//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - Indra

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 9
1
Cinta Kasih (Metta Sutta)

diterjemahkan dari buku "The Suttanipāta" terjemahan Bhikkhu Bodhi

Bagaimanakah asal-usulnya? Dikatakan bahwa para bhikkhu, diganggu oleh para dewata di lereng Himalaya, mendatangi Sang Bhagavā di Sāvatthī, dan Sang Bhagavā membabarkan khotbah ini kepada mereka sebagai perlindungan dan sebagai subjek meditasi. Itu adalah kisah singkat.

Berikut ini adalah kisahnya secara terperinci.
[232]  Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī menjelang masa pengasingan musim hujan. Pada saat itu beberapa bhikkhu dari berbagai propinsi yang telah mempelajari subjek meditasi dari Sang Bhagavā menghadap Beliau dengan niat untuk memasuki masa pengasingan musim hujan di tempat lain. Sang Bhagavā menjelaskan subjek-subjek meditasi yang cocok untuk 84.000 jenis watak sebagai berikut: Kepada mereka yang memiliki watak penuh nafsu, Beliau mengajarkan sebelas subjek meditasi pada sifat ketidakmenarikan jasmani baik pada yang hidup maupun yang mati.  Pada mereka yang memiliki watak penuh kebencian, Beliau mengajarkan empat subjek meditasi, cinta-kasih dan seterusnya.  Kepada mereka yang memiliki watak terdelusi, Beliau mengajarkan subjek-subjek meditasi seperti perhatian pada kematian. Kepada mereka yang memiliki watak berhamburan, Beliau mengajarkan subjek-subjek meditasi seperti perhatian pada pernapasan dan kasiṇa tanah. Kepada mereka yang memiliki watak keyakinan, Beliau mengajarkan subjek-subjek meditasi seperti pengingatan Sang Buddha. Dan kepada mereka yang memiliki watak cerdas, Beliau mengajarkan subjek-subjek meditasi seperti pembatasan empat unsur.

Kemudian lima ratus bhikkhu yang telah mempelajari subjek meditasi dari Sang Bhagavā pergi mencari tempat tinggal yang layak dan sebuah desa sebagai sumber dana makanan. Mereka melakukan perjalanan secara bertahap hingga mereka melihat, di daerah perbatasan, sebuah gunung di jajaran pegunungan Himalaya yang terbuat dari batu datar berwarna kristal biru kehijauan. Gunung itu sejuk, teduh, dan berhiaskan hutan-hutan biru kehijauan. Tanahnya bertebaran pasir-pasir bagaikan lembaran perak bertatahkan jaring-jaring mutiara, dan dikelilingi oleh kolam-kolam dengan air yang murni, manis dan sejuk. Para bhikkhu bermalam satu malam di sana, dan pada pagi harinya, setelah menjawab kebutuhan tubuh mereka, mereka memasuki desa untuk menerima dana makanan. Desa itu terdiri dari seribu keluarga yang hidup di rumah-rumah yang saling berdekatan, dan orang-orang [233] di sana berkeyakinan pada Sang Buddha. Karena bhikkhu adalah pemandangan yang jarang terlihat di wilayah perbatasan, segera setelah mereka melihat para bhikkhu, orang-orang itu merasa gembira dan bersukacita. Mereka memberi makan para bhikkhu dan memohon kepada mereka: “Menetaplah di sini, Bhante, selama tiga bulan masa pengasingan musim hujan.” Mereka membanun lima ratus gubuk meditasi, yang mereka lengkapi dengan segala perlengkapan kebutuhan: tempat tidur, kursi, kendi-kendi air minum dan air mencuci, dan sebagainya.

Keesokan harinya para bhikkhu memasuki desa lainnya untuk menerima dana makanan, dan di sana juga orang-orang melayani mereka dengan cara yang sama dan memohon mereka untuk menetap selama masa pengasingan musim hujan. Melihat bahwa tidak ada halangan, para bhikkhu menyetujuinya. Mereka memasuki hutan dan bermeditasi penuh semangat sepanjang hari dan malam; ketika gong waktu berbunyi, mereka melanjutkan berlatih perhatian seksama dan duduk di bawah pohon. Kemegahan para bhikkhu bajik tersebut melampaui kemegahan para dewata pohon, yang turun dari istana mereka, dan membawa anak-anak mereka, mengembara ke sana sini. Ini serupa dengan situasi ketika raja-raja atau menteri-menteri kerajaan pergi ke suatu desa dan menempati ruang di tengah-tengah perumahan para penduduk desa, dan orang-orang di dalam rumah keluar dan pindah ke tempat lain, melihat dari kejauhan, bertanya-tanya, “Kapankah mereka akan pergi?” Demikian pula, para dewata itu meninggalkan istana-istana mereka, dan mengembara ke sana-sini, mereka melihat dari kejauhan, bertanya-tanya: “Kapankah para mulia ini akan pergi?” Kemudian mereka mempertimbangkan: “Para bhikkhu telah memasuki periode pertama masa pengasingan musim hujan dan akan menetap di sini selama tiga bulan. Tetapi kami terpaksa harus menarik diri, membawa anak-anak kami, dan memerlukan waktu lama sebelum kami dapat menetap kembali di sini. Ayo, mari kita memperlihatkan objek-objek menakutkan kepada para bhikkhu itu.”

Malam itu, ketika para bhikkhu sedang bermeditasi, para dewata menciptakan bentuk-bentuk yakkha yang menakitkan yang berdiri di depan tiap-tiap bhikkhu, dan mereka juga mengeluarkan suara-suara menakutkan. Ketika para bhikkhu melihat bentuk-bentuk dan mendengar suara-suara itu, mereka menjadi ketakutan, [234] dan mereka menjadi pucat pasi. Karena hal ini, mereka tidak dapat memusatkan pikiran mereka, dan dengan pikiran berhamburan, berulang-ulang diganggu oleh ketakutan, mereka menjadi kehilangan perhatian mereka. Kemudian, ketika mereka kehilangan perhatian mereka, para dewata menciptakan aroma busuk. Seolah-olah otak mereka digilas dengan aroma busuk dan mereka mengalami sakit kepala yang parah, namun mereka tidak saling memberitahu satu sama lain tentang apa yang sedang terjadi.

Suatu hari, ketika mereka berkumpul untuk melayani sesepuh Sangha, sang sesepuh bertanya kepada mereka: “Teman-teman, ketika kalian masuk ke hutan, selama beberapa hari raut wajah kalian bersih dan cerah dan indria-indria kalian tenang. Tetapi sekarang kalian menjadi kurus dan pucat. Apakah ada sesuatu di sini yang tidak cocok untuk kalian?” Kemudian sekrang bhikkhu berkata: “Bhante, pada malam hari aku melihat bentuk-bentuk menakutkan dan mendengar suara-suara menakutkan, dan mencium aroma busuk, sehingga pikiranku tidak terkonsentrasi.” Dengan cara yang sama, semua melaporkan apa yang terjadi. Sang sesepuh Sangha berkata: “Sang Bhagavā telah menetapkan dua pelaksanaan masa pengasingan musim hujan,  dan kediaman ini tidak cocok untuk kita. Ayo, teman-teman, mari kita menghadap Sang Bhagavā dan menanyakan tentang tempat kediaman lainnya yang cocok untuk kita.”

“Baik, Bhante,” para bhikkhu lainnya menjawab. Kemudian mereka merapikan tempat tinggal mereka, membawa mangkuk dan jubah mereka, dan, karena mereka tidak melekat pada keluarga-keluarga, mereka semuanya pergi ke Sāvatthī tanpa terlebih dulu meminta izin dari siapapun. Melakukan perjalanan secara bertahap, mereka sampai di Sāvatthī dan menghadap Sang Bhagavā. Melihat para bhikkhu itu, Sang Bhagavā berkata: “Para bhikkhu, Aku telah menetapkan aturan latihan: ‘Seseorang tidak boleh melakukan perjalanan selama masa pengasingan musim hujan’ (Vin I 138,19-22). Jadi mengapa [235] kalian melakukan perjalanan?” Mereka memberitahukan segalanya kepada Sang Bhagavā. Sang Bhagavā mengarahkan pikiranNya untuk memeriksa seluruh Jambudīpa tetapi Beliau tidak melihat tempat lain yang cocok untuk mereka, bahkan tidak ada tempat seluas sebuah kursi berkaki empat. Kemudian Beliau berkata kepada mereka: “Para bhikkhu, tidak ada tempat lain yang cocok untuk kalian. Berdiamlah di sana, kalian akan dapat mencapai hancurnya aliran masuk. Kambalilah, para bhikkhu, dan menetaplah di tempat yang sama. Jika kalian ingin aman dari para dewata, pelajarilah khotbah perlindungan ini. Ini akan menjadi perlindungan dan subjek meditasi bagi kalian.” Kemudian Beliau membabarkan khotbah ini.

Tetapi pendapat lain mengatakan bahwa setelah Sang Bhagavā berkata, “Kembalilah, para bhikkhu, dan menetaplah di tempat yang sama,” Beliau berkata: “Lebih jauh lagi, seorang penghuni hutan akan mengetahui bagaimana melakukannya. Yaitu, pada malam dan pagi hari, harus melakukan dua kali praktik cinta-kasih, dua kali pembacaan khotbah perlindungan, dua kali meditasi pada sifat ketidak-menarikan tubuh, dua kali perhatian pada kematian dan perhatian pada delapan landasan utama keterdesakan. Delapan landasan utama keterdesakan adalah: kelahiran, penuaan, penyakit, kematian, dan penderitaan di empat alam sengsara. Atau, empat pertama adalah kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian; ke lima adalah penderitaan di alam sengsara, diikuti dengan penderitaan yang berakar pada lingkaran lampau, penderitaan yang berakar pada lingkaran masa depan, dan penderitaan yang berakar pada pencarian makanan pada kehidupan sekarang.” Demikianlah, setelah mengajarkan bagaimana melakukannya, Sang Bhagavā membabarkan khotbah ini kepada para bhikkhu itu demi melatih cinta-kasih, demi perlindungan, dan demi mencapai jhāna sebagai landasan bagi pandangan terang.  [236]

143. Pertama-tama, ini adalah komentar atas kata-kata dalam syair pertama: Apa yang seharusnya dilakukan: apa yang harus dilakukan; apa yang mesti dilakukan. Kebaikan: praktik, atau apapun yang bermanfaat bagi seseorang, disebut “kebaikan” (attha) karena harus dipentingkan (araṇīyato);  “karena harus dipentingkan” bermakna “karena harus didekati.” Oleh seorang yang terampil dalam kebaikan: oleh seorang yang mahir dalam kebaikan. Yaṃ (“yang”) adalah bentuk nominatif relatif; taṃ (“itu”) adalah bentuk akusatif demonstratif. Atau yaṃ taṃ keduanya adalah bentuk nominatif.  Keadaan damai: satu bentuk akusatif. Damai melalui karakteristiknya, dan sebuah keadaan (padaṃ) karena harus dicapai (pattabbato). Ini adalah sebutan untuk nibbāna. Setelah melakukan panembusan: setelah sampai pada. Mampu: sanggup; kompeten. Lurus: memiliki integritas. Sangat lurus: luar biasa lurus. Dapat menerima nasihat: seorang yang baginya sepatah kata nasihat adalah menyenangkan. Lembut: memiliki kelembutan. Tanpa keangkuhan: tidak angkuh.

Berikut ini adalah komentar atas makna: “Ini adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang terampil dalam kebaikan, setelah melakukan terobosan pada keadaan damai itu.” Di sini, pertama-tama, ada apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Secara singkat, apa yang seharusnya dilakukan adalah tiga latihan. Apa yang tidak boleh dilakukan adalah hal-hal itu seperti perilaku yang cacar, pandangan yang cacat, perbuatan yang cacat, penghidupan yang cacat, dan sebagainya.

Demikian pula, ada orang yang terampil dalam kebaikan dan ada orang yang terampil dalam apa yang tidak baik. Seorang yang terampil dalam apa yang tidak baik adalah seorang yang, setelah meninggalkan keduniawian di dalam ajaran ini, tidak mengerahkan dirinya dengan benar: seorang dengan perilaku yang cacat, yang mencari penghidupan melalui salah satu dari dua puluh satu cara yang tidak selayaknya, yaitu, dengan hadiah bambu, hadiah daun, hadiah bunga, hadiah buah, hadiah kayu-gigi, hadiah pencuci-mulut, hadiah alat mandi, hadiah bubuk mandi, hadiah tanah lempung; dengan sanjungan, sup-kacang, dan memanjakan;  dengan berjalan kaki untuk menyampaikan pesan; dengan bekerja sebagai tabib, dengan bekerja sebagai utusan, dengan menjadi pesuruh; [237] dengan memberikan sebagian makanannya sebagai hadiah; dengan ilmu tata letak, perbintangan, atau membaca garis tangan.  Ia berkeliaran dalam enam jenis tempat kunjungan yang salah, yaitu, pelacuran, janda-janda, pelayan-pelayan, orang-orang kasim, para bhikkhunī, dan kedai minuman. Ia membentuk ikatan dengan raja-raja, para menteri kerajaan, kaum sektarian dan siswa mereka, dalam cara tidak selayaknya seperti umat-umat awam membentuk ikatan. Ia bergaul dengan, mendatangi, dan mengunjungi keluarga-keluarga yang tidak berkeyakinan, yang kikir, kasar, dan menghina, yang menginginkan kerugian, bahaya, ketidaknyamanan, dan kesusahan paad para bhikkhu … bagi umat awam perempuan.
Seorang yang terampil dalam kebaikan adalah seorang yang, setelah meninggalkan keduniawian dalam Ajaran ini, mengerahkan dirinya dengan benar: yang meninggalkan cara-cara penghidupan yang salah, yang ingin tegak dalam empat pemurnian perilaku yang baik; yang memenuhi pengekangan melalui Pātimokkha di bawah kelompok keyakinan, pengekangan indria-indria di bawah kelompok perhatian, pemurnian penghidupan di bawah kelompok kegigihan, dan penggunaan benda-benda kebutuhan di bawah kelompok kebijaksanaan.

Seorang yang terampil dalam kebaikan juga adalah seorang yang memurnikan pengekangan melalui Pātimokkha dengan memurnikan tujuh kelompok pelanggaran; yang memurnikan pengekangan organ-organ indria dengan tidak memunculkan ketamakan dan kualitas-kualitas tidak bermanfaat lainnya ketika objek-objek menyerang pada enam pintu indria; yang memurnikan penghidupannya dengan menghindari cara-cara salah dalam mencari dan memperoleh benda-benda kebutuhan dalam cara-cara yang dipuji oleh para bijaksana dan dipuji oleh para Buddha dan siswa Mereka; yang memurnikan penggunaan benda-benda kebutuhan melalui refleksi yang telah disebutkan sebelumnya; dan yang memurnikan pemahaman jernih melalui refleksi pada tujuan dan sebagainya ketika mengubah postur.

Seperti halnya seseorang membersihkan kain yang kotor oleh tanah dengan menggunakan air garam, atau membersihkan cermin dengan menggunakan abu, atau seseorang memurnikan emas dalam wadahnya, demikianlah seseorang membersihkan perilakunya dengan pengetahuan. Setelah memahami hal ini, ia membersihkan perilaku baik dengan cara mencucinya dengan air pengetahuan. Dan seperti halnya seekor ayam betina melindungi telurnya, seekor yak melindungi ekornya, seorang perempuan melindungi anak tunggalnya, dan seorang bermata satu melindungi mata satu-satunya, demikian pula, dengan sangat berhati-hati, seseorang melindungi kelompok perilaku baiknya. [238] Seorang yang, dengan merefleksikan pada malam dan pagi hari, tidak melihat bahkan pelanggaran terkecil adalah juga seorang yang terampil dalam kebaikan. Atau seorang yang, berdasarkan pada perilaku baik yang memberikan kebebasan dari penyesalan, mengerahkan dirinya dalam praktik menekan kekotoran, kemudian melakukan pekerjaan persiapan pada kasiṇa, dan kemudian memperoleh pencapaian-pencapaian meditatif adalah juga seorang yang terampil dalam kebaikan. Seorang yang, setelah keluar dari suatu pencapaian, mengeksplorasi hal-hal terkondisi dan mencapai Kearahantaan adalah yang terunggul di antara mereka yang terampil dalam kebaikan.

Di antara orang-orang itu, mereka yang dipuji sebagai terampil dalam kebaikan dengan mengokohkan diri mereka dalam perilaku baik yang memberikan kebebasan dari penyesalan, atau dengan mengerahkan diri mereka dalam praktik penekanan kekotoran, atau melalui sang jalan dan buahnya adalah mereka yang dimaksudkan sebagai “terampil dalam kebaikan” dalam makna ini. Dan para bhikkhu itu [dalam kisah asal-usul ini] adalah seperti ini. Karena itu, dengan merujuk pada bhikkhu itu, Sang Bhagavā berkata, “Ini adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang terampil dalam kebaikan,” dengan memberikan ajaran yang berdasarkan atas satu orang.

2
format

Code: [Select]
[flash=640,480]http://....link youtube ...[/flash]
Tetapi Ganti bagian "watch?v" menjadi "v/"
contoh

Code: [Select]
https://www.youtube.com/watch?v=T4DCoZRr2SE
ketik menjadi
Code: [Select]
[flash=640,480]https://www.youtube.com/v/T4DCoZRr2SE[/flash]<a href="https://www.youtube.com/v/T4DCoZRr2SE" target="_blank" rel="noopener noreferrer" class="bbc_link bbc_flash_disabled new_win">https://www.youtube.com/v/T4DCoZRr2SE</a>

3
Kafe Jongkok / Welcome back to me
« on: 24 November 2017, 09:29:47 PM »
Setelah pensiun selama lebih dari 4 tahun, sekarang waktunya untuk turun gunung dan kembali mengguncang alam DC.

ayo teman-teman lama yg ikut2an pensiun, mari kita bangunkan kembali DC ini dari tidur panjangnya.

 ^:)^ ^:)^ ^:)^

4
Perkenalan / Again, Good Bye Dhammacitta
« on: 02 December 2013, 12:59:24 PM »
berhubung beberapa thread terakhir saya tampaknya tidak diperkenankan untuk eksis, saya pikir tidak ada gunanya saya berlama2 lagi di sini. maka saya mem-fast forward masa tenggang menjelang pensiun saya. ya saya memutuskan untuk ngambek.

jadi sekali lagi, Good Bye Dhammacitta. terima kasih atas kesempatannya yang sangat menguntungkan saya.

_/\_

NB: saya juga menyerahkan kembali email DC yg tidak akan saya gunakan kembali, tapi jika sewaktu2 saya ternyata masih memiliki akses ke email tsb, maka saya akan menggunakannya tanpa harus mempertanggungjawabkannya.

5
Lowongan / Good Bye Dhammacitta
« on: 29 November 2013, 11:59:04 AM »
lumayan ... judulnya cukup dramatis

Syair pembuka sbb:

Gara2 sumur di ladang,
Maka kita bisa berjumpa lagi,
Tetapi, agar dapat berjumpa lagi,
Maka kita harus berpisah dulu.

Rhyme-nya agak kurang pas, tapi cukup manis.

Sekarang bagian kecapnya:

Setelah melewati banyak pertimbangan dalam waktu yg panjang. kurang lebih ketika saya menerima buku AN tahun lalu, saya merasa bahwa akhirnya waktunya telah tiba untuk menuntaskan tugas2 saya di DC, maka saya bekerja keras dan mengurangi waktu tidur untuk segera menyelesaikan AN. Dan sekarang AN telah selesai, yg artinya waktunya juga telah tiba bagi saya untuk pensiun dari Dhammacitta ini. Sebenarnya masih banyak yg harus dilakukan, tapi biarlah itu dilakukan oleh angkatan muda DC, karena saya tidak ingin memonopoli pekerjaan mulia ini.

Pertimbangan lainnya adalah bahwa di Dhammacitta ini sekarang sudah banyak anak2 muda yg kompeten dan cerdas, dan angkatan tua seperti saya harus tahu diri, biarlah anak2 muda ini yg mengambil posisi di depan dan orang2 jompo biar rebah di belakang saja.

Pertimbangan lainnya lagi adalah bahwa saat ini DC sedang berada pada masa tenang sehingga kemunduran saya ini tidak akan memunculkan spekulasi negatif terhadap DC.

Banyak yg mungkin merasa bersedih dengan keputusan saya ini, tapi saya yakin sekali banyak yg juga bersuka ria menyambut keputusan saya ini. Dan kepada beberapa orang yg sebelum ini terpaksa menyingkir dari DC gara2 saya, dengan ini saya mengundang anda untuk sudi kembali masuk lagi ke DC, saya menjamin bahwa saya tidak akan menyusahkan anda lagi sejak hari ini dan seterusnya.

Saya sangat menikmati saat2 berada di Dhammacitta ini, bersama dengan para member sahabat2 saya. I Love you. Tapi bukankah kita semua sudah belajar bahwa "segala sesuatu yg berkondisi adalah tidak kekal"? jadi bagaimana mungkin saya mengharapkan agar kegembiraan ini tidak berubah dan menjadi sebaliknya?

Awalnya saya merencanakan waktunya adalah akhir 2013, tapi setelah melihat banyak versi primbon yg mengatakan hari baiknya adalah 11-12-13, maka saya memutuskan untuk menghilang pada 11 Desember 2013.

Semoga kita semua maju dalam Dhamma.

Semoga tidak ada lagi sumur di ladang.
_/\_

NB:
1. Ya Tuhan, saya mengampuni dosa2Mu dan mengorbankan kesenanganku.
2. postingan di Board Lowongan Kerja ini bukan berati saya sedang mencari kerjaan di forum lain, melainkan hanya sekedar berimprovisasi.
3. Postingan ini adalah pemberitahuan sekaligus pamitan, jadi tidak perlu dibahas apalagi didebat. jadi mod, pls lock aja.
4. admin, pls erase my account.



6
Pengalaman Pribadi / Dompetku hilang
« on: 28 October 2013, 10:06:07 AM »
Sabtu pagi kemarin,  ketika hendak membayar belanjaan di sebuah toko, "loh dompet saya mana?" astaga, dompet saya hilang, panik dan cemas serta stress menyerang pikiran saya. kemudian saya mencoba menelusuri kembali jejak perjalanan saya sebelumnya, sesuai dugaan, tidak ada hasil. kira2 1 jam setelah pencarian tanpa hasil, dalam keadaan panik itu saya berusaha menenangkan pikiran dan memutuskan, "ya sudahlah, tindakan selanjutnya adalah lapor polisi dan memblokir semua kartu2 debit/kredit." Dalam perjalanan itu, tiba2 HP saya berbunyi, panggilan dari "unknown number", saya jawab, "halo", "Pak Indra ya?", "Benar, dari mana ya?", "Pak Indra kehilangan dompet ya?", dst..dst. Demikianlah akhirnya saya menemukan dompet saya kembali.

Sungguh2 saya benar2 beruntung, sekali lagi para dewa ternyata masih melindungi saya, Kepada Dewa yg menemukan dan mengembalikan dompet saya, dewa yg menetap di Jembatan Lima, "Thank you."


7
Diskusi Umum / 10 pandangan spekulatif
« on: 17 October 2013, 02:55:11 PM »
dari MN 63 Cūḷamālunkya Sutta

1. ‘dunia adalah abadi’
2. ‘dunia adalah tidak abadi’
3. ‘dunia adalah terbatas’
4. ‘dunia adalah tidak terbatas’
5. ‘jiwa adalah sama dengan badan’
6. ‘jiwa adalah satu hal dan badan adalah hal lainnya’
7.  ‘Sang Tathāgata ada setelah kematian’
8. ‘Sang Tathāgata tidak ada setelah kematian’
9. ‘Sang Tathāgata ada dan tidak ada setelah kematian’
10. ‘Sang Tathāgata bukan ada dan bukan tidak ada setelah kematian.’

Ini adalah 10 pandangan spekulatif yg dihindari oleh Sang Buddha.

saya bisa memahami bahwa hampir semua pandangan itu berhubungan dengan Ekstrim Nihilisme atau Eternelisme. yg menjadi pertanyaan saya, jika 7,8 dan 9 adalah invalid, maka 10 seharusnya valid. Dan saya melihat bahwa no.10 itu jelas tidak termasuk dalam kedua ekstrim itu. kenapa Sang Buddha juga menolak pandangan no. 10 itu?

8
DhammaCitta Press / ANGUTTARA NIKAYA buku SEBELAS
« on: 10 October 2013, 10:48:11 AM »
[311]BUKU KELOMPOK SEBELAS

Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant,
Yang Tercerahkan Sempurna


9
DhammaCitta Press / ANGUTTARA NIKAYA buku SEPULUH
« on: 07 October 2013, 07:32:14 PM »
[101]BUKU KELOMPOK SEPULUH

Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant,
Yang Tercerahkan Sempurna


10
DhammaCitta Press / ANGUTTARA NIKAYA buku SEMBILAN
« on: 28 August 2013, 11:38:46 PM »

[351] BUKU KELOMPOK SEMBILAN

Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant,
Yang Tercerahkan Sempurna


11
DhammaCitta Press / ANGUTTARA NIKAYA buku DELAPAN
« on: 12 August 2013, 10:32:04 PM »
[150] BUKU KELOMPOK DELAPAN

Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant,
Yang Tercerahkan Sempurna


12
Sutta Vinaya / AN 8:54 Dighajanu Sutta
« on: 09 August 2013, 09:30:44 PM »
Sutta yang indah untuk para perumah tangga

Anggutara Nikaya 8:54 Dīghajāṇu Sutta

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di antara penduduk Koliya di dekan pemukiman Koliya bernama Kakkarapatta. Di sana pemuda Koliya Dīghajāṇu mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:

“Bhante, kami adalah para umat awam yang menikmati kenikmatan-kenikmatan indria, menetap di rumah yang penuh dengan anak-anak. Kami menggunakan kayu cendana dari Kāsi; kami memakai kalung bunga, wewangian, dan salep; kami menerima emas dan perak. Sudilah Sang Bhagavā mengajarkan Dhamma kepada kami dalam suatu cara yang dapat mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan kami dalam kehidupan ini dan kehidupan mendatang.”

“Ada, Byagghapajja,  empat hal ini yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan seorang anggota keluarga dalam kehidupan ini. Apakah empat ini? Kesempurnaan dalam inisiatif, kesempurnaan dalam perlindungan, pertemanan yang baik, dan kehidupan yang seimbang.

(1) “Dan apakah kesempurnaan dalam inisiatif? Di sini, cara apa pun yang dengannya seorang anggota keluarga mencari penghidupannya – apakah dengan bertani, berdagang, beternak, keterampilan memanah, pelayanan pemerintahan, atau keterampilan-keterampilan lainnya – ia terampil dan rajin; ia memiliki penilaian yang baik atasnya agar dapat melaksanakan dan mengaturnya dengan benar. Ini disebut kesempurnaan dalam inisiatif.

(2) “Dan apakah kesempurnaan dalam perlindungan? Di sini, seorang anggota keluarga mendirikan perlindungan dan penjagaan atas kekayaan yang telah ia [282] peroleh, diusahakan dengan keringat di dahinya, kekayaan yang benar yang diperoleh dengan benar, dengan berpikir: ‘Bagaimanakah aku dapat mencegah raja-raja dan para pencuri merampasnya, api membakarnya, banjir menghanyutkannya, dan para pewaris yang tidak disukai mengambilnya?’ ini disebut kesempurnaan dalam perlindungan.

(3) “Dan apakah pertemanan yang baik? Di sini, di desa atau pemukiman mana pun seorang anggota keluarga menetap, ia bergaul dengan para perumah tangga atau para putra mereka – apakah yang masih muda dengan moralitas yang matang, atau yang sudah tua dengan moralitas yang matang – yang sempurna dalam keyakinan, perilaku bermoral, kedermawan, dan kebijaksanaan; ia berbincang-bincang dengan mereka dan terlibat dalam diskusi dengan mereka. Sejauh mereka sempurna dalam keyakinan, ia meniru mereka dalam hal kesempurnaan daam keyakinan; sejauh mereka sempurna dalam perilaku bermoral, ia meniru mereka dalam hal kesempurnaan dalam perilaku bermoral; sejauh mereka sempurna dalam kedermawanan, ia meniru mereka dalam hal kesempurnaan dalam kedermawanan; sejauh mereka sempurna dalam kebijaksanaan, ia meniru mereka dalam hal kesempurnaan dalam kebijaksanaan. Ini disebut pertemanan yang baik.

(4) “Dan apakah kehidupan yang seimbang? Di sini, seorang anggota keluarga mengetahui pendapatan dan pengeluarannya dan menjalani kehidupan seimbang, tidak terlalu boros juga tidak terlalu berhemat, [dengan memahami]: ‘Dengan cara ini pendapatanku akan melebihi pengeluaranku dan bukan sebaliknya.’ Bagaikan seorang petugas penimbang atau pembantunya, dengan memegang timbangan, mengetahui: ‘Dengan sebanyak ini timbangan akan turun, dengan sebanyak ini timbangan akan naik,’ demikian pula seorang anggota keluarga mengetahui pendapatan dan pengeluarannya dan menjalani hidup seimang, tidak terlalu boros juga tidak terlalu hemat, [dengan memahami]: ‘Dengan cara ini pendapatanku akan melebihi pengeluaranku [283] dan bukan sebaliknya.’

“Jika anggota keluarga ini memiliki pendapatan yang kecil namun hidup mewah, orang lain akan berkata tentangnya: ‘Anggota keluarga ini memakan hartanya bagaikan pemakan buah ara.’  Tetapi jika ia memiliki pendapatan besar namun hidup hemat.’ Orang lain akan berkata tentangnya: ‘Anggota keluarga ini bahkan bisa kelaparan.’  Tetapi ini disebut kehidupan seimbang ketika seorang anggota keluarga mengetahui pendapatan dan pengeluarannya dan menjalani hidup seimbang, tidak terlalu boros juga tidak terlalu hemat, [dengan memahami]: ‘Dengan cara ini pendapatanku akan melebihi pengeluaranku dan bukan sebaliknya.’

“Kekayaan yang dikumpulkan demikian memiliki empat sumber pemborosan: bermain perempuan, bermabuk-mabukan, berjudi, dan pertemanan yang buruk. Seperti halnya ada sebuah waduk besar dengan empat saluran masuk dan empat saluran keluar, dan seseorang menutup saluran-saluran masuk dan membuka saluran-saluran keluar, dan tidak ada turun hujan, maka seseorang dapat berharap air dalam waduk tersebut menjadi berkurang dan bukan bertambah; demikian pula, kekayaan  yang dikumpulkan demikian memiliki empat sumber pemborosan: bermain perempuan … pertemanan yang buruk.

“Kekayaan yang dikumpulkan demikian memiliki empat sumber pertambahan: ia menghindari bermain perempuan, menghindari bermabuk-mabukan, dan [284] menghindari berjudi, dan mengembangkan pertemanan yang baik. Seperti halnya ada sebuah waduk besar dengan empat saluran masuk dan empat saluran keluar, dan seseorang membuka saluran-saluran masuk dan menutup saluran-saluran keluar, dan hujan turun dengan cukup, maka seseorang dapat berharap air dalam waduk tersebut menjadi bertambah dan bukan berkurang; demikian pula, kekayaan  yang dikumpulkan demikian memiliki empat sumber pertambahan: ia menghindari bermain perempuan … dan mengembangkan pertemanan yang baik.

“Ini adalah keempat hal itu yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan seorang anggota keluarga dalam kehidupan ini.

“Ada, Byagghapajja, empat hal [lainnya] yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan seorang anggota keluarga dalam kehidupan mendatang. Apakah empat ini? Kesempurnaan dalam keyakinan, kesempurnaan dalam perilaku bermoral, kesempurnaan dalam kedermawanan, dan kesempurnaan dalam kebijaksanaan.

(5) “Dan apakah kesempurnaan dalam keyakinan? Di sini, seorang anggota keluarga memiliki keyakinan. Ia berkeyakinan pada pencerahan Sang Tathāgata sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah seorang Arahant … guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ini disebut kesempurnaan dalam keyakinan.

(6) “Dan apakah kesempurnaan dalam perilaku bermoral? Di sini, seorang anggota keluarga menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari hubungan seksual yang salah, menghindari berbohong, dan menghindari meminum minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. Ini disebut kesempurnaan dalam perilaku bermoral.

(7) “Dan apakah kesempurnaan dalam kedermawanan? Di sini, seorang anggota keluarga berdiam di rumah dengan pikiran yang hampa dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, bertangan terbuka, bersenang dalam melepaskan, menekuni derma, bersenang dalam memberi dan berbagi. Ini disebut kesempurnaan kedermawanan.

(8 ) “Dan apakah kesempurnaan dalam kebijaksanaan? [285] Di sini, seorang anggota keluarga bijaksana, ia memiliki kebijaksanaan yang melihat muncul dan lenyapnya, yang mulia dan menembus dan mengarah menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya. Ini disebut kesempurnaan dalam kebijaksanaan.

“Ini adalah keempat hal [lainnya] yang mengarah kesejahteraan dan kebahagiaan seorang anggota keluarga dalam kehidupan mendatang.”

   Berusaha dalam pekerjaannya,
   cermat dalam pengaturannya,
   seimbang dalam gaya hidupnya,
   ia menjaga kekayaan yang ia peroleh.

   Dengan memiliki keyakinan, sempurna dalam moralitas,
   Dermawan dan hampa dari kekikiran,
   Ia terus-menerus memurnikan sang jalan
   Yang mengrah pada keamanan dalam kehidupan mendatang.

   Demikianlah kedelapan kualitas ini
   Dari seorang pencari kehidupan rumah tangga yang berkeyakinan
   Dikatakan oleh Ia yang dinamai dengan benar
   Mengarah pada kebahagiaan di kedua keadaan:
   Kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan ini,
   Dan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang.
   Demikian bagi mereka yang berdiam di rumah,
   Kedermawanan dan jasa mereka bertambah.

13
Pengembangan DhammaCitta / New GM: ARIYAKUMARA
« on: 05 August 2013, 09:45:35 AM »
Selamat atas ditunjuknya Bro Ariyakumara menjadi Global Moderator, semoga GM baru ini bisa lebih aktif berdinas, dan tidak terlalu cepat impoten spt senior2nya.

14
DhammaCitta Press / ANGUTTARA NIKAYA buku TUJUH
« on: 31 July 2013, 09:23:23 PM »

[101]BUKU KELOMPOK TUJUH

Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant,
Yang Tercerahkan Sempurna


15
DhammaCitta Press / ANGUTTARA NIKAYA buku ENAM
« on: 19 May 2013, 07:01:13 PM »
[1] BUKU KELOMPOK ENAM

Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant,
Yang Tercerahkan Sempurna



Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 9