//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - Forte

Pages: 1 2 3 [4] 5 6 7 8 9 10 11 ... 1089
46
Keluarga & Teman / Re: masalah keluarga
« on: 15 August 2014, 02:35:48 PM »
Tapi apakah kalau menolak bisa dianggap tidak berbakti karena tidak mau membantu, karena sayasy sudah secara halus mengatakan ikannya masih hidup, np ga beli yg mati saja, tp diblg ga da yg mati. Yg ikan itu enak dsb.
Saya bisa mengerti sedikit banyaknya posisi anda. Sebenarnya postingan saya tadi bertujuan untuk membuka "problem" yang sebenarnya. Dan bisa anda lihat bukan, problem sebenarnya ada di faktor external anda, yaitu orang lain (dalam hal ini keluarga, ortu dsb). ;D ;D

Jadi sebenarnya pertanyaan yang lebih tepat adalah bagaimana cara menyadarkan orang tua / keluarga agar mengikuti ajaran Buddhisme dalam hal ini supaya tidak melanggar sila 1.

Dan jawabannya sebenarnya kembali lagi ke individu masing2. Ada orang tua yang mengerti ada juga orang tua yang tidak mau mengerti. Di sini letak rumitnya. Kalau saya pribadi saya lebih melihat ke "prioritas".

Berbakti pada orang tua / keluarga merupakah hal yang wajib. Jadi memakan ikan/kerang terkadang tidak bisa dihindarkan jika orang tua belum mengerti. Kita tidak punya power dalam hal ini. Daripada memicu pertengkaran dengan orang tua, lebih baik kita mengalah.

Tetapi bukan berarti ini kita hanya berbakti "buta" kepada orang tua.

Hal ini juga perlu kita lihat, misalnya tiap hari keluarga Anda memasak ikan / kerang yang masih hidup, saya pikir ada baiknya anda mengatakan sesekali kita mengganti menu. Masih banyak menu yang berupa daging dari hewan yang sudah mati, yang bisa anda tawarkan sebagai solusi kepada orang tua anda.

Intinya, di sinilah letak kita berusaha mencari win win solution (baca: kompromi) yang tentu berlandaskan pada prioritas. Dalam case ini kita harus sadari tidak mungkin kita bisa menerapkan idealisme anda mengenai Buddhisme. Dan ini murni pendapat pribadi dari orang awam yang tidak mengerti Buddhisme ;D


47
Keluarga & Teman / Re: masalah keluarga
« on: 15 August 2014, 01:55:06 PM »
Saya pikir anda perlu memilah2 step by step kejadian untuk menjawab permasalahan anda.
Kalau diilustrasikan urutan kejadian seperti ini :
1. Ke pasar
2. Beli sayur
3. Beli ikan sekarat<= Tidak bisa menolak
4. Membunuh dan memasak ikan
5. Merasa bersalah dan tidak nyaman
6. Bagaimana baiknya ?

Point permasalahan anda sebenarnya bukanlah di nomor 5 dan 6, melainkan di nomor 3.
Jika anda bisa menolak, tentu otomatis no. 4 - 6 tidak akan terjadi bukan ?
Jadi dalam hal ini jika anda ingin menyelesaikan masalah anda, selesaikan di bagian root cause ;D daripada memusingkan di bagian akhir.

Intinya yang perlu anda tanyakan, apa yang harus anda lakukan agar tidak membeli ikan hidup. Kembali lagi pada hidup adalah pilihan.

- Apakah makan ikan/kerang itu suatu kewajiban / pilihan ?

