//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: The One Way - by Ven. Piyasilo  (Read 2404 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
The One Way - by Ven. Piyasilo
« on: 26 November 2012, 12:01:26 AM »
The One Way - by Ven. Piyasilo
Makalah ini ditulis oleh Venerable Piyasilo dari Damansara Buddhist Vihara dan dipersembahkan khusus utk Unisains Buddhist dari Universiti Sains Malaysia, Pulau Pinang. Makalah ini juga dipresentasikan pada
Singapore Dharma Interaction Ketiga (22 - 26 Oktober 1981), dan merupakan working-paper pada seminar mengenai Theravada dan Mahayana (19 - 20 Desember 1981), di Pulau Pinang. 

Judul           :"The One Way - A Comparative Study of Mahayana and
                  Theravada"
Penulis         :Ven. Piyasilo - Damansara Buddhist Vihara
Penerjemah      :Ir. Edij Juangari
Penerbit        :Yayasan Penerbit Karaniya

Jalan Tunggal(Tentang kesatuan spritual aliran-aliran dlm agama Buddha)
Telah lebih dari satu dekade saya menjadi seorang misionaris yg aktif. Memiliki latar pendidikan yg berbahasa Inggris, saya mulai mengenal Buddhisme Theravada, dimana saat itu saya sulit membedakan antara Taoisme  modern yg menyimpang (Taoisme awal lebih cenderung batiniah) dgn Mahayana. Karenanya saya mengalami kesalahpahaman dan prasangka seperti yg dimiliki kaum 'Theravada fanatik" thd  Mahayana.

Setelah ditahbiskan oleh Sesepuh Agung XVII dari Thailand, kemudian saya melanjutkan latihan dan studi kebhikkuan di Thailand dimana selesai dlm waktu lima tahun yg merupakan masa yg sangat vital bagi perkembangan pengertian dan semangat kebhikkuan saya.

Orang Thailand mengajarkan kpd saya cara hidup Buddhis yg ceria dan penuh toleransi. Vihara mengajarkan bagaimana menjadi mandiri dan bertenggang rasa. Sebagai orang yg bukan berasal dari Thailand, saya cukup beruntung tidak perlu lebih banyak terikat pada aspek kultural yg melekat dlm agama ini. 

Dilema

Seperti semua Theravadin yg baik, saya diajar dan percaya bahwa hanya  kearahatan, bahwa perempuan tak akan bisa menjadi Buddha, dsb. Mahayana, sebaliknya, berbicara mengenai banyak Buddha, cita-cita Bodhisattva, dan bahwa perempuan punya sedikit kesulitan saja utk menjadi Buddha. Ketidkserupaan yg tampak jelas ini meninggalkan keresahan bagi saya. Saya menerima Theravada sbag ajaran yg cukup 'murni', namun pada saat yg sama tidak pernah terbesit dlm pikiran saya utk mengesampingkan tradisi Mahayana sbg agama Buddha yg 'menyimpang' atau ' belakangan'. Ini merupakan misteri yg menurut hemat saya mesti disingkapkan.

Hadiah Dharma di hari lahir

Di pertengahan tahun 1979 saya mendapatkan keberuntungan mengikuti Dharma tour ke Eropa Barat dan menghabiskan masa vassa di Belanda. Peristiwa paling berkesan adalah perjumpaan dgn rekan-rekan dari Friends of the Western Buddhist Order dan pertemuan dgn Y.A. Sangharakshita. 

Saya mendengarkan ceramah Y.A. Sangharakshita ttg Vimalakirti Nirdesa dgn judul 'Pembebasan Yg Tak Tercerapi', 'Kegaiban dari sebuah Sutra Mahayana' (dari kaset), 'Membangun Tanah Buddha' dan ' Tentang Segala Sesuatu Utk Semua Orang'.  Setelah mendengarkan ceramah tsb, saya terpesona oleh kejelasan sang pembicara dan kedalaman tradisi Buddhis.  Sekarang terbukalah misteri kuno itu - Bodhisattva, Tanah Suci, Buddha Semesta dsb. Itu merupakan kado ulang tahun (ketiga puluh) terbaik yg pernah saya dapatkan - kado pemahaman thd Mahayana.

Sejak saat itu saya tidak begitu sulit memahami dan mengerti berbagai Sutra dan tulisan Mahayana. Selama bertahun-tahun saya selalu berbicara mengenai Sutta Pali, dan orang yg saya latih telah mampu membabarkan Sutta itu dgn fasih. Telah tiba waktunya bagi saya utk beralih ke Sutra Mahayana seperti yg kemudian saya lakukan. Dalam Second National Dharma Interaction April 1980, saya mengawali dgn memberikan dua buah khotbah Dharma ttg Sutra Intan. Setelah itu, saya juga mulai membicarakan Sutra Hati, Sutra Sesepuh Keenam, Sutra Amitabha, dan Sutra Empat Puluh Dua Bagian, serta Sutra Teratai.

Membabarkan atau tidak?

Saya memerlukan waktu sekitar satu dekade utk memahami tradisi Mahayana - sesungguhnya tradisi Buddhis. Tahun-tahun yg saya lalui di vihara Theravada banyak membantu terbentuknya pengertian saya pd Mahayana. Sekarang telah tumbuh keyakinan dlm diri saya bahwa jika seseorang mengerti satu tradisi sekalipun - apakah itu Theravada, Mahayana, atau Vajrayana - ia juga akan memahami semua tradisi yg lain. Namun ia harus berusaha dan membuka pikirannya. Mereka yg mengutuk tradisi Buddhis manapun tidak memahami tradisinya sendiri.

Setelah memahami misteri yg indah ini, dorongan pertama saya adalah secepatnya menurunkan hal ini kpd teman Buddhis lainnya. Tugas ini terbukti lebih sulit dari yg saya perkirakan. Bagaimana mereka bisa mengerti - dgn semua keterbatasan intektual, prasangka, kesalahpahaman, dan prioritas yg salah? Godaan utk membiarkan semuanya seperti semula besar adanya - namun setelah mengetahui begitu banyak tentang Dharma yg demikian indah itu, bagaimana mungkin kita berdiam diri? Hal itu tentu terlalu mementingkan diri sendiri - oleh karena itulah saya pikir betapa harus berterima kasihnya kita kepada Sang Buddha yg telah begitu berwelas asih membabarkan Dharma.

Purama menolak hasil Konsili Pertama

Tujuan saya dlm penelitian sederhana ini adalah utk mencoba menjawab persoalan berikut : Adakah satu aliran agama Buddha yg merupakan satu-satunya Ajaran yg benar dan lengkap? Jika ada, aliran yg mana itu? Jika tidak ada, adakah paling tidak sesuatu ajaran dan praktik yg umum di antara berbagai aliran dlm agama Buddha? Ketika Sang Buddha masih hidup, masalah ini tidak muncul. Masalah ini muncul segera setelah Parinirvana Beliau dan menjadi jejak yg mencirikan perkembangan agama Buddha melintas keluar India sepanjang sejarah.

Diskusi manapun yg berkenaan dgn sejarah dan ajaran berbagai aliran dlm  agama Buddha harus dimulai dgn Konsili Buddhis Pertama - yg dikatakan diketuai oleh Sesepuh Maha Kassapa diGua Sattapanni, di sebelah Karang Vebhara di Rajagaha (India Utara) tiga bulan setelah Sang Buddha Parinirvana. Konsili dikatakan telah mengumpulkan semua dan menjernihkan - atau ' mengkanonkan', utk menggunakan istilah yg lebih teknis - ajaran ortodoks dari Sang Buddha. Metode yg digunakan merupakan pengulangan (sangiti) dari Dhamma dan Vinaya.

Pertanyaan ttg sejarah dan keaadan Konsili Pertama telah menjadi subyek perdebatan yg ramai di antara para cendekiawan sejak permulaan abad ini. Di sini cukuplah dinyatakan bahwa tdp bukti yg bisa dipercaya utk mendukung sejarah keberadaan Konsili Pertama ini. Cukup menarik bahwa di dlm Vinaya tercatat adanya paling sedikit satu bhikkhu yg memilih berbeda pendapat dgn hasil Konsili ini dan mengingat Dhamma miliknya sendiri, seperti yg telah ia terima dari Sang Buddha. Orang ini adalah Purana yg kembali dari daerah selatan sesudah berakhirnya Konsili.

Penolakan Purana utk mengikuti pengulangan kembali Dhamma dan Vinaya dlm Konsili Pertama membuktikan dua point penting. Pertama, kisah penolakannya tidak dpt dijelaskan tanpa menerima penyucian Ajaran Sang Buddha yg tidak diterima olehnya. Tidak juga mungkin utk menganggap episode ini sebagai rekaan belaka, karena hal itu sukar memenuhi keinginan utk meninggikan nilai penyucian ini; ia lebih mengurangi kekuasaan para tetua (sthavira/thera) dlm Konsili Pertama. 

Point kedua yg dibuktikan oleh penolakan Purana adalah bahwa agama Buddha itu demokratis dari akarnya. Terdapat ruang utk keraguan dan kemerdekaan memilih dan percaya. Sesungguhnya, jika tdp sejumlah bhikkhu yg sedang berada di tempat yg jauh sehingga tidak dapat mengikuti Konsili itu, sangat mungkin tdp sejumlah wejangan yg diingat mereka dan diturunkan kpd murid-murid mereka, yg tidak terkumpulkan dlm Konsili itu meskipun autentik. Di bawah kondisi ini, tampaknya cukup beralasan utk memasukkan wejangan itu ke dalam kitab suci Tripitaka di kemudian hari. Sang Buddha sendiri sebenarnya juga telah menurunkan satu seri aturan utk menghadapi situasi seperti ini. Misalanya saja, jika seseorang menyatakan memiliki sebuah naskah asli yg tdk tdp di dalam Sutta (Dhamma) atau di dlm Vinaya, maka naskah itu harus diuji silang thd Sutta dan Vinaya dan dapat diterima hanya jika ia selaras dengannya.

Apa yang sebenarnya terjadi dalam Konsili Pertama?

Apakah Kitab Suci Pali yg kita miliki saat ini sama dgn yg diperdengarkan ulang dlm Konsili Pertama? Pada saat berlangsungnya Konsili Pertama, tercatat bahwa Ananda menyuarakan kembali Vinaya tidak disebut soal Abhidhamma. Dua aliran awal dlm agama Buddha - Sthaviravada (asal mula Theravada) dan Mahasanghika (pendahulu dari Mahayana) - tidak menyebutkan soal penyuaraan kembali Abhidhamma, dan karena persetujuan dari kedua aliran inilah yg semestinya mengadakan tradisi tekstual yg paling tua, tampak oleh kita bahwa pada mulanya hanya tdp dua Kumpulan (pitaka) - Sutta dan Vinaya.

Masalah seterusnya adalah apakah mungkin bahwa dua bagian utama dari Tripitaka - Sutta dan Vinaya - ada di sana dan akhrinya disusun di Konsili Pertama itu sendiri (apalagi utk memikirkan penyusunan Abhidhamma ke dalam Kumpulan seperti yg disebutkan di dlm Komentar Digha Nikaya). Vinaya menyatakan bahwa bulan pertama vassavasa dihabiskan utk memperbaiki tempat tinggal para bhikkhu. Lalu kemudian bagaimana dlm sisa dua bulan keseluruhan Sutta dan Vinaya dpt diperdengarkan kembali, yg dlm Konsili Ketiga dibutuhkan waktu sembilan bulan penuh (bersama dgn Abhidhamma) . Karenanya dianggap bahwa Konsili Pertama paling-paling bersetuju mengenai point-point utama dari doktrin dan disiplin Persamuan. Ini boleh membentuk landasan bagi pertumbuhan Kitab Suci. (Boleh dicatat di sini bahwa Kathavatthu, buku mengenai Abhidhamma, dan yg disusun oleh Moggaliputta Tissa dimasukkan ke dalam Kitab Suci Pali hanya di Konsili Ketiga yg dipimpinnya sendiri).

Sang Buddha tidak berbahasa Pali

Tidak satupun bagian dari Kitab Suci Pali ada menyebutkan bahwa Sang Buddha berbahasa Pali. Kata 'Pali' tidak ditemukan dlm Tripitaka. Kemunculannya yg pertama ada di masa belakangan di dalam Komentar-Komentar. Dalam Komentar-Komentar kata 'Pali' sering berarti suatu ' naskah kitab suci'. Sedangkan utk bahasa dari Kitab Suci 'Pali', Komentar-Komentar memberitahu kita bahwa itu adalah bahasa Magadhi.

Kita tidak memiliki bukti konkrit mengenai bahasa apa yg dipakai Sang Buddha. Sangat mungkin, menimbang berbagaiwilayah yg dicakupnya, Beliau menggunakan lebih dari satu dialek.  Satu petunjuk mengenai ini diberikan dlm Vinaya di mana diceritakan bagaimana dua orang bhikkhu mengeluh kpd Sang Buddha bahwa bhikkhu-bhikkhu lain dari daerah-daerah yg berbeda mengubah kata-kata Sang Buddha ke dalam dialek mereka sendiri (sakaya niruttiya). Mereka kemudian mengusulkan agar Ajaran diterjemahkan ke dalam syair-syair Veda (chandaso). Namun Sang Buddha menolak memberikan restuNya dan menambahkan, "Aku mengizinkan kalian, wahai Bhikkhu, utk mempelajari Kata-kata Sang Buddha dlm dialek masing-masing." (Vin 2:129).  Dalam Arana-vibhanga Sutta , Sang Buddha menasihati para bhikkhu utk menyesuaikan diri dgn bahasa-bahasa setempat di mana mereka memberikan ajaran. Lebih lanjut dalam Kinti Sutta, Sang Buddha menekankan bahwa orang seharusnya lebih memperhatikan makna dan jiwa daripada hanya kata-kata.

Sebelumnya, saya menyebutkan bahwa Komentar-Komentar menjelaskan istilah 'Pali' merujuk kepada lidah 'Magadhi' - yaitu bahasa yg diduga digunakan dlm Konsili Ketiga di Pataliputra di bahwa lindungan Asoka. 'Magadhi' ini dan bahasa dari Kitab Suci Pali seperti yg kita miliki menunjukkan identitas linguistik yg sedikit. Sekarang Magadhi jaman Asoka menunjukkan paling sedikit dua dari tiga tanda pembedaan dari 'bahasa' Magadhi, yiatu, nominatif dalam 'e' sebagai 'o' (misalanya, Maghadi menggunakan 'deve' sementara Pali 'devo', "dewa"), dan penggunaan 'l' sebagai pengganti 'r' (misalnya 'laja' menjadi 'raja'). Banyak sarjana karenanya menyimpulkan bahwa Kitab Suci Pali kita yg sekarang bukanlah yg disusun dlm Konsili Ketiga meskipun keduanya sangat mirip.

Telah sering dianggap bahwa bahasa Pali merupakan dealek Ujjeni di daerah Barat karena ia paling dekat dgn bahasa inskripsi-inskripsi Asoka dari Girnar (Gujerat) dan juga karena dialek Ujjeni dikatakan sbag bahasa ibu dari Mahinda yg membawa agama Buddha ke Srilanka. Beberapa sarjana menyatakan bahwa Kitab Suci Pali diterjemahkan dari beberapa dialek yg lain (dari Ardha-Magadhi kuno). Kekhasan bahasanya dpt dijelaskan sepenuhnya dgn hipotesis dari (a) perkembangan dan integrasi berlanjut dari berbagai unsur dari berbagai daerah di India, (b) suatu tradisi oral yg panjang yg merentang lebih dari beberapa abad, dan (c) kenyataan bahwa naskah-naskah itu ditulis di negeri lain (yakni di Srilanka), menyatakan bahwa Kitab Suci Pali yg sekarang kemungkinan merupakan suatu salinan yg cukup baik dari risensi Ujjeni, dalam bentuk dialek Avanti.

Sumber awal yang sama dari Theravada dan Mahayana 

Di masa Asoka (abad ketiga sebelum Masehi), paling sedikit tiga Kitab Suci diselesaikan: Theravada, Sarvastivada, dan Mahasanghika. Dua yg pertama sangat dekat hubungannya. Kitab Suci Pali yg diwariskan kpd kita oleh Theravada tidak diragukan tumbuh secara bertahap di sekitar init dari naskah kuno dari beragam jenis Sutta panjang, sedang dan pendek, Gatha (sajak), Geyya (nyanyian), Jataka (kisah-kisah kelahiran), Udana (ungkapan hening), dsb - sama halnya dgn Kitab Suci lain, yg mengandung kategori naskah yg sama.

Tidaklah mungkin utk mengatakan apakah suatu syair Pali dlm bentuknya sekarang berasal dari masa Sang Buddha . Perubahan teknik di dalam kitab suci menyiratkan suatu masa perkembangan yg cukup panjang sebelum abad kedua SM. Bagaimanapun juga, penting utk diingat bahwa kesamaan formal antara Kitab Suci Pali dan Kitab Suci aliran lain yg lebih awal menunjukkan asal usul yg sama dari 'benih' asal di masa sebelum pemisahan sektarian telah terlalu jauh memisahkan mereka. Perlu ditekankan juga bahwa semua kitab suci tertulis adalah sektarian dari luar. Penemuan modern atas sisa-sisa naskah kuno seperti Udanavarga dan Dhammapada Gandhari, dan penelitian yg mengikutinya membuktikan bahwa naskah-naskah ini bukan merupakan terjemahan dari Kitab Suci Pali. Sebuat riset yg mendalam telah mengungkapkan bahwa baik Kitab Suci Pali maupun Sanskerta dapat ditelusuri ke asal yg sama yg diyakini berasal dari dialek Timur, yg dipakai sbg idiom di wilayah kerajaan Buddha.

Asal Usul Mahayana

Bukti-bukti literal menunjukkan bahwa tradisi Mahayana berasal dari India Selatan pada abad pertama Masehi. Terdapat referensi dlm Sutra Mahayan sendiri (misalnya, Astasahasrika Prajnaparamita 225 yg merupakan naskah paling awal dari Mahayana pada abad pertama SM), seperti yg dikenal di Selatan setelah Sang Buddha Parinirvana, setelah mana mereka akan berkembang ke Timur dan kemudian ke Utara. Beberapa Guru terkemuka Mahayana dilahirkan di India Selatan, belajar di sana, dan kemudian pergi mengajar ke Utara- salah seorang yg paling awal dan paling penting adalah Nagarjuna.

Sekarang datang pertanyaan yg sangat jelas: mengapa wejangan-wejangan Mahayana seperti itu tidak dikenal dlm tradisi Pali?  Beberapa jawaban yg mungkin telah diberikan. Salah satunya adalah bahwa Mahayana muncul dari Mahasanghika yg memisahkan diri dari otoritas Konsili Kedua . Alasan lain adalah bahwa ajaran Mahayana yg telah diturunkan oleh para bhikkhu independen (yg seperti Purana menolak otoritas Konsili Pertama). Penjelasan lebih lanjut adalah bahwa Mahayana mewarisi, di zaman yg lebih belakangan dan lebih menguntungkan, ajaran-ajaran yg tidak beredar di dunia manusia di abad-abad itu, waktu itu tidak terdapat Guru yg kompeten dan tidak ada murid yg luar biasa. Sutra-sutra itu dilestarikan di dunia Naga dan lingkaran yg non-manusia, dan ketika di abad kedua Masehi Guru-guru yg memenuhi syarat muncul di India, naskah-naskah itu dijemput dan diedarkan. Cukup jelas bahwa tradisi historis yg tercatat di sini dimiliki oleh India Utara dan kebanyakan oleh Nalanda di Magadha. Alasan keempat adalah bahwa tradisi Mahayana memasukkan berbagai ajaran tradisional yg lain seperti Lokottaravada dan Satyasiddhi yg sejak itu lenyap.

Makna Asal 'Mahayana'

Istilah 'Mahayana' pertama kali digunakan utk menunjukkan prinsip, atau keadaan, atau pengetahuan tertinggi, darimana alam semesta ini bersama semua makhluknya, yg hidup maupun tidak hidup, merupakan suatu manifestasi, dan hanya melaluinya mereka dpt mencapai keselamatan akhir (nirvana). Mahayana bukanlah nama yg diberikan utk dotrin religius tertentu, tidak juga ada hubungannya dgn kontroversi doktrinal, meskipun belakangan ia begitu dimanfaatkan oleh pihak yg progresif.

Asvaghosa, penyebar aliran Mahayana yg kita kenal - hidup sekitar 400 tahun setelah Sang Buddha-menggunakan istilah ini dalam kitab religiofilosofisnya yg disebut 'Wejangan Mengenai Bangkitnya Keyakinan dalam Mahayana' sebagai sinonim dgn bhuta-tathata atau dharma-kaya, prinsip tertinggi dari Mahayana. Ia menyamakan  pengakuan, dan keyakinan dalam, keadaan dan prinsip tertinggi ini dgn kendaraan yg akan membawa orang dgn selamat menyeberangi samudra badai kelahiran dan kematian (samsara) ke pantai abadi Nirvana.

Tidak lama setelah Asvaghosa, bagaimanapun juga, kontroversi antara dua aliran dlm agama Buddha, konservatif dan progresif, seperti kita boleh menyebutnya, menjadi lebih dan lebih menyolok; dan ketika puncaknya, yang paling mungkin di masa Nagarjuna dan Aryadeva, yakni, beberapa abad setelah Asvaghosa, kaum progresif dgn jitu menciptakan istilah 'Hinayana' sbg lawan dari 'Mahayana',  yg terakhir ini kemudian diambil oleh mereka sbg semboyan aliran mereka sendiri.

Mahayana Tidak Berasal Dari Theravada

Kebanyakan naskah suci Mahayana tidak mudah dibaca pada awalnya. Naskah-naskah ini tidak boleh disalahpahami sbg bahan dasar yg dapat dimengerti di luar tradisi yg melahirkannya. Utk memahaminya, orang mesti cukup akrab dgn Tripitaka dari para Sthavira (Thera), karena ungkapan yg ada semuanya sezaman dgn latar belakang dari  perdebatan. Abhidarma Pali menyatakan , sebagai contoh, kesadaran, faktor-faktor mental, batin , dan Nibbana. Abhidharma meyakinkan kita bahwa tidak terdapat 'makhluk' atau 'orang' di sana, melainkan cuma sekumpulan 'realita' (dhamma). Namun meskipun sungguh tidak tidak eksis, mesti dimajukan  dgn cara-cara yg trampil. Sekarang  Kesempurnaan Kebijaksanaan pada gilirannya melihat pemisahan dari 'realita-realita' ini cuma sbg pembentukan berdasarkan pilihan, mendorong kita utk melihat bahwa semua tempat sebenarnya cuma satu kekosongan dan mengutuk semua bentuk aneka ragam sbg rintangan paling serius bagi pencapaian spritual yg lebih tinggi.

Akan sia-sia saja jika kita mencoba menurunkan Mahayana dari Theravada karena aliran Theravada hanya memiliki sedikit atau tidak ada pengaruh langsung thd perkembanan aliran-aliran Buddhis di Inida. Dalam tingkat perkembangan alirang selanjutnya, beberapa dari rumusan kepercayaan Mahayana muncul dari kontroversi dgn kaum Sarvativada dan pengikut Sutrantika (pengikut 'Sutra-saja) , namun dlm prakteknya tidak pernah dgn kaum Theravada. Seandainya Mahayana merupakan 'turunan' dari suatu aliran, maka aliran itu semestinya Mahasanghika (yang memisahkan diri dari Konsili Kedua). Bahkan inipun cuma setengah benar dan tampaknya pada mulanya, jauh dari memperkenalkan inovasi apapun, Mahayana melakukan tidak lebih dari meletakkan penekanan baru pada aspek-aspek tertentu dari sumber tradisional yg diterima secara umum.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: The One Way - by Ven. Piyasilo
« Reply #1 on: 26 November 2012, 12:02:04 AM »

Apakah Theravada itu 'Hinayana' ?

Dikatakan bahwa pada awalnya istilah 'Mahayana' dan 'Theravada' pertama kali muncul bersama dlm Saddharma-pundarika Sutra (Sutra Teratai), yaitu antara abad pertama sebelum Masehi dan abad pertama Masehi. Sejah itu, kaum Mahayana mengambil posisi yg tegas dan menganggap aliran-aliran lain yg ada sbg 'Hinayana'. Selanjutnya,  lebih kuat diduga bahwa agama Buddha Theravada telah menyebar ke Srilanka di masa yg lebih awal lagi - sekitar abad ketiga sebelum Masehi - dan karenanya tidak dpt dianggap sbg 'Hinayana'. Ini merupakan suatu fakta yg penting yg membuktikan bahwa kedua aliran - Mahayana dan Theravada- belum pernah bertemu dan karenanya tidak mungkin terlibat dlm perselisihan doktrinal apapun.

Tatkala pergerakan Mahayana tumbuh dan hidup dlm kelompok mereka sendiri, mereka memberontak thd ajaran-ajaran  dan praktek negatif dari aliaran-aliran yg umum pada masa itu. Sebelum abad kedua SM, Sangha tradisional telah mulai mengabaikan aspek-aspek penting dlm ajaran Sang Buddha seperti welas asih serta kesejahteraan dan pembebasan banyak orang. Paara bhikkhu menjadi terlalu mementingkan diri sendiri dan kontemplatif, serta malas dlm semangat penyebaran ajaran di tengah masyarakat. Mereka menjadi dingin dan menyendiri, bersikap suci dan hening, namun menjadi institusi yg lamban dan bersifat parasit. 

Walaupun historisnya aliran Theravada tidak dpt diistilahkan sbg 'Hinayana', banyak dari eksponennya yg cenderung menunjukkan pendekatan dan penampilan yg negatif. Kurangnya kehangatan dari bhikkhu Theravada menjadi terkenal. Khaggavisana Sutta mencela kehidupan masyarakat dan keluarga - dan ini diterjemahkan mentah-mentah oleh kaum Theravada. Perkawinan dihindarkan seolah-olah ia adalah suatu 'lubang panas yg penuh dgn bara api'. Visudhi-magga memberitahu kita bahwa 'bermeditasi di tengah kuburan membawa banyak kebajikan yg hebat'. Mahayana merasa bahwa gagasan ini tidak selaras dgn ajaran asli Sang Buddha, yg bahkan dlm ceramah pertamaNya (Dhammacakkappavattana Sutta) menyatakan bahwa pertapaan dan penyiksaan diri itu 'menyakitkan, boleh diabaikan, dan tidak bermanfaat'. Kebanyakan penyair dari Theragatha dan Therigatha hanya mencatat penyelamatan diri sendiri; mereka jarang berbicara ttg kewajiban utk menolong orang lain. Agama Buddha telah ditransformasikan ke dalam sebuah sistem dlm mana kehidupan berumah tangga dipandang rendah. Sikap ini jelas tidak konsisten dgn ajaran-ajaran seperti yg diberikan dlm Dhammapada ayat 142, yg menyatakan:
"Walaupun berpakaian mewah,
Seorang manusia bajik, tenang, dan terkendali,
Setelah membuang tongkat yg melawan semua makhluk;
Ornag itu sesungguhnya adalah seorang brahmana, seorang bhikkhu!'

'HINAYANA' Cuma Berarti Egois dan Negatif

Bahkan saat menuliskan makalah ini saya dengan jelas teringat sejumlah kesempatan tatkala pertanyaan diajukan kepada saya, "Mengapa agama Buddha sedemikian kelabu?" - atau lebih spesifik lagi, "Mengapa Theravada begitu kelam?"  Alasannya sederhana saja; Ia telah, paling tidak sampai ke tingkat tertentu, menjadi 'Hinayana'. Sekilas pandang kepada negeri-negeri Buddhist Theravada - Burma, Srilanka, Thailand - juga mencerminkan keadaan yg kelabu: ketidakstabilan politik dan ekonomi, dan dalam beberapa kasus bahkan tingginya tinkat kejahatan dan kerendahan moral. Meskipun agama Buddha Theravada boleh dikatakan berperan hingga ke tingkat tertentu dlm pengembangan pribadi, namun tidak berdaya di dalam aspek kemajuan sosial.

Situasi yg sama muncul menjelang bangkitnya Mahayana tatkala agama Buddha tradisional telah menjadi:

(a) Konservatif dan berpikiran literal, terpaku pada kata-kata dan bukannya pada semangat ajaran, dan secara keseluruhan menolak perubahan;
(b) Skolastik, terlalu terikat dgn analisis dan klasifikasi keadaan-keadaan mental
(c) Negatif satu sisi dalam konsepsinya mengenai Jalan dan Nirvana;
(d) Terlalu melekat pada melulu aspek formal membiara, dan - barangkali yg paling berat-
(e) Individualis secara spritual

Cara berpikir literal kaum Hinayana mengandung kebiasaan mereka utk menganggap formulasi intelektual dari Doktrin sebagai hal yang murni dan asli sepenuhnya dalam maknanya yang tertinggi, sebagai bukan cuma simbol konseptual dari Realitas yg diumpamakan dengan suatu 'rakit', melainkan sebagai deskripsi yg cukup dan lengkap dari Realita. Kaum Hinayana terutama pengikut Sarvativada-kendati ciri-cirinya tidak lari dari Theravada-mulai menganggap fenomena psikofisik ini, secara teknis dikenal sbg dharma, sebagai nyata hakiki dalam dirinya sendiri, dan dgn demikian mengembangkan suatu pandangan metafisik pluralistik (yakni, banyak Realita, sebagai pengganti satu Realita) - suatu pandangan yg jauh terpencil dari penolakan Sang Buddha sendiri yg tidak dapat ditawar lagi mengenai semua 'pandangan'. Untuk mengoreksi pandangan yg salah tsb, kaum Mahayana mengajarkan kesunyataan (sunyata) tidak hanya utk kepribadian (pudgala) tapi juga pada unsur pokok fisik dan keadaan mentalnya (dharma).

Seandainya kaum Hinayana memahami nasihat Sang Buddha sendiri utk menganggap Dharma sbg sebuah rakit, kesulitan-kesulitan seperti itu tidak akan muncul. Seandainya umat Buddha di Burma, misalnya, mampu memahami ajaran yg sangat penting ini, mereka tidak akan menghabiskan sepuluh juta rupee utk apa yg disebut Konsili Buddhist Keenam hanya utk memastikan apakah huruf dari suatu naskah itu 't' atau 'd'.  Tidak heran jika Christmas Humphreys menulis, setelah sia-sia berusaha membujuk mereka utk menerima 'Dua Belas Prinsip dalam Agama Buddha' karangannya, bahwa ia tidak pernah berpkiri bahwa di dalam dunia Buddhist terdapat orang-orang yang demikian lengket pada huruf dari tradisi.

Skolatisisme Hinayana

Istilah Skolatisisme ini dapatlah diterjemahkan bahwa Hinayana terlalu dijajah oleh analisis teoritis dan klasifikasi keadaan-keadaan mental dan fisik, khususnya yang belakangan. Sebagai akibatnya, kaum Sarvastivada dan Theravada mulai menyusun berbagai tulisan yg menjadi bagian dari Abhidhamma Pitaka.

Kenyataan bahwa Abhidhamma merupakan edisi belakangan yg dikerjakan oleh aliran Hinayana dibuktikan oleh paling tidak beberapa alasan. Satu adalah bahwa Abhidhamma tidak ditemukan dlm semua aliran Buddhis awal, tidak juga diterima oleh semua aliran yg muncul belakangan. Kedua, versi paling awal dari Abhidhamma - milik Sarvastivada dan Sthaviravada (Theravada) - berbeda dlm banyak pokok-pokok penting. Meskipun belakangan muncul, ia tidak dapat dianggap sebagai suatu penyimpanan dan korupsi atas Kata-kata Sang Buddha, melainkan sebagai suatu usaha utk mensistemisasi semua ajaran yg diturunkan dlm Sutta, dan utk menguraikan mereka dari sudut pandang filosofis atau lebih tepatnya lagi psikologis dan fisiologis.

Mahayana, jauh dari menolak Abhidhamma, telah memasukkannya dlm bentuk Sarvastivada yg telah dikembangkan lebih tinggi, ke dalam tradisinya sendiri. Di sini seperti juga di tempat yg lain, apa yg memisahkan Hinayana ( dan Theravada) dan Mahayana lebih banyak dikarenakan perubahan doktrin daripada perbedaan doktrin. Baik Hinayana maupun Mahayana menerima klasifikasi dharma dari Abhidhamma; namun bagi yang pertama mereka adalah realita, sementara bagi yg belakangan mereka bukanlah realita.

Nirvana: Bukan merupakan tujuan bagi banyak umat Buddha

Tanya umat Buddha manapun, apa yang merupakan cita-citanya yg tertinggi dlm hidup ini. Kemungkinan besar ia tidak akan menyebutkan Nirvana; barangkali kelahiran kembali yg lebih baik, atau paling bagus Nirvana dlm kelahiran di masa yang akan datang. Sikap negatif ini terutama akibat dari cara pandang Hinayana mengenai Nirvana - bahwa Nirvana adalah di luar dari dunia fenomena ini (samsara). Mahayana bagaimanapun juga percaya bahwa Nirvana adalah dunia yg ini; ia tertutup oleh 'tirai' dari perbuatan buruk dan kebodohan kita sendiri. Setelah seorang menjadi cerah, itu merupakan hasil dari melihat 'ke dalam' dan tidak perlu di tempat lain kecuali di dunia ini sendiri.

Walaupun Empat Kebenaran Mulia cuma merupakan suatu formulasi dan aplikasi dari prinsip kondisional universal dari sudut pandang khusus metodologis, mereka menempati suatu tempat yg sangat depan dlm doktrin Hinayana, sementara tidaklah demikian halnya dlm Ajaran Sang Buddha sendiri. Bahkan Kebenaran Mulia Keempat, Kebenaran atas Jalan menuju Lenyapnya Penderitaan, dlm istilah Delapan Ruas Jalan Kemuliaan, diterjemahkan oleh agama Buddha Theravada dlm cara yg agak negatif. Pengertian Benar dijelaskan sebagai mengerti Empat Kebenaran Mulia; Pikiran Benar adalah pikiran yg tidak mengandung keserakahan, kemaran dan kekejaman; Perkataan Benar adalah tidak berbohong, menggosip, berkata kasar, atau berbicara yg tidak berguna; Perbuatan Benar berarti tidak membunuh, tidak mengambil apa yg bukan miliknya, dan tidak mengadakan hubungan seks yg salah; dan seterusnya. Kesan yg didapat orang adalah bahwa hidup seorang umat Buddha semuanya merupakan larangan total-sukar menjadi prospek yg membawa ilham. Kesan seperti itu bagaimanapun juga bukan merupakan produk dari membaca Kitab Suci Pali secara lengkap-terima kasih atas usaha anggota Pali Text Society, hampir keseluruhan Tipitaka telah ada dlm edisi yg kompeten dlm bahasa Inggris. Ini akan memungkinkan presentasi Dharma yg lebih tepat di masa yg akan datang dari sumber-sumber ini, daripada seperti yg diberikan oleh mayoritas kaum Theravada selama ini.

Agama Buddha tidak berarti Keviharaan

Alasan lain mengapa Mahayana bereaksi menentang Hinayana adalah bahwa yg belakangan terlalu melekat kepada aspek formal keviharaan. Sudah umum kalau orang menemukan bhikkhu-bhikkhu terpelajar dan cendekia dlm vihara Theravada - banyak bahkan yg memegang gelar akademik yg tinggi. Bukan sesuatu yg tidak selaras dgn sikap Buddhis kalau orang belajar pengetahuan, namun lain ceritanya kalau itu dilakukan dgn mengorbankan pembangunan spritual. Sesungguhnya, sangat sukar sekali menemukan seorang guru meditasi yg kompeten maupun bhikkhu dgn pencapaian spritual yg tinggi dlm vihara-vihara seperti itu. Konsepsi negatif mengenai Nirvana dan Jalan telah membawa salah pengertian atas cita-cita pelepasan , 'lepaskan dunia', telah dianggap identik dgn hidup yg tidak mau tahu dan tidak aktif.

Bisakah kita benar-benar menolong orang lain?

Pesan spritual tertinggi yg pernah dikemukan kepada manusia adalah pernyataan Sang Buddha bahwa, "Diri sendiri adalah tuan dari diri sendiri; karena siapa lagi yg bisa menjadi tuannya?" (Dh 160) dan karenanya beliau lebih lanjut mendorong kita utk menjadi "pulau bagi diri sendiri" (D 2:100, 3:58) dan untuk "berjuang dgn gigih!" (D 2:156). Kaum Hinayana telah menerjemahkan kata-kata tersebut sebagai sesuatu yg mengutamakan diri sendiri. Tentu saja, orang mesti dan bisa menolong dirinya sendiri - akan tetapi seorang umat Buddha tidak berhenti sampai di sana.

Banyak momen dlm hidup kita dimana kita merasa tidak berdaya dan berharap seandainya sajadoa kita dapat dikabulkan. Kepada orang seperti itulah dorongan semangat bahwa diri sendiri itu berharga dan berpotensi mesti diberikan. Aspek bhakti dari Mahayana dalam hal ini lebih condong meresap ke dalam kebutuhan spritual manusia yg mendesak.

Bukti literal yg paling awal dari reaksi thd kesempitan dan keegoisan Hinayana, utk kembali kepada kegembiraan dan kesegaran Ajaran asli ditemukan dlm pustaka Mahayana, Kesempurnaan Kebijaksanaan (prajnaparamita) dimana kita dapat menyaksikan altruisme Bodhisattva yg tidak terbatas (yg mana berlawanan dgn individualisme spritual dari Hinayana). Astashasrika berbicara mengenai welas asih yg tidak terbatas dari Bodhisattva dgn cara seperti ini :
  "....Ia (sang Bodhisattva) harus melatih dirinya seperti ini: 'Diriku sendiri akan kutempatkan di dalam 'Yang Demikian', agar semua dunia dapat ditolong, aku juga akan menempatkan semua orang ke dalam 'Yang Demikian', dan akan kubimbing ke Nirvana semua semesta makhluk hidup yg tak terukur."

Pancavimdamtisahasrika membandingkan Hinayana sbg kunang-kunang, dan mendorong sang Bodhisattva utk mengikuti perumpamaan sang surya:
  "Akan tetapi sang surya, setelah terbit, memancarkan sinarnya ke seluruh Jambudvipa. Demikian juga halnya dgn seorang Bodhisattva, setelah ia menuntaskan latihan-latihan yg membawa kepada pencerahan Kebuddhaan sempurna, membimbing makhluk yg tak terhingga banyaknya ke Nirvana."

Pengikut Theravada fanatik mungkin segera menyatakan kaum Mahayana tatkala berbicara mengenai 'Kesunyataan' atau 'ketanpa-dirian' dari semua keberadaan di satu pihak, juga membual tentang 'membimbing semua makhluk ke Nirvana' di pihak lain - suatu kontradiksi yg jelas sekali, demikian kata mereka! Jawabannya sederhana saja : kenyataan bahwa segalanya adalah kosong - bahwa sesungguhnya tidak terdapat makhluk utk diselamatkan! - menyiratkan bahwa penyelamatan apapun semestinya diperuntukkan bagi semua makhluk. Karena jika seseorang menjadi cerah, segalanya juga cerah - karena tidakkah semuanya itu bentukan pikiran? Untuk yg lebih sederhana, aspirasi Bodhisattva ini menunjukkan welas asih tanpa batas yg diharapkan oleh Mahayana dapat menawarkan pemusatan pada diri sendiri dari Hinayana.

Dalam hal apa Mahayana itu "Agung"?

Bhikkhu penziarah China, Hsuan-tsang yg mengunjungi India sekitar 640 Masehi mencatat bahwa paling tidak setengah dari bhikkhu Buddhis berasal dari alairan yg bukan Mahayana, dan hanya paling banyak seperlima yg merupakan pengikut Mahayana yg fanatik. Sepanjang berkenaan dgn sumpah yg dititahkan oleh Kendaraan Agung ini, karenanya, tidak dalam kedudukannya utk menyebut dirinya 'Agung' melihat penyebarannya di dlm komunitas vihara. Pernyataan 'keanggungan' dari kaum Mahayana didasarkan pada pertimbangan lain.

Adalah penting utk pertama-tama mengingat bahwa Mahayana merupakan kelanjutan dari Mahasangika - faksi yg memisahkan dirinya dari tubuh utama agama Buddha setelah Konsili di Vesali dan yg selanjutnya terus mengkritik umat Buddha ortodoks atas kemelekatan mereka pada literatur. Mereka menyatakan diri sbg 'Kendaraan Besar' karena daya tarik mereka berpotensi lebih luas dan lebih populer; yaitu, mereka mengambil sikap yg memberikan tekanan yg lebih lunak pada pentingya kehidupan dan disiplin vihara. (Hal ini, bagaimanapun juga, hanya bersifat relatif, karena mereka juga mempertahankan kehdiupan vihara; perbedaan di antara kedua belah pihak terletaka pada lebih luwesnya Mahayana membolehkan penafsiran atas aturan-aturan vihara).

Hal lain mengapa Mahayan disebut 'Kendaraan Besar' adalah bahwa doktrin-doktrinnya menjadi jauh lebih komprehensif dibandingnya dgn kepunyaan aliran-aliran tradisional. Mahayana juga mampu menjawab tantangan dari agama lain dgn mengadaptasi ajaran tradisional dan membuat inovasi utk mengisi kebutuhan religius yg lazim. Dua wilayah dimana Mahayana mengembangkan diri dgn lebih kuat adalah di India Utara dan Selatan. Di Barat Laut India terdapat persentuhan yg aktif dgn cara pandang Persia (yakni, Zoroastria), dan dgn gagasan-gagasan yg bahkan berasal dari tempat yg lebih barat lagi, Yunani. Ghandhara, khususnya adalah wilayah di bawah pengaruh Yunani, dan di sini agama Buddha berimprovisasi dgn doktrin dari sophia (Kebijakan) Yunani-Asia, dan bahkan pandangan Manichaean dan Neo-platonisme, sebagai kendaraan utk mengekspresikan agama Buddha. Di India Selatan, dimana pemujaan ibu-dunia sangat kuat, Mahayana kembali mengadaptasi kepercayaan-kepercayaan ini dan mengembangkan ajaran Buddhis melalui konsep makhluk-makhluk suci wanita.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: The One Way - by Ven. Piyasilo
« Reply #2 on: 26 November 2012, 12:30:13 AM »
Alasan-alasan keberhasilan Mahayana
Mahayana, sebagai suatu gerakan perlawanan thd Hinayana, secara alamiah mendorong pemberian tekanan pada pentingnya kualitas , dimana mengadung karakteristik berikut :

(a) Progresif dan berpandangan luas, lebih memberikan perhatian pada jiwa dari Naskah Suci daripada hurufnya, bahkan berharap utk menuliskan yg segar kapan saja diperlukan penampilan baru bentuk Ajaran;
(b) Jauh lebih emosional dan berbakti dalam sikap, dengan pengertian yg lebih dalam pada nilai upacara kebaktian;
(c) Lebih positif dalam konsepnya mengenai Nirvana dan Jalan;
(d) Selain melanjutkan kehidupan vihara yg ceria juga meningkatkan pentingnya peranan kehidupan berumah tangga yg berdedikasi; dan
(e) Mengembangkan aspek altruisme dari agama Buddha dan membabarkan cita-cita Bodhisattva

Mahayana disebut progresif dan berpandangan luas karena perhatian dan pengakuannya yg terus-menerus atas kenyataan bahwa Kebenaran Tertinggi itu terkatakan dan bahwa semua formulasi konseptual dan ekspresi verbal yg mungkin, cuma merupakan simbol darinya. Di dalam Lankavatara Sutra, Sang Buddha bersabda:
"Mahamati, kata-kata bukanlah realita tertinggi, dan apa yg diungkapkan oleh kata-kata itu juga bukan merupakan realita tertinggi. Mengapa? Karena realita tertinggi merupakan suatu keadaan agung dari kebahagiaan, dan karenanya tidak bisa dipengaruhi hanya oleh pernyataan-pernyataan mengenainya, kata-kata bukanlah realitas tertinggi. Mahamati, realita tertinggi dicapai dgn realisasi akan kebijaksanaan luhur; dan bukanlah suatu keadaan yg berasal dari berbagai perbedaan dalam kata-kata; karenanya perbedaan yg ada tidak dapat menjelaskan realita tertinggi."

Alasan kedua atas keberhasilan Mahayana adalah pandangannya atas harapan dan kebahagiaan. Berbeda dgn kepercayaan umum, beberapa halaman tertentu dari Kitab Suci Pali bergetar dgn kegembiraan yg mendalam dan berkilau dgn kebahagiaan yg hikmat, dan ekspresi dari keyakinan dan bakti kepada Buddha sama sekali tidak hilang. Baik Naskah Suci Buddhis Pali maupun Sanskerta mendorong pengembangan yg harmonis dan seimbang antara akal sehat dan emosi, Kebijaksanaan dan Keyakinan.

Emosi positif merupakan landaran dari upacara bentuk luar dari pemujaan Mahayana. Emosi ini terdiri dari tiga serangkai pengembangan Kasih Sayang, Welas Asih dan Bakti; yang pertama ditujukan kepada yg sederajat, yang kedua utk yg di bawah, dan yg ketiga utk yg di atas. Karena emosi dpt diraskan hanya oleh makhluk hidup, pengembangan bakti dgn sendirinya menghantar kepada bervariasinya obyek bakti, yaitu, Buddha dan Bodhisattva, sehingga dlm Mahayana kita temukan tak terhitung banyaknya makhluk transeden yg tidak dikenal dlm Ajaran bentuk awal.  Secara alamiah, penghayatan Mahayana cenderung direfleksikan dlm penyaluran tindakan dan pemujaan sehingga tidak bisa terhindarkan, termasuk juga berbagai bentuk luar upacara puja bhakti.

Positivisme Mahayana

Positivisme Mahayana ada dua jenis : doktrinal dan metodologis. Yang pertama adalah doktrin kembar Mahayana mengenai Kebijaksanaan dan Welas Asih. Kebijaksanaan untuk perlindungan aspek positif dari agama Buddha dan demi perkembangan diri sendiri, sementara Welas Asih merupakan energi positif yg menyebarkan Dharma kepada yg lain. Dan latar belakang Mahayana merupakan konsepsi yg melingkupi semuanya dari Kesunyataan (sunyata), suatu keadaan yg mengatasi semua konsepsi.

Landasan metodologis Mahayana terdiri dari suatu alam konsepsi positif. Pertama, kita melihat konsepsi abstrak seperti Kesadaran Absolut (citta) atau Batin Universal, dan Kebahagiaan Tertinggi (maha-sukha); selanjutnya konsepsi religus-kuasi seperti Tubuh Absolut di mana Kebijaksanaan dan Welas Asih secara spritual bersatu; setelah itu suatu kediaman yg tak terhingga dari Buddha, Bodhisattva, dan makhluk luhur lain, semua personifikasi dari berbagai tingkat dari Jalan; dan akhirnya, pasukan dewa, makhluk setengah dewa, roh penjaga, dan sebagainya, masing-masing mengujudkan, pada tingkatan yg lebih bawah dari keberadaan fenomenal, beberapa aspek dari ajaran. Mahkota kejayaan Mahayana tentu saja cita-cita Bodhisattva yg termasyhur, cita-cita altruisme absolut pada bidang transeden tertinggi.

Kadang-kadang disalahpahami bahwa Mahayana memberikan tempat yg terus bertambah penting kepada kehidupan berumah tangga yg berdedikasi dgn mengorbankan integritas dan kesucian tujuan vihara. Moralitas adalah, bagi pengikut Mahayana, tidak sekedar soal menjaga penampilan di mata umum, seperti yg sering terjadi di Theravada. Sekali diakui bahwa seorang Bodhisattva, bisa seorang bhikkhu atau seorang umat biasa, seterusnya menjadi tidak mungkin utk mengidentifikasi kehidupan spritual sebagai hak eksklusif kehidupan vihara. Sebelumnya dari Dhammapada (ayat 142) telah dikutip pernyataan bahwa bahkan seorang yang berpakaian mewah yg menjalani kehidupan spritual adalah sama baiknya dengan seorang bhikkhu. Lebih jauh lagi, menurut beberapa sutra (seperti Sutra Teratai), Bodhisattva dlm kegairahannya utk membabarkan kebajikan kepada orang lain, dapat melakukan tindakan yg secara umum dianggap sebagai menjunjung tinggi Welas Asih daripada mencemarkan persekutuan moral (misalnya perumpamaan tentang membakar rumah dlm Sutra Teratai di mana sang ayah menggunakan cara yg penuh tipu daya utk mengeluarkan anak-anaknya).

Kontribusi budaya Mahayana

Baik Theravada maupun Mahayana memberikan sumbangan kebudayaan dan peradaban yang banyak di negara-negara Asia di mana agama Buddha tersebut berkembang.  Mahayana yang lebih dominan di sebagian besar negara Asia memperkaya bahasa dan kesusasteraan kebanyakan negara Asia Utara antara lain Tibet, China, Korea, dan Jepang. Tidak seperti Theravada yg menekankan kemurnian Pali Tipitaka, dimana Mahayana mampu melakukan adaptasi penyebaran Dharma melalui pemahaman bahasa dan dialek setempat.

Mahayana juga mengembangkan praktek meditatif yg sangat kentara dlm agama Buddha ke dlm bentuk praktis, dan bahkan sampai ke dalam bentuk ilmu bela diri dan seni, seperti Vihara Sau Lin di China dan kaum Samurai di Jepang yang menempa diri mereka secara teknik kontemplatif Zen, sampai ke bentuk Judo yg lebih modern. Perkembangan tersebut menunjukkan aplikasi mental ke bentuk kesehatan fisik.

Mahayana pada dewasa ini memperlihatkan suatu gerakan yg mengarah kepada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dengan memainkan peranan yg penting di setiap kegiatan sosial. Sekolah mulai dari taman kanak-kanak, wisma, rumah sakit, dan berbagai proyek sosial tidaklah asing dlm gerakan Mahayana di seluruh dunia. Filosofi Mahayana yg dinamis menunjukkan harapan yg menggembirakan di Barat, khususnya karena sekarang landasan Judeo-kr****n sedang goyah.  Semua itu menunjukkan perwujudan dari kata-kata Padmasambhava; "Pada saat burung-burung besi beterbangan, maka agama Buddha akan menyebar ke Barat."

Akar-akar yang sama dari Theravada dan Mahayana

Walaupun kaum Hinayana (dan Theravada) menganggap Mahayana sebagai ajaran yg dikorupsi dari ajaran asli atau merupakan suatu sekte yg menyimpang dan sesat, tetapi Mahayana tidak menganggap Hinayana sesat atau bertentangan dengan Ajaran Sang Buddha, melainkan kurang lengkap adanya, atau hanya merupakan sebagian kecil yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada siswaNya saat itu yang tidak mampu memahami Kebenaran yang dalam dari Mahayana.  Sebagaimana uraian sebelumnya bahwa kedua aliran ini memiliki akar persamaan dalam agama Buddha kuno pada masa awalnya. Lebih jauh lagi kelihatannya semua unsur yg merupakan ciri khas Mahayana, dapat juga ditelusuri dalam Kitab Suci Pali.

(i) Hinayana menghadirkan suatu sosok Buddha historis yg dilahirkan, berjuang dlm Kebenaran, mencapai Pencerahan Tertinggi, membabarkan Ajaran dan Parinibbana. Mahayana bagaimanapun juga menganggap Buddha itu merupakan Kekuatan Abadi atau Kebenaran Universal yg mengatasi ruang dan waktu, yang memanisfetasikankan diriNya dari waktu ke waktu dalam wujud yg sesuai dgn kebutuhan umat manusia. Kekuatan Buddha berulang kali diisyaratkan, misalnya dalam Maha Parinibbana Sutta 
"......Ia yang telah menyempurnakan Empat Jalan Kebenaran, dapat jika ia menginginkannya, tetap bertahan dalam masa kehidupan ini atau lebih." (S 2:103, 177)

(ii) Sewaktu seorang bhikkhu bernama Vakkali tergila-gila pada bentuk fisik Sang Buddha, ia dinasehati bahwa "Ia yang melihat Dharma melihat Aku; ia yang melihat Aku melihat Dharma." (S 3:120;  ltv 91). Suatu uraian mengenai pernyataan ini dalam doktrin Mahayana adalah konsepsi mengenai Dharmakaya (secara harafiah berarti, 'Tubuh Kebenaran'), yaitu Kebenaran Tertinggi yang muncul sendiri. Lebih jauh lagi : "Karena seorang Tathagata, bahkan meskipun benar-benar hadir, Ia tidaklah dapat dipahami, adalah tidak mungkin untuk mengatakan tentang Ia... bahwa setelah wafat Tathagata itu ada, atau tiada, atau ada dan tiada, atau bukan ada maupun bukan tiada." (S 3:118; cf. M 1:488)

Sutra Intan menguraikan suatu aspek yg penting dari sudut pandang tersebut di atas,
"Mereka yang dengan bentuk melihat Aku,
Dan mereka yang mengikuti Aku melalui suara,
Salahlah mereka dengan apa yang mereka lakukan,
Aku tak akan dilihat oleh mereka.

Dari Dharma orang harus melihat Buddha,
Dari tubuh-Dharma datang bimbingan mereka.
Demikian pula, hakikat sejati Dharma tidak dapat dikenali,
Dan tidak seorang juga yang dapat menyadarinya sebagai suatu obyek."
          (Vajracchedika Prajnaparamita 26 a, b)

(iii) Maha Parinibbana Sutta memiliki pesan menarik lain yang mengungkapkan hakikat dari keahlian seorang Buddha :

"Sekarang , Ananda, terdapat delapan jenis kumpulan, yaitu: kumpulan dari para suci, brahmana, perumah-tangga, petapa, Empat Raja Surgawi, Tiga Puluh Tiga Dewa, Mara, dan Brahma. Dan Aku ingat, Ananda, bagaimanapun Aku telah mengunjungi delapan perkumpulan ini, ratusan kali. Dan sebelum duduk dan memulai wejangan atau diskusi, Aku membuat penampilan-Ku seperti mereka, suara-Ku seperti mereka. Dan karenanya, Aku mengajar mereka Ajaran, dan membangunkan, memajukan, dan membahagiakan mereka. Meskipun Aku berbicara seperti itu kepada mereka, mereka tidak mengenali-Ku, dan mereka akan saling bertanya satu sama lain, 'Siapakah gerangan Ia, yang berbicara kepada kita? Apakah ia seorang manusia atau seorang dewa?'" (D 2:109)

......bersambung....Karenanya cukup jelas....
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: The One Way - by Ven. Piyasilo
« Reply #3 on: 26 November 2012, 12:34:42 AM »
(iv) Karenanya cukup jelas bahwa usaha apapun untuk membicarakan hakikat sejati Buddha dalam istilah duniawi akan terbukti rapuh adanya, atau paling hanya merupakan suatu simbol saja. Untuk tujuan kita saat ini bagaimanapun juga semestinya cukup memadai jika Ia membolehkan istilah 'Buddha' mewakili semua Kebenaran transeden. Ini cuma untuk mengikuti jawaban yang diberikan Sang Buddha atas pertanyaan brahmana Dona apakah Ia 'seorang dewa, makhluk surgawi, suatu roh, atau seorang manusia". Sang Buddha menjawab bahwa semua kondisi yang akan membuatnya dilahirkan sebagai semua yang ia sebutkan itu, telah dimusnahkan olehNya , dan karenanya adalah paling baik untuk menyebutnya 'Buddha'. (A 2:38)

(v) Persamaan lain yang mengejutkan antara aliran Mahayana  dan Hinayana adalah konsepsi mereka mengenai pikiran, yaitu, 'pabhassara-citta' (batin luhur) dalam Kitab Suci Pali dan Tathagata-garbha (embrio Buddha) dalam Mahayana. Ini didukung oleh dua ayat dalam Angutara Nikaya :

"Wahai bhikkhu, pikiran ini suci, tapi dinodai oleh kekotoran sebelah luar." 

"Wahai bhikkhu, pikiran ini suci dan bebas dari kekotoran sebelah luar." 

(vi) Salah satu  persamaan dari ajaran Hinayana dan Mahayana yang paling penting adalah doktrin mengenai Kekosongan (sunyata). Terdapat beberapa referensi bahkan di dalam bagian Kitab Suci Pali yg paling tua, misalnya dalam Sutta Nipata, Sang Buddha memberitahu Mogharaja utk melihat dunia ini sebagai 'kosong' (sunna) dengan membuang gagasan diri (Sn 1119; of S 3:142, 167, 4:54; M 3:245). Nagarjuna, genius Mahayana, mengembangkan doktrin ini hingga ke puncaknya dalam aliran Madhyamaka (Jalan Tengah). 

"Cahaya lampu menyala tergantung kepada minyak dan sumbu; demikian juga halnya, tidak pada yang satu atau yang lain, tidak juga dalam dirinya sendiri fenomena itu muncul, tidak ada sesuatu dalam dirinya. Segala sesuatu itu tidak nyata; dimana semu adanya; Nibbana satu-satunya kebenaran." (M 3:245)

Nagarjuna berkata :
"Kala menyatakan bahwa itu memperdaya dan cuma khayalan, Sang Guru maksudkan Kekosongan  (sunyata) - ketergantungan pada lain-lain." (MK, 13:2)

(vii) Kedua aliran menerima tiga Yana atau Bodhi namun menganggap cita-cita Bodhisattva sebagai yang tertinggi. Mahayana mengajarkan bahwa terdapat banyak Bodhisattva mistik sementara Theravada menganggap Bodhisattva sebagai seorang manusia di antara kita yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi pencapaian kesempurnaan, hingga pada akhirnya menjadi Buddha Yang Sempurna bagi kesejahteraan dan kebahagiaan dunia.

(viii) Istilah tunggal yang paling penting yang menyatukan semua aliran dalam agama Buddha barangkali adalah ekayana ('jalan tunggal') yang ditemukan baik dalam Kitab Suci Pali (dalam Satipatthana Sutta, D 2:290) dan Mahayana (Sutra Teratai, bab 3). Jika Mahayana mendefinisikan 'Jalan Tunggal' sebagai 'Kendaraan Buddha' (kadang-kadang disebut Mahayana), Kitab Suci Pali memberikan definisi metodologis seperti Empat Landasan Perhatian (satipatthana), dua-duanya paling tinggi dalam hal mempunyai tujuan yang sama.

Praktek-praktek yang sama dalam Theravada dan Mahayana

Sangha memegang peranan penting dalam menjaga kontinuitas agama Buddha, dimana dijaga dengan baik tradisi Theravada maupun Mahayana. Anggota sangha pada umumnya melakukan praktek religius yang sama, antara lain mempelajari kitab suci, meditasi, ceramah, upacara, dan termasuk juga seni dan musik Buddhis.

Disamping pembacaan sutra/sutta, Theravada juga membaca paritta (syair perlindungan) dengan cara sebagaimana juga dilakukan oleh Mahayana yang lebih spesifik dengan mantra dan dharani. Kedua tradisi memiliki kebiasaan kegiatan spitual harian yang sama seperti puja bhakti pagi dan malam hari. Theravada yang menekankan tentang usaha pengolahan diri sendiri juga melakukan praktek pattidana (persembahan jasa) yang mana merupakan suatu doktrin dan praktek yang penting dalam Mahayana. Salah satu persamaan yang penting  dalam hal pelayanan spritual adalah khamavaca (pengakuan kesalahan), namun Theravada lebih menekankannya sebagai suatu aspirasi bagi kemajuan diri sendiri  daripada penyelesaian terhadap kesalahan yg telah dilakukan dimana dalam hal lebih condong dilakukan oleh Mahayana.

Persamaan lainnya adalah sama sama memunculkan patung Buddha , dimana sebenarnya hal ini sangat berlawanan dengan praktek agama Buddha pada awalnya yang hanya memunculkan Sang Buddha dgn simbol-simbol non-personal seperti Pohon Bodhi, jejak kaki, stupa, atau Roda Dharma. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani yang berkembang di Barat Laut India (Gandhara). Sehingga pada dewasa ini apabila kita melihat suatu vihara baik Theravada ataupun Mahayana tanpa kehadiran patung Buddha akan terasa janggal sekali. Masing-masing negara memliki ciri khas tersendiri dalam menghadirkan patung Buddha tersebut, kalau di Thailand kebanyakan bhikkhu yg fanatik memasukkan jimat dan hiasan dari masa pra-Buddhis yg umumnya berbentuk batu atau metal dengan jampi yg tertulis ataupun dibacakan ke dalam berbagai patung Buddha yang kecil dan indah. Umat Buddha di Burma melakukan hal yang sama dengan lethpwe-nya.

Pemujaan terhadap makhluk suci dan bahkan setan tidak saja merupakan ciri khas Mahayana dan Vajrayana, tetapi juga ditemukan dalam praktek Theravada. Sebagai contoh agama Buddha Theravada di Burma  masih memuja roh-roh (nat) dan umat di Thailand belum lengkap kalau belum menghadirkan penjaga rumah (sal phra phum), semacam dewa bumi. Umat Buddha Sinhala memuja berbagai dewa seperti Sakra, Maha Brahma, Vishnu, dan Kataragama yg kesemuanya dikenal dalam agama Hindu. Pemujaan kepada sembilan planet (nava-graha) juga berkembang luas di antara umat Buddha Sinhala.

Umat Buddha pada umumnya tidak mengerti hal ideal seperti ini dimana menunjukkan suatu keraguan akan kemurnian yang dibicarakan. Manusia duniawi yang masih condong kepada takhayul, magis, dan materialistik baik dari masa lalu maupun masa sekarang adalah merupakan suatu tantangan terberat yang harus dihadapi oleh agama Buddha dalam usaha perkembangannya. Mahayana mencoba menjawab kebutuhan perlindungan dan pelestarian diri yang primitif dengan menciptakan berbagai cara yang inovatif yang diasosiakan dengan Buddha, Bodhisattva, dewa-dewa dan setan-setan yang tak terhitung banyaknya dimana lebih merupakan suatu simbol belaka dalam pelaksanaan upacara bhakti bagi umat pada umumnya. Cara bhakti seperti ini seperti memberikan boneka kepada anak-anak dengan harapan setelah bertambah dewasa maka mereka akan mulai mengurangi kesenangan terhadap boneka tsb dan mulai mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang lebih tinggi khususnya dalam pengolahan diri sendiri untuk mencapai pencerahan.

Sepuluh Prinsip Unversal dalam Agama Buddha

Sejumlah daftar telah dibuat oleh para cendekiawan Buddhist yg mencerminkan kepercayaan umum dari berbagai aliran dlm agama Buddha. Dua diantaranya yg paling terkenal adalah dari H.S. Olcott (1891: empat belas 'Kepercayaan Buddhist yg Fundamental') dan Christmas Humphreys (1945: 'Dua Belas Prinsip Agama Buddha'). Dalam dunia sistem desimal sekarang ini, cukup rapi jika daftar lain seperti itu juga dimunculkan, seperti Sepuluh Prinsip Universal Agama Buddha berikut ini :

(1) SANG BUDDHA - baik sebagai guru historis Sakyamuni maupun sebagai prinsip spritual Pencerahan - yang merupakan inspirasi, Cara dan Tujuan kita; dimana dalam Mahayana diwujudkan dalam berbagai Buddha, Bodhisattva, dan makhluk suci lainnya.
(2) CITA-CITA BODHISATTVA - bagi Theravada hal ini merupakan cita-cita tertinggi karena merupakan suatu pencapaian kepada Kebuddhaan Agung (Sammasambuddha); bagi Mahayana hal ini merupakan suatu wahana tertinggi untuk keluar dari penderitaan makhluk hidup.
(3) HIDUP INI SATU dan TAK BERBAGI - mulai dari yang rendah, manusia, dan yang suci, adalah cuma manifestasi dari kejadian yang saling berhubungan  yang numpang lewat dan yang menciptakan alam semesta ini dimana merupakan bentuk luar dari Keutuhan Yang Transeden.
(4) KETIDAKKEKALAN atau LINGKARAN KEBERADAAN - hal ini merupakan ciri keberadaan duniawi maupun keberadaan lainnya yang hanya dapat dimengerti dan didapatkan kebebasannya melalui pemutusan rantai Roda Sebab Akibat Yang Saling Bergantungan.
(5) TANPA INTI atau KEKOSONGAN - ini mencirikan semuanya, bahkan termasuk Nirvana dimana tidak ada suatu entitas yg tetap yg dapat ditemukan dalam apapun atau kejadian apapun karenanya semuanya hanyalah merupakan suatu kontinuitas yang memberikan kesan salah tentang adanya kekekalan.
(6) KARMA dan KELAHIRAN KEMBALI - ini menjelaskan suatu proses perubahan dan pada saatnya  juga menyediakan suatu harapan dalam kemajuan spritual yang lebih baik ke arah Pencerahan.
(7) JALAN TENGAH - yaitu menghindari hal-hal yang ekstrim, dan tetap berada di jalan Kebijaksanaan dan Welas Asih serta menapaki Jalan Tunggal dari Sang Buddha.
(8) JALAN MULIA DELAPAN RUAS - seperti diwujudkan dalam Empat Kebenaran Mulia yang merupakan ringkasan dari kondisi umat manusia dan makhluk duniawi dimana merupakan rangkaian pedoman kehidupan spritual yang terdiri dari moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan.
(9) PENYELAMATAN DIRI SENDIRI - satu-satunya tujuan spritual yang tepat karena diri sendiri adalah pencipta dimana terdapat pikiran sebagai perancang besar dan tentunya hanya oleh diri sendirilah penyelamatan agung bisa dilakukan.
(10) MEDITASI - karena pikiran itu yang tertinggi, maka pikiran itu haruslah dikenali dan diasah sebelum bisa dibebaskan, dan satu-satunya cara utk melakukan hal ini adalah melalui metode meditasi yang benar.

Kebutuhan akan Remitologisasi

Pada pendangan pertama, dari apa yg telah kita kumpulkan, memperlihatkan bahwa  agama Buddha yang terlalu akomodatif terhadap berbagai kepercayaan dan praktek luar, kelihatannya telah merusak sendi-sendi agama Buddha itu sendiri karena bertoleransi. Umat Buddha memasukkan animisme kepercayaan lokal terhadap persentuhan Dharma karena berpendapat bahwa agama Buddha merupakan agama yang misonaris (Ling 1979, 42 f.).  Daripada menghancurkan suatu kebudayaan, agama Buddha berjalan harmonis dengannya : "Jika itu yang engkau percaya, dan jika itulah caramu melihat hidup ini, ayo kita mulai dari sana"

Untuk dapat sampai kepada masyarakat, misionaris Buddhis memanfaatkan beragam cara yang terampil sebagai 'jembatan' antara cara berpikir yang populer dan Dharma. Satu jembatan penting seperti itu adalah simbol Mara dalam agama Buddha, sang kejahatan. Figur mitologis yang khas Buddhis ini menyediakan cara untuk untuk mengalihkan gagasan animisme ke dalam analisis keberadaan yang mendalam. Para umat lokal, yang untuk pertama kali mengenal agama Buddha, akan segera menerima figur yang tidak asing dari Mara. Mereka akan belajar melihat Mara tidak sebagai siluman kampung, melainkan sebagai musuh dari kehidupan suci lewat pandangan Buddhis, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha:

"Apa sebenarnya Mara itu? Bentuk adalah Mara.....perasaan adalah Mara....persepsi adalah Mara....bentukan-bentukan mental adalah Mara......kesadaran adalah Mara." (S 3:188 f.)

Dengan kata lain, Mara sang kejahatan muncul sebagai sesuatu wujud yang lebih luas tidak hanya sekedar siluman atau setan yang dimunculkan untuk memperdaya.

'Wahana Peralihan' seperti ini yang lain adalah kisah-kisah Jataka dari Theravada, dewa dan setan dalam Vajrayana, dan ekspresi kultural agama Buddha lainnya.  Sehingga sebaiknya kita sebagai umat Buddha, tidaklah terburu-buru menolak mitologi (demitologi) dalam agama Buddha, karena konsepsi seperti itu asing dalam sejarah Buddhis, sebaliknya kita semestinya bersifat toleransi terhadap mitologi (remitologi) Buddhis yang penuh inspirasi atas pemikiran yang populer.  Ini karena mitologi (menurut C.G. Jung) merupakan produk abadi dari bawah sadar universal dan kolektif dalam mana semua manusia berbagi, dan yang dilihat dan dipercayai oleh kebanyakan orang sebagai suatu mitologi kuno dan kasus historis psikologi modern.  Bahkan, kebenaran keramat harus dikomunikasikan dalam berbagai bentuk cerita jika memang perlu dimengerti dan diterima secara benar, dan seandainya hal itu memang diperuntukkan bagi umat awam dalam bentuk yang dapat diterima maka haruslah diikuti sedemikian rupa sehingga dapat mengaruhi keseluruhan diri mereka.

Alasan bagi Sektarianisme

Sektarianisme dapatlah diartikan sebagai tidak terdapatnya toleransi terhadap ajaran dan praktek  dari berbagai aliran dan sekte lainnya yg ada dalam agama Buddha, selain sekte/aliran sendiri. Alasan pertama bagi sikap seperti itu tentu saja bersifat historis, yaitu penerimaan suatu aliran tunggal yang dipercayai sendiri tanpa mau memahami hubungan yang berkaitan ataupun perkembangan yang saling dimiliki oleh masing-masing aliran. Kita mesti sadar bawah setiap pembaharuan religius sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak, pembaharu dan yang ditentang pembaharu tsb (misalnya reformasi kr****n memunculkan Reformasi Balasan ka****k yg paling tidak memacu yang belakangan untuk berintrospeksi dan memperaiki diri sendiri).

Sudah merupakan suatu kecenderungan psikologis pada umumnya bahwa penerimaan religius yang pertama adalah merupakan ajaran yang paling baik dan benar. Ini terutama benar untuk orang yang dilahirkan dalam keluarga yang telah beralih kepada suatu keyakinan atau aliran. Kemudian juga terdapat suatu bias linguistik, misalnya di Malaysia dan Singapura dimana kebanyakan umat yang berbahasa Inggris punya kecenderungan mimilih Theravada Sinhala dan umat yang merupakan etnis China lebih menyukai Mahayana (atau dalam kasus Theravada Thailand, umat Thai lokal cepat menyerap dialek China). Kenyataannya kecenderungan umum tersebut tidak begitu bersifat doktrinal melainkan lebih merupakan bias linguistik.

Ini membawa kita kepada alasan berikutnya bagi sektarianisme karena kurangnya literatur berbahasa Inggris yang berkaitan dengan Mahayana di tempat tersebut. (Tidak seperti Theravada yang cenderung cuma membaca dan terlibat dalam ajaran mereka sendiri, Mahayana memiliki kelebihan literatur yg berkenaan dgn kedua aliran tersebut). Kurangnya eksposisi literatur ini merupakan salah satu sebab utama terjadinya bias sektarian. Kurangnya eksposisi sosial juga berperan banyak dalam masalah ini, dan jika saja umat Buddha dari satu aliran mau mengadakan kunjungan baik ke vihara dan pusat dari aliran lainnya (khususnya kunjungan studi), akan terdapat pengertian yang lebih baik di antara berbagai aliran Buddhis. 

Suatu prakonsepsi mungkin akan muncul jika umat cenderung menghakimi aliran lain dengan standarnya sendiri dimana malah berakibat suatu kondisi hubungan yg memburuk. Untuk memahami tradisi lain selain tradisi sendiri, orang harus memulai dengan cara berpikir tradisi tersebut. Kita hidup dalam dunia konvensional dimana apa saja yang sah di suatu tempat bisa saja ditabukan di tempat lainnya.  Dalam tata cara Barat yang sopan (dan Vinaya Pali) , meminum atau meneguk sup dengan cara diseruput bukan merupakan masalah, akan tetapi adat istiadat Jepang mengharapkan kita melakukannya dengan cara yg lebih lembut.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: The One Way - by Ven. Piyasilo
« Reply #4 on: 26 November 2012, 12:35:24 AM »

Metode-metode untuk Mempromosikan Non-Sektarianisme

Kembalinya agama Buddha di Malaysia dan Singapura adalah relatif baru, sehingga dalam kesempatan awal ini akan sangat bijak jika sektarianisme bisa mulai dihentikan. Suatu disiplin Buddhis yg penting harus diperkenalkan dan dikembangan seperti studi perbandingan dalam agama Buddha dimana termasuk penelitian sejarah Buddhis pada masa awalnya, doktrin-doktrin dasar dan praktek-praktek umum. Dalam hal ini harus juga dapat dimasukkan berbagai aspek yang berkaitan termasuk aspek psikologis, filosofis dan disiplin agar terjalin suatu peningkatan pengertian terhadap hakikat dan masalah-masalah yang timbul baik dari pengalaman ataupun ungkapan keagamaan.

Identitas nasional Buddhis cenderung penting dan wajar pada saat ini. Misionaris di luar negeri telah menjalankan peranan mereka dengan sangat baik, dan sekarang saatnya buat umat lokal untuk memainkan peranannya dimana sepanjang agama Buddha tidak diungkapkan melalui kebudayaan lokal (bahasa, seni, arsitektur, musik dsb), maka Dharma tidak dapat dikatakan sudah menjadi suatu bagian kesatuan dari hidup kita. 

Misionaris asing harus berhenti untuk menganggap mereka sebagai orang 'Burma', 'Sinhala', 'Thai', 'Tibet', 'Jepang, dsb, melainkan sebagai 'orang Malaysia (lokal)'. Sehingga kita hanya perlu memandang bagaimana agama Buddha telah bersatu ke dalam masyarakat Burma, Sri Lanka, dan Thailand untuk memahami perlunya 'Malaysianisasi (lokalisasi)' agama Buddha. Jika tidak , agama Buddha yang kita miliki di sini akan cuma menjadi tanaman eksotis dalam sebuah rumah kaca tropis dan kita cuma akan menjadi sumber kebudayaan asing.

Cara praktis untuk mengembangkan kesatuan di antara aliran adalah dengan penggunaan suatu kantor atau pelayanan religius secara umum. Vihara Buddhis Damansara telah berhasil menggunakan 'Puja Tujuh Tingkat' yg terutama dilakukan dlm bahasa Inggris, dengan Perlindungan dan Sila dalam bahasa Pali, Mantra-mantra yg lebih sederhana dalam bahasa Sanskerta. (Puja  ini telah juga diterjemahkan dan dijalankan dalam bahasa Malaysia). Musisi dan komposer Buddhis lokal telah juga menciptakan  dan mengilhami hymne Buddhis Malaysia yang berjalan selaras dengan Puja Tujuh Ruas. Ini merupakan tanda datangnya sesuatu yang lebih besar.

Faktor paling penting dalam mempromosikan keharmonisan non-sektarian tentu saja adalah pikiran yang terbuka dan hati yang toleran. Jika orang tidak mengerti sesuatu, atau berpikir bahwa sesuatu itu bertentangan dgn prinsipnya, maka dia seharusnya dengan semangat Buddhis yg sejati, mengusahakan untuk menyelidiki dan menemukan sebabnya. Pikiran yg tertutup dan cara pandang yg mementingkan diri sendiri, cuma akan membawa sesuatu yg lebih buruk daripada sektarianisme yang cenderung fanatisme religius (yang patut disyukuri bahwa agama Buddha cukup terbebas darinya selama perjalanan sejarah ). Di India kuno, bukan merupakan hal yang tidak lazim apabila seorang umat Buddha memberikan dana kepada Sangha di Empat Penjuru (caturdisa-sangha), yakti semua aliran dlm agama Buddha, meskipun mereka cuma menaruh keyakinan dalam satu aliran saja.

Orang yg menjalankan prinsip dasar agama Buddha akan segera memahami bahwa sektarianisme itu buruk dan tidak perlu adanya. Mereka yg mengoceh bahwa aliran atau sekte mereka itu 'murni' dan bahwa yg lainnya 'sesat' telah dengan sombong dan kasar menyakiti akar dari agama Buddha dan memperlihatkan lemahnya perkembangan spritual mereka. Orang-orang fanatik seperti itu, hampir tidak pernah membaca satu halaman pun ajaran-ajaran yg dikutuknya. Mereka tidak memahami tradisi yang mereka serang dimana hanya beralasan bahwa "aliran lain itu salah dan tidak seperti aliran kita!".

Kelemahan sektarianisme jelas sekali. Paling tidak hal tsb menciptakan dan menyebarkan kebencian dimana merupakan suatu rintangan yg tidak baik untuk kemajuan spritual. Sektarianisme berarti bahwa mereka memiliki pikiran yg tertutup dan mencerminkan bahwa mereka tidak akan pernah melihat di atas keegoisannya sendiri. Mereka menunjukkan kurangnya welas asih yg pada akhirnya akan membawa akibat akhir berupa perpecahan dan kesengsaraan 

Harus Memulai dari Aliran Mana?

Kita harus memulai dari suatu tempat utk mempelajari ajaran dan praktek religius Buddhis. Dalam semangat non-sektarianisme, kita hanya bisa mulai dari Doktrin Dasar atau Sepuluh Prinsip Universal. Jika kita sungguh-sungguh tertarik dengan kemajuan spritual, mengapa harus merepotkan diri dengan label 'Theravada', 'Mahayana', atau 'Vajrayana'. Selain itu jika kita sedang berada dalam kesukaran dan berpaling kepada Dharma, apa bedanya jika label-label tersebut dibuang saja. Pertanyaan yg vital adalah apakah sistem tersebut dapat berjalan. Bagaimanapun Jalan Mulia Delapan Ruas akan tetap berhasil apakah itu Tantra atau Zen!

Seandainya kita karena keterpaksaan oleh keadaan atau tempat lahir sehingga harus berakar pada aliran tertentu, maka kita juga semestinya menjaga agar pikiran tetap terbuka dengan cara membuat studi perbandingan terhadap aliran Buddhis lainnya.  Dan dalam hubungannya dengan hal ini, Sang Buddha bersabda agar kita waspada sangatlah tepat, :

"Untuk hal-hal yang tidak kita setujui, kawan, biarlah hal-hal itu seperti apa adanya. Untuk hal-hal yang kita sependapat, marilah yang bijaksana saling bertanya, mengemukakan alasannya, membicarakannya dengan atau kepada guru mereka atau komunitas mereka." (D 1:163)

Tentu saja selalu ada masalah dengan tradisi dan ekspresi historis , seperti "orang harus mempraktekkan agama Buddha sebagai seorang anggota dari satu aliran, atau dia akan menjadi tak berakar," tegas pemerhati yang peduli. Jika kita serius terhadap perkembangan spritual dan tidak terlalu memperhatikan aspek kultural dan historis, maka kita tidak perlu berafiliasi pada salah satu aliran atau sekte, karena bukankah semua aliran itu hanyalah suatu ekspresi kultural yg merupakan bentuk luar belaka?  Disamping itu sektarianisme adalah merupakan kepercayaan terhadap pandangan salah akan adanya suatu diri (sakkaya ditthi /satkaya drsti) yang merupakan rintangan pertama dalam jalan menuju Pencerahan.

Ikutilah Teladan Sang Buddha

Sangatlah bijaksana apabila kita senantiasa mengingat bahwa tidak pernah terdapat 'Theravada', 'Mahayana', atau 'Vajrayana' di era Sang Buddha Gautama membabarakan Dharma. Label-label tersebut baru diperkenalkan di era sesudahnya oleh umat Buddha sebagai suatu alasan untuk memudahkan mereka memahami darimana seseorang itu memandang kedalaman dan totalitas dari Sang Buddha dan AjaranNya. Karenanya kita tidak seharusnya bermimpi untuk menyebut Sang Buddha sebagai seorang 'Theravada', 'Mahayana', atau 'Vajrayana' , bahkan Sang Buddha tidak pernah menyebut diriNya sebagai seorang 'Buddhist'.

Ven. Piyasilo 
Vihara Buddhist Damansara
Hari Devarohana (14 Oktober 1981) 
Ditulis khusus untuk UNISAINS 1981
Dari naskah asli  : The One Way, A Comparative Study of Mahayana and Theravada
Penerjemah : Ir. Edij Juangari 
Diterbitkan oleh : Yayasan Penerbit Karaniya, Bandung
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.091
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: The One Way - by Ven. Piyasilo
« Reply #5 on: 26 November 2012, 07:50:27 AM »
Tentu saja selalu ada masalah dengan tradisi dan ekspresi historis , seperti "orang harus mempraktekkan agama Buddha sebagai seorang anggota dari satu aliran, atau dia akan menjadi tak berakar," tegas pemerhati yang peduli. Jika kita serius terhadap perkembangan spritual dan tidak terlalu memperhatikan aspek kultural dan historis, maka kita tidak perlu berafiliasi pada salah satu aliran atau sekte, karena bukankah semua aliran itu hanyalah suatu ekspresi kultural yg merupakan bentuk luar belaka

Tentu saja perkataan ini sejalan dengan aliran dari penerbit sekte 'non-sekte.  Perlu dikaji apakah betul perbedaan aliran HANYA karena perbedaan ekspresi kultural yg merupakan bentuk luar saja.  Apakah perbedaan isi Brahmajala SutTa dengan Brahmajala SutRa hanya perbedaan kultural?  Mengapa isi kitab suci Theravada dan Mahayana beda jauh?  Terlalu naif dan menutup mata kalau dikatakan hanya karena beda kultural.  Jadi ingat soal ikan paus dan ikan tenggiri yang 'katanya' sama2 ikan.  ;D

Quote
Disamping itu sektarianisme adalah merupakan kepercayaan terhadap pandangan salah akan adanya suatu diri (sakkaya ditthi /satkaya drsti) yang merupakan rintangan pertama dalam jalan menuju Pencerahan.

Maha Kassapa Thera dan 500 bhikkhu arahat lainnya menurut penulis ini pastilah belum sotapana, apalagi arahat.  :whistle:
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline suli

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 715
  • Reputasi: 32
  • Gender: Female
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitattha
Re: The One Way - by Ven. Piyasilo
« Reply #6 on: 26 November 2012, 08:32:56 AM »
Metode-metode untuk Mempromosikan Non-Sektarianisme

Kembalinya agama Buddha di Malaysia dan Singapura adalah relatif baru, sehingga dalam kesempatan awal ini akan sangat bijak jika sektarianisme bisa mulai dihentikan. Suatu disiplin Buddhis yg penting harus diperkenalkan dan dikembangan seperti studi perbandingan dalam agama Buddha dimana termasuk penelitian sejarah Buddhis pada masa awalnya, doktrin-doktrin dasar dan praktek-praktek umum. Dalam hal ini harus juga dapat dimasukkan berbagai aspek yang berkaitan termasuk aspek psikologis, filosofis dan disiplin agar terjalin suatu peningkatan pengertian terhadap hakikat dan masalah-masalah yang timbul baik dari pengalaman ataupun ungkapan keagamaan.

Identitas nasional Buddhis cenderung penting dan wajar pada saat ini. Misionaris di luar negeri telah menjalankan peranan mereka dengan sangat baik, dan sekarang saatnya buat umat lokal untuk memainkan peranannya dimana sepanjang agama Buddha tidak diungkapkan melalui kebudayaan lokal (bahasa, seni, arsitektur, musik dsb), maka Dharma tidak dapat dikatakan sudah menjadi suatu bagian kesatuan dari hidup kita.

Misionaris asing harus berhenti untuk menganggap mereka sebagai orang 'Burma', 'Sinhala', 'Thai', 'Tibet', 'Jepang, dsb, melainkan sebagai 'orang Malaysia (lokal)'. Sehingga kita hanya perlu memandang bagaimana agama Buddha telah bersatu ke dalam masyarakat Burma, Sri Lanka, dan Thailand untuk memahami perlunya 'Malaysianisasi (lokalisasi)' agama Buddha. Jika tidak , agama Buddha yang kita miliki di sini akan cuma menjadi tanaman eksotis dalam sebuah rumah kaca tropis dan kita cuma akan menjadi sumber kebudayaan asing.

Cara praktis untuk mengembangkan kesatuan di antara aliran adalah dengan penggunaan suatu kantor atau pelayanan religius secara umum. Vihara Buddhis Damansara telah berhasil menggunakan 'Puja Tujuh Tingkat' yg terutama dilakukan dlm bahasa Inggris, dengan Perlindungan dan Sila dalam bahasa Pali, Mantra-mantra yg lebih sederhana dalam bahasa Sanskerta. (Puja  ini telah juga diterjemahkan dan dijalankan dalam bahasa Malaysia). Musisi dan komposer Buddhis lokal telah juga menciptakan  dan mengilhami hymne Buddhis Malaysia yang berjalan selaras dengan Puja Tujuh Ruas. Ini merupakan tanda datangnya sesuatu yang lebih besar.

Faktor paling penting dalam mempromosikan keharmonisan non-sektarian tentu saja adalah pikiran yang terbuka dan hati yang toleran. Jika orang tidak mengerti sesuatu, atau berpikir bahwa sesuatu itu bertentangan dgn prinsipnya, maka dia seharusnya dengan semangat Buddhis yg sejati, mengusahakan untuk menyelidiki dan menemukan sebabnya. Pikiran yg tertutup dan cara pandang yg mementingkan diri sendiri, cuma akan membawa sesuatu yg lebih buruk daripada sektarianisme yang cenderung fanatisme religius (yang patut disyukuri bahwa agama Buddha cukup terbebas darinya selama perjalanan sejarah ). Di India kuno, bukan merupakan hal yang tidak lazim apabila seorang umat Buddha memberikan dana kepada Sangha di Empat Penjuru (caturdisa-sangha), yakti semua aliran dlm agama Buddha, meskipun mereka cuma menaruh keyakinan dalam satu aliran saja.

Orang yg menjalankan prinsip dasar agama Buddha akan segera memahami bahwa sektarianisme itu buruk dan tidak perlu adanya. Mereka yg mengoceh bahwa aliran atau sekte mereka itu 'murni' dan bahwa yg lainnya 'sesat' telah dengan sombong dan kasar menyakiti akar dari agama Buddha dan memperlihatkan lemahnya perkembangan spritual mereka. Orang-orang fanatik seperti itu, hampir tidak pernah membaca satu halaman pun ajaran-ajaran yg dikutuknya. Mereka tidak memahami tradisi yang mereka serang dimana hanya beralasan bahwa "aliran lain itu salah dan tidak seperti aliran kita!".

Kelemahan sektarianisme jelas sekali. Paling tidak hal tsb menciptakan dan menyebarkan kebencian dimana merupakan suatu rintangan yg tidak baik untuk kemajuan spritual. Sektarianisme berarti bahwa mereka memiliki pikiran yg tertutup dan mencerminkan bahwa mereka tidak akan pernah melihat di atas keegoisannya sendiri. Mereka menunjukkan kurangnya welas asih yg pada akhirnya akan membawa akibat akhir berupa perpecahan dan kesengsaraan

Harus Memulai dari Aliran Mana?

Kita harus memulai dari suatu tempat utk mempelajari ajaran dan praktek religius Buddhis. Dalam semangat non-sektarianisme, kita hanya bisa mulai dari Doktrin Dasar atau Sepuluh Prinsip Universal. Jika kita sungguh-sungguh tertarik dengan kemajuan spritual, mengapa harus merepotkan diri dengan label 'Theravada', 'Mahayana', atau 'Vajrayana'. Selain itu jika kita sedang berada dalam kesukaran dan berpaling kepada Dharma, apa bedanya jika label-label tersebut dibuang saja. Pertanyaan yg vital adalah apakah sistem tersebut dapat berjalan. Bagaimanapun Jalan Mulia Delapan Ruas akan tetap berhasil apakah itu Tantra atau Zen!

Seandainya kita karena keterpaksaan oleh keadaan atau tempat lahir sehingga harus berakar pada aliran tertentu, maka kita juga semestinya menjaga agar pikiran tetap terbuka dengan cara membuat studi perbandingan terhadap aliran Buddhis lainnya.  Dan dalam hubungannya dengan hal ini, Sang Buddha bersabda agar kita waspada sangatlah tepat, :

"Untuk hal-hal yang tidak kita setujui, kawan, biarlah hal-hal itu seperti apa adanya. Untuk hal-hal yang kita sependapat, marilah yang bijaksana saling bertanya, mengemukakan alasannya, membicarakannya dengan atau kepada guru mereka atau komunitas mereka." (D 1:163)

Tentu saja selalu ada masalah dengan tradisi dan ekspresi historis , seperti "orang harus mempraktekkan agama Buddha sebagai seorang anggota dari satu aliran, atau dia akan menjadi tak berakar," tegas pemerhati yang peduli. Jika kita serius terhadap perkembangan spritual dan tidak terlalu memperhatikan aspek kultural dan historis, maka kita tidak perlu berafiliasi pada salah satu aliran atau sekte, karena bukankah semua aliran itu hanyalah suatu ekspresi kultural yg merupakan bentuk luar belaka?  Disamping itu sektarianisme adalah merupakan kepercayaan terhadap pandangan salah akan adanya suatu diri (sakkaya ditthi /satkaya drsti) yang merupakan rintangan pertama dalam jalan menuju Pencerahan.

Ikutilah Teladan Sang Buddha

Sangatlah bijaksana apabila kita senantiasa mengingat bahwa tidak pernah terdapat 'Theravada', 'Mahayana', atau 'Vajrayana' di era Sang Buddha Gautama membabarakan Dharma. Label-label tersebut baru diperkenalkan di era sesudahnya oleh umat Buddha sebagai suatu alasan untuk memudahkan mereka memahami darimana seseorang itu memandang kedalaman dan totalitas dari Sang Buddha dan AjaranNya. Karenanya kita tidak seharusnya bermimpi untuk menyebut Sang Buddha sebagai seorang 'Theravada', 'Mahayana', atau 'Vajrayana' , bahkan Sang Buddha tidak pernah menyebut diriNya sebagai seorang 'Buddhist'.

Ven. Piyasilo 
Vihara Buddhist Damansara
Hari Devarohana (14 Oktober 1981) 
Ditulis khusus untuk UNISAINS 1981
Dari naskah asli  : The One Way, A Comparative Study of Mahayana and Theravada
Penerjemah : Ir. Edij Juangari 
Diterbitkan oleh : Yayasan Penerbit Karaniya, Bandung

buku yang bagus! .....smoga membuka wawasan orang2 yang fanatik terhadap alirannya & menganggap aliran lain salah.....terkadang manusia menganggap dirinya paling tau & paling benar pdhal masih banyak hal yg mereka tdk mengerti.......
Good Job Bro Ryu, big thumbs for you utk tulisannya hehehe..... ;)
btw, bagaimana dgn aliran Buddha Niciren Syoshu? dr dulu saya penasaran dgn aliran yang satu ini, kira2 ada yg bs share atau buku mengenainya ga?
🙏