//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang  (Read 9534 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline bond

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.666
  • Reputasi: 189
  • Buddhang Saranam Gacchami...
Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« on: 16 July 2009, 10:59:36 AM »
Laporan wartawan KOMPAS Sonya Helen Sinombor

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998

Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.

”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.

Anugerah

Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.

”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”

DATA DIRI

• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria Gan May Kwee (62) • Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: - Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo


Sumber : Kompas
http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/07/16/09405225/dokter.lo.siaw.ging.tak.sudi.berdagang
Natthi me saranam annam, Buddho me saranam varam, Etena saccavajjena, Sotthi te hotu sabbada

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #1 on: 16 July 2009, 12:26:20 PM »
salut2..
four thumbs deh.. pake jempol kaki..
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Sunce™

  • Sebelumnya: Nanda
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.350
  • Reputasi: 66
  • Gender: Male
  • Nibbana adalah yang Tertinggi
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #2 on: 16 July 2009, 12:57:02 PM »
hebattt.... patut dicontoh nih dokter..

Offline CKRA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 919
  • Reputasi: 71
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #3 on: 16 July 2009, 01:06:07 PM »
Semoga makin banyak dokter seperti ini. Tapi lebih baik lagi semoga semua rakyat kita mampu membayar dokter dan biaya kesehatannya.

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #4 on: 16 July 2009, 01:29:52 PM »
sebenarnya masih banyak tokoh tionghoa di indonesia selain dr lo. cuman saja belum disebut, belum diketahui sama kita sendiri.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.403
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #5 on: 16 July 2009, 01:35:26 PM »
hmm kenapa fokusnya jadi tokoh tionghoa? kenapa tidak tokoh manusia?
There is no place like 127.0.0.1

Offline hatRed

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 7.400
  • Reputasi: 138
  • step at the right place to be light
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #6 on: 16 July 2009, 01:40:06 PM »
jadi terinspirasi membuka troubleshooting gratis :P
i'm just a mammal with troubled soul



Offline lophenk

  • Sebelumnya: 4kupak
  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 685
  • Reputasi: 28
  • Gender: Male
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #7 on: 16 July 2009, 01:42:06 PM »
Hebat !!!  :jempol:
thanks Buddha...

Offline CKRA

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 919
  • Reputasi: 71
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #8 on: 16 July 2009, 01:45:48 PM »
Hebat !!!  :jempol:

Yang hebat siapa nih? dr. Lo atau bro hatred yang mau buka troubleshooting gratis?

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #9 on: 16 July 2009, 01:46:45 PM »
bener2 beda ama Ponari ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #10 on: 16 July 2009, 03:06:30 PM »
hmm kenapa fokusnya jadi tokoh tionghoa? kenapa tidak tokoh manusia?

Sebenar kliping biografi dia tuh udah pernah di munculin ketika ada kerusuhan ras pada tahun 98.  Dia dipublikasikan agar bahwa orang tionghoa juga ada yang berdikasi tinggi dan berjasa di republik indonesia. Sekarang beliau dimunculkan kembali karena masalah xin jiang. Kasusnya itu sifatnya krimal murni tapi dibawa ke masalah ras dan Agama. Makanya beliau dimunculkan kembali agar membuat situasi tenang

Offline purnama

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.309
  • Reputasi: 73
  • Gender: Male
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #11 on: 16 July 2009, 04:29:30 PM »
Dahulu masyarakat tionghoa juga merasakan hal
yang sama tatkala membaca tulisan tentang pengabdian dr. Oen Boen Ing. Ternyata
ada satu lagi murid dan penerus dr. Oen, yang tetap setia kepada sumpahnya dulu
sebelum menjadi dokter. Dr. Oen yang―kendati Tionghoa―diberi gelar KRT Obi
Darmokusumo oleh Puri Mangkunegaran dan namanya diabadikan dalam nama RS Dr. Oen
(dahulu RS Panti Kosala), Solo. Uniknya lagi, mereka―dr. Oen Boen Ing dan dr.
Lo Siauw Ging―tetap setia mempertahankan nama Tionghoa mereka, tanpa perlu
takut dengan segala intimidasi “yang macam-macam” semasa orde babe. Tokh,
tanpa perlu “ganti she tukar nama,” orang juga sudah tahu siapa mereka.
Sungguh patut diacungi empat jempol... (jempol tangan + jempol kaki deng!)

Perilaku semacam ini patut menjadi panutan bagi para dokter muda―Tionghoa
maupun non-Tionghoa. Apalagi ketika semua layanan masyarakat telah
dikomersialisasikan―termasuk layanan dokter dan rumahsakit, ternyata masih ada
saja sosok seperti dr. Lo ini. Owe berharap di Jakarta dan tempat-tempat lain
masih ada dokter Lo Siauw Ging lain dan, kalau belum, semoga tulisan ini
menginspirasi para dokter lainnya untuk selalu setia membantu orang kecil, bukan
mencari uang sebanyak-banyaknya dari masyarakat yang membutuhkan. Sekali lagi:
“Kalau mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi
dokter!” Jangan sampai rumah sakit jadi lahan tempat berjual beli. Semoga
saja.

Offline dipasena

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.612
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
  • Sudah Meninggal
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #12 on: 16 July 2009, 05:09:38 PM »
ayo ayo... ikuti langkahnya... klo aa'tono bs jg menerima "service komputer gratis" :)) bangkrut ga ya lama-lama ?

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #13 on: 17 July 2009, 12:44:49 AM »
Salut .....  :jempol:

Semoga banyak dokter2, yg mengikuti jejak beliau  _/\_

Sosok Dokter Lo Siaw Ging
  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline wiithink

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.630
  • Reputasi: 32
  • Gender: Female
Re: Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang
« Reply #14 on: 19 July 2009, 11:29:08 PM »
wah.. keren... ternyata masihada orang baik di muka bumi ini.. abisnya di tipi tipi beritanya pembunuhan, perampokan dan lain lain.. jadi semua dianggap orang jahat ajahh....

salut ntuk dokter lo