Semoga bisa mendapatkan esensi dari apa yang saya sampaikan ;D

48
Buddhisme untuk Pemula / Re: Pertanyaan aja
« on: 13 August 2014, 12:46:08 PM »
mo nanya lg nih

pattidana begitu kalo mnrt tripitaka penjelasanny gmana??

kalau mau bahas mengenai pattidana.. coba ikuti pembahasannya di sini :

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,19154.0.html

49
Buddhisme untuk Pemula / Re: Pertanyaan aja
« on: 07 August 2014, 10:08:39 AM »
ga makin gede sptnya tp cuman heran tujuannya buat apa
tujuannya tergantung sih.. apa motifnya.. kalau saya pribadi apa pun ukurannya ya sama saja.. hanya membantu visualisasi saja dan menghormati sifat2 kualitas Buddha itu sendiri..

jadi kalau ditanya :
1. apa harus gede ? tidak harus.
2. kenapa harus dibantu visualisasinya ? ini hanya pendapat saya pribadi, terkadang lebih gampang bagi saya dengan metoda visualisasi agar pikiran tidak melayang2.. dan fokus pada objek
3. lalu kalau gak harus gede kenapa dibikin segede "gaban" ? ini banyak jawabannya tergantung individu, tapi saya melihat tidak ada salahnya.. dan bagus juga buat simbol kota atau objek wisata seperti :

- Patung Big Buddha di Phuket
- Patung Cristo Redentor (Kristus Penebus) di Rio de Jainero
- Patung Daibutsu di Jepang


50
Buddhisme untuk Pemula / Re: Pertanyaan aja
« on: 06 August 2014, 11:03:16 AM »
ati ati, kekuatannya imba =))

ikut sundul aja, apa kabar nih =))
baik.. :)) lagi nunggu hunter x hunter terbaru, harusnya hari ini keluar :))



51
Buddhisme untuk Pemula / Re: Pertanyaan aja
« on: 06 August 2014, 10:01:56 AM »
Salam kenal buat senior2, mo nanya nih... katanya buddha ga menyembah berhala tapi kenapa di tempat2 ibadahnya ada patung2 segede gaban?

Lalu candi itu sbnernya tempat apaan?
wah.. raja semut chimera menyerang dc :))

sebenarnya kalau dipikir secara logika pertanyaannya, ada bbrp hal lagi yang perlu ditanyakan dulu kepada TS nya..

1. apakah menghormati sesuatu benda mati = menyembah berhala ? jika iya, berarti kita berhala pada bendera donk ?
umat muslim berhala pada ka'abah karena menyembah ka'abah, umat nasrani berhala pada salib karena menyembah salib ?
2. masih meyangkut soal objek, apakah semakin besar benda tersebut berarti berhalanya makin besar ? katakanlah bendera diletak di mobil atau gantungan salib ada di mobil menandakan berhalanya lebih kecil dibanding bendera di tiang / salib yang ada di gereja ?

jika TS sudah bisa menjawab pertanyaan di atas.. berarti sebenarnya TS sudah menyadari bahwa pertanyaannya sudah bisa dijawab sendiri ;D

52
Kesehatan / Re: Dead to the World - Cerita tentang terjebak stroke
« on: 12 June 2014, 09:13:27 AM »
locked in syndrome memang menyeramkan.. pas baca ini.. iseng2 google.. dan ternyata ada film yang menceritakan tentang locked-in syndrome .. "The Diving Bell and the Butterfly"

tapi sekarang kedokteran sudah mengembangkan cara "komunikasi" bagi pasien "locked-in" dengan dengusan..

Seven months ago, a 51-year-old woman known only to the public as patient LI1 suffered a severe stroke and lost her ability to communicate with the outside world. She couldn't even blink her eyes. But now, thanks to a new technology, the woman can write long, emotional e-mails to her loved ones just by sniffing.

Like many quadriplegics, patient LI1's stroke damaged a region high up on her spinal column, paralyzing her from the neck down. But LI1's injury was so extensive that she also lost the ability to speak. Such patients are referred to as "locked-in" because they can't communicate with the outside world, even though their brain functions normally. Some can blink to answer simple yes or no questions or even string words together by picking out letters as someone recites them (as in the case of Jean-Dominique Bauby, author of The Diving Bell and the Butterfly). But this isn't an option for Patient LI1.

So neurobiologist Noam Sobel of the Weizmann Institute of Science in Rehovot, Israel, turned to sniffing. He and colleagues had been studying the human sense of smell and had developed a device, which looks like the oxygen tubes patients wear in the hospital, that releases an odor when a subject sniffs forcefully. Sobel's team soon realized that the device could be configured to respond to various types of sniffing, such as sniffing harder or softer. And that meant it could have applications for locked-in patients. "We thought you could use this sniff to control anything, " Sobel says. "You could even fly a plane."

To test the idea, the researchers hooked test subjects up to the device and measured their air flow during various types of sniffing. The team then wrote two computer programs that translate these sniffs into typing and wheelchair movement. In the typing program, a virtual keyboard appeared on the screen, and volunteers could select a highlighted letter by, say, sniffing once. In the wheelchair program, the direction (in or out) and timing of sniffs determined the direction the wheelchair moved. Two consecutive sniffs inward sent the chair forward, for example, and a big sniff in followed by a big sniff out would turn the chair to the right.

Once they had perfected the software, the researchers studied how well 36 participants used the sniffing technology to type out phrases such as "comfortable and easy to use" or make a coordinated K-turn near a car. The team found that, with practice, healthy patients were able to type sentences and navigate a wheelchair by sniffing as well (though not as fast) as they were able to using their hands.

Wheelchair

This item requires the Flash plug-in (version 8 or higher). JavaScript must also be enabled in your browser.

Please download the latest version of the free Flash plug-in.

Sniffing to the rescue. A healthy, non-paralyzed subject uses sniff technology to navigate a wheelchair.
Credit: Noam Sobel, Weizmann Institute of Science in Rehovot, Israel
Encouraged, Sobel and colleagues then tested the technology on quadriplegic and locked-in patients. They found that 10 out of 10 quadriplegic patients, one nearly locked-in patient with some signs of twitching below the neck, and two out of three locked-in patients used the typing program without much difficulty, increasing their speed and accuracy with each use. (A few of those patients are now Sobel's e-mail buddies, sending him lengthy letters about how life has changed since they've been able to communicate.) With the wheelchair program, a quadriplegic patient moved the wheelchair as well as a healthy, non-paralyzed person could, the researchers report online today in this Proceedings of the National Academy of Sciences.

This technology is a "creative, worthwhile tool" that could help solve the problem of patients who can't blink to communicate, says neurobiologist Miguel Nicolelis of Duke University in Durham, North Carolina. However, Nicolelis says, it's not without limits. "If a patient loses control of the cranial nerves, as is sometimes the case, they wouldn't be able to control the soft palate to sniff."

source : http://news.sciencemag.org/brain-behavior/2010/07/locked-patients-can-follow-their-noses


53
Kesehatan / Re: [ask]direbus, dibubukan, atao makan langsung ?
« on: 16 May 2014, 03:03:46 PM »
Klo boleh tau bro Forte, yang digunakan sebagai bahan penelitian itu bagian apanya? buah, batang, daun, akar?
dan dosisnya brp? jika berkenan monggo dishare.. :D
IMHO dari pengalaman juga buah belimbing wuluh emg terbukti sebagai anti hipertensi, namun begitu perlu dipertimbangkan bagi pasien dengan keluhan lambung akut seperti GERD karena dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan bagi lambung, bisa dicari alternatif herbal lain seperti ketimun _/\_
CMIIW
tidak terlalu ingat.. ;D karena penelitian itu dilakukan oleh teman gw.. 1 tingkat di atas gw.. jadi kebetulan pernah ikutan di seminar hasilnya..

yang gw ingat.. yang digunakan adalah air perasan buah belimbing wuluh.. dan hewan percobaannya menggunakan mencit yang sudah diinduksi aloxan dan dibebani dengan glucose.. sayang sekali u/ dosisnya.. udah gak hafal ;D


54
Kesehatan / Re: [ask]direbus, dibubukan, atao makan langsung ?
« on: 12 May 2014, 07:56:05 PM »
thx bro forte....

konon coca cola juga dibuat oleh dokter yg meresepkan sejenisa obat batuk...
dan ini hari menjadi minuman favorite sedunia...


apakah dgn pengetahuan dan kepintaran bro forte...
daun blimbing dpt dijadikan minuman karna
memiliki khasia menurunkan tekanan darah maupun gula darah ?....

 _/\_

klo itu tidak, bagaimana dgn produk inovasi lainnya dari seorang apoteker ? :D
hahaha.. bro cumpol.. ilmu gw masih cetek.. belum mampulah bikin produk inovasi ;D

55
Kesehatan / Re: [ask]direbus, dibubukan, atao makan langsung ?
« on: 11 May 2014, 03:30:47 PM »
sejujurnya kurang tahu.. tapi ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan :
- panasnya suhu. Suhu yang digunakan untuk meng-extract juga harus cukup panas agar zat yang diinginkan bisa keluar dari daunnya. Dan kurang tahu apakah suhu yang dihasilkan dari panas terik matahari cukup panas untuk mengeluarkan zat khasiat dari daun ?
- lamanya pemanasan. Pemanasan yang terlalu lama bisa juga merusak zat berkhasiat yang ada. Ditambah lagi terlalu lama direndam dalam air bisa juga menjadi faktor yang bisa merusak senyawa yang ada..

terlepas dari itu.. belimbing wuluh itu berkhasiat bukan hanya obat hipertensi. kalau tidak salah dulu teman kuliah saya ada yang meneliti sebagai obat diabetes. Jadi ada baiknya hati2 dalam konsumsi, takutnya gula darah bisa jadi drop.

56
Seremonial / Re: Happy Birthday to Cumi Polos (Sacheng) ;D
« on: 11 May 2014, 02:44:40 PM »
:))
happy bestday cumpol..

57
Kesehatan / Re: [ask]direbus, dibubukan, atao makan langsung ?
« on: 09 May 2014, 11:13:28 AM »
apakah khasiatnya akan berubah kalau daun belimbing wuluh 7 tangkai tsb :

1. dimakan langsung
2. dikeringkan kemudian dihaluskan dan dibuat kapsul
3. bagaimana dgn khasiat teh celup belimbing wuluh

karna merebus 5 gelas air menjadi 3 adalah lama sekali !
apa yg didapat dgn merebus air 5 gelas menjadi 3 ?

ini baru dugaan ya.. kenapa kalau bisa simple kenapa harus ribet diseduh dll ?

1. Tidak terserap 100%.
Terkadang zat berkhasiat itu terdapat di dalam sel. Jadi kalau dimakan langsung, bisa jadi nanti fungsinya hanya sebagai serat, tidak terserap 100% karena sistem pencernaan manusia "tidak secanggih" sapi dan perut cuma 1 bukan 4 ;D

2. Tidak murni dan tidak semuanya bermanfaat
Dalam 1 daun itu ada berbagai macam zat.. katakanlah ada zat A, dan zat B. Sebenarnya yang kita inginkan itu hanya zat A. tapi karena kita makan daunnya zat B pun ikutan.. jadi tidak murni dan tidak bermanfaat kalau konsumsi zat B. Dan dengan menggunakan pelarut maka bisa terpisah mana yang penting dan tidak.. walau terkadang tergantung pelarutnya juga tidak bisa murni 100%

Makanya biasanya kalau mau dikeringkan.. biasanya sudah di-"extract" dulu agar yang keluar hanya zat yang diinginkan.. baru dikeringkan..

Dan kenapa perlu diseduh dari 5 gelas menjadi 3 gelas.. agar meningkatkan konsentrasi zat dalam cairan. Konsentrasi zat meningkat tentu khasiat yang diinginkan juga bisa tercapai

adakah cara mudah menyerap zat2 inti dari daun tsb dgn jalan tampa merebusnya..?
sebenarnya dihaluskan dan dimakan langsung merupakan cara mudah.. saran dari cumpol itu benar.. cuma kendalanya di sini :
andaikan dengan merebus hanya butuh 10 lembar daun.. untuk capai khasiat tertentu.. kalau dimakan langsung bisa jadi perlu makan 20 lembar untuk capai khasiat yang sama.. Dan mana yang lebih baik ? konsumsi 10 lembar / 20 lembar ? Dan ingat zat itu sebenarnya toksik kalau dalam jumlah terlalu besar.. kasian juga kinerja hati dan ginjal yang menjadi berat.

Dan apakah hanya dengan merebus dengan air ? Tidak juga.. bisa saja dengan extraksi alkohol, aseton, chloroform dll tergantung kebutuhan.

58
Jurnal Pribadi / Re: note
« on: 29 April 2014, 02:48:43 PM »
udah coba lagi.. di firefox, chrome, opera.. semua gagal ;D

59
Studi Sutta/Sutra / Re: Tripitaka - Tipitaka
« on: 28 April 2014, 09:46:57 AM »
mungkin yg benar kita perlu membedakan koridor sektenya supaya kgk kecampur2. jadi sah2 saja kalau mau vegetarian karena dia mengikuti sekte yg menganut vegetarian.
Setuju...

Hal ini sangat perlu dipertegas. Buddhisme ini sudah mengalami banyak perkembangan dan asimilasi dengan kebudayaan setempat dan akibatnya memunculkan banyak sekte. Sekte Mainstream : Theravada, Mahayana, Vajrayana.

Dan kembali lagi ke bro Kelvin ingin mendalami sekte yang mana. Theravada bisa dikatakan tidak ada anjuran dalam vegetarian. Dalam Mahayana / Vajrayana bisa jadi ada anjuran vegetarian. Jadi dari sini saja bisa dilihat bahwa ada perbedaan di masing-masing sekte yang hendaknya kita hargai.

Dan perlu juga diingat di forum ini ada yang mendalami Theravada, ada yang mendalami Mahayana, dsb. Jadi jawaban bisa berbeda2 tergantung pemikiran masing2. Dan jika ingin mencari mana yang paling benar. Bisa dikatakan semua benar. Jika ingin mencari yang paling murni yang ajaran langsung dari Sang Buddha ? Bisa dikatakan tidak ada juga.

Intinya dari postingan saya, ada beberapa hal yang bisa direnungkan :
1. Bro Kelvin ingin mendalami yang mana ? Passionnya di mana ? Jika ingin mendalami Theravada, silakan fokus di Ti Pitaka, jika ingin mendalami Mahayana, silakan dalami di Tri Pitaka. Termasuk juga ajaran vegetarian / tidaknya
2. Jika ingin mencari mana yang paling benar.. mungkin lebih menarik mencari persamaan dari sekte. Bisa lirik2 di thread Buddhisme Awal.

Pesan Moral : Semangka ada yang berdaging buah merah dan kuning. Ada juga yang bentuknya bulat dan kotak. Jika dicari mana semangka yang paling benar apakah merah / kuning, kedua2nya benar2 nyata dan benar2 semangka dan diakui juga sebagai "Semangka". Jadi kadang "lebih manis" untuk melihat persamaan dan membiarkan perbedaan itu sebagai suatu "kekayaan" kultural. Yang tentunya harus sesuai dengan syarat dan ketentuan berlaku ya

Just my 0.02 $ ;D

untuk TS: ShowHide

jika April kemarin baru ultah : Happy Belated B'day ;D



60
Jurnal Pribadi / Re: note
« on: 24 April 2014, 11:20:44 AM »
aneh.. saya coba isi petisi dari kemarin dan sampai hari ini.. errornya tetap exist : "Terjadi kesalahan pada saat mengirimkan formulir anda, silahkan coba lagi nanti"

Pages: 1 2 3 [4] 5 6 7 8 9 10 11 ... 1089