//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - seniya

Pages: 1 2 3 4 5 [6] 7 8 9 10 11 12 13 ... 228
76
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:43:03 PM »
86. Kotbah yang Menjelaskan Landasan-Landasan<140>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Ānanda bangkit dari duduk bermeditasi pada sore hari dan, dengan membawa sekumpulan bhikkhu muda, mendekati Sang Buddha. Ia memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha dan mengundurkan diri pada satu sisi. Para bhikkhu muda itu juga memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Yang Mulia Ānanda berkata, “Sang Bhagavā, bagaimanakah aku seharusnya mengajar para bhikkhu muda ini? Bagaimanakah aku seharusnya menasihati mereka? Bagaimanakah aku seharusnya menjelaskan Dharma kepada mereka?”

Sang Bhagavā berkata:

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan kepada para bhikkhu muda ini landasan-landasan (āyatana), engkau seharusnya mengajarkan mereka landasan-landasan. Jika engkau menjelaskan kepada para bhikkhu muda ini landasan-landasan, jika engkau mengajarkan mereka landasan-landasan, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang kehidupan mereka.

Yang Mulia Ānanda merentangkan tangannnya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata:
Sang Bhagavā, sekarang adalah waktu yang tepat. Sang Sugata, sekarang adalah waktu yang tepat. Jika Sang Bhagavā akan menjelaskan kepada para bhikkhu muda landasan-landasan, mengajarkan mereka landasan-landasan, maka aku dan para bhikkhu muda, setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, akan mengingatnya dengan baik.

Sang Bhagavā berkata, “Ānanda, dengarkanlah dengan seksama dan perhatikan dengan baik! Aku akan menjelaskannya secara lengkap kepadamu dan para bhikkhu muda.” Yang Mulia Ānanda dan yang lainnya mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Bhagavā berkata:

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati: kelompok bentuk yang dilekati, ... perasaan, ... persepsi, ... bentukan, dan kelompok kesadaran yang dilekati. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam landasan indria internal: landasan indria mata, ... telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, dan landasan indria pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam landasan indria internal ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam landasan indria internal ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam landasan indria eksternal: landasan indria bentuk, suara, bebauan, rasa, sentuhan, dan landasan indria objek pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam landasan indria eksternal ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam landasan indria eksternal ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam jenis kesadaran: kesadaran mata, telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, ... dan kesadaran pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam jenis kesadaran ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam jenis kesadaran ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam jenis kontak: kontak [yang berhubungan dengan] mata, ... telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, dan kontak [yang berhubungan dengan] pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam jenis kontak ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam jenis kontak ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam jenis perasaan: perasaan [yang berhubungan dengan] mata, ... telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, dan perasaan [yang berhubungan dengan] pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam jenis perasaan ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam jenis perasaan ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam jenis persepsi: persepsi [yang berhubungan dengan] mata, ... telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, dan persepsi [yang berhubungan dengan] pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam jenis persepsi ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam jenis persepsi ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam jenis kehendak: kehendak [yang berhubungan dengan] mata, ... telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, dan kehendak [yang berhubungan dengan] pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam jenis kehendak ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam jenis kehendak ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam jenis ketagihan: ketagihan [yang berhubungan dengan] mata, ... telinga, ... hidung, ... lidah, ... badan, dan ketagihan [yang berhubungan dengan] pikiran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam jenis ketagihan ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam jenis ketagihan ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu enam unsur: unsur tanah, ... air, ... api, ... udara, ... ruang, dan unsur kesadaran. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan enam unsur ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan enam unsur ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu kemunculan bergantungan dan hal-hal yang muncul bergantungan. Dengan adanya ini, itu ada; dengan tidak adanya ini, itu tidak ada. Dengan munculnya ini, itu muncul; dengan lenyapnya ini, itu lenyap. Dikondisikan oleh ketidaktahuan terdapat bentukan, dikondisikan oleh bentukan terdapat kesadaran, dikondisikan oleh kesadaran terdapat nama-dan-bentuk, dikondisikan oleh nama-dan-bentuk terdapat enam landasan indria, dikondisikan oleh enam landasan indria terdapat kontak, dikondisikan oleh kontak terdapat perasaan, dikondisikan oleh perasaan terdapat ketagihan, dikondisikan oleh ketagihan terdapat kemelekatan, dikondisikan kemelekatan terdapat penjelmaan, dikondisikan oleh penjelmaan terdapat kelahiran, dikondisikan oleh kelahiran terdapat usia tua dan kematian.
Dengan lenyapnya ketidaktahuan, bentukan lenyap; dengan lenyapnya bentukan, kesadaran lenyap; dengan lenyapnya kesadaran, nama-dan-bentuk lenyap; dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, enam landasan indria lenyap; dengan lenyapnya enam landasan indria, kontak lenyap; dengan lenyapnya kontak, perasaan lenyap; dengan lenyapnya perasaan, ketagihan lenyap; dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan lenyap; dengan lenyapnya kemelekatan, penjelmaan lenyap; dengan lenyapnya penjelmaan, kelahiran lenyap; dengan lenyapnya kelahiran, usia tua dan kematian lenyap.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan kemunculan bergantungan dan hal-hal yang muncul bergantungan ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan kemunculan bergantungan dan hal-hal yang muncul bergantungan ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat penegakan perhatian: merenungkan jasmani sebagai jasmani, merenungkan perasaan, ... keadaan pikiran, ... dharma-dharma sebagai dharma-dharma. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat penegakan perhatian ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat penegakan perhatian ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat usaha benar: Seorang bhikkhu membangkitkan ketekunan, mengerahkan usaha, mengembangkan semangat, dan memunculkan upaya pikiran untuk melenyapkan keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat yang telah muncul. Ia membangkitkan ketekunan, mengerahkan usaha, mengembangkan semangat, dan memunculkan upaya pikiran untuk tidak memunculkan keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat yang belum muncul. Ia membangkitkan ketekunan, mengerahkan usaha, mengembangkan semangat, dan memunculkan upaya pikiran untuk memunculkan keadaaan-keadaan bermanfaat yang belum muncul. Ia membangkitkan ketekunan, mengerahkan usaha, mengembangkan usaha, dan memunculkan upaya pikiran untuk mempertahankan keadaan-keadaan bermanfaat yang telah muncul, untuk tidak melupakannya, untuk tidak mundur, untuk peningkatannya, untuk berulang-ulang melakukannya, untuk pemenuhannya.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat usaha benar ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat usaha benar ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat landasan kekuatan batin: Seorang bhikkhu mengembangkan landasan kekuatan batin dengan mencapai konsentrasi melalui ketekunan yang disertai dengan bentukan berusaha, dengan bergantung pada kebosanan, dengan bergantung pada keterasingan, dengan bergantung pada lenyapnya, tidak berharap pada apa pun.

Dengan cara yang sama, ... konsentrasi melalui usaha, ... konsentrasi melalui pikiran, ....

[Seorang bhikkhu] mengembangkan landasan kekuatan batin dengan mencapai konsentrasi melalui penyelidikan yang disertai bentukan berusaha, dengan bergantung pada kebosanan, dengan bergantung pada keterasingan, dengan bergantung pada lenyapnya, tidak berharap pada apa pun.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat landasan kekuatan batin ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat landasan kekuatan batin ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat jhāna: Terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, seorang bhikkhu, ... sampai dengan ... berdiam setelah mencapai jhāna keempat. Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat jhāna ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat jhāna ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu Empat Kebenaran Mulia: kebenaran mulia tentang dukkha, kebenaran mulia tentang munculnya, kebenaran mulia tentang lenyapnya, kebenaran mulia tentang jalan menuju lenyapnya.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan Empat Kebenaran Mulia ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan Empat Kebenaran Mulia ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat persepsi: Seorang bhikkhu memiliki persepsi yang terbatas, persepsi yang luhur, persepsi yang tak terukur, atau persepsi kekosongan.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat persepsi ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat persepsi ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat yang tak terukur: Dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, seorang bhikkhu berdiam meliputi satu arah demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat, dan juga empat arah di antaranya, atas, dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, bebas dari belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, ia berdiam meliputi seluruh dunia [dengan pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Dengan cara yang sama, belas kasih, ... kegembiraan empatik, ... keseimbangan. Bebas dari belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, ia berdiam meliputi seluruh dunia [dengan pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan dikembangkan dengan baik.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat yang tak terukur ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat yang tak terukur ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat [pencapaian] tanpa bentuk: Dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk, seorang bhikkhu, ... sampai dengan ... berdiam setelah mencapai landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat [pencapaian] tanpa bentuk ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat [pencapaian] tanpa bentuk ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat tradisi mulia (ariyavaṃsa): Seorang bhikkhu atau bhikkhuni tahu merasa puas dengan jubah yang kasar dan sederhana dan tidak memenuhi pikirannya dengan pencarian jubah. Jika mereka tidak menerima jubah mereka tidak khawatir, tidak meratap, tidak memukul dada mereka, dan tidak kebingungan. Jika mereka menerima jubah, mereka tidak terkotori, tidak terikat, tidak diliputi nafsu, tidak tamak, tidak terpengaruh, dan tidak memikirkannya. Mereka menggunakan jubah dengan melihat bahaya di dalamnya dan mengetahui jalan keluar darinya. Jika mereka tidak malas sehubungan dengan manfaat-manfaat latihan [menggunakan jubah] ini dan memiliki pemahaman benar, mereka disebut seorang bhikkhu atau bhikkhu yang dengan benar berkembang dalam tradisi mulia yang kuno. Dengan cara yang sama, makanan, ... tempat kediaman, ....

Mereka berkeinginan untuk melenyapkan [keadaan-keadaan pikiran yang tidak bermanfaat], bergembira dalam pelenyapannya; mereka ingin mengembangkan [keadaan-keadaan yang bermanfaat], bergembira dalam pengembangannya. Mereka tidak memuji diri mereka sendiri atau memandang rendah orang lain karena memiliki keinginan untuk melenyapkan itu, kegembiraan dalam pelenyapan itu, keinginan untuk mengembangkan itu, kegembiraan dalam pengembangan itu. Jika mereka tidak malas sehubungan dengan manfaat-manfaat latihan [pelenyapan dan pengembangan] ini dan memiliki pemahaman benar, mereka disebut seorang bhikkhu atau bhikkhuni yang dengan benar berkembang dalam tradisi mulia yang kuno.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat tradisi mulia ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat tradisi mulia ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu empat buah seorang pertapa: pemasuk-arus, yang sekali-kembali, yang tidak-kembali, dan buah tertinggi kearahantan.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan empat buah seorang pertapa ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan empat buah seorang pertapa mulia ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

Ānanda, aku sebelumnya telah menjelaskan kepadamu lima persepsi yang matang dalam pembebasan: persepsi ketidakkekalan, persepsi dukkha [dalam apa yang adalah] tidak kekal, persepsi bukan-diri [dalam apa yang adalah] dukkha, persepsi ketidakmurniaan dan kejijikan, dan persepsi tidak bergembira dalam seluruh dunia.

Ānanda, engkau seharusnya menjelaskan dan mengajarkan lima persepsi yang matang dalam pembebasan ini kepada para bhikkhu muda. Jika engkau menjelaskan dan mengajarkan lima persepsi yang matang dalam pembebasan ini kepada para bhikkhu muda, mereka akan memperoleh kenyamanan, mereka akan memperoleh kekuatan dan kebahagiaan, mereka tidak akan terganggu dalam jasmani dan batin, dan mereka akan menjalankan kehidupan suci sepanjang hidup mereka.

77
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:29:42 PM »
85. Kotbah tentang Manusia Sejati<129>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu, “Aku sekarang akan mengajarkan kalian sifat seorang manusia sejati dan sifat seorang bukan manusia sejati. Dengarkanlah dengan seksama, dengarkanlah dengan seksama dan perhatikan dengan baik!” Kemudian para bhikkhu mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Buddha berkata:

Apakah sifat seorang bukan manusia sejati? Seumpamanya bahwa seseorang tertentu yang telah meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan berasal dari keluarga terpandang, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia berasal dari keluarga terpandang, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<130>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Bukan karena aku berasal dari keluarga terpandang sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang yang telah meninggalkan keduniawian untuk berlatih sang jalan bukan berasal dari keluarga terpandang [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji diri sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu adalah rupawan dan menyenangkan, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena rupawan dan menyenangkan, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<131>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Bukan karena aku rupawan dan menyenangkan sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang yang tidak rupawan dan menyenangkan [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu adalah fasih dan berkemampuan dalam berbicara, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia fasih dan berkemampuan dalam berbicara, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati. <132>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Adalah bukan karena aku fasih dan berkemampuan dalam berbicara sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang tidak fasih dan berkemampuan dalam berbicara, [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu adalah seorang sesepuh, yang dikenal raja, diakui oleh orang-orang, dan berjasa besar, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia seorang sesepuh, yang dikenal raja, diakui oleh orang-orang, dan berjasa besar, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<133>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Adalah bukan karena aku seorang sesepuh, yang dikenal raja, diakui oleh orang-orang, dan berjasa besar, sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang bukan seorang sesepuh, yang tidak dikenal raja, tidak diakui oleh orang-orang, dan tidak berjasa besar [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu mengulangi kotbah-kotbah, telah mengingat disiplin, dan terpelajar dalam Abhidharma, berpengetahuan dalam Āgama-Āgama, dan sangat terpelajar dalam kumpulan-kumpulan kotbah, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia berpengetahuan dalam Āgama-Āgama dan sangat terpelajar dalam kumpulan-kumpulan kotbah, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<134>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Adalah bukan karena aku berpengetahuan dalam Āgama-Āgama dan sangat terpelajar dalam kumpulan-kumpulan kotbah sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang tidak berpengetahuan dalam Āgama-Āgama dan tidak sangat terpelajar dalam kumpulan-kumpulan kotbah [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu memakai jubah usang, ... membatasi [dirinya sendiri dengan] tiga helai jubah, ... memiliki jubah yang sederhana, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia memiliki jubah yang sederhana ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<135>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Adalah bukan karena aku memiliki jubah yang sederhana sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang tidak memiliki jubah yang sederhana [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu selalu menjalankan latihan mengumpulkan dana makanan, secara terus-menerus menerima hanya lima takar nasi, dan mengumpulkan makanan tidak lebih dari tujuh rumah, ... makan hanya sekali [tiap hari], ... menghindari diri dari minuman kental setelah tengah hari, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia menghindari diri dari minuman kental setelah tengah hari, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<136>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Adalah bukan karena aku menghindari diri dari minuman kental setelah tengah hari sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang tidak menghindari diri dari minuman kental setelah tengah hari [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu berdiam di tempat terpencil, di bawah sebatang pohon di dalam hutan gunung, atau di tebing tinggi, atau di luar di tempat terbuka, atau di tanah pekuburan, dan bahwa ia mampu mengetahui waktu [yang tepat] [untuk berdiam di tempat-tempat demikian], sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia mampu mengetahui waktu [yang tepat] [untuk berdiam di tempat-tempat demikian], ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<137>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Adalah bukan karena aku mampu mengetahui waktu [yang tepat] [untuk berdiam di tempat-tempat demikian] sehingga aku melenyapkan nafsu indria, kemarahan, dan delusi. Seumpamanya bahwa seseorang tidak mampu mengetahui waktu [yang tepat] [untuk berdiam di tempat-tempat demikian] [tetapi] ia berlatih Dharma sesuai dengan Dharma, mengikuti Dharma, mematuhi arah Dharma, dan maju sejalan dengan Dharma. Karena hal ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang tertentu mencapai jhāna pertama, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Karena ia telah mencapai jhāna pertama, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Sang Bhagavā telah mengatakan bahwa jhāna pertama adalah yang berjenis tak terukur; [namun,] jika seseorang mengukurnya, itu akan menjadi kemelekatan.<138> Karena [ketiadaan kemelekatan] ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”
Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Selanjutnya, seumpamanya bahwa seseorang orang tertentu mencapai jhāna kedua, ... ketiga, ... keempat, ... mencapai landasan ruang [tanpa batas], ... landasan kesadaran [tanpa batas], ... landasan kekosongan, ... landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, sementara itu orang lain tidak seperti itu. Karena ia telah mencapai landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi, ia memuji dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain. Ini adalah sifat seorang bukan manusia sejati.<139>

Seseorang yang memiliki sifat seorang manusia sejati merenungkan seperti ini: “Sang Bhagavā telah mengatakan bahwa landasan bukan-persepsi-juga-bukan-tanpa-persepsi adalah yang berjenis tak terukur; [namun,] jika seseorang mengukurnya, itu akan menjadi kemelekatan. Karena [ketiadaan kemelekatan] ini, ia [seharusnya] menerima sokongan dan penghormatan.”

Jika, berkembang dengan cara ini, ia mencapai Dharma sejati, tanpa memuji dirinya sendiri atau memandang rendah orang lain, maka ini adalah sifat seorang manusia sejati.

Para bhikkhu, ini adalah apa yang dimaksud dengan sifat seorang manusia sejati dan sifat seorang bukan manusia sejati. Kalian seharusnya mengetahui sifat seorang manusia sejati dan sifat seorang bukan manusia sejati. Setelah mengetahui sifat seorang manusia sejati dan sifat seorang bukan manusia sejati, meninggalkan sifat seorang bukan manusia sejati dan berlatih dalam sifat seorang manusia sejati. Kalian seharusnya berlatih seperti ini.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

78
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:27:08 PM »
84. Kotbah tentang Tanpa Duri<125>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī, di Aula Beratap Lancip di samping Kolam Monyet. Para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, para siswa agung, seperti Cāla, Upacāla, Bhadda, Ariṭṭha, Upariṭṭha, dan Yasa yang sangat dipuji,<126> para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, dan para siswa agung demikian juga sedang berdiam di Aula Beratap Lancip di samping Kolam Monyet. Mereka semua sedang tinggal di dekat Sang Buddha, di sebelah gubuk daun beliau.

Orang-orang Licchavi dari Vesālī mendengar bahwa Sang Bhagavā sedang berdiam di Vesālī di Aula Beratap Lancip di samping Kolam Monyet. Mereka berpikir, “Biarlah kita, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan kita, dengan nyaring bernyanyi, pergi ke luar Vesālī dan mendekati Sang Buddha untuk memberikan penghormatan.”

Kemudian, para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, para siswa agung itu, mendengar bahwa orang-orang Licchavi, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan mereka, dan dengan nyaring bernyanyi, sedang keluar dari Vesālī untuk mendekati Sang Buddha dan memberikan penghormatan. Mereka berpikir, “Kebisingan adalah duri bagi jhāna. Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kebisingan adalah duri bagi jhāna. Marilah kita sebaiknya pergi ke Hutan Gosiṅga. Dengan berdiam di sana kita tidak akan terganggu, dan akan tinggal terasing dan sendirian untuk duduk bermeditasi.” Para sesepuh senior yang terkemuka dan baik, para siswa agung itu, pergi ke Hutan Gosiṅga. Di sana, tidak terganggu, mereka tinggal terasing dan sendirian untuk duduk bermeditasi.

Pada waktu itu orang-orang Licchavi dari Vesālī, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan mereka, dengan nyaring bernyanyi, pergi ke luar Vesālī dan mendekati Sang Buddha untuk memberikan penghormatan.<127> Beberapa orang Licchavi dari Vesālī memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi; beberapa merentangkan tangan mereka dengan telapak tangan yang disatukan terhadap Sang Buddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi; dan beberapa, yang melihat Sang Buddha dari jauh, tetap berdiam diri, dan duduk.

Kemudian, ketika sejumlah besar orang Licchavi dari Vesālī semuanya telah menenangkan diri, Sang Bhagavā mengajarkan mereka Dharma. Beliau mendorong dan menginspirasi mereka, dengan sepenuhnya menggembirakan mereka, mengajarkan Dharma dengan tak terhitung cara terampil. Setelah mendorong dan menginspirasi mereka, dan sepenuhnya menggembirakan mereka, beliau berdiam diri. Kemudian sejumlah besar orang Licchavi dari Vesālī, setelah diajarkan Dharma oleh Sang Bhagavā, setelah didorong, terinspirasi, dan sepenuhnya bergembira, bangkit dari tempat duduk mereka, memberikan penghormatan dengan kepala mereka pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi.

Segera setelah orang-orang Licchavi dari Vesālī pergi, Sang Bhagavā bertanya kepada para bhikkhu, “Ke manakah para sesepuh senior, para siswa agung, pergi?”

Para bhikkhu menjawab:

Sang Bhagavā, para sesepuh senior, para siswa agung, mendengar bahwa orang-orang Licchavi dari Vesālī, dengan kekuatan besar dan keagungan kerajaan mereka, dengan nyaring bernyanyi, sedang keluar dari Vesālī untuk mendekati Sang Buddha dan memberikan penghormatan. Mereka berpikir, “Kebisingan adalah duri bagi jhāna. Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kebisingan adalah duri bagi jhāna. Marilah kita sebaiknya pergi ke Hutan Gosiṅga. Dengan berdiam di sana kita tidak akan terganggu, dan akan tinggal terasing dan sendiri untuk duduk bermeditasi.” Sang Bhagavā, para sesepuh senior, para siswa agung itu, semuanya pergi ke sana bersama-sama.

Ketika mendengar hal ini, Sang Bhagavā memuji mereka, dengan berkata:

Bagus, bagus bahwa para sesepuh senior, para siswa agung, seharusnya berkata seperti ini: “Kebisingan adalah duri bagi jhāna. Sang Bhagavā telah menyatakan bahwa kebisingan adalah duri bagi jhāna.” Mengapakah demikian? Aku memang benar berkata seperti ini, [Kebisingan sesungguhnya adalah] duri bagi jhāna.

Bagi seseorang yang menjaga moralitas, pelanggaran moralitas adalah duri; bagi seseorang yang menjaga indria-indria, hiasan jasmani adalah duri; bagi seseorang yang mengembangkan [persepsi] kejijikan, penampakan kemurnian adalah duri; bagi seseorang yang mengembangkan cinta kasih, kemarahan adalah duri; bagi seseorang yang menghindari diri dari minuman keras, meminum minuman keras adalah duri; bagi seseorang yang menjalankan kehidupan selibat, melihat pada bentuk wanita adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna pertama, kebisingan adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna kedua, kesadaran [terarah] dan perenungan [berkelanjutan] (vitakka-vicāra) adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna ketiga, sukacita adalah duri; bagi seseorang yang memasuki jhāna keempat, napas masuk dan napas keluar adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan ruang [tanpa batas], persepsi bentuk adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan kesadaran [tanpa batas], persepsi ruang [tanpa batas] adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan kekosongan, persepsi landasan kesadaran [tanpa batas] adalah duri; bagi seseorang yang memasuki landasan [bukan-persepsi-juga-bukan-]tanpa-persepsi, persepsi landasan kekosongan adalah duri; bagi seseorang yang memasuki konsentrasi dengan pelenyapan persepsi dan perasaan, persepsi dan perasaan adalah duri.<128>

Selanjutnya, terdapat tiga duri: duri nafsu, duri kemarahan, dan duri ketidaktahuan. Seorang arahant, yang telah melenyapkan noda-noda telah memotong tiga duri ini, mengetahui bahwa mereka telah mencabut sampai ke akarnya dan menghancurkannya sehingga mereka tidak akan muncul kembali. Yaitu, seorang arahant adalah tanpa duri; seorang arahant terpisahkan dari duri; [demikianlah] seorang arahant adalah tanpa duri dan terpisahkan dari duri.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

79
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:25:08 PM »
83. Kotbah tentang Rasa Kantuk Seorang Sesepuh yang Sangat Dihormati<118>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha, yang sedang berdiam di antara orang-orang Bhagga, sedang tinggal di Lembah Buaya di Taman Rusa di Hutan Bhesakaḷā.

Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna, yang sedang berdiam di negeri Magadha, sedang tinggal di desa Kallavāḷamutta. Kemudian Yang Mulia Mahāmoggallāna, ketika duduk bermeditasi di tempat yang terpencil dan sunyi, merasa mengantuk. Sang Bhagavā menyadari dari kejauhan bahwa Yang Mulia Mahāmoggallāna, yang sedang duduk bermeditasi di tempat yang terpencil dan sunyi, merasa mengantuk. Setelah menyadari hal ini, Sang Bhagavā memasuki konsentrasi yang sesuai sedemikian sehingga, dengan konsentrasi yang sesuai ini, [semudah dan secepat] seperti seseorang yang kuat dapat membengkokkan atau meluruskan lengannya, beliau lenyap dari Taman Rusa di Hutan Bhesakaḷā di Lembah Buaya di antara orang-orang Bhagga dan muncul di hadapan Yang Mulia Mahāmoggallāna di desa Kallavāḷamutta di negeri Magadha.

Kemudian Sang Bhagavā bangkit dari [keadaan] konsentrasi dan berkata, “Mahāmoggallāna, engkau terjebak dalam rasa kantuk. Mahāmoggallāna, engkau terjebak dalam rasa kantuk.”

Yang Mulia Mahāmoggallāna berkata kepada Sang Bhagavā, “Ya, benar, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata lebih lanjut:

Mahāmoggallāna, apa pun [meditasi] tanda (nimitta) yang membuatmu terjebak dalam rasa kantuk, janganlah mengembangkan tanda itu, janganlah berulang-ulang melakukannya. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya mengulangi secara penuh ajaran-ajaran seperti yang telah sebelumnya engkau dengar dan ingat. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya menjelaskan secara penuh kepada orang lain ajaran-ajaran seperti yang telah sebelumnya engkau dengar dan ingat. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya mempertimbangkan dan merenungkan dalam pikiranmu tentang ajaran-ajaran seperti yang telah sebelumnya engkau dengar dan ingat. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.<119>

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya menarik cuping telinga dengan kedua tangan. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya membasuh wajah dan matamu dengan air dingin dan memercikkan tubuhmu dengannya. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya pergi ke luar tempat kediaman, melihat keempat arah dan menatap konstelasi-konstelasi. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.<120>

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya pergi ke luar tempat kediaman, berjalan di depannya, dan berlatih meditasi berjalan di ruang terbuka, dengan indria-indriamu terjaga dan pikiran dengan tenang berkembang di dalamnya, dengan menyadari apa yang berada di depan dan di belakang. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya meninggalkan meditasi berjalan, berjalan menuju akhir jalur meditasi, membentangkan alas dudukmu, dan duduk bersila. Dengan cara ini rasa kantuk dapat diatasi.<121>

Jika karena suatu alasan rasa kantukmu tidak teratasi, Mahāmoggallāna, engkau seharusnya kembali ke tempat kediaman, melipat jubah luarmu menjadi empat dan membentangkannya di atas tempat tidur, melipat jubah dalam untuk digunakan sebagai bantal, dan berbaring pada sisi kanan, satu kaki di atas kaki lainnya, dengan membangkitkan persepsi cahaya dalam pikiran, mengembangkan perhatian benar dan pemahaman benar, terus-menerus dengan pikiran untuk bangun kembali.<122>

Mahāmoggallāna, janganlah memanjakan diri dalam berbaring dengan nyaman di tempat tidur. Janganlah menginginkan perolehan. Janganlah melekat pada kemasyhuran. Mengapakah demikian? Aku akan mengatakan kepadamu semua kondisi di mana seseorang tidak seharusnya berhubungan dengannya dan aku akan mengatakan kepadamu [kondisi-kondisi di mana] seseorang seharusnya berhubungan dengannya.<123> Mahāmoggallāna, apakah kondisi-kondisi yang kukatakan seseorang tidak seharusnya berhubungan dengannya? Mahāmoggallāna, berhubungan dekat dengan kondisi-kondisi cara duniawi yang biasa: aku katakan, bahwa seseorang tidak seharusnya berhubungan dengan kondisi-kondisi demikian. Mahāmoggallāna, dengan berhubungan dekat dengan kondisi-kondisi cara duniawi biasa, akan terdapat banyak pembicaraan. Jika terdapat banyak pembicaraan, terdapat kegelisahan. Jika terdapat kegelisahan, pikiran tidak tenang. Mahāmoggallāna, jika pikiran tidak tenang, maka pikiran kehilangan konsentrasi. Karena alasan ini, Mahāmoggallāna, aku katakan bahwa seseorang tidak seharusnya berhubungan dengan hal-hal ini.

Mahāmoggallāna, apakah kondisi-kondisi yang kukatakan seseorang seharusnya berhubungan dengannya? Mahāmoggallāna, tempat-tempat terpencil: aku katakan bahwa seseorang seharusnya berhubungan dengan kondisi-kondisi ini. Di bawah pepohonan dalam hutan gunung, tempat-tempat kosong dan tenang, tebing tinggi dan gua-gua berbatu tanpa kebisingan, tempat-tempat jauh yang bebas dari kejahatan, bebas dari orang-orang, tempat-tempat yang kondusif untuk meditasi: Mahāmoggallāna, aku katakan bahwa seseorang seharusnya berhubungan dengan kondisi-kondisi ini.

Mahāmoggallāna, jika engkau memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan, engkau seharusnya melakukan demikian [dengan pikiran] yang kecewa dengan perolehan, kecewa dengan persembahan dan penghormatan. Hanya ketika pikiranmu telah menjadi kecewa dengan perolehan, persembahan, dan penghormatan engkau seharusnya memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan. Mahāmoggallāna, janganlah memasuki desa untuk mengumpulkan dana makanan dengan pikiran yang bangga. Mengapakah demikian? Para keluarga perumah tangga sibuk dengan urusan-urusan rumah tangga dan ketika seorang bhikkhu datang mengumpulkan dana makanan, seorang perumah tangga mungkin tidak memperhatikannya. Kemudian bhikkhu itu berpikir, “Siapakah yang merusak [hubungan]ku dengan perumah tangga dalam rumah ini? Mengapakah demikian? Ketika aku memasuki rumah sang perumah tangga, perumah tangga itu tidak memperhatikan[ku].” Karena hal ini kesedihan muncul; karena kesedihan, terdapat kegelisahan; karena kegelisahan, pikiran tidak tenang; dan karena pikiran tidak tenang, pikiran kehilangan konsentrasi.

Mahāmoggallāna, ketika engkau mengajarkan Dharma, janganlah berbicara dengan cara yang menyebabkan perselisihan. Jika terdapat perselisihan, akan terdapat banyak pembicaraan. Karena banyak pembicaraan, kegelisahan muncul; karena kegelisahan, pikiran tidak tenang; dan karena pikiran tidak tenang, pikiran kehilangan konsentrasi.

Mahāmoggallāna, ketika engkau mengajarkan Dharma, janganlah bersifat memaksa tetapi ajarkan Dharma [tanpa gentar] bagaikan seekor singa. Mahāmoggallāna, ketika engkau mengajarkan Dharma, ajarkanlah dengan rendah hati; meninggalkan paksaan, melenyapkan paksaan, menghancurkan paksaan. Ajarkanlah Dharma tanpa memaksa, ajarkanlah Dharma [tanpa gentar] bagaikan seekor singa. Mahāmoggallāna, engkau seharusnya berlatih seperti ini.

Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya untuk memperlihatkan satu bahu, merentangkan telapak tangannya yang disatukan terhadap Sang Buddha, dan berkata, “Sang Bhagavā, bagaimanakah seorang bhikkhu mencapai yang tertinggi, kemurnian tertinggi, kehidupan suci tertinggi, penyelesaian tertinggi kehidupan suci?”

Sang Bhagavā berkata:<124>

Mahāmoggallāna, jika seorang bhikkhu mengalami perasaan menyenangkan, perasaan menyakitkan, atau perasaan netral, ia merenungkan perasaan ini sebagai tidak kekal, ia merenungkan muncul dan lenyapnya, penghancurannya, pemudarannya, pelenyapannya, dan pelepasannya. Setelah merenungkan perasaan sebagai tidak kekal, setelah merenungkan muncul dan lenyapnya, penghancurannya, pemudarannya, pelenyapannya, dan pelepasannya, ia tidak melekat pada dunia ini; karena tidak melekat pada dunia, ia tidak lelah; karena tidak lelah, ia mencapai nirvana akhir dan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Mahāmoggallāna, dengan cara ini seorang bhikkhu mencapai yang tertinggi, kemurnian tertinggi, kehidupan suci tertinggi, penyelesaian tertinggi kehidupan suci.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Mahāmoggallāna bergembira dan menerimanya dengan hormat.

80
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:22:15 PM »

Kemudian, tak lama setelah itu, bhikkhu Citta Hatthisāriputta meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan. Teman-teman dekat bhikkhu Citta Hatthisāriputta, setelah mendengar bahwa bhikkhu Citta Hatthisāriputta telah meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan, mendekati Yang Mulia Mahākoṭṭhita. Setelah mendekatinya, mereka berkata:

Yang Mulia Mahākoṭṭhita, apakah engkau memiliki pengetahuan atas pikiran bhikkhu Citta Hatthisāriputta atau apakah engkau mengetahuinya dengan suatu cara lain? Mengapakah demikian? Bhikkhu Citta Hatthisāriputta baru saja meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan.

Yang Mulia Mahākoṭṭhita berkata kepada teman-teman dekat [bhikkhu Citta Hatthisāriputta]:

Teman-teman yang mulia, pasti terjadi seperti ini. Mengapakah demikian? Karena [Citta Hatthisāriputta] tidak mengetahui [hal-hal] sebagaimana adanya, tidak melihat [hal-hal] sebagaimana adanya. Mengapakah demikian? Ini hanya karena tidak mengetahui hal-hal sebagaimana adanya, tidak melihat [hal-hal] sebagaimana adanya.<117>

Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Mahākoṭṭhita. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Mahākoṭṭhita, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

81
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:21:59 PM »
82. Kotbah tentang [Mendengar Suara] Jangkrik<111>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha, di Hutan Bambu di Tempat Perlindungan Tupai.

Pada waktu itu, setelah makan siang, banyak bhikkhu sedang duduk bersama di aula pertemuan untuk suatu masalah sepele. Mereka ingin menyelesaikan masalah perselisihan pendapat, yaitu, mendiskusikan Dharma dan disiplin, ajaran Sang Buddha. Pada waktu itu bhikkhu Citta Hatthisāriputta berada di antara perkumpulan itu. Kemudian, ketika banyak bhikkhu sedang mendiskusikan Dharma dan disiplin, ajaran Sang Buddha, bhikkhu Citta Hatthisāriputta terus-menerus menyela tanpa menunggu para bhikkhu itu menyelesaikan apa yang mereka katakan tentang Dharma, dengan tidak hormat dan tanpa pertimbangan mempertanyakan para bhikkhu senior yang sangat dihormati tersebut.

Pada waktu itu, Yang Mulia Mahākoṭṭhita berada di antara perkumpulan itu. Kemudian Yang Mulia Mahākoṭṭhita berkata kepada bhikkhu Citta Hatthisāriputta:

Teman yang mulia, engkau seharusnya mengetahui bahwa ketika banyak bhikkhu sedang membicarakan tentang Dharma dan disiplin, ajaran Sang Buddha, engkau seharusnya tidak menyela. Hanya jika para bhikkhu telah menyelesaikan apa yang harus mereka katakan, engkau dapat berbicara. Engkau seharusnya bersikap hormat dan penuh pertimbangan dalam mempertanyakan para bhikkhu senior yang sangat dihormati. Janganlah tidak hormat atau tanpa pertimbangan dalam mempertanyakan para bhikkhu senior yang sangat dihormati.

Pada waktu itu semua teman dekat bhikkhu Citta Hatthisāriputta berada di antara perkumpulan itu. Kemudian teman-teman dekat bhikkhu Citta Hatthisāriputta berkata kepada Yang Mulia Mahākoṭṭhita:

Yang Mulia Mahākoṭṭhita, engkau tidak seharusnya dengan keras menegur bhikkhu Citta Hatthisāriputta. Mengapakah demikian? Bhikkhu Citta Hatthisāriputta adalah baik dan terpelajar. Ia mungkin tampak malas tetapi ia tidak angkuh. Yang Mulia Mahākoṭṭhita, bhikkhu Citta Hatthisāriputta dapat membantuk para bhikkhu lain dari waktu ke waktu [dalam diskusi mereka].

Atas hal ini Yang Mulia Mahākoṭṭhita berkata kepada teman-teman dekat bhikkhu Citta Hatthisāriputta:

Teman-teman yang mulia, seseorang yang tidak memiliki pengetahuan atas pikiran orang lain tidak dapat dengan sembarangan menyatakan siapakah yang benar atau salah. Mengapakah demikian? Mungkin terdapat seseorang yang, ketika ia berada di hadapan Sang Bhagavā dan teman-teman senior yang sangat dihormati dalam kehidupan suci, bertindak dengan kerendahan hati, dengan perilaku yang menyenangkan dan menimbulkan rasa hormat, yang terkekang dengan baik dan terkendali dengan baik. Namun pada waktu belakangan, ketika ia pergi dari hadapan Sang Bhagavā dan teman-teman senior yang sangat dihormati dalam kehidupan suci, ia tidak lagi bertindak dengan kerendahan hati dan dengan perilaku yang menyenangkan dan menimbulkan rasa hormat.

Ia banyak bergaul dengan para umat awam,<112> membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan.

Teman-teman yang mulia, [seorang bhikkhu demikian] bagaikan seekor sapi jantan yang memasuki lahan orang lain. Penjaga lahan menangkap dan mengikatnya dengan tali atau menempatkannya di dalam kandang. Teman-teman yang mulia, jika seseorang berkata, “Sapi jantan ini tidak akan lagi memasuki lahan orang lain,” apakah itu dikatakan dengan benar?

Mereka menjawab:

Tidak. Mengapakah demikian? Sapi jantan itu mungkin merusak atau melepaskan tali di mana ia diikat, atau mungkin merusak atau keluar dari kandang di mana ia dikurung dan masuk lagi ke lahan orang lain, seperti sebelumnya.

[Mahākoṭṭhita berkata:]

[Dengan cara yang sama,] teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang, ketika berada di hadapan Sang Bhagavā dan teman-teman senior yang sangat dihormati dalam kehidupan suci, bertindak dengan kerendahan hati, dengan perilaku yang menyenangkan dan menimbulkan rasa hormat, yang terkekang dengan baik dan terkendali dengan baik. Namun pada waktu belakangan, ketika ia pergi dari hadapan Sang Bhagavā dan teman-teman senior yang sangat dihormati dalam kehidupan suci, ia tidak lagi bertindak dengan kerendahan hati dan dengan perilaku yang menyenangkan dan menimbulkan rasa hormat. Ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan. Teman-teman yang mulia, ini adalah satu jenis orang.

Selanjutnya, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna pertama. Setelah mencapai jhāna pertama, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut, berkeinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan.

Teman-teman yang mulia, seperti halnya ketika terjadi hujan lebat dan kolam desa menjadi penuh dengan air. Sebelumnya seseorang dapat melihat [dalam kolam itu] pasir, bebatuan, tumbuhan, kumbang, ikan, kura-kura, kodok, dan semua jenis makhluk yang berdiam dalam air, ketika mereka pergi ke sana kemari, bergerak atau tetap berdiam diri. Setelah itu, ketika [kolam itu] penuh dengan air, ia tidak melihatnya lagi. Teman-teman yang mulia, jika seseorang mengatakan, “Dalam kolam desa ini seseorang tidak akan pernah melihat lagi pasir, bebatuan, tumbuhan, kumbang, ikan, kura-kura, kodok, dan semua jenis makhluk yang berdiam dalam air ketika mereka pergi ke sana kemari, bergerak, atau tetap berdiam diri,” apakah itu dikatakan dengan benar?<113>

Mereka menjawab:

Tidak. Mengapa demikian? Gajah mungkin minum dari kolam itu; kuda, unta, sapi, keledai, babi, rusa, atau kerbau air mungkin minum air darinya. Orang-orang mungkin mengambil air darinya untuk mereka pakai, angin mungkin meniupnya dan matahari mungkin mengeringkannya. Bahkan jika seseorang sebelumnya tidak melihat [dalam kolam itu] pasir, bebatuan, tumbuhan, kumbang, ikan, kura-kura, kodok, dan semua jenis makhluk yang berdiam dalam air, ketika mereka pergi ke sana kemari, bergerak atau tetap berdiam diri, belakangan, ketika air telah berkurang, ia melihatnya lagi, seperti sebelumnya.

[Mahākoṭṭhita berkata:]

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna pertama. Setelah mencapai jhāna pertama, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan. Teman-teman yang mulia, ini adalah satu jenis orang.

Selanjutnya, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna kedua. Setelah mencapai jhāna kedua, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan.

Teman-teman yang mulia, seperti halnya selama waktu sering turun hujan, semua debu pada persimpangan jalan menjadi berlumpur.<114> Teman-teman yang mulia, jika seseorang mengatakan, “Lumpur pada persimpangan jalan ini tidak akan pernah kering dan tidak akan menjadi debu lagi,” apakah itu dikatakan dengan benar?

Mereka menjawab:

Tidak. Mengapakah demikian? Gajah mungkin berjalan pada persimpangan jalan ini, atau kuda, unta, sapi, keledai, babi, rusa, kerbau air, atau orang-orang mungkin berjalan pada persimpangan jalan ini; angin mungkin meniupnya atau matahari mungkin mengeringkannya. [Ketika] lumpur pada persimpangan jalan itu telah mengering, ia akan menjadi debu lagi.

[Mahākoṭṭhita berkata:]

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna kedua. Setelah mencapai jhāna kedua, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan. Teman-teman yang mulia, ini adalah satu jenis orang.

Selanjutnya, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna ketiga. Setelah mencapai jhāna ketiga, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan.

Teman-teman yang mulia, seperti halnya sebuah danau [yang disediakan] air dari sebuah mata air gunung, yang jernih dan murni, dengan pantai yang rata, tenang, tanpa gejolak dan tanpa gelombang. Teman-teman yang mulia, jika seseorang berkata, “Danau itu [yang disediakan] air dari sebuah mata air gunung tidak akan pernah lagi bergejolak dan tidak akan [lagi] memiliki gelombang apa pun,” apakah itu dikatakan dengan benar?<115>

Mereka menjawab:

Tidak. Mengapakah demikian? Angin kencang mungkin tiba-tiba datang dari arah timur dan bertiup pada [permukaan] air danau itu, yang membangkitkan gelombang. Dengan cara yang sama, angin kencang mungkin tiba-tiba datang dari arah selatan, dari arah barat, atau dari arah utara dan bertiup pada [permukaan] air danau itu, yang membangkitkan gelombang.

[Mahākoṭṭhita berkata:]

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna ketiga. Setelah mencapai jhāna ketiga, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan. Teman-teman yang mulia, ini adalah satu jenis orang.

Selanjutnya, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna keempat. Setelah mencapai jhāna keempat, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan.

Teman-teman yang mulia, seperti halnya ketika seorang perumah tangga atau seorang putra perumah tangga makan makanan yang lezat sampai ia kenyang. Sebelumnya ia ingin makan tetapi sekarang ia tidak lagi ingin makan lebih banyak.<116> Teman-teman yang mulia, jika seseorang berkata, “Perumah tangga atau putra perumah tangga itu tidak akan pernah lagi ingin mendapatkan makanan,” apakah itu dikatakan dengan benar?

Mereka menjawab:

Tidak. Mengapakah demikian? Perumah tangga atau putra perumah tangga itu akan menjadi lapar lagi dalam semalam. [Bahkan] jika ia sebelumnya tidak lagi membutuhkan makanan [setelah baru saja makan], belakangan ia akan ingin lagi mendapatkan beberapa makanan.

[Mahākoṭṭhita berkata:]

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai jhāna keempat. Setelah mencapai jhāna keempat, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan. Teman-teman yang mulia, ini adalah satu jenis orang.

Selanjutnya, teman-teman yang mulia, mungkin terdapat seseorang yang mencapai konsentrasi pikiran tanpa tanda (animitta cetosamādhi). Setelah mencapai konsentrasi pikiran tanpa tanda, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan.

Teman-teman yang mulia, seperti halnya ketika dalam sebuah hutan seseorang dapat mendengar suara jangkrik. Jika raja atau para menteri senior raja tinggal semalam dalam hutan itu, akan terdapat suara gajah, kuda, kereta, orang-orang yang berjalan, [terompet dari] kulit kerang, genderang, genderang kecil, genderang samping, tarian, nyanyian, kecapi, [orang-orang yang] minum, dan makan. Suara jangkrik yang sebelumnya dapat didengar tidak lagi terdengar. Teman-teman yang mulia, jika seseorang berkata, “Dalam hutan ini seseorang tidak akan pernah lagi mendengar suara jangkrik,” apakah itu dikatakan dengan benar?

Mereka menjawab:

Tidak. Mengapakah demikian? Setelah tinggal semalam, ketika fajar raja dan para menteri senior raja semuanya akan kembali ke tempat mereka [masing-masing]. Suara-suara yang dapat didengar seseorang dari gajah, kuda, kereta, orang-orang yang berjalan, [terompet dari] kulit kerang, genderang, genderang kecil, genderang samping, tarian, nyanyian, kecapi, [orang-orang yang] makan, dan minum, di mana karenanya seseorang tidak dapat mendengar suara jangkrik, akan lenyap dan ia akan mendengar [jangkrik itu] lagi seperti sebelumnya.

[Mahākoṭṭhita berkata:]

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, [mungkin terdapat seseorang yang] mencapai konsentrasi pikiran tanpa tanda. Setelah mencapai konsentrasi pikiran tanpa tanda, ia tetap merasa puas dengan hal itu dan tidak berjuang lebih lanjut dengan keinginan untuk mencapai apa yang belum dicapai, untuk memperoleh apa yang belum diperoleh, untuk merealisasikan apa yang belum direalisasikan. Pada waktu belakangan, ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh. Ketika ia banyak bergaul dengan para umat awam, membuat candaan, angkuh, dan terlibat dalam berbagai jenis pembicaraan yang riuh, nafsu muncul dalam pikirannya. Setelah nafsu muncul dalam pikirannya, jasmani dan batin menjadi penuh nafsu. Jasmani dan batin menjadi penuh nafsu, ia meninggalkan aturan-aturan moralitas dan berhenti [berlatih] sang jalan. Teman-teman yang mulia, ini adalah satu jenis orang.

82
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:17:48 PM »
[Selanjutnya, seorang bhikkhu,] dengan menggunakan kebijaksanaan dan pandangan terang, memahami noda-noda dan melenyapkannya. Setelah melenyapkan semua noda, ia mencapai pembebasan pikiran yang tanpa noda-noda dan pembebasan melalui kebijaksanaan, dengan mengetahui dan merealisasinya oleh dirinya sendiri di sini dan saat ini; dan ia berdiam setelah secara pribadi merealisasinya, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan mengalami kelangsungan lain!” Inilah yang disebut manfaat kedelapan belas mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.

Mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, berulang-ulang melakukannya seperti ini, seharusnya dipahami membawa delapan belas manfaat ini.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

83
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:17:34 PM »
Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu merenungkan jasmani [sebagai terbentuk dari] unsur-unsur: “Dalam jasmaniku ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran.”<101>

Seperti halnya seorang tukang daging, setelah menyembelih dan menguliti seekor sapi, dapat membaginya menjadi enam bagian dan menghamparkannya di atas tanah [untuk menjualnya]. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu merenungkan jasmani [sebagai terbentuk dari] unsur-unsur: “Dalam jasmaniku ini terdapat unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur angin, unsur ruang, dan unsur kesadaran.”

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu merenungkan sesosok mayat yang meninggal selama satu hari, atau dua, atau sampai dengan enam atau tujuh hari, yang dipatuk oleh burung gagak, dimangsa oleh anjing hutan dan serigala, terbakar oleh api, atau dikuburkan dalam tanah,<102> atau [sesosok mayat] yang sepenuhnya membusuk dan terurai. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan [mayat itu]: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seperti ia sebelumnya telah melihat [sesosok mayat] di tanah pekuburan, seorang bhikkhu [mengingat] bangkai berwarna kebiruan, yang terurai dan setengah dimakan [oleh hewan], dengan tulang yang tergeletak di atas tanah masih tersambung bersama. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan [mayat itu]: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seperti ia sebelumnya telah melihat [sesosok kerangka] di tanah pekuburan, seorang bhikkhu [mengingatnya] tanpa kulit, daging, atau darah, yang dipertahankan bersama hanya oleh urat. Melihat hal ini, ia membandingkan dirinya sendiri dengan [kerangka itu]: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seperti ia sebelumnya telah melihat [tulang-tulang] di tanah pekuburan, seorang bhikkhu [mengingat] tulang-tulang yang tidak tersambung berserakan ke segala arah: tulang kaki, tulang kering, tulang paha, tulang panggul, tulang belakang, tulang bahu, tulang leher, tulang tengkorak, semuanya di tempat-tempat yang berbeda. Melihat hal ini, ia membandingkan jasmaninya sendiri dengan [tulang-tulang itu]: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seperti ia sebelumnya telah melihat [tulang-tulang] di tanah pekuburan, seorang bhikkhu [mengingat] tulang-tulang yang berwarna putih seperti kulit kerang, atau kebiruan seperti warna seekor burung merpati, atau merah seakan-akan berlumuran darah, yang membusuk dan terurai, hancur menjadi debu. Melihat hal ini, ia membandingkan jasmaninya sendiri dengan [tulang-tulang itu]: “Jasmaniku sekarang ini juga seperti ini. Ia memiliki sifat yang sama dan pada akhirnya tidak dapat lolos [dari takdir ini].”

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Jika perhatian pada jasmani dikembangkan seperti ini, berulang-ulang dilakukan seperti ini, maka semua keadaan yang bermanfaat – yaitu, keadaan-keadaan yang berhubungan dengan pencerahan (bodhipakkhiya) – terkandung di dalamnya. Apa pun keadaan pikiran yang ia tekadkan [untuk dicapai] mencapai penyelesaian. Ini dapat dibandingkan dengan samudera raya: semua sungai kecil pada akhirnya tertampung dalam samudera. Jika perhatian pada jasmani dikembangkan seperti ini, berulang-ulang dilakukan seperti ini, maka semua keadaan yang bermanfaat terkandung di dalamnya, yaitu, keadaan-keadaan yang berhubungan dengan pencerahan.

Jika terdapat para pertapa dan brahmana yang tidak mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pasti akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu tidak memiliki perhatian pada jasmani.<103>

Seperti halnya terdapat sebuah kendi air kosong yang ditempatkan dengan mantap tegak lurus di atas tanah, dan seseorang membawa air dan menuangkannya ke dalam kendi itu. Apakah yang kalian pikirkan, para bhikkhu: dalam keadaan ini, akankah kendi itu menampung air tersebut?

Para bhikkhu menjawab:

Sang Bhagavā, kendi itu akan menampungnya. Mengapakah demikian? Karena [kendi itu] kosong, tanpa air, dan berdiri tegak lurus di atas tanah, ia pasti akan menampung [air itu].

[Sang Buddha berkata:]

Dengan cara yang sama, jika terdapat para pertapa dan brahmana yang tidak mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang terbatas, maka Māra, Si Jahat, dalam mencari kesempatan dengan mereka, pasti akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu tidak memiliki perhatian pada jasmani.

Jika terdapat para pertapa dan brahmana yang telah mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang tak terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pada akhirnya tidak akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu memiliki perhatian pada jasmani.

Seperti halnya terdapat sebuah kendi air yang penuh dengan air, ditempatkan dengan mantap tegak lurus di atas tanah, dan seseorang membawa air dan menuangkannya ke dalam kendi itu. Apakah yang kalian pikirkan, para bhikkhu, dalam keadaan ini, akankah kendi itu menampung [lebih banyak] air?

Para bhikkhu menjawab:

Tidak, Sang Bhagavā. Mengapakah demikian? Karena [kendi itu] [sudah] penuh dengan air, berdiri dengan mantap tegak lurus di atas tanah, sehingga ia pasti tidak akan menampung [lebih banyak air lagi].

[Sang Buddha berkata:]

Dengan cara yang sama, jika terdapat para pertapa dan brahmana yang telah mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang tak terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pada akhirnya tidak akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu memiliki perhatian pada jasmani.

Jika terdapat para pertapa dan brahmana yang tidak mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pasti akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu tidak memiliki perhatian pada jasmani.

Seperti halnya seseorang yang kuat akan melempat sebongkah batu yang berat dan besar pada sekumpulan lumpur basah. Apakah yang kalian pikirkan, para bhikkhu, akankah [batu itu] menembus lumpur itu?

Para bhikkhu menjawab:

[Batu itu] akan menembus [lumpur itu], Sang Bhagavā. Mengapakah demikian? Lumpur itu basah dan batu itu berat; oleh sebab itu [batu itu] pasti akan menembus [lumpur itu].

[Sang Buddha berkata:]

Dengan cara yang sama, jika terdapat para pertapa dan brahmana yang tidak mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pasti akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu tidak memiliki perhatian pada jasmani.

Jika terdapat para pertapa dan brahmana yang telah mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang tak terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pada akhirnya tidak akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu memiliki perhatian pada jasmani.

Seperti halnya seseorang yang kuat akan melemparkan sebuah bola ringan yang terbuat dari rambut pada sebuah pintu lurus. Apakah yang kalian pikirkan, para bhikkhu, akankah [bola rambut itu] menembus [pintu itu]?

Para bhikkhu menjawab:

[Bola rambut itu] tidak akan menembus [pintu itu], Sang Bhagavā. Mengapakah demikian? Bola yang terbuat dari rambut adalah ringan dan lunak, sedangkan pintu berdiri lurus,<104> oleh sebab itu [bola rambut itu] pasti tidak akan menembus [pintu itu].

Sang Buddha berkata:

Dengan cara yang sama, jika terdapat para pertapa dan brahmana yang telah mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang tak terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pada akhirnya tidak akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu memiliki perhatian pada jasmani.

Jika terdapat para pertapa dan brahmana yang tidak mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pasti akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu tidak memiliki perhatian pada jasmani.

Seperti halnya seseorang yang ingin membuat api dengan sepotong kayu yang kering sebagai landasan dan menggereknya dengan penggerek yang kering. Apakah yang kalian pikirkan, para bhikkhu, akankah orang itu akan mendapatkan api dengan cara ini?

Para bhikkhu menjawab, “Ia akan mendapatkan [api], Sang Bhagavā. Mengapakah demikian? Karena ia menggunakan penggerek yang kering untuk menggerek landasan kayu yang kering, ia pasti akan mendapatkan [api].”

[Sang Buddha berkata:]

Dengan cara yang sama, jika terdapat para pertapa dan brahmana yang tidak mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pasti akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu tidak memiliki perhatian pada jasmani.

Jika terdapat para pertapa dan brahmana yang telah mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang tak terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pada akhirnya tidak akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu memiliki perhatian pada jasmani.

Seperti halnya seseorang yang membutuhkan api menggunakan kayu yang lembab sebagai landasan dan menggereknya dengan penggerek yang lembab. Apakah yang kalian pikirkan, para bhikkhu, akankah orang itu mendapatkan api dengan cara ini?

Para bhikkhu menjawab, “Ia tidak akan mendapatkan [api], Sang Bhagavā. Mengapakah demikian? Karena ia menggunakan penggerek yang lembab untuk menggerek kayu yang lembab, ia tidak akan mendapatkan [api].”

[Sang Buddha berkata:]

Dengan cara yang sama, jika terdapat para pertapa dan brahmana yang telah mengembangkan dengan benar perhatian pada jasmani, yang berdiam dengan pikiran yang tak terbatas, maka Māra, Si Jahat, ketika mencari kesempatan dengan mereka, pada akhirnya tidak akan mendapatkannya. Mengapakah demikian? Karena para pertapa dan brahmana itu memiliki perhatian pada jasmani.<105>

Mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, berulang-ulang melakukannya seperti ini, seharusnya dipahami membawa delapan belas manfaat.<106> Apakah delapan belas hal itu? Seorang bhikkhu dapat menahan rasa lapar dan hangus, dingin dan panas, nyamuk, serangga pengganggu, lalat, kutu, diserang oleh angin dan matahari, dicaci secara ucapan, dan dipukuli dengan tongkat – ia dapat menahan [semua ini]. [Bahkan jika] jasmaninya menderita penyakit yang menyebabkan kesakitan yang sedemikan luar biasa sehingga kehidupannya akan berakhir – apa pun yang tidak menyenangkan, ia dapat menahannya semua. Inilah yang disebut manfaat pertama mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.

Selanjutnya, seorang bhikkhu dapat menahan ketidakpuasan; jika ketidakpuasan muncul pikirannya tidak terjebak di dalamnya. Inilah yang disebut manfaat kedua mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.

Selanjutnya, seorang bhikkhu dapat menahan ketakutan; jika ketakutan muncul pikirannya tidak terjebak di dalamnya. Inilah yang disebut manfaat ketiga mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.

Selanjutnya, dalam diri seorang bhikkhu tiga [jenis] pikiran yang tidak bermanfaat dapat muncul – pikiran dengan nafsu, pikiran dengan kemarahan, dan pikiran mencelakai. Jika tiga [jenis] pikiran yang tidak bermanfaat ini muncul, pikirannya tidak terjebak di dalamnya. Inilah yang disebut manfaat keempat mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.<107>

Selanjutnya, seorang bhikkhu, terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan yang jahat dan tidak bermanfaat, ... sampai dengan berdiam setelah mencapai jhāna keempat. Inilah yang disebut manfaat kedelapan mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.<108>

Selanjutnya, seorang bhikkhu, melalui pelenyapan tiga belenggu, mencapai pemasuk-arus. Ia tidak akan jatuh ke keadaan-keadaan yang jahat dan pasti maju menuju pencerahan sempurna dalam paling banyak tujuh kehidupan lagi. Setelah melalui [paling banyak] tujuh kehidupan lagi di alam surga atau manusia,<109> ia akan mencapai akhir dukkha. Inilah yang disebut manfaat kesembilan mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.<108>

Selanjutnya, seorang bhikkhu yang telah melenyapkan tiga belenggu melemahkan nafsu indria, kemarahan, dan ketidaktahuan, dan mencapai yang sekali-kembali. Setelah melewati satu kehidupan lagi di alam surga atau manusia, ia akan mencapai akhir dukkha. Inilah yang disebut manfaat kesepuluh mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.

Selanjutnya, seorang bhikkhu yag telah melenyapkan lima belenggu yang lebih rendah akan terlahir kembali di alam lain dan di sana mencapai nirvana akhir, setelah mencapai kondisi yang tidak-kembali, dengan tidak kembali ke dunia ini. Inilah yang disebut manfaat kesebelas mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini, dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mencapai pembebasan yang damai yang melampaui bentuk, setelah mencapai yang tanpa bentuk, dan dengan konsentrasi yang sesuai berdiam setelah mencapainya. Inilah yang disebut manfaat kedua belas mengembangkan perhatian pada jasmani seperti ini,<110> dengan berulang-ulang melakukannya seperti ini.

Selanjutnya, seorang bhikkhu memperoleh kekuatan-kekuatan batin, telinga dewa, pengetahuan atas pikiran orang lain, pengetahuan atas kehidupan lampau, dan pengetahuan kelahiran dan kematian [makhluk-makhluk]. [Inilah yang disebut manfaat ketiga belas, keempat belas, kelima belas, keenam belas, dan ketujuh belas.]

84
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 07 October 2020, 08:11:11 PM »
81. Kotbah tentang Perhatian pada Jasmani<88>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha, yang sedang mengembara di negeri Anga dengan sekumpulan besar para bhikkhu, pergi menuju Āpaṇa, tempat kediaman Keṇiya [sang pemuja api].

Kemudian, ketika malam berlalu, saat fajar, Sang Bhagavā mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki Āpaṇa untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah makan siang, beliau menyimpan jubah dan mangkuknya, mencuci tangan dan kakinya, meletakkan alas duduknya di atas bahunya, dan pergi ke dalam hutan. Memasuki hutan itu, beliau pergi ke bawah sebatang pohon, membentangkan alas duduknya, dan duduk bersila.

