//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan  (Read 431344 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #15 on: 18 June 2009, 03:01:32 PM »
ada yang mau eaye tanya nih, bagaimana menurut bro kainyn mengenai ajaran Buddha yang menyebar demikian banyak aliran2 sehingga membingungkan mana yang bisa disebut "ajaran Buddha" yang paling Murni, nah manakah yang paling murni itu? apa pandangan masing2 individu yang paling murni atau ada sesuatu tolak ukur yang "paling" benar? ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline J.W

  • Sebelumnya: Jinaraga, JW. Jinaraga
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.864
  • Reputasi: 103
  • Gender: Male
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #16 on: 18 June 2009, 03:17:49 PM »
ada yang mau eaye tanya nih, bagaimana menurut bro kainyn mengenai ajaran Buddha yang menyebar demikian banyak aliran2 sehingga membingungkan mana yang bisa disebut "ajaran Buddha" yang paling Murni, nah manakah yang paling murni itu? apa pandangan masing2 individu yang paling murni atau ada sesuatu tolak ukur yang "paling" benar? ;D

Bila suatu ajaran itu setelah dipelajari dan dilatih dapat membantu kita mengikis LDM, maka ajaran itu dapat dikatakan baik.  ^:)^

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #17 on: 18 June 2009, 03:53:54 PM »
ada yang mau eaye tanya nih, bagaimana menurut bro kainyn mengenai ajaran Buddha yang menyebar demikian banyak aliran2 sehingga membingungkan mana yang bisa disebut "ajaran Buddha" yang paling Murni, nah manakah yang paling murni itu? apa pandangan masing2 individu yang paling murni atau ada sesuatu tolak ukur yang "paling" benar? ;D

Bila suatu ajaran itu setelah dipelajari dan dilatih dapat membantu kita mengikis LDM, maka ajaran itu dapat dikatakan baik.  ^:)^

ya itu BUDDHA DHAMMA, emang ada yang lain lagi ?

 _/\_
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #18 on: 18 June 2009, 04:04:32 PM »
ada yang mau eaye tanya nih, bagaimana menurut bro kainyn mengenai ajaran Buddha yang menyebar demikian banyak aliran2 sehingga membingungkan mana yang bisa disebut "ajaran Buddha" yang paling Murni, nah manakah yang paling murni itu? apa pandangan masing2 individu yang paling murni atau ada sesuatu tolak ukur yang "paling" benar? ;D

Kalau menurut saya pribadi sih, satu ajaran dikatakan "benar" itu adalah subjektif, tergantung dari yang memandangnya. Seperti saya pernah pakai analogi pelangi, bagi orang buta warna parsial, warna pelangi cuma 6 (atau kurang) adalah kebenaran baginya. Bagi orang dengan mata normal, kita katakan 7. Tetapi kalau burung bisa ngomong, mereka bilang kita semua buta warna (beberapa keluarga burung ada yang memiliki sel kerucut di mata yang lebih sensitif). Jadi yang manakah yang kita bilang benar?

Kalau menurut saya pribadi, kebenaran yang benar-benar "benar" adalah jika berlaku bagi semua orang.
Mungkin kita pernah mendengar kisah Theri Kundala Kesa yang begitu terkenal di seluruh Jambudvipa karena keahlian berdebatnya. Ia menanyakan Sariputta seribu pertanyaan seputar dhamma, dan semua dijawab. Kemudian Sariputta hanya menanyakan 1 pertanyaan, "Apakah yang satu?" maksudnya apakah kebenaran yang berlaku mutlak bagi semua orang. Kundala Kesa tidak bisa menjawabnya, dan kemudian Sariputta membawanya kepada Buddha.

Jadi kalau kembali menurut pendapat saya, makin sempit ruang lingkup satu ajaran, maka semakin subjektif kebenarannya. Dan kebalikannya, semakin luas cakupan satu ajaran, semakin mendekati kebenaran pula ajaran itu.  



Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #19 on: 18 June 2009, 04:08:57 PM »
ada yang mau eaye tanya nih, bagaimana menurut bro kainyn mengenai ajaran Buddha yang menyebar demikian banyak aliran2 sehingga membingungkan mana yang bisa disebut "ajaran Buddha" yang paling Murni, nah manakah yang paling murni itu? apa pandangan masing2 individu yang paling murni atau ada sesuatu tolak ukur yang "paling" benar? ;D

Bila suatu ajaran itu setelah dipelajari dan dilatih dapat membantu kita mengikis LDM, maka ajaran itu dapat dikatakan baik.  ^:)^

Ya, kira-kira begitu. Kalau kita lihat seseorang sejak punya agama "baru" jadi lebih baik, damai, peduli dengan orang lain, maka kita bilang "agama"-nya itu bermanfaat. Kalau kita lihat orang semenjak punya agama "baru" sering menimbulkan keresahan, nakut2in orang, tukang berantem, maka boleh dibilang ajaran "agama"-nya kurang bermanfaat.


Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #20 on: 18 June 2009, 04:28:35 PM »
ada yang mau eaye tanya nih, bagaimana menurut bro kainyn mengenai ajaran Buddha yang menyebar demikian banyak aliran2 sehingga membingungkan mana yang bisa disebut "ajaran Buddha" yang paling Murni, nah manakah yang paling murni itu? apa pandangan masing2 individu yang paling murni atau ada sesuatu tolak ukur yang "paling" benar? ;D

Bila suatu ajaran itu setelah dipelajari dan dilatih dapat membantu kita mengikis LDM, maka ajaran itu dapat dikatakan baik.  ^:)^

ya itu BUDDHA DHAMMA, emang ada yang lain lagi ?

 _/\_
BUDDHA dhamma nya versi yang mana? ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #21 on: 18 June 2009, 04:36:51 PM »
Quote
Kalau menurut saya pribadi, kebenaran yang benar-benar "benar" adalah jika berlaku bagi semua orang.
Mungkin kita pernah mendengar kisah Theri Kundala Kesa yang begitu terkenal di seluruh Jambudvipa karena keahlian berdebatnya. Ia menanyakan Sariputta seribu pertanyaan seputar dhamma, dan semua dijawab. Kemudian Sariputta hanya menanyakan 1 pertanyaan, "Apakah yang satu?" maksudnya apakah kebenaran yang berlaku mutlak bagi semua orang. Kundala Kesa tidak bisa menjawabnya, dan kemudian Sariputta membawanya kepada Buddha.

Apakah ada penjelasan "apakah yg satu"? (dalam sutta)
Jika bisa berlaku pada setiap orang mengapa kenyataannya tidak setiap orang bisa memberlakukan kebenaran? Dan banyak pendapat. Jika kebenaran setiap orang subjektif maka kebenaran itu tidak ada yg mutlak dan subjektif pula? bagaimana ini? Berarti Dhamma yg diajarkan Sang Buddha subjektif?
« Last Edit: 18 June 2009, 04:40:01 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #22 on: 18 June 2009, 04:39:47 PM »
ada yang mau eaye tanya nih, bagaimana menurut bro kainyn mengenai ajaran Buddha yang menyebar demikian banyak aliran2 sehingga membingungkan mana yang bisa disebut "ajaran Buddha" yang paling Murni, nah manakah yang paling murni itu? apa pandangan masing2 individu yang paling murni atau ada sesuatu tolak ukur yang "paling" benar? ;D

Bila suatu ajaran itu setelah dipelajari dan dilatih dapat membantu kita mengikis LDM, maka ajaran itu dapat dikatakan baik.  ^:)^

Ya, kira-kira begitu. Kalau kita lihat seseorang sejak punya agama "baru" jadi lebih baik, damai, peduli dengan orang lain, maka kita bilang "agama"-nya itu bermanfaat. Kalau kita lihat orang semenjak punya agama "baru" sering menimbulkan keresahan, nakut2in orang, tukang berantem, maka boleh dibilang ajaran "agama"-nya kurang bermanfaat.


Bagaimana kalau, memang agamanya mengajarkan begitu ? ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #23 on: 18 June 2009, 04:40:58 PM »
Quote
Kalau menurut saya pribadi, kebenaran yang benar-benar "benar" adalah jika berlaku bagi semua orang.
Mungkin kita pernah mendengar kisah Theri Kundala Kesa yang begitu terkenal di seluruh Jambudvipa karena keahlian berdebatnya. Ia menanyakan Sariputta seribu pertanyaan seputar dhamma, dan semua dijawab. Kemudian Sariputta hanya menanyakan 1 pertanyaan, "Apakah yang satu?" maksudnya apakah kebenaran yang berlaku mutlak bagi semua orang. Kundala Kesa tidak bisa menjawabnya, dan kemudian Sariputta membawanya kepada Buddha.

Apakah ada penjelasan "apakah yg satu"? (dalam sutta)
Jika bisa berlaku pada setiap orang mengapa kenyataannya tidak setiap orang bisa memberlakukan kebenaran? Dan banyak pendapat. Jika kebenaran setiap orang subjektif maka kebenaran itu tidak ada yg mutlak dan subjektif pula? bagaimana ini? Berarti Dhamma yg diajarkan Sang Buddha subjektif?
Betul, tapi tidak semua orang bisa cocok dengan ajaran itu iya tohhh (Samita mode=on) ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #24 on: 18 June 2009, 04:52:29 PM »
Quote
Kalau menurut saya pribadi, kebenaran yang benar-benar "benar" adalah jika berlaku bagi semua orang.
Mungkin kita pernah mendengar kisah Theri Kundala Kesa yang begitu terkenal di seluruh Jambudvipa karena keahlian berdebatnya. Ia menanyakan Sariputta seribu pertanyaan seputar dhamma, dan semua dijawab. Kemudian Sariputta hanya menanyakan 1 pertanyaan, "Apakah yang satu?" maksudnya apakah kebenaran yang berlaku mutlak bagi semua orang. Kundala Kesa tidak bisa menjawabnya, dan kemudian Sariputta membawanya kepada Buddha.

Apakah ada penjelasan "apakah yg satu"? (dalam sutta)
Jika bisa berlaku pada setiap orang mengapa kenyataannya tidak setiap orang bisa memberlakukan kebenaran? Dan banyak pendapat. Jika kebenaran setiap orang subjektif maka kebenaran itu tidak ada yg mutlak dan subjektif pula? bagaimana ini? Berarti Dhamma yg diajarkan Sang Buddha subjektif?

Dari yang saya pernah baca, saya menafsirkan bahwa yang "satu" berlaku bagi semua orang adalah kenyataan tentang Dukkha, juga berhentinya Dukkha.

Setiap orang pasti tahu bahwa dirinya akan "mati". Tetapi seberapa orang yang sadar (mindful) akan kenyataan tersebut? Ada lagi yang tidak bisa menerima kenyataan tentang perubahan, maka mencari suatu "kekekalan". Itu sebabnya tidak semua orang menerima dan menjalankan dhamma. Sama seperti anak yang mulai tumbuh dewasa diajarkan orang-tuanya, "Santa Claus tidak ada, semua hanya rekayasa". Sebagian anak bisa menerima, sebagian anak yang begitu melekatnya pada Santa Claus belum bisa menerima dan tetap "memelihara" Santa Claus agar tetap hidup di pikirannya.


Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #25 on: 18 June 2009, 04:57:30 PM »
Ya, kira-kira begitu. Kalau kita lihat seseorang sejak punya agama "baru" jadi lebih baik, damai, peduli dengan orang lain, maka kita bilang "agama"-nya itu bermanfaat. Kalau kita lihat orang semenjak punya agama "baru" sering menimbulkan keresahan, nakut2in orang, tukang berantem, maka boleh dibilang ajaran "agama"-nya kurang bermanfaat.
Bagaimana kalau, memang agamanya mengajarkan begitu ? ;D

Maka kembali pada kebijaksanaan kita masing-masing untuk menilainya.
Itulah sebabnya dalam dhamma juga Buddha tidak menyetujui orang asal percaya saja, karena Buddha melihat kita sebagai manusia (yang mengutamakan akal), bukan keledai pandir.  :)


Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #26 on: 18 June 2009, 05:53:02 PM »
kalau ada yg tanya pada Mr. Johnz,

apakah Su Ma Ching Hai itu cantik ?

bagaimana pula jawaban bro Johnz ? :)

(yg lain mau jawab.... silahkan)
« Last Edit: 18 June 2009, 05:56:27 PM by johan3000 »
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #27 on: 18 June 2009, 06:46:08 PM »
Quote
Kalau menurut saya pribadi, kebenaran yang benar-benar "benar" adalah jika berlaku bagi semua orang.
Mungkin kita pernah mendengar kisah Theri Kundala Kesa yang begitu terkenal di seluruh Jambudvipa karena keahlian berdebatnya. Ia menanyakan Sariputta seribu pertanyaan seputar dhamma, dan semua dijawab. Kemudian Sariputta hanya menanyakan 1 pertanyaan, "Apakah yang satu?" maksudnya apakah kebenaran yang berlaku mutlak bagi semua orang. Kundala Kesa tidak bisa menjawabnya, dan kemudian Sariputta membawanya kepada Buddha.

Apakah ada penjelasan "apakah yg satu"? (dalam sutta)
Jika bisa berlaku pada setiap orang mengapa kenyataannya tidak setiap orang bisa memberlakukan kebenaran? Dan banyak pendapat. Jika kebenaran setiap orang subjektif maka kebenaran itu tidak ada yg mutlak dan subjektif pula? bagaimana ini? Berarti Dhamma yg diajarkan Sang Buddha subjektif?

Dari yang saya pernah baca, saya menafsirkan bahwa yang "satu" berlaku bagi semua orang adalah kenyataan tentang Dukkha, juga berhentinya Dukkha.

Setiap orang pasti tahu bahwa dirinya akan "mati". Tetapi seberapa orang yang sadar (mindful) akan kenyataan tersebut? Ada lagi yang tidak bisa menerima kenyataan tentang perubahan, maka mencari suatu "kekekalan". Itu sebabnya tidak semua orang menerima dan menjalankan dhamma. Sama seperti anak yang mulai tumbuh dewasa diajarkan orang-tuanya, "Santa Claus tidak ada, semua hanya rekayasa". Sebagian anak bisa menerima, sebagian anak yang begitu melekatnya pada Santa Claus belum bisa menerima dan tetap "memelihara" Santa Claus agar tetap hidup di pikirannya.



"apakah yg satu" pernah ditanyakan kepada arahat yg baru berumur 7 tahun yaitu sopaka...jawabannya adalah

"What is one?"

All beings subsist on food. [There are these four nutriments for the establishing of beings who have taken birth or for the support of those in search of a place to be born. Which four? Physical food, gross or refined; contact as the second, intellectual intention the third, and consciousness the fourth. -- SN XII.64"    http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,1515.0.html

 Tulisan bro paragraf kedua--- Artinya dan sebenarnya kebenaran itu sendiri tidak subjektif tapi orangnya yg subjektif karena persepsinya sendiri berada dalam pandangan yang salah karena kotoran batin yg membelenggunya dan ia tidak bisa melihat kenyataan. Kebenaran itu adalah kenyataan itu sendiri.  Oleh karena  itu Dhamma memiliki dasar dan acuannya. Acuannya adalah seperti yg diajarkan Sang Buddha.
« Last Edit: 18 June 2009, 07:06:06 PM by bond »
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline marcedes

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.528
  • Reputasi: 70
  • Gender: Male
  • May All Being Happinesssssssss
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #28 on: 18 June 2009, 07:01:45 PM »
Quote
Bagaimana saya bisa mengatakan seseorang "dibohongi" sementara saya sendiri belum merealisasikan ajaran, juga tidak mampu membuktikan "kebohongan" ajaran lain?
Kalau dari sudut pandang saya, ada dua jenis orang: yang bisa melihat dhamma dan yang tidak bisa melihat dhamma. Jika seseorang bisa melihat dhamma, alangkah baiknya dia mengikis keserakahan, kebencian, dan kebodohan bathin yang ia lihat. Bagi yang tidak bisa melihat dhamma, alangkah baiknya dia tidak menambah keserakahan, kebencian, dan kebodohan bathin yang sudah ada.
Jadi, jika seseorang tidak bisa melihat suatu kebenaran sebagai kebenaran, ia akan bergembira dalam kebohongan dan ilusi. Tidak ada yang bisa saya lakukan tentang hal itu. Tetapi setidaknya jika ia berbahagia dan tidak menambah kebencian dan dendam, saya pun berbahagia untuknya, ketimbang ia bergembira dalam kebohongan dan ilusi ++ benci & dendam.
saudara kaiyin,
kalau anda belum merealisasikan itu hak anda, tapi kenapa anda bisa mengatakan protes akan cara saya?...kalau bs sebagai bahan koreksi saya minta kutipan dari cara saya yang salah dimata anda.

masalah kutipan "semoga semua makhluk berbahagia"
memang betul kata anda, tetapi sekarang mungkin posisi saya dan anda berbeda...saya mungkin merealisasikan beberapa kebenaran sebagai kebenaran dan ilusi sebagai ilusi...
jika anda sebagai saya, mengetahui seseorang itu berbahagia karena di bohongi...
salahkah jika berniat mengutarakan kebenaran pada dirinya? > saya rasa tidak salah...tergantung sikon (situasi dan kondisi pada waktu itu)

saya jadi teringat percakapan buddha dengan pangeran ( well walau tidak seperti asli nya, ini kira-kira lah soalnya juga lupa-lupa ingat ), mengenai bayi...
jika ada Bayi menelan sebuah biji besar yang dapat membuat nya mati menderita, dengan cara apakah pangeran menolong-nya....
dengan memasukkan jari atau tangan saya..
kemudian buddha berkata, tetapi itu akan membuat bayi tersebut menderita....
pangeran kemudian berkata, tetapi saya lakukan itu bukan dengan kebencian, tetapi sebagai metta.
buddha pun berkata,...........................

kadang-kadang seperti terjadi pada upali dan nigantha,upali memang tidak berniat mencelakai guru-nya....akan tetapi karena pandangan konsep yang bertolak belakang....kadang memang tidak menutup kemungkinan terjadi hal-hal itu..
sama hal nya membahas dhamma dan ajaran lain.....walau katanya telah mencari kebenaran bukan pembenaran tidak menutup adanya emosi atau lainnya keluar..
akan tetapi dilakukan itu bukan semata-mata demi kesombongan....

jadi yang anda katakan bahwa tidak berbuat apa-apa...oke-oke saja..
tetapi yang saya katakan bahwa berbuat sesuatu...saya rasa oke-oke saja.....

saudara kaiyin,perumpamaan anda tentang pelangi itu perumpamaan secara samuthi...jelas saja bagi semua orang berbeda-beda....
saya sependapat dengan saudara bond,

salam metta.
Ada penderitaan,tetapi tidak ada yang menderita
Ada jalan tetapi tidak ada yang menempuhnya
Ada Nibbana tetapi tidak ada yang mencapainya.

TALK LESS DO MOREEEEEE !!!

Offline Mr.Jhonz

  • Sebelumnya: Chikennn
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.164
  • Reputasi: 148
  • Gender: Male
  • simple life
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #29 on: 18 June 2009, 07:27:51 PM »
kalau ada yg tanya pada Mr. Johnz,

apakah Su Ma Ching Hai itu cantik ?

bagaimana pula jawaban bro Johnz ? :)

(yg lain mau jawab.... silahkan)
karena ini thread berbobot
terlalu sayang jika dirusak dengan hal2 tidak bermanfaat..

Maka sy hanya akan menjawab
--> cantik itu relatif,kecuali maria ozawa ;D

:backtotopic:
buddha; "berjuanglah dengan tekun dan perhatian murni"