Topik Buddhisme > Meditasi

40 objek meditasi

<< < (3/6) > >>

Indra:
BAGIAN TIGA

Kasina Ruang (terpisah)

Apakah kasiṇa ruang (terpisah)? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. Dalam kasiṇa ruang, ada dua jenis: Yang pertama adalah ruang yang terpisah dari bentuk; yang kedua adalah ruang yang tidak terpisah dari bentuk. Gambaran dari kasiṇa ruang adalah ruang yang terpisah dari bentuk; gambaran ruang yang ditangkap di ruang terbuka adalah ruang yang tidak terpisah dari bentuk. Latihan dan ke-diam-an pikiran yang tidak terganggu – ini disebut praktiknya. Mengarahkan pikiran ke arah persepsi ruang adalah fungsinya. Pikiran yang tidak terpecah adalah penyebab langsungnya.

“Apakah manfaatnya?”: Ada dua manfaat utama, sebagai berikut: Seseorang mampu melewati halangan seperti dinding, gunung dan sejenisnya.  Aktivitas jasmaninya tidak terhalangi, dan ia menjadi tidak merasa takut.

“Bagaimanakah menangkap gambarannya?”: Orang yang mempraktikkan kasiṇa ruang, menangkap gambaran dalam ruang yang alami ataupun yang dipersiapkan. Yogi yang terlatih menangkap gambaran di tempat alami. Ia melihat gambaran di berbagai tempat – di beberapa  celah (di sebuah dinding), di ruang dalam jendela yang terbuka, di celah antara dahan-dahan pohon. Dimulai dengan ini, ia senantiasa melihatnya, dalam kesenangan maupun kesakitan. Demikianlah gambaran bathin dari gambaran ruang muncul dalam dirinya. Yogi baru agak berbeda. Yogi baru menangkap gambaran di tempat yang dipersiapkan dan bukan di tempat yang tidak dipersiapkan. Yogi ini pergi ke tempat yang tenang di luar yang tidak ada halangan. Ia membuat celah bundar (di dinding) dan menangkap gambaran ruang, melalui tiga cara: melalui tatapan, keterampilan dan pelenyapan gangguan. Dalam kasiṇa ruang ini, meditasi, jhāna keempat dan kelima dihasilkan. Selanjutnya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Kasina Kesadaran

T. Apakah kasiṇa kesadaran?

J. Yaitu konsentrasi dari alam kesadaran tanpa batas. Ini disebut kasiṇa kesadaran. Selanjutnya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sepuluh kasiṇa selesai

Berbagai Ajaran

T. Apakah berbagai ajaran sehubungan dengan kasiṇa-kasiṇa ini?

J. Jika seseorang mencapai kemahiran dalam satu gambaran, semua gambaran lainnya akan mengikuti. Jika seseorang mencapai kemahiran dalam meditasi, jhāna pertama, melalui satu kasiṇa, maka ia akan mampu mencapai kemahiran melalui kasiṇa lainnya juga dan mampu memunculkan meditasi, jhāna kedua. Demikian pula, jika seseorang mencapai kemahiran dalam meditasi, jhāna kedua, ia akan mampu memunculkan meditasi, jhāna ketiga. Jika seseorang mencapai kemahiran dalam meditasi, jhāna ketiga, ia akan mampu memunculkan meditasi, jhāna keempat.

T. Apakah yang terbaik dari semua kasiṇa?

J. empat kasiṇa warna adalah yang terbaik, karena melaluinya, seseorang dapat mencapai pembebasan  dan mencapai kemahiran. Kasiṇa putih sangat baik, karena menerangi dan karena melaluinya keadaan pikiran yang tanpa rintangan tercapai.

Di sini (si yogi) menghasilkan delapan pencapaian pada delapan kasiṇa, dalam enam belas cara, dengan damai. (1) Ia menetap di manapun yang ia sukai dan (2) mempraktikkan konsentrasi yang ia sukai, (3) kapanpun ia suka, (4) tanpa rintangan, (5) dalam urutan maju  dan (6) dalam urutan mundur , (7) dalam urutan maju dan urutan mundur , (8 ) dengan mengembangkan secara terpisah  (9) dengan mengembangkan bersama-sama (10) dengan melompati bagian pertengahan ,  (11) dengan membatasi faktor , (12) dengan membatasi obyek, (13) dengan membatasi faktor dan obyek, (14) dengan mengikat  faktor, (15) dengan mengikat obyek, (16) dengan mengikat faktor dan obyek.

(1) “Ia menetap dimanapun yang ia sukai”: Ia menetap di desa atau hutan – dimanapun yang ia sukai – dan memasuki konsentrasi. (2) “Mempraktikkan konsentrasi yang ia sukai”: Ia menghasilkan konsentrasi yang ia inginkan. (3) “Kapanpun”: Ia memasuki konsentrasi pada waktu yang ia sukai. (4) (”Tanpa rintangan”): Ia mampu mempertahankan kekokohan (konsentrasi) setiap saat. (5) “dalam urutan maju”: Ia memasuki meditasi, jhāna pertama, dan berturut-turut naik hingga alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. (6) “Dalam urutan mundur”: Mulai dari alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi, ia turun setingkat demi setingkat hingga meditasi, jhāna pertama. (7) “Dalam urutan maju dan urutan mundur”: Ia melampaui dalam urutan maju dan urutan mundur. Ia memasuki meditasi, jhāna ketiga dari meditasi, jhāna pertama. Dari meditasi, jhāna ketiga, ia memasuki meditasi, jhāna kedua dan dari kedua, ia memasuki keempat . Demikianlah ia memasuki konsentrasi alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. (8 ) “Dengan mengembangkan secara terpisah”: Setelah perlahan-lahan memasuki meditasi, jhāna keempat, ia naik atau turun. (9) “Dengan mengembangkan bersama-sama”: Ia memasuki meditasi, jhāna keempat. Dari sana ia memasuki ruang, dan kemudian memasuki meditasi, jhāna ketiga. Demikianlah ia memasuki konsentrasi dalam dua cara. (10) “Dengan melompati bagian pertengahan”: Ia memasuki meditasi, jhāna pertama. Dari sini ia memasuki alam bukan persepsi juga bukan bukan-persepsi. Dari sini ia memasuki meditasi, jhāna kedua, dan dari sana ia mencapai alam kekosongan. Demikianlah ia berdiam dalam pencapaian itu, dan memahami alam ruang tanpa batas. (11) “Dengan membatasi faktor”: Ia memasuki konsentrasi dari satu meditasi, jhāna pada delapan kasiṇa. (12) “Dengan membatasi obyek”: Ia memasuki delapan jenis konsentrasi pada tiga kasiṇa. (13) “Dengan membatasi faktor dan obyek”: Dua meditasi, jhāna dan satu kasiṇa. (14) “Mengikat faktor”: pada tiga kasiṇa, ia memasuki dua meditasi, jhāna. (15) “Dengan mengikat obyek”: Ia memasuki dua meditasi, jhāna pada dua kasiṇa. (16) “Dengan mengikat faktor dan obyek”: Ini terdiri dari dua kalimat (sebelumnya).


Sepuluh persepsi pembusukan

(1) Persepsi pembengkakan

T. Apakah persepsi pembengkakan? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. “Persepsi pembengkakan”: keadaan bengkak seluruh tubuh seperti mayat busuk yang dibuang, yang kulitnya menggembung – ini disebut “pembengkakan” . Memandang pembengkakan dengan pengetahuan benar – ini disebut “persepsi”. Latihan dan kediaman yang tidak terganggu dari pikiran dalam persepsi tersebut – ini disebut praktiknya. Mengarahkan pikiran kepada persepsi pembengkakan adalah karakteristik utamanya. Kejijikan yang berhubungan dengan persepsi pembengkakan adalah fungsinya. Bau busuk dan kekotoran adalah penyebab langsungnya.

“Apakah manfaatnya?”: manfaat persepsi pembengkakan ada sembilan yaitu: Seseorang mampu memperoleh kesadaran sehubungan dengan bagian dalam tubuhnya, mampu memperoleh persepsi ketidak-kekalan dan persepsi kematian. Ia meningkatkan kejijikan dan mengatasi nafsu-indria. Ia melenyapkan kemelekatan terhadap bentuk dan kehidupan. Ia memperoleh kemakmuran dan mendekati surga.

“Bagaimanakah menangkap gambarannya?”: Seorang yogi baru yang menangkap gambaran pembusukan pembengkakan pergi sendirian, tanpa teman, mantap dalam perhatian, tanpa khayalan, dengan indria tertuju ke dalam dan pikirannya tidak mengembara keluar, melakukan perenungan di jalan pergi dan datang. Demikianlah ia pergi ke tempat mayat-mayat membusuk. Menghindari tiupan angin, ia berdiam di sana, berdiri atau duduk, dengan gambaran pembusukan di depannya dan tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu dekat dari mayat itu. Dan yogi tersebut membuat batu, sarang semut, pohon, semak atau tanaman rambat, di dekat tempat mayat membusuk itu berada, satu dengan gambaran, satu dengan obyek, dan merenungkan: “Batu ini tidak bersih, ini adalah gambaran kekotoran, ini adalah batu”. Dan demikian pula dengan sarang semut dan yang lainnya.

