//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Master Guojun: Menerapkan Jalan Tengah dalam Kehidupan Penuh Tuntutan Konflik  (Read 6002 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Menerapkan Jalan Tengah dalam Kehidupan Penuh Tuntutan Konflik - Ven. Master Guo Jun
Tulisan di bawah adalah catatan pribadi Inge Santoso mengenai presentasi oleh Master Guo Jun di  7th Global Conference on Buddhism, 10 December 2011.



Ven. Master Guo Jun

KONFLIK

Bagaimana menyelesaikan konflik dalam kehidupan?
•    menjadi optimistik? Tidak menjadi pesimistik
•    menjadi objektif? Tidak menjadi subjektif
•    menjadi rasional? Tidak emosional
 
Praktik jalan tengah melampaui subjektif dan objektif dikarenakan objektivitas terbuat dari banyak bagian subjektif. Ven. Master Guo Jun memberikan contoh mengenai perjalanan di pesawat. Ketika udara terasa pengap dalam pesawat dan para penumpang merasa butuh mencari angin, mereka ingin membuka pintu pesawat. Meskipun para penumpang berpikir bahwa mereka objektif ketika memutuskan untuk membuka pintu, hal ini sebenarnya semata-mata pendapat subjektif orang banyak (kolektif). Ketika si pilot tidak sepakat, seorang melawan banyak orang, pendapat si pilot terkesan sebagai pendapat subjektif. Solusinya adalah tidak menjadi objektif ataupun subjektif, namun menjadi realistik.
 
Ekstrim            Jalan Tengah            Ekstrim
Subjektif          Realistik                   Objektif

 
Realistik itu melampaui kesan tampilan, melihat ke sebab musabab saling bergantungan (dependent origination), serta melihat ke sebab dan akibat. Praktik Jalan Tengah melampaui dualitas. Sutra Altar menyebutkan 36 pasang dualitas. Sebenarnya tidak terdapat makna yang pasti di dalam realitas. Sebagai contoh, seandainya tinggi badanmu 170 cm. Apakah ini tergolong tinggi atau pendek? Tinggi atau pendek dibandingkan dengan siapa?

Dalam inti semua perdebatan, konflik dan ketidaksepakatan, terdapat sikap “Kamu salah. Aku benar.” Orang-orang terikat oleh pemikiran bahwa merekalah yang benar.
Terdapat dua tipe konflik:
 
  • di dalam diri, sebagai contoh mengenai apa yang dipilih dan apa yang dilakukan [konflik intrapersonal, penj.]. Konflik tipe ini biasanya timbul dikarenakan kurangnya kebijaksanaan.
  • antara diri dengan lingkungan/orang lain.Konflik tipe ini biasanya timbul dikarenakan oleh kurangnya welas asih.
    Masalah muncul karena kita cenderung banyak berwelas-asih ketika menghadapi kesalahan diri sendiri, dan  memiliki banyak kebijaksanaan dalam melihat kesalahan orang lain.

Ekstrim                       Jalan Tengah                      Ekstrim
Rasional                        Welas asih                         Perasaan
Logika                           Kebijaksanaan                   Emosi
 
Menjadi realistik = Kebijaksanaan + welas asih

 
Menjadi realistik dimulai dengan relaksasi tubuh dan batin.
Relaksasi menghasilkan ketenangan, kejernihan, pemahaman dan kewelas-asihan. Laksana permukaan pada sebuah kolam, ketika permukaannya tenang maka ia memantulkan hal yang berada di luar, melihat sesuatu dengan apa adanya.  Ketika air dalam kolam menjadi tenang, kotoran mulai mengendap dan Anda bisa melihat ke dalam kolam dengan jelas.

Pemahaman berasal dari mendengar secara mendalam (deep listening) yang menghasilkan pikiran terbuka (kebijaksanaan) dan hati yang terbuka (welas asih). Kesalahpahaman seringkali disebabkan oleh tidak mendengarkan, yang menghasilkan konflik.

Sessi ini diakhiri dengan meditasi diiringi oleh musik selama 10 menit.
Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

 

anything