//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Dear diary  (Read 360514 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #30 on: 11 May 2010, 11:00:07 PM »
Mara dan Mara belakangan ini banyak banget yang di member dc ini seperti mau adu otot gitu, rasanya aneh dah apakah wa juga termasuk yah. rasanya kita lagi diserbu oleh kuman kuman bernama Mara.   

Offline El Sol

  • Sebelumnya: El Sol
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.753
  • Reputasi: 6
  • Gender: Male
Re: Dear diary
« Reply #31 on: 11 May 2010, 11:01:01 PM »
Mara dan Mara belakangan ini banyak banget yang di member dc ini seperti mau adu otot gitu, rasanya aneh dah apakah wa juga termasuk yah. rasanya kita lagi diserbu oleh kuman kuman bernama Mara.   

loe kayakne tipe orang gila..

so, tenang aja..gk bakal ada Mara deket2 ama loe...

;D

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #32 on: 14 May 2010, 08:24:34 PM »
well, hari ini baru beli tipitaka tematik, well baca baca sampai pada bagian awal lewat sampai "perihnya rasa sakit".
membaca ini membangkitkan kenangan.

aku akan bercerita selama aku bekerja sebagai kasir ini aku pernah mengalami kejadian di perlakukan dengan buruk dan di fitnah orang.

Suatu hari pada masa lalu toko ku kedatangan saudara tiri dari kakak ipar ku, mereka mengatakan bahwa salah satu saudara  mereka (saudara tiri) ada yang sakit kanker dan membutuh kan dana untuk berobat.

kakak ipar ku mengatakan dia tidak ada hubungan dengan mereka dan dia kan pikir pikir untuk membantu mereka.

keesokan hari nya sebenarnya aku bangun pagi merasa badan sakit sekali biasa nya merupakan tanda tanda tidak baik  ( biasa nya aku menuruti tanda tanda ini jadi tidak masuk) tetapi aku merasa harus bisa melewati ini dan berusaha meyakin kan diri bisa melewati ini ( menghindar terus toh tidak akan berguna suatu ketika akan datang juga).

ketika masuk kerja aku di titipi amplop untuk di berikan kepada 2 orang wanita yang dateng kemarin tersebut. dan di titipi pesan terhadap mereka.

setelah agak siang sedikit 2 orang wanita ini datang dan aku menyerahkan amplop tersebut dan menyampaikan pesan yang di titipi. mereka membuka maplop tersebut dan tidak terima hanya di berikan dana segitu dalam amplop. mulai lah mereka mencak mencak dan membuat keributan, dan sumpah sarapah keluar dari mulut mereka. kedua wanita ini berinisial o dan w, tadi nya kau berusaha menenang kan suasana tapi kata w aku jangan ikut campur ini urusan keluarga oke dah wa jadi diam dan kemabli pada tempat duduk wa dan menangani pembeliu. sementara keamanan yang di panggil tidak mampu berbuat apa apa.

Setelah bersumpah sarapah dan mengatakan akan mengacau juga akan membakar toko. o mulai berpindah tempat bahwa di akan tinggal di tempat dan duduk karena dia duduk tidak jauh dari tempat ku bekerja ( meja ku), otomatis aku berusaha menulikan telinga seakan- akan tidak mendengar apa pun dari mulut o ini, mulai lah dia mencaci maki kakak ipar wa tidak lama kemudian wa juga turut menjadi obyek caci mereka terutama oleh o.   

stelah lama bersabar dan tidak menghiraukan perkataaan mereka ( aku masih menyangka bahwa waktu itu aku benar benar kebal terhadap segala omongan mereka, karena aku sudah merasakan tadi pagi dan mempersiapakan diri terhadap hal semacam ini) entah kenapa tiba tiba perkataan nya yang telah di ulang ulang berkali kali itu tiba tiba masuk menusuk dan rasanya sakit luar biasa hingga tidak tertahan kan waktu itu juga aku ingin orang yang ada di hadapkan ku yang melukai  ku merasakan penderitaan yang aku rasakan pada saat itu juga. Aku ingin orang dihadapakan ku musnah,  aku berusaha mengendalikan pikiran saat itu dan rasa sakit yang ada, ketika berusaha mengendalikan diri  rasanya seperti di tarik tarik rantai baja, berusaha dari musnah jadi menyingkirkan saja dan menyingkirkan berusaha jadi memindahkan saja ketempat yang jauh.

semua ini terjadi dalam waktu yang cukup singkat, ketika itu juga wa telah bangkit dan melempar steaples ke arah perut mereka tadi nya sih ingin ke wajah mereka. kemudian menangkap tangan mereka  dan menyeret mereka keluar  ketika sampai dekat depan toko aku berhasil mengendalikan diri hingga tidak jadi melempar mereka keluar dari toko dan tenaga yang ada tiba tiba lenyap. jadi aku melepas mereka. kemudian kembali ke tempat mejakerja ku berada.

bangkit lah mereka dan salah satu o sudah berjalan keluar kemudian w berpura pura terjatuh ketika menaiki tangga sehingga membuat o kuatir hingga dengan cepat mendatangi nya tapi dia benar benar terpeleset dan kepalanya membentur siku anak tangga kayu. si w terus berpura pura merasa sakit dan mengeletak di tanah, sedangkan si o cepat berdiri lagi kemudian mendatangi si w tidak lama kemudian si o merasa pusing akibat terbentur. fitnah yang di lancarkan w berbalik jadi o yang celaka beneran, ambulan yang tadinya dateng untuk w malah sekarang di pergunakan untuk si o.   

Mereka memfitnah diri ku membuat mereka celaka dari w menjadi o jelas jelas aku tahu o kepeleset karena hendak menolong w. jadi lah aku sang tersangka di giring ke polsek taman sari. aku merasakan kebencian yang sangat luar biasa atas perlakuan mereka ini dan dendam yang amat sangat pada waktu itu meski di luar aku percaya pada tuhan maha melihat biar di bawa ke pengadilan tuhan dan sampai ke hadapan  Buddha aku pun berani, aku tidak dapat terima di perlakukan seperti ini karena aku tidak mengenal mereka dan selama ini aku melayani mereka dengan baik, ketika mereka ber tandang ketempat kerja ku meski pun mereka berhadapan dan membuat ulah di toko.

kemudian dateng suami w dan keluarga mereka, meski pun aku berusaha meredam semuanya (kebencian dan dendam) berusaha bersikap ramah kepada mereka tapi aku percaya tuhan dan Buddha maha mengetahui, mereka menakut nakuti diri dengan mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab terhadap anak o apabila terjadi apa apa pada o, dsb heh tuhan maha melihat dan buddha apa pun saat ini berada maha mengetahui, aku toh tidak takut hancur mau mati bersama sama boleh, apa yang mereka lakukan dengan tubuh bagian luar atau fisik ku dengan mengirim ku kepenjara selama tiga hari. aku percaya akan keadilan akan di tegak kan untuk ku. setelah aku menceritakan kejadian sesungguh nya, polisi berbalik menahan o yang habis keluar rumah sakit dan tinggal satu kamar dengan para tahanan laki laki.

kalau tidak ada kejadian ini mungkin aku tidak tahu rasa benci dan dendam seperti apa, dan baru benar benar merasakan seperti apa kata benci sampai ketulang.

membutuhkan waktu yang lama untuk menghilangkan semua ini dan membutuh kan waktu yang lama untuk menyadari apa yang sesungguh nya terjadi pada waktu itu, pertanyaan kenapa bisa timbul rasa sakit yang amat sangat dalam diri ku pada waktu itu. 


setelah melakukan analisa pada waktu yang lampau tentang apa yang terjadi hasilnya mirip mirip dengan ada pada tipitaka tematik ini pada bagaian "perih nya rasa sakit: cuma kalau aku mengunakan pisau sebagai perumpamaan, di tematik mengunakan panah (well belum pernah terluka olah panah jadi tidak tahu rasanya, kalau luka kepotong pisau kalau lagi motong pernah )


   

     
« Last Edit: 14 May 2010, 08:52:26 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #33 on: 22 May 2010, 10:09:25 PM »
tanggal 21 mei 2010

kemarin di bawa cici ke vihara Bodhi dharma di karang anyar, jakarta. well  ketemu rupang Brahma Sahampati lagi. di seret kesini karena cici bilang ada acara kakek dan nenek kembang ( ya wa kira ada apa) ternyata buat jodoh punya tohh.

oh ya omong omong tuh tombak nya ganti rupa disini rupang nya Brahma sahampati ini pake tongkat bukan tombak(spear).

dapet contekan dari thread theravada tentang sivali

Tongkat
Melambangkan dukungan, bantuan pada saat dibutuhkan. Hal ini juga berarti tidak mudah jatuh atau roboh.

Tas (kantong)
melambangkan kemampuan untuk mengakumulasi hal-hal yang baik atau kemampuan untuk menjaga satu barang.

ohya ada lagi tentang gajah, gajah yang bangkit dari lumpur ada dari dhammapada (well ketika beli tipitaka tematik) lsg depan nya disodoroin gambar gajah yang bangkit dari lumpur.  dan kata kata tentang gajah yang bangkit dari lumpur dari dhammapada.

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,16558.msg265873/topicseen.html#msg265873
« Last Edit: 22 May 2010, 10:18:10 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #34 on: 15 June 2010, 09:51:30 PM »
kadang kadang bingung juga apakah kita melakukan dengan baik dan bijaksana, apakah aku melakukan kesalahan. seperti yang disadari masih banyak kelemahan, kesalahan dalam prilaku kelembamman dsb nya.

Bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik selain pancasila, atthangga sila, meditasi semoga kariniya metta sutta dapat membimbing ku lebih baik lagi dalam prilaku.

kadang kadang cape juga tidak hanya secara phisik saja tapi mental tapi itu lah kehidupan selalu bergulir entah kemana.

kadang kadang kita ada di tengah tengah perspektif orang yang sangat berlawanan satu sama lain, kedua nya bisa menghimpit kita, meskipun kita mengetahui cara pandang masing masing orang tapi kadang tetap melelahkan menghadapi keduanya  bila kita berada di tengah tengah pandangan mereka.

semoga semua mahluk berbahagia.     

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #35 on: 16 June 2010, 08:40:22 PM »
hm, jadi tempat sementara save ini disini

http://img526.imageshack.us/img526/2271/1276679859831.png

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #36 on: 22 June 2010, 06:54:23 PM »
Desakan yang kuat untuk mengerahkan usaha

1.    Bangkitlah! Duduklah tegak-tegak!
        Apa untungnya tidur?
        Tidur macam apa yang ada bagi yang terserang penyakit,
        Yang ditembus oleh anak panah penderitaan?                                                                       (331)
2.    Bangkitlah! Duduklah tegak-tegak!
        Berlatihlah dengan mantap untuk mencapai Kedamaian.
        Jangan biarkan Raja Kejahatan (Mara) membodohimu dan merengkuhmu ke dalam kekuasaannya,
        Karena mengetahui engkau lengah.                                                                                        (332)
3.    Atasilah nafsu keinginan ini
        Di mana para dewa dan manusia tetap terikat dan mencari kesenangan darinya.
        Jangan biarkan saat kesempatan emas1 ini berlalu.
        Mereka yang membiarkan kesempatan emas ini berlalu
        Akan meratap ketika masuk ke dalam kesengsaraan.                                                                (333)
4.    Kelengahan adalah suatu noda
        Dan demikianlah noda yang menurun
        Terus menerus, dari satu kelengahan ke kelengahan lain,
        Dengan ketekunan dan pengetahuan
        Hendaklah orang mencabut anak panah [nafsu-nafsu].                                                                (334)

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,15244.0.html

disimpan sini juga biar kalau butuh tidak susah nyarinya buat menyemangati atau bersemangat.


Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
« Last Edit: 26 June 2010, 10:22:04 PM by daimond »


Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #40 on: 28 June 2010, 08:17:04 PM »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #41 on: 02 November 2010, 08:29:12 PM »
catatan tentang pengalaman dengan sanghadana dari
http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=18497.0

saran ku melakukan "Sanghadana" sebanyak mungkin dalam setahun. kalau bisa setiap hari, tidak ada kata tidak mungkin toh Buddha tidak ada mengatakan bahwa kita tidak dapat melakukan sangha dana setiap hari.

cara nya "Sanghadana" tiap hari kalau di "Ekayana graha" gampang datang ke post informasi/post dana. bilang mau kasih dana nanti di kasih form dana nah di situ tulis untuk apa keperluan dana nya? wa biasa sih tulis keperluan untuk sangha dana.

nah nilai nya terserah kesanggupan you kemarin(25-10-2010) wa ada coba dana "10.000" rupiah di terima kok sama pihak ekayana graha.
hari ini coba lagi ternyata bisa kok wa hari ini (26-10-2010) dana "20.000". jadi tergantung anda mau sanghadana atau tidak, lagian hal ini juga menumbuhkan kebiasaan baik.(mau coba seminggu dah, semoga bisa "sanghadana" sampai tanggal 31-10-2010)

pengalaman 2 hari ini sehabis melakukan "sanghadana"

tanggal 25-10-2010
aku melakukan sangha dana nya pas mau berangkat kerja jadi minta diantar kakak laki laki ke vihara dulu untuk melakukan sangha dana.
pagi pagi sibuk nyari uang 10.000 sampai minta tukar sama kakak ku, soalnya uang nya kebanyakan sudah buat dana kathina tanggal 24 -10-2010.
kenapa begini karena dari sabtu aku kena kaget soalnya mendadak melihat hasil seluruh bon toko semuanya "14.750.000" sedang yang kusetor itu cuma ada 11.000.000 jadi pikiran ku rada mumet dimana salah nya yahh.
pagi pagi setelah melakukan intropksi diri kepikiran beneran mau melakukan sanghadana setiap hari (cuma dibatasi selama 7 hari dulu ).
jadi pergi dah sesuai kata malaikat/bodhicitta ke vihara ekayana graha melakukan sanghadana ini.

setelah melakukan sangha dana duh masih takut dah jadi melafalkan tisarana berkali kali dalam hati, jadi ngandelin tisarana, pancasila, sampai agak siang setelah melakukan setoran ke dua kira kira jam dua siang duh hati jadi merasa sedikit lega gara gara baru tahu tah kesalahan mungkin bukan di perbuat wa soalnya pas setoran ke dua ini wa setor 3 juta tapi sama kakak ipar ku di tulis 2 juta jadi protes deh biasa dia saking sibuk nya jadi tulis setoran wa salah(hik merasa terbebas dari beban).

dah gitu sorenya hujan terus lagi dimana mana banyak genangan air(banjir gitu dah) mau sampai rumah(rumah di tanjung duren) di grogol jalan sudah banyak banjir akhirnya terabas jalan lewat citraland di samping pos polisi itu, lega bisa sampai rumah jam 7:30  malam. wa pikir pikir ada untung nya juga yah dana sanghadana jadi pulang kerumah tidak sampai terlalu sulit.

hari ini tanggal 26-10-2010,
 pagi pagi sanghadana juga, eh pas pergi kerja koko wa lewat jalan samping untar itu yang ada rumah makan vege dari maitreya dah, wa jadi sekalian beli makan disana kebetulan juga ada pai vege semata wayang rp 3.500 wa ada beli juga [dalam nya ada buah nya ( buah nya 3 macam:kiwi dll) yah] boleh di bilang beruntung juga. hari ini hujan juga tapi pulang gak kehujanan dan jalan tidak kebanjiran yah termasuk beruntung dan bisa post disini sekalian.

lupa di sebut kemarin pulang beli emping manis pedas yang cukup besar nyobain manisan ternyata manisan tomat baru kali ininyobain manisan tomat kecil keriput mirip cherry setelah nyicipin beneran tomat lah. pulang rumah kamar wangi minyak sereh wangi yang wa letakan dalam bekas botol keramik stella ( ada tiga botol kermik stella yang anjing, rumah jamur , sama orang orangngan salju). tidur nya jadi nyenyak jadi tidak terlalu kuatir akan nyamuk ternyata bisa juga toh minyak sereh ku di taruh dalam botol keramik stella.

well, sanghadana ini sangat menarik kadang kadang kita bisa di buat terkejut dengan apa yang terjadi seperti hari ini benar benar sangat menarik.  oke report dari kemarin saja dulu biar sedikit penasaran yahh, sangat menarik apa yang akan terjadi pada besok dan sampai tanggal 31-10-2010.


tanggal 27-10-2010
seperti biasa dateng ke ekayana graha melakukan sanghdana pada pagi hari minta kok wa anterin ke vihara.
setelah dianter ke vihara pas pergi ke rumah makan maitreya di samping untar ini wah makanan nya sungguh menggoda ada ikan sarden palsu, dll sangat memikat dan membuat tertegun tetapi mesti disadari aku telah menjatah sehari untuk makan an adalah 5000 jadi aku mempunyai pilihan yang sedikit diantara kemewahan makan yang di sajikan tadi pilihan jatu pada sayur hijau dan tempe setelah melihatr lebih jelas ada sayur kentang kuah dan didalam nya ada kembang tahu yang di ikat akhirnya dengan pertimbangan gizi pilih yang kentang ini karena lebih bervariasi jadi nutrisinya juga lebih beragam daripada sayur hijau atau sayur tempe saja.

siangnya pas makan siang ternyata sayur toko adalah sayur asem, lalapan hijau(buncis, wortel, labu), ayam goreng(terang ayam nya tidak bisa kumakan juga sambelnya karena mengandung terasi). jadi pesta sayur dah sore nya selain sayur asem ada tempe goreng dan tahu goreng besertas ikan goreng( yah biasa jadi ikan tidak bisa di makan). sebuah keberuntungan.

dan di toko kedatangan anggota sangha yang berobat ke toko, yang membuat ku menyadari aku mempunyai kelemahan yang tak perlu diungkapkan disini yang mesti di perbaiki.

aku menggap ini sebuah keberuntungan, kenapa seperti yang terjadi kesalahan atau kekeliruan yang kita tidak sadari dimana letak kesalahan nya membuat kita tidak dapat memperbaiki diri kita sendiri, sebalik nya bila kita tahu dimana letak kesalahan kita maka kita bisa memperbaiki kesalahan tersebut secara perlahan lahan.

tanggal 28-10-2010.
seperti biasa melakukan sanghdana ke vihara ekayana, sehabis itu ke rute rumah makan vege maitreya di samping untar aku pilih sayuran  dimasak dengan jamur. hari ini sepertinya tidak ada kejadian luar biasa ketika jam 4:00 aku ingat lupa melakukan etavatta tadi pagi jadi pas toko agak sepi  keluar buku parita saku ku dan melakukan etavatta buat sanghadana tadi pagi.

tidak lama keponakan ku bilang BB (black berry)nya mau di ganti (beli baru), jadi dia menawarkan pada ku BB blold nya dengan harga satu juta rupiah untuk diri ku ( dia tulis bahwa bila aku tidak mau maka bb bold ini akan di jual ke toko seharga 2 juta rupiah). setelah mempertimbangkan sebenarnya aku tidak membutuhkan bb ini lagian aku mempunyai pilihan lain, jadi dengan pertimbangan tertentu aku  menolak pilihan membeli BB bold ini.

aku merasa kan keinginan ku yang lampau  mengingat aku pernah berpikir untuk membeli BB gemini pada waktu lampau ( ada yang menganjurkan di dc) sungguh menggoda.
 
entah apa yang terjadi besok

hari ini tanggal 29-10-2010
hari sangha dana juga tidak terjadi apa apa, langit cerah matahari bersinar sampai lagi tulis ini tidak ada kejadian apa pun. tapi bila lihat pemasukan toko. hari ini hari yang bagus, banyak orang keluar berbelanja.

hari ini 30-10-2010
well seperti biasa ke ekayana lalu ke rumah vege maitereya. terus siang nya di minta belin snack sama keponakan wa, well cukup terkejut snack idaman wa ternyata masuk ke indonesia. duh dulu dibawain nih oleh oleh dari taiwan tapi di cari di Indonesia tidak ada yang jual hik hik. hari ini lihat tuh toples plastik berisi sayuran atau buah yang dikeringkan seperti french fries bedanya kalau french fries tuh kentang ini sayuran kayak kripik seperti buncis, timun, wortel, talas, timun dan macam macam sayur lain nya (beneran berasa ini kamma baik dah selama ini wa cari tidak pernah liat ada jual) cuman di dooor/ tembak  sama harga nya bussssseeet dahhhh mahhhhaaaal amat yaaaahhh.

seperti nya bila lihat lihat kamma baik wa selama seminggu ini makanan semua, mungkin gara gara nyoba vege jadi kepikiran tidak bisa makan pempek, rendang, sate, nasi campur dll. jadi tampilnya makanan kesukaan yang jadi vege semuanya.  bahkan sampai coklat vege ada lohh ( tidak memakai susu, bussseettt daaaah cap monggo)

Lanjut tanggal 31-10-2010
adalah hari terakhir dana pergi kevihara siang hari makan di kantin sujata makan mie nya enak lohh meskipun dingin tapi yah mestinya di siram kuah (kuah nya panas), tapi wa sukanya makan mie tidak basah (tidak di siram kuah), kemudian pergi dana sangha dana terus main ke warnet maen atalantica (bikin char belum pernah main nih game) kemudian ke sini lalu pulang,

besoknya tanggal 1-11-2010 baru ettavatta, pikir punya pikir kalau sehari wa makan sayur satu macam 5.000 rupiah kalau tiga macam 15.000 rupiah dan di kali 31 hari jadi nya 465.000 lohh kok lebih murah jauh dari pada rantangan vege yang wa langganan sebulan 850.000,- pikir punya pikir wa rasanya bakal ganti nih rantangan vege wa mending beli jadi murah banyak (ini baru rencana saja, mungkin bulan depan desember baru di ganti).

hari ini tanggal 2-11-2010
diminta keponakan wa kebank bca setor ke bca pas mau masuk ada stand kecil dari kompas wa di panggil karena ada urusan selesaikan dulu urusan baru kesini ternyata ada penawaran bulan promosi kompas langganan setahun bayar cuma 9 bulan boleh juga cuma bayar Rp.702.000 lohh lumayan bisa hemat Rp.234.000,- dah gitu ada di kasih polo shirt dan dapet 4 kupon undian ( nanti kalau dapet mobil dan motor wa kasih tahu dah, [bercanda yahh bisa discount Rp234.000,- saja dah bagus apalagi bisa menang undian dapet mobil dan motor]) wa besok bawa kuitansi langganan kompas wa biar mereka yang urus sama agen koran kompas wa.

end report.

catatan kecil:
tanggal 25 -10-2010 dan 26-10-2010 aku tidak melakukan ettavata karena tidak membawa buku paritta saku.
harus berterimakasih pada hemayanti kalau bukan karena dia aku tidak akan mengeluarkan candaan melakukan sanghadana setiap hari, ketika aku mencoba memikirkan bagaimana menolong kaum  H di link http://dhammacitta.org/forum/index.php?topic=18495.0 kepikiran cara melakukan sangha dana setiap hari tetapi bukan dalam bentuk diatas, cara nya melakukan nya lebih sulit hingga akhirnya berpikir cara ini tidak semua orang dapat melakukan nya,  kemudian berpikir bagaimana aku melakukan sanghadana setiap bulan, kemudian berpikir apakah cara ini tidak bisa di pakai pada sanghadana sehari hari. hingga terjadi kejadian diatas maka aku menamakan suara malaikat atau bodhicitta karena tanpa memikirkan untuk menolong kaum H ini, hal ini mungkin tidak terpikir oleh diri ku.
« Last Edit: 02 November 2010, 08:57:23 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #42 on: 12 November 2010, 08:54:03 PM »
« Last Edit: 12 November 2010, 09:02:14 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #43 on: 13 November 2010, 09:12:30 PM »
Quote
Lying there in the nest, the Bodhisatta stretched forth his neck, and seeing the flames spreading towards him, he thought to himself, "Had I the power to put forth my wings and fly, I would wing my way hence to safety; or, if I could move my legs and walk, I could escape elsewhere afoot. Moreover, my parents, seized with the fear of death, are fled away to save themselves, leaving me here quite alone in the world. I am without protector or helper. What, then, shall I do this day?"

Then this thought came to him:--"In this world there exists what is termed the Efficacy of Goodness, and what is termed the Efficacy of Truth. There are those who, through their having realised the Perfections in past ages, have attained beneath the Bo-tree to be All-Enlightened; who, having won Release by goodness, tranquillity and wisdom, possess also discernment of the knowledge of such Release; [214] who are filled with truth, compassion, mercy, and patience; whose love embraces all creatures alike; whom men call omniscient Buddhas. There is an efficacy in the attributes they have won. And I too grasp one truth; I hold and believe in a single

p. 90

principle in Nature. Therefore, it behoves me to call to mind the Buddhas of the past, and the Efficacy they have won, and to lay hold of the true belief that is in me touching the principle of Nature; and by an Act of Truth to make the flames go back, to the saving both of myself and of the rest of the birds."

Therefore it has been said:--

There's saving grace in Goodness in this world;
There's truth, compassion, purity of life.
Thereby, I'll work a matchless Act of Truth.

              _______________

Remembering Faith's might, and taking thought
On those who triumphed in the days gone by,
Strong in the truth, an Act of Truth I wrought.

Accordingly, the Bodhisatta, calling to mind the efficacy of the Buddhas long since past away, performed an Act of Truth in the name of the true faith that was in him, repeating this stanza:--

With wings that fly not, feet that walk not yet,
Forsaken by my parents, here I lie!
Wherefore I conjure thee, dread Lord of Fire,
Primæval Jātaveda, turn! go back!

Even as he performed his Act of Truth, Jātaveda went back a space of sixteen lengths; and in going back the flames did not pass away to the forest devouring everything in their path. No; they went out there and then, like a torch plunged in water. Therefore it has been said:--

[215] I wrought my Act of Truth, and therewithal
The sheet of blazing fire left sixteen lengths
Unscathed,--like flames by water met and quenched.

And as that spot escaped being wasted by fire throughout a whole æon, the miracle is called an 'æon-miracle.' When his life closed, the Bodhisatta, who had performed this Act of Truth, passed away to fare according to his deserts.

 _/\_
well vattakka jataka rasanya  sangat layak untuk di tambahkan di daftar paritta (untuk memadamkan api  atau meloloskan diri dari api). karena beberapa tahun belakangan ini bencana  hutan terbakar sangat banyak terjadi di dunia.
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1038.htm#an_j035


 
« Last Edit: 13 November 2010, 09:38:32 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #44 on: 13 November 2010, 10:20:19 PM »
Quote
like the hawker of Seri who lost a golden bowl worth a hundred thousand pieces."

The Brethren asked the Blessed One to explain this to them. The Blessed One made clear a thing concealed from them by re-birth.

_____________________________

Once on a time in the kingdom of Seri, five aeons ago, the Bodhisatta dealt in pots and pans, and was called 'the Serivan.' In the company of another dealer in the same wares, a greedy fellow who was also known as 'the Serivan,' he came across the river Telavāha and entered the city of Andhapura. Apportioning the streets between the two of them, he set about hawking his wares round the streets of his district, and the other did the same in his district.

Now in that city there was a decayed family. Once they had been rich merchants, but by the time of our story they had lost all the sons and brothers and all their wealth. The sole survivors were a girl and her grandmother, and they got their living by working for hire. Nevertheless, they had got in their house the golden bowl out of which in the old days the great merchant, the head of the family, used to eat; but it had been thrown among the pots and pans, and having been long out of use, was grimed over with dirt, so that the two women did not know that it was gold. To the door of their house came the greedy hawker on his round, crying, "Waterpots to sell! Waterpots to sell!" And the damsel, when she knew be was there, said to her grandmother, "Oh, do buy me a trinket, grandmother."

"We're very poor, dear; what can we offer in exchange for it?" "Why here's this bowl which is no good to us. Let us change that for it."

The old woman had the hawker brought in and seated, and gave him the bowl, saying, "Take this, sir, and be so good as to give your sister something or other in exchange."

The hawker took the bowl in his hand, turned it over, and, suspecting it was gold, scratched a line on the back of it with a needle, whereby he

p. 13

knew for certain that it was real gold. Then, thinking that he would get the pot without giving anything whatever for it to the women, he cried, "What's the value of this, pray? Why it isn't worth half a farthing!" [112] And therewithal he threw the bowl on the ground, rose up from his seat, and left the house. Now, as it had been agreed between the two hawkers that the one might try the streets which the other had already been into, the Bodhisatta came into that same street and appeared at the door of the house, crying, "Waterpots to sell!" Once again the damsel made the same request of her grandmother; and the old woman, replied, "My dear, the first hawker threw our bowl on the ground and flung out of the house. What have we got left to offer now?"

"Oh, but that hawker was a harsh-spoken man, grandmother dear; whilst this one looks a nice man and speaks kindly. Very likely he would take it." "Call him in then." So he came into the house, and they gave him a seat and put the bowl into his hands. Seeing that the bowl was gold, he said, "Mother, this howl is worth a hundred thousand pieces; I haven't its value with me."

"Sir, the first hawker who came here said that it was not worth half a farthing; so he threw it to the ground and went away. It must have been the efficacy of your own goodness which has turned the bowl into gold. Take it; give us something or other for it; and go your way." At the time the Bodhisatta had 500 pieces of money and a stock worth as much more. The whole of this he gave to them, saying, "Let me retain my scales, my bag, and eight pieces of money." And with their consent he took these with him, and departed with all speed to the river-side where he gave his eight coins to the boatman and jumped into the boat. Subsequently that greedy hawker had come back to the house, and had asked them to bring out their bowl, saying he would give them something or other for it. But the old woman flew out at him with these words, "You made out that our golden bowl which is worth a hundred thousand pieces was not worth even a half-farthing. But there came an upright hawker (your master, I take it), who gave us a thousand pieces for it and took the bowl away."

Hereupon he exclaimed, "He has robbed me of a golden bowl worth a full hundred thousand pieces; he has caused me a terrible loss." And intense sorrow came upon him, so that he lost command over himself and became like one distraught. [113] His money and goods he flung away at the door of the house; he threw off his upper and under cloths; and, armed with the beam of his scales as a club, he tracked the Bodhisatta down to the river-side. Finding the latter already crossing, he shouted to the boatman to put back, but the Bodhisatta told him not to do so. As the other stood there gazing and gazing at the retreating Bodhisatta, intense sorrow seized upon him, His heart grew hot; blood gushed from his lips;

p. 14

and his heart cracked like the mud at the bottom of a tank, which the sun has dried up. Through the hatred which he had contracted against the Bodhisatta, he perished then and there. (This was the first time Devadatta conceived a grudge against the Bodhisatta.) The Bodhisatta, after a life spent in charity and other good works, passed away to fare according to his deserts.

_____________________________

When the Supreme Buddha had ended this lesson, he, the All-Knowing One himself, uttered this stanza:--

If in this faith you prove remiss, and fail
To win the goal whereto its teachings lead,
--Then, like the hawker called 'the Serivan 1,'
Full long you'll rue the prize your folly lost.

After having thus delivered his discourse in such a way as to lead up to Arahatship, the Master expounded the Four Truths, at the close whereof the fainthearted Brother was established in that highest Fruit of all, which is Arahatship.
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1006.htm

cerita yang sangat sederhana dan sangat manusiawi tapi tidak sesederhana yang terlihat atau dibaca, bila di perhatikan dengan seksama penuh cahaya bintang bintang.

menjadikan kita bertanya tanya pada cahaya cahaya yang berkilau ini.