//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)  (Read 453 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« on: 04 May 2021, 01:03:42 PM »
Berikut adalah terjemahan Madhyama Agama bagian 11 yang terdiri dari kotbah 117-131, yang merupakan bagian terakhir dari vol. II ini.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #1 on: 04 May 2021, 01:07:16 PM »
Bagian 11
Bab Panjang [Pertama]


117. Kotbah tentang [Pengasuhan] Menyenangkan<354>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Pada masa lampau, [sebelum] aku meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk berlatih sang jalan. Aku [hidup] dalam keleluasaan, kenyamanan, dan kebahagiaan, dengan dibesarkan dalam suatu cara yang [sangat] menyenangkan. Ketika aku [masih] tinggal dalam rumah ayahku, Suddhodana, ia membangun berbagai istana untukku: istana musim semi, istana musim panas, dan istana musim dingin.

Untuk menyediakan bagi hiburanku, ia memerintahkan berbagai jenis kolam bunga dibangun tak jauh dari istana-istanaku: kolam bunga untuk seroja biru, untuk seroja merah muda, untuk seroja merah, dan untuk seroja putih. Dalam kolam-kolam ini ia memerintahkan berbagai bunga air ditanam: seroja biru, seroja merah muda, seroja merah, dan seroja putih. Ia memerintahkan agar kolam-kolam itu diberi air dan bunga-bunga; dan ia memerintahkan agar kolam-kolam itu dijaga, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menjangkaunya.

Untuk menyediakan bagi hiburanku, ia memerintahkan berbagai jenis bunga yang tumbuh di darat ditanam pada tepi kolam-kolam itu: melati berbunga besar, melati Arab, champak, lili harum, bunga beraroma madu, bunga mawar, dan teratai.<355>

Untuk menyediakan bagi hiburanku, ia menugaskan empat orang untuk memandikanku. Setelah memandikanku, mereka akan mengoleskan pasta kayu cendana merah pada tubuhku. Setelah mengoleskan pasta kayu cendana pada tubuhku, mereka memakaikan padaku pakaian sut, sama sekali baru dari atas sampai bawah, luar dan dalamnya. Siang dan malam mereka terus-menerus memegang payung penahan matahari di atasku, sang Putera Mahkota, sehingga aku tidak lembab oleh embun pada malam hari atau terbakar oleh matahari selama siang hari.

Sedangkan di rumah tangga lain yang biasa biji-bijian kasar, gandum, sup kacang, dan ginseng adalah makanan utama, dalam rumah tangga ayahku, Suddhodana, bahkan para pelayan yang paling rendah memiliki nasi dan hidangan mewah sebagai makanan utama mereka.

Selanjutnya, makanan terus-menerus dipersiapkan untukku dari burung dan binatang buruan, burung dan binatang yang paling cantik – burung pegar atau ayam hutan, dan rusa atau kijang – burung dan binatang buruan demikian, burung dan binatang yang paling cantik.

Aku ingat bagaimana, telah lama berlalu, ketika aku [masih] tinggal dalam rumah ayahku, Suddhodana, aku akan pergi ke istana utama untuk menghabiskan empat bulan musim panas. Di sana tidak ada laki-laki lain di sana, hanya para wanita untuk penghiburanku. Ketika berada di sana, aku tidak memiliki [pemikiran untuk] kembali. Ketika aku ingin mengunjungi taman-taman, tiga puluh orang anggota pasukan berkuda yang terbaik dipilih untuk memberikan pengawalan seremonial, baik di depan dan belakang aku, untuk menungguku dan memanduku – tidak mengatakan [para pelayan]-ku yang lain. Demikianlah kehormatan dan kekuasaanku. Demikianlah sangat menyenangkannya [pengasuhanku].

Aku juga ingat bagaimana, telah lama berlalu, aku melihat para petani yang beristirahat di sawah mereka, aku pergi ke bawah sebatang pohon jambu dan duduk bersila. Terasing dari kenikmatan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, aku memasuki dan berdiam dalam jhāna pertama, yang [disertai] kesadaran [terarah] dan perenungan [berkelanjutan], dengan sukacita dan kebagiaan yang lahir dari keterasingan.<356>

Aku berpikir, “Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar itu sendiri tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit. Ketika melihat orang lain jatuh sakit, mereka merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, tidak mengamati [kondisi] mereka sendiri.”

Selanjutnya, aku berpikir, “Aku sendiri tunduk pada penyakit, tidak terbebas dari penyakit. Jika ketika melihat orang lain jatuh sakit aku merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, maka itu akan tidak pantas bagiku, karena aku juga tunduk pada [kondisi] ini.” Ketika aku telah mengamati dengan cara ini, keangkuhan yang disebabkan oleh tidak berpenyakit secara alamiah lenyap.

Selanjutnya, aku berpikir, “Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar itu sendiri tunduk pada usia tua, tidak terbebas dari usia tua. Ketika melihat orang lain menjadi tua, mereka merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, tidak mengamati [kondisi] mereka sendiri.”

Selanjutnya, aku berpikir, “Aku sendiri tunduk pada usia tua, tidak terbebaskan dari usia tua.  Jika ketika melihat orang lain menjadi tua aku merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, itu akan tidak pantas bagiku, karena aku juga tunduk pada [kondisi] ini.” Ketika aku telah merenung dengan cara ini, keangkuhan yang disebabkan oleh usia [muda] secara alamiah lenyap.<357>

Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar adalah angkuh, sombong, dan menjadi lalai karena tidak berpenyakit. Karena keinginan indria ketidaktahuan mereka tumbuh dan mereka tidak menjalankan kehidupan suci. Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar adalah angkuh, sombong, dan menjadi lalai karena masih [muda]. Karena keinginan indria ketidaktahuan mereka tumbuh dan mereka tidak menjalankan kehidupan suci.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Tunduk pada penyakit, tunduk pada usia tua, dan tunduk pada kematian.
[Walaupun] diri mereka sendiri sama halnya tunduk [pada hal-hal ini],
Orang-orang duniawi memandang [kondisi-kondisi ini] dengan kejijikan.
Jika aku merasa jijik [pada kondisi-kondisi ini],
[Walaupun] belum melampauinya,
Itu akan tidak pantas bagiku,
Karena aku juga tunduk pada hal ini.

Ia yang berlatih seperti ini
Merealisasi Dharma yang [membawa pada] kebebasan dari kelahiran kembali
Sehubungan dengan keangkuhan karena tidak berpenyakit,
Muda, dan berusia panjang.
Melenyapkan semua keangkuhan [demikian],
Seseorang melihat kedamaian dari kebosanan.

Dengan tercerahkan dengan cara ini,
Seseorang tidak gelisah sehubungan dengan kenikmatan indria.
Mencapai persepsi bahwa tidak ada hal [dalam kenikmatan indria],
Ia menjalankan kehidupan suci yang murni.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #2 on: 04 May 2021, 01:12:36 PM »
118. Kotbah tentang Gajah<358>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Taman Timur, di Aula Ibu Migāra.

Pada waktu itu, pada malam hari, Sang Bhagavā bangkit dari duduk dalam keterasingan, turun dari aula itu, dan berkata, “Udāyin, marilah kita pergi bersama-sama menuju Sungai Timur untuk mandi.”<359>

Yang Mulia Udāyin menjawab, “Baik.”

Kemudian Sang Bhagavā pergi ke Sungai Timur bersama dengan Yang Mulia Udāyin. Beliau melepaskan jubahnya, meninggalkannya di tepi sungai, dan masuk ke dalam air untuk mandi. Setelah mandi, beliau keluar, mengusap tubuhnya [sampai kering], dan mengenakan jubahnya.

Pada waktu itu Raja Pasenadi memiliki seekor gajah (nāga) bernama Sati.<360> Ia menyeberangi Sungai Timur dengan disertai berbagai jenis musik yang menghibur. Ketika melihatnya, banyak orang berkata, “Ini adalah nāga di antara para nāga, seekor nāga kerajaan yang agung. Apakah namanya?”

Yang Mulia Udāyin merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata:

Sang Bhagavā, gajah ini memiliki tubuh yang besar, dan banyak orang, ketika melihatnya, berkata, “Ini adalah nāga di antara para nāga, seekor nāga kerajaan yang agung. Apakah namanya?”

Sang Bhagavā berkata:

Demikianlah, Udāyin. Demikianlah, Udāyin. Gajah ini memiliki tubuh yang besar, dan banyak orang, ketika melihatnya, berkata, “Ini adalah nāga di antara para nāga, seekor nāga kerajaan yang agung. Apakah namanya?”

Udāyin, jika seekor kuda, unta, sapi, keledai, ular, manusia, atau sebatang pohon telah tumbuh sehingga memiliki bentuk tubuh yang besar, maka Udāyin, banyak orang, ketika melihatnya, berkata, “Ini adalah nāga di antara para nāga, seekor nāga kerajaan yang agung. Apakah namanya?”

Udāyin, di dunia ini dengan para dewa, māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, tentang siapa pun yang tidak melukai [orang lain] melalui [perbuatan] jasmani, ucapan, atau pikiran aku mengatakan, “Ia adalah seekor nāga.”<361> Udāyin, di dunia ini dengan para dewa, māra, Brahmā, pertapa, dan brahmana, dari manusia sampai para dewa, Sang Tathāgata tidak melukai [orang lain] melalui [perbuatan] jasmani, ucapan, atau pikiran. Karena alasan ini aku disebut seekor nāga.

Kemudian Yang Mulia Udāyin merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata:

Sang Bhagavā! Semoga Sang Bhagavā meningkatkan kekuatan inspiratifku! Semoga Sang Sugata meningkatkan kekuatan inspiratifku! Izinkanlahaku, di hadapan Sang Buddha, untuk melantunkan pujian terhadap Sang Bhagavā dengan syair-syair yang berhubungan dengan karakteristik seekor nāga!

Sang Bhagavā berkata, “Lakukanlah seperti yang engkau inginkan.”

Kemudian, Yang Mulia Udāyin, di hadapan Sang Buddha, memuji Sang Bhagavā dengan syair-syair yang berhubungan dengan karakteristik seekor nāga:

Yang Tercerahkan Sempurna, terlahir di antara manusia,
Menjinakkan dirinya sendiri, mencapai konsentrasi benar.
Menjalankan jalan mulia,
Ia menenangkan pikirannya dan dapat mencapai kebahagiaan oleh dirinya sendiri.

Dihormati oleh orang-orang
Karena melampaui semua hal,
Ia juga dihormati oleh para dewa
[Sebagai] seseorang yang telah menjadi Arahant, tanpa kemelekatan.

Ia telah melampaui semua belenggu,
Dari dalam hutan [belenggu], ia telah meninggalkan hutan itu [dengan mencapai nirvana].<362>
Setelah membuang kenikmatan indria, ia bergembira dalam kebosanan,
Bagaikan emas sejati yang diambil dari bijihnya.

Terkemuka sebagai Yang Tercerahkan Sempurna,
Bagaikan matahari yang naik di angkasa,
[Ia adalah] yang tertinggi di antara semua nāga,
Bagaikan puncak tertinggi di antara banyak gunung.

Dipuji sebagai seekor nāga agung,
Ia tidak melukai di mana pun.
Nāga di antara para nāga,
Sesungguhnya [ia] adalah seekor nāga yang tiada bandingnya.

Kelembutan dan tanpa melukai –
Dua hal ini adalah kaki [belakang] sang nāga.
Pertapaan dan selibat
Adalah latihan sang nāga.

Sang nāga agung memiliki keyakinan sebagai belalainya,
Dua jenis kebaikan sebagai gadingnya;
Perhatian sebagai lehernya, dan kebijaksanaan sebagai kepalanya,
Untuk merenungkan dan menganalisis ajaran;

Menerima dan mengingat ajaran-ajaran adalah perutnya,
Bergembira dalam keterasingan adalah dua kaki depannya.<363>
Menenangkan dengan baik napas masuk dan keluar,
Pikiran[nya] mencapai konsentrasi sempurna.

Sang nāga tetap terkonsentrasi ketika berjalan dan berdiri;
Ketika duduk ia terkonsentrasi dan juga ketika berbaring.
Sang nāga terkonsentrasi setiap saat.
Ini adalah keadaan tetap sang nāga.

Ia menerima makanan dari sebuah rumah tangga yang tanpa kecacatan.
Ia tidak menerimanya dari rumah tangga dengan kecacatan.
[Jika] ia menerima makanan yang rusak atau tidak murni,
Ia membuangnya, seperti seekor singa.

Makanan yang dipersembahkan kepadanya
Ia terima demi belas kasih terhadap orang lain.
Sang nāga, dalam memakan persembahan penuh keyakinan dari orang lain,
Mempertahankan kehidupannya tanpa kemelekatan.

Ia telah memotong semua belenggu, besar dan kecil,
Mencapai pembebasan dari semua ikatan.
Ke mana pun ia berjalan,
Pikirannya tidak terikat oleh kemelekatan apa pun.

Seperti halnya seroja putih
Lahir di dalam air dan tumbuh dipelihara oleh air,
[Tetapi] air berlumpur tidak dapat melekat
Pada keharuman tajam dan bentuk menyenangkannya –

Dengan cara yang sama, Yang Tercerahkan tertinggi
Lahir ke dunia dan aktif di dunia,
[Tetapi] tidak terkotori oleh kenikmatan indria,
Seperti halnya bunga [seroja] di mana air [berlumpur] tidak melekat padanya.

Seperti halnya api yang menyala-nyala
Akan berhenti membakar jika tidak diberikan bahan bakar.
Tanpa bahan bakar api tidak berlanjut;
Api yang demikian dikatakan telah padam.

Orang-orang bijaksana menyampaikan perumpamaan ini,
Berharap maknanya dapat dipahami.
Ini adalah apa yang telah diketahui sang nāga,
Dan apakah yang diajarkan oleh nāga di antara para nāga.

Bebas dari keinginan seksual dan kebencian,
Setelah membuang ketidaktahuan dan mencapai [keadaan] tanpa noda,
[Ketika] sang nāga meninggalkan jasmaninya,
Sang nāga dikatakan telah padam.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Udāyin bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #3 on: 04 May 2021, 01:16:04 PM »
119. Kotbah tentang Landasan untuk Berbicara<364>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Di sini terdapat [hanya] tiga landasan untuk berbicara,<365> bukan empat dan bukan lima. Jika seorang bhikkhu telah melihat [sesuatu], maka berdasarkan hal itu ia dapat berbicara, dengan mengatakan, “Aku melihatnya.” [Jika ia telah] mendengar ... mengenali ... mengetahui [sesuatu, maka berdasarkan hal itu] seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Ini adalah apa yang kuketahui.”

Apakah tiga [landasan untuk berbicara]? Berdasarkan masa lampau seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Seperti ini ia pada masa lampau.” Berdasarkan masa depan seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Seperti ini ia pada masa depan.” Berdasarkan masa sekarang seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Seperti ini ia sekarang.” Ini adalah tiga landasan untuk berbicara, bukan empat dan bukan lima.

Jika seorang bhikkhu telah melihat [sesuatu], maka berdasarkan hal itu ia dapat berbicara, dengan mengatakan, “Ia melihatnya.” [Jika ia telah] mendengar ... mengenali ... mengetahui [sesuatu, maka berdasarkan hal itu] seorang bhikkhu dapat berbicara, dengan mengatakan, “Ini adalah apa yang kuketahui.” Karena apa yang ia katakan adalah bermanfaat, ia memperoleh manfaat. Karena ia tidak mengatakan apa yang tidak bermanfaat, ia memperoleh manfaat.

Seorang siswa mulia mendengarkan dengan seksama dengan kedua telinga pada Dharma. Setelah mendengarkan dengan seksama dengan kedua telinga pada Dharma, ia meninggalkan satu faktor, berlatih satu faktor, dan merealisasi satu faktor. Setelah meninggalkan satu faktor, berlatih satu faktor, dan merealisasi satu faktor, ia mencapai konsentrasi benar.

Seorang siswa mulia, setelah mencapai konsentrasi pikiran yang benar, kemudian meninggalkan semua nafsu indria, kebencian, dan ketidaktahuan. Dengan cara ini seorang siswa mulia mencapai pembebasan pikiran. Setelah mencapai pembebasan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada kelangsungan lagi.”<366>

Berdasarkan apa yang dikatakan seseorang, terdapat empat landasan di mana seseorang seharusnya mengamatinya, [dengan berpikir,] “Apakah yang mulia ini layak untuk terlibat dalam diskusi atau tidak layak untuk terlibat dalam diskusi?” Jika yang mulia ini tidak menanggapi secara tegas pada suatu argumen definitif, tidak menanggapi secara analitis pada suatu argumen analitis, tidak menanggapi secara konklusif pada suatu argumen konklusif, dan tidak menanggapi dengan penutupan pada suatu argumen akhir, maka dengan cara-cara ini yang mulia ini tidak layak untuk terlibat dalam diskusi, tidak layak untuk terlihat dalam perdebatan.

[Namun] jika yang mulia ia menanggapi secara tegas pada suatu argumen definitif, menanggapi secara analitis pada suatu argumen analitis, menanggapi secara konklusif pada suatu argumen konklusif, dan menanggapi dengan penutupan pada suatu argumen akhir, maka dengan cara-cara ini yang mulia ia layak untuk terlibat dalam diskusi, layak untuk terlibat dalam perdebatan.<367>

Selanjutnya, berdasarkan apa yang telah seseorang katakan, terdapat empat landasan lebih lanjut di mana seseorang dapat mengamatinya, [dengan berpikir,] “Apakah yang mulia ini layak untuk terlibat dalam diskusi atau tidak layak untuk terlibat dalam diskusi?” Jika yang mulia ini tidak konsisten tentang sudut pandang dan lawannya, tidak konsisten tentang apa yang diketahui, tidak konsisten tentang apa yang telah dijelaskan melalui perumpamaan-perumpamaan, dan tidak konsisten tentang prosedur, maka dengan cara-cara ini yang mulia ini tidak layak untuk terlibat dalam diskusi, tidak layak untuk terlibat dalam perdebatan.

[Namun] jika yang mulia ini konsisten tentang sudut pandang dan lawannya, konsisten tentang apa yang diketahui, konsisten tentang apa yang telah dijelaskan melalui perumpamaan-perumpamaan, dan konsisten tentang prosedur, maka dengan cara-cara ini yang mulia ini layak untuk terlibat dalam diskusi, layak untuk terlibat dalam perdebatan.<368>

Bergantung pada apa yang diucapkan, ia mengendalikan aktivitas ucapannya pada waktu [yang tepat]. Ia membuang pandangan-pandangan yang terbentuk sebelumnya, membuang keadaan pikiran yang marah, membuang keinginan indria, membuat kebencian, membuang delusi, membuang keangkuhan, membuang sikap diam yang keras kepala, membuang ketamakan dan keirihatian. Ia tidak mengejar kemenangan, tidak mengungguli orang lain, dan tidak mencengkeram kesalahannya. Ia hanya berbicara tentang apa yang penuh makna, tentang Dharma. Setelah berbicara tentang apa yang penuh makna, tentang Dharma, dan setelah mengajarkannya dan mengajarkannya lagi, ia sendiri bergembira dan menyebabkan orang lain bergembira. Pembicaraan tentang apa yang penuh makna demikian, pembicaraan tentang pokok-pokok bahasan demikian [ini] adalah pembicaraan mulia tentang apa yang penuh makna, pembicaraan mulia tentang hal-hal [ini]. Ini membawa sepanjang jalan pada penghancuran total noda-noda.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Jika ketika beragumen dalam sebuah diskusi,
Pikiran yang kebingungan menyimpan kerinduan dan keangkuhan,
Maka ini tidak mulia; ia menghancurkan kebaikan,
Dengan masing-masing mencari keuntungan atas yang lain.

Hanya mencari untuk menemukan kesalahan pada orang lain,
Berharap untuk mengalahkannya;
Berusaha lebih keras untuk kemenangan atas satu sama lain –
Para mulia tidak berbicara seperti ini.

Jika ia ingin menjadi kompeten dalam diskusi,
Seorang bijaksana seharusnya mengetahui pemilihan waktu [yang tepat].
Dengan Dharma dan dengan makna,
Ini adalah bagaimana para mulia berdiskusi.

Orang bijaksana berkata seperti ini:
Tanpa perselisihan, tanpa keangkuhan,
Tanpa perasaan kebencian,
Tanpa belenggu, tanpa noda-noda.

Selalu bersepaham dan tidak kebingungan,
Mereka berbicara dengan pengetahuan benar.
Mereka menerima apa yang dikatakan dengan baik,
Dan mereka sendiri tidak pernah berbicara kejahatan.

Dalam diskusi mereka tidak pernah menegur,
Dan tidak terpengaruh oleh teguran orang lain.
Mereka mengetahui sudut pandang dan dasar untuk ucapan mereka,
Ini adalah [cara] mereka berdiskusi.

Demikianlah ucapan para mulia,
Para bijaksana yang sepenuhnya telah memperoleh maknanya.
Untuk kebahagiaan dalam masa sekarang,
Dan untuk kedamaian pada kehidupan berikutnya,
Kalian seharusnya mengetahui bahwa seseorang yang terpelajar
Berbicara tanpa bias dan kedangkalan.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #4 on: 04 May 2021, 01:19:39 PM »
120. Kotbah tentang Ajaran Ketidakkekalan<369>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Bentuk adalah tidak kekal; apa yang tidak kekal, itu adalah dukkha; apa yang adalah dukkha, itu adalah bukan-diri. Perasaan juga adalah tidak kekal; apa yang tidak kekal, itu adalah dukkha; apa yang adalah dukkha, itu adalah bukan-diri. Persepsi juga adalah tidak kekal; apa yang tidak kekal, itu adalah dukkha; apa yang adalah dukkha, itu adalah bukan-diri. Bentukan kehendak juga adalah tidak kekal; apa yang tidak kekal, itu adalah dukkha; apa yang adalah dukkha, itu adalah bukan-diri. Kesadaran juga adalah tidak kekal; apa yang tidak kekal, itu adalah dukkha; apa yang adalah dukkha, itu adalah bukan-diri. Yaitu: Bentik adalah tidak kekal ... perasaan ... persepsi ... bentukan kehendak ... kesadaran adalah tidak kekal; apa yang tidak kekal, itu adalah dukkha; apa yang adalah dukkha, itu adalah bukan-diri.

Seorang siswa mulia yang terpelajar, merenungkan dengan cara ini, mengembangkan tiga puluh tujuh faktor menuju pencerahan dengan kewaspadaan penuh dan perhatian benar yang tidak terhalangi.<370> Mengetahui seperti ini dan melihat seperti ini, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidaktahuan. Terbebaskan, ia mengetahui bahwa ia terbebaskan, dan ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri bagiku, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan; tidak akan ada kelangsungan lagi.”

Di antara makhluk-makhluk hidup apa pun yang ada – termasuk sembilan kediaman makhluk hidup, sampai dengan tingkatan melampaui landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, [yang disebut] “puncak penjelmaan” – di antara [semua] ini, ini adalah yang terkemuka, ini adalah yang termulia, ini adalah kemenangan, ini adalah yang terbesar, ini adalah yang paling mengagumkan, ini adalah yang paling unggul, yaitu: seorang Arahant di dunia. Mengapakah demikian? Karena seorang Arahant di dunia telah mencapai kedamaian dan kebahagiaan [sejati].

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Bebas dari kemelekatan adalah kebahagiaan tertinggi.
[Seorang Arahant] telah meninggalkan keinginan indria, dan tanpa ketagihan terhadap penjelmaan.
Ia telah selamanya membuang keangkuhan-“aku”,
Setelah merobek jala ketidaktahuan.

Ia telah mencapai ketanpa-gangguan,
Pikirannya adalah tanpa kekotoran.
Ia tidak terkotori oleh kemelekatan pada dunia,
Setelah menjalankan kehidupan suci dan mencapai pembebasan dari noda-noda.

Ia memahami dan mengetahui lima kelompok unsur kehidupan,
Bidang pengetahuannya adalah tujuh keadaan bermanfaat.<371>
Seorang pahlawan agung, ia berdiam di suatu tempat
Yang bebas dari semua ketakutan.

Setelah mencapai tujuh harta pencerahan,
Dan berlatih dalam pelatihan berunsur tiga,
Ia dikenal dengan baik sebagai seorang teman mulia,
Putra sejati dan tertinggi Sang Buddha.

Ia telah mencapai jalan berunsur sepuluh,
Seekor nāga agung dengan pikiran yang sangat terkonsentrasi.
Tertinggi di dunia ini,
Ia tanpa ketagihan terhadap penjelmaan.

Tidak terganggu oleh banyak urusan,
Terbebaskan dari kelangsungan yang akan datang,
Setelah memotong kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian.
Apa yang harus dilakukan telah dilakukan: ia telah melenyapkan noda-noda.

Ia telah memunculkan pengetahuan seseorang yang melampaui latihan
Setelah membuat jasmani ini yang terakhir baginya.
Dilengkapi dengan kehidupan suci tertinggi,
Pikirannya tidak bergantung pada orang lain.

Di atas, di bawah, dan di semua arah,
Tidak di mana pun ia menemukan kesenangan.
Ia dapat mengaumkan auman singa,
Yang tercerahkan tertinggi di dunia.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #5 on: 04 May 2021, 01:28:47 PM »
121. Kotbah tentang Upacara Invitasi (Pavāraṇā)<372>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha, Hutan Bambu, Tempat Perlindungan Tupai, menghabiskan pengasingan musim hujan bersama dengan sejumlah besar perkumpulan lima ratus orang bhikkhu.

Pada waktu itu saat hari kelimabelas bulan itu, pada waktu pengulangan aturan disiplin, dalam upacara invitasi (pavāraṇā), Sang Bhagavā duduk pada tempat duduk yang disediakan di hadapan perkumpulan bhikkhu. Beliau berkata kepada para bhikkhu:

Aku seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya. [Aku] Raja Tabib yang tiada bandingnya dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku. Sebagai seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya, sebagai Raja Tabib yang tiada bandingnya, dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku, aku mengatakan bahwa kalian adalah para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma. Sebagai para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma, kalian seharusnya melalui pengajaran mengubah [orang lain, dan juga] mengajarkan dan menasihati satu sama lain.<373>

Pada waktu itu Yang Mulia Sāriputta juga duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Sāriputta bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata:

Baru saja Sang Bhagavā berkata [ini]: “Aku adalah seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya. [Aku] Raja Tabib yang tiada bandingnya dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku. Sebagai seorang brahmana, setelah mencapai penghentian sepenuhnya, sebagai Raja Tabib yang tiada bandingnya, dan jasmani saat ini adalah yang terakhir bagiku, aku mengatakan bahwa kalian adalah para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma. Sebagai para putra sejatiku, lahir dari mulutku dan diubah oleh sifat alamiah Dharma, kalian seharusnya melalui pengajaran mengubah [orang lain, dan juga] mengajarkan dan menasihati satu sama lain.”

Sang Bhagavā menjinakkan mereka yang belum jinak, menenangkan mereka yang belum tenang, menyelamatkan mereka yang belum terselamatkan, membebaskan mereka yang belum terbebaskan, memadamkan mereka yang belum padam, membawa pada pencapaian sang jalan mereka yang belum mencapai sang jalan, mengembangkan dalam kehidupan suci mereka yang belum berkembang dalam kehidupan suci. [Beliau menyebabkan mereka] mengetahui sang jalan, tercerahkan pada sang jalan, mengenali sang jalan, dan membicarakan sang jalan.

Dari Sang Bhagavā para siswa memperoleh Dharma, menerima pengajaran, dan menerima nasihat. Setelah menerima pengajaran dan nasihat, dengan mengikuti perkataan Sang Bhagavā, mereka kemudian menjalankannya dan memperoleh pemahaman yang baik atas Dharma sejati sesuai dengan maknanya. Demikianlah. Sang Bhagavā, apakah tidak ada sesuatu untuk dicela dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranku?

Kemudian Sang Bhagavā berkata:

Sāriputta, aku tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranmu. Mengapakah demikian? Sāriputta, engkau memiliki kebijaksanaan yang terpelajar, kebijaksanaan agung, kebijaksanaan yang cepat, kebijaksanaan yang lincah, kebijaksanaan yang tajam, kebijaksanaan yang luas, kebijaksanaan yang mendalam, kebijaksanaan yang membawa pembebasan, kebijaksanaan yang menembus dengan cemerlang. Sāriputta, engkau telah mencapai kebijaksanaan sejati.

Sāriputta, seperti halnya putra mahkota seorang raja pemutar roda, jika ia tidak melangkahi instruksi yang ia terima tetapi dengan hormat menerima apa yang diwarisi ayahnya, sang raja, kepadanya, ia kemudian dapat mewarisinya pada gilirannya. Dengan cara yang sama, Sāriputta, engkau dapat menjaga pemutaran roda Dharma yang telah kuputar. Karena alasan ini, Sāriputta, aku tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranmu.

Yang Mulia Sāriputta merentangkan lagi tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Bhagavā dan berkata:

Demikianlah. Sang Bhagavā tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranku. Apakah Sang Bhagavā tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini?

Sang Bhagavā berkata:

Sāriputta, aku juga tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini. Mengapakah demikian? Sāriputta, lima ratus orang bhikkhu ini semuanya telah mencapai pembebasan dari kemelekatan. Dalam diri mereka noda-noda telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, beban berat telah dibuang, belenggu penjelmaan telah dilenyapkan, dan mereka telah mencapai manfaat baik dari pengetahuan benar dan pembebasan benar.

Pengecualian satu-satunya adalah seorang bhikkhu yang sebelumnya kuramalkan bahwa ia akan, di sini dan saat ini, mencapai pengetahuan akhir, dengan memahami sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada kelangsungan lagi.”<374> Karena alasan ini, Sāriputta, aku tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini.

Ketiga kalinya Yang Mulia Sāriputta merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata:

Demikianlah. Sang Bhagavā tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiranku, serta beliau juga tidak mencela perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran lima ratus orang bhikkhu ini. Sang Bhagavā, di antara lima ratus orang bhikkhu ini, berapa banyakkah bhikkhu yang telah mencapai tiga pengetahuan lebih tinggi, berapa banyakkah bhikkhu yang telah mencapai pembebasan melalui kedua cara, dan berapa banyakkah bhikkhu yang telah mencapai pembebasan melalui kebijaksanaan?

Sang Bhagavā berkata:

Sāriputta, di antara lima ratus orang bhikkhu ini, sembilan puluh orang bhikkhu telahmencapai tiga pengetahuan lebih tinggi, sembilan puluh orang bhikkhu telah mencapai pembebasan melalui kedua cara, dan para bhikkhu sisanya telah mencapai pembebasan melalui kebijaksanaan.

Sāriputta, perkumpulan ini tanpa cabang, tanpa dedaunan, dan tanpa simpul atau kesalahan. Ia adalah [inti kayu] yang murni dan sejati, setelah berkembangan sepenuhnya.<375>

Pada waktu itu Yang Mulia Vaṅgīsa sedang duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Vaṅgīsa bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata:

Demikianlah. Sang Bhagavā telah menyebabkanku berbahagia. Semoga Sang Sugata [lebih lanjut] menyebabkanku berbahagia, sehingga aku dapat, di hadapan Sang Buddha dan perkumpulan bhikkhu, mengucapkan syair-syair pujian yang layak.

Sang Bhagavā berkata, “Vaṅgīsa, lakukanlah seperti yang engkau inginkan.”

Kemudian di hadapan Sang Buddha dan perkumpulan bhikkhu, Yang Mulia Vaṅgīsa mengucapkan syair-syair pujian yang layak:

Hari ini, pada hari kelima belas, hari invitasi,
Sebuah perkumpulan lima ratus orang bhikkhu duduk bersama.
Setelah bebas dari semua belenggu,
Mereka adalah tanpa halangan, para pertapa yang telah mengakhiri kehidupan [berulang-ulang]

Bersinar dengan cahaya murni,
[Mereka] terbebaskan dari segala jenis kelangsungan.
Mereka telah mengakhiri kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian,
Melenyapkan noda-noda, dan melakukan apa yang harus dilakukan.

[Mereka] telah mengakhiri kegelisahan dan kekhawatiran serta belenggu keragu-raguan,
Keangkuhan dan noda penjelmaan,
Dan mereka telah memotong duri yang adalah belenggu ketagihan.
[Dikarenakan] Tabib Tertinggi, hal-hal ini tidak lagi muncul.

Berani bagaikan singa,
[Mereka] telah melenyapkan semua ketakutan.
Mereka telah menyeberangi kelahiran dan kematian,
Dengan semua noda sepenuhnya dilenyapkan.<376>

Seperti halnya seorang raja pemutar roda,
Dikelilingi oleh banyak pengiringnya,
Berkuasa atas keseluruhan wilayah,
Sampai sejauh samudera raya,

Dengan cara yang sama, sang penakluk yang gagah berani,
Sang pemimpin karavan yang tiada bandingnya,
Dihormati dengan gembira oleh para siswanya,
Yang telah merealisasi tiga [pengetahuan lebih tinggi] dan meninggalkan ketakutan terhadap kematian.

Semuanya adalah putra Sang Buddha,
Yang telah selamanya melenyapkan cabang, dedaunan, dan simpul.
Mereka memberikan penghormatan kepada Yang Paling Dimuliakan,
Yang memutar roda Dharma yang tiada bandingnya.<377>

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #6 on: 04 May 2021, 01:40:21 PM »
122. Kotbah di Campā<378>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Campā, di samping kolam Gaggarā.

Pada waktu itu, saat hari kelima belas bulan itu, pada waktu pengulangan aturan disiplin, Sang Bhagavā duduk pada tempat duduk yang diatur di hadapan perkumpulan bhikkhu. Setelah duduk, Sang Bhagavā langsung memasuki konsentrasi meditatif. Dengan pengetahuan atas pikiran orang lain beliau mengamati pikiran-pikiran perkumpulan itu. Setelah mengamati pikiran-pikiran perkumpulan itu, beliau duduk berdiam diri sampai akhir waktu jaga pertama malam itu.<379>

Kemudian seorang bhikkhu tertentu bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata:

Sang Bhagavā, waktu jaga pertama malam telah berakhir. Sang Buddha dan perkumpulan para bhikkhu telah duduk bersama selama waktu yang lama. Semoga Sang Bhagavā mengulangi aturan disiplin!<380>

Pada waktu itu Sang Bhagavā tetap berdiam diri dan tidak menjawab. Kemudian Sang Bhagavā tetap duduk berdiam diri melalui waktu jaga pertengahan malam itu. Bhikkhu itu bangkit lagi dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata:

Sang Bhagavā, waktu jaga pertama malam telah berlalu dan waktu jaga pertengahan malam akan berakhir. Sang Buddha dan perkumpulan para bhikkhu telah duduk bersama selama waktu yang lama. Semoga Sang Bhagavā mengulangi aturan disiplin!

Sang Bhagavā masih tetap berdiam diri. Kemudian Sang Bhagavā tetap duduk berdiam diri melalui waktu jaga terakhir malam itu.

Ketiga kalinya bhikkhu itu bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata:

Sang Bhagavā, waktu jaga pertama malam telah berlalu, waktu jaga pertengahan malam juga telah berakhir, dan waktu jaga terakhir malam akan berakhir. Saat ini hampir fajar. Fajar akan menyingsung tak lama lagi. Sang Buddha dan perkumpulan para bhikkhu telah duduk bersama selama waktu yang sangat lama. Semoga Sang Bhagavā mengulangi aturan disiplin!

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada bhikkhu itu, “Di antara perkumpulan ini terdapat seorang bhikkhu yang tidak murni.”

Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna juga duduk di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna berpikir, “Tentang bhikkhu manakah yang dikatakan Sang Bhagavā tidak murni? Biarlah aku memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai sedemikian sehingga, melalui konsentrasi meditatif tersebut aku memperoleh pengetahuan pikiran orang lain dan dapat mengamati pikiran-pikiran perkumpulan.”

Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai sedemikian sehingga melalui konsentrasi meditatif tersebut ia memperoleh pengetahuan atas pikiran orang lain dan dapat mengamati pikiran-pikiran perkumpuan itu. Yang Mulia Mahāmoggallāna kemudian mengetahui sehubungan bhikkhu manakah yang dikatakan Sang Bhagavā bahwa seorang bhikkhu dalam perkumpulan itu tidak murni.

Lalu Yang Mulia Mahāmoggallāna bangkit dari konsentrasi meditatifnya, pergi menuju bhikkhu itu, menariknya pada lengannya, dan membawanya keluar. Ia membuka pintu dan mengirimnya keluar, [dengan berkata:]

Manusia bodoh, pergilah jauh-jauh! Janganlah berdiam di sini! Engkau tidak lagi ikut serta dalam pertemuan Sangha. Mulai sekarang engkau telah meninggalkannya. Engkau bukanlah seorang bhikkhu.<381>

Ia menutup pintu, menguncinya, dan kembali kepada Sang Buddha. Setelah memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, ia mengundurkan diri, duduk pada satu sisi, dan berkata:

Aku telah mengeluarkan bhikkhu yang sehubungan dengannya Sang Bhagavā mengatakan bahwa seorang bhikkhu dalam perkumpulan adalah tidak murni. Sang Bhagavā, waktu jaga pertama malam telah berlalu, waktu jaga kedua malam juga telah berakhir, dan waktu jaga terakhir malam akan berakhir. Saat ini hampir fajar. Fajar akan menyingsing tak lama lagi. Sang Buddha dan perkumpulan bhikkhu telah duduk bersama untuk waktu yang sangat lama. Semoga Sang Bhagavā mengulangi aturan disiplin!

Sang Bhagavā berkata:

Mahāmoggallāna, orang bodoh itu melakukan pelanggaran berat dengan menyulitkan Sang Bhagavā dan perkumpulan bhikkhu. Mahāmoggallāna, jika Sang Tathāgata telah mengulangi aturan disiplin dalam suatu perkumpulan [bhikkhu] yang tidak murni, kepala orang [tidak murni] itu akan terpecah menjadi tujuh bagian.<382> Karena alasan ini, Mahāmoggallāna, sejak saat ini kalian akan mengulangi aturan disiplin [sendiri]. Sang Tathāgata tidak akan lagi mengulangi aturan disiplin.<383>

Mengapakah demikian? Adalah seperti ini, Mahāmoggallāna. Mungkin bahwa seorang bodoh berlatih pemahaman benar ketika datang dan pergi; bahwa ia dengan tepat penuh pengamatan dan pemahaman ketika membungkuk, merentang, melihat ke atas, dan melihat ke bawah; bahwa ia memiliki pembawaan yang tenang; bahwa ia dengan terampil memakai jubah luarnya dan jubah lainnya serta [membawa] mangkuk[nya]; bahwa ia berlatih pemahaman benar ketika berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring, serta ketika tidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri – semuanya seperti seorang praktisi kehidupan suci yang murni. Ketika ia mendekati mereka yang dengan murni berlatih kehidupan suci, mereka mungkin tidak mengenali [kondisi internal aslinya].

Mahāmoggallāna, ketika teman-temannya dalam kehidupan suci mengenali [kondisi internal aslinya], mereka berpikir, “Ia adalah suatu polutan di antara para pertapa, sebuah aib di antara para pertapa, sesuatu yang menjijikkan di antara para pertapa, sebuah duri di antara para pertapa.” Setelah mengenalinya [seperti demikian], mereka seharusnya secara kolektif menolaknya. Mengapakah demikian? Agar [ia] tidak merusak mereka yang [dengan murni] berlatih kehidupan suci.

Mahāmoggallāna, seperti halnya seorang perumah tangga memiliki sawah atau ladang gandum yang baik, tetapi muncullah di dalamnya sejenis gulma yang disebut “gandum tidak murni” yang akar, cabang, ruas, dedaunan, dan bunga-bunganya semuanya menyerupai gandum [asli]. Belakangan, ketika [gandum tidak murni] telah matang, perumah tangga itu melihatnya dan berpikir, “Ini adalah suatu polutan dan sebuah aib, sesuatu yang menjijikkan dan sebuah duri bagi gandum [asli].” Setelah mengenalinya, ia akan mencabutnya dan membuangnya keluar [dari ladang]. Mengapakah demikian? Agar ia tidak merusak gandum asli yang baik.

Dengan cara yang sama, Mahāmoggallāna, mungkin bahwa seorang bodoh berlatih pemahaman benar ketika datang dan pergi; bahwa ia dengan tepat penuh pengamatan dan pemahaman ketika membungkuk, merentang, melihat ke atas, dan melihat ke bawah; bahwa ia memiliki pembawaan yang tenang; bahwa ia dengan terampil memakai jubah luarnya dan jubah lainnya serta [membawa] mangkuk[nya]; bahwa ia berlatih pemahaman benar ketika berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring, serta ketika tidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri – semuanya seperti seorang praktisi kehidupan suci yang murni. Ketika ia mendekati mereka yang dengan murni berlatih kehidupan suci, mereka mungkin tidak mengenali [kondisi internal aslinya].

Mahāmoggallāna, ketika teman-temannya dalam kehidupan suci mengenali [kondisi internal aslinya], mereka berpikir, “Ia adalah suatu polutan di antara para pertapa, sebuah aib di antara para pertapa, sesuatu yang menjijikkan di antara para pertapa, sebuah duri di antara para pertapa.” Setelah mengenalinya [seperti demikian], mereka seharusnya secara kolektif menolaknya. Mengapakah demikian? Agar [ia] tidak merusak mereka yang [dengan murni] berlatih kehidupan suci.

Mahāmoggallāna, seperti halnya ketika seorang perumah tangga sedang menampi gabah [padi] pada musim gugur, gabah dalam tumpukan yang sepenuhnya matang, ketika dilempar ke atas, akan jatuh kembali dan tetap berada di sana; tetapi gabah yang tidak matang sepenuhnya akan terbawa jauh oleh angin bersama dengan sekam padi. Melihat hal ini, sang perumah tangga mengambil sapu dan menyapu keluar [gabah yang tidak matang dan sekam padi] sehingga [lantai] bersih. Mengapakah demikian? Agar padi sisanya yang baik dan bersih tidak tercemari.

Dengan cara yang sama, Mahāmoggallāna, mungkin bahwa seorang bodoh berlatih pemahaman benar ketika datang dan pergi; bahwa ia dengan tepat penuh pengamatan dan pemahaman ketika membungkuk, merentang, melihat ke atas, dan melihat ke bawah; bahwa ia memiliki pembawaan yang tenang; bahwa ia dengan terampil memakai jubah luarnya dan jubah lainnya serta [membawa] mangkuk[nya]; bahwa ia berlatih pemahaman benar ketika berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring, serta ketika tidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri – semuanya seperti seorang praktisi kehidupan suci yang murni. Ketika ia mendekati mereka yang dengan murni berlatih kehidupan suci, mereka mungkin tidak mengenali [kondisi internal aslinya].

Mahāmoggallāna, ketika teman-temannya dalam kehidupan suci mengenali [kondisi internal aslinya], mereka berpikir, “Ia adalah suatu polutan di antara para pertapa, sebuah aib di antara para pertapa, sesuatu yang menjijikkan di antara para pertapa, sebuah duri di antara para pertapa.” Setelah mengenalinya [seperti demikian], mereka seharusnya secara kolektif menolaknya. Mengapakah demikian? Agar [ia] tidak merusak mereka yang [dengan murni] berlatih kehidupan suci.

Mahāmoggallāna, seperti halnya seorang perumah tangga, yang bermaksud membuat saluran air untuk menyalurkan mata air, membawa sebuah kapak dan pergi ke dalam hutan. Ia mengetuk pada pepohonan. Jika mereka kokoh dan padat mereka membuat suara yang kecil; jika mereka berongga, mereka membuat suara yang lebih keras. Setelah mengenali [pepohonan yang ia inginkan], sang perumah tangga kemudian memotongnya dan memangkas simpul-simpulnya untuk membuatnya menjadi saluran air.

Dengan cara yang sama, Mahāmoggallāna, mungkin bahwa seorang bodoh berlatih pemahaman benar ketika datang dan pergi; bahwa ia dengan tepat penuh pengamatan dan pemahaman ketika membungkuk, merentang, melihat ke atas, dan melihat ke bawah; bahwa ia memiliki pembawaan yang tenang; bahwa ia dengan terampil memakai jubah luarnya dan jubah lainnya serta [membawa] mangkuk[nya]; bahwa ia berlatih pemahaman benar ketika berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring, serta ketika tidur, terjaga, berbicara, dan berdiam diri – semuanya seperti seorang praktisi kehidupan suci yang murni. Ketika ia mendekati mereka yang dengan murni berlatih kehidupan suci, mereka mungkin tidak mengenali [kondisi internal aslinya].

Mahāmoggallāna, ketika teman-temannya dalam kehidupan suci mengenali [kondisi internal aslinya], mereka berpikir, “Ia adalah suatu polutan di antara para pertapa, sebuah aib di antara para pertapa, sesuatu yang menjijikkan di antara para pertapa, sebuah duri di antara para pertapa.” Setelah mengenalinya [seperti demikian], mereka seharusnya secara kolektif menolaknya. Mengapakah demikian? Agar [ia] tidak merusak mereka yang [dengan murni] berlatih kehidupan suci.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Ketika berkumpul bersama kalian seharusnya mengenali
[Seseorang yang menyimpan] keinginan jahat, kebencian, keirihatian, kemarahan,
Belenggu sikap diam yang keras kepala, kedengkian, kekikiran,
Kecemburuan, sikap menjilat, dan penuh tipu daya.

[Seseorang] dalam Sangha yang penuh tipu daya mengaku tenang,
Menyembunyikan diri dengan mengaku sebagai seorang pertapa,
[Namun] secara diam-diam melakukan perbuatan-perbuatan jahat,
[Menganut] pandangan jahat, lengah,
[Seseorang yang] menipu dan berbohong -
Kalian seharusnya mengenalinya sebagai demikian.

Janganlah bergaul dengannya!
Tolaklah dia! Jangan berdiam bersama dengannya!
Berbicara banyak, ia menipu dan berbohong,
Tidak tenang, ia mengaku tenang.

Mengetahui waktu yang tepat, [mereka yang] dilengkapi dengan perilaku murni
Menolaknya dan menjauh darinya.
Yang murni seharusnya bergaul dengan yang murni,
Selalu bersama-sama dalam kerukunan.
Dalam kerukunan, mereka akan damai,
Dan dengan demikian mencapai akhir dukkha.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #7 on: 04 May 2021, 01:51:27 PM »
123. Kotbah tentang Pertapa Soṇa Kolivīsa<384>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa juga sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan [Orang] Buta.<385> Ia berlatih dengan tekun, tidak tidur selama waktu jaga pertama dan terakhir malam, dan sepenuhnya berkembang dalam pelatihan faktor-faktor menuju pencerahan.

Kemudian, ketika Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa sedang berdiam sendirian dengan tenang, duduk dalam meditasi dan perenungan, pemikiran ini muncul pada pikirannya: “Di antara para siswa Sang Bhagavā yang dengan tekun berlatih Dharma dan disiplin sejati, aku adalah yang terkemuka. Namun pikiranku belum mencapai pembebasan dari noda-noda. Orang tuaku sangat kaya dan makmur; mereka memiliki banyak kekayaan. Apakah aku sekarang  seharusnya meninggalkan aturan latihan, berhenti berlatih sang jalan, dan menikmati kenikmatan indria, sementara menjalankan kedermawanan dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa?”

Pada waktu itu Sang Bhagavā, dengan pengetahuan atas pikiran orang lain, mengetahui pemikiran dalam pikiran Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa. Kemudian beliau berkata kepada seorang bhikkhu tertentu, “Pergilah dan katakan kepada Pertapa Soṇa Kolivīsa untuk datang kemari.”<386>

Atas hal ini bhikkhu itu menjawab, “Baik.” Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi. Mendekati Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa, ia berkata, “Sang Bhagavā memanggil anda.”

Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa, setelah mendengar perkataan bhikkhu itu, mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya [pada kaki Sang Buddha], mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Sang Bhagavā berkata:

Pertapa, apakah benar bahwa ketika engkau sedang berdiam sendirian dengan tenang, duduk dalam meditasi dan perenungan, pemikiran ini muncul dalam pikiranmu: “Di antara para siswa Sang Bhagavā yang dengan tekun berlatih Dharma dan disiplin sejati, aku adalah yang terkemuka. Namun pikiranku belum mencapai pembebasan dari noda-noda. Orang tuaku sangat kaya dan makmur; mereka memiliki banyak kekayaan. Apakah aku sekarang  seharusnya meninggalkan aturan latihan, berhenti berlatih sang jalan, dan menikmati kenikmatan indria, sementara menjalankan kedermawanan dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa?”

Kemudian Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa merasa malu dan bukan tanpa gemetar [ketika menyadari,] “Sang Bhagavā mengetahui apa yang sedang kupikirkan!”<387> Ia merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata, “Itu benar.”

Sang Bhagavā berkata:

Pertapa, aku sekarang akan bertanya kepadamu. Jawablah menurut pemahamanmu. Apakah yang engkau pikirkan? Ketika engkau tinggal di rumah, engkau pandai dalam bermain kecapi dengan harmonis, dengan kecapi selaras dengan suara nyanyian dan nyanyian selaras dengan suara kecapi; apakah demikian?

Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa berkata, “Demikianlah, Sang Bhagavā.”

Sang Bhagavā bertanya lebih lanjut, “Apakah yang engkau pikirkan? Jika senar kecapi [terlalu] kencang, apakah ia dapat menghasilkan suara harmonis yang menyenangkan?”

Sang pertapa menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

Sang Bhagavā bertanya lebih lanjut, “Apakah yang engkau pikirkan? Jika senar kecapi [terlalu] longgar, apakah ia dapat menghasilkan suara harmonis yang menyenangkan?”

Sang pertapa menjawab, “Tidak, Sang Bhagavā.”

Sang Bhagavā bertanya lagi, “Apakah yang engkau pikirkan? Jika senar kecapi tidak [terlalu] kencang ataupun tidak [terlalu] longgar tetapi tepat, di antaranya, apakah ia dapat menghasilkan suara yang harmonis dan menyenangkan?”

Sang pertapa menjawab, “Demikianlah, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata:

Dengan cara yang sama, pertapa, terlalu banyak mengerahkan usaha membuat pikiran menjadi gelisah; terlalu sedikit mengerahkan usaha membuat pikiran lamban. Oleh sebab itu, engkau seharusnya membedakan hal ini pada waktu yang tepat. Amatilah ciri-ciri ini pada waktu yang tepat! Janganlah lalai!

Pada waktu Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, menerimanya dengan baik, dan mengingatnya dengan baik. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.

Setelah menerima pengajaran Sang Buddha dengan perumpamaan memainkan kecapi, ia berdiam sendiri di tempat yang terpencil dan berlatih dengan tekun, tanpa kelalaian dalam pikiran. Dengan berdiam sendiri di tempat yang terpencil dan berlatih dengan tekun, tanpa kelalaian dalam pikiran, putra keluarga yang baik ini, yang telah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, meninggalkan rumah demi keyakinan, dan memasuki keadaan tanpa rumah untuk berlatih sang jalan, merealisasi puncak kehidupan suci. Ia berdiam setelah secara pribadi mencapai pemahaman, pencerahan, dan realisasi di sini dan saat ini. Ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan; tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa, setelah memahami Dharma, telah menjadi seorang Arahant. Pada waktu itu Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa, setelah menjadi seorang Arahant, berpikir, “Sekarang adalah waktu yang tepat. Apakah aku seharusnya mendekati Sang Bhagavā dan menyatakan pencapaian atas pengetahuan akhir?”

Kemudian Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa mendekati Sang Buddha. Setelah memberikan penghormatan dengan kepalanya [pada kaki Sang Buddha], ia mengundurkan diri, duduk pada satu sisi, dan berkata:

Sang Bhagavā, jika seorang bhikkhu telah mencapai ketidakmelekatan dan telah sepenuhnya menghancurkan noda-noda, [maka baginya] kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, beban berat telah dibuang, belenggu penjelmaan telah dilepaskan, dan ia sendiri telah mencapai manfaat baik dengan pengetahuan benar dan pembebasan benar.

Pada waktu itu ia bergembira dalam enam pengalaman ini: ia bergembira dalam kebosanan, ia bergembira dalam keterasingan, ia bergembira dalam tanpa perselisihan, ia bergembira dalam lenyapnya ketagihan, ia bergembira dalam lenyapnya kemelekatan, dan ia bergembira dalam ketanpa-gangguan pikiran.<388>

Sang Bhagavā, mungkin seseorang dapat berpikir, “Yang mulia ini bergembira dalam kebosanan karena ia bergantung pada keyakinan,” [tetapi] ia tidak seharusnya dilihat seperti ini. Ini hanya [disebabkan oleh] lenyapnya nafsu, lenyapnya kebencian, dan lenyapnya ketidaktahuan sehingga ia bergembira dalam kebosanan.

Sang Bhagavā, mungkin seseorang dapat berpikir, “Yang mulia ini bergembira dalam keterasingan karena ia tamak atas keuntungan materi dan nama baik, dengan mencari persembahan,” [tetapi] ia tidak seharusnya dilihat seperti ini. Ini hanya [disebabkan oleh] lenyapnya nafsu, lenyapnya kebencian, dan lenyapnya ketidaktahuan sehingga ia bergembira dalam keterasingan.

Sang Bhagavā, mungkin seseorang dapat berpikir, “Yang mulia ini bergembira dalam tanpa perselisihan karena ia bergantung pada aturan-aturan latihan,” [tetapi] ia tidak seharusnya dilihat seperti ini. Ini hanya [disebabkan oleh] lenyapnya nafsu, lenyapnya kebencian, dan lenyapnya ketidaktahuan sehingga ia bergembira dalam tanpa perselisihan, bergembira dalam lenyapnya ketagihan, bergembira dalam lenyapnya kemelekatan, dan bergembira dalam ketanpa-gangguan pikiran.

Sang Bhagavā, jika seorang bhikkhu telah mencapai ketidakmelekatan dan melenyapkan noda-noda, [baginya] kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, beban berat telah dibuang, belenggu penjelmaan telah dilepaskan, dan ia secara pribadi telah mencapai manfaat baik dengan pemahaman benar dan pembebasan benar, maka pada waktu itu ia bergembira dalam enam pengalaman ini.

Sang Bhagavā, jika seorang bhikkhu dalam latihan, mencari kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, belum mencapai tujuannya, pada waktu itu ia telah menyempurnakan indria-indria seseorang dalam latihan dan kebiasaan bermoral seseorang dalam latihan. Pada waktu belakangan ia melenyapkan semua noda dan mencapai pembebasan pikiran tanpa noda-noda dan pembebasan melalui kebijaksanaan. Ia berdiam setelah secara pribadi mencapai pemahaman, pencerahan, dan realisasi di sini dan saat ini, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.” Pada saat itu ia telah menyempurnakan indria-indria seseorang yang melampaui latihan dan kebiasaan bermoral seseorang yang melampaui latihan.

Sang Bhagavā, seperti halnya seorang pemuda yang pada waktu itu [dalam kehidupannya] telah menyempurnakan indria-indria anak kecil dan kebiasaan bermoral anak kecil. Pada waktu belakangan ia dilengkapi dengan indria-indria seseorang dalam latihan. Pada waktu itu ia telah menyempurnakan indria-indria seseorang dalam latihan dan kebiasaan bermoral seseorang dalam latihan.<389>

Dengan cara yang sama, Sang Bhagavā, jika seorang bhikkhu dalam latihan, mencari kedamaian nirvana yang tiada bandingnya, belum mencapai tujuannya, maka pada waktu itu ia telah menyempurnakan indria-indria seseorang dalam latihan dan kebiasaan bermoral seseorang dalam latihan. Pada waktu belakangan ia telah melenyapkan semua noda dan mencapai pembebasan pikiran tanpa noda-noda dan pembebasan melalui kebijaksanaan. Ia berdiam setelah secara pribadi mencapai pemahaman, pencerahan, dan realisasi di sini dan saat ini, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain.” Pada saat itu ia telah menyempurnakan indria-indria seseorang yang melampaui latihan dan kebiasaan bermoral seseorang yang melampaui latihan.

Jika matanya bertemu dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, maka hal ini tidak akan dapat membuatnya kehilangan pembebasan pikiran dan pembebasan melalui kebijaksanaan ini; pikirannya tetap berkembang di dalam, terkendali dan terjaga dengan baik, dan ia mengamati muncul dan lenyapnya fenomena. Jika ... suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bebauan yang dikenali oleh hidung ... rasa-rasa yang dikenali oleh lidah ... sentuhan yang dikenali oleh badan ... objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran, maka hal ini tidak akan dapat membuatnya kehilangan pembebasan pikiran dan pembebasan melalui kebijaksanaan ini; pikirannya tetap berkembang di dalam, terkendali dan terjaga dengan baik, dan ia mengamati muncul dan lenyapnya fenomena.

Sang Bhagavā, seperti halnya jika tidak jauh dari sebuah desa terdapat gunung berbatu yang besar tanpa celah, tanpa jurang, tidak mudah hancur, tetap kokoh, tanpa rongga, sebuah kumpulan tunggal. Jika angin kencang dan hujan datang dari timur mereka tidak dapat mengguncang atau mengganggu [gunung itu], ataupun angin timur tidak dapat memindahkan [gunung itu dari samping] ke selatan. Jika angin kencang dan hujan datang dari selatan mereka tidak dapat mengguncang atau mengganggu [gunung itu], ataupun angin selatan tidak dapat memindahkan [gunung itu dari samping] ke barat. Jika angin kencang dan hujan datang dari barat mereka tidak dapat mengguncang atau mengganggu [gunung itu], ataupun angin barat tidak dapat memindahkan [gunung itu dari samping] ke utara. Jika angin kencang dan hujan datang dari utara mereka tidak dapat mengguncang atau mengganggu [gunung itu], ataupun angin utara tidak dapat memindahkan [gunung itu dari samping] ke arah mana pun.

Dengan cara yang sama, jika matanya bertemu dengan bentuk-bentuk yang dikenali oleh mata, hal ini tidak akan dapat membuatnya kehilangan pembebasan pikiran dan pembebasan melalui kebijaksanaan ini; pikirannya tetap berkembang di dalam, terkendali dan terjaga dengan baik, dan ia mengamati muncul dan lenyapnya fenomena. Jika [indria-indrianya bertemu] suara-suara yang dikenali oleh telinga ... bebauan yang dikenali oleh hidung ... rasa-rasa yang dikenali oleh lidah ... sentuhan yang dikenali oleh badan ... objek-objek pikiran yang dikenali oleh pikiran, hal ini tidak akan dapat membuatnya kehilangan pembebasan pikiran dan pembebasan melalui kebijaksanaan ini; pikirannya tetap berkembang di dalam, terkendali dan terjaga dengan baik, dan ia mengamati muncul dan lenyapnya fenomena.

Kemudian Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa mengucapkan syair-syair ini:

Ia yang bergembira dalam kebosanan
Yang pikirannya berdiam dalam keterasingan
Bergembira dalam tanpa perselisihan
Dan bergembira dalam lenyapnya kemelekatan.

Ia yang bergembira dalam lenyapnya kemelekatan
Dan dalam ketanpa-gangguan pikiran
Ketika mencapai pengetahuan sejati,
Melalui hal ini pikirannya terbebaskan.

Ketika mencapai pembebasan pikiran,
Indria-indria seorang bhikkhu ditenangkan.
Hal itu disempurnakan, ia tidak perlu mencari lebih jauh;
Tidak ada pencarian lebih lanjut yang harus dilakukan.

Seperti halnya sebuah gunung berbatu
Tidak terganggu oleh angin,
Demikian juga bentuk-bentuk, suara-suara, bebauan, rasa-rasa
Dan sentuhan,
Hal-hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan,
Tidak dapat mengganggu pikiran.<390>

Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa, setelah menyatakan di hadapan Sang Buddha pencapaiannya atas pengetahuan akhir, bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.

Pada waktu itu, segera setelah Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa telah pergi, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Para putra keluarga baik seharusnya menyatakan di hadapanku pencapaian mereka atas pengetahuan akhir, seperti halnya Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa menyatakan di hadapanku pencapaiannya atas pengetahuan akhir. Tanpa memuji diri sendiri atau memandang rendah orang lain, ia mengatakan tentang manfaat-manfaat di sini dan saat ini, berdasarkan pengalamannya.

Janganlah biarkan orang-orang bodoh, yang terjerat dalam keangkuhan yang berlebihan, datang ke hadapanku dan menyatakan pengetahuan akhir! Mereka tidak memperoleh manfaat apa pun melainkan kesulitan besar.

Yang Mulia Pertapa Soṇa Kolivīsa menyatakan di hadapanku pencapaiannya atas pengetahuan akhir tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain. Ia mengatakan tentang manfaat-manfaat di sini dan saat ini, berdasarkan pengalamannya.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #8 on: 04 May 2021, 01:56:15 PM »
124. Kotbah tentang Delapan Halangan<391>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci, terdapat delapan halangan, delapan kondisi yang tidak tepat waktunya. Apakah delapan hal itu?

Pada waktu ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan, telah muncul di dunia dan mengajarkan Dharma yang membawa pada ketenangan, membawa pada lenyapnya sepenuhnya, membawa pada jalan pencerahan yang diuraikan oleh Sang Sugata – pada waktu itu orang ini terlahir kembali di neraka. Ini adalah halangan pertama, kondisi pertama yang tidak tepat waktunya bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci.

Selanjutnya, pada waktu ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan, telah muncul di dunia dan mengajarkan Dharma yang membawa pada ketenangan, membawa pada lenyapnya sepenuhnya, membawa pada jalan pencerahan yang diuraikan oleh Sang Sugata – pada waktu itu orang ini terlahir kembali di alam binatang ... terlahir kembali di alam hantu kelaparan ... terlahir kembali di surga yang berusia panjang ... terlahir kembali di negeri perbatasan di antara orang-orang barbar yang tidak memiliki keyakinan dan kebaikan, yang tidak tahu berterima kasih, di mana tidak ada para bhikkhu, bhikkhuni, atau para umat awam pria dan wanita. Ini adalah halangan kelima, kondisi kelima yang tidak tepat waktunya bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci.

Selanjutnya, pada waktu ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan, telah muncul di dunia dan mengajarkan Dharma yang membawa pada ketenangan, membawa pada lenyapnya sepenuhnya, membawa pada jalan pencerahan yang diuraikan oleh Sang Sugata – pada waktu itu orang ini terlahir kembali di Negeri Tengah, tetapi ia tuli dan bisu bagaikan seekor domba yang mengembik, hanya dapat berkomunikasi melalui bahasa isyarat, tidak dapat memahami apakah makna dari apa yang dikatakan adalah baik atau buruk. Ini adalah halangan keenam, kondisi keenam yang tidak tepat waktunya bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci.

Selanjutnya, pada waktu ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan, telah muncul di dunia dan mengajarkan Dharma yang membawa pada ketenangan, membawa pada lenyapnya sepenuhnya, membawa pada jalan pencerahan yang diuraikan oleh Sang Sugata – pada waktu itu orang ini terlahir kembali di Negeri Tengah, ia tidak tuli dan tidak bisu bagaikan seekor domba yang mengembik, tidak hanya berkomunikasi melalui bahasa isyarat, dapat memahami apakah makna dari apa yang dikatakan adalah baik atau buruk, tetapi ia memiliki pandangan salah dan menyimpang, menganut pandangan dan doktrin seperti ini: tidak ada [jasa kebajikan dalam] pemberian, tidak ada persembahan, dan tidak ada pengulangan gita puja; tidak ada [perbedaan antara] perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat; tidak ada akibat perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat;  tidak ada baik kehidupan ini ataupun kehidupan berikutnya; tidak ada [tanggung jawab terhadap] ibu atau ayah [seseorang]; di dunia ini tidak ada para Arahant yang telah mencapai pencapaian yang baik, yang pergi dengan baik, berkembang dengan baik, yang telah secara pribadi merealisasi dunia ini dan dunia berikutnya melalui pemahaman, pencerahan, dan realisasi. Ini adalah halangan ketujuh, kondisi ketujuh yang tidak tepat waktunya bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci.<392>

Selanjutnya, pada waktu ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan, tidak muncul di dunia dan tidak mengajarkan Dharma yang membawa pada ketenangan, membawa pada lenyapnya sepenuhnya, membawa pada jalan pencerahan yang diuraikan oleh Sang Sugata – pada waktu itu orang ini terlahir kembali di Negeri Tengah, ia tidak tuli dan tidak bisu bagaikan seekor domba yang mengembik, tidak berkomunikasi hanya melalui bahasa isyarat, dapat memahami apakah makna dari apa yang dikatakan adalah baik atau buruk, dan dilengkapi dengan pandangan benar, bukan pandangan menyimpang, menganut pandangan dan doktrin seperti ini: terdapat [jasa kebajikan dalam] pemberian, persembahan, dan pengulangan mantra-mantra; terdapat [perbedaan antara] perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat; terdapat akibat perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat; terdapat kehidupan ini dan kehidupan berikutnya; terdapat [tanggung jawab terhadap] ibu atau ayah [seseorang]; di dunia ini terdapat para Arahant yang telah mencapai pencapaian yang baik, yang pergi dengan baik, berkembang dengan baik, yang telah secara pribadi merealisasi dunia ini dan dunia berikutnya melalui pemahaman, pencerahan, dan realisasi. Ini adalah halangan kedelapan, kondisi kedelapan yang tidak tepat waktunya bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci.

Bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci, terdapat [satu kesempatan] yang tanpa halangan, yang adalah kondisi yang tepat pada waktunya. Apakah [satu kesempatan] bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci yang tanpa halangan dan adalah kondisi yang tepat pada waktunya? Pada waktu ketika seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan, telah muncul di dunia dan mengajarkan Dharma yang membawa pada ketenangan, membawa pada lenyapnya sepenuhnya, membawa pada jalan pencerahan yang diuraikan oleh Sang Sugata – pada waktu itu orang ini terlahir kembali di Negeri Tengah, ia tidak tuli dan tidak bisu bagaikan seekor domba yang mengembik, tidak hanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat, dapat memahami apakah makna dari apa yang dikatakan adalah baik atau buruk, dan dilengkapi dengan pandangan benar, bukan pandangan menyimpang, menganut pandangan dan doktrin seperti ini: terdapat [jasa kebajikan dalam] pemberian, persembahan, dan pengulangan mantra-mantra; terdapat [perbedaan antara] perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat; terdapat akibat perbuatan bermanfaat dan tidak bermanfaat; terdapat kehidupan ini dan kehidupan berikutnya; terdapat [tanggung jawab terhadap] ibu atau ayah [seseorang]; di dunia ini terdapat para Arahant yang telah mencapai pencapaian yang baik, yang pergi dengan baik, berkembang dengan baik, yang telah secara pribadi merealisasi dunia ini dan dunia berikutnya melalui pemahaman, pencerahan, dan realisasi. Ini adalah [satu kesempatan] bagi seseorang yang [bermaksud untuk] berlatih kehidupan suci yang tanpa halangan, yang adalah kondisi yang tepat pada waktunya.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Jika seseorang telah memperoleh tubuh manusia
Dan Dharma yang paling luhur sedang diajarkan,
Tetapi ia tidak mencapai buah apa pun,
Maka ini pasti karena ia tidak bertemu dengan waktu [yang tepat] baginya.

Banyak halangan bagi [pelatihan] kehidupan suci telah diajarkan.
Bagi seseorang untuk bertemu
Waktu [yang tepat] pada kehidupan berikutnya
Adalah sangat jarang di dunia.

Jika seseorang berharap untuk memperoleh tubuh manusia lagi
Dan untuk mendengar Dharma yang mulia,
Maka ia seharusnya berlatih dengan tekun,
Demi kepentingan dirinya.

Mengenai pembicaraan tentang dan mendengar Dharma yang baik,
Janganlah melewatkan waktu [yang tepat] baginya.
Jika [seseorang] melewatkan waktu [yang tepat],
Ia pasti harus mengkhawatirkan tentang kejatuhan ke dalam neraka.

Jika seseorag tidak bertemu dengan waktu [yang tepat],
Dan tidak mendengar Dharma baik yang diajarkan,
Maka [ia] bagaikan seorang saudagar yang kehilangan kekayaannya;
Ia akan menanggung tak terhitung kelahiran dan kematian.

Jika seseorang memperoleh tubuh manusia,
Mendengar Dharma yang benar dan baik yang diajarkan,
Dan dengan hormat mengikuti ajaran Sang Bhagavā,
Maka ia pasti telah bertemu waktu [yang tepat] baginya.

Jika seseorang bertemu dengan waktu [yang tepat] ini,
Dan dapat berlatih kehidupan suci yang benar,
Maka ia akan mencapai penglihatan yang tiada bandingnya,
Yang diajarkan oleh Kerabat Matahari.

Seseorang yang demikian terus-menerus menjaga dirinya,
Dan berlatih dalam meninggalkan kecenderungan tersembunyi.
Dengan melenyapkan dan memadamkan semua belenggu,
Dan dengan mengalahkan Si Jahat [Māra] dan pengikut Si Jahat,
Ia melampaui dunia;
Yaitu, ia mencapai lenyapnya noda-noda.

Demikianlah yang diucapkan oleh Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #9 on: 04 May 2021, 02:20:30 PM »
125. Kotbah tentang Kemiskinan<393>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu, “Bagi seorang duniawi yang memiliki keinginan indria, apakah kemiskinan adalah suatu penderitaan besar?”

Para bhikkhu menjawab, “Benar, Sang Bhagavā, demikianlah.”

Sang Bhagavā lebih lanjut bertanya kepada para bhikkhu:

Jika seseorang yang memiliki keinginan indria adalah miskin, ia dapat mengumpulkan pinjaman dari kekayaan keluarga lain. Apakah mengumpulkan pinjaman dari kekayaan keluarga lain adalah suatu penderitaan besar di dunia?

Para bhikkhu menjawab, “Benar, Sang Bhagavā, demikianlah.”

Sang Bhagavā lebih lanjut bertanya kepada para bhikkhu:

Jika seseorang yang memiliki keinginan indria mengumpulkan pinjaman dan tidak dapat melunasinya pada waktunya, bunganya meningkat hari demi hari. Apakah meningkatnya bunga adalah suatu penderitaan besar di dunia?

Para bhikkhu menjawab, “Benar, Sang Bhagavā, demikianlah.”

Sang Bhagavā lebih lanjut bertanya kepada para bhikkhu:

Jika seseorang yang memiliki keinginan indria tidak dapat membayar meningkatnya bunga, peminjam meminta pelunasan [hutang]. Apakah diminta oleh peminjam [atas pelunasan hutang] adalah suatu penderitaan besar di dunia?

Para bhikkhu menjawab, “Benar, Sang Bhagavā, demikianlah.”

Sang Bhagavā lebih lanjut bertanya kepada para bhikkhu:

Jika seseorang yang memiliki keinginan indria diminta oleh peminjam [atas pelunasan hutang] dan tidak dapat melunasinya, peminjam mengejarnya dan meminta berulang-ulang [atas pelunasan]. Apakah dikejar oleh peminjam dan dimintai berulang-ulang [atas pelunasan] adalah suatu penderitaan besar di dunia?

Para bhikkhu menjawab, “Benar, Sang Bhagavā, demikianlah.”

Sang Bhagavā lebih lanjut bertanya kepada para bhikkhu:

Bagi seseorang yang memiliki keinginan indria, jika peminjam mengejarnya dan meminta berulang-ulang [atas pelunasan], dan karena tidak dapat melunasi [pinjaman itu] ia ditangkap dan diikat oleh peminjam. Apakah ditangkap dan diikat oleh peminjam adalah suatu penderitaan besar di dunia?

Para bhikkhu menjawab, “Benar, Sang Bhagavā, demikianlah.”

[Sang Bhagavā berkata:]

Ini berarti bahwa bagi seseorang yang memiliki keinginan indria, kemiskinan adalah suatu penderitaan besar di dunia; bagi seseorang yang memiliki keinginan indria, mengumpulkan pinjaman adalah suatu penderitaan besar di dunia; bagi seseorang yang memiliki keinginan indria, meningkatnya bunga dari pengumpulan pinjaman adalah suatu penderitaan besar di dunia; bagi seseorang yang memiliki keinginan indria, diminta oleh peminjam [atas pelunasan hutang] adalah suatu penderitaan besar di dunia; bagi seseorang yang memiliki keinginan indria, dikejar oleh peminjam dan diminta berulang-ulang [atas pelunasan] adalah suatu penderitaan besar di dunia; bagi seseorang yang memiliki keinginan indria, ditangkap dan diikat oleh peminjam adalah suatu penderitaan besar di dunia.

Dengan cara yang sama, jika seseorang dalam Dharma mulia ini tidak memiliki keyakinan terhadap [nilai] keadaan-keadaan bermanfaat, tidak menjaga aturan-aturan latihan, tidak terpelajar, tidak dermawan, dan tidak memiliki kebijaksanaan sehubungan dengan keadaan-keadaan bermanfaat, maka karena alasan itu ia miskin dan tidak berkuasa, bahkan jika ia memiliki sejumlah besar emas, perak, beril, kristal, permata maṇi, giok putih, kulit kerang, batu karang, ambar, batu akik, cangkang kura-kura, cornelian, giok hijau, rubi, dan giok mutiara.<394> Ini adalah apa yang kukatakan dalam ajaran muliaku sebagai hal tidak bermanfaat [yang menyerupai] kemiskinan.

[Orang ini] terlihat dalam perilaku jahat dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Ini adalah apa yang kukatakan dalam ajaran muliaku sebagai hal tidak bermanfaat [yang menyerupai] mengumpulkan pinjaman. Ia berharap menutupi perbuatan jasmani jahatnya; ia tidak mengungkapkannya sendiri, tidak mau membicarakannya, tidak mau ditegur oleh orang lain, dan tidak melakukan seperti mereka minta. Ia berharap menutupi perilaku ucapan dan pikiran jahatnya; ia tidak mengungkapkannya sendiri, tidak mau membicarakannya, tidak mau ditegur oleh orang lain, dan tidak melakukan seperti mereka minta. Ini adalah apa yang kukatakan dalam ajaran muliaku sebagai hal tidak bermanfaat [yang menyerupai] meningkatnya bunga jatuh tempo.

Apakah ia berlatih di dalam desa atau kota kecil atau di luar desa atau kota kecil, teman-temannya dalam kehidupan suci, ketika melihatnya, berkata seperti ini, “Teman-teman yang mulia, orang ini berbuat seperti ini, berperilaku seperti ini, adalah jahat seperti ini, adalah tidak murni seperti ini; ia adalah sebuah duri bagi desa atau kota kecil.” Ia berkata seperti ini, “Teman-teman yang mulia, aku tidak berbuat seperti ini, tidak berperilaku seperti ini, tidak jahat seperti ini, bukan tidak murni seperti ini; aku bukanlah duri bagi desa atau kota kecil.” Ini adalah apa yang kukatakan dalam ajaran muliaku sebagai hal tidak bermanfaat [yang menyerupai] permintaan atas pelunasan.

Apakah ia sedang berdiam di tempat yang terpencil, di gunung, di bawah sebatang pohon dalam hutan, atau di tempat yang terbuka, ia berpikir tiga jenis pikiran tidak bermanfaat, [yaitu,] pikiran keinginan indria, pikiran kebencian, dan pikiran menyakiti. Ini adalah apa yang kukatakan dalam ajaran muliaku sebagai hal tidak bermanfaat [yang menyerupai] pengejaran berulang-ulang.

Ia terlibat dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Disebabkan oleh perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran jahatnya, karena hal ini, ketika hancurnya jasmani saat kematian, ia pasti akan pergi menuju alam kehidupan yang buruk dan terlahir kembali di neraka. Ini adalah apa yang kukatakan dalam ajaran muliaku sebagai hal tidak bermanfaat [yang menyerupai] penangkapan dan ikatan.

Aku tidak melihat ikatan yang sama menyedihkannya, sama hebatnya, sama kejamnya, dan sama tidak diinginkannya seperti ikatan neraka atau [kelahiran kembali] sebagai binatang atau hantu kelaparan.

Seorang bhikkhu yang adalah seoran Arahant, yang telah mencapai penghancuran noda-noda, mengetahui bahwa tiga jenis ikatan yang menyedihkan ini telah dihancurkan sepenuhnya, bahwa mereka telah dicabut sampai ke akar-akarnya, tidak pernah tumbuh lagi.<395>

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Di dunia kemiskinan adalah penderitaan,
[Demikian juga] mengumpulkan pinjaman dari kekayaan orang lain.
Setelah mengumpulkan pinjaman demikian,
Diminta [untuk melunasinya] adalah penderitaan dan kesedihan.

Peminjam mendekatinya dan meminta [pelunasan];
Karena hal ini, [tidak dapat melunasinya,] ia ditangkat dan diikat.
Ikatan ini adalah penderitaan yang sangat hebat
Bagi seorang duniawi yang menyenangi kenikmatan indria.

Dengan cara yang sama dalam Dharma mulia
Bagi seseorang yang tanpa keyakinan benar,
Yang tidak memiliki rasa malu atau takut,
Dan melakukan perbuatan yang jahat dan tidak bermanfaat.

Dengan jasmaninya ia melakukan perbuatan tidak bermanfaat,
Dan juga dengan ucapan dan pikirannya.
Ia menutupunya, tidak ingin membicarakannya,
Dan tidak suka diajarkan dan dinasihati dengan benar.

Jika seseorang melakukan [perbuatan demikian] berulang-ulang,
Pikiran dan pemikirannya mengalami penderitaan.
Apakah di desa atau di tempat yang terpencil,
Ia pasti akan mengalami penyesalan karenanya.

Dengan jasmani dan ucapan ia melakukan perbuatan demikian,
Dan juga dengan pemikiran dalam pikirannya.
Perbuatan jahatnya semakin meningkat,
[Seraya] ia melakukannya berulang-ulang.

[Melakukan] perbuatan jahat dan tidak memiliki kebijaksanaan,
Setelah banyak melakukan yang tidak bermanfaat,
Karenanya, ketika kehidupannya berakhir,
Ia pasti akan pergi menuju ikatan neraka.

Ikatan ini adalah penderitaan yang paling mendalam.
[Namun] seorang “pahlawan” bebas darinya.
Ia yang memperoleh kekayaan sesuai dengan Dharma
Tidak akan memikul hutang tetapi akan dalam kedamaian.

Memberi membawa kebahagiaan;
Ini menguntungkan dalam kedua hal [dalam kehidupan sekarang dan mendatang].
Dengan cara ini para perumah tangga
Meningkatkan jasa kebajikan mereka melalui memberi.

Adalah sama halnya dalam Dharma mulia;
Bagi seseorang yang miliki keyakinan yang baik dan tulus
Dan dilengkapi dengan rasa malu dan takut
Yang pasti akan tanpa kekikiran atau ketamakan.

Setelah meninggalkan lima rintangan,
Ia selalu bergembira dalam berlatih secara tekun.
Mencapai jhāna-jhāna,
Ia diliputi kedamaian dan kebahagiaan yang bertahan lama.<396>

Setelah mencapai kebahagiaan non-duniawi,
Dimurnikan seakan-akan dimandikan dengan air,
Pikirannya yang tanpa gangguan terbebaskan,
Dan semua ikatan penjelmaan dilenyapkan.

Nirvana adalah kebebasan dari penyakit;
Ini disebut pelita yang tiada bandingnya.<397>
Kebebasan dari dukacita, kebebasan dari debu, dan kedamaian:
Ini disebut “yang tanpa gangguan.”

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #10 on: 04 May 2021, 02:28:21 PM »
126. Kotbah tentang Terlibat dalam Kenikmatan Indria<398>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata, “Sang Bhagavā, di dunia terdapat berapa jeniskah orang yang terlibat dalam kenikmatan indria?”

Sang Bhagavā berkata:

Perumah tangga, di dunia terdapat keseluruhan sepuluh jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria. Apakah sepuluh hal itu?

Perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, ia tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya, ataupun ia tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; [tetapi ia] tidak memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya, dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, ia tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; ataupun ia tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; [tetapi ia] tidak memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; ataupun ia tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya, [tetapi ia] tidak memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Setelah memperoleh kekayaan, ia terkotori [olehnya], melekat, terbelenggu, dan terikat [padanya]. Karena terkotori [olehnya], melekat, terbelenggu, dan terikat [padanya], ia menggunakan [kekayaan itu] tanpa melihat bahaya [di dalamnya] dan tanpa mengetahui bagaimana melampauinya. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Setelah memperoleh kekayaan, ia tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya. Karena tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya, ia menggunakan [kekayaan itu] seraya melihat bahaya di dalamnya, dan mengetahui bagaimana melampauinya. Terdapat jenis orang [kesepuluh] ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Perumah tangga, seumpamanya terdapat seseorang yang terlibat dalam kenikmatan indria dan mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma; yang, setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan yang tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini dinilai sebagai yang terendah di antara semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria.<399>

Perumah tangga, seumpamanya terdapat seseorang yang terlibat dalam kenikmatan indria dan mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma; dan yang, setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan yang juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini dinilai sebagai yang tertinggi di antara semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria [dan yang mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma].<400>

Perumah tangga, seumpamanya terdapat seseorang yang terlibat dalam kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma; yang, setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan yang juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Setelah memperoleh kekayaan, ia tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya. Karena tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya, ia menggunakan [kekayaan itu] seraya melihat bahaya di dalamnya, dan mengetahui bagaimana melampauinya. Jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini adalah yang terkemuka, yang teragung, yang terunggul, yang terbaik, yang paling mengagumkan. Ia adalah yang paling mulia dari semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Seperti halnya dari seekor sapi menghasilkan susu, dari susu menghasilkan kepala susu, dari kepala susu menghasilkan mentega, dari mentega menghasilkan ghee, dari ghee menghasilkan ghee yang dijernihkan – [di antara hal-hal ini] ghee yang dijernihkan adalah yang terkemuka, yang teragung, yang tertinggi, yang terbaik, yang paling mengagumkan dan mulia. Dengan cara yang sama, perumah tangga, [jenis] orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini adalah yang terkemuka, yang teragung, yang tertinggi, yang terbaik, yang paling mengagumkan, dan yang paling mulia dari semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:<401>

Jika seseorang mencari kekayaan dengan cara yang bertentangan dengan Dharma,
Dan jika seseorang mencarinya baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma,
[Maka,] dengan tidak menggunakan [kekayaan itu] untuk memberikan bagi [orang lain] dan dirinya sendiri,
Dan juga tidak menggunakannya sebagai persembahan untuk berbuat jasa kebajikan,
Keduanya adalah salah;
Mereka adalah yang terendah di antara mereka yang terlibat dalam kenikmatan indria [dengan cara demikian].

Jika seseorang mencari kekayaan sesuai dengan Dharma,
Dan memperolehnya melalui usahanya sendiri,
Dengan mengggunakannya untuk memberikan bagi diri sendiri dan orang lain,
Dan juga sebagai persembahan untuk berbuat jasa kebajikan,
Dalam kedua hal ini adalah baik,
Ia adalah yang tertinggi di antara mereka yang terlibat dalam kenikmatan indria [dengan kemelekatan].

Jika seseorang mencapai kebijaksanaan yang melampaui
[Seraya] terlibat dalam kenikmatan indria dan menjalankan kehidupan rumah tangga,
Dengan melihat bahaya dalam kekayaan, merasa puas, dan menggunakannya dengan cermat –
Seseorang yang demikian mencapai kebijaksanaan yang melampaui kenikmatan indria.
Ia [dalam semua hal] adalah yang tertinggi di antara mereka yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang Sang Buddha katakan, perumah tangga Anāthapiṇḍika dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #11 on: 04 May 2021, 02:31:42 PM »
127. Kotbah tentang Ladang Jasa Kebajikan<402>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata, “Sang Bhagavā, terdapat berapa jeniskah orang di dunia yang merupakan ladang jasa kebajikan?”

Sang Bhagavā berkata:

Perumah tangga, di dunia terdapat keseluruhan dua jenis orang yang merupakan ladang jasa kebajikan. Apakah dua hal itu? Pertama adalah orang yang sedang dalam latihan. Kedua adalah orang yang melampaui latihan. Dari orang-orang yang sedang dalam latihan terdapat delapan belas jenis, dan dari orang-oranng yang melampaui latihan terdapat sembilan jenis.<403>

Perumah tangga, apakah delapan belas jenis orang dalam latihan? Pengikut keyakinan, pengikut Dharma, seseorang yang terbebaskan melalui keyakinan, seseorang yang mencapai penglihatan, saksi tubuh, seseorang yang pergi dari keluarga ke keluarga, penghasil-satu-benih,<404> seseorang dalam jalan menuju pemasuk-arus, seseorang yang telah mencapai pemasuk-arus, seseorang dalam jalan menuju yang sekali-kembali, seseorang yang telah mencapai yang sekali-kembali, seseorang dalam jalan yang tidak-kembali, seseorang yang telah mencapai yang tidak-kembali, seseorang yang mencapai nirvana akhir di antaranya, seseorang yang mencapai nirvana akhir saat terlahir kembali, seseorang yang mencapai nirvana akhir dengan usaha, seseorang yang mencapai nirvana akhir tanpa usaha, dan seseorang yang berlanjut ke atas menuju Surga Akaniṭṭha; ini adalah delapan belas jenis orang dalam latihan.

Perumah tangga, apakah sembilan jenis orang yang melampaui latihan?<405> [Mereka adalah] seseorang yang mampu berdasarkan kehendak [mengakhiri penjelmaan] (cetanādharman); seseorang yang mampu menembus [tanpa usaha] (prativedhanādharman); seseorang yang dalam kondisi tidak tergoyahkan (akopya dharman); seseorang yang cenderung mengalami kemunduran (parihāṇadharman); seseorang yang tidak cenderung mengalami kemunduran (aparihāṇadharman); seseorang yang mampu melindungi (anurakṣaṇādharman), [yaitu,] yang selagi melindungi dirinya sendiri tidak akan mengalami kemunduran, tetapi jika ia tidak melindungi dirinya sendiri ia akan mengalami kemunduran; seseorang yang dalam kondisi berdiri dengan kokoh (sthitākampya); seseorang yang terbebaskan melalui kebijaksanaan; dan seseorang yang terbebaskan melalui kedua cara. Ini adalah sembilan jenis orang yang melampaui latihan.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Di dunia mereka yang sedang dalam latihan dan mereka yang melampaui latihan
Adalah layak atas penghormatan, layak atas persembahan.
Mereka sempurna dalam mempertahankan [perilaku] jasmani yang benar,
Serta dalam ucapan dan pikiran juga.
Perumah tangga, ini adalah ladang [jasa kebajikan] yang mengagumkan;
Ia yang memberikan persembahan kepada mereka memperoleh jasa besar.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang Sang Buddha katakan, perumah tangga Anāthapiṇḍika dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan baik.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #12 on: 04 May 2021, 02:37:47 PM »
128. Kotbah tentang Para Umat Awam Laki-Laki<406>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika, ditemani oleh sejumlah besar perkumpulan lima ratus orang umat awam laki-laki, mendekati Yang Mulia Sāriputta. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya [pada kaki Yang Mulia Sāriputta], mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Lima ratus orang umat awam laki-laki juga memberikan penghormatan, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.

Setelah perumah tangga Anāthapiṇḍika dan lima ratus orang umat awam laki-laki duduk pada satu sisi, Yang Mulia Sāriputta mengajarkan mereka Dharma, dengan menasihati dan menginspirasi mereka, sepenuhnya menggembirakan mereka. Setelah dengan tak terhitung cara terampil mengajarkan mereka Dharma, setelah menasihati dan menginspirasi mereka, [Yang Mulia Sāriputta] bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sang Buddha. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Tak lama setelah Yang Mulia Sāriputta pergi, perumah tangga Anāthapiṇḍika dan lima ratus orang umat awam laki-laki juga mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.<407>

Ketika Yang Mulia Sāriputta dan perkumpulan [umat awam] telah duduk dengan baik, Sang Bhagavā berkata kepada mereka:

Sāriputta, jika sehubungan dengan seorang siswa awam mulia engkau mengetahui bahwa ia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip, dan bahwa ia mencapai dengan mudah dan tanpa kesulitan empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, maka, Sāriputta, engkau dapat menyatakan bahwa bagi siswa mulia itu [kelahiran kembali] di neraka telah diakhiri,<408> dan juga [kelahiran kembali] sebagai binatang, sebagai hantu kelaparan, atau di alam kehidupan buruk [lainnya] mana pun. Ia telah mencapai pemasuk-arus. Ia tidak akan terjatuh ke dalam kondisi buruk apa pun tetapi pasti akan maju menuju pencerahan sempurna; dan setelah mengalami paling banyak tujuh kehidupan, dengan pergi dan datang di antara para dewa dan manusia, ia akan mencapai akhir dukkha.

Sāriputta, bagaimana seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip?<409> Seorang siswa awam mulia menghindari diri dari membunuh, telah meninggalkan pembunuhan, telah membuang pedang dan tongkat pemukul. Ia memiliki rasa malu dan takut berbuat jahat, dan pikiran [yang penuh] cinta kasih dan belas kasih, [dengan berharap] memberikan manfaat kepada semua [makhluk], bahkan serangga. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pembunuhan makhluk hidup. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip pertama ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan. Ia mengambil [hanya] apa yang diberikan. Ia selalu menyukai kedermawanan, dengan bergembira di dalamnya, tanpa kekikiran, dan tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia terus-menerus menjaga dirinya sehingga tidak dikuasai oleh [apa pun pemikiran] mencuri. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pengambilan apa yang tidak diberikan. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip kedua ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari perbuatan seksual yang salah, telah meninggalkan perbuatan seksual yang salah. Jika seorang wanita dilindungi oleh ayahnya, dilindungi oleh ibunya, dilindungi oleh orang tuanya, dilindungi oleh saudara laki-lakinya, atau dilindungi oleh saudara perempuannya; atau jika seorang wanita dilindungi oleh mertuanya, dilindungi oleh sanak keluarganya, atau dilindungi oleh sukunya; atau jika ia telah mengikat janji pernikahan atau dilindungi oleh ancaman hukuman, atau telah dikalungi bunga sebagai tanda pertunangan – [maka ia] tidak mencabuli seorang wanita yang demikian. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan perbuatan seksual yang salah. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip ketiga ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah. Ia mengatakan kebenaran, bergembira dalam kebenaran, tidak tergoyahkan berkembang dalam kebenaran, sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak akan menipu [siapa pun di] dunia. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan salah. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip keempat ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan minuman keras. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip kelima ini.

Sāriputta, apakah empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, di mana seorang siswa awam mulia mencapainya dengan mudah dan tanpa kesulitan? Seorang siswa awam mulia mengingat kembali Sang Tathāgata [demikian], “Itulah Sang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan.” Ketika ia mengingat kembali Sang Tathāgata dengan cara ini, jika terdapat [dalam pikirannya] keinginan jahat apa pun mereka segera lenyap. Jika terdapat dalam pikirannya [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi pertama ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali Dharma [demikian]: “Dharma yang diajarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā pasti membawa pada yang tertinggi, pada kebebasan dari kekesalan dan penderitaan; ia selalu ada dan tidak tergoyahkan.”<410> Ketika ia merenungkan dengan cara ini, memahami dengan cara ini, mengetahui dengan cara ini, dan mengingat kembali Dharma dengan cara ini, maka jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika terdapat dalam pikirannya [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] Dharma, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai [dengan mudah dan tanpa kesulitan] keadaan pikiran lebih tinggi kedua ini [yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini].

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali Sangha [demikian], “Sangha mulia Sang Tathāgata bertindak dengan baik dan bertindak dengan benar, maju dalam Dharma sesuai dengan Dharma, dan menyesuaikan dengan Dharma. Dalam Sangha terdapat sesungguhnya para Arahant dan mereka dalam jalan menuju Kearahantan, yang tidak-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang tidak-kembali, yang sekali-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang sekali-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang sekali-kembali, pemasuk-arus dan mereka dalam jalan menuju pemasuk-arus.  Ini disebut empat pasang atau delapan kelompok [orang mulia]. Ini disebut Sangha Sang Tathāgata. Mereka telah mencapai moralitas, mereka telah mencapai konsentrasi, mereka telah mencapai kebijaksanaan, mereka telah mencapai pembebasan, dan mereka telah mencapai pengetahuan dan penglihatan pembebasan.<411> Mereka layak atas penghormatan dan penghargaan, layak atas persembahan, dan merupakan ladang jasa kebajikan yang mengagumkan di dunia.” Ketika [seorang siswa awam mulia] mengingat kembali Sangha Sang Tathāgata dengan cara ini, maka jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] Sangha Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi ketiga ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali moralitasnya sendiri [demikian], “Moralitasku ini sempurna, tidak cacat. Ia bebas dari kekotoran dan kerusakan, berkembang [dengan kokoh] bagaikan bumi, tidak hampa.<412> Ini dipuji oleh para mulia, diterima dan diingat dengan baik.” Ketika ia mengingat kembali moralitasnya sendiri dengan cara ini, jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] moralitas, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. . Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi keempat ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.

Sāriputta, jika sehubungan dengan seorang siswa awam mulia engkau mengetahui bahwa ia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip ini, dan bahwa ia mencapai dengan mudah dan tanpa kesulitan empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, maka, Sāriputta, engkau dapat menyatakan bahwa bagi siswa mulia itu [kelahiran kembali] di neraka telah diakhiri, dan juga [kelahiran kembali] sebagai binatang, hantu kelaparan, atau di alam kehidupan buruk [lainnya] mana pun. Ia telah mencapai pemasuk-arus. Ia tidak akan terjatuh ke dalam kondisi buruk apa pun tetapi pasti akan maju menuju pencerahan sempurna; dan setelah mengalami paling banyak tujuh kehidupan, dengan pergi dan datang di antara para dewa dan manusia, ia akan mencapai akhir dukkha.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Seorang bijaksana yang berdiam di rumah,
Melihat ketakutan atas neraka.
Karena menerima dan mengingat Dharma mulia,
Ia melenyapkan setiap jenis kejahatan.

Ia menghindari diri dari membunuh atau melukai makhluk hidup,
Dapat meninggalkan hal ini dengan pemahaman.
Ia berkata benar, bukan apa yang salah.
Ia tidak mencuri milik orang lain.

Puas dengan istrinya sendiri,
Ia tidak menyenangi istri orang lain.
Ia meninggalkan minuman keras dan menghindari diri darinya,
[Dengan mengetahui mereka sebagai] sumber kebingungan pikiran, kegilaan, dan ketidaktahuan.

[Seseorang] seharusnya sering mengingat kembali Yang Tercerahkan Sempurna,
Merenungkan ajaran-ajaran bermanfaat,
Mengingat kembali Sangha, dan merenungkan moralitas [dirinya sendiri].
Dari hal ini [ia] akan memperoleh sukacita.

Berharap untuk berlatih pemberian,
Seseorang seharusnya mempertimbangkan jasa yang diharapkan darinya,
Dan memberi pertama kali kepada [mereka yang memiliki] pikiran yang ditenangkan.
[Pemberian] demikian membawa akibat [yang baik].
Aku sekarang akan mengatakan tentang [mereka dengan] pikiran yang ditenangkan.
Sāriputta, dengarkanlah dengan seksama!

[Seekor sapi] mungkin hitam atau putih,
Merah atau cokelat,
Berbelang dengan warna-waran yang menarik,
Atau memiliki warna seekor merpati,
Menurut keadaan pembawaan lahirnya;
[Tetapi] sapi yang terlatih dengan baik adalah yang terkemuka.

[Jika] ia memiliki kekuatan tubuh yang cukup
Dan berjalan dengan kecepatan yang baik, dengan cepat ke sana kemari,
Maka ia akan dipilih karena kemampuannya
Dan tidak ditolak karena warnanya.

Dengan cara yang sama, seorang manusia
Mungkin lahir dalam keadaan yang berbeda-beda:
Sebagai ksatria atau brahmana
Atau pedagang atau pekerja,
Menurut keadaan pembawaan lahirnya.

Seorang sesepuh yang murni dan menjaga aturan-aturan latihan,
Yang tanpa kemelekatan duniawi, seorang yang pergi dengan baik<413> –
Memberikan dana kepadanya membawa buah besar.
Sedangkan seseorang yang bodoh, yang tidak memiliki pengetahuan,
Tidak memiliki kebijaksanaan, tidak memiliki pembelajaran –
Memberikan dana kepadanya membawa buah kecil.<414>
Tidak memiliki cahaya [kebijaksanaan], [seorang yang demikian] tidak menerangi siapa pun.

Jika cahaya [kebijaksanaan] bersinar
Pada seorang siswa bijaksana Sang Buddha
Yang keyakinannya kepada Sang Sugata
Berakar dengan baik dan berkembang dengan kokoh,
[Maka] orang itu akan terlahir kembali di keadaan yang baik,
Di sebuah keluarga pilihannya,
Dan pada akhirnya akan mencapai Nirvana.
Dengan cara ini masing-masing orang memiliki jalan hidupnya.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu, perumah tangga Anāthapiṇḍika, dan lima ratus umat awam laki-laki bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #13 on: 04 May 2021, 02:44:37 PM »
129. Kotbah tentang Musuh<415>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Terdapat tujuh keadaan permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah. Apakah tujuh hal itu?
Seorang musuh tidak menginginkan musuhnya berpenampilan menarik. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya berpenampilan menarik.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan memiliki penampilan jelek karena hal ini, bahkan jika ia mandi dengan baik dan tubuhnya diminyaki dengan wewangian yang bagus. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan pertama permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya tidur dengan tenang. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya tidur dengan tenang.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan sulit tidur karena hal ini, bahkan jika ia berbaring di atas tempat tidur kerajaan yang berlapiskan kain wol, dihiasi dengan kain brokat dan sutra yang bagus, dengan seperai bergaris-garis dan dilapisi dengan kapas, dan dengan bantal [yang terbuat dari] kulit antelop pada kedua ujungnya. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan kedua permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya seorang musuh tidak menginginkan musuhnya memperoleh keuntungan besar. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya memperoleh keuntungan besar.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan tidak [berusaha untuk] memperoleh keuntungan ketika ia seharusnya [berusaha untuk] memperoleh keuntungan, dan [berusaha untuk] memperoleh keuntungan ketika ia tidak seharusnya [berusaha untuk] memperoleh keuntungan. Dalam kedua hal ia berbuat berlawanan [dengan apa yang seharusnya], sehingga ia mengalami kerugian besar. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan ketiga permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya memiliki teman. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya memiliki teman.

Bagi seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan, jika ia memiliki teman-teman yang baik mereka meninggalkannya dan pergi menjauh. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan keempat permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya memiliki reputasi baik. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya memiliki reputasi baik.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan memperoleh nama buruk, reputasi jelek, yang diketahui secara luas di segala arah. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan kelima permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya menjadi sangat kaya. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya menjadi sangat kaya.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan terlibat dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang menyebabkannya kehilangan sejumlah besar kekayaan.<416> Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan keenam permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya, ketika hancurnya jasmani saat kematian, yakin akan pergi menuju alam kehidupan yang baik, alam surgawi. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya pergi menuju alam kehidupan yang baik.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan terlibat dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Setelah terlibat dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat, ketika hancurnya jasmani saat kematian, ia pasti akan pergi menuju alam kehidupan yang buruk, dengan terlahir kembali di neraka. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan ketujuh permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Seseorang yang marah memperoleh penampilan jelek,
Ia tidur dengan tidak tenang dan sulit.
Walaupun ia seharusnya memperoleh kekayaan besar,
Ia sebaliknya mengalami kerugian.

[Bahkan mereka yang merupakan] teman-teman dekat baiknya
Menjaga jarak dari seseorang yang menjadi marah.
Seraya ia berulang-ulang menjadi marah,
Reputasi buruknya menyebar ke segala arah.

Ia marah ketika terlibat dalam aktivitas jasmani atau ucapan,
Dan terjerat dalam kemarahan ketika terlibat dalam aktivitas pikiran.
Seseorang yang dikuasai kemarahan
Kehilangan semua kekayaannya.

Kemarahan menghasilkan kerugian;
Kemarahan menghasilkan kekotoran pikiran.
Ketakutan muncul di dalam seseorang [yang demikian],
Tetapi ia tidak dapat menyadari hal ini.

Seseorang yang marah tidak mengenali apa yang menguntungkan;
Seseorang yang marah tidak mengetahui Dharma.
Tidak memiliki penglihatan, buta, terselubung dalam kegelapan:
Demikianlah seseorang yang bergembira dalam kemarahan.

Kemarahan pertama-tama muncul sebagai penampilan jelek,
Seperti halnya api mulai mengeluarkan asap.
Dari hal ini muncul kebencian dan kecemburuan;
Dan sebagai akibat dari hal ini, semua orang menjadi marah.

Apa yang dilakukan seseorang yang marah,
Apakah perbuatan bermanfaat atau tidak bermanfaat,
Setelah menjadi marah sepenuhnya,<417>
ia hangus seakan-akan terbakar oleh api.

Apa yang telah kusebut perbuatan yang menghanguskan
Dan menjerat keadaan-keadaan [batin]
Aku sekarang akan menjelaskan satu per satu.
Kalian semua, dengarkanlah dengan seksama!

Seseorang yang marah akan berbalik melawan ayahnya dan melukainya,
Dan menentang saudara laki-lakinya juga.
Ia bahkan akan membunuh saudara perempuannya.
Demikianlah berbahayanya seseorang yang marah.

[Seseorang] yang melahirkannya dan membesarkannya,
Yang memungkinkannya melihat dunia ini,
Yang memungkinkannya bertahan hidup: ibunya.
Bahkan sang pemarah akan melukainya.<418>

Tanpa rasa malu, tanpa rasa takut,
Bagi seseorang yang terjerat oleh kemarahan tidak ada yang [tidak] akan ia [siap] katakan.
Bagi seseorang yang dikuasai oleh kemarahan,
Tidak ada [hal buruk] yang tidak akan diucapkan mulutnya.

Ia melakukan perbuatan yang bodoh dan tidak bermoral,<419>
Dan membunuh kehidupannya sendiri pada usia muda.
Ketika melakukan hal ini ia tidak memiliki kewaspadaan-diri;
Karena kemarahan, hal-hal mengerikan terjadi.

Ia melekat pada dirinya sendiri,
Dan mencintai dirinya sendiri secara ekstrem;
Tetapi walaupun mencintai dirinya sendiri,
Seseorang yang marah juga melukai dirinya sendiri.

Ia menikam dirinya dengan pisau,
Atau melemparkan dirinya dari tebing,
Atau menggantung dirinya dengan tali,
Atau mengambil berbagai jenis racun.

Demikianlah sifat kemarahan;
Kematiannya disebabkan oleh kemarahan.
Semua ini dapat ditinggalkan,
Dengan memahaminya melalui kebijaksanaan.
Sehubungan dengan perbuatan kecil yang tidak bermanfaat,
Seorang bijaksana dapat membuangnya dengan memahaminya.

Seseorang seharusnya bersabar dengan perilaku demikian,
Jika ia berharap untuk bebas dari kejelekan,
Untuk bebas dari kemarahan dan bebas dari kekhawatiran,
Untuk melenyapkan asap keangkuhan dan bebas darinya,
Untuk menjinakkan kemarahan dan meninggalkannya,
Untuk melenyapkannya sepenuhnya dan bebas dari noda-noda.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Reply #14 on: 04 May 2021, 02:56:30 PM »
130. Kotbah tentang Mengajarkan Dhammika<420>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Dhammika adalah seorang sesepuh di daerah asalnya. Ia bertanggung jawab atas stupa, dan ia menduduki posisi senior relatif terhadap [yang lain, tetapi ia] mudah marah, tidak sabar, dan sangat kasar, [cenderung] mencaci maki dan mengecam para bhikkhu lain. Karena hal ini, semua bhikkhu [lain] dari daerah asal [Dhammika] pergi dan menjauh. Mereka tidak menikmati berdiam di sana. Para umat awam dari daerah itu, melihat bahwa semua bhikkhu dari daerah itu pergi dan menjauh, karena mereka tidak menikmati berdiam di sana, berpikir, “Mengapakah semua bhikkhu dari daerah ini pergi dan menjauh, tidak bergembira dalam berdiam di sini?”

Para umat awam dari daerah itu mendengar tentang Yang Mulia Dhammika, seorang sesepuh di daerah asalnya, [sebagai berikut]. Ia bertanggung jawab atas stupa dan ia menduduki posisi senior relatif terhadap [yang lain, tetapi ia] mudah marah, tidak sabar, dan sangat kasar, [cenderung] mencaci maki dan mengecam para bhikkhu lain. Karena hal ini semua bhikkhu [lain] dari daerah asal [Dhammika] pergi dan menjauh. Mereka tidak menikmati berdiam di sana. Mendengar hal ini, para umat awam dari tempat kelahiran [Dhammika] bersama-sama mendekati Yang Mulia Dhammika dan mengeluarkannya dari vihara-vihara di daerah asalnya.<421>

Atas hal ini Yang Mulia Dhammika, setelah dikeluarkan dari vihara-vihara di daerah asalnya oleh para umat awam dari daerah asalnya, mengambil jubah dan mangkuknya dan menuju Sāvatthī. Dengan mengadakan perjalanan secara bertahap, ia tiba di Sāvatthī dan berdiam di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Kemudian Yang Mulia Dhammika mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata:

Sang Bhagavā, aku tidak menghina para umat awam dari daerah asalku, aku tidak mencaci maki mereka, aku tidak melakukan pelanggaran terhadap mereka. Namun para umat awam dari daerah asalku telah mengusirku dari vihara-vihara di daerah asalku.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya, “Hentikan, Dhammika! Hentikan! Mengapakah engkau perlu mengatakan hal ini?”<422>

Yang Mulia Dhammika merentangkan tangannya dengan telapak tangannya disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata lagi:

Sang Bhagavā, aku tidak menghina para umat awam dari daerah asalku, aku tidak mencaci maki mereka, aku tidak melakukan pelanggaran terhadap mereka. Namun para umat awam dari daerah asalku telah mengusirku dari vihara-vihara di daerah asalku.

Sang Bhagavā berkata kepadanya lagi:

Dhammika, pada masa lampau para saudagar di sini di Jambudīpa akan berangkat ke samudera dengan kapal, membawa bersama mereka burung pemangsa pencari daratan. Sebelum pergi jauh di samudera raya, mereka akan membebaskan burung pemangsa pencari daratan. Jika burung pemangsa pencari daratan dapat mencapai pantai dari samudera raya, ia tidak akan kembali ke kapal; tetapi jika burung pemangsa pencari daratan tidak dapat mencapai pantai samudera raya, ia akan kembali ke kapal. Dengan cara yang sama, Dhammika, karena engkau telah dikeluarkan dari vihara-vihara di daerah asalmu, engkau kembali kepadaku. Hentikan, Dhammika! Hentikan! Mengapakah engkau perlu mengatakan hal ini lagi?

Ketiga kalinya Yang Mulia Dhammika berkata:

Sang Bhagavā, aku tidak menghina para umat awam dari daerah asalku, aku tidak mencaci maki mereka, aku tidak melakukan pelanggaran terhadap mereka. Namun para umat awam dari daerah asalku telah mengusirku dari vihara-vihara di daerah asalku.

Ketiga kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya:

Dhammika, ketika engkau dikeluarkan dari vihara-vihara di daerah asalmu oleh para umat awam dari daerah asalmu, apakah engkau berdiam dengan Dharma seorang pertapa?
Atas hal ini Yang Mulia Dhammika bangkit dari tempat duduk, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata, “Sang Bhagavā, bagaimanakah seorang pertapa berdiam dengan Dharma seorang pertapa?”

Sang Bhagavā berkata:

Dhammika, pada masa lampau masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun. Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, benua Jambudīpa ini sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; desa-desa dan kota-kota berdekatan [satu sama lain] sedekat jarak terbang seekor ayam jantan. Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, para wanita menikah pada usia lima ratus tahun.

Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan ribu tahun, terdapat [hanya] penyakit seperti [kebutuhan untuk] buang air besar dan kecil, memiliki keinginan, tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, dan menjadi tua. Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan ribu tahun, terdapat seorang raja bernama Koravya, seorang raja pemutar roda, cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk memerintah atas seluruh dunia. Sebagai raja Dharma yang baik, ia memiliki tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah: harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasihat – ini adalah tujuh hal itu. Ia memiliki seribu orang putra yang gagah, berani, tidak kenal takut, dan dapat menaklukkan orang lain. Ia pasti menguasai seluruh bumi, sejauh sampai samudera, tanpa bergantung pada pedang atau gada, hanya memerintah dengan Dharma, yang membawa kedamaian dan kebahagiaan [kepada semua orang].<423>

Dhammika, Raja Koravya memiliki pohon bernama Berdiri Kokoh, sebatang pohon banyan kerajaan. Dhammika, pohon banyak kerajaan Berdiri Kokoh memiliki lima dahan: dahan pertama menyediakan makanan bagi raja dan ratu; dahan kedua menyediakan makanan bagi putra mahkota dan para pengiring; dahan ketiga menyediakan makanan bagi rakyat kerajaan; dahan keempat menyediakan makanan bagi para pertapa dan brahmana; dahan kelima menyediakan makanan bagi burung-burung dan binatang. Dhammika, buah pohon banyan Berdiri Kokoh sebesar sebuah botol berukuran dua pint, dan memiliki rasa bagaikan bola madu murni.

Dhammika, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh tidak dijaga, [tetapi] tidak ada orang yang mencurinya. [Kemudian suatu hari] seseorang datang, lapar dan haus, sangat lemah, dengan penampilan lesu dan pucat, ingin makan buah itu, sehingga ia mendekati pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh. Setelah makan buah sampai kenyang ia mematahkan sebatang dahan yang menghasilkan buah dan pergi.

Terdapat seorang dewa yang berdiam bergantung pada pohon banyak kerajaan Berdiri Kokoh. Ia berpikir, “Betapa anehnya orang Jambudīpa ini! Ia tidak memiliki rasa berterima kasih dan penghargaan. Mengapakah demikian? Karena, setelah makan sampai kenyang buah dari pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh, ia mematahkan sebatang dahan yang menghasilkan buah dan membawanya pergi. Biarlah aku menyebabkan pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].” Kemudian pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].

Orang lain datang, lapar dan haus, sangat lemah, dengan penampilan lesu dan pucat, ingin makan buah itu, sehingga ia mendekati pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh. Melihat bahwa pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi], ia mendekati Raja Koravya dan berkata, “Semoga baginda mengetahui bahwa pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].”<424>

Ketika mendengar hal ini, [secepat waktu yang dibutuhkan untuk] seseorang yang kuat membengkokkan lengannya atau meluruskannya, Raja Koravya lenyap dari [negeri] Kuru dan tiba di Surga Tiga-Puluh-Tiga. Berdiri di hadapan Sakka, raja para dewa, ia berkata, “Semoga Kosiya mengetahui bahwa pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].”

Kemudian, [secepat waktu yang dibutuhkan untuk] seseorang yang kuat membengkokkan lengannya atau meluruskannya, Sakka, raja para dewa, dan Raja Koravya lenyap dari Surga Tiga-Puluh-Tiga dan tiba di [negeri] Kuru. Berdiri tak jauh dari pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh, Sakka, raja para dewa, melakukan pertunjukan kekuatan batin untuk menciptakan hujan badai besar. Setelah ia menciptakan hujan badai besar, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh tercabut dan tumbang.

Karena hal ini, dewa pohon yang berdiam di pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh berdukacita dan bersedih. Meratap dan bercucuran air mata, ia berdiri di hadapan Sakka, raja para dewa. Sakka, raja para dewa, bertanya kepadanya, “Dewa, mengapakah engkau berdukacita dan bersedih, berdiri di hadapanku meratap dan bercucuran air mata?”
Dewa itu berkata, “Semoga Kosiya mengetahui bahwa, karena hujan badai besar, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah tercabut dan tumbang.”

Kemudian Sakka, raja para dewa, berkata kepada dewa pohon itu, “Dewa pohon, ketika pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh tercabut dan tumbang disebabkan oleh hujan badai besar, apakah engkau berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon?”

Dewa pohon berkata, “Kosiya, bagaimanakah seorang dewa pohon berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon?” Sakka, raja para dewa, berkata kepadanya: “Dewa, seumpamanya bahwa seseorang ingin menggali akar-akar sebatang pohon dan membawanya pergi; seumpamanya ia ingin memotong tunas pohon, dahan pohon, dedaunan pohon, bunga pohon, buah pohon, dan membawanya pergi. Dewa pohon tidak seharusnya menjadi marah, tidak seharusnya membencinya karena ini; ia tidak seharusnya menyimpan kebencian dalam pikirannya. Dewa pohon seharusnya meninggalkan keadaan pikiran demikian dan [hanya] berdiam di sana sebagai seorang dewa pohon. Ini adalah bagaimana seorang dewa pohon berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon.”

Dewa itu berkata lebih lanjut, “Kosiya, aku seorang dewa pohon yang tidak berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon. Sejak saat ini, sebagai seorang dewa pohon, aku akan berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon. Semoga pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh pulih dan menjadi seperti sebelumnya!”

Kemudian Sakka, raja para dewa, menggunakan kekuatan batinnya untuk menciptakan lagi hujan badai besar. Setelah ia menciptakan hujan badai besar, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh pulih dan seperti sebelumnya.

Sama halnya, Dhammika, dengan seorang bhikkhu. Ia tidak mencaci maki seseorang yang mencaci makinya; ia tidak marah dengan seseorang yang marah dengannya; ia tidak melukai seseorang yang melukainya; dan ia tidak memukul seseorang yang memukulnya. Dengan cara ini, Dhammika, seorang pertapa berdiam dengan Dharma seorang pertapa.

Kemudian Yang Mulia Dhammika bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan, dengan meratap dan bercucuran air mata, berkata:

Sang Bhagavā, aku seorang pertapa yang tidak berdiam dengan Dharma seorang pertapa. Sejak saat ini, sebagai seorang pertapa, aku akan berdiam dengan Dharma seorang pertapa.

Sang Bhagavā berkata:

Dhammika, pada masa lampau terdapat seorang guru besar bernama Sunetta, seorang pemimpin para pertapa ajaran lain, yang telah meninggalkan keinginan indria dan ketagihan [indria] serta telah memperoleh kekuatan batin. Dhammika, guru besar Sunetta memiliki tak terhitung ratusan dan ribuan siswa. Dhammika, guru besar Sunetta mengajarkan para siswanya metode untuk [mencapai] alam Brahmā.

Dhammika, ketika guru besar Sunetta mengajarkan [para siswanya] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, beberapa siswa yang tidak sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya terlahir kembali setelah kematian di Surga Empat Raja, beberapa terlahir kembali di Surga Tiga-Puluh-Tiga, beberapa terlahir kembali di Surga Yāma, beberapa terlahir kembali di Surga Tusita, beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan, dan beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan yang Lain.<425>

Dhammika, ketika guru besar Sunetta mengajarkan [para siswanya] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, para siswa itu yang sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya mengembangkan empat kediaman luhur dan meninggalkan keinginan indria, dan setelah kematian mereka mencapai kelahiran kembai di alam Brahmā. Kemudian, guru besar Sunetta berpikir, “Tidak layak bagiku untuk berada di tingkat yang sama dalam kehidupan berikutnya seperti para siswaku dengan terlahir kembali di tempat yang sama. Biarlah aku sekarang alih-alih berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut ini, setelah kematian aku akan mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar (Ābhassara).”

Dhammika, kemudian guru besar Sunetta berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut itu, setelah kematian ia mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar. Dhammika, jalan latihan guru besar Sunetta dan para siswanya tidaklah sia-sia. Ini menghasilkan buah besar.

Seperti halnya guru besar Sunetta, demikian juga [enam guru besar lain] Mūgapakkha, brahmana Aranemi, guru Kuddālaka, brahmana muda Hatthipāla, Jotipāla, dan ayahnya Govinda: ini adalah “tujuh [brahmana] penasihat” (satta purohita).<426>

Dhammika, tujuh penasihat dan guru ini juga memiliki tak terhitung ratusan dan ribuan siswa. Dhammika, tujuh penasihat dan guru ini mengajarkan para siswa mereka metode untuk [mencapai] alam Brahmā. Ketika tujuh penasihat dan guru itu mengajarkan [para siswa mereka] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, beberapa siswa yang tidak sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya terlahir kembali setelah kematian di Surga Empat Raja, beberapa terlahir kembali di Surga Tiga-Puluh-Tiga, beberapa terlahir kembali di Surga Yāma, beberapa terlahir kembali di Surga Tusita, beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan, dan beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan yang Lain.

Ketika tujuh penasihat dan guru itu mengajarkan [para siswa mereka] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, para siswa itu yang sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya mengembangkan empat kediaman luhur dan meninggalkan keinginan indria, dan setelah kematian terlahir kembali di alam Brahmā. Dhammika, kemudian [masing-masing dari] tujuh penasihat dan guru itu berpikir, “Tidak layak bahwa aku, dalam kehidupan berikutnya, berada di tingkat yang sama seperti para siswaku dengan terlahir kembali di tempat yang sama. Biarlah aku sekarang alih-alih berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut ini, setelah kematian aku akan mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar.”

Dhammika, kemudian tujuh penasihat dan guru itu berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut itu, setelah kematian mereka mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar. Dhammika, jalan latihan tujuh penasihat dan guru itu dan para siswa [mereka] tidaklah sia-sia. Ini menghasilkan buah besar.

Dhammika, jika seseorang telah mencaci maki tujuh guru tersebut dan tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut mereka, jika seseorang telah memukul mereka, telah marah dengan mereka, atau telah mengecam mereka, maka orang itu pasti telah melakukan tak terukur pelanggaran berat.

Sehubungan dengan seorang siswa Sang Buddha yang telah mencapai pandangan benar, seorang bhikkhu yang telah mencapai buah yang lebih rendah [demikian], jika seseorang mencaci makinya, memukulnya, marah dengannya, atau mengecamnya, orang itu melakukan pelanggaran yang bahkan lebih berat. Oleh sebab itu, Dhammika, engkau [dan para bhikkhu temanmu] seharusnya saling melindungi. Mengapakah demikian? Setelah engkau meninggalkan kesalahan ini tidak akan ada kerugian lebih lanjut [bagimu].

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Sunetta, Mūgapakkha,
Brahmana Aranemi,
Guru Kuddālaka,
Brahmana muda Hatthipāla,
Jotipāla, dan [ayahnya] Govinda –
[Ini adalah] tujuh penasihat.

Pada masa lampau
Tujuh guru ini terkenal atas kebaikan mereka,
Bebas dari ikatan ketagihan [indria], bergembira dalam belas kasih,
Dan dengan belenggu keinginan indria sepenuhnya terlampaui.

Mereka memiliki para siswa,
Tak terhitung ratusan dan ribuan dari mereka,
Yang juga telah meninggalkan belenggu keinginan indria,
Tetapi hanya sementara, belum sepenuhnya.

Dalam hal para pertapa ajaran lain tersebut,
Yang melindungi diri mereka dengan baik ketika berlatih pertapaan,
Siapa pun yang dengan kebencian dan kecemburuan dalam pikirannya
Mencemooh mereka, telah melakukan pelanggaran berat.

Dalam hal seorang siswa Sang Buddha yang telah mencapai pandangan benar,
Yang berkembang dalam buah yang lebih rendah,
Siapa pun yang mencemooh, mengecam, atau menyerangnya
Akan melakukan pelanggaran yang bahkan lebih berat.

Oleh sebab itu, Dhammika,
Engkau [dan para bhikkhu temanmu] seharusnya saling melindungi.
Kalian seharusnya saling melindungi karena
Tidak ada pelanggaran yang lebih berat daripada hal ini.

[Ini menyebabkan] penderitaan yang begitu hebat
Di mana para mulia jijik terhadapnya.
Seseorang pasti akan mendapatkan pandangan yang membantah
Jika ia secara mencolok mengambil posisi ini berdasarkan pandangan salah.

Ia yang adalah orang dengan tingkat terendah,
Seperti yang dijelaskan dalam Dharma mulia,
Yaitu seseorang yang belum meninggalkan nafsu indria,
Telah memperoleh sejumlah lima indria yang sangat kecil:<427>
Keyakinan, semangat, penegakan perhatian,
Konsentrasi benar, dan pengetahuan benar.

Seseorang yang [mencemooh, mengecam, atau menyerang seseorang] seperti ini akan menerima penderitaan:
Menghadapi pengalaman kejatuhannya sendiri.
Seseorang akan mengalami kejatuhannya sendiri
Setelah menyakiti orang lain.

[Tetapi] jika seseorang dapat melindungi dirinya,
Ia kemudian dapat melindungi orang lain.
Oleh sebab itu, seseorang seharusnya melindungi dirinya;
[Dengan cara ini] orang bijaksana [mencapai] kebahagiaan yang bertahan lama.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Dhammika dan para bhikkhu [lainnya] bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa