//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.  (Read 430147 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1185 on: 19 June 2011, 10:35:33 PM »
;D ;D

menurut orang Vegie itu jamur beracun bro.... ^-^

bagaimana dengan teks pali? apakah Pali mengatakan daging babi atau jamur beracun?


teks Pali ya? iya sih menurut teks Pali dikatakan "sūkaramaddava"

Spoiler: ShowHide

arti menurut kamus :
[spoiler]
http://dsal.uchicago.edu/cgi-bin/philologic/contextualize.pl?p.4.pali.209470

Sūkara
Sūkara [Sk. sūkara, perhaps as sū+kara; cp. Av. hū pig, Gr. u(_s; Lat. sūs; Ags. sū=E. sow] a hog, pig Vin i.200; D i.5; A ii.42 (kukkuṭa+), 209; It 36; J i.197 (Muṇika); ii.419 (Sālūka); iii.287 (Cullatuṇḍila & Mahā -- tuṇḍila); Miln 118, 267; VbhA 11 (vara -- sayane sayāpita). -- f. sūkarī J ii.406 (read vañjha˚).
   -- antaka a kind of girdle Vin ii.136. -- maŋsa pork A iii.49 (sampanna -- kolaka). -- maddava is with Franke (Dīgha trsln 222 sq.) to be interpreted as "soft (tender) boar's flesh." So also Oldenberg (Reden des B. 1922, 100) & Fleet (J.R.A.S. 1906, 656 & 881). Scarcely with Rh. D. (Dial. ii.137, with note) as "quantity of truffles" D ii.127; Ud 81 sq.; Miln 175. -- potaka the young of a pig J v.19. -- sāli a kind of wild rice J vi.531 (v. l. sukasāli).

tapi ada versi lain :
[spoiler]
http://www.budsas.org/ebud/ebsut006.htm

In the translation from the Pali script, "SUKARA-MADDAVA" was not translated in the English version [1; 2; 3], although Walshe translated it as "pig's delight" [2]. However, the Vietnamese versions contain the words "na^'m" (mushroom) and "mo^.c nhi~" (edible black fungus) [4; 5; 6]. In some other books, which I forgot the exact titles, the terms "pork meat, boar meat" were used. According to many Pali scholars [1; 2]:
sukara: pig, boar
maddava: delicate, well-liked, soft, tender
So, sukara-maddava may mean:
(1) the tender parts of a pig or boar
(2) what is enjoyed by pigs or boars, which may be referred to a mushroom or truffle, or a yam or tuber.
In some other commentaries, sukara-maddava was also mentioned as a "medicinal plant" in classic Indian medicine, or as "young bamboo shoots trampled by pigs".
All the current scholar monks agree with the meaning of "mushroom or truffle", and I concur with them. According to the monastic rules, the monks are not allowed to eat meat from animals specifically killed to make food for them.
The meaning of sukara-maddava as "pork/boar meat" is thus not appropriate here.


« Last Edit: 19 June 2011, 10:39:00 PM by pannadevi »

Offline pannadevi

  • Samaneri
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.960
  • Reputasi: 103
  • Gender: Female
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1186 on: 19 June 2011, 10:42:14 PM »
wah om kutho jadi modetator yah? ;D.

selamat yah ;D, selamat menjalankan tugas ;D.

Congratz ya bro Kainyn....selamat menjalankan tugas sbg Glomod.... :jempol:

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1187 on: 19 June 2011, 11:18:29 PM »
bagaimana dengan teks pali? apakah Pali mengatakan daging babi atau jamur beracun?



teks Pali ya? iya sih menurut teks Pali dikatakan "sūkaramaddava"

Spoiler: ShowHide

arti menurut kamus :
[spoiler]
http://dsal.uchicago.edu/cgi-bin/philologic/contextualize.pl?p.4.pali.209470

Sūkara
Sūkara [Sk. sūkara, perhaps as sū+kara; cp. Av. hū pig, Gr. u(_s; Lat. sūs; Ags. sū=E. sow] a hog, pig Vin i.200; D i.5; A ii.42 (kukkuṭa+), 209; It 36; J i.197 (Muṇika); ii.419 (Sālūka); iii.287 (Cullatuṇḍila & Mahā -- tuṇḍila); Miln 118, 267; VbhA 11 (vara -- sayane sayāpita). -- f. sūkarī J ii.406 (read vañjha˚).
   -- antaka a kind of girdle Vin ii.136. -- maŋsa pork A iii.49 (sampanna -- kolaka). -- maddava is with Franke (Dīgha trsln 222 sq.) to be interpreted as "soft (tender) boar's flesh." So also Oldenberg (Reden des B. 1922, 100) & Fleet (J.R.A.S. 1906, 656 & 881). Scarcely with Rh. D. (Dial. ii.137, with note) as "quantity of truffles" D ii.127; Ud 81 sq.; Miln 175. -- potaka the young of a pig J v.19. -- sāli a kind of wild rice J vi.531 (v. l. sukasāli).

tapi ada versi lain :
[spoiler]
http://www.budsas.org/ebud/ebsut006.htm

In the translation from the Pali script, "SUKARA-MADDAVA" was not translated in the English version [1; 2; 3], although Walshe translated it as "pig's delight" [2]. However, the Vietnamese versions contain the words "na^'m" (mushroom) and "mo^.c nhi~" (edible black fungus) [4; 5; 6]. In some other books, which I forgot the exact titles, the terms "pork meat, boar meat" were used. According to many Pali scholars [1; 2]:
sukara: pig, boar
maddava: delicate, well-liked, soft, tender
So, sukara-maddava may mean:
(1) the tender parts of a pig or boar
(2) what is enjoyed by pigs or boars, which may be referred to a mushroom or truffle, or a yam or tuber.
In some other commentaries, sukara-maddava was also mentioned as a "medicinal plant" in classic Indian medicine, or as "young bamboo shoots trampled by pigs".
All the current scholar monks agree with the meaning of "mushroom or truffle", and I concur with them. According to the monastic rules, the monks are not allowed to eat meat from animals specifically killed to make food for them.
The meaning of sukara-maddava as "pork/boar meat" is thus not appropriate here.



cc panna , lain kali di translate ya... bagi2 dong pengetahuan dhammanya  ^-^
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1188 on: 19 June 2011, 11:53:22 PM »
hal ini kita bisa pertanyakan karena sekarang kita paham dan mampu berpikir dg benar. tetapi konteks pembicaraan awal adalah ttg tekad tidak makan makanan bernyawa itu telah ada di paritta ini yg akhirnya dijadikan senjata oleh kaum Vegie bahwa bahkan ketika sang Buddha sewaktu masih menjadi Bodhisattvapun SUDAH ber-vegie. ini pula yg dijadikan senjata oleh kaum Vegie di Sri Lanka.

mettacittena,

Saya tidak mempersoalkan kisah mengenai "burung puyuh (Bodhisatta) yang tidak mau memakan cacing". Bagi saya itu tidak istimewa sama sekali. Kalau kita mau membuka mata pada dunia, kita bisa menemukan ratusan "keajaiban" lain yang lebih hebat yang dilakukan oleh berbagai hewan di masa kini.

Burung puyuh bervegetarian itu tidak janggal. Anjingnya paman saya juga bervegetarian, sama sekali tidak mau makan daging.

Yang saya persoalkan adalah: "Bagaimana bisa burung puyuh dapat berbicara? Lalu kalau kita baca di kisah Jataka itu, terlihat sekali bahwa burung puyuh itu punya kecerdasan setingkat dengan manusia. Bagaimana bisa?"

Ada komentar yang ilmiah? ;D

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1189 on: 20 June 2011, 12:33:18 AM »
Kan udah ada translator sekarang. :))
appamadena sampadetha

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1190 on: 20 June 2011, 12:37:18 AM »
Saya tidak mempersoalkan kisah mengenai "burung puyuh (Bodhisatta) yang tidak mau memakan cacing". Bagi saya itu tidak istimewa sama sekali. Kalau kita mau membuka mata pada dunia, kita bisa menemukan ratusan "keajaiban" lain yang lebih hebat yang dilakukan oleh berbagai hewan di masa kini.

Burung puyuh bervegetarian itu tidak janggal. Anjingnya paman saya juga bervegetarian, sama sekali tidak mau makan daging.

Yang saya persoalkan adalah: "Bagaimana bisa burung puyuh dapat berbicara? Lalu kalau kita baca di kisah Jataka itu, terlihat sekali bahwa burung puyuh itu punya kecerdasan setingkat dengan manusia. Bagaimana bisa?"

Ada komentar yang ilmiah? ;D
kek di pelem pelem....jangan kan burung, kambing/sapi juga dulu pernah ada di sutta mana gitu bisa bicara bahkan memahami hukum kamma
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1191 on: 20 June 2011, 12:39:44 AM »
Kan udah ada translator sekarang. :))

=)) Bagaimana dengan soal IQ?

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1192 on: 20 June 2011, 12:40:31 AM »
kek di pelem pelem....jangan kan burung, kambing/sapi juga dulu pernah ada di sutta mana gitu bisa bicara bahkan memahami hukum kamma

Makanya. Saya butuh penjelasan ilmiah! ;D

Spoiler: ShowHide
*kritis sekritis-kritisnya

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1193 on: 20 June 2011, 12:52:35 AM »
kek di pelem pelem....jangan kan burung, kambing/sapi juga dulu pernah ada di sutta mana gitu bisa bicara bahkan memahami hukum kamma


pernah dengar cerita pada jaman buddha kasapa sampai umur berapa manusia hidup?
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.376
  • Reputasi: 42
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1194 on: 20 June 2011, 03:33:13 AM »
Makanya. Saya butuh penjelasan ilmiah! ;D

Spoiler: ShowHide
*kritis sekritis-kritisnya

Jika mau jawaban pasti, ciptakan mesin waktu dan kembali ke jaman dulu.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1195 on: 20 June 2011, 09:09:18 AM »

pernah dengar cerita pada jaman buddha kasapa sampai umur berapa manusia hidup?
kalau masalah usia sih logis aja....dimana kita liat...dulu kakek kakek rata rata usia 80-90....sekarang 65-75 udah K.O...belum lagi penyakit aneh bermunculan,,, dulu mana ada kanker?
menurut saya logis logis aja usia itu....hanya kalau umur manusia 10000 tahun yah susah jg saya percaya...belum liat pribadi sih...
tapi ini kambing/sapi bisa bicara dgn manusia pakai bahasa yg sama? bayangkan kalau anjing jadi berbahasa inggris. ^^
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1196 on: 20 June 2011, 09:38:12 AM »
kalau masalah usia sih logis aja....dimana kita liat...dulu kakek kakek rata rata usia 80-90....sekarang 65-75 udah K.O...belum lagi penyakit aneh bermunculan,,, dulu mana ada kanker?
menurut saya logis logis aja usia itu....hanya kalau umur manusia 10000 tahun yah susah jg saya percaya...belum liat pribadi sih...
tapi ini kambing/sapi bisa bicara dgn manusia pakai bahasa yg sama? bayangkan kalau anjing jadi berbahasa inggris. ^^
Saya membayangkan kalau orang malas belajar, bisa-bisa ditertawakan anjing.

Majikan: Blackie, ambilin koran!
Blackie: Ga ada, boss, hari ini holiday
Majikan: Holidei apa tuh?
Blackie: Hari libur, boss. (Payah banget si Boss, makanya banyak baca donk!)


Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1197 on: 20 June 2011, 09:50:41 AM »
kalau masalah usia sih logis aja....dimana kita liat...dulu kakek kakek rata rata usia 80-90....sekarang 65-75 udah K.O...belum lagi penyakit aneh bermunculan,,, dulu mana ada kanker?
menurut saya logis logis aja usia itu....hanya kalau umur manusia 10000 tahun yah susah jg saya percaya...belum liat pribadi sih...
tapi ini kambing/sapi bisa bicara dgn manusia pakai bahasa yg sama? bayangkan kalau anjing jadi berbahasa inggris. ^^
  mungkin saya punya kutipan sedikit soal umur bro,

Quote
[1] 1.1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.[1] Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthi, di taman Anāthapiṇḍika di hutan Jeta, dalam kawasan gubuk Kareri. Dan di antara sejumlah bhikkhu yang berkumpul di sana setelah makan, setelah menerima makanan, duduk di Paviliun Kareri, terjadi suatu diskusi serius tentang kehidupan lampau, mereka berkata: ‘Beginilah terjadinya di masa lampau,’ atau ‘Begitulah terjadinya di masa lampau.’
1.2. Dan Sang Bhagavā, dengan indria telinga dewa yang melampaui kekuatan manusia, mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Bangkit dari duduk-Nya, Beliau datang ke Paviliun Kareri, duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata: ‘Para bhikkhu, apakah pembicaraan kalian ketika kalian berkumpul? Diskusi apakah yang terhenti karena-Ku?’ dan mereka menceritakan kepada Beliau. [2]
1.3. ‘Baiklah, para bhikkhu, maukah kalian mendengarkan ceramah mengenai kehidupan lampau?’ ‘Bhagavā, sekarang adalah waktunya untuk itu! Yang Sempurna menempuh Sang Jalan, sekarang adalah waktunya untuk itu! Jika Bhagavā membabarkan khotbah tentang kehidupan lampau, para bhikkhu akan mendengarkan dan mengingatnya!’ ‘Baiklah, para bhikkhu, dengarkan, perhatikanlah dengan baik, dan Aku akan berbicara.’
‘Baik, Bhagavā,’ para bhikkhu menjawab, dan Sang Bhagavā berkata:
1.4. ‘Para bhikkhu, sembilan puluh satu kappa yang lalu, Sang Bhagavā, Sang Arahant, Buddha Vipassī yang telah mencapai Penerangan Sempurna muncul di dunia. Tiga puluh satu kappa yang lalu, Buddha Sikhī muncul; pada kappa yang sama muncul Buddha Vessabhū, dan dalam kappa yang menguntungkan saat ini[2], para Buddha, Kakusandha, Konāgamana, dan Kassapa muncul di dunia. Dan para bhikkhu, dalam kappa yang menguntungkan ini, Aku juga muncul di dunia ini sebagai seorang Buddha yang mencapai Penerangan Sempurna.’
1.5. ‘Buddha Vipassī terlahir dari kasta Khattiya, dan dibesarkan dalam keluarga Khattiya; Buddha Sikhī juga demikian; [3] Buddha Vessabhū juga demikian; Buddha Kakusandha terlahir dari Kasta Brahmana, dan dibesarkan dalam keluarga Brahmana; Buddha Konāgamana juga demikian, Buddha Kassapa juga demikian, dan Aku, para bhikkhu, yang adalah seorang Arahant dan Buddha yang mencapai Penerangan Sempurna, terlahir dari kasta Khattiya, dan dibesarkan dalam keluarga Khattiya.’
1.6. ‘Buddha Vipassī berasal dari marga Kondañña; Buddha Sikhī juga demikian; Buddha Vessabhū juga demikian; Buddha Kakusandha berasal dari marga Kassapa; Buddha Konāgamana juga demikian; Buddha Kassapa juga demikian; Aku yang sekarang adalah seorang Arahant dan Buddha yang mencapai Penerangan Sempurna, berasal dari marga Gotama.’
1.7. ‘Pada masa Buddha Vipassī, umur kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun; pada masa Buddha Sikhī, tujuh puluh ribu; pada masa Buddha Vessabhū, enam puluh ribu; pada masa Buddha Kakusandha, empat puluh ribu; pada masa Buddha Konāgamana, tiga puluh ribu; [4] pada masa Buddha Kassapa, dua puluh ribu. Pada masa-Ku, umur kehidupan sangat singkat, terbatas, dan cepat dilalui; jarang sekali bagi siapa pun yang hidup sampai seratus tahun.’
1.8. ‘Buddha Vipassī mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon bunga-trompet; Buddha Sikhī di bawah pohon-mangga-putih; Buddha Vessabhū di bawah pohon–sāl; Buddha Kakusandha di bawah pohon Akasia; Buddha Konāgamana di bawah pohon banyan; dan Aku mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon-assattha’.[3]
sumber :DN 14   Mahāpadāna Sutta Khotbah Panjang Tentang Silsilah
http://dhammacitta.org/dcpedia/DN_14:_Mahapadana_Sutta

logis tidak ya umur sampai segitu?
bisa tidak di buktikan secara ilmiah?
apakah sang buddha hanya menceritakan kebohongan? atau hanya omong kosong belaka?
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1198 on: 20 June 2011, 09:58:04 AM »
  mungkin saya punya kutipan sedikit soal umur bro,
sumber :DN 14   Mahāpadāna Sutta Khotbah Panjang Tentang Silsilah
http://dhammacitta.org/dcpedia/DN_14:_Mahapadana_Sutta

logis tidak ya umur sampai segitu?
bisa tidak di buktikan secara ilmiah?
apakah sang buddha hanya menceritakan kebohongan? atau hanya omong kosong belaka?

bagi nyamuk yg umurnya cuma beberapa hari, adalah mustahil ada manusia yg bisa hidup sampai 60 tahun. logis atau tidak logis hanya karena dibatasi oleh jangkauan pikiran kita yg sangat terbatas

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Pertanyaan kritis mengenai theravada menurut pandangan yg berbeda.
« Reply #1199 on: 20 June 2011, 10:07:22 AM »
bagi nyamuk yg umurnya cuma beberapa hari, adalah mustahil ada manusia yg bisa hidup sampai 60 tahun. logis atau tidak logis hanya karena dibatasi oleh jangkauan pikiran kita yg sangat terbatas

apakah dalam artian, ada hal yang dapat dibuktikan dengan ilmiah dan ada hal yang memang tidak perlu pembuktian ilmiah ya bro, karena segala sesuatu mempunyai keterbatasan dalam pemikiran logis
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma