//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Vegie=tidak makan OR tidak memiliki nafsu untuk makan makhluk bernyawa?  (Read 12560 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline vozman

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 6
  • Reputasi: 0
Yes...untuk memulai topik di vegetarian
selalu timbul pertanyaan di benak saya....
Vegie=tidak makan OR tidak memiliki nafsu untuk makan makhluk bernyawa?

karena faktanya ada
daging buatan.....khusus untuk orang vegetarian....
ada bebek buatan,etc

sekedar share pengalaman saja
kebetulan ortu pernah vegetarian bersih...sih....sih sampe telor, susu pun gk bole
otomatis makanan di rumah jadi serba vegetarian....
tapi.....

karena baru mulai vegetarian....
ortu suka beli....
bebek peking vegetarian.....
daging babi merah vegetarian....
pokoknya semua serba vegetarian....

bahakan saat diajak ke tempat temen ortu juga di suguhkannya malah SHABU" vegetarian
ada cumi" udang", etc" vegetarian

WEW....jd binggung kan

finally saya pun discuss ma ortu maksudnya kita vegetarian ni sini apa konteksnya?
tidak makan OR tidak memiliki nafsu untuk makan makhluk bernyawa?

karena kalo untuk tidak makan yg bernyawa tentu suah bener sekali.....
tapi kalo masalah nafsu....brarti tetap ada kan?
lagipula sisi minusnya makan yg buat nafsu tsb....
1.LBH MAHAL dari pada bebek peking asli, shabu" asli, ayam asli :p
2.TIDAK SEHAT karena tetep aja buatan...and ada obat"an
3.TETAP ada nafsu untuk makan yg bernyawa kan...

alhasil besok"nya kita makan tahu tempe and sayur mayur d yg lbh fresh :D
meski di kulkas tetep ada si yg dagin" buatan itu....

NAH....

menurut teman"
sebenarnya konteks vegetarian itu apa ya?????
-Victor

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Ini saya dapatkan dari forum sebelah.. :D

Bagus juga isinya :p

Quote from: Vegetarian
Namo Buddhaya,

Ini saya dapat dari website KMBUI, bagus sekali isinya:

Vegetarian, Boleh, Atau Tidak?
oleh: Yenny (FE 2000)

Banyak orang yang keliru dengan kata vegetarian yang dikira berasal dari kata vegetable (sayur-sayuran), yang benar adalah vegetarian berasal dari Bahasa Latin, 'vegetus' yang berarti 'aktif, yang hidup, teguh, bergairah, dan kuat'. Di Inggris, kata veget sempat dipakai untuk mengatakan seseorang yang kuat dan sehat.

Istilah 'vegetarianism' muncul pertama kali sekitar tahun 1847. Namun sebenarnya pantangan memakan makanan yang berasal dari daging hewan segar adalah salah satu ajaran dari ahli filsafat Pythagoras, yang kemudian diikuti oleh Plato, Epicurus, Plutarch, dan ahli filsafat lainnya. Dalam buku "The Vegetarian Alternative, USA: Rodale Press Emmaus", yang ditulis oleh Victor Stephen Sussman, mengatakan bahwa orang-orang Inggris dan Amerika sudah mengenal vegetarian sejak tahun 1840 atas prakarsa dari Pendeta Sylvester Graham, Ellen White (salah seorang pendiri gereja 'Advent Hari Ke-7), dan John H. Kellog (ahli bedah dan pendiri Sanatorium Battle Creek). Di India dan Tiongkok, vegetarianism sudah ada jauh sebelum masehi. Di India sendiri, vegetarianism sudah dilakukan dengan sangat ketat oleh pengikut Jainism, sekte Hindu tertua di India, dimana mereka bertujuan untuk menghormati dan mengasihi semua makhluk hidup.

Buddha Gotama seringkali menghadapi masalah vegetarianism ini. Yang pertama adalah dari Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha yang terkenal ambisius dan jahat. Devadatta mencoba mengadu domba Sangha dengan mengajukan lima aturan kebhikkhuan kepada Sang Buddha agar diterapkan oleh Sangha, yakni bhikkhu hanya hidup dari dana yang diterima, tidak boleh memakan ikan atau daging, selamanya harus hidup di hutan, mengenakan jubah dari bekas mayat atau sampah, dan hidup di bawah pohon. Lima aturan ini menyulitkan Sang Buddha untuk memutuskannya, Devadatta yakin jika Sang Buddha menolak permintaannya, maka akan banyak bhikkhu yang mendukungnya serta menyatakan bahwa Sang Buddha tidak welas asih (menolak vegetarian) dan senang hidup dalam kemewahan. Sedangkan apabila Sang Buddha menerimanya, maka berarti Sang Buddha menerapkan pola menyiksa diri.

Menanggapi hal ini, Sang Buddha dengan penuh kebijaksanaan menyatakan bahwa bhikkhu yang menyenangi vegetarianism boleh melakukannya. Beliau tidak secara tegas menyatakan menolak atau menerima hal tersebut sebagai suatu keharusan. Berdasarkan keputusan Sang Buddha ini, sangat jelas bahwa vegetarianism sebenarnya bukan bagian resmi dalam Dharma Vinaya. Vegetarianism bukanlah pasport mencapai kesucian dan kebebasan sejati (Nibbana). Dengan kata lain, apakah vegetarianism dilaksanakan atau tidak, seseorang tetap mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mencapai kesucian dan Nibbana.

Selain masalah Devadatta, Sang Buddha pun pernah menghadapi masalah tentang vegetarianism dengan Nigantha Nathaputta, yang dikenal sebagai Mahavira, pemimpin Jainism. Ia seringkali mencemooh Sang Buddha dengan berkata, "Pertapa Gotama makan daging yang disiapkan bagiNya dengan mata kepalaNya sendiri." Cemoohan ini kemudian disanpaikan oleh kaum Brethen kepada Sang Buddha. Mendengar ini Sang Buddha menjawab, "Ini bukan pertama kalinya, Brethen, bahwa Nathaputta mencemooh aku karena Aku makan daging yang disediakan bagiKu, dia melakukannya seperti pada masa lampau."

Kemudian Beliau menceritakan tentang suatu kehidupan yang lalu (Telovada Jataka) dimana Sang Buddha dilahirkan sebagai seorang Brahmana, Brahmadatta menjadi Raja Benare, dan Nathaputta sebagi orang kaya. Suatu waktu Brahmana turun dari Himalaya dan pergi ke kota untuk meminta dana makanan, orang kaya ini berniat untuk mengganggunya. Ia membawa Brahmana ke rumahnya, mempersilakan duduk, dan menyajikan ikan, dan berkata, "Makanan ini disediakan untukmu dengan membunuh makhluk hidup. Ini bukan kesalahanku tetapi kesalahanmu."

Menjawab hal ini Bodhisatva berkata, "Pembunuhan yang kejam, dimasak, dan disediakan untuk dimakan. Dia menjadi kotor oleh dosa dengan memakan daging." "Pembunuhan ini dilakukan untuk menghidupi anak dan istri. Namun, jika dimakan dengan hati yang suci, tidak ada dosa yang diperbuat." Jadi, dapat dikatakan bahwa membunuh merupakan suatu kesalahan tetapi bukan kesalahan yang memakan daging. Para bhikkhu diizinkan untuk makan makanan apapun sepanjang apa yang dilakukannya tanpa disertai kesenangan atau nafsu. Sang Buddha tidak mempunyai hak untuk mencegah siapa saja untuk melakukan pembunuhan, seseorang dapat melakukan apa saja dan bertanggung jawab terhadap akibat dari perbuatannya itu.

Sang Buddha bersabda, "Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, kepada yang berkaki dua pun Aku memiliki cinta kasih. Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk berkaki empat, kepada yang berkaki banyak pun Aku memiliki cinta kasih." (Anguttara Nikaya, II,72).

"Bila seseorang memiliki pikiran cinta kasih, ia merasa kasihan kepada semua makhluk di dunia, yang ada di atas, di bawah, dan di sekelilingnya, tak terbatas di mana pun." (Jataka, 37).

Dalam banyak kejadian, Buddha Gotama juga menjelaskan bahwa pembunuhan adalah perbuatan yang tidak baik (akusala kamma) dan perdagangan daging (mamsa vanijja) adalah salah satu dari lima jenis perdagangan yang seharusnya dihindari oleh umat Buddhis. Untuk para bhikkhu, Sang Buddha mengatakan di manapun mereka berada, seorang bhikkhu dalam Dhamma Vinaya selalu mengembangkan cinta kasih (metta), belas kasihan (karuna), simpati (mudita), dan keseimbangan batin (upekkha) bagi semua makhluk. Jika seorang perumah tangga mengundang mereka untuk makan, mereka akan menerimanya dengan hati-hati apa saja yang disediakan bagi mereka.

Selain itu, Sang Buddha juga menjelaskan bahwa siapa saja yang sering membunuh makhluk hidup untuk dipersembahkan bagi Sang Tathagata atau murid-muridNya, akan menimbun keburukan; sebelum mempersembahkan dana, mereka berkata, "Pergi dan tangkaplah makhluk hidup." Waktu itu, ketika mereka dibunuh mereka mengalami kesakitan dan penderitaan. Kemudian mereka mempersembahkan kepada Tathagata dan murid-muridNya apa yang tidak diperkenankan untuk mereka lakukan.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa hewan yang dibunuh (oleh dirinya sendiri atau orang lain) dan kemudian dipersembahkan sebagai pengabdian (udissa-mamsa) adalah makanan yang tidak diperkenankan bagi seorang bhikkhu, sedangkan daging atau ikan yang dibeli oleh umat yang saleh dari pasar, yang dijual sebagai konsumsi umum (pavatia-mamsa) adalah makanan yang diperkenankan oleh Sang Buddha, dan bisa diterima dan dimakan oleh muridNya.

Akhirnya, keputusan ada di tangan kita sendiri, apakah akan menjalankan vegetarian atau tidak? Sang Buddha sudah cukup menjelaskan di atas, tinggal bagaimana kita menerapkannya karena apa yang kita lakukan, kita sendiri yang akan menerima akibatnya.

Dikutip dari:
1. Issues of Vegetarianism: 'Are You Herbivore or Carnivore?' oleh Jan Sanjivaputta
2. Tiga Guru-Satu Ajaran oleh Sutradharma Tj. Sudarman, MBA
[FF]

Dari sebuah milis Buddhis:

Pertanyaan yang menarik sekali, memang di sini ada beberapa sudut pandang yang mana semuanya saya kira masuk akal dan membentuk pandangan Buddhisme secara utuh.

Pandangan pertama

Marilah kita bedakan antara memakan daging dan membunuh. Memakan daging dan membunuh adalah dua hal yang amat berbeda. Agama Buddha bukanlah seperti agama non Buddhis yang berpandangan dualisme yakni membeda-bedakan seluruh tindakan yang ada sebagai "baik" dan "buruk". Jadi agama-agama non Buddhis itu bagaikan suatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang mana menggariskan hal-hal yang tidak boleh dilakukan (atau tindakan buruk/ dosa) dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Pelanggaran dari itu akan dihukum dalam suatu penjara abadi yang menurut agama-agama non Buddhis dinamakan neraka. Buddha Dharma bukanlah demikian, pembunuhan tidak dianjurkan di dalam agama Buddha bukanlah dengan melihat pada tindakannya, melainkan pada motivasi di belakang suatu tindakan dilakukan yang mana menurut saya hal tersebut lebih masuk akal. Jadi pembunuhan tidak dibenarkan dalam Agama Buddha, lebih dikarenakan lobha, dosa, dan moha yang melatar belakangi pembunuhan itu.

Tetapi kalau kita membaca UPAYAKAUSALYA SUTRA, maka ada pembunuhan yang dilatarbelakangi cinta kasih, yang hanya dapat dilakukan seorang Boddhisattva. Jadi seolah-olah seorang Bodhisattva melanggar sila, tetapi demi menyelamatkan banyak makhluk hidup dan dilandasi metta karuna. Maka ia tidak melakukan akusala karma. Singkatnya suatu tindakan yang nampaknya buruk tetapi kalau melihat motivasinya, maka bisa saja tidak lagi nampak buruk, demikian sebaliknya, tindakan yang nampak baik, namun kalau melihat motivasinya bisa saja nampak berlawanan.

Sebagai contoh adalah seseorang yang berdana makanan untuk banyak orang, tetapi ternyata motivasinya adalah untuk mencari nama atau mencari kehormatan pribadi balaka, maka langsung saja kita menyadari bahwa tindakan itu tidak lagi baik atau sudah kehilangan maknanya. Jadi kesimpulannya tindakan harus dilihat motivasinya.

Kita kembali ke pokok pembahasan kita. Memakan daging tidaklah disertai dengan loba (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (pandangan salah), dan karenanya bukanlah suatu hal yang tercela. Kita makan daging sapi bukanlah dengan perasaan benci akan sapi tersebut, hanya karena kita lapar dan memang sudah tersedia atau sapi tersebut memang sudah mati.

