//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)  (Read 485 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« on: 24 January 2021, 11:30:28 AM »
Berikut adalah terjemahan Madhyama Agama bagian 9 yang terdiri dari kotbah 97-106.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #1 on: 24 January 2021, 11:42:49 AM »
Bagian 9
Tentang Sebab Akibat

97. Kotbah Panjang tentang Sebab Akibat<197>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Kuru di sebuah kota Kuru bernama Kammāsadhamma.

Pada saat itu Yang Mulia Ānanda, ketika duduk bermeditasi sendirian dan dalam keterasingan, memiliki pemikiran ini, “Kemunculan bergantungan ini adalah mengagumkan. Ia sangat mendalam dan juga tampak mendalam; tetapi ketika merenungkannya, aku melihatnya sebagai sangat mudah, sangat mudah [untuk dipahami.”

Kemudian pada saat sore menjelang malam hari Yang Mulia Ānanda bangkit dari meditasinya dan mendekati Sang Buddha. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri pada satu sisi, dan berkata:

Sang Bhagavā, ketika duduk bermeditasi sendirian dan dalam keterasingan, aku berpikir: “Kemunculan bergantungan ini adalah mengagumkan. Ia sangat mendalam dan tampak mendalam; tetapi ketika merenungkannya, aku melihatnya sebagai sangat mudah, sangat mudah [untuk dipahami].”

Sang Bhagavā berkata:

Ānanda, janganlah berpikir demikian: “Kemunculan bergantungan ini sangat mudah, sangat mudah [untuk dipahami]”! Mengapakah demikian? Kemunculan bergantungan ini sangat mendalam dan tampak sangat mendalam.

Ānanda, karena tidak mengetahui kemunculan bergantungan sebagaimana adanya, tidak melihatnya sebagaimana adanya, tidak merealisasikannya, tidak menembusnya, makhluk-makhluk hidup, bagaikan alat tenun yang tersangkut,<198> [atau] bagaikan kumpulan tanaman menjalar yang sepenuhnya terlilitkan, dengan tergesa-gesa dan riuh datang dan pergi dari dunia ini menuju dunia itu dan dari dunia itu menuju dunia ini, tidak dapat melampaui kelahiran dan kematian. Oleh sebab itu, Ānanda, sadarilah bahwa kemunculan bergantungan ini sangat mendalam dan tampak sangat mendalam.

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi bagi usia tua dan kematian?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi usia tua dan kematian”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi usia tua dan kematian?” maka ia seharusnya menjawab “Kelahiran adalah kondisinya.”

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi bagi kelahiran?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi kelahiran”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi kelahiran?” maka ia seharusnya menjawab “Penjelmaan adalah kondisinya.”

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi bagi penjelmaan?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi penjelmaan”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi penjelmaan?” maka ia seharusnya menjawab “Kemelekatan adalah kondisinya.”

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi kemelekatan?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi kemelekatan”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi kemelekatan?” maka ia seharusnya menjawab “Ketagihan adalah kondisinya.”<199>

Demikialah, Ānanda, dikondisikan oleh ketagihan terdapat kemelekatan, dikondisikan oleh kemelekatan terdapat penjelmaan, dikondisikan oleh penjelmaan terdapat kelahiran, dikondisikan oleh kelahiran terdapat usia tua dan kematian, dikondisikan oleh usia tua dan kematian terdapat kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan, dukacita dan kesakitan, kesengsaraan dan kekesalan – semua ini muncul dikondisikan oleh usia tua dan kematian. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini muncul.

Ānanda, dikondisikan oleh kelahiran terdapat usia tua dan kematian. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh kelahiran terdapat usia tua dan kematian,” seharusnya dipahami bahwa apa yang dimaksud dengan mengatakan, “dikondisikan oleh kelahiran terdapat usia tua dan kematian.”

Ānanda, jika tidak ada kelahiran ikan-ikan pada kelompok ikan, burung-burung pada kelompok burung, ular-ular pada kelompok ular,<200> nāga-nāga pada kelompok nāga, makhluk-makhluk halus pada kelompok makhluk halus, hantu-hantu pada kelompok hantu, dewa-dewa pada kelompok dewa, manusia-manusia pada kelompok manusia;<201> Ānanda, jika tidak ada kelahiran berbagai makhluk hidup dalam berbagai tempat [kehidupan] mereka, tidak ada satu pun kelahiran – seumpamanya bahwa kelahiran tidak ada, apakah akan ada usia tua dan kematian?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab usia tua dan kematian, sumber usia tua dan kematian, asal mula usia tua dan kematian, kondisi bagi usia tua dan kematian, yaitu kelahiran. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh kelahiran terdapat usia tua dan kematian.

Ānanda, dikondisikan oleh penjelmaan terdapat kelahiran. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh penjelmaan terdapat kelahiran,” seharusnya dipahami apa yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh penjelmaan terdapat kelahiran.”

Ānanda, jika tidak ada penjelmaan ikan-ikan pada kelompok ikan, burung-burung pada kelompok burung, ular-ular pada kelompok ular, nāga-nāga pada kelompok nāga, makhluk-makhluk halus pada kelompok makhluk halus, hantu-hantu pada kelompok hantu, dewa-dewa pada kelompok dewa, manusia-manusia pada kelompok manusia; <202> Ānanda, jika tidak ada penjelmaan berbagai makhluk hidup dalam berbagai tempat [kehidupan] mereka, tidak ada satu pun penjelmaan – seumpamanya bahwa penjelmaan tidak ada, apakah akan terdapat kelahiran?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab kelahiran, sumber kelahiran, asal mula kelahiran, kondisi bagi kelahiran, yaitu penjelmaan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh penjelmaan terdapat kelahiran.

Ānanda, dikondisikan oleh kemelekatan terdapat penjelmaan. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh kemelekatan terdapat penjelmaan,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh kemelekatan terdapat penjelmaan.”

Ānanda, jika tidak ada kemelekatan, tidak ada satu pun kemelekatan; seumpamanya bahwa kemelekatan tidak ada,<203> apakah akan terdapat penjelmaan atau konsep menjelma?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab penjelmaan, sumber penjelmaan, asal mula penjelmaan, kondisi bagi penjelmaan, yaitu kemelekatan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh kemelekatan terdapat penjelmaan.

Ānanda, dikondisikan oleh ketagihan terdapat kemelekatan. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh ketagihan terdapat kemelekatan,” seharusnya dipahami apa yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh ketagihan terdapat kemelekatan.”

Ānanda, jika tidak ada ketagihan, tidak ada satu pun ketagihan; seumpamanya bahwa ketagihan tidak ada,<204> apakah terdapat kemelekatan, apakah kemelekatan menjadi berkembang?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan.”


[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab kemelekatan, sumber kemelekatan, asal mula kemelekatan, kondisi bagi kemelekatan, yaitu ketagihan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh ketagihan terdapat kemelekatan.<205>

Ānanda, dikondisikan oleh ketagihan terdapat pencarian, dikondisikan oleh pencarian terdapat perolehan, dikondisikan oleh perolehan terdapat pembedaan, dikondisikan oleh pembedaan terdapat kekotoran melalui nafsu, dikondisikan oleh kekotoran melalui nafsu terdapat keterikatan, dikondisikan oleh keterikatan terdapat kekikiran, dikondisikan oleh kekikiran terdapat penimbunan, dikondisikan oleh penimbunan terdapat penjagaan [kepemilikan seseorang].

Ānanda, dikondisikan oleh penjagaan terdapat [pengambilan] pedang dan tongkat pemukul, terdapat pertengkaran, sanjungan, tipu daya, kebohongan, ucapan yang memecah belah, dan munculnya tak terhitung keadaan yang jahat dan tidak bermanfaat. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini muncul.

Ānanda, jika tidak terdapat penjagaan, tidak ada satu pun penjagaan; seumpamanya bahwa penjagaan tidak ada, apakah akan terdapat [pengambilan] pedang dan tongkat pemukul, apakah akan terdapat pertengkaran, sanjungan, tipu daya, kebohongan, ucapan yang memecah belah, dan munculnya tak terhitung keadaan yang jahat dan tidak bermanfaat?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab [pengambilan] pedang dan tongkat pemukul, pertengkaran, sanjungan, tipu daya, kebohongan, ucapan yang memecah belah, munculnya tak terhitung keadaan yang jahat dan tidak bermanfaat; ini adalah sumbernya, ini adalah asal mulanya, ini adalah kondisinya, yaitu penjagaan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh penjagaan terdapat [pengambilan] pedang dan tongkat pemukul, pertengkaran, sanjungan, tipu daya, kebohongan, ucapan yang memecah belah, munculnya tak terhitung keadaan yang jahat dan tidak bermanfaat. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini muncul.

Ānanda, dikondisikan oleh penimbunan terdapat penjagaan. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh penimbunan terdapat penjagaan,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh penimpunan terdapat penjagaan.”

Ānanda, jika tidak ada penimbunan, tidak ada satu pun penimbunan; seumpamanya bahwa penimbunan tidak ada, apakah akan ada penjagaan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab penjagaan, sumber penjagaan, asal mula penjagaan, kondisi bagi penjagaan, yaitu penimbunan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh penimpunan terdapat penjagaan.

Ānanda, dikondisikan oleh kekikiran terdapat penimbunan. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh kekikiran terdapat penimbunan,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh kekikiran terdapat penimbunan.”

Ānanda, jika tidak ada kekikiran, tidak ada satu pun kekikiran; seumpamanya bahwa kekikiran tidak ada, apakah akan ada penimbunan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab penimbunan, sumber penimbunan, asal mula penimbunan, kondisi bagi penimbunan, yaitu kekikiran. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh kekikiran terdapat penimbunan.

Ānanda, dikondisikan oleh keterikatan terdapat kekikiran. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh keterikatan terdapat kekikiran,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh keterikatan terdapat kekikiran.”

Ānanda, jika tidak ada keterikatan, tidak ada satu pun keterikatan; seumpamanya bahwa keterikatan tidak ada, apakah akan ada kekikiran?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab kekikiran, sumber kekikiran, asal mula kekikiran, kondisi bagi kekikiran, yaitu keterikatan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh keterikatan terdapat kekikiran.

Ānanda, dikondisikan oleh nafsu terdapat keterikatan. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh nafsu terdapat keterikatan,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh nafsu terdapat keterikatan.”

Ānanda, jika tidak ada nafsu, tidak ada satu pun nafsu; seumpamanya bahwa nafsu tidak ada, apakah akan ada keterikatan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab keterikatan, sumber keterikatan, asal mula keterikatan, kondisi bagi keterikatan, yaitu nafsu. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh nafsu terdapat keterikatan.

Ānanda, dikondisikan oleh pembedaan terdapat kekotoran melalui nafsu. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh pembedaan terdapat kekotoran melalui nafsu,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh pembedaan terdapat kekotoran melalui nafsu.”

Ānanda, jika tidak ada pembedaan, tidak ada satu pun pembedaan; seumpamanya bahwa pembedaan tidak ada, apakah akan ada kekotoran melalui nafsu?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab kekotoran melalui nafsu, sumber kekotoran melalui nafsu, asal mula kekotoran melalui nafsu, kondisi bagi kekotoran melalui nafsu, yaitu pembedaan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh pembedaan terdapat kekotoran melalui nafsu.

Ānanda, dikondisikan oleh perolehan terdapat pembedaan. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh perolehan terdapat pembedaan,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh perolehan terdapat pembedaan.”

Ānanda, jika tidak ada perolehan, tidak ada satu pun perolehan; seumpamanya bahwa perolehan tidak ada, apakah akan ada pembedaan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab pembedaan, sumber pembedaan, asal mula pembedaan, kondisi bagi pembedaan, yaitu perolehan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh perolehan terdapat pembedaan.

Ānanda, dikondisikan oleh pencarian terdapat perolehan. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh pencarian terdapat perolehan,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh pencarian terdapat perolehan.”

Ānanda, jika tidak ada pencarian, tidak ada satu pun pencarian; seumpamanya bahwa pencarian tidak ada, apakah akan ada perolehan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab perolehan, sumber perolehan, asal mula perolehan, kondisi bagi perolehan, yaitu pencarian. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh pencarian terdapat perolehan.

Ānanda, dikondisikan oleh ketagihan terdapat pencarian. [Sehubungan dengan] pernyataan ini, “dikondisikan oleh ketagihan terdapat pencarian,” seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh ketagihan terdapat pencarian.”

Ānanda, jika tidak ada ketagihan, tidak ada satu pun ketagihan; seumpamanya bahwa ketagihan tidak ada, apakah akan ada pencarian?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab pencarian, sumber pencarian, asal mula pencarian, kondisi bagi pencarian, yaitu ketagihan. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh ketagihan terdapat pencarian.
Ānanda, ketagihan [terhadap] kenikmatan indria dan ketagihan terhadap penjelmaan, dua faktor ini memiliki perasaan sebagai sebabnya, dikondisikan oleh perasaan mereka muncul.

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi bagi perasaan?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi perasaan”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi perasaan?” maka ia seharusnya menjawab “Kontak adalah kondisinya.” Seharusnya dipahami apa yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh kontak terdapat perasaan.”

Ānanda, jika tidak ada kontak mata, tidak ada satu pun kontak mata; seumpamanya bahwa kontak mata tidak ada; apakah akan terdapat munculnya perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, atau perasaan netral yang dikondisikan oleh kontak mata?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, jika tidak ada kontak telinga, ... [kontak] hidung, ... [kontak] lidah, ... kontak [badan], ... kontak pikiran, tidak ada satu pun kontak pikiran; seumpamanya bahwa kontak pikiran tidak ada, apakah akan ada munculnya perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, dan perasaan netral yang dikondisikan oleh kontak pikiran?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab perasaan, sumber perasaan, asal mula perasaan, kondisi bagi perasaan, yaitu kontak. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh kontak terdapat perasaan.

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi bagi kontak?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi kontak”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi kontak?” maka ia seharusnya menjawab “Nama-dan-bentuk adalah kondisinya.” Seharusnya dipahami apa yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh nama-dan-bentuk terdapat kontak.”

Ānanda, [sehubungan dengan] bentukan-bentukan dan kondisi-kondisi untuk kelangsungan kelompok nama, jika bentukan-bentukan dan kondisi-kondisi itu tidak ada, apakah akan ada kontak [dengan cara] <penyebutan>?<206>

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] bentukan-bentukan dan kondisi-kondisi untuk kelangsungan kelompok bentuk, jika bentukan-bentukan dan kondisi-kondisi itu tidak ada, apakah akan ada kontak [dengan cara] <penolakan>?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:] “[Ānanda], seumpamanya kelompok nama dan kelompok bentuk tidak ada, apakah akan ada kontak atau konsep kontak?”

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab kontak, sumber kontak, asal mula kontak, kondisi bagi kontak, yaitu nama-dan-bentuk. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh nama-dan-bentuk terdapat kontak.

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi bagi nama-dan-bentuk?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi nama-dan-bentuk”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi nama-dan-bentuk?” maka ia seharusnya menjawab, “Kesadaran adalah kondisinya.” Seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh kesadaran terdapat nama-dan-bentuk.”

Ānanda, jika kesadaran tidak memasuki rahim ibu, apakah nama-dan-bentuk akan terwujud sebagai tubuh ini?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan.”

[Sang Buddha berkata:] “Ānanda, jika setelah memasuki rahim ibu, kesadaran akan pergi, apakah nama-dan-bentuk akan bergabung dengan air mani?”

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, jika kesadaran seorang anak laki-laki atau perempuan dipotong pada awalnya, dihancurkan dan dibuat tidak ada, apakah nama-dan-bentuk akan mengalami pertumbuhan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan.”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab nama-dan-bentuk, sumber nama-dan-bentuk, asal mula nama-dan-bentuk, kondisi bagi nama-dan-bentuk, yaitu kesadaran. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh kesadaran terdapat nama-dan-bentuk.

Ānanda, jika seseorang ditanya “Apakah terdapat kondisi bagi kesadaran?” maka ia seharusnya menjawab “Terdapat kondisi bagi kesadaran”; dan jika seseorang ditanya “Apakah kondisi bagi kesadaran?” maka ia seharusnya menjawab, “Nama-dan-bentuk adalah kondisinya.” Seharusnya dipahami apakah yang dimaksud dengan mengatakan “dikondisikan oleh nama-dan-bentuk terdapat kesadaran.”

Ānanda, jika kesadaran tidak memperoleh nama-dan-bentuk, jika kesadaran tidak berkembang dalam nama-dan-bentuk dan bergantung padanya, maka apakah, bagi kesadaran, akan ada kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dan dukkha?

[Ānanda] menjawab, “Tidak akan ada.”
« Last Edit: 24 January 2021, 11:52:50 AM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #2 on: 24 January 2021, 11:51:01 AM »
[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa ini adalah sebab kesadaran, sumber kesadaran, asal mula kesadaran, kondisi bagi kesadaran, yaitu nama-dan-bentuk. Mengapakah demikian? Karena dikondisikan oleh nama-dan-bentuk terdapat kesadaran.

Maka, Ānanda, dikondisikan oleh nama-dan-bentuk terdapat kesadaran, dan dikondisikan oleh kesadaran terdapat nama-dan-bentuk. Dari hal ini muncul penyebutan, suatu pernyataan tentang penyebutan yang diteruskan, suatu pernyataan yang diteruskan yang dapat dikonseptualisasikan, yaitu kesadaran bersama-sama dengan nama-dan-bentuk.<207>

Ānanda, mengapakah [seseorang] menganut pandangan bahwa suatu diri ada?

Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:

Sang Bhagavā adalah sumber Dharma; Sang Bhagavā adalah guru Dharma; Dharma berasal dari Sang Bhagavā. Semoga beliau menjelaskan hal ini! Mendengarkannya sekarang, aku akan memperoleh pemahaman penuh atas maknanya.

Kemudian Sang Buddha berkata, “Ānanda, dengarkanlah dengan seksama dan perhatikanlah dengan baik. Aku akan menganalisis maknanya untukmu.” Yang Mulia Ānanda mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Buddha berkata:<208>

Ānanda, mungkin terdapat [seseorang yang menganut] pandangan bahwa perasaan adalah diri. Atau selanjutnya, mungkin terdapat [seseorang yang] tidak [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah diri, tetapi [menganut] pandangan bahwa diri dapat merasakan, karena adalah sifat alami diri dapat merasakan. Atau selanjutnya, mungkin terdapat [seseorang yang menganut] bukan pandangan bahwa perasaan adalah diri maupun pandangan bahwa diri dapat merasakan, karena adalah sifat alami diri dapat merasakan, tetapi [sebaliknya menganut] pandangan bahwa diri adalah tanpa perasaan.

Ānanda, jika terdapat [seseorang yang menganut] pandangan bahwa perasaan adalah diri, maka seseorang seharusnya bertanya kepadanya: “Engkau memiliki tiga [jenis] perasaan: perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, dan perasaan netral. Dari tiga [jenis] perasaanmu ini, perasaan manakah yang engkau anggap sebagai diri?”

Ānanda, seseorang seharusnya lebih jauh mengatakan kepadanya bahwa ketika ia merasakan perasaan menyenangkan, pada waktu itu dua perasaan telah lenyap, perasaan menyakitkan dan perasaan netral, dan pada waktu itu ia hanya mengalami perasaan menyenangkan. Perasaan menyenangkan adalah bersifat tidak kekal, bersifat tidak memuaskan, bersifat mengalami kelenyapan. [Tetapi] ketika perasaan menyenangkan lenyap, ia tidak berpikir, “Apakah ini bukan lenyapnya diri?”<209>

Selanjutnya, Ānanda, ketika seseorang mengalami perasaan menyakitkan, pada waktu itu dua perasaan telah lenyap, perasaan menyenangkan dan perasaan netral, dan pada waktu itu ia hanya mengalami perasaan menyakitkan. Perasaan menyakitkan adalah bersifat tidak kekal, bersifat tidak memuaskan, bersifat mengalami kelenyapan. [Tetapi] ketika perasaan menyakitkan telah lenyap, ia tidak berpikir, “Apakah ini bukan lenyapnya diri?”

Selanjutnya, Ānanda, ketika seseorang mengalami perasaan netral, pada waktu itu dua perasaan telah lenyap, perasaan menyenangkan dan perasaan menyakitkan, dan pada waktu itu ia hanya mengalami perasaan netral. Perasaan netral adalah bersifat tidak kekal, bersifat tidak memuaskan, bersifat mengalami kelenyapan. [Tetapi] ketika perasaan netral telah lenyap, ia tidak berpikir, “Apakah ini bukan lenyapnya diri?”

Ānanda, [karena] hal-hal ini adalah fenomena yang tidak kekal dengan cara ini, semata-mata suatu percampuran kenikmatan dan kesakitan,<210> apakah tepat baginya untuk berlanjut [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah diri?

[Ānanda] menjawab, “Tidak.”

[Sang Buddha berkata:]

Oleh sebab itu, Ānanda, [karena] hal-hal ini adalah fenomena yang tidak kekal dengan cara ini, semata-mata suatu percampuran kenikmatan dan kesakitan, ia tidak seharusnya berlanjut [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah diri.
Selanjutnya, Ānanda, jika terdapat [seseorang] yang tidak [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah diri tetapi sebaliknya [menganut] bahwa diri dapat merasakan, pandangan bahwa adalah sifat alami diri dapat merasakan, maka seseorang seharusnya berkata kepadanya, “Jika engkau tidak memiliki perasaan dan tidak dapat mengalami perasaan, tidak tepat [bagimu] untuk mengatakannya: ‘Ini adalah milikku’.”

Ānanda, apakah tepat baginya untuk berlanjut seperti ini [menganut] pandangan bahwa [walaupun] perasaan adalah bukan diri, tetapi diri dapat merasakan, pandangan bahwa adalah sifat alami diri dapat merasakan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak.”

[Sang Buddha berkata:]

Oleh sebab itu, Ānanda, ia tidak seharusnya [menganut] pandangan bahwa [walaupun] perasaan adalah bukan diri, [tetapi] diri dapat merasakan, pandangan bahwa adalah sifat alami diri dapat merasakan.

Selanjutnya, Ānanda, jika terdapat [seseorang yang menganut] bukan pandangan bahwa perasaan adalah diri, maupun pandangan bahwa diri dapat merasakan, yang adalah sifat alami diri dapat merasakan, tetapi sebaliknya [menganut] pandangan bahwa diri adalah tanpa perasaan, maka seseorang seharusnya berkata kepadanya, “Jika engkau tidak memiliki perasaan dan sepenuhnya tidak dapat mengalami [perasaan], diri yang terpisah dari perasaan, maka tidak akan ada [latihan yang demikian seperti] pemurnian diri.”<211>

Ānanda, apakah tepat baginya [sementara] berlanjut [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah bukan diri, dan [sementara] tidak [menganut] pandangan bahwa diri dapat merasakan, yang adalah sifat alami diri dapat merasakan, untuk alih-alih [menganut] pandangan bahwa diri adalah tanpa perasaan?

[Ānanda] menjawab, “Tidak.”

[Sang Buddha berkata:]

Oleh sebab itu, Ānanda, adalah tidak tepat baginya, [walaupun] dengan demikian berlanjut [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah bukan diri, dan [walaupun] tidak [menganut] pandangan bahwa diri dapat merasakan, yang adalah sifat alami diri dapat merasakan, untuk alih-alih [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah tanpa diri. Ini adalah apa yang dimaksud dengan mengatakan bahwa [seseorang] menganut pandangan bahwa suatu diri ada.

Ānanda, bagaimanakah [seseorang] tidak menganut pandangan bahwa suatu diri ada?

Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:

Sang Bhagavā adalah sumber Dharma, Sang Bhagavā adalah guru Dharma, Dharma berasal dari Sang Bhagavā. Semoga beliau menjelaskan hal ini! Mendengarkannya sekarang, aku akan memperoleh pemahaman penuh atas maknanya.
Kemudian Sang Buddha berkata, “Ānanda, dengarkanlah dengan seksama dan perhatikan dengan baik. Aku akan menganalisis maknanya untukmu.” Yang Mulia Ānanda mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Buddha berkata:

Ānanda, mungkin terdapat [seseorang yang] tidak [menganut] pandangan bahwa perasaan adalah diri, atau pandangan bahwa diri dapat merasakan, yang adalah sifat alami diri dapat merasakan, atau pandangan bahwa diri adalah tanpa perasaan. Tidak menganut pandangan-pandangan demikian, ia tidak melekat pada [apa pun] di dunia ini; tidak melekat, ia tidak gelisah; tidak gelisah, ia [mencapai] nirvana, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri bagiku; kehidupan suci telah dikembangkan; apa yang harus dilakukan telah dilakukan; tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Ānanda, ini disebut [sebagai semata-mata] penyebutan, pernyataan tentang penyebutan yang untuk diteruskan, pernyataan yang diteruskan yang dapat dikonseptualisasikan, di mana seseorang yang mengetahui tidak melekatinya.

Ānanda, jika seorang bhikkhu telah sepenuhnya terbebaskan dengan cara ini, ia tidak lagi [menganut] pandangan bahwa Sang Tathāgata ada setelah kematian, [atau] pandangan bahwa Sang Tathāgata tidak ada setelah kematian, [atau] pandangan bahwa Sang Tathāgata ada dan tidak ada setelah kematian, [atau] pandangan bahwa Sang Tathāgata bukan ada dan bukan tidak ada setelah kematian. Ini adalah apa yang dimaksud dengan mengatakan bahwa [seseorang] tidak menganut pandangan bahwa suatu diri ada.<212>

Ānanda, bagaimanakah [seseorang] membayangkan konsep suatu diri?<213>

Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:

Sang Bhagavā adalah sumber Dharma, Sang Bhagavā adalah guru Dharma, Dharma berasal dari Sang Bhagavā. Semoga beliau menjelaskan hal ini! Mendengarkannya sekarang, aku akan memperoleh pemahaman penuh atas maknanya.

Kemudian Sang Buddha berkata, “Ānanda, dengarkanlah dengan seksama dan perhatikan dengan baik. Aku akan menganalisis maknanya untukmu.” Yang Mulia Ānanda mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Buddha berkata:

Ānanda, mungkin terdapat [seseorang yang] membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas. Atau selanjutnya, mungkin terdapat [seseorang yang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas [tetapi] membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas.

Atau selanjutnya, mungkin terdapat [seseorang yang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas maupun membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas, [tetapi] membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas. Atau selanjutnya, mungkin terdapat [seseorang yang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas, maupun membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas, maupun membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas [tetapi] membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas.

Ānanda, jika terdapat [seseorang yang] membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas, maka ia membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia akan membuat pernyataan dan [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu muncul terpisah dari materialitas yang terbatas.”<214> Ia mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya adalah seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas; dengan cara ini seseorang tetap melekat pada pandangan suatu diri yang bermateri terbatas.

Selanjutnya, Ānanda, jika [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermaterial terbatas [tetapi] membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas, maka ia membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia akan membuat pernyataan dan [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu akan muncul terpisah dari materialitas yang tanpa batas.” Ia mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya adalah seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas; dengan cara ini seseorang tetap melekat pada pandangan suatu diri yang bermateri tanpa batas.

Selanjutnya, Ānanda, jika terdapat [seseorang yang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas maupun membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas, [tetapi] membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas, maka ia membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia akan membuat pernyataan dan [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu akan muncul terpisah dari tanpa materialitas yang terbatas.” Ia mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya adalah seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas; dengan cara ini seseorang tetap melekat pada pandangan suatu diri yang tidak bermateri terbatas.

Selanjutnya, Ānanda, jika terdapat [seseorang yang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas, tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas, dan tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas [tetapi] membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas, maka ia membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia akan membuat pernyataan dan [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu akan muncul terpisah dari tanpa materialitas yang tanpa batas.” Ia mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya adalah seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas; dengan cara ini seseorang tetap melekat pada pandangan suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas. Ini adalah apa yang dimaksud dengan mengatakan bahwa seseorang membayangkan konsep suatu diri.

Ānanda, bagaimanakah [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri?

Yang Mulia Ānanda berkata kepada Sang Bhagavā:

Sang Bhagavā adalah sumber Dharma, Sang Bhagavā adalah guru Dharma, Dharma berasal dari Sang Bhagavā. Semoga beliau menjelaskan hal ini! Mendengarkannya sekarang, aku akan memperoleh pemahaman penuh atas maknanya.
Kemudian Sang Buddha berkata, “Ānanda, dengarkanlah dengan seksama dan perhatikan dengan baik. Aku akan menganalisis maknanya untukmu.” Yang Mulia Ānanda mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Buddha berkata:

Ānanda, mungkin terdapat [seseorang yang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas, tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas, tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas, dan tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas.

Ānanda, jika [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas, ia tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia tidak akan membuat pernyataan atau [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu akan muncul terpisah dari materialitas yang terbatas.” Ia tidak mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya tidak seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri terbatas; dengan cara ini seseorang tidak melekat pada pandangan suatu diri yang bermateri terbatas.

Selanjutnya, Ānanda, jika [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas, maka ia tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia tidak akan membuat pernyataan atau [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu akan muncul terpisah dari materialitas yang tanpa batas.” Ia tidak mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya tidak seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang bermateri tanpa batas; dengan cara ini seseorang tidak melekat pada pandangan suatu diri yang bermateri tanpa batas.

Selanjutnya, Ānanda, jika [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas, maka ia tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia tidak akan membuat pernyataan atau [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu akan muncul terpisah dari tanpa materialitas yang terbatas.” Ia tidak mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya tidak seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri terbatas; dengan cara ini seseorang tidak melekat pada pandangan suatu diri yang tidak bermateri terbatas.

Selanjutnya, Ānanda, jika [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas, maka ia tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas pada masa sekarang; dan [sehubungan dengan] hancurnya jasmani pada saat kematian ia tidak akan membuat pernyataan atau [menganut] pandangan seperti ini: “Terdapat suatu diri yang pada waktu itu akan muncul terpisah dari tanpa materialitas yang tanpa batas.” Ia tidak mengkhayalkan seperti ini dan itu; pemikirannya tidak seperti ini. Ānanda, dengan cara ini [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas; dengan cara ini seseorang tidak melekat pada pandangan suatu diri yang tidak bermateri tanpa batas.

Ānanda, ini adalah apa yang dimaksud dengan mengatakan bahwa [seseorang] tidak membayangkan konsep suatu diri.

Ānanda, terdapat tujuh stasiun kesadaran dan dua landasan. Apakah tujuh stasiun kesadaran? Terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan berbagai jasmani dan persepsi yang beranekaragam, yaitu manusia dan para dewa dari [alam] nafsu. Ini disebut sebagai stasiun kesadaran pertama.

Selanjutnya, Ānanda, terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan berbagai jasmani dan persepsi yang seragam, yaitu para dewa Brahmā yang lahir dari [jhāna] pertama, yang berumur panjang. Ini disebut sebagai stasiun kesadaran kedua.

Selanjutnya, Ānanda, terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan jasmani yang seragam dan persepsi yang beranekaragam, yaitu para dewa bercahaya yang memancar (ābhassara). Ini disebut sebagai stasiun kesadaran ketiga.

Selanjutnya, Ānanda, terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan jasmani yang seragam dan persepsi yang seragam, yaitu para dewa dengan kemuliaan yang berkilauan (subhakiṇṇa). ini disebut sebagai stasiun kesadaran keempat.

Selanjutnya, Ānanda, terdapat makhluk-makhluk tanpa materi yang dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi penolakan, tidak memperhatikan persepsi keanekaragaman, [menyadari] landasan ruang tanpa batas, berdiam setelah mencapai landasan ruang tanpa batas, yaitu para dewa landasan ruang tanpa batas. Ini disebut sebagai stasiun kesadaran kelima.

Selanjutnya, Ānanda, terdapat makhluk-makhluk tanpa materi yang dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, [menyadari] landasan kesadaran tanpa batas, berdiam setelah mencapai landasan kesadaran tanpa batas, yaitu para dewa landasan kesadaran tanpa batas. Ini disebut sebagai stasiun kesadaran keenam.

Selanjutnya, Ānanda, terdapat makhluk-makhluk tanpa materi yang dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [menyadari] landasan kekosongan, berdiam setelah mencapai landasan kekosongan, yaitu para dewa landasan kekosongan. Ini disebut sebagai stasiun kesadaran ketujuh.

Ānanda, apakah dua landasan? Terdapat makhluk-makhluk bermateri tanpa persepsi dan tanpa perasaan, yaitu para dewa yang tidak memiliki persepsi. Ini disebut sebagai landasan pertama.

Selanjutnya, Ānanda, terdapat makhluk-makhluk tanpa materi yang dengan melampaui landasan kekosongan, [menyadari] landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, berdiam setelah mencapai landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, yaitu para dewa landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi. Ini disebut sebagai landasan kedua.

Ānanda, [sehubungan dengan] stasiun kesadaran pertama, [di mana] terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan berbagai jasmani dan persepsi yang beranekaragam, yaitu manusia dan para dewa dari [alam] nafsu; jika seorang bhikkhu mengetahui stasiun kesadaran itu, mengetahui munculnya stasiun kesadaran itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam stasiun kesadaran itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam stasiun kesadaran itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #3 on: 24 January 2021, 12:01:02 PM »
[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] stasiun kesadaran kedua, [di mana] terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan berbagai jasmani dan persepsi yang seragam, yaitu para dewa Brahmā yang lahir dari [jhāna] pertama, yang berumur panjang; jika seorang bhikkhu mengetahui stasiun kesadaran itu, mengetahui munculnya stasiun kesadaran itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam stasiun kesadaran itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam stasiun kesadaran itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] stasiun kesadaran ketiga, [di mana] terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan jasmani yang seragam dan persepsi yang beranekaragam, yaitu para dewa bercahaya yang memancar; jika seorang bhikkhu mengetahui stasiun kesadaran itu, mengetahui munculnya stasiun kesadaran itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam stasiun kesadaran itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam stasiun kesadaran itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] stasiun kesadaran keempat, [di mana] terdapat makhluk-makhluk bermateri dengan jasmani yang seragam dan persepsi yang seragam, yaitu para dewa dengan kemuliaan yang berkilauan; jika seorang bhikkhu mengetahui stasiun kesadaran itu, mengetahui munculnya stasiun kesadaran itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam stasiun kesadaran itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam stasiun kesadaran itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] stasiun kesadaran kelima, [di mana] terdapat makhluk-makhluk tanpa materi yang dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi penolakan, tidak memperhatikan persepsi keanekaragaman, [menyadari] landasan ruang tanpa batas, berdiam setelah mencapai landasan ruang tanpa batas, yaitu para dewa landasan ruang tanpa batas; jika seorang bhikkhu mengetahui stasiun kesadaran itu, mengetahui munculnya stasiun kesadaran itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam stasiun kesadaran itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam stasiun kesadaran itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] stasiun kesadaran keenam, [di mana] terdapat makhluk-makhluk tanpa materi yang dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, [menyadari] landasan kesadaran tanpa batas, berdiam setelah mencapai landasan kesadaran tanpa batas, yaitu para dewa landasan kesadaran tanpa batas; jika seorang bhikkhu mengetahui stasiun kesadaran itu, mengetahui munculnya stasiun kesadaran itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam stasiun kesadaran itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam stasiun kesadaran itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] stasiun kesadaran ketujuh, [di mana] terdapat makhluk-makhluk tanpa materi yang, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [menyadari] landasan kekosongan, berdiam setelah mencapai landasan kekosongan, yaitu para dewa alam kekosongan; jika seorang bhikkhu mengetahui stasiun kesadaran itu, mengetahui munculnya stasiun kesadaran itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam stasiun kesadaran itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam stasiun kesadaran itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] landasan pertama, [di mana] makhluk-makhluk bermateri tanpa persepsi dan tanpa perasaan, yaitu para dewa yang tidak memiliki persepsi; jika seorang bhikkhu mengetahui landasan itu, mengetahui munculnya landasan itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam landasan itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam landasan itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, [sehubungan dengan] landasan kedua, [di mana] terdapat para makhluk tanpa materi yang, dengan sepenuhnya melampaui landasan ketiadaan, [menyadari] landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, berdiam setelah mencapai landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi; jika seorang bhikkhu mengetahui landasan itu, mengetahui munculnya landasan itu, mengetahui lenyapnya, mengetahui keuntungannya, mengetahui kerugiannya, dan mengetahui jalan keluar darinya sebagaimana adanya, Ānanda, apakah bhikkhu ini akan bergembira dalam landasan itu? Apakah ia akan menghargainya atau menjadi melekat untuk berdiam dalam landasan itu?

[Ānanda] menjawab, “Ia tidak akan [demikian].”

[Sang Buddha berkata:]

Ānanda, jika seorang bhikkhu mengetahui tujuh stasiun kesadaran dan dua landasan ini sebagaimana adanya, jika pikirannya tidak terkotori oleh kemelekatan dan ia telah mencapai pembebasan, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu arahant yang “terbebaskan melalui kebijaksanaan.”

Ānanda, terdapat delapan pembebasan. Apakah delapan hal itu? [Bersifat] materi, ia melihat bentuk. Ini disebut sebagai pembebasan pertama.

Selanjutnya, tidak mempersepsikan bentuk secara internal, ia melihat bentuk secara eksternal. Ini disebut sebagai pembebasan kedua.

Selanjutnya, ia berdiam setelah secara langsung merealisasikan dan menyempurnakan pembebasan melalui kemurnian. Ini disebut sebagai pembebasan ketiga.

Selanjutnya, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi penolakan, tidak memperhatikan persepsi keanekaragaman, [menyadari] landasan ruang tanpa batas, ia berdiam setelah mencapai landasan ruang tanpa batas. Ini disebut sebagai pembebasan keempat.

Selanjutnya, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, [menyadari] landasan kesadaran tanpa batas, ia berdiam setelah mencapai landasan kesadaran tanpa batas. Ini disebut sebagai pembebasan kelima.

Selanjutnya, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [menyadari] landasan kekosongan, ia berdiam setelah mencapai landasan kekosongan. Ini disebut sebagai pembebasan keenam.

Selanjutnya, dengan sepenuhnya melampaui landasan kekosongan, [menyadari] landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, ia berdiam setelah mencapai landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi. Ini disebut sebagai pembebasan ketujuh.

Selanjutnya, dengan sepenuhnya melampaui landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, ia berdiam setelah secara langsung dan menyempurnakan pembebasan lenyapnya persepsi dan perasaan, dan melihat dengan kebijaksanaan ia berdiam setelah mengetahui bahwa semua noda-noda telah dihancurkan. Ini disebut sebagai pembebasan kedelapan.

Ānanda, jika seorang bhikkhu mengetahui tujuh stasiun kesadaran dan dua landasan ini sebagaimana adanya, jika pikirannya tidak terkotori oleh kemelekatan dan ia telah mencapai pembebasan, serta jika ia berdiam setelah secara langsung merealisasikan dan menyempurnakan delapan pembebasan ini dalam urutan maju dan mundur, dan melihat dengan kebijaksanaan mengetahui bahwa semua noda-noda telah dihancurkan, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu arahant yang “terbebaskan melalui kedua cara.”

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #4 on: 24 January 2021, 01:12:53 PM »
98. Kotbah tentang Penegakan Perhatian<215>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Kuru di sebuah kota Kuru bernama Kammāsadhamma.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Terdapat satu jalan untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk melampaui dukacita dan ketakutan,  untuk melenyapkan penderitaan dan kesedihan, untuk meninggalkan ratapan dan tangisan, untuk mencapai Dharma sejati, yaitu empat penegakan perhatian.

Jika terdapat para Tathāgata dari masa lampau, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mereka semua telah mencapai realisasi pencerahan sempurna dan tiada bandingnya dengan meninggalkan lima rintangan yang mengotori pikiran dan melemahkan kebijaksanaan, dengan berdiam dengan pikiran yang ditenangkan dengan baik dalam empat penegakan perhatian, dan dengan mengembangkan tujuh faktor pencerahan.<216>

Jika akan ada para Tathāgata dari masa yang akan datang, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mereka semua akan mencapai realisasi pencerahan sempurna dan tiada bandingnya dengan meninggalkan lima rintangan yang mengotori pikiran dan melemahkan kebijaksanaan, dengan berdiam dengan pikiran yang ditenangkan dengan baik dalam empat penegakan perhatian, dan dengan mengembangkan tujuh faktor pencerahan.

Aku sekarang, yang merupakan Sang Tathāgata dari masa sekarang, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, telah mencapai realisasi pencerahan sempurna dan tiada bandingnya dengan meninggalkan lima rintangan yang mengotori pikiran dan melemahkan kebijaksanaan, dengan berdiam dengan pikiran yang ditenangkan dengan baik dalam empat penegakan perhatian, dan dengan mengembangkan tujuh faktor pencerahan.

Apakah empat [penegakan perhatian]? [Mereka adalah] penegakan perhatian dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani; dan hal yang sama penegakan perhatian dengan merenungkan perasaan, ... [keadaan] pikiran, ... dan dharma-dharma sebagai dharma-dharma.<217>

Apakah penegakan perhatian dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani?<218> Ketika berjalan, seorang bhikkhu mengetahui ia sedang berjalan; ketika berdiri, ia mengetahui ia sedang berdiri; ketika duduk, ia mengetahui ia sedang duduk; ketika berbaring, ia mengetahui ia sedang berbaring; ketika tidur, ia mengetahui ia sedang tidur; ketika terjaga, ia mengetahui ia sedang terjaga; ketika tidur atau terjaga, ia mengetahui ia sedang tidur atau terjaga.<219>

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal.<220> Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani. Ketika pergi dan datang, seorang bhikkhu dengan jernih mengetahui, merenungkan, dan memahami [tindakan ini] dengan baik; ketika membengkokkan atau merentangkan [lengannya], ketika menundukkan atau mengangkat [kepalanya], ia melakukannya dengan sikap yang seharusnya; ketika mengenakan jubah luar dan jubah lainnya serta [membawa] mangkuk[nya], ia melakukannya dengan tepat; ketika berjalan, berdiri, duduk, berbaring, tidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri – semua [aktivitas ini] ia ketahui dengan jernih.<221>

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani. [Ketika] pemikiran-pemikiran yang jahat dan tidak bermanfaat muncul, seorang bhikkhu mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikannya dengan mengingat dharma-dharma bermanfaat.<222>

Seperti halnya seorang tukang kayu atau murid tukang kayu dapat menerapkan seutas benang bertinta pada sepotong kayu [untuk menandai garis lurus] dan kemudian memotong kayu itu dengan sebuah kapak yang tajam untuk membuatnya lurus.<223> Dengan cara yang sama, [ketika] pemikiran-pemikiran jahat yang tidak bermanfaat muncul, seorang bhikkhu mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikannya dengan mengingat dharma-dharma yang bermanfaat.

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani. Dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, seorang bhikkhu menggunakan [kekuatan kemauan dari] pikiran[nya sendiri] untuk mengendalikan pikirannya, untuk mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikan [pemikiran-pemikiran jahat].

Seperti halnya dua orang yang kuat dapat mencengkeram seorang yang lemah dan mendorongnya ke sana kemari, mereka memukulinya sesuai keinginan mereka. Dengan cara yang sama, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, seorang bhikkhu menggunakan [kekuatan kemauan dari] pikiran[nya sendiri] untuk mengendalikan pikirannya, untuk mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikan [pemikiran-pemikiran jahat].

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu memperhatikan napas masuk dan mengetahui ia sedang menarik napas dengan penuh perhatian; ia memperhatikan napas keluar dan mengetahui ia sedang menghembuskan napas dengan penuh perhatian. [Ketika] menarik napas panjang, ia mengetahui ia menarik napas panjang; [ketika] menghembuskan napas panjang, ia mengetahui ia sedang menghembuskan napas panjang. [Ketika] menarik napas pendek, ia mengetahui ia sedang menarik napas pendek; [ketika] menghembuskan napas pendek, ia mengetahui ia sedang menghembuskan napas pendek.

Ia berlatih [dalam mengalami] keseluruhan tubuh ketika menarik napas; ia berlatih [dalam mengalami] keseluruhan tubuh ketika menghembuskan napas. Ia berlatih dalam menenangkan aktivitas-aktivitas jasmani ketika menarik napas; ia berlatih dalam menenangkan aktivitas-aktivitas <jasmani> ketika menghembuskan napas.<224>

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dari dalam dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan [yang dialami dalam jhāna pertama], sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan.<225>

Seperti halnya seorang petugas pemandian, setelah memenuhi wadah dengan bubuk mandi, dapat mencampurnya dengan air dan meremas-remasnya sehingga tidak ada bagian [bubuk itu] yang tidak sepenuhnya dibasahi dan diliputi dengan air. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dari dalam dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan, sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan.

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi [yang dialami dalam jhāna kedua], sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi.

Seperti halnya sebuah mata air gunung yang penuh dan meluap dengan air yang jernih dan bersih sehingga air yang datang dari empat arah mana pun tidak dapat memasukinya, dengan air mata air memancar ke atas dari bawah dengan sendirinya, mengalir keluar dan membanjiri sekelilingnya, sepenuhnya membasahi dan meliputi setiap bagian gunung itu. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi.

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dari dalam dengan kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita [yang dialami dalam jhāna ketiga], sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita.

Seperti halnya ketika seroja biru, merah, atau putih yang lahir di dalam air dan telah tumbuh besar dalam air, tetap terendam dalam air dengan setiap bagian dari akar, batang, bunga, dan daunnya sepenuhnya dibasahi dan diliputi [olehnya], dengan tidak ada bagian yang tidak diliputi oleh [air]. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dari dalam dengan kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita.

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu bertekad dalam batin untuk berdiam setelah meliputi dengan sempurna tubuhnya dengan kemurnian batin [yang dialami dalam jhāna keempat], sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh kemurnian batin.

Seperti halnya seseorang dapat menutupi dirinya sendiri dari kepala sampai kaki dengan sehelai kain yang berukuran tujuh atau delapan hasta, sehingga setiap bagian tubuhnya tertutupi. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu sepenuhnya meliputi tubuhnya dari dalam dengan kemurnian batin [yang dialami dalam jhāna keempat], sehingga tidak ada bagian [tubuhnya] yang tidak diliputi oleh kemurnian batin.

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu memperhatikan persepsi cahaya (ālokasannā), dengan baik menggenggamnya, dengan baik mempertahankannya, dan mengingatnya dengan baik dengan perhatian penuh, [sehingga] apa yang di belakang adalah seperti apa yang di depan, apa yang di depan adalah seperti apa yang di belakang, malam seperti siang, siang seperti malam, apa yang di atas seperti apa yang di bawah, dan apa yang di bawah seperti apa yang di atas. Dengan cara ini, ia mengembangkan keadaan pikiran yang tidak menyimpang dan tidak terkotori yang cemerlang dan jernih, keadaan pikiran yang sepenuhnya tidak terhalangi oleh halangan-halangan.<226>

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu dengan baik menggenggam tanda peninjauan kembali.<227> mengingatnya dengan baik dengan perhatian penuh. Seperti halnya seseorang yang duduk dapat merenungkan orang lain yang berbaring, atau seseorang yang berbaring dapat merenungkan orang lain yang duduk. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu dengan baik menggenggam tanda peninjauan kembali, mengingatnya dengan baik dengan perhatian penuh.

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu merenungkan jasmani ini dari kepala sampai kaki, berdasarkan posisinya dan berdasarkan [sifat]nya yang menarik dan menjijikkan, sebagai penuh dengan berbagai jenis ketidakmurnian, [dengan merenungkan]: “Di dalam jasmaniku ini terdapat rambut kepala, rambut tubuh, kuku, gigi, kulit ari kasar dan halus, kulit, daging, urat, tulang, jantung, ginjal, hati, paru-paru, usus besar, usus kecil, limpa, perut, kotoran, otak dan batang otak, air mata, keringat, lendir, air liur, nanah, darah, lemak, sumsum, dahak, empedu, dan air seni.”

Seperti halnya seseorang yang memiliki penglihatan, ketika melihat sebuah wadah yang penuh dengan berbagai biji-bijian, dapat dengan jelas membedakannya semua, dengan mengenalinya sebagai biji padi, biji jawawut, biji lobak, atau biji moster.<228> Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu merenungkan jasmani ini dari kepala sampai kaki, berdasarkan posisinya dan berdasarkan [sifat]nya yang menarik dan menjijikkan, sebagai penuh dengan berbagai jenis ketidakmurnian, [dengan merenungkan:] “Dalam jasmani[ku] ini terdapat rambut kepala, rambut tubuh, kuku, gigi, kulit ari kasar dan halus, kulit, daging, urat, tulang, jantung, ginjal, hati, paru-paru, usus besar, usus kecil, limpa, perut, kotoran, otak dan batang otak, air mata, keringat, lendir, air liur, nanah, darah, lemak, sumsum, dahak, empedu, dan air seni.”

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu merenungkan jasmani [sebagai terbentuk dari] unsur-unsur: “Dalam jasmaniku ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran.”<229>

Seperti halnya seorang tukang daging, setelah menyembelih dan menguliti seekor sapi, dapat membaginya menjadi enam bagian dan menghamparkannya di atas tanah [untuk diperlihatkan guna dijual]. Dengan cara yang sama seorang bhikkhu merenungkan jasmani [sebagai terbentuk dari] unsur-unsur: “Dalam jasmaniku ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran.”

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seorang bhikkhu merenungkan sesosok mayat yang telah meninggal selama satu, dua, atau sampai dengan enam atau tujuh hari, yang dipatuk oleh burung gagak, dimangsa oleh anjing hutan dan serigala, terbakar oleh api, atau dikuburkan dalam tanah,<230> atau yang sepenuhnya membusuk dan terurai. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan mayat itu: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seperti halnya ia sebelumnya telah melihat [sesosok mayat] di tanah pekuburan, [demikianlah] bhikkhu itu [mengingat] bangkai berwarna kebiruan, yang terurai dan setengah dimakan [oleh hewan], tulang-tulang yang tergeletak di atas tanah masih tersambung bersama. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan [mayat itu]: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seperti halnya ia sebelumnya telah melihat [sesosok kerangka] di tanah pekuburan, [demikianlah] seorang bhikkhu [mengingatnya] tanpa kulit, daging, atau darah, yang dipertahankan bersama hanya oleh urat. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan kerangka itu: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seperti halnya ia sebelumnya telah melihat [tulang-tulang] di tanah pekuburan, [demikianlah] seorang bhikkhu [mengingat] tulang-tulang yang tidak tersambung yang telah berserakan ke segala arah: tulang kaki, tulang kering, tulang paha, tulang panggul, tulang belakang, tulang bahu, tulang leher, dan tulang tengkorak, semuanya di tempat-tempat yang berbeda. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan tulang-tulang itu: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #5 on: 24 January 2021, 01:16:21 PM »
Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani: Seperti halnya ia sebelumnya telah melihat [tulang-tulang] di tanah pekuburan, [demikianlah] seorang bhikkhu [mengingat] tulang-tulang yang berwarna putih bagaikan kulit kerang, atau kebiruan seperti warna seekor burung merpati, atau merah seakan-akan berlumuran darah, yang membusuk dan terurai, hancur menjadi debu. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan tulang-tulang itu: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal [atau] ia merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap jasmani dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan jasmani sebagai jasmani.

Jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni merenungkan jasmani dengan cara ini bahkan selama waktu yang singkat, maka ini adalah apa yang dimaksud dengan penegakan perhatian dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani.<231>

Apakah penegakan perhatian dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan? Ketika mengalami perasaan menyenangkan, seorang bhikkhu mengetahui ia sedang mengalami perasaan menyenangkan; ketika mengalami perasaan menyakitkan, ia mengetahui ia sedang mengalami perasaan menyakitkan; ketika mengalami perasaan netral, ia mengetahui ia sedang mengalami perasaan netral; ketika mengalami perasaan jasmani yang menyenangkan, ia mengetahui ia sedang mengalami [perasaan] jasmani yang menyenangkan, [ketika mengalami perasaan] jasmani yang menyakitkan, ... [perasaan] jasmani yang netral, ... [perasaan] batin yang menyenangkan, ... [perasaan] batin yang menyakitkan, ... [perasaan] batin yang netral, ... [perasaan] duniawi yang menyenangkan, ... [perasaan] duniawi yang menyakitkan, ... [perasaan] duniawi yang netral, ... [perasaan] non-duniawi yang menyenangkan, ... [perasaan] non-duniawi yang menyakitkan, ... [perasaan] non-duniawi yang netral, ... [perasaan] menyenangkan [yang berhubungan dengan] kenikmatan indria, ... [perasaan] menyakitkan [yang berhubungan dengan] kenikmatan indria, ... [perasaan] netral [yang berhubungan dengan] kenikmatan indria, ... [perasaan] menyenangkan [yang tidak berhubungan dengan] kenikmatan indria, ... [perasaan] menyakitkan [yang tidak berhubungan dengan] kenikmatan indria ... ; ketika [mengalami perasaan] netral [yang tidak berhubungan dengan] kenikmatan indria, ia mengetahui ia sedang mengalami perasaan netral yang tidak berhubungan dengan kenikmatan indria.<232>

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan perasaan sebagai perasaan secara internal [atau] ia merenungkan perasaan sebagai perasaan secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap perasaan dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan perasaan sebagai perasaan. Jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni merenungkan perasaan dengan cara ini bahkan selama waktu yang singkat, maka ia adalah apa yang dimaksud dengan penegakan perhatian dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan.

Apakah penegakan perhatian dengan merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran? Seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, keadaan pikiran dengan nafsu sebagai keadaan pikiran dengan nafsu; ia mengetahui, sebagaimana adanya, keadaan pikiran tanpa nafsu sebagai keadaan pikiran tanpa nafsu; [ia mengetahui, sebagaimana adanya, keadaan pikiran] dengan kebencian, ... [keadaan pikiran] tanpa kebencian, ... [keadaan pikiran] dengan delusi, ... [keadaan pikiran] tanpa delusi, ... [keadaan pikiran] yang terkotori, [keadaan pikiran] yang tidak terkotori, ... [keadaan pikiran] yang mengerut, ... [keadaan pikiran] yang kacau, ... [keadaan pikiran] yang rendah, ... [keadaan pikiran] yang mulia, ... [keadaan pikiran] yang terbatas, ... [keadaan pikiran] yang luas, ... [keadaan pikiran] yang terkembang, .... [keadaan pikiran] yang tidak berkembang, ... [keadaan pikiran] yang terkonsentrasi, ... [keadaan pikiran] yang tidak terkonsentrasi ... ; ia mengetahui, sebagaimana adanya, [keadaan pikiran] yang tidak terbebaskan sebagai [keadaan pikiran] yang tidak terbebaskan; ia mengetahui, sebagaimana adanya, [keadaan pikiran] yang terbebaskan sebagai [keadaan pikiran] yang terbebaskan.<233>

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran secara internal [atau] ia merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran secara eksternal. Ia menegakkan perhatian terhadap keadaan pikiran dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran. Jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni merenungkan keadaan pikiran dengan cara ini bahkan selama waktu yang singkat, maka ini adalah apa yang dimaksud dengan penegakan perhatian dengan merenungkan keadaan pikiran sebagai keadaan pikiran.

Apakah penegakan perhatian dengan merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma?<234> Dengan bergantung pada mata dan bentuk, suatu belenggu internal [dapat] muncul. [Ketika] suatu belenggu internal [demikian] benar-benar ada, seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa suatu belenggu internal ada; [ketika] suatu belenggu internal benar-benar tidak ada, seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa suatu belenggu internal tidak ada; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana suatu belenggu internal yang belum muncul muncul; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana suatu belenggu internal yang telah muncul lenyap dan tidak muncul kembali.<235>
Dengan cara yang sama untuk telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, ... Dengan bergantung pada pikiran dan objek pikiran suatu belenggu internal [dapat] muncul. [Ketika] suatu belenggu internal [demikian] benar-benar ada, seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa suatu belenggu internal ada; [ketika] suatu belenggu internal benar-benar tidak ada, ia mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa suatu belenggu internal tidak ada; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana suatu belenggu internal yang belum muncul muncul; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana suatu belenggu internal yang telah muncul lenyap dan tidak muncul kembali.

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara internal [atau] ia merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara ekternal. . Ia menegakkan perhatian terhadap dharma-dharma dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma, yaitu [sehubungan dengan] enam landasan [indria] internal.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma: [Ketika] nafsu indria benar-benar ada secara internal, seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa nafsu indria ada; [ketika] nafsu indria benar-benar tidak ada secara internal, ia mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa nafsu indria tidak ada; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana nafsu indria yang belum muncul muncul; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana nafsu indria yang telah muncul lenyap dan tidak muncul kembali.

Dengan cara yang sama untuk kemarahan, ... kelambanan dan ketumpulan, ... kegelisahan dan kekhawatiran .... [Ketika] keragu-raguan benar-benar ada secara internal, seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa keragu-raguan ada; [ketika] keragu-raguan benar-benar tidak ada secara internal, ia mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa keragu-raguan tidak ada; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana keragu-raguan yang belum muncul muncul; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana keragu-raguan yang telah muncul lenyap dan tidak muncul kembali.

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara internal [atau] ia merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara ekternal. . Ia menegakkan perhatian terhadap dharma-dharma dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma, yaitu [sehubungan dengan] lima rintangan.

Selanjutnya, seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma: [Ketika] faktor pencerahan perhatian benar-benar ada secara internal, seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa faktor pencerahan perhatian ada; [ketika] faktor pencerahan perhatian benar-benar tidak ada secara internal, ia mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa faktor pencerahan perhatian tidak ada; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana faktor pencerahan perhatian yang belum muncul muncul; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana faktor pencerahan perhatian dipertahankan tanpa kehilangan atau kemerosotan, dan bagaimana ia lebih lanjut dikembangkan dan ditingkatkan.

Dengan cara yanng sama penyelidikan dharma,<236> ... semangat, ... sukacita, ... ketenangan, ... konsentrasi .... [Ketika] faktor pencerahan keseimbangan benar-benar ada secara internal, seorang bhikkhu mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa faktor pencerahan keseimbangan ada; [ketika] faktor pencerahan keseimbangan benar-benar tidak ada secara internal, ia mengetahui, sebagaimana adanya, bahwa faktor pencerahan keseimbangan tidak ada; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana faktor pencerahan keseimbangan yang belum muncul muncul; ia mengetahui, sebagaimana adanya, bagaimana faktor pencerahan keseimbangan dipertahankan tanpa kehilangan atau kemerosotan, dan bagaimana ia lebih lanjut dikembangkan dan ditingkatkan.

Dengan cara ini seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara internal [atau] ia merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma secara ekternal. . Ia menegakkan perhatian terhadap dharma-dharma dan memiliki pengetahuan, penglihatan, pemahaman, dan penembusan. Ini adalah [bagaimana] seorang bhikkhu merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma, yaitu [sehubungan dengan] tujuh faktor pencerahan. Jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni merenugkan dharma-dharma dengan cara ini bahkan selama waktu yang singkat, maka ini disebut sebagai penegakan perhatian dengan merenungkan dharma-dharma sebagai dharma-dharma.

Jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni dengan pikiran yang tenang mempertahankan dengan baik empat penegakan perhatian selama tujuh tahun, maka ia pasti akan mencapai [salah satu dari] dua buah: pengetahuan akhir di sini dan saat ini atau, jika terdapat sisa [kemelekatan], pencapaian yang tidak-kembali. Jangankan tujuh tahun, ... enam [tahun], ... lima [tahun], ... empat [tahun], ... tiga [tahun], ... dua [tahun], ... [atau] satu tahun, jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni dengan pikiran yang tenang mempertahankan dengan baik empat penegakan perhatian selama tujuh bulan, maka ia pasti akan mencapai [salah satu dari] dua buah: pengetahuan akhir di sini dan saat ini atau, jika terdapat sisa [kemelekatan], pencapaian yang tidak-kembali.

Jangankan tujuh bulan, ... enam [bulan], ... lima [bulan], ... empat [bulan], ... tiga [bulan], ... dua [bulan], ... [atau] satu bulan, jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni dengan pikiran yang tenang mempertahankan dengan baik empat penegakan perhatian selama tujuh hari dan malam, ia pasti akan mencapai salah satu dari dua buah: pengetahuan akhir di sini dan saat ini atau, jika terdapat sisa [kemelekatan], pencapaian yang tidak-kembali.

Jangankan tujuh hari dan malam, ... enam [hari dan malam], ... lima [hari dan malam], ... empat [hari dan malam], ... tiga [hari dan malam], ... dua [hari dan malam], ... [atau] satu hari dan malam, jika seorang bhikkhu atau bhikkhuni dengan pikiran yang tenang mempertahankan dengan baik empat penegakan perhatian bahkan selama waktu yang singkat, maka, berlatih dengan cara ini pada pagi hari, ia pasti akan memperoleh kemajuan pada malam hari yang sama, [atau] berlatih dengan cara ini pada malam hari, ia pasti akan memperoleh kemajuan pada pagi hari [berikutnya].<237>

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #6 on: 24 January 2021, 01:22:51 PM »
99. Kotbah [Pertama] tentang Kumpulan Dukkha<238>

Demikianlah telah kudengar. Pada satu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu, setelah makan siang, para bhikkhu sedang duduk bersama di aula perkumpulan karena suatu hal kecil, ketika banyak para praktisi ajaran lain sedang berjalan-jalan di sekeliling setelah makan siang, mendekati para bhikkhu.<239> Setelah bertukar salam, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi, mereka berkata kepada para bhikkhu:

Teman-teman yang mulia, pertapa Gotama menjelaskan pengetahuan penetratif atas kenikmatan indria, beliau menjelaskan pengetahuan penetratif atas bentuk jasmani, dan beliau menjelaskan pengetahuan penetratif atas perasaan. Teman-teman yang mulia, kami juga menjelaskan pengetahuan penetratif atas kenikmatan indria,  menjelaskan pengetahuan penetratif atas bentuk jasmani, dan menjelaskan pengetahuan penetratif atas perasaan.

Sehubungan dengan dua pengetahuan ini dan dua penembusan ini [yang dijelaskan oleh] pertapa Gotama dan oleh kami sendiri, manakah yang lebih tinggi [atau lebih rendah] dan apakah perbedaannya?

Kemudian para bhikkhu, yang mendengar apa yang dikatakan banyak praktisi ajaran lain itu, tidak menyetujui ataupun membantah tetapi dengan berdiam diri bangkit dan pergi, dengan berpikir: “Dari Sang Bhagavā kami akan memperoleh pemahaman apa yang telah demikian dikatakan.” Kemudian mereka mendekati Sang Buddha. Setelah memberikan penghormatan dengan kepala mereka [pada kaki beliau], mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi, mereka menceritakan kepada Sang Buddha seluruh diskusi yang mereka lakukan dengan banyak praktisi ajaran lain itu.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Kalian seharusnya langsung bertanya kepada banyak praktisi ajaran lain itu demikian: “Teman-teman yang mulia, apakah kepuasan (assāda) dalam kenikmatan indria, apakah bahaya (ādīnava) dalam kenikmatan indria, dan apakah jalan membebaskan diri (nissaraṇa) dari kenikmatan indria? Apakah kepuasan dalam bentuk jasmani, apakah bahaya dalam bentuk jasmani, dan apakah jalan membebaskan diri dari bentuk jasmani? Apakah kepuasan dalam perasaan, apakah bahaya dalam perasaan, dan apakah jalan membebaskan diri dari perasaan?”

Para bhikkhu, jika kalian menanyakan mereka hal ini, maka ketika mendengar [pertanyaan-pertanyaan ini] mereka akan kesulitan menjawabnya. Mereka akan [mengalihkan] pembicaraan pada topik lain, akan menjadi semakin kebingungan, dan [pada akhirnya] pasti akan bangkit dari tempat duduk mereka dan mengundurkan diri dengan diam. Mengapakah demikian?
Aku tidak melihat di dunia ini, dengan para dewa dan māra, para Brahmā, para pertapa, dan para brahmana, dan semua perkumpulan lainnya, siapa pun yang dapat memahami dan menguraikan makna hal ini, kecuali Sang Tathāgata, seorang siswa Sang Tathāgata, atau seseorang yang telah mendengarnya dari mereka.

Sang Buddha berkata:

Apakah kepuasan dalam kenikmatan indria? Ia adalah kenikmatan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada lima utas kenikmatan indria. Ini adalah kepuasan tertinggi dalam kenikmatan indria dengan tiada yang melampauinya, [tetapi] ia diliputi oleh banyak bahaya.

Apakah bahaya dalam kenikmatan indria? Seorang anggota keluarga menggunakan apa pun kemampuan atau keterampilan yang ia miliki untuk memperoleh penghidupan, apakah itu pertanian, perdagangan, menggunakan pengetahuan akademis, keterampilan dalam pembukuan, pengetahuan berhitung, keterampilan dalam mengukir cap, menulis naskah, membuat alat tulis, memahami kitab-kitab suci, bertugas sebagai panglima pemberani, atau melayani raja.

Ketika cuaca dingin, ia [diserang oleh] rasa dingin; ketika cuaca panas, ia [diserang oleh] rasa panas; ia menjadi lapar, haus, dan lelah, serta digigit oleh nyamuk dan serangga pengganggu ketika ia menjalankan pekerjaan demikian dalam pencariannya atas kekayaan.

Jika anggota keluarga itu, yang melakukan usaha demikian, menjalankan kegiatan demikian dan perjuangan demikian, tidak memperoleh kekayaan, maka ia mengalami dukacita dan kesakitan, ia khawatir dan bersedih, kecewa dan jengkel, serta kebingungan muncul dalam pikirannya. Ia berkata [kepada dirinya sendiri], “Pekerjaanku sia-sia, penderitaanku sia-sia, perjuanganku tidak berhasil!”

[Namun,] jika anggota keluarga itu, yang melakukan usaha demikian, menjalankan kegiatan demikian dan perjuangan demikian, memperoleh kekayaan, maka ia menyayangi dan menghargai kekayaan itu, dengan menjaganya dalam ruang penyimpanan yang tersembunyi. Mengapakah demikian?

[Karena ia berpikir,] “Semoga kekayaanku ini tidak diambil secara paksa oleh raja, dicuri oleh pencuri, atau terbakar dalam api; semoga ia tidak rusak dan hancur atau hilang! Semoga tidak ada uangku yang keluar tanpa menghasilkan keuntungan, atau digunakan untuk apa pun pekerjaan yang gagal!” [Karena alasan ini,] ia menjaga [kekayaannya] demikian, dalam ruang penyimpanan yang tersembunyi.

Jika kekayaan itu diambil secara paksa oleh raja, dicuri oleh pencuri, terbakar dalam api, rusak, hancur, runtuh, atau hilang, maka dukacita dan kesakitan muncul. Ia khawatir dan bersedih, kecewa dan jengkel, dan kebingungan muncul dalam pikirannya, seraya ia berkata [pada dirinya sendiri,] “Yang kusimpan selama waktu yang lama sekarang runtuh dan hilang.” Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.<240>

Selanjutnya, [di antara] makhluk-makhluk hidup, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, seorang ibu berselisih dengan anaknya, atau seorang anak berselisih dengan ibunya, seorang ayah [berselisih] dengan anaknya, ... seorang kakak laki-laki dengan adik laki-lakinya, ... seorang kakak perempuan dengan adik perempuannya, ... atau para sanak keluarga berselisih satu sama lainnya.

Setelah berselisih seperti ini, seorang ibu berkata buruk terhadap anaknya, seorang anak berkata buruk terhadap ibunya, seorang ayah [berkata buruk] terhadap anaknya, ... seorang kakak laki-laki terhadap adik laki-laki, ... seorang kakak perempuan terhadap adik perempuannya, ... dan para sanak keluarga berkata buruk satu sama lainnya, apalagi orang lain.<241> Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, [di antara] makhluk-makhluk hidup, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, raja berselisih dengan raja, brahmana berselisih dengan brahmana, perumah tangga berselisih dengan perumah tangga, warga kota berselisih dengan warga kota, dan negeri berselisih dengan negeri.

Karena mereka berselisih dan membenci satu sama lain, mereka mengambil berbagai jenis senjata untuk melukai satu sama lain, menyerang [satu sama lain] dengan tinju, atau melempar batu [satu sama lain], atau memukul [satu sama lain] dengan tongkat, atau melukai [satu sama lain] dengan pedang. Selama perselisihan mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai serta pergi berperang. Mereka bertempur di atas gajah, kuda, atau kereta, atau sebagai pasukan pejalan kaki, atau mereka bertempur sebagai orang [biasa].<242> Selama pertempuran mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai, serta [berangkat untuk] menaklukkan negeri lain. Mereka mengepung sebuah kota dan menghancurkan bentengnya, berbaris dalam barisan perang sampai memukul genderang, meniup terompet, dan berteriak keras. Mereka menyerang dengan palu, atau mereka menggunakan tombak dan tombak berkapak, atau mereka menggunakan roda pemotong, atau mereka menembakkan anak panah, atau mereka melemparkan batu, atau mereka menggunakan katapel besar, atau mereka menuangkan butiran tembaga cair. Selama pertempuran mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah atau mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai, serta maju memasuki sebuah desa, kota kecil, kampung, atau kota. Mereka menerobos dinding dan membuka ruang penyimpanan untuk mencuri harta kekayaan. Mereka mencegat [para pelancong] pada jalan raya raja atau menjangkau jalan lainnya. Mereka menghancurkan pedesaan, merusak kota-kota kecil, memusnahkan perkampungan, dan memporak-porandakan kota-kota.

Dalam proses itu mereka mungkin ditangkap oleh orang-orang raja, yang menjatuhkan mereka berbagai hukuman, seperti memotong tangan mereka, kaki mereka, atau baik tangan maupun kaki; memotong telinga mereka, hidung mereka, atau baik hidung maupun telinga; atau mengiris potongan [daging] mereka, atau menarik janggut mereka, rambut mereka, atau baik janggut maupun rambut; atau menempatkan mereka dalam kurungan dan membakar pakaian mereka, atau menyelimuti mereka dalam jerami dan membakarnya, atau menempatkan mereka dalam perut “keledai besi” atau mulut “babi besi” atau mulut “macan besi” dan kemudian memanaskannya; atau menempatkan mereka dalam ketel tembaga atau besi dan merebus mereka; atau memotong mereka menjadi potongan-potongan, atau menusuk mereka dengan garpu tajam, atau mengaitkan mereka dengan kait besi, atau membaringkan mereka di atas ranjang besi dan membuat mereka melepuh dengan minyak panas, atau mendudukkan mereka dalam lumpang besi dan menumbuk mereka dengan alu besi, atau membiarkan mereka digigit oleh ular atau ular besar, atau mencambuk mereka dengan cambuk, atau memukul mereka dengan tongkat, atau memukul mereka dengan gada, atau menusuk mereka hidup-hidup pada tonggak tinggi, atau memenggal mereka.

Dalam proses itu mereka akan tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Pada waktu belakangan mereka terserang oleh penyakit dan berbaring di atas tempat tidur mereka, atau duduk atau berbaring di atas tanah, dengan kesakitan menekan tubuh mereka, mengalami kesakitan yang sangat berat yang sama sekali tidak diinginkan.

Pada saat kematian perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka yang jahat muncul di hadapan mereka dan menyelubungi mereka. Seperti halnya ketika matahari tenggelam, bayangan puncak gunung besar menyelubungi bumi – dengan cara yang sama perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka yang jahat muncul di hadapan mereka dan menyelubungi mereka.<243>

Mereka berpikir: “Sebelumnya aku melakukan perbuatan-perbuatan jahat, yang [sekarang] muncul di hadapanku dan menyelubungiku. Sebelumnya aku tidak melakukan perbuatan-perbuatan bajik; aku melakukan banyak perbuatan jahat. Jika terdapat tempat di mana orang-orang terlahir kembali yang melakukan apa yang jahat, buruk, dan berbahaya, yang hanya melakukan kejahatan, yang tidak berbuat kebajikan dan tidak melakukan perbuatan baik, yang tanpa ketakutan [terhadap akibat perbuatan mereka], tanpa kebergantungan, tanpa perlindungan, maka aku pasti akan terlahir kembali di sana.”

Dari hal ini mereka merasakan penyesalan, dan karena menyesal mereka mengalami kematian yang buruk, dan kehidupan mereka berakhir tanpa kebajikan. Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Karena perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat tersebut, dengan hal ini sebagai sebab, dengan hal ini sebagai kondisi, ketika hancurnya jasmani pada saat kematian mereka pasti akan pergi menuju alam yang buruk dan terlahir kembali di neraka. Ini adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya. Ini adalah apa yang dimaksud dengan bahaya dari kenikmatan indria.

Apakah jalan membebaskan diri dari kenikmatan indria? Ditinggalkannya dan dibuangnya kenikmatan indria, pelepasan dan penolakan kenikmatan indria, lenyapnya kenikmatan indria, penghancuran kenikmatan indria, melampaui dan membebaskan diri dari kenikmatan indria – ini adalah apa yang dimaksud dengan jalan membebaskan diri dari kenikmatan indria.

Siapa pun para pertapa atau brahmana yang tidak mengetahui, sebagaimana adanya, kepuasan dalam kenikmatan indria, bahaya dalam kenikmatan indria, dan jalan membebaskan diri dari kenikmatan indria sepenuhnya tidak dapat meninggalkan kenikmatan indria mereka sendiri. Bagaimana mungkin kemudian mereka menyebabkan orang lain meninggalkan kenikmatan indria?

Siapa pun para pertapa atau brahmana yang mengetahui, sebagaimana adanya, kepuasan dalam kenikmatan indria, bahaya dalam kenikmatan indria, dan jalan membebaskan diri dari kenikmatan indria dapat membuang [kenikmatan indria] mereka sendiri dan juga dapat menyebabkan orang lain untuk meninggalkan kenikmatan indria.

Apakah kepuasan dalam bentuk jasmani? Seumpamanya terdapat seorang gadis dari [kasta] ksatria, brahmana, pedagang, atau pekerja, berusia empat belas atau lima belas tahun. Pada waktu itu kecantikan jasmaninya sedang pada titik terbaiknya. Kenikmatan dan kegembiraan yang muncul dengan kecantikan jasmaninya sebagai sebabnya, dengan kecantikan jasmaninya sebagai kondisinya, itu adalah kepuasan tertinggi dalam bentuk jasmani. Tiada yang melampauinya, [tetapi] ia diliputi oleh banyak bahaya.

Apakah bahaya dalam bentuk jasmani? Seumpamanya seseorang melihat gadis cantik itu pada waktu belakangan ketika ia menjadi sangat tua dan lemah, rambutnya berubah putih dan giginya tanggal, dengan punggung bungkuk dan goyah kakinya, bersandar pada tongkat untuk berjalan, dengan kesehatan yang menurun, masa kehidupannya mendekati akhirnya, tubuhnya bergemetar, dan indria-indrianya merosot.

Apakah yang kalian pikirkan? Apakah kecantikan jasmaninya yang sebelumnya telah lenyap dan bahayanya muncul?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ya benar.”

[Sang Buddha berkata:]

Selanjutnya, seumpamanya seseorang melihat gadis cantik [sebelumnya] itu terserang penyakit, berbaring di atas tempat tidur, atau duduk atau berbaring di atas tanah, dengan kesakitan menekan tubuhnya, mengalami penderitaan yang sangat parah. Apakah yang kalian pikirkan? Apakah kecantikan jasmaninya yang sebelumnya telah lenyap dan bahayanya muncul?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ya benar.”

[Sang Buddha berkata:]

Selanjutnya, seumpamanya seseorang melihat [mayat] gadis cantik [sebelumnya] itu, meninggal selama satu, dua hari, atau sampai dengan enam atau tujuh hari, dipatuk oleh burung gagak dan elang, dimangsa oleh anjing hutan dan serigala, terbakar oleh api atau dikuburkan dalam tanah, atau sepenuhnya membusuk dan terurai. Apakah yang kalian pikirkan? Apakah kecantikannya yang sebelumnya telah lenyap dan bahayanya muncul?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ya benar.”

[Sang Buddha berkata:]

Selanjutnya, seumpamanya seseorang melihat [mayat] gadis cantik [sebelumnya] itu di tanah pekuburan sebagai bangkai yang berwarna kebiruan, terurai dan setengah dimakan [oleh hewan], dengan kerangka tergeletak di atas tanah yang masih tersambung bersama. Apakah yang kalian pikirkan? Apakah kecantikannya yang sebelumnya telah lenyap dan bahayanya muncul?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ya benar.”

[Sang Buddha berkata:]

Selanjutnya, seumpamanya seseorang melihat [kerangka] gadis cantik itu di tanah pekuburan tanpa kulit, daging, atau darah, yang dipertahankan bersama hanya oleh urat. Apakah yang kalian pikirkan? Apakah kecantikannya yang sebelumnya telah lenyap dan bahayanya muncul?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ya benar.”

[Sang Buddha berkata:]

Selanjutnya, seumpamanya seseorang melihat [tulang-tulang] gadis cantik [sebelumnya] itu di tanah pekuburan, tulang-tulang yang tidak tersambung yang berserakan ke segala arah: tulang kaki, tulang kering, tulang paha, tulang panggul, tulang belakang, tulang bahu, tulang leher, dan tulang tengkorak, semuanya di tempat-tempat yang berbeda. Apakah yang kalian pikirkan? Apakah kecantikannya yang sebelumnya telah lenyap dan bahayanya muncul?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ya benar.”

[Sang Buddha berkata:]

Selanjutnya, seumpamanya seseorang melihat [tulang-tulang] gadis cantik [sebelumnya] itu di tanah pekuburan, tulang-tulang berwarna putih bagaikan kulit kerang, atau kebiruan seperti warna seekor burung merpati, atau merah seakan-akan berlumuran darah, yang membusuk dan terurai, [hancur] berkeping-keping. Apakah yang kalian pikirkan? Apakah kecantikannya yang sebelumnya telah lenyap dan bahayanya muncul?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ya benar.”

[Sang Buddha berkata:]

Ini adalah apa yang dimaksud dengan bahaya dalam bentuk jasmani.

Apakah jalan membebaskan diri dari bentuk jasmani? Ditinggalkannya dan dibuangnya bentuk jasmani, pelepasan dan penolakan bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, penghancuran bentuk jasmani, melampaui dan membebaskan diri dari bentuk jasmani – ini adalah apa yang dimaksud dengan jalan membebaskan diri dari bentuk jasmani.

Siapa pun para pertapa atau brahmana yang tidak mengetahui, sebagaimana adanya, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan membebaskan diri dari bentuk jasmani sepenuhnya tidak dapat meninggalkan bentuk jasmani mereka sendiri. Bagaimana mungkin kemudian mereka dapat menyebabkan orang lain meninggalkan bentuk jasmani?

Siapa pun pertapa atau brahmana yang mengetahui, sebagaimana adanya, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan membebaskan diri dari bentuk jasmani dapat membuang [bentuk jasmani] mereka sendiri dan juga dapat menyebabkan orang lain meninggalkan bentuk jasmani.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #7 on: 24 January 2021, 01:23:02 PM »
Apakah kepuasan dalam perasaan? Terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, seorang bhikkhu berdiam setelah mencapai ... sampai dengan ... jhāna keempat. Pada saat itu ia tidak memiliki kehendak menyakiti dirinya sendiri ataupun kehendak menyakiti orang lain. Tanpa kehendak menyakiti adalah apa yang dimaksud dengan kenikmatan dan kepuasan dalam perasaan. Mengapakah demikian? [Karena] ia yang tanpa kehendak menyakiti menyempurnakan kebahagiaan demikian. Ini adalah apa yang dimaksud dengan kepuasan dalam perasaan.
Apakah bahaya dalam perasaan? Perasaan adalah bersifat tidak kekal, bersifat tidak memuaskan, bersifat mengalami kelenyapan. Ini adalah apa yang dimaksud dengan bahaya dalam perasaan.

Apakah jalan membebaskan diri dari perasaan? Ditinggalkannya dan dibuangnya perasaan, pelepasan dan penolakan perasaan, lenyapnya perasaan, penghancuran perasaan, melampaui dan membebaskan diri dari perasaan – ini adalah apa yang dimaksud dengan jalan membebaskan diri dari perasaan.

Siapa pun para pertapa atau brahmana yang tidak mengetahui, sebagaimana adanya, kepuasan dalam perasaan, bahaya dalam perasaan, dan jalan membebaskan diri dari perasaan sepenuhnya tidak dapat meninggalkan perasaan mereka sendiri. Bagaimana mungkin kemudian mereka menyebabkan orang lain meninggalkan perasaan?

Siapa pun para pertapa atau brahmana yang mengetahui, sebagaimana adanya, kepuasan dalam perasaan, bahaya dalam perasaan, dan jalan membebaskan diri dari perasaan pasti dapat membuang [perasaan] mereka sendiri dan juga dapat menyebabkan orang lain meninggalkan perasaan.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #8 on: 24 January 2021, 01:28:12 PM »
100. Kotbah [Kedua] tentang Kumpulan Dukkha<244>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Sakya di Kapilavatthu, di Taman Nigrodha.

Pada waktu itu Mahānāma orang Sakya, ketika sedang berjalan-jalan setelah tengah hari, mendekati Sang Buddha. Setelah memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi, ia berkata:

Sang Bhagavā, seperti aku memahami ajaran Sang Bhagavā, aku harus melenyapkan tiga kekotoran dalam pikiranku: kekotoran pikiran oleh keserakahan, kekotoran pikiran oleh kebencian, dan kekotoran pikiran oleh delusi.

Sang Bhagavā, [walaupun] aku memahami ajaran seperti ini, tetapi keadaan-keadan keserakahan, keadaan-keadaan kebencian, dan keadaan-keadaan delusi masih muncul dalam pikiranku. Sang Bhagavā, aku berpikir: Apakah kondisi yang belum kuhancurkan yang masih menyebabkan keadaan-keadaan keserakahan, keadaan-keadaan kebencian, dan keadaan-keadaan delusi muncul dalam pikiranku?

Sang Bhagavā berkata:

Mahānāma, [di dalam] dirimu terdapat satu kondisi yang belum dihancurkan, yaitu [di mana karenanya] engkau tetap seorang perumah tangga, alih-alih meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan dan menjadi seorang tanpa rumah untuk berlatih sang jalan. Mahānāma, jika engkau telah menghancurkan satu kondisi ini, engkau pasti tidak akan tetap seorang perumah tangga tetapi pasti akan meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan dan menjadi seorang tanpa rumah untuk berlatih sang jalan. Adalah karena satu kondisi ini belum dihancurkan sehingga engkau tetap seorang perumah tangga alih-alih meninggalkan kehidupan berumah tangga demi keyakinan dan menjadi seorang tanpa rumah untuk berlatih sang jalan.

Atas hal ini Mahānāma orang Sakya bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangannya disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata kepada Sang Bhagavā, “Semoga Sang Bhagavā mengajarkanku Dharma, sehingga pikiranku menjadi murni, membebaskannya dari keragu-raguan, dan mencapai sang jalan!”<245>

Sang Bhagavā berkata:<246>

Mahānāma, terdapat lima utas kenikmatan indria yang diinginkan, dipikirkan, disenangi, berhubungan dengan nafsu, dan dinikmati oleh orang-orang. Apakah lima hal itu? Mereka adalah bentuk-bentuk terlihat yang dikenali oleh mata, suara-suara yang dikenali oleh telinga, bebauan yang dikenali oleh hidung, rasa-rasa yang dikenali oleh lidah, dan sentuhan yang dikenali oleh badan.

Dari hal-hal ini, raja dan para pengiring raja memperoleh kenikmatan dan kegembiraan. Mahānāma, ini adalah kepuasan tertinggi dalam kenikmatan indria. Tiada yang melampauinya, [tetapi] ia diliputi oleh banyak bahaya.

Mahānāma, apakah bahaya dalam kenikmatan indria? Mahānāma, seorang anggota keluarga dapat menggunakan apa pun kemampuan atau keterampilan yang ia miliki untuk memperoleh penghidupan, apakah itu pertanian, perdagangan, menggunakan pengetahuan akademis, keterampilan dalam pembukuan, pengetahuan berhitung, keterampilan dalam mengukir cap, menulis naskah, membuat alat tulis, memahami kitab-kitab suci, bertugas sebagai panglima pemberani, atau melayani raja.

Ketika cuaca dingin, ia [diserang oleh] rasa dingin; ketika cuaca panas, ia [diserang oleh] rasa panas; ia menjadi lapar, haus, dan lelah, serta digigit oleh nyamuk dan serangga pengganggu ketika ia menjalankan pekerjaan demikian dalam pencariannya atas kekayaan. Mahānāma, jika anggota keluarga itu, yang melakukan usaha demikian, menjalankan kegiatan demikian dan perjuangan demikian, tidak memperoleh kekayaan, maka ia mengalami dukacita dan ketidakbahagiaan, ia khawatir dan bersedih, kecewa dan jengkel, serta kebingungan muncul dalam pikirannya. Ia berkata [pada dirinya sendiri], “Pekerjaanku sia-sia, penderitaanku sia-sia, perjuanganku tidak berhasil!”

[Namun,] Mahānāma, jika anggota keluarga itu, yang melakukan usaha demikian, menjalankan kegiatan demikian dan perjuangan demikian, memperoleh kekayaan, maka ia menyayangi dan menghargai kekayaan itu, dengan menjaganya dalam ruang penyimpanan yang tersembunyi. Mengapakah demikian?

[Karena ia berpikir,] “Semoga kekayaanku ini tidak diambil secara paksa oleh raja, dicuri oleh pencuri, atau terbakar dalam api; semoga ia tidak rusak dan hancur atau hilang! Semoga tidak ada uangku yang keluar tanpa [menghasilkan] keuntungan, atau digunakan untuk apa pun pekerjaan yang gagal!” [Karena alasan ini,] ia menjaga [kekayaannya] demikian dalam ruang penyimpanan yang tersembunyi.

Jika kekayaan itu diambil secara paksa oleh raja, dicuri oleh pencuri, terbakar dalam api; jika ia rusak atau hancur atau hilang, maka dukacita dan ketidakbahagiaan muncul. Ia khawatir dan bersedih, kecewa dan jengkel, dan kebingungan muncul dalam pikirannya, dan ia berkata [pada dirinya sendiri,] “Yang kusimpan selama waktu yang lama sekarang hilang!” Seperti ini, Mahānāma, adalah kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.<247>

Selanjutnya, Mahānāma, [di antara] makhluk-makhluk hidup, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, seorang ibu berselisih dengan anaknya, atau seorang anak berselisih dengan ibunya, seorang ayah [berselisih dengan] anaknya, ... seorang kakak laki-laki dengan adik laki-lakinya, ... seorang kakak perempuan dengan adik perempuannya, ... atau para sanak keluarga berselisih satu sama lainnya.

Setelah berselisih seperti ini, seorang ibu berkata buruk terhadap anaknya, seorang anak berkata buruk terhadap ibunya, seorang ayah [berkata buruk] terhadap anaknya, ... seorang kakak laki-laki terhadap adik laki-laki, ... seorang kakak perempuan terhadap adik perempuannya, ... atau para sanak keluarga berkata buruk satu sama lainnya, apalagi orang lain.<248> Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, [di antara] makhluk-makhluk hidup, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, raja berselisih dengan raja, brahmana berselisih dengan brahmana, perumah tangga berselisih dengan perumah tangga, warga kota berselisih dengan warga kota, dan negeri berselisih dengan negeri.

Karena mereka berselisih dan membenci satu sama lain, mereka mengambil berbagai jenis senjata untuk melukai satu sama lain, menyerang [satu sama lain] dengan tinju, atau melempar batu [satu sama lain], atau memukul [satu sama lain] dengan tongkat, atau melukai [satu sama lain] dengan pedang. Selama perselisihan mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai serta pergi berperang. Mereka bertempur di atas gajah, kuda, atau kereta, atau sebagai pasukan pejalan kaki, atau mereka bertempur sebagai orang [biasa].<249> Selama pertempuran mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai, serta [berangkat untuk] menaklukkan negeri lain. Mereka mengepung sebuah kota dan menghancurkan bentengnya, berbaris dalam barisan perang sampai memukul genderang, meniup terompet, dan berteriak keras. Mereka menyerang dengan palu, atau mereka menggunakan tombak dan tombak berkapak, atau mereka menggunakan roda pemotong, atau mereka menembakkan anak panah, atau mereka melemparkan batu, atau mereka menggunakan katapel besar, atau mereka menuangkan butiran tembaga cair. Selama pertempuran mereka mungkin tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup mengenakan baju zirah dan mantel [logam], mengambil tombak atau busur dan anak panah, atau mengayunkan pedang dan perisai, dan maju memasuki desa, kota kecil, kampung, atau kota. Mereka menerobos dinding dan membuka ruang penyimpanan untuk mencuri harta kekayaan. Mereka memutus jalan raya raja atau menjangkau jalan lainnya. Mereka menghancurkan pedesaan, merusak kota-kota kecil, memusnahkan perkampungan, dan memporak-porandakan kota-kota.

Dalam proses itu mereka mungkin ditangkap oleh orang-orang raja, yang menjatuhkan mereka berbagai hukuman, seperti memotong tangan mereka, kaki mereka, atau baik tangan maupun kaki; memotong telinga mereka, hidung mereka, atau baik hidung maupun telinga; atau mengiris potongan [daging] mereka, atau menarik janggut atau rambut mereka, atau menarik baik janggut maupun rambut, atau menempatkan mereka dalam kurungan dan membakar pakaian mereka, atau menyelimuti mereka dalam jerami dan membakarnya; atau menempatkan mereka dalam perut “keledai besi” atau mulut “babi besi” atau mulut “macan besi” dan kemudian memanaskannya; atau menempatkan mereka dalam ketel tembaga atau besi dan merebus mereka; atau memotong mereka menjadi potongan-potongan, atau menusuk mereka dengan garpu tajam, atau mengaitkan mereka dengan kait besi, atau membaringkan mereka di atas ranjang besi dan membuat mereka melepuh dengan minyak panas, atau mendudukkan mereka dalam lumpang besi dan menumbuk mereka dengan alu besi, atau membiarkan mereka digigit oleh ular atau ular besar, atau mencambuk mereka dengan cambuk, atau memukul mereka dengan tongkat, atau memukul mereka dengan gada, atau menusuk mereka hidup-hidup pada tonggak tinggi, atau memenggal mereka.

Dalam proses itu mereka akan tewas atau ketakutan, mengalami penderitaan hebat. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Pada waktu belakangan mereka terserang oleh penyakit dan berbaring di atas tempat tidur, atau duduk atau berbaring di atas tanah, dengan kesakitan menekan tubuh mereka, mengalami kesakitan yang sangat berat yang sama sekali tidak diinginkan.

Pada saat kematian perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka yang jahat muncul di hadapan mereka dan menyelubungi mereka. Seperti halnya ketika matahari tenggelam, bayangan puncak gunung besar menyelubungi bumi, dengan cara yang sama perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran mereka yang jahat muncul di hadapan mereka dan menyelubungi mereka.<250>

Mereka berpikir: “Sebelumnya aku melakukan perbuatan-perbuatan jahat, yang [sekarang] muncul di hadapanku dan menyelubungiku. Sebelumnya aku tidak melakukan perbuatan-perbuatan bajik; aku melakukan banyak perbuatan jahat. Jika terdapat tempat di mana orang-orang terlahir kembali yang melakukan apa yang jahat, buruk, dan berbahaya, yang hanya melakukan kejahatan, yang tidak berbuat kebajikan dan tidak melakukan perbuatan baik, yang tanpa ketakutan [terhadap akibatnya], tanpa kebergantungan, tanpa perlindungan – aku pasti akan terlahir kembali di sana.”

Dari hal ini mereka merasakan penyesalan, dan karena menyesal mereka mengalami kematian yang buruk, dan kehidupan mereka berakhir tanpa kebajikan. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Selanjutnya, Mahānāma, dengan kenikmatan indria sebagai sebab, kenikmatan indria sebagai kondisi, dan kenikmatan indria sebagai sumber, makhluk-makhluk hidup melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Karena perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat tersebut, dengan hal ini sebagai sebab, dengan hal ini sebagai kondisi, ketika hancurnya jasmani pada saat kematian mereka pasti akan pergi menuju alam yang buruk dan terlahir kembali di neraka. Ini, Mahānāma, adalah apa yang dimaksud dengan kumpulan dukkha pada masa sekarang, yang memiliki kenikmatan indria sebagai sebabnya, kenikmatan indria sebagai kondisinya, dan kenikmatan indria sebagai sumbernya.

Mahānāma, karena alasan ini seharusnya dipahami bahwa tidak ada kebahagiaan dalam semua kenikmatan indria; [hanya terdapat] penderitaan dan kesedihan tak terhitung. [Jika] seorang siswa mulia tidak melihat hal ini sebagaimana adanya, maka ia diselubungi oleh kenikmatan indria dan tidak akan mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya.

Mahānāma, dengan cara ini seorang siswa mulia mengalami kemunduran karena kenikmatan indria. Mahānāma, aku mengetahui bahwa tidak ada kebahagiaan dalam kenikmatan indria, tetapi hanya kesedihan tak terhitung. Mengetahui hal ini sebagaimana adanya, Mahānāma, aku tidak diselubungi oleh kenikmatan indria dan tidak dikuasai oleh apa yang jahat, dan dengan demikian aku mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya. Mahānāma, karena alasan ini aku tidak mengalami kemunduran karena kenikmatan indria.<251>
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #9 on: 24 January 2021, 01:30:06 PM »
Mahānāma, suatu ketika aku sedang berdiam di dekat Rājagaha, di Gunung Vebhāra di Gua Sattapaṇṇi [yang sering dikunjungi oleh] para pertapa.<252> Mahānāma, pada saat sore menjelang malam, setelah bangkit dari duduk bermeditasi, aku mendekati lereng gunung itu.

Di sana aku melihat banyak Nigaṇṭha menjalankan latihan tidak duduk, berdiri terus-menerus tanpa duduk, mengalami kesakitan yang sangat hebat. Aku mendekati mereka dan bertanya, “Para Nigaṇṭha, karena alasan apakah kalian menjalankan latihan tidak duduk, berdiri terus-menerus tanpa duduk ini, mengalami kesakitan seperti ini?”

Mereka berkata, “Gotama, kami memiliki seorang guru, seorang Nigaṇṭha bernama Nātaputta, yang mengajarkan kami, dengan berkata,<253> ‘Para Nigaṇṭha, apa pun karma tidak bermanfaat yang dilakukan dalam kehidupan lampau kalian pasti akan dihancurkan melalui latihan keras. Jika kalian mempertahankan ucapan jasmani dan perilaku batin yang baik, maka karena hal itu kalian tidak akan melakukan karma jahat dan tidak bermanfaat lebih lanjut’.”

Mahānāma, aku bertanya kepada mereka lebih lanjut, “Para Nigaṇṭha, apakah kalian memiliki keyakinan kepada guru kalian dan apakah kalian bebas dari keragu-raguan?”<254> Mereka menjawab, “Ya tentu saja, Gotama. Kami memiliki keyakinan kepada guru kami dan bebas dari keragu-raguan.”

Mahānāma, aku bertanya kepada mereka lebih lanjut, “Para Nigaṇṭha, jika demikian, maka [apakah ini berarti bahwa] dalam kehidupan lampau kalian dan guru Nigaṇṭha kalian berulang-ulang melakukan perbuatan jahat dan tidak bermanfaat,<255> dan setelah sebelumnya melakukan [perbuatan demikian] kalian para Nigaṇṭha, pada saat meninggal dunia dan terlahir kembali sekarang di alam manusia, pergi meninggalkan keduniawian sebagai para Nigaṇṭha untuk menjalankan latihan tidak duduk, berdiri terus-menerus tanpa duduk, mengalami kesakitan seperti ini, seperti halnya yang sedang kalian dan para siswa kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Gotama, kebahagiaan dicapai tidak melalui kebahagiaan tetapi melalui kesakitan. Kebahagiaan yang dialami oleh pertapa Gotama tidak dapat menyamai kebahagiaan Raja Bimbisāra.”

Aku berkata lebih lanjut, “Kalian kebingungan. Apa yang kalian katakan tidak bermakna. Mengapakah demikian? Tidak terampil, tanpa pemahaman, dan tidak mengetahui waktu yang tepat, kalian telah membuat pernyataan ini:<256> ‘Kebahagiaan yang dialami oleh pertapa Gotama tidak dapat menyamai kebahagiaan Raja Bimbisāra.’ Para Nigaṇṭha, kalian seharusnya pertama-tama bertanya, ‘Siapakah [yang mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi, Raja Bimbisāra atau pertapa Gotama?’ Para Nigaṇṭha, aku akan menjawab seperti ini, ‘Aku [mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi; Raja Bimbisāra tidak dapat menyamainya.’ Namun, para Nigaṇṭha, kalian menyatakan bahwa ‘Kebahagiaan yang dialami oleh pertapa Gotama tidak dapat menyamai kebahagiaan Raja Bimbisāra’.”

Kemudian para Nigaṇṭha berkata, “Gotama, kami sekarang bertanya kepada pertapa Gotama: Siapakah [yang mengalami] kebahagiaan yang lebih besar, Raja Bimbisāra atau pertapa Gotama?”

Aku menjawab lebih lanjut, “Para Nigaṇṭha, aku sekarang akan bertanya kepada kalian. Jawablah sesuai dengan pemahaman kalian. Para Nigaṇṭha, apakah yang kalian pikirkan? Dapatkah Raja Bimbisāra, menurut keinginannya, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama tujuh hari dan tujuh malam?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Tidak, Gotama.”

[Aku bertanya lebih lanjut, “Dapatkah ia, menurut keinginannya, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian] memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama enam hari, … lima, … empat, … tiga, … dua hari, … atau satu hari dan satu malam?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Tidak, Gotama.”

Aku bertanya lagi, “Para Nigaṇṭha, dapatkah aku, menurut keinginanku, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama satu hari dan satu malam?”<257> Para Nigaṇṭha menjawab, “Ya tentu saja, Gotama.”

[Aku bertanya lagi, “Dapatkah aku, menurut keinginanku, berdiam dalam keheningan, tidak berkata sepatah kata pun, dan dengan demikian] memperoleh sukacita dan kebahagiaan selama dua, … tiga, … empat, … lima, … enam, … atau tujuh hari dan tujuh malam?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Ya tentu saja, Gotama.”

Aku bertanya lagi, “Para Nigaṇṭha, apakah yang kalian pikirkan, siapakah yang [mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi, Raja Bimbisāra atau diriku?” Para Nigaṇṭha menjawab, “Gotama, seperti yang kami terima dan pahami apa yang dikatakan pertapa Gotama, Gotama [mengalami] kebahagiaan yang lebih tinggi; Raja Bimbisāra tidak dapat menyamainya.”<258>

Mahānāma, karena alasan ini ketahuilah bahwa tidak ada kebahagiaan dalam kenikmatan indria; hanya terdapat penderitaan dan kesedihan tak terhitung. [Jika] seorang siswa mulia tidak melihat hal ini sebagaimana adanya, maka ia diselubungi oleh kenikmatan indria, terjerat dalam apa yang jahat dan tidak bermanfaat, dan tidak akan mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya.

