersebut sebelum racunnya menjalar atau mempertanyakan asal-usul pengelana tersebut dulu, baru bersedia mencari ke arah tempat yang ditunjuk oleh si pengelana dan mencabut anak panah beracunnya.

Orang yang bijak akan segera mencabut anak panah beracun itu, tanpa peduli siapa sebenarnya si pengelana yang memperingatkannya. Sedangkan orang yang diliputi kesangsian dan ketidaktahuan, akan mempersoalkan siapa sih pengelana daripada segera mencari dan mencabut panah beracun yang menempel di tubuhnya, lantas berkata, "aku tidak akan percaya kalau ada panah beracun di tubuhku, kalau tidak terbukti bahwa pengelana ini adalah orang yang suci dan mahatahu."

Praktik Buddhadharma seperti mencabut anak panah beracun. Rasa sakit dari anak panah sebenarnya adalah nyata, namun karena tidak tahu, maka kita mengabaikannya. Si pengelana hanya menunjukkan tempatnya agar kita mengenalinya dan segera mencabutnya.  Penderitaan di dalam samsara adalah nyata, Sang Buddha hanya memperlihatkan hal tersebut kepada kita, selebihnya kita yang memutuskan untuk lepas darinya atau tidak.

Dikarenakan Sang Buddha adalah yang memberikan petunjuk, maka sebenarnya yang penting adalah yang ditunjuk oleh Beliau sebagai penunjuknya. Panah itu memang sudah menancap pada tubuh orang itu, sedangkan si pengelana hanya menunjukkan adanya panah tersebut. Begitu juga kita pada dasarnya memang hidup dalam Samsara, sedangkan Sang Buddha hanya memperlihatkannya. Ada atau tidak adanya si pengelana tidak mengubah fakta bahwa panah itu telah tertancap dalam tubuh orang tersebut. Ada atau tidak adanya Sang Buddha Gotama, tidak mengubah fakta bahwa manusia telah hidup dalam Samsara.

Oleh karena itu, ketika Sang Buddha menunjukkan ke kita akar penderitaan makhluk hidup di keenam lapisan alam kehidupan, maka seharusnya kita segera menyadarinya. Karena penderitaan itu nyata dan ada, maka sebenarnya dapat yang dapat merasakannya adalah diri kita sendiri. Kemauan kita untuk menyadari adanya penderitaan itu tidak ada hubungannya dengan siapa sebenarnya Sang Buddha itu. Apakah ia tokoh dongeng, tokoh sejarah, fiksi, atau nyata, semuanya itu tidak penting, karena siapapun sebenarnya Sang Buddha itu, semua penderitaan yag dialami kta sebagai makhluk hidup adalah nyata.

Maka berangkat dari kesadaran akan penderitaan itulah, kita melaksanakan praktik Buddhadharma; bukan berangkat dari pengetahuan kita megenai siapa Sang Buddha. Kita mempraktikkan Buddhadharma bukan karena kita menyadari corak kehidupan yang diliputi oleh ketidakpuasan, berubah-ubah, dan tidak berinti, seperti halnya orang yang mencabut anak panah beracun karena menyadari bahaya dari anak panah tersebut.

Inilah maksud saya. Semoga tidak menimbulkan kesalahpahaman lagi.   
 
« Last Edit: 16 November 2011, 02:14:42 PM by sobat-dharma »
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #40 on: 16 November 2011, 02:16:17 PM »
[at] sobat
Biarkan segala sesuatu berjalan apa adanya
Sadari saja dalam diri anda,
Pikiran dengan sendirinya berhenti
Tidak punya kesempatan
Tidak ada Diri yang muncul
Tidak ada yg tidak terpuaskan
Tidak ada penderitaan

Segala sesuatu memang berjalan sesuai apa adanya,
Segala sesuatu memang tidak memuaskan kita
jangan sampai anda terprovokasi
Jika anda bisa seperti itu dan tetap seperti itu, maka ada Kebenaran


Terimakasih bro djoe. Saya sama sekali tidak melihat adanya provokasi ataupun merasa terprovokasi. Saya berdiskusi di sini dalam rangka saling berbagi (sharing) dan peduli (caring). Trims atas peringatannya.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #41 on: 16 November 2011, 02:20:50 PM »
Untuk menjawab ini, izinkan saya menggunakan bantuan perumpamaan yang sebagian memang sudah terdengar klise:

Seandainya sebatang anak panah beracun menancap pada kaki seseorang, namun orang tersebut tidak menyadarinya. Kemudian, seorang pengelana memberitahukan pada orang tersebut, lantas ketika orang tersebut mulai melihat adanya anak panah tersebut dan sesaat itu juga rasa sakitnya mulai terasa.

Apakah yang seharusnya dilakukan orang tersebut? Segera mencabut anak panah tersebut sebelum racunnya menjalar atau mempertanyakan asal-usul pengelana tersebut dulu, baru bersedia mencari ke arah tempat yang ditunjuk oleh si pengelana dan mencabut anak panah beracunnya.

Orang yang bijak akan segera mencabut anak panah beracun itu, tanpa peduli siapa sebenarnya si pengelana yang memperingatkannya. Sedangkan orang yang diliputi kesangsian dan ketidaktahuan, akan mempersoalkan siapa sih pengelana daripada segera mencari dan mencabut panah beracun yang menempel di tubuhnya, lantas berkata, "aku tidak akan percaya kalau ada panah beracun di tubuhku, kalau tidak terbukti bahwa pengelana ini adalah orang yang suci dan mahatahu."

Praktik Buddhadharma seperti mencabut anak panah beracun. Rasa sakit dari anak panah sebenarnya adalah nyata, namun karena tidak tahu, maka kita mengabaikannya. Si pengelana hanya menunjukkan tempatnya agar kita mengenalinya dan segera mencabutnya.  Penderitaan di dalam samsara adalah nyata, Sang Buddha hanya memperlihatkan hal tersebut kepada kita, selebihnya kita yang memutuskan untuk lepas darinya atau tidak.

Dikarenakan Sang Buddha adalah yang memberikan petunjuk, maka sebenarnya yang penting adalah yang ditunjuk oleh Beliau sebagai penunjuknya. Panah itu memang sudah menancap pada tubuh orang itu, sedangkan si pengelana hanya menunjukkan adanya panah tersebut. Begitu juga kita pada dasarnya memang hidup dalam Samsara, sedangkan Sang Buddha hanya memperlihatkannya. Ada atau tidak adanya si pengelana tidak mengubah fakta bahwa panah itu telah tertancap dalam tubuh orang tersebut. Ada atau tidak adanya Sang Buddha Gotama, tidak mengubah fakta bahwa manusia telah hidup dalam Samsara.

Oleh karena itu, ketika Sang Buddha menunjukkan ke kita akar penderitaan makhluk hidup di keenam lapisan alam kehidupan, maka seharusnya kita segera menyadarinya. Karena penderitaan itu nyata dan ada, maka sebenarnya dapat yang dapat merasakannya adalah diri kita sendiri. Kemauan kita untuk menyadari adanya penderitaan itu tidak ada hubungannya dengan siapa sebenarnya Sang Buddha itu. Apakah ia tokoh dongeng, tokoh sejarah, fiksi, atau nyata, semuanya itu tidak penting, karena siapapun sebenarnya Sang Buddha itu, semua penderitaan yag dialami kta sebagai makhluk hidup adalah nyata.

Maka berangkat dari kesadaran akan penderitaan itulah, kita melaksanakan praktik Buddhadharma; bukan berangkat dari pengetahuan kita megenai siapa Sang Buddha. Kita mempraktikkan Buddhadharma bukan karena kita menyadari corak kehidupan yang diliputi oleh ketidakpuasan, berubah-ubah, dan tidak berinti, seperti halnya orang yang mencabut anak panah beracun karena menyadari bahaya dari anak panah tersebut.

Inilah maksud saya. Semoga tidak menimbulkan kesalahpahaman lagi.   
 

analogi ini tidak tepat untuk kasus yg dongeng itu, Sang Buddha bukan seorang yg menunjukkan bahwa kaki anda tertancap anak panah. tidak perlu orang memberitahu anda bahwa kaki anda tertancap anak panah, mustahil kaki tertancap anak panah dan anda tidak mengetahuinya. jadi pertanyaan saya di atas masih blm terjawab, yaitu "mungkinkah seseorang yg telah menerima Trisarana tidak peduli terhadap eksistensi Sang Buddha? mungkinkah seseorang mempraktikkan buddhadharma seandainya sosok Sang Buddha hanyalah dongeng?"

atau mungkinkah anda mempraktikkan ilmu2 sihir Harry Potter setelah membaca/menonton kisahnya?

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #42 on: 16 November 2011, 02:30:09 PM »
analogi ini tidak tepat untuk kasus yg dongeng itu, Sang Buddha bukan seorang yg menunjukkan bahwa kaki anda tertancap anak panah. tidak perlu orang memberitahu anda bahwa kaki anda tertancap anak panah, mustahil kaki tertancap anak panah dan anda tidak mengetahuinya. jadi pertanyaan saya di atas masih blm terjawab, yaitu "mungkinkah seseorang yg telah menerima Trisarana tidak peduli terhadap eksistensi Sang Buddha? mungkinkah seseorang mempraktikkan buddhadharma seandainya sosok Sang Buddha hanyalah dongeng?"

atau mungkinkah anda mempraktikkan ilmu2 sihir Harry Potter setelah membaca/menonton kisahnya?

Jika samsara adalah nyata, maka kalau ada yang menunjukkan pada saya bahwa samsara itu ada dan saya melihatnya ada, maka tidak penting yang menunjukkan itu siapa. Saya tidak peduli. Yang penting adalah lepas dari samsara, bukan berputar2 dengan bertanya siapa yang menunjukkan. 

Seandainya Buddha adalah dongeng pun, samsara yang nyata kurasakan bukanlah dongeng. Jadi kalaupun ada yang mengatakan Buddha adalah dongeng, maka tidak ada artinya karena aku merasakan samsara ada.

Kalau soal Harry Potter, coba jelaskan lebih jauh lagi maksudmu. Aku belum melihat ada kaiatnnya dengan pembahasan kita.

 
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #43 on: 16 November 2011, 02:40:57 PM »
Jika samsara adalah nyata, maka kalau ada yang menunjukkan pada saya bahwa samsara itu ada dan saya melihatnya ada, maka tidak penting yang menunjukkan itu siapa. Saya tidak peduli. Yang penting adalah lepas dari samsara, bukan berputar2 dengan bertanya siapa yang menunjukkan. 

Seandainya Buddha adalah dongeng pun, samsara yang nyata kurasakan bukanlah dongeng. Jadi kalaupun ada yang mengatakan Buddha adalah dongeng, maka tidak ada artinya karena aku merasakan samsara ada.

Kalau soal Harry Potter, coba jelaskan lebih jauh lagi maksudmu. Aku belum melihat ada kaiatnnya dengan pembahasan kita.

 

baiklah, coba kita samakan persepsi dulu.

ketika anda mengatakan bahwa "Tisarana adalah suatu sikap penyerahan diri secara total kepada Buddha", bagaimanakah anda menyerahkan diri anda pada sosok dongeng, sosok yg tidak ada?

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Kriteria Guru yang Baik dan Buruk (Master Shengyen)
« Reply #44 on: 16 November 2011, 02:54:49 PM »
baiklah, coba kita samakan persepsi dulu.

ketika anda mengatakan bahwa "Tisarana adalah suatu sikap penyerahan diri secara total kepada Buddha", bagaimanakah anda menyerahkan diri anda pada sosok dongeng, sosok yg tidak ada?

Buddha dalam Trisarana bukan soal figur historis. Berserah total kepada Sang Buddha adalah berserah total pada Kebijaksanaan dan Cinta kasih, potensi pencerahan yang ada dalam di dalam setiap makhluk hidup.

Jika kita menafsirkan "Buddha" dalam Trisarana semata-mata sebagai sosok manusia/pribadi/person Buddha Gotama, maka kita akan terjebak dalam pengidolaan figur.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

 

anything