Lain halnya dengan jikalau kita misalnya melihat sapi masih hidup, lalu karena kita ingin makan sapi, maka kita memerintahkan orang membunuhnya, maka tindakan kita itu sudah disertai dengan sikap loba atau keserakahan, maka tentu saja tindakan itu bukanlah tindakan yang bajik dan merupakan tindakan yang sangat tercela. Membunuh sendiri atau melalui orang lain sama saja tercelanya.

Mungkin kita bisa berkilah bahwa tindakan kita itu tidak disertai kebencian, tetapi hal itu tidaklah masuk akal karena hal demikian hanya bisa dipraktekkan oleh para Bodhisattva, bagi makhluk yang masih diliputi kilesa seperti kita tidaklah mungkin mempraktekkan apa yang ada di UpayaKausalya Sutra tersebut, karenanya kita tetap harus menjauhi pembunuhan (panatipatta veramani sikhapadang samadiyani).

Kesimpulan: Pembunuhan dan makan daging adalah beda.

Pandangan kedua

Bagi seorang Buddha atau yang telah mencapai kesucian, maka sudah tidak ada dualisme, jadi makan daging dan tidak makan daging sudah tidak ada bedanya lagi.

Jadi bagi seorang yang telah bebas tidak ada lagi sikap membeda-bedakan. Yang mana tentu saja bagi kita yang masih belum mencapai kesucian sikap membeda-bedakan kita masih besar. Kita cenderung menyenangi orang yang cantik atau tampan dan tidak menyukai atau menjauhi orang buruk. Kita lebih suka berkawan ke orang yang kaya daripada yang miskin. Karenanya pendapat saya pribadi kita tidak atau belum pantas meniru Sang Buddha, sebab itu kita sebagai umat awam yang masih diliputi kekotoran batin ada baiknya mengurangi makan daging, kalau belum dapat meninggalkan makan daging sama sekali. Tetapi yang pasti kita seperti pandangan pertama tetap seharusnya menjauhi pembunuhan atau minim mengurangi pembunuhan, termasuk nyamuk sekalipun atau asal jangan main tepuk.Memakai lotion anti nyamuk adalah lebih baik dari memakai insektisida seperti Baygon.

Kesimpulan: Sang Buddha sudah terbebas dari dualisme, karena itu pertanyaan daging dan bukan daging adalah tidak releven lagi.

Pandangan ketiga

Menyoroti dari segi praktek, ada dua pandangan praktek spritual utama sekenaan dengan makan daging dan tidak makan daging serta hubungannya dengan pembunuhan.

Praktek pertama adalah untuk mengikis habis pandangan membeda-bedakan serta kemelekatan, di sini sang praktisi tidak membeda-bedakan apapun juga baik itu pakaian, makanan, atau tempat tinggal. Baik atau buruk bagi mereka sama saja. Demikian juga bagi mereka makan daging dan bukan daging sama saja. Mereka hendak mematahkan kemelekatan terhadap apapun juga kemelekatan terhadap makanan yang daging dan bukan daging. Jika kemelekatan telah dapat dipatahkan maka mereka dapat memasuki tingkat kesucian Arahat. Inilah tujuan dari latihan jenis pertama ini. Latihan jenis pertama ini adalah yang dilakukan kaum Buddhis Theravada.

Praktek kedua adalah untuk mengembangkan cinta kasih atau mettakaruna, di sini praktisi tidak memakan daging. Pandangan kedua ini didasari pandangan bahwa kalau mereka tidak makan daging atau membeli daging, maka mereka tidak ikut berpartisipasi pada bisnis daging atau pembantaian hewan. Kalau tiap orang tidak ada yang makan daging maka otomatis tidak ada lagi hewan yang perlu menderita pembunuhan.

Praktisi jenis kedua bertekad untuk menyalurkan belas kasih bagi semua makhluk, yang mana di dalam Buddhisme cita-cita semacam ini dinamakan tekad Boddhisattva. Latihan jenis kedua ini mendominasi kaum Buddhis dari Aliran Mahayana. Di antara kedua praktek ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah semuanya harus dipahami sebagai satu kesatuan Buddha Dharma. Sang Buddha menyadari bahwa makhluk hidup bermacam-macam kualitas mentalnya, dan karena itu tidak mungkin hanya ada satu jalan latihan tunggal untuk mencapai pembebasan (beda dengan agama non Buddhis yang hanya mewajibkan satu jalan saja). Sang Buddha mengajarkan aneka jalan mencapai pembebasan menyesuaikan dengan selera para pendengarNya yang bermacam-macam itu. Beberapa jalan nampak bertentangan namun memiliki tujuan sama.

Jadi ada orang yang ingin mencapai tingkatan Arahat, dan ada pula yang ingin menempuh Jalan Boddhisattva. Keduanya benar dan tidak ada yang salah, ibarat kita ada yang suka pecel, ada suka soto, dan ada pula yang suka spaghetti.

Kesimpulan: Agama Buddha memiliki banyak latihan spritual, karena selera pendengarnya yang berbeda-beda

Pandangan keempat

Di dalam Sutta Nipata dikatakan bahwa makanan tidak berpengaruh dengan kualitas mental seseorang, hal ini ada benarnya. Seseorang bisa saja vegetarian tetapi dapat saja tidak punya metta karuna. Kita menjadi bajik dan tidak bukan karena makanan yang kita makan. Kalau memang makan vegetarian bisa membuat orang menjadi penuh belas kasih, jikalau demikian bagaimana supaya negara aman semua warga negara diwajibkan makan vegetarian?

Jikalau tidak makan daging dapat meningkatkan kesucian seseorang, bukankan dengan demikian kambing dan sapi lebih suci dibanding manusia?

Jadi tidak bertentangan dengan "pandangan ketiga", maka makan vegetarian hanyalan sebagai latihan spiritual untuk meningkatkan cinta kasih, tetapi bukanlah sarana untuk meningkatkan cinta kasih itu sendiri.

Sekarang menanggapi beberapa pertanyaan Anda.

1. Apakah dengan demikian Sakyamuni Buddha sendiri tidak mengecam pembunuhan, karena makanan yang disajikan termasuk dari binatang tetap disantap-Nya?

Sang Buddha tidak menyetujui pembunuhan, pada sila pertama dari Pancasila Buddhis sudah menggambarkan hal itu. Sesuai dengan bagian "pandangan pertama" di atas, memakan daging bukanlah berarti tidak mengecam pembunuhan.

2. Walaupun ada aturan2 tentang boleh atau tidaknya menyantap makanan dari binatang didalam Patimokha Sila (Aturan2 para Bhikshu), apakah ini tidak Kontradiksi dengan ajaran Metta dan sila pertama yang menyarankan umat Buddha untuk tidak membunuh.
Tidak kontradiksi, jawabannya ada pada bagian "pandangan kedua", "pandangan ketiga" dan keempat di atas".

Demikan jadi saya kira sudah cukup jelas di sini. Semoga penjelasan ini berguna bagi kita semua Umat Buddha. Mohon maaf kalau ada kesalahan serta saya mohon juga pendapat2 teman2 yang lain serta koreksinya kalau ada kesalahan.

Namaste,
The Siddha Wanderer

Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline vozman

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 6
  • Reputasi: 0
wah.......menarik sekali
tapi blum menjawab pertanyaan saya,bro :D
maksudnya kalo menurut bro sendiri gmana?
kalo idealnya ya seperti yg bro post diatas....tapi saya mao melihat dari pandangan teman" sekalian,bro :D
trims :D

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.404
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Quote
Vegie=tidak makan OR tidak memiliki nafsu untuk makan makhluk bernyawa?

Kalau ini tergantung orangnya. Ada yang mencoba menahan diri untuk tidak makan daging, ada juga yang sudah lama akibatnya jadi tidak ada nafsu untuk makan mahluk bernyawa. Ini terlepas dari tujuannya yah.

There is no place like 127.0.0.1

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Intinya tergantung pada orangnya juga.
1. Ada orang yang berpendapat, yang penting tidak memakan yang bernyawa, walau memakan yang menyerupai yang bernyawa.
2. Ada juga yang berpendapat, memakan menyerupai yang bernyawa juga tidak boleh karena masih melekat dengan "niat"

Dan ditinjau dari berbagai segi, saya lebih prefer ke makanan vegetarian yang alami, yang tidak dibuat menyerupai ini itu. Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran saya :
1. Lebih berbumbu
Lebih berbumbu pastilah lebih enak. Tetapi enak belum tentu sehat bukan ?
Mana yang lebih berat fungsi kerja hati ketika mengolah makanan yang berbumbu atau makanan yang direbus saja ?

Lagi pula praktek vegetarian itu sebenarnya bagi saya adalah untuk pengendalian diri
Pengendalian diri tidak memakan yang bernyawa tetapi juga pengendalian diri terhadap rasa.
Yaitu pengendalian diri terhadap keinginan untuk memakan yang enak2..
2. Lebih tinggi cost
Lebih berbumbu tentu tinggi juga costnya. Wajarlah.. Jika direbus harganya 1000 perak.. kalau digoreng, ditambai ini itu tentu naik jadi 5000 perak. padahal barang sama.. :P

Intinya saya lebih memilih yang kedua walau saya masih belum bisa vegetarian. Yaitu memakan yang tidak bernyawa dan tidak menyerupai bernyawa sebagai bentuk latihan pengendalian diri
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline hartono238

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 295
  • Reputasi: 8
bo cia bak buei pak :)

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Haha
ada2 aja ko hartono ini.. :P

Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline langitbiru

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 547
  • Reputasi: 23
     :o wah... viktor ternyata kritis juga, n ortu km demokratis juga ya.. mo diskusi soal vege ;D

idelanya sih emang spt yg dipost ama hedi
tp, mnrt aku sih, ga smua org bisa langsung ga nafsu untuk makan daging,
ada org yg lewat tahap makan daging buatan, so.. itu sah-sah aja...
oni... kao titi bobo... gigi...

Offline Pitu Kecil

  • Sebelumnya Lotharguard
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.351
  • Reputasi: 217
  • Gender: Male
Namo Buddhaya.

Kalau saya vegetarian lebih suka makan sayur2an karena lebih murah and lebih bergizi+lebih murah.
Saya kebayakan makan vegetarian rutin di hari rabu, Che It and Cap Goh serta hari2 besar seperti Kwan Im Ultah, Waisak, Dll.... karena saat itu puncak Baca Paritta, rasanya lebih enak krn perasaan kayak lebih menghormati yang Beliau Sang Buddha.

Makan Vegetarian banyak gunanya lho!!!! salah satu contoh dari teman saya, dia vegetarian mukanya aduhai Masa Cowok kulitnya bersih and putih plus kalau lama2 nanti semut bisa tergelincir kalau panjat.  :-* :D

saya Mohon maaf jika ada kata2 yang kurang bagus atau salah, mohon dikoreksi dan dimaafkan.

Terima Kasih

Namo Amitho Fuo
Smile Forever :)

Offline Kalyanadhammo

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 114
  • Reputasi: 2
Kayaknya tergantung tujuan pribadi tentang vegetarian itu sendiri.
Kalau mau mengurangi nafsu ya jangan makan daging vegetarian karena sama saja.
Kalau cuma gak mau makan yang bernyawa ya sah2 saja makan daging vegetarian.

regards.

Offline langitbiru

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 547
  • Reputasi: 23
Quote
Makan Vegetarian banyak gunanya lho!!!! salah satu contoh dari teman saya, dia vegetarian mukanya aduhai Masa Cowok kulitnya bersih and putih plus kalau lama2 nanti semut bisa tergelincir kalau panjat.

wah..wah..sdr lotharguard,kenalin dunk ;) ops...

btw..kabar bagus buat cewe2, drpd beli krimmalem yg mahal,mendingan bervegetarian dunk:D
oni... kao titi bobo... gigi...

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.404
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
inga inga sama si kokoh di rumah
:p
There is no place like 127.0.0.1

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Hehehe.. Ntar PD III lagi.. (Perang Dunia)
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Kalyanadhammo

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 114
  • Reputasi: 2
Kalau kulit putih kelihatannya non vegetarian juga bisa.
Selama dia sering dirumah dan pakai pemutih kulit, ponds, etc.  ???
Coba kalau dia hobi main diluar kayak sepak bola, layangan, dll.
Jika masih putih wah benar2 salut.   ^:)^

regards.
« Last Edit: 12 July 2007, 09:13:56 AM by Sumedho »

Offline langitbiru

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 547
  • Reputasi: 23
heheheh..

sumedho : kan buat dikenalin lagi ama cewe2 single lainnya  ^-^
*banyak pesenan lowongan jodoh nih*  :P
oni... kao titi bobo... gigi...

 

anything