Pada waktu itu, setelah makan siang, banyak bhikkhu sedang duduk bersama di aula pertemuan mendiskusikan topik ini:

Teman-teman yang mulia, adalah menakjubkan, adalah sangat luar biasa bagaimana Sang Bhagavā telah menjelaskan pengembangan perhatian pada jasmani, dengan berulang-ulang melakukannya melalui pengetahuan sepenuhnya, perenungan sepenuhnya, pengembangan sepenuhnya, dan sepenuhnya menjaganya, sebagai sesuatu yang dimiliki dengan baik, yang dilatih dengan baik dengan pikiran yang terpusat. Sang Buddha telah menyatakan perhatian pada jasmani demikian membawa buah yang besar: perolehan penglihatan dan kepemilikan penglihatan yang melihat manfaat tertinggi.
Pada waktu itu Sang Bhagavā, yang sedang duduk bermeditasi, dengan mata dewa yang dimurnikan yang melampaui mata manusia, mendengar para bhikkhu yang sedang duduk bersama di aula pertemuan setelah makan siang, mendiskusikan topik ini:

Teman-teman yang mulia, adalah menakjubkan, adalah sangat luar biasa bagaimana Sang Bhagavā telah menjelaskan pengembangan perhatian pada jasmani, dengan berulang-ulang melakukannya melalui pengetahuan sepenuhnya, perenungan sepenuhnya, pengembangan sepenuhnya, dan sepenuhnya menjaganya, sebagai sesuatu yang dimiliki dengan baik, yang dilatih dengan baik dengan pikiran yang terpusat. Sang Buddha telah menyatakan perhatian pada jasmani demikian membawa buah yang besar: perolehan penglihatan dan kepemilikan penglihatan yang melihat manfaat tertinggi.

Setelah mendengar hal ini, pada sore hari Sang Bhagavā bangkit dari duduk bermeditasi, mendekati aula pertemuan, dan duduk di hadapan sangha para bhikkhu pada tempat duduk yang telah dipersiapkan. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu, “Topik apakah yang sedang kalian diskusikan? Karena topik apakah kalian duduk bersama dalam aula pertemuan?”

Kemudian para bhikkhu menjawab:

Sang Bhagavā, kami para bhikkhu sedang duduk bersama di aula pertemuan setelah makan siang, mendiskusikan topik ini: “Teman-teman yang mulia, adalah menakjubkan, adalah sangat luar biasa bagaimana Sang Bhagavā telah menjelaskan pengembangan perhatian pada jasmani, dengan berulang-ulang melakukannya melalui pengetahuan sepenuhnya, perenungan sepenuhnya, pengembangan sepenuhnya, dan sepenuhnya menjaganya, sebagai sesuatu yang dimiliki dengan baik, yang dilatih dengan baik dengan pikiran yang terpusat. Sang Buddha telah menyatakan perhatian pada jasmani demikian membawa buah yang besar: perolehan penglihatan dan kepemilikan penglihatan yang melihat manfaat tertinggi.”

Sang Bhagavā, inilah topik yang sedang kami diskusikan. Adalah karena topik ini sehingga kami duduk bersama di aula pertemuan,

Sang Bhagavā berkata lagi kepada para bhikkhu, “Bagaimanakah aku menjelaskan bahwa pengembangan perhatian pada jasmani, dengan berulang-ulang melakukannya, akan membawa pada buah besar?”

Kemudian, para bhikkhu berkata kepada Sang Bhagavā:

Sang Bhagavā adalah sumber Dharma, Sang Bhagavā adalah guru Dharma, Dharma berasal dari Sang Bhagavā. Semoga beliau menjelaskannya! Setelah mendengarnya, kami akan mengetahui maknanya sepenuhnya.

Sang Buddha berkata, “Dengarkanlah dengan seksama dan perhatikan dengan baik! Aku akan menjelaskan maknanya kepada kalian.” Kemudian para bhikkhu mendengarkan untuk menerima pengajaran.

Sang Buddha berkata:<89>

Bagaimanakah seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani? Ketika berjalan, seorang bhikkhu mengetahui ia sedang berjalan; ketika berdiri, ia mengetahui ia sedang berdiri; ketika duduk, ia mengetahui ia sedang duduk; ketika berbaring, ia mengetahui ia sedang berbaring; ketika tidur, ia mengetahui ia sedang tidur; ketika bangun, ia mengetahui ia sedang bangun; ketika tidur atau bangun, ia mengetahui ia sedang tidur atau bangun.<90>

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahui seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam pada tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti ]yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.<91>

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Ketika pergi dan datang, seorang bhikkhu dengan jernih mengetahui, merenungkan, dan melihat [tindakannya] dengan baik; ketika membengkokkan atau meluruskan, menurunkan atau mengangkat [anggota tubuhnya yang mana pun], ia melakukannya dengan sikap yang seharusnya; ketika memakai jubah luarnya dan jubah lainnya serta [membawa] mangkuk[nya], ia melakukannya dengan tepat; ketika berjalan, berdiri, duduk, berbaring, tidur, bangun, berbicara, dan berdiam diri – semua [aktivitas ini] dengan jernih ia ketahui.<92>

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Ketika pikiran-pikiran jahat dan tidak bermanfaat muncul, seorang bhikkhu mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikannya dengan mengingat keadaan-keadaan bermanfaat.<93>

Seperti halnya seorang tukang kayu atau seorang murid tukang kayu dapat menerapkan seutas benang bertinta pada sepotong kayu [untuk menandai garis lurus] dan kemudian memotong kayu itu dengan sebuah kapak yang tajam untuk membuatnya lurus.<94> Dengan cara yang sama, ketika pikiran-pikiran jahat dan tidak bermanfaat muncul, seorang bhikkhu mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikannya dengan mengingat keadaan-keadaan bermanfaat.

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulut, seorang bhikkhu menggunakan [kekuatan kemauannya sendiri] untuk mengendalikan pikiran, untuk mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikan [pikiran-pikiran jahat].

Seperti halnya dua orang yang kuat dapat mencengkeram seseorang yang lemah dan, dengan membalikkannya dengan cara ini dan itu, memukulnya sesuai dengan keinginan mereka. Dengan cara yang sama, dengan gigi yang digertakkan dan lidah yang ditekan terhadap langit-langit mulut, seorang bhikkhu menggunakan [kekuatan kemauannya sendiri] untuk mengendalikan pikirannya, untuk mengendalikan, meninggalkan, melenyapkan, dan menghentikan [pikiran-pikiran jahat].

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada pernapasan [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu memperhatikan napas masuk dan mengetahui ia sedang memperhatikan napas masuk; ia memperhatikan napas keluar dan mengetahui ia sedang memperhatikan napas keluar. Ketika menarik napas panjang, ia mengetahui ia sedang menarik napas panjang; ketika menghembuskan napas panjang, ia mengetahui ia sedang menghempuskan napas panjang. Ketika menarik napas pendek, ia mengetahui ia sedang menarik napas pendek; ketika menghembuskan napas pendek, ia mengetahui ia sedang menghembuskan napas pendek.

Ia berlatih [dalam mengalami] keseluruhan tubuh ketika menarik napas; ia berlatih [dalam mengalami] keseluruhan tubuh ketika menghembuskan napas. Ia berlatih dalam menenangkan aktivitias-aktivitas jasmani ketika menarik napas; ia berlatih dalam menenangkan aktivitas-aktivitas <jasmani> ketika menghembuskan napas.<95>

Dengan cara ini seorang bhikkhu, , bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan [yang dialami dalam jhāna pertama], sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan.<96>

Seperti halnya ketika seorang petugas pemandian, setelah memenuhi wadah dengan bubuk mandi, mencampurnya dengan air dan meremas-remasnya sehingga tidak ada bagian [dari bubuk itu] yang tidak sepenuhnya dibasahi dan diliputi oleh air. Dengan cara yang sama, seorang bhikhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari keterasingan.

Dengan cara ini seorang bhikkhu, , bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi [yang dialami dalam jhāna kedua], sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi.

Seperti halnya mata air gunung yang penuh dan meluap dengan air yang jernih dan bersih; air yang datang dari mana pun dari keempat arah tidak dapat memasukinya, dengan air mata air memancar ke atas dari bawah dengan sendirinya, mengalir keluar dan membanjiri sekelilingnya, sepenuhnya membasahi dan meliputi setiap bagian gunung itu. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi, sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak diliputi oleh sukacita dan kenikmatan yang lahir dari konsentrasi.

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita [yang dialami dalam jhāna ketiga], sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak diliputi oleh kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita.

Seperti halnya ketika seroja biru, merah, atau putih yang lahir di dalam air dan telah tumbuh besardalam air, tetap terendam dalam air, dengan setiap bagian dari akar, batang, bunga, dan daunnya sepenuhnya dibasahi dan diliputi [oleh air], dengan tidak ada bagian yang tidak diliputi olehnya. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu sepenuhnya membasahi dan meliputi tubuhnya dengan kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak diliputi oleh kenikmatan yang lahir dari ketiadaan sukacita.

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu bertekad dalam batin untuk berdiam setelah meliputi dengan sempurna tubuhnya dengan kemurnian batin [yang dialami dalam jhāna keempat], sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak diliputi oleh kemurnian batin.

Seperti halnya seseorang dapat menutupi dirinya dari kepala sampai kaki dengan sehelai kain yang berukuran tujuh atau delapan hasta, sehingga setiap bagian tubuhnya tertutupi.<97> Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu sepenuhnya meliputi tubuhnya dengan kemurnian batin [yang dialami dalam jhāna keempat], sehingga tidak ada bagian dalam tubuhnya yang tidak diliputi oleh kemurnian batin.

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani sebagai berikut. Seorang bhikkhu memperhatikan persepsi cahaya (ālokasannā), dengan baik memegangnya, dengan baik mempertahankannya, dan mengingatnya dengan baik dengan perhatian penuh [sehingga ia mengetahui bahwa] apa yang di belakang adalah seperti apa yang di depan, apa yang di depan adalah seperti apa yang di belakang, malam seperti siang, siang seperti malam, apa yang di atas seperti apa yang di bawah, dan apa yang di bawah seperti apa yang di atas. Dengan cara ini ia mengembangkan keadaan pikiran yang tidak menyimpang dan tidak terkotori yang cemerlang dan jernih, keadaan pikiran yang sepenuhnya tidak terhalangi oleh halangan-halangan.<98>

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu dengan baik menggenggam tanda peninjauan kembali,<99> mengingatnya dengan baik dengan perhatian penuh. Seperti halnya seseorang yang duduk dapat merenungkan orang lain yang berbaring, atau seseorang yang berbaring dapat merenungkan orang lain yang duduk. Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu dengan baik menggenggam tanda peninjauan kembali, mengingatnya dengan baik dengan perhatian penuh.

Dengan cara ini seorang bhikkhu, bagaimana pun ia bertindak dengan jasmaninya, ia mengetahuinya seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Dengan cara ini, berdiam di tempat yang terpencil, dengan pikiran yang bebas dari kemalasan, berlatih dengan penuh semangat, ia melenyapkan kekotoran-kekotoran apa pun dari pikiran dan mencapai konsentrasi pikiran. Setelah mencapai konsentrasi pikiran, ia mengetahui [jasmani] seperti [yang dijelaskan] di atas, sebagaimana adanya. Ini adalah bagaimana seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani.

Selanjutnya, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian pada jasmani [sebagai berikut]. Seorang bhikkhu merenungkan jasmani ini dari kepala sampai kaki, menurut posisinya serta [sifat]nya yang menarik dan menjijikkan, [dengan melihatnya] sebagai penuh dengan berbagai ketidakmurnian, [dengan merenungkan:] “Di dalam jasmani[ku] ini terdapat rambut kepala, rambut tubuh, kuku, gigi, kulit ari kasar dan halus, kulit, daging, urat, tulang, jantung, ginjal, hati, paru-paru, usus besar dan kecil, limpa, perut, kotoran, otak dan batang otak, air mata, keringat, lendir, air liur, nanah, darah, lemak, sumsum, dahak, empedu, dan air seni.”

Seperti halnya seseorang yang memiliki penglihatan, ketika melihat sebuah wadah yang penuh dengan berbagai biji-bijian, dapat dengan jelas membedakannya semua, dengan mengenali [berbagai biji-bijian itu] sebagai biji padi, biji jawawut, jelai, gandum, biji rami, biji wijen, kacang, biji lobak, dan biji moster.<100> Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu merenungkan jasmani ini dari kepala sampai kaki, berdasarkan posisinya dan [sifat]nya yang menarik dan menjijikkan, [dengan melihatnya] sebagai penuh dengan berbagai jenis ketidakmurnian, [dengan merenungkan:] “Dalam jasmani[ku] ini terdapat rambut kepala, rambut tubuh, kuku, gigi, kulit ari kasar dan halus, kulit, daging, urat, tulang, jantung, ginjal, hati, paru-paru, usus besar dan kecil, limpa, perut, kotoran, otak dan batang otak, air mata, keringat, lendir, air liur, nanah, darah, lemak, sumsum, dahak, empedu, dan air seni.”

85
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 27 September 2020, 08:13:08 PM »
Teman-teman yang mulia, melalui pengetahuan atas pikiran orang lain aku mengetahui pikiran-pikiran orang lain sebagaimana adanya: bagaimana makhluk-makhluk lain berpikir, berkehendak, berbuat, dan bertindak. Aku mengetahui pikiran dengan nafsu sebagai pikiran dengan nafsu, sebagaimana adanya; aku mengetahui pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu, sebagaimana adanya, ... pikiran dengan kebencian, ... tanpa kebencian, ... dengan delusi, ... tanpa delusi, ... terkotori, ... tidak terkotori, ... mengerut, ... kacau, ... luhur, ... rendah, ... terbatas, ... luas, ... terkembang, ... tidak terkembang, ... terkonsentrasi, ... tidak terkonsentrasi; ... aku mengetahui pikiran yang tidak terbebaskan sebagai pikiran yang tidak terbebaskan, sebagaimana adanya; aku mengetahui pikiran yang terbebaskan sebagai pikiran yang terbebaskan, sebagaimana adanya.

Teman-teman yang mulia, setelah mencapai konsentrasi dengan cara ini, dengan pikiran yang dimurnikan dan tanpa kekotoran, tanpa noda, lunak, ditenangkan dengan baik, dengan pikiran yang telah mencapai ketanpa-gangguan, aku melatih dan merealisasi pengetahuan luar biasa atas ingatan kehidupan lampau.

Teman-teman yang mulia, aku mengingat tak terhitung kehidupan yang telah kulalui pada masa lampau, dengan aktivitas dan penampilan mereka: satu kelahiran, dua kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengerutan [dunia], berkalpa-kalpa pengembangan [dunia], tak terhitung kalpa pengerutan dan pengembangan [dunia]. [Aku mengingat:] “[Aku adalah] makhluk hidup bernama Anu; pada kehidupan lampau itu aku menjalani pengalaman-pengalaman tersebut; aku [dulu] terlahir di sana, dengan nama keluarga ini dan nama yang diberikan ini; aku memiliki jenis penghidupan ini dan jenis makanan dan minuman ini; aku memliki jenis kenikmatan dan kesakitan ini; masa kehidupanku adalah seperti ini, aku bertahan hidup selama ini, dan kehidupanku berakhir seperti ini. Meninggal dari sini, aku terlahir kembali di sana; meninggal dari sana, aku terlahir kembali di sini. Aku terlahir kembali di sana dengan nama keluarga ini dan nama yang diberikan ini; aku memiliki jenis penghidupan ini dan jenis makanan dan minuman ini; aku mengalami jenis kenikmatan dan kesakitan ini; masa kehidupanku adalah seperti ini, aku bertahan hidup selama ini, dan kehidupanku berakhir seperti ini.”

Teman-teman yang mulia, setelah mencapai konsentrasi  dengan cara ini, dengan pikiran yang dimurnikan dan tanpa kekotoran, tanpa noda, lunak, ditenangkan dengan baik, dengan pikiran yang telah mencapai ketanpa-gangguan, aku melatih dan merealisasi pengetahuan luar biasa atas kelahiran dan kematian.

Teman-teman yang mulia, dengan mata dewa, yang dimurnikan dan melampaui [penglihatan] manusia, aku melihat makhluk-makhluk ketika mereka meninggal dan terlahir kembali. [Aku melihat mereka terlahir kembali] sebagai rupawan atau jelek, tinggi atau rendah, datang dan pergi di antara alam-alam kehidupan yang baik dan buruk, sesuai dengan perbuatan makhluk-makhluk hidup itu [sebelumnya]. Ini kulihat sebagaimana adanya.

Jika makhluk-makhluk ini melakukan perbuatan jasmani yang jahat, perbuatan ucapan dan pikiran yang jahat; jika mereka menghina orang-orang mulia, menganut pandangan salah, dan melakukan perbuatan-perbuatan [berdasarkan pada] pandangan salah, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya jasmani pada saat kematian, [mereka] pasti pergi menuju alam kehidupan yang buruk, terlahir kembali di neraka.

[Namun,] jika makhluk-makhluk hidup ini melakukan perbuatan jasmani yang baik, perbuatan ucapan dan pikiran yang baik, jika mereka tidak menghina orang-orang mulia, menganut pandangan benar, dan melakukan perbuatan-perbuatan [berdasarkan pada] pandangan benar, maka karena sebab dan kondisi ini, ketika hancurnya jasmani pada saat kematian, [mereka] pasti pergi menuju alam kehidupan yang baik, naik untuk terlahir kembali di surga.

Teman-teman yang mulia, setelah mencapai konsentrasi dengan cara ini, dengan pikiran yang dimurnikan dan tanpa kekotoran, tanpa noda, lunak, ditenangkan dengan baik, dengan pikiran yang telah mencapai ketanpa-gangguan, aku melatih dan merealisasi pengetahuan luar biasa atas hancurnya noda-noda.

Teman-teman yang mulia, aku mengetahui dukkha sebagaimana adanya, mengetahui munculnya dukkha, … mengetahui lenyapnya dukkha, … dan mengetahui jalan menuju lenyapnya dukkha, sebagaimana adanya. Aku mengetahui noda-noda sebagaimana adanya, mengetahui munculnya noda-noda, … mengetahui lenyapnya noda-noda, … dan mengetahui jalan menuju lenyapnya noda-noda sebagaimana adanya. Mengetahui demikian, melihat demikian, pikiranku terbebaskan dari noda-noda keinginan indria, dari noda-noda kelangsungan dan dari noda-noda ketidaktahuan. Terbebaskan, aku mengetahui ini terbebaskan. Aku memahami sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri; kehidupan suci telah dikembangkan; apa yang harus dilakukan telah dilakukan; tidak akan mengalami kelangsungan lain.”

Teman-teman yang mulia, jika seorang bhikkhu melanggar aturan-aturan latihan, merusak aturan-aturan latihan, gagal memenuhi aturan-aturan latihan, tidak mematuhi aturan-aturan latihan, mengotori aturan-aturan latihan, mencemari aturan-aturan latihan; dan jika dengan bergantung pada aturan-aturan latihan, berkembang dalam aturan-aturan latihan, menggunakan aturan-aturan latihan sebagai tangganya ia ingin naik menuju aula kebijaksanaan yang tiada bandingnya, menuju paviliun Dharma sejati, itu adalah tidak memungkinkan.

Teman-teman yang mulia, ini seakan-akan tidak jauh dari sebuah desa terdapat menara pengawas yang berdiri di atas sebuah paviliun, dan di dalam menara itu sebuah tangga dengan sepuluh atau dua belas anak tangga telah dipersiapkan. Jika seseorang datang menginginkan untuk naik ke paviliun itu, maka jika ia tidak memanjat anak tangga pertama dari tangga itu, alih-alih ingin [langsung] memanjat anak tangga kedua, itu adalah tidak mungkin. Jika ia tidak memanjat anak tangga kedua, alih-alih ingin [langsung] memanjat anak tangga ketiga atau keempat untuk naik ke paviliun itu, itu adalah tidak memungkinkan.

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, jika seorang bhikkhu melanggar aturan-aturan latihan, merusak aturan-aturan latihan, gagal memenuhi aturan-aturan latihan, tidak mematuhi aturan-aturan latihan, mengotori aturan-aturan latihan, mencemari aturan-aturan latihan; dan jika dengan bergantung pada aturan-aturan latihan, berkembang dalam aturan-aturan latihan, dan menggunakan aturan-aturan latihan sebagai tangganya ia ingin naik menuju aula kebijaksanaan yang tiada bandingnya, menuju paviliun Dharma sejati, itu adalah tidak memungkinkan.

Teman-teman yang mulia, jika seorang bhikkhu tidak melanggar aturan-aturan latihan, merusak aturan-aturan latihan, gagal memenuhi aturan-aturan latihan, tidak mematuhi aturan-aturan latihan, mengotori aturan-aturan latihan, atau mencemari aturan-aturan latihan; dan jika dengan bergantung pada aturan-aturan latihan, berkembang dalam aturan-aturan latihan, dan menggunakan aturan-aturan latihan sebagai tangganya ia ingin naik menuju aula kebijaksanaan yang tiada bandingnya, menuju paviliun Dharma sejati, itu adalah pasti memungkinkan.

Teman-teman yang mulia, ini seakan-akan, tidak jauh dari sebuah desa terdapat menara pengawas yang berdiri di atas sebuah paviliun, dan di dalam menara itu sebuah tangga dengan sepuluh atau dua belas anak tangga telah dipersiapkan. Jika seseorang datang menginginkan untuk naik ke paviliun itu, maka jika ia memanjat anak tangga pertama dari tangga itu, dan kemudian ingin memanjat anak tangga kedua, itu adalah mungkin. Dan jika, setelah memanjat anak tangga kedua, ia ingin memanjat anak tangga ketiga, dan kemudian keempat, untuk naik ke paviliun itu, itu adalah pasti memungkinkan.

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, jika seorang bhikkhu tidak melanggar aturan-aturan latihan, merusak aturan-aturan latihan, gagal memenuhi aturan-aturan latihan, tidak mematuhi aturan-aturan latihan, mengotori aturan-aturan latihan, atau mencemari aturan-aturan latihan; dan jika dengan bergantung pada aturan-aturan latihan, berkembang dalam aturan-aturan latihan, dan menggunakan aturan-aturan latihan sebagai tangganya ia ingin naik menuju aula kebijaksanaan yang tiada bandingnya, menuju paviliun Dharma sejati, itu adalah pasti memungkinkan.

Teman-teman yang mulia, dengan bergantung pada aturan-aturan latihan, berkembang dalam aturan-aturan latihan, menggunakan aturan-aturan latihan sebagai tanggaku, aku naik menuju aula kebijaksanaan yang tiada bandingnya, menuju paviliun Dharma sejati dan, dengan sedikit usaha, aku mengamati seribu dunia.

Teman-teman yang mulia, seperti halnya seseorang dengan penglihatan [yang baik] mungkin berdiri di atas bangunan tinggi dan, dengan sedikit usaha, mengamati tanah di bawahnya, melihat seribu batu bata.<87>

Dengan cara yang sama, teman-teman yang mulia, dengan bergantung pada aturan-aturan latihan, berkembang dalam aturan-aturan latihan, menggunakan aturan-aturan latihan sebagai tanggaku, aku naik menuju aula kebijaksanaan yang tiada bandingnya, menuju paviliun Dharma sejati dan, dengan sedikit usaha, aku mengamati seribu dunia.

Teman-teman yang mulia, [bagiku untuk berusaha] menyembunyikan enam pengetahuan luar biasa akan seperti menggunakan sehelai daun palem [untuk berusaha] menyembunyikan seekor gajah besar milik raja, atau tujuh harta karunnya, apalagi delapan dari mereka.

Teman-teman yang mulia, jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasiku dalam kekuatan-kekuatan batin, biarlah ia menanyakannya. Aku akan menjawab. Teman-teman yang mulia, jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasiku dalam pengetahuan luar biasa telinga dewa, biarlah ia menanyakannya. Aku akan menjawab. Teman-teman yang mulia, jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasiku dalam pengetahuan luar biasa atas pikiran orang lain, biarlah ia menanyakannya. Aku akan menjawab. Teman-teman yang mulia, jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasiku dalam pengetahuan luar biasa atas ingatan kehidupan lampau, biarlah ia menanyakannya. Aku akan menjawab. Teman-teman yang mulia, jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasiku dalam pengetahuan luar biasa atas kelahiran dan kematian, biarlah ia menanyakannya. Aku akan menjawab. Teman-teman yang mulia, jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasiku dalam pengetahuan luar biasa atas hancurnya noda-noda, biarlah ia menanyakannya. Aku akan menjawabnya.

Kemudian Yang Mulia Ānanda berkata:

Yang Mulia Anuruddha, di tebing gunung dengan pepohonan sāla ini terdapat delapan ratus orang bhikkhu yang duduk bersama-sama dengan Sang Bhagavā di tengah-tengah mereka, untuk membuat jubah untuk Yang Mulia Anuruddha. Jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasi Yang Mulia Anuruddha dalam kekuatan-kekuatan batin, biarlah ia menanyakannya. Yang Mulia Anuruddha akan menjawab. Jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasi Yang Mulia Anuruddha dalam pengetahuan luar biasa telinga dewa, biarlah ia menanyakannya. Yang Mulia Anuruddha akan menjawab. Jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasi Yang Mulia Anuruddha dalam pengetahuan luar biasa atas pikiran orang lain, biarlah ia menanyakannya. Yang Mulia Anuruddha akan menjawab. Jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasi Yang Mulia Anuruddha dalam pengetahuan luar biasa atas ingatan kehidupan lampau, biarlah ia menanyakannya. Yang Mulia Anuruddha akan menjawab. Jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasi Yang Mulia Anuruddha dalam pengetahuan luar biasa atas kelahiran dan kematian, biarlah ia menanyakannya. Yang Mulia Anuruddha akan menjawab. Jika [siapa pun] memiliki keragu-raguan tentang realisasi Yang Mulia Anuruddha dalam pengetahuan luar biasa atas hancurnya noda-noda, biarlah ia menanyakannya. Yang Mulia Anuruddha akan menjawab.

Namun, kami telah lama mengetahui, dalam pikiran kami, pikiran Yang Mulia Anuruddha – yaitu bahwa Yang Mulia Anuruddha memiliki kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan dewa yang besar.

Saat itu sakit Sang Bhagavā telah mereda dan beliau berada dalam kenyamanan, maka beliau bangkit dan duduk bersila. Setelah duduk, Sang Bhagavā memuji Yang Mulia Anuruddha:

Bagus, bagus, Anuruddha! Adalah luar biasa, Anuruddha, bagaimana engkau berkotbah kepada para bhikkhu tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya]. Anuruddha, kotbahkanlah kepada para bhikkhu lagi tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya]! Anuruddha, kotbahkanlah kepada para bhikkhu dengan sering tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya]!

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

Para bhikkhu, terimalah [ajaran] tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya]! Ulangilah [ajaran] tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya]! Ingatlah dengan baik [ajaran] tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya]! Mengapakah demikian? [Ajaran] tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya] adalah berhubungan dengan Dharma. Ini adalah dasar kehidupan suci, yang membawa pada pencapaian, yang membawa pada pencerahan, yang membawa pada nirvana. Seorang anggota keluarga yang telah mencukur janggut dan rambutnya, mengenakan jubah kuning, dan demi keyakinan meninggalkan kehidupan rumah, memasuki keadaan tanpa rumah untuk berlatih dalam sang jalan, seharusnya dengan penuh perhatian menerima [ajaran] tentang sifat kain untuk jubah [dan tentang seseorang yang akan memakainya] dan mengingatnya.

Mengapakah demikian? Karena aku tidak melihat bhikkhu mana pun pada masa lampau yang dibuatkan sehelai jubah demikian yang seperti bhikkhu Anuruddha. Ataupun aku tidak melihat pada masa yang akan datang atau pada masa sekarang yang akan dibuatkan atau sedang dibuatkan jubah demikian, seperti halnya untuk bhikkhu Anuruddha. Mengapakah demikian? Karena sekarang di tebing gunung dengan pepohonan sāla ini terdapat delapan ratus orang bhikkhu yang duduk bersama-sama dengan Sang Bhagavā di tengah-tengah mereka, untuk membuat jubah untuk Yang Mulia Anuruddha. Dalam hal ini, bhikkhu Anuruddha memiliki kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan dewa yang besar.

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Yang Mulia Anuruddha dan para bhikkhu [lainnya] bergembira dan menerimanya dengan hormat.

86
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 27 September 2020, 08:04:00 PM »
80. Kotbah tentang Kain untuk Jubah

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, tinggal di Hutan Jeva, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Anuruddha juga sedang berada di Sāvatthī, berdiam di sebuah tebing gunung dengan pepohonan sāla. Kemudian, ketika malam berlalu, saat fajar, Yang Mulia Anuruddha mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki Sāvatthī untuk mengumpulkan dana makanan. Saat fajar Yang Mulia Ānanda juga mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan memasuki Sāvatthī untuk mengumpulkan dana makanan.

Yang Mulia Anuruddha melihat bahwa Yang Mulia Ānanda juga pergi mengumpulkan dana makanan. Setelah melihatnya, ia berkata, “Yang Mulia Ānanda, engkau seharusnya mengetahui bahwa tiga helai jubahku telah menjadi kasar, luntur, dan usang. Teman yang mulia, sekarang apakah engkau dapat mengundang para bhikkhu untuk membuat jubah untukku?” Yang Mulia Ānanda menerima permintaan Yang Mulia Anuruddha dengan tetap berdiam diri.

Kemudian, ketika Yang Mulia Ānanda telah selesai mengumpulkan dana makanan dan setelah ia menyantap makan siang, ia menyimpan jubah dan mangkuknya serta mencuci tangannya. Dengan alas duduk di atas bahunya dan membawa kunci pintu di tangannya, ia pergi dari gubuk ke gubuk dan berkata kepada setiap bhikkhu yang ia kunjungi, “Yang mulia, datanglah ke tebing gunung dengan pepohonan sāla untuk membuat jubah untuk Yang Mulia Anuruddha.”

Kemudian para bhikkhu, setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Ānanda, semuanya pergi ke tebing gunung dengan pepohonan sāla untuk membuat jubah untuk Yang Mulia Anuruddha.

Kemudian Sang Bhagavā melihat Yang Mulia Ānanda pergi dari gubuk ke gubuk dengan kunci pintu di tangannya. Setelah melihatnya, beliau bertanya, “Ānanda, sehubungan dengan hal apakah engkau pergi dari gubuk ke gubuk dengan kunci pintu pada tanganmu?”

Yang Mulia Ānanda berkata, “Sang Bhagavā, aku baru saja meminta para bhikkhu untuk membuat jubah untuk Yang Mulia Anuruddha.”

Sang Bhagavā berkata, “Ānanda, mengapakah engkau tidak meminta Sang Tathāgata untuk [membantu] membuat jubah untuk bhikkhu Anuruddha?”

Kemudian Yang Mulia Ānanda merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha dan berkata, “Semoga Sang Bhagavā datang ke tebing gunung dengan pepohonan sāla untuk membuat jubah untuk Yang Mulia Anuruddha.” Sang Bhagavā menerima undangan Yang Mulia Ānanda dengan tetap berdiam diri.

Kemudian, Sang Bhagavā, ditemani oleh Yang Mulia Ānanda, pergi ke tebing gunung dengan pepohonan sāla. Membentangkan alas duduknya, beliau duduk di hadapan perkumpulan para bhikkhu. Pada waktu itu, di tebing gunung dengan pepohonan sāla terdapat delapan ratus orang bhikkhu duduk bersama-sama dengan Sang Bhagavā untuk membuat jubah untuk Yang Mulia Anuruddha.

Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna juga terdapat di antara perkumpulan itu. Kemudian Sang Bhagavā berkata, “Moggallāna, aku dapat membentangkan kain dan memotongnya sesuai ukuran untuk Anuruddha, kemudian memotongnya menjadi potongan-potongan, menambalnya bersama, dan menjahitnya.”

Pada waktu itu Yang Mulia Mahāmoggallāna bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sehingga memperlihatkan satu bahu, dan, dengan merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Sang Buddha, berkata kepada Sang Bhagavā, “Semoga Sang Bhagavā membentangkan kain dan memotongnya sesuai ukuran untuk Yang Mulia Anuruddha. Para bhikkhu kemudian akan memotongnya menjadi potongan-potongan, menambalnya bersama, dan menjahitnya.”

Kemudian Sang Bhagavā membentangkan kain dan memotongnya sesuai ukuran untuk Yang Mulia Anuruddha. Para bhikkhu bersama-sama memotongnya menjadi potongan-potongan, menambalnya bersama, dan menjahitnya. Dalam satu hari mereka menyelesaikan tiga helai jubah untuk Yang Mulia Anuruddha.

Pada waktu itu, ketika Sang Bhagavā mengetahui bahwa tiga helai jubah untuk Yang Mulia Anuruddha telah diselesaikan, beliau berkata, “Anuruddha, kotbahkanlah kepada para bhikkhu tentang sifat kain untuk jubah (kaṭhina) [dan tentang seseorang yang akan memakainya]. Aku mengalami sakit punggung sekarang dan ingin beristirahat sejenak.”

Yang Mulia Anuruddha menjawab, “Baik, Sang Bhagavā.”

Kemudian Sang Bhagavā melipat jubah luarnya menjadi empat dan menaruhnya di atas tempat tidur, melipat jubah dalamnya untuk digunakan sebagai bantal, dan berbaring pada sisi kanan, satu kaki di atas kaki lainnya, dengan membangkitkan persepsi cahaya, mengembangkan perhatian benar dan pemahaman benar, selalu mengingat pemikiran untuk bangkit kembali.

Pada waktu itu Yang Mulia Anuruddha berkata kepada para bhikkhu:

Teman-teman yang mulia, ketika aku belum pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, aku [telah] menjadi bosan terhadap kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dukacita dan kesedihan, tangisan dan ratapan, dan aku bertekad untuk meninggalkan kumpulan besar dukkha ini. Teman-teman yang mulia, setelah menjadi bosan, aku merenungkan demikian: “Kehidupan berumah tangga adalah terpenjara, suatu tempat yang berdebu; pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan [bagaikan] keluar ke ruang terbuka yang luas. Sekarang bagiku di rumah, terbelenggu oleh belenggu demikian, adalah tidak mungkin untuk sepenuhnya mencurahkan kehidupanku pada latihan kehidupan suci. Biarlah aku meninggalkan kekayaanku, sedikit atau banyak, meninggalkan sanak keluargaku, sedikit atau banyak, mencukur janggut dan rambutku, mengenakan jubah kuning dan, demi keyakinan, meninggalkan kehidupan rumah dan memasuki [keadaan] tanpa rumah untuk berlatih dalam sang jalan.”

Teman-teman yang mulia, pada waktu belakangan aku meninggalkan kekayaanku, sedikit atau banyak, meninggalkan sanak keluargaku, sedikit atau banyak, mencukur janggut dan rambutku, mengenakan jubah kuning dan, demi keyakinan, meninggalkan kehidupan rumah dan memasuki keadaan tanpa rumah untuk berlatih dalam sang jalan. Teman-teman yang mulia, setelah pergi meninggalkan keduniawian untuk berlatih dalam sang jalan, setelah meninggalkan kehidupan keluarga, aku menerima pelatihan kebhikkhuan. Aku berlatih aturan-aturan latihan dan menjaga [terhadap pelanggaran] aturan disiplin. Aku juga dengan hati-hati mempertahankan sikap dan etika yang seharusnya, selalu takut akan kesalahan sekecil apa pun, menjunjung tinggi pelatihan dalam aturan-aturan latihan.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari membunuh, telah meninggalkan pembunuhan. Aku telah meninggalkan pedang dan tongkat pemukul, aku memiliki rasa malu dan takut [berbuat jahat], dan pikiran cinta kasih dan belas kasih, [dengan mengharapkan] memberi manfaat kepada semua [makhluk], termasuk serangga. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan pembunuhan makhluk hidup.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari mengambil apa yang tidak diberikan, telah meninggalkan pengambilan apa yang tidak diberikan. Aku mengambil [hanya] apa yang diberikan, bergembira dalam mengambil [hanya] apa yang diberikan. Aku selalu menyukai memberi secara murah hati, bergembira dalam ketidak-kikiran dan tidak mengharapkan imbalan apa pun. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan pengambilan apa yang tidak diberikan.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari aktivitas seksual, telah meninggalkan aktivitas seksual. Aku dengan tekun menjalankan latihan [hidup] selibat, dan dengan penuh semangat [mempertahankan] perbuatan suci [ini], murni, tanpa kekotoran, bebas dari keinginan indria, setelah meninggalkan keinginan seksual. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan aktivitas seksual.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari ucapan salah, telah meninggalkan ucapan salah. Aku mengucapkan kebenaran, bergembira dalam kebenaran, dengan tak tergoyahkan berkembang dalam kebenaran, sepenuhnya dapat dipercaya, tidak menipu [siapa pun di] dunia. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan ucapan salah.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari ucapan yang memecah belah, telah meninggalkan ucapan yang memecah belah. Aku tidak terlibat dalam ucapan yang memecah belah dan yang akan mencelakai orang lain. Mendengar sesuatu dari orang ini, aku tidak mengatakannya kepada orang itu untuk mencelakai orang ini; mendengar sesuatu dari orang itu, aku tidak mengatakannya kepada orang ini untuk mencelakai orang itu. Aku berharap untuk menyatukan mereka yang terpecah belah, bergembira dalam persatuan mereka. Aku tidak membuat golongan-golongan, tidak bergembira dalam atau memuji golongan-golongan. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan ucapan yang memecah belah.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari ucapan kasar, telah meninggalkan ucapan kasar. Apa pun ucapan di sana yang kasar dan keras dalam nada, yang terdengar menyakitkan hati dan menjengkelkan bagi telinga, di mana orang-orang tidak menikmati ataupun menginginkannya, yang menyebabkan penderitaan dan kekesalan orang lain, dan tidak membawa pada ketenangan – ucapan demikian telah kutinggalkan. Apa pun ucapan di sana yang murni, penuh kedamaian, lembut, dan bermanfaat, yang menyenangkan bagi telinga dan [dengan mudah] memasuki pikiran, yang menggembirakan dan diinginkan, yang memberikan orang lain kebahagiaan, ucapan yang memiliki makna, yang tidak membuat orang lain ketakutan, dan yang membawa pada ketenangan dalam diri orang lain – [jenis] ucapan demikian kuucapkan. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan ucapan kasar.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari ucapan omong kosong, telah meninggalkan ucapan omong kosong. Aku berbicara pada waktu [yang tepat], aku mengucapkan apa yang benar, apa yang merupakan Dharma, apa yang penuh makna, apa yang penuh kedamaian. Bergembira dalam ucapan yang penuh kedamaian dan berjenis pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat, aku akan mengajar dengan baik dan menasihati dengan baik. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan ucapan omong kosong.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari mencari keuntungan, telah meninggalkan pencarian keuntungan. Aku telah meninggalkan timbangan dan pengukuran serta tidak menerima barang-barang [dalam komisi], aku tidak mengikat orang-orang [dengan hutang], aku tidak berusaha berbuat curang dengan pengukuran, ataupun aku tidak menipu orang lain demi tujuan beberapa keuntungan kecil. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan pencarian keuntungan.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menerima para janda atau gadis, telah meninggalkan menerima para janda dan gadis. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan menerima para janda dan gadis.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menerima budak laki-laki atau perempuan, telah meninggalkan menerima para budak laki-laki atau perempuan. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan menerima budak laki-laki atau perempuan.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba, telah meninggalkan menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan menerima gajah, kuda, hewan ternak, atau domba.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menerima ayam atau babi, telah meninggalkan menerima ayam atau babi. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan menerima ayam atau babi.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menerima tanah pertanian atau tempat pemasaran, telah meninggalkan menerima tanah pertanian atau tempat pemasaran. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan menerima tanah pertanian atau tempat pemasaran.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak, telah meninggalkan menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak. Aku memurnikan pikiranku sehubungan menerima beras, gandum, atau kacang polong yang belum dimasak.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari minuman keras, telah meninggalkan minuman keras. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan minuman keras.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari [berbaring pada] tempat tidur yang tinggi dan lebar, telah meninggalkan [berbaring pada] tempat tidur yang tinggi dan lebar. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan tempat tidur yang tinggi dan lebar.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari [menggunakan] kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan, telah meninggalkan [penggunaan] kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan kalungan bunga, kalung, wewangian, dan riasan.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menyanyi, menari, dan bersandiwara, serta pergi untuk melihat atau mendengar [nyanyian, tarian, dan sandiwara]; aku telah meninggalkan nyanyian, tarian, dan sandiwara, dan [meninggalkan] pergi untuk melihat atau mendengar [nyanyian, tarian, dan sandiwara]. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan nyanyian, tarian, dan sandiwara, dan [sehubungan dengan] pergi untuk melihat atau mendengar [nyanyian, tarian, dan sandiwara].

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari menerima emas dan perak, telah meninggalkan menerima emas dan perak. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan menerima emas dan perak.

Teman-teman yang mulia, aku menghindari diri dari makan setelah tengah hari, telah meninggalkan makan setelah tengah hari. Aku makan satu kali [setiap hari], tidak makan pada malam hari, berlatih dalam makan [hanya] pada waktu [yang tepat]. Aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan makan setelah tengah hari.

Teman-teman yang mulia, setelah menyempurnakan kelompok moralitas mulia ini, aku lebih lanjut berlatih dalam kepuasan tertinggi, dengan memakai jubah [hanya] untuk menutupi tubuhku, memakan [hanya secukupnya] makanan untuk menunjang tubuh jasmani. Kapan pun aku pergi, aku membawa [hanya] jubah dan mangkuk bersamaku, tanpa kekhawatiran atau keinginan. Seperti halnya seekor angsa liar terbang melalui udara dengan [hanya] dua sayapnya, teman-teman yang mulia, aku seperti demikian, ke mana pun aku pergi, membawa [hanya] jubah dan mangkuk bersamaku, tanpa kekhawatiran atau keinginan.

Teman-teman yang mulia, setelah menyempurnakan kelompok moralitas mulia ini dan kepuasan tertinggi ini, aku lebih lanjut berlatih dalam menjaga indria-indria. Selalu memperhatikan berhentinya pemikiran-pemikiran dengan keinginan, dengan pemahaman jernih, dengan berhasil menjaga pikiran melalui perhatian penuh, aku selalu membangkitkan pemahaman benar. Ketika melihat bentuk dengan mataku, aku tidak menggenggam wujudnya, ataupun aku tidak menikmati bentuk itu. Yaitu, demi tujuan pengendalian diri aku menjaga indria mata sehingga tidak ada ketamakan atau dukacita, keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, yang akan muncul dalam pikiran. Sampai akhir itu aku menjaga indria mata.
Dengan cara yang sama, ketika [mendengar suara] dengan telinga, ... [mencium bau] dengan hidung, ... [mengecap rasa] dengan lidah, ... [merasakan sentuhan] dengan badan, ... mengetahui suatu objek pikiran dengan pikiran; aku tidak menggenggam wujudnya ataupun aku tidak menikmati objek pikiran itu. Yaitu, demi tujuan pengendalian diri aku menjaga indria pikiran sehingga tidak ada ketamakan atau dukacita, keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, yang akan muncul dalam pikiran. Sampai akhir itu aku menjaga indria pikiran.

Teman-teman yang mulia, setelah menyempurnakan kelompok moralitas mulia ini, kepuasan tertinggi ini, dan penjagaan indria-indria ini, aku lebih lanjut berlatih dalam pemahaman benar ketika pergi dan datang, dengan merenungkan dan membedakan dengan baik ketika membengkokkan atau meluruskan [lenganku], ketika menundukkan atau mengangkat [kepalaku]; dengan perilaku dan penampilan yang teratur, aku dengan benar membawa jubah luar, jubah lainnya, dan mangkuk; ketika berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring, ketika pergi tidur atau bangun, ketika berbicara atau berdiam diri, aku selalu memiliki pemahaman benar.

Teman-teman yang mulia, setelah menyempurnakan kelompok moralitas mulia ini, kepuasan tertinggi ini, penjagaan indria-indria ini, dan pemahaman benar ketika pergi dan datang ini, aku lebih lanjut berlatih dengan berdiam sendirian dalam keterasingan. Aku berdiam di suatu wilayah hutan, atau di bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan tenang, di dalam gua gunung, di atas tumpukan jerami di tempat terbuka, di tengah-tengah hutan, atau di pekuburan.

Teman-teman yang mulia, dengan berdiam di dalam hutan, atau pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan tenang, aku membentangkan alas dudukku dan duduk bersila, [dengan] tubuh tegak. Dengan tekad batin yang benar dan perhatian yang tidak terbagi, aku meninggalkan dan melenyapkan ketamakan. Dengan pikiranku bebas dari kecemasan, ketika melihat harta dan kebutuhan hidup orang lain, aku tidak memunculkan ketamakan, tidak berharap “Semoga aku mendapatkannya!” Aku memurnikan diriku sehubungan dengan ketamakan. Dengan cara yang sama aku meninggalkan permusuhan, ... kelambanan dan ketumpulan, ... kegelisahan dan kekhawatiran, ... keragu-raguan, mengatasi delusi, bebas dari kebimbangan sehubungan dengan keadaan-keadaan bermanfaat, aku memurnikan pikiranku sehubungan dengan keragu-raguan.

Teman-teman yang mulia, ketika aku telah meninggalkan lima rintangan ini, yang mengotori pikiran dan melemahkan kebijaksanaan, terasing dari keinginan indria, terasing dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat, ... sampai dengan ... berdiam setelah mencapai jhāna keempat.

Teman-teman yang mulia, setelah mencapai konsentrasi demikian, dengan pikiran yang dimurnikan dan tanpa kekotoran, tanpa noda, lunak, ditenangkan dengan baik, dengan pikiran yang telah mencapai ketanpa-gangguan, aku berlatih dalam realisasi kekuatan-kekuatan batin.

Teman-teman yang mulia, aku mencapai tak terhitung kekuatan batin – yaitu, [dari] satu, aku menjadi banyak; [dari] banyak, aku menjadi satu [lagi]. Satu, aku tetap satu, memiliki pengetahuan dan penglihatan. Aku tanpa terhalangi melewati tembok batu seakan-akan melewati ruang kosong. Aku menyelam ke dalam tanah seakan-akan ia adalah air; aku berhalan di atas air seakan-akan ia adalah tanah. Duduk bersila, aku naik ke angkasa bagaikan seekor burung. Dengan tangan aku menyentuh dan membelai matahari dan bulan, yang memiliki kekuatan batin yang besar demikian, kebajikan yang besar dan hebat demikian, jasa yang besar demikian, kekuatan dewa yang besar demikian. Dengan tubuh [batin]-ku aku mencapai sejauh alam Brahmā.

Teman-teman yang mulia, setelah mencapai konsentrasi dengan cara ini, dengan pikiran yang dimurnikan dan tanpa kekotoran, tanpa noda, lunak, ditenangkan dengan baik, pikiran yang telah mencapai ketanpa-gangguan, aku melatih dan merealisasi pengetahuan luar biasa telinga dewa. Teman-teman yang mulia, dengan telinga dewa aku mendengar suara-suara yang dibuat oleh para manusia dan bukan-manusia, dekat dan jauh, halus dan tidak halus.

Teman-teman yang mulia, setelah mencapai konsentrasi dengan cara ini, dengan pikiran yang dimurnikan dan tanpa kekotoran, tanpa noda, lunak, ditenangkan dengan baik, dengan pikiran yang telah mencapai ketanpa-gangguan, aku melatih dan merealisasi pengetahuan luar biasa atas pikiran orang lain.

87
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 27 September 2020, 07:59:56 PM »
Yang Mulia Anuruddha menjawab:

Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni. [Tetapi,] ia tidak mengembangkan konsentrasi ini, tidak melatihnya, tidak memperluasnya, tidak menyempurnakannya sepenuhnya. Pada waktu belakangan, ketika jasmanunya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali [di sana] ia tidak mencapai ketenangan tertinggi, tidak mencapai kedamaian tertinggi, dan tidak menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya ketika sekuntum seroja biru, atau seroja merah atau merah tua, seroja putih lahir dalam air, tumbuh dalam air, dan tetap berada di bawah air. Akar, tangkai, bunga, dan dedaunannya sepenuhnya dibasahi oleh air; tidak ada bagian darinya yang tidak dibasahi dengan air.<83>

Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni. [Tetapi,] ia tidak mengembangkan konsentrasi ini, tidak melatihnya, tidak memperluasnya, tidak menyempurnakannya sepenuhnya. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali [di sana], ia tidak mencapai ketenangan tertinggi, tidak mencapai kedamaian tertinggi, dan tidak menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Selanjutnya, Yang Mulia Kaccāna, [seumpamanya] seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni. Ia sering mengembangkan konsentrasi ini, sering melatihnya, sering memperluasnya, dan menyempurnakannya sepenuhnya. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali disana, ia mencapai ketenangan tertinggi, mencapai kedamaian tertinggi, dan menyelesaikan perjalanan hidupnya.
Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya ketika sekuntum seroja biru, atau teratai merah atau merah tua, atau teratai putih lahir dalam air, tumbuh dalam air, tetapi kemudian muncul di atas air, di mana ia tidak lagi dibasahi oleh air.

Dengan cara yang sama, Yang Mulia Kaccāna, seorang pertapa atau brahmana, melalui ketetapan hati meliputi surga bercahaya murni. Ia sering mengembangkan konsentrasi ini, sering melatihnya, sering memperluasnya, dan menyempurnakannya sepenuhnya. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni. Setelah terlahir kembali di sana, ia mencapai ketenangan tertinggi, mencapai kedamaian tertinggi, dan menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Yang Mulia Kaccāna, inilah sebabnya, inilah mengapa, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang terlahir di satu alam, seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka. Mengapakah demikian? Ini disebabkan oleh keunggulan relatif pikiran mereka ketika mereka adalah manusia. Dalam pengembangan mereka terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran. Karena terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran, para manusia memiiki tingkat keunggulan. Yang Mulia Kaccāna, Sang Bhagavā juga telah menjelaskan keunggulan relatif di antara para manusia dengan cara ini.

Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, apakah seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”

Yang Mulia Anuruddha menjawab, “Yang Mulia Kaccāna, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif, tingkat kehalusan relatif.”

Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut:

Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, apakah sebabnya, apakah alasannya bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?

Yang Mulia Anuruddha menjawab:

Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas. [Namun] ia belum sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, ia belum dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Pada waktu belakangan, ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Ketika terlahir kembali [di sana], cahayanya tidak sepenuhnya murni.

Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya sebuah pelita yang terbakar bergantung pada minyak dan sumbu. Jika terdapat ketidakmurnian dalam minyak dan sumbu tidak murni, cahaya yang muncul bergantung pada pelita ini tidak akan cemerlang dan murni.<84>

Dengan cara yang sama, Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas, [tetapi] ia belum sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, ia belum dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Setelah terlahir kembali [di sana] cahayanya tidak sepenuhnya murni.

Selanjutnya, Yang Mulai Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas. Ia telah sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, dan ia telah dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Setelah terlahir [di sana] cahayanya sepenuhnya murni.

Yang Mulia Kaccāna, seperti halnya sebuah pelita yang terbakar bergantung pada minyak dan sumbu. Jika tidak ada ketidakmurnian dalam minyak dan sumbu juga sepenuhnya murni, cahaya yang muncul bergantung pada pelita ini akan sepenuhnya cemerlang dan murni.

Dengan cara yang sama, Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Melalui ketetapan hati ia meliputi surga bercahaya murni yang menyebar luas. Ia telah sepenuhnya mengakhiri kelambanan dan ketumpulan, dan ia telah dengan baik menenangkan kegelisahan dan kekhawatiran. Ketika jasmaninya hancur pada saat kematian, ia terlahir kembali di antara para dewa bercahaya murni yang menyebar luas. Setelah terlahir kembali [di sana] cahayanya sepenuhnya murni.

Yang Mulia Kaccāna, inilah sebabnya, inilah alasannya mengapa, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas itu yang terlahir di satu alam, seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka. Mengapakah demikian? Ini disebabkan oleh keunggulan relatif pikiran mereka ketika mereka adalah manusia. Dalam pengembangan mereka terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran. Karena tingkat kehalusan atau kekasaran dalam pengembangan mereka, para manusia memiliki tingkat keunggulan. Yang Mulia Kaccāna, Sang Bhagavā juga telah menjelaskan keunggulan relatif di antara para manusia dengan cara ini.

Kemudian Yang Mulia Kaccāna Sejati mengucapkan pujian [terhadap Anuruddha] kepada Pengurus istana Isidatta:

Bagus, bagus, Pengurus istana! Engkau telah sangat memberi manfaat kepada kami. Mengapakah demikian? Engkau pertama-tama bertanya kepada Yang Mulia Anuruddha tentang kelangsungan para dewa yang lebih tinggi. Kami tidak pernah sebelumnya mendengar dari Yang Mulia Anuruddha suatu penjelasan demikian tentang para dewa ini, yaitu bahwa para dewa ini ada dan bahwa para dewa ini adalah seperti ini.<85>

Kemudian Yang Mulia Anuruddha berkata:

Yang Mulia Kaccāna, terdapat banyak dewa demikian. [Bahkan] matahari dan bulan ini, yang memiliki kekuatan batin yang besar demikian serta kebajikan yang besar dan hebat demikian, jasa yang besar demikian, kekuatan dewa yang besar demikian, tetapi kecemerlangan mereka tidak sama dengan kecemerlangan [para dewa itu] yang telah secara pribadi kutemui, di mana dengannya aku telah bertukar salam dan berbicara, dan di mana aku telah menerima tanggapan darinya. Namun aku tidak pernah sebelumnya memberikan suatu penjelasan tentang para dewa ini, yaitu bahwa para dewa ini ada dan bahwa para dewa ini seperti ini.

Pada waktu itu, Pengurus istana Isidatta, yang memahami bahwa diskusi para yang mulia itu telah selesai, bangkit dari tempat duduknya dan secara pribadi membawakan air untuk mencuci. Dengan tangannya sendiri ia mempersiapkan bermacam-macam hidangan yang murni dan lezat untuk dimakan, dinikmati, dan dicerna, dengan memastikan terdapat cukup [makanan] untuk dimakan. Setelah [Yang Mulia Anuruddha] telah selesai makan, mengesampingkan mangkuknya, dan mencuci tangannya, [Pengurus istana Isidatta] mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk pada satu sisi untuk mendengarkan Dharma. Ketika Pengurus istana Isidatta telah duduk, Yang Mulia Anuruddha mengajarkannya Dharma, mendorong dan menginspirasinya, sepenuhnya menggembirakannya. Setelah mengajarkan [Pengurus istana Isidatta] Dharma dengan tak terhitung cara terampil, setelah mendorong dan menginspirasinya, sepenuhnya menggembirakannya, [Yang Mulia Anuruddha] bangkit dari tempat duduknya dan pergi.

Demikianlah yang diucapkan Yang Mulia Anuruddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Yang Mulia Anuruddha, Pengurus istana Isidatta dan para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan baik.<86>

88
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 27 September 2020, 07:57:43 PM »
79. Kotbah tentang Kelangsungan para Dewa yang Lebih Tinggi<74>

Demikianlah telah kudengar. Pada satu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, tinggal di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Kemudian, pengurus istana Isidatta menginstruksikan seorang utusan:<75>

Mendekati Sang Buddha, berikanlah penghormatan atas namaku pada kaki Sang Bhagavā, dan tanyakan Sang Bhagavā apakah yang mulia sehat dan kuat jasmaninya, nyaman dan bebas dari penyakit, dan berdiam dengan nyaman, dengan kekuatan beliau yang biasanya. Katakanlah hal ini: “Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha dan bertanya kepada Sang Bhagavā apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman dan bebas dari penyakit, berdiam dengan nyaman, dengan kekuatan beliau yang biasanya.”

Ketika engkau telah bertanya kepada Sang Buddha dengan cara ini, engkau harus mendekati Yang Mulia Anuruddha dan, setelah memberikan penghormatan atas namaku pada kakinya, tanyakan yang mulia itu apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman dan bebas dari penyakit, dan berdiam dengan nyaman, dengan kekuatannya yang biasanya. Katakanlah hal ini: “Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Yang Mulia Anuruddha dan bertanya kepada yang mulia apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman, dan bebas dari penyakit, berdiam dengan nyaman, dengan kekuatannya yang biasanya. Pengurus istana Isidatta mengundang Yang Mulia Anuruddha, bersama-sama [dengan tiga orang lainnya,] empat orang seluruhnya, untuk makan besok.”

Jika ia menerima undangan itu, maka katakanlah juga hal ini: “Yang Mulia Anuruddha, Pengurus istana Isidatta sangat sibuk dengan banyak urusan, berbagai urusan untuk dipertimbangkan dan dikelola demi raja.<76> Semoga Yang Mulia Anuruddha [dan teman-temannya], empat orang seluruhnya, demi belas kasih datang ke rumah Pengurus istana Isidatta besok pagi-pagi sekali.”

Kemudian, setelah menerima intruksi dari Pengurus istana Isidatta, utusan itu mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, dan, dengan mengundurkan diri pada satu sisi, berkata:

Sang Bhagavā, Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha dan bertanya apakah Sang Bhagavā sehat dan kuat, nyaman, dan bebas dari penyakit, berdiam dengan nyaman, dengan kekuatan beliau yang biasanya.

Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata kepada utusan itu, “Semoga Pengurus istana Isidatta menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan! Semoga semua dewa, manusia, asura, gandhabba, yakkha, dan semua bentuk kehidupan lainnya menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan!”

Kemudian utusan itu, setelah menerima dengan baik dan mengingat dengan baik apa perkataan Sang Buddha yang ia dengar, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengelilingi beliau tiga kali, dan pergi. Ia mendekati Yang Mulia Anuruddha, memberikan penghormatan pada kakinya, mengundurkan diri, duduk pada satu sisi, dan berkata:

Yang Mulia Anuruddha, Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Yang Mulia Anuruddha dan bertanya kepada yang mulia apakah yang mulia sehat dan kuat, nyaman dan bebas dari penyakit, dan berdiam dengan nyaman, dengan kekuatannya yang biasanya. Pengurus istana Isidatta mengundang Yang Mulia Anuruddha [bersama-sama dengan tiga orang lainnya], empat orang seluruhnya, untuk makan besok.

Pada waktu itu Yang Mulia Kaccāna Sejati sedang duduk bermeditasi tidak jauh dari Yang Mulia Anuruddha. Kemudian Yang Mulia Anuruddha berkata kepada Yang Mulia Kaccāna:

Baru saja aku mengatakan bahwa kita akan pergi ke Sāvatthī besok pagi untuk mengumpulkan dana makanan, dan sekarang hal ini telah muncul. Pengurus istana Isidatta mengirim seorang utusan yang mengundang kita, empat orang semuanya, untuk makan besok.

Yang Mulia Kaccāna Sejati berkata:

Semoga Yang Mulia Anuruddha, demi kepentingan orang itu [Pengurus istana Isidatta], menerima undangan itu dengan tetap berdiam diri. Besok pagi kita akan meninggalkan Sītavana ini dan memasuki Sāvatthī [seakan-akan] untuk mengumpulkan dana makanan. Semoga Yang Mulia Anuruddha, demi kepentingan orang itu, menerima undangan itu dengan tetap berdiam diri.

Kemudian, ketika utusan itu memahami bahwa Yang Mulia Anuruddha telah menerima dengan tetap berdiam diri, ia juga mengajukan permintaan demikian:

Pengurus istana Isidatta berkata kepada Yang Mulia Anuruddha, “Pengurus istana Isidatta sangat sibuk dengan banyak urusan, berbagai urusan untuk diurus dan dikelola demi raja. Semoga Yang Mulia Anuruddha [dan teman-temannya], empat orang seluruhnya, demi belas kasih datang ke rumah Pengurus istana Isidatta besok pagi-pagi sekali.”

Yang Mulia Anuruddha berkata kepada utusan itu, “Engkau dapat kembali. Aku sendiri mengetahui waktu yang tepat.” Kemudian utusan itu bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan, mengelilingi [Yang Mulia Anuruddha] tiga kali, dan pergi.

Kemudian, ketika malam telah berlalu, ketika fajar, Yang Mulia Anuruddha mengenakan jubahnya, membawa mangkuknya, dan [dengan teman-temannya], empat orang seluruhnya, mendekati rumah Pengurus istana Isidatta. Pada waktu itu, Pengurus istana Isidatta sedang berdiri di pintu masuk tengah [rumahnya], dikelilingi oleh para wanita [dari rumah tangganya], menanti Yang Mulia Anuruddha. Ia melihat Yang Mulia Anuruddha datang dari kejauhan. Ketika melihatnya, ia merentangkan tangannya dengan telapak tangan disatukan terhadap Yang Mulia Anuruddha dan dengan hormat berkata, “Selamat datang, Yang Mulia Anuruddha! Yang Mulia Anuruddha tidak kemari dalam waktu yang lama.” Kemudian, dengan hormat memapah Yang Mulia Anuruddha pada lengannya, Pengurus istana Isidatta membawanya ke dalam rumah dan mempersilakannya duduk pada tempat duduk bagus yang telah diatur untuknya.

Yang Mulia Anuruddha duduk pada tempat duduk itu. Pengurus istana Isidatta memberikan penghormatan pada kaki Yang Mulia Anuruddha, mengundurkan diri, dan duduk pada satu sisi. Setelah duduk ia berkata, “Yang Mulia Anuruddha, aku ingin menanyakan suatu pertanyaan. Semoga anda mengizinkan hal ini!”

Yang Mulia Anuruddha berkata, “Pengurus istana, tanyakanlah apa yang engkau inginkan. Setelah mendengarnya, aku akan mempertimbangkannya.”

Pengurus istana Isidatta berkata:

Yang Mulia Anuruddha, beberapa pertapa dan brahmana datang dan berkata kepadaku, “Pengurus istana, engkau seharusnya mengembangkan pembebasan pikiran yang luhur (mahaggata).” Dan, Yang Mulia Anuruddha, para pertapa dan brahmana lainnya datang dan berkata kepadaku, “Pengurus istana, engkau seharusnya mengembangkan pembebasan pikiran yang tak terukur (appamāṇa).”<77> Yang Mulia, [sehubungan dengan] “pembebasan pikiran yang luhur” dan “pembebasan pikiran yang tak terukur”, apakah dua pembebasan ini berbeda baik dalam ungkapan maupun maknanya? Atau apakah keduanya berbeda hanya dalam ungkapan namun memiliki makna yang sama?”

Yang Mulia Anuruddha berkata, “Pengurus istana, sehubungan dengan pertanyaan yang baru saja engkau tanyakan ini, pertama-tama engkau jawablah sendiri; setelah itu aku akan menjawabnya.”

Pengurus istana Isidatta berkata:

Yang Mulia Anuruddha, [sehubungan dengan] “pembebasan pikiran yang luhur” dan “pembebasan pikiran yang tak terukur”, [aku berpikir] bahwa dua pembebasan ini berbeda hanya dalam ungkapan dan memiliki makna yang sama.

Pengurus istana Isidatta dengan demikian tidak dapat menjawab pertanyaan itu [dengan benar]. Yang Mulia Anuruddha berkata:

Pengurus istana, dengarkanlah selagi aku menjelaskan padamu apakah “pembebasan pikiran yang luhur” dan apakah “pembebasan pikiran yang tak terukur”. Sehubungan dengan “pembebasan pikiran yang luhur”, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Berdiam dengan bergantung pada satu pohon ini, ia, melalui ketetapan hati, meliputi [wilayah di bawah pohon itu] dengan pembebasan pikirannya yang luhur. Pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.

Seumpamanya bahwa berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu atau dua atau tiga pohon, [pertapa atau brahmana itu], melalui ketetapan hati, meliputi [wilayah di bawah dua atau tiga pohon] dengan pembebasan pikirannya yang luhur. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Seumpamanya bahwa berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga pohon tetapi [seluruh] hutan, ia, melalui ketetapan hati, meliputi [wilayah itu] dengan pembebasan pikirannya yang luhur. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.

Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu hutan tetapi dua atau tiga hutan, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga hutan tetapi satu desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu desa tetapi dua atau tiga desa, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga desa tetapi satu negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu negeri tetapi dua atau tiga negeri, …. Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga negeri tetapi seluruh bumi yang besar ini, sampai sejauh samudera raya, [pertapa atau brahmana itu], melalui ketetapan hati, meliputi [wilayah yang luas] dengan pembebasan pikirannya yang luhur. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Ini adalah apa yang dimaksud dengan “pembebasan pikiran yang luhur”.

Pengurus istana, apakah “pembebasan pikiran yang tak terukur”? Seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, meliputi satu arah, demikian juga arah kedua, ketiga, dan keempat, dan juga empat arah di antaranya, atas, dan bawah, semua di sekelilingnya, di mana pun. Ia berdiam meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, [pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Dengan cara yang sama ia berdiam dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasih, … dengan kegembiraan empatik, … dengan keseimbangan, meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhnya dengan keseimbangan, tanpa belenggu-belenggu atau kebencian, tanpa permusuhan atau perselisihan, [pikiran] yang tidak terbatas, luhur, tak terukur, dan berkembang dengan baik. Ini adalah apa yang dimaksud dengan “pembebasan pikiran yang tak terukur”.

Pengurus istana, “pembebasan pikiran yang luhur” ini dan “pembebasan pikiran yang tak terukur” ini – apakah dua pembebasan ini berbeda baik dalam ungkapan maupun maknanya, atau apakah keduanya berbeda hanya dalam ungkapan namun memiliki makna yang sama?

Pengurus istana Isidatta berkata kepada Yang Mulia Anuruddha, “Seperti [baru saja] aku telah mendengarnya sekarang dari yang mulia dan karenanya memahami maknanya, dua pembebasan ini berbeda dalam ungkapan dan juga dalam makna.”<78>

Yang Mulia Anuruddha berkata:

Pengurus istana, terdapat tiga kelompok dewa [ini]: para dewa bercahaya, para dewa bercahaya murni, dan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas.<79> Dari [ketiga] ini, para dewa bercahaya terlahir di satu alam [tertentu]. Mereka tidak berpikir, “Ini milikku, itu milikku”; alih-alih, ke mana pun para dewa bercahaya ini pergi, mereka bergembira di tempat itu.

Pengurus istana, seperti halnya seekor lalat pada sepotong daging yang tidak berpikir, “Ini milikku, itu milikku” dan alih-alih, ke mana pun lalat itu pergi dalam potongan daging itu, ia bergembira di tempat itu.<80> Dengan cara yang sama. Para dewa bercahaya tidak berpikir, “Ini milikku, itu milikku”; alih-alih, ke mana pun para dewa bercahay ini pergi, mereka bergembira di tempat itu. Ada kalanya ketika para bercahaya berkumpul di satu tempat. Maka, walaupun tubuh mereka adalah berbeda, cahaya mereka adalah sama.

Pengurus istana, seperti halnya ketika seseorang menyalakan banyak sekali pelita dan menempatkannya dalam satu ruangan; walaupun pelita-pelita itu adalah berbeda, cahayanya adalah sama. Dengan cara yang sama, ketika para dewa bercahaya berkumpul di satu tempat, maka, walaupun tubuh mereka berbeda, cahaya mereka adalah sama. Ada kalanya ketika para dewa bercahaya terpisah dari satu sama lainnya. Ketika mereka terpisah dari satu sama lainnya, tubuh mereka adalah berbeda dan cahaya mereka adalah juga berbeda.

Pengurus istana, seperti halnya ketika seseorang mengambil banyak sekali pelita dari satu ruangan dan menempatnya secara terpisah dalam banyak ruangan; pelita-pelita itu adalah berbeda dan cahayanya juga berbeda. Sama halnya ketika para dewa bercahaya terpisah dari satu sama lainnya; ketika mereka terpisah dari satu sama lainnya, tubuh mereka adalah berbeda dan cahaya mereka juga berbeda.

Kemudian Yang Mulia Kaccāna Sejati berkata, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan denga para dewa bercahaya itu yang terlahir di satu alam, apakah seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”<81>
Yang Mulia Anuruddha menjawab, “Yang Mulia Kaccāna, sehubungan dengan para dewa bercahaya itu yang terlahir dalam satu alam, dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka.”
Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya itu yang terlahir di satu alam, apakah sebabnya, apakah alasannya seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingka kehalusan mereka?”

Yang Mulia Anuruddha menjawab:

Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam di wilayah hutan, pergi ke bawah sebatang pohon di tempat yang kosong dan sunyi. Berdiam dengan bergantung pada satu pohon ini, ia mencapai persepsi [atas wilayah di bawah pohon itu] dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.

Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu pohon tetapi dua atau tiga pohon, ia mencapai persepsi [atas wilayah di bawah dua atau tiga pohon itu] dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya.

Yang Mulia Kaccāna, dari dua pembebasan pikiran ini, manakah yang lebih tinggi, yang manakah yang lebih unggul, manakah yag lebih halus, manakah yang lebih baik?

Yang Mulia Kaccāna Sejati menjawab:

Yang Mulia Anuruddha, seumpamanya bahwa seorang pertapa atau brahmana, yang berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu pohon tetapi dua atau tiga pohon, mencapai persepsi [atas wilayah di bawah dua atau tiga pohon itu] dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Yang Mulia Anuruddha, dari dua pembebasan ini, pembebasan yang terakhir adalah lebih tinggi, lebih unggul, lebih halus, yang terbaik.

Yang Mulia Anuruddha bertanya lebih lanjut:

Yang Mulia Kaccāna, seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga pohon tetapi satu hutan, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu hutan tetapi dua atau tiga hutan, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga hutan tetapi satu desa, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu desa tetapi dua atau tiga desa, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga desa tetapi satu negeri, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu negeri tetapi dua atau tiga negeri, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga negeri tetapi seluruh bumi yang besar ini, sampai dengan samudera raya, ia mencapai persepsi [atas wilayah luas ini] dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Yang Mulia Kaccāna, dari dua pembebasan pikiran [terakhir] itu, manakah yang lebih tinggi, lebih unggul, lebih halus, lebih baik?

Yang Mulia Kaccāna Sejati menjawab:

Yang Mulia Anuruddha, seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga pohon tetapi satu hutan, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu hutan tetapi dua atau tiga hutan, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga hutan tetapi satu desa, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu desa tetapi dua atau tiga desa, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga desa tetapi satu negeri, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] satu negeri tetapi dua atau tiga negeri, .... Seumpamanya bahwa, berdiam dengan bergantung pada tidak [hanya] dua atau tiga negeri tetapi seluruh bumi yang besar ini, sampai sejauh samudera raya, seorang pertapa atau brahmana mencapai persepsi [atas wilayah luas ini] dengan cahaya yang dihasilkan melalui ketetapan hati. Persepsinya dengan cahaya yang dihasilkan secara batin adalah sangat berlimpah. [Namun] pembebasan pikirannya memiliki batas ini dan tidak melampauinya. Yang Mulia Anuruddha, dari dua pembebasan [terakhir] itu, pembebasan terakhir adalah lebih tinggi, lebih unggul, lebih halus, lebih baik.

Yang Mulia Anuruddha berkata:

[Yang Mulia] Kaccāna, inilah sebabnya, inilah mengapa, sehubungan dengan para dewa bercahaya itu yang terlahir di satu alam, seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka. Mengapakah demikian? Ini disebabkan oleh keunggulan relatif pikiran mereka ketika mereka adalah manusia. Dalam pengembangan mereka terdapat tingkat kehalusan atau kekasaran. Karena tingkat kehalusan atau kekasaran dalam pengembangan mereka, para manusia memiliki tingkatan keungulan. Yang Mulia Kaccāna, Sang Bhagavā juga telah menjelaskan keunggulan relatif di antara para manusia dengan cara ini.<82>

Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni itu yang terlahir di satu alam, apakah dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”

Yang Mulia Anuruddha menjawab, “Yang Mulia Kaccāna, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni itu yang terlahir di satu alam, dapat dikatakan bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka.”

Yang Mulia Kaccāna Sejati bertanya lebih lanjut, “Yang Mulia Anuruddha, sehubungan dengan para dewa bercahaya murni itu yang terlahir di satu alam, apakah sebabnya, apakah alasannya bahwa seseorang dapat mengetahui keunggulan relatif mereka, tingkat kehalusan mereka?”

89
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 27 September 2020, 07:46:22 PM »
Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian, “Aku telah [melakukan] keajaiban-keajaiban untuk Brahmā ini dan pengiringnya. Sekarang biarlah aku menarik kekuatan batinku.”

Kemudian Sang Bhagavā menarik kekuatan batin beliau dan kembali untuk tetap berada dalam alam Brahmā. Kemudian Raja Māra kembali bergabung dalam perkumpulan itu, sampai dengan tiga kali.<72> Pada waktu itu Raja Māra berkata kepada Sang Bhagavā:

Pertapa Agung, engkau melihat dengan baik, engkau mengetahui dengan baik, engkau merealisasi dengan baik. Namun janganlah mengajar dan menasihati para siswa, dan janganlah mengajarkan Dharma!

Janganlah melekat untuk [memiliki] para siswa. Janganlah, melalui kemelekatan [untuk memiliki] para siswa, mengambil kelahiran kembali di antara para bidadari yang rendah ketika hancurnya jasmani pada saat kematian. Jalankanlah tanpa-berbuat. [Hanya] alamilah kebahagiaan dalam kehidupan masa sekarang. Mengapakah demikian? Pertapa Agung, engkau hanya akan menyulitkan dirimu sendiri dengan sia-sia.

Pertapa Agung, pada masa lampau terdapat para pertapa dan brahmana yang menasihati para siswa, mengajar para siswa, dan mengajarkan Dharma kepada para siswa. Mereka bergembiran dan menjadi melekat untuk [memiliki] para siswa. Melalui kemelekatan untuk [memiliki] para siswa, mereka terlahir kembali di antara para bidadari yang rendah, ketika hancurnya jasmani pada saat kematian.

Karena alasan ini, Pertapa Agung, aku katakan padamu, “Janganlah mengajar dan menasihati para siswa, dan janganlah mengajarkan Dharma kepada para siswa. Janganlah melekat untuk [memiliki] para siswa. Janganlah, melalui kemelekatan untuk [memiliki] para siswa, mengambil kelahiran kembali di antara para bidadari yang rendah ketika hancurnya jasmani pada saat kematian. Jalankanlah tanpa-berbuat. [Hanya] alamilah kebahagiaan masa sekarang. Mengapakah demikian? Pertapa Agung, engkau hanya akan menyulitkan dirimu sendiri dengan sia-sia.”

Kemudian Sang Bhagavā berkata:

Māra, Si Jahat, bukan karena engkau mencari manfaat, kesejahteraan, kebahagiaan, atau kenyamanan bagiku sehingga engkau berkata kepadaku, “Janganlah mengajar dan menasihati para siswa, dan janganlah mengajarkan Dharma kepada para siswa. Janganlah melekat untuk [memiliki] para siswa. Janganlah, melalui kemelekatan untuk [memiliki] para siswa, mengambil kelahiran kembali di antara para bidadari yang rendah ketika hancurnya jasmani pada saat kematian. Jalankanlah tanpa-berbuat. [Hanya] alamilah kebahagiaan masa sekarang. Mengapakah demikian? Pertapa Agung, engkau hanya akan menyulitkan dirimu sendiri dengan sia-sia.”

Māra, Si Jahat, engkau berpikir demikian: “Pertapa Gotama ini akan mengajarkan Dharma kepada para siswa. Setelah mendengar Dharma, para siswa akan melepaskan diri dari wilayahku.” Māra, Si Jahat, adalah karena alasan ini sehingga engkau berkata kepadaku, “Janganlah mengajar dan menasihati para siswa, dan janganlah mengajarkan Dharma kepada para siswa. Janganlah menjadi melekat untuk [memiliki] para siswa, mengambil kelahiran kembali di antara para bidadari yang rendah ketika hancurnya jasmani pada saat kematian. Jalankanlah tanpa-berbuat. [Hanya] alamilah kebahagiaan masa sekarang. Mengapakah demikian? Pertapa Agung, engkau hanya akan menyulitkan dirimu sendiri dengan sia-sia.”

Māra, Si Jahat, seumpamanya terdapat para pertapa dan brahmana yang menasihati para siswa, mengajar para siswa, dan mengajarkan Dharma kepada para siswa, yang bergembira dalam dan melekat untuk [memiliki] para siswa, dan yang, melalui kemelekatan untuk [memiliki] para siswa, terlahir kembali di antara para bidadari yang rendah ketika hancurnya jasmani pada saat kematian.

Para pertapa dan brahmana tersebut mengaku sebagai pertapa tanpa menjadi pertapa, mereka mengaku sebagai brahmana tanpa menjadi brahmana, mereka mengaku sebagai arahant tanpa menjadi arahant, mereka mengaku sebagai yang tercerakan sempurna tanpa menjadi yang tercerahkan sempurna.

Māra, Si Jahat, aku mengaku sebagai seorang pertapa ketika sepenuhnya menjadi seorang pertapa, aku mengaku sebagai seorang brahmana ketika sepenuhnya menjadi seorang brahmana, aku mengaku sebagai seorang arahant ketika sepenuhnya menjadi seorang arahant, aku mengaku sebagai yang tercerahkan sempurna ketika sepenuhnya menjadi yang tercerahkan sempurna.

Māra, Si Jahat, sehubungan dengan apakah aku mengajarkan Dharma kepada para siswa atau tidak – engkau cukup menjauhlah dari hal itu! Aku sekarang mengetahui bagi diriku sendiri kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan Dharma kepada para siswa.<73>

Demikianlah undangan oleh Brahmā dan bantahan oleh Māra, Si Jahat, pada apa yang dikatakan Sang Bhagavā sebagai tanggapannya. Karena alasan ini kotbah ini disebut “Undangan Brahmā kepada Sang Buddha.”

Demikianlah yang diucapkan Sang Buddha. Setelah mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, Brahmā dan pengiringnya bergembira dan menerimanya dengan hormat.

90
DhammaCitta Press / Re: Madhyama Agama vol. II (Bagian 7)
« on: 27 September 2020, 07:44:46 PM »
78. Kotbah tentang Undangan Brahmā kepada Sang Buddha<65>

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, tinggal di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu terdapat Brahmā tertentu yang berdiam di alam Brahmā yang memunculkan pandangan salah ini: “Alam ini adalah kekal, alam ini adalah abadi, alam ini bertahan selamanya, alam ini adalah intisarinya, alam ini adalah bersifat tanpa akhir. Alam ini adalah pembebasan; tidak ada pembebasan lain yang lebih tinggi daripada pembebasan ini. Ini adalah yang tertinggi, luhur, dan agung.”

Kemudian Sang Bhagavā, yang dengan pengetahuannya atas pikiran orang lain mengetahui pemikiran dalam pikiran Brahmā itu, memasuki keadaan konsentrasi yang sesuai. Melalui keadaan konsentrasi yang sesuai ini, [semudah dan secepat] seperti seseorang yang kuat membengkokkan dan meluruskan lengannya, beliau lenyap dari Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika di Sāvatthī, dan muncul di alam Brahmā.

Pada waktu itu, ketika melihat Sang Bhagavā tiba, Brahmā itu mengundang Sang Bhagavā:

Selamat datang, Pertapa Agung! Alam ini adalah kekal, alam ini adalah abadi, alam ini bertahan selamanya, alam ini adalah intisarinya, alam ini adalah bersifat tanpa akhir. Alam ini adalah pembebasan; tidak ada pembebasan lain yang lebih tinggi daripada pembebasan ini. Ini adalah yang tertinggi, luhur, agung.

Kemudian Sang Bhagavā berkata:

Brahmā, engkau memuji sebagai kekal apa yang tidak kekal; engkau memuji sebagai abadi apa yang tidak abadi; engkau memuji sebagai bertahan apa yang tidak bertahan; engkau memuji sebagai intisarinya apa yang bukan intisarinya; engkau memuji sebagai yang bersifat tanpa akhir apa yang bersifat [akan] berakhir. Engkau memuji sebagai pembebasan apa yang bukan pembebasan, [dengan menyatakan] bahwa tidak ada pembebasan lain yang lebih tinggi daripada pembebasan ini, bahwa ini adalah yang tertinggi, luhur, agung. Brahmā, ini adalah ketidaktahuan pada pihakmu. Brahmā, ini adalah ketidaktahuan pada pihakmu.

Pada waktu itu, Māra, Si Jahat sedang berada di antara perkumpulan itu.<66> Kemudian Māra, Si Jahat, berkata kepada Sang Bhagavā:

Bhikkhu, janganlah membantah apa yang dikatakan Brahmā ini! Janganlah menentang apa yang dikatakan Brahmā ini! Bhikkhu, jika engkau membantah apa yang dikatakan Brahmā ini, jika engkau menentang apa yang dikatakan Brahmā ini, maka, bhikkhu, ini akan seperti seseorang membawakanmu sesuatu yang menguntungkan tetapi engkau menolaknya. Apa yang engkau katakan, bhikkhu, adalah seperti itu.

Oleh sebab itu, bhikkhu, aku katakan padamu, “Janganlah membantah apa yang dikatakan Brahmā ini! Janganlah menentang apa yang dikatakan Brahmā ini!” Bhikkhu, jika engkau membantah apa yang dikatakan Brahmā ini, jika engkau menentang apa yang dikatakan Brahmā ini, maka, bhikkhu, engkau akan seperti seseorang yang jatuh dari puncak gunung dan menangkap ruang kosong dengan tangan dan kakinya tetapi tidak menemukan apa pun untuk berpegangan. Apa yang engkau katakan, bhikkhu, adalah seperti itu.

Oleh sebab itu, bhikkhu, aku katakan padamu, “Janganlah membantah apa yang dikatakan Brahmā ini! Janganlah menentang apa yang dikatakan Brahmā ini!” Bhikkhu, jika engkau membantah apa yang dikatakan Brahmā ini, jika engkau menentang apa yang dikatakan Brahmā ini, maka, bhikkhu, engkau akan seperti seseorang yang jatuh dari puncak pohon dan menangkap ranting-ranting dan dedaunan dengan tangan dan kakinya tetapi tidak menemukan apa pun untuk berpegangan. Apa yang engkau katakan, bhikkhu, adalah seperti itu.

Oleh sebab itu, bhikkhu, aku katakan padamu, “Janganlah membantah apa yang dikatakan Brahmā ini! Janganlah menentang apa yang dikatakan Brahmā ini!” Mengapakah demikian? Ini adalah Brahmā dari para Brahmā, yang berbahagia, yang mampu melakukan keajaiban-keajaiban. Ia adalah yang paling dihormati, dapat membuat, dapat menciptakan. Ia adalah ayah [semua makhluk hidup]; apa pun makhluk hidup yang telah muncul atau akan muncul, semuanya muncul dari dirinya. Ia mengetahui semua yang dapat diketahui; ia melihat semua yang dapat dilihat.

Pertapa Agung, jika seorang pertapa atau brahmana jijik terhadap [unsur] tanah dan mencela tanah, maka ketika hancurnya jasmani pada saat kematian ia pasti akan terlahir kembali di antara para bidadari yang rendah. Hal yang sama untuk [unsur] air, … api, … [dan] angin, … untuk para makhluk halus … dewa … Pajāpati, … jika ia jijik terhadap Brahmā dan mencela Brahmā, maka ketika hancurnya jasmani pada saat kematian ia pasti akan terlahir kembali di antara para bidadari yang rendah.

[Sebaliknya,] jika seorang pertapa atau brahmana bergembira dalam [unsur] tanah dan memuji tanah, maka ketika hancurnya jasmani pada saat kematian ia pasti akan terlahir kembali di antara para Brahmā yang tertinggi dan paling dihormati.

Hal yang sama untuk [unsur] air, … api, … [dan] angin, … untuk para makhluk halus … dewa … Pajāpati, … jika ia bergembira dalam Brahmā dan memuji Brahmā, maka ketika hancurnya jasmani pada saat kematian ia pasti akan terlahir kembali di antara para Brahmā yang tertinggi dan paling dihormati. Pertapa Agung, apakah engkau tidak melihat perkumpulan besar pengiring Brahmā ini, yang duduk di sini pada posisi yang sama sepertiku?

Māra, Si Jahat itu, walaupun bukan seorang Brahmā atau salah seorang dari pengiring Brahmā, menyatakan dirinya sendiri, “Akulah seorang Brahmā.”

Pada waktu itu, Sang Bhagavā berpikir demikian, “Māra, Si Jahat ini, walaupun ia bukan seorang Brahmā atau salah seorang dari pengiring Brahmā, menyatakan dirinya sendiri, ‘Akulah seorang Brahmā.’ Jika sesungguhnya terdapat seseorang yang disebut Māra, Si Jahat, maka ini hanyalah Māra, Si Jahat ini.”

Setelah memahami hal ini, Sang Bhagavā berkata:

Māra, Si Jahat, engkau bukanlah Brahmā ataupun engkau bukan salah seorang dari pengiring Brahmā, tetapi engkau menyatakan dirimu sendiri, “Akulah Brahmā.” Jika sesungguhnya terdapat seseorang yang disebut Māra, Si Jahat, maka engkau hanyalah Māra, Si Jahat.

Kemudian Māra, Si Jahat, berpikir, “Sang Bhagavā mengetahuiku; Sang Sugata melihatku.” Mengetahui hal ini, ia menjadi putus asa dan langsung menghilang tepat di sana.<67>

Kemudian Brahmā itu mengundang [lagi] Sang Bhagavā sampai tiga kali:

Selamat datang, Pertapa Agung. Alam ini adalah kekal, alam ini adalah abadi, alam ini bertahan selamanya, alam ini adalah intisarinya, alam ini adalah bersifat tanpa akhir. Alam ini adalah pembebasan; tidak ada pembebasan lain yang lebih tinggi daripada pembebasan ini. Ini adalah yang tertinggi, luhur, agung.

Sang Bhagavā juga berkata sampai tiga kali:

Brahmā, engkau memuji sebagai kekal apa yang tidak kekal; engkau memuji sebagai abadi apa yang tidak abadi; engkau memuji sebagai bertahan apa yang tidak bertahan; engkau memuji sebagai intisarinya apa yang bukan intisarinya; engkau memuji sebagai yang bersifat tanpa akhir apa yang bersifat [akan] berakhir. Engkau memuji sebagai pembebasan apa yang bukan pembebasan, [dengan menyatakan] bahwa tidak ada pembebasan lain yang lebih tinggi daripada pembebasan ini, bahwa ini adalah yang tertinggi, luhur, agung. Brahmā, ini adalah ketidaktahuan pada pihakmu. Brahmā, ini adalah ketidaktahuan pada pihakmu.

Kemudian Brahmā itu berkata kepada Sang Bhagavā:

Pertapa Agung, dahulu terdapat para pertapa dan brahmana dengan masa kehidupan sangat panjang yang tetap hidup selama waktu yang sangat panjang. Pertapa Agung, masa kehidupanmu sangat pendek, lebih singkat daripada lamanya satu kali duduk dalam keterasingan dari para pertapa dan brahmana itu.

Mengapakah demikian? Mereka mengetahui semua yang dapat diketahui, mereka melihat semua yang dapat dilihat. Jika sesungguhnya terdapat suatu pembebasan, maka tidak ada pembebasan lain yang lebih tinggi daripada pembebasan ini, karena ini adalah yang tertinggi, luhur, agung. Dan jika sesungguhnya tidak ada pembebasan, maka tidak ada pembebasan lain yang lebih tinggi daripada pembebasan ini, karena ini adalah yang tertinggi, luhur, agung. Pertapa Agung, engkau memahami apa yang merupakan pembebasan sebagai bukan pembebasan; engkau memahami apa yang bukan pembebasan sebagai pembebasan. Dengan cara ini engkau tidak akan mencapai pembebasan; [sebaliknya] ini akan menjadi delusi besar [bagimu].

Mengapakah demikian? Karena ini di luar batasmu.

Pertapa Agung, jika seorang pertapa atau brahmana bergembira dalam tanah dan memuji tanah, maka berada dalam kekuasaanku; ia pasti mengikuti keinginanku, pasti mengikuti perintahku. Dengan cara yang sama untuk air, … api, … angin, … para makhluk halus, … dewa, … Pajāpati, … jika ia bergembira dalam Brahmā, memuji Brahmā, maka ia berada dalam kekuasaanku; ia pasti mengikuti keinginanku, pasti mengikuti perintahku.

Pertapa Agung, jika engkau bergembira dalam tanah dan memuji tanah, maka engkau juga berada dalam kekuasaanku; engkau pasti mengikuti keinginanku, pasti mengikuti perintahku. Dengan cara yang sama untuk air, … api, … angin, … para makhluk halus, … dewa, … Pajāpati, … jika engkau bergembira dalam Brahmā dan memuji Brahmā, maka engkau juga berada dalam kekuasaanku; engkau pasti mengikuti keinginanku, pasti mengikuti perintahku.

Terhadap hal ini Sang Bhagavā berkata:

Demikianlah, Brahmā; apa yang dikatakan Brahmā adalah kebenaran. Jika seorang pertapa bergembira dalam [unsur] tanah dan memuji tanah, maka ia berada dalam kekuasaanmu; ia pasti akan mengikuti keinginanmu dan mengikuti perintahmu. Dengan cara yang sama untuk air, … api, … angin, … para makhluk halus, … dewa, … Pajāpati, … jika ia bergembira dalam Brahmā dan memuji Brahmā, maka ia berada dalam kekuasaanmu; ia pasti mengikuti keinginanmu dan mengikuti perintahmu.

Brahmā, jika aku bergembira dalam [unsur] tanah dan memuji unsur tanah, maka aku juga akan berada dalam kekuasaanmu; aku pasti akan mengikuti keinginanmu dan mengikuti perintahmu. Dengan cara yang sama untuk air, … api, … angin, … para makhluk halus, … dewa, … Pajāpati, … jika aku bergembira dalam Brahmā dan memuji Brahmā, maka aku juga akan berada dalam kekuasaanmu; ia pasti akan mengikuti keinginanmu dan mengikuti perintahmu.

Brahmā, sehubungan dengan delapan objek ini, [empat unsur dan empat kelompok makhluk surgawi,] jika aku mengikuti objek-objek ini, bergembira di dalamnya dan memuji mereka, maka ini akan menjadi jalan [apa yang engkau jelaskan].
[Namun,] Brahmā, aku mengetahui dari mana engkau datang dan ke mana engkau pergi, di mana engkau berdiam, di mana kehidupan berakhir, dan di mana engkau terlahir kembali. [Aku mengetahui bahwa] jika seseorang muncul sebagai seorang Brahmā, ia memiliki kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan dewa yang besar.

Terhadap hal ini Brahmā itu berkata kepada Sang Bhagavā:

Pertapa agung, bagaimanakah engkau mengetahui apa yang kuketahui dan melihat apa yang kulihat? Bagaimanakah engkau sepenuhnya mengenali kekuasaanku, yang bagaikan matahari, yang dengan cemerlang menerangi semua arah dalam ribuan dunia ini? Apakah engkau [juga] telah memperoleh kekuasaan dalam ribuan dunia ini? Dalam mengetahui berbagai dunia di mana tidak ada siang dan malam itu, apakah engkau, Pertapa Agung, melewatinya? Apakah engkau sering melewatinya?

Sang Bhagavā menjawab:

Brahmā, kekuasaanmu bagaikan matahari, yang dengan cemerlang menerangi semua arah dalam ribuan dunia. Dalam ribuan dunia ini, aku [juga] telah mencapai kekuasaan dan aku juga mengetahui berbagai dunia di mana tidak terdapat siang dan malam itu. Brahmā, aku telah melewatinya. Aku sering melewatinya.

Brahmā, terdapat tiga kelompok para dewa [lebih lanjut]: para dewa bercahaya, pada dewa bercahaya murni, dan para dewa bercahaya murni yang menyebar luas.<68> Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang dimiliki tiga kelompok dewa itu, aku juga memiliki pengetahuan dan penglihatan itu. Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak dimiliki tiga kelompok dewa ini, aku sendiri memiliki pengetahuan dan penglihatan itu. Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang dimiliki tiga kelompok dewa itu dan para pengiring mereka, aku juga memiliki pengetahuan dan penglihatan itu. Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak dimiliki tiga kelompok dewa ini dan para pengiring mereka, aku sendiri memiliki pengetahuan dan penglihatan itu.

Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang engkau miliki, aku juga memiliki pengetahuan dan penglihatan ini. Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak engkau miliki, aku sendiri memiliki pengetahuan dan penglihatan itu. Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang engkau dan pengiringmu miliki, aku juga memiliki pengetahuan dan penglihatan ini. Brahmā, apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak engkau dan pengiringmu miliki, aku memiliki pengetahuan dan penglihatan ini. Brahmā, engkau tidak sama sepenuhnya denganku; engkau dengan cara apa pun tidak sama denganku. Alih-alih, aku lebih tinggi daripada dirimu; aku lebih agung daripada dirimu.

Kemudian, Brahmā itu berkata kepada Sang Bhagavā:

Pertapa Agung, bagaimanakah bahwa apa pun pengetahuan dan penglihatan yang dimiliki tiga kelompok dewa itu, engkau juga memiliki pengetahuan dan penglihatan itu; apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak dimiliki tiga kelompok dewa itu, engkau sendiri memiliki pengetahuan dan penglihatan itu; apa pun pengetahuan dan penglihatan yang dimiliki tiga kelompok dewa itu dan para pengiring mereka, engkau juga memiliki pengetahuan dan penglihatan itu; dan apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak dimiliki tiga kelompok dewa itu dan para pengiringnya, engkau sendiri memiliki pengetahuan dan penglihatan itu?

[Bagaimanakah bahwa] apa pun pengetahuan dan penglihatan yang kumiliki, engkau juga memiliki pengetahuan dan penglihatan ini; apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak kumiliki, engkau sendiri memiliki pengetahuan dan penglihatan itu; apa pun pengetahuan dan penglihatan yang dimiliki olehku dan pengiringku, engkau juga memiliki pengetahuan dan penglihatan itu; dan apa pun pengetahuan dan penglihatan yang tidak dimiliki olehku dan pengiringku, engkau sendiri memiliki pengetahuan dan penglihatan itu?

Pertapa Agung, apakah engkau tidak mengatakan hal ini karena nafsu? Dengan ditanyakan berulang-ulang engkau tidak akan mengetahui [bagaimana menjawabnya] dan menjadi lebih kebingungan. Mengapakah demikian? Karena aku menyadari tak terhitung dunia, aku memiliki tak terhitung pengetahuan, tak terhitung penglihatan, tak terhitung pembedaan, dan aku mengetahui masing-masing dan setiap hal dengan jelas. Tanah ini kuketahui sebagai tanah, ... air, ... api, ... angin, ... para makhluk halus, ... dewa, ... Pajāpati, ... Brahmā ini kuketahui sebagai Brahmā.”

Terhadap hal ini Sang Bhagavā berkata:

Brahmā, jika terdapat seorang pertapa atau brahmana yang sehubungan dengan [unsur] tanah memiliki persepsi tanah sebagai “tanah adalah aku”, “tanah adalah milikku”, “aku milik tanah”, maka, karena ia menganggap tanah sebagai diri, ia tidak [sepenuhnya] mengetahui [unsur] tanah. Dengan cara yang sama untuk air, ... api, ... angin, ... para makhluk halus, ... dewa, ... Pajāpati, ... Brahmā, ... [para dewa] tanpa gangguan, ... [para dewa] tanpa dukacita, ... jika sehubungan dengan kemurnian ia memiliki persepsi kemurnian sebagai “kemurnian adalah aku”, “kemurnian adalah milikku”, “aku milik kemurnian”, maka, karena ia menganggap kemurnian sebagai diri, ia tidak [sepenuhnya] mengetahui kemurnian.

Brahmā, jika terdapat seorang pertapa atau brahmana yang sehubungan dengan [unsur] tanah mengetahui tanah sebagai “tanah bukan aku”, “tanah bukan milikku”, “aku bukan milik tanah”, maka, karena ia tidak menganggap tanah sebagai diri, ia [sepenuhnya] mengetahui [unsur] tanah. Dengan cara yang sama untuk air, ... api, ... angin, ... para makhluk halus, ... dewa, ... Pajāpati, ... Brahmā, ... [para dewa] tanpa gangguan, ... [para dewa] tanpa dukacita, ... sehubungan dengan kemurnian ia mengetahui kemurnian sebagai “kemurnian bukan aku”, “kemurnian bukan milikku”, “aku bukan milik kemurnian”, maka, karena ia tidak menganggap kemurnian sebagai diri, ia [sepenuhnya] mengetahui kemurnian.

Brahmā, sehubungan dengan [unsur] tanah aku mengetahui tanah sebagai “tanah bukan aku”, “tanah bukan milikku”, “aku bukan milik tanah.” Karena aku tidak menganggap tanah sebagai diri, aku [sepenuhnya] mengetahui [unsur] tanah. Dengan cara yang sama untuk air, ... api, ... angin, ... para makhluk halus, ... dewa, ... Pajāpati, ... Brahmā, ... [para dewa] tanpa gangguan, ... [para dewa] tanpa dukacita, .... Sehubungan dengan kemurnian aku mengetahui kemurnian sebagai “kemurnian bukan aku”, “kemurnian bukan milikku”, “aku bukan milik kemurnian.” Karena ia tidak menganggap kemurnian sebagai diri, aku [sepenuhnya] mengetahui kemurnian.<69>

Kemudian Brahmā itu berkata kepada Sang Bhagavā:

Pertapa Agung, makhluk-makhluk hidup ini menginginkan penjelmaan, bergembira dalam penjelmaan, terbiasa dengan penjelmaan. [Namun] engkau telah mencabut landasan penjelmaan. Mengapakah demikian? [Karena] engkau disebut sebagai seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, yang tercerahkan sepenuhnya.

Kemudian [Sang Buddha] mengucapkan bait ini:<70>

Melihat ketakutan dalam penjelmaan
Dan tidak melihat ketakutan dalam tanpa-penjelmaan,
Oleh sebab itu janganlah bergembira dalam penjelmaan!
Mengapakah penjelmaan tidak seharusnya ditinggalkan?

[Brahmā itu berkata,] “Pertapa Agung, aku sekarang ingin membuat diriku menghilang.”

Sang Bhagavā berkata, “Brahmā, jika engkau ingin membuat dirimu menghilang, maka lakukanlah seperti keinginanmu.”
Kemudian, ke mana pun Brahmā membuat dirinya menghilang, Sang Bhagavā segera mengetahui, “Brahmā, engkau berada di sana. Engkau berada di sini. Engkau berada di antaranya.”

Kemudian Brahmā itu melakukan semua yang ia mampu untuk mewujudkan kekuatan batinnya. Ia ingin membuat dirinya menghilang tetapi tidak dapat menghilang. Ia kembali, dengan tetap berada dalam alam Brahmā. Kemudian, Sang Bhagavā berkata, “Brahmā, sekarang aku juga ingin membuat diriku menghilang.”

Kemudian Brahmā berkata kepada Sang Bhagavā, “Pertapa Agung, jika engkau ingin membuat dirimu menghilang, lakukanlah seperti keinginanmu.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir demikian, “Biarlah aku sekarang mewujudkan suatu kekuatan batin yang sesuai sedemikian sehingga aku memancarkan suatu cahaya yang sangat cemerlang, yang menerangi seluruh kekuasaan Brahmā selagi diriku sendiri tetap tidak terlihat, sehingga Brahmā dan pengiringnya hanya akan mendengar suaraku dan tidak melihat wujudku.”

Kemudian Sang Bhagavā mewujudkan suatu kekuatan batin yang sesuai sedemikian sehingga beliau memancarkan suatu cahaya yang sangat cemerlang, yang menerangi seluruh alam Brahmā selagi beliau sendiri tetap tidak terlihat, sehingga Brahmā dan pengiringnya hanya mendengar suara beliau dan tidak melihat wujud beliau.<71>

Kemudian Brahmā dan semua orang dalam pengiring Brahmā berpikir demikian, “Pertapa Gotama adalah yang paling mengagumkan, paling luar biasa. Ia memiliki kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan dewa yang besar. Mengapakah demikian? Ia memancarkan suatu cahaya yang sangat cemerlang, yang menerangi seluruh alam Brahmā selagi ia sendiri tidak terlihat, sehingga aku dan pengiringku hanya mendengar suaranya dan tidak melihat wujudnya.”

Pages: 1 2 3 4 5 [6] 7 8 9 10 11 12 13 ... 228