//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Dear diary  (Read 354740 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #45 on: 14 November 2010, 03:44:16 PM »
wah ternyata ada terjemahan indonesia nya, meskipun diakui terjemahan indonesia dari golden bowl ini tidak sama dengan yang berbahasa english nya sepertinya telah menghilangkan beberapa makna tertentu (hingga beberapa kilau cahaya di sini ikut serta hilang).

Kisah ini diceritakan oleh Bhagawan ketika Beliau berada di Sawatthi, juga mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam daya upaya pelatihan dirinya.

Maka, pada saat dibawa oleh para bhikkhu seperti halnya dalam kisah sebelumnya, Sang Guru berkata, “Engkau, bhikkhu yang telah bertekad untuk melaksanakan ajaran yang begitu mulia, yang memungkinkan pencapaian kesucian, hendak menyerah berdaya upaya dalam pelatihan, hal ini akan membuahkan penderitaan panjang seperti seorang pedagang di Seri yang kehilangan sebuah mangkuk emas bernilai seratus ribu keping uang.”

Para bhikkhu memohon Bhagawan menjelaskan maksud perkataan Beliau kepada mereka. Beliau kemudian menjelaskan hal yang selama ini tidak mereka ketahui dikarenakan kelahiran kembali.
____________________
Suatu ketika pada masa lima kalpa yang lampau di Kerajaan Seri, Bodhisatta berdagang belanga dan tembikar, ia dikenal dengan sebutan ‘Serivan’. Bersama seorang pedagang keliling lainnya yang tamak, dengan barang dagangan yang sama, juga dikenal dengan sebutan ‘Serivan’, melintasi Sungai Telavāha dan memasuki Kota Andhapura. Mereka membagi daerah dagang dengan kesepakatan bersama dan masing-masing mulai berkeliling menjajakan dagangannya.

Di kota itu terdapat sebuah keluarga yang sangat miskin. Awalnya mereka adalah keluarga saudagar yang kaya, namun saat kisah ini terjadi, mereka telah kehilangan semua anak laki-laki dan saudara laki-laki beserta semua harta kekayaan mereka. Yang tersisa dalam keluarga itu hanyalah seorang anak gadis bersama neneknya, mereka bertahan hidup dengan menerima pekerjaan upahan. Tanpa menyadari bahwa mereka masih mempunyai sebuah mangkuk emas yang dulunya dipakai oleh saudagar kaya, kepala keluarga itu untuk menyantap makanan. Akan tetapi karena sudah lama tidak dipergunakan, mangkuk emas itu tersaput kotor dengan debu dan ditempatkan di antara tumpukan belanga dan tembikar.

Saat itu, pedagang keliling yang tamak sedang berada di depan rumah mereka menjajakan barang dagangannya. Ia berteriak, “Kendi untuk dijual! Kendi untuk dijual!” Ketika gadis muda itu melihat ada seorang pedagang keliling di depan pintu rumah mereka, ia berkata kepada neneknya, “Ayolah, Nek, belikan saya sebuah perhiasan.” “Kita sangat miskin, Sayang; apa yang dapat kita tukarkan untuk mendapatkan perhiasan?”

“Masih ada sebuah mangkuk yang tidak pernah kita gunakan, mari kita tukarkan dengan perhiasan untukku.” Wanita tua itu mempersilakan pedagang keliling tersebut masuk dan duduk, kemudian memberikan mangkuk itu kepadanya dan berkata, “Ambillah ini, Tuan. Berbaik hatilah dengan menukarkan sesuatu untuk saudarimu ini.”

Pedagang tamak itu mengambil mangkuk tersebut dan membalikkannya. Ia memperkirakan mangkuk itu terbuat dari emas, dengan menggunakan sebatang jarum ia menggores bagian belakang mangkuk dan yakin itu adalah sebuah mangkuk emas. Sambil memikirkan cara mendapatkan mangkuk tersebut tanpa memberikan apapun kepada wanita tua itu, ia berteriak, “Memangnya berapa harga mangkuk ini? Bahkan tidak bernilai seperdelapan sen!” Seraya bangkit dari tempat duduknya, ia melemparkan mangkuk itu ke lantai dan pergi dari rumah itu.

Sesuai kesepakatan mereka, setelah seorang pedagang selesai menjajakan dagangannya di suatu tempat, pedagang yang lain boleh mencoba peruntungannya di tempat yang telah ditinggalkan temannya; maka Bodhisatta datang ke jalan yang sama, berhenti di depan rumah tersebut dan berteriak, “Kendi untuk dijual!” Sekali lagi gadis muda itu mengulangi permintaannya. Wanita tua itu menjawab, “Sayangku, pedagang keliling sebelumnya telah melemparkan mangkuk ini ke lantai dan meninggalkan rumah kita. Barang apa lagi yang bisa kita tukarkan untuk mendapatkan perhiasan untukmu?”

“Pedagang tadi seorang yang kasar dalam berkata-kata, Nek. Sementara yang ini terlihat baik dan berbicara dengan ramah. Sepertinya ia akan menerima tawaran kita.” “Kalau begitu, panggillah ia kemari.” Maka pedagang itu pun masuk ke dalam rumah, setelah dipersilakan duduk, mereka menyerahkan mangkuk itu kepadanya. Melihat bahwa mangkuk itu terbuat dari emas, ia berkata, “Ibu, mangkuk ini bernilai seratus ribu keping uang. Saya tidak mempunyai uang sebanyak itu.”

“Tuan, pedagang yang kemari sebelum kedatanganmu mengatakan bahwa nilai mangkuk ini tidak melebihi seperdelapan sen. Ia melemparkan mangkuk ke lantai dan pergi dari rumah ini. Kemuliaan hatimu telah mengubah mangkuk ini menjadi emas. Ambillah mangkuk ini, berikan sesuatu barang atau yang lainnya kepada kami, dan lanjutkan perjalananmu.”

Saat itu Bodhisatta memiliki lima ratus keping uang dan barang dagangan dengan nilai yang lebih besar. Ia memberikan semuanya kepada mereka dan berkata, “Saya akan menyisakan timbangan, tas dan delapan keping uang untuk saya simpan.” Atas persetujuan mereka, ia menyimpannya, kemudian dengan cepat berlalu ke pinggir sungai, memberikan delapan keping uang tersebut kepada tukang perahu dan naik ke perahu.

Tidak lama kemudian, pedagang yang tamak itu kembali ke rumah tersebut, meminta mereka mengeluarkan mangkuk itu untuk ditukar dengan sesuatu barang atau yang lain. Wanita tua itu menemuinya dan berkata, “Engkau mengatakan mangkuk emas kami yang bernilai seratus ribu keping uang itu tidak bernilai bahkan seperdelapan sen. Namun datang seorang pedagang jujur (saya duga tuanmu) yang memberikan kami seribu keping uang, kemudian membawa mangkuk itu bersamanya.” Mendengar hal tersebut ia berteriak, “Ia telah merampok sebuah mangkuk emas yang bernilai seratus ribu keping uang dariku; ia telah menyebabkan aku menderita kerugian besar.”

Kesedihan yang teramat sangat menderanya, ia kehilangan kendali dan terlihat seperti orang yang terganggu pikirannya. Uang dan barang dagangan dicampakkannya di depan pintu rumah itu; ia melepaskan pakaiannya; dengan membawa lengan timbangan sebagai alat pemukul, ia menyusul Bodhisatta sampai ke pinggir sungai. Melihat perahu telah berlayar, ia menjerit agar tukang perahu kembali ke pinggir sungai, namun Bodhisatta meminta tukang perahu untuk melanjutkan pelayaran tersebut. Ia berdiri di pinggir sungai, hanya bisa memandang Bodhisatta yang semakin jauh darinya, penderitaan yang amat sangat melandanya. Hatinya diliputi oleh kemarahan; darah mencurat dari bibirnya; jantungnya retak seperti lumpur di dasar permukaan tangki yang kering oleh sinar matahari. Karena memikul kebencian terhadap Bodhisatta, ia meregang nyawa di tempat itu pada saat itu juga. (Inilah saat pertama Devadatta menaruh dendam terhadap Bodhisatta). Bodhisatta yang menjalankan hidup dengan kemurahan hati dan perbuatan baik lainnya, terlahir kembali di alam sesuai dengan apa yang telah ia perbuat.
____________________
Setelah menyampaikan kisah ini, Buddha, Yang Mahatahu mengucapkan syair berikut ini: —

Jika dalam keyakinan ini, engkau lengah dan gagal
untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diajarkan;
maka, seperti ‘Serivan’ si penjaja keliling,
sepanjang masa meratap sesal imbalan yang hilang akibat kedunguannya.

Setelah menguraikan Dhamma dengan cara yang dapat membimbing mereka pada pencapaian tingkat kesucian Arahat, Sang Guru memaparkan Empat Kebenaran Mulia secara terperinci. Di akhir khotbah, bhikkhu yang (tadinya) putus asa itu mencapai tingkat kesucian tertinggi, Arahat. Setelah menceritakan kedua kisah itu, Bhagawan menjelaskan pertautan keduanya dan memperkenalkan kisah kelahiran itu dengan menuturkan kesimpulan, “Saat itu, Devadatta adalah penjaja keliling yang tamak, dan Saya sendiri adalah penjaja keliling yang bijaksana dan baik itu.”

http://www.wi ha ra.com/forum/kisah-kisah-sang-buddha/7393-jataka-3-seriv-ija-j-taka.html

waterpot adalah benjana air yang berarti tempat manusia untuk menyimpan air untuk di minum kemudian untuk menghilangkan/memenuhi kebutuhan nya dari rasa haus/dahaga

pan adalah panci adalah alat yang di gunakan manusia untuk memasak makanan untuk menghilangkan / memenuhi kebutuhan hidup nya dari rasa lapar

sangat di sayang kan terjemahan yang baik adalah pedagang keliling yang juga menjual benjana air dan panci bukan pedagang benjana air dan panci saja, hal ini dapat terlihat dari keranjang dagangan baik yang dibawa devadata dan bodhisatva juga permintaan perhiasan dari sang anak perempuan, sang anak perempuan meminta perhiasan, devadata menggunakan jarum, sang Bodhisatva meminta alat timbang nya kembali (bila hanya menjual benjana air dan panci saja tidak akan memerlukan atau membutuhkan alat timbangan , jadi sesuatu yang di jual mungkin bisa berupa bubuk atau seperti bahan yang membutuhkan alat timbangan untuk menimbang berat nya misal biji-bijian, buah buahan, bahan bahan lain)

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #46 on: 16 November 2010, 07:26:27 PM »
komentar tentang jataka

APAṆṆAKA-JĀTAKA.
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1004.htm

ini adalah pembuka jataka athakata.

Komentar singkat saja,

secara explisit cerita ini menerangkan tentang sebuah perjalanan pada sebuah jalan ( yang di maksud adalah membaca jataka ) bahwa dalam membaca cerita jataka kita mungkin akan tergoda, terpesona oleh cerita ini (goblin) seperti merchant pertama hingga melupakan untuk apa kita sesungguh nya membaca cerita jataka. Secara halus kita di anjurkan untuk membaca cerita jataka ini setidak nya dua kali. intinya kita harus mempersiapkan diri dalam membaca cerita jataka dan harus berusaha mendapat manfaat yang terdapat pada cerita jataka( digambarkan dengan air [yang dapat diminum dan di gunakan{ jadi tentu nya adalah air yang jernih} ] yang di bawa para merchant).
« Last Edit: 16 November 2010, 07:55:13 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #47 on: 16 November 2010, 07:59:41 PM »
No. 2.
VAṆṆUPATHA-JĀTAKA.
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1005.htm

komentar singkat,
masih tentang perjalanan kita harus berhati hati atau akan berputar putar di tempat yang sama saja, jadi kita harus menggali (terus menerus)arti/pengertian yang terdapat dalam cerita jataka agar bisa merasakan atau meminum dhamma. 

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #48 on: 16 November 2010, 08:11:22 PM »
No. 3.
SERIVĀṆIJA-JĀTAKA.
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1006.htm

komentar,
ini adalah contoh cerita yang memerlukan penggalian yang sangat dalam, cerita ini merupkan permata yang mempunyai banyak sisi (facet) dan di dalam nya banyak cahaya, bila kita sedikit menggulirkan permata ini maka sisi lain cerita akan nampak dengan pandangan pandangan/pengertian pengertian yang berbeda.

disini juga di kenal kan alat bantu untuk memahami dhamma dalam cerita jataka, seperti yang di gunakan bodhisatva yaitu jarum( dalam hal ini pandangan sang bodhisatva dalam memeriksa mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga), timbangan, tas (untuk menyimpan mangkuk emas yang tertutup kotoran dan jelaga), dan juga delapan keping uang.

sedikit tentang jarum, ada tiga hal yang dapat di ketahui tentang jarum dari nenek dan anak perempuan yang tidak memiliki jarum tapi mendapat kan timbangan maka dia mendapat manfaat dhamma meski tidak sebesar sang bodhisatva, sang bodhisatva yang secara halus memeriksa adalah jarum yang tidak terlihat dan jarum devadata yang pertama di sebut dalam cerita (jarum yang hendak di jual oleh seorang pedagang keliling tidak lah mungkin hanya ada satu saja dalam keranjang dagangan nya).

« Last Edit: 16 November 2010, 08:22:19 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #49 on: 17 November 2010, 11:38:06 AM »
No. 4.
CULLAKA-SEṬṬHI-JĀTAKA.
http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1007.htm

komentar,
cerita ini cukup panjang dan terdiri dari banyak sisi aku tidak akan mengomentari semuanya hanya bagian bagian yang perlu di ketahui saja sisanya merupakan latihan yang harus dapat di mengerti sendiri.

belum apa apa kita sudah di gampar sama cerita ini apakah kita si a atau si b (atau ibu mereka), bila kalian si a jangan sombong karena bisa mengerti sutra sutra yang ada dan sebaiknya berbagi ( tentunya ada menyangkut juga tentang cerita ke tiga), bila kalian si b jangan cemas dan kuatir ada sebuah tehnik yang di ajarkan kepada kalian.

kain bersih (yang maha ajaib) disini mempunyai banyak segi salah satu segi nya adalah
kita harus melihat kain ini awal mula nya seperti apa, dalam realita kita sebuah kain di bentuk dengan di tenun pada jaman dahulu, bila kita menarik ujung nya maka kain tersebut akan terurai dan menjadi sehelai benang. cerita ketiga juga seperti itu untuk mengerti harus di uraikan terlebih dahulu dengan perlahan lahan dan kemudian di bentuk kembali (wah enak dan curang nya wa dapetnya susah payah cerita ke empat lsg memberitahu cara nya).

disini juga cerita tentang kain adalah latihan tehnik konsentrasi yang di ajarkan (kenapa bukan kertas jaman dahulu mana ada kertas yang ada yah kain ini)

kain disini juga berarti sebuah cerita jataka membutuhkan pendalaman dan konsentrasi untuk melihat hal yang sesungguh nya.

kain jaman sekarang seperti kain tenun, kain rajut dll bahwa latihan yang kalian lakukan setiap hari tidak akan percuma suatu saat akan menjadi sehelai kain ini, kain ini juga bisa berubah menjadi pakaian dll. 



Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #50 on: 17 November 2010, 12:07:53 PM »
nyobain blog umum belum pernah nihh, dulu blog sama e-sangha sayang nya e-sangha hancur karena virus, jadi takut yang wa semua tulis dan berharga hilang semua dan  takut dc nya hang karena kepenuhan nanti sama tulisan wa.
http://sundaimond.blogspot.com/

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.404
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Dear diary
« Reply #51 on: 17 November 2010, 03:52:12 PM »
Tenang aja bro, tidak akan kepenuhan :) kecuali postingnya 1000 per hari :))
There is no place like 127.0.0.1

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #52 on: 19 November 2010, 08:56:16 PM »
Quote
Dimulai dari kerendahan hati dan modal kecil;
ia yang cerdik dan cakap dapat menambah kekayaan
bahkan hembusan nafasnya seakan dapat menjaga
nyala api kecil.

dari cerita no 4 jataka
sangat sangat menarik
« Last Edit: 19 November 2010, 08:57:58 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #53 on: 19 November 2010, 10:03:30 PM »
sungguh sangat aneh kenapa bulan, matahari dan bintang selalu muncul di jataka sutta entah dalam bentuk mangkuk emas, kotoran dan jelaga, juga jarum. (bahkan di cerita sasa jataka no 316 juga ada perumpamaan nya)

pada cerita yang ke Enam muncul pangeran cunda (bulan), dan pangeran surya (matahari) dimana bintangnya yahh? 
« Last Edit: 19 November 2010, 10:11:26 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #54 on: 10 December 2010, 06:58:49 PM »
hmm, kemarin tanggal 7 pas libur bikin sabun (wakaka) bikin dengan pembanding 1:2:4 .1 untuk naoh, 2 untuk air , dan 4 untuk minyak goreng.

catatan kecil karena jug ku terbuat dari kaca dan ternyata di dalam kaca nya banyak gelembung udara jadi mesti hati hati supaya jug ini jangan sampai pecah karena kepanasan dari campuran air dan naoh, dan sebaiknya memasukan Naoh nya sedikit demi sedikit jgn lsg. juga sebaiknya naoh nya di tumbuk/di haluskan  dulu soalnya naoh yang ku beli masih berupa keping keping kasar berwarna putih. juga sebaiknya larutan naoh nya disaring dulu buset dah ada semacam kotoran hitam gak tahu apa an tuh tapi dah terlanjur di campur sama minyak nya jadi karena di aduk aduk gak berani angkat soalnya takutanya ada naoh yang belum larut (atau masih dalam bentuk kristal mana tangan wa gak pake sarung tangan karet lagi).

setelah dimasukan kedalam wadah bingung simapan nya mau dimana akhirnya setelah kesana kesini (yang mengakibatkan  geseran dll akhirnya di taruh di meja atas dekat tv ) setelah di lihat punya lihat ternyata masih ada lapisan minyak nya kuning kuning gitu wa pikir yah namanya juga pertama kali bikin belum tentu sempurna, setelah di miring miring kan jadi bentuk yang di dalam rata di tinggal tidur.

besoknya (8 -12-2010) ternyata lapisan minyak yang kuning telah hilang jadi ngapain kemarin wa miring miringkan tuh wadah. sedikit di buka hahaha dan meletakan tapak tangan pada lapisan atas sabun wah benar jadi lohh cuma lembek gitu jadi agak hati hati. bingung kapan mengerasnya yahh wa kasih jangka waktu 1 minggu dah mungkin sampai tanggal 14 -12-2010, tetapi bila lihat kalender tanggal 13 nya tuh hari uposatha jadi mungkin bakal di gunakan pada tanggal tersebut.

pagi hari ini wa lihat sudah mengendap, karena di goyang goyang (dimiring miringkan) jadi nya nya sabun nya ada yang melesak kedalam dan ada juga crak di lapisan atas dan di samping.     

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #55 on: 20 December 2010, 07:40:46 PM »
wah semestinya menceritakan sabun yang di buat ternyata dipakai bagus juga lohh lebih bersih dari sabun lux yang biasa wa beli, daki(dari kulit ari) lansung tidak ada sesudah mandi memang busanya bisa di katakan hampir tidak ada dibanding sabun lux yang lebih berbusa busa.

setelah di pakai tiga hari hidung ku menjadi sangat sensitif gitu padahal lagi pilek bau asap rokok langsung terasa menganggu padahal jaraknya 10 meter gitu dah dari meja wa, langsung membuat paru paru atau dalam dada ku terasa perih kayak di sayat beling /kaca buset dah. rasa kesal nya minta ampun mau marah saja dah pilek pilek mesti hirup tuh bau asap rokok rasanya mau ambil asbak dan melempar kemuka (smack down gitu) yang merokok saking sakit nya. 


Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #56 on: 20 December 2010, 07:43:30 PM »
well ternyata aku belum pernah cerita tentang rasa superioritas disini (dc) sayang tah e-sangha nya dah lenyap masa mesti di ulang lagi tahh.

tadi nya juga tidak tahu tahu bahwa hal ini benar benar ada karena daku hanya mengamati ada peristiwa seperti ini jadi tebak tebak apakah hal ini beneran tah yang kuamati ini, setelah ada pertanyaan dari member e-sangha jadi hal ini bisa di pastikan ada dan banyak terjadi di sekeliling kita.

pertanyaan nya waktu itu oleh seorang bule yang di rendahkan oleh seorang wanita yang mempunyai ras chinese, ada seorang perempuan chinese di negri seberang di barat merendahkan seorang bule karena orang tersebut adalah orang bule dan tidak bisa berbahasa mandarin. saat terjadinya adalah tidak lama setelah olimpiade 2008 (aku mencatat hal ini karena dulu terjadi hal seperti ini juga tetapi orang nya orang korea selatan terjadi nya setelah piala dunia [sepak bola itu lohh] membuat orang orang seperti ini muncul keluar membanggakan atau merasa dirinya lebih tinggi dari orang sekitar nya atau ras lain nya, terjadi nya pengulangan pola/corak tertentu).

aku terus terang bilang pada orang bule ini apa yang di lakukan  wanita chinese ini adalah suatu rasa keunggulan palsu (rasa suprioritas palsu) bukan superioritas sesungguh nya. wanita ini merasa tiba tiba dia lebih unggul dibandingkan dari manusia be etnis bebeda dengan dia karena china mampu menyajikan suatu pertunjukan/pelaksanaan yang sangat mewah dan megah dibanding negara lain di dunia pada saat itu/hingga saat itu.

pada saat itu dari hasil pengamatan ku ada 2 jenis orang, ada orang yang benar benar suprior/supreme tapi tidak memperlihatkan dirinya/biasa biasa saja dan nyaman akan keadaan nya dan ada orang yang merasa dia lebih unggul dari yang lain dengan meneriakan keunggulan nya pada orang lain bahwa dia lebih tinggi dari yang lain lain nya.
« Last Edit: 20 December 2010, 08:12:15 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #57 on: 21 December 2010, 07:34:44 PM »
pelayanan jasa kedukaan, wah menarik juga brosur yang di dapat di berikan di tempat kerja.
dari perkumpulan harapan kasih di jalan mangga besar VIII alamat nya sama dengan taman makam quiling kalau taman makam quiling dari 30-32, tetapi tempat perkumpulan harapan kasih ini cuma no:30.

yang sangat menarik adalah jasa yang di tawarkan adalah santunan yang anda bayar selama 5 tahun saja,
ada 4 paket santunan
yaitu:

paket silver  :100.000*    peti mati dengan perangkat senila 15.000.000,-
paket gold   : 250.000*   peti mati dengan perangkat senilai  35.000.000,-
paket           : 500.000*
paket          :1.000.000* peti mati dengan perangkat senilai 125.000.000,-(lupa entah yang mana platina dan titanium)

* harus di ingat kebebasan memilih rumah duka dll tergantung paket santunan yang anda pilih.
mereka bekerja sama dengan krematorium nirwana, rumah duka atmajaya, rumah duka dharmais, rumah duka st yosef, taman makam quiling, dan beberapa rumah duka lain nya yang ada di jakarta.

aku ada telpon untuk sekedar ingin tahu menanyakan paket silver kalau paket silver ini sayang nya tidak bisa memilih rumah duka nya tapi mendapat yang di tentukan oleh perkumpulan harapan kasih. hal lain nya adalah bisa sesuai dengan prosesi sesuai agama yang di anut nya.

catatan lain nya:
harga perangkat yang ada tertera di atas itu adalah harga saat ini jadi mungkin akan mengalami inflasi dll.
menjadi anggota perkumpulan harapan kita harus membayar uang administrasi sebesar rp300.000,-
paket santunan ini untuk anggota di bawah 70 thn.
bila umur >70thn maka ada paket santunan khusus.

cukup menarik   
« Last Edit: 21 December 2010, 07:42:03 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.107
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #58 on: 23 December 2010, 08:48:55 PM »
jelly candle (gel candle)
wah tadi di suruh belanja ke supermarket liat ada orang beli lilin jelly warna warni menarik juga jadi lihat lihat di internet untuk resep jelly candle ini rupanya susah banget dapet resepnya cuman dapet satu setalah cukup lama meluncur di internet. tidak tahu apakah resep ini cukup memuaskan atau tidak yang penting disimpan dulu soalnya susah dapetnya.


Spoiler: ShowHide



Quote

From: Jude (hazen-5300-b-138.westriv.com)
Subject: Re: gel candles
Date: April 14, 2004 at 12:22 pm PST

In Reply to: gel candles posted by Sharry on March 17, 2001 at 2:57 pm:

I found one a recipe for one and will give it to you.

Gel Candles
This makes a crystal clear gel that burns five times longer than wax.

2 cup s95% white mineral oil 375 degrees F Flash Point 200 Viscosity
3/8 cup (6 tablespoons) 5% CP9000 thermoplastic resin powder
Metal spoon
Measuring cup
Crockpot with a thermostat or saucepan and candy thermometer
Wick and base
Fragrance (optional)
Color (optional)

The formula for 1 pound of gel is .05 pound of CP9000 trp to .13 gallon of white mineral oil.

Mix mineral oil and resin powder and allow to set at room temperature for 1 hour, stirring occasionally.

Begin heating ingredients slowly bringing to 200 to 210 degrees F and hold at this temperature for 1 hour or until the gel is completely smooth flowing and all the lumps have dissolved. (The temperature should never exceed 230 degrees F.) The consistency should be that of corn syrup. Be sure to never let the temperature exceed 230 degrees as this may scorch the gel. If gel does scorch it is worthless and no amount of fragrance can save it. Give up and start over.

Stir the mixture often while cooking to assure proper mixture. If you don't have a crock pot be sure to watch your temp on a thermometer. The gel may smoke slightly during the process, this is not a cause for alarm unless smoke is excessive.

Just before you are ready to pour, add fragrance to suit (do not exceed 3%) as this will lower your flash point to an unsafe level. Color should be added now if desired.

Dip wick base in the gel, then place in bottom of container and hold for a few seconds to allow gel to adhere to the glass. This will hold your wick in place during pouring.

Pouring the gel is easy. You can get different effects from different pouring temperatures:

Lots of bubbles 180 to 190 degrees F
Few large bubbles 200 to 210 degrees F
Almost no bubbles 210 to 220 degrees F

To ensure bubble-free candles, pre-heat the glass container for 10 minutes in preheated 150 degrees F oven.

Tips

To embed objects, wait 2 to 5 minutes after pouring and drop into place. Only use glass or ceramic non-flammable objects. Marbles and aquarium rocks work well.

If you goof up some colored gel, cut them into cubes, then toss them into the glass container. Just let them lay as they fall. Pour clear gel over the top of the cubes to hold everything together.

I also have a recipe for Gel Flesheners Here it is,

How to Make Your Own Gel Air Freshener
You can make your own great smelling gel air fresheners, using liquid potpourri, or from scratch. They make great gifts!
You will need:

2 cups of distilled water
Essential oil/fragrance of your choice.
4 packages of knox gelatin
Food coloring (optional)
Heat 1 cup of water almost to a boil. Add the gelatin and stir until dissolved. Remove from heat add another cup of distilled water, 10-20 drops of oil/fragrance, and food coloring if desired.
You can replace food coloring and oil/fragrance with premade liquid potpourri (available at most craft stores, candle shops, etc.). Just make sure it's the concentrated kind or it won't retain its smell. The procedure would be the same. Heat 1 cup of the liquid potpourri, almost to a boil. Stir in 4 packets of Knox gelatin, until dissolved. Then stir in 1 cup cool liquid potpourri.

Pour the mixture into clean baby food jars and set at room temperature overnight until "set". You can place the jars in the refrigerator if you need them to set more quickly, but be aware that the smell will permeate the fridge.

For gift giving, you can decorate the baby food jars by wrapping with material, or glueing on wallpaper, stickers, wrapping paper, etc.

To use, place the jar on the stovetop (not directly on the burner!) while cooking, heat in a potpourri burner, or simply set out on a table and enjoy the aroma.

--------------------------------------------------------------------------------
Thanks to Margaret Latham, MAGPIE [at] stic.net, for this addition:
I have made my own gel fresheners by using the concentrated liquid potpouri (1 cup) instead of water and essential oils. I buy my at the local "dollar" store so the investment is small but I don't have any problems with mold growing. I've given several containers away that I made and everyone enjoys them tremendously. My portions are as follows:

1 c. concentrated liquid potpouri
2 envelopes Knox unflavored gelatin
Empty jar
Heat potpouri until almost to a boil. Remove from heat and add 2 envelopes of gelatin. Stir to dissolve gelatin and pour into clean decorative jar. Place piece of plastic wrap over jar and secure with rubber band. Either place in refrigerator for quick set or leave out overnight on counter. Cover with piece of starched "lace" and wrap with ribbon to decorate. Before using, remove plastic wrap and recover jar with lace cover. Hope my hint helps with this wonderful craft idea.

TIPS:
Several readers wrote in that they were having a problem with mold. Daria recommends adding 2 tablespoons of salt to the mixture to inhibit the growth of mold. Another user recommends adding a splash of vodka. And another suggests potassium sorbate, which is used in food preservation.
NOTE:
This is not the same as GEL CANDLES, which we also get a lot of inquiries about. Try visiting Downeast Scents or The Chemistry Store for instructions and materials for making the gel candles.

Hope you can use these.
Enjoy,
Jude
http://www.vegsource.com/talk/holidays/messages/2380.html

« Last Edit: 23 December 2010, 09:08:46 PM by daimond »

Offline willian

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 104
  • Reputasi: 0
  • Gender: Male
  • Lakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati.
Re: Dear diary
« Reply #59 on: 24 December 2010, 09:59:08 AM »
Pengangguran bertambah dnk..
Apapun yang sedan kamu lakukan, lakukanlah dengan sepenuh hati. Sebab apapun yang sedang kamu lakukan sekarang, itulah yang akan menentukan masa depanmu. Kita hidup untuk hari ini, bukan dari masa lalu dan bukan untuk masa depan..

 

anything