//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Kucing sang guru  (Read 19376 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Kucing sang guru
« on: 20 April 2012, 10:48:17 AM »
Alkisah sewaktu seorang guru spiritual dan murid-muridnya memulai sesi meditasi malam, seekor kucing yang tinggal di kompleks biara mengeong dengan sangat bisingnya mengganggu sesi meditasi. Sang guru memerintahkan agar si kucing diikat di luar sepanjang setiap sesi meditasi.

Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dunia and si kucing tetap diikat di luar sepanjang sesi meditasi untuk menghormati perintah sang guru.

Suatu ketika, setelah si kucing pun mati, murid-murid sang guru membawa kucing lain dengan belang yang sejenis ke biara dan kembali mengikatnya selama sesi meditasi.

Beberapa abad kemudian, keturunan-keturunan murid sang guru yang terpelajar menulis artikel "ilmiah" mengenai alasan pentingnya mengikat kucing selama sesi meditasi.


terjemahan bebas dari: Zen Stories to Tell Your Neighbors
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Kucing sang guru
« Reply #1 on: 20 April 2012, 11:12:41 AM »

Quote
Suatu ketika, setelah si kucing pun mati, murid-murid sang guru membawa kucing lain dengan belang yang sejenis ke biara dan kembali mengikatnya selama sesi meditasi

lalu tujuan awal supaya kucing diikat di luar ruang dilupakan? kok malah cari kucing baru?

sepertinya lama2 mengikat kucing diluar ruang meditasi menjadi semacam tradisi, yang padahal pelaksana tradisi tersebut tidak memahami tujuan awal dari sesuatu yang menjadi tradisi tersebut.

Offline khiong

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 478
  • Reputasi: 29
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Kucing sang guru
« Reply #2 on: 20 April 2012, 11:23:39 AM »
maafkan aku yg bodoh gak ngerti maksud didalam nya..tolong y. ^:)^

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Kucing sang guru
« Reply #3 on: 20 April 2012, 01:48:47 PM »
maafkan aku yg bodoh gak ngerti maksud didalam nya..tolong y. ^:)^

lalu tujuan awal supaya kucing diikat di luar ruang dilupakan? kok malah cari kucing baru?

sepertinya lama2 mengikat kucing diluar ruang meditasi menjadi semacam tradisi, yang padahal pelaksana tradisi tersebut tidak memahami tujuan awal dari sesuatu yang menjadi tradisi tersebut.
tepat sekali!
demikianlah lahirnya tradisi dan ritual yang berasal dari kepercayaan.

sebuah tradisi mungkin dimulai dari sebuah kegiatan sederhana seorang bijaksana di jaman dulu yang kemudian diturunkan bergenerasi-generasi sampai kehilangan makna dan alasan sebenarnya. seiring dengan berjalannya waktu, bumbu demi bumbu ditambahkan. mereka yang terjebak dalam konflik antara pemikiran modern dan rasa bakti akan mencoba menciptakan dan mencari alasan2 "ilmiah" tradisi tersebut. jaman sudah berubah, namun pengikut2 kepercayaan terus menggenggam ritual tanpa disertai kebijaksanaan ataupun kecerdasan.

konon di jaman china kuno, apabila seorang suami meninggal dunia maka di dalam upacara pemakaman sang suami, sang istri juga dibakar hidup2 agar dapat menemani sang suami di "alam sana". seorang biksu yang welas asih menciptakan tradisi baru, cukup membakar boneka2 kertas yang akan dikirim ke alam sana untuk menemari suami dan menyelamatkan kematian yang tidak perlu dan mengenaskan. seiring dengan berjalannya waktu, niat baik sang biksu pun sudah terlupakan. tradisi ini berkembang dalam skala besar menjadi pembakaran rumah2an kertas, ipad kertas, mobil kertas, uang2an akhirat dan... kartu credit kertas.

walau terdengar konyol, tapi demikianlah sifat alami batin manusia yang mencari kenyamanan.
kepercayaan, tahayul dan tradisi memberikan rasa nyaman, sebuah hiburan yang menawarkan solusi dari derita, dari dukkha.

apakah orang yg makan bangku sekolahan tinggi, terpelajar dan rajin membaca buku2 terbebas dari tradisi dan ketahyulan ini?
sama sekali tidak. walaupun rationya terus2an menyangkal ketahyulan, batin orang2 ini tetap melekat dan tanpa menyadari maknanya, terus menggenggam konsep2 kursi sial, baju keberuntungan, rumah pembawa hoki, angka sial, cermin penangkal bencana, tata letak pembawa rejeki, relik pembawa berkah, air pembersih, paritta pengusir setan, upacara kebaktian, dll.

pertanyaannya:
dapatkah saya sadar dan mengenali kemelekatan2 yang ada di agama saya dan --yg lebih sulit lagi-- yang ada di dalam batin saya beserta pamrih2nya?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Kucing sang guru
« Reply #4 on: 20 April 2012, 08:14:17 PM »
pertanyaan :
apakah ada guna membaca parita?
apakah ada guna ke vihara melakukan puja bakti?
apakah ada guna nienfo?
apakah ada guna meditasi?
apakah ada guna ritual2 keagamaan?
apakah ajaran buda itu tahayul?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Kucing sang guru
« Reply #5 on: 21 April 2012, 09:09:04 PM »
maksudnya menanyakan pertanyaan itu di sini?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dakota

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: -1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Kucing sang guru
« Reply #6 on: 21 April 2012, 09:37:12 PM »
bagaimana dengan tradisi kremasi yang ditiru oleh buddhisme dari brahmanisme?
itu juga ikut tradisi bukan?  kalo bukan, utk apa harus dikremasi bagi orang mati? apa gunanya?

 
 

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Kucing sang guru
« Reply #7 on: 21 April 2012, 09:56:53 PM »
bagaimana dengan tradisi kremasi yang ditiru oleh buddhisme dari brahmanisme?
itu juga ikut tradisi bukan?  kalo bukan, utk apa harus dikremasi bagi orang mati? apa gunanya?
saya rasa buddhisme tidak punya preference bagaimana harus menangani mayat.
kremasi dipilih oleh sebagian orang karena ada keuntungan2 tersendiri:
http://en.wikipedia.org/wiki/Cremation#Reasons_for_choosing_cremation
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dakota

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: -1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Kucing sang guru
« Reply #8 on: 21 April 2012, 10:13:55 PM »
saya rasa buddhisme tidak punya preference bagaimana harus menangani mayat.
kremasi dipilih oleh sebagian orang karena ada keuntungan2 tersendiri:
http://en.wikipedia.org/wiki/Cremation#Reasons_for_choosing_cremation
setidaknya dari pemaparan Mahaparinibbana Sutta mencerminkan pengikut Buddha toh mengikuti (*baca: melekat) juga tradisi2 masa itu:
  Lalu suku Malla dari Kusinara itu berkata kepada Ananda demikian : “Bagaimana seharusnya kita melakukan penghormatan dalam memperabukan jenasah Sang Bhagava?”
“Vasetha, sama seperti cara menghormati jenasah seorang Raja Jagad.”
“Tetapi bagaimanakah seharusnya kita berlaku untuk menghormati Raja Jagad itu?”
“Jenasah seorang Raja Jagad itu pertama-tama di bungkus seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan kemudian dengan kain katun wool baru pula.
Sesudah itu dibungkus lagi seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan lagi dengan kain katun wool yang telah dipersiapkan. Dan begitulah selanjutnya dilakukan sampai lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus kain katun wool. Setelah itu dikerjakan jenasah Raja Jagad dibaringkan dalam suatu peti dengan dicat meni, lalu dimasukkan lagi ke dalam peti dengan dicat meni, dan suatu Pancaka (tempat perabuan) didirikan dari berbagai macam kayu wangi-wangian; di situlah jenasah seorang Raja Jagad diperabukan, dan pada perempatan (pertemuan empat jalan) didirikan sebuah stupa bagi Raja Jagad itu. Demikianlah hal itu seharusnya dilaksanakan.”
“Vasetha, demikianlah sama seperti halnya jenasah seorang Raja Jagad begitu pula harus dilakukan pada jenasah Sang Tathagata. Dan barang siapa yang datang ke tempat itu membawa bunga-bungaan, atau dupa, atau serbuk cendana dan melakukan kebaktian serta penghormatan di sana mereka akan memperoleh kebahagian, untuk suatu waktu yang lama.”

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Kucing sang guru
« Reply #9 on: 22 April 2012, 01:12:52 PM »
setidaknya dari pemaparan Mahaparinibbana Sutta mencerminkan pengikut Buddha toh mengikuti (*baca: melekat) juga tradisi2 masa itu:
  Lalu suku Malla dari Kusinara itu berkata kepada Ananda demikian : “Bagaimana seharusnya kita melakukan penghormatan dalam memperabukan jenasah Sang Bhagava?”
“Vasetha, sama seperti cara menghormati jenasah seorang Raja Jagad.”
“Tetapi bagaimanakah seharusnya kita berlaku untuk menghormati Raja Jagad itu?”
“Jenasah seorang Raja Jagad itu pertama-tama di bungkus seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan kemudian dengan kain katun wool baru pula.
Sesudah itu dibungkus lagi seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan lagi dengan kain katun wool yang telah dipersiapkan. Dan begitulah selanjutnya dilakukan sampai lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus kain katun wool. Setelah itu dikerjakan jenasah Raja Jagad dibaringkan dalam suatu peti dengan dicat meni, lalu dimasukkan lagi ke dalam peti dengan dicat meni, dan suatu Pancaka (tempat perabuan) didirikan dari berbagai macam kayu wangi-wangian; di situlah jenasah seorang Raja Jagad diperabukan, dan pada perempatan (pertemuan empat jalan) didirikan sebuah stupa bagi Raja Jagad itu. Demikianlah hal itu seharusnya dilaksanakan.”
“Vasetha, demikianlah sama seperti halnya jenasah seorang Raja Jagad begitu pula harus dilakukan pada jenasah Sang Tathagata. Dan barang siapa yang datang ke tempat itu membawa bunga-bungaan, atau dupa, atau serbuk cendana dan melakukan kebaktian serta penghormatan di sana mereka akan memperoleh kebahagian, untuk suatu waktu yang lama.”


inilah keuntungannya.
apakah anda melihat ada kerugian jika mayat dikremasi
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Sostradanie

  • Sebelumnya: sriyeklina
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.376
  • Reputasi: 42
Re: Kucing sang guru
« Reply #10 on: 22 April 2012, 01:22:31 PM »
[at] dakota

http://dhammacitta.org/forum/index.php/topic,20308.msg350981.html#msg350981

Boleh lihat pemakaman model lain disini.
PEMUSNAHAN BAIK ADANYA (2019)

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Kucing sang guru
« Reply #11 on: 22 April 2012, 05:20:19 PM »
sepertinya ada kesalahpahaman mengenai thread ini...

tidak ada yang salah dengan menjalankan praktik keagamaan, ritual atau tradisi selama makna dan tujuannya ada di dalam batin melatarbelakangi tindakan tersebut. seperti tindakan sang guru mengikat kucing agar tidak berisik mengganggu sesi meditasi, tidak ada yang salah. demikian juga kremasi, paritta, puja bakti, nienfo, meditasi, dll. tidak ada yang salah selama praktik2 itu dilakukan dengan kecerdasan...

yang tidak cerdas adalah melakukan praktik2 tadi berdasarkan kepercayaan buta belaka, sehingga segala macam praktik, ritual dan tradisi itu hanya ikut2an saja alias membebek... seperti murid2 dan keturunan murid2 sang guru di atas.

menurut saya, demikianlah yang penting dalam mempelajari suatu ajaran spiritual. segala yang masuk ke kepala harus diragukan, dicerna, dipahami, diteliti dan diuji dengan menggunakan kecerdasan dan pengalaman, bukan main hapal buta, percaya buta, ikut2an buta, dan fanatisme buta.

semoga bisa dimengerti...
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Kucing sang guru
« Reply #12 on: 23 April 2012, 10:23:46 AM »
sepertinya ada kesalahpahaman mengenai thread ini...

tidak ada yang salah dengan menjalankan praktik keagamaan, ritual atau tradisi selama makna dan tujuannya ada di dalam batin melatarbelakangi tindakan tersebut. seperti tindakan sang guru mengikat kucing agar tidak berisik mengganggu sesi meditasi, tidak ada yang salah. demikian juga kremasi, paritta, puja bakti, nienfo, meditasi, dll. tidak ada yang salah selama praktik2 itu dilakukan dengan kecerdasan...

yang tidak cerdas adalah melakukan praktik2 tadi berdasarkan kepercayaan buta belaka, sehingga segala macam praktik, ritual dan tradisi itu hanya ikut2an saja alias membebek... seperti murid2 dan keturunan murid2 sang guru di atas.

menurut saya, demikianlah yang penting dalam mempelajari suatu ajaran spiritual. segala yang masuk ke kepala harus diragukan, dicerna, dipahami, diteliti dan diuji dengan menggunakan kecerdasan dan pengalaman, bukan main hapal buta, percaya buta, ikut2an buta, dan fanatisme buta.

semoga bisa dimengerti...

menurut om ada berapa persen yang membebek dan berapa persen yang mengerti?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Kucing sang guru
« Reply #13 on: 23 April 2012, 10:55:21 AM »
menurut om ada berapa persen yang membebek dan berapa persen yang mengerti?
saya gak tau. apa masalahnya?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Kucing sang guru
« Reply #14 on: 23 April 2012, 11:08:24 AM »
saya gak tau. apa masalahnya?
kalau lebih sedikit mengapa, kalau lebih banyak mengapa.

pengen tau aja, bagaimana ajaran yang mengajarkan ehipasiko kepada umatnya, dan bagaimana sikap umatnya mengaplikasikan ajaran buda, apa lebih banyak yang membebek, atau hanya pembaca yang cerdas saja yang tidak membebek?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))