//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: DA 11 & 12 (sutra Dirgha Agama tanpa paralel)  (Read 3193 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
DA 11 & 12 (sutra Dirgha Agama tanpa paralel)
« on: 31 May 2018, 08:59:57 AM »
Berikut adalah terjemahan Dirgha Agama kotbah 11 dan 12 yang tidak memiliki padanan Pali:

Dīrghāgama 11
Kotbah Meningkat Satu per Satu

Demikianlah telah kudengar. Suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Śrāvastī di Hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍada, bersama dengan perkumpulan besar dari seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku akan mengajarkan kalian Dhamma yang mulia, yang ungkapannya pada awal, pertengahan, dan akhirnya adalah benar keseluruhannya, yang mengandung makna dan diberkahi dengan kemurnian kehidupan suci, yaitu, hal-hal yang meningkat satu per satu. Dengarkanlah dan perhatikan apa yang akan kuajarkan kepada kalian.” Kemudian para bhikkhu menerima pengajaran itu dan mendengarkan.

1. Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Hal-hal yang meningkat satu per satu [adalah sebagai berikut]: satu hal yang membawa keberhasilan besar, satu hal yang seharusnya dilatih, satu hal yang seharusnya dipahami, satu hal yang seharusnya dilenyapkan, dan satu hal yang seharusnya direalisasikan.

1.1 “Apakah satu hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: tidak mengabaikan hal-hal yang bermanfaat.

1.2 “Apakah satu hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: perhatian terus-menerus pada jasmani sendiri.

1.3 “Apakah satu hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: dikontak oleh arus-arus [kekotoran batin]

1.4 “Apakah satu hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu: kesombongan ‘aku’.

1.5 “Apakah satu hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: pembebasan pikiran yang tidak terhalangi.

2. “Selanjutnya, dua hal yang membawa keberhasilan besar, dua hal yang seharusnya dilatih, dua hal yang seharusnya dipahami, dua hal yang seharusnya dilenyapkan, dan dua hal yang seharusnya direalisasikan.

2.1 “Apakah dua hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: memiliki rasa malu dan takut berbuat jahat.

2.2 “Apakah dua hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: ketenangan dan pandangan terang.

2.3 “Apakah dua hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: nama dan bentuk.

2.4 “Apakah dua hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu: ketidaktahuan dan ketagihan terhadap kelangsungan.

2.5 “Apakah dua hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: pengetahuan dan pembebasan.

3. “Selanjutnya, tiga hal yang membawa keberhasilan besar, tiga hal yang seharusnya dilatih, tiga hal yang seharusnya dipahami, tiga hal yang seharusnya dilenyapkan, dan tiga hal yang seharusnya direalisasikan.

3.1 “Apakah tiga hal yang membawa keberhasilan besar? Yang pertama adalah bergaul dengan para sahabat baik, kedua adalah [memasang] telinga untuk mendengarkan Dharma, dan ketiga adalah menjadi terampil dalam Dharma [sesuai dengan] Dharma.

3.2 “Apakah tiga hal yang seharusnya dilatih? Yaitu tiga konsentrasi: konsentrasi pada kekosongan, konsentrasi pada tanpa-tanda, dan konsentrasi pada tanpa-nafsu.

3.3 “Apakah tiga hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: perasaan menyakitkan, perasaan menyenangkan, dan perasaan netral.

3.4 “Apakah tiga hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu tiga jenis ketagihan: ketagihan terhadap kesenangan indera, ketagihan terhadap kelangsungan, dan ketagihan terhadap pemusnahan.

3.5 “Apakah tiga hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu tiga pengetahuan: pengetahuan tentang ingatan kehidupan lampau, pengetahuan mata dewa, dan pengetahuan lenyapnya arus-arus [kekotoran batin].

4. “Selanjutnya, empat hal yang membawa keberhasilan besar, empat hal yang seharusnya dilatih, empat hal yang seharusnya dipahami, empat hal yang seharusnya dilenyapkan, dan empat hal yang seharusnya direalisasikan.

4.1 “Apakah empat hal yang membawa keberhasilan besar? Yang pertama adalah berdiam di negeri tengah (madhyadeśa), kedua adalah bergaul dengan para sahabat baik, ketiga adalah pengendalian diri, dan keempat adalah telah menanam akar-akar kebajikan pada masa lampau.

4.2 “Apakah empat hal yang seharusnya dilatih? Yaitu empat penegakan perhatian: Sehubungan dengan jasmani internal seorang bhikkhu merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia; sehubungan dengan jasmani eksternal ia merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia; sehubungan dengan jasmani internal dan eksternal ia merenungkan jasmani, dengan tekun tanpa lalai, dengan perhatian penuh yang tidak jatuh, dengan meninggalkan nafsu dan ketidaksenangan terhadap dunia. Perenungan perasaan ... pikiran ... dan objek-objek pikiran juga seperti ini.

4.3 “Apakah empat hal yang seharusnya dipahami? Yaitu empat jenis makanan: potongan makanan [dari bahan makanan yang bisa dimakan], makanan kontak, makanan pikiran [yang disertai kehendak], dan makanan kesadaran.

4.4 “Apakah empat hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu empat jenis kemelekatan: Kemelekatan pada kesenangan indera, kemelekatan pada diri, kemelekatan pada aturan moralitas, dan kemelekatan pada pandangan.

4.5 “Apakah empat hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu empat buah pertapaan: buah pemasuk-arus, buah sekali-kembali, buah tidak-kembali, dan buah Kearhatan.

5. “Selanjutnya, lima hal yang membawa keberhasilan besar, lima hal yang seharusnya dilatih, lima hal yang seharusnya dipahami, lima hal yang seharusnya dilenyapkan, dan lima hal yang seharusnya direalisasikan.

5.1 “Apakah lima hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu lima faktor pengerahan usaha: yang pertama adalah keyakinan terhadap Sang Buddha, Sang Tathāgata, arhat, yang memiliki sepuluh gelar; kedua adalah tidak memiliki penyakit, dengan tubuh yang selalu tenang; ketiga adalah jujur tanpa kebengkokan, benar-benar membangkitkan jalan menuju Nirvāṇa dari Sang Tathāgata; keempat adalah memiliki pikiran terpusat yang tidak bingung, [dapat] mengulangi kembali tanpa lupa; kelima adalah terampil dalam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena, dan dengan latihan mulia melenyapkan akar-akar duḥkha.

5.2 “Apakah lima hal yang seharusnya dilatih? Yaitu lima indria: indria keyakinan, indria semangat, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan.

5.3 “Apakah lima hal yang seharusnya dipahami? Yaitu lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati: kelompok jasmani yang dilekati, perasaan ... persepsi ... bentukan .... dan kelompok kesadaran yang dilekati.

5.4 “Apakah lima hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu lima rintangan: rintangan nafsu keinginan indera, rintangan kebencian, rintangan kemalasan dan kelambanan, rintangan kegelisahan dan kekhawatiran, dan rintangan keragu-raguan.

5.5 “Apakah lima hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu lima kelompok yang melampaui latihan (aśaikṣa): kelompok moralitas yang melampaui latihan, kelompok konsentrasi yang melampaui latihan, kelompok kebijaksanaan yang melampaui latihan, kelompok pembebasan yang melampaui latihan, dan kelompok pengetahuan dan penglihatan pembebasan yang melampaui latihan.

6. “Selanjutnya, enam hal yang membawa keberhasilan besar, enam hal yang seharusnya dilatih, enam hal yang seharusnya dipahami, enam hal yang seharusnya dilenyapkan, dan enam hal yang seharusnya direalisasikan.

6.1 “Apakah enam hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: enam prinsip penghormatan. Jika seorang bhikkhu mengembangkan enam prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, yang tidak berbeda dari berlatih sendiri. Apakah enam hal itu? Demikianlah seorang bhikkhu terus-menerus berperilaku dengan cinta kasih (maitrī), dengan melingkupinya pada [teman-temannya] dalam pengembangan kehidupan suci, berkembang dalam pikiran berbelas kasih – ini disebut prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, tidak berbeda dari berlatih sendiri.

“Selanjutnya, seorang bhikkhu berkata dengan cinta kasih ...

“[Selanjutnya], ia berpikir dengan cinta kasih ...

“[Selanjutnya], ia berbagi dengan yang lain barang-barang perlengkapannya sendiri, sampai dengan apa yang tersisa dalam mangkuknya, tanpa menyimpannya dari mereka ...

“Selanjutnya, seorang bhikkhu tidak melanggar aturan moralitas yang dilatih oleh para mulia, tidak melalaikannya dan tanpa noda [sehubungan dengan hal ini], seperti yang dipuji oleh para bijaksana, sepenuhnya diberkahi dengan penegakan aturan moralitas ...

“[Selanjutnya], ia menyempurnakan pandangan benar, yang mulia dan melampaui, dan yang sepenuhnya melenyapkan duḥkha, dengan melingkupi [pikirannya] kepada semua [teman-teman] dalam kehidupan suci – ini disebut prinsip penghormatan, yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati, untuk hidup rukun dalam komunitas dan tanpa perselisihan, tidak berbeda dari berlatih sendiri.

6.2 “Apakah enam hal yang seharusnya dilatih? Yaitu enam perenungan: perenungan terhadap Sang Buddha, perenungan terhadap Dharma, perenungan terhadap Sangha, perenungan terhadap moralitas, perenungan terhadap kedermawanan, dan perenungan terhadap para dewa.

6.3 “Apakah enam hal yang seharusnya dipahami? Yaitu enam landasan internal: landasan mata, landasan telinga, landasan hidung, landasan lidah, landasan badan, dan landasan pikiran.

6.4 “Apakah enam hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu enam jenis ketagihan: ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap suara, ketagihan terhadap bebauan, ketagihan terhadap rasa kecapan, ketagihan terhadap sentuhan, dan ketagihan terhadap objek-objek pikiran.

6.5 “Apakah enam hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu enam pengetahuan yang lebih tinggi: yang pertama adalah pengetahuan lebih tinggi dari kemampuan batin, kedua adalah pengetahuan lebih tinggi dari telinga dewa, ketiga adalah pengetahuan lebih tinggi mengetahui pikiran orang lain, keempat adalah pengetahuan lebih tinggi mengingat kehidupan-kehidupan lampau, kelima adalah pengetahuan lebih tinggi tentang mata dewa, dan keenam adalah pengetahuan lebih tinggi tentang pelenyapan arus-arus [kekotoran batin].

7. “Selanjutnya, tujuh hal yang membawa keberhasilan besar, tujuh hal yang seharusnya dilatih, tujuh hal yang seharusnya dipahami, tujuh hal yang seharusnya dilenyapkan, dan tujuh hal yang seharusnya direalisasikan.

7.1 “Apakah tujuh hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu tujuh jenis harta: harta keyakinan, harta moralitas, harta rasa malu [berbuat jahat], harta rasa takut berbuat jahat, harta pembelajaran, harta kedermawanan, dan harta kebijaksanaan. Ini adalah tujuh jenis harta.

7.2 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dilatih? Yaitu: tujuh faktor pencerahan. Demikianlah seorang bhikkhu mengembangkan faktor pencerahan perhatian yang bergantung pada kebosanan, bergantung pada lenyapnya, dan bergantung pada keterasingan; ia mengembangkan [faktor pencerahan] [penyelidikan] fenomena ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] semangat ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] sukacita ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] ketenangan ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] konsentrasi ... ia mengembangkan [faktor pencerahan] keseimbangan yang bergantung pada kebosanan, bergantung pada lenyapnya, dan bergantung pada keterasingan.

7.3 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dipahami? Yaitu: tujuh stasiun kesadaran. Jika makhluk-makhluk hidup berbeda jasmaninya dan berbeda persepsinya, [seperti beberapa] dewa dan manusia – ini adalah stasiun kesadaran pertama.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berbeda jasmaninya tetapi sama persepsinya, seperti para dewa Brahmā pada saat pertama kali mereka terlahir – ini adalah stasiun kesadaran kedua.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya tetapi berbeda persepsinya, seperti para dewa Ābhāsvara – ini adalah stasiun kesadaran ketiga.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya dan sama persepsinya, seperti para dewa Śubhakṛtsna – ini adalah stasiun kesadaran keempat.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah stasiun kesadaran kelima.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah stasiun kesadaran keenam.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kekosongan – ini adalah stasiun kesadaran ketujuh.

7.4 “Apakah tujuh hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu tujuh jenis kecenderungan tersembunyi: kecenderungan tersembunyi pada ketagihan terhadap kesenangan indera, kecenderungan tersembunyi pada ketagihan terhadap penjelmaan, kecenderungan tersembunyi pada pandangan, kecenderungan tersembunyi pada kesombongan, kecenderungan tersembunyi pada penolakan, kecenderungan tersembunyi pada ketidaktahuan, dan kecenderungan tersembunyi pada keragu-raguan.

7.5 “Apakah tujuh hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu: tujuh kekuatan seorang yang telah melenyapkan arus-arus [kekotoran batin]. Demikianlah, seorang bhikkhu yang telah melenyapkan arus-arus memahami dan melihat sebagaimana adanya keseluruhan duḥkha, munculnya, lenyapnya, kepuasannya, bahayanya, dan jalan keluar [darinya].

“Ia merenungkan kesenangan indera bagaikan lubang yang berapi atau bagaikan sebilah pisau atau pedang, [sehingga ketika] ia mengetahui mengetahui kesenangan indera dan melihat kesenangan indera, ia tidak [memunculkan] nafsu terhadap kesenangan indera dan pikirannya tidak berdiam dalam kesenangan indera. Di sini setelah lebih jauh menyelidikinya dengan baik dan setelah memperoleh pengetahuan sebagaimana adanya, penglihatan sebagaimana adanya, ia tidak membangkitkan nafsu indera di dunia, hal-hal yang jahat dan tidak bermanfaat, dan ia tanpa arus-arus [kekotoran batin].

“Ia mengembangkan empat penegakan perhatian, terus-menerus mengembangkannya dan selalu melatihnya ... lima indria ... lima kekuatan ... tujuh faktor pencerahan ... jalan mulia berunsur delapan, terus-menerus mengembangkannya dan selalu melatihnya.

8. “Selanjutnya, delapan hal yang membawa keberhasilan besar, delapan hal yang seharusnya dilatih, delapan hal yang seharusnya dipahami, delapan hal yang seharusnya dilenyapkan, dan delapan hal yang seharusnya direalisasikan.

8.1 “Apakah delapan hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu: delapan sebab dan kondisi untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh. Apakah delapan hal itu?

“Dalam hal ini seorang bhikkhu berdiam bergantung pada Sang Bhagavā, atau bergantung pada seorang guru senior, atau bergantung pada seorang sahabat yang bijaksana dalam kehidupan suci, dan dengan memiliki kasih sayang dan penghormatan [terhadap mereka] ia membangkitkan rasa malu dan takut berbuat jahat – ini adalah sebab dan kondisi pertama untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh.

“Selanjutnya, dengan berdiam bergantung pada Sang Bhagavā ... pada waktu yang tepat ia menanyakan pertanyaan: ‘Apakah makna dari ajaran ini? Bagaimanakah seseorang memunculkannya?’ Sang Bhagavā mengungkapkan kepadanya makna mendalamnya – ini adalah sebab dan kondisi kedua ....

Setelah ia mendengar ajaran itu, jasmani dan pikirannya menjadi gembira dan tenang – ini adalah sebab dan kondisi ketiga ....

“Ia tidak terlibat dalam berbagai pembicaraan yang tidak bermanfaat yang menghalangi sang jalan. Ketika ia tiba di antara perkumpulan [para bhikkhu], ia mengajarkan Dharma sendiri atau ia mengundang yang lain untuk mengajarkannya; namun ia juga tidak mengabaikan keheningan luhur – ini adalah sebab dan kondisi keempat ....

“Ia sangat terpelajar, mengingat tanpa lupa ajaran-ajaran mendalam yang baik pada awalnya, pertengahan, dan akhirnya, yang mengandung makna dan kebenaran, dan diberkahi dengan kehidupan suci; apa yang ia dengar memasuki pikirannya dan pandangannya tidak berubah-ubah – ini adalah sebab dan kondisi kelima ....

“Ia mengembangkan semangat untuk pelenyapan keadaan-keadaan tidak bermanfaat dan setiap hari meningkatkan keadaan-keadaan bermanfaat, ia berusaha dan tetap kokoh, tidak mengabaikan hal-hal [bermanfaat] ini – ini adalah sebab dan kondisi keenam ....

“Selanjutnya, ia mengetahui muncul dan lenyapnya fenomena, melalui kebijaksanaan yang dibangkitkan oleh para mulia, dan dapat melenyapkan duḥkha sepenuhnya – ini adalah sebab dan kondisi ketujuh ....

“Selanjutnya, ia merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati, ciri-ciri munculnya dan ciri-ciri lenyapnya: ini adalah bentuk jasmani, ini adalah munculnya bentuk jasmani, dan ini adalah lenyapnya bentuk jasmani; ini adalah perasaan ... persepsi ... bentukan ... kesadaran, ini adalah munculnya kesadaran, dan ini adalah lenyapnya kesadaran – ini adalah sebab dan kondisi kedelapan untuk memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang belum diperoleh, dan untuk meningkatkan kebijaksanaan dalam kehidupan suci yang telah diperoleh.

8.2 “Apakah delapan hal yang seharusnya dilatih? Yaitu [faktor-faktor] jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

8.3 “Apakah delapan hal yang seharusnya dipahami? Yaitu delapan kondisi duniawi: untung dan rugi, tidak terkenal dan terkenal, pujian dan celaan, penderitaan dan kebahagiaan.

8.4. “Apakah delapan hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu delapan [faktor jalan yang] salah: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah.

8.5 “Apakah delapan hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu delapan pembebasan: dengan memiliki bentuk, seseorang merenungkan bentuk – ini adalah pembebasan pertama; tidak mempersepsikan bentuk secara internal, seseorang merenungkan bentuk secara eksternal – ini adalah pembebasan kedua. Pembebasan melalui kemurnian – ini adalah pembebasan ketiga. Melampaui persepsi bentuk, dengan lenyapnya persepsi hambatan, seseorang berdiam dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah pembebasan keempat. Melampaui landasan ruang [tanpa batas], seseorang berdiam dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah pembebasan kelima. Melampaui landasan kesadaran [tanpa batas], seseorang berdiam dalam landasan kekosongan – ini adalah pembebasan keenam. Melampaui landasan kekosongan, seseorang berdiam dalam landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi – ini adalah pembebasan ketujuh. Melampaui landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, seseorang berdiam dalam lenyapnya persepsi dan perasaan – ini adalah pembebasan kedelapan.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: DA 11 & 12 (sutra Dirgha Agama tanpa paralel)
« Reply #1 on: 31 May 2018, 09:00:36 AM »

9. “Selanjutnya, sembilan hal yang membawa keberhasilan besar, sembilan hal yang seharusnya dilatih, sembilan hal yang seharusnya dipahami, sembilan hal yang seharusnya dilenyapkan, dan sembilan hal yang seharusnya direalisasikan.

9.1 “Apakah sembilan hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu sembilan faktor pengerahan usaha untuk pemurnian: faktor pengerahan usaha untuk pemurnian moralitas, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian pikiran, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian pandangan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan mengatasi keragu-raguan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan membedakan [apa yang merupakan sang jalan dari apa yang bukan sang jalan], faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan [pengetahuan dan penglihatan terhadap] sang jalan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan pelenyapan, faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan kebosanan, dan faktor pengerahan usaha untuk pemurnian dengan pembebasan.

9.2 “Apakah sembilan hal yang seharusnya dilatih? Yaitu sembilan hal yang merupakan akar sukacita: yang pertama adalah sukacita [itu sendiri], kedua adalah belas kasih, ketiga adalah kegembiraan, keempat adalah kebahagiaan, kelima adalah konsentrasi, keenam adalah pengetahuan sebagaimana adanya, ketujuh adalah pelepasan, kedelapan adalah kebosanan, dan kesembilan adalah pembebasan.

9.3 “Apakah sembilan hal yang seharusnya dipahami? Yaitu sembilan kediaman makhluk hidup: Terdapat makhluk-makhluk hidup yang berbeda jasmaninya dan berbeda persepsinya, seperti beberapa dewa dan manusia – ini adalah kediaman makhluk hidup yang pertama.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berbeda jasmaninya tetapi sama persepsinya, seperti para dewa Brahmā pada waktu mereka pertama kali terlahir – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kedua.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang sama jasmaninya dan berbeda persepsinya, seperti para dewa Ābhāsvara – ini adalah kediaman makhluk hidup yang ketiga.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk yang sama jasmaninya dan sama persepsinya, seperti para dewa Śubhakṛtsna – ini adalah kediaman makhluk hidup yang keempat.

“[Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup] tanpa persepsi, yang tidak merasakan atau mengetahui apa pun, seperti para dewa tanpa persepsi – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kelima.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan ruang [tanpa batas] – ini adalah kediaman makhluk hidup yang keenam.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kesadaran [tanpa batas] – ini adalah kediaman makhluk hidup yang ketujuh.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan kekosongan – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kedelapan.

“Selanjutnya, terdapat makhluk-makhluk hidup yang berkembang dalam landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi – ini adalah kediaman makhluk hidup yang kesembilan.

9.4 “Apakah sembilan hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu sembilan hal yang berakar pada ketagihan: bergantung pada ketagihan terdapat pencarian, bergantung pada pencarian terdapat perolehan, bergantung pada perolehan terdapat penggunaan, bergantung pada penggunaan terdapat keinginan, bergantung pada keinginan terdapat kemelekatan, bergantung pada kemelekatan terdapat keirihatian, bergantung pada keirihatian terdapat penjagaan, bergantung pada penjagaan terdapat perlindungan.

9.5 “Apakah sembilan hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu sembilan pelenyapan: Dengan memasuki jhāna pertama, duri suara lenyap. Dengan memasuki jhāna kedua, duri awal dan kelangsungan pikiran lenyap. Dengan memasuki jhāna ketiga, duri sukacita lenyap. Dengan memasuki jhāna keempat, duri napas masuk dan keluar lenyap. Dengan memasuki landasan ruang [tanpa batas], duri persepsi bentuk lenyap. Dengan memasuki landasan kesadaran [tanpa batas], duri persepsi ruang lenyap. Dengan memasuki landasan kekosongan, duri persepsi kesadaran lenyap. Dengan memasuki landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, duri persepsi kekosongan lenyap. Dengan memasuki konsentrasi lenyapnya, duri persepsi dan perasaan lenyap.

10. “Selanjutnya, sepuluh hal yang membawa keberhasilan besar, sepuluh hal yang seharusnya dilatih, sepuluh hal yang seharusnya dipahami, sepuluh hal yang seharusnya dilenyapkan, dan sepuluh hal yang seharusnya direalisasikan.

10.1 “Apakah sepuluh hal yang membawa keberhasilan besar? Yaitu sepuluh perlindungan: Yang pertama adalah ketika seorang bhikkhu memiliki dua ratus lima puluh aturan moralitas dan memiliki perilaku yang layak, dengan melihat pelanggaran kecil yang muncul dalam dirinya dengan penuh ketakutan, ia juga berlatih moralitas dengan pikiran yang tidak cenderung pada kesalahan.

“Kedua adalah memperoleh seorang sahabat baik.

“Ketiga adalah berkata apa yang berimbang dan tepat, dan memiliki kesabaran yang tinggi.

“Keempat adalah mencari Dharma yang baik dan membagikannya [dengan orang lain] tanpa kekikiran.

“Kelima adalah membantu teman-temannya dalam kehidupan suci dalam apa yang harus mereka kerjakan tanpa menjadi lelah, dengan dapat melakukan apa yang sulit dilakukan, dan mengajarkan orang lain melakukannya.

“Keenam adalah terpelajar, dapat mengingat kembali apa yang telah didengar tanpa melupakannya.

“Ketujuh adalah bersemangat dalam melenyapkan keadaan-keadaan yang tidak bermanfaat dan meningkatkan keadaan-keadaan yang bermanfaat.

“Kedelapan adalah ia sendiri terus-menerus memiliki perhatian yang tidak terbagi, tanpa [terbawa] oleh persepsi yang berbeda-beda, dan [dengan demikian dapat] mengingat aktivitas-aktivitas baik sebelumnya seakan-akan hal tersebut ada di depan matanya.

“Kesembilan adalah sempurna dalam kebijaksanaan, dengan merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena-fenomena, dan melalui disiplin mulia meninggalkan akar duḥkha.

“Kesepuluh adalah menyenangi keterasingan, dengan memperhatikan perhatian yang tidak terbagi dan tanpa kegelisahan dalam bermeditasi.

10.2 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya dilatih? Yaitu sepuluh praktek yang benar: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar, pembebasan benar, dan pengetahuan benar.

10.3 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya dipahami? Yaitu sepuluh landasan materi: landasan mata, landasan telinga, landasan hidung, landasan lidah, landasan badan, landasan bentuk, landasan suara, landasan bebauan, landasan rasa kecapan, dan landasan sentuhan.

10.4 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya dilenyapkan? Yaitu sepuluh praktek salah: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, konsentrasi salah, pembebasan salah, dan pengetahuan salah.

10.5 “Apakah sepuluh hal yang seharusnya direalisasikan? Yaitu sepuluh hal yang melampaui latihan: pandangan benar yang melampaui latihan, kehendak benar ... ucapan benar ... perbuatan benar ... pencaharian benar ... usaha benar .... perhatian benar ... konsentrasi benar ... pembebasan benar ... dan pengetahuan benar [yang melampaui latihan].

“Para bhikkhu, ini disebut hal-hal yang meningkat satu per satu. Sekarang setelah mengajarkan kalian Dharma dengan cara ini, sebagai Tathāgata aku telah melakukan apa yang seharusnya terhadap para siswaku, di mana kalian semua sekarang telah mengetahuinya. Aku telah mengajarkan kalian demi belas kasih dan perhatian. Kalian seharusnya tekun dan menerimanya dengan hormat. Para bhikkhu, kalian seharusnya berdiam di tempat-tempat sunyi, di bawah pepohonan, di tempat-tempat kosong, dengan bersemangat duduk bermeditasi. Janganlah kalian lalai. Jika kalian tidak mengerahkan usaha sendiri sekarang, apakah manfaatnya menyesalinya kemudian hari? Ini adalah nasihatku, jalankanlah dengan tekun.”

Pada waktu itu para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: DA 11 & 12 (sutra Dirgha Agama tanpa paralel)
« Reply #2 on: 31 May 2018, 09:07:55 AM »
Dīrghāgama 12
Kotbah tentang Tiga Kelompok

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Śrāvastī di Hutan Jeta, taman Anāthapiṇḍada, bersama-sama dengan perkumpulan besar dari seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu. Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku akan mengajarkan kalian Dharma yang mulia, yang maknanya memiliki rasa kemurnian di mana kehidupan suci diberkahi dengannya, yaitu tiga kelompok Dharma. Dengarkanlah, perhatikan dengan seksama dan ingatlah apa yang akan kuajarkan pada kalian.” Kemudian para bhikkhu mendengarkan untuk menerima ajaran itu.

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Satu kelompok dalam tiga hal: Satu hal yang membawa pada tujuan yang buruk, satu hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan satu hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

1) “Apakah satu hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, tanpa belas kasih dan menyimpan kebencian dalam pikiran. Ini disebut satu hal yang membawa pada tujuan yang buruk.

“Apakah satu hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, tidak menanam kebencian terhadap makhluk-makhluk hidup dalam pikiran. Ini disebut satu hal yang membawa pada tujuan yang baik.

“Apakah satu hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, dapat berusaha dengan tekun berlatih perhatian terhadap jasmani. Ini disebut sebagai satu hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

2) “Selanjutnya, dua hal yang membawa pada tujuan yang buruk, dua hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan dua hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah dua hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, yang pertama adalah pelanggaran moralitas, kedua adalah pandangan salah.

“Apakah dua hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, yang pertama adalah memiliki moralitas, kedua adalah memiliki pandangan [benar].

“Apakah dua hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, yang pertama adalah ketenangan, kedua adalah pandangan terang.

3) Selanjutnya, tiga hal yang membawa pada tujuan yang buruk, tiga hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan tiga hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah tiga hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, tiga akar tidak bermanfaat: akar tidak bermanfaat dari nafsu, akar tidak bermanfaat dari kebencian, dan akar tidak bermanfaat dari delusi.

“Apakah tiga hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, tiga akar bermanfaat: akar bermanfaat dari tanpa nafsu, akar bermanfaat dari tanpa kebencian, dan akar bermanfaat dari tanpa delusi.

“Apakah tiga hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, tiga konsentrasi: konsentrasi pada kekosongan, konsentrasi pada tanpa-tanda, dan konsentrasi pada tanpa-nafsu.

4) “Selanjutnya, empat hal yang membawa pada tujuan yang buruk, empat hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan empat hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah empat hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, berkata dengan keinginan, berkata dengan kebencian, berkata [apa yang menyebabkan] ketakutan, dan berkata dengan delusi.

“Apakah empat hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, berkata tanpa keinginan, berkata tanpa kebencian, berkata [apa yang] tidak [menyebabkan] ketakutan, dan berkata tanpa delusi.

“Apakah empat hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, empat penegakan perhatian: penegakan perhatian pada jasmani, penegakan perhatian pada perasaan, penegakan perhatian pada pikiran, dan penegakan perhatian pada objek-objek pikiran.

5) “Selanjutnya, lima hal yang membawa pada tujuan yang buruk, lima hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan lima hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah lima hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, melanggar lima aturan moralitas: membunuh, mencuri, melakukan perbuatan seksual yang salah, berkata bohong, dan meminum minuman keras.

“Apakah lima hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, menjalankan lima aturan moralitas: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan seksual yang salah, tidak berkata bohong, dan tidak meminum minuman keras.

“Apakah lima hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, lima indria: indria keyakinan, indria semangat, indria perhatian, indria konsentrasi, dan indria kebijaksanaan.

6) “Selanjutnya, enam hal yang membawa pada tujuan yang buruk, enam hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan enam hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah enam hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, enam jenis ketidakhormatan: tidak menghormati Sang Buddha, tidak menghormati Dharma, tidak menghormati Sangha, tidak menghormati moralitas, tidak menghormati konsentrasi, dan tidak menghormati ayah dan ibu sendiri.

“Apakah enam hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, enam jenis penghormatan: menghormati Sang Buddha, menghormati Dharma, menghormati Sangha, menghormati moralitas, menghormati konsentrasi, dan menghormati ayah dan ibu sendiri.

“Apakah enam hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, enam perenungan: perenungan terhadap Sang Buddha, perenungan terhadap Dharma, perenungan terhadap Sangha, perenungan moralitas, perenungan kedermawanan, dan perenungan terhadap para dewa.

7) “Selanjutnya, tujuh hal yang membawa pada tujuan yang buruk, tujuh hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan tujuh hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah tujuh hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perbuatan seksual yang salah, berbohong, mengatakan ucapan memecah belah, berkata kasar, dan berkata omong kosong.

“Apakah tujuh hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, tidak membunuh, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan perbuatan seksual yang salah, tidak berbohong, tidak mengatakan ucapan memecah belah, tidak berkata kasar, dan tidak berkata omong kosong.

“Apakah tujuh hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, tujuh faktor pencerahan: faktor pencerahan perhatian, faktor pencerahan penyelidikan fenomena, faktor pencerahan semangat, faktor pencerahan ketenangan, faktor pencerahan konsentrasi, faktor pencerahan sukacita, dan faktor pencerahan keseimbangan.

8) “Selanjutnya, delapan hal yang membawa pada tujuan yang buruk, delapan hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan delapan hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah delapan hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, delapan praktek salah: pandangan salah, kehendak salah, ucapan salah, perbuatan salah, pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah.

“Apakah delapan hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, pandangan benar duniawi, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

“Apakah delapan hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar.

9) “Selanjutnya, sembilan hal yang membawa pada tujuan yang buruk, sembilan hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan sembilan hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah sembilan hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, sembilan jenis kekesalan: seseorang telah menyinggung dan membuatku kesal, sedang menyinggung dan membuatku kesal, atau akan menyinggung dan membuatku kesal; ia telah menyinggung dan membuat kesal mereka yang kusayangi, sedang menyinggung dan membuat kesal mereka, dan akan menyinggung dan membuat kesal mereka; ia telah mengasihi mereka yang tidak kusukai, sedang mengasihi mereka, atau akan mengasihi mereka.

“Apakah sembilan hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, sembilan jenis ketidakkesalan: ‘Ia telah menyinggungku’ – apakah manfaatnya bagiku menjadi kesal karena hal ini? Demikianlah kekesalan belum muncul, kekesalan tidak muncul saat ini, dan kekesalan tidak akan muncul. “Ia telah menyinggung dan membuat kesal mereka yang kusayangi’ – apakah manfaatnya bagiku menjadi kesal karena hal ini? Demikianlah kekesalan belum muncul, kekesalan tidak muncul saat ini, dan kekesalan tidak akan muncul. ‘Ia mengasihi mereka yang tidak kusukai’ – apakah manfaatnya bagiku menjadi kesal karena hal ini? Demikianlah kekesalan belum muncul, kekesalan akan muncul, dan kekesalan tidak muncul saat ini.

“Apakah sembilan hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, sembilan keadaan sukacita: yang pertama adalah sukacita, kedua adalah belas kasih, ketiga adalah kegembiraan, keempat adalah kebahagiaan, kelima adalah konsentrasi, keenam adalah pengetahuan sebagaimana adanya, ketujuh adalah pelepasan, kedelapan adalah kebosanan, dan kesembilan adalah pembebasan.

10) “Selanjutnya, sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang buruk, sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang baik, dan sepuluh hal yang membawa menuju Nirvāṇa.

“Apakah sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang buruk? Yaitu, sepuluh [jalan] perbuatan tidak bermanfaat: [jalan] perbuatan jasmani dari membunuh, mencuri, dan melakukan perbuatan seksual yang salah; [jalan] perbuatan ucapan dari ucapan memecah belah, ucapan kasar, ucapan bohong, dan omong kosong; serta [jalan] perbuatan pikiran dari keserakahan, kebencian, dan pandangan salah.

“Apakah sepuluh hal yang membawa pada tujuan yang baik? Yaitu, sepuluh [jalan] perbuatan bermanfaat: [jalan] perbuatan jasmani dari tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak melakukan perbuatan seksual yang salah; [jalan] perbuatan ucapan dari tanpa ucapan memecah belah, tanpa ucapan kasar, tanpa ucapan bohong, dan tanpa omong kosong; serta [jalan] perbuatan pikiran dari tanpa keserakahan, tanpa kebencian, dan pandangan benar.

“Apakah sepuluh hal yang membawa menuju Nirvāṇa? Yaitu, jalan langsung [berunsur] sepuluh: pandangan benar, kehendak benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar, pembebasan benar, dan pengetahuan benar. Para bhikkkhu, dengan cara ini sepuluh hal ini membawa menuju Nirvāṇa.

“Inilah yang disebut Dharma sejati yang mulia dalam tiga kelompok. Sebagai Tathāgata, aku telah melakukan apa yang seharusnya terhadap perkumpulan para siswa, tanpa pengurangan. Karena pikiran yang perhatian kepada kalian, aku telah menguraikan kotbah tentang sang jalan ini. Adalah untuk kalian sendiri harus memperhatikan diri kalian, kalian seharusnya berdiam di tempat-tempat sunyi, bermeditasi di bawah pepohonan. Janganlah lalai. Jika kalian sendiri tidak mengerahkan usaha sekarang, tidak ada gunanya kelak menyesalinya.”

Para bhikkhu yang telah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Sumber: Terjemahan bahasa Inggris DA 11 dalam Three Chinese Dīrgha-āgama Discourses without Parallels dan DA 12 dalam Summaries of the Dharma: A Translation of Dīrgha-āgama Discourse No. 12 oleh Bhikkhu Anālayo
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

 

anything