//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Recent Posts

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 10
1
Jurnal Pribadi / Re: Hilang nya tempat penyimpanan
« Last post by hexel on 11 June 2021, 08:26:24 PM »
Huhhh....akhirnya saya jatuh hati ke kasina api...tanpa ada guru...hanya dengan informasi seadanya...akhirnya meditasi saya alami kemajuan...dulu dengan anapanasati saya telah merasakan nimita matahari...sensasi napas halus...sensasi gatal gatal ...dlll.....dan sekarang saya dengan kasina api berhasil merasakan sensasi tubuh menjadi ringan....dulu saat baru mengenal kasina api...saya harus menggunakan usaha1000 persen untuk memvisualisasikan api di batin...itupun hasilnya hanya beberapa detik saja dan membuat pikiran saya tegang dan sakit...tapi sekarang hanya menggunakan seperempat atau setengah persen dari usaha ternyata saya bisa memvisualisasikan api di batin walaupun belum sempurna dan bisa berlangsung lebih dari sebentar...Maafkan saya jika dulu pernah mencaci maki kalian....cara praktek saya...saya hanya menyebut api api api setelah itu terus memperhatikan api yang divisualisasikan dalam batin walaupun bentuknya belum sempurna tapi batin fokus ke warna kuning api....nggak apa apa....mau jadi kasina kuning juga boleh....biar bisa membuat emas dari batu terus didonasikan....wakaka....cita citanya gede.....saya akan fokus memperhatikan api di batin dan memperlamanya sedikit demi sedikit....saya yakin bisa berhasil.....kalo dalam posisi duduk harus nunggu tubuh terasa rileks baru bisa optimal fokusnya sedangkan kalo baring ...saya bisa langsung fokus.....wakaka......maaf teman ...saya hanya berbagi kebahagiaan sebagai pemula di kasina api.....wakaka
2
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 03:23:44 PM »
Madhyama Agama vol. II SELESAI

:lotus: :lotus: :lotus:
3
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 03:18:37 PM »
Catatan Kaki:

<354> Padanan Pāli-nya adalah Sukhumāla-sutta, AN 3.38 dalam AN I 145.

<355> Identifikasi beberapa nama bunga adalah bersifat tidak pasti.

<356> Sukhumāla-sutta tidak mengisahkan pencapaian jhāna pertama pangeran muda.

<357> MĀ 117 menunjuk tidak hanya pada usia tua dan penyakit, tetapi juga kematian dalam bait syair yang mengikuti. Ini membuat aman untuk menyimpulkan bahwa bagian prosa dalam MĀ 117 telah mengalami kehilangan suatu penguraian tentang topik kematian; kenyataannya topik yang sama ditemukan juga dalam Sukhumāla-sutta. Tampaknya teks yang hilang dapat dilengkapi sebagai berikut: “Selanjutnya, aku berpikir, ‘Orang-orang duniawi yang bodoh dan tidak terpelajar itu sendiri tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian. Ketika melihat orang lain meninggal, mereka merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, tidak mengamati kondisi mereka sendiri.’ Selanjutnya aku berpikir, ‘Aku sendiri tunduk pada kematian, tidak terbebas dari kematian. Jika ketika melihat orang lain meninggal aku merasa jijik dan merendahkan mereka sebagai yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan, maka itu akan tidak pantas bagiku, karena aku juga tunduk pada kondisi ini.’ Setelah aku merenungkan dengan cara ini, keangkuhan yang disebabkan oleh kehidupan secara alamiah lenyap.”

<358> Padanan Pāli-nya adalah Nāga-sutta, AN 6.43 dalam AN III 344, yang memiliki Hutan Jeta, juga di Sāvatthī, sebagai lokasinya.

<359> Dalam Nāga-sutta, Sang Buddha pergi mandi bersama Ānanda, setelah keduanya menghabiskan hari bermeditasi di Aula Ibu Migāra.

<360> 念. Dalam Nāga-sutta gajah itu bernama Seta.

<361> Bhikkhu Bodhi, The Numerical Discourses of the Buddha, hal. 1756, catatan. 1317, menjelaskan bahwa pernyataan yang berhubungan dalam versi Pāli (tentang tidak melakukan kejahatan melalui jasmani, ucapan, dan pikiran) melibatkan suatu permainan kata dari nāga sebagai na āguṃ, “tidak jahat”. Bahwa Sang Tathāgata adalah seekor nāga yang demikian tidak secara eksplisit dinyatakan dalam Nāga-sutta.

<362>Tentang bait syair ini lihat Bhikkhu Bodhi, The Numerical Discourses of the Buddha, hal. 1756, catatan. 1319.

<363> Dalam Nāga-sutta gading gajah mewakili keseimbangan dan ekornya mewakili keterasingan.

<364> Padanan Pāli-nya adalah Kathāvatthu-sutta, AN 3.67 dalam AN I 197.

<365> Kathāvatthu-sutta melanjutkan secara langsung dari pernyataan awal tentang tiga landasan untuk berbicara menuju analisis masa lampau, masa sekarang, dan masa depan.

<366> Kathāvatthu-sutta tidak menjelaskan tibanya pada pembebasan pada titik ini.

<367> Kathāvatthu-sutta membahas pertanyaan untuk dijawab dengan empat cara: secara pasti, dengan membuat pembedaan, dengan menanyakan pertanyaan balasan, dan dengan mengesampingkan pertanyaan.

<368> Kathāvatthu-sutta melanjutkan dengan menganalisis lebih lanjut jenis-jenis pembicaraan.

<369> Padanan Pāli-nya adalah Arahanta-sutta, SN 22.76 dalam SN III 82.

<370> Mengambil varian yang menambahkan 三十. Arahanta-sutta alih-alih menggambarkan bagaimana pandangan terang ke dalam tiga karakteristik sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan membawa pada kekecewaan dan kebosanan terhadapnya, yang menghasilkan pembebasan.

<371> 七善法, dengan pasangannya dalam tujuh sadhamma dalam Arahanta-sutta; tujuh keadaan bermanfaat ini didaftarkan dalam Saṅgīti-sutta, DN 33 dalam DN III 252, sebagai keyakinan, rasa malu, rasa takut berbuat salah, pembelajaran, semangat, perhatian, dan kebijaksanaan.

<372> Padanan Pāli-nya adalah Pavāraṇā-sutta, SN 8.7 dalam SN I 190, yang memiliki Aula Ibu Migāra di Sāvatthī sebagai lokasinya.

<373> Dalam Pavāraṇā-sutta Sang Buddha tidak membuat pernyataan tentang pencapaian dirinya sendiri.

<374> Pavāraṇā-sutta tidak memberikan penunjukan pada seorang bhikkhu yang belum mencapai tujuan akhir.

<375> Dalam Pavāraṇā-sutta Sang Buddha, tanpa diminta melakukannya, menyebutkan enam puluh orang bhikkhu yang memiliki tiga pengetahuan lebih tinggi, enam puluh orang yang telah mencapai enam pengetahuan langsung, dan enam puluh orang yang terbebaskan melalui kedua cara; sisanya dari lima ratus orang bhikkhu terbebaskan melalui kebijaksanaan. Pavāraṇā-sutta tidak melaporkan pernyataan oleh Sang Buddha yang membandingkan para bhikkhu yang berkumpul dengan inti kayu.

<376> Tiga bait yang dimulai dengan “bersinar dengan cahaya murni” sampai dengan yang sekarang tidak memiliki padanan dalam Pavāraṇā-sutta.

<377> Dalam bait terakhir dari Pavāraṇā-sutta Vaṅgīsa memberikan penghormatan kepada Kerabat Matahari (yaitu, Sang Buddha), yang telah menghancurkan anak panah ketagihan.

<378> Padanan Pāli pada bagian pertama dari MĀ 122 adalah Uposatha-sutta, AN 8.20 dalam AN IV 204, yang memiliki Aula Ibu Migāra di Sāvatthī sebagai lokasinya. Bagian kedua dari MĀ 122 memiliki padanan dalam Kāraṇḍava-sutta, AN 8.10 dalam AN IV 168.

<379> Uposatha-sutta mengisahkan bahwa Sang Buddha duduk berdiam diri, tanpa menyatakan bahwa beliau telah memasuki konsentrasi dan mengamati pikiran para bhikkhu dalam perkumpulan. Hanya komentar, Mp IV 112, menyatakan bahwa Sang Buddha telah mengamati pikiran para bhikkhu dan melihat salah seorang tanpa moralitas.

<380> Menurut Uposatha-sutta, yang meminta Sang Buddha untuk mengulangi pātimokkha (aturan disiplin) adalah Ānanda.

<381> Dalam Uposatha-sutta, Mahāmoggallāna pertama-tama meminta bhikkhu itu tiga kali untuk pergi, dan hanya ketika bhikkhu itu tetap duduk berdiam diri ia memegang lengannya dan membawanya keluar.

<382> Uposatha-sutta tidak menunjuk pada kepala bhikkhu itu yang mungkin terpecah menjadi tujuh bagian, suatu bahaya yang disebutkan hanya dalam komentar, Mp IV 112.

<383> Uposatha-sutta melanjutkan dengan delapan kualitas luar biasa samudera yang dibandingkan dengan delapan kualitas ajaran Sang Buddha. Pemaparan sisa dari MĀ 122 tentang seorang bhikkhu yang berpura-pura menjadi murni dengan bertindak dengan pemahaman benar memiliki padanan dalam Kāraṇḍava-sutta, AN 8.10 dalam AN IV 168.

<384> Padanan Pāli-nya adalah Soṇa-sutta, AN 6.55 dalam AN III 374, yang memiliki Gunung Puncak Burung Bangkai sebagai lokasinya.

<385> Soṇa-sutta mengatakan bahwa Soṇa Kolivīsa berdiam di Sītavana di Rājagaha. Ia hanya mengisahkan bahwa ia sedang tinggal dalam keterasingan dan tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang latihannya.

<386> Dalam Soṇa-sutta Sang Buddha alih-alih menggunakan cara kekuatan batin untuk lenyap dari Gunung Puncak Burung Bangkai dan muncul kembali di hadapan Soṇa di Sītavana.

<387> Soṇa-sutta tidak mengisahkan rasa malu Soṇa atau kesadarannya bahwa Sang Buddha mengetahui pemikirannya.

<388> Dalam Soṇa-sutta enam pengalaman adalah teguh dalam pelepasan keduniawian, keterasingan, tanpa kesulitan, hancurnya ketagihan, hancurnya kemelekatan, dan tanpa kebingungan.

<389> Soṇa-sutta tidak membahas topik tentang seseorang dalam latihan dan dengan demikian tidak memiliki padanan pada perumpamaan indria-indria dan kebiasaan seorang pemuda.

<390> Soṇa-sutta berakhir dengan bait terakhir ini dan tidak memiliki padanan pada sisa MĀ 124.

<391> Padanan Pāli-nya adalah Akkhaṇa-sutta, AN 8.29 dalam AN IV 225.

<392> Akkhaṇa-sutta memiliki dua terakhir dalam urutan yang berkebalikan, pertama masalah karena menganut pandangan salah dan kemudian masalah karena tidak dapat memahami.

<393> Padanan Pāli-nya adalah Iṇa-sutta, AN 6.45 dalam AN III 351.

<394> Iṇa-sutta mendaftarkan ketiadaan keyakinan, rasa malu, rasa takut berbuat salah, semangat, dan kebijaksanaan, semuanya sehubungan dengan keadaan-keadaan bermanfaat. Ia tidak menyebutkan bahwa seseorang yang demikian dapat memiliki emas dan batu-batu berharga.

<395> Iṇa-sutta tidak menunjuk pada seorang Arahant pada titik ini.

<396> Mengambil varian 安 alih-alih 棄.

<397> Perbandingan dengan sebuah pelita tidak ditemukan dalam Iṇa-sutta.

<398> Padanan Pāli-nya adalah Kāmabhogī-sutta, AN 10.91 dalam AN V 176.

<399> Kāmabhogī-sutta mengambil keseluruhan sepuluh jenis yang diperkenalkan sebelumnya dan menunjukkan dalam masing-masing kasus berapa banyak landasan hal ini dikritik atau dipuji.

<400> Seseorang yang mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar sebagian tidak mungkin dikualifikasikan sebagai lebih tunggu daripada seseorang yang melakukan demikian dengan cara yang benar sepenuhnya. Bagian yang ditambahkan dalam tanda kurung siku oleh sebab itu dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa ini menunjuk hanya pada mereka yang sama halnya mencari kekayaan dengan cara campuran. Mempertimbangkan dari syair yang berikutnya, bacaan ini tampaknya akibat dari suatu kesalahan tekstual dan mulanya tentang seseorang yang mencari kekayaan dengan cara yang benar tetapi melekat padanya.

<401> Kāmabhogī-sutta tidak mengandung syair.

<402> Padanan Pāli-nya adalah Dakkhiṇeyyā-sutta, AN 2.4.4 at AN I 62.

<403> Pembedaan dua jenis orang ke dalam delapan belas dan sembilan jenis tidak ditemukan dalam Dakkhiṇeyyā-sutta, yang alih-alih melanjutkan setelah pembedaan berunsur dua dengan syair-syair yang diucapkan Sang Buddha.

<404> “Penghasil-satu-benih” menunjuk pada seorang pemasuk-arus yang akan mengalami hanya satu kehidupan lagi.

<405> Sementara daftar sebelumnya dari mereka dalam latihan mewakili bahan yang umum dalam kotbah-kotbah awal dalam tradisi pengulang yang berbeda-beda, daftar mereka yang melampaui latihan saat ini mencerminkan gagasan belakangan yang dianut dalam tradisi pengulang Sarvāstivāda, yang diwariskan Madhyama-āgama. Daftar yang sama dapat ditemukan dalam Abhidharmakośavyākhyā; lihat Wogihara, Sphuṭārthā Abhidharmakośavyākhyā by Yaśomitra, Bagian II, hal. 566.

<406> Padanan Pāli-nya adalah Gihī-sutta, AN 5.179 dalam AN III 211.

<407> Gihī-sutta tidak mengisahkan pertemuan antara Sāriputta dan kelompok yang dipimpin oleh Anāthapiṇḍika. Alih-alih ia mulai dengan tibanya kelompok itu di hadapan Sang Buddha.

<408> Dalam Gihī-sutta pernyataan demikian dibuat oleh siswa mulia itu sendiri.

<409> Gihī-sutta hanya mendaftarkan lima aturan latihan, tanpa memberikan rincian.

<410> Gihī-sutta menekankan bahwa Dharma adalah terlihat langsung, tidak melibatkan waktu, mengundang seseorang untuk datang dan melihat, membawa ke depan, dan untuk dialami secara pribadi oleh orang bijaksana. Di sini dan sehubungan dengan tiga kediaman batin yang menyenangkan lainnya, Gihī-sutta hanya menyebutkan bahwa mereka berfungsi untuk memurnikan pikiran yang tidak murni dan membersihkan pikiran yang kotor.

<411> Gihī-sutta hanya menunjuk pada empat pasang (orang mulia), delapan [jenis] orang, tanpa mendaftarkan mereka secara individual dan tanpa mencatat bahwa mereka sempurna dalam moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, serta pengetahuan dan penglihatan pembebasan.

<412> Gihī-sutta tidak memiliki perbandingan dengan bumi.

<413> Gihī-sutta menggambarkan seseorang yang demikian lebih rinci, dengan mengkualifikasikannya dengan berbagai cara sebagai seorang yang terbebaskan.

<414> Dalam Gihī-sutta mereka yang memberi kepada orang luar dianggap orang bodoh.

<415> Padanan Pāli-nya adalah Kodhana-sutta, AN 7.60 dalam AN IV 94.

<416> Dalam Kodhana-sutta, di mana kehilangan kekayaan adalah yang keempat dalam daftarnya, kehilangan demikian muncul karena penyitaan atas nama raja.

<417> Mengambil varian 盛 alih-alih 止.

<418> Selain orang tua, Kodhana-sutta juga menyebutkan pembunuhan seorang brahmana (yang menurut komentar berarti seorang Arahant) atau seorang duniawi.

<419> Mengambil varian 業 alih-alih 逆.

<420> Padanan Pāli-nya adalah Dhammika-sutta, AN 6.54 dalam AN III 366, yang memiliki Gunung Puncak Burung Bangkai di Rājagaha sebagai lokasinya.

<421> Dalam Dhammika-sutta Dhammika beberapa kali meninggalkan satu vihara dan pergi ke vihara yang lain, di mana kejadian yang sama terjadi lagi, sampai akhirnya para umat awam menyuruhnya untuk meninggalkan semua tujuh vihara di daerah itu.

<422> Pembahasan dalam Dhammika-sutta berlanjut dengan berbeda. Ketika melihat Dhammika, Sang Buddha bertanya kepadanya dari manakah ia datang, di mana Dhammika menjelaskan bahwa ia telah diusir. Sebagai tanggapan atas hal itu, Sang Buddha memberikan perumpamaan burung dan langsung melanjutkan dengan kisah pohon banyan Raja Koravya.

<423> Dhammika-sutta tidak menggambarkan kondisi umum pada masa Raja Koravya, ataupun tidak mengatakannya sebagai seorang raja pemutar roda.

<424> Dhammika-sutta tidak mengisahkan Raja Koravya mengetahui bahwa pohon banyan itu tidak lagi menghasilkan buah; informasi ini ditemukan hanya dalam komentar, Mp III 386. Ia juga hanya mengisahkan bahwa Raja Koravya mendekati Sakka, tanpa secara eksplisit menyatakan bahwa ia melakukannya dengan cara kekuatan batin atau bahwa keduanya kembali ke Jambudīpa dengan cara yang sama.

<425> Sehubungan dengan Sunetta dan para guru lainnya, Dhammika-sutta hanya menyebutkan bahwa mereka yang tidak memiliki keyakinan dalam ajaran mereka terlahir kembali di alam yang lebih rendah. Penjelasan para siswa Sunetta yang terlahir kembali di alam-alam surga yang berbeda dan latihannya sendiri yang lebih tinggi dapat ditemukan dalam AN 7.62 pada AN IV 103, dan padanannya MĀ 8 pada T I 429b.

<426> Dhammika-sutta tidak menyebutkan ayah Jotipāla, Govinda, dan oleh sebab itu mengatakan hanya enam guru, walaupun ia menunjuk pada Govinda dan Jotipāla dalam bagian syairnya. Mahāgovinda-sutta, DN 19 dalam DN II 230, mengisahkan bahwa Govinda telah menjadi penasihat Raja Disampatī, dan putra Govinda Jotipāla menjabat sebagai penasihat dari putra Disampatī, Raja Reṇu (dan pengikutnya). Tidak seperti Jotipāla, Govinda tidak pergi mengembangkan brahmavihāra dan dengan demikian tidak menjadi seorang “guru” dari latihan ini bagi orang lain. Oleh sebab itu, penunjukan pada tujuh brahmana penasihat tetapi enam guru dalam Dhammika-sutta dengan benar mencerminkan penjelasan dalam DN 19.

<427> Mengambil varian 微 alih-alih 妙.

<428> Padanan Pāli-nya adalah Māratajjanīya-sutta, MN 50 dalam MN I 332; untuk studi perbandingan lihat Anālayo, A Comparative Study of the Majjhima-nikāya, hal. 300–307.

<429> Māratajjanīya-sutta tidak menyebutkan pengawasan pembangunan sebuah gubuk atau bahwa Māra membuat dirinya lebih kecil.

<430> Menurut Māratajjanīya-sutta, bhikkhu yang berhubungan Vidhura telah memperoleh namanya karena tiada bandingnya dalam mengajarkan Dharma (vidhura dapat berarti “tiada banding”).

<431> 想; dalam Māratajjanīya-sutta bhikkhu yang berhubungan Sanjīva disebut demikian karena ia telah “hidup kembali”, patisanjīvita.

<432> Perenungan Māra dalam Māratajjanīya-sutta tidak memiliki penunjukan pada silsilah yang terputus disebabkan para pertapa tidak memiliki anak. Alih-alih ia menjelaskan rencananya untuk menyebabkan para perumah tangga mencaci maki para bhikkhu agar mengacaukan pikiran mereka. Kecaman tentang lamunan, dst., tampak dalam versi Pāli hanya sebagai bagian penghinaan sebenarnya dari para perumah tangga. Penghinaan ini mulai dengan perumpamaan seekor burung hantu yang ingin menangkap tikus, diikuti oleh seekor anjing hutan yang ingin menangkap ikan, seekor kucing yang ingin menangkap tikus, dan seekor keledai yang tidak memiliki beban.

<433>Dalam Māratajjanīya-sutta para perumah tangga mencaci maki mereka hanya secara verbal; mereka tidak menyerang mereka secara fisik. Tentang terlahir kembali di neraka, mereka tidak ditunjukkan menyadari bahwa ini terjadi akibat hukuman karena mencaci maki para bhikkhu.

<434> Māratajjanīya-sutta tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang jumlah keramaian yang diajar oleh Kakusandha.

<435> Māratajjanīya-sutta hanya mengisahkan bahwa para perumah tangga berperilaku dengan hormat, tanpa merincikan dengan cara apa mereka melakukannya. Tentang terlahir kembali di surga, mereka tidak ditunjukkan menyadari bahwa ini terjadi sebagai ganjaran karena perilaku hormat mereka terhadap para bhikkhu.

<436> Nasihat dalam Māratajjanīya-sutta adalah agar merenungkan ketiadaan keindahan terhadap jasmani, mempersepsikan kejijikan makanan, mempersepsikan seluruh dunia sebagai tanpa kesenangan, dan merenungkan ketidakkekalan semua bentukan.

<437> Māratajjanīya-sutta tidak melaporkan rencana Māra; serangan sebenarnya terjadi dengan cara merasuki seorang anak laki-laki.

<438> Māratajjanīya-sutta memberikan tiga nama untuk neraka; periode bagi tonggak untuk bertemu tonggal adalah seribu tahun; dan bentuk kelahiran kembali yang dialami oleh māra masa lampau adalah tubuh seorang manusia dengan kepala seekor ikan.

<439> Syair-syair dalam Māratajjanīya-sutta menunjukkan perbedaan dan cenderung kurang terperinci.

<440> Mengambil varian 諸 alih-alih 謂.
4
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 03:13:48 PM »
Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak berpikir, “Aku tidak dapat memperoleh kesempatan dengan para pertapa tekun itu dengan cara ini. Biarlah aku alih-alih mengubah diriku menjadi seorang pemuda dan, memegang sebatang tongkat besar di tanganku dan berdiri di pinggir jalan, aku akan memukul Yang Mulia Suara pada kepalanya sehingga [kepalanya] terpotong dan darah mengucur wajahnya.”<437>

Si Jahat, saat fajar Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, yang sedang tinggal bergantung pada sebuah desa atau kota kecil, mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan. Yang Mulia Suara mengikuti di belakang beliau sebagai pelayan beliau.

Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak, setelah mengubah dirinya menjadi seorang pemuda, sedang memegang sebatang tongkat besar di tangannya dan berdiri di pinggir jalan. Ia memukul Yang Mulia Suara pada kepalanya, memotongnya, dan darah mengucur wajahnya. Si Jahat, Yang Mulia Suara, dengan kepalanya terpotong dan darah mengucur wajahnya, mengikuti di belakang Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bagaikan bayangan yang tidak pernah meninggalkannya.

Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah mencapai desa, memutar seluruh tubuhnya ke kanan untuk melihat, dengan cara seekor nāga melihat ke sekeliling, mengamati semua arah tanpa takut atau gentar.

Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat bahwa Yang Mulia Suara, dengan kepalanya terpotong dan darah mengucur wajahnya, sedang mengikuti di belakang Sang Buddha seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkannya. Kemudian beliau berkata, “Māra [bernama] Perusak adalah kejam dan bengis serta memiliki kekuatan besar. Māra [bernama] Perusak ini tidak mengetahui berapa banyak yang cukup.”

Si Jahat, sebelum Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, menyelesaikan perkataannya, pada waktu itu tubuh māra [bernama] Perusak langsung jatuh dari tempat itu ke dalam Neraka Besar Tanpa Penghilangan.

Si Jahat, Neraka Besar ini memiliki empat sebutan. Pertama adalah “Tanpa Penghilangan”, kedua adalah “Ratusan Paku”, ketiga adalah “Ujung Runcing Berduri”, dan keempat adalah “Enam Kontak”.<438> Di Neraka Besar itu terdapat para penjaga yang mendekati māra [bernama] Perusak. Mereka berkata kepada māra [bernama] Perusak, “Sekarang, engkau seharusnya mengetahui bahwa ketika paku dan paku bertemu satu sama lain, seratus tahun penuh telah berlalu.”

Mendengar hal ini, Māra, Si Jahat, mengalami jantung berdebar-debar disebabkan oleh ketakutan dan kengerian, dan semua rambut pada tubuhnya berdiri tegak. Ia berkata kepada Yang Mulia Mahāmoggallāna dengan syair:

Neraka manakah itu
Di mana māra [bernama] Perusak terjatuh pada masa lampau,
Ia yang menyulitkan dan melukai para praktisi kehidupan suci Sang Buddha
Dan mengganggu para bhikkhu?

Yang Mulia Mahāmoggallāna menjawab Māra, Si Jahat, dengan syair:<439>

Tanpa Penghilangan adalah nama neraka itu
Di mana māra [bernama] Perusak sebelumnya [terjatuh],
[Ketika ia] menyulitkan dan melukai para praktisi kehidupan suci Sang Buddha
Dan mengganggu para bhikkhu.

Ia mengandung ratusan paku besi,
Masing-masing darinya dengan ujung runcing berduri.
Tanpa Penghilangan adalah nama neraka itu
Di mana māra [bernama] Perusak berada pada masa lampau.

Mereka yang tidak memahami
[Akibat menyerang] para bhikkhu yang adalah siswa Sang Buddha
Pasti akan menderita seperti ini,
Mengalami akibat perbuatan gelap mereka.

Terdapat berbagai jenis taman hiburan,
Bagi manusia di dunia
Yang makan padi putih yang tumbuh secara alami
[Ketika] berdiam di benua utara (Uttarakuru),

Di puncak Gunung Sumeru agung
Aku mengembangkan [pikiranku] dengan baik dan membakar [semua kekotoran].
Setelah berlatih di sini dan [mencapai] pembebasan,
Aku [sekarang] memikul tubuh terakhirku.

Terletak di dekat mata air besar
Sebuah istana yang akan bertahan selama [sepanjang] kalpa,
Berwarna keemasan yang indah,
Dan bercahaya bagaikan nyala api.

Berbagai jenis musik dimainkan
Ketika [seseorang] mendekati tempat [kediaman] Sakka,
Tempat tinggalnya satu-satunya, di mana pada masa lalu,
Seperti yang dikenal luas, telah dipersembahkan kepadanya.

Dengan Sakka berjalan di depanku
Aku naik ke Istana Vejayanta.
Ketika melihat Sakka, masing-masing bidadari surgawi
Mulai menari dengan sukacita.
Ketika melihat seorang bhikkhu datang,
Mereka mengundurkan diri dengan malu.

Ketika tiba di Istana Vejayanta,
Dan melihat bhikkhu itu, [Sakka] bertanya kepadanya sebuah pertanyaan,
“Apakah pertapa agung mengetahui
Akhir ketagihan dan pencapaian pembebasan?”

Bhikkhu itu menjawab
Sesuai dengan pertanyaan si penanya,
“Kosiya, aku mengetahui
Akhir ketagihan dan pencapaian pembebasan.”

Ketika mendengar jawabannya
Sakka memperoleh sukacita dan kebahagiaan.
[Ia berkata,] “Bhikkhu itu sangat memberikan manfaat [kepadaku];
Apa yang telah ia katakan sesuai dengan pertanyaanku.”

Setelah tiba di Istana Vejayanta,
[Bhikkhu itu] bertanya kepada Sakka, raja para dewa,
“Apakah nama istana ini,
Sakka, dalam kota yang engkau perintah?”

Sakka menjawab, “Pertapa Agung,
Ia disebut Vejayanta,
Yang bermakna ‘seribu dunia
Di antara seribu dunia’.
Tidak ada yang melampaui atau [bahkan] menyerupai
Istana Vejayanta ini.”

[Di sana] Raja Surgawi, Sakka, raja para dewa,
Dapat berdiam dengan nyaman sesukanya.
Ia menikmati tak terhitung kenikmatan,
Dengan mengubah satu [kenikmatan] menjadi seratus.
Dalam Istana Vejayanta
Sakka dapat berdiam dengan nyaman.

Walaupun Istana Vejayanta megah,
Aku dapat mengguncangnya dengan ujung kakiku,
Seperti yang dilihat Raja Surgawi dengan matanya sendiri.
Namun Sakka [masih] dapat berdiam [di dalamnya] dengan nyaman.

Karena, seperti Aula Ibu Migāra,
Fondasinya dibangun sangat dalam dan padat.
Adalah sulit untuk dipindahkan dan diguncang,
[Tetapi] kekuatan batin dapat mengguncangnya.

Ia memiliki lantai berlapis kaca yang berwarna-warni
Di mana para mulia telah melangkahinya.
Licin dan berkilau, menyenangkan untuk disentuh,
Dibentang dengan penutup kapas yang lembut.

Dengan kumpulan yang berbicara menyenangkan dan rukun,
Raja Surgawi selalu berbahagia.
Ia ahli dalam bermain musik
Dengan nada dan melodi yang harmonis.

Ketika seorang pemasuk-arus berbicara
Semua dewa datang dan berkumpul,<440>
Tak terhitung ribuan
Dan ratusan banyak sekali dari mereka.

Setelah pergi ke Surga Tiga-Puluh-Tiga,
Ia yang memiliki mata kebijaksanaan mengajarkan mereka Dharma.
Setelah mendengar ajarannya,
[Para dewa] bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Aku juga memiliki kualitas ini,
Seperti yang dikatakan para pertapa.
Aku pergi sampai alam Brahmā
Dan bertanya kepada Brahmā,
“Brahmā, apakah engkau [masih] memiliki pandangan ini,
Yaitu pandangan: ‘Aku ada di masa lampau yang jauh,
Dan aku masih ada, dan aku selalu akan ada,
Kekal dan tidak berubah’?”

Brahmā menjawab,
“Pertapa agung, aku tidak lagi memiliki pandangan itu,
Yaitu pandangan: ‘Aku ada di masa lampau yang jauh,
Aku kekal dan tidak berubah.’
[Sebaliknya] aku melihat bahwa semua Brahmā
Di alam ini akan meninggal.
Bagaimana mungkin aku sekarang mengatakan
Bahwa aku kekal dan tidak berubah?

“Aku melihat dunia ini
Seperti yang diajarkan Yang Tercerahkan Sempurna.
Ia telah muncul sesuai dengan sebab dan kondisi,
Dan akan kembali ke mana ia berasal.

“Api tidak berpikir:
‘Aku akan membakar orang bodoh.’
Ketika api membakar, jika seorang bodoh menyentuhnya,
Secara alamiah ia pasti terbakar.

“Dengan cara yang sama, Si Jahat,
Jika engkau mengganggu seorang Tathāgata,
Dan terlibat dalam perbuatan tidak bermanfaat selama waktu yang lama,
Engkau akan mengalami akibat [buruk] selama waktu yang lama.

“Si Jahat, janganlah membenci Sang Buddha!
Janganlah menyulitkan atau melukai para bhikkhu!
Terdapat seorang bhikkhu yang menaklukkan Māra
Yang berdiam di Hutan Menakutkan.”

Si Jahat khawatir dan bersedih,
Setelah ditegur oleh Moggallāna.
Ketakutan dan tanpa kebijaksanaan,
Ia segera lenyap dari tempat itu.

Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Mahāmoggallāna. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Mahāmoggallāna, Māra Si Jahat bergembira dan menerimanya dengan hormat.
5
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 03:13:20 PM »
131. Kotbah tentang Menaklukkan Māra<428>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Bhagga, di Gunung Buaya (Suṃsumāragiri) di Hutan Menakutkan, Taman Rusa.

Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna, yang sedang mengawasi pembangunan sebuah gubuk meditasi untuk Sang Buddha,<429> sedang berjalan bolak-balik di tempat terbuka. Kemudian Raja Māra, mengubah dirinya menjadi bentuk kecil, memasuki perut Yang Mulia Mahāmoggallāna. Yang Mulia Mahāmoggallāna berpikir, “Saat ini perutku terasa seakan-akan aku baru saja makan kacang. Biarlah aku memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai, sedemikian sehingga melalui konsentrasi tersebut aku dapat mengamati perutku sendiri.”

Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna berjalan sampai ujung jalan setapak itu, membentangkan alas duduknya, duduk bersila di atasnya, dan memasuki konsentrasi meditatif yang sesuai. Mengamati perutnya sendiri melalui konsentrasi yang sesuai itu, Yang Mulia Mahāmoggallāna mengetahui bahwa Raja Māra sedang berada di dalam perutnya.
Yang Mulia Mahāmoggallāna bangkit dari konsentrasi meditatifnya dan berkata kepada Raja Māra:

Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah [menyebabkan dirimu] kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!

Kemudian Raja Māra berpikir, “Pertapa ini tidak melihat dan mengetahui diriku ketika ia berkata: ‘Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah [menyebabkan dirimu] kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!’ Gurumu yang mulia memiliki kekuatan batin besar, kebaikan besar dan agung, jasa besar, kekuatan besar dan agung, tetapi bahkan ia tidak dapat melihat dan mengetahui diriku dengan cepat. Lalu bagaimanakah siswanya dapat melihat dan mengetahui diriku?”

Yang Mulia Mahāmoggallāna lebih lanjut berkata kepada Raja Māra:

Aku juga mengetahui pikiranmu. Engkau berpikir demikian: “Pertapa ini tidak melihat dan mengetahui diriku ketika ia berkata: ‘Si Jahat, keluarlah! Si Jahat, keluarlah! Janganlah mengganggu Sang Tathāgata, dan janganlah mengganggu seorang siswa Sang Tathāgata! Janganlah [menyebabkan dirimu] kehilangan kesejahteraan dan kehilangan manfaat selama waktu yang panjang dan kepastian terlahir kembali di alam kehidupan yang buruk dan mengalami tak terhitung penderitaan!’ Gurumu yang mulia memiliki kekuatan batin besar, kebaikan besar dan agung, jasa besar, kekuatan besar dan agung, tetapi bahkan ia tidak dapat melihat dan mengetahui diriku dengan cepat. Lalu bagaimanakah siswanya dapat melihat dan mengetahui diriku?”

Kemudian Māra Si Jahat berpikir lagi, “Adalah karena pertapa ini telah melihat dan mengetahui diriku sehingga ia berkata demikian.” Setelah itu Māra, Si Jahat, mengubah dirinya menjadi bentuk kecil, keluar dari mulut Yang Mulia Mahāmoggallāna dan berdiri di hadapannya.

Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata:

Si Jahat, pada masa lampau terdapat seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, bernama Kakusandha. Pada waktu itu aku adalah seorang māra bernama Perusak (Dūsī), dan aku memiliki saudara perempuan bernama Hitam (Kālī). Engkau adalah putranya, Si Jahat. Oleh sebab itu, engkau adalah keponakanku.

Si Jahat, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, memiliki dua orang siswa utama, seorang bernama Suara dan yang lain bernama Persepsi. Si Jahat, karena alasan apakah Yang Mulia Suara dinamakan “Suara”? Si Jahat, Yang Mulia Suara, ketika berdiam di alam Brahmā, sering menyebabkan suaranya menembus seribu dunia. Tidak ada siswa lain yang memiliki suara sama dengan suaranya, mirip dengan suaranya, atau melampaui suaranya. Si Jahat, adalah karena hal ini sehingga Yang Mulia Suara dinamakan “Suara”.<430>

Selanjutnya, Si Jahat, karena alasan apakah Yang Mulia Persepsi dinamakan “Persepsi”? Si Jahat, Yang Mulia Persepsi biasa tinggal bergantung pada sebuah desa atau kota kecil. Ketika malam telah berakhir, saat fajar ia akan mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan pergi ke dalam desa untuk mengumpulkan dana makanan, terjaga dengan baik sehubungan dengan [pergerakan] jasmaninya, terkendali dengan baik sehubungan dengan indria-indrianya, dan berkembang dalam perhatian benar. Setelah mengumpulkan dana makanan dan setelah makan siang, ia akan meletakkan jubah dan mangkuknya dan mencuci tangan dan kakinya. Kemudian ia akan meletakkan alas duduknya di atas bahunya dan pergi ke hutan, gunung, di bawah sebatang pohon, atau suatu tempat terpencil [lainnya]. Ia akan membentangkan alas duduknya, duduk bersila di atasnya, dan dengan cepat memasuki konsentrasi meditatif dari lenyapnya persepsi dan perasaan.

Kemudian [kebetulan] beberapa penggembala sapi, penggembala domba, penebang kayu, dan orang-orang yang lewat memasuki hutan itu. Melihatnya dalam konsentrasi meditatif dari lenyapnya persepsi dan perasaan, mereka berpikir, “Sekarang, pertapa ini telah meninggal selagi duduk di dalam hutan. Marilah kita mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, dan mengkremasinya.” Maka mereka mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, menyalakan api padanya, dan pergi.

Ketika malam telah berakhir, saat fajar, Yang Mulia Persepsi bangkit dari konsentrasi meditatifnya, mengibaskan jubahnya [untuk menyingkirkan abu-abunya], dan pergi ke desa atau kota kecil di mana ia bergantung padanya. Mengenakan jubahnya dan membawa mangkuknya seperti biasanya, ia memasuki desa itu untuk mengumpulkan dana makanan, terjaga dengan baik sehubungan dengan [pergerakan] jasmaninya, terkendali dengan baik sehubungan dengan indria-indrianya, dan berkembang dalam perhatian benar.

Para penggembala sapi, penggembala domba, atau orang-orang yang lewat yang sebelumnya memasuki hutan itu dan melihatnya, yang telah berpikir, “Sekarang, pertapa ini telah meninggal selagi duduk di dalam hutan,” [sekarang berpikir,] “Kemarin kami mengumpulkan kayu kering dan rerumputan, menumpuknya sampai menutupi tubuhnya, menyalakan api padanya, dan kemudian pergi. Namun yang mulia ini telah memulihkan persepsinya.” Si Jahat, adalah karena alasan ini sehingga Yang Mulia Persepsi dinamakan “Persepsi”.<431>

Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak berpikir, “Para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak;<432> ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, dan terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor keledai yang telah membawa beban berat sepanjang hari dan, ketika diikat di kandang tetapi belum makan gandum mereka, melamunkan tentang gandum itu, semakin banyak melamun, dan terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor kucing yang menanti di samping lubang tikus, menginginkan untuk menangkap tikus; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor burung hantu atau rubah yang menanti pada celah tumpukan kayu bakar kering karena ia ingin menangkap tikus; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Mereka seperti seekor burung bangau yang menanti di tepi sungai karena ia ingin menangkap ikan; karena hal itu, ia melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun berulang-ulang. Dengan cara yang sama, para pertapa berkepala gundul ini terikat oleh kegelapan [mereka sendiri], silsilah mereka terputus karena mereka tanpa anak; ketika berlatih meditasi, mereka melamun, semakin banyak melamun, terus-menerus melamun, berulang-ulang.

“Apakah yang mereka lamunkan? Untuk manfaat apakah mereka melamun? Apakah yang mereka cari melalui lamunan? Mereka kebingungan, gila, dan hancur. Aku tidak mengetahui dari manakah mereka berasal, ke manakah mereka akan pergi, atau di manakah mereka berdiam. Aku tidak mengetahui tentang kematian mereka atau kelahiran kembali mereka. Biarlah aku menghasut para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua! Hinalah para pertapa tekun itu! Pukuli mereka dan celalah mereka!’ Mengapakah demikian? Mungkin ketika [para pertapa itu] dihina, dipukuli, dan dicela ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.”

Si Jahat, ketika māra [bernama] Perusak menghasut para brahmana perumah tangga [dengan cara ini], para brahmana perumah tangga menghina, memukuli, dan mencela para pertapa tekun itu. Beberapa brahmana perumah tangga memukuli mereka dengan potongan kayu, beberapa melempar batu kepada mereka, beberapa memukul mereka dengan tongkat, beberapa melukai kepala para pertapa tekun itu, beberapa mengoyakkan jubah mereka, dan beberapa menghancurkan mangkuk dana mereka.<433>

Kemudian, karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, ketika para brahmana perumah tangga tersebut meninggal, ketika hancurnya jasmani saat kematian, mereka pasti pergi menuju alam yang buruk, terlahir kembali di neraka. Setelah terlahir kembali di sana, mereka berpikir, “Kita pantas mengalami penderitaan ini, dan kita akan mengalami penderitaan yang lebih ekstrem daripada ini. Mengapakah demikian? Karena kami melakukan perbuatan jahat terhadap para pertapa tekun.”

Si Jahat, para siswa Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah kepala mereka dilukai, jubah mereka dikoyak-koyak, dan mangkuk dana mereka dihancurkan, mendekati Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna.

Pada waktu itu Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dikelilingi oleh tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut di mana beliau sedang mengajarkan Dharma kepada mereka.<434> Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat dari jauh bahwa para siswanya dengan kepala mereka dilukai, jubah mereka dikoyak-koyak, dan mangkuk mereka dihancurkan, sedang mendekat. Melihat hal ini, beliau berkata kepada para bhikkhu, “Apakah kalian melihat itu? Māra [bernama] Perusak telah menghasut para brahmana perumah tangga: ‘Ayo, kalian semua! Hinalah para pertapa tekun itu! Pukuli mereka dan celalah mereka!’ Mengapakah demikian? [Karena ia berpikir,] ‘Mungkin ketika [para pertapa itu] dihina, dipukuli, dan dicela ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.’

“Para bhikkhu, kalian seharusnya berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, secara batin meliputi satu arah, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat – seluruh empat arah dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Berdiamlah dengan pikiran yang dipenuh dengan cinta kasih – tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Berdiamlah seperti ini, setelah meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih ... dengan kegembiraan empatik ... dengan keseimbangan, tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Biarlah māra [bernama] Perusak yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.”

Si Jahat, [ketika] Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan para siswanya ajaran ini dan mereka telah menerima ajaran ini, mereka berdiam secara batin meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat – seluruh empat arah dan juga empat arah di antaranya, atas dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Mereka berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih – tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Mereka berdiam seperti ini setelah meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih ... dengan kegembiraan empatik ... dengan keseimbangan, tanpa belenggu, kebencian, permusuhan, dan perselisihan – [dengan pikiran] yang telah menjadi tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik, setelah meliputi seluruh dunia. Karena alasan ini, māra [bernama] Perusak yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.

Si Jahat, pada waktu itu māra [bernama] Perusak berpikir, “Aku tidak dapat memperoleh kesempatan dengan para pertapa tekun dengan cara ini. Biarlah aku sekarang alih-alih mendorong para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua. Hormatilah, pujalah, dan layanilah para pertapa tekun itu!’ Mungkin, ketika para pertapa tekun itu dihormati, dipuja, dan dilayani itu dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka. Maka aku akan mendapatkan kesempatan.”

Si Jahat, setelah didorong [demikian] oleh māra [bernama] Perusak, semua brahmana perumah tangga menghormati, memuja, dan melayani para pertapa tekun itu.<435> [Mereka] membentangkan pakaian mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa tekun, mohon berjalanlah di atas ini. Para pertapa tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan [dengan menginjak pakaian ini]!”

Para brahmana perumah tanga membentangkan rambut mereka di atas tanah dan berkata, “Para pertapa tekun, mohon berjalanlah di atas ini. Para pertapa tekun berlatih apa yang sulit dilatih. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan [dengan menginjak rambut ini]!”

Para brahmana perumah tangga, dengan memegang berbagai jenis makanan dan minuman pada tangan mereka, berdiri menanti di pinggir jalan, dengan berkata, “Para pertapa tekun, terimalah ini, makanlah ini, ambillah ini dengan tangan kalian dan gunakanlah ini seperti kalian inginkan. Berikanlah kami manfaat dan perolehan yang bertahan lama, kedamaian dan kebahagiaan!”

Para brahmana perumah tangga yang berkeyakinan, melihat para pertapa tekun itu, dengan hormat membawa mereka pada lengan, menuntun mereka ke dalam [rumah mereka] dan, memegang berbagai benda berharga, berkata kepada para pertapa tekun itu, “Terimalah ini! Bawalah ini bersama kalian dan gunakanlah ini seperti kalian inginkan!”

Kemudian karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, ketika para brahmana perumah tangga tersebut meninggal ketika hancurnya jasmani saat kematian, mereka pasti pergi menuju alam kehidupan yang baik, terlahir kembali di alam surga. Setelah terlahir kembali di sana, mereka berpikir, “Kami layak mengalami kebahagiaan ini, dan kami akan mengalami kebahagiaan yang bahkan lebih ekstrem. Mengapakah demikian? Karena kami melakukan perbuatan baik terhadap para pertapa tekun.”

Si Jahat, para siswa Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, setelah dihormati, dipuja, dan dilayani, mendekati Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna. Pada waktu itu, Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, dikelilingi oleh tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut di mana beliau sedang mengajarkan Dharma kepada mereka.

Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, melihat dari jauh bahwa para siswanya, yang telah dihormati, dipuja, dan dilayani, sedang mendekat. Melihat hal ini, beliau berkata kepada para bhikkhu, “Apakah kalian melihat itu? Māra [bernama] Perusak mendorong para brahmana perumah tangga, ‘Ayo, kalian semua. Hormatilah, pujalah, dan layanilah para pertapa tekun itu!’ [Ia berpikir,] ‘Mungkin, ketika para pertapa tekun itu dihormati, dipuja, dan dilayani, ini dapat memunculkan suatu keadaan pikiran tidak bermanfaat dalam diri mereka, maka aku akan mendapatkan kesempatan.’

“Para bhikkhu, kalian seharusnya merenungkan semua bentukan sebagai tidak kekal, merenungkannya sebagai bersifat muncul dan lenyap, merenungkan kebosanan, merenungkan ditinggalkannya, merenungkan lenyapnya, dan merenungkan pelenyapan.<436> Biarlah māra [bernama] Perusak, yang mencari untuk mendapatkan kesempatan tidak dapat memperoleh kesempatan.”

Si Jahat, ketika Tathāgata Kakusandha, bebas dari kemelekatan dan tercerahkan sempurna, mengajarkan para siswanya ajaran ini dan mereka telah menerima ajaran tersebut, mereka merenungkan semua bentukan sebagai tidak kekal, mereka merenungkannya sebagai bersifat muncul dan lenyap, mereka merenungkan kebosanan, mereka merenungkan ditinggalkannya, mereka merenungkan lenyapnya, dan mereka merenungkan pelenyapan, sehingga māra [bernama] Perusak, yang sedang mencari untuk mendapatkan kesempatan, tidak dapat memperoleh kesempatan.
6
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 02:56:30 PM »
130. Kotbah tentang Mengajarkan Dhammika<420>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Dhammika adalah seorang sesepuh di daerah asalnya. Ia bertanggung jawab atas stupa, dan ia menduduki posisi senior relatif terhadap [yang lain, tetapi ia] mudah marah, tidak sabar, dan sangat kasar, [cenderung] mencaci maki dan mengecam para bhikkhu lain. Karena hal ini, semua bhikkhu [lain] dari daerah asal [Dhammika] pergi dan menjauh. Mereka tidak menikmati berdiam di sana. Para umat awam dari daerah itu, melihat bahwa semua bhikkhu dari daerah itu pergi dan menjauh, karena mereka tidak menikmati berdiam di sana, berpikir, “Mengapakah semua bhikkhu dari daerah ini pergi dan menjauh, tidak bergembira dalam berdiam di sini?”

Para umat awam dari daerah itu mendengar tentang Yang Mulia Dhammika, seorang sesepuh di daerah asalnya, [sebagai berikut]. Ia bertanggung jawab atas stupa dan ia menduduki posisi senior relatif terhadap [yang lain, tetapi ia] mudah marah, tidak sabar, dan sangat kasar, [cenderung] mencaci maki dan mengecam para bhikkhu lain. Karena hal ini semua bhikkhu [lain] dari daerah asal [Dhammika] pergi dan menjauh. Mereka tidak menikmati berdiam di sana. Mendengar hal ini, para umat awam dari tempat kelahiran [Dhammika] bersama-sama mendekati Yang Mulia Dhammika dan mengeluarkannya dari vihara-vihara di daerah asalnya.<421>

Atas hal ini Yang Mulia Dhammika, setelah dikeluarkan dari vihara-vihara di daerah asalnya oleh para umat awam dari daerah asalnya, mengambil jubah dan mangkuknya dan menuju Sāvatthī. Dengan mengadakan perjalanan secara bertahap, ia tiba di Sāvatthī dan berdiam di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Kemudian Yang Mulia Dhammika mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata:

Sang Bhagavā, aku tidak menghina para umat awam dari daerah asalku, aku tidak mencaci maki mereka, aku tidak melakukan pelanggaran terhadap mereka. Namun para umat awam dari daerah asalku telah mengusirku dari vihara-vihara di daerah asalku.

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya, “Hentikan, Dhammika! Hentikan! Mengapakah engkau perlu mengatakan hal ini?”<422>

Yang Mulia Dhammika merentangkan tangannya dengan telapak tangannya disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata lagi:

Sang Bhagavā, aku tidak menghina para umat awam dari daerah asalku, aku tidak mencaci maki mereka, aku tidak melakukan pelanggaran terhadap mereka. Namun para umat awam dari daerah asalku telah mengusirku dari vihara-vihara di daerah asalku.

Sang Bhagavā berkata kepadanya lagi:

Dhammika, pada masa lampau para saudagar di sini di Jambudīpa akan berangkat ke samudera dengan kapal, membawa bersama mereka burung pemangsa pencari daratan. Sebelum pergi jauh di samudera raya, mereka akan membebaskan burung pemangsa pencari daratan. Jika burung pemangsa pencari daratan dapat mencapai pantai dari samudera raya, ia tidak akan kembali ke kapal; tetapi jika burung pemangsa pencari daratan tidak dapat mencapai pantai samudera raya, ia akan kembali ke kapal. Dengan cara yang sama, Dhammika, karena engkau telah dikeluarkan dari vihara-vihara di daerah asalmu, engkau kembali kepadaku. Hentikan, Dhammika! Hentikan! Mengapakah engkau perlu mengatakan hal ini lagi?

Ketiga kalinya Yang Mulia Dhammika berkata:

Sang Bhagavā, aku tidak menghina para umat awam dari daerah asalku, aku tidak mencaci maki mereka, aku tidak melakukan pelanggaran terhadap mereka. Namun para umat awam dari daerah asalku telah mengusirku dari vihara-vihara di daerah asalku.

Ketiga kalinya Sang Bhagavā berkata kepadanya:

Dhammika, ketika engkau dikeluarkan dari vihara-vihara di daerah asalmu oleh para umat awam dari daerah asalmu, apakah engkau berdiam dengan Dharma seorang pertapa?
Atas hal ini Yang Mulia Dhammika bangkit dari tempat duduk, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata, “Sang Bhagavā, bagaimanakah seorang pertapa berdiam dengan Dharma seorang pertapa?”

Sang Bhagavā berkata:

Dhammika, pada masa lampau masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun. Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, benua Jambudīpa ini sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; desa-desa dan kota-kota berdekatan [satu sama lain] sedekat jarak terbang seekor ayam jantan. Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan puluh ribu tahun, para wanita menikah pada usia lima ratus tahun.

Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan ribu tahun, terdapat [hanya] penyakit seperti [kebutuhan untuk] buang air besar dan kecil, memiliki keinginan, tidak memiliki sesuatu untuk dimakan, dan menjadi tua. Dhammika, ketika masa kehidupan manusia adalah delapan ribu tahun, terdapat seorang raja bernama Koravya, seorang raja pemutar roda, cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk memerintah atas seluruh dunia. Sebagai raja Dharma yang baik, ia memiliki tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah: harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasihat – ini adalah tujuh hal itu. Ia memiliki seribu orang putra yang gagah, berani, tidak kenal takut, dan dapat menaklukkan orang lain. Ia pasti menguasai seluruh bumi, sejauh sampai samudera, tanpa bergantung pada pedang atau gada, hanya memerintah dengan Dharma, yang membawa kedamaian dan kebahagiaan [kepada semua orang].<423>

Dhammika, Raja Koravya memiliki pohon bernama Berdiri Kokoh, sebatang pohon banyan kerajaan. Dhammika, pohon banyak kerajaan Berdiri Kokoh memiliki lima dahan: dahan pertama menyediakan makanan bagi raja dan ratu; dahan kedua menyediakan makanan bagi putra mahkota dan para pengiring; dahan ketiga menyediakan makanan bagi rakyat kerajaan; dahan keempat menyediakan makanan bagi para pertapa dan brahmana; dahan kelima menyediakan makanan bagi burung-burung dan binatang. Dhammika, buah pohon banyan Berdiri Kokoh sebesar sebuah botol berukuran dua pint, dan memiliki rasa bagaikan bola madu murni.

Dhammika, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh tidak dijaga, [tetapi] tidak ada orang yang mencurinya. [Kemudian suatu hari] seseorang datang, lapar dan haus, sangat lemah, dengan penampilan lesu dan pucat, ingin makan buah itu, sehingga ia mendekati pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh. Setelah makan buah sampai kenyang ia mematahkan sebatang dahan yang menghasilkan buah dan pergi.

Terdapat seorang dewa yang berdiam bergantung pada pohon banyak kerajaan Berdiri Kokoh. Ia berpikir, “Betapa anehnya orang Jambudīpa ini! Ia tidak memiliki rasa berterima kasih dan penghargaan. Mengapakah demikian? Karena, setelah makan sampai kenyang buah dari pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh, ia mematahkan sebatang dahan yang menghasilkan buah dan membawanya pergi. Biarlah aku menyebabkan pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].” Kemudian pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].

Orang lain datang, lapar dan haus, sangat lemah, dengan penampilan lesu dan pucat, ingin makan buah itu, sehingga ia mendekati pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh. Melihat bahwa pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi], ia mendekati Raja Koravya dan berkata, “Semoga baginda mengetahui bahwa pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].”<424>

Ketika mendengar hal ini, [secepat waktu yang dibutuhkan untuk] seseorang yang kuat membengkokkan lengannya atau meluruskannya, Raja Koravya lenyap dari [negeri] Kuru dan tiba di Surga Tiga-Puluh-Tiga. Berdiri di hadapan Sakka, raja para dewa, ia berkata, “Semoga Kosiya mengetahui bahwa pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah menjadi hampa dari buah dan tidak menghasilkan buah [lagi].”

Kemudian, [secepat waktu yang dibutuhkan untuk] seseorang yang kuat membengkokkan lengannya atau meluruskannya, Sakka, raja para dewa, dan Raja Koravya lenyap dari Surga Tiga-Puluh-Tiga dan tiba di [negeri] Kuru. Berdiri tak jauh dari pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh, Sakka, raja para dewa, melakukan pertunjukan kekuatan batin untuk menciptakan hujan badai besar. Setelah ia menciptakan hujan badai besar, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh tercabut dan tumbang.

Karena hal ini, dewa pohon yang berdiam di pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh berdukacita dan bersedih. Meratap dan bercucuran air mata, ia berdiri di hadapan Sakka, raja para dewa. Sakka, raja para dewa, bertanya kepadanya, “Dewa, mengapakah engkau berdukacita dan bersedih, berdiri di hadapanku meratap dan bercucuran air mata?”
Dewa itu berkata, “Semoga Kosiya mengetahui bahwa, karena hujan badai besar, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh telah tercabut dan tumbang.”

Kemudian Sakka, raja para dewa, berkata kepada dewa pohon itu, “Dewa pohon, ketika pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh tercabut dan tumbang disebabkan oleh hujan badai besar, apakah engkau berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon?”

Dewa pohon berkata, “Kosiya, bagaimanakah seorang dewa pohon berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon?” Sakka, raja para dewa, berkata kepadanya: “Dewa, seumpamanya bahwa seseorang ingin menggali akar-akar sebatang pohon dan membawanya pergi; seumpamanya ia ingin memotong tunas pohon, dahan pohon, dedaunan pohon, bunga pohon, buah pohon, dan membawanya pergi. Dewa pohon tidak seharusnya menjadi marah, tidak seharusnya membencinya karena ini; ia tidak seharusnya menyimpan kebencian dalam pikirannya. Dewa pohon seharusnya meninggalkan keadaan pikiran demikian dan [hanya] berdiam di sana sebagai seorang dewa pohon. Ini adalah bagaimana seorang dewa pohon berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon.”

Dewa itu berkata lebih lanjut, “Kosiya, aku seorang dewa pohon yang tidak berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon. Sejak saat ini, sebagai seorang dewa pohon, aku akan berdiam dengan Dharma seorang dewa pohon. Semoga pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh pulih dan menjadi seperti sebelumnya!”

Kemudian Sakka, raja para dewa, menggunakan kekuatan batinnya untuk menciptakan lagi hujan badai besar. Setelah ia menciptakan hujan badai besar, pohon banyan kerajaan Berdiri Kokoh pulih dan seperti sebelumnya.

Sama halnya, Dhammika, dengan seorang bhikkhu. Ia tidak mencaci maki seseorang yang mencaci makinya; ia tidak marah dengan seseorang yang marah dengannya; ia tidak melukai seseorang yang melukainya; dan ia tidak memukul seseorang yang memukulnya. Dengan cara ini, Dhammika, seorang pertapa berdiam dengan Dharma seorang pertapa.

Kemudian Yang Mulia Dhammika bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, dan, dengan meratap dan bercucuran air mata, berkata:

Sang Bhagavā, aku seorang pertapa yang tidak berdiam dengan Dharma seorang pertapa. Sejak saat ini, sebagai seorang pertapa, aku akan berdiam dengan Dharma seorang pertapa.

Sang Bhagavā berkata:

Dhammika, pada masa lampau terdapat seorang guru besar bernama Sunetta, seorang pemimpin para pertapa ajaran lain, yang telah meninggalkan keinginan indria dan ketagihan [indria] serta telah memperoleh kekuatan batin. Dhammika, guru besar Sunetta memiliki tak terhitung ratusan dan ribuan siswa. Dhammika, guru besar Sunetta mengajarkan para siswanya metode untuk [mencapai] alam Brahmā.

Dhammika, ketika guru besar Sunetta mengajarkan [para siswanya] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, beberapa siswa yang tidak sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya terlahir kembali setelah kematian di Surga Empat Raja, beberapa terlahir kembali di Surga Tiga-Puluh-Tiga, beberapa terlahir kembali di Surga Yāma, beberapa terlahir kembali di Surga Tusita, beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan, dan beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan yang Lain.<425>

Dhammika, ketika guru besar Sunetta mengajarkan [para siswanya] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, para siswa itu yang sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya mengembangkan empat kediaman luhur dan meninggalkan keinginan indria, dan setelah kematian mereka mencapai kelahiran kembai di alam Brahmā. Kemudian, guru besar Sunetta berpikir, “Tidak layak bagiku untuk berada di tingkat yang sama dalam kehidupan berikutnya seperti para siswaku dengan terlahir kembali di tempat yang sama. Biarlah aku sekarang alih-alih berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut ini, setelah kematian aku akan mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar (Ābhassara).”

Dhammika, kemudian guru besar Sunetta berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih bentuk cinta kasih yang lebih lanjut itu, setelah kematian ia mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar. Dhammika, jalan latihan guru besar Sunetta dan para siswanya tidaklah sia-sia. Ini menghasilkan buah besar.

Seperti halnya guru besar Sunetta, demikian juga [enam guru besar lain] Mūgapakkha, brahmana Aranemi, guru Kuddālaka, brahmana muda Hatthipāla, Jotipāla, dan ayahnya Govinda: ini adalah “tujuh [brahmana] penasihat” (satta purohita).<426>

Dhammika, tujuh penasihat dan guru ini juga memiliki tak terhitung ratusan dan ribuan siswa. Dhammika, tujuh penasihat dan guru ini mengajarkan para siswa mereka metode untuk [mencapai] alam Brahmā. Ketika tujuh penasihat dan guru itu mengajarkan [para siswa mereka] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, beberapa siswa yang tidak sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya terlahir kembali setelah kematian di Surga Empat Raja, beberapa terlahir kembali di Surga Tiga-Puluh-Tiga, beberapa terlahir kembali di Surga Yāma, beberapa terlahir kembali di Surga Tusita, beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan, dan beberapa terlahir kembali di Surga Mereka yang Menyenangi Penciptaan yang Lain.

Ketika tujuh penasihat dan guru itu mengajarkan [para siswa mereka] metode untuk [mencapai] alam Brahmā, para siswa itu yang sepenuhnya menerima dan berlatih metodenya mengembangkan empat kediaman luhur dan meninggalkan keinginan indria, dan setelah kematian terlahir kembali di alam Brahmā. Dhammika, kemudian [masing-masing dari] tujuh penasihat dan guru itu berpikir, “Tidak layak bahwa aku, dalam kehidupan berikutnya, berada di tingkat yang sama seperti para siswaku dengan terlahir kembali di tempat yang sama. Biarlah aku sekarang alih-alih berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut ini, setelah kematian aku akan mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar.”

Dhammika, kemudian tujuh penasihat dan guru itu berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut. Setelah berlatih jenis cinta kasih yang lebih lanjut itu, setelah kematian mereka mencapai kelahiran kembali di Surga Cahaya yang Memancar. Dhammika, jalan latihan tujuh penasihat dan guru itu dan para siswa [mereka] tidaklah sia-sia. Ini menghasilkan buah besar.

Dhammika, jika seseorang telah mencaci maki tujuh guru tersebut dan tak terhitung ratusan dan ribuan pengikut mereka, jika seseorang telah memukul mereka, telah marah dengan mereka, atau telah mengecam mereka, maka orang itu pasti telah melakukan tak terukur pelanggaran berat.

Sehubungan dengan seorang siswa Sang Buddha yang telah mencapai pandangan benar, seorang bhikkhu yang telah mencapai buah yang lebih rendah [demikian], jika seseorang mencaci makinya, memukulnya, marah dengannya, atau mengecamnya, orang itu melakukan pelanggaran yang bahkan lebih berat. Oleh sebab itu, Dhammika, engkau [dan para bhikkhu temanmu] seharusnya saling melindungi. Mengapakah demikian? Setelah engkau meninggalkan kesalahan ini tidak akan ada kerugian lebih lanjut [bagimu].

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Sunetta, Mūgapakkha,
Brahmana Aranemi,
Guru Kuddālaka,
Brahmana muda Hatthipāla,
Jotipāla, dan [ayahnya] Govinda –
[Ini adalah] tujuh penasihat.

Pada masa lampau
Tujuh guru ini terkenal atas kebaikan mereka,
Bebas dari ikatan ketagihan [indria], bergembira dalam belas kasih,
Dan dengan belenggu keinginan indria sepenuhnya terlampaui.

Mereka memiliki para siswa,
Tak terhitung ratusan dan ribuan dari mereka,
Yang juga telah meninggalkan belenggu keinginan indria,
Tetapi hanya sementara, belum sepenuhnya.

Dalam hal para pertapa ajaran lain tersebut,
Yang melindungi diri mereka dengan baik ketika berlatih pertapaan,
Siapa pun yang dengan kebencian dan kecemburuan dalam pikirannya
Mencemooh mereka, telah melakukan pelanggaran berat.

Dalam hal seorang siswa Sang Buddha yang telah mencapai pandangan benar,
Yang berkembang dalam buah yang lebih rendah,
Siapa pun yang mencemooh, mengecam, atau menyerangnya
Akan melakukan pelanggaran yang bahkan lebih berat.

Oleh sebab itu, Dhammika,
Engkau [dan para bhikkhu temanmu] seharusnya saling melindungi.
Kalian seharusnya saling melindungi karena
Tidak ada pelanggaran yang lebih berat daripada hal ini.

[Ini menyebabkan] penderitaan yang begitu hebat
Di mana para mulia jijik terhadapnya.
Seseorang pasti akan mendapatkan pandangan yang membantah
Jika ia secara mencolok mengambil posisi ini berdasarkan pandangan salah.

Ia yang adalah orang dengan tingkat terendah,
Seperti yang dijelaskan dalam Dharma mulia,
Yaitu seseorang yang belum meninggalkan nafsu indria,
Telah memperoleh sejumlah lima indria yang sangat kecil:<427>
Keyakinan, semangat, penegakan perhatian,
Konsentrasi benar, dan pengetahuan benar.

Seseorang yang [mencemooh, mengecam, atau menyerang seseorang] seperti ini akan menerima penderitaan:
Menghadapi pengalaman kejatuhannya sendiri.
Seseorang akan mengalami kejatuhannya sendiri
Setelah menyakiti orang lain.

[Tetapi] jika seseorang dapat melindungi dirinya,
Ia kemudian dapat melindungi orang lain.
Oleh sebab itu, seseorang seharusnya melindungi dirinya;
[Dengan cara ini] orang bijaksana [mencapai] kebahagiaan yang bertahan lama.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Dhammika dan para bhikkhu [lainnya] bergembira dan menerimanya dengan hormat.
7
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 02:44:37 PM »
129. Kotbah tentang Musuh<415>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Terdapat tujuh keadaan permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah. Apakah tujuh hal itu?
Seorang musuh tidak menginginkan musuhnya berpenampilan menarik. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya berpenampilan menarik.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan memiliki penampilan jelek karena hal ini, bahkan jika ia mandi dengan baik dan tubuhnya diminyaki dengan wewangian yang bagus. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan pertama permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya tidur dengan tenang. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya tidur dengan tenang.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan sulit tidur karena hal ini, bahkan jika ia berbaring di atas tempat tidur kerajaan yang berlapiskan kain wol, dihiasi dengan kain brokat dan sutra yang bagus, dengan seperai bergaris-garis dan dilapisi dengan kapas, dan dengan bantal [yang terbuat dari] kulit antelop pada kedua ujungnya. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan kedua permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya seorang musuh tidak menginginkan musuhnya memperoleh keuntungan besar. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya memperoleh keuntungan besar.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan tidak [berusaha untuk] memperoleh keuntungan ketika ia seharusnya [berusaha untuk] memperoleh keuntungan, dan [berusaha untuk] memperoleh keuntungan ketika ia tidak seharusnya [berusaha untuk] memperoleh keuntungan. Dalam kedua hal ia berbuat berlawanan [dengan apa yang seharusnya], sehingga ia mengalami kerugian besar. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan ketiga permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya memiliki teman. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya memiliki teman.

Bagi seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan, jika ia memiliki teman-teman yang baik mereka meninggalkannya dan pergi menjauh. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan keempat permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya memiliki reputasi baik. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya memiliki reputasi baik.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan memperoleh nama buruk, reputasi jelek, yang diketahui secara luas di segala arah. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan kelima permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya menjadi sangat kaya. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya menjadi sangat kaya.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan terlibat dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang menyebabkannya kehilangan sejumlah besar kekayaan.<416> Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan keenam permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Selanjutnya, seorang musuh tidak menginginkan musuhnya, ketika hancurnya jasmani saat kematian, yakin akan pergi menuju alam kehidupan yang baik, alam surgawi. Mengapakah demikian? [Karena] seorang musuh tidak bergembira ketika musuhnya pergi menuju alam kehidupan yang baik.

Seseorang yang marah, yang berulang-ulang menjadi marah, yang dikuasai oleh kemarahan, dan yang pikirannya tidak meninggalkan kemarahan terlibat dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat. Setelah terlibat dalam perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang jahat, ketika hancurnya jasmani saat kematian, ia pasti akan pergi menuju alam kehidupan yang buruk, dengan terlahir kembali di neraka. Mengapakah demikian? Karena ia dikuasai oleh kemarahan dan pikirannya tidak meninggalkan kemarahan. Ini adalah keadaan ketujuh permusuhan yang menyebabkan permusuhan yang menjumpai seorang pria atau wanita ketika mereka menjadi marah.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Seseorang yang marah memperoleh penampilan jelek,
Ia tidur dengan tidak tenang dan sulit.
Walaupun ia seharusnya memperoleh kekayaan besar,
Ia sebaliknya mengalami kerugian.

[Bahkan mereka yang merupakan] teman-teman dekat baiknya
Menjaga jarak dari seseorang yang menjadi marah.
Seraya ia berulang-ulang menjadi marah,
Reputasi buruknya menyebar ke segala arah.

Ia marah ketika terlibat dalam aktivitas jasmani atau ucapan,
Dan terjerat dalam kemarahan ketika terlibat dalam aktivitas pikiran.
Seseorang yang dikuasai kemarahan
Kehilangan semua kekayaannya.

Kemarahan menghasilkan kerugian;
Kemarahan menghasilkan kekotoran pikiran.
Ketakutan muncul di dalam seseorang [yang demikian],
Tetapi ia tidak dapat menyadari hal ini.

Seseorang yang marah tidak mengenali apa yang menguntungkan;
Seseorang yang marah tidak mengetahui Dharma.
Tidak memiliki penglihatan, buta, terselubung dalam kegelapan:
Demikianlah seseorang yang bergembira dalam kemarahan.

Kemarahan pertama-tama muncul sebagai penampilan jelek,
Seperti halnya api mulai mengeluarkan asap.
Dari hal ini muncul kebencian dan kecemburuan;
Dan sebagai akibat dari hal ini, semua orang menjadi marah.

Apa yang dilakukan seseorang yang marah,
Apakah perbuatan bermanfaat atau tidak bermanfaat,
Setelah menjadi marah sepenuhnya,<417>
ia hangus seakan-akan terbakar oleh api.

Apa yang telah kusebut perbuatan yang menghanguskan
Dan menjerat keadaan-keadaan [batin]
Aku sekarang akan menjelaskan satu per satu.
Kalian semua, dengarkanlah dengan seksama!

Seseorang yang marah akan berbalik melawan ayahnya dan melukainya,
Dan menentang saudara laki-lakinya juga.
Ia bahkan akan membunuh saudara perempuannya.
Demikianlah berbahayanya seseorang yang marah.

[Seseorang] yang melahirkannya dan membesarkannya,
Yang memungkinkannya melihat dunia ini,
Yang memungkinkannya bertahan hidup: ibunya.
Bahkan sang pemarah akan melukainya.<418>

Tanpa rasa malu, tanpa rasa takut,
Bagi seseorang yang terjerat oleh kemarahan tidak ada yang [tidak] akan ia [siap] katakan.
Bagi seseorang yang dikuasai oleh kemarahan,
Tidak ada [hal buruk] yang tidak akan diucapkan mulutnya.

Ia melakukan perbuatan yang bodoh dan tidak bermoral,<419>
Dan membunuh kehidupannya sendiri pada usia muda.
Ketika melakukan hal ini ia tidak memiliki kewaspadaan-diri;
Karena kemarahan, hal-hal mengerikan terjadi.

Ia melekat pada dirinya sendiri,
Dan mencintai dirinya sendiri secara ekstrem;
Tetapi walaupun mencintai dirinya sendiri,
Seseorang yang marah juga melukai dirinya sendiri.

Ia menikam dirinya dengan pisau,
Atau melemparkan dirinya dari tebing,
Atau menggantung dirinya dengan tali,
Atau mengambil berbagai jenis racun.

Demikianlah sifat kemarahan;
Kematiannya disebabkan oleh kemarahan.
Semua ini dapat ditinggalkan,
Dengan memahaminya melalui kebijaksanaan.
Sehubungan dengan perbuatan kecil yang tidak bermanfaat,
Seorang bijaksana dapat membuangnya dengan memahaminya.

Seseorang seharusnya bersabar dengan perilaku demikian,
Jika ia berharap untuk bebas dari kejelekan,
Untuk bebas dari kemarahan dan bebas dari kekhawatiran,
Untuk melenyapkan asap keangkuhan dan bebas darinya,
Untuk menjinakkan kemarahan dan meninggalkannya,
Untuk melenyapkannya sepenuhnya dan bebas dari noda-noda.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
8
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 02:37:47 PM »
128. Kotbah tentang Para Umat Awam Laki-Laki<406>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika, ditemani oleh sejumlah besar perkumpulan lima ratus orang umat awam laki-laki, mendekati Yang Mulia Sāriputta. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya [pada kaki Yang Mulia Sāriputta], mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Lima ratus orang umat awam laki-laki juga memberikan penghormatan, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.

Setelah perumah tangga Anāthapiṇḍika dan lima ratus orang umat awam laki-laki duduk pada satu sisi, Yang Mulia Sāriputta mengajarkan mereka Dharma, dengan menasihati dan menginspirasi mereka, sepenuhnya menggembirakan mereka. Setelah dengan tak terhitung cara terampil mengajarkan mereka Dharma, setelah menasihati dan menginspirasi mereka, [Yang Mulia Sāriputta] bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sang Buddha. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Tak lama setelah Yang Mulia Sāriputta pergi, perumah tangga Anāthapiṇḍika dan lima ratus orang umat awam laki-laki juga mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi.<407>

Ketika Yang Mulia Sāriputta dan perkumpulan [umat awam] telah duduk dengan baik, Sang Bhagavā berkata kepada mereka:

Sāriputta, jika sehubungan dengan seorang siswa awam mulia engkau mengetahui bahwa ia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip, dan bahwa ia mencapai dengan mudah dan tanpa kesulitan empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, maka, Sāriputta, engkau dapat menyatakan bahwa bagi siswa mulia itu [kelahiran kembali] di neraka telah diakhiri,<408> dan juga [kelahiran kembali] sebagai binatang, sebagai hantu kelaparan, atau di alam kehidupan buruk [lainnya] mana pun. Ia telah mencapai pemasuk-arus. Ia tidak akan terjatuh ke dalam kondisi buruk apa pun tetapi pasti akan maju menuju pencerahan sempurna; dan setelah mengalami paling banyak tujuh kehidupan, dengan pergi dan datang di antara para dewa dan manusia, ia akan mencapai akhir dukkha.

Sāriputta, bagaimana seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip?<409> Seorang siswa awam mulia menghindari diri dari membunuh, telah meninggalkan pembunuhan, telah membuang pedang dan tongkat pemukul. Ia memiliki rasa malu dan takut berbuat jahat, dan pikiran [yang penuh] cinta kasih dan belas kasih, [dengan berharap] memberikan manfaat kepada semua [makhluk], bahkan serangga. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pembunuhan makhluk hidup. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip pertama ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan. Ia mengambil [hanya] apa yang diberikan. Ia selalu menyukai kedermawanan, dengan bergembira di dalamnya, tanpa kekikiran, dan tidak mengharapkan imbalan apa pun. Ia terus-menerus menjaga dirinya sehingga tidak dikuasai oleh [apa pun pemikiran] mencuri. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan pengambilan apa yang tidak diberikan. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip kedua ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari perbuatan seksual yang salah, telah meninggalkan perbuatan seksual yang salah. Jika seorang wanita dilindungi oleh ayahnya, dilindungi oleh ibunya, dilindungi oleh orang tuanya, dilindungi oleh saudara laki-lakinya, atau dilindungi oleh saudara perempuannya; atau jika seorang wanita dilindungi oleh mertuanya, dilindungi oleh sanak keluarganya, atau dilindungi oleh sukunya; atau jika ia telah mengikat janji pernikahan atau dilindungi oleh ancaman hukuman, atau telah dikalungi bunga sebagai tanda pertunangan – [maka ia] tidak mencabuli seorang wanita yang demikian. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan perbuatan seksual yang salah. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip ketiga ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah. Ia mengatakan kebenaran, bergembira dalam kebenaran, tidak tergoyahkan berkembang dalam kebenaran, sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak akan menipu [siapa pun di] dunia. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan ucapan salah. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip keempat ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras. Ia telah memurnikan pikirannya sehubungan dengan minuman keras. Seorang siswa awam mulia terjaga dengan baik dengan berlatih prinsip kelima ini.

Sāriputta, apakah empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, di mana seorang siswa awam mulia mencapainya dengan mudah dan tanpa kesulitan? Seorang siswa awam mulia mengingat kembali Sang Tathāgata [demikian], “Itulah Sang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang yang mengetahui dunia, seorang yang tak tertandingi, seorang pemimpin dalam jalan Dharma, guru para dewa dan manusia, yang disebut seorang Buddha, seorang yang dimuliakan.” Ketika ia mengingat kembali Sang Tathāgata dengan cara ini, jika terdapat [dalam pikirannya] keinginan jahat apa pun mereka segera lenyap. Jika terdapat dalam pikirannya [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi pertama ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali Dharma [demikian]: “Dharma yang diajarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā pasti membawa pada yang tertinggi, pada kebebasan dari kekesalan dan penderitaan; ia selalu ada dan tidak tergoyahkan.”<410> Ketika ia merenungkan dengan cara ini, memahami dengan cara ini, mengetahui dengan cara ini, dan mengingat kembali Dharma dengan cara ini, maka jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika terdapat dalam pikirannya [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] Dharma, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai [dengan mudah dan tanpa kesulitan] keadaan pikiran lebih tinggi kedua ini [yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini].

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali Sangha [demikian], “Sangha mulia Sang Tathāgata bertindak dengan baik dan bertindak dengan benar, maju dalam Dharma sesuai dengan Dharma, dan menyesuaikan dengan Dharma. Dalam Sangha terdapat sesungguhnya para Arahant dan mereka dalam jalan menuju Kearahantan, yang tidak-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang tidak-kembali, yang sekali-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang sekali-kembali dan mereka dalam jalan menuju yang sekali-kembali, pemasuk-arus dan mereka dalam jalan menuju pemasuk-arus.  Ini disebut empat pasang atau delapan kelompok [orang mulia]. Ini disebut Sangha Sang Tathāgata. Mereka telah mencapai moralitas, mereka telah mencapai konsentrasi, mereka telah mencapai kebijaksanaan, mereka telah mencapai pembebasan, dan mereka telah mencapai pengetahuan dan penglihatan pembebasan.<411> Mereka layak atas penghormatan dan penghargaan, layak atas persembahan, dan merupakan ladang jasa kebajikan yang mengagumkan di dunia.” Ketika [seorang siswa awam mulia] mengingat kembali Sangha Sang Tathāgata dengan cara ini, maka jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] Sangha Sang Tathāgata, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi ketiga ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.

Selanjutnya, Sāriputta, seorang siswa awam mulia mengingat kembali moralitasnya sendiri [demikian], “Moralitasku ini sempurna, tidak cacat. Ia bebas dari kekotoran dan kerusakan, berkembang [dengan kokoh] bagaikan bumi, tidak hampa.<412> Ini dipuji oleh para mulia, diterima dan diingat dengan baik.” Ketika ia mengingat kembali moralitasnya sendiri dengan cara ini, jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, mereka segera lenyap. Jika dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap.

Bagi seorang siswa awam mulia yang berkembang dalam [pengingatan kembali] moralitas, pikirannya menjadi tenang dan mencapai sukacita. . Jika [dalam pikirannya] terdapat keinginan jahat apa pun, maka mereka segera lenyap. [Jika] dalam pikirannya terdapat [keadaan] yang tidak bermanfaat dan mengotori apa pun [yang menyebabkan] kesedihan, kekhawatiran, dan dukacita, maka mereka juga lenyap. Seorang siswa awam mulia mencapai, dengan mudah dan tanpa kesulitan, keadaan pikiran lebih tinggi keempat ini yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini.

Sāriputta, jika sehubungan dengan seorang siswa awam mulia engkau mengetahui bahwa ia terjaga dengan baik dengan berlatih lima prinsip ini, dan bahwa ia mencapai dengan mudah dan tanpa kesulitan empat keadaan pikiran lebih tinggi yang merupakan kediaman menyenangkan di sini dan saat ini, maka, Sāriputta, engkau dapat menyatakan bahwa bagi siswa mulia itu [kelahiran kembali] di neraka telah diakhiri, dan juga [kelahiran kembali] sebagai binatang, hantu kelaparan, atau di alam kehidupan buruk [lainnya] mana pun. Ia telah mencapai pemasuk-arus. Ia tidak akan terjatuh ke dalam kondisi buruk apa pun tetapi pasti akan maju menuju pencerahan sempurna; dan setelah mengalami paling banyak tujuh kehidupan, dengan pergi dan datang di antara para dewa dan manusia, ia akan mencapai akhir dukkha.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Seorang bijaksana yang berdiam di rumah,
Melihat ketakutan atas neraka.
Karena menerima dan mengingat Dharma mulia,
Ia melenyapkan setiap jenis kejahatan.

Ia menghindari diri dari membunuh atau melukai makhluk hidup,
Dapat meninggalkan hal ini dengan pemahaman.
Ia berkata benar, bukan apa yang salah.
Ia tidak mencuri milik orang lain.

Puas dengan istrinya sendiri,
Ia tidak menyenangi istri orang lain.
Ia meninggalkan minuman keras dan menghindari diri darinya,
[Dengan mengetahui mereka sebagai] sumber kebingungan pikiran, kegilaan, dan ketidaktahuan.

[Seseorang] seharusnya sering mengingat kembali Yang Tercerahkan Sempurna,
Merenungkan ajaran-ajaran bermanfaat,
Mengingat kembali Sangha, dan merenungkan moralitas [dirinya sendiri].
Dari hal ini [ia] akan memperoleh sukacita.

Berharap untuk berlatih pemberian,
Seseorang seharusnya mempertimbangkan jasa yang diharapkan darinya,
Dan memberi pertama kali kepada [mereka yang memiliki] pikiran yang ditenangkan.
[Pemberian] demikian membawa akibat [yang baik].
Aku sekarang akan mengatakan tentang [mereka dengan] pikiran yang ditenangkan.
Sāriputta, dengarkanlah dengan seksama!

[Seekor sapi] mungkin hitam atau putih,
Merah atau cokelat,
Berbelang dengan warna-waran yang menarik,
Atau memiliki warna seekor merpati,
Menurut keadaan pembawaan lahirnya;
[Tetapi] sapi yang terlatih dengan baik adalah yang terkemuka.

[Jika] ia memiliki kekuatan tubuh yang cukup
Dan berjalan dengan kecepatan yang baik, dengan cepat ke sana kemari,
Maka ia akan dipilih karena kemampuannya
Dan tidak ditolak karena warnanya.

Dengan cara yang sama, seorang manusia
Mungkin lahir dalam keadaan yang berbeda-beda:
Sebagai ksatria atau brahmana
Atau pedagang atau pekerja,
Menurut keadaan pembawaan lahirnya.

Seorang sesepuh yang murni dan menjaga aturan-aturan latihan,
Yang tanpa kemelekatan duniawi, seorang yang pergi dengan baik<413> –
Memberikan dana kepadanya membawa buah besar.
Sedangkan seseorang yang bodoh, yang tidak memiliki pengetahuan,
Tidak memiliki kebijaksanaan, tidak memiliki pembelajaran –
Memberikan dana kepadanya membawa buah kecil.<414>
Tidak memiliki cahaya [kebijaksanaan], [seorang yang demikian] tidak menerangi siapa pun.

Jika cahaya [kebijaksanaan] bersinar
Pada seorang siswa bijaksana Sang Buddha
Yang keyakinannya kepada Sang Sugata
Berakar dengan baik dan berkembang dengan kokoh,
[Maka] orang itu akan terlahir kembali di keadaan yang baik,
Di sebuah keluarga pilihannya,
Dan pada akhirnya akan mencapai Nirvana.
Dengan cara ini masing-masing orang memiliki jalan hidupnya.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu, perumah tangga Anāthapiṇḍika, dan lima ratus umat awam laki-laki bergembira dan menerimanya dengan hormat.
9
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 02:31:42 PM »
127. Kotbah tentang Ladang Jasa Kebajikan<402>

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata, “Sang Bhagavā, terdapat berapa jeniskah orang di dunia yang merupakan ladang jasa kebajikan?”

Sang Bhagavā berkata:

Perumah tangga, di dunia terdapat keseluruhan dua jenis orang yang merupakan ladang jasa kebajikan. Apakah dua hal itu? Pertama adalah orang yang sedang dalam latihan. Kedua adalah orang yang melampaui latihan. Dari orang-orang yang sedang dalam latihan terdapat delapan belas jenis, dan dari orang-oranng yang melampaui latihan terdapat sembilan jenis.<403>

Perumah tangga, apakah delapan belas jenis orang dalam latihan? Pengikut keyakinan, pengikut Dharma, seseorang yang terbebaskan melalui keyakinan, seseorang yang mencapai penglihatan, saksi tubuh, seseorang yang pergi dari keluarga ke keluarga, penghasil-satu-benih,<404> seseorang dalam jalan menuju pemasuk-arus, seseorang yang telah mencapai pemasuk-arus, seseorang dalam jalan menuju yang sekali-kembali, seseorang yang telah mencapai yang sekali-kembali, seseorang dalam jalan yang tidak-kembali, seseorang yang telah mencapai yang tidak-kembali, seseorang yang mencapai nirvana akhir di antaranya, seseorang yang mencapai nirvana akhir saat terlahir kembali, seseorang yang mencapai nirvana akhir dengan usaha, seseorang yang mencapai nirvana akhir tanpa usaha, dan seseorang yang berlanjut ke atas menuju Surga Akaniṭṭha; ini adalah delapan belas jenis orang dalam latihan.

Perumah tangga, apakah sembilan jenis orang yang melampaui latihan?<405> [Mereka adalah] seseorang yang mampu berdasarkan kehendak [mengakhiri penjelmaan] (cetanādharman); seseorang yang mampu menembus [tanpa usaha] (prativedhanādharman); seseorang yang dalam kondisi tidak tergoyahkan (akopya dharman); seseorang yang cenderung mengalami kemunduran (parihāṇadharman); seseorang yang tidak cenderung mengalami kemunduran (aparihāṇadharman); seseorang yang mampu melindungi (anurakṣaṇādharman), [yaitu,] yang selagi melindungi dirinya sendiri tidak akan mengalami kemunduran, tetapi jika ia tidak melindungi dirinya sendiri ia akan mengalami kemunduran; seseorang yang dalam kondisi berdiri dengan kokoh (sthitākampya); seseorang yang terbebaskan melalui kebijaksanaan; dan seseorang yang terbebaskan melalui kedua cara. Ini adalah sembilan jenis orang yang melampaui latihan.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

Di dunia mereka yang sedang dalam latihan dan mereka yang melampaui latihan
Adalah layak atas penghormatan, layak atas persembahan.
Mereka sempurna dalam mempertahankan [perilaku] jasmani yang benar,
Serta dalam ucapan dan pikiran juga.
Perumah tangga, ini adalah ladang [jasa kebajikan] yang mengagumkan;
Ia yang memberikan persembahan kepada mereka memperoleh jasa besar.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang Sang Buddha katakan, perumah tangga Anāthapiṇḍika dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan baik.
10
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 11)
« Last post by seniya on 04 May 2021, 02:28:21 PM »
126. Kotbah tentang Terlibat dalam Kenikmatan Indria<398>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu perumah tangga Anāthapiṇḍika mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Ia berkata, “Sang Bhagavā, di dunia terdapat berapa jeniskah orang yang terlibat dalam kenikmatan indria?”

Sang Bhagavā berkata:

Perumah tangga, di dunia terdapat keseluruhan sepuluh jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria. Apakah sepuluh hal itu?

Perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, ia tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya, ataupun ia tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; [tetapi ia] tidak memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya, dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, ia tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; ataupun ia tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; [tetapi ia] tidak memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; ataupun ia tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya, [tetapi ia] tidak memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Setelah memperoleh kekayaan, ia terkotori [olehnya], melekat, terbelenggu, dan terikat [padanya]. Karena terkotori [olehnya], melekat, terbelenggu, dan terikat [padanya], ia menggunakan [kekayaan itu] tanpa melihat bahaya [di dalamnya] dan tanpa mengetahui bagaimana melampauinya. Terdapat jenis orang ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Selanjutnya, perumah tangga, satu jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma. Setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, ia dapat menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan ia juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Setelah memperoleh kekayaan, ia tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya. Karena tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya, ia menggunakan [kekayaan itu] seraya melihat bahaya di dalamnya, dan mengetahui bagaimana melampauinya. Terdapat jenis orang [kesepuluh] ini yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Perumah tangga, seumpamanya terdapat seseorang yang terlibat dalam kenikmatan indria dan mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma; yang, setelah mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar, bertentangan dengan Dharma, tidak [menggunakannya untuk] menyokong dirinya sendiri atau memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan yang tidak [menggunakannya untuk] memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini dinilai sebagai yang terendah di antara semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria.<399>

Perumah tangga, seumpamanya terdapat seseorang yang terlibat dalam kenikmatan indria dan mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma; dan yang, setelah mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma, menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan yang juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini dinilai sebagai yang tertinggi di antara semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria [dan yang mencari kekayaan baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma].<400>

Perumah tangga, seumpamanya terdapat seseorang yang terlibat dalam kenikmatan indria yang mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma; yang, setelah mencari kekayaan dengan cara yang benar, sesuai dengan Dharma, menyokong dirinya sendiri dan memberikan kenyamanan bagi ibu dan ayah, istri dan anak-anak, para pelayan dan pekerjanya; dan yang juga memberikan persembahan kepada para pertapa dan brahmana di mana ia dapat naik menuju jenis kenikmatan yang lebih tinggi, mengalami akibat yang menyenangkan dengan terlahir kembali di surga yang berusia panjang. Setelah memperoleh kekayaan, ia tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya. Karena tidak terkotori olehnya, tidak melekat, terbelenggu, dan terikat padanya, ia menggunakan [kekayaan itu] seraya melihat bahaya di dalamnya, dan mengetahui bagaimana melampauinya. Jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini adalah yang terkemuka, yang teragung, yang terunggul, yang terbaik, yang paling mengagumkan. Ia adalah yang paling mulia dari semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Seperti halnya dari seekor sapi menghasilkan susu, dari susu menghasilkan kepala susu, dari kepala susu menghasilkan mentega, dari mentega menghasilkan ghee, dari ghee menghasilkan ghee yang dijernihkan – [di antara hal-hal ini] ghee yang dijernihkan adalah yang terkemuka, yang teragung, yang tertinggi, yang terbaik, yang paling mengagumkan dan mulia. Dengan cara yang sama, perumah tangga, [jenis] orang yang terlibat dalam kenikmatan indria ini adalah yang terkemuka, yang teragung, yang tertinggi, yang terbaik, yang paling mengagumkan, dan yang paling mulia dari semua jenis orang yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:<401>

Jika seseorang mencari kekayaan dengan cara yang bertentangan dengan Dharma,
Dan jika seseorang mencarinya baik sesuai dengan Dharma maupun bertentangan dengan Dharma,
[Maka,] dengan tidak menggunakan [kekayaan itu] untuk memberikan bagi [orang lain] dan dirinya sendiri,
Dan juga tidak menggunakannya sebagai persembahan untuk berbuat jasa kebajikan,
Keduanya adalah salah;
Mereka adalah yang terendah di antara mereka yang terlibat dalam kenikmatan indria [dengan cara demikian].

Jika seseorang mencari kekayaan sesuai dengan Dharma,
Dan memperolehnya melalui usahanya sendiri,
Dengan mengggunakannya untuk memberikan bagi diri sendiri dan orang lain,
Dan juga sebagai persembahan untuk berbuat jasa kebajikan,
Dalam kedua hal ini adalah baik,
Ia adalah yang tertinggi di antara mereka yang terlibat dalam kenikmatan indria [dengan kemelekatan].

Jika seseorang mencapai kebijaksanaan yang melampaui
[Seraya] terlibat dalam kenikmatan indria dan menjalankan kehidupan rumah tangga,
Dengan melihat bahaya dalam kekayaan, merasa puas, dan menggunakannya dengan cermat –
Seseorang yang demikian mencapai kebijaksanaan yang melampaui kenikmatan indria.
Ia [dalam semua hal] adalah yang tertinggi di antara mereka yang terlibat dalam kenikmatan indria.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang Sang Buddha katakan, perumah tangga Anāthapiṇḍika dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan baik.
Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 ... 10