//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Ramayana dan Jataka  (Read 20320 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Ramayana dan Jataka
« on: 22 December 2011, 02:45:11 PM »
dalam DASARATHA-JĀTAKA (Jataka No. 461), tersebut kisah masa lalu Sang Buddha yg tokoh2nya sama dengan ramayana.
http://www.sacred-texts.com/bud/j4/j4025.htm

jataka (tipitaka) - ramayana (walmiki):
* rama - rama
* sita - sita
* lakkhana - laksmana
* bharata - bharata
* dasaratha - dasharatha

apa penjelasan atas kemiripan yang sangat mencolok ini?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.189
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #1 on: 22 December 2011, 02:53:35 PM »
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #3 on: 22 December 2011, 07:19:58 PM »
kesamaan nama hanyalah kebetulan semata. atau penyusun jataka kehabisan nama.

Offline sobat-dharma

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.286
  • Reputasi: 45
  • Gender: Male
  • sharing, caring, offering
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #4 on: 22 December 2011, 08:13:13 PM »
Coba baca ini, salah satu tulisan di blog-nya Wirajhana Eka:
http://wirajhana-eka.blogspot.com/2010/06/rahwana-lebih-patut-di-idola-kan.html
Menurut artikel tersebut, Kisah Ramayana memang banyak versinya. Bisa jadi, kisah dalam Jataka hanyalah salah satu versi dari kisah Ramayana.

Mereka yang melihat-Ku dari wujud dan mengikuti-Ku dari suara terlibat dalam upaya salah. Mereka takkan melihat Aku. Dari Dharma-lah mestinya ia melihat Para Buddha. Dari Dharmakaya datang tuntunan baginya. Namun hakikat sejati Dharma tak terlihat dan tiada seorangpun bisa menyadarinya sebagai obyek

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #5 on: 22 December 2011, 11:46:40 PM »
kesamaan nama hanyalah kebetulan semata.
katakanlah di india hanya ada 1000 nama.
probabilitas dua buah cerita memiliki 5 tokoh utama yang bernama sama adalah:
1 / (1000 x 1000 x 1000 x 1000 x 1000) = satu per 1000 trilyun.

atau penyusun jataka kehabisan nama.
siapakah penyusun jataka itu? Sang Buddha?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #6 on: 23 December 2011, 12:20:44 AM »
Coba baca ini, salah satu tulisan di blog-nya Wirajhana Eka:
http://wirajhana-eka.blogspot.com/2010/06/rahwana-lebih-patut-di-idola-kan.html
Menurut artikel tersebut, Kisah Ramayana memang banyak versinya. Bisa jadi, kisah dalam Jataka hanyalah salah satu versi dari kisah Ramayana.
beberapa sumber menyebutkan ramayana sudah ada sejak abad 11 sebelum masehi:
http://www.ramayanaresearch.com/ramayana.html

seperti yg dijabarkan artikel itu, kisah rama-sita ini sudah ada dan merupakan cerita rakyat india sejak jaman dahulu kala. sesuai dengan kepentingan dan selera masing2, cerita ini dikembangkan berbagai pihak menjadi versinya sendiri2...
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline GandalfTheElder

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.480
  • Reputasi: 75
  • Gender: Male
  • Exactly who we are is just enough (C. Underwood)
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #7 on: 23 December 2011, 06:10:57 AM »
Di Kamboja atau Burma, ada Jataka lagi yang dinamakan Rama Jataka. Rama adalah kelahiran lampau Pangeran Siddharta..... ini sudah diyakini oleh para Buddhis Asia Tenggara spt Thai, Kamboja, Burma dsb. Di dalam sendratari mereka, Rama digambarkan sebagai sosok Bodhisattva. Mungkin negara Asia Tenggara yang tidak menyebutkan demikian hanyalah Indonesia, yang masih emnganggap Rama adalah titisan Wisnu.

Di Indonesia, tokoh pangeran Bodhisattva yang terkenal adalah Sutasoma, bukan Rama. Dikatakan dalam Kakawin Sutasoma, bahwa sosok fisik pangeran Sutasoma lebih sempurna daripada Rama dan Krishna yang titisan Wisnu.

 _/\_
Theravada is my root. This is the body of my practice.... It [Tibetan Buddhism]has given me my Compassion practice. Vajrayana is my thunder, my power. This is the heart of my practice..True wisdom is simple and full of lightness and humor. Zen is my no-self (??). This is the soul of my practice.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #8 on: 23 December 2011, 06:45:45 PM »
Kakawin Sutasoma itu memang diambil dr Jataka,yaitu Sutasoma Jataka,tp kakawin tsb melenceng dr kisah aslinya dlm Jataka. Dikatakan dlm kakawin tsb bhw Sutasoma yg adl titisan Buddha (Bodhisattva) identik dg sosok raksasa yg adl titisan Siwa (cmiiw). Makanya ad semboyan "Siwa dan Buddha adl satu, berbeda2 tetapi tetap satu, tiada Dharma yg mendua." Ini jg menunjukkan kerukunan antara umat Hindu yg mrpkan pemuja Siwa dan umat Buddha pd masa tsb.
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #9 on: 23 December 2011, 06:56:14 PM »
katakanlah di india hanya ada 1000 nama.
probabilitas dua buah cerita memiliki 5 tokoh utama yang bernama sama adalah:
1 / (1000 x 1000 x 1000 x 1000 x 1000) = satu per 1000 trilyun.
siapakah penyusun jataka itu? Sang Buddha?


sptnya menurut para terpelajar, jataka termasuk tambahan belakangan, apalagi atthakathanya

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #10 on: 23 December 2011, 11:03:27 PM »
all, terima kasih untuk tanggapannya yg mencerahkan...

sptnya menurut para terpelajar, jataka termasuk tambahan belakangan, apalagi atthakathanya
jadi jelasnya menurut para terpelajar ini jataka yg berisikan 550 cerita kehidupan lampau sang bodhisatta, yang merupakan bagian dari sutta pitaka - khuddaka nikaya ini adalah hasil kreatifitas alias karangan dan sisipan belakangan tim penyusun tipitaka? pada edisi tipitaka konsili yg manakah kira2 sisipan ini terjadi?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #11 on: 23 December 2011, 11:16:31 PM »
all, terima kasih untuk tanggapannya yg mencerahkan...
jadi jelasnya menurut para terpelajar ini jataka yg berisikan 550 cerita kehidupan lampau sang bodhisatta, yang merupakan bagian dari sutta pitaka - khuddaka nikaya ini adalah hasil kreatifitas alias karangan dan sisipan belakangan tim penyusun tipitaka? pada edisi tipitaka konsili yg manakah kira2 sisipan ini terjadi?


tidak tahu, tapi Bhikkhu Bodhi yg saya anggap sebagai salah satu terpelajar Buddhis yg cukup kompeten pun meyakini bahwa bagian Khuddaka Nikaya yg dianggap sebagai bagian dari Early Buddhism adalah hanya Dhammapada, Theragāthā, dan Therīgāthā, Suttanipāta, Udāna, dan Itivuttaka. bagian lainnya dianggap sebagai penambahan setelah perpecahan sekte-sekte.

 [at] Kainyn,
ini sekaligus mengoreksi statement tadi mengenai Dhammapada (bukan Atthakatha), mohon diingatkan pada samaya mendatang.

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #12 on: 25 December 2011, 12:20:41 AM »
tidak tahu, tapi Bhikkhu Bodhi yg saya anggap sebagai salah satu terpelajar Buddhis yg cukup kompeten pun meyakini bahwa bagian Khuddaka Nikaya yg dianggap sebagai bagian dari Early Buddhism adalah hanya Dhammapada, Theragāthā, dan Therīgāthā, Suttanipāta, Udāna, dan Itivuttaka. bagian lainnya dianggap sebagai penambahan setelah perpecahan sekte-sekte.
jadi maksud anda, khuddaka nikaya yg tercatat dalam tipitaka sebanyak 15 buku (18 menurut versi burmese) itu hanya 6 buku yang benar2 original dari early buddhism (mungkin berasal dari Buddha dan murid2nya) dan 9 buku lainnya gubahan belakangan?

apabila pernyataan ini benar, apakah ini berarti konsekuensinya bahwa gubahan belakangan ini juga mungkin terjadi pada bagian2 tipitaka lainnya sehingga semuanya harus dibaca dengan cermat dan kritis?

dan apakah itu juga berarti pernyataan bahwa seluruh isi tipitaka yang ada secara baku saat ini (84000 pokok dhamma? cmiiw) adalah belum tentu berasal konsili sangha pertama yang dipimpin oleh mahakassapa, di mana diceritakan bahwa seluruh sutta pitaka dihapalkan dan dituturkan dengan sempurna oleh ananda dan vinaya pitaka dihapalkan dan dituturkan oleh upali? itu dengan asumsi konsili pertama benar2 terjadi seperti itu, walaupun ini juga mungkin dipertanyakan.

yg terakhir, kalo memang isi tipitaka boleh diragukan dan dikritisi, bagaimana cara menguji validitas dan otentisitasnya, bagaimana memilah mana yg bisa diabaikan, mana yg berisi ajaran yg otentik?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #13 on: 25 December 2011, 01:45:34 AM »
jadi maksud anda, khuddaka nikaya yg tercatat dalam tipitaka sebanyak 15 buku (18 menurut versi burmese) itu hanya 6 buku yang benar2 original dari early buddhism (mungkin berasal dari Buddha dan murid2nya) dan 9 buku lainnya gubahan belakangan?
bukan itu maksud saya. saya hanya memberikan suatu informasi, maksud dari sumber informasi ini, mana saya tau.
Quote
apabila pernyataan ini benar, apakah ini berarti konsekuensinya bahwa gubahan belakangan ini juga mungkin terjadi pada bagian2 tipitaka lainnya sehingga semuanya harus dibaca dengan cermat dan kritis?
kalau saya pribadi, asli atau tidak saya tetap berusaha untuk membaca dengan cermat dan kritis.

