//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui  (Read 53230 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Lokasurya

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 6
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #45 on: 25 January 2012, 01:13:09 PM »
Saya sdh menemukan website Ko Robert, dan ternyata pelajaran ilmu ba zi itu dalam bentuk buku ya, ok akan saya cari. Xie xie

 _/\_


Offline Robert Yang

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 42
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #46 on: 15 February 2012, 02:23:06 PM »

Tepat sekali, bila diukur kemampuan Abhinna, pencapaian Jhana 4 dalam meditasi, sudah mampu menyamai atau tingkat tertinggi level ilmu feng shui.

Nah problemnya, orang yang sudah mencapai Jhana kan kebanyakan ariya sangha sedikit sekali praktisi awam, bahkan praktisi awampun cenderung menjadi lebih spiritual.
Maka tidak pernah memakai kemampuan paranormalnya untuk menjadi sumber penghasilan.
Sedangkan Ilmu Feng shui adalah khusus untuk membantu orang memperbaiki kehidupan sehingga bebas problem finansial, rumah tangga, penyakit, bahkan membantu pengkondisian orang untuk berjodoh mencapai pencerahan hidup.

Sehingga pada tingkat atas, feng shui (yang otentik praktis), sarana membantu orang untuk mencapai pencerahan spiritual. logikanya begini : kalau manusia biasa bila setiap hari hanya disibukkan dengan mencari uang, kadang suami istri bertengkar, sakit dsbnya, apakah mungkin pikirannya tenang atau punya waktu untuk mengikuti meditasi ^-^



Maaf, ada koreksi sedikit. setelah mengikuti level yang lebih dalam pada tingkatan praktik Feng Shui , dan diskusi dengan senior yang mencapai tingkatan Jhana 8 sampai menembus rupa kalapa.
Beliau ternyata juga tidak mengerti pencapaian tingkat ilmu feng shui yang lebih dalam, bila tidak mendapat pelajaran lebih lanjut dari gurunya.

Ternyata tidak ada korelasi "langsung" tingkatan pencapaian Jhana dengan level tingkatan praktik feng shui master.
Karena ilmu feng shui meski juga mengadopsi kemampuan batin dll, fokus utama adalah pada kecerdasan inteligensia dalam mengaplikasi  berbagai varian determinan nasib keberuntungan, secara sangat-sangat akurat, baru memberikan manfaat yang tepat sasaran.

Robert Yang


 

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #47 on: 15 February 2012, 08:04:11 PM »
Dari Brahmajala Sutta, Digha Nikaya 1 dikatakan:

"Sementara beberapa petapa dan Brahmana memakan makanan pemberian mereka yang berkeyakinan, berpenghidupan dari keterampilan, penghidupan salah seperti membaca garis tangan, meramal dari gambaran-gambaran, tanda-tanda, mimpi, tanda-tanda jasmani, gangguan tikus, pemujaan api, persembahan dari sesendok sekam, tepung beras, beras, ghee atau minyak, atau darah, dari mulut, membaca ujung jari, pengetahuan rumah dan kebun, ahli dalam jimat, pengetahuan setan, pengetahuan rumah tanah, pengetahuan ular, pengetahuan racun, pengetahuan tikus, pengetahuan burung, pengetahuan gagak, meramalkan usia kehidupan seseorang, jimat melawan anak panah, pengetahuan tentang suara-suara binatang, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.

Sementara beberapa petapa dan Brahmana berpenghidupan dengan keterampilan seperti meramalkan gerhana bulan, matahari, bintang; bahwa matahari dan bulan akan bergerak sesuai jalur yang benar – akan bergerak tidak menentu; bahwa bintang akan bergerak sesuai jalur yang benar – akan bergerak tidak menentu; bahwa akan terjadi hujan meteor, suatu kebakaran dahsyat di angkasa, gempa bumi, guruh; matahari, bulan, dan bintang yang terbit, terbenam, gelap dan terang; dan ‘demikianlah akibat dari benda-benda ini’, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.

Sementara beberapa petapa dan Brahmana berpenghidupan dengan keterampilan seperti meramalkan hujan yang baik atau buruk; panen yang baik atau buruk; keamanan, bahaya; penyakit, kesehatan, atau mencatat, menentukan, menghitung, komposisi syair, menjelaskan alasan-alasan, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.

‘“Sementara beberapa petapa dan Brahmana berpenghidupan dengan keterampilan seperti mengatur pemberian dan penerimaan dalam suatu pernikahan, pertunangan dan perceraian; [menyatakan waktu untuk] menabung dan belanja, membawa kebaikan dan keburukan, melakukan aborsi,31 menggunakan mantra untuk mengikat lidah, mengikat rahang, menyebabkan tangan gemetar, menyebabkan tuli, mencari jawaban dari cermin, menjadi gadis-medium, dewa; memuja matahari atau Mahà Brahmà, meniupkan api, memanggil dewi keberuntungan, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian."

"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Robert Yang

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 42
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #48 on: 18 February 2012, 03:43:18 PM »
Dari Brahmajala Sutta, Digha Nikaya 1 dikatakan:

"Sementara beberapa petapa dan Brahmana memakan makanan pemberian mereka yang berkeyakinan, berpenghidupan dari keterampilan, penghidupan salah seperti membaca garis tangan, meramal dari gambaran-gambaran, tanda-tanda, mimpi, tanda-tanda jasmani, gangguan tikus, pemujaan api, persembahan dari sesendok sekam, tepung beras, beras, ghee atau minyak, atau darah, dari mulut, membaca ujung jari, pengetahuan rumah dan kebun, ahli dalam jimat, pengetahuan setan, pengetahuan rumah tanah, pengetahuan ular, pengetahuan racun, pengetahuan tikus, pengetahuan burung, pengetahuan gagak, meramalkan usia kehidupan seseorang, jimat melawan anak panah, pengetahuan tentang suara-suara binatang, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.

Sementara beberapa petapa dan Brahmana berpenghidupan dengan keterampilan seperti meramalkan gerhana bulan, matahari, bintang; bahwa matahari dan bulan akan bergerak sesuai jalur yang benar – akan bergerak tidak menentu; bahwa bintang akan bergerak sesuai jalur yang benar – akan bergerak tidak menentu; bahwa akan terjadi hujan meteor, suatu kebakaran dahsyat di angkasa, gempa bumi, guruh; matahari, bulan, dan bintang yang terbit, terbenam, gelap dan terang; dan ‘demikianlah akibat dari benda-benda ini’, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.

Sementara beberapa petapa dan Brahmana berpenghidupan dengan keterampilan seperti meramalkan hujan yang baik atau buruk; panen yang baik atau buruk; keamanan, bahaya; penyakit, kesehatan, atau mencatat, menentukan, menghitung, komposisi syair, menjelaskan alasan-alasan, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.

‘“Sementara beberapa petapa dan Brahmana berpenghidupan dengan keterampilan seperti mengatur pemberian dan penerimaan dalam suatu pernikahan, pertunangan dan perceraian; [menyatakan waktu untuk] menabung dan belanja, membawa kebaikan dan keburukan, melakukan aborsi,31 menggunakan mantra untuk mengikat lidah, mengikat rahang, menyebabkan tangan gemetar, menyebabkan tuli, mencari jawaban dari cermin, menjadi gadis-medium, dewa; memuja matahari atau Mahà Brahmà, meniupkan api, memanggil dewi keberuntungan, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian."



Ini adalah contoh umum yang tujuannya sebenarnya baik memberikan catatan/informasi/pengetahuan dharma yang baik, namun hanya dengan copy paste “petikan-petikan Sutta tertentu tanpa disertai penjelasan pengertian dan penerapan yang benar justru membuat bingung  orang lain, atau tidak nyambung antara jawaban dan pertanyaan, dan pada tingkatan ekstrim secara tidak langsung sama dengan nasihat yang buruk (kasus ini memang banyak terjadi pada orang yang meminta advis gratis kepada “master Feng Shui / Peramal Nasib” yang pengetahuannya juga model copy paste).
Ada beberapa point penting yang perlu diklarifikasi :

1.   Perbedaan Persepsi bagi pemberi dan penerima copy paste informasi pada tingkatan penafsiran Ajaran Buddha Dharma yang pengertiannya sangat 
        Dalam?

-   Bila jawaban atas informasi copy paste adalah tepat sutta yang dikehendaki, dan dapat dimengerti adalah bermanfaat

-   Bila jawaban atas informasi copy paste adalah tepat sutta yang dikehendaki, dan disertai penjelasan yang membuka pikiran, adalah sangat bermanfaat,
        dipersepsikan sangat membantu.

-   Bila memberikan informasi copy paste sutta yang diri sendiri kurang mengerti, dan tidak disertai penjelasan yang membuka pikiran,  tidaklah memberi
        manfaat.  Kemungkinan dipersepsikan tipe asal cuap saja.

-   Bila  tidak memahami pertanyaan  atau salah interpretasi atas topik yang didiskusikan, dan memberikan jawaban  copy paste sutta yang tidak cocok,
        tidaklah memberi manfaat,  apalagi tidak dimengerti secara mendalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi lebih tidak bermanfaat.  Si
        penerima informasi/pembaca akan mungkin mengambil berpersepsi  ini orang sok pintar dan pikirannya ceroboh benar menggampangkan jawaban atas
        permasalahannya.

2.   Pandangan Pekerjaan Rendah dalam Brahmajala Sutta ini berlaku untuk siapa? Apakah untuk Bikkhu ? atau umat Awam?
 
Pandangan ini bagi seorang Bikkhu adalah benar,  karena tidak bermanfaat untuk pencerahan batin, demikian seharusnya pula tidak dilakukan Para Pertapa dan Brahmana yang seharusnya sama sudah melepaskan ikatan keduniawian.

Bila ditakar-takar isi dalam Brahmajala Sutta, sangat sedikit pekerjaan yang bukan dikategorikan sebagai penghidupan salah/rendah seperti pekerjaan bercocok tanam, menjadi raja, guru, dokter, menteri, pegawai pemerintah, dll.
Tetapi bagi umat awam, semua jenis penghidupan yang membawa kebebasan finansial sepanjang tidak melanggar Pancasila, tidaklah dikategorikan penghidupan rendah.

Bahkan dijaman sekarang ini pengetahuan racun (antibiotik, kimiawi) justru telah menyelamatkan jutaan sampai milyaran nyawa manusia dari kematian yang tidak perlu.

Pekerjaan Aktor / perfilman, bukan hanya sebagai hiburan, juga memberikan pengetahuan,  pendidikan, dan informasi yang sangat bermanfaat.
Pekerjaan broker, lembaga perjodohan / biro jodoh / konsultan perkawinan, telah banyak membantu pasangan hidup berbahagia. Dan lain-lain.

Pandangan Budaya masyarakat Tiongkok tentang status sosial Profesi Ahli Feng Shui atau Di Li Shi adalah tingkatan level tertinggi kedua setelah kaisar.

Contoh umum urutan sosial tingkatan kemuliaan dalam hirarki masyarakat Tiongkok (secara kecenderungan umum) adalah : Kaisar – Pembantu Kiri (Golongan Akademisi : meliputi Penasehat Negara / Guo Shi / Koksu (Ahli Feng Shui ada di kelompok ini, berikutnya adalah menteri golongan cendekia ahli surat), Pembantu Kanan (Golongan Militer : meliputi panglima perang, jenderal, penguasa daerah dsb), Tuan tanah, dokter, Pengawal, Guru, Pedagang, pelukis,hingga petani. Yang dikategorikan tingkatan kemuliaan rendah (pekerjaan rendah) : pelayan, jongos, seniman / artis, penyanyi , nelayan dan sebagainya

Namun di jaman modern ini praktisi feng shui, reputasinya lebih dipandang rendah, sebab gembar-gembor kehebatannya mampu mengubah nasib orang tidak bisa dibuktikan, sebaliknya artis penyanyi, bintang film menjadi selebritis, menjadi dambaan orang banyak.

Ini dikarenakan orang-orang yang mengaku praktisi ini, mayoritas atau diatas 90% sebenarnya hanya pandai cuap-cuap atau merasa logika intelektualnya hebat dengan memahami isi buku-buku feng shui, mampu berargumen dengan sangat baik menurut buku klasik A, B, C dll,  namun sesungguhnya kemampuan aplikasi yang membawa hasil positif (tanpa dipengaruhi oleh aspek keberuntungan manusia dan langit), rendah atau salah sama sekali.

3.   Batasan Definisi  pengetahuan Ilmu Feng Shui ini?, Golongan Aliran Praktisi dan Level Pemahamannya? Siapa yang memakai? Manfaatnya?

a.   Pengetahuan Ilmu Feng Shui

-   Pengetahuan ini berakar sejarah 5.000 tahun lalu yang disempurnakan dari generasi ke generasi. Perkembangan sampai sebelum tahun 200 Masehi, atau
        jauh sesudah jaman Sang Buddha,  pengetahuan ini masih dalam bentuk sederhana, juga lebih umum dipakai untuk pemilihan lokasi untuk Pemakaman
        para kaisar dan Bangsawan (tidak untuk masyarakat umum). Pengembangan seperti bentuk sekarang dan terbuka untuk umum baru sekitar jaman dinasti
        Tang atau 1300 tahun yang lalu.

-   Silahkan juga merujuk pada definisi di awal thread. Secara umum memang pengetahuan ini dalam Pembagian Science modern dikelompokkan sebagai
        metafisika : satu famili dengan  paranormal, kesaktian, pengetahuan tentang fisika yang tampak (kongkrit) dan tidak tampak (abstrak).

-   Bedanya Pengetahuan Feng Shui pada tingkatan Otentik, mengadopsi semua aspek kehidupan yang mempengaruhi baik-buruknya kehidupan manusia :
        1. Topografi Gunung-Sungai-Perlindungan yang dikenal sebagai Luantou, dan formula untuk mengkuantifikasi baik buruk Luantou  dengan menggunakan
            Kompas Lo Pan; disertai kalkulasi aspek waktu dikenal sebagai Li Qi (mengambil Qi naga), 2. YIN-YANG; BA GUA; lima elemen; Pergerakan Musim;
            Pergerakan Planet dan hubungannya dengan Matahari/antariksa; Sistem-sistem pendekatan teori seperti San he, San Yuan; yang dikenal sebagai teori
            feng shui yang ilmiah untuk menilai Luan Tou dan Li Qi, 3. Aspek waktu perputaran Bumi dan Kosmis dikenal sebagai Bahasa Langit / Pilih Hari Baik,
           4. Aspek Hubungan Manusia dengan Dewa/Brahma dan Hubungan Manusia dengan Makhluk Peta / Asura atau agama samawi mengkonotasikan dengan
           Setan dikenal juga dengan pengaturan altar / sembahyang; aspek ini dikenal sebagai Mendapatkan Gui Ren / Penolong atau Xiao Ren / Pembawa Sial,
           5. Aspek Internal rumah, 6. Aspek Pengaturan dan Penempatan Obyek Rumah dikenal sebagai Distribusi Qi yang selaras, 7. Aspek Formasi dan Image,
           8. Aspek Kecocokan Manusia dan Rumah. 9. Aspek Psikologi Manusia / Motivasi / ekonomi dll, 10. Aspek Solusi / Pengobatan.   Kesemua aspek ini harus
           dikuasai dengan baik, di istilahkan kemampuan berpikir persamaan non linear (integrasi logika tampak dan tak tampak), kebalikan dari logika linear /
           logika aristiteles atau pendidikan modern yang hanya mempercayai logika yang tampak.

bersambung ..........

Offline Robert Yang

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 42
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #49 on: 18 February 2012, 03:50:32 PM »
Sambungan ....

b.   Golongan Aliran Praktisi dan Level Pemahamannya.
-    Sebenarnya ada 6-7 golongan (meliputi aliran otentik, aliran otentik lineage, aliran neo otentik, aliran neo-age, aliran pedukunan / sihir / paranormal,
         aliran intuitif).
-   Dari 6-7 golongan ini hanya aliran otentik dan aliran otentik lineage, yang mempunyai kemampuan standar yang baik (Mengutamakan pengetahuan akal
        pikiran dalam analisisnya, bukan sepenuhnya mengandalkan kekuatan dewa atau paranormal, memegang kode etik yang teguh,  disertai mendapat
        bimbingan guru yang baik, sama dengan analogi para arahat mendapat bimbingan sang Buddha, dan para bikkhu sangha mendapat bimbingan para
        Pemenang arus / Sotapanna sampai Arahat). Diluar kedua aliran ini dianggap aliran non otentik karena pemahaman mereka hanya baca buku / copy paste
        buku atau melewati kursus kelas dari pengajar feng shui, atau bagi yang memiliki kemampuan paranormal lebih mengandalkan kesaktiannya, sehingga
        pada sebagian kasus hasilnya memuaskan klien, namun tidak all out mampu memecahkan semua permasalahan klien yang dihadapi.
-   Berdasarkan Jumlah Klien : aliran otentik ini dibagi menjadi 1. TINGKAT TINGGI / SUPER MASTER jumlah kliennya dalam 1 tahun rata-rata dibawah 20 orang.
        2. TINGKAT MENENGAH jumlah kliennya dalam 1 tahun rata-rata dibawah 50 orang. 3. TINGKAT BAWAH jumlah kliennya dalam 1 tahun rata-rata dibawah
        75  orang.
-   Berdasarkan Persentase jumlah Praktisi : Kemungkinan populasi jumlah Praktisi aliran Otentik hanya sekitar 5% dari total Praktisi yang mengaku ahli feng
        shui.
-   Berdasarkan Persentase Otentik Praktisi  yang Praktek untuk umum dan praktek untuk Bisnis sendiri : diperkirakan dari total populasi Otentik Praktisi yang
        memanfaatkan pengetahuannya sebagai praktisi hanya sekitar 20-30%, sisanya yang tidak berpraktek untuk umum sekitar 70-80%
-   Kenapa sebagian besar lebih senang praktek bisnis sendiri?  Karena praktek feng shui mengubah keseimbangan karma, yakni klien  yang umumnya lebih
        beruntung, sedangkan sang praktisi sebagian karma baiknya diserap oleh kliennya. Karenanya rata-rata praktisi Tingkatan Bawah kehidupannya tidak
        kaya, kecuali yang juga memiliki bisnis sendiri.

c.   Pengguna Jasa Pengetahuan ini
-   Pada tingkatan pandangan umum di masyarakat rata-rata banyak yang memanfaatkan pengetahuan feng shui.
-   Pada tingkatan spesifik yang mengenal atau berjodoh dengan master feng shui otentik jumlahnya sangat sedikit sekali dari populasi dunia.

d.   Manfaatnya.
-   Tingkatan Tinggi : mempengaruhi kemakmuran dan kesejahteraan suatu Negara. Contoh Dinasti-dinasti dalam sejarah Tiongkok : berkuasa rata-rata 300
        tahun dan menjadi Negara terkuat di dunia pada saat jaya-jayanya. Di Negara Jepang Tokugawa berkuasa hampir 700 an tahun. Contoh modern adalah
        kemajuan RRC sekarang ini, rata-rata investor yang membangun pabrik di sana menyewa ahli feng shui tingkat tinggi untuk pengaturannya, karena
        mereka ingin cepat investasi kembali, resiko kerugian lebih kecil, ketimbang hanya menggunakan jasa manjemen modern saja. Bagaimana tahun 1991 an
        pemerintah melibas kerusuhan Tian An Men, meski korban puluhan ribu nyawa mahasiswa, namun program pembangunan pemerintah berjalan stabil dan
        membantu nasib ratusan juta penduduk.
-   Tingkatan Menengah :  para Tai pan dan pabrikan Besar yang mampu mencapai return on investment / pengembalian modal dibawah 4 tahun, dan
        perusahaannya masih dapat survive belasan sampai puluhan tahun atau sampai 3 generasi, beberapa keluarga di Tiongkok  turun-temurun menjadi
        pejabat tinggi dari dinasti ke dinasti sampai pemerintahan RRC yang sekarang.  Tingkatan ini hanya dapat dilakukan Ahli Feng shui Tingkatan Guo Shi /
        Penasihat Presiden atau kaisar.
-   Tingkatan Bawah : Untuk para individu yang berjodoh dapat memanfaatkan jasa Ahli Feng shui Otentik. Sehingga dibandingkan orang dengan
        keberuntungan manusia dan keberuntungan langit pada kondisi yang sama: jangka panjangnya aspek keberuntungannya bisa selisih 2-3 kali lipat.
-   Bagi praktisi seperti saya, teman-teman yang mendalami ajaran Buddha dharma, pemanfaatan pengetahuan feng shui yang otentik ini sangat berguna
        untuk mempercepat pensiun dini (kebebasan finansial), mempercepat matangnya karma baik, sehingga lebih awal menjalani kehidupan sebagai meditator
        secara penuh.

4.   Kemungkinan pertanyaan yang ingin dikemukakan- Mengapa  seorang meditator (umat awam), sudah mencapai tingkatan Jhana 8, sudah pula mampu
        menembus rupa kalapa?  Dan dari pikiran Bhavanga sudah mampu menembus masa lampau kehidupan, kehidupan berikutnya akan terlahir di  mana, yang
        berarti SUDAH MEMAHAMI SEBAB AKIBAT TIMBUNAN KARMA KEHIDUPAN, yang seharusnya terus melanjutkan meditasi untuk mencapai penembusan   
        tingkatan Sotapanna;  masih harus menjalani kehidupan  duniawi, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan feng shui  dalam bisnis?

-   Alasan umum adalah kondisi  yang belum mendukung, seperti  masih ada tanggung jawab terhadap ayah-ibu, anak istri yang belum bisa mandiri, sehingga
        perlu sokongan dana (atau dalam Buddhist masih ada Karma lampau yang berbuah berupa kewajiban diatas yang masih harus dipenuhi). Sedangkan
        untuk mendapatkan penghasilan yang mencukupi dan tidak melanggar pantangan membunuh (seperti memelihara hewan peliharaan, berdagang senjata,
        memperdagangkan hewan dll) bukanlah sesuatu yang gampang, maka pemanfaatan pengetahuan Feng shui YANG TEPAT, sangat berguna membantu
       kelancaran usaha, agar mendapatkan keberuntungan yang lebih cepat.

-   Alasan lain, mungkin ada adittana membangun vihara, membangun vihara untuk bodhisatta, sekolah, rumah sakit dan lain sebagainya, yang tentunya
        memerlukan dana yang tidak sedikit. Untuk mendapatkan dana ini selain donasi, juga perlu menjalankan bisnis. Pengetahuan feng shui seperti halnya
        pengetahuan hukum, akunting, pemasaran dll adalah alat yang berguna untuk mencapai keberuntungan finansial.

-   Dan lain-lain alasan yang masuk akal, yang masih dalam lingkup pemenuhan Kamma, vipaka, yang belum terpikirkan oleh kita, karena belum pernah
        mengalaminya. Sampai tibanya kesempatan meneruskan kehidupan brahma wihara.

Moga-moga bisa menambah wawasan dalam memahami praktek dharma dalam kehidupan, tentang dimensi lain ilmu pengetahuan yang mungkin belum dipahami sepenuhnya,

Robert Yang

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #50 on: 18 February 2012, 05:11:07 PM »
 [at] Robert Yang
Saya kira kutipan dr Brahmajala Sutta di atas sudah jelas bhw Sang Buddha sendiri tidak menjalankan praktek2 yg semacam itu (termasuk ilmu ramal-meramal dan sejenisnya). Bagaimana mungkin para bhikkhu yg adl murid Sang Buddha melakukan praktek yg telah ditinggalkan gurunya?

Trus jika anda mengatakan mereka yg melakukan praktek tsb adl untuk alasan2 yg anda kemukakan di atas, bukankah ini mrpkan pencaharian salah menurut kutipan sutta di atas (saya gak tahu apakah di Vinaya ada melarang para bhikkhu melakukan praktek ini, jadi tidak saya bahas secara Vinaya) terlepas dari apa pun alasannya. Mana yg lebih baik menuruti kata2 Sang Buddha atau mengikuti alasan2 pembenaran spt yg anda kemukakan?
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Robert Yang

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 42
  • Reputasi: 3
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #51 on: 18 February 2012, 07:26:39 PM »
[at] Robert Yang
Saya kira kutipan dr Brahmajala Sutta di atas sudah jelas bhw Sang Buddha sendiri tidak menjalankan praktek2 yg semacam itu (termasuk ilmu ramal-meramal dan sejenisnya). Bagaimana mungkin para bhikkhu yg adl murid Sang Buddha melakukan praktek yg telah ditinggalkan gurunya?

Trus jika anda mengatakan mereka yg melakukan praktek tsb adl untuk alasan2 yg anda kemukakan di atas, bukankah ini mrpkan pencaharian salah menurut kutipan sutta di atas (saya gak tahu apakah di Vinaya ada melarang para bhikkhu melakukan praktek ini, jadi tidak saya bahas secara Vinaya) terlepas dari apa pun alasannya. Mana yg lebih baik menuruti kata2 Sang Buddha atau mengikuti alasan2 pembenaran spt yg anda kemukakan?

Hi Bro ariyakumara,

Pernyataanmu Tidak salah bagi Bikkhu yang menyucikan diri, pekerjaan tersebut adalah pekerjaan rendah. saya juga setuju Bikkhu yang melakukan pekerjaan sebagaimana termuat dalam Brahmajala Sutta melanggar vinaya.

Apalagi bagi Sang Buddha, beliau meninggalkan kehidupan mewah di istana, istri, bahkan potensi menjadi raja Dunia sekalipun ditinggalkan.

YANG SAYA MAKSUD adalah tidak berlaku BAGI UMAT AWAM, yang belum suci atau belum berkesempatan menyucikan diri atau yang paraminya belum  sampai untuk menjalani kehidupan brahmawihara. (saya kutipkan lagi quote penjelasan diatas)


Karena penghidupan sebagai master feng shui adalah penghidupan yang sulit (contoh bagi saya sendiri untuk melayani 1 orang klien perlu follow up antara 3-4 hari, dan belum tentu orang mau percaya, demikian pula pekerjaan ini secara duniawi meski level nya tinggi, kedepannya saya juga hanya menggunakan pengetahuan ini untuk kebutuhan bisnis sendiri, pelayanan kepada orang lain hanya klien lama saja), masih lebih banyak jenis pekerjaan yang secara finansial lebih menjanjikan dan   imbas karmanya lebih rendah.

Salam,

Quote

2.   Pandangan Pekerjaan Rendah dalam Brahmajala Sutta ini berlaku untuk siapa? Apakah untuk Bikkhu ? atau umat Awam?
 
Pandangan ini bagi seorang Bikkhu adalah benar,  karena tidak bermanfaat untuk pencerahan batin, demikian seharusnya pula tidak dilakukan Para Pertapa dan Brahmana yang seharusnya sama sudah melepaskan ikatan keduniawian.

Bila ditakar-takar isi dalam Brahmajala Sutta, sangat sedikit pekerjaan yang bukan dikategorikan sebagai penghidupan salah/rendah seperti pekerjaan bercocok tanam, menjadi raja, guru, dokter, menteri, pegawai pemerintah, dll.
Tetapi bagi umat awam, semua jenis penghidupan yang membawa kebebasan finansial sepanjang tidak melanggar Pancasila, tidaklah dikategorikan penghidupan rendah.


Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #52 on: 18 February 2012, 08:19:47 PM »
sedikit komentar...  :)
Dari Brahmajala Sutta, Digha Nikaya 1 dikatakan:

"Sementara beberapa petapa dan Brahmana memakan makanan pemberian mereka yang berkeyakinan, berpenghidupan dari keterampilan, penghidupan salah seperti membaca garis tangan, meramal dari gambaran-gambaran, tanda-tanda, mimpi, tanda-tanda jasmani, gangguan tikus, pemujaan api, persembahan dari sesendok sekam, tepung beras, beras, ghee atau minyak, atau darah, dari mulut, membaca ujung jari, pengetahuan rumah dan kebun, ahli dalam jimat, pengetahuan setan, pengetahuan rumah tanah, pengetahuan ular, pengetahuan racun, pengetahuan tikus, pengetahuan burung, pengetahuan gagak, meramalkan usia kehidupan seseorang, jimat melawan anak panah, pengetahuan tentang suara-suara binatang, Petapa Gotama menjauhi keterampilan dan penghidupan salah demikian.

disini terdapat kata brahmana, yang merupakan kaum awam pada masa kehidupan sang buddha..
jadi pernyataan tersebut juga ditujukan kepada para kaum awam, bukan hanya bhikkhu bhikkhuni saja..

lalu, mungkin akan muncul pertanyaan "mengapa hanya brahmana?"
ya, memang yang dikatakan hanya brahmana, karena pada masa sang buddha hanya brahmana yang melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang disebutkan diatas..
tidak ada khattiya, vessa, ataupun sudda yang melakukan pekerjaan tersebut pada masa kehidupan sang buddha, tidak seperti zaman sekarang yang setiap orangnya bebas melakukan pekerjaan apapun..

jadi, jika pada masa sang buddha beliau mengatakan "para brahmana", itu artinya semua umat awam jika disamakan dengan zaman sekarang (karena siapapun sekarang boleh membuka praktik demikian, bukan hanya para brahmana)

hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #53 on: 18 February 2012, 10:53:03 PM »
Hi Bro ariyakumara,

Pernyataanmu Tidak salah bagi Bikkhu yang menyucikan diri, pekerjaan tersebut adalah pekerjaan rendah. saya juga setuju Bikkhu yang melakukan pekerjaan sebagaimana termuat dalam Brahmajala Sutta melanggar vinaya.

Apalagi bagi Sang Buddha, beliau meninggalkan kehidupan mewah di istana, istri, bahkan potensi menjadi raja Dunia sekalipun ditinggalkan.

YANG SAYA MAKSUD adalah tidak berlaku BAGI UMAT AWAM, yang belum suci atau belum berkesempatan menyucikan diri atau yang paraminya belum  sampai untuk menjalani kehidupan brahmawihara. (saya kutipkan lagi quote penjelasan diatas)


Karena penghidupan sebagai master feng shui adalah penghidupan yang sulit (contoh bagi saya sendiri untuk melayani 1 orang klien perlu follow up antara 3-4 hari, dan belum tentu orang mau percaya, demikian pula pekerjaan ini secara duniawi meski level nya tinggi, kedepannya saya juga hanya menggunakan pengetahuan ini untuk kebutuhan bisnis sendiri, pelayanan kepada orang lain hanya klien lama saja), masih lebih banyak jenis pekerjaan yang secara finansial lebih menjanjikan dan   imbas karmanya lebih rendah.

Salam,


Oh ya.... Kurang sate sih... :)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #54 on: 18 February 2012, 11:06:23 PM »
sedikit komentar...  :)disini terdapat kata brahmana, yang merupakan kaum awam pada masa kehidupan sang buddha..
jadi pernyataan tersebut juga ditujukan kepada para kaum awam, bukan hanya bhikkhu bhikkhuni saja..

lalu, mungkin akan muncul pertanyaan "mengapa hanya brahmana?"
ya, memang yang dikatakan hanya brahmana, karena pada masa sang buddha hanya brahmana yang melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti yang disebutkan diatas..
tidak ada khattiya, vessa, ataupun sudda yang melakukan pekerjaan tersebut pada masa kehidupan sang buddha, tidak seperti zaman sekarang yang setiap orangnya bebas melakukan pekerjaan apapun..

jadi, jika pada masa sang buddha beliau mengatakan "para brahmana", itu artinya semua umat awam jika disamakan dengan zaman sekarang (karena siapapun sekarang boleh membuka praktik demikian, bukan hanya para brahmana)



Menurut Brahmanadhammika Sutta, Sutta Nipata, pada zaman dahulu para brahmana hidup meninggalkan keduniawian, tidak melakukan mata pencaharian yg salah. Jadi mereka benar2 seorg pertapa dan bukan umat awam. Setelah terjadi kemerosotan, mereka hidup spt umat awam yg melakukan berbagai mata pencaharian. Utk lebih jelas lihat di http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/brahmanadhammika-sutta/
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #55 on: 18 February 2012, 11:48:27 PM »
Menurut Brahmanadhammika Sutta, Sutta Nipata, pada zaman dahulu para brahmana hidup meninggalkan keduniawian, tidak melakukan mata pencaharian yg salah. Jadi mereka benar2 seorg pertapa dan bukan umat awam. Setelah terjadi kemerosotan, mereka hidup spt umat awam yg melakukan berbagai mata pencaharian. Utk lebih jelas lihat di http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/brahmanadhammika-sutta/
yah, memang kalau itu saya tahu, tetapi pada zaman sang buddha, para brahmana sudah menjalani hidup keduniawian, dan bahkan beristri dan berumah tangga, seperti yang tersirat pada ambattha sutta(DN 3)..
lagipula kalau memang mereka petapa, seharusnya sang buddha cukup mengatakan "sementara beberapa petapa dst..." tidak usah ditambah brahmana..
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #56 on: 19 February 2012, 06:52:10 AM »
yah, memang kalau itu saya tahu, tetapi pada zaman sang buddha, para brahmana sudah menjalani hidup keduniawian, dan bahkan beristri dan berumah tangga, seperti yang tersirat pada ambattha sutta(DN 3)..
lagipula kalau memang mereka petapa, seharusnya sang buddha cukup mengatakan "sementara beberapa petapa dst..." tidak usah ditambah brahmana..

Secara umum, dlm tradisi religius India, brahmana menunjuk pada para pertapa yg khusus mengikuti ajaran Veda, sedangkan pertapa (samana) menunjuk pd para non-Brahmanis yg tidak mengikuti ajaran Veda (seperti para pertapa pengikut 7 guru agama pada masa Sang Buddha dan juga para pertapa Buddhis). Jadi ada 2 tradisi pertapaan: tradisi Brahmana dan Samana. Dlm Dhammapada kata "brahmana" (spt dlm Brahmana Vagga) secara khusus menunjuk pada para pertapa yg telah bebas dari kemelekatan, yaitu para Arahat. Jadi tidak pernah dlm tradisi India Kuno, brahmana menunjuk pd umat awam.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #57 on: 19 February 2012, 11:53:41 AM »
Secara umum, dlm tradisi religius India, brahmana menunjuk pada para pertapa yg khusus mengikuti ajaran Veda, sedangkan pertapa (samana) menunjuk pd para non-Brahmanis yg tidak mengikuti ajaran Veda (seperti para pertapa pengikut 7 guru agama pada masa Sang Buddha dan juga para pertapa Buddhis). Jadi ada 2 tradisi pertapaan: tradisi Brahmana dan Samana. Dlm Dhammapada kata "brahmana" (spt dlm Brahmana Vagga) secara khusus menunjuk pada para pertapa yg telah bebas dari kemelekatan, yaitu para Arahat. Jadi tidak pernah dlm tradisi India Kuno, brahmana menunjuk pd umat awam.
lalu, mengapa dalam DN 3 dan 4 terdapat brahmana yang menyatakan diri sebagai umat awam(upasaka) di hadapan sang Buddha??
Quote from: DN 3  2.22
semoga Yang Mulia Gotama menerimaku sebagai siswa awam yang telah menerima perlindungan sejak hari ini hingga akhir hidupku!

ini pernyataan brahmana pokkharasati dalam DN 3..
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #58 on: 19 February 2012, 03:04:20 PM »
lalu, mengapa dalam DN 3 dan 4 terdapat brahmana yang menyatakan diri sebagai umat awam(upasaka) di hadapan sang Buddha??
ini pernyataan brahmana pokkharasati dalam DN 3..

Dlm Aganna Sutta (DN 27) dikisahkan asal-usul kasta brahmana sbb:

Kemudian beberapa makhluk ini berpikir: “Hal-hal jahat telah muncul di tengah-tengah para makhluk, seperti mengambil apa yang tidak diberikan, dan mencela, dan berbohong, hukuman, dan pengusiran. Kita harus menyingkirkan hal-hal jahat dan tidak bermanfaat.” Dan mereka melakukan hal itu. “Mereka menyingkirkan hal-hal jahat dan tidak bermanfaat” adalah arti dari Brahmana, yang merupakan gelar pertama yang diperkenalkan untuk orang-orang demikian. Mereka mendirikan gubuk-gubuk daun di tempat-tempat di dalam hutan dan bermeditasi di dalamnya. Dengan api dipadamkan, dengan penumbuk padi disingkirkan, mengumpulkan makanan untuk makan pagi dan malam mereka, mereka pergi ke desa, kota, atau ibu kota untuk mencari makanan, dan kemudian kembali ke gubuk daun mereka untuk bermeditasi. Orang-orang melihat hal ini dan memerhatikan bagaimana mereka bermeditasi. “Mereka bermeditasi” adalah arti dari Jhàyaka, yang adalah gelar ke dua yang diperkenalkan.’

‘Akan tetapi, beberapa makhluk, tidak mampu bermeditasi di gubuk daun, mereka bertempat tinggal di dekat desa dan kota dan menyusun buku. Orang-orang melihat mereka melihat hal ini dan tidak bermeditasi. “Sekarang orang-orang ini tidak bermeditasi” adalah arti dari Ajjhàyaka, yang adalah gelar ke tiga yang diperkenalkan. Pada masa itu, ini dianggap sebutan yang rendah, tetapi sekarang sebutan ini menjadi lebih tinggi. Inilah kemudian, Vàsettha, yang menjadi asal-usul dari kasta Brahmana, sesuai dengan gelar masa lampau yang diperkenalkan untuk menyebut mereka.


Sesuai dg Brahmanadhammika Sutta, lama-kelamaan kehidupan para brahmana ini menyimpang dari yg seharusnya (yg idealnya). Kasta Brahmana pada zaman Sang Buddha memiliki kehidupan spt umat awam, tidak lagi hanya menyepi di hutan, tetapi memiliki istri dan mempunyai anak, melakukan berbagai pekerjaan. Brahmana Pokkharasati adalah salah satu brahmana yg mengikuti tradisi yg telah menyimpang ini. Krn ia setelah mendengarkan kotbah Sang Buddha menjadi seorang Sotapanna yg telah menghancurkan belenggu keraguan thd Sang Tiratana, ia menyatakan perlindungan kpd Sang Buddha, tetapi tidak menjadi pertapa Buddhis (bhikkhu), melainkan tetap dlm cara hidupnya sbg umat awam spt yg ia lakukan selama ini.

Namun demikian, krn awalnya brahmana menunjuk pada kehidupan yg meninggalkan keduniawian dari para brahmana masa lampau, maka yg dimaksud Sang Buddha dlm Brahmajala Sutta tetap menunjuk pada mereka yg meninggalkan kehidupan duniawi.

Btw dlm Mahaparinibbana Sutta, Sang Buddha mengelompokan 8 perkumpulan makhluk sbb:
"Ananda, delapan [jenis] kelompok ini. Apakah delapan ini? Kelompok Khattiya, kelompok Brahmana, kelompok perumah tangga, kelompok petapa, kelompok para dewa dari alam Empat Raja Dewa, kelompok para dewa dari alam Tiga-Puluh-Tiga Dewa, kelompok màra, kelompok Brahmà.’
Jika Sang Buddha bermaksud memasukkan penjelasan ttg moralitas yg telah ditinggalkan-Nya termasuk utk umat awam, maka seharusnya Beliau mengatakan: "Sementara beberapa pertapa, Brahmana, dan perumah tangga...."

 [at] mods: Kayaknya pembahasan ttg brahmana dlm Brahmajala Sutta ini telah menyimpang dari topik (OOT), jadi mohon dibuat menjadi thread baru saja. Thx....
« Last Edit: 19 February 2012, 03:06:17 PM by ariyakumara »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Buddha, Lu Sheng Yen di Mata Para Suhu Feng Shui
« Reply #59 on: 19 February 2012, 03:08:58 PM »

‘Akan tetapi, beberapa makhluk, tidak mampu bermeditasi di gubuk daun, mereka bertempat tinggal di dekat desa dan kota dan menyusun buku. Orang-orang melihat mereka melihat hal ini dan tidak bermeditasi. “Sekarang orang-orang ini tidak bermeditasi” adalah arti dari Ajjhàyaka, yang adalah gelar ke tiga yang diperkenalkan. Pada masa itu, ini dianggap sebutan yang rendah, tetapi sekarang sebutan ini menjadi lebih tinggi. Inilah kemudian, Vàsettha, yang menjadi asal-usul dari kasta Brahmana, sesuai dengan gelar masa lampau yang diperkenalkan untuk menyebut mereka.[/i]

nah, ini malah bukti yang lebih konkrit lagi kalau asal-usul brahmana itu adalah orang yang telah meninggalkan petapaannya dan menjadi umat awam kembali...

bro ariya, sekarang coba saya tanya, apakah para brahmana beristri dan berumah tangga??

no offense yah..  :)
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_