//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - seniya

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 [8] 9 10
106
Kafe Jongkok / Malam tahun baru ngapain???
« on: 24 December 2011, 02:05:52 PM »
Gak terasa tahun baru tinggal seminggu lg. Bg teman2 DC ayo share donk rencana nantinya di malam tahun baru mau ngapain.... :)

Kalo saya sendiri kemungkinan besar di rumah aja,tidur panjang sampai 1 tahun... :D

Ato mgkn ada teman2 yg malam tahun baruannya nongkrong di DC?

107
Theravada / Anatt? dan Nibb?na
« on: 15 December 2011, 10:32:48 PM »
Ini adalah terjemahan dari karya Bhikkhu Nyanaponika Thera tentang kaitan antara Anatta (ajaran tanpa aku) dan Nibbana. Di sini sang penulis memaparkan bahwa Nibbana melampaui dua pandangan ekstrem ketiadaan (nihilistik) dan keberadaan (eternalistik); Nibbana sama dengan prinsip Anatta, bukanlah ketiadaan juga bukan keberadaan, berdasarkan berbagai sumber dari teks Pali. Pendekatan negatif maupun positif terhadap Nibbana yang ditemukan dalam teks Pali kadangkala disalahartikan sebagai pandangan ekstrem nihilistik atau pun eternalistik.

Semoga bermanfaat.

_/\_

108


Dr video di atas saya liat mereka bukan memperingati kelahiran Yesus,melainkan mengisi hr libur Natal dg ritual2 Buddhist yg diasimilasikan spt perayaan Natal. Bagaimana menurut teman2 mengenai hal?

109
Keluarga & Teman / Cinta dan Agama
« on: 30 November 2011, 01:47:19 PM »
Mohon bantuannya,teman2 se-Dhamma

Sy punya teman sejak SMP dulu. Dulu kami sama2 rajin k vihara wkt SMP. Sewaktu kuliah kami ketemu lg krn satu kampus. Dia satu angkatan d atas sy. Stlh lulus kami tdk bnyk bertemu lg krn masing2 punya pekerjaan yg berbeda.

Sesekali saya mendengar ttg kabarnya dr teman yg satu tmpt kerja dg dia. Akhirny wkt saya memutuskan utk mencari pekerjaan lain, sy menghub dia dan bs satu kerjaan dg dia,bhkan satu bgn/divisi.

Ternyata bnyk hal yg telah berubah sejak masa kuliah dulu. Dulu ia Buddhis dg pengetahuan Dharma yg lumayan. Skrg ia udh jd Muslim krn cinta. Dulu smpt pacaran dg sesama Buddhis,tp putus krn sesuatu hal. Kemudian ia bertemu dg cewek lain yg Muslim. Mrk menjalin hubungan,dan teman saya ini (cowok) memutuskan utk masuk Islam sbg tanda cintanya kpd sang kekasih.

Dr kalangan teman2 kami ad yg mengatakan dia pasti kena pelet. Tetapi saya gak bs memastikan hal tsb dr pergaulan sy dg dia d kantor. Memang kalo cewekny minta sesuatu d jam kantor,pasti dia meninggalkan pekerjaan d kantor dg izin alasan tertentu kpd atasan. Pokokny semua dituruti shg saya pernah menegurnya.

Pertanyaan saya:
1. Saya sangat menyayangkan teman saya tsb pindah agama gara2 cinta. Mulanya sy tny dia,katany ia tdk menjiwai agama barunya,tetapi akhir2 ini dia mulai mendalami agamany bhkan rajin shalat.
Mgkn ini tdk etis krn agama kan urusan masing2,tetapi dlm hati sy ingin mem-Buddhis-kan dia kembali. Apakah mungkin mengingat ikatan cinta kan lbh kuat? Bgmn caranya?

2. Kenapa kalo seorg Buddhis berhub dg non-Buddhis,pasti yg ditarik pindah agama adl yg Buddhis?

3. Soal kemungkinan teman sy kena pelet,timbul kecurigaan demikian krn org2 mengenal dia orgnya gak mgkn mau ama org non-Buddhis. Selain itu tiap hr si cewek slalu membawakan makan siang utk dia. Apakah ad cara utk mengetahui apakah seseorg kena pelet atau tdk?

Ps. Saya cowok lo. Dr beberapa posting saya d thread lain,sy dipanggil sis ataupun ci. Mgkn krn nick user saya spt nama wanita (padahal Seniya itu nama depan raja Bimbisara),tampakny harus ganti display name nih.... :)

110
Diskusi Umum / Mangkuk Sang Buddha ada di Kabul, Afghanistan????
« on: 26 November 2011, 10:48:36 PM »
Ternyata barang bersejarah peninggalan Sang Buddha masih dapat ditemukan di Afghanistan:

Quote
One of the most revered relics in the ancient Buddhist world was the Buddha’s begging bowl. A rough outline of its long convoluted history is this – it was supposedly given to the people of Vesali when the Buddha passed through the city on his way to Kusinara. In the 1st/2nd century King Kanishka took it to Pushapura, now Peshawar, where a string of Chinese pilgrims reported seeing it between the 3rd and the 9th centuries. The importance of the bowl is attested by numerous depictions of it in Ghandara art, usually shown on the pedestal of Buddha statues. During the Islamic period it was taken from one palace or mosque to another until at a date unknown it ended up in Sultan Ways Bābā’s shrine on the outskirts of Kandahar. Several British officers report seeing in there in the 19th century, one attempting to translate the inscription on it, and another, Alexander Cunningham, trying to trace its history, a fact I mention in my Middle Land Middle Way (1992, p.136). In the late 1980s during Afghanistan’s civil war President Najibullah had the bowl taken to Kabul’s National Museum. When the Taliban came to power their Minister of Culture ordered all Buddhist artifacts in the museum smashed although the bowl remained undamaged, no doubt because of the Quranic verses inscribed on its outer surface. Today the bowl is displayed at the entrance of the Museum.

The bowl is not small. It is a stone hemispherical vessel of greenish-grey granite with a diameter of about 1.75 meters, a height of about three ¾ of a meter, and a thickness of about 18 cm at its rim, rather thicker elsewhere particularly at its middle and the base. It has no cracks or abrasions, except for a portion about the size of the palm of one’s hand that has flaked away from near the rim. There is a delicate lotus petal design chiseled around its base, attesting to its Buddhist past, and, inscribed in beautiful large calligraphic script horizontally along the rim of the bowl, are six rows of verses from the Quran, reflecting its Islamic continuum and its status through the ages as an object of special religious interest. Traces of similar calligraphic script are visible on the surface on the inner side of the bowl. The bowl is about 350 to 400 kg in weigh, far too heavy to lift.

http://sdhammika.blogspot.com/2011/11/buddhas-begging-bowl.html


Ini gambar mangkuknya:

Spoiler: ShowHide

111
Mahayana / Abhidharmasamuccaya: The Compendium of the Higher Teaching
« on: 18 November 2011, 11:02:58 PM »
Abhidharmasamuccaya adalah salah satu teks Abhidharma yg banyak digunakan dlm tradisi Mahayana, yg ditulis oleh Asanga, pendiri aliran Yogacara. Teks ini ditulis dlm gaya tanya-jawab dan metode pemaparannya sama seperti metode pemaparan yg digunakan dlm teks Abhidhamma Pali seperti yg terdpt dlm Dhammasangani, Vibhanga, dan Dhatukatha. Isinya membahas tentang lima kelompok kehidupan (skandha), delapan belas unsur (dhatu), dua belas landasan (ayatana) dlm berbagai detail untuk menunjukkan bahwa tidak ada diri (anatma) dlm fenomena-fenomena ini. Selain itu juga membahas tentang Empat Kebenaran Mulia, keadaan antara saat kematian (antarabhava), pembagian ajaran Buddha, Vaipulya sbg kanon Bodhisattva (Bodhisattvapitaka), pembagian jenis individu (seperti dlm Puggalapannati), jenis pengetahuan/pemahaman sampai dg pengetahuan seorg Bodhisattva, empat pengetahuan analitis (pratisamvid), enam jenis kemampuan batin (abhijna), empat landasan perhatian murni (smrtyupasthana), dst. Penerjemah teks ini juga menyertakan catatan kaki yg berisi versi paralel dr teks Pali yg bersesuaian.

Buku ini adalah buku yg bagus bg mereka yg ingin mendalami Abhidharma dari tradisi Mahayana. Sebagian besar isinya mirip dengan Abhidhamma versi Theravada, oleh sebab itu diperlukan pemahaman dasar Abhidhamma untuk memahaminya.

Quote
Abhidharmasamuccaya: The Compendium of the Higher Teaching

There are two systems of Abhidharma, according to Tibetan tradition, lower and higher. The lower system is taught in the Abhidharmakosa, while the higher system is taught in the Abhidharmasamuccaya. Thus the two books form a complementary pair. Asanga, author of the Abhidharmasamuccaya, is founder of the Yogacara school of Mahayana Buddhism. His younger brother Vasubandhu wrote the Abhidharnmakosa before Asanga converted him to Mahayana Buddhism. Yet the Kosa is written in verse, usual for Mahayana treatises, while the Samuccaya follows the traditional prose and answer style of the older Pali Abhidharma texts. Walpola Rahula, in preparing his 1971 French translation of this Mahayana text from the Sanskrit, Chinese, and Tibetan, has brought to bear on its many technical terms his extensive background and great expertise in the Pali canon. J. W. de Jong says in his review of this work:"Rahula deserves our gratitude for his excellent translation of this difficult text." Sara Boin-Webb is well known for her accurate English translations of Buddhist books from the French. She has now made accessible in English Rahula's French translation, the first into a modern language, of this fundamental text.

[gmod]bajakan, di hapus linknya ya :P[/gmod]

Semoga bermanfaat....

_/\_


112
Ulasan Buku, Majalah, Musik atau Film / Ada yg punya lagu Buddhis ini???
« on: 07 November 2011, 06:39:02 PM »
Mohon bantuan teman2 se-Dhamma. Apakah ada yg punya lagu Buddhis berikut ini dlm bentuk MP3:

Quote
om mani padme hum

dikala hari menjelang senja
mentari mulai tengelam
rembulan pun mulai bersinar terang
sesayupkan terdengar suara

mengalunkan desiran nada nada
berdendangan suka cita
bagi batin nan suji kan menjadi
damai tenangkan hati manusia

tenangkan perbuatan
tenangkan ucapan pikiran
tenang... pancarkan...
kasih sayang mu pada smua

reff :
makluk hidup kembangkanlah
karuna.. mudita,,
sampai tercapai pantai bahagia
Om mani Padme Hum

Soalnya udah di-googling gak ketemu....

Terima kasih.

113
Keluarga & Teman / Gak berani mendekati???
« on: 24 September 2011, 05:13:47 PM »
Hallo teman2 DC yg baik.....

Saya mau tanya seputar masalah hubungan pria n wanita nih.... Sekitar dua bln yg lalu melalui FB saya berkenalan dg seorg cewek, yg akhirny kami sering chatting melalui YM. Dr chatting ini timbul perasaan tertarik thd dia,walaupun saya belum merasa jatuh cinta padanya (krn saya tipe orgny gak mudah jatuh cinta :) ). Yg jelas, kalau gak chatting ato gak liat dia ol (kadang kala saya canggung utk mengajakny chatting krn gak ada topik pembicaraan), rasany ad sesuatu yg hilang. Saya rasa perasaan ini hanya sepihak saja, krn dia tdk menunjukkan tanda2 tertarik kpd saya....

Sebenarny cewek itu tinggal d kota yg sama dg saya,gak jauh2 amat dr rumah saya. Waktu awal perkenalan mau mengunjungi dia ke rumahny (istilahny ngapelin y?), tetapi berhubung dia lagi ujian semester (dia masih kuliah), niat tsb tdk dilakukan. Tetapi sampai sekarang saya "tidak berani" utk mendekati dia dg berkunjung ke rumahnya krn merasa canggung, gak pd, takut ditolak dst. Jd sepertinya hanya berani berharap,tetapi tdk berusaha mewujudkannya, bagaikan punguk merindukan rembulan....

Jujur saya akui saya belum pernah menjalin hubungan dg wanita, saya orangny kuper, tertutup, pendiam, jd agak sulit mendekati cewek apalagi yg belum pernah ketemu langsung. Ingin sekali saya menjalin hubungan dg seorang cewek mengingat umur saya dan dorongan dr dalam hati jg menginginkan hal tsb. Menurut saya,kalo hanya melalui fb ato chatting, agak sulit mengenal seseorg apalagi mendekatinya, perlu utk bertemu langsung agar dpt mengenal lebih jauh karakter dan sifat yg bersangkutan (istilahny pdkt?), tetapi ini tdk mudah bagi saya....

So guys, bagaimana menurut kalian? apa pendapat kalian mengenai hal ini?

Ps. Menurut ajaran Buddha, cinta itu kemelekatan. Mungkin kemelekatan saya cukup kuat krn baru chatting aja sudah timbul perasaan tertarik. Tetapi toh saya gak bermaksud hidup sbg seorg pabajjita (setidaknya belum ad tanda2 utk itu :) ). Jd gak usah membahas soal ini dr sudut pandang Buddhis dulu....

114
Theravada / Visuddhimagga: Path of Purification - New Edition
« on: 10 August 2011, 07:22:23 PM »
Access to Insight baru saja menerbitkan buku Path of Purification (Visuddhimagga) oleh Bhadantacariya Buddhaghosa terjemahan Bhikkhu Nanamoli dalam bentuk PDF yg bisa di-download di http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/nanamoli/PathofPurification2011.pdf

Visuddhimagga — The Path of Purification: The Classic Manual of Buddhist Doctrine and Meditation, translated from the Pali by Bhikkhu Ñāṇamoli.

"The Visuddhimagga is the 'great treatise' of Theravada Buddhism, an encyclopedic manual of Buddhist doctrine and meditation written in the fifth century by the great Buddhist commentator, Bhadantacariya Buddhaghosa. The author's intention in composing this book is to organize the various teachings of the Buddha, found throughout the Pali Canon, into a clear and comprehensive path leading to the final Buddhist goal, Nibbana, the state of complete purification. In the course of his treatise Buddhaghosa gives full and detailed instructions on the forty subjects of meditation aimed at concentration, an elaborate account of the Buddhist Abhidhamma philosophy, and detailed descriptions of the stages of insight culminating in final liberation"

Semoga bermanfaat.

NB: Yg gak bisa berbahasa Inggris, mungkin harus nunggu versi bahasa Indonesia-nya terbitan DC. Mudah2an dr pihak DC ad yg mau terjemahkan ke bahasa Indonesia & menerbitkannya dlm bentuk e-book yg bisa di-download gratis... :)

115
Studi Sutta/Sutra / [ASK] Sutta manakah ini???
« on: 29 June 2011, 08:29:58 AM »
Saya punya buku Riwayat Hidup Buddha Gotama yg ditulis oleh Pandita S. Widyadharma. Di bab terakhir Bab IV Tambahan dilampirkan kutipan sutta-sutta di antaranya Sigalovada Sutta, Kalama Sutta, dan sutta2 tentang kamma dan punabbhava. Ada satu kutipan sutta yang menurut saya menarik:

Quote
S.XXII

Maka akan datanglah waktunya, oh para Bhikkhu, bahwa samudra besar ini akan menjadi kering, lenyap, dan tidak ada lagi. Tetapi hal itu bukan berarti akhir dari penderitaan bagi makhluk-makhluk yang digelapkan oleh Avijja (kebodohan batin) dan dibelenggu oleh Tanha (nafsu keinginan) berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir. Demikianlah sabda-Ku.
Maka akan datanglah waktunya, bahwa dunia yang perkasa ini akan dilahap oleh api, musnah, dan tidak ada lagi. Tetapi hal ini bukan berarti akhir penderitaan bagi makhluk-makhluk yang digelapkan oleh Avijja dan dibelenggu oleh Tanha berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir. Demikianlah sabda-Ku.

Versi online-nya bisa dibaca di http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/riwayat-hidup-buddha-gotama-bab-vi-tambahan/

Yang ingin saya tanyakan: Kutipan ini dari bagian Sutta Pitaka yg mana ya? Jika dilihat dari sumber yg dicantumkan (S.XXII), saya mengira itu dari Samyutta Nikaya (yg biasa disingkat S atau SN) bagian ke-XXII. Saya cari,ternyata itu adalah Khanda Samyutta yg berisi sutta2 ttg kelompok kehidupan (pancakkhanda) dan tidak ada sutta yg seperti di atas. Atau mungkin saya salah? Ada yg bisa membantu saya, dari manakah kutipan di atas berasal?

Terima kasih

_/\_

116
Sutta Vinaya / Menaklukkan Kebencian
« on: 10 April 2011, 11:15:19 AM »
Berikut ini terdapat 5 (lima) tips untuk melenyapkan kebencian yang timbul dalam diri kita menurut Sang Buddha dan menurut salah satu siswa utama-Nya, Bhikkhu Sariputta.

Anguttara Nikaya 5.161
Aghatavinaya Sutta: Menaklukkan Kebencian (1)

[Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu,] “Terdapat lima cara menaklukkan kebencian yang seharusnya dilenyapkan sepenuhnya ketika kebencian muncul di dalam diri seorang bhikkhu. Apakah kelima hal tersebut?

Ketika kebencian timbul dalam diri seseorang terhadap orang tertentu, ia seharusnya mengembangkan cinta kasih terhadap orang tersebut. Demikianlah kebencian seharusnya ditaklukkan.

Ketika kebencian timbul dalam diri seseorang terhadap orang tertentu, ia seharusnya mengembangkan belas kasih terhadap orang tersebut. Demikianlah kebencian seharusnya ditaklukkan.

Ketika kebencian timbul dalam diri seseorang terhadap orang tertentu, ia seharusnya mengembangkan keseimbangan batin terhadap orang tersebut. Demikianlah kebencian seharusnya ditaklukkan.

Ketika kebencian timbul dalam diri seseorang terhadap orang tertentu, ia seharusnya tidak memikirkannya dan tidak memperhatikan orang tersebut. Demikianlah kebencian seharusnya ditaklukkan.

Ketika kebencian timbul dalam diri seseorang terhadap orang tertentu, ia seharusnya mengarahkan pikirannya pada kenyataan bahwa orang tersebut adalah hasil dari perbuatannya sendiri: ‘Orang baik ini adalah pelaku dari perbuatannya, pewaris dari perbuatannya, lahir dari perbuatannya, berhubungan dengan perbuatannya, dan memiliki perbuatannya sebagai hakim. Apa pun perbuatan yang ia lakukan, apakah baik atau buruk, perbuatan itulah yang akan diwarisinya.’ Demikianlah seharusnya kebencian ditaklukkan.

Iniah kelima cara menaklukkan kebencian yang seharusnya dilenyapkan sepenuhnya ketika kebencian muncul di dalam diri seorang bhikkhu.”

-----ooOOoo-----

Anguttara Nikaya 5.162
Aghatavinaya Sutta: Menaklukkan Kebencian (2)

Kemudian Yang Mulia Sariputta berkata kepada para bhikkhu:

“Terdapat lima cara menaklukkan kebencian yang seharusnya dilenyapkan sepenuhnya ketika kebencian muncul dalam diri seorang bhikkhu. Apakah kelima hal tersebut?

Terdapat beberapa orang yang tidak murni dalam perbuatannya tetapi murni dalam ucapannya. Kebencian terhadap orang yang demikian seharusnya ditaklukkan.

Terdapat beberapa orang yang tidak murni dalam ucapannya tetapi murni dalam perbuatannya. Kebencian terhadap orang yang demikian seharusnya ditaklukkan.

Terdapat beberapa orang yang tidak murni dalam perbuatan dan ucapannya, tetapi mereka sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin. Kebencian terhadap orang yang demikian seharusnya ditaklukkan.

Terdapat beberapa orang yang tidak murni dalam perbuatan dan ucapannya, dan mereka tidak sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin. Kebencian terhadap orang yang demikian seharusnya ditaklukkan.

Terdapat beberapa orang yang murni dalam perbuatan dan ucapannya, dan mereka sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin. Kebencian terhadap orang yang demikian seharusnya ditaklukkan.

Bagaimanakah seseorang seharusnya menaklukkan kebencian terhadap orang yang tidak murni dalam perbuatannya tetapi murni dalam ucapannya? Seperti halnya ketika seorang bhikkhu yang memakai barang-barang yang dibuang melihat kain bekas di jalan: Dengan mengambilnya dengan kaki kirinya dan membentangkannya dengan kaki kanannya, ia akan merobek bagian yang bagus dan mangambilnya. Dengan cara yang sama, ketika orang tersebut tidak murni dalam perbuatannya tetapi murni dalam ucapannya, saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidakmurnian perbuatannya, dan sebagai gantinya memperhatikan kemurnian ucapannya. Demikianlah kebencian terhadap orang tersebut seharusnya ditaklukkan.

Bagaimanakah seseorang seharusnya menaklukkan kebencian terhadap orang yang tidak murni dalam ucapan tetapi murni dalam perbuatannya? Seperti halnya ketika terdapat sebuah kolam yang banyak ditumbuhi oleh lumut dan tumbuhan air, dan seseorang datang ke sana, terbakar oleh panas, diliputi keringat, kelelahan, bergemetar, dan kehausan. Ia akan melompat ke dalam kolam itu, menyisihkan lumut dan tumbuhan air dengan kedua tangannya, dan kemudian, menangkuk dengan tangannya, ia meminum airnya dan pergi. Dengan cara yang sama, ketika orang tersebut tidak murni dalam ucapannya tetapi murni dalam perbuatannya, saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidakmurnian ucapannya, dan sebagai gantinya memperhatikan kemurnian perbuatannya. Demikianlah kebencian terhadap orang tersebut seharusnya ditaklukkan.

Bagaimanakah seseorang seharusnya menaklukkan kebencian terhadap orang yang tidak murni dalam perbuatan dan ucapannya, tetapi sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin? Seperti halnya ketika terdapat sedikit genangan air di sebuah bekas jejak kaki sapi, dan seseorang datang, terbakar dengan panas, diliputi keringat, kelelahan, bergemetar, dan kehausan. Pikiran ini akan muncul dalam dirinya, ‘Di sini terdapat sedikit genangan air di sebuah bekas jejak kaki sapi. Jika aku mencoba untuk meminum airnya dengan menggunakan tanganku atau mangkuk, aku akan mengganggu, mengacaukannya, dan membuatnya tidak dapat diminum. Bagaimana bila aku menurunkan badanku dengan keempat anggota tubuhku, meminumnya seperti seekor sapi, dan kemudian pergi?’ Maka ia akan menurunkan badannya dengan keempat anggota tubuhnya, meminumnya seperti seekor sapi, dan kemudian pergi. Dengan cara yang sama, ketika orang tersebut tidak murni dalam perbuatan dan ucapannya, tetapi sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin, saat itu seseorang seharusnya tidak memperhatikan ketidakmurnian perbuatannya, ketidakmurnian ucapannya, dan sebagai gantinya memperhatikan kejernihan dan ketenangan batin yang sewaktu-waktu ia alami. Demikianlah kebencian terhadap orang tersebut seharusnya ditaklukkan.

Bagaimanakah seseorang seharusnya menaklukkan kebencian terhadap orang yang tidak murni perbuatan dan ucapannya, dan tidak sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin? Seperti halnya ketika terdapat seorang yang sakit – dalam penderitaan, sakit parah – yang mengadakan perjalanan di sepanjang jalan, jauh dari desa berikutnya dan jauh dari desa terakhir, tidak dapat memperoleh makanan yang ia butuhkan, tidak dapat memperoleh obat-obatan yang ia butuhkan, tidak dapat menemukan pelayan yang sesuai, tidak dapat menemukan seseorang untuk membawanya ke tempat tinggal orang-orang. Sekarang seumpamanya orang lain yang melihatnya datang di sepanjang jalan. Ia akan melakukan apa yang dapat ia lakukan demi belas kasihan dan simpati terhadap orang tersebut, dengan berpikir, ‘O orang ini seharusnya mendapatkan makanan yang ia butuhkan, obat-obatan yang ia butuhkan, seorang pelayan yang sesuai, seseorang untuk membawanya ke tempat tinggal orang-orang. Mengapa demikian? Supaya ia tidak jatuh ke dalam kehancuran di sini juga.’ Dengan cara yang sama, ketika orang tersebut tidak murni dalam perbuatan dan ucapannya, dan tidak sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin, saat itu seseorang seharusnya melakukan apa yang dapat ia lakukan demi belas kasihan dan simpati terhadapnya, dengan berpikir, ‘O orang ini seharusnya meninggalkan perbuatan salah dan mengembangkan perbuatan benar, meninggalkan ucapan salah dan mengembangkan ucapan benar, meninggalkan pikiran salah dan mengembangkan pikiran benar. Mengapa demikian? Supaya, pada saat hancurnya tubuh ini, setelah kematian, ia tidak akan jatuh ke alam menderita, keadaan yang buruk, alam rendah, neraka.’ Demikianlah kebencian terhadap orang tersebut seharusnya ditaklukkan.

Bagaimanakah seseorang menaklukkan kebencian terhadap orang yang murni dalam perbuatan dan ucapannya, dan sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin? Seperti halnya terdapat sebuah kolam dengan air yang bersih – segar, dingin, dan jernih, dengan tepi yang landai, dan dinaungi pada semua sisinya oleh banyak pepohonan – dan seseorang datang, terbakar dengan panas, diliputi keringat, kelelahan, bergemetar, dan kehausan. Setelah menceburkan diri ke dalam kolam itu, setelah mandi dan minum serta keluar dari kolam, ia akan duduk atau berbaring di bawah sana di bawah naungan pepohonan. Dengan cara yang sama, ketika orang tersebut murni dalam perbuatan dan ucapan, dan sewaktu-waktu mengalami kejernihan dan ketenangan batin, saat itu seseorang seharusnya memperhatikan kemurnian perbuatannya, kemurnian ucapannya, serta kejernihan dan ketenangan batin yang sewaktu-waktu ia alami. Demikianlah kebencian terhadap orang tersebut seharusnya ditaklukkan.

Orang yang sepenuhnya tenang dapat membuat pikiran menjadi damai. Inilah kelima cara menaklukkan kebencian yang seharusnya dilenyapkan sepenuhnya ketika muncul dalam diri seorang bhikkhu.”

-----ooOOoo-----

Sumber:
http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an05/an05.161.than.html
http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an05/an05.162.than.html
http://www.metta.lk/tipitaka/2Sutta-Pitaka/4Anguttara-Nikaya/Anguttara3/5-pancakanipata/017-aghatavaggo-e.html

117
Pojok Seni / Puisi-Puisi Buddhis
« on: 23 March 2011, 08:59:25 PM »
Topik ini diinspirasi dari thread sebelah tentang puisi-puisi cinta.... :)

Hari ini saya mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi bernuansa Buddhis tentang topik anatta dan paticcasamuppada. Kebetulan juga hari ini hari peringatan kelahiran Avalokitesvara Bodhisattva yang merupakan manifestasi dari sifat mahakaruna dari Sang Buddha. Jadi momennya sangat tepat untuk merenungkan dan menghayati kembali ajaran kebenaran Sang Guru Junjungan Agung kita.

Ayo para pujangga Buddhis tunjukkan pemahaman dan penghayatan Dhamma kalian atau pun apresiasi kalian terhadap Buddha, Dhamma, Sangha dalam kata-kata puitis....

Start with me:

Quote
Aku

Inilah aku, diriku, milikku
Dengan pandangan ini dunia berputar
Hasrat, keserakahan, kegelapan batin timbul darinya
Melekati setiap hal sebagai milik diri ini
Merasuk setiap pikiran yang belum tercerahkan

Ini bukan aku,diriku,milikku
Demikianlah yang bijak merenungkan
Hakekat keberadaan diri yang ilusif ini
Darinya pandangan terhadap setiap hal sebagaimana adanya timbul
Melepaskan batin dari ikatan-ikatan

Aku, diri, makhluk, personalitas
Hanyalah konstruksi bahasa sehari-hari
Menunjuk perpaduan unsur-unsur kehidupan
Tidak ada aku yang berdiri sendiri
Di antara unsur-unsur tersebut maupun di luarnya

Bagaikan sebuah mobil
Disebut mobil karena perpaduan bagian-bagiannya
Namun tiada mobil sejati dapat ditemukan
Di antara maupun di luar bagian-bagian itu
Hanya perpaduan unsur-unsur yang berperan

Perbuatan hanyalah fenomena sebab akibat yang saling bergantungan
Tiada diri yang melakukannya
Demikian juga penderitaan hanyalah penderitaan
Jalan hanyalah jalan, tiada yang menapakinya
Kebahagiaan pun tiada yang merasakannya

Ini bukanlah kehampaan
Selama sebab dan kondisi yang mendukung muncul
Fenomena tetap bertahan
Ketika akar sebab dan kondisi dicabut
Lenyaplah kumpulan bentukan-bentukan ini
Inilah jalan tengah antara kehampaan dan keberadaan

Memandang aku sebagai aku
Kebodohan membutakan mata semua makhluk
Tidak memandang aku sebagai aku
Kebijaksanaan menuntun tindak-tanduk sang bijak

Jika aku saja bukan aku, diriku, milikku
Bagaimana mungkin hal-hal di luar adalah milikku
Dengan menyelami ini, lepaskanlah kemelekatan
Bebaskan batin dari jala-jala konsep

Sungguh mendalam kebenaran tertinggi ini
Sayang ku tak bisa mencicipinya
Bagaikan makanan lezat disajikan oleh koki ahli
Hanya bau sedapnya tercium di seberang jalan
Tetapi tidak mengenyangkan perut

Butuh beribu kalpa kehidupan lagi
Sebelum akhirnya mata kebijaksanaanku terbuka
Sampai saat itu aku akan berjuang
Mengikis sedikit demi sedikit debu pandangan ini
Sembari membantu yang lain
Memahami ajaran mulia Sang Guru

118
Studi Sutta/Sutra / Semua fenomena berkondisi adalah dukkha???
« on: 07 February 2011, 10:32:20 PM »
Dalam Dhammacakkapavattana Sutta dikatakan bahwa "kemelekatan pada lima kelompok kehidupan (pancupadanakkhanda) adalah dukkha", namun dalam Dhammapada dikatakan "semua fenomena yang berkondisi adalah dukkha (sabbe sankhara dukkha)". Seperti yang kita ketahui, fenomena berkondisi (sankhara) meliputi rupa, citta, dan cetasika, yang merupakan kelima kelompok kehidupan (pancakkhanda) itu sendiri. Jika kelemekatan pada lima khanda adalah dukkha, apakah berarti lima khanda itu sendiri dukkha?

Logikanya, jika kemelekatan pada lima khanda menimbulkan dukkha, seharusnya kelima khanda itu sendiri bukan sumber dukkha. Jika lima khanda itu dukkha, berarti Sang Buddha dan para Arahat yang telah mencapai Nibbana dengan sisa pancakkhanda masih memiliki dukkha, donk? Tetapi jika kelemekatan itu sendiri yang disebut dukkha, bukan objek yg dilekatinya (yaitu pancakkhanda), maka benar bahwa Sang Buddha dan para Arahat sudah bebas dari dukkha, karena mereka telah melenyapkan kemelekatan pada pancakkhanda. Agaknya pernyataan dalam Dhammacakkapavattana Sutta dengan syair Dhammapada tersebut bertentangan maknanya.

Apakah pemikiran saya ini benar? Mohon penjelasan dari para sesepuh di sini tentang makna kedua pernyataan ini. Thx _/\_

119
Studi Sutta/Sutra / Buddhapadana: Pengaruh dari Mahayanis kah???
« on: 16 January 2011, 07:35:52 PM »
Mungkin ada yang masih tidak tahu apakah Buddhapadana itu. Buddhapadana (Buddha + Apadana) merupakan bagian pendahuluan dari kitab Apadana Pali yang berisi syair-syair tentang Sang Buddha. Apadana sendiri merupakan kisah biografi dalam bentuk bait sajak dari Sang Buddha, 41 Pacceka Buddha (Buddha "diam"), 549 bhikkhu arahant dan 40 bhikkhuni arahant. Banyak kisah-kisah ini yang berkarakteristik pernyataan-pernyataan yang indah untuk merayakan kemenangan, kekaguman, kemegahan, dll Sang Buddha. Apadana diyakini sebagai tambahan belakangan pada Kanon, ditambahkan pada persamuan kedua dan ketiga (sumber: http://dhammacitta.org/tipitaka/kn/). Oleh sebab itu, tidak heran bila Buddhaghosa menyebutkan bahwa para pengulang Digha Nikaya (Dighabhanaka) tidak memasukkan Apadana sebagai bagian dari Sutta Pitaka:

Quote
He (Buddhaghosa) says that the Dighabhanakas classified the books of the Khuddaka Nikaya under the Abhidhamma Pitaka enumerating them in the following order:--

    (1) Jataka, (2) Mahaniddesa, (3) Cullaniddesa, (4) Patisambhidamagga, (5)Suttanipata, (6) Dhammapada (7) Udana, (8) ltivuttaka, (9) Vimanavatthu, (10) Petavatthu, and (11) Therigatha, and leaving out of consideration the four books, namely, the Cariyapitaka, the Apadana, the Buddhavamsa, and the Khuddakapatha.

Sumber: http://www.buddhanet.net/budsas/ebud/ebsut053.htm

Karena keingintahuan saya, kenapa kok Apadana tidak dianggap bagian dari sutta, maka menggoogling isi Apadana tsb. Hasilnya saya menemukan isi bab pertama/pendahuluan Apadana yg disebut Buddhapadana dlm bhs Inggris di http://www.archive.org/stream/bclawvolume035338mbp#page/n195/mode/2up yg adalah terjemahan dari Dwijendralal Barua. Mungkin terjemahan bhs Inggris-nya belum tentu sesuai dengan bhs Pali aslinya, tetapi setidaknya bisa memberikan gambaran bagaimana isi bgn dari Apadana tsb.

Quote
BUDDHAPADANA
THE TRADITION OF THE PREVIOUS EXCELLENT DEEDS OF THE BUDDHA

Translation

1. Now, with a pure mind, attend to .the Tradition of the previous excellent deeds of the Buddhas, the innumerable kings of righteousness, replete with thirty Perfections.

2. To the supreme enlightenment of the best of the Buddhas, to leaders of the world together with their Orders, I bowed down paying homage with joined hands.

3. In the Buddha-realm, as many as are there the numerous jewels, both in the heaven above and on the earth below, I brought all to my mind.

4. There on a silvery ground, I built a palace, many storied, jewelled, raised high to the sky,

5. Having ornamented pillars, well executed, well divided and arranged, costly, a mass of gold, decorated with arched gateways and canopies.

6. The first storey was of lapis lazuli, shining like a bright piece of cloud; there were (the presentations of) lotuses and lilies strewn over in the excellent golden storey.

7. Some (of the storeys) was of corals, some having coral-lustre, some shining red, while others resembling the Indagopaka-colour, illumined the quarters.

8. They had doors, portals and windows well divided and arranged, four net-works of vedikas and a delightful perfumed enclosure.

9. And they were provided with the excellent peaked roofs blue, yellow, red, white and bright black and decorated with seven varieties of jewels.

10. They had (devices of) lotuses of graceful looks, and were beautified by (the figures of) beasts and birds of prey, filled with (the presentations of) planets and stars, and adorned with (those of) the moon and sun.

11. They were covered over with a golden netting joined with the golden tinkling bells, and the lovely golden garlands (on them) sounded musically by the force of the wind.

12. Festoons of banners, raised on them, were made- lovely by various colours crimson, red, yellow and gold-coloured.

13. Diverse, numerous, many hundreds were the slabs, made of silver, of jewels, of rubies, and also of emeralds.

14. The palace was resplendent with various beds, and covered with soft Benares fabrics, rugs, silk made of the Dukula-fibre, China cloth, fine cloth, fibrous garments, whitish garments, and all this manifold covering I spread out there in my mind.

15. Adorned with jewelled peaked roofs in different storeys (the palace) stood firm, bearing torches shining like gems.

16. The wooden posts and pillars and the beautiful golden gates, made of gold brought from the Jambu river, of excellent (adra) wood, and also of silver, shone forth.

17. Divided and arranged into .many breaks 5 and resplendent with doors and cross-bars (the palace had) on both sides many full vases filled with red, white and blue lotuses.

18. All the Buddhas of the past, the leaders of the world, together with their Orders and disciples, I created in their natural beauty and appearance.

19. Entering by that entrance, all the Buddhas together with their disciples - the circle of the elect - sat down on golden seats.

20. The pre-eminent Buddhas that are now in the world, those of the past and present, I brought them all into the mansion.

21. Many hundreds of Paccekabuddhas, self-enlightened and invincible, those of the past and present, I brought them all into the mansion.

22. Many wishing trees, divine and earthly, there were; I procured all garments and covered (them each) with three robes.

23. Filling the beautiful jewelled bowls, I offered (them) ready-made food, hard and soft, eatable and savoury, as well as drink and meal.

24. Procuring divine garments, I provided them with robes of fine cloth; I entertained the whole circle of the elect with best food and (the four) sweet drinks of sugar, oil, honey and molasses.

25. Entering the jewelled chamber, they, like lions lying down in caves, lay down in a lion's posture on costly beds.

26. Mindful they rose and sat down cross-legged; they gave themselves up to delight in meditation on the way of all the Buddhas.

27. Some preached the doctrines, some sported by their supernormal power, some who had gained mastery over and developed the higher psychic perception, applied themselves to it, while others numbering many hundred thousands worked transformations of themselves by their supernormal power.

28. The Buddhas, too, questioned (other) Buddhas on points relating to omniscience, and comprehended by their knowledge matters, deep and subtle,

29. The disciples questioned the Buddhas, the Buddhas questioned the disciples; they questioned each other, to each other did they explain.

30. The Buddhas, the Paccekabuddhas, the disciples and attendants, enjoying thus their delightful pursuits, rejoiced at the palace.

31. 'May they hold over head (each) an umbrella, embroidered with gold and silver nets and gems, and fringed with nets of pearls !

32. May there be awnings, resplendent with golden stars, variegated, and having flower-wreaths spread over (them) ; may they all hold them over head !

33. Be (the palace) laid out with wreaths of flowers, fragrant with rows of perfumes, strewn over with festoons of garments, and bedecked with strings of jewels !

34. Be it strewn over with flowers, much variegated, incensed with sweet perfumes, marked with five-finger marks of perfumes, and covered over with a golden covering.

35. On four sides, be the tanks covered over with lotuses red and white and blue ; be that these having lotus-pollens coming out, appear in golden hue !

36. All trees be blossomed around the palace, and let them drooping themselves sprinkle perfutoed flowers over the mansion.

37. Let the crested (peacocks) dance there, divine swans utter melodious sounds. Let the Karavika birds, too, sing out and the flocks of birds be on all sides .

38. Let all drums be sounded, all lutes be played. Let all varieties of music go on around the palace.

39. As far as the Buddha-realm, and above the horizons of the world, magnificent, lustrous, faultless and jewelled,

40. Let the golden divans be; let candlesticks be lighted, and the ten thousand (worlds) in succession be of one lustre.

41. Let also courtesans, dancers and celestial nymphs dance, and various theatres be staged around the palace.

42. On tree-tops, mountain-tops, or on the summit of the Sineru mountain, let me raise all manners of banners, variegated and five-coloured.

43. Let men, Nagas, Gandhabbas and gods, all approach them paying homage with joined hands, and surround the palace.'

44. Whatever good deed done, ought to be done, or intended to be done by me, I did it well by body, speech and mind in (the abode of) the Thirty.

45. 'The beings who are conscious or unconscious, let all share in the result of the meritorious deed done by me.

46. To (them) whom the result of the meritorious deed done by me has been offered, it is (thus) made well known. And to those who do not know of it, the gods should go and report.

47. In the whole world, the beings that live but for the sake of food, let them obtain all manners of agreeable food by my heart's wish'

48. Mentally I offered the gift, mentally I brought the palace. I did homage to all the supreme Buddhas, Paccekas and disciples of the conquerors.

49. By that meritorious deed, will and resolve, I. abandoning the human body, went up to the Thirty-three.

50. I have come to know (only) of the two existences, divine and human; no other destiny have I experienced this is the fulfilment of my mental wish.

51. I have been superior to the gods, I have become the lord of men. Endowed with beauty and appearance, I am incomparable in the world in respect of wisdom.

52. Food of various kinds and best, jewels not inadequate, and garments of all fashions come to me quickly from above (lit. the sky).

53. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, divine eatables come to me.

54. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, all varieties of jewels come to me.

55. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, all kinds of perfumes come to me.

56. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, all kinds of vehicles come to me.

57. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, all kinds of garlands come to me.

58. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, (all manners of) decorations come to me.

59. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, maidens of all descriptions come to me.

60. On earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, come (to me) honey and sugar.

61. Oil earth as well as mountain, in the air, water and wood, wherever I stretch forth my hand, all varieties of solid food come to me.

62. To the poor and needy, to the professional and street-beggars, what-ever excellent gift I made, (it was) for the attainment of the Enlightenment par excellence.

63. While making mountains and rocks roar, dense forest thunder, this world and heaven joyous, I have become a Buddha in the world.

64. In this world, tenfold is the direction of which there is no end, and in that direction are the innumerable Buddha-realms.

65. My halo is described as shooting forth rays in pairs; let the blaze of rays between them be of great effulgence.

66. In such world-system, let all persons see me let all be joyful, and let all follow me.

67. Let the drum of immortality be beaten with reverberating sweet-sound; in the midst of it let all persons Hear my sweet voice.

68. While the cloud of righteousness showers, let all be free from the defilements ; let the lowest of beings be (at least) the Stream-winners.

69. Giving away the gift worthy to be given, I fulfilled the precepts entirely, reached perfection in the matter of renunciation, and obtained the Enlightenment par excellence.

70. Questioning the wise, I put forth the best energy, reached perfection in the matter of forbearance, and obtained the Enlightenment par excellence.

71. Intent on truth, I fulfilled the perfection of truth ; reaching perfection in friendliness, I obtained the Enlightenment par excellence.

72. In gain and loss, in happiness and sorrow, in respect and disrespect, being unperturbed under all vicissitudes, I obtained the Enlightenment par excellence.

73. Viewing idleness from fear, and energy from peace, be energetic - this is the command of the Buddha.

74. Viewing dissention from fear, and amity from peace, be united and kindly in speech - this is the command of the Buddhas.

75. Viewing indolence from fear, and diligence from peace, cultivate the eightfold path - this is the command of the Buddhas.

76. Assembled (here) are many Buddhas and Arahants from all quarters; to the supreme Buddhas and Arahants pay homage and bow down.

77. Thus are the Buddhas incomprehensible, and incomprehensible are the qualities of the Buddhas and incomprehensible is the reward of those who have faith in the incomprehensible.

Thus the Blessed One, while developing his own Buddha-life, related the religious discourse, called the Tradition of the previous excellent deeds of the
Buddhas.

Ternyata isinya menyebutkan bahwa Sang Buddha menciptakan semua keindahan dari semua tanah Buddha (Buddha-realms = Buddhakhetta?) dari sepuluh arah mata angin untuk mengundang kehadiran para Buddha masa lampau maupun masa sekarang beserta para Arahat siswa mereka dan para Pacceka Buddha. Para Buddha tersebut kemudian mengadakan tanya jawab satu sama lainnya maupun dengan para Arahat dan para Pacceka Buddha. Kepada semua makhluk suci ini, Beliau memberikan persembahan dan penghormatan.

Sangat aneh, gambaran keindahan istana dan lingkungan sekitarnya mirip dengan keindahan tanah Buddha yang disebutkan dalam teks Mahayana, seperti Amitabha Sutra. Kemudian adanya banyak tanah Buddha lainnya juga mengindikasikan keberadaan banyak Buddha dalam satu periode seperti dalam Mahayana (64. In this world, tenfold is the direction of which there is no end, and in that direction are the innumerable Buddha-realms.). Walaupun ini dikatakan terjadi hanya dalam pikiran/batin Sang Buddha sendiri (48. Mentally I offered the gift, mentally I brought the palace. I did homage to all the supreme Buddhas, Paccekas and disciples of the conquerors.), tetapi kesamaan konsep tanah Buddha dalam Buddhapadana ini dengan konsep tanah Buddha dalam ajaran Mahayana sangat mengejutkan.

Bagaimana menurut teman2 se-Dhamma sekalian? Apakah ini menandakan pengaruh Mahayana dalam Buddhapadana atau hanya salah terjemahan? Btw saya belum menemukan versi Pali-nya apalagi saya gak bisa bahasa Pali :) Kalaupun terjemahan Inggrisnya dianggap mendekati benar, apakah ada komentar Buddhapadana bisa memperjelas maksud syair-syair di atas? Thx

120
Sutra Mahayana / Maitreyavyakarana
« on: 19 June 2010, 03:46:57 PM »
Sumber tentang Buddha Metteya/Maitreya dalam agama Buddha (yang diurutkan dari sumber tertua) adalah Cakkavatti-sihanada Sutta dari Digha Nikaya (Pali), Buddhavamsa (Pali), Anagatavamsa (Pali), Maitreyavyakarana (Sanskrit) dan sutra-sutra Mahayana lainnya tentang Maitreya yang berbahasa Mandarin (versi Sanskerta-nya sudah hilang). Sementara beberapa sumber yang lebih awal (Cakkavatti-sihanada Sutta dan Buddhavamsa) tidak menyebutkan banyak detail tentang Buddha Metteya, sumber-sumber yang lebih belakangan (Anagatavamsa, Maitreyavyakarana, dan sutra-sutra Mahayana lainnya) mengisahkan detail kehidupan Buddha Metteya/Maitreya.

Maitreyavyakarana merupakan teks Sanskrit tertua yang berisi pernyataan/ramalan (vyakarana) dari Buddha Sakyamuni atas kemunculan Buddha Maitreya di masa yang akan datang atas permintaan Sariputra. Isi teks Buddhis ini sama dengan Anagatavamsa, teks Pali yang bertemakan hal yang sama. Dalam Anagatavamsa, Sang Buddha juga memberikan penjelasan tentang kemunculan Buddha Metteya atas permintaan Sang Jenderal Dhamma, Bhikkhu Sariputta.

Berikut ini merupakan kutipan isi Maitreyavyakarana yang diambil dari buku Buddhist Scriptures oleh Edward Conze.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 [8] 9 10
anything