//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)  (Read 237 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #15 on: 04 May 2021, 03:13:20 PM »
131. Kotbah tentang Menaklukkan Māra<428>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Bhagga, di Gunung Buaya (Suṃsumāragiri) di Hutan Menakutkan, Taman Rusa.

Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna, yang sedang mengawasi pembangunan sebuah gubuk meditasi untuk Sang Buddha,<429> sedang berjalan bolak-balik di tempat terbuka. Kemudian Raja Māra, mengubah dirinya menjadi bentuk kecil, memasuki perut Yang Mulia Mahāmoggallāna. Yang Mulia Mahāmoggallāna berpikir, “Saat ini perutku terasa seakan-akan aku baru saja makan kacang. Biarlah aku memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai, sedemikian sehingga melalui konsentrasi tersebut aku dapat mengamati perutku sendiri.”

Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna berjalan sampai ujung jalan setapak itu, membentangkan alas duduknya, duduk bersila di atasnya, dan memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai. Mengamati perutnya sendiri melalui konsentrasi yang sesuai itu, Yang Mulia Mahāmoggallāna mengetahui bahwa Raja Māra sedang berada di dalam perutnya.
Yang Mulia Mahāmoggallāna bangkit dari konsentrasi meditatifnya dan berkata kepada Raja Māra:

Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah [menyebabkan dirimu] kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!

Kemudian Raja Māra berpikir, “Pertapa ini tidak melihat dan mengetahui diriku ketika ia berkata: ‘Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah [menyebabkan dirimu] kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!’ Gurumu yang mulia memiliki kekuatan batin besar, kebaikan besar dan agung, jasa besar, kekuatan besar dan agung, tetapi bahkan ia tidak dapat melihat dan mengetahui diriku dengan cepat. Lalu bagaimanakah siswanya dapat melihat dan mengetahui diriku?”

Yang Mulia Mahāmoggallāna lebih lanjut berkata kepada Raja Māra:

Aku juga mengetahui pikiranmu. Engkau berpikir demikian: “Pertapa ini tidak melihat dan mengetahui diriku ketika ia berkata: ‘Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah [menyebabkan dirimu] kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!’ Gurumu yang mulia memiliki kekuatan batin besar, kebaikan besar dan agung, jasa besar, kekuatan besar dan agung, tetapi bahkan ia tidak dapat melihat dan mengetahui diriku dengan cepat. Lalu bagaimanakah siswanya dapat melihat dan mengetahui diriku?”

Kemudian Māra Si Jahat berpikir lagi, “Adalah karena pertapa ini telah melihat dan mengetahui diriku sehingga ia berkata demikian.” Setelah itu Māra, Si Jahat, mengubah dirinya menjadi bentuk kecil, keluar dari mulut Yang Mulia Mahāmoggallāna dan berdiri di hadapannya.

Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata:

Si Jahat, pada masa lampau terdapat seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bernama Kakusandha. Pada waktu itu aku adalah seorang māra bernama Perusak (Dūsī), dan aku memiliki saudara perempuan bernama Hitam (Kālī). Engkau adalah putranya, Si Jahat. Oleh sebab itu, engkau adalah keponakanku.

Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, memiliki dua orang siswa utama, seorang bernama Suara dan yang lain bernama Persepsi. Si Jahat, karena alasan apakah Yang Mulia Suara dinamakan “Suara”? Si Jahat, Yang Mulia Suara, ketika berdiam di alam Brahmā, sering menyebabkan suaranya menembus seribu dunia. Tidak ada siswa lain yang memiliki suara sama dengan suaranya, mirip dengan suaranya, atau melampaui suaranya. Si Jahat, adalah karena hal ini sehingga Yang Mulia Suara dinamakan “Suara”.<430>

Selanjutnya, Si Jahat, karena alasan apakah Yang Mulia Persepsi dinamakan “Persepsi”? Si Jahat, Yang Mulia Persepsi biasa tinggal bergantung pada sebuah desa atau kota kecil. Ketika malam telah berakhir, saat fajar ia akan mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan pergi ke dalam desa untuk mengumpulkan dana makanan, terjaga dengan baik sehubungan dengan [pergerakan] jasmaninya, terkendali dengan baik sehubungan dengan indria-indrianya, dan berkembang dalam perhatian benar. Setelah mengumpulkan dana makanan dan setelah makan siang, ia akan meletakkan jubah dan mangkuknya dan mencuci tangan dan kakinya. Kemudian ia akan meletakkan alas duduknya di atas bahunya dan pergi ke hutan, gunung, di bawah sebatang pohon, atau suatu tempat terpencil [lainnya]. Ia akan membentangkan alas duduknya, duduk bersila di atasnya, dan dengan cepat memasuki konsentrasi meditatif dari lenyapnya persepsi dan perasaan.

Kemudian [kebetulan] beberapa penggembala sapi, penggembala domba, penebang kayu, dan orang-orang yang lewat memasuki hutan itu. Melihatnya dalam konsentrasi meditatif dari lenyapnya persepsi dan perasaan, mereka berpikir, “Sekarang, pertapa ini telah meninggal selagi duduk di dalam hutan. Marilah kita mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, dan mengkremasinya.” Maka mereka mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, menyalakan api padanya, dan pergi.

Ketika malam telah berakhir, saat fajar, Yang Mulia Persepsi bangkit dari konsentrasi meditatifnya, mengibaskan jubahnya [untuk menyingkirkan abu-abunya], dan pergi ke desa atau kota kecil di mana ia bergantung padanya. Mengenakan jubahnya dan membawa mangkuknya seperti biasanya, ia memasuki desa itu untuk mengumpulkan dana makanan, terjaga dengan baik sehubungan dengan [pergerakan] jasmaninya, terkendali dengan baik sehubungan dengan indria-indrianya, dan berkembang dalam perhatian benar.

Para penggembala sapi, penggembala domba, atau orang-orang yang lewat yang sebelumnya memasuki hutan itu dan melihatnya, yang telah berpikir, “Sekarang, pertapa ini telah meninggal selagi duduk di dalam hutan,” [sekarang berpikir,] “Kemarin kami mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, menyalakan api padanya, dan kemudian pergi. Namun yang mulia ini telah memulihkan persepsinya.” Si Jahat, adalah karena alasan ini sehingga Yang Mulia Persepsi dinamakan “Persepsi”.<431>

Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak berpikir, “Para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak;<432> ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, dan terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor keledai yang telah membawa beban berat sepanjang hari dan, ketika diikat di kandang tetapi belum makan gandum mereka, melamunkan tentang gandum itu, semakin banyak melamun, dan terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor kucing yang menanti di samping lubang tikus, menginginkan untuk menangkap tikus; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor burung hantu atau rubah yang menanti pada celah tumpukan kayu bakar kering karena ia ingin menangkap tikus; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor burung bangau yang menanti di tepi sungai karena ia ingin menangkap ikan; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Apakah yang mereka lamunkan? Untuk manfaat apakah mereka melamun? Apakah yang mereka cari melalui lamunan? Mereka kebingungan, gila, dan hancur. Aku tidak mengetahui dari manakah mereka berasal, ke manakah mereka akan pergi, atau di manakah mereka berdiam. Aku tidak mengetahui tentang kematian mereka atau kelahiran kembali mereka. Biarlah aku menghasut para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua! Hinalah para pertapa tekun itu! Pukuli mereka dan celalah mereka!’ Mengapakah demikian? Mungkin ketika [para pertapa itu] dihina, dipukuli, dan dicela ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.”

Si Jahat, ketika māra [bernama] Perusak menghasut para brahmana perumah tangga [dengan cara ini], para brahmana perumah tangga menghina, memukuli, dan mencela para pertapa tekun itu. Beberapa brahmana perumah tangga memukuli mereka dengan potongan kayu, beberapa melempar batu kepada mereka, beberapa memukul mereka dengan tongkat, beberapa melukai kepala para pertapa tekun itu, beberapa mengoyakkan jubah mereka, dan beberapa menghancurkan mangkuk dana mereka.<433>

Kemudian, karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, ketika para brahmana perumah tangga tersebut meninggal, ketika hancurnya jasmani saat kematian, mereka pasti pergi menuju alam yang buruk, terlahir kembali di neraka. Setelah terlahir kembali di sana, mereka berpikir, “Kita pantas mengalami penderitaan ini, dan kita akan mengalami penderitaan yang lebih ekstrem daripada ini. Mengapakah demikian? Karena kami melakukan perbuatan jahat terhadap para pertapa tekun.”

Si Jahat, para siswa Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah kepala mereka dilukai, jubah mereka dikoyak-koyak, dan mangkuk dana mereka dihancurkan, mendekati Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna.

Pada waktu itu Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dikelilingi oleh tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut di mana beliau sedang mengajarkan Dharma kepada mereka.<434> Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat dari jauh bahwa para siswanya dengan kepala mereka dilukai, jubah mereka dikoyak-koyak, dan mangkuk mereka dihancurkan, sedang mendekat. Melihat hal ini, beliau berkata kepada para bhikkhu, “Apakah kalian melihat itu? Māra [bernama] Perusak telah menghasut para brahmana perumah tangga: ‘Ayo, kalian semua! Hinalah para pertapa tekun itu! Pukuli mereka dan celalah mereka!’ Mengapakah demikian? [Karena ia berpikir,] ‘Mungkin ketika [para pertapa itu] dihina, dipukuli, dan dicela ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.’

“Para bhikkhu, kalian seharusnya berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, secara batin meliputi satu arah, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat – seluruh empat arah dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Berdiamlah dengan pikiran yang dipenuh dengan cinta kasih – tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Berdiamlah seperti ini, setelah meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih ... dengan kegembiraan empatik ... dengan keseimbangan, tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Biarlah māra [bernama] Perusak yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.”

Si Jahat, [ketika] Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan para siswanya ajaran ini dan mereka telah menerima ajaran ini, mereka berdiam secara batin meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat – seluruh empat arah dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Mereka berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih – tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Mereka berdiam seperti ini setelah meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih ... dengan kegembiraan empatik ... dengan keseimbangan, tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Karena alasan ini, māra [bernama] Perusak yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.

Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak berpikir, “Aku tidak dapat memperoleh kesempatan dengan para pertapa tekun dengan cara ini. Biarlah aku sekarang alih-alih mendorong para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua. Hormatilah, pujalah, dan layanilah para pertapa tekun itu!’ Mungkin, ketika para pertapa tekun itu dihormati, dipuja, dan dilayani itu dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.”

Si Jahat, setelah didorong [demikian] oleh māra [bernama] Perusak, semua brahmana perumah tangga menghormati, memuja, dan melayani para pertapa tekun itu.<435> [Mereka] membentangkan pakaian mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa tekun, mohon berjalanlah di atas ini. Para pertapa tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan [dengan menginjak pakaian ini]!”

Para brahmana perumah tanga membentangkan rambut mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa tekun, mohon berjalanlah di atas ini. Para pertapa tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan [dengan menginjak rambut ini]!”

