//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan  (Read 431244 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #105 on: 26 June 2009, 12:55:45 PM »
dear Kai,

kalau saya boleh masuk, Kamma bukanlah TEORI mengenai vipaka yang akan menimpa melainkan sebenarnya setelah dilakukan, sudah berdampak langsung ke batin (silahkan baca tulisan bro william di perpus DC mengenai KAMMA CASH BASIS) dimana ini sesungguhnya selaras dengan apa anda sebut bermanfaat atau tidak

Sedikit penjelasan
Saat 1 perbuatan dilakukan, saat itu juga sebenarnya ada proses yg sama di dalam batinnya.
Jika melakukan perbuatan akusala maka secara batin, akan masuk trend baru yg akusala juga
demikian juga jika melakukan perbuatan kusala, di batin masuk trend yg kusala

Jadi secara buddhism (dan secara logika juga), sudah jelas bahwa itu bukanlah spekulasi

End of Selingan dikit

Ya, betul. Secara awam-sederhana, orang lebih kenal teori kamma tentang perbuatan tertentu menghasilkan akibat tertentu, namun sebetulnya hasil nyata kamma itu sudah "dinikmati" saat suatu kehendak muncul. Baru berikutnya, akibat-akibat lain bermunculan jika kondisi mendukung.

Tetapi kembali lagi, kita bisa bicara demikian karena menggunakan teori kamma sebagai kerangka konsepnya. Belum tentu bagi orang lain.
Misalnya bagi orang skeptis, bisa menggolongkannya sebagai sebuah efek psikologis karena kita menganut suatu kepercayaan tertentu. Kalau dari penelitian, diambil sample populasi 1 yang menganut paham "mencuri tidak baik' dan populasi 2 yang menganut paham "mencuri tidak apa2", maka di populasi 1 cenderung muncul efek2 sampingan semacam guilty feeling atau penyesalan, namun dalam populasi 2, cenderung tidak muncul. Dengan orang kepercayaan lain, bisa dikatakan hal tersebut adalah suatu "bisikan nurani" dari Tuhan.

Jika kita berbicara pada orang awam yang belum mengenal teori Buddhism, maka kita golongkan sesuatu itu "kusala" sementara yang lain "akusala" juga belum tentu nyambung, boro-boro bisa sepakat sampai trend bathin kusala/akusala yang timbul. Begitu maksud saya mengatakannya sebagai kebenaran relatif. Bukan berarti itu salah atau tidak sesuai logika.


Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #106 on: 26 June 2009, 01:39:55 PM »
Dear Kai,

Saat org masih senang dgn akusala, batinnya biasanya jadi miccha ditthi. Miccha ditthi adalah lobha/ignorance/ketidak tahuan yg dilekati

Betul kebenaran itu adalah relatif (pannati dhamma) namun kebenaran relatif pada org yg batinnya miccha ditthi, hasilnya juga akan "menyakitkan" bagi dia, secara batin loh
Mungkin dia merasa perbuatan mencurinya benar, tetapi mgkn dia akan sakit hati sewkt anaknya diejek sebagai anak pencuri
Atau misal istrinya yg ga bs berbelanja di warung sebelah krn dibilang uang hasil curian

Perbuatan mungkin bisa dianggap benar tapi batinnya tetap akan terasa "sakit"

Saya rasa hendaknya mengingat kita berbicara di forum buddhis, marilah kita semua melihatnya dari sudut pandang buddhism juga karena sesuatu yg "relatif" itu, akan relatif juga untuk didiskusikan alias muter2

metta

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #107 on: 26 June 2009, 03:58:36 PM »
Dear Kai,

Saat org masih senang dgn akusala, batinnya biasanya jadi miccha ditthi. Miccha ditthi adalah lobha/ignorance/ketidak tahuan yg dilekati

Betul kebenaran itu adalah relatif (pannati dhamma) namun kebenaran relatif pada org yg batinnya miccha ditthi, hasilnya juga akan "menyakitkan" bagi dia, secara batin loh
Mungkin dia merasa perbuatan mencurinya benar, tetapi mgkn dia akan sakit hati sewkt anaknya diejek sebagai anak pencuri
Atau misal istrinya yg ga bs berbelanja di warung sebelah krn dibilang uang hasil curian

Perbuatan mungkin bisa dianggap benar tapi batinnya tetap akan terasa "sakit"

Saya rasa hendaknya mengingat kita berbicara di forum buddhis, marilah kita semua melihatnya dari sudut pandang buddhism juga karena sesuatu yg "relatif" itu, akan relatif juga untuk didiskusikan alias muter2

metta

Ya, saya tidak bilang mencuri itu benar. Hanya saya bilang itu kebenaran relatif.
Rasanya masih sesuai dengan Buddhisme.

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #108 on: 26 June 2009, 05:29:34 PM »
spt suatu negara, yg pemerintah/pejabat/eksekutif dst
yg korupsi dlm hal uang, perencanaan, design, bahan, dst, dst..

contoh spt membangun jalan tanpa membuat saluran pembuangan
air yg bener. ... nah jalannya akan cepat sekali rusak...

Bukankah kita (sebagai rakyat) udah dicuri SETIAP HARI ?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline Mr.Jhonz

  • Sebelumnya: Chikennn
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.164
  • Reputasi: 148
  • Gender: Male
  • simple life
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #109 on: 26 June 2009, 09:11:23 PM »
Om kainy
sy mau tanya lg,
sebagian pria sangat menyukai(melekat) pada objek mengiurkan(wanita cantik)
bagaimana caranya agar tidak melekat pada objek mengiurkan tersebt..
*penjelasan ala om kainy ya?
« Last Edit: 26 June 2009, 09:14:42 PM by Mr.Jhonz »
buddha; "berjuanglah dengan tekun dan perhatian murni"

Offline Hendra Susanto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #110 on: 26 June 2009, 09:21:10 PM »
Om kainy
sy mau tanya lg,
sebagian pria sangat menyukai(melekat) pada objek mengiurkan(wanita cantik)
bagaimana caranya agar tidak melekat pada objek mengiurkan tersebt..
*penjelasan ala om kainy ya?

penjelasan cara gw: jangan diliat... ;D

Offline Mr.Jhonz

  • Sebelumnya: Chikennn
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.164
  • Reputasi: 148
  • Gender: Male
  • simple life
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #111 on: 26 June 2009, 09:34:26 PM »
^
^ ga usah punya mata aja om,biar ga keliatan ;D
kadang lingkungan juga ikut berperan,
contoh,kita lg ngerjain sesuatu dgn serius,tiba2 teman disebelah tepok2 punggung kita,dan ngmg "ada setan lewat..."
buddha; "berjuanglah dengan tekun dan perhatian murni"

Offline Hendra Susanto

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.198
  • Reputasi: 205
  • Gender: Male
  • haa...
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #112 on: 26 June 2009, 09:36:08 PM »
^
^ ga usah punya mata aja om,biar ga keliatan ;D
kadang lingkungan juga ikut berperan,
contoh,kita lg ngerjain sesuatu dgn serius,tiba2 teman disebelah tepok2 punggung kita,dan ngmg "ada setan lewat..."

klo gt jangan didengar ;D

Offline Mr.Jhonz

  • Sebelumnya: Chikennn
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.164
  • Reputasi: 148
  • Gender: Male
  • simple life
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #113 on: 26 June 2009, 09:55:14 PM »
^
^ kadang juga pakai bahasa tubuh(dicolek,disikut,ditendang) ;D
buddha; "berjuanglah dengan tekun dan perhatian murni"

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #114 on: 27 June 2009, 12:08:02 AM »
Om kainy,  sy mau tanya lg,
sebagian pria sangat menyukai(melekat) pada objek mengiurkan(wanita cantik)
bagaimana caranya agar tidak melekat pada objek mengiurkan tersebt..
*penjelasan ala om kainy ya?

Hallo Johnz, pertama mohon maaf kalau lancang menjawab.

jawaban menurut saya: ShowHide

1. Pertama-tama bila anda menganggap wanita cantik, seksi, mulus, dst
    itu mengiurkan adalah BUKANLAH KEBENARAN MUTLAK.
2. Object itu Netral (menurut sis Lily) adalah KEBENARAN.
3. Menganggap object luar yg dpt mengganggu pikiran adalah TIDAK TEPAT.
4. Orang yg terlatih pikirannya berupa daun teratai yg tak dpt dikotorin
    oleh lumpur2 dlm kolam ADALAH BENAR.

Maksudnya apa?

kasih bocoran ya...
Kenapa kita2 pada takut sama ular kobra yg kalau kegigit bisa mati,
tetapi penjual ular kobra di India melihat ulat tsb sebagai peluang yg
mendatangkan UANG...... cobra=UANG, sedangkan kita coba=MEMATIKAN.

ularnya sama kenapa tanggapannya lain?

A-Mild : tanya KENAPA, KENAPA, KENAPA?
 ;D ;D ;D ;D ;D ;D ;D ;D ;D


 _/\_

« Last Edit: 27 June 2009, 12:10:27 AM by johan3000 »
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #115 on: 27 June 2009, 10:05:18 AM »
Om kainy
sy mau tanya lg,
sebagian pria sangat menyukai(melekat) pada objek mengiurkan(wanita cantik)
bagaimana caranya agar tidak melekat pada objek mengiurkan tersebt..
*penjelasan ala om kainy ya?

Kalau menjelaskan pikiran itu, rada susah, karena pikiran itu tidak tetap, jadi cara menyikapinya yang cocok, juga berbeda.
Buat saya, intinya, kalau perasaan melekat itu sangat kuat, hindari kontak apapun juga (baik melihat, mendengar, sentuhan, dsb, terutama kontak dengan pikiran). Jangan memfasilitasi terjadinya kontak-kontak tersebut. Dengan tidak dipupuknya pikiran2 serakah, maka perlahan pun kemelekatan itu berkurang. Kontak dengan pikiran adalah yang terpenting, karena kalau kita menghindari melihat, mendengar, sentuhan, aroma yang menyenangkan dari wanita, tetapi tidak menghindari pikiran menyenangkan itu, maka jadilah kita orang ekstrim yang munafik. Oleh sebab itu, pikiran selalu yang terutama.

Jika sudah lumayan terbiasa, maka sikap ekstrim itu kita tinggalkan, lalu kita ubah pola pikir kita. Tidak usah yang hebat-hebat dulu macam "tubuh adalah kotor" atau "pemadaman nafsu" dan lain-lain. Dimulai dari mengganti pola pikir dengan moralitas seperti komitmen pada satu istri, bersikap selalu sopan dan menghargai wanita tidak sebagai objek seksual, atau mengutamakan kesehatan dengan mengecilkan risiko penularan penyakit kelamin dari gonta-ganti pasangan, dan lain sebagainya. Dengan pola pikir demikian yang berkembang, maka kontak dengan wanita, tidak pada kecenderungan menimbulkan nafsu.

Pola pikir yang bermanfaat ini biasa didapatkan dari belajar (mulai dari spiritualisme, sains, sosial-budaya, dan lain-lain), juga lingkungan dan pergaulan yang baik.
« Last Edit: 27 June 2009, 10:08:53 AM by Kainyn_Kutho »

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #116 on: 27 June 2009, 02:20:41 PM »
Apakah solusi dgn kata


menghindarin


dpt diganti dgn kata

melampauin ?

 ;D
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #117 on: 27 June 2009, 02:29:46 PM »
Apakah solusi dgn kata


menghindarin


dpt diganti dgn kata

melampauin ?

 ;D
Tergantung diri masing-masing, tetapi memang bisa.

Offline Nevada

  • Sebelumnya: Upasaka
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.445
  • Reputasi: 234
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #118 on: 27 June 2009, 03:34:52 PM »
Saya ingin melanjutkan diskusi tentang Saddhā : Fanatisme Dalam Eufemisme? di sini dengan Bro Kainyn_Kutho... :)


Quote from: Kainyn_Kutho
Ya, memang jelas Sariputta di sini memiliki kekaguman dan keyakinan terhadap Assaji. Nah, yang jadi pertanyaan adalah:
Bila seseorang memiliki kebijaksanaan yang cukup, mendengarkan dhamma dari orang yang tidak ia kagumi atau anggap sebagai guru ataupun superior, akankah dhamma itu memberi manfaat baginya?

Seseorang yang memiliki kebijaksanaan yang cukup, bila mendengarkan Dhamma dari orang yang tidak ia kagumi atau anggap sebagai guru ataupun superior, sebenarnya bisa memetik manfaat dari Dhamma itu bagi dirinya.


Quote from: Kainyn_Kutho
Jangan disalah-artikan pernyataan saya sebagai "para ariya belum tentu punya Saddha". Siapa pun yang sudah merealisasikan dhamma, sudah pasti memiliki Saddha minimal kepada dhamma. Dengan begitu, secara tidak langsung, ia akan memiliki Saddha kepada "pembabar dhamma" (Buddha) dan "rekan lain yang juga merealisasi" (Sangha), JIKA ia cukup beruntung menemukannya.
Saya ibaratkan bahwa saya seorang dari masyarakat yang terisolasi, sedang mencari jawaban atas pergerakan benda. Lalu entah bagaimana ada kertas yang terbang nyasar entah dari mana, yang isinya hukum Newton, "mendarat" dekat saya. Kemudian, saya mengikuti teori di kertas itu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan berhasil. Dengan begitu, saya punya keyakinan bahwa "kertas" itu mengandung kebenaran. Dengan sendirinya, secara tidak langsung keyakinan bahwa "ada guru yang mengajarkan hal itu" atau "ada orang lain yang juga mengerti", timbul di pikiran.

Pertanyaan saya sederhana. Apakah kalau saya tidak tahu siapa itu Newton, tidak percaya ia adalah fisikawan besar, maka saya tidak bisa mengerti teorinya?

Baik sekali. Kali ini akan saya perjelas...

Saddha diartikan sebagai kepercayaan. Dalam Buddhisme, saddha (kepercayaan) ini adalah percaya setelah mempraktikkan; atau percaya setelah melihat dan mengalaminya sendiri. Karena itu, kontekstual saddha dengan sendirinya akan beridiri dalam pilar-pilarnya masing-masing; antara Sammasambuddha, Pacceka Buddha dan Savaka Buddha.

Dalam kontekstual Sammasambuddha dan Pacceka Buddha, saddha yang berkembang adalah saddha (kepercayaan) pada Dhamma. Karena 2 tipe Buddha ini adalah tipe otodidak; yakni menembus Dhamma (Kebenaran) dengan usaha sendiri.

Sedangkan dalam kontekstual Savaka Buddha, saddha yang berkembang adalah saddha (kepercayaan) pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Karena tipe Buddha ini adalah tipe pelajar; yakni menembus Dhamma (Kebenaran) dengan mendapat instruksi maupun mempelajari ajaran dari "sang penemu" (Sammasambuddha).

Kembali ke pertanyaan Anda, maka jawabannya adalah...

Jika Anda tidak mengenal siapa itu Isaac Newton, tidak pula percaya bahwa ia adalah Fisikawan besar, sebenarnya Anda bisa memahami teorinya.


Quote from: Kainyn_Kutho
Memang betul tidak ada harga mati. Maka dalam debat delapan bulan lalu itu, saya katakan bahwa ada orang terbebaskan oleh Saddha  (seperti Thera Vakkali, Kali Kururagharika, Theri Sigalamata, dll), dan ada yang terbebaskan dengan kebijaksanaan (seperti Thera Sariputta, Theri Kisa Gotami, dll).

Lebih jauh lagi saya katakan bahwa seorang Sotapanna dengan sendirinya memiliki Saddha tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, namun keyakinan tidak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, BUKAN suatu syarat yang menjadikan seorang Sotapanna. Keyakinan tak tergoyahkan dari putthujjana demikian, hanyalah wujud fanatisme, baik kasar maupun halus.

Kalau dalam analogi di atas, keyakinan tak tergoyahkan bahwa kertas itu dikirim oleh guru atau bahkan dewa, tidak menjadikan saya mengerti hukum Newton yang tertera. Namun setelah mengerti arti kertas itu, maka bagaimanakah mungkin orang bisa menggoyahkan keyakinan saya bahwa yang tertulis memang benar?

Saya sependapat dengan Anda. Saddha pada hakikatnya adalah kepercayaan setelah mengalami kebenaran dari praktik Dhamma. Oleh karena itu, jika putthujjana percaya akan adanya 31 Alam Kehidupan namun belum melihatnya sendiri, itu namanya bukan saddha. Lebih tepatnya itu adalah wujud dari kepercayaan awam.

Benar. Setelah Anda mengerti arti dari secarik kertas itu, seharusnya keyakinan Anda pada ajaran Isaac Newton tidak lagi bisa digoyahkan. Namun... meski Anda tidak mengenal siapa itu Isaac Newton dan tidak pula mengenal fisikawan lainnya yang sudah mengerti ajarannya, Anda bukanlah tipe otodidak. Anda hanyalah seorang fisikawan tipe pelajar. Dan karena Anda adalah seorang tipe pelajar, secara tidak langsung Anda turut mengembangkan keyakinan pada Isaac Newton (guru) dan fisikawan lain (rekan lain yang sudah mengerti).

Ini yang perlu diingat. Ketika kita berdiri di atas pilar sebagai pelajar / murid, maka dalam proses pembelajaran sampai penembusan Dhamma, saddha pada Buddha, Dhamma dan Sangha akan berkembang dengan sendirinya.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Merespon Pertanyaan Rekan-rekan
« Reply #119 on: 27 June 2009, 06:46:18 PM »
Saya ingin melanjutkan diskusi tentang Saddhā : Fanatisme Dalam Eufemisme? di sini dengan Bro Kainyn_Kutho... :)
Silahkan lanjut :) Udah lama ga kelihatan...


Quote
Quote from: Kainyn_Kutho
Ya, memang jelas Sariputta di sini memiliki kekaguman dan keyakinan terhadap Assaji. Nah, yang jadi pertanyaan adalah:
Bila seseorang memiliki kebijaksanaan yang cukup, mendengarkan dhamma dari orang yang tidak ia kagumi atau anggap sebagai guru ataupun superior, akankah dhamma itu memberi manfaat baginya?

Seseorang yang memiliki kebijaksanaan yang cukup, bila mendengarkan Dhamma dari orang yang tidak ia kagumi atau anggap sebagai guru ataupun superior, sebenarnya bisa memetik manfaat dari Dhamma itu bagi dirinya.

Ya, ini seperti dalam kisah Pukkusati yang tidak mengetahui lawan bicaranya adalah Buddha Gotama, tetapi mendengarkan uraian tentang unsur dan mencapai Anagami-phala.
Beberapa brahmana juga kadang datang ke Buddha untuk "cari ribut" menganggap Buddha sebagai musuh. Tetapi karena memang kebijaksanaan mereka cukup, maka mendengar jawaban dari Buddha, baru mereka mengerti dan berbalik menghormati Buddha.


Quote
Quote from: Kainyn_Kutho
Jangan disalah-artikan pernyataan saya sebagai "para ariya belum tentu punya Saddha". Siapa pun yang sudah merealisasikan dhamma, sudah pasti memiliki Saddha minimal kepada dhamma. Dengan begitu, secara tidak langsung, ia akan memiliki Saddha kepada "pembabar dhamma" (Buddha) dan "rekan lain yang juga merealisasi" (Sangha), JIKA ia cukup beruntung menemukannya.
Saya ibaratkan bahwa saya seorang dari masyarakat yang terisolasi, sedang mencari jawaban atas pergerakan benda. Lalu entah bagaimana ada kertas yang terbang nyasar entah dari mana, yang isinya hukum Newton, "mendarat" dekat saya. Kemudian, saya mengikuti teori di kertas itu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan berhasil. Dengan begitu, saya punya keyakinan bahwa "kertas" itu mengandung kebenaran. Dengan sendirinya, secara tidak langsung keyakinan bahwa "ada guru yang mengajarkan hal itu" atau "ada orang lain yang juga mengerti", timbul di pikiran.

Pertanyaan saya sederhana. Apakah kalau saya tidak tahu siapa itu Newton, tidak percaya ia adalah fisikawan besar, maka saya tidak bisa mengerti teorinya?

Baik sekali. Kali ini akan saya perjelas...

Saddha diartikan sebagai kepercayaan. Dalam Buddhisme, saddha (kepercayaan) ini adalah percaya setelah mempraktikkan; atau percaya setelah melihat dan mengalaminya sendiri. Karena itu, kontekstual saddha dengan sendirinya akan beridiri dalam pilar-pilarnya masing-masing; antara Sammasambuddha, Pacceka Buddha dan Savaka Buddha.

Dalam kontekstual Sammasambuddha dan Pacceka Buddha, saddha yang berkembang adalah saddha (kepercayaan) pada Dhamma. Karena 2 tipe Buddha ini adalah tipe otodidak; yakni menembus Dhamma (Kebenaran) dengan usaha sendiri.

Sedangkan dalam kontekstual Savaka Buddha, saddha yang berkembang adalah saddha (kepercayaan) pada Buddha, Dhamma dan Sangha. Karena tipe Buddha ini adalah tipe pelajar; yakni menembus Dhamma (Kebenaran) dengan mendapat instruksi maupun mempelajari ajaran dari "sang penemu" (Sammasambuddha).

Kembali ke pertanyaan Anda, maka jawabannya adalah...

Jika Anda tidak mengenal siapa itu Isaac Newton, tidak pula percaya bahwa ia adalah Fisikawan besar, sebenarnya Anda bisa memahami teorinya.
Ya, kira-kira begitu. Jika seseorang telah melihat kebenaran tetapi tidak bertemu dengan guru sejati yang mengajarkan kebenaran, maka tentu tidak ada semacam keyakinan terhadap guru. Namun jika seseorang telah melihat kebenaran dan bertemu guru dan ajaran yang mengajarkan kebenaran juga, sudah pasti ia memiliki keyakinan pada guru tersebut.



Quote
Quote from: Kainyn_Kutho
Memang betul tidak ada harga mati. Maka dalam debat delapan bulan lalu itu, saya katakan bahwa ada orang terbebaskan oleh Saddha  (seperti Thera Vakkali, Kali Kururagharika, Theri Sigalamata, dll), dan ada yang terbebaskan dengan kebijaksanaan (seperti Thera Sariputta, Theri Kisa Gotami, dll).

Lebih jauh lagi saya katakan bahwa seorang Sotapanna dengan sendirinya memiliki Saddha tak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, namun keyakinan tidak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, BUKAN suatu syarat yang menjadikan seorang Sotapanna. Keyakinan tak tergoyahkan dari putthujjana demikian, hanyalah wujud fanatisme, baik kasar maupun halus.

Kalau dalam analogi di atas, keyakinan tak tergoyahkan bahwa kertas itu dikirim oleh guru atau bahkan dewa, tidak menjadikan saya mengerti hukum Newton yang tertera. Namun setelah mengerti arti kertas itu, maka bagaimanakah mungkin orang bisa menggoyahkan keyakinan saya bahwa yang tertulis memang benar?

Saya sependapat dengan Anda. Saddha pada hakikatnya adalah kepercayaan setelah mengalami kebenaran dari praktik Dhamma. Oleh karena itu, jika putthujjana percaya akan adanya 31 Alam Kehidupan namun belum melihatnya sendiri, itu namanya bukan saddha. Lebih tepatnya itu adalah wujud dari kepercayaan awam.
Ya, itu lebih pada kecocokan, karena belum dibuktikan sendiri. Ketika kita menggenggam erat apa yang belum kita buktikan, maka hasilnya adalah fanatisme. Belum lagi jika memang ada perubahan, nanti jumlah alam ada lebih dari 31, kita malah terpaku "HARUS" 31. (Sebelum Sakka membuang Asura ke kaki Gunung Sineru, kita ga kenal alam Asura.) Mungkin ada juga yang tetap bersikeras kalau sudah ada dalam kitab suci, sudah kudu pasti adalah kebenaran. Kembali lagi itu kecocokan.



Quote
Benar. Setelah Anda mengerti arti dari secarik kertas itu, seharusnya keyakinan Anda pada ajaran Isaac Newton tidak lagi bisa digoyahkan. Namun... meski Anda tidak mengenal siapa itu Isaac Newton dan tidak pula mengenal fisikawan lainnya yang sudah mengerti ajarannya, Anda bukanlah tipe otodidak. Anda hanyalah seorang fisikawan tipe pelajar. Dan karena Anda adalah seorang tipe pelajar, secara tidak langsung Anda turut mengembangkan keyakinan pada Isaac Newton (guru) dan fisikawan lain (rekan lain yang sudah mengerti).

Ini yang perlu diingat. Ketika kita berdiri di atas pilar sebagai pelajar / murid, maka dalam proses pembelajaran sampai penembusan Dhamma, saddha pada Buddha, Dhamma dan Sangha akan berkembang dengan sendirinya.
Kalau dipaksakan fisika itu ke dhamma, memang benar, itu masih cenderung pada kapasitas Savaka.
Dan lagi-lagi saya setuju. Kita tidak perlu semacam usaha khusus untuk mengembangkan "saddha" yang tanpa dasar, atau hanya karena dengar-dengar Buddha-Dhamma-Sangha hebat. Nanti malah hanya akan jadi orang fanatik buta. Dengan menjalankan hidup sesuai dhamma, membuktikan sendiri kebenarannya, otomatis suatu keyakinan yang kuat pada Buddha-Dhamma-Sangha pasti akan tumbuh.