//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Dear diary  (Read 360514 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #120 on: 23 March 2011, 07:40:55 PM »
Hari ini mendorong seseorang untuk masuk bfi/bfi-e, orang ini beruntung sekali lohh dia mendapat undangan ajahn brahm dan riponche gratis loooohh beruntung sekali kan sementara yang lain sudah full tempat nya dia malah mendapat gratis, kok bisa ya ?soal itu wa tidak tahu dia dapet dari siapa. pas wa bilang ajahn brahm ini terkenal dia tidak tahu tuhh, benar benar orang yang beruntung dan tidak tahu keberuntungan nya (wakakaka)

Iuran keanggotaan bfi/bfi-e ini adalah 900.000,- pertahun, setelah di hitung ( dibagi 12 bulan) jatuh nya cuma Rp 75.000,- perbulan. Ini mah tidak mahal lah coba bandingkan kita melakukan dana sebulan nya saja dah berapa? anggap saja dana, sudah dana malah bisa mengikuti kegiatan seperti seminar bisnis, seminar dhamma,( 6 pertemuan). juga anak asuh bahkan ada kegiatan tour/wisata  (kalau tour/wisata tentu nya ada tambahan biaya lagi)  dll.

kalau tidak salah 16 April ini ada seminar bisnis
May ada seminar dari Bhikku Hui lei  dari  taiwan(semoga tidak salah tulis nama)
Juli ada seminar dari venerable Khema dari usa.   

Jadi mendorong dia untuk masuk bfi/bfi-e ini, tidak tahu apakah berhasil aku memakai sedikit taktik seperti Buddha membujuk ananda dengan kaki ungu ( cuma beda nya adalah untuk membuat dia menyadari potensi diri nya/ keuntungan nya bila masuk kedalam bfi/bfi-e ini, sambil menyelam minum air atau sekali mendayung tiga atau empat pulau terlampaui seperti itu lah).

organisasi ini termasuk baru (dari buku tertulis empat tahun)beranggotakan 400 orang, tapi sudah bisa seperti ini namanya "hebat lohh" patut di acungkan jempol untuk mereka. Organisasi ini adalah sosial relegius. 

Anggap saja harga 900.000 pertahun ini untuk membuat orang takut untuk masuk ke organisasi ini atau saringan atau test  bagi umat Buddha sendiri?

http://www.buddhistfellowship.or.id/
« Last Edit: 23 March 2011, 08:06:29 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #121 on: 23 March 2011, 08:17:18 PM »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #122 on: 24 March 2011, 10:02:01 PM »
ehm dorongan nya mungkin terlalu berhasil, hari ini nih orang jadi mengajak (minta di temanin begitu dah biasa kalau datang sendiri mungkin agak kaku /nervous kali yahh)  langsung ikut puja bakti bfi minggu tanggal 27 jam 5 sore di central park ( cepat nian infonya) wakakaka. beda kemarin omong ikut member bfi masa bayar 900.000 untuk menjadi anggota mahal  (walah walah cepat benar yah pikiran nya berubah)

wa tidak lansung menjawab biarin sedikit mengambang siapa tahu ada ikan lain tersangkut juga. kan masih ada besok dan hari sabtu jangan di jawab cepat capat dah.
« Last Edit: 24 March 2011, 10:06:11 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #123 on: 25 March 2011, 08:37:51 PM »
Hari ini ada kejadian lucu salah di kenali orang sama pelanggan toko katanya bukan nya kasir yang dulu gemuk ( lah wong sekarang saja aku masih gemuk ) sampai tidak bisa berbicara akhirnya ada pegawai lain bilang "apa wa kurusan?" kata temen wa "bilang ujung kelingking dia( wa) yang kurusan kali yahh!".

Lucu bisa bagai dua orang yang berbeda di dalam pandangan mata sang pelanggan toko.

Quote
No. 5.
TAṆḌULANĀLI-JĀTAKA.

"Dost ask how much a peck of rice is worth?"--This was told by the Master, whilst at Jetavana, about the Elder Udāyi, called the Dullard.

At that time the reverend Dabba, the Mallian, was manciple to the Brotherhood 1. When in the early morning Dabba was allotting the checks for rice, sometimes it was choice rice and sometimes it was an inferior quality which fell to the share of the Elder Udāyi. On days when he received the inferior quality, he used to make a commotion in the check-room, by demanding, "Is Dabba the only one who knows how to give out checks? Don't we know?" One day when he was making a commotion, they handed him the check-basket, saying, "Here! you give the checks out yourself to-day!" Thenceforth, it was Udāyi who gave out the checks to the Brotherhood. But, in his distribution, he could not tell the best from the inferior rice; nor did he know what seniority 2 was entitled to the best rice and what to the inferior. So too, when he was making out the roster, he had not an idea of the seniority of the Brethren thereon. Consequently, when the Brethren took up their places, he made a mark on the ground or on the wall to shew that one detachment stood here, and another there. Next day there were fewer Brethren of one grade and more of another in the check-room; where there were fewer, the mark was too low down; where the number was greater, it was too high up. But Udāyi, quite ignorant of detachments, gave out the checks simply according to his old marks.

Hence, the Brethren said to him, "Friend Udāyi, the mark is too high up or too low down; the best rice is for those of such and such seniority, and the inferior quality for such and such others." But he put them back with the argument, "If this mark is where it is, what are you standing here for? Why am I to trust you? It's my mark I trust."

Then, the boys and novices [124] thrust him from the check-room, crying, "Friend Udāyi the Dullard, when you give out the checks, the Brethren are docked of what they ought to get; you're not fit to give them out; get you gone from here." Hereupon, a great uproar arose in the check-room.

Hearing the noise, the Master asked the Elder Ānanda, saying, "Ānanda, there is a great uproar in the check-room. What is the noise about?"

The Elder explained it all to the Buddha. "Ānanda," said he, "this is not the only time when Udāyi by his stupidity has robbed others of their profit; he did just the same thing in bygone times too."

The Elder asked the Blessed One for an explanation, and the Blessed One made clear what had been concealed by re-birth.


http://www.sacred-texts.com/bud/j1/j1008.htm

Quote
TAṆḌULANĀLI-JĀTAKA
“Berapakah kiranya nilai satu takaran beras?” dan
seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berada di
Jetawana, tentang Thera Udāyi, yang dipanggil si Dungu.

Pada masa itu, seorang bhikkhu bernama Dabba, dari suku Malla, bertugas mengatur pembagian persediaan bahan makanan untuk Sanggha21. Di pagi hari Dabba sedang menentukan beras untuk dibagikan, kadang-kadang beras pilihan dan kadang-kadang beras yang mutunya lebih rendah, yang diberikan kepada Bhikkhu Udāyi. Biasanya saat menerima beras yang mutunya lebih rendah, ia membuat kericuhan di ruang penyimpanan dengan berkata, “Apakah Dabba satu-satunya orang yang mengetahui cara menentukan beras? Bukankah kita semua juga bisa?” Suatu hari, saat ia ricuh, mereka menyerahkan keranjang periksa kepadanya dan berkata, “Ambillah! Mulai hari ini, engkau yang menentukan pembagian beras!” Sejak itu, Udāyi bertugas menentukan pembagian beras kepada bhikkhu Sanggha. Namun, dalam pembagian yang dilakukannya, ia tidak mengetahui perbedaan beras yang mutunya bagus dan beras yang mutunya lebih rendah; ia juga tidak tahu bhikkhu senior22 dengan kedudukan apa berhak mendapatkan beras dengan kualitas baik maupun beras dengan mutu yang lebih rendah. Karena itu, saat menyusun daftar nama, ia tidak mengetahui kesenioran kedudukan para bhikkhu. Akhirnya, saat para bhikkhu mengambil tempat, ia menandai lantai maupun dinding untuk menunjukkan pemisahan siapa yang berdiri di sini dan siapa yang berdiri di sana. Di kemudian hari, lebih sedikit bhikkhu pada tingkatan tertentu dan lebih banyak bhikkhu tingkatan yang lain; dimana dengan jumlah yang semakin sedikit, tanda itu semakin menurun, dan untuk jumlah yang bertambah banyak, tandanya juga mengalami kenaikan. Namun Udāyi yang tidak mengetahui tentang pemisahan itu, membagikan penentuan beras hanya menurut tanda lama yang ia buat.

Karena itu, para bhikkhu berkata kepadanya, “Awuso Udāyi, tanda yang engkau buat terlalu tinggi atau terlalu rendah; beras yang mutunya baik, diberikan kepada bhikkhu berkedudukan demikian dan beras yang mutunya lebih rendah diberikan kepada bhikkhu dengan kedudukan yang lain.” Namun ia menyanggah dengan alasan, “Tanda itu berada di tempat seharusnya ia berada. Jika bukan tempatmu, mengapa engkau berdiri di sana? Mengapa saya harus percaya padamu? Saya hanya percaya pada tanda yang saya buat.”

 Para bhikkhu dan samanera [124] mendorongnya keluar dari tempat penyimpanan itu dan berteriak, “Temanku Udāyi yang dungu, karena pembagian yang kamu lakukan, para bhikkhu tidak mendapat apa yang seharusnya menjadi bagian mereka; kamu tidak cocok untuk melakukan tugas ini; pergilah dari sini!” Kegaduhan pun terjadi di ruang penyimpanan tersebut.

Mendengar keributan itu, Sang Guru bertanya pada Ānanda, “Ānanda, ada kegaduhan di ruang penyimpanan. Keributan apakah itu?”

Thera Ānanda menjelaskan kejadian tersebut pada Buddha. “Ānanda,” kata Beliau, “ini bukan pertama kalinya kebodohan Udāyi membuat ia merampas apa yang menjadi milik orang lain; ia juga melakukan hal yang sama di masa lampau.”

Ānanda meminta Bhagawan menjelaskan, kemudian Beliau menceritakan hal yang selama ini tidak Ananda ketahui dikarenakan kelahiran kembali.

http://www.scribd.com/doc/31483424/Jataka-Vol-1

cerita ini banyak keanehan nya, menurut kalian apakah sangha meributkan hal seperti ini? bila bukan anggota sangha mungkin atau wajar ada keributan seperti ini. coba bayangkan bila dari bhikku pemula sampai yang senior adalah arahat apakah akan terjadi keributan seperti ini? bukan nya kita makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan? kenapa kualitas beras yang dimakan untuk hidup menjadi persoalan dan menjadi sumber pertikaian dalam cerita ini? 

melihat hal ini kita mari kita juga bandingkan dengan  melihat keadaan kita saat ini berapa banyak pertikaian yang terjadi karena perbandingan kualitas muncul rasa iri, dengki dan lain sebagai nya di kehidupan manusia pada umum nya?


« Last Edit: 25 March 2011, 09:05:11 PM by daimond »

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #124 on: 26 March 2011, 08:34:08 PM »
hmm, bila di pertimbangkan dari cerita no 4 sampai cerita no 6 cerita no 5 ini aneh masa bhikku makan beras? mestinya kan makan nasi.

Lagian kalau dapet beras tuh mesti di masak menjadi nasi jadi pertanyaan nya dapur vihara jetavana sebesar apa? apa bisa menampung 500 orang bhikku memasak beras menjadi nasi belum bahan bakarnya yaitu potongan kayu bakar bukan nya para bhikku di larang memotong/menebang pohon dan belum lagi mengolah sayur mayur atau lauk pauk nya kan mesti memakai pisau untuk memotong bahan makanan seperti timun dll, bukan nya para bhikku ini tidak boleh memotong biji bijian?

ehm ikut quiz dapet blue

« Last Edit: 26 March 2011, 08:38:13 PM by daimond »

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Dear diary
« Reply #125 on: 26 March 2011, 08:42:49 PM »
hmm, bila di pertimbangkan dari cerita no 4 sampai cerita no 6 cerita no 5 ini aneh masa bhikku makan beras? mestinya kan makan nasi.
Rice memang bisa berarti beras atau nasi, tapi utk kasus di atas tidak tau alasan apakah yg membuat si penerjemah memilih kata beras dan bukan nasi.

Quote
Lagian kalau dapet beras tuh mesti di masak menjadi nasi jadi pertanyaan nya dapur vihara jetavana sebesar apa? apa bisa menampung 500 orang bhikku memasak beras menjadi nasi belum bahan bakarnya yaitu potongan kayu bakar bukan nya para bhikku di larang memotong/menebang pohon dan belum lagi mengolah sayur mayur atau lauk pauk nya kan mesti memakai pisau untuk memotong bahan makanan seperti timun dll, bukan nya para bhikku ini tidak boleh memotong biji bijian?

para bhikkhu tidak memasak makanan, para bhikkhu hanya menerima persembahan makanan siap santap, bukan bahan makanan mentah. jadi memang "beras" di situ sepertinya tidak tepat

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #126 on: 02 April 2011, 08:56:32 PM »
kemarin ada pelanggan yang sangat membanggakan dirinya dan pamer kartu kreditnya(kartu utang) ada banyak gitu, wa sih senyum senyum saja dalam hati wa nih orang dah ketinggalan jaman kali yah, buat apa kartu utang punya dia di pamer pamerin? apa sih yang di banggakan dengan mempunyai banyak hutang disana sini?

kalau dia ada pamer surat deposit satu mliyar rupiah ada 1 juta lembar tuh baru bener kali yahh! kartu utang gitu buat apa pamer?
« Last Edit: 02 April 2011, 08:58:29 PM by daimond »

Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: Dear diary
« Reply #127 on: 02 April 2011, 10:15:27 PM »
Mgkn dia koleksi kk.. :P

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #128 on: 03 April 2011, 10:29:24 AM »
wa, kemarin coba buka email di acount wa di hotmail sampai 3 jam tuh hotmail tdk kebuka juga, putusin buka yahoo mail dah. cuma itu banyakan register pake hotmail ini bakal menjadi masalah nih masa transisinya. entah kenapa skrg ini susah masuk ke hotmail padahal window live nya bisa masuk.

Offline Landy Chua

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 678
  • Reputasi: 29
  • Gender: Female
  • Berkelana untuk belajar Dhamma ^^
Re: Dear diary
« Reply #129 on: 03 April 2011, 11:01:30 AM »
hidup ini memang kosong...~ tidak sedih .. tidak bahagia , tidak jelek tidak cantik , tidak kaya tidak miskin , tidak pintar tidak bodoh , tidak kkrgan tidak berlebihan .. tidak khawatir akan masa depan tidak menyesali masa lalu , tidak bersuka ria tidak berduka , tidak sibuk tidak santai , ..............

aku merasa seperti sebuah garis lurus horizontal

_____________________________________________________ hampa dan kosong ...


titik jenuh sbg Manusia , ketika filsafah hidup , cinta , bahkan ideologi tidak mampu lagi memberi lengkungan di garis horizontal..~  :|




Offline M14ka

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.821
  • Reputasi: 94
  • Gender: Female
  • Live your best life!! ^^
Re: Dear diary
« Reply #130 on: 03 April 2011, 11:08:52 AM »
^
Cb cc bahagiakan org yg plg disayangi, kebahagiaan terbesar adl bila org yg kita sayangi bahagia... Hehehe...

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #131 on: 03 April 2011, 02:08:13 PM »
hidup ini memang kosong...~ tidak sedih .. tidak bahagia , tidak jelek tidak cantik , tidak kaya tidak miskin , tidak pintar tidak bodoh , tidak kkrgan tidak berlebihan .. tidak khawatir akan masa depan tidak menyesali masa lalu , tidak bersuka ria tidak berduka , tidak sibuk tidak santai , ..............

aku merasa seperti sebuah garis lurus horizontal

_____________________________________________________ hampa dan kosong ...


titik jenuh sbg Manusia , ketika filsafah hidup , cinta , bahkan ideologi tidak mampu lagi memberi lengkungan di garis horizontal..~  :|


tidak juga lah kemarin kesal 1/2 hidup karena cuma mau buka hotmail saja masa 3 jam dah kutak kutik tidak bisa juga akhirnya di putusin kalo gini terus trusan mau buka hotmail seperti ini mending pindahin saja deh ke tempat baru.

Offline Landy Chua

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 678
  • Reputasi: 29
  • Gender: Female
  • Berkelana untuk belajar Dhamma ^^
Re: Dear diary
« Reply #132 on: 03 April 2011, 02:16:49 PM »
tidak juga lah kemarin kesal 1/2 hidup karena cuma mau buka hotmail saja masa 3 jam dah kutak kutik tidak bisa juga akhirnya di putusin kalo gini terus trusan mau buka hotmail seperti ini mending pindahin saja deh ke tempat baru.

 ??? ??? ??? ???

Offline kullatiro

  • Sebelumnya: Daimond
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.117
  • Reputasi: 95
  • Gender: Male
  • Ehmm, Selamat mencapai Nibbana
Re: Dear diary
« Reply #133 on: 03 April 2011, 02:18:44 PM »
Hari ini karena tunggu toko buku Uranus mau buka jam 13:00 di tanjung duren selatan jadi menunggu buka daripada bengong tuh didepan pintu belum ke buka jadi masuk ke "Bel Mart"  jualan daging ayam, pengen tahu nih sebenarnya seperti apa sih isi tokonya ternyata tidak jualan daging ayam mentah saja tapi ada bumbu siap pakai juga tohh,

seperti semur ( bisa bikin semur kentang dah), bumbu rendang, bumbu kari, juga ada jualan telur ayam negri [hah tinggal tuang bumbu rendang masuk kentang dan telur jadi telur rendang dan kentang rendang jadi mudah masak nya], telur ayam kampung, bumboe instant, ada juga jual saos tomat, kecap sambel, mantao kosong bahkan ada snack nya.

Ada juga jualan ayam panggang( di oven) 32.000 rupiah ada juga ayam yang sudah di bumbui tinggal masak saja.  Ada jual bumbu jadi tinggal masukkan bahan nya seperti bumbu kari jadi di masukan plastik yang tersegel ( tampaknya sangat fresh nih bumbu kari ).

saat ini sedang berkompert ria ala lesehan ( baru kali ini tahu main komputer bisa lesehan [duduk di lantai]  ada ada saja idenya yahh.
« Last Edit: 03 April 2011, 02:21:41 PM by daimond »

Offline BLBL

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 7
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Dear diary
« Reply #134 on: 04 April 2011, 07:40:42 AM »
semua ini salah aku sendiri, salah pikiran aku sendiri - aku pengen menangis - aku sungguh tidak berdaya - hatiku dalam tangisan - mengapa ini terjadi pada diriku - pada jiwaku - bagai teratai dalam lumpur aku bersatu - aku ingin menangis dgn keadaan ini - harga diri ini menghilang & pergi  - aku merintih - dalam tangis & kesedihan - dalam segala ketidakbebasan & ketidakpercayaan diri - aku bagaikan batu kapur yang rapuh dan mudah hancur - inikah karma ku - yang harus ku terima sepanjang kehidupan ini -