[425] Setelah membuat gambaran dan membuat obyek, ia berlatih, merenungkan gambaran pembusukan dari sifat hakiki dalam sepuluh cara: dari warna, jenis kelamin, daerah, bagian, perbatasan, sendi-sendi, rongga, bagian rendah, bagian tinggi dan seluruh sisi. Ia merenungkan seluruh sisi darinya. “Dari warna” artinya: “Ia menganggap hitam sebagai hitam, tidak hitam dan tidak putih sebagai tidak hitam dan tidak putiih. Ia menganggap putih sebagai putih dan kulit yang bau busuk sebagai bau busuk”. “Dari jenis kelamin” artinya: “Ia menentukan apakah mayat tersebut laki-laki atau perempuan, dan apakah anak kecil, dewasa atau orang tua”. Menentukan adalah menentukan panjang sebagai panjang, pendek sebagai pendek, gemuk sebagai gemuk, kecil sebagai kecil. “Dari daerah” artinya: “Ia menentukan bahwa arah ini adalah kepala; arah ini adalah tangan; arah ini adalah kaki; arah ini adalah punggung; arah ini adalah perut; arah ini adalah pinggul; arah ini adalah gambaran pembusukan”. Demikianlah ia memahami. “Dari tempat” artinya: “Ia menentukan bahwa di tempat ini adalah tangan; di tempat ini adalah kaki; di tempat ini adalah kepala; di tempat ini adalah perut; di tempat ini adalah pinggul; di tempat ini adalah gambaran pembusukan”. “Dari perbatasan” artinya: “Ia menentukan (batas dari tubuh) dari kepala ke kaki, dari bawah ke atas hingga kepala dan kulit kepala, memahami seluruh tubuh sebagai sekumpulan kotoran”. “Dari sendi-sendi” artinya: “Ia menentukan bahwa ada enam sendi di kedua tangan, enam sendi di kedua kaki, dan bahwa ada satu sendi di leher dan satu di pinggang”. Ini dikenal sebagai empat belas sendi besar. “Dari rongga” artinya: “Ia menentukan apakah mulutnya terbuka atau tertutup, dan apakah matanya terbuka atau tertutup. Ia menentukan cekungan tangan dan kaki”. “dari bagian bawah dan dari bagian atas” artinya: “Ia menentukan apakah gambaran pembusukan itu berada di tempat rendah atau tempat tinggi; dan kemudian ia menentukan: ‘Aku sekarang berada di tempat rendah, gambaran pembusukan ada di tempat yang tinggi’, atau, ‘gambaran pembusukan berada di tempat rendah, aku berada di tempat tinggi’”. “Ia merenungkan seluruh sisi” artinya: “Ia menentukan jarak dua atau tiga depa dari gambaran itu, karena ia tidak menangkap gambaran dengan berada pada jarak yang terlalu dekat atau terlalu jauh dari mayat tersebut. Dan merenungkan segala sesuatu, ia menangkap gambaran (berkata), “Sādhu! sādhu!”. Dengan mengamati demikian, ia puas.

Yogi itu, setelah menangkap gambaran, mencatatnya dan menentukan dengan benar, pergi sendirian, tanpa teman, mantap dalam perhatian, tanpa khayalan, dengan indria tertuju ke dalam dan pikirannya tidak mengembara keluar, merenungkan  jalan pergi dan datang. Mondar-mandir di jalan atau duduk, ia tercerap dalam gambaran pembusukan.

Mengapa ia pergi tanpa teman? Ini adalah demi mendapatkan ketenangan jasmani. “Mantap dalam perhatian” artinya: “Berkat tidak adanya khayalan, indria menjadi tertuju ke dalam dan tidak mengembara keluar”.

Mengapa ia melakukan perenungan di jalan pergi dan datang? Ini adalah demi mendapatkan ketenangan jasmani. Mengapa ia menghindari tiupan angin? Ini adalah untuk menghindari bau busuk. Mengapa ia duduk tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat dari gambaran? Jika ia duduk terlalu jauh, ia tidak dapat menangkap gambaran. Jika ia duduk terlalu dekat, ia tidak dapat memperoleh ketidak-sukaan terhadapnya, atau melihat sifatnya. Jika ia tidak mengetahui sifatnya, ia tidak dapat menangkap gambarannya. Oleh karena itu, ia duduk tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat darinya. Mengapa ia merenungkan gambaran di seluruh sisinya? Ini agar tidak adanya khayalan. Tidak adanya khayalan adalah sebagai berikut: Ketika seorang yogi pergi ke tempat yang sepi dan melihat gambaran pembusukan, rasa takut muncul dalam dirinya; di saat demikian, jika mayat itu berdiri di hadapannya, ia tidak berdiri, namun merenungkan. Dengan cara ini, ia mengetahui, mengingat, memahami dengan benar, menganggap dengan benar dan menyelidiki gambaran tersebut sepenuhnya. Dengan cara yang sama ia merenungkan seluruh gambaran. Ini adalah (tanda dari) tidak adanya khayalan.

T. Mengapakah ia menangkap gambaran dalam sepuluh cara? J. Ini adalah untuk mengikat pikiran.

Mengapakah ia merenungkan jalan pergi dan datang? Ini adalah untuk mendapatkan kemajuan dalam jalan tersebut. “Kemajuan dalam jalan” artinya: “Walaupun seorang yogi pergi ke tempat yang sepi, pikirannya kadang-kadang terganggu. Jika ia tidak senantiasa menyelidiki, gambaran pembusukan tidak muncul. Oleh karena itu, seorang yogi menyelidiki gambaran dengan sepenuh hati dengan merenungkan jalan pergi dan datang. Ia menyelidiki tempat meditasi. Ia menyelidiki seluruh gambaran. Demikianlah ia seharusnya menyelidiki gambaran yang akan ditangkap, dalam sepuluh cara.

Demikianlah yogi itu menyelidiki lagi dan lagi, dan melihat gambaran seolah-olah dengan matanya. Ini adalah (tanda dari) kemajuan dalam jalan. Seorang yogi baru, bermeditasi pada sesosok mayat, melihat (nya sebagai) permata, memuja, mengingatnya, selalu mendekatinya, menyebabkan rintangan lenyap dan membangkitkan faktor-faktor meditasi, jhāna. Jauh dari nafsu-indria dan kondisi kejahatan, ia berdiam dalam pencapaian meditasi, jhāna pertama, yang disertai permulaan dan kelangsungan pikiran, yang muncul dari kesunyian dan penuh kegembiraan dan kebahagiaan, melalui persepsi pembusukan.

T. Mengapakah hanya meditasi, jhāna pertama, yang dikembangkan melalui persepsi pembusukan dan tidak meditasi, jhāna lainnya?

J. Persepsi ini selalu mengikuti permulaan dan kelangsungan pikiran karena (keduanya berjalan bersama-sama) dan karena terikat ketika permulaan dan kelangsungan pikiran hadir, gambaran ini terbentuk. Tanpa permulaan dan kelangsungan pikiran, si yogi tidak mampu, memperoleh ketenangan pikiran. Oleh karena itu, meditasi, jhāna tercapai, dan bukan yang lainnya.

Selanjutnya, dikatakan bahwa warna, jenis kelamin, dan lainnya dari gambaran pembusukan ini direnungkan dalam banyak cara. “Direnungkan dalam banyak cara”: (warna, dan lain-lain) ini adalah obyek dari permulaan dan kelangsungan pikiran, terpisah dari permulaan dan kelangsungan pikiran, hal-hal ini tidak dapat direnungkan. Oleh karena itu, hanya meditasi, jhāna pertama yang dikembangkan, dan bukan yang lainnya.

Selanjutnya, dikatakan bahwa gambaran pembusukan adalah obyek yang tidak bertahan lama. Pada obyek yang tidak bertahan lama, pikiran tidak pergi lebih tinggi. Di dalam tempat yang tidak bersih, kegembiraan dan kebahagiaan hanya muncul oleh penolakan terhadap permulaan dan kelangsungan pikiran, yang, di tempat seperti ini, bergantung pada bau busuk. Oleh karena itu, hanya meditasi, jhāna pertama yang dikembangkan, dan bukan yang lainnya.

T. Pada obyek yang tidak bertahan lama, bagaimanakah kegembiraan dan kebahagiaan muncul?

J. Obyek yang tidak bertahan lama bukanlah penyebab bagi kegembiraan dan kebahagiaan. Dan lagi, kegembiraan dan kebahagiaan muncul karena lenyapnya panas dari rintangan dan latihan pikiran. Selanjutnya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Akhir dari persepsi pembengkakan

Indra:
(2) Persepsi kerusakan warna

T. Apakah kerusakan warna? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. Satu, dua atau tiga hari setelah kematian, warna tubuh menjadi rusak, dan tampak seolah-olah ternoda biru. Ini adalah gambaran kerusakan warna. Kerusakan warna ini disebut gambaran biru. Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut persepsi kerusakan warna.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran biru adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Pikiran tidak bertahan lama adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat dari pembengkakan. Cara menangkap gambaran sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Akhir dari persepsi kerusakan warna

(3) Persepsi bernanah

T. Apakah persepsi bernanah? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. “Bernanah”: dua atau tiga malam setelah kematian, tubuh bernanah dan nanah menetes dari tubuh bagaikan mentega yang dituang. Ini adalah nanah dari tubuh. Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut persepsi bernanah.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran bernanah adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Pikiran tidak bertahan lama adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat dari pembengkakan. Cara menangkap gambaran sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

 Akhir dari persepsi bernanah

(4) Persepsi terpecah

T. Apakah arti terpecah? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya?

J. “Terpecah” artinya: “Apa yang menyerupai bagian-bagian yang berserakan dari tubuh yang dibacok dengan pedang”. Selain itu, mayat yang dibuang juga disebut terpecah. Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut persepsi terpecah.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran terpecah adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Pikiran pembusukan adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat dari pembengkakan.

T. “Bagaimanakah menangkap gambarannya?”

J. Pemandangan kedua daun telinga atau dua jari tangan yang terpisah (dari tubuh) menyebabkan munculnya gambaran terpecah. Dengan demikian gambaran ditangkap dengan jarak satu atau dua inci  antara satu dengan yang lainnya. Selanjutnya sama dengan yang telah dijelaskan di atas.

Akhir dari persepsi terpecah

(5) Persepsi tercabik

T. Apakah persepsi tercabik? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. “Tercabik”: (Sisa-sisa dari sesosok) mayat yang telah dilahap burung gagak, burung bangkai, burung hantu, burung elang, babi hutan, anjing, serigala, harimau atau macan tutul – ini disebut tercabik.  Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut (persepsi) tercabik.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran bernanah adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Merenungkan pembusukan adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat dari pembengkakan. Selanjutnya sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

 Akhir dari persepsi tercabik.

(6) Persepsi berserakan

T. Apakah persepsi berserakan? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? [426] Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. Kondisi bagian-bagian tubuh yang terpisah-pisah di sana-sini disebut “berserakan”. Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut (persepsi) berserakan.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran berserakan adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Merenungkan pembusukan adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat dari pembengkakan.

“Bagaimanakah menangkap gambarannya?”: Semua bagian-bagian tubuh (yang berserakan) dikumpulkan dan diletakkan di tempat yang sama sehingga hanya berjarak kira-kira dua inci antara satu dengan yang lainnya. Setelah mengaturnya demikian, seseorang menangkap gambaran berserakan. Beginilah gambaran itu ditangkap. Selanjutnya sama dengan yang telah dijelaskan sebelumnya.

Akhir dari persepsi berserakan

(7) Persepsi terpotong dan berserakan

T. Apakah arti dari terpotong dan berserakan? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. “Terpotong dan berserakan”: mayat-mayat, terbaring di berbagai tempat, dari yang tewas karena tongkat, pedang atau panah – di disebut, terpotong dan berserakan. Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut persepsi terpotong dan berserakan.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran terpotong dan berserakan adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Merenungkan pembusukan adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat dari pembengkakan.

Akhir dari persepsi terpotong dan berserakan

(8 ) Persepsi ternoda darah

T. Apakah arti dari ternoda darah? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. kondisi berlumuran darah dari tubuh dan bagian-bagian tubuh disebut sebagai ternoda darah.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran ternoda darah adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Merenungkan pembusukan adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat dari pembengkakan.

“Bagaiamanakah menangkap gambarannya?”: Ini telah dijelaskan sebelumnya.

Akhir dari persepsi terpotong dan berserakan

(9) Persepsi berulat

T. Apakah berulat? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. “Berulat”: Kondisi tubuh yang tertutupi oleh ulat-ulat bagaikan tertutup oleh tumpukan mutiara disebut berulat. Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut persepsi berulat.  Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran berulat adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Merenungkan pembusukan adalah penyebab langsungnya. “Bagaimanakah menangkap gambarannya?”: Ini telah dijelaskan sebelumnya.

Akhir dari persepsi berulat

(10) Persepsi tulang-belulang

T. Apakah tulang-belulang? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah menangkap gambarannya?

J. “Apakah tulang-belulang”?: Kondisi tulang-belulang yang seperti rantai yang saling tersambung oleh daging, darah dan urat, atau oleh urat tanpa daging dan darah, atau tanpa daging dan darah disebut “tulang-belulang”.  Memahami hal ini melalui pengetahuan benar disebut persepsi tulang-belulang. Ke-diam-an pikiran (pada gambaran) yang tidak terganggu adalah praktiknya. Bayangan gambaran tulang-belulang adalah karakteristik utamanya. (Persepsi) tidak menyenangkan adalah fungsinya. Merenungkan pembusukan adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat pembengkakan.

“Bagaimanakah menangkap gambarannya?”: Ini telah dijelaskan sebelumnya.

Akhir dari persepsi tulang-belulang.

Berbagai ajaran

T. Apakah berbagai ajaran sehubungan dengan pembusukan?

J. seorang pemula, sebagai seorang yang terpengaruh oleh nafsu yang besar, sebaiknya tidak menangkap gambaran dari jenis kelamin yang berbeda. “Jenis kelamin yang berbeda” artinya: “Seperti tubuh seorang laki-laki pada seorang perempuan”.

Jika seseorang yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan persepsi pembusukan, ia sebaiknya tidak menangkap gambaran pembusukan, karena ia, karena berhubungan dekat dengan obyek-obyek ini, tidak mengembangkan gagasan tidak menyenangkan dari obyek tersebut. Ia tidak memunculkan persepsi murni dari tubuh binatang buas (?). ia memunculkan gambaran dari sepotong tulang dan menangkap gambaran dalam tulang dengan mahir.

Dan kemudian, jika seseorang menangkap gambaran pembusukan melalui warna, ia sebaiknya bermeditasi pada kasiṇa. Jika seseorang menangkap gambaran pembusukan melalui ruang, ia sebaiknya bermeditasi pada unsur tersebut. Jika seseorang menangkap gambaran pembusukan melalui pembusukan, ia sebaiknya bermeditasi pada pembusukan.

T. Mengapa ada sepuluh pembusukan dan tidak lebih atau kurang?

J. Karena cacat dari tubuh ada sepuluh jenis dan karena ada sepuluh jenis persepsi yang berhubungan dengan sepuluh jenis individu. Individu yang penuh nafsu sebaiknya bermeditasi pada persepsi pembengkakan. Individu yang senang akan kenikmatan indria sebaiknya bermeditasi pada kerusakan warna. Seorang pencinta keindahan sebaiknya bermeditasi pada persepsi bernanah. Yang lainnya harus dipahami dengan cara yang sama.

Kemudian, gambaran pembusukan ditangkap dengan penuh kesulitan. Semua gambaran pembusukan ditujukan untuk mengatasi nafsu. Oleh karena itu, kapanpun seorang yang berjalan dalam nafsu melihat gambaran pembusukan, ia harus menangkapnya. Karena alasan-alasan ini, dikatakan bahwa di antara pembusukan, terdapat sepuluh jenis persepsi pembusukan.

T. Mengapa (gambaran pembusukan) ini tidak ditingkatkan?

J. Ketika seseorang ingin memisahkan dirinya dari nafsu, ia memunculkan persepsi sehubungan dengan sifat tubuhnya. Karena, jika ia memiliki persepsi dari sifat tubuhnya, ia dapat dengan cepat memperoleh persepsi yang tidak menyenangkan dan memunculkan gambaran bathin. Jika persepsi pembusukan ditingkatkan, gambaran yang telah ia tangkap dalam tubuhnya akan lenyap. Jika ia kehilangan persepsi dari tubuhnya sendiri, ia tidak akan dapat dengan cepat memperoleh pikiran yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, ia sebaiknya tidak meningkatkan.

Selanjutnya, dijelaskan bahwa jika seseorang tidak memiliki nafsu, ia boleh meningkatkannya untuk mengembangkan pikiran besar. Ini sesuai dengan ajaran Abhidhamma: “Seseorang berdiam tanpa nafsu dan seterusnya, mempraktikkan meditasi, jhāna pertama, dengan benar, berdiam dalam persepsi pembengkakan dan memunculkan obyek tidak terbatas”.  Yang Mulia Siṅgālapitā mengucapkan hal ini dalam syair berikut:

      Penerus Sang Buddha, ia,
         Penerima persembahan, dalam hutan yang menakutkan,
      Dengan “aturan tulang-belulang” memenuhi,
         Bumi ini, seluruhnya,
      Aku rasa si penerima persembahan ini akan,
         Dalam waktu tidak lama, meninggalkan nafsu.

Indra:
Perenungan Sang Buddha

T. Apakah perenungan Sang Buddha? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Apakah manfaatnya? Bagaimanakah prosedurnya?

J. Yang Tercerahkan adalah Sang Buddha yang dengan usahanya sendiri, tanpa seorang guru, memahami Kebenaran Mulia yang belum pernah didengar sebelumnya. Beliau mengetahui segalanya. Beliau memiliki kekuatan.  Beliau bebas. Karena kualitas-kualitas ini, Beliau disebut Yang Tercerahkan. Seorang yogi mengingat Yang Tercerahkan, Yang Terberkahi, Yang Cerah Sempurna dan patut mencapai Penerangan Sempurna. Ia merenungkan, terus-menerus merenungkan, merenungkan berulang-ulang, tidak lupa untuk merenungkan kualitas-kualitas ini. Ia mengingat kemampuan dan kekuatan (Yang Tercerahkan). Ia mempraktikkan perenungan benar. Demikianlah perenungan Sang Buddha. Ke-diam-an pikiran yang tidak terganggu (dalam perenungan Sang Buddha) – ini disebut praktiknya. Mengingat kemuliaan Sang Buddha adalah fungsinya. Tumbuhnya keyakinan adalah penyebab langsungnya.

Ia yang mempraktikkan perenungan Sang Buddha akan memperoleh delapan belas manfaat berikut ini: peningkatan dalam hal keyakinan, perhatian, kebijaksanaan, kehormatan, jasa, kegembiraan, kemampuan bertahan dalam kesulitan, perasaan tidak takut, perasaan malu akan kejahatan, keadaan menetap di dekat Sang Guru, kenikmatan dalam aktivitas yang berhubungan dengan landasan para Buddha, (kebahagiaan dalam) kemakmuran dan mendekati surga.

Menurut Netti Sutta , jika seseorang ingin bermeditasi pada Sang Buddha, ia harus memuja patung Buddha dan obyek sejenis lainnya. “Bagaimanakah prosedurnya?”: Seorang yogi baru pergi ke tempat yang sunyi dan menjaga agar pikirannya tidak terganggu. Dengan pikiran yang tidak terganggu ini, ia mengingat Beliau yang datang dan pergi di jalan yang sama, Yang Suci, Sempurna, Tercerahkan Sempurna, memiliki pengetahuan dan perilaku sejati, agung, Yang mengetahui alam semesta, pembimbing manusia untuk dijinakkan yang tiada bandingnya, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.  Demikianlah ia mencapai pantai kebajikan yang lebih jauh.

“Yang Terberkahi”: Karena Beliau mendapat pujian dari dunia, Beliau disebut Yang Terberkahi. Karena Beliau telah mencapai Kebenaran Mulia, Beliau disebut Yang Terberkahi. Karena Beliau layak menerima persembahan, Beliau disebut Yang Terberkahi. Karena beliau telah mencapai kemuliaan tertinggi, Beliau disebut Yang Terberkahi dan karena Beliau adalah Raja dari Kebenaran-Jalan, Beliau disebut Yang Terberkahi. Karena alasan-alasan inilah Beliau disebut Yang Terberkahi.

“Sempurna”: Karena Beliau adalah penerima persembahan, Beliau Sempurna. Karena Beliau telah membunuh musuh-kekotoran, Beliau Sempurna. Karena Beliau mematahkan jari-jari roda kelahiran dan kematian, Beliau Sempurna.

“Tercerahkan Sempurna”: Karena Beliau mengetahui segala sesuatu dengan benar, dalam segala aktivitasNya, Beliau disebut Tercerahkan Sempurna. Karena Beliau telah membunuh kebodohan, Beliau disebut Tercerahkan Sempurna dan karena Beliau telah mencapai Penerangan Sempurna yang tanpa bandingnya, oleh diriNya sendiri, Beliau disebut Tercerahkan Sempurna.

“Memiliki pengetahuan dan perilaku sejati”: Pengetahuan artinya tiga jenis pengetahuan, yaitu, pengetahuan akan kehidupan lampau, pengetahuan akan kematian dan kelahiran makhluk-makhluk dan pengetahuan akan padamnya kejahatan. Yang Terberkahi telah melenyapkan kebodohan masa lampau dengan pengetahuan akan kehidupan lampau, kebodohan masa depan dengan pengetahuan kematian dan kelahiran makhluk-makhluk, dan kebodohan masa sekarang dengan pengetahuan padamnya kejahatan.  Setelah melenyapkan kebodohan masa lampau, Yang Terberkahi melihat, ketika Beliau merenungkan, semua keadaan masa lampau dalam segala aktivitasNya. Setelah melenyapkan kebodohan masa depan, Yang Terberkahi melihat, ketika Beliau merenungkan, semua keadaan masa depan dalam segala aktivitasNya. Setelah melenyapkan kebodohan masa sekarang, Yang Terberkahi melihat, ketika Beliau merenungkan, semua keadaan masa sekarang dalam segala aktivitasNya.

“Perilaku” artinya: “memiliki moralitas dan konsentrasi”.

“Moralitas” artinya: “Memiliki semua kondisi baik”. Beliau disebut “Sempurna dalam pengetahuan dan perilaku”.

“Sempurna” artinya: “Memiliki kekuatan supernormal”. Karena itu Beliau disebut “Sempurna dalam pengetahuan dan perilaku”. (Juga) “Memiliki” artinya: “Memiliki semua konsentrasi”.

Demikianlah Yang Terberkahi memiliki belas kasihan agung dan kegembiraan apresiatif karena Kemaha-tahuan, tiga jenis pengetahuan dan perilaku. Beliau memperoleh pengetahuan dengan keterampilan, karena Beliau telah menolong dunia ini [427]. Beliau membuka jalan ilmu pengetahuan, karena Beliau mengetahui semua alam. Beliau sempurna dalam hal pengetahuan karena tak seorangpun yang dapat menandingiNya, karena Beliau telah menghancurkan semua kekotoran dan karena perbuatan benar yang murni. Beliau sempurna dalam perilaku, karena Beliau telah menjadi mata dunia dan karena ia telah memberkahi mereka yang tidak terberkahi. Beliau tercerahkan sempurna melalui pengetahuan, karena ia telah menjadi penopang dunia ini dan karena Beliau telah menyelamatkan para korban-ketakutan. Beliau menyelamatkan melalui perilaku, karena Beliau telah memperoleh kekuatan supernormal dari Kebenaran tertinggi, Beliau, tanpa guru, telah memperoleh perilaku seimbang yang sangat baik terhadap semua makhluk karena Beliau telah memajukan kemakmuran dunia. Demikianlah, melalui kesempurnaan dalam pengetahuan dan perilaku, Beliau disebut Yang Terberkahi. Demikianlah arti ‘Sempurna dalam pengetahuan dan perilaku’ agar dimengerti.

“Maha Mulia”: Karena Beliau telah mencapai jalan yang baik, Beliau disebut “Maha mulia”. Karena Beliau tidak akan kembali lagi, dan karena Beliau telah mencapai pemadaman, Nibbāna, yang tanpa sisa dari unsur-unsur kehidupan,  Beliau disebut “Maha mulia”. Kemudian, karena AjaranNya tidak dapat dibalikkan, Beliau disebut “Maha mulia”. Dan selanjutnya, karena AjaranNya tidak tidak-benar, Beliau disebut “Maha mulia”. Dan selanjutnya, karena AjaranNya adalah tanpa cacat, Beliau disebut “Maha mulia”. Dan selanjutnya, karena AjaranNya adalah tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit, Beliau disebut “Maha mulia”.

“Yang mengetahui seluruh alam”: Alam ada dua jenis, yaitu, alam makhluk-makhluk hidup dan alam bentukan-bentukan.  Yang Terberkahi mengetahui alam makhluk-makhluk dalam seluruh tindakanNya. Menembus berbagai nafsu makhluk-makhluk, menembus perbedaan kemampuan, menembus kehidupan-kehidupan lampau, melalui pengetahuan mata dewa, melalui pengetahuan mengenai kematian dan kelahiran makhluk-makhluk, melalui kombinasi, melalui pemenuhan, melalui berbagai cara pembedaan, melalui berbagai kondisi ketahanan dan ketidak-tahanan, menembus berbagai kelahiran, menembus berbagai kondisi kelahiran, nenembus berbagai alam, menembus berbagai perbuatan, menembus berbagai kekotoran, menembus berbagai akibat, menembus berbagai jenis kebaikan dan kejahatan dan menembus berbagai jenis kemelekatan dan ketidak-melekatan, Yang Terberkahi mengetahui alam makhluk-makhluk hidup.

Dan juga disebutkan “alam bentukan-bentukan”: Yang Terberkahi mengetahui semua perbuatan dan Beliau mengetahui banyak bentukan. Melalui persepsi konsentrasi, melalui penyebab dan kondisi, menembus moral, tidak bermoral dan bukan-bermoral juga bukan tidak-bermoral, menembus berbagai kelompok, menembus berbagai dunia, menembus berbagai alam, melalui pemahaman sempurna, melalui ketidak-kekalan, dukacita dan tanpa-diri dan melalui kelahiran dan ketidak-lahiran, Yang Terberkahi mengetahui alam bentukan-bentukan. Demikianlah “Yang mengetahui seluruh alam” agar dimengerti.

“Tanpa tandingan”: Karena Beliau tidak terlampaui, di dunia ini, Beliau disebut “Tanpa tandingan”. Dan juga, karena Beliau tidak ada yang menyamai, karena Beliau adalah Yang Termulia, karena Beliau tidak dapat dibandingkan dan karena makhluk-makhluk lain tidak mampu mengungguliNya, Beliau disebut “Tanpa tandingan”.

“Pembimbing manusia untuk dijinakkan”: Ada tiga jenis individu: Seorang yang mendengar Dhamma dan dengan segera mampu membabarkannya; yang lain membabarkan prinsip-prinsip sebab dan kondisi; dan yang lain lagi menjelaskan pengetahuan tentang kehidupan lampau. Tetapi Yang Terberkahi, setelah menguasai Jalan Pembebasan Delapan, telah menjinakkan makhluk-makhluk. Oleh karena itu Beliau disebut “Pembimbing manusia untuk dijinakkan”.

“Guru para dewa dan manusia”: Yang Terberkahi telah menyelamatkan para dewa dan manusia dari hutan kelahiran, ketuaan dan kematian yang menakutkan. Oleh karena itu, Beliau disebut “Guru para dewa dan manusia”. Dan kemudian, Beliau telah mengajarkan jalan Pandangan Terang dan jalan meditasi, jhāna. Oleh karena itu, Beliau disebut “Guru para dewa dan manusia”. Demikianlah, dengan cara-cara ini, seharusnya seseorang merenungkan (kualitas-kualitas) dari Beliau yang datang dan pergi di jalan yang sama.

Lebih jauh lagi, ada ajaran dari guru-guru besar: Dalam empat cara Yang Terberkahi harus diingat. Beliau datang ke dunia ini untuk terakhir kalinya melalui usahaNya sendiri di masa lampau. Beliau memiliki kebajikan agung. Beliau memberikan keuntungan bagi dunia. Selama dua puluh kappa yang tidak terhingga  lamanya sejak cita-citaNya yang pertama kali hingga kelahiran terakhirnya, Beliau telah melihat kemampuan-kemampuan dan landasan-landasan kemampuan dari makhluk-makhluk biasa yang tidak terhingga  banyaknya. Oleh karena itu, Beliau berbelas kasihan kepada dunia sebagai berikut: “Aku telah mencapai kebebasan; sekarang, aku harus membebaskan mereka. Aku telah menjinakkan diriKu; sekarang, aku harus menjinakkan mereka. Aku telah memperoleh pengetahuan; sekarang, aku harus membantu mereka memperoleh pengetahuan. Aku telah mencapai Nibbāna; sekarang, aku harus membantu mereka mencapainya”.

Beliau telah menyelesaikan dan mendapatkan kepuasan dalam memenuhi kedermawanan, moralitas, meninggalkan keduniawian, kesabaran, kejujuran, tekad, cinta-kasih, keseimbangan, usaha dan kebijaksanaan. Beliau mengungkapkan kisah-kisah kehidupan pada masa Beliau masih menjadi seorang Bodhisatta, untuk mendorong makhluk-makhluk lain agar mendapatkan cahaya. Beliau terlahir sebagai kelinci dan mempraktikkan kedermawanan.  Seseorang harus merenungkan moralitas melalui kisah kehidupan Saÿkhapāla.  Mengenai meninggalkan keduniawian, melalui kisah kehidupan Mahā-Govinda ; mengenai kesabaran, melalui kisah kehidupan Khanti ; mengenai kejujuran, melalui kisah kehidupan Mahā Sutasoma ; mengenai tekad, melalui kisah kehidupan si Dungu-Bisu ; mengenai cinta kasih, melalui kisah kehidupan Sakka , mengenai keseimbangan, melalui kisah kehidupan Lomahaÿsa ; mengenai usaha, melalui kisah kehidupan pemimpin pedagang ; (mengenai kebijaksanaan), melalui kisah kehidupan Rusa . Seseorang harus merenungkan kata-kata sang ayah dalam kisah kehidupan Dīghiti-Kosala  dan seseorang juga harus merenungkan kehormatan dari Gajah putih bijaksana bergading enam . Melalui kisah kehidupan Kuda-putih  seseorang harus merenungkan kunjungan Sang Bodhisatta untuk menolong semua makhluk. Seseorang harus merenungkan bahwa Sang Bodhisatta mengorbankan hidupnya dan menyelamatkan hidup makhluk lain dalam kisah kehidupan Rusa . Seseorang harus merenungkan bahwa Sang Bodhisatta, dalam kisah kehidupan Monyet (Mulia) , menyelamatkan seseorang dari penderitaan; dan lebih jauh lagi seseorang harus merenungkan bahwa setelah melihat seseorang yang terjatuh ke jurang, Beliau menyelamatkannya dengan hati penuh belas kasihan dan memberikan akar-akaran, buah-buahan dan ketika orang itu, ingin memakan dagingnya, melukai kepala Sang Bodhisatta, Beliau mengajarkan orang itu kebenaran dan menunjukkan jalan yang benar kepadanya, dalam kisah kehidupan Monyet-Mulia . Demikianlah, seseorang harus berkonsentrasi pada kebajikan dari kisah-kisah kehidapan Yang Terberkahi dalam berbagai cara.

Bagaimanakah seseorang merenungkan kebajikan pengorbanan Yang Terberkahi? Yang Terberkahi memenuhi segalanya dalam kehidupan lampaunya. Ketika Beliau masih menjadi seorang pemuda, Beliau melenyapkan kemelekatan terhadap semua rumah, Beliau melenyapkan kemelekatan terhadap anak, istri, orangtua dan teman-teman. Beliau meninggalkan apa yang sulit ditinggalkan. Beliau menetap sendirian di tempat-tempat sunyi. Beliau bercita-cita untuk mencapai Nibbāna. Beliau menyeberangi Nerañjarā di Magadha. Beliau duduk di bawah Pohon Bodhi, menaklukkan Raja Kematian dan bala tentara kejahatan. Pada jaga pertama malam itu, Beliau mengingat kehidupan-kehidupan lampaunya; pada jaga kedua malam itu, Beliau memperoleh mata dewa; dan pada jaga terakhir malam itu, Beliau memahami penderitaan dan penyebabnya dan melihat kemuliaan.  Melalui praktik Jalan Mulia Delapan, Beliau mampu menghancurkan kekotoran dan mencapai Penerangan Sempurna. Beliau melenyapkan tubuhnya dari dunia dan memasuki tempat yang tertinggi dan tersuci dari padamnya kekotoran. Demikianlah seseorang harus merenungkan pengorbanaan Yang Terberkahi dalam berbagai cara.

Bagaimanakah seseorang merenungkan moralitas yang dimiliki oleh Yang Terberkahi? Yang Terberkahi mencapai pembebasan dan kondisi bathin yang bersamaan dengan pembebasan tersebut, sebagai berikut: Karena memiliki sepuluh kekuatan dari Beliau Yang datang dan pergi  di jalan yang sama, empat belas jenis Pengetahuan-Buddha  dan delapan belas kebajikan-Buddha ; melalui pemenuhan banyak meditasi, jhāna, dan melalui pencapaian pantai seberang dari kebebasan. Demikianlah seharusnya seorang yogi merenungkan.

Apakah sepuluh kekuatan Yang Terberkahi? Beliau mengetahui yang tepat dari yang tidak tepat, menurut kenyataan; Mengetahui sebab dan akibat dari perbuatan baik di masa lampau, masa sekarang dan masa depan, menurut kenyataan; mengetahui berbagai kecenderungan makhluk-makhluk, menurut kenyataan; mengetahui berbagai perilaku, menurut kenyataan; mengetahui sebab dan akibat yang mengarah menuju kelahiran di alam dewa, manusia dan lainnya, menurut kenyataan; mengetahui perbedaan kemampuan makhluk-makhluk, menurut kenyataan; mengetahui yang murni dan yang dinodai dengan kekotoran dalam meditasi (jhāna), pembebasan, konsentrasi dan pencapaian, menurut kenyataan; mengetahui kehidupan lampauNya, menurut kenyataan; mengetahui kematian dan kelahiran makhluk-makhluk, menurut kenyataan; mengetahui padamnya kekotoran, menurut kenyataan.  Yang Terberkahi memiliki sepuluh kekuatan ini.

Apakah empat belas pengetahuan-Buddha? Yaitu, pengetahuan mengenai penderitaan, pengetahuan mengenai penyebab penderitaan, pengetahuan mengenai lenyapnya penderitaan, pengetahuan mengenai sang jalan, pengetahuan mengenai analisa makna, pengetahuan mengenai analisa Ajaran, pengetahuan mengenai analisa asal-mula, pengetahuan mengenai analisa alasan-alasan, pengetahuan mengenai sebab dan akibat yang mengarah menuju kelahiran kembali di alam dewa, manusia dan lainnya, pengetahuan mengenai perbedaan kemampuan yang dimiliki makhluk-makhluk, pengetahuan mengenai keajaiban ganda, pengetahuan mengenai pikiran agung belas kasihan, kemaha-tahuan, dan pengetahuan yang tanpa halangan. Ini adalah empat belas pengetahuan-Buddha. Demikianlah Yang Terberkahi memiliki empat belas jenis pengetahuan ini.

Indra:
Apakah delapan belas kebajikan yang dipenuhi oleh Yang Terberkahi?  Pengetahuan-Buddha tentang masa lampau yang tidak terhalangi; pengetahuan-Buddha tentang masa depan yang tidak terhalangi; pengetahuan-Buddha tentang masa sekarang yang tidak terhalangi; semua perbuatan jasmani dikendalikan oleh pengetahuan dan muncul sesuai dengannya; semua perbuatan bathin dikendalikan oleh pengetahuan dan muncul sesuai dengannya – ini adalah enam kebajikan yang dipenuhi oleh Yang Terberkahi. Kehendak yang tanpa cacat; usaha yang tanpa cacat; perhatian yang tanpa cacat; konsentrasi yang tanpa cacat; kebijaksanaan yang tanpa cacat; kebebasan yang tanpa cacat – ini adalah dua belas kebajikan yang dipenuhi oleh Yang Terberkahi. Tidak adanya keragu-raguan, tidak adanya tipuan, tidak adanya apa yang tidak jelas; tidak adanya ketergesa-gesaan; tidak adanya kondisi yang tidak diketahui; tidak adanya keseimbangan yang dilenyapkan dari perenungan.

“Tidak adanya keragu-raguan” artinya: “PembawaanNya berwibawa; tidak ada cacat dalam perbuatanNya”.

“Tidak adanya tipuan” artinya: “Beliau tidak bermuslihat”.

“Tidak adanya apa yang tidak jelas” artinya: “Bahwa tidak ada yang tidak terdeteksi oleh pengetahuanNya”.

“Tidak adanya ketergesa-gesaan” artinya: “PerilakuNya bebas dari ketergesa-gesaan”.

“Tidak adanya kondisi yang tidak diketahui” artinya: “Beliau menyadari penuh semua proses bathinnya”.

“Tidak adanya keseimbangan yang dilenyapkan dari perenungan” artinya: “Tidak ada kondisi keseimbangan dalam diriNya yang tidak Beliau sadari”.

Delapan belas kebajikan ini telah dipenuhi oleh Yang Terberkahi.

Kemudian, Yang Terberkahi telah mencapai pantai seberang dengan terampil setelah memenuhi semua kebaikan melalui kemahiran yang dimiliki oleh Beliau yang datang dan pergi di jalan yang sama , melalui empat landasan perhatian murni, melalui empat usaha benar, melalui empat landasan kekuatan gaib, melalui lima kemampuan, lima kekuatan, enam jenis pengetahuan supernormal, tujuh faktor Penerangan Sempurna, melalui Jalan Mulia Delapan, melalui delapan posisi kemahiran, melalui delapan jenis pembebasan, melalui sembilan kondisi yang menaik secara perlahan-lahan, melalui sepuluh alam Ariya dan melalui jalan ilmu pengetahuan analisis. Demikianlah seseorang harus mengingat bahwa Yang Terberkahi yang telah memperoleh jasa dari Ajaran Mulia melalui cara-cara ini.

Bagaimanakah seseorang harus mengingat manfaat-manfaat yang dengannya Yang Terberkahi memberkahi dunia ini? Yang Terberkahi telah memenuhi semua kebajikan dan telah mencapai pantai seberang. Tidak ada makhluk apapun juga yang telah memutar Roda Dhamma yang telah diputar oleh Yang Terberkahi berkat belas kasihNya kepada semua makhluk. Tanpa membuat pembagian esoteris dan eksoteris dari Ajaran, Beliau telah membuka lebar-lebar gerbang keabadian.  Beliau telah membantu tidak terhingga banyaknya dewa dan manusia mencapai buah kesucian. Beliau telah membantu tidak terhingga banyaknya makhluk dalam mencapai keunggulan dengan tiga keajaiban, yaitu keajaiban kekuatan gaib, keajaiban membaca pikiran dan keajaiban dalam hal instruksi . Beliau telah membangkitkan rasa percaya diri dalam hati manusia. Beliau telah menaklukkan semua ramalan dan semua pandangan salah. Beliau telah menghapuskan jalan rusak dan membuka jalan baik dan membantu manusia mendapatkan buah pembebasan atau terlahir di alam surga. Beliau telah membantu para pendengar mencapai kedamaian dan berdiam di dalam Ajaran para pendengar.  Beliau telah menetapkan banyak peraturan moralitas, membabarkan Pātimokkha, memantapkan makhluk-makhluk dalam kebajikan mulia, memberikan mereka Dhamma sempurna dari seorang Yang Tercerahkan dan mengisi dunia ini penuh (dengan Kebenaran). Semua makhluk memuja dan menghormatiNya, dan semua dewa dan manusia mendengarkanNya.

Demikianlah Yang Terberkahi, yang berdiam dalam ketenangan, memiliki belas kasih dan memberikan manfaat bagi dunia, telah melakukan apa yang harus dilakukan.

Yogi yang merenungkan Beliau yang datang dan pergi di jalan yang sama, dengan cara demikian, melalui cara-cara ini dan kemuliaan-kemuliaan ini, ia memunculkan keyakinan kuat dalam pikirannya. Karena penuh keyakinan dan karena mudah dalam melakukan perenungan, pikirannya selalu tidak-terganggu. Karena pikirannya tidak terganggu, ia mencapai meditasi-pendahuluan.

T. Bagaimanakah bahwa seseorang yang bermeditasi pada Buddha mencapai meditasi pendahuluan dan bukan meditasi kokoh, jhāna?

J. Dalam pengertian tertinggi, kemuliaan Buddha adalah sebuah subyek kebijaksanaan yang dalam. Dalam pengertian ini, seorang yogi tidak dapat mencapai meditasi kokoh, jhāna, karena sulit dipahami. Dan juga, ia harus merenungkan tidak hanya satu kemuliaan. Ketika ia memikirkan banyak kemuliaan, ia tidak dapat mencapai meditasi kokoh, jhāna. Ini adalah sebuah subyek meditasi dari semua konsentrasi pendahuluan.

T. Pendahuluan dicapai melalui konsentrasi pada satu obyek tunggal. Jika ia memikirkan banyak kemuliaan, pikirannya tidak terkonsentrasi. Bagaimana ia mencapai pendahuluan?

J. Jika ia merenungkan kemuliaan dari Beliau yang datang dan pergi di jalan yang sama dan dari Yang Tercerahkan, maka pikiran si yogi menjadi terkonsentrasi, oleh karena itu ia menjadi tenang.

Juga diajarkan bahwa dari perenungan Buddha, empat meditasi, jhāna tercapai .

Perenungan Sang Buddha selesai

Indra:
Perenungan Dhamma

T. Apakah perenungan Dhamma? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Bagaimanakah prosedurnya?

J. Dhamma artinya pemadaman, Nibbāna, atau praktik untuk mencapai pemadaman, Nibbāna. Penghancuran semua aktivitas, pelepasan semua kekotoran, penghapusan keserakahan, menjadi tanpa noda dan tenang – ini disebut pemadaman, Nibbāna. Bagaimanakah praktik yang mengarah menuju pemadaman, Nibbāna? Yaitu, empat landasan perhatian murni, empat usaha benar, lima kekuatan, tujuh faktor Penerangan Sempurna, Jalan Mulia Delapan – ini disebut praktik yang mengarah menuju Nibbāna. Perenungan Dhamma adalah kebajikan meninggalkan keduniawian dan kebajikan Sang Jalan. ini adalah perenungan dan perenungan benar. Demikianlah perenungan Dhamma dipahami. Ke-diam-an pikiran yang tidak terganggu (dalam perenungan ini) adalah praktiknya. Menyadari kualitas Dhamma adalah karakteristik utamanya. Analisa Dhamma adalah fungsinya. Memahami makna adalah penyebab langsungnya. Manfaatnya sama dengan manfaat pada perenungan Buddha.

“Bagaimanakah prosedurnya?”: seorang yogi pergi ke tempat yang sunyi dan menjaga pikirannya agar tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu, ia merenungkan sebagai berikut: Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Buddha, dapat dilihat, tidak bergantung pada waktu, mengundang, mendukung menuju kesempurnaan, untuk dicapai oleh para bijaksana, masing-masing untuk dirinya sendiri.

“Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Buddha”: bebas dari ekstrim, karena itu disebut “diajarkan dengan baik”. Tidak ada inkonsistensi di dalamnya, karena itu disebut “diajarkan dengan baik”. Tidak ada kontradiksi dan memiliki tiga jenis kebaikan, karena itu disebut “diajarkan dengan baik”. Sama sekali tanpa noda, karena itu disebut “diajarkan dengan baik”. Menuntun makhluk-makhluk menuju pemadaman, karena itu disebut “diajarkan dengan baik”.

“Dapat dilihat”: karena seseorang dapat mencapai Sang Jalan dan Buahnya berturut-turut, maka disebut “dapat dilihat”. Karena seseorang melihat padamnya, Nibbāna, dan Buah dari Sang Jalan (lainnya), maka disebut “Dapat dilihat”.

“Tidak bergantung pada waktu”: Tanpa berlalunya waktu, Buah tercapai. Oleh karena itu disebut “Tidak bergantung pada waktu”.

“Mengundang”: dikatakan: “Datang dan lihatlah nilaiku!” dengan cara yang sama mereka yang memiliki kemampuan mengajar disebut orang yang mengatakan “Datang dan lihatlah!”.

“Mendukung menuju kesempurnaan”: Jika seseorang mengakuinya, ia akan mencapai keabadian. Demikianlah yang disebut “Mendukung menuju kesempurnaan”. Apa yang mengarah menuju Buah Kesucian disebut “Mendukung menuju kesempurnaan”.

“Untuk dicapai oleh para bijaksana, masing-masing untuk dirinya sendiri”: Jika seseorang mengakuinya dan tidak menerima ajaran lain, ia memunculkan pengetahuan pelenyapan, pengetahuan ketidak-lahiran dan pengetahuan kebebasan. Oleh karena itu disebut “Untuk dicapai oleh para bijaksana, masing-masing untuk dirinya sendiri”.

Lebih jauh lagi, seorang yogi harus merenungkan Dhamma dengan cara lain sebagai berikut: Ini adalah mata; ini adalah pengetahuan; ini adalah kedamaian; ini adalah jalan menuju keabadian; ini adalah meninggalkan keduniawian; kelayakan untuk memenangkan pelenyapan; ini adalah jalan menuju surga; ini adalah ketidak-munduran; ini adalah yang terbaik; ini adalah tidak-melakukan; kesunyian; ini adalah kesempurnaan; ini bukan ramalan. Ini adalah obyek terbaik bagi bathin para bijaksana. Ini adalah untuk menyeberang ke pantai seberang; ini adalah tempat berlindung. Yogi tersebut dengan cara ini dan melalui kemuliaan ini merenungkan Dhamma, dan bathinnya akan dipenuhi oleh keyakinan kuat. Berkat keyakinan ini, pikirannya menjadi tidak terganggu. Karena kondisi pikiran yang tidak terganggu, ia menghancurkan rintangan-rintangan, membangkitkan faktor-faktor meditasi (jhāna). Selanjutnya telah dijelaskan sebelumnya.

Perenungan Dhamma selesai

Perenungan Sangha (Komunitas para bhikkhu)

T. Apakah perenungan Sangha? (Bagaimanakah praktiknya?) Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Bagaimanakah prosedurnya?

J. Perkumpulan orang-orang suci adalah Sangha. Ini disebut Sangha. Seorang yogi merenungkan moralitas yang dilaksanakan oleh Sangha. Ini adalah perenungan dan perenungan benar. Demikianlah perenungan Sangha dipahami. Ke-diam-an pikiran yang tidak terganggu dalam perenungan ini adalah praktiknya. Menyadari moralitas dari Sangha adalah karakteritik utamanya; penghormatan adalah fungsinya; penghargaan atas moralitas dari Sangha adalah penyebab langsungnya. Manfaat-manfaatnya sama dengan manfaat-manfaat pada perenungan Buddha.

“Bagaimanakah prosedurnya?” Seorang yogi baru pergi ke tempat sunyi dan menjaga pikirannya agar tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu, ia merenungkan sebagai berikut: “Sangha dari Sang Buddha berkelakuan baik, Sangha dari Sang Buddha berkelakuan jujur, Sangha dari Sang Buddha berkelakuan berbudi. Sangha dari Sang Buddha berkelakuan patuh. Sangha dari Sang Buddha, yaitu, empat pasang manusia dan delapan jenis individu, layak menerima persembahan, layak menerima keramah-tamahan, layak menerima benda-benda pemberian, layak menerima penghormatan, ladang jasa yang tiada bandingnya di dunia ini.

“Sangha dari Sang Buddha berkelakuan baik”: Sangha dari Sang Buddha “berkelakuan baik”, karena mengikuti kata baik. “Berkelakuan baik” dan “Berkelakuan jujur”  karena memberikan keuntungan bagi diri sendiri dan orang lain. “Berkelakuan baik” dan “Berkelakuan jujur” karena tidak memiliki musuh. “Berkelakuan baik” dan “Berkelakuan jujur” karena menghindari dua ekstrim dan mengambil jalan tengah. “Berkelakuan baik” dan “Berkelakuan jujur” karena bebas dari kemunafikan. “Berkelakuan baik” dan “berkelakuan jujur” karena bebas dari kejahatan dan ketidak-lurusan dan bebas dari perbuatan tidak suci secara jasmani dan ucapan.

“Berkelakuan berbudi”: disebut “berkelakukan berbudi” karena mengikuti Jalan Mulia Delapan. Dan kemudian, “berbudi” adalah sebutan lain dari pemadaman, Nibbāna. Disebut “berbudi”, “berkelakuan baik”, karena mengikuti Jalan Mulia Delapan dan mencapai pemadaman, Nibbāna. Disebut “berbudi”, “berkelakuan baik”, karena mengikuti Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Buddha.

“Berkelakuan patuh”: disebut “berkelakuan patuh” karena sempurna dalam praktik persatuan dalam Sangha. Disebut “berkelakuan patuh”, karena, melihat buah mulia dari moralitas dan meningkatnya moralitas yang mengikuti praktek persatuan, mereka melaksanakan hal ini (persatuan).

“Empat pasang manusia dan delapan jenis individu”: Jalan dan Buah Memasuki-Arus dianggap sebagai pencapaian sepasang manusia. Jalan dan Buah Yang-Kembali-Sekali dianggap sebagai pencapaian sepasang manusia. Jalan dan Buah Yang-Tidak-Kembali dianggap sebagai pencapaian sepasang manusia. Jalan dan Buah Yang-Sempurna dianggap sebagai pencapaian sepasang manusia. Ini disebut “empat pasang manusia”.

“Delapan jenis individu”: adalah mereka yang mencapai empat Jalan dan empat Buah. Ini disebut delapan jenis individu. Karena Sangha berdiam dalam Jalan dan Buah ini, maka dikatakan terdiri dari empat pasang manusia. Mereka yang berdiam dalam empat Jalan dan empat Buah disebut delapan jenis individu.

“Pendengar”: ini (Komunitas para pendengar (Sangha)) dicapai setelah mendengarkan. Karena itu disebut (Komunitas) para pendengar.

“Komunitas”: Perkumpulan orang-orang suci. Layak menerima keramah-tamahan, layak menerima persembahan, layak menerima pemberian, layak menerima penghormatan dan merupakan ladang jasa yang tiada bandingnya di dunia.

“Layak menerima keramah-tamahan”: Layak menerima keramah-tamahan artinya layak menerima undangan.

“Layak menerima persembahan”: Sungguh besar jasa yang dapat diperoleh melalui persembahan yang dilakukan untuk mereka. Dan juga, mereka layak menerima persembahan.

“Layak menerima pemberian”: Seseorang memperoleh jasa besar dengan memberikan berbagai benda kepada mereka.

“Layak menerima penghormatan”: layak disembah, oleh karena itu disebut layak menerima penghormatan.

“Tiada bandingnya”: memiliki banyak moralitas. Oleh karena itu disebut tidak ada bandingnya.

“Ladang jasa di dunia”: Ini adalah tempat di mana semua makhluk mendapatkan jasa. Oleh karena itu disebut ladang jasa di dunia.

Dan kemudian, yogi tersebut harus merenungkan melalui cara lainnya sebagai berikut: Sangha ini adalah perkumpulan yang termulia dan terbaik. Mereka disebut terbaik. Mereka memiliki moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, kebebasan dan pengetahuan kebebasan. Yogi tersebut merenungkan berbagai kemuliaan ini dalam berbagai cara. Melalui perenungan terhadap berbagai kemuliaan ini, ia menjadi berkeyakinan. Dengan perenungan dalam keyakinan ini, pikirannya menjadi tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu, ia mampu menghancurkan rintangan-rintangan, membangkitkan faktor-faktor meditasi (jhāna) dan mencapai pendahuluan. Selanjutnya telah dijelaskan sebelumnya.

Perenungan Sangha selesai

Perenungan Moralitas

T. Apakah perenungan moralitas? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Bagaimanakah prosedurnya?

J. Melalui moralitas seseorang mengingat moral yang murni. Ingatan ini adalah perenungan dan perenungan benar. Demikianlah perenungan moralitas itu dipahami. Ke-diam-an pikiran dalam perenungan moralitas adalah praktiknya. Menyadari kebajikan moralitas adalah karakteristik utamanya. Melihat menakutkannya kesengsaraan adalah fungsinya. Penghargaan terhadap kebahagiaan (dari moralitas) yang tidak tertandingi adalah penyebab langsungnya. Ada dua belas manfaat dari perenungan moralitas, yaitu: Seseorang menghormati Sang Guru, menjunjung tinggi Dhamma, dan Sangha, menghormati peraturan-peraturan moralitas, menjadi waspada, melihat bahaya dan merasa takut bahkan terhadap kejahatan yang terkecil sekalipun, menjaga diri sendiri, melindungi orang lain, tidak takut terhadap dunia ini, tidak takut terhadap dunia lain dan menikmati banyak manfaat yang dihasilkan dari pelaksanaan seluruh peraturan. Semua ini adalah manfaat dari perenungan moralitas.

“Bagaimanakah prosedurnya?”: Seorang yogi baru pergi ke tempat yang sunyi dan menjaga pikirannya agar tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu, ia merenungkan sebagai berikut: “Moralitasku tidak rusak, tidak cacat, tidak bernoda, tidak kotor, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak tercemar, mendukung konsentrasi”.

Jika tidak rusak, maka tidak cacat. Jika tidak cacat, maka tidak bernoda. Yang lainnya juga harus dipahami dengan cara yang sama.

Kemudian, karena jika moralitas murni, maka akan menjadi landasan bagi semua kondisi baik, karena itu disebut “tidak rusak dan tidak cacat”: Karena merupakan kehormatan kasta, maka disebut tidak bernoda dan tidak kotor. Karena merpakan kegembiraan bagi Yang Sempurna, dan menahan kesengsaraan, maka disebut “dipuji oleh para bijaksana”. Karena tidak tersentuh oleh pandangan-pandangan, maka disebut “tidak tercemar”. Karena tidak menyebabkan kemacetan, maka disebut “mendukung konsentrasi”.

Lebih jauh lagi, si yogi harus mempraktikkan perenungan moralitas dengan cara lain sebagai berikut: “Moralitas adalah kebahagiaan yang diperoleh dari keberpisahan dengan kesengsaraan. Kasta ini layak mendapat penghormatan. Harta berharga moralitas adalah aman. Manfaatnya telah dibabarkan.” Demikianlah moralitas dipahami. Yogi tersebut mempraktikkan perenungan moralitas dengan merenungkan kemuliaan-kemuliaannya melalui cara-cara tersebut. Berkat ingatan dan keyakinannya, pikirannya menjadi tidak terganggu. Dengan pikiran yang tidak terganggu, ia menghancurkan rintangan-rintangan, membangkitkan faktor-faktor meditasi (jhāna) dan mencapai meditasi-pendahuluan. Selanjutnya telah dijelaskan sebelumnya.

Perenungan Moralitas selesai

Perenungan Kedermawanan

T. Apakah perenungan kedermawanan? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Bagaimanakah prosedurnya?

J. Kedermawanan artinya seseorang memberikan hartanya kepada orang lain dan berharap agar bermanfaat bagi mereka, dan bertujuan untuk memberikan kebahagiaan yang bermanfaat bagi orang lain. Demikianlah kedermawanan dipahami. Seseorang berdiam dalam keseimbangan dalam perenungan kebajikan dari kedermawanan. Ini adalah perenungan dan perenungan benar. Ini disebut perenungan kedermawanan. Ke-diam-an pikiran yang tidak terganggu dalam perenungan ini adalah praktiknya. Menyadari kebajikan dari kedermawanan adalah karakteristik utamanya. Tidak kikir adalah fungsinya. Tidak serakah adalah penyebab langsungnya.

Seseorang yang mempraktikkan perenungan kedermawanan memperoleh sepuluh manfaat sebagai berikut: Ia memperoleh kebahagiaan melalui kedermawanan; ia menjadi tidak serakah melalui kedermawanan; ia tidak kikir; memikirkan orang lain; disayangi oleh orang lain, tidak takut terhadap orang lain, gembira, memperoleh pikiran yang berbelas kasih, memperoleh kemakmuran dan mendekati surga.

“Bagaimanakah prosedurnya?”: Seorang yogi baru pergi ke tempat sunyi dan menjaga agar pikirannya tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu ia mempraktikkan perenungan kedermawanan sebagai berikut: “Melalui melepaskan harta benda aku telah bermanfaat bagi orang lain; dari sini aku mendapatkan banyak jasa. Secara umum, karena kekotoran keserakahan, tertarik kepada harta benda. Aku hidup dengan pikiran tidak serakah dan tidak kotor. Aku selalu memberi dan menikmati memberikan kepada orang lain. Aku selalu memberi dan membagikan.”

Dengan cara-cara ini yogi tersebut mempraktikkan perenungan kedermawanan. Melalui perenungan kedermawanan ini pikirannya menjadi berkeyakinan kuat. Karena ingatan dan keyakinan ini, pikirannya senantiasa tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu, ia menghancurkan rintangan-rintangan, membangkitkan faktor-faktor meditasi (jhāna) dan mencapai konsentrasi-pendahuluan. Selanjutnya telah dijelaskan sebelumnya.

Perenungan Kedermawanan selesai

Perenungan Dewata

T. Apakah perenungan dewata? Bagaimanakah praktiknya? Apakah karakteristik utama, fungsi dan penyebab langsungnya? Bagaimanakah prosedurnya?

J. Dengan mempertimbangkan manfaat dari terlahir di alam surga, seseorang merenungkan jasa-jasanya. Ingatan ini adalah perenungan dan ingatan benar. Ini disebut perenungan dewata. Ke-diam-an pikiran yang tidak terganggu adalah praktiknya. Menyadari jasa-jasa diri sendiri dan jasa-jasa para dewa adalah karakteristik utamanya. Memuji jasa adalah fungsinya. Keyakinan dalam buah jasa adalah penyebab langsungnya.

Seseorang yang mempraktikkan perenungan dewata memperoleh delapan manfaat: ia meningkatkan lima kualitas, yaitu, keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan dan kebijaksanaan; ia dapat memperoleh apa yang diinginkan oleh makhluk-makhluk surgawi dan apa yang mereka gemari; ia berbahagia dalam menikmati buah jasa; ia menghargai tubuhnya; ia dihormati oleh makhluk-makhluk surgawi. Melalui ini, ia juga mampu mempraktikkan moralitas dan perenungan kedermawanan. Ia memperoleh kemakmuran dan mendekati surga.

“Bagaimanakah prosedurnya?” Seorang yogi baru pergi ke tempat yang sunyi dan menjaga pikirannya agar tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu ia mempraktikkan perenungan dewata sebagai berikut: “Ada empat Raja Dewa. Ada dewa-dewa di surga Tāvatiÿsa, Yama, Tusita, Nimmānarati, Paranimmitavasavatti. Ada para dewata kelompok Brahma dan dewata kelompok lainnya. Para dewa tersebut, karena memiliki keyakinan, saat meninggal dunia di sana, terlahir kembali di sana. Aku juga memiliki keyakinan demikian. Memiliki moralitas, pembelajaran, kedermawanan dan kebijaksanaan demikian, para dewa tersebut terlahir di sana. Aku juga memiliki kebijaksanaan demikian”.  Demikianlah ia merenungkan keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan dan kebijaksanaan dirinya dan para dewa.

Yogi tersebut dengan car-cara ini dan melalui kemuliaan ini mempraktikkan perenungan dewata, dan dengan demikian memiliki keyakinan. Berkat keyakinan dan perenungan ini, pikirannya menjadi tidak terganggu. Dengan pikiran tidak terganggu, ia menghancurkan rintangan-rintangan, membangkitkan faktir-faktor meditasi (jhāna) dan mencapai meditasi-pendahuluan.

T. Mengapa seseorang merenungkan jasa para dewa dan bukan manusia?

J. Jasa para dewa adalah yang termulia. Mereka terlahir di alam yang mulia dan memiliki bathin yang mulia. Setelah memasuki alam yang mulia, mereka memiliki kebaikan. Oleh karena itu seseorang harus merenungkan jasa-jasa para dewa dan bukan manusia. Selanjutnya telah dijelaskan sebelumnya.

Perenungan Dewata selesai
 

Navigation

[0] Message Index

[#] Next page

[*] Previous page

Go to full version