Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Topik Buddhisme => Meditasi => Topic started by: Mas Tidar on 29 October 2011, 07:15:08 PM

Title: Kadar....
Post by: Mas Tidar on 29 October 2011, 07:15:08 PM
semua kita tau dari banyak buku2 uraian Tipitaka topik tentang arbsobsi sering kali memiliki panduan tahap demi tahap s/d akhirnya "masuk" ke dalam kondisi tercerap yang terkenal dengan istilah jhana.

yang kami ingin tanyakan adalah, apakah ada suatu "kadar" jhana pada masing2 yogi?
supaya lebih detail lagi,
- seperti satu gelas kopi hitam pekat, jika dituang air lama2 juga akan menjadi air yang bening.
- seperti suatu kadar gula dalam suatu gelas yang jika diberi gula terus menerus akan manis dan bertambah manis dst. Begitu pula sebaliknya jika ditambah air, kadar manis-nya lama lama akan berkurang.




Anumodana _/|\_
Title: Re: Kadar....
Post by: hemayanti on 29 October 2011, 09:29:00 PM
ikut nyimak. ;D
*gelar tikar dulu
Title: Re: Kadar....
Post by: Adhitthana on 31 October 2011, 12:30:38 AM
Tuang kopi kecangkir sambil gelar tiker
duduk manis disebelah nona hemayanti .....

Semoga gak ujan  ;D
Title: Re: Kadar....
Post by: hemayanti on 31 October 2011, 09:51:55 AM
 ;D

belum ada yang kasi komentar.
mungkin judulnya kurang geregeten om tidar.  ;D
kalo ditambahin kata 'jhana' mungkin lebih menarik, jadi 'kadar jhana'
Title: Re: Kadar....
Post by: tesla on 31 October 2011, 05:27:57 PM
kalau jhana, yg diskusi berarti yg sudah mencapai jhana?
sepertinya sulit diskusinya jalan kalau seperti itu
Title: Re: Kadar....
Post by: williamhalim on 31 October 2011, 05:42:05 PM
Tuang kopi kecangkir sambil gelar tiker
duduk manis disebelah nona hemayanti .....

Semoga gak ujan  ;D

kebalik kali..

maksudnya pasti: duduk disebelah nona hemayanti manis...

::
Title: Re: Kadar....
Post by: hemayanti on 31 October 2011, 09:14:23 PM
ssssttt!
masih kecil udah suka menggombal.  :P
:backtotopic:
Title: Re: Kadar....
Post by: Mas Tidar on 09 November 2011, 08:40:50 PM
kalau jhana, yg diskusi berarti yg sudah mencapai jhana?
sepertinya sulit diskusinya jalan kalau seperti itu


Benar, om Tesla.
hanya orang yang telah mencapai kondisi ini yang bisa sharing.
Tapi saya masi berharap ada yang mau sharing baik dari segi praktik ataupun secara teoritis.

silakan, dilanjut...
Title: Re: Kadar....
Post by: will_i_am on 09 November 2011, 09:10:29 PM
ikut nyimak. ;D
*gelar tikar dulu
spring bed lebih nyaman sis..  :P :P :P
Title: Re: Kadar....
Post by: hemayanti on 11 November 2011, 09:09:43 PM
spring bed lebih nyaman sis..  :P :P :P
iya tapi ribet om.  ;D
Title: Re: Kadar....
Post by: will_i_am on 11 November 2011, 09:15:43 PM
reply-nya udah 9, tapi belum 1 pun yang bahas tentang topicnya...
 :outoftopic:
Title: Re: Kadar....
Post by: cakrawala on 20 October 2014, 07:14:39 PM
Pak tidar
Pertanyaan ini
Dijawab dengan pertanyaan juga

Apa bedanya langit ketika
Cerah, berawan, mendung, hujan dan hujan badai.
Tidak bisa dibedakan dengan
Melihat perubahannya.
Hanya bisa dibedakan
Dengan melihat sifat sesungguhnya
Yaitu bisa berubah
Sesuai sebab yg mendahuluinya

Apa saja sebab yg mendahului
Telah diajarkan
Oleh beliau
Yg disebut mampu melihat
Dalam hal ini buddha
Title: Re: Kadar....
Post by: cakrawala on 20 October 2014, 07:43:20 PM
Pak
Bagaimana jika langit cerah
Jika melihat ke empat
Arah angin
Terlihat seperti tiada batas.
Bagaimana membedakan
Yg tiada batas begini.
Jawablah dengan
Perumpamaan kopi tadi .

Title: Re: Kadar....
Post by: BK541NT on 22 October 2014, 09:40:02 AM
ikutan duduk bareng dengan yg manis2 beralaskan tikar dengan segelas kopi dan kue manis sambil menunggu pencerahan  :)
Title: Re: Kadar....
Post by: cakrawala on 22 October 2014, 01:10:26 PM
Boleh saja
Jangan lupa gambar avatarnya
Pakai yg lebih sopan.
Jangan yg itu
Title: Re: Kadar....
Post by: DragonHung on 05 November 2014, 10:58:30 AM
Ada perbedaan dalam kadarnya.
Untuk tahap awal mungkin sulit terlihat. Tapi pada tahap mempelajari keahlian dalam jhana disana Baru akan terlihat perbedaan kualitas jhananya.
Title: Re: Kadar....
Post by: bajera on 05 November 2014, 11:35:48 AM
Tidak ada bedanya dari awal hingga akhirnya.
Kalau bisa memutuskan.
Kalau bisa.

Jawaban anda baik sekali.
Jawaban ini sebagai pelengkap.
Title: Re: Kadar....
Post by: Shasika on 05 November 2014, 08:33:52 PM
Ikutan menyimak duduk manis disebelahnya sis Hema yang manissss...... ~o)
Title: Re: Kadar....
Post by: Sukma Kemenyan on 05 November 2014, 08:57:45 PM
Awalnya bukannya sudah vitaka (mengarahkan pikiran ke objek) ?
Namun, apakah vicara (pikiran tertambat diobjek)?

Biasanya sih belon,
Soalnya nivarana belon clear...

Seiiring tekunnya latihan,
nivarana bisa ketekan

Dengan vitaka yang bebas nivarana,
Maka bakal kelihatan vicara...

Dengan vitaka+vicara muncul,
Piti pun mendekat...

Dengan vitaka+vicara+piti,
Tak lama sukha pun menepi...

Dengan vitaka+vicara+piti+sukha,
Ekagatta pun hadir...


Begitu bukan?
Title: Re: Kadar....
Post by: Sukma Kemenyan on 05 November 2014, 09:01:25 PM
Sudah absorp, lalu kapan berhenti?
Ya terserah...

Inti latihan bukan seberapa lama kita bisa absorp,
Tapi seberapa ahli kita mengendalikan faktor2 jhana

Seberapa ahli kita keluar-masuk, naik-turun
Title: Re: Kadar....
Post by: Shasika on 05 November 2014, 09:26:09 PM
Awalnya bukannya sudah vitaka (mengarahkan pikiran ke objek) ?
Namun, apakah vicara (pikiran tertambat diobjek)?

Biasanya sih belon,
Soalnya nivarana belon clear...

Seiiring tekunnya latihan,
nivarana bisa ketekan

Dengan vitaka yang bebas nivarana,
Maka bakal kelihatan vicara...

Dengan vitaka+vicara muncul,
Piti pun mendekat...

Dengan vitaka+vicara+piti,
Tak lama sukha pun menepi...

Dengan vitaka+vicara+piti+sukha,
Ekagatta pun hadir...


Begitu bukan?
Kalo mbah udah masuk gini khan bisa dilanjoettt....

Gimana jika baru Vitaka doank, tapi dah mampu menunjukkan hasil kesaktian ?
Yang ditanyakan oleh TS khn kadar...apakah kadar masing2 orang beda ?

Sedangkan kenyataannya pernah ada bukti bahwa baru vitaka aja dah mampu terbang, spt dlm VM (kalo ga salah hal 96), dikisahkan seorang wanita muda sedang hamil, tapi dia ditinggalkan dirumah oleh keluarga yg pergi ikut mahadana ke Anuradhapura, tetapi karena jarak yang jauh dijaman itu transportasi masih belom modern, shg dikuatirkan akan mengakibatkan wanita hamil ini kelelahan dan tentunya akan berakibat sesuatu (mungkin kontraksi dll). Wanita ini sedih ditinggalkan dan hanya memusatkan konsen nya pada kasina Stupa (memusatkan pikiran tentang Stupa dengan membayangkan), dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa sekali dan tiba2 langsung terbang melayang kemudian turun di Stupa tsb (Anuradhapura), pdhal keluarga masih jauh dlm perjalanan, ketika mereka tiba disana malam hari, mereka terkejut menjumpai menantu wanitanya telah lebih dulu tiba disana dan mendengarkan Dhammadesana.

Sepertinya kisah ini pernah ada sy tulis, bentar ya bongkar2 kuburan lama dlu.
Jadi dengan demikian kadar masing2 orang beda, karena kemampuan masa lampau seseorang yang dia bawa sekarang akan mempengaruhi kadar tsb.
Title: Re: Kadar....
Post by: seniya on 05 November 2014, 09:27:08 PM
Komentar menyebutkan terdapat "kadar" atau tingkatan jhana yang kuat, menengah, dan lemah. Misalnya jhana I kuat jika terus-menerus dilatih sampai akhir hayat maka akan membawa kelahiran kembali pada alam Mahabrahma, jhana I menengah akan membawa pada kelahiran di alam Brahma-purohita (menteri/penasehat Brahma), jhana I lemah akan terlahir di alam Brahma-parisajja (pengikut Brahma). Namun kadar/tingkatan yang demikian tidak disebutkan dalam sutta-sutta awal tentang jhana....
Title: Re: Kadar....
Post by: Sukma Kemenyan on 05 November 2014, 09:35:26 PM
Conan,
Ah... Itu khan kalo attached di "asik"nya Jhana.

IMO,
Bermodalkan Jhana,
Lanjut ke Perenungan ke Tilakhana
Title: Re: Kadar....
Post by: Shasika on 05 November 2014, 09:42:38 PM
Conan,
Ah... Itu khan kalo attached di "asik"nya Jhana.

IMO,
Bermodalkan Jhana,
Lanjut ke Perenungan ke Tilakhana
Perenungan Tilakhana ? Vipass donk mbah?
Title: Re: Kadar....
Post by: seniya on 05 November 2014, 09:51:33 PM
Conan,
Ah... Itu khan kalo attached di "asik"nya Jhana.

IMO,
Bermodalkan Jhana,
Lanjut ke Perenungan ke Tilakhana

Iya, yg ditanya kan kadarnya, mbah ^:)^
Title: Re: Kadar....
Post by: Sukma Kemenyan on 05 November 2014, 10:22:51 PM
Iya, yg ditanya kan kadarnya, mbah ^:)^
ngapaen di pikirin?
ntar attached pulak :hammer:



Quote
Perenungan Tilakhana ? Vipass donk mbah?
Iya,
Moga moga dengan "kadar" absorb,
Bisa menembus "dinding" LDM
Title: Re: Kadar....
Post by: Shasika on 05 November 2014, 10:43:11 PM
Perenungan Tilakhana ? Vipass donk mbah?
Iya,
Moga moga dengan "kadar" absorb,
Bisa menembus "dinding" LDM
Gtu ya mbah....IC
Yg kemarin mbah suruh pake kasina putih (sepiring bunga putih) msh proses nihhh...
Title: Re: Kadar....
Post by: bajera on 05 November 2014, 10:55:56 PM
Kenapa menyukai
8lokiya jhana.
Bagaimana kalau
lokutara jhana9
Dikembangkan dengan
Vipasana sbg awalnya.

Sifat 8lokiya jhana
Masih jauh dari penghapusan
Bersifat mengikat kuat
Shg disarankan
Kalau mau terbang
Pesan citilink saja.
Title: Re: Kadar....
Post by: bajera on 05 November 2014, 11:04:26 PM
Seberapa jauh kadarnya
Sejauh itu pula ikatannya.
U melepaskannya
Jauh lebih sulit daripada awalnya.

Yg ditulis diatas jawaban u dragon
jawabannya berbeda u subyek yg berbeda.
Jgn digeneralisasi.
Title: Re: Kadar....
Post by: DragonHung on 05 November 2014, 11:11:11 PM
????
Title: Re: Kadar....
Post by: wirya on 07 November 2014, 05:45:00 AM
Kalau boleh tahu
Kenapa tidak boleh
membaca buku meditasi
Jika ingin belajar meditasi.

Aneh sekali ya.
Sssst mungkin Spy rahasianya
Tidak diketahui.

Title: Re: Kadar....
Post by: wirya on 10 November 2014, 07:29:30 PM
Ada perbedaan dalam kadarnya.
Untuk tahap awal mungkin sulit terlihat. Tapi pada tahap mempelajari keahlian dalam jhana disana Baru akan terlihat perbedaan kualitas jhananya.

Dragon jawabannya benar sekali.
Mengapa bingung.
Pernyataan diatas dari mana.

Title: Re: Kadar....
Post by: kumara2 on 26 November 2015, 08:56:42 PM
semua kita tau dari banyak buku2 uraian Tipitaka topik tentang arbsobsi sering kali memiliki panduan tahap demi tahap s/d akhirnya "masuk" ke dalam kondisi tercerap yang terkenal dengan istilah jhana.

yang kami ingin tanyakan adalah, apakah ada suatu "kadar" jhana pada masing2 yogi?
supaya lebih detail lagi,
- seperti satu gelas kopi hitam pekat, jika dituang air lama2 juga akan menjadi air yang bening.
- seperti suatu kadar gula dalam suatu gelas yang jika diberi gula terus menerus akan manis dan bertambah manis dst. Begitu pula sebaliknya jika ditambah air, kadar manis-nya lama lama akan berkurang.




Anumodana _/|\_

Berat ringan jhana, dari 1 sd 9 , dari yg berat sampai "empty"
Dalam arti padam, bukan kosong bisa dilihat dari kondisi orang itu
Di kehidupan sehari hari. Semakin tinggi pencapaian, terutama
Jhana9, semakin tegas, disiplin dan tiada kompromi dengan attanya sendiri.

Dalam bahasa gaul
    Bhante itu galak, tempramen, tidak bisa ditawar,
    Dan tidak mau ngurusi orang yg msin main dengan samadi.
Title: Re: Kadar....
Post by: luckyadi on 30 March 2016, 01:31:16 PM
Hempph ...Kadar jhana ?mnrt sya tgntung dr orgnya..semakin org tersebut byk kemelekatan semakin sulit meditasinya karena terbayang2 pada saat mditasi itu yg menjadi kemelekatan nya


Ssat mditasi mnrt sya yg terpenting hening dlm sgla hal tpi secara bertahap,dimulai dri keinginan untuk hening terlebih dahulu,semakin lama semakin hening dan yg tersisa hnyalah pikiran yg sederhana,,pikiran sederhana itulah yg sya asumsikan sebagai pusat diri/pandangan identitas diri kita, itu pun perlahan bs hilang dri kesadaran kt krn yg nama nya pandangan ttg diri itu hnylah konsep yg sebenarnya tdk perlu ada..
Title: Re: Kadar....
Post by: hexa3 on 30 March 2016, 02:29:08 PM
tanpa konsep...

benarkah ...
jika anda buta, berjalan dgn sebuah tongkat.
anda menemukan lubang kecil. krn tanpa konsep,
anda hindari, kmd melanjutkan perjalanan.

tidakkah anda taruh tongkatnya, keruk lubang itu,
agar lebih besar, lebih terlihat bg sibuta, shg jika
tdk tersandung u kedua kalinya.

bgmn tanpa konsep, jika melihat tangan memar,
sedikit berdarah, namun aman u masa berikutnya.

mau belajar kadar...tapi tdk nau terluka.
bagaimana caranya...
dukkhacarita adalah cermin kadar 1 sd 8
bersifat lokiya.
Title: Re: Kadar....
Post by: hexa3 on 30 March 2016, 06:31:44 PM
good bye
Title: Re: Kadar....
Post by: DeNova on 19 April 2016, 09:34:37 AM
Maaf klo OOT
Tapi yang seperti apa dalam meditasi yang dikatakan mencapai Jhana?
Adakah parameter yang akurat untuk mengukur bahwa seseorang bermeditasi sudah menembus jhana?
Apakah kuantitas Dari meditasi maksud saya "seringnya" orang meditasi maka dipastikan dapat mencapai kondisi jhana ini?
Bagaimana membedakan seseorang yang meditasinya sudah mencapai jhana Dan yang belum?  Perbedaan yang nampak adakah dalam perilaku beliau misalnya???

Maaf sekali lagi... Saya tertarik DG topik ini tapi tidak memahami uraian2 diatas.. Trims _/\_
Title: Re: Kadar....
Post by: DragonHung on 19 April 2016, 02:11:16 PM
1. Secara bahasa sederhana yah, meditasi yg mencapai jhana itu konsentrasi pikiran pada obyek kuat, terus diliputi kebahagiaan yg besar, disertai kegiuran utk mengulang2 atau berada pada kondisi itu.

2. Parameternya kalo secara teori yaitu : pikiran yg mulai terpusat, batin diliputi kegiuran, batin diliputi kebahagiaan dan terakhir, batin menjadi seimbang.
Kalo sebagai orang luar yg menilai perlu kemampuan mata dewa atau seorang guru yg sangat berpengalaman sekali baru bisa menentukan seseorang mencapai jhana atau tidak.

3. Tanpa latihan yg tekun dan berulang2 yah susah lo mengharapkan dapat mencapai itu.

4. Perbedaan secara fisik sih gak ada, cuman orang yg sudah pernah mencapai itu pasti akan lebih rajin bermeditasi, karena mereka mengetahui kebahagian yg dicapai itu melebihi kebahagian yg didapat dari kesenangan duniawi
Title: Re: Kadar....
Post by: Alucard Lloyd on 19 April 2016, 11:06:35 PM
sedikit bertanya? saya pernah belajar meditasi anapasati dan saya ga tau saya masuk pintu jhana atau tidak karena tiada guru dalam latihan saya tetapi apa yang saya rasa kan perhatian pada badan itu hilang badan seakan berkembang besar dan perasaan hening seketika tiada beban apa apa karena sebelum nya saya serasa ngatuk sekali dan tidak tau pada saat saya konsentrasi pada nafas BANG tiba tiba saja saya merasakan hening damai dan nyaman tapi kesadaran tetap ada karena saya tau ada suara di sekitar saya tapi seakan jauh. pada saat selesai sesi meditasi tersebut saya merindukan moment itu lagi tapi sampai sekarang saya tidak pernah dapat kembali seperti itu hening damai dan nyaman, yang ada sekarang saya selalu ngantuk pegal dan kesemutan. dan saya mempelajari dan mencari tahu dan saya ktmu kata moralitas diri harus juga di kembangkan dan juga di jaga apakah ini juga berpengaruh dalam latihan meditasi kita mohon kira nya para sesepuh disini menjelaskan terima kasih
Title: Re: Kadar....
Post by: DragonHung on 20 April 2016, 09:27:34 AM

Seperti yg pernah anda alami sendiri, begitu pernah merasakan keheningan yg damai tenang dan bersih seperti itu otomatis anda akan tahu, ada sesuatu yg luar biasa dalam meditasi. Bukan cuman sekedar duduk dan merem.

Sila jelas sangat berpengaruh dalam mencapai kemajuan meditasi.
Sila jatuh, konsentrasi pasti jatuh.
Kadang untuk memperbaiki kondisi itu sangat sulit. Sehingga banyak yg mengalami "dulu saya pernah mengalami kedamaian itu. Sekarang kok gak bisa yah?" Dan akhirnya pasrah dan tidak melanjutkan lagi latihannya. Padahal jalan yg ditempuh sudah benar.
Title: Re: Kadar....
Post by: DeNova on 22 April 2016, 11:29:44 AM
1. Secara bahasa sederhana yah, meditasi yg mencapai jhana itu konsentrasi pikiran pada obyek kuat, terus diliputi kebahagiaan yg besar, disertai kegiuran utk mengulang2 atau berada pada kondisi itu.

2. Parameternya kalo secara teori yaitu : pikiran yg mulai terpusat, batin diliputi kegiuran, batin diliputi kebahagiaan dan terakhir, batin menjadi seimbang.
Kalo sebagai orang luar yg menilai perlu kemampuan mata dewa atau seorang guru yg sangat berpengalaman sekali baru bisa menentukan seseorang mencapai jhana atau tidak.

3. Tanpa latihan yg tekun dan berulang2 yah susah lo mengharapkan dapat mencapai itu.

4. Perbedaan secara fisik sih gak ada, cuman orang yg sudah pernah mencapai itu pasti akan lebih rajin bermeditasi, karena mereka mengetahui kebahagian yg dicapai itu melebihi kebahagian yg didapat dari kesenangan duniawi
Saya pernah mengalami kondisi sama Persis seperti bro Allucard Lloyd... Kondisi yang benar2 jernih, tenang, "bisa mengamati" namun tidak bereaksi, tidak Ada yang dipikirkan benar2 kosong....
Karena saat itu retreat meditasi 7 hari DG pembimbing, pada hari terakhir itulah yg saya rasakan....
Namun Sekarang krn sibuk, waktu pencapaian kondisi tersebut tak lg stabil...
Yg mau saya tanyakan apakah kondisi fisik waktu bermeditasi pengaruh terhadap apa yang akan dialami oleh meditator, seperti kelelahan fisik atau kesibukan sehari2....
Yg kedua idealnya kalau tiap hari latihan meditasi itu sebaiknya berapa lama ya? Saya ingin mulai tekun lagi tapi tidak bisa memastikan brp waktu untuk meditasi kadang 1/2 jam, namun kalau enak ya 2 jam lewat  ;D

Seperti yg pernah anda alami sendiri, begitu pernah merasakan keheningan yg damai tenang dan bersih seperti itu otomatis anda akan tahu, ada sesuatu yg luar biasa dalam meditasi. Bukan cuman sekedar duduk dan merem.

Sila jelas sangat berpengaruh dalam mencapai kemajuan meditasi.
Sila jatuh, konsentrasi pasti jatuh.
Kadang untuk memperbaiki kondisi itu sangat sulit. Sehingga banyak yg mengalami "dulu saya pernah mengalami kedamaian itu. Sekarang kok gak bisa yah?" Dan akhirnya pasrah dan tidak melanjutkan lagi latihannya. Padahal jalan yg ditempuh sudah benar.
Sila?? Maksudnya Sila apa ya bro... Apakah seperti Attha sila yg dikasih tahu org2 sewaktu hari upposatha??
Bagaimana kaitan antar sila Dan meditasi sehingga dapat dikatakan sila jatuh maka konsentrasi jatuh???
Oh ya bro...
Maaf nih banyak nanya. .  :P
Kadang klo mulai meditasi koq t4 diantara 2 Alis agak tegang trus sakit... Namun klo udh memperhatikan objek meditasi berangsur2 hilang... Itu kenapa yaa???
Thanks and mohon pencerahannya _/\_
Title: Re: Kadar....
Post by: DragonHung on 22 April 2016, 01:29:15 PM
Saya pernah mengalami kondisi sama Persis seperti bro Allucard Lloyd... Kondisi yang benar2 jernih, tenang, "bisa mengamati" namun tidak bereaksi, tidak Ada yang dipikirkan benar2 kosong....
Karena saat itu retreat meditasi 7 hari DG pembimbing, pada hari terakhir itulah yg saya rasakan....
Namun Sekarang krn sibuk, waktu pencapaian kondisi tersebut tak lg stabil...
Yg mau saya tanyakan apakah kondisi fisik waktu bermeditasi pengaruh terhadap apa yang akan dialami oleh meditator, seperti kelelahan fisik atau kesibukan sehari2....
Yg kedua idealnya kalau tiap hari latihan meditasi itu sebaiknya berapa lama ya? Saya ingin mulai tekun lagi tapi tidak bisa memastikan brp waktu untuk meditasi kadang 1/2 jam, namun kalau enak ya 2 jam lewat  ;D
Sila?? Maksudnya Sila apa ya bro... Apakah seperti Attha sila yg dikasih tahu org2 sewaktu hari upposatha??
Bagaimana kaitan antar sila Dan meditasi sehingga dapat dikatakan sila jatuh maka konsentrasi jatuh???
Oh ya bro...
Maaf nih banyak nanya. .  :P
Kadang klo mulai meditasi koq t4 diantara 2 Alis agak tegang trus sakit... Namun klo udh memperhatikan objek meditasi berangsur2 hilang... Itu kenapa yaa???
Thanks and mohon pencerahannya _/\_

Yang pertama, kondisi jasmani jelas saja sangat mempengaruhi kondisi batin terutama utk meditator tahap awal.
Terlalu capek, pasti susah konsentrasi.  Malahan gampang tertidur.
Terlalu sibuk dengan aktifitas sehari-hari, biasanya sewaktu mulai meditasi hanya tumpukan pikiran tentang pekerjaan sehari2 yang belum selesai terus berseliweran dalam batin.
Terlalu santai pun biasanya juga mengganggu.  Batin biasanya melayang-layang terbang teringat kesenangan yang lalu.

Waktu ideal utk bermeditasi itu tergantung masing2 orang.  Yang penting berkesinambungan jangan sampai putus.  Misalnya hari ini ada acara, maka meditasinya di tunda.  Atau lagi capek maka hari ini gak meditasi, besoknya baru ganti 2x lipat.
Kalo saya pribadi cocoknya minimal sejam baru puas waktu utk meditasinya.


Soal SILA, agama buddha itu agama praktek.  Seperti yang buddha katakan Ehipassiko, buktikan oleh diri sendiri.

Nanti kalo anda berkesempatan ikut retreat lagi dengan pembimbing yang bagus, kemudian anda berhasil mencapai kondisi "bahagia" yg seperti pernah anda alami itu, coba aja anda langgar sila sedikit, misalnya sengaja berbohong atau ngomong besar, atau sengaja mencuri makanan sedikit. Pasti anda akan langsung merasakan batin itu drop.

Kalau anda sudah merasakan sendiri nantinya, tekun bermeditasi maka batin tenang bahagia, terus melanggar sila. Batin drop lagi.
Ulangi lagi bermeditasi.  Batin bisa tenang bahagia lagi.  Dan melanggar sila lagi. Batin drop lagi.
Berulang-ulang demikian halnya nanti sila itu akan otomatis menjadi bagian sikap hidup yang anda akan jaga dengan sendirinya.
Karena anda akhirnya tahu, melanggar sila = kondisi batin jatuh.
Kondisi batin jatuh = tidak bisa mencapai samadhi yang tenang.

Soal dahi yang tegang dan sakit itu hal yang wajar, itu suatu proses.
simpul di dahi anda masih tersumbat, kalo rutin latihan suatu saat simpul itu akan lancar dan anda akan merasakan kelegaan yg luar biasa nantinya.
Title: Re: Kadar....
Post by: sala45 on 22 April 2016, 09:08:37 PM
Yang pertama, kondisi jasmani jelas saja sangat mempengaruhi kondisi batin terutama utk meditator tahap awal.
Terlalu capek, pasti susah konsentrasi.  Malahan gampang tertidur.
Terlalu sibuk dengan aktifitas sehari-hari, biasanya sewaktu mulai meditasi hanya tumpukan pikiran tentang pekerjaan sehari2 yang belum selesai terus berseliweran dalam batin.
Terlalu santai pun biasanya juga mengganggu.  Batin biasanya melayang-layang terbang teringat kesenangan yang lalu.

Waktu ideal utk bermeditasi itu tergantung masing2 orang.  Yang penting berkesinambungan jangan sampai putus.  Misalnya hari ini ada acara, maka meditasinya di tunda.  Atau lagi capek maka hari ini gak meditasi, besoknya baru ganti 2x lipat.
Kalo saya pribadi cocoknya minimal sejam baru puas waktu utk meditasinya.

.kesombongan.

Quote
Soal SILA, agama buddha itu agama praktek.  Seperti yang buddha katakan Ehipassiko, buktikan oleh diri sendiri.

Nanti kalo anda berkesempatan ikut retreat lagi dengan pembimbing yang bagus, kemudian anda berhasil mencapai kondisi "bahagia" yg seperti pernah anda alami itu, coba aja anda langgar sila sedikit, misalnya sengaja berbohong atau ngomong besar, atau sengaja mencuri makanan sedikit. Pasti anda akan langsung merasakan batin itu drop.

Kalau anda sudah merasakan sendiri nantinya, tekun bermeditasi maka batin tenang bahagia, terus melanggar sila. Batin drop lagi.
Ulangi lagi bermeditasi.  Batin bisa tenang bahagia lagi.  Dan melanggar sila lagi. Batin drop lagi.
Berulang-ulang demikian halnya nanti sila itu akan otomatis menjadi bagian sikap hidup yang anda akan jaga dengan sendirinya.
Karena anda akhirnya tahu, melanggar sila = kondisi batin jatuh.
Kondisi batin jatuh = tidak bisa mencapai samadhi yang tenang.

tdk akan pernah sampai

Quote

Soal dahi yang tegang dan sakit itu hal yang wajar, itu suatu proses.
simpul di dahi anda masih tersumbat, kalo rutin latihan suatu saat simpul itu akan lancar dan anda akan merasakan kelegaan yg luar biasa nantinya.

kesombongan

kerjakan pekerjaan terakhir.saya periksa rapormu.


Title: Re: Kadar....
Post by: sala45 on 23 April 2016, 07:42:15 PM
Xxxxx.
Title: Re: Kadar....
Post by: sala45 on 24 April 2016, 06:32:21 PM
logis belum tentu benar.
Title: Re: Kadar....
Post by: Lex Chan on 25 April 2016, 09:28:01 AM
Maaf klo OOT
Tapi yang seperti apa dalam meditasi yang dikatakan mencapai Jhana?
Adakah parameter yang akurat untuk mengukur bahwa seseorang bermeditasi sudah menembus jhana?
Apakah kuantitas Dari meditasi maksud saya "seringnya" orang meditasi maka dipastikan dapat mencapai kondisi jhana ini?
Bagaimana membedakan seseorang yang meditasinya sudah mencapai jhana Dan yang belum?  Perbedaan yang nampak adakah dalam perilaku beliau misalnya???

Maaf sekali lagi... Saya tertarik DG topik ini tapi tidak memahami uraian2 diatas.. Trims _/\_

Jhana tidak sama dengan kesucian. Yang sudah mencapai jhana bisa jadi tahu bahwa dirinya sudah mencapai, tetapi bisa juga tidak sadar bahwa dirinya sudah mencapai jhana. Terlepas dari tahu atau tidak tahu, si pencapai jhana tidak dapat mendeskripsikan jhana dengan akurat.

Analoginya seperti ini: Ajaklah anak balita pergi ke Monas. Pada saat si anak dan kamu sudah mencapai Monas, kamu tahu bahwa kamu sudah mencapai Monas tapi si anak balita belum tentu tahu bahwa dia ada di Monas. Kemudian, baik kamu maupun si anak balita tidak mampu mendeskripsikan Monas dengan akurat kepada orang yang belum pernah pergi ke Monas (atau yang pernah melihat Monas). Apakah perilaku orang yang sudah pernah pergi ke Monas berbeda dari perilaku orang yang belum pernah pergi ke Monas? ;)