Quote
dan apakah itu juga berarti pernyataan bahwa seluruh isi tipitaka yang ada secara baku saat ini (84000 pokok dhamma? cmiiw) adalah belum tentu berasal konsili sangha pertama yang dipimpin oleh mahakassapa, di mana diceritakan bahwa seluruh sutta pitaka dihapalkan dan dituturkan dengan sempurna oleh ananda dan vinaya pitaka dihapalkan dan dituturkan oleh upali? itu dengan asumsi konsili pertama benar2 terjadi seperti itu, walaupun ini juga mungkin dipertanyakan.

menurut Bhikkhu Bodhi lagi, bagian2 teks yg sangat kental bernuansa theravada ia yakini sebagai produk pasca-perpecahan.

Quote
yg terakhir, kalo memang isi tipitaka boleh diragukan dan dikritisi, bagaimana cara menguji validitas dan otentisitasnya, bagaimana memilah mana yg bisa diabaikan, mana yg berisi ajaran yg otentik?


mungkin, bisa menggunakan beberapa tools seperti Mahaparinibbana sutta, Kalama Sutta, Gotami Sutta, berangkat dari asumsi bahwa sutta2 yg kita jadikan alat bantu tersebut harus diyakini sebagai otentik.

« Last Edit: 25 December 2011, 01:58:23 AM by Indra »

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #14 on: 25 December 2011, 08:03:37 AM »
Studi tentang kronologis kanon Pali (bukan keotentikan) ada di http://www.budsas.org/ebud/ebsut053.htm

Pendapat Bhikkhu Thanissaro ttg bagaimana seorang Buddhis menguji keotentikan kanon Pali:
Quote
Because this passage is contained in a religious scripture, the statements attracting the most attention have been those rejecting the authority of religious teachers, legends, traditions, and scripture; along with those insisting on the importance of knowing for oneself. These remarkably anti-dogmatic statements — sometimes termed the Buddha's Charter of Free Inquiry — have tended to divert attention from the severe strictures that the passage places on what "knowing for oneself" entails. In questioning the authority of reports, it dismisses the basic material on which the historical method is based. In questioning the authority of inference and probability, it dismisses some of the method's basic techniques. In questioning the authority of logical conjecture, analogies, and agreement through pondering views, it dismisses the methods of free-thinking rationalism in general.

This leaves only two methods for ascertaining the Dhamma, both of them related to the question raised in this passage and central to other teachings in the canon: What is skillful, what is unskillful? In developing any skill, you must (1) pay attention to the results of your own actions; and (2) listen to those who have already mastered the skill. Similarly, in ascertaining the Dhamma, you must (1) examine the results that come from putting a particular teaching in practice; and (2) check those results against the opinions of the wise.

http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/thanissaro/authenticity.html
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #15 on: 26 December 2011, 12:44:48 AM »
bukan itu maksud saya. saya hanya memberikan suatu informasi, maksud dari sumber informasi ini, mana saya tau.
saya hanya mencoba memperjelas (confirm) apakah itu berarti menurut bhikkhu bodhi 6 buku itu berasal dari early buddhism dan 9 buku lainnya itu bukan disusun di early buddhism alias gubahan belakangan. itu saja. kalo memang anda juga kurang jelas, ya gapapa. thanks.

kalau saya pribadi, asli atau tidak saya tetap berusaha untuk membaca dengan cermat dan kritis.
maksud saya, kalo misalnya 9 buku itu tidak otentik dari early buddhism, apakah itu berarti ada bagian lain di luar khuddaka nikaya yang juga tidak otentik alias karangan belakangan?

mungkin, bisa menggunakan beberapa tools seperti Mahaparinibbana sutta, Kalama Sutta, Gotami Sutta, berangkat dari asumsi bahwa sutta2 yg kita jadikan alat bantu tersebut harus diyakini sebagai otentik.
bagaimana halnya dengan beberapa perbedaan pendapat dan penafsiran sutta2 yg melahirkan berbagai macam metode meditasi? seperti anda ketahui, banyak perbedaan pendapat mengenai samadhi, jhana, vipassana dan sati, mulai dari definisinya, urutan2 sampai kepada praktiknya. masing2 pendapat mencoba menjelaskan berbasiskan sutta2 sendiri. apakah tool-tool itu bisa memisahkan mana yang otentik, mana yg tidak, mana praktik yg diajarkan Sang Buddha? kalau bisa, saya pikir tidak akan terjadi perbedaan pendapat tadi.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.403
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #16 on: 26 December 2011, 07:46:22 AM »
menurut s dhammika :
TIPITAKA

 234. Sekarang marilah kita mengenal susunan dari kitab-suci Buddhis Tipitaka. Istilah 'pitaka' berarti 'keranjang', istilah yang dipakai, sebab bagaikan para pekerja di zaman India kuno meneruskan keranjang tanah dari kepala seseorang ke kepala rekannya, Dhamma juga diteruskan dari ingatan seorang guru ke ingatan muridnya. Awalan 'ti' berarti 'tiga', dengan demikian Tipitaka berarti Tiga Keranjang. Tiga Keranjang tersebut, adalah - Sutta Pitaka - keranjang dari khotbah-khotbah, Vinaya Pitaka - keranjang dari peraturan (disiplin), dan Abhidhamma Pitaka - keranjang analisa (uraian). Istilah 'Sutta' sebenarnya berarti 'benang', khotbah-khotbah Sang Buddha disebut demikian, karena setiap darinya memiliki 'benang arti' atau 'untaian argumentasi'.

 235. Sutta Pitaka dibagi atas lima kumpulan atau koleksi (nikaya). Yang pertama, Digha Nikaya - kumpulan dari Khotbah-khotbah Panjang - terdiri atas 34 khotbah-khotbah yang, seperti terlukis dinamanya, adalah khotbah-khotbah yang sangat panjang. Yang ke dua, Majjhima Nikaya - Kumpulan dari Khotbah-khotbah Setengah-Panjang - terdiri atas 150 khotbah-khotbah yang juga seperti namanya, tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek. Yang ke tiga adalah Samyutta Nikaya - Kumpulan khotbah-khotbah Yang-berhubungan - didalamnya 7562 khotbah-khotbah dikelompokkan sesuai obyeknya. Yang ke empat adalah Anguttara Nikaya - Kumpulan Khotbah Bertahap. 'Anguttara' berarti 'selesai dalam satu', sebab 9557 khotbah-khotbah dalam kumpulan ini dikelompokkan dalam satu urutan dari satu sampai sebelas. Lima Nikaya yang terakhir adalah Khuddaka Nikaya - Kumpulan Campuran - yang terdiri dari 15 hasil karya yang agak terpisah, yang karena perbedaannya, tidak dapat digabung dalam salah satu dalam empat Nikaya yang lainnya. Kita akan meninjau secara singkat beberapa yang penting-penting dari kumpulan ini. Dhammapada, tidak diragukan adalah karya dalam Tipitaka yang paling populer dan termahsyur. Ini merupakan kumpulan dari 423 ayat (gatha) diucapkan oleh Sang Buddha pada waktu yang berbeda-beda, disusun dalam 23 bab tergantung dari pokok bahasannya. Dhammapada merupakan bagian kitab-suci Buddhis yang paling banyak diterjemahkan dibanding bagian yang lainnya. Udana - Ayat-ayat Peningkatan (atau melegakan) - sesuai namanya merupakan kenyataan bahwa setiap bagian dari 80 khotbah, isinya diselesaikan dalam satu atau lebih ayat yang memberi peningkatan atau semangat (udana). Yang sangat mirip dengan Udana adalah Itivuttaka - Seperti Dikatakan - yang terdiri atas 112 khotbah, yang juga dirangkum pada bagian akhir dalam satu atau beberapa ayat.

 236. Sutta Nipata - Kumpulan Khotbah - terdiri atas 55 khotbah dalam bentuk sajak, yang keseluruhannya berjumlah 1149 ayat. Mangala Sutta, Metta Sutta dan beberapa khotbah yang populer lainnya ditemukan dalam karya ini. Karena semua khotbah-khotbah ini diucapkan pada masa-masa awal Sang Buddha mengajar, dan karena kebanyakan darinya dianggap jasa kesusasteraan, maka Sutta Nipata adalah salah satu buku-buku terpenting dalam Tipitaka. Dua hasil karya indah lainnya adalah Theragatha - Ayat-ayat para Bhikkhu, dan Therigatha - Ayat-ayat para Bhikkhuni, masing-masing terdiri atas 164 dan 72 sajak, ditulis oleh beberapa Siswa-siswa Sang Buddha. Beberapa sajak adalah riwayat-hidup sendiri (autobiografi), beberapa adalah pujian-pujian bagi Sang Buddha, yang lainnya merupakan pujian keberadaan dan kebahagiaan Pencerahan. Buku yang terbesar dalam Khuddaka Nikaya adalah Jataka - kisah kelahiran-kelahiran. Jataka terdiri atas 547 cerita, yang diambil dari hikayat atau cerita-cerita rakyat India kuno, lalu diberi warna Buddhis dengan menjadikan Sang Buddha (dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya) sebagai pahlawan dalam setiap cerita. Walau Jataka hanyalah legenda, tapi setiap dari cerita itu mempunyai nilai pengajaran moral yang tinggi. Pada kenyataannya, memang cerita Jataka digunakan selama berabad-abad sebagai teladan moral bagi rakyat jelata, kaum Buddhis yang sederhana dan lugu. Buku-buku di dalam Khuddaka Nikaya lainnya muncul belakangan setelah bagian Tipitaka yang lain dan tidak dianggap seberapa penting saat ini.

 237. Bagian ke dua yang besar dari Tipitaka adalah Vinaya Pitaka - Keranjang Tata-tertib - yang terdiri atas lima buku. Vinaya berisi peraturan-peraturan bagi bhikkhu dan bhikkhuni, tatacara kehidupan vihara, dan beberapa kejadian penting dalam kehidupan Sang Buddha yang berhubungan dengannya. Juga ada rekaman tentang sejarah atau masa-masa awal kehidupan masyarakat vihara, termasuk laporan-laporan dari Konsili Pertama dan Konsili Ke dua.

 238. Bagian ke tiga dan yang terakhir adalah Abhidhamma Pitaka - Keranjang Penguraian - yang terdiri atas tujuh buku. Salah satu dari buku ini, Kathavattu - Butir-butir Ketidaksesuaian/kontroversial - berisi masalah-masalah sekitar doktrin yang diperdebatkan dalam Konsili ke tiga, dan inilah buku terakhir yang digabung dengan Tipitaka. Buku-buku lain dari Abhidhamma terdiri atas daftar unsur-unsur batin dan benda, penyebab dan akibatnya, dan penguraian tipe-tipe kepribadian yang berbeda. Buku pertama dari Abhidhamma mungkin ditulis sekitar 150 tahun setelah kemangkatan Sang Buddha dan yang terakhir, yang adalah Kathavattu diatas, ditulis sekitar tahun 253 Sebelum Masehi. Dengan demikian, Abhidhamma Pitaka tidak dibacakan pada Konsili Pertama, tapi ditambahkan pada Tipitaka pada masa-masa belakangan. Berdasar asal-usulnya, gaya penyajiannya dan waktu dituliskannya, dapat disimpulkan bahwa Abhidhamma adalah bagiam Tipitaka yang paling kurang kepenadaannya. Vinaya, yang kita ketahui berhubungan dengan keberadaan bhikkhu dan bhikkhuni, dan Sutta Pitaka, yang adalah Dhamma dari kata-kata Sang Buddha sendiri; adalah bagian terpenting dari literatur Buddhis.

 239. Seperti apa yang dapat kita lihat diatas, Sutta Pitaka sangatlah padat dan panjang; sebagai gambaran dapat diutarakan, bahwa ternyata terjemahan bahasa Inggeris-nya terdiri atas lebih dari 30 jilid buku. Walau demikian, seperti diperhatikan pada khotbah-khotbah yang telah banyak dituliskan diatas, banyak diantaranya ditandai dengan pengulangan-pengulangan kata-kata, yang menyebabkan bertambah panjangnya khotbah-khotbah tersebut; hal demikian, dapat dipahami, terjadi sebagai usaha agar khotbah-khotbah mudah dihafalkan; jadi demi kepentingan pewarisan ajaran-ajaran itu dalam bentuk lisan, pada masa-masa sebelum khotbah-khotbah direkam dalam bentuk tulisan. Pula, khotbah-khotbah ada yang diulangi kata demi kata atau dalam bentuk yang sama pada dua tempat yang berbeda. Salah satu contoh adalah Satipatthana Sutta ada di dalam Digha Nikaya maupun di Majjhima Nikaya,1 pula hampir semua bagian Brahma Vagga dalam Dhammapada diulangi di Sutta Nipata.2 Hal yang juga dapat dipahami, karena Sutta Nipata berisi khotbah-khotbah yang disampaikan oleh Siswa-siswa utama Sang Buddha.

 240. Tipitaka diwariskan dan akhirnya sampai pada kita dalam bahasa India kuno yang dikenal sebagai Magadhi, disebut demikian karena merupakan bahasa daerah dari kerajaan Magadha, bagian dari Kosala, dimana Sang Buddha paling banyak melewatkan masa hidup-Nya. Bahasa Magadhi kemudian dikenal sebagai bahasa Pali, yang berarti 'naskah', artinya bahasa dari naskah-naskah. Tidak semua cendekiawan sependapat bahwa Sang Buddha berbicara dalam bahasa Pali, tetapi bila tidak demikian, setidaknya bahasa tersebut adalah bahasa yang sangat mirip bahasa Pali. Filsuf besar Wilhelm Geiger berkata "bahasa Pali semestinya dipandang sebagai bahasa Magadhi, bahasa yang digunakan Sang Buddha dalam khotbah-khotbah-Nya."3 Professor Rhys Davids dalam pengantar buku kamus Pali-Inggeris karyanya, mengatakan: "Bahasa Pali di dalam buku-buku peraturan-peraturan adalah didasarkan pada bahasa daerah Kosala baku yang digunakan pada abad ke 6 dan ke 7 Sebelum Masehi ..... bahasa daerah ini adalah bahasa-ibu Sang Buddha."4 Kadang-kadang dipertanyakan penting tidaknya seseorang mengerti bahasa Pali agar dapat mengerti Dhamma dengan sempurna. Selama masa kehidupan Sang Buddha, ada dua bhikkhu yang mengharapkan agar digunakan bahasa Sanskerta (chandaso) dalam kata-kata Sang Buddha, dengan alasan bahasa Sanskerta adalah bahasa mati, tidak berubah lagi dan dengan demikian diharapkan agar pemahaman kata-kata Sang Buddha tidak akan hilang. Sang Buddha menolak, dan berkata:

          Saya memperkenankan engkau, para bhikkhu, untuk mempelajari kata-kata Sang Buddha dalam bahasamu sendiri-sendiri.5

      Pesan-pesan kemanusiaan Sang Buddha berhubungan dengan pengalaman-pengalaman dan dapat dimengerti lewat pengalaman, tidak dengan melestarikan dalam bahasa. Tidak diragukan lagi, walau mungkin perlu memahami sedikit istilah Pali, tapi Sang Buddha menginginkan kita belajar Dhamma dalam bahasa kita sendiri, karena Beliau mengetahui bahwa itulah cara terbaik untuk mengerti dan untuk berkomunikasi satu sama lain.
 241. Adalah mudah untuk menemukan acuan dalam kitab-kitab suci, karena biasanya kitab-kitab suci telah terbagi dengan baik atas bab-bab dan kemudian terbagi lagi atas ayat-ayat. Namun disebabkan karena ukuran dan sebaran yang luas dari Tipitaka, maka masih perlu dipikirkan suatu sistim acuan yang terbaik bagi Tipitaka. Saat ini, mungkin sistim acuan yang baik dan paling banyak digunakan adalah seperti yang dipergunakan dalam edisi-edisi dan terjemahan-terjemahan oleh Pali Text Society, dan oleh karenanya kita akan lebih terbiasa dengan sistim ini. Di sudut kanan atas halaman sebelah kiri dari setiap buku terjemahan ke bahasa Inggeris oleh PTS dituliskan angka Romawi diikuti nomor. Yang pertama (angka) merujuk ke jilid dari karya yang dimaksud dan yang ke dua (nomor) merujuk ke halaman dari naskah Pali asli. Jadi, bila kita sedang membaca sebuah buku yang mengutip Tipitaka dan dalam daftar acuannya disebutkan A II 150, dan bila kita ingin meneliti kutipan itu, inilah yang kita lakukan: Periksa Tipitaka, cari Anguttara Nikaya ('A' adalah singkatan dari Anguttara Nikaya, Kumpulan Khotbah Bertahap), ambil jilid Dua (II berarti Jilid Dua) dan buka halaman-halamannya, lihat pada sudut kanan atas dari halaman sebelah kiri, sampai kita menemukan 150. Di halaman itu atau sekitar itu akan kita temukan sumber yang dikutip oleh buku yang kita baca. Beberapa karya Tipitaka lainnya, misalnya Dhammapada, Sutta Nipata, Theragatha dan Therigatha, kesemuanya dalam bentuk ayat-ayat, dengan demikian acuan dari kitab-kitab ini hanya pada karya dan nomor ayat-nya saja. Jadi acuan ayat ke 53 dalam Dhammapada ditulis Dp 53, atau ayat ke 410 dari Sutta Nipata ditulis Sn 410. mungkin akan membutuhkan waktu untuk terbiasa dalam menggunakan sistim acuan ini, tapi sekali kita lakukan, maka Tipitaka akan mengungkapkan banyak harta kebijaksanaan bagi kita.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #17 on: 26 December 2011, 11:22:26 PM »
menurut s dhammika
kalo anda setuju dengan bhikkhu dhammika bahwa itu hanyalah legenda dan penambahan belakangan, apakah ini berarti karangan2 belakangan itu seharusnya dikeluarkan dari koleksi tipitaka dan diturunkan pangkatnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman sebagai ucapan Sang Buddha dan murid2nya? apalagi mengingat ada bagian yg memiliki errors / bugs?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #18 on: 27 December 2011, 06:38:10 AM »
kalo anda setuju dengan bhikkhu dhammika bahwa itu hanyalah legenda dan penambahan belakangan, apakah ini berarti karangan2 belakangan itu seharusnya dikeluarkan dari koleksi tipitaka dan diturunkan pangkatnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman sebagai ucapan Sang Buddha dan murid2nya? apalagi mengingat ada bagian yg memiliki errors / bugs?


disini kita tidak berkuasa dan tuhan DC juga tidak berkuasa utk menurunkan derajat/pangkat koleksi cerita Jataka bukan bagian Tipitaka sesuai yang anda minta.

masalah setuju atau tidak setuju pendapat B. Dhammika, hanya pribadi yang menilai
jika memang menurut anda
pendapat B.Dhammika benar atau tidak benar  dan cerita Jataka adalah legenda Hindu kuno atau ucapan Buddha, semuanya sah sah saja.  :)

Andaikata pendapat B.Dhammika benar, menurut anda siapa yang berkuasa utk menurunkan derajat/atau mengeluarkan koleksi cerita Jataka bukan bagian Tipitaka  ???
« Last Edit: 27 December 2011, 06:42:19 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.403
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #19 on: 27 December 2011, 07:17:17 AM »
kalo anda setuju dengan bhikkhu dhammika bahwa itu hanyalah legenda dan penambahan belakangan, apakah ini berarti karangan2 belakangan itu seharusnya dikeluarkan dari koleksi tipitaka dan diturunkan pangkatnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman sebagai ucapan Sang Buddha dan murid2nya? apalagi mengingat ada bagian yg memiliki errors / bugs?

saya rasa asalkan umat diberikan pengetahuan bahwa itu bukan cerita yang sebenarnya, itu hanya pengajaran moral, tidak masalah, cuma anehnya kadang ya umat buda kebanyakan malah beriman pada sutta dan mempercayai 100% pada sutta sehingga percaya saja dongeng2 hewan bisa berbicara sebagai kebenaran karena itu ada di sutta ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.406
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #20 on: 27 December 2011, 07:42:13 AM »
kekna yg beredar diluaran itu Jataka nya adalah Atthakatha Jataka dan itu dianggap yg The-Jataka. Jataka aslinya pendek2 baitnya. Ini juga terjadi ama terbitan ITC, jataka atthakata itu diangkat jadi The Jataka

Contohnya utk Atthakata Jataka 1 yg puanjang itu, sebenarnya aslinya cuma segini aja

Quote
Apaṇṇakajātakaṃ

Apaṇṇakaṃ ṭhānameke, dutiyaṃ āhu takkikā;
Etadaññāya medhāvī, taṃ gaṇhe yadapaṇṇakanti.

yg kisah2 bisa ngomong itu adalah kisah2 belakangan aja.

maka itu perlu kita "didik" kesalahpahamannya
« Last Edit: 27 December 2011, 07:44:22 AM by Sumedho »
There is no place like 127.0.0.1

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #21 on: 27 December 2011, 09:07:29 AM »
disini kita tidak berkuasa dan tuhan DC juga tidak berkuasa utk menurunkan derajat/pangkat koleksi cerita Jataka bukan bagian Tipitaka sesuai yang anda minta.

masalah setuju atau tidak setuju pendapat B. Dhammika, hanya pribadi yang menilai
jika memang menurut anda
pendapat B.Dhammika benar atau tidak benar  dan cerita Jataka adalah legenda Hindu kuno atau ucapan Buddha, semuanya sah sah saja.  :)

Andaikata pendapat B.Dhammika benar, menurut anda siapa yang berkuasa utk menurunkan derajat/atau mengeluarkan koleksi cerita Jataka bukan bagian Tipitaka  ???
lho, saya menanyakan pendapat alias opini bagaimana seharusnya. mengenai kuasa, itu di luar pembicaraan saya dengan om ryu.

faktanya menurut bhikkhu dhammika yang disetujui om ryu dan bhikkhu bodhi yg dianggap om indra kompeten, jataka itu gubahan belakangan. lalu apa opini anda mengenai posisi jataka yang dimasukkan tipitaka dan diklaim sebagai kata2 Sang Buddha sendiri... begitu.

* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #22 on: 27 December 2011, 09:30:47 AM »
saya rasa asalkan umat diberikan pengetahuan bahwa itu bukan cerita yang sebenarnya, itu hanya pengajaran moral, tidak masalah, cuma anehnya kadang ya umat buda kebanyakan malah beriman pada sutta dan mempercayai 100% pada sutta sehingga percaya saja dongeng2 hewan bisa berbicara sebagai kebenaran karena itu ada di sutta ;D
ooo begitu...
jadi menurut pendapat anda, yang penting ada suatu manfaat dari cerita dongeng tersebut, selama umat dibekali kecerdasan untuk mengambil inti ajaran dan moral dibalik dongengan tersebut, maka tidak ada masalah?

bagaimana cara memberitahu umat bahwa jataka itu hanyalah dongeng khayalan? selama saya baca majalah buddhis ataupun kotbah2 di vihara, gak ada satupun yg memberitahu itu adalah dongeng khayalan. semua bilang cerita ini ada di tipitaka alias sabda Sang Buddha.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.403
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #23 on: 27 December 2011, 09:41:19 AM »
ooo begitu...
jadi menurut pendapat anda, yang penting ada suatu manfaat dari cerita dongeng tersebut, selama umat dibekali kecerdasan untuk mengambil inti ajaran dan moral dibalik dongengan tersebut, maka tidak ada masalah?

bagaimana cara memberitahu umat bahwa jataka itu hanyalah dongeng khayalan? selama saya baca majalah buddhis ataupun kotbah2 di vihara, gak ada satupun yg memberitahu itu adalah dongeng khayalan. semua bilang cerita ini ada di tipitaka alias sabda Sang Buddha.

sebenernya aye kek beginian kaga setuju =)) sama contoh seperti sutra berbakti yang di klaim, sehingga membuat umat budis percaya sehingga mencetak ulang terus sehingga seperti dipercaya itu ucapan buda.

soal ada dimajalah, dijadikan sumber dll saya pun ga tau, tapi setidaknya bila umat budis mau sedikit menyelidiki, dan mencari informasi mungkin bisa mencari tau sejarah2 tipitaka, juga para pemuka agama yang membabarkan dhamma juga setidaknya dibekali hal2 seperti ini sehingga memperkecil error informasi, tidak hanya berdasarkan percaya saja, dan rasanya fungsi forum DC juga khan untuk bisa memberikan informasi2 bagi yang ingin tau hal2 seperti ini ;D
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #24 on: 27 December 2011, 09:44:45 AM »
kekna yg beredar diluaran itu Jataka nya adalah Atthakatha Jataka dan itu dianggap yg The-Jataka. Jataka aslinya pendek2 baitnya. Ini juga terjadi ama terbitan ITC, jataka atthakata itu diangkat jadi The Jataka

Contohnya utk Atthakata Jataka 1 yg puanjang itu, sebenarnya aslinya cuma segini aja

yg kisah2 bisa ngomong itu adalah kisah2 belakangan aja.

maka itu perlu kita "didik" kesalahpahamannya
sepertinya memang yg inggris adalah atthakathanya, namun asli palinya memang sudah memuat tokoh2 ramayana itu: sita, rama, lakkhana, dkk.
jataka 461 ini dalam tipitaka pali:

Quote
461. Dasarathajātakaṃ (7)

84.
Etha lakkhaṇa sītā ca, ubho otarathodakaṃ;
Evāyaṃ bharato āha, ‘‘rājā dasaratho mato’’.

85.
Kena rāmappabhāvena, socitabbaṃ na socasi;
Pitaraṃ kālakataṃ [kālaṅkataṃ (ka.)] sutvā, na taṃ pasahate dukhaṃ.

86.
Yaṃ na sakkā nipāletuṃ, posena lapataṃ bahuṃ;
Sa kissa viññū medhāvī, attānamupatāpaye.

87.
Daharā ca hi vuddhā ca [ye vuddhā (sī. aṭṭha.), ye vuḍḍhā (syā.)], ye bālā ye ca paṇḍitā;
Aḍḍhā ceva daliddā ca, sabbe maccuparāyaṇā.

88.
Phalānamiva pakkānaṃ, niccaṃ patanato bhayaṃ;
Evaṃ jātāna maccānaṃ, nicca maraṇato bhayaṃ.

89.
Sāyameke na dissanti, pāto diṭṭhā bahujjanā;
Pāto eke na dissanti, sāyaṃ diṭṭhā bahujjanā.

90.
Paridevayamāno ce, kiñcidatthaṃ udabbahe;
Sammūḷho hiṃsamattānaṃ, kayirā taṃ vicakkhaṇo.

91.
Kiso vivaṇṇo bhavati, hiṃsamattānamattano [mattanā (sī. aṭṭha. su. ni. 590)];
Na tena petā pālenti, niratthā paridevanā.

92.
Yathā saraṇamādittaṃ, vārinā parinibbaye [vārināvanibbāpaye (syā. ka.)];
Evampi dhīro sutavā, medhāvī paṇḍito naro;
Khippamuppatitaṃ sokaṃ, vāto tūlaṃva dhaṃsaye.

93.
Macco ekova [ekova macco (sī. syā. pī.)] acceti, ekova jāyate kule;
Saṃyogaparamātveva, sambhogā sabbapāṇinaṃ.

94.
Tasmā hi dhīrassa bahussutassa, sampassato lokamimaṃ parañca;
Aññāya dhammaṃ hadayaṃ manañca, sokā mahantāpi na tāpayanti.

95.
Sohaṃ dassañca bhokkhañca, bharissāmi ca [sohaṃ yasañca bhogañca, bhariyāpi ca (syā. ka.)] ñātake;
Sesañca pālayissāmi, kiccametaṃ [kiccamevaṃ (pī.)] vijānato.

96.
Dasa vassasahassāni, saṭṭhi vassasatāni ca;
Kambugīvo mahābāhu, rāmo rajjamakārayīti.

Dasarathajātakaṃ sattamaṃ.

* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #25 on: 27 December 2011, 09:49:03 AM »
sebenernya aye kek beginian kaga setuju =))
oh, sekarang anda tidak setuju. itu berarti anda konsisten
post sebelumnya anda sepertinya setuju dengan upaya kausalya di tempat lain  ;D
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.403
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #26 on: 27 December 2011, 10:01:42 AM »
oh, sekarang anda tidak setuju. itu berarti anda konsisten
post sebelumnya anda sepertinya setuju dengan upaya kausalya di tempat lain  ;D

aye pernah kok bikin thread apa umat buda percaya binatang bisa bicