//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang  (Read 9776 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline jimmykei

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 168
  • Reputasi: 11
  • Gender: Male
  • Semoga Semua Makhluk Berbahagia, Sadhu3x
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #15 on: 24 February 2010, 08:50:59 PM »
wah ketinggalan baca tp mantep banget
salut

Offline bluppy

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.163
  • Reputasi: 65
  • Gender: Female
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #16 on: 29 November 2013, 08:30:14 AM »

Dokter Lo Siaw Ging
Alamat:Jl. Jagalan 27 Solo Kota/Jebres
Telepon:0271- 665007

Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di tempat prakteknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerka, RS Kasih Ibu. Alhasil, Lo harus membayar tagihan resep antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo tidak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.

“Beruntung masih banyak yang percaya dengan saya,” kata dia.
Di mata pasien tidak mampu, Lo memang bagaikan malaikat penolong. Ia menjungkirbalikan logika tentang biaya kesehatan yang selama ini sering tak terjangkau oleh pasien miskin. Apa yang dilakukan Lo juga seperti membantah idiom “orang miskin dilarang sakit”.

sumber kaskus

Offline bluppy

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.163
  • Reputasi: 65
  • Gender: Female
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #17 on: 29 November 2013, 10:08:37 AM »
iseng agg... mau ngebahas ttg Dokter Lo
ngk tau dag ini dokter agamanya apa...
tapi yang pasti dia sedang praktek hal yg kusala (baik)

bener2 ajaib, masih ada org seperti ini
org yg idealis, dan dalam kehidupan nyata bisa berhasil menjalankan idealisme nya
biasa banyak org yg pertamanya idealis, tapi dikalahkan realitas dan terhanyut mengikuti arus lingkungan aja
tapi ini dokter, against all odds, bener2 mempraktekkan idealisme nya

iseng lagi, mau dicocok logikan dengan teori buddhist

Pasangan idealis: Dr Lo dokter umum dan istrinya dokter anak
Spoiler: ShowHide
1. berkeyakinan yang sama (samma saddha)
2. kedermawanan yang sepadan (samma cagga)
3. moralitas yang sepadan (samma sila)
4. kebijaksanaan yang sepadan (samma panna)
Istrinya sama2 dokter, dan juga rela mendukung Dokter Lo praktek tidak memungut biaya.
Istrinya sama2 terbiasa hidup sederhana, rumah kecilnya ngk diperbesar, dipermewah dll
kalau salah satu pengen hidup lebih mewah, idealisme itu ngk akan terlaksana kali ya....
dan kebetulan tidak punya anak, jadi harta dan waktunya bisa fokus ke idealisme nya
Quote
Menurut Lo, itrinya memiliki peran besar terhadap apa yang ia lakukan. Tanpa perempuan itu, kata Lo, ia tidak akan bisa melakukan semuanya.
“Dia perempuan luar biasa. Saya beruntung menjadi suaminya,” ujar Lo tentang perempuan yang ia nikahi tahun 1968 itu.

Rumah ini sudah cukup besar untuk kami berdua. Kalau ada penghasilan lebih, biarlah itu untuk mereka yang membutuhkan. Kebutuhan kami hanya makan. Bisa sehat sampai usia seperti sekarang ini saja, saya sudah sangat bersyukur. Semakin panjang usia, semakin banyak kesempatan kita untuk membantu orang lain,” kata Lo yang selama 43 tahun perikahannya dengan Gan May Kwee tidak dikaruniai anak.


dari Karineya metta sutta
Merasa puas, mudah dirawat, tiada sibuk, sederhana hidupnya, tenang inderanya, selalu waspada, tahu malu, tidak melekat pada keluarga.
Spoiler: ShowHide
Dokter Lo sibuk sih, dari pagi sampe malem, sampe umur hampir 80 an masih sibuk.
tapi merasa puas, mudah dirawat, sederhana hidupnya: "kebutuhannya hanya makan saja" (hehehe...tambah sandang pangan papan lar, tapi masih sederhana banget yag)"
tenang inderanya: karena kerja dari pagi sampe malem, mungkin ngk sempet banyak menikmati hiburan kaya maen internet, nonton tv, makan buffet, dll...jadi menebak tenang inderanya

Quote
Kini, meski usianya sudah hampir 80 tahun, Lo tidak mengurangi waktunya untuk tetap melayani pasien. Setiap hari, mulai pukul 06..00 sampai 08.00, dia praktek di rumahnya. Selanjutnya, pukul 09.00 hingga pukul 14.00, Lo menemui para pasiennya di RS Kasih Ibu. Setelah istirahat dua jam, ia kembali buka praktek di rumahnya sampai pukul 20.00.

Puluhan tahun menjadi dokter, dan bahkan pernah menjadi direktur sebuah rumah sakit besar, kehidupan Lo tetap sederhana. Bersama istrinya, ia tinggal di rumah tua yang relatif tidak berubah sejak awal dibangun, kecuali hanya diperbarui catnya. Bukan rumah yang megah dan bertingkat seperti umumnya rumah dokter.

”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa
banyak sih makannya?” ujar Lo.


Ia harus pandai, jujur, sangat jujur. Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.
Spoiler: ShowHide
Dokter Lo galak dan tegas, pasien nya sering diomelin kalo bandel masih mau bayar padahal ngk punya uang buat beli beras.
pandai: bisa jadi dokter harus pandai lar
jujur, sangat jujur: diri sendiri jujur, dan juga tidak suka melihat org yg berbohong seperti org yg bayar fiskal tapi bohong kurang kasih rp 100.000
rendah hati, tiada sombong: tidak ingin diumbar beritanya. bahkan ketika mencari donatur, dipilih donatur yg bersedia tidak disebut namanya. Artinya cari donatur yg tidak ingin berdana untuk popularitas atau untuk dipuji org lain, untuk nama baik, dll. Jadi "org suka berkumpul dengan org sejenisnya" jadi dokter lo juga mencari org yg idealisme nya mirip dengan dirinya
Quote
Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo tidak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.
“Beruntung masih banyak yang percaya dengan saya,” kata dia.

Secara pribadi saya mengenal dokter Lo ketika bekerja di perusahaan farmasi hampir dua dekade lalu. Ketemu lagi dengan beliau ketika saya sudah beralih profesi bekerja sebagai petugas pajak dan ditugaskan di bagian Fiskal Luar Negeri Bandara Adi Sumarmo Solo. Pengalaman unik dengan beliau yakni pada saat ada seseorang yang sengaja tidak genap membayar biaya fiskal luar negeri yang waktu itu Rp. 1 Juta, hanya menyerahkan Rp. 900 ribu, tapi mengaku sudah benar. Belum lagi saya menegurnya, dokter Lo sudah menegur orang tersebut agar jujur. Ya, dokter Lo memang antri pas dibelakang orang tersebut hingga tau gerak-geriknya.


Aku adalah pemilik karmaku sendiri,
Pewaris karmaku sendiri,
Lahir dari karmaku sendiri,   
Berhubungan dengan karmaku sendiri,
Terlindung oleh karmaku sendiri,
Apapun karma yang ku perbuat, baik atau buruk,
Itulah yang akan kuwarisi
Hendaklah ini kerap kali direnungkan.
Spoiler: ShowHide

Dokter Lo juga terlindungi oleh kamma baiknya sendiri
karena sering berbuat baik, tetangganya semua melindungi dia
iya lar, kalau saya jadi preman, saya juga ngk akan berani ganggu dokter lo, takut digebukin tetangganya.

Quote
Apa yang dikatakan Lo tentang membantu siapa pun yang membutuhkan itu bukanlah omong kosong. Ketika terjadi kerusuhan Mei 1998 lalu misalnya, Lo tetap buka praktek. Padahal para tetangganya meminta agar dia tutup karena situasi berbahaya, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo tetap menerima pasien yang datang. Para tetangga yang khawatir akhirnya beramai-ramai menjaga rumah Lo.

“Banyak yang butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Kalau semua dokter tutup siapa yang akan menolong mereka?” kata Lo yang juga lulusan Managemen Administrasi Rumah Sakit (MARS) dari Universitas Indonesia.

Hingga kerusuhan berakhir dan situasi kembali aman, rumah Lo tidak pernah tersentuh oleh para perusuh. Padahal rumah-rumah di sekitarnya banyak yang dijarah dan dibakar.


dan banyak faktor pendukung juga
1. keluarga: istri mendukung, ngk ada anak jadi ngk usah membiayai anak
2. guru dan orang tua : guru dan panutannya adalah dokter Oen, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.
”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo
3. lingkungan: di kota kecil. jadi masih punya waktu dan tenaga untuk melihat 40 org/hari, tagihan obat sebulan 8-10 juta yg dibayar dokter lo. kalo dokter lo di kota besar sehari bisa ratusan org, waktu dan tenaga ngk akan mencukupi, dan bisa tagihan ratusan juta, mungkin beberapa tahun aja dokter lo udah bangkrut
4. masyarakat: masih banyak pasien yg tau diri. yg bener2 miskin ngk bisa bayar masih kasih pisang. tapi yg ngk mampu beli beras lagi bakal dimarahin kalo masih ngotot mau bayar. dan yg masih agak mampu memilih tetap bayar. kalo banyak yg nipu dan memanfaatkan, nanti malah dokternya bangkrut mungkin.

ha...lega yag bisa ngeliat cerita kaya gini
« Last Edit: 29 November 2013, 10:28:04 AM by bluppy »

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #18 on: 06 December 2013, 07:01:29 PM »
Laporan wartawan KOMPAS Sonya Helen Sinombor

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998

Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.

”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.

Anugerah

Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.

”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”

DATA DIRI

• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria Gan May Kwee (62) • Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: - Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo


Sumber : Kompas
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/07/16/09405225/dokter.lo.siaw.ging.tak.sudi.berdagang
HEBAT  :jempol: :jempol:
I'm an ordinary human only

Offline Shasika

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.152
  • Reputasi: 101
  • Gender: Female
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #19 on: 06 December 2013, 07:04:13 PM »
iseng agg... mau ngebahas ttg Dokter Lo
ngk tau dag ini dokter agamanya apa...
tapi yang pasti dia sedang praktek hal yg kusala (baik)

bener2 ajaib, masih ada org seperti ini
org yg idealis, dan dalam kehidupan nyata bisa berhasil menjalankan idealisme nya
biasa banyak org yg pertamanya idealis, tapi dikalahkan realitas dan terhanyut mengikuti arus lingkungan aja
tapi ini dokter, against all odds, bener2 mempraktekkan idealisme nya

iseng lagi, mau dicocok logikan dengan teori buddhist

Pasangan idealis: Dr Lo dokter umum dan istrinya dokter anak
Spoiler: ShowHide
1. berkeyakinan yang sama (samma saddha)
2. kedermawanan yang sepadan (samma cagga)
3. moralitas yang sepadan (samma sila)
4. kebijaksanaan yang sepadan (samma panna)
Istrinya sama2 dokter, dan juga rela mendukung Dokter Lo praktek tidak memungut biaya.
Istrinya sama2 terbiasa hidup sederhana, rumah kecilnya ngk diperbesar, dipermewah dll
kalau salah satu pengen hidup lebih mewah, idealisme itu ngk akan terlaksana kali ya....
dan kebetulan tidak punya anak, jadi harta dan waktunya bisa fokus ke idealisme nya


dari Karineya metta sutta
Merasa puas, mudah dirawat, tiada sibuk, sederhana hidupnya, tenang inderanya, selalu waspada, tahu malu, tidak melekat pada keluarga.
Spoiler: ShowHide
Dokter Lo sibuk sih, dari pagi sampe malem, sampe umur hampir 80 an masih sibuk.
tapi merasa puas, mudah dirawat, sederhana hidupnya: "kebutuhannya hanya makan saja" (hehehe...tambah sandang pangan papan lar, tapi masih sederhana banget yag)"
tenang inderanya: karena kerja dari pagi sampe malem, mungkin ngk sempet banyak menikmati hiburan kaya maen internet, nonton tv, makan buffet, dll...jadi menebak tenang inderanya


Ia harus pandai, jujur, sangat jujur. Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.
Spoiler: ShowHide
Dokter Lo galak dan tegas, pasien nya sering diomelin kalo bandel masih mau bayar padahal ngk punya uang buat beli beras.
pandai: bisa jadi dokter harus pandai lar
jujur, sangat jujur: diri sendiri jujur, dan juga tidak suka melihat org yg berbohong seperti org yg bayar fiskal tapi bohong kurang kasih rp 100.000
rendah hati, tiada sombong: tidak ingin diumbar beritanya. bahkan ketika mencari donatur, dipilih donatur yg bersedia tidak disebut namanya. Artinya cari donatur yg tidak ingin berdana untuk popularitas atau untuk dipuji org lain, untuk nama baik, dll. Jadi "org suka berkumpul dengan org sejenisnya" jadi dokter lo juga mencari org yg idealisme nya mirip dengan dirinya


Aku adalah pemilik karmaku sendiri,
Pewaris karmaku sendiri,
Lahir dari karmaku sendiri,   
Berhubungan dengan karmaku sendiri,
Terlindung oleh karmaku sendiri,
Apapun karma yang ku perbuat, baik atau buruk,
Itulah yang akan kuwarisi
Hendaklah ini kerap kali direnungkan.
Spoiler: ShowHide

Dokter Lo juga terlindungi oleh kamma baiknya sendiri
karena sering berbuat baik, tetangganya semua melindungi dia
iya lar, kalau saya jadi preman, saya juga ngk akan berani ganggu dokter lo, takut digebukin tetangganya.


dan banyak faktor pendukung juga
1. keluarga: istri mendukung, ngk ada anak jadi ngk usah membiayai anak
2. guru dan orang tua : guru dan panutannya adalah dokter Oen, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.
”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo
3. lingkungan: di kota kecil. jadi masih punya waktu dan tenaga untuk melihat 40 org/hari, tagihan obat sebulan 8-10 juta yg dibayar dokter lo. kalo dokter lo di kota besar sehari bisa ratusan org, waktu dan tenaga ngk akan mencukupi, dan bisa tagihan ratusan juta, mungkin beberapa tahun aja dokter lo udah bangkrut
4. masyarakat: masih banyak pasien yg tau diri. yg bener2 miskin ngk bisa bayar masih kasih pisang. tapi yg ngk mampu beli beras lagi bakal dimarahin kalo masih ngotot mau bayar. dan yg masih agak mampu memilih tetap bayar. kalo banyak yg nipu dan memanfaatkan, nanti malah dokternya bangkrut mungkin.

ha...lega yag bisa ngeliat cerita kaya gini
JARANG orang semacam ini untuk jaman sekarang, semoga beliau mempunyai penerus (murid ato rekan sejawat)  ^:)^ ^:)^
I'm an ordinary human only

Offline Kang_Asep

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 528
  • Reputasi: -14
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #20 on: 07 December 2013, 05:04:08 PM »
hebat!

 

anything