//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Imejing “Stroke” Terkini  (Read 2776 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline calon_arahat

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 392
  • Reputasi: 26
  • Gender: Female
  • On the journey of life..
Imejing “Stroke” Terkini
« on: 20 February 2009, 10:37:25 PM »
Imejing “Stroke” Terkini
Paulus Rahardjo, consultant radiologist RS MITRA KELUARGA SURABAYA

Pendahuluan
Diagnosis menentukan terapi. Terapi menentukan kesembuhan. Itulah sebabnya
teknologi radiologi diagnostik terus mencari modalitas pemeriksaan radiologi yang
tidak saja dapat membuat diagnosis stroke yang lebih akurat, tetapi juga lebih cepat
dan menghasilkan informasi tambahan yang sangat dibutuhkan untuk metode terapi
yang terkini.
CT scan
CT scan sudah menjadi tulang punggung untuk imejing stroke sejak awal. Selain
mendeteksi stroke, CT dapat menyingkirkan kemungkinan adanya kelainan lain yang
gejalanya menyerupai infarct seperti perdarahan, infeksi, tumor dan malformasi
vaskuler.
Kemajuan teknologi berupa pertambahan jumlah baris detektor dari satu menjadi
enampuluh empat- bahkan lebih- meningkatkan akurasinya dengan meningkatnya
resolusi (gambar lebih tajam). Dengan multiple row detectors, waktu pemeriksaan
jauh lebih singkat. Hal ini memungkinkan pemeriksaan pada penderita yang tidak
bisa tenang. Peningkatan kemampuan workstation untuk melakukan postprocessing,
menambahkan gambar irisan aksial dengan gambar-gambar irisan
coronal dan sagittal untuk konfirmasi lesi-lesi kecil.
Memang tidak semua lesi infarct dini terdeteksi oleh CT scan khususnya 6 jam
pertama setelah onset, tetapi ada tanda-tanda akibat edema sitotoksik -bagian dari
patofisiologi infarct- yang dapat menjadi tanda dini, seperti insular ribbon sign dan
kekaburan struktur anatomis basal ganglia. Khusus pada infarct karena oklusi arteri
cerebri media dapat ditemukan tanda berupa opasitas pada arteri cerebri media
yang tampak pada CT scan.
Pengobatan infarct dengan obat trombolitik dalam waktu tiga sampai enam jam
setelah onset menjanjikan hasil yang baik, tetapi bila area yang terkena sudah lebih
dari sepertiga area teritori arteri cerebri media, maka hasilnya terbukti lebih buruk.
Jadi menentukan luas area stroke sebelum pengobatan trombolitik menjadi sangat
penting.
Dengan hadirnya MRI dengan sensitifitas dan spesifisitas yang lebih tinggi, CT
masih menjadi andalan pemeriksaan stroke karena beberapa alasan, antara lain
ketersediaannya, kemudahannya membedakan infarct dan perdarahan,
kemampunya menentukan luas lesi dan menyingkirkan kemungkinan adanya faktor
non vaskular yang menyebabkan gejala dan tanda yang menyerupai stroke.
Dalam situasi gawat darurat, CT scan menguntungkan karena pemeriksaannya
cepat, tidak terlalu dipengaruhi oleh gerakan penderita yang tidak kooperatif, dan
biaya pemeriksaannya relatif lebih rendah dari MRI.
MRI
MRI konvensional (standard FSE sequences) terbukti lebih spesifik dan sensitif dari
pada CT scan untuk deteksi stroke. Kemampuan tambahan, yaitu DWI (Diffusion
Weighted Image), yang sangat sensitif untuk menangkap gambaran stroke yang
hiperakut.
MRI dengan Gradient Echo imaging dengan mudah mendiagnosa perdarahan
intrakranial. Teknologi MRI saat ini dapat menghasilkan gambar yang relatif tajam
pada penderita yang tidak kooperatif -penurunan kesadaran dan gelisah.
Perfusion Imaging
Dengan CT atau MR, kita dapat memeriksa karakteristik aliran darah ke suatu
bagian otak. Pemeriksaan ini dapat menetukan adanya parenkhim otak yang
mengalami hipoperfusi tetapi belum mengalami kerusakan yang permanen. Area
semacam ini dinamakan “ischemic penumbra”. Adanya bagian yang masih bisa
diselamatkan ini merupakan indikasi untuk melakukan terapi trombolitik baik secara
iv atau dengan metode neurointervensional.
CT angiography
CT angiography (dengan kontras iv.) dapat dilakukan dalam waktu singkat untuk
mengetahui bagian pembuluh darah intra maupun ekstra-kranial yang tersumbat.
Pada perdarahan subarachnoid pada penderita muda, pemeriksaan ini dapat
menemukan sumber perdarahan yang biasanya akibat aneurysma yang pecah.
Pemeriksaan ini juga dapat mendiagnosis dengan spesifik avm untuk keperluan
pengobatan selanjutnya.
Pada kasus stroke dan kelainan-kelainan vaskular dapat dikerjakan MR
Angiography. MRA dengan TOF study tanpa kontras adalah pemeriksaan yang noninvasif,
tetapi akurasinya masih di bawah CT angiography. Salah satu peran besar
dari MRA adalah untuk skrining arteri karotis untuk mencegah stroke di masa yang
akan datang.
Penutup
Peran utama dari alat diagnosis stroke terkini tidak hanya menyingkirkan
kemungkinan penyebab nonvaskular yang menyebabkan gejala yang mirip stroke,
tetapi juga untuk menyingkirkan kemungkinan perdarahan intracranial, menentukan
luas lesi, dan menemukan area yang masih dapat diselamatkan dengan pengobatan
trombolitik. Bila mungkin dapat ditemukan penyebab stroke untuk kepentingan
pengobatan.
CT dan MRI standar, MR diffusion dan perfusion, CT perfusion dan CTA (mungkin
juga MRA) masing-masing punya peran yang penting untuk diagnosis stroke, tetapi
masing-masing juga memiliki keterbatasannya. Pengetahuan tentang keunggulan
dan kelemahan masing-masing dapat membantu untuk menentukan pemilihan
metode pemeriksaan.
Peran dokter spesialis radiologi diperluas dengan memberikan waktunya untuk
konsultasi untuk menentukan modalitas yang paling tepat masing-masing penderita.
Dengan kerjasama yang baik, bersama-sama kita dapat meningkatkan mutu
pelayanan kepada penderita stroke.
The health of my patients will be my first consideration..