Mahānāma, dengan cara ini seorang siswa mulia mengalami kemunduran karena kenikmatan indria. Mahānāma, aku mengetahui bahwa tidak ada kebahagiaan dalam kenikmatan indria; hanya terdapat penderitaan dan kesedihan tak terhitung. Mengetahui hal ini sebagaimana adanya, aku tidak diselubungi oleh kenikmatan indria, tidak terjerat oleh keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, serta dengan demikian mencapai kebahagiaan pelepasan dan kedamaian tiada bandingnya. Mahānāma, karena alasan ini aku tidak mengalami kemunduran karena kenikmatan indria.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Mahānāma orang Sakya dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #10 on: 24 January 2021, 01:35:13 PM »
101. Kotbah tentang Keadaan Pikiran yang Lebih Tinggi<259>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi (adhicitta) maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan lima tanda. Melalui perhatian berulang-ulang pada lima tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan, pikiran akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Apakah lima [tanda] itu? Jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul [ketika] seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka karena tanda [yang mendahului] ini [telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], ia [seharusnya] alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak akan muncul kembali.

[Jika,] karena tanda [yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], ia alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya seorang tukang kayu atau murid tukang kayu dapat menerapkan seutas benang bertinta pada sepotong kayu [untuk menandai garis lurus],<260> dan kemudian memotong kayu itu dengan sebuah kapak yang tajam untuk membuatnya lurus.<261> Dengan cara yang sama, karena tanda [yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], bhikkhu itu alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak akan muncul kembali.

[Jika,] karena tanda [yang mendahului telah membawa pada munculnya pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat], ia alih-alih memperhatikan tanda yang berbeda yang berhubungan apa yang bermanfaat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda pertama [yang berbeda] ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul [ketika] seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, maka ia [seharusnya] merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan diliputi oleh bahaya [demikian]: “Pemikiran-pemikiran ini adalah tidak bermanfaat, pemikiran-pemikiran ini adalah jahat, pemikiran-pemikiran ini dicela oleh para bijaksana. Seseorang yang dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran ini tidak akan mencapai penembusan, tidak akan mencapai jalan menuju pencerahan, tidak akan mencapai nirvana, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh].”

[Jika] ia merenungkannya dengan cara ini sebagai jahat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya seseorang pemuda yang sangat tampan dapat mandi dan membersihkan dirinya sendiri,<262> berpakaian dalam pakaian yang bersih, menggunakan wewangian pada tubuhnya, dan menyisir janggut dan rambutnya, agar bersih tanpa noda. Jika seseorang mengambil bangkai ular, bangkai anjing, atau mayat manusia yang telah setengah dimakan [oleh hewan], atau berwarna kebiruan, bengkak dan membusuk, dengan ketidakmurnian mengalir keluar, dan meletakkan [bangkai hewan atau mayat itu] di sekeliling leher [pemuda itu], maka [orang itu] akan jijik terhadap kotoran itu, mereka tidak akan menikmati atau menyukainya. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu [seharusnya] merenungkan pemikiran-pemikiran [yang muncul] ini sebagai jahat dan diliputi oleh bahaya [demikian]: “Pemikiran-pemikiran ini adalah tidak bermanfaat, pemikiran-pemikiran ini adalah jahat, pemikiran-pemikiran ini dicela oleh para bijaksana. Seseorang yang dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran ini tidak akan mencapai penembusan, tidak akan mencapai jalan menuju pencerahan, tidak akan mencapai nirvana, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh].”

[Jika] ia merenungkannya dengan cara ini sebagai jahat, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda kedua ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat, dan jika ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat yang berbahaya muncul kembali, maka bhikkhu itu seharusnya tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh].

[Jika] ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya ketika terdapat bentuk-bentuk terlihat di suatu tempat yang cukup terang dan seseorang dengan penglihatan baik yang tidak [memiliki] keinginan untuk melihatnya menutup matanya atau berbalik dan pergi. Apakah yang kalian pikirkan? Bentuk-bentuk terlihat [tersebut] yang berada di suatu tempat yang cukup terang, apakah orang itu dapat menerima gambaran bentuk tersebut?

[Para bhikkhu] menjawab, “Ia tidak akan [menerima gambaran tersebut].”

[Sang Buddha berkata:]

Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu seharusnya tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, karena mereka akan menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat [yang lebih jauh]. [Jika] ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran ini, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda ketiga ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika bhikkhu itu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat; dan jika, ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul kembali; dan jika, ketika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang lebih jauh; maka, sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, bhikkhu itu seharusnya menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

[Jika] sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran itu secara bertahap, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya seseorang yang berjalan dengan cepat, terburu-buru, dapat merenungkan, “Mengapakah aku terburu-buru? Tidakkah lebih baik aku berjalan lebih perlahan sekarang?” dan demikianlah ia berjalan dengan perlahan. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku berjalan dengan perlahan? Tidakkah lebih baik aku berdiri diam?” dan demikianlah ia berdiri diam. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku berdiri? Tidakkah lebih baik aku duduk?” dan demikianlah ia duduk. Kemudian ia merenungkan lagi, “Mengapakah aku duduk? Tidakkah lebih baik aku berbaring?” dan demikianlah ia berbaring. Dengan cara ini orang itu secara bertahap menenangkan aktivitas jasmani kasarnya.

Seharusnya dipahami bahwa bhikkhu itu juga seperti ini bahwa [ketika], sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

[Jika,] sehubungan dengan pemikiran-pemikiran ini, ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran itu secara bertahap, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda keempat ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Selanjutnya, jika pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan dengan apa yang bermanfaat; dan jika, ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran ini sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat juga muncul; dan jika, ketiak ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran tersebut, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang lebih lanjut muncul; dan jika ketika ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran tersebut secara bertahap, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat muncul kembali; maka bhikkhu itu seharusnya merenungkan demikian: “Jika, karena pemikiran-pemikiran ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat ini muncul dalam diri seorang bhikkhu, maka bhikkhu itu seharusnya, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.”

[Jika] ia menggunakan pikiran untuk menggendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Seperti halnya dua orang yang kuat dapat mencengkeram seorang yang lemah, dengan menggenggamnya dan menundukkannya. Dengan cara yang sama seorang bhikkhu, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulutnya, menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya sehingga pemikiran-pemikiran jahat dan tidak bermanfaat tidak muncul kembali.

[Jika] ia menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, menggenggamnya dan menundukkannya, maka pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, maka ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan tanda kelima ini. Melalui perhatian pada tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika seorang bhikkhu berharap untuk mencapai keadaan pikiran yang lebih tinggi, ia seharusnya berulang-ulang memperhatikan lima tanda ini. Melalui perhatian berulang-berulang pada lima tanda ini, pemikiran-pemikiran tidak bermanfaat yang telah muncul akan dengan cepat dipadamkan. Dengan pemikiran-pemikiran jahat yang telah dipadamkan, pikirannya akan terus-menerus berkembang dalam ketenangan internal; ia akan menjadi terpusat dan mencapai konsentrasi.

Jika ketika seorang bhikkhu memberikan perhatian pada suatu tanda yang berhubungan pada apa yang bermanfaat, pemikiran-pemikiran jahat tidak muncul kembali; [jika] ketika ia merenungkan pemikiran-pemikiran [jahat] sebagai jahat dan berbahaya, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; [jika] ketika ia tidak memperhatikan pemikiran-pemikiran [jahat], pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; jika ketika ia menggerakkan kehendaknya untuk mengurangi pemikiran-pemikiran [jahat] secara bertahap, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali; [dan] jika ketika ia menggunakan pikiran untuk mengendalikan pikiran, dengan menggenggamnya dan menundukkannya, pemikiran-pemikiran jahat juga tidak muncul kembali – maka ia telah mencapai penguasaan diri. Ia berpikir apa yang ingin ia pikirkan dan tidak berpikir apa yang tidak ia ingin pikirkan.

Jika seorang bhikkhu berpikir apa yang ingin ia pikirkan dan tidak berpikir apa yang tidak ingin ia pikirkan, maka ia disebut sebagai seorang bhikkhu yang berpikir menurut keinginannya, yang memiliki penguasaan atas jalan pikiran.<263>

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #11 on: 24 January 2021, 01:38:07 PM »
102. Kotbah tentang Pemikiran-Pemikiran<264>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada saat itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Sebelumnya, ketika aku belum mencapai pencerahan yang tiada bandingnya, sempurna, dan sepenuhnya, aku berpikir: “Biarkanlah aku membedakan pemikiran-pemikiranku menjadi dua bagian, dengan pemikiran keinginan indria, pemikiran permusuhan, dan pemikiran kekejaman sebagai satu bagian, serta pemikiran tanpa keinginan indria, pemikiran tanpa permusuhan, dan pemikiran tanpa kekejaman sebagai bagian lain.”

Setelah itu aku membagi semua pemikiranku menjadi dua bagian, dengan pemikiran keinginan indria, pemikiran permusuhan, dan pemikiran menyakiti sebagai satu bagian, serta pemikiran tanpa keinginan indria, pemikiran tanpa permusuhan, dan pemikiran tanpa menyakiti sebagai bagian lain.

Dengan berlatih seperti ini, aku pergi dan berdiam di tempat yang jauh dan terpencil, berlatih dengan tekun dengan pikiran yang bebas dari kelalaian. [Jika] pemikiran keinginan indria muncul, aku langsung memahami “Pemikiran keinginan indria telah muncul, yang berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana.” Ketika memahami bahwa ia berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana, ia dengan cepat lenyap.

Selanjutnya, [jika] pemikiran permusuhan, … [atau] pemikiran kekejaman muncul, aku langsung memahami “Pemikiran permusuhan, … [atau] pemikiran kekejaman telah muncul, yang berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana.” [Ketika aku] memahami bahwa ia berbahaya bagi diriku sendiri, berbahaya bagi orang lain, berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, akan menghancurkan kebijaksanaan, menyebabkan banyak kesulitan, dan tidak [membawa pada] pencapaian nirvana, ia dengan cepat lenyap.

[Jika] pemikiran keinginan indria muncul dalam diriku, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, memuntahkannya keluar. [Jika] pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman muncul, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, dan memuntahkannya keluar. Mengapakah demikian? Karena aku melihat bahwa tak terhitung keadaan-keadaan tidak bermanfaat yang jahat pasti akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Seperti halnya pada bulan terakhir musim semi, karena lahan-lahan telah ditanam, wilayah di mana sapi-sapi dapat merumput terbatas, dan seorang penggembala sapi setelah membebaskan sapi-sapi di daerah rawa yang tidak digarap, menggunakan tongkat untuk mencegah mereka tersesat ke lahan orang lain. Mengapakah demikian? Karena penggembala sapi mengetahui bahwa ia pasti akan ditegur, dipukuli, atau dipenjara [jika sapi-sapi itu] memasuki lahan orang lain. Karena alasan ini, penggembala sapi menggunakan tongkat untuk mencegahnya.

Dengan cara yang sama, [jika] pemikiran keinginan indria muncul dalam diriku, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, dan memuntahkannya keluar. [Jika] pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman muncul, aku tidak menerimanya namun meninggalkannya, membuangnya, dan memuntahkannya keluar. Mengapakah demikian? Karena aku melihat bahwa tak terhitung keadaan jahat dan tidak bermanfaat pasti akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Para bhikkhu, sesuai dengan apa yang seseorang kehendaki, sesuai dengan apa yang seseorang pikirkan, pikiran bergembira di dalam hal itu. Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran keinginan indria dan meninggalkan pemikiran tanpa keinginan indria, maka dengan sering memikirkan pemikiran keinginan indria pikirannya bergembira di dalamnya.

Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman dan meninggalkan pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman, maka dengan sering memikirkan pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman pikirannya bergembira di dalamnya.

Demikianlah seorang bhikkhu yang tidak meninggalkan pemikiran keinginan indria, tidak meninggalkan pemikiran permusuhan, dan tidak meninggalkan pemikiran kekejaman tidak akan dapat membebaskan dirinya kelahiran, usia tua, kematian, kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan; ia tidak akan dapat membebaskan diri dari semua dukkha ini.<265>

Dengan berlatih seperti ini, aku pergi dan berdiam di tempat yang jauh dan terpencil, berlatih dengan tekun dengan pikiran yang bebas dari kelalaian. [Jika] pemkiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku langsung memahami, “Pemikiran tanpa keinginan indria telah muncul, yang tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan, dan pada pencapaian nirvana.” Ketika memahami bahwa ia tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, serta bahwa ia akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan dan pada pencapaian nirvana, aku dengan cepat mengembangkannya dan berulang-ulang melakukannya.

Selanjutnya, [jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul dalam diriku, aku langsung memahami, “Pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman telah muncul, yang tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, yang akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan dan pada pencapaian nirvana.” Ketika memahami bahwa ia tidak berbahaya bagi diriku sendiri, tidak berbahaya bagi orang lain, tidak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, serta bahwa ia akan [membawa pada] pengembangan kebijaksanaan tanpa kesulitan dan pada pencapaian nirvana, aku dengan cepat mengembangkannya dan berulang-ulang melakukannya.

[Jika] pemikiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku dengan sengaja terus-menerus memikirkannya. [Jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul, aku dengan sengaja terus-menerus memikirkannya.

Aku lebih lanjut berpikir: “Jika aku dengan sengaja terus-menerus memikirkan[nya] jasmaniku akan kehilangan kekuatan dan pikiranku akan terganggu. Biarkanlah aku sebaiknya menjaga pikiranku terkendali dari dalam, dengan terus-menerus berdiam dalam ketenangan internal, terpusat, setelah mencapai konsentrasi, sehingga pikiranku tidak akan terganggu.”
Setelah itu aku menjaga pikiranku terkendali dari dalam, dengan terus-menerus berdiam dalam ketenangan internal, terpusat, setelah mencapai konsentrasi, dan pikiranku tidak lagi terganggu.

[Jika] pemikiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. [Jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. Mengapakah demikian? [Karena] aku tidak melihat bahwa tak terhitung keadaan jahat dan tidak bermanfaat akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Seperti halnya pada bulan terakhir musim gugur, ketika seluruh hasil panen telah dikumpulkan, seorang penggembala sapi membebaskan sapi-sapi di lahan yang tidak digarap dan memperhatikan mereka, dengan berpikir, “Sapi-sapiku berada di sana dalam kawanannya.” Mengapakah demikian? Karena anak penggembala sapi itu tidak melihat bahwa ia akan ditegur, dipukuli, atau dipenjara karena masuknya sapi-sapi itu ke lahan orang lain. Karena alasan ini ia memperhatikan mereka demikian, “Sapi-sapiku berada di sana dalam kawanannya.”

Dengan cara yang sama, [jika] pemikiran tanpa keinginan indria muncul dalam diriku, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. [Jika] pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman muncul, aku lebih lanjut [mengizinkan] pemikiran-pemikiran untuk muncul hingga cenderung pada Dharma dan sesuai dengan Dharma. Mengapakah demikian? [Karena] aku tidak melihat bahwa tak terhitung keadaan jahat dan tidak bermanfaat akan muncul karena [pemikiran-pemikiran demikian].

Para bhikkhu, sesuai dengan apa yang seseorang kehendaki, sesuai dengan apa yang seseorang pikirkan, pikiran bergembira di dalam hal itu. Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran tanpa keinginan indria dan meninggalkan pemikiran keinginan indria, maka karena sering memikirkan pemikiran tanpa keinginan indria pikirannya bergembira di dalamnya.

Jika seorang bhikkhu sering memikirkan pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman, dan meninggalkan pemikiran permusuhan, ... [atau] pemikiran kekejaman, maka karena sering memikirkan pemikiran tanpa permusuhan, ... [atau] pemikiran tanpa kekejaman indria pikirannya bergembira di dalamnya.<266>

Dengan penenangan kesadaran [terarah] dan perenungan [berkelanjutan], dengan ketenangan internal dan keterpusatan pikiran, ia berdiam setelah mencapai jhāna kedua, yang tanpa kesadaran [terarah] dan perenungan [berkelanjutan] serta dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi.

Terasing dari sukacita dan kenikmatan, dengan berdiam dalam keseimbangan dan tanpa mencari apa pun, dengan perhatian benar dan pemahaman benar, mengalami kenikmatan dengan jasmani, ia berdiam setelah mencapai jhāna ketiga, yang dikatakan para orang mulia sebagai keseimbangan dan perhatian mulia, suatu kediaman yang membahagiakan.

Dengan lenyapnya kenikmatan dan lenyapnya kesakitan, dan dengan lenyapnya sebelumnya sukacita dan penderitaan, dengan bukan kesakitan juga bukan kenikmatan, dan dengan kemurnian perhatian dan keseimbangan, ia berdiam setelah mencapai jhāna keempat.

Dengan pikirannya yang terkonsentrasi dan dimurnikan dengan cara ini, bebas dari kekotoran, bebas dari gangguan, lunak, kokoh, setelah mencapai ketanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada realisasi pengetahuan lebih tinggi atas hancurnya noda-noda.<267>

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah dukkha”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya dukkha”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya dukkha”; ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan [menuju] lenyapnya dukkha.”

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah noda-noda”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya noda-noda”; ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya noda-noda”; ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan [menuju] lenyapnya noda-noda.”

Mengetahui seperti ini dan melihat seperti ini, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda kelangsungan, dan dari noda ketidaktahuan. Terbebaskan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Bhikkhu ini, yang bebas dari pemikiran keinginan indria, bebas dari pemikiran permusuhan, dan bebas dari pemikiran kekejaman, mencapai pembebasan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan. Ia bebas dari semua dukkha.

Seperti halnya sekawanan rusa yang hidup di daerah yang terpencil di mana terdapat mata air besar. Seseorang datang yang tidak mencari manfaat dan kesejahteraan kawanan rusa itu, tidak mencari keamanan dan kebahagiaan mereka. Ia menutup jalan yang benar dan membuka jalan palsu, menggali sebuah lubang [sebagai sebuah jebakan], dan menyuruh seseorang menjaganya. Dengan cara ini seluruh kawanan rusa akan [terjebak dan] dibunuh.

Seumpamanya seseorang yang lain datang, yang mencari manfaat dan kesejahteraan kawanan rusa itu serta mencari keamanan dan kebahagiaan mereka. Ia membuka jalan yang benar, menutup jalan yang buruk, dan mengusir penjaga itu. Dengan cara ini seluruh kawanan rusa tersebut akan tetap aman dan selamat.

Para bhikkhu, kalian seharusnya mengetahui bahwa aku telah mengucapkan perumpamaan ini dengan berharap kalian mengetahui maknanya. Ketika mendengar suatu perumpamaan seorang yang bijaksana memahami maksudnya. Ini adalah makna dari perkataan ini: Mata air besar melambangkan lima utas kenikmatan indria yang menyenangkan, dirindukan, dan disenangi.

Apakah lima hal itu? Mereka adalah bentuk-bentuk terlihat yang diketahui oleh mata, suara-suara yang diketahui oleh telinga, bebauan yang diketahui oleh hidung, rasa-rasa yang diketahui oleh lidah, dan sentuhan yang diketahui oleh badan. Kalian seharusnya mengetahui bahwa “mata air besar” melambangkan lima kenikmatan indria ini.

Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa kawanan besar rusa [melambangkan] para pertapa dan brahmana. Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa seseorang yang datang dan tidak mencari manfaat dan kesejahteraan mereka, keamanan dan kebahagiaan mereka, [melambangkan] Māra, Si Jahat. Menutup jalan yang benar dan membuka jalan yang buruk [melambangkan] tiga jenis pemikiran jahat dan tidak bermanfaat: pemikiran keinginan indria, pemikiran permusuhan, dan pemikiran kekejaman.

Kalian seharusnya mengetahui bahwa jalan jahat [melambangkan] tiga pemikiran jahat dan tidak bermanfaat ini. Selanjutnya, terdapat jalan jahat lainnya, yaitu jalan salah berunsur delapan: pandangan salah, ... sampai dengan ... konsentrasi salah;  ini adalah delapan hal itu.<268> Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa lubang besar [melambangkan] ketidaktahuan. Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa pengawas [melambangkan] pengikut Māra, Si Jahat.<269>

Kalian [juga] seharusnya mengetahui bahwa orang lain yang datang, mencari manfaat dan kesejahteraan [kawanan rusa itu], mencari keamanan dan kebahagiaan, [melambangkan] Sang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna. Membuka jalan yang benar dan menutup jalan yang jahat [melambangkan] tiga pemikiran bermanfaat: pemikiran tanpa keinginan indria, pemikiran tanpa permusuhan, dan pemikiran tanpa kekejaman. Kalian seharusnya mengetahui bahwa jalan itu [melambangkan] tiga pemikiran bermanfaat ini. Selanjutnya, terdapat jalan lain, yaitu jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, ... sampai dengan ... konsentrasi benar; ini adalah delapan hal itu.

Para bhikkhu, aku telah membuka jalan yang benar untuk kalian dan menutup jalan yang jahat; aku telah menambal lubang dan mengusir penjaganya. Apa yang seharusnya dilakukan seorang guru untuk para siswanya demi belas kasih agung, kebaikan, simpati, dan perhatian, dengan mencari manfaat dan kesejahteraan mereka, mencari keamanan dan kebahagian mereka, telah kulakukan sekarang.

Kalian juga seharusnya melakukan tugas kalian. Pergilah dan duduk bermeditasi di tempat yang terpencil, di gunung, di dalam hutan, di bawah sebatang pohon dan tempat yang kosong dan tenang. Janganlah lalai, lakukan usaha yang tekun, agar kalian tidak menyesal kelak. Inilah instruksiku, inilah pengajaranku.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #12 on: 24 January 2021, 01:41:52 PM »
103. Kotbah tentang Auman Singa<270>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di antara orang-orang Kuru di kota Kuru bernama Kammāsadhamma.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Ketika kalian di antara perkumpulan-perkumpulan, kalian dapat mengaumkan auman singa sejati seperti ini: “Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat.<271> Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati].”

Para bhikkhu, seumpamanya bahwa para praktisi ajaran lain datang dan bertanya kepada kalian, “Teman-teman yang mulia, apakah [cara] latihan, apakah kekuatan, apakah pengetahuan yang kalian miliki, di mana melalui kebaikannya kalian membuat pernyataan demikian ketika kalian berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: ‘Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati]’?”

Para bhikkhu, kalian seharusnya menjawab para praktisi ajaran lain seperti ini: “Teman-teman yang mulia, Sang Bhagavā kami memiliki pengetahuan dan penglihatan, beliau adalah seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna. Beliau telah menyatakan empat prinsip, dan adalah karena empat prinsip ini sehingga kami membuat pernyataan demikian ketika berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: ‘Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati].’

“Apakah empat [prinsip] itu? Teman-teman yang mulia, kami memiliki keyakinan kepada sang guru; kami memiliki keyakinan kepada ajaran; kami memiliki keyakinan kepada, dan memiliki moralitas dari aturan latihan; dan kami merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka.

“Teman-teman yang mulia, Sang Bhagavā kami, yang memiliki pengetahuan dan penglihatan, yang adalah seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, telah menyatakan empat prinsip ini, dan adalah karena empat prinsip ini sehingga kami membuat pernyataan ketika berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: ‘Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati]’.”

Para bhikkhu, seumpamanya para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, kami juga memiliki keyakinan kepada sang guru, yaitu, kepada guru kami; kami memiliki keyakinan kepada ajaran, yaitu, kepada ajaran kami; kami memiliki moralitas dari aturan latihan, yaitu, aturan latihan kami; dan kami merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka, yaitu, teman-teman dalam jalan kami, baik mereka yang telah pergi meninggalkan keduniawian maupun mereka yang berdiam dalam rumah tangga.

“Teman-teman yang mulia, sehubungan dengan dua pengajaran ini, pengajaran pertapa Gotama dan pengajaran kami, apakah yang lebih tinggi [atau lebih rendah], apakah maknanya, dan apakah perbedaannya?”

Para bhikkhu, kalian seharusnya bertanya kepada para praktisi ajaran lain demikian: “Teman-teman yang mulia, apakah terdapat satu tujuan akhir atau terdapat banyak tujuan akhir?” Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, terdapat satu tujuan akhir; bukan terdapat banyak tujuan akhir,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut, “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki keinginan indria atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa keinginan indria?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir adalah dicapai oleh seseorang yang tanpa keinginan indria; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki keinginan indria,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki permusuhan atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa permusuhan?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa permusuhan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki permusuhan,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki delusi atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa delusi?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa delusi; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki delusi,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki ketagihan dan kemelekatan atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa tanpa ketagihan dan kemelekatan?”<272>

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa ketagihan dan kemelekatan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki ketagihan dan kemelekatan,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana, atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana,” maka, para bhikkhu, tanyakanlah para praktisi ajaran lain lebih lanjut: “Teman-teman yang mulia, apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang bermusuhan dan menyebabkan perselisihan, atau apakah tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan?”

Para bhikkhu, jika para praktisi ajaran lain menjawab seperti ini, “Teman-teman yang mulia, tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang bermusuhan dan menyebabkan perselisihan,” maka, para bhikkhu, katakanlah hal ini kepada para praktisi ajaran lain: “Teman-teman yang mulia, menurut apa yang telah kalian katakan, terdapat satu tujuan akhir; bukan terdapat banyak tujuan akhir. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa keinginan indria; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki keinginan indria.

“Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa permusuhan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki permusuhan. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa delusi; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki delusi. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tanpa ketagihan dan kemelekatan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang memiliki ketagihan dan kemelekatan.

“Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana. Tujuan akhir dicapai oleh seseorang yang tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan; tujuan akhir tidak dicapai oleh seseorang yang bermusuhan dan menyebabkan perselisihan.”

Jika para pertapa dan brahmana cenderung pada tak terhitung pandangan, maka mereka semua cenderung pada dua pandangan [mendasar]: pandangan penjelmaan dan pandangan tanpa penjelmaan. Jika mereka cenderung pada pandangan penjelmaan, maka mereka melekat pada pandangan penjelmaan, bergantung pada pandangan penjelmaan, mengambil posisi pada pandangan penjelmaan, dan berselisih dengan [mereka yang menganut] pandangan tanpa penjelmaan. Jika mereka cenderung pada pandangan tanpa penjelmaan, maka mereka melekat pada pandangan tanpa penjelmaan, bergantung pada pandangan tanpa penjelmaan, mengambil posisi pada pada tanpa penjelmaan, dan berselisih dengan [mereka yang menganut] pandangan penjelmaan.

Para pertapa dan brahmana yang tidak mengetahui sebab [dari dua pandangan ini], yang tidak mengetahui munculnya, tidak mengetahui lenyapnya, tidak mengetahui kepuasan di dalamnya, tidak mengetahui bahaya di dalamnya, dan tidak mengetahui jalan membebaskan diri darinya – mereka semua memiliki keinginan indria, mereka memiliki permusuhan dan delusi, mereka memiliki ketagihan, mereka memiliki kemelekatan, mereka tanpa kebijaksanaan dan tidak berbicara secara bijaksana, dan mereka bermusuhan dan menyebabkan perselisihan. Akibatnya, mereka tidak bebas dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian serta tidak dapat membebaskan diri mereka dari kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan, dukacita dan kesakitan, kesengsaraan dan kekesalan; mereka tidak mencapai akhir dukkha.

Para pertapa dan brahmana yang mengetahui sebab dari [dua] pandangan ini, yang mengetahui munculnya, mengetahui lenyapnya, mengetahui kepuasan di dalamnya, mengetahui bahaya di dalamnya, dan mengetahui jalan membebaskan diri darinya – mereka semua adalah tanpa keinginan indria, tanpa permusuhan, tanpa delusi, tanpa ketagihan, tanpa kemelekatan, mereka memiliki kebijaksanaan dan berbicara secara bijaksana, dan mereka tidak bermusuhan dan tidak menyebabkan perselisihan. Mereka bebas dari kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, serta dapat membebaskan diri mereka dari kekhawatiran dan kesedihan, ratapan dan tangisan, dukacita dan kesakitan, kesengsaraan dan kekesalan; karenanya, mereka mencapai akhir dukkha.

Mungkin terdapat para pertapa dan brahmana yang menyatakan ditinggalkannya kemelekatan tetapi tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan. Mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria tetapi mereka tidak menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada aturan, kemelekatan pada pandangan, dan kemelekatan pada suatu diri.<273> Mengapakah demikian?

Para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui tiga hal [kemelekatan] ini sebagaimana adanya; akibatnya, walaupun mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan, mereka tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan.

Selanjutnya, terdapat para pertapa dan brahmana yang menyatakan ditinggalkannya kemelekatan tetapi tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan. [Mereka] menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria dan kemelekatan pada aturan tetapi mereka tidak menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada pandangan dan kemelekatan pada suatu diri. Mengapakah demikian?

Para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui dua hal [kemelekatan] ini sebagaimana adanya; akibatnya, walaupun mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan, mereka tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan.

Selanjutnya, terdapat para pertapa dan brahmana yang menyatakan ditinggalkannya kemelekatan tetapi tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan. [Mereka] menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada aturan, dan kemelekatan pada pandangan tetapi mereka tidak menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada suatu diri. Mengapakah demikian?

Para pertapa dan brahmana tersebut tidak mengetahui satu hal [kemelekatan] ini sebagaimana adanya; akibatnya, walaupun mereka menyatakan ditinggalkannya kemelekatan, mereka tidak menyatakan ditinggalkannya semua [jenis] kemelekatan.

Dalam suatu ajaran dan disiplin demikian, jika seseorang memiliki keyakinan kepada sang guru, itu tidak tepat dan tidak [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki keyakinan kepada ajaran, itu juga tidak tepat dan tidak [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki moralitas dari aturan latihan; jika seseorang merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka, itu juga tidak tepat dan tidak [membawa pada] yang tertinggi.

Seorang Tathāgata muncul di dunia, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan.

Beliau menyatakan ditinggalkan kemelekatan, dengan menyatakan di sini dan saat ini meninggalkan semua [jenis] kemelekaatan. Beliau menyatakan ditinggalkannya kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada aturan, kemelekatan pada pandangan, dan kemelekatan pada suatu diri.

Apakah sebab dari empat [jenis] kemelekatan ini? Dari apakah mereka muncul? Dari manakah mereka mereka lahir? Apakah sumber mereka? Empat [jenis] kemelekatan ini disebabkan oleh ketidaktahuan, mereka muncul [karena] ketidaktahuan, mereka lahir dari ketidaktahuan, dan mereka memiliki ketidaktahuan sebagai sumbernya.<274>

Jika seorang bhikkhu menghancurkan ketidaktahuan dan membangkitkan pengetahuan, maka ia kemudian mengakhiri kemelekatan pada kenikmatan indria, kemelekatan pada aturan, kemelekatan pada pandangan, dan kemelekatan pada suatu diri. Tidak melekat, ia tidak gelisah; tanpa kegelisahan dan setelah meninggalkan sebab dan kondisinya, ia pasti mencapai nirvana akhir, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Dalam Dharma dan disiplin sejati demikian, jika seseorang memiliki keyakinan kepada sang guru, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki keyakinan kepada ajaran, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang memiliki moralitas dari aturan latihan, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi; jika seseorang merasakan kasih sayang dan penghormatan terhadap teman-teman dalam sang jalan, dengan menghormati dan mendukung mereka, itu adalah tepat dan [membawa pada] yang tertinggi.

Teman-teman yang mulia, ini adalah [cara] latihan, ini adalah kekuatan, ini adalah pengetahuan yang kami miliki, di mana dengan kebaikannya kami membuat pernyatana demikian ketika kami berada di antara perkumpulan-perkumpulan, dengan mengaumkan auman singa sejati seperti ini: “Dalam [pengajaran] ini terdapat pertapa [tingkat] pertama, [tingkat] kedua, ... [tingkat] ketiga, ... dan pertapa [tingkat] keempat. Di luar [pengajaran] ini tidak ada pertapa atau brahmana sejati; semua jalan [latihan] ajaran lain adalah kosong dari para pertapa dan brahmana [sejati].”<275>

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #13 on: 24 January 2021, 01:48:53 PM »
104. Kotbah di [Hutan] Udumbara<276>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha, di Hutan Bambu, Tempat Perlindungan Tupai.

Pada waktu itu terdapat seorang perumah tangga bernama Pikiran Sejati,<277> yang pagi-pagi sekali telah meninggalkan Rājagaha dengan maksud untuk mendekati Sang Buddha dan memberikan penghormatan kepada beliau.

Kemudian perumah tangga Pikiran Sejati berpikir, “Untuk sementara waktu, tidak perlu mendekati Sang Buddha. Sang Bhagavā dan para bhikkhu mungkin [masih] duduk bermeditasi. Biarlah aku lebih baik pergi ke hutan udumbara dan mendekati taman para praktisi ajaran lain.” Kemudian perumah tangga Pikiran Sejati pergi menuju hutan udumbara dan mendekati taman para praktisi ajaran lain.

Pada waktu itu di taman para praktisi ajaran lain di hutan udumbara terdapat seorang praktisi ajaran lain bernama Nigrodha,<278> yang dihormati sebagai seorang guru di antara para praktisi ajaran lain, dihormati oleh orang-orang sebagai seseorang yang menaklukkan banyak [musuh] dan adalah pemimpin dari lima ratus orang praktisi ajaran lain.

Ia sedang bersama perkumpulan yang kacau yang sedang membuat kegaduhan besar, terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan hewan,<279> diskusi [tentang hal-hal seperti] pembicaraan tentang raja-raja, pembicaraan tentang pencuri, pembicaraan tentang perang, pembicaraan tentang makanan dan minuman, pembicaraan tentang pakaian dan selimut, pembicaraan tentang wanita yang telah menikah, pembicaraan tentang anak perempuan, pembicaraan tentang wanita yang berselingkuh, pembicaraan tentang kebiasaan duniawi, pembicaraan tentang jalan latihan salah, pembicaraan tentang lautan, dan pembicaraan tentang negeri. Mereka semua duduk bersama di sana membicarakan berbagai jenis pembicaraan hewan ini.

Ketika praktisi ajaran lain Nigrodha melihat perumah tangga Pikiran Sejati datang dari kejauhan, ia menegur para pengikutnya, dengan mengatakan agar mereka diam:

Teman-teman yang mulia, diamlah! Janganlah berbicara! Nikmatilah berdiam diri! Biarlah masing-masing mengendalikan dirinya!

Mengapakah demikian? Perumah tangga Pikiran Sejati, seorang siswa pertapa Gotama, sedang datang. Di antara para siswa pertapa Gotama yang memiliki nama baik yang besar atas kebajikan dan layak dihormati, dan yang hidup sebagai perumah tangga di Rājagaha, ia adalah yang terkemuka. Ia tidak [banyak] berbicara tetapi menikmati keheningan dan berlatih pengendalian diri. Jika ia mengetahui bahwa perkumpulan ini berkembang dalam keheningan, ia mungkin akan mendekati kita.

Kemudian, setelah menenangkan perkumpulannya, praktisi ajaran lain Nigrodha sendiri berdiam diri. Kemudian perumah tangga Pikiran Sejati mendekati praktisi ajaran lain Nigrodha, bertukar salam ramah tamah, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata:

Nigrodha, Sang Bhagavā kami berlatih duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau hutan gunung, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] yang terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang.

Ini adalah pembawaan Sang Buddha, Sang Bhagavā. Beliau berlatih duduk bermeditasi di bawah pohon di suatu daerah yang sunyi atau gunung hutan, atau ketika berdiam di atas tebing tinggi, di [tempat] yang terpencil tanpa kebisingan, jauh, tanpa gangguan, dan tanpa orang-orang. Beliau selalu menikmati duduk bermeditasi di daerah-daerah yang jauh, dengan damai dan bahagia.

Sejak awalnya Sang Buddha, Sang Bhagavā, tidak pernah mengadakan pertemuan bersama dengan suatu kelompok besar, siang dan malam, seperti yang engkau lakukan hari ini dengan para pengikutmu.

Atas hal ini praktisi ajaran lain Nigrodha berkata:

Hentikanlah, perumah tangga, hentikanlah! Bagaimanakah engkau mengetahui? Pertapa Gotama adalah kosong dari kebijaksanaan dan pembebasan. Engkau tidak memiliki dasar yang cukup untuk mengatakan apakah [perilaku beliau] tepat atau tidak, apakah ini layak atau tidak.

Bahwa pertapa Gotama melekat pada pinggiran [daerah berpenduduk], menikmati pinggiran dan berdiam di pinggiran. Seperti halnya seekor sapi buta yang merumput di pinggiran dan melekat pada pinggiran, menikmati pinggiran dan berdiam di pinggiran, demikian juga dengan pertapa Gotama. Perumah tangga, jika pertapa Gotama itu datang ke perkumpulan ini, aku akan menghancurkannya dengan satu argumen, bagaikan seseorang dapat [memecahkan] kendi kosong, dan aku akan mengatakan padanya perumpamaan tentang sapi buta.

Kemudian praktisis ajaran lain Nigrodha berkata kepada perkumpulannya:

Teman-teman yang mulia, seumpamanya pertapa Gotama datang ke perkumpulan ini – jika ia harus datang, maka janganlah menunjukkan penghormatan kepadanya dengan berdiri dari tempat duduk kalian dan merentangkan tangan, dengan telapak tangan yang disatukan, terhadapnya; dan janganlah mengundangnya untuk duduk pada tempat duduk yang telah disediakan. Ketika ia tiba, katakan sesuatu seperti, “Gotama, terdapat tempat duduk. Duduklah di mana engkau suka!”<280>

Pada waktu itu Sang Bhagavā sedang duduk bermeditasi, dan dengan telinga dewa yang dimurnikan yang melampaui [kemampuan pendengaran] orang [biasa] beliau mendengar percakapan antara perumah tangga Pikiran Sejati dan praktisi ajaran lain Nigrodha ini.

Kemudian, pada saat sore menjelang malam, beliau bangkit dari duduk bermeditasi dan mendekati taman para praktisi ajaran lain di hutan udumbara. Ketika praktisi ajaran lain Nigrodha melihat Sang Bhagavā datang dari kejauhan, ia bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu dan, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, ia dengan ramah berkata, “Selamat datang, pertapa Gotama! Sudah lama sejak anda berada di sini. Mohon ambillah tempat duduk ini!”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir, “Orang bodoh ini mengabaikan perintahnya sendiri.” Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā duduk pada tempat duduk itu. Praktisi ajaran lain Nigrodha bertukar salam ramah tamah dengan Sang Bhagavā, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.

Sang Bhagavā berkata, “Nigrodha, apakah topik yang sedang kalian diskusikan dengan perumah tangga Pikiran Sejati? Karena hal apakah kalian duduk bersama di sini?”

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab:

Gotama, kami berpikir demikian: “Apakah ajaran di mana dengannya pertapa Gotama mengajarkan para siswanya, sedemikian sehingga para siswanya, setelah diajarkan, mencapai kesejahteraan dan menghabiskan sisa hidup mereka berlatih kehidupan suci dalam kemurnian dan mengajarkannya kepada orang lain?”

Gotama, ini adalah topik yang telah kudiskusikan dengan perumah tangga Pikiran Sejati; ini adalah hal di mana karenanya kami duduk bersama di sini.<281>

Ketika mendengar kata-kata ini, perumah tangga Pikiran Sejati berpikir, “Betapa anehnya bahwa praktisi ajaran lain Nigrodha ini mengatakan kebohongan! Mengapakah demikian? Ia tepat di hadapan Sang Buddha berusaha untuk memperdaya Sang Bhagavā.”

Mengetahui hal ini, Sang Bhagavā berkata:

Nigrodha, ajaran-ajaranku adalah mendalam, mengagumkan, dan istimewa. Mereka sulit direalisasi, sulit untuk diketahui, sulit untuk dilihat, dan sulit untuk dicapai – yaitu, ajaran-ajaran di mana dengannya aku mengajarkan para siswaku, sedemikian sehingga setelah diajarkan demikian para siswaku menghabiskan sisa hidup mereka berlatih kehidupan suci dalam kemurnian dan mengajarkannya kepada orang lain.

Nigrodha, jika engkau memiliki pertanyaan tentang latihan penyiksaan-diri yang diajarkan oleh para guru kalian, maka tanyakanlah kepadaku. Aku pasti akan dapat menjawab sampai engkau puas.

Atas hal ini perkumpulan praktisi ajaran lain yang kacau itu semuanya berseru secara serentak:

Pertapa Gotama adalah mengagumkan dan istimewa, dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar, jasa yang besar, dan kemuliaan yang besar! Mengapakah demikian? Beliau dapat melepaskan ajarannya sendiri dan menjawab pertanyaan yang ditanyakan sehubungan dengan ajaran orang lain.

Atas hal ini, praktisi ajaran lain Nigrodha menegur perkumpulannya, dengan mengatakan agar mereka diam. Ia bertanya, “Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri mencapai pemenuhan, dan bagaimanakah ia tidak mencapai pemenuhan?”

Kemudian Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, terdapat beberapa pertapa atau brahmana yang pergi berkeliling telanjang, tidak berpakaian, atau yang menggunakan tangan mereka sebagai pakaian [untuk menutupi bagian pribadi mereka], atau menggunakan dedaunan sebagai pakaian, atau menggunakan manik-manik sebagai pakaian; yang menghindari diri dari menggunakan kendi untuk mengambil air, atau menghindari diri dari menggunakan centong untuk mengambil air; yang tidak makan makanan yang telah dicuri dengan pisau atau tongkat, yang tidak makan makanan yang [diperoleh] dengan menipu, atau [yang telah diperoleh] mereka sendiri dengan mendekati [seorang pendana], atau dengan mengirim seorang utusan [kepada pendana], atau [saat mendengar seorang pendana berkata,] “Datanglah, yang mulia!” atau “Sangat bagus, yang mulia!” atau “Tinggallah, yang mulia!”; atau yang tidak makan makanan dari rumah di mana terdapat dua orang makan bersama, atau makanan dari rumah seorang wanita hamil, atau dari rumah dengan anjing peliharaan, atau yang tidak makan makanan dari rumah di mana terdapat lalat pemakan-kotoran; atau yang tidak makan ikan, tidak makan daging, tidak minum minuman keras, tidak minum air jelek, atau yang tidak meminum apa pun sama sekali, berlatih dalam latihan tidak minum; yang makan [hanya] satu suap dan puas dengan satu suap, atau makan [hanya] dua, ... tiga, ... empat, ... sampai dengan ... tujuh suap dan puas dengan tujuh suap; atau makan [hanya] apa yang diperoleh pada satu [rumah] dan puas dengan apa yang diperoleh pada satu [rumah], atau [hanya] apa yang diperoleh pada dua, ... tiga, ... empat, ... sampai dengan ... tujuh [rumah] dan puas dengan apa yang diperoleh pada tujuh [rumah]; atau yang makan [hanya] satu kali sehari dan puas dengan makan satu kali sehari, atau makan [hanya] satu kali setiap dua hari, ... atau tiga, ... atau empat, ... atau lima, ... atau enam, ... atau tujuh hari, ... atau satu kali setiap dua minggu, ... atau satu kali sebulan dan puas dengan makan [hanya] satu kali [sebulan]; yang makan [hanya] sayuran hijau, atau makan [hanya] jawawut, atau padi liar, atau dedak padi, atau buih beras, atau makan [hanya] makanan kasar; atau yang pergi ke hutan, dan [hidup] bergantung pada hutan, makan [hanya] akar-akaran, atau makan [hanya] buah-buahan, atau makan [hanya] buah-buahan yang telah jatuh dengan sendirinya; yang jubah tambalan, atau jubah yang terbuat dari rambut, atau jubah yang terbuat dari bahan tenunan, atau yang memakai kulit hewan lengkap, atau kulit hewan dengan lubang, atau [baik] kulit hewan lengkap dan kulit hewan dengan lubang; atau yang membuat rambutnya kusut, atau membuat rambutnya terjalin, atau membuat rambutnya kusut dan terjalin; yang mencukur rambutnya, atau yang mencukur janggutnya, atau mencukur baik rambut dan janggut;<282> yang mencabut rambutnya, atau mencabut janggutnya, atau mencabut baik rambut dan janggut; yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk; atau bergerak dalam posisi berjongkok; atau berbaring di atas semak duri, membuat tempat tidur dari semak berduri; atau berbaring di atas buah-buahan, membuat tempat tidur dari buah-buahan; yang memuja air dan membuat persembahan siang dan malam; atau yang memuja api, menjaganya menyala terus-menerus; atau yang memuja matahari dan bulan sebagai makhluk halus dengan kekuatan besar, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan [sebagai penghormatan] kepada [matahari dan bulan].

Dengan cara ini dan itu, mereka mengalami tak terhitung penderitaan, berlatih dalam latihan menyiksa [diri mereka sendiri]. Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan: apakah penyiksaan-diri jenis ini mencapai pemenuhan, atau apakah ia tidak mencapai pemenuhan?

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab, “Gotama, penyiksaan-diri jenis ini mencapai pemenuhan; ia tidak gagal mencapai pemenuhan.”

Sang Bhagavā berkata lebih lanjut, “Nigrodha, aku akan mengatakan padamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran.”

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya, “Gotama, apakah yang dapat engkau katakan kepadaku tentang bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran?”

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karen latihan pertapaan keras ini memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memandang matahari untuk menyerap energi matahari.<283>

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memandang matahari untuk menyerap energi matahari, maka ini, Nigrodha, disebut suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini menjadi angkuh, [dengan berpikir] atas dirinya sendiri, “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya terikat dan melekat padanya.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini menjadi angkuh, [dengan berpikir] atas dirinya sendiri, “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya terikat dan melekat padanya, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku berlatih pertapaan ekstrem; aku berlatih apa yang sangat sulit.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku menjalankan pertapaan ekstrem; aku berlatih apa yang sangat sulit,” maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia menjadi iri hati dan berkata, “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia menjadi iri hati dan berkata, “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata, “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini.<284> Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, ia memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata, “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini. Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi khawatir dan gelisah, penuh ketakutan [sehingga ia] berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi khawatir dan gelisah, penuh ketakutan [sehingga] ia berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas (sakkāya), pandangan ekstrem, pandangan salah, pandangan yang kondusif pada kemelekatan, yang menyulitkan bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, dengan akibat bahwa ia tidak merealisasi apa yang tidak dapat direalisasi para pertapa atau brahmana.<285>

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas, pandangan ekstrem, pandangan salah, pandangan yang kondusif pada kemelekatan, yang menyulitkan bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, dengan akibat bahwa ia tidak merealisasi apa yang tidak dapat direalisasi para pertapa atau brahmana – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, dan kurang ajar.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, dan kurang ajar – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 9)
« Reply #14 on: 24 January 2021, 01:52:47 PM »
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, dan melakukan perbuatan jahat.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, dan melakukan perbuatan jahat, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia tanpa keyakinan, lalai, tanpa perhatian benar dan pemahaman benar, dan dikuasai oleh kedunguan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan, dan karena latihan pertapaan keras ini ia tanpa keyakinan, lalai, tanpa perhatian benar dan pemahaman benar, dan dikuasai oleh kedunguan, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai suatu kekotoran dari praktisi pertapaan.

Nigrodha, tidakkah aku telah mengatakan kepadamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran?

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab, “Benar, Gotama telah mengatakan kepadaku bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini menjadi tercemari dengan tak terhitung kekotoran.”

[Sang Buddha berkata,] “Nigrodha, aku juga akan mengatakan kepadamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari dengan tak terhitung kekotoran.”

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya lagi, “Gotama, apakah yang dapat engkau katakan kepadaku tentang bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari oleh tak terhitung kekotoran?”

Sang Buddha berkata:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memiliki keinginan jahat dan pemikiran dengan keinginan, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memandang matahari untuk menyerap energi matahari.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memandang matahari untuk menyerap energi matahari, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.
Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi angkuh, [dengan berpikir,] “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya tidak terikat dan melekat padanya.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi angkuh, [dengan berpikir,] “Aku telah mencapai latihan pertapaan keras,” dan pikirannya tidak terikat dan melekat padanya, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain, maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku berlatih pertapaan ekstrem. Aku berlatih apa yang sangat sulit.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak pergi dari rumah ke rumah memuji dirinya sendiri, [dengan berkata,] “Aku berlatih pertapaan ekstrem. Aku berlatih apa yang sangat sulit,” maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain, tidak menjadi iri hati, dengan berkata: “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain tidak menjadi iri hati, dengan berkata: “Mengapakah engkau menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepada pertapa atau brahmana itu? Engkau seharusnya menghormati, menyokong, dan memberikan persembahan kepadaku! Mengapakah demikian? [Karena] aku menjalankan latihan pertapaan” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain tidak memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata, “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini. Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain.”

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ketika ia melihat seorang pertapa atau brahmana menerima penghormatan, sokongan, dan persembahan dari orang lain tidak memaki pertapa atau brahmana itu pada wajahnya, dengan berkata: “Apakah [yang telah kamu lakukan untuk memperoleh] penghormatan, sokongan, dan persembahan ini? Engkau memiliki banyak keinginan, banyak kerinduan, dan engkau terus-menerus makan, makan tunas akar, tunas batang, tunas buah, tunas ruas, dan tunas benih, lima hal ini. Seperti halnya hujan badai besar menyebabkan banyak kerusakan pada lima jenis hasil panen padi-padian, membuat kebinasaan bagi hewan-hewan ternak dan orang-orang, dengan cara yang sama seorang pertapa atau brahmana [seperti dirimu menyebabkan kerugian dengan] sering mengunjungi rumah orang lain” – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi khawatir dan gelisah, demikian ketakutan sehingga ia berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan, karena latihan pertapaan keras ini, tidak menjadi khawatir dan gelisah, demikian ketakutan sehingga ia berlatih secara diam-diam karena takut kehilangan nama baiknya atau menjadi semakin lalai – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini, tidak muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas, pandangan ekstrem, pandangan salah, atau pandangan yang kondusif pada kemelekatan, dan ini menyebabkan tidak sulit bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, sehingga ia merealisasi apa yang dapat direalisasi para pertapa atau brahmana.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini, tidak muncul dalam dirinya pandangan [yang berhubungan] dengan personalitas, pandangan ekstrem, pandangan salah, atau pandangan yang kondusif pada kemelekatan, dan itu menyebabkan tidak sulit bagi pikirannya untuk menjadi tanpa batasan, sehingga ia merealisasi apa yang dapat direalisasi para pertapa dan brahmana – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, atau gegabah.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak menjadi marah, terjerat, kaku lidah, tamak, cemburu, suka menyanjung, penuh tipu daya, tidak tahu malu, atau gegabah – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, atau melakukan perbuatan jahat.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak berkata bohong, ucapan yang memecah belah, ucapan kasar, ucapan omong kosong, atau melakukan perbuatan jahat – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Selanjutnya, Nigrodha, seumpamanya bahwa seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak tanpa keyakinan, tidak lalai tetapi memiliki perhatian benar dan pemahaman benar, dan tidak dikuasai oleh kedunguan.

Nigrodha, jika seseorang dengan keras berlatih pertapaan dan karena latihan pertapaan keras ini ia tidak tanpa keyakinan dan lalai tetapi memiliki perhatian benar dan pemahaman benar, dan tidak dikuasai oleh kedunguan – maka ini, Nigrodha, disebut sebagai kemurnian dari praktisi pertapaan.

Nigrodha, tidakkah aku telah mengatakan kepadamu bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari oleh tak terhitung kekotoran?

Praktisi ajaran lain Nigrodha menjawab, “Benar, Gotama telah mengatakan kepadaku bagaimana pemenuhan penyiksaan-diri ini tidak tercemari oleh tak terhitung kekotoran.”

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya, “Gotama, apakah penyiksaan-diri ini mencapai yang tertinggi? Apakah ia mencapai inti sejatinya?”

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, penyiksaan-diri ini tidak mencapai yang tertinggi; ia tidak mencapai inti sejatinya. Namun demikian, terdapat dua cara [penyiksaan-diri] yang mencapai kulitnya dan mencapai persendiannya.

Praktisi ajaran lain Nigrodha bertanya lagi, “Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri ini mencapai kulit luarnya?”

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana menjalankan empat latihan: tidak membunuh makhluk hidup, tidak menyuruh orang lain membunuh, dan tidak menyetujui pembunuhan; tidak mencuri, tidak menyuruh orang lain mencuri, dan tidak menyetujui pencurian; tidak mengambil istri orang lain, tidak menyuruh orang lain mengambil istri orang lain, dan tidak menyetujui orang lain mengambil istri orang lain; tidak berkata bohong, tidak menyuruh orang lain berkata bohong, dan tidak menyetujui perkataan bohong. Ia menjalankan empat latihan ini, bergembira di dalamnya, dan tidak melanggarnya.<286>

Ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, meliputi satu arah, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat, dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Ia berdiam meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, [dengan pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Dengan cara yang sama, ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih, ... dengan kegembiraan empatik, ... dengan keseimbangan, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, [dengan pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan? Apakah penyiksaan-diri demikian mencapai kulit luarnya?

Nigrodha menjawab, “Gotama, jenis penyiksaan-diri ini mencapai kulit luarnya. Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri ini mencapai persendiannya?”<287>

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana menjalankan empat latihan: tidak membunuh makhluk hidup, tidak menyuruh orang lain membunuh, dan tidak menyetujui pembunuhan; tidak mencuri, tidak menyuruh orang lain mencuri, dan tidak menyetujui pencurian; tidak mengambil istri orang lain, tidak menyuruh orang lain mengambil istri orang lain, dan tidak menyetujui orang lain mengambil istri orang lain; tidak berkata bohong, tidak menyuruh orang lain berkata bohong, dan tidak menyetujui perkataan bohong. Ia menjalankan empat latihan ini, bergembira di dalamnya, dan tidak melanggarnya.

Ia mengingat tak terhitung kehidupan lampau yang dijalaninya pada masa lampau, bersama dengan aktivitas-aktivitasnya dan penampilan [dalam kehidupan itu]: satu kelahiran, dua kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengembangan [dunia], berkalpa-kalpa pengerutan [dunia], berkalpa-kalpa pengembangan dan pengerutan [dunia], [demikian]:

[Aku adalah] makhluk hidup itu yang bernama Anu; aku melalui pengalaman-pengalaman masa lampau tersebut; aku [dulu] terlahir di sana, dengan nama keluarga ini, nama yang diberikan ini, aku memiliki jenis penghidupan ini dan jenis makanan dan minuman ini, mengalami jenis kenikmatan dan kesakitan ini, masa kehidupanku adalah seperti ini, aku bertahan hidup selama ini, dan kehidupanku berakhir seperti ini. Meninggal dari sana aku terlahir kembali di sini, meninggal dari sini aku terlahir kembali di sana. Aku terlahir kembali di sini dengan nama keluarga ini, nama yang diberikan ini, aku memiliki jenis penghidupan ini dan jenis makanan dan minuman ini, aku mengalami jenis kenikmatan dan kesakitan ini, masa kehidupanku adalah seperti ini, aku bertahan hidup selama ini, dan kehidupanku berakhir seperti ini.

Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan? Apakah jenis penyiksaan-diri ini mencapai persendiannya?Nigrodha menjawab:
Gotama, jenis penyiksaan-diri ini mencapai persendiannya. Gotama, bagaimanakah penyiksaan-diri ini mencapai yang tertinggi, bagaimanakah ia mencapai inti sejatinya?

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, seumpamanya seorang pertapa atau brahmana menjalankan empat latihan: tidak membunuh makhluk hidup, tidak menyuruh orang lain membunuh, dan tidak menyetujui pembunuhan; tidak mencuri, tidak menyuruh orang lain mencuri, dan tidak menyetujui pencurian; tidak mengambil istri orang lain, tidak menyuruh orang lain mengambil istri orang lain, dan tidak menyetujui orang lain mengambil istri orang lain; tidak berkata bohong, tidak menyuruh orang lain berkata bohong, dan tidak menyetujui perkataan bohong. Ia menjalankan empat latihan ini, bergembira di dalamnya, dan tidak melanggarnya.

Dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] orang [biasa], ia melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan ketika mereka terlahir kembali, rupawan atau jelek, tinggi atau rendah, ketika mereka datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik dan buruk, sesuai dengan perbuatan makhluk-makhluk hidup ini [sebelumnya]. Ia melihat sebagaimana adanya bahwa, jika makhluk-makhluk hidup ini melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat, jika mereka menghina para mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan salah, maka karena sebab-sebab dan kondisi ini ketika hancurnya jasmani pada saat kematian mereka pasti pergi ke alam kehidupan yang buruk, dan terlahir kembali di neraka.

[Namun,] jika makhluk-makhluk hidup ini melakukan perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang baik, jika mereka tidak menghina para mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan [berdasarkan] pandangan benar, maka karena sebab-sebab dan kondisi ini ketika hancurnya jasmani setelah kematian mereka pasti naik menuju alam kehidupan yang baik, dan terlahir kembali di alam surga. Nigrodha, apakah yang engkau pikirkan: apakah jenis penyiksaan-diri ini telah mencapai yang tertinggi? Apakah ia telah mencapai inti sejatinya?

Nigrodha menjawab:

Gotama, jenis penyiksaan-diri ini telah mencapai yang tertinggi; ia telah mencapai inti sejatinya. Gotama, apakah untuk merealisasi penyiksaan-diri ini sehingga para siswa pertapa Gotama berlatih kehidupan suci bergantung pada pertapa Gotama?

Sang Bhagavā menjawab:

Nigrodha, bukan untuk merealisasi penyiksaan-diri ini sehingga para siswaku berlatih kehidupan suci bergantung padaku. Nigrodha, terdapat hal lain yang sangat mulia, sangat luhur, sangat luar biasa, demi realisasi di mana para siswaku berlatih kehidupan suci bergantung padaku.

Atas hal ini perkumpulan praktisi ajaran lain yang kacau itu berseru dengan keras:

Seperti inilah, seperti inilah! Realisasi dari hal itu adalah mengapa para siswa pertapa Gotama berlatih kehidupan suci bergantung pada pertapa Gotama!<288>

Kemudian praktisi ajaran lain Nigrodha menegur perkumpulannya. Setelah menenangkan mereka, ia bertanya:

Gotama, apakah hal lain yang sangat mulia, sangat luhur, sangat luar biasa, demi realisasi di mana para siswa pertapa Gotama berlatih kehidupan suci bergantung pada pertapa Gotama?

Kemudian Sang Bhagavā berkata:

Nigrodha, Sang Tathāgata muncul di dunia, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan.
[Seorang siswa Sang Tathāgata] meninggalkan lima rintanngan yang mengotori pikiran dan melemahkan kebijaksanaan. Terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, ia berdiam setelah mencapai ... sampai dengan ... jhāna keempat.<289>

Dengan pikirannya yang terkonsentrasi dan dimurnikan dengan cara ini, tanpa kekotoran, tanpa gangguan, lunak, kokoh, setelah mencapai ketanpa-ganguan, ia mengarahkan pikiran pada pengetahuan dan realisasi penghancuran noda-noda.

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah dukkha.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya dukkha.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya dukkha.” Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya dukkha.”

Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah noda-noda.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah munculnya noda-noda.” Ia mengetahui [sebagaimana adanya]: “Ini adalah lenyapnya noda-noda.” Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.”

Mengetahui seperti ini, melihat seperti ini, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, ... dari noda kelangsungan, pikirannya terbebaskan dari noda ketidaktahuan. Terbebaskan, ia mengetahui bahwa ini terbebaskan, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Nigrodha, ini disebut sebagai hal lain yang sangat mulia, sangat luhur, sangat luar biasa, demi realisasi di mana para siswaku berlatih kehidupan suci bergantung padaku.
« Last Edit: 24 January 2021, 02:02:48 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa