//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)  (Read 114006 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline sutarman

  • Teman
  • **
  • Posts: 68
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« on: 10 January 2011, 08:36:52 AM »
LANDASAN ELING/MINDFULNESS/ZEN (SATI-PATTHANA SUTTA)
Diterjemahkan dari bahasa Pali oleh Nyanasatta.

(Dalam artikel ini saya hanya mengutip garis besarnya, untuk detailnya Anda dapat membeli buku Keajaiban Hidup Sadar karya Master Zen Thich Nhat Hanh di Gramedia).

Diceritakan Buddha berada bersama suku Kuru di Kammasadamma, sebuah kota niaga suku Kuru….

EMPAT Landasan Eling/Mindfulness/Perhatian Penuh Kesadaran disebut sebagai…. satu-satunya jalan…. demi pelenyapan dukkha… demi realisasi Nibbana..

Berikut adalah EMPAT ELING/SADAR itu :

1) SADAR terhadap TUBUH

a) Sadar terhadap NAPAS

Ringkasan : selalu sadar saat bernafas masuk dan bernafas keluar

b) Sadar terhadap POSTUR TUBUH

Ringkasan :
Saat duduk, sadar sedang duduk
Saat berbaring, sadar sedang berbaring.
Saat berdiri, sadar sedang berdiri.
Saat berjalan, sadar sedang berjalan.

Berikutnya adalah perenungan terhadap ketidakkekalan/ ANICCA TUBUH

c) Perenungan terhadap ketidakmurnian tubuh

Ringkasan: Di tubuh ini, ada rambut, bulu, kuku, gigi, kulit, daging, otot, tulang, sumsum, ginjal, jantung, liver, limpa, paru-paru, empedu, usus, tinja, muntahan, dahak, nanah, darah, keringat, lendir, lemak, pelumas sendi, air mata, air liur, ingus, air seni....

d) Perenungan terhadap unsur-unsur materi tubuh
Ringkasan : Tubuh ini terdiri dari unsur air, api, tanah, angin…

e) Perenungan terhadap sembilan jenis mayat (tubuh orang yang sudah mati)

(Terlalu panjang untuk diringkas, harap Anda baca sendiri di buku Keajaiban Hidup Sadar)

2) SADAR terhadap PERASAAN

Ringkasan:
Saat mengalami perasaan menyenangkan, sadar sedang mengalami perasaan menyenangkan.
Saat mengalami perasaan tak menyenangkan, sadar sedang mengalami perasaan tak menyenangkan.
Saat mengalami perasaan bukan menyenangkan dan bukan tak menyenangkan, sadar sedang mengalami perasaan bukan menyenangkan dan bukan tak menyenangkan.

3) SADAR terhadap PIKIRAN

Ringkasan:
Tahu pikiran yang disertai lobha (hawa nafsu) sebagai pikiran yang disertai lobha.
Tahu pikiran bebas dari lobha sebagai pikiran yang bebas dari lobha.
Tahu pikiran yang disertai dosa (kebencian) sebagai pikiran yang disertai dosa.
Tahu pikiran bebas dari dosa (kebencian) sebagai pikiran bebas dari dosa.
Tahu pikiran yang disertai moha (kegelapan batin) sebagai pikiran yang disertai moha.
Tahu pikiran bebas dari moha (kegelapan batin) sebagai pikiran bebas dari moha.

Tahu pikiran yang tidak terpusat sebagai pikiran yang tidak terpusat.
Tahu pikiran yang terpusat sebagai pikiran yang terpusat.
Tahu pikiran yang tidak bebas sebagai pikiran yang tidak bebas.
Tahu pikiran yang bebas sebagai pikiran yang bebas.

4) SADAR terhadap OBJEK PIKIRAN

a)   Lima rintangan
b)   Lima agregat kemelekatan
c)   Enam Landasan Indra Internal dan Enam Landasan Indra Eksternal
d)   Tujuh Faktor Pencerahan
e)   Kebenaran Mulia
(Terlalu panjang untuk diringkas, harap Anda baca sendiri di buku Keajaiban Hidup Sadar)

-------------------------------------------------------------------------

MY COMMENT:

Intinya adalah setiap menit bahkan detik, Anda harus sadar terhadap napas, tubuh, perasaan, pikiran, objek pikiran . Inilah yang disebut meditasi Eling / meditasi Mindfulness / meditasi Zen.

Zen, sekali lagi, adalah meditasi yang langsung menunjuk ke Pikiran/Kesadaran (Citta) , jadi meditasi Zen ‘tembak langsung’ ke Citta walaupun prosesnya dimulai dari bernapas. Zen adalah sebagai seni bernapas untuk menjaga pikiran agar selalu tenang, damai, jernih dan fokus dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Perlu diingat bahwa pikiran-ucapan-badan adalah tiga jenis karma yang dapat timbul dalam aktivitas sehari-hari. Namun semua karma berawal dari pikiran. Jika pikiran dapat dijaga ketenangannya maka dapat dipastikan karma buruk dari ucapan dan badan (perilaku) dapat dicegah. Di sinilah meditasi Zen berperan yaitu menjaga ketenangan pikiran dalam aktivitas sehari-hari.

Dalam tradisi Theravada, Abhidhamma juga mempelajari mengenai Citta (Pikiran/Kesadaran) dimana semua jenis cetasika dan citta dianalisis dan dipelajari.

Zen, menurut saya pribadi, mungkin tak dapat dibandingkan dengan Abhidhamma karena Zen nampaknya jauh lebih simple/sederhana dibandingkan Abhidhamma.

Zen, masih menurut saya pribadi, lebih menekankan pada praktek meditasi sesuai namanya Zen/Chan  禪 yang artinya 'Meditasi' atau 'Dhyana' ( ध्यान ) dalam Sanskrit/Sansekerta. Bukan tak mungkin Abhidhamma yang demikian rumit dapat dipahami praktisi Zen tertentu berdasarkan pengalaman langsung dalam praktik meditasi eling/mindfulness.


 _/\_

Offline sutarman

  • Teman
  • **
  • Posts: 68
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #1 on: 10 January 2011, 08:45:18 AM »
Saya berikan satu kisah Zen terkenal yang mengisahkan seorang Master Tripitaka dari India yang mempunyai abhina (kemampuan paranormal) yaitu dapat membaca pikiran seseorang bertemu dengan seorang Master Zen bernama Nanyang Huizhong 南陽慧忠(675-775) atau Nanyo Echu (dalam bahasa Jepang) salah satu murid utama Patriak Huineng.

Hui 慧 artinya Bijaksana, Zhong 忠 artinya Setia.

Master Zen Huizhong (baca: Hui-chung)  ini dianugerahi gelar sebagai Guru Kerajaan oleh Kaisar Dinasti Tang yang bernama Li Heng 李亨 bergelar Tang Su Zong 唐肅宗 (baca: Thang Su Cung) yang menjadi kaisar tahun 756-762.

Seorang bhiksu terkenal dari India yang disebut sebagai Master Tripitaka Bertelinga Besar yang mempunyai kemampuan abhina telepati datang ke ibukota Chang-an 長安 (sekarang kota Chang-an bernama Xi-an 西安 ibukota provinsi Shaanxi /陜西, China bagian Tengah).

Master Huizhong (MH) menemui bhiksu dari India itu dan bertanya: “Saya dengar Anda mempunyai kemampuan membaca pikiran orang.”
Master Tripitaka (MT): “Saya tidak beranggapan demikian.”
MH lalu memikirkan sesuatu dan kemudian bertanya: “Dimanakah menurut Anda, pikiran saya sekarang?”
MT membaca pikiran MH lalu berkata: “Tuan adalah Guru bagi bangsa besar ini, mengapa Tuan pergi ke Sungai Barat untuk sekedar melihat balapan perahu naga?”
MH tersenyum mengangguk membenarkannya dan lalu memikirkan sesuatu yang lain dan kemudian bertanya lagi: “Sekarang, dimanakah saya?”
MT membaca pikiran MH lalu berkata: “Tuan adalah Guru bagi bangsa besar ini, mengapa Tuan pergi ke Tianjin 天津 (baca: Thien-cin) untuk sekedar melihat topeng monyet?”
MH tersenyum mengangguk membenarkannya dan lalu memikirkan yang lain lagi dan kemudian bertanya lagi: “Sekarang, dimanakah saya?”
MT kali ini terdiam dan tidak bisa membaca pikiran MH.
MH sambil tersenyum berkata: “Dimanakah kemampuan Anda dalam membaca pikiran itu?”
MT tetap terdiam membisu.

------------------------------------------------------------------------

Pepatah terkenal dari Master Zen Huizhong 慧忠: “Sesungguhnya segala sesuatu dalam keadaan selaras/harmonis, manusia itu sendirilah yang menimbulkan ketakselarasan/kekacauan itu.”

------------------------------------------------------------------------

Offline sutarman

  • Teman
  • **
  • Posts: 68
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #2 on: 10 January 2011, 08:50:07 AM »
BACK TO TOPIC:

Yang menarik adalah di akhir Sati-patthana Sutta ini ditegaskan oleh Buddha bahwa orang yang berlatih meditasi Eling/Sadar/Zen/Mindfulness dalam setiap hembusan dan tarikan napas ini dapat mencapai minimal tingkat Anagami (bahkan Arahat) dalam hitungan tahun (bahkan bulan).

Promosi mode on:
Tertarik mempelajarinya? Belilah buku Keajaiban Hidup Sadar karya Thich Nhat Hanh tahun 1970-an ini. (Hanya) Rp 30.000 namun sangat berguna untuk kemajuan batin.
Promosi mode off.

 _/\_

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #3 on: 10 January 2011, 09:10:11 AM »
pindah ke kaki lima

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #4 on: 10 January 2011, 01:41:50 PM »
BACK TO TOPIC:

Yang menarik adalah di akhir Sati-patthana Sutta ini ditegaskan oleh Buddha bahwa orang yang berlatih meditasi Eling/Sadar/Zen/Mindfulness dalam setiap hembusan dan tarikan napas ini dapat mencapai minimal tingkat Anagami (bahkan Arahat) dalam hitungan tahun (bahkan bulan).

Promosi mode on:
Tertarik mempelajarinya? Belilah buku Keajaiban Hidup Sadar karya Thich Nhat Hanh tahun 1970-an ini. (Hanya) Rp 30.000 namun sangat berguna untuk kemajuan batin.
Promosi mode off.

 _/\_


dagang nih !
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #5 on: 10 January 2011, 05:30:05 PM »
Master Thich Nhat Hanh mencampurkan ajaran Theravada dan Zen berdasarkan avatamsaka (Hua yen) school yang sering dianggap basic ajaran Zen Buddhism.

Thich Nhat Hanh's approach has been to combine a variety of traditional Zen teachings with methods from Theravada Buddhism, insights from Mahayana Buddhism, and ideas from Western psychology - to offer a modern light on meditation practice. Hanh's presentation of the Prajñāpāramitā in terms of "interbeing" has doctrinal antecedents in the Huayan school of thought.

Ia sendiri sewaktu masih menjadi Hwesio (Bhiksu) belajar perbandingan agama di Princeton University, pernah menjadi dosen di Columbia University. selain itu beliau juga bisa berbagai bahasa: Perancis, Chinese, Sanskrit, Pali, jepang, Inggris dan Vietnam.

In 1960, Nhat Hanh came to the U.S. to study comparative religion at Princeton University, subsequently being appointed lecturer in Buddhism at Columbia University. By then he had gained fluency in French, Chinese, Sanskrit, Pali, Japanese and English, in addition to his native Vietnamese

Tidak mengherankan bila kita mendengar bahwa beliau mengajarkan Satipatthana, karena setahu saya Zen Buddhism tak pernah mengajarkan satipatthana, karena dalam Satipatthana tak ada konsep pencerahan seketika seperti dalam Zen.

Dari namanya sudah jelas Zen (Chan, Dhyana, Jhana) setahu saya tak pernah mengajarkan Satipatthana. Bahkan menurut Mahasi Sayadaw, Satipatthana/direct Vipassana bahkan sudah banyak ditinggalkan di negara-negara Buddhis Theravada ketika itu. Sehingga ketika di Srilanka Mahasi Sayadaw menghidupkan kembali Vipassana dengan membimbing Shri Matara Nanarama, yang akhirnya kemudian mengembangkan kembali Vipassana di Srilanka.
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline sutarman

  • Teman
  • **
  • Posts: 68
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #6 on: 12 January 2011, 02:11:57 PM »
Master Thich Nhat Hanh mencampurkan ajaran Theravada dan Zen berdasarkan avatamsaka (Hua yen) school yang sering dianggap basic ajaran Zen Buddhism.

Thich Nhat Hanh's approach has been to combine a variety of traditional Zen teachings with methods from Theravada Buddhism, insights from Mahayana Buddhism, and ideas from Western psychology - to offer a modern light on meditation practice. Hanh's presentation of the Prajñāpāramitā in terms of "interbeing" has doctrinal antecedents in the Huayan school of thought.

Ia sendiri sewaktu masih menjadi Hwesio (Bhiksu) belajar perbandingan agama di Princeton University, pernah menjadi dosen di Columbia University. selain itu beliau juga bisa berbagai bahasa: Perancis, Chinese, Sanskrit, Pali, jepang, Inggris dan Vietnam.

In 1960, Nhat Hanh came to the U.S. to study comparative religion at Princeton University, subsequently being appointed lecturer in Buddhism at Columbia University. By then he had gained fluency in French, Chinese, Sanskrit, Pali, Japanese and English, in addition to his native Vietnamese

Tidak mengherankan bila kita mendengar bahwa beliau mengajarkan Satipatthana, karena setahu saya Zen Buddhism tak pernah mengajarkan satipatthana, karena dalam Satipatthana tak ada konsep pencerahan seketika seperti dalam Zen.

Dari namanya sudah jelas Zen (Chan, Dhyana, Jhana) setahu saya tak pernah mengajarkan Satipatthana. Bahkan menurut Mahasi Sayadaw, Satipatthana/direct Vipassana bahkan sudah banyak ditinggalkan di negara-negara Buddhis Theravada ketika itu. Sehingga ketika di Srilanka Mahasi Sayadaw menghidupkan kembali Vipassana dengan membimbing Shri Matara Nanarama, yang akhirnya kemudian mengembangkan kembali Vipassana di Srilanka.

Bro Fabian,

Benar bahwa Satipatthana Sutta berasal dari tradisi Pali (baca: Theravada?), dan dalam Chan dari China tidak dikenal sutta ini. Karena itulah Master Zen Thich Nhat Hanh disebut menggabungkan tradisi Theravada Vietnam dan Mahayana Vietnam dengan liberal. Pemilihan sutta ini sebagai sutra Zen karena memang sutta ini menekankan eling/mindfulness yang merupakan ciri Zen.

Dalam tradisi Zen sendiri, Huineng tertarik dengan Sutra Intan yang membawanya pada pencerahan seketika sebelum dia menemui Patriak Hongren. Master-master Zen sendiri terkenal suka mempelajari sutta dari aliran lain (bahkan kadang ada yang mempelajari kitab suci agama lain), namun tetap mempertahankan tradisi Zen yang mindfulness.

Saat saya membaca Satipatthana Sutta itu sendiri, saya sudah berlatih meditasi Zen sehingga saya bisa memahami isi sutta itu dan saya pikir tak salah kalau Master Zen Thich Nhat Hanh mengambilnya sebagai kitab Zen.

Sebenarnya, dalam tradisi Zen, sutta itu penting tak penting. Sutta penting sebagai bahan dasar belajar Buddha Dharma karena itulah yang diwariskan Sangha (ingat bukan Buddha yang menulis Sutta itu sendiri, Zen tetap menjaga sikap skeptis terhadap sutta), namun peran Guru/Master tetap diperlukan terutama bila ada semacam ketidakpahaman terhadap maksud sebenarnya dari sutta tertentu. Dan di sinilah kreativitas Master Zen dalam menerangkan maksud sebenarnya dari sebuah sutta menjadi legenda.

Kebebasan berpikir/berkreasi dalam Zen memang luar biasa liberal. Itu tak bisa dihindari karena Zen adalah ajaran yang langsung menunjuk pada pikiran seperti yang dikatakan Patriak Huineng yang buta huruf itu. Dan kita tahu pikiran setiap manusia berbeda dan unik.  Sehingga tak aneh bila Patriak Huineng itu sendiri melahirkan lima aliran Zen yang berbeda (termasuk menggunakan sutra yang berbeda tergantung pemikiran sang pendiri aliran). Dapat dikatakan dalam Zen, eling/mindfulness adalah yang utama, metode untuk mencapainya di-liberal-kan. Eling itulah yang menyatukan semua aliran Zen yang berbeda-beda itu. Demikian penjelasan dari saya.

Master Zen Thich Nhat Hanh sendiri dikenal sebagai guru meditasi lintas agama. Ketika menyelenggarakan meditasi mindfulness di Indonesia, yang ikut meditasi Mindfulness bukan Buddhist saja. Saya pikir rekan-rekan sekalian sudah tahu hal ini. Ini memang terkait dengan sikap liberal dalam tradisi Zen bahkan sejak  Bodhidharma (bukan sejak Huineng). Dalam hal meditasi, Zen memang berbeda dengan Theravada. Namun saya tak menganggap bahwa Zen lebih unggul dari Theravada atau sebaliknya. Itulah perbedaan tradisi.

Offline Triyana2009

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 756
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #7 on: 13 January 2011, 07:10:24 PM »
Namo Buddhaya,

Master Thich Nhat Hanh mencampurkan ajaran Theravada dan Zen berdasarkan avatamsaka (Hua yen) school yang sering dianggap basic ajaran Zen Buddhism.

Thich Nhat Hanh's approach has been to combine a variety of traditional Zen teachings with methods from Theravada Buddhism, insights from Mahayana Buddhism, and ideas from Western psychology - to offer a modern light on meditation practice. Hanh's presentation of the Prajñāpāramitā in terms of "interbeing" has doctrinal antecedents in the Huayan school of thought.

Ia sendiri sewaktu masih menjadi Hwesio (Bhiksu) belajar perbandingan agama di Princeton University, pernah menjadi dosen di Columbia University. selain itu beliau juga bisa berbagai bahasa: Perancis, Chinese, Sanskrit, Pali, jepang, Inggris dan Vietnam.

In 1960, Nhat Hanh came to the U.S. to study comparative religion at Princeton University, subsequently being appointed lecturer in Buddhism at Columbia University. By then he had gained fluency in French, Chinese, Sanskrit, Pali, Japanese and English, in addition to his native Vietnamese

Tidak mengherankan bila kita mendengar bahwa beliau mengajarkan Satipatthana, karena setahu saya Zen Buddhism tak pernah mengajarkan satipatthana, karena dalam Satipatthana tak ada konsep pencerahan seketika seperti dalam Zen.

Dari namanya sudah jelas Zen (Chan, Dhyana, Jhana) setahu saya tak pernah mengajarkan Satipatthana. Bahkan menurut Mahasi Sayadaw, Satipatthana/direct Vipassana bahkan sudah banyak ditinggalkan di negara-negara Buddhis Theravada ketika itu. Sehingga ketika di Srilanka Mahasi Sayadaw menghidupkan kembali Vipassana dengan membimbing Shri Matara Nanarama, yang akhirnya kemudian mengembangkan kembali Vipassana di Srilanka.

1. Master Thich Nhat Hanh mencampurkan ajaran Theravada dan Zen berdasarkan avatamsaka (Hua yen) school yang sering dianggap basic ajaran Zen Buddhism. = Ah siapa yang bilang begitu.....? Master Thich Nhat Hanh tidak mencampurkan ajaran manapun kalo tentang Samanta Vipassana di Mahayana juga ada, sebenarnya dalam Zen Sutra yang menonjol justru Arya Lankavatara Sutra tetapi memang Avatamsaka Sutra dianggap oleh semua aliran Mahayana sebagai Sutra yang sangat penting.

2. Tidak mengherankan bila kita mendengar bahwa beliau mengajarkan Satipatthana, karena setahu saya Zen Buddhism tak pernah mengajarkan satipatthana, karena dalam Satipatthana tak ada konsep pencerahan seketika seperti dalam Zen.= Dalam Zen kalau saya tidak salah pondasi dasar meditasinya Samanta Vipassana baru setelah sang murid menguasai benar tehnik tersebut boleh berlanjut ke bermacam-macam meditasi lain yang dipilih oleh Guru berdasarkan kecocokan siswa persiswa, jadi tidak semua murid mendapatkan meditasi lanjutan yang sama walaupun tujuan akhirnya sama. Kalo anda tidak pernah mendengar konsep pencerahan seketika dalam Satipattana bukan berarti dalam praktek hal ini tidak pernah terjadi.

3. Dari namanya sudah jelas Zen (Chan, Dhyana, Jhana) setahu saya tak pernah mengajarkan Satipatthana. Bahkan menurut Mahasi Sayadaw, Satipatthana/direct Vipassana bahkan sudah banyak ditinggalkan di negara-negara Buddhis Theravada ketika itu. Sehingga ketika di Srilanka Mahasi Sayadaw menghidupkan kembali Vipassana dengan membimbing Shri Matara Nanarama, yang akhirnya kemudian mengembangkan kembali Vipassana di Srilanka. = Satipattana bukan hanya dominasi Theravada dalam Mahayana pun dikenal, kalau Vipassana mulai ditinggalkan dinegara-negara Buddhist Theravada sungguh sangat disayangkan karena Samanta Vipassana adalah pondasi dari meditasi Buddhist.

 _/\_

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.806
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #8 on: 13 January 2011, 09:53:34 PM »
bukankah Satipatthana = Hinayana, gak perlu dipelajari? Toh udah Boddhisatva, jadi gak perlu Satipatthana lagi?
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #9 on: 13 January 2011, 09:57:01 PM »
Namo Buddhaya,

1. Master Thich Nhat Hanh mencampurkan ajaran Theravada dan Zen berdasarkan avatamsaka (Hua yen) school yang sering dianggap basic ajaran Zen Buddhism. = Ah siapa yang bilang begitu.....? Master Thich Nhat Hanh tidak mencampurkan ajaran manapun.
Nhat Hanh's approach has been to combine a variety of traditional Zen teachings with methods from Theravada Buddhism, insights from Mahayana Buddhism, and ideas from Western psychology - to offer a modern light on meditation practice. Hanh's presentation of the Prajñāpāramitā in terms of "interbeing" has doctrinal antecedents in the Huayan school of thought,[31] which "is often said to provide a philosophical foundation" for Zen
http://en.wikipedia.org/wiki/Thich_Nhat_Hanh

kalo tentang Samanta Vipassana di Mahayana juga ada, sebenarnya dalam Zen Sutra yang menonjol justru Arya Lankavatara Sutra tetapi memang Avatamsaka Sutra dianggap oleh semua aliran Mahayana sebagai Sutra yang sangat penting.

2. Tidak mengherankan bila kita mendengar bahwa beliau mengajarkan Satipatthana, karena setahu saya Zen Buddhism tak pernah mengajarkan satipatthana, karena dalam Satipatthana tak ada konsep pencerahan seketika seperti dalam Zen.= Dalam Zen kalau saya tidak salah pondasi dasar meditasinya Samanta Vipassana
Bisa diberikan linknya bro...?

Quote
baru setelah sang murid menguasai benar tehnik tersebut boleh berlanjut ke bermacam-macam meditasi lain yang dipilih oleh Guru berdasarkan kecocokan siswa persiswa, jadi tidak semua murid mendapatkan meditasi lanjutan yang sama walaupun tujuan akhirnya sama. Kalo anda tidak pernah mendengar konsep pencerahan seketika dalam Satipattana bukan berarti dalam praktek hal ini tidak pernah terjadi.

Boleh tahu apa yang terjadi dalam pencerahan seketika bro...? Bisa beri contoh...?

Quote
3. Dari namanya sudah jelas Zen (Chan, Dhyana, Jhana) setahu saya tak pernah mengajarkan Satipatthana. Bahkan menurut Mahasi Sayadaw, Satipatthana/direct Vipassana bahkan sudah banyak ditinggalkan di negara-negara Buddhis Theravada ketika itu. Sehingga ketika di Srilanka Mahasi Sayadaw menghidupkan kembali Vipassana dengan membimbing Shri Matara Nanarama, yang akhirnya kemudian mengembangkan kembali Vipassana di Srilanka. = Satipattana bukan hanya dominasi Theravada dalam Mahayana pun dikenal, kalau Vipassana mulai ditinggalkan dinegara-negara Buddhist Theravada sungguh sangat disayangkan karena Samanta Vipassana adalah pondasi dari meditasi Buddhist.
 
_/\_


Yah memang benar kenyataannya demikian sebelum Mahasi Sayadaw berkeliling ke Mancanegara untuk mengajarkan Vipassana ketika itu Vipassana kurang dikenal secara praktek. Kalau memang benar Satipatthana ada di kitab suci Mahayana seperti komentar bro Triyana, tolong tunjukkan dimana.

Large Sutra on perfect wisdom (translation Edward Conze) hal 334:
"Beberapa orang yang mengikuti kendaraan besar (Mahayana) akan menolak Prajna Paramita yang dalam ini, yang merupakan akar semua Buddhadharma, dan malahan memutuskan untuk belajar Sutra yang berhubungan dengan kendaraan Shravaka dan PratyekaBuddha, Sutra yang bagaikan dahan, cabang dan ranting. Ini juga merupakan hasil perbuatan Mara pada mereka."

Mungkin bro Triyana perlu berkeliling ke negara-negara Buddhis Theravada, misalnya Myanmar, agar dapat gambaran berapa banyak Bhiksu Mahayana yang belajar Vipassana di pusat-pusat meditasi Vipassana di Myanmar.

Mahasatipatthana Sutta boleh dikatakan sutra yang sangat penting bagi aliran Shravaka, rujukan utama untuk Vipasyana. Mungkinkah ini merupakan perbuatan Mara terhadap Bhiksu-Bhiksu Mahayana...?
 
_/\_

Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Triyana2009

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 756
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #10 on: 14 January 2011, 07:17:45 PM »
Namo Buddhaya,

Bisa diberikan linknya bro...?

Boleh tahu apa yang terjadi dalam pencerahan seketika bro...? Bisa beri contoh...?
 

Yah memang benar kenyataannya demikian sebelum Mahasi Sayadaw berkeliling ke Mancanegara untuk mengajarkan Vipassana ketika itu Vipassana kurang dikenal secara praktek. Kalau memang benar Satipatthana ada di kitab suci Mahayana seperti komentar bro Triyana, tolong tunjukkan dimana.

Large Sutra on perfect wisdom (translation Edward Conze) hal 334:
"Beberapa orang yang mengikuti kendaraan besar (Mahayana) akan menolak Prajna Paramita yang dalam ini, yang merupakan akar semua Buddhadharma, dan malahan memutuskan untuk belajar Sutra yang berhubungan dengan kendaraan Shravaka dan PratyekaBuddha, Sutra yang bagaikan dahan, cabang dan ranting. Ini juga merupakan hasil perbuatan Mara pada mereka."

Mungkin bro Triyana perlu berkeliling ke negara-negara Buddhis Theravada, misalnya Myanmar, agar dapat gambaran berapa banyak Bhiksu Mahayana yang belajar Vipassana di pusat-pusat meditasi Vipassana di Myanmar.

Mahasatipatthana Sutta boleh dikatakan sutra yang sangat penting bagi aliran Shravaka, rujukan utama untuk Vipasyana. Mungkinkah ini merupakan perbuatan Mara terhadap Bhiksu-Bhiksu Mahayana...?
 
_/\_



1. Taisho Tripitaka Madhyama Agama Smrtyupasthana Sutra.

2. Dalam Zen dikenal Gradual Enlightment dan Sudden Enlightment, untuk lebih jelasnya silahkan membaca buku-buku tentang Zen.

 _/\_

Offline fabian c

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.095
  • Reputasi: 128
  • Gender: Male
  • 2 akibat pandangan salah: neraka atau rahim hewan
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #11 on: 14 January 2011, 09:05:42 PM »
Namo Buddhaya,

1. Taisho Tripitaka Madhyama Agama Smrtyupasthana Sutra.

Itu adalah Smrtyupasthana Sutra. Anda harus mengubah judul thread bro... Kitab utama Zen adalah: Madhyagama Smrtyupasthana Sutra bukan Satipatthana Sutta dari digha Nikaya  :)

Tapi isi Taisho Tripitaka yang ini jelas bertentangan dengan kitab suci Mahayana lainnya, yaitu: large Sutra on perfect Wisdom yang menganggap ajaran Shravaka adalah dahan, cabang dan ranting belaka.

Satipatthana jelas adalah jalan Shravaka bro....   Jadi mengapa dianggap kitab utama di Zen/Chan/Dhyana/Jhana?

Quote
2. Dalam Zen dikenal Gradual Enlightment dan Sudden Enlightment, untuk lebih jelasnya silahkan membaca buku-buku tentang Zen.

 _/\_

Pertanyaan saya bukan itu bro... Coba perhatikan lagi pertanyaan saya:
Boleh tahu apa yang terjadi dalam pencerahan seketika bro...? Bisa beri contoh...?

Mettacittena,
« Last Edit: 14 January 2011, 09:09:58 PM by fabian c »
Tiga hal ini, O para bhikkhu dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka.
Bercinta dengan wanita, mantra para Brahmana dan pandangan salah.

Tiga hal ini, O para Bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia.
Lingkaran rembulan, lingkaran matahari serta Dhamma dan Vinaya Sang Tathagata

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #12 on: 14 January 2011, 09:57:59 PM »
Samatha dan Vipassana adalah pondasi dasar dalam Zen, tetapi sekalipun menjadi pondasi dasar namun anda sebagai seorang mahayanist bahkan tidak dapat menuliskan Samatha dengan benar (bukan Samanta, walaupun ada juga Samantha Fox seorang artis).

Offline sutarman

  • Teman
  • **
  • Posts: 68
  • Reputasi: 2
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #13 on: 15 January 2011, 09:23:54 AM »
Samatha dan Vipassana adalah pondasi dasar dalam Zen, tetapi sekalipun menjadi pondasi dasar namun anda sebagai seorang mahayanist bahkan tidak dapat menuliskan Samatha dengan benar (bukan Samanta, walaupun ada juga Samantha Fox seorang artis).

Bro Indra yang baik,

Saya sebagai praktisi Zen, kadang juga salah nulis istilah dalam bahasa Sansekerta atau Pali, ya harap dimaklumi, karena dalam tradisi Zen, kata-kata atau bahasa itu bisa dikatakan penting tidak penting, yang penting adalah pemahaman langsung, terutama dalam meditasi. Bahasa pengantar meditasi bisa jadi Mandarin, Inggris, Indonesia, dll, tapi yang penting ya bahasa tersebut dapat membuat sang meditator menyelami meditasi itu sendiri. Ibarat jari menunjuk bulan. Jangan melihat jari tapi lihatlah bulan. Lebih kurang begitu.

 _/\_

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Satipatthana Sutta (Sebuah Kitab Utama Zen)
« Reply #14 on: 15 January 2011, 09:29:45 AM »
Bro Indra yang baik,

Saya sebagai praktisi Zen, kadang juga salah nulis istilah dalam bahasa Sansekerta atau Pali, ya harap dimaklumi, karena dalam tradisi Zen, kata-kata atau bahasa itu bisa dikatakan penting tidak penting, yang penting adalah pemahaman langsung, terutama dalam meditasi. Bahasa pengantar meditasi bisa jadi Mandarin, Inggris, Indonesia, dll, tapi yang penting ya bahasa tersebut dapat membuat sang meditator menyelami meditasi itu sendiri. Ibarat jari menunjuk bulan. Jangan melihat jari tapi lihatlah bulan. Lebih kurang begitu.

 _/\_

Kalau itu memang pondasi dasar, saya kira kesalahan itu tidak terjadi. pernahkah anda mendengar kisah seorang anggota dewan yg salah mengucapkan pancasila dasar negara? dan bagaimana reaksi masyarakat? apakah sbg pondasi dasar, hal ini tidak pernah atau jarang diajarkan sehingga jarang terdengar oleh penganutnya? saya bukan praktisi zen, tapi ketika pertama kali saya diajarkan tentang Samatha, saya tau tidak ada huruf N di sana.