//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Rekonsiliasi, Benar & Salah  (Read 1628 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Jerry

  • Sebelumnya xuvie
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.212
  • Reputasi: 124
  • Gender: Male
  • Suffering is optional.. Pain is inevitable..
Rekonsiliasi, Benar & Salah
« on: 10 April 2010, 02:32:20 AM »
Perdamaian Kembali, Benar & Salah
oleh
Thanissaro Bhikkhu
© 2004–2009

"Dua ini adalah orang bodoh. Dua yang mana? Orang yang tidak melihat pelanggarannya sebagai sebuah pelanggaran, dan orang yang tidak dengan tulus memaafkan orang lain yang telah mengakui pelanggarannya. Dua ini adalah orang bodoh.

"Dua ini adalah orang bijak. Dua yang mana? Orang yang melihat pelanggarannya sebagai sebuah pelanggaran, dan orang yang dengan tulus memaafkan orang lain yang telah mengakui pelanggarannya. Dua ini adalah orang bijak."
— AN 2.21

"Merupakan penyebab pertumbuhan dalam Dhamma dan Vinaya para ariya ketika, menyadari sebuah pelanggaran sebagai pelanggaran, seseorang lalu memperbaiki dalam kesesuaian dengan Dhamma dan melatih pengendalian ke depannya."
— DN 2

Sang Buddha berhasil mendirikan sebuah agama yang telah menjadi sebuah kekuatan sejati bagi kedamaian dan keharmonisan, tidak hanya karena tingginya nilai yang beliau tempatkan pada kualitas-kualitas ini tetapi juga karena arahan saksama yang beliau berikan mengenai bagaimana mencapainya melalui pemaafan dan perdamaian kembali. Inti dari arahan-arahan ini adalah pandangan cerahnya bahwa pemaafan adalah satu hal, berdamai kembali adalah hal lain.

Kata Pali untuk pemaafan-khama-juga berarti "bumi." Sebuah pikiran yang seperti bumi adalah tidak reaktif dan tidak gelisah. Ketika kamu memaafkan saya karena menyakitimu, kamu memutuskan untuk tidak membalas, untuk tidak mendendam. Kamu tidak harus menyukai saya. Kamu hanya tidak membebani dirimu dengan beratnya kebencian dan memotong lingkaran pembalasan yang jika tidak akan membuat kita tetap terjerat dalam sebuah pergulatan samsara yang buruk. Ini adalah sebuah hadiah yang dapat kamu berikan pada kita berdua, sepenuhnya pada dirimu sendiri, tanpa aku harus tahu atau mengerti apa yang telah kamu lakukan.

Perdamaian kembali -- patisaraniya-kamma -- berarti sebuah jalan kembali menuju keramah-tamahan, dan itu memerlukan lebih dari sekadar pemaafan. Itu memerlukan penumbuhan kepercayaan kembali. Jika saya menyangkal tanggung jawab atas tindakan saya, atau mempertahankan bahwa saya tidak melakukan kesalahan, tidak ada cara kita dapat didamaikan. Demikian pula, jika saya bersikeras bahwa perasaanmu tidak menjadi masalah, atau bahwa kamu tidak memiliki hak untuk menentukan apakah saya sesuai standar benar dan salah kamu, kamu tidak akan percaya saya tidak akan menyakitimu lagi. Untuk memperoleh kembali kepercayaan kamu, saya harus menunjukkan respek saya padamu dan untuk standar bersama kita mengenai apa yang merupakan dan bukan merupakan kelakuan yang dapat diterima; mengakui bahwa saya menyakitimu dan bahwa saya bersalah melakukan demikian; dan berjanji untuk melatih pengendalian ke depannya. Di saat yang sama, kamu harus membangkitkan kepercayaan saya, juga, dalam cara terhormat kamu menjalani proses berdamai kembali. Hanya dengan demikian barulah persahabatan kita memperoleh pijakan kuat kembali.

Demikianlah ada cara benar dan salah dalam usaha perdamaian kembali: hal-hal yang dengan mahir memenuhi persyaratan untuk membangun kembali kepercayaan, dan hal-hal yang tidak. Untuk menganjurkan perdamaian kembali yang benar di antara para pengikutnya, Sang Buddha merumuskan metode terperinci untuk mencapainya, bersamaan dengan pembudidayaan nilai-nilai yang mendorong agar menggunakan metode-metode itu.

Metode-metode tersebut terkandung dalam arahan-arahan Pali Vinaya agar bagaimana para bhikkhu seharusnya mengakui penyerangan mereka satu sama lain, bagaimana mereka seharusnya berdamai kembali dengan umat awam yang mereka bersalah padanya, bagaimana mereka seharusnya menyelesaikan perselisihan berkepanjangan, dan bagaimana sebuah perpecahan penuh dalam Sangha seharusnya disembuhkan. Meskipun ditujukan pada para bhikkhu, arahan-arahan ini mewujudkan prinsip-prinsip yang berlaku bagi siapapun yang mencari perdamaian kembali dari perbedaan-perbedaan, baik personal atau politis.

Langkah pertama dalam setiap kejadian adalah sebuah pengakuan atas perbuatan salah. Ketika seorang bhikkhu mengakui sebuah penyerangan, seperti telah menghina bhikkhu yang lain, dia pertama mengakui telah melemparkan hinaan. Lalu dia setuju bahwa hinaan tersebut benar-benar sebuah serangan. Akhirnya, dia berjanji untuk mengendalikan dirinya dari mengulangi serangan di lain hari. Seorang bhikkhu yang mencari perdamaian kembali dengan seorang umat awam mengikuti pola yang sama, dengan seorang bhikkhu lain, yang dalam hubungan yang bersahabat dengan umat awam tersebut, bertindak sebagai mediator. Jika sebuah perselisihan telah memecah Sangha ke dalam golongan-golongan yang bersama-sama telah berlaku tidak sepantasnya, maka ketika golongan-golongan ini mencoba berdamai kembali mereka disarankan pertama untuk menjernihkan atmosfir kembali dalam sebuah prosedur yang disebut "menutupi dengan rumput." Kedua belah pihak membuat sebuah pengakuan menyeluruh atas perbuatan salah dan sebuah ikrar tidak mengungkit serangan-serangan kecil yang dilakukan satu sama lain. Ini memberi kebebasan pada mereka untuk fokus pada perbuatan salah yang utama, apapun, yang menyebabkan atau memperburuk perselisihan.

Menyembuhkan sebuah perpecahan penuh dalam Sangha, kedua belah pihak diarahkan pertama-tama untuk menyelidiki ke dalam niatan dasar dari masing-masing pihak yang membawa pada perpecahan, karena jika niatan-niatan itu adalah kedengkian atau ketidakjujuran yang tak dapat ditebus, perdamaian kembali adalah tidak mungkin. Jika kelompok mencoba untuk menjahit luka kembali tanpa membawa pada akar perpecahan, tidak ada yang benar-benar telah disembuhkan. Hanya ketika niatan-niatan dasar telah menunjukkan dapat didamaikan kembali dan perbedaan-perbedaan dapat diselesaikan barulah Sangha dapat melakukan upacara singkat yang membangun kembali keharmonisan.

Meliputi arahan-arahan ini adalah penyadaran bahwa perdamaian kembali yang sejati tidak dapat hanya didasarkan pada hasrat akan keharmonisan. Ia memerlukan sebuah pengertian bersama mengenai tindakan-tindakan apa yang menciptakan ketidak-harmonisan, dan sebuah ikrar untuk mencoba menghindari tindakan-tindakan itu di masa depan. Ini pada gilirannya memerlukan sebuah persetujuan yang diungkapkan dengan gamblang mengenai -- dan komitmen kepada -- standar bersama mengenai benar dan salah. Bahkan jika kelompok-kelompok menuju sebuah perdamaian kembali setuju untuk tidak setuju, persetujuan mereka memerlukan membedakan antara cara-cara yang benar dan salah dalam menangani perbedaan-perbedaan di antara mereka.

Tetapi benar dan salah telah mendapatkan sebuah kecaman buruk dalam lingkungan Buddhist Barat, terutama karena cara-cara dalam mana yang telah kita lihat penyalahgunaan benar dan salah dalam kebudayaan kita sendiri -- seperti ketika seseorang mencoba untuk memaksakan standar-standar yang sewenang-wenang atau hukuman-hukuman yang bersifat buruk pada yang lain, atau dengan munafik menuntut agar yang lain mematuhi standar-standar yang dia sendiri tidak.

Untuk menghindari berbagai penyalahgunaan ini, beberapa orang telah menasehatkan hidup dengan sebuah pandangan non-dual yang melebihi kemelekatan terhadap benar dan salah. Pandangan ini, bagaimanapun, terbuka untuk disalahgunakan pula. Dalam komunitas-komunitas dimana ia disertakan, anggota-anggota tak bertanggung jawab dapat menggunakan retorika non-dualitas dan ketidakmelekatan untuk memaafkan kelakuan yang sejatinya membahayakan; korban-korban mereka ditinggal terkatung-katung, tanpa standar-standar yang umumnya diterima mengenai yang mana untuk menjadi dasar pertimbangan mereka dalam memperbaiki. Bahkan tindakan dari memaafkan menjadi tersangka dalam sebuah konteks demikian, karena apa hak yang dimiliki para korban untuk menentukan tindakan-tindakan tertentu memerlukan pemaafan atau tidak? Terlalu sering, para korban merupakan pihak yang salah karena memaksakan standar-standar mereka pada yang lain dan tidak mampu untuk mengatasi pandangan dualistik.

Ini berarti bahwa benar dan salah tidak benar-benar diatasi dalam komunitas demikian. Mereka hanya sekedar telah disusun kembali: Jika kamu dapat mengklaim sebuah perspektif non-dual, kamu tetap dalam pihak yang benar tidak perduli apa yang telah kamu lakukan. Jika kamu mengeluh tentang kelakuan orang lain, kamu dalam pihak yang salah. Dan karena penyusunan kembali ini tidak secara terbuka mengakui sebagaimana demikian, ia menciptakan sebuah atmosfir kemunafikan di mana perdamaian kembali yang sejati tidaklah memungkinkan.

Jadi solusi berada tidak dalam meninggalkan benar dan salah, tetapi dalam mempelajari bagaimana menggunakan mereka secara bijak. Demikianlah Sang Buddha mem-backup metode-metodenya untuk perdamaian kembali dengan sebuah pembudidayaan nilai-nilai di mana benar dan salah menjadi alat-alat bantu dibandingkan rintangan-rintangan menuju perdamaian kembali. Untuk menghindari mereka yang benar dari menyalahgunakan posisi mereka, beliau menasehati bahwa mereka harus merefleksikan pada diri mereka sendiri sebelum mereka menuduh yang lain telah berbuat salah. Daftar pertanyaan-pertanyaan yang dia rekomendasikan adalah sebagai berikut: "Apakah saya terbebas dari serangan-serangan tak terdamaikan oleh saya sendiri? Apakah saya dimotivasi oleh kebajikan, alih-alih dendam? Apakah saya benar-benar jernih atas standar-standar bersama kami?" Hanya jika mereka dapat menjawab "ya" pada pertanyaan-pertanyaan ini seharusnyalah mereka membawa naik permasalahan ini. Lebih jauh lagi, Sang Buddha merekomendasikan agar mereka menekadkan untuk berbicara hanya kata-kata yang benar, tepat waktu, lembut, tepat sasaran, dan dimotori oleh kebaikan. Motivasi mereka haruslah belas-kasih, keprihatinan  bagi kesejahteraan dari semua pihak terkait, dan hasrat untuk melihat rehabilitasi pada si pembuat kesalahan, bersama dengan sebuah hasrat utama untuk berpegang pada prinsip-prinsip yang adil mengenai benar dan salah.

Untuk menyemangati agar si pembuat kesalahan melihat perdamaian kembali sebagai sebuah kemenangan alih-alih sebuah hal kekalahan, Sang Buddha memuji penerimaan yang jujur terhadap tuduhan sebagai sebuah tindakan yang terhormat alih-alih memalukan: tidak hanya sekadar sebuah cara saja, melainkan cara untuk mendapat kemajuan dalam latihan spiritual. Sebagaimana beliau memberitahukan pada anaknya, Rahula, kemampuan untuk menyadari kesalahan seseorang dan mengakuinya pada orang lain adalah faktor esensial dalam mencapai kemurnian dalam pikiran, ucapan, dan perbuatan [MN 61]. Atau sebagaimana beliau lantunkan dalam Dhammapada, orang yang menyadari kesalahan mereka sendiri dan merubah cara mereka "menyinari dunia seperti bulan yang terbebas dari awan" [Dhp 173].

Dalam tambahan menetapkan pendorong-pendorong ini agar dengan jujur mengakui kelakuan salah, Sang Buddha memblokir jalan menuju penyangkalan. Para sosiologis modern telah mengidentifikasi lima strategi dasar yang orang gunakan untuk menghindari menerima tuduhan ketika mereka telah menyebabkan kerusakan, dan patut dicatat bahwa ajaran kitab Pali mengenai tanggung jawab moral sesuai untuk menandai kesemua lima poin tersebut. strategi-strategi tersebut adalah: (1) Kita selalu bertanggung jawab terhadap pilihan sadar kita. (2) Kita seharusnya selalu menempatkan diri kita dalam posisi orang lain. (3) Semua makhluk adalah patut dihormati. (4) Kita seharusnya menganggap mereka yang menunjukkan kesalahan-kesalahan kita bagaikan jika mereka menunjukkan harta karun. (Para bhikkhu, dalam kenyataannya, diwajibkan untuk tidak menunjukkan rasa tidak hormat pada orang yang mengkritisi mereka, bahkan jika mereka tidak merencanakan untuk menyesuaikan diri dengan kritisisme tersebut.) (5) Tidak ada -- diulangi, tidak ada -- tujuan lebih mulia yang membenarkan pelanggaran sila-sila dasar mengenai kelakuan moral.

Dalam menyusun standar-standar ini, Sang Buddha menciptakan sebuah konteks nilai-nilai yang mendorong kedua belah pihak memasuki dalam sebuah perdamaian kembali dengan menggunakan ucapan benar dan terlibat dalam refleksi diri mendasar yang jujur, bertanggung jawab terhadap semua praktek Dhamma. Dalam cara ini, standar-standar tentang kelakuan benar dan salah, alih-alih menjadi menekan atau picik, menimbulkan kepercayaan yang mendalam dan bertahan lama. Dalam tambahannya menciptakan keharmonisan eksternal yang kondusif untuk praktek Dhamma, proses perdamaian kembali dengan demikian juga menjadi sebuah kesempatan bagi pertumbuhan dalam diri.

Sang Buddha mengakui bahwa tidak semua perselisihan dapat didamaikan kembali. Ada kalanya ketika satu atau kedua belah pihak tidak menginginkan untuk berlatih kejujuran dan pengendalian yang dibutuhkan perdamaian kembali yang sesungguhnya. Begitupun, akan tetapi, pemaafan masih merupakan sebuah pilihan. Inilah kenapa pembedaan antara perdamaian kembali dan pemaafan begitu penting. Ia mendorong kita untuk tidak menyelesaikan hanya sekadar pemaafan ketika penyembuhan sejati melalui perdamaian kembali yang benar memungkinkan, dan ia mengijinkan kita untuk bermurah hati dengan pemaafan kita bahkan ketika ia tidak memungkinkan.

_/\_
appamadena sampadetha