//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Apakah mungkin menjalankan bisnis dengan tanpa musavada (berbohong / tidak jujur)?  (Read 61808 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Eh iya koq jadi ga ada ya?? Padahal waktu gw diadd, gw cek dr bb sih tulisnya "Santacitto Novice added you and Daniel Nevada into Group BS" gitu.. Trus Sam masih ada sempat titip pesan lagi agar kita mengeluarkan jurus2 belut kita. Coba loe tanya Sam deh..

 [at] Ko Indra: Hmm.. Coba tanya Sam juga :D

Gwa sih ada di grup BS itu. ;D Tapi dimana keributannya?? ???

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
siapa yg invite gue ya?
yang paling gw ingat .... papasaka gw yg invite
mungkin .... dikau juga bersama jerry  ;D
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
yang paling gw ingat .... papasaka gw yg invite
mungkin .... dikau juga bersama jerry  ;D
Jadi loe yg invite opa dan gw? Yg gw jelas inget sih gw dapet notifier di message BB kalo Santacitto yg mengadd gw ke dalam. Yg invite gw ga tau.. Ga sopan ya si hologram ini.. :P
appamadena sampadetha

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.376
  • Reputasi: 42
Apa hubungannya antara "importir yang ingin menjadi agen tunggal" dengan "eskportir yang tidak punya langganan lain dan barang tidak laris"?


Tentu saja ada "ketakutan" tersendiri bagi supplier. ;D Sebab hanya orang bodoh yang berpikir bahwa eksportir B tidak mungkin memiliki supplier lain. Tentu saja barangnya bagus, Sis. Kalau tidak bagus mana mungkin ada bisnis ekspor-impor jangka panjang.

Dalam bisnis, tidak ada yang namanya pembeli saling berebut mencari penjual. Yang benar adalah pembeli saling bersaing berebut penjual, dan penjual juga saling berebut mencari pembeli. Kamu pasti tahu sendiri tentang hal ini dalam bisnis kamu deh.

Dalam bisnis ada kalanya dimana pembeli berebut mencari penjual yaitu disaat stock barang terbatas dan sudah pasti disaat itu harga barang naik.
Dalam situasi seperti ini si penjual sudah jelas memegang kartu AS, dia bisa memilih harga penawaran tertinggi-lah yang akan mendapatkan barang.

Dan ada kalanya dimana penjual yang harus berebut mencari pembeli disaat stock barang melimpah dan sudah pasti disaat seperti itu harga barang turun. Dalam situasi seperti ini si pembelilah yang memegang kartu As, dia bisa memilih yang menawarkan harga barang termurah lah yang akan dibelinya.

Sekarang anda berbicara dalam kondisi pasar yang seperti apa sehingga kebohongan harus dilakukan supaya bisa berbisnis? Dan yang harus berbohong itu marketing atau si pemilik bisnis? Kalau marketing yang karena keterbatasan kemampuannya dalam bernegosiasi sehingga memilih berbohong maka tidak bisa dikatakan bahwa bisnis ekspor kopi baru lancar dengan berbohong.

Dan dalam kasus yang ingin menjadi agen tunggal, jangankan dalam ekspor kopi bro. Sedangkan untuk dalam negeri saja itu memakai kontrak. Ada kesepakatan tertulis berapa yang harus diambil/dipenuhi mereka dan harganya. Ada aturan main-nya.

Tapi saya tidak tahu kalau usaha yang dibuat dengan sistem kacangan  ;D Sehingga jika ada yang ingin jadi agen tunggal, yah di ok-kan saja. Nanti datang lagi yang ingin jadi agen tunggal di daerah yang sama maka di ok- kan lagi. Cuma mulut doang kok yang ngomong, tinggal ok saja kok susah kali. Jika seperti itu maka orangnya yang rusak bukan bisnis yang tidak bisa jalan.

Ada perbedaan tidak terbuka dengan berbohong,
Misalnya...

Importir dari Arab = IA
Sales Perusahaan Ekspor = SPE

IA = "Halo mister. Ane dari Arab jauh-jauh datang ke Jakarta buat bijinis (baca: bisnis). Sumfeh ane zuzur."
SPE = "Halo sir. Silakan lihat-lihat dulu galeri produk perusahaan kami di meja display."
IA = "Wah bagus bagus yah. Perusahaan ente fasti maju fesat."
SPE = "Thank you sir. Sir juga pasti perusahaannya hebat di Arab sono."
IA = "Ah tidak zuga. Perusahaan ane biasa-biasa saza. Gimana omzet ferusahaan ente kwartal ini?"
SPE = *bingung jawabnya karena omzet menurun drastis* cukup memuaskan atau lumayan
IA = "Ane dengar katanya eksportir di Jakarta banyak jual ke Medel Es (baca: Middle East) yah. Kalau gitu kamu funya ferusahaan juga harusnya sudah berpengalaman!"
SPE = "Iya, Sir. Makasih."
IA = "Eh, omzet ferusahaan ente bagaimana? Bagus gak???"
SPE = *waduh --> lumayan sir masih bisa buat beli beras
IA = *mengerutkan dahi
SPE = *musavada mode on* "Iyah, bagus kok sir. Kami salah satu perusahaan ekspor terbaik di Indonesia."
IA = "Ahhh, bagus. Ane tidak menyesal jauh-jauh datang dari Arab. Ayok kita bahas harga kopi merek abrakadabra ini..."
SPE = "OK, sir..."

Banyak cara menjawab tanpa harus berbohong. Dan menurut pengalaman saya, yang menjadi penarik utama dalam suatu jual beli itu kualitas barang dan harga. Bukan kebohongannya.
« Last Edit: 27 June 2011, 04:51:55 AM by sriyeklina »
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Saya sharing cerita tentang teman saya juga deh...

Saya punya seorang teman di Shanghai bernama David yang merupakan produsen sekaligus eksportir di China. Dia punya 1 customer dari Negara Turki (sebut saja Mr. Okzul) dan sudah ada perjanjian kontrak kerjasama sebagai supplier dan agen tunggal di negara masing-masing. Itu artinya, si Mr. Okzul berjanji hanya beli produk China melalui David; dan David juga berjanji hanya menjual ke Turki melalui agen tunggalnya (Mr. Okzul).

Mr. Okzul memang sering membeli produk dari David, namun tidak menentu. Kadang 2 bulan sekali, kadang 3 bulan sekali --- dan pesanannya pun tidak banyak. Suatu hari, ada customer dari Turki (sebut saja Mr. Ovat) bernegosiasi dengan David. Mr. Ovat adalah pebisnis yang jauh lebih besar daripada Mr. Okzul. Setelah melewati proses negosiasi, akhirnya mereka berdua setuju untuk melakukan bisnis.

Sama seperti Mr. Okzul, Mr. Ovat juga meminta kontrak kerjasama untuk menjadi agen tunggal di Turki. Mr. Ovat selalu pesan 125 box lebih dalam kurun waktu 2 minggu sekali dan rutin tiap bulan. Itu artinya, David selalu mengekspor produknya ke Mr. Ovat 2 kali dalam sebulan dalam volume besar dan setiap bulannya selalu rutin.

Jika idealisme Buddhis terlalu tinggi, kesempatan emas seperti ini pasti dilewatkan dari awal muka mereka berkenalan. :D Menurut saya, jika ada orang yang berdiri di posisi David dan menolak prospek bisnis dari Mr. Ovat, itu bukanlah integritas yang sempurna di mata saya; namun semata-mata hanya dungu.

ini adalah kasus ketidak-cakapan dalam berbisnis, seharusnya David menerapkan sistem Quota kepada Mr. Okzul, dan ini berlaku untuk semua partner dagang dgn gelar agen tunggal, jika si agen tunggal tidak mampu memenuhi quota maka statusnya sbg agen tunggal dapat dicabut oleh principal. ya saya setuju bahwa David adalah dungu, tapi dalam arti bahwa David ini tidak memiliki kecakapan dalam bisnis, bukan karena kejujurannya.

Ketidak-jujuran tidak diperlukan jika semuanya sudah tercantum dalam perjanjian. itulah gunanya perjanjian yaitu untuk mengantisipasi ketidak-jujuran
« Last Edit: 27 June 2011, 08:09:24 AM by Indra »

Offline Sunyata

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.082
  • Reputasi: 52
Saya sharing cerita tentang teman saya juga deh...

Spoiler: ShowHide
Saya punya seorang teman di Shanghai bernama David yang merupakan produsen sekaligus eksportir di China. Dia punya 1 customer dari Negara Turki (sebut saja Mr. Okzul) dan sudah ada perjanjian kontrak kerjasama sebagai supplier dan agen tunggal di negara masing-masing. Itu artinya, si Mr. Okzul berjanji hanya beli produk China melalui David; dan David juga berjanji hanya menjual ke Turki melalui agen tunggalnya (Mr. Okzul).

Mr. Okzul memang sering membeli produk dari David, namun tidak menentu. Kadang 2 bulan sekali, kadang 3 bulan sekali --- dan pesanannya pun tidak banyak. Suatu hari, ada customer dari Turki (sebut saja Mr. Ovat) bernegosiasi dengan David. Mr. Ovat adalah pebisnis yang jauh lebih besar daripada Mr. Okzul. Setelah melewati proses negosiasi, akhirnya mereka berdua setuju untuk melakukan bisnis.

Sama seperti Mr. Okzul, Mr. Ovat juga meminta kontrak kerjasama untuk menjadi agen tunggal di Turki. Mr. Ovat selalu pesan 125 box lebih dalam kurun waktu 2 minggu sekali dan rutin tiap bulan. Itu artinya, David selalu mengekspor produknya ke Mr. Ovat 2 kali dalam sebulan dalam volume besar dan setiap bulannya selalu rutin.

Jika idealisme Buddhis terlalu tinggi, kesempatan emas seperti ini pasti dilewatkan dari awal muka mereka berkenalan. :D Menurut saya, jika ada orang yang berdiri di posisi David dan menolak prospek bisnis dari Mr. Ovat, itu bukanlah integritas yang sempurna di mata saya; namun semata-mata hanya dungu.

ini om, ceritanya belum selesai. Biar saya yang melanjutkannya.

Lanjut;
Setelah David menerima kesempatan emas tersebut. Mr. Okzul lalu mengetahuinya. Mr. Okzul lalu merasa dikhianati oleh David. Berita ini lalu disampaikan dari mulut ke mulut ke semua teman2 dan rekan2 Mr. Okzul. Akibatnya, orang2 dari dunia bisnis banyak yang tidak lagi mempercayai David.

Happy ending~

Offline Harpuia

  • Teman
  • **
  • Posts: 97
  • Reputasi: 9
  • Harpy
sedikit pesan sponsor :
untuk menutupi suatu kebohongan diperlukan kebohongan yang lebih besar dari sebelumnya..
Mr. Okzul tentu akan heran koq ada produk yang serupa beredar di Turki.. dan akan menanyakan ke Mr. David.
Mr. David tidak ingin berterus terang.. terpaksa harus mengulang kebohongan lagi..

Dan cerita seperti seperti statement Sdr. Sunyata, itu bisa saja terjadi..
makanya yang perlu dipikirkan adalah.. apa yang dicari di bisnis ? uang kah ?

Dan soal case ciak lang, kalau dilakukan diam2, sama saja menikam Mr. Okzul dari belakang..
Produk yang sama beredar di Turki, karena Mr Ovat beli lebih banyak bisa saja mendapatkan disc, akibatnya HPP lebih murah.
HPP lebih murah, bisa menekan harga jual sehingga produk Mr. Okzul tidak laku di Turki karena ditikam oleh produk serupa Mr. Ovat
dan ini akibat dari Mr. David berkhianat..

Saya tidak bilang bisnis itu tidak bunuh2an.. tapi bersikap gentle itu penting.. Dan saya pribadi lebih pro ke Sdr. Indra, di mana kita membuat term n condition yang menguntungkan kedua belah pihak. Terlalu bodoh membuat aturan main menjadi agen tunggal jika importnya sedikit dan jarang..
Lebih baik berterus terang, kita berbisnis saling menguntungkan, saya janji akan jadikan kamu agen tunggal asal kamu tiap bulan ambil barang dari saya sebanyak XXX container..
« Last Edit: 27 June 2011, 09:50:38 AM by Harpuia »

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.118
  • Reputasi: 128
jadi, ada bisnis barukah yg bisa di garap? =P~
Samma Vayama

Offline Harpuia

  • Teman
  • **
  • Posts: 97
  • Reputasi: 9
  • Harpy
Sepertinya tidak juga. Jika saya berani katakan: Sebenarnya tidak ada bisnis yang dapat berjalan tanpa musavada. ;D
Anda seorang motivator, yang katanya membuka workshop, pelatihan dll .. tentu pernah baca buku Rich Dad Poor Dad..
Ayah yang kaya selalu melarang menggunakan : "saya tidak bisa", tapi selalu mendorong agar bertanya "bagaimana agar saya bisa.."
Kenapa Sdr. Upasaka tidak berusaha seperti Sdr. Indra yang berusaha untuk tidak berbohong.. ?

Ketika anda berkata "sebenarnya tidak ada bisnis yang dapat berjalan tanpa musavada", anda sudah menutup otak anda untuk berpikir..
Sunggu sangat ironis ini kalau terjadi pada seorang motivator..

Offline Sunyata

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.082
  • Reputasi: 52
Mari kita lanjut ceritanya ya om Harpuia. Berhubung cerita tersebut bukanlah happy ending yg diharap oleg setiap umat manusia ;D

Lanjut;

Setelah beberapa saat, berita ini pun terdengar juga oleh Mr. Ovat. Dia berfikir bahwa suatu saat dia juga akan dikhianati oleh David. Lalu mereka pun mengadakan pertemuan untuk memutuskan perjanjian yg telah dilakukan. David menolak, dia tidak bisa menerima kenyataannya. Karena kasihan, Mr. Ovat lalu memberikan kesempatan.

Mulai saat itu, Mr. Ovat hanya memesan 2 atau pun 3 bulan sekali. Seperti yang dilakukan oleh Mr.Okzul. Karenanya, keuangan David pun semakin terpuruk.

Setelah beberapa waktu berselang, Mr. Okzul pun meninggal karena usianya yang sudah tua. David pun tidak percaya mendengar berita ini. Kenyataan tidak bisa dihindarkan. Sudah tidak ada yang mempercayai David.

Setelah 2 tahun berselang, Semua uang tabungannya pun sudah hampir habis. Masih ada keluarga yang harus diberi makan, anak yang harus disekolahkan, dll. David yang sedang dalam keadaan terpuruk, menyadari kesalahan yg telah dilakukannya. Dia pun bertekad dan berusaha bangkit dari keterpurukannya. Tapi uangnya tidak cukup untuk modal membangun usaha. Tidak ada yang percaya untuk meminjamkan uang padanya. Walaupun begitu, David tidak patah arang. Dia membukan usaha kecil2an di depan rumahnya. Dia tidak pernah berbohong lagi dalam menjalankan usahanya yang sederhana itu.

Reputasinya pun membaik. Orang2 di sekitar lingkungannya kembali percaya padanya. Dia sadar bahwa kebohongan adalah sesuatu yang salah untuk dijalankan dalam dunia bisnis.

Suatu hari, ada teman yang mengenalkan Buddhisme padanya. David tertarik dan akhirnya menjadi seorang Buddhist. Dia tekun dalam mempraktekkan dhamma dan pancasila dalam kehidupannya sehari2.

Karena kejujurannya lah dia dapat bangun dari keterpurukan. Usahanya berkembang maju, tapi dia tidak sombong maupun melupakan tekadnya untuk tidak berbohong. David akhirnya hidup berbahagia beserta keluarganya yang sederhana, tetap tekun dalam dhamma dan Pancasila.

Inilah Happy endingnya ~ :))

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
bisnis itu banyak, yg penting kita smart dan sehat aja mainnya, tidak perlu berbohong yg penting pandai mengolah kata itu point pentingnya.
i'm just a mammal with troubled soul



Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Berbisnis agar sesuai semangat Buddhisme tentu harus dipilih pilih, ada yang sesuai dan ada yang malah bertolak belakang.

jadi tidak semua bisnis bisa diaplikasikan semangat Buddhisnya, contoh bisnis penjagalan binatang ternak, bisnis prostitusi, bisnis narkoba dan lain lain.
i'm just a mammal with troubled soul



Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Sepertinya tidak juga. Jika saya berani katakan: Sebenarnya tidak ada bisnis yang dapat berjalan tanpa musavada. ;D

wah, tidak semua loh ;D

mengenai Musavada atau tidak itu tidak dipengaruhi oleh jenis bisnisnya saja, tetapi bagaimana menjalankannya ;D
i'm just a mammal with troubled soul



Offline Sunyata

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.082
  • Reputasi: 52
Setuju deh sama om hatRed. =))

Offline andry

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.118
  • Reputasi: 128
bisnis itu banyak, yg penting kita smart dan sehat aja mainnya, tidak perlu berbohong yg penting pandai mengolah kata itu point pentingnya.
bisnis kepret-kepret
bisnis baca mantra
bisnis sakralin patung
bisnis sebrangkan arwah...
yaaa.. bnyk
Samma Vayama