Para brahmana perumah tangga, dengan memegang berbagai jenis makanan dan minuman pada tangan mereka, berdiri menanti di pinggir jalan, dengan berkata, “Para pertapa tekun, terimalah ini, makanlah ini, ambillah ini dengan tangan kalian dan gunakanlah ini seperti kalian inginkan. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan!”

Para brahmana perumah tangga yang berkeyakinan, melihat para pertapa tekun itu, dengan hormat membawa mereka pada lengan, menuntun mereka ke dalam [rumah mereka] dan, memegang berbagai benda berharga, berkata kepada para pertapa tekun itu, “Terimalah ini! Bawalah ini bersama kalian dan gunakanlah ini seperti kalian inginkan!”

Kemudian karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, ketika para brahmana perumah tangga tersebut meninggal ketika hancurnya jasmani saat kematian, mereka pasti pergi menuju alam kehidupan yang baik, terlahir kembali di alam surga. Setelah terlahir kembali di sana, mereka berpikir, “Kami layak mengalami kebahagiaan ini, dan kami akan mengalami kebahagiaan yang bahkan lebih ekstrem. Mengapakah demikian? Karena kami melakukan perbuatan baik terhadap para pertapa tekun.”

Si Jahat, para siswa Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah dihormati, dipuja, dan dilayani, mendekati Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Pada waktu itu, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dikelilingi oleh tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut di mana beliau sedang mengajarkan Dharma kepada mereka.

Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat dari jauh bahwa para siswanya, yang telah dihormati, dipuja, dan dilayani, sedang mendekat. Melihat hal ini, beliau berkata kepada para bhikkhu, “Apakah kalian melihat itu? Māra [bernama] Perusak mendorong para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua. Hormatilah, pujalah, dan layanilah para pertapa tekun itu!’ [Ia berpikir,] ‘Mungkin, ketika para pertapa tekun itu dihormati, dipuja, dan dilayani, ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka, maka aku akan mendapatkan kesempatan.’

“Para bhikkhu, kalian seharusnya merenungkan semua bentukan sebagai tidak kekal, merenungkannya sebagai bersifat muncul dan lenyap, merenungkan kebosanan, merenungkan ditinggalkannya, merenungkan lenyapnya, dan merenungkan pelenyapan.<436> Biarlah māra [bernama] Perusak, yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.”

Si Jahat, ketika Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan para siswanya ajaran ini dan mereka telah menerima ajaran tersebut, mereka merenungkan semua bentukan sebagai tidak kekal, mereka merenungkannya sebagai bersifat muncul dan lenyap, mereka merenungkan kebosanan, mereka merenungkan ditinggalkannya, mereka merenungkan lenyapnya, dan mereka merenungkan pelenyapan, sehingga māra [bernama] Perusak, yang sedang mencari untuk mendapatkan kesempatan, tidak dapat memperoleh kesempatan.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #16 on: 04 May 2021, 03:13:48 PM »
Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak berpikir, “Aku tidak dapat memperoleh kesempatan dengan para pertapa tekun itu dengan cara ini. Biarlah aku alih-alih mengubah diriku menjadi seorang pemuda dan, memegang sebatang tongkat besar di tanganku dan berdiri di pinggir jalan, aku akan memukul Yang Mulia Suara pada kepalanya sehingga [kepalanya] terpotong dan darah mengucur wajahnya.”<437>

Si Jahat, saat fajar Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, yang sedang tinggal bergantung pada sebuah desa atau kota kecil, mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan. Yang Mulia Suara mengikuti di belakang beliau sebagai pelayan beliau.

Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak, setelah mengubah dirinya menjadi seorang pemuda, sedang memegang sebatang tongkat besar di tangannya dan berdiri di pinggir jalan. Ia memukul Yang Mulia Suara pada kepalanya, memotongnya, dan darah mengucur wajahnya. Si Jahat, Yang Mulia Suara, dengan kepalanya terpotong dan darah mengucur wajahnya, mengikuti di belakang Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bagaikan bayangan yang tidak pernah meninggalkannya.

Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah mencapai desa, memutar seluruh tubuhnya ke kanan untuk melihat, dengan cara seekor nāga melihat ke sekeliling, mengamati semua arah tanpa takut atau gentar.

Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat bahwa Yang Mulia Suara, dengan kepalanya terpotong dan darah mengucur wajahnya, sedang mengikuti di belakang Sang Buddha seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkannya. Kemudian beliau berkata, “Māra [bernama] Perusak adalah kejam dan bengis serta memiliki kekuatan besar. Māra [bernama] Perusak ini tidak mengetahui berapa banyak yang cukup.”

Si Jahat, sebelum Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, menyelesaikan perkataannya, pada waktu itu tubuh māra [bernama] Perusak langsung jatuh dari tempat itu ke dalam Neraka Besar Tanpa Penghilangan.

Si Jahat, Neraka Besar ini memiliki empat sebutan. Pertama adalah “Tanpa Penghilangan”, kedua adalah “Ratusan Paku”, ketiga adalah “Ujung Runcing Berduri”, dan keempat adalah “Enam Kontak”.<438> Di Neraka Besar itu terdapat para penjaga yang mendekati māra [bernama] Perusak. Mereka berkata kepada māra [bernama] Perusak, “Sekarang, engkau seharusnya mengetahui bahwa ketika paku dan paku bertemu satu sama lain, seratus tahun penuh telah berlalu.”

Mendengar hal ini, Māra, Si Jahat, mengalami jantung berdebar-debar disebabkan oleh ketakutan dan kengerian, dan semua rambut pada tubuhnya berdiri tegak. Ia berkata kepada Yang Mulia Mahāmoggallāna dengan syair:

Neraka manakah itu
Di mana māra [bernama] Perusak terjatuh pada masa lampau,
Ia yang menyulitkan dan melukai para praktisi kehidupan suci Sang Buddha
Dan mengganggu para bhikkhu?

Yang Mulia Mahāmoggallāna menjawab Māra, Si Jahat, dengan syair:<439>

Tanpa Penghilangan adalah nama neraka itu
Di mana māra [bernama] Perusak sebelumnya [terjatuh],
[Ketika ia] menyulitkan dan melukai para praktisi kehidupan suci Sang Buddha
Dan mengganggu para bhikkhu.

Ia mengandung ratusan paku besi,
Masing-masing darinya dengan ujung runcing berduri.
Tanpa Penghilangan adalah nama neraka itu
Di mana māra [bernama] Perusak berada pada masa lampau.

Mereka yang tidak memahami
[Akibat menyerang] para bhikkhu yang adalah siswa Sang Buddha
Pasti akan menderita seperti ini,
Mengalami akibat perbuatan gelap mereka.

Terdapat berbagai jenis taman hiburan,
Bagi manusia di dunia
Yang makan padi putih yang tumbuh secara alami
[Ketika] berdiam di benua utara (Uttarakuru),

Di puncak Gunung Sumeru agung
Aku mengembangkan [pikiranku] dengan baik dan membakar [semua kekotoran].
Setelah berlatih di sini dan [mencapai] pembebasan,
Aku [sekarang] memikul tubuh terakhirku.

Terletak di dekat mata air besar
Sebuah istana yang akan bertahan selama [sepanjang] kalpa,
Berwarna keemasan yang indah,
Dan bercahaya bagaikan nyala api.

Berbagai jenis musik dimainkan
Ketika [seseorang] mendekati tempat [kediaman] Sakka,
Tempat tinggalnya satu-satunya, di mana pada masa lalu,
Seperti yang dikenal luas, telah dipersembahkan kepadanya.

Dengan Sakka berjalan di depanku
Aku naik ke Istana Vejayanta.
Ketika melihat Sakka, masing-masing bidadari surgawi
Mulai menari dengan sukacita.
Ketika melihat seorang bhikkhu datang,
Mereka mengundurkan diri dengan malu.

Ketika tiba di Istana Vejayanta,
Dan melihat bhikkhu itu, [Sakka] bertanya kepadanya sebuah pertanyaan,
“Apakah pertapa agung mengetahui
Akhir ketagihan dan pencapaian pembebasan?”

Bhikkhu itu menjawab
Sesuai dengan pertanyaan si penanya,
“Kosiya, aku mengetahui
Akhir ketagihan dan pencapaian pembebasan.”

Ketika mendengar jawabannya
Sakka memperoleh sukacita dan kebahagiaan.
[Ia berkata,] “Bhikkhu itu sangat memberikan manfaat [kepadaku];
Apa yang telah ia katakan sesuai dengan pertanyaanku.”

Setelah tiba di Istana Vejayanta,
[Bhikkhu itu] bertanya kepada Sakka, raja para dewa,
“Apakah nama istana ini,
Sakka, dalam kota yang engkau perintah?”

Sakka menjawab, “Pertapa Agung,
Ia disebut Vejayanta,
Yang bermakna ‘seribu dunia
Di antara seribu dunia’.
Tidak ada yang melampaui atau [bahkan] menyerupai
Istana Vejayanta ini.”

[Di sana] Raja Surgawi, Sakka, raja para dewa,
Dapat berdiam dengan nyaman sesukanya.
Ia menikmati tak terhitung kenikmatan,
Dengan mengubah satu [kenikmatan] menjadi seratus.
Dalam Istana Vejayanta
Sakka dapat berdiam dengan nyaman.

Walaupun Istana Vejayanta megah,
Aku dapat mengguncangnya dengan ujung kakiku,
Seperti yang dilihat Raja Surgawi dengan matanya sendiri.
Namun Sakka [masih] dapat berdiam [di dalamnya] dengan nyaman.

Karena, seperti Aula Ibu Migāra,
Fondasinya dibangun sangat dalam dan padat.
Adalah sulit untuk dipindahkan dan diguncang,
[Tetapi] kekuatan batin dapat mengguncangnya.

Ia memiliki lantai berlapis kaca yang berwarna-warni
Di mana para mulia telah melangkahinya.
Licin dan berkilau, menyenangkan untuk disentuh,
Dibentang dengan penutup kapas yang lembut.

Dengan kumpulan yang berbicara menyenangkan dan rukun,
Raja Surgawi selalu berbahagia.
Ia ahli dalam bermain musik
Dengan nada dan melodi yang harmonis.

Ketika seorang pemasuk-arus berbicara
Semua dewa datang dan berkumpul,<440>
Tak terhitung ribuan
Dan ratusan banyak sekali dari mereka.

Setelah pergi ke Surga Tiga-Puluh-Tiga,
Ia yang memiliki mata kebijaksanaan mengajarkan mereka Dharma.
Setelah mendengar ajarannya,
[Para dewa] bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Aku juga memiliki kualitas ini,
Seperti yang dikatakan para pertapa.
Aku pergi sampai alam Brahmā
Dan bertanya kepada Brahmā,
“Brahmā, apakah engkau [masih] memiliki pandangan ini,
Yaitu pandangan: ‘Aku ada di masa lampau yang jauh,
Dan aku masih ada, dan aku selalu akan ada,
Kekal dan tidak berubah’?”

Brahmā menjawab,
“Pertapa agung, aku tidak lagi memiliki pandangan itu,
Yaitu pandangan: ‘Aku ada di masa lampau yang jauh,
Aku kekal dan tidak berubah.’
[Sebaliknya] aku melihat bahwa semua Brahmā
Di alam ini akan meninggal.
Bagaimana mungkin aku sekarang mengatakan
Bahwa aku kekal dan tidak berubah?

“Aku melihat dunia ini
Seperti yang diajarkan Yang Tercerahkan Sempurna.
Ia telah muncul sesuai dengan sebab dan kondisi,
Dan akan kembali ke mana ia berasal.

“Api tidak berpikir:
‘Aku akan membakar orang bodoh.’
Ketika api membakar, jika seorang bodoh menyentuhnya,
Secara alamiah ia pasti terbakar.

“Dengan cara yang sama, Si Jahat,
Jika engkau mengganggu seorang Tathāgata,
Dan terlibat dalam perbuatan tidak bermanfaat selama waktu yang lama,
Engkau akan mengalami akibat [buruk] selama waktu yang lama.

“Si Jahat, janganlah membenci Sang Buddha!
Janganlah menyulitkan atau melukai para bhikkhu!
Terdapat seorang bhikkhu yang menaklukkan Māra
Yang berdiam di Hutan Menakutkan.”

Si Jahat khawatir dan bersedih,
Setelah ditegur oleh Moggallāna.
Ketakutan dan tanpa kebijaksanaan,
Ia segera lenyap dari tempat itu.

Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Mahāmoggallāna. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Mahāmoggallāna, Māra Si Jahat bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #17 on: 04 May 2021, 03:18:37 PM »
Catatan Kaki:

<354> Padanan Pāli-nya adalah Sukhumāla-sutta, AN 3.38 dalam AN I 145.

<355> Identifikasi beberapa nama bunga adalah bersifat tidak pasti.

<356> Sukhumāla-sutta tidak mengisahkan pencapaian jhāna pertama pangeran muda.

<357> MĀ 117 menunjuk tidak hanya pada usia tua dan penyakit, tetapi juga kematian dalam bait syair yang mengikuti. Ini membuat aman untuk menyimpulkan bahwa bagian prosa dalam MĀ 117 telah mengalami kehilangan suatu penguraian tentang topik kematian; kenyataannya topik yang sama ditemukan juga dalam Sukhumāla-sutta. Tampaknya teks yang hilang dapat dilengkapi sebagai berikut: “Selanjutnya, aku berpikir, ‘Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar itu sendiri tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian. Ketika melihat orang lain meninggal, mereka merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, tidak mengamati kondisi mereka sendiri.’ Selanjutnya aku berpikir, ‘Aku sendiri tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian. Jika ketika melihat orang lain meninggal aku merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, maka itu akan tidak pantas bagiku, karena aku juga tunduk pada kondisi ini.’ Setelah aku merenungkan dengan cara ini, keangkuhan yang disebabkan oleh kehidupan secara alamiah lenyap.”

<358> Padanan Pāli-nya adalah Nāga-sutta, AN 6.43 dalam AN III 344, yang memiliki Hutan Jeta, juga di Sāvatthī, sebagai lokasinya.

<359> Dalam Nāga-sutta, Sang Buddha pergi mandi bersama Ānanda, setelah keduanya menghabiskan hari bermeditasi di Aula Ibu Migāra.

<360> 念. Dalam Nāga-sutta gajah itu bernama Seta.

<361> Bhikkhu Bodhi, The Numerical Discourses of the Buddha, hal. 1756, catatan. 1317, menjelaskan bahwa pernyataan yang berhubungan dalam versi Pāli (tentang tidak melakukan kejahatan melalui jasmani, ucapan, dan pikiran) melibatkan suatu permainan kata dari nāga sebagai na āguṃ, “tidak jahat”. Bahwa Sang Tathāgata adalah seekor nāga yang demikian tidak secara eksplisit dinyatakan dalam Nāga-sutta.

<362>Tentang bait syair ini lihat Bhikkhu Bodhi, The Numerical Discourses of the Buddha, hal. 1756, catatan. 1319.

<363> Dalam Nāga-sutta gading gajah mewakili keseimbangan dan ekornya mewakili keterasingan.

<364> Padanan Pāli-nya adalah Kathāvatthu-sutta, AN 3.67 dalam AN I 197.

<365> Kathāvatthu-sutta melanjutkan secara langsung dari pernyataan awal tentang tiga landasan untuk berbicara menuju analisis masa lampau, masa sekarang, dan masa depan.

<366> Kathāvatthu-sutta tidak menjelaskan tibanya pada pembebasan pada titik ini.

<367> Kathāvatthu-sutta membahas pertanyaan untuk dijawab dengan empat cara: secara pasti, dengan membuat pembedaan, dengan menanyakan pertanyaan balasan, dan dengan mengesampingkan pertanyaan.

<368> Kathāvatthu-sutta melanjutkan dengan menganalisis lebih lanjut jenis-jenis pembicaraan.

<369> Padanan Pāli-nya adalah Arahanta-sutta, SN 22.76 dalam SN III 82.

<370> Mengambil varian yang menambahkan 三十. Arahanta-sutta alih-alih menggambarkan bagaimana pandangan terang ke dalam tiga karakteristik sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan membawa pada kekecewaan dan kebosanan terhadapnya, yang menghasilkan pembebasan.

<371> 七善法, dengan pasangannya dalam tujuh sadhamma dalam Arahanta-sutta; tujuh keadaan bermanfaat ini didaftarkan dalam Saṅgīti-sutta, DN 33 dalam DN III 252, sebagai keyakinan, rasa malu, rasa takut berbuat salah, pembelajaran, semangat, perhatian, dan kebijaksanaan.

<372> Padanan Pāli-nya adalah Pavāraṇā-sutta, SN 8.7 dalam SN I 190, yang memiliki Aula Ibu Migāra di Sāvatthī sebagai lokasinya.

<373> Dalam Pavāraṇā-sutta Sang Buddha tidak membuat pernyataan tentang pencapaian dirinya sendiri.

<374> Pavāraṇā-sutta tidak memberikan penunjukan pada seorang bhikkhu yang belum mencapai tujuan akhir.

<375> Dalam Pavāraṇā-sutta Sang Buddha, tanpa diminta melakukannya, menyebutkan enam puluh orang bhikkhu yang memiliki tiga pengetahuan lebih tinggi, enam puluh orang yang telah mencapai enam pengetahuan langsung, dan enam puluh orang yang terbebaskan melalui kedua cara; sisanya dari lima ratus orang bhikkhu terbebaskan melalui kebijaksanaan. Pavāraṇā-sutta tidak melaporkan pernyataan oleh Sang Buddha yang membandingkan para bhikkhu yang berkumpul dengan inti kayu.

<376> Tiga bait yang dimulai dengan “bersinar dengan cahaya murni” sampai dengan yang sekarang tidak memiliki padanan dalam Pavāraṇā-sutta.

<377> Dalam bait terakhir dari Pavāraṇā-sutta Vaṅgīsa memberikan penghormatan kepada Kerabat Matahari (yaitu, Sang Buddha), yang telah menghancurkan anak panah ketagihan.

<378> Padanan Pāli pada bagian pertama dari MĀ 122 adalah Uposatha-sutta, AN 8.20 dalam AN IV 204, yang memiliki Aula Ibu Migāra di Sāvatthī sebagai lokasinya. Bagian kedua dari MĀ 122 memiliki padanan dalam Kāraṇḍava-sutta, AN 8.10 dalam AN IV 168.

<379> Uposatha-sutta mengisahkan bahwa Sang Buddha duduk berdiam diri, tanpa menyatakan bahwa beliau telah memasuki konsentrasi dan mengamati pikiran para bhikkhu dalam perkumpulan. Hanya komentar, Mp IV 112, menyatakan bahwa Sang Buddha telah mengamati pikiran para bhikkhu dan melihat salah seorang tanpa moralitas.

<380> Menurut Uposatha-sutta, yang meminta Sang Buddha untuk mengulangi pātimokkha (aturan disiplin) adalah Ānanda.

<381> Dalam Uposatha-sutta, Mahāmoggallāna pertama-tama meminta bhikkhu itu tiga kali untuk pergi, dan hanya ketika bhikkhu itu tetap duduk berdiam diri ia memegang lengannya dan membawanya keluar.

<382> Uposatha-sutta tidak menunjuk pada kepala bhikkhu itu yang mungkin terpecah menjadi tujuh bagian, suatu bahaya yang disebutkan hanya dalam komentar, Mp IV 112.

<383> Uposatha-sutta melanjutkan dengan delapan kualitas luar biasa samudera yang dibandingkan dengan delapan kualitas ajaran Sang Buddha. Pemaparan sisa dari MĀ 122 tentang seorang bhikkhu yang berpura-pura menjadi murni dengan bertindak dengan pemahaman benar memiliki padanan dalam Kāraṇḍava-sutta, AN 8.10 dalam AN IV 168.

<384> Padanan Pāli-nya adalah Soṇa-sutta, AN 6.55 dalam AN III 374, yang memiliki Gunung Puncak Burung Bangkai sebagai lokasinya.

<385> Soṇa-sutta mengatakan bahwa Soṇa Kolivīsa berdiam di Sītavana di Rājagaha. Ia hanya mengisahkan bahwa ia sedang tinggal dalam keterasingan dan tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang latihannya.

<386> Dalam Soṇa-sutta Sang Buddha alih-alih menggunakan cara kekuatan batin untuk lenyap dari Gunung Puncak Burung Bangkai dan muncul kembali di hadapan Soṇa di Sītavana.

<387> Soṇa-sutta tidak mengisahkan rasa malu Soṇa atau kesadarannya bahwa Sang Buddha mengetahui pemikirannya.

<388> Dalam Soṇa-sutta enam pengalaman adalah teguh dalam pelepasan keduniawian, keterasingan, tanpa kesulitan, hancurnya ketagihan, hancurnya kemelekatan, dan tanpa kebingungan.

<389> Soṇa-sutta tidak membahas topik tentang seseorang dalam latihan dan dengan demikian tidak memiliki padanan pada perumpamaan indria-indria dan kebiasaan seorang pemuda.

<390> Soṇa-sutta berakhir dengan bait terakhir ini dan tidak memiliki padanan pada sisa MĀ 124.

<391> Padanan Pāli-nya adalah Akkhaṇa-sutta, AN 8.29 dalam AN IV 225.

<392> Akkhaṇa-sutta memiliki dua terakhir dalam urutan yang berkebalikan, pertama masalah karena menganut pandangan salah dan kemudian masalah karena tidak dapat memahami.

<393> Padanan Pāli-nya adalah Iṇa-sutta, AN 6.45 dalam AN III 351.

<394> Iṇa-sutta mendaftarkan ketiadaan keyakinan, rasa malu, rasa takut berbuat salah, semangat, dan kebijaksanaan, semuanya sehubungan dengan keadaan-keadaan bermanfaat. Ia tidak menyebutkan bahwa seseorang yang demikian dapat memiliki emas dan batu-batu berharga.

<395> Iṇa-sutta tidak menunjuk pada seorang Arahant pada titik ini.

<396> Mengambil varian 安 alih-alih 棄.

<397> Perbandingan dengan sebuah pelita tidak ditemukan dalam Iṇa-sutta.

<398> Padanan Pāli-nya adalah Kāmabhogī-sutta, AN 10.91 dalam AN V 176.

<399> Kāmabhogī-sutta mengambil keseluruhan sepuluh jenis yang diperkenalkan sebelumnya dan menunjukkan dalam masing-masing kasus berapa banyak landasan hal ini dikritik atau dipuji.

<400> Seseorang yang mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar sebagian tidak mungkin dikualifikasikan sebagai lebih tunggu daripada seseorang yang melakukan demikian dengan cara yang benar sepenuhnya. Bagian yang ditambahkan dalam tanda kurung siku oleh sebab itu dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa ini menunjuk hanya pada mereka yang sama halnya mencari kekayaan dengan cara campuran. Mempertimbangkan dari syair yang berikutnya, bacaan ini tampaknya akibat dari suatu kesalahan tekstual dan mulanya tentang seseorang yang mencari kekayaan dengan cara yang benar tetapi melekat padanya.

<401> Kāmabhogī-sutta tidak mengandung syair.

<402> Padanan Pāli-nya adalah Dakkhiṇeyyā-sutta, AN 2.4.4 at AN I 62.

<403> Pembedaan dua jenis orang ke dalam delapan belas dan sembilan jenis tidak ditemukan dalam Dakkhiṇeyyā-sutta, yang alih-alih melanjutkan setelah pembedaan berunsur dua dengan syair-syair yang diucapkan Sang Buddha.

<404> “Penghasil-satu-benih” menunjuk pada seorang pemasuk-arus yang akan mengalami hanya satu kehidupan lagi.

<405> Sementara daftar sebelumnya dari mereka dalam latihan mewakili bahan yang umum dalam kotbah-kotbah awal dalam tradisi pengulang yang berbeda-beda, daftar mereka yang melampaui latihan saat ini mencerminkan gagasan belakangan yang dianut dalam tradisi pengulang Sarvāstivāda, yang diwariskan Madhyama-āgama. Daftar yang sama dapat ditemukan dalam Abhidharmakośavyākhyā; lihat Wogihara, Sphuṭārthā Abhidharmakośavyākhyā by Yaśomitra, Bagian II, hal. 566.

<406> Padanan Pāli-nya adalah Gihī-sutta, AN 5.179 dalam AN III 211.

<407> Gihī-sutta tidak mengisahkan pertemuan antara Sāriputta dan kelompok yang dipimpin oleh Anāthapiṇḍika. Alih-alih ia mulai dengan tibanya kelompok itu di hadapan Sang Buddha.

<408> Dalam Gihī-sutta pernyataan demikian dibuat oleh siswa mulia itu sendiri.

<409> Gihī-sutta hanya mendaftarkan lima aturan latihan, tanpa memberikan rincian.

<410> Gihī-sutta menekankan bahwa Dharma adalah terlihat langsung, tidak melibatkan waktu, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, membawa ke depan, dan untuk dialami secara pribadi oleh orang bijaksana. Di sini dan sehubungan dengan tiga kediaman batin yang menyenangkan lainnya, Gihī-sutta hanya menyebutkan bahwa mereka berfungsi untuk memurnikan pikiran yang tidak murni dan membersihkan pikiran yang kotor.

<411> Gihī-sutta hanya menunjuk pada empat pasang (orang mulia), delapan [jenis] orang, tanpa mendaftarkan mereka secara individual dan tanpa mencatat bahwa mereka sempurna dalam moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, serta pengetahuan dan penglihatan pembebasan.

<412> Gihī-sutta tidak memiliki perbandingan dengan bumi.

<413> Gihī-sutta menggambarkan seseorang yang demikian lebih rinci, dengan mengkualifikasikannya dengan berbagai cara sebagai seorang yang terbebaskan.

<414> Dalam Gihī-sutta mereka yang memberi kepada orang luar dianggap orang bodoh.

<415> Padanan Pāli-nya adalah Kodhana-sutta, AN 7.60 dalam AN IV 94.

<416> Dalam Kodhana-sutta, di mana kehilangan kekayaan adalah yang keempat dalam daftarnya, kehilangan demikian muncul karena penyitaan atas nama raja.

<417> Mengambil varian 盛 alih-alih 止.

<418> Selain orang tua, Kodhana-sutta juga menyebutkan pembunuhan seorang brahmana (yang menurut komentar berarti seorang Arahant) atau seorang duniawi.

<419> Mengambil varian 業 alih-alih 逆.

<420> Padanan Pāli-nya adalah Dhammika-sutta, AN 6.54 dalam AN III 366, yang memiliki Gunung Puncak Burung Bangkai di Rājagaha sebagai lokasinya.

<421> Dalam Dhammika-sutta Dhammika beberapa kali meninggalkan satu vihara dan pergi ke vihara yang lain, di mana kejadian yang sama terjadi lagi, sampai akhirnya para umat awam menyuruhnya untuk meninggalkan semua tujuh vihara di daerah itu.

<422> Pembahasan dalam Dhammika-sutta berlanjut dengan berbeda. Ketika melihat Dhammika, Sang Buddha bertanya kepadanya dari manakah ia datang, di mana Dhammika menjelaskan bahwa ia telah diusir. Sebagai tanggapan atas hal itu, Sang Buddha memberikan perumpamaan burung dan langsung melanjutkan dengan kisah pohon banyan Raja Koravya.

<423> Dhammika-sutta tidak menggambarkan kondisi umum pada masa Raja Koravya, ataupun tidak mengatakannya sebagai seorang raja pemutar roda.

<424> Dhammika-sutta tidak mengisahkan Raja Koravya mengetahui bahwa pohon banyan itu tidak lagi menghasilkan buah; informasi ini ditemukan hanya dalam komentar, Mp III 386. Ia juga hanya mengisahkan bahwa Raja Koravya mendekati Sakka, tanpa secara eksplisit menyatakan bahwa ia melakukannya dengan cara kekuatan batin atau bahwa keduanya kembali ke Jambudīpa dengan cara yang sama.

<425> Sehubungan dengan Sunetta dan para guru lainnya, Dhammika-sutta hanya menyebutkan bahwa mereka yang tidak memiliki keyakinan dalam ajaran mereka terlahir kembali di alam yang lebih rendah. Penjelasan para siswa Sunetta yang terlahir kembali di alam-alam surga yang berbeda dan latihannya sendiri yang lebih tinggi dapat ditemukan dalam AN 7.62 pada AN IV 103, dan padanannya MĀ 8 pada T I 429b.

<426> Dhammika-sutta tidak menyebutkan ayah Jotipāla, Govinda, dan oleh sebab itu mengatakan hanya enam guru, walaupun ia menunjuk pada Govinda dan Jotipāla dalam bagian syairnya. Mahāgovinda-sutta, DN 19 dalam DN II 230, mengisahkan bahwa Govinda telah menjadi penasihat Raja Disampatī, dan putra Govinda Jotipāla menjabat sebagai penasihat dari putra Disampatī, Raja Reṇu (dan pengikutnya). Tidak seperti Jotipāla, Govinda tidak pergi mengembangkan brahmavihāra dan dengan demikian tidak menjadi seorang “guru” dari latihan ini bagi orang lain. Oleh sebab itu, penunjukan pada tujuh brahmana penasihat tetapi enam guru dalam Dhammika-sutta dengan benar mencerminkan penjelasan dalam DN 19.

<427> Mengambil varian 微 alih-alih 妙.

<428> Padanan Pāli-nya adalah Māratajjanīya-sutta, MN 50 dalam MN I 332; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 300–307.

<429> Māratajjanīya-sutta tidak menyebutkan pengawasan pembangunan sebuah gubuk atau bahwa Māra membuat dirinya lebih kecil.

<430> Menurut Māratajjanīya-sutta, bhikkhu yang berhubungan Vidhura telah memperoleh namanya karena tiada bandingnya dalam mengajarkan Dharma (vidhura dapat berarti “tiada banding”).

<431> 想; dalam Māratajjanīya-sutta bhikkhu yang berhubungan Sanjīva disebut demikian karena ia telah “hidup kembali”, patisanjīvita.

<432> Perenungan Māra dalam Māratajjanīya-sutta tidak memiliki penunjukan pada silsilah yang terputus disebabkan para pertapa tidak memiliki anak. Alih-alih ia menjelaskan rencananya untuk menyebabkan para perumah tangga mencaci maki para bhikkhu agar mengacaukan pikiran mereka. Kecaman tentang lamunan, dst., tampak dalam versi Pāli hanya sebagai bagian penghinaan sebenarnya dari para perumah tangga. Penghinaan ini mulai dengan perumpamaan seekor burung hantu yang ingin menangkap tikus, diikuti oleh seekor anjing hutan yang ingin menangkap ikan, seekor kucing yang ingin menangkap tikus, dan seekor keledai yang tidak memiliki beban.

<433>Dalam Māratajjanīya-sutta para perumah tangga mencaci maki mereka hanya secara verbal; mereka tidak menyerang mereka secara fisik. Tentang terlahir kembali di neraka, mereka tidak ditunjukkan menyadari bahwa ini terjadi akibat hukuman karena mencaci maki para bhikkhu.

<434> Māratajjanīya-sutta tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang jumlah keramaian yang diajar oleh Kakusandha.

<435> Māratajjanīya-sutta hanya mengisahkan bahwa para perumah tangga berperilaku dengan hormat, tanpa merincikan dengan cara apa mereka melakukannya. Tentang terlahir kembali di surga, mereka tidak ditunjukkan menyadari bahwa ini terjadi sebagai ganjaran karena perilaku hormat mereka terhadap para bhikkhu.

<436> Nasihat dalam Māratajjanīya-sutta adalah agar merenungkan ketiadaan keindahan terhadap jasmani, mempersepsikan kejijikan makanan, mempersepsikan seluruh dunia sebagai tanpa kesenangan, dan merenungkan ketidakkekalan semua bentukan.

<437> Māratajjanīya-sutta tidak melaporkan rencana Māra; serangan sebenarnya terjadi dengan cara merasuki seorang anak laki-laki.

<438> Māratajjanīya-sutta memberikan tiga nama untuk neraka; periode bagi tonggak untuk bertemu tonggal adalah seribu tahun; dan bentuk kelahiran kembali yang dialami oleh māra masa lampau adalah tubuh seorang manusia dengan kepala seekor ikan.

<439> Syair-syair dalam Māratajjanīya-sutta menunjukkan perbedaan dan cenderung kurang terperinci.

<440> Mengambil varian 諸 alih-alih 謂.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #18 on: 04 May 2021, 03:23:44 PM »
Madhyama Agama vol. II SELESAI

:lotus: :lotus: :lotus:
« Last Edit: 04 May 2021, 03:42:27 PM by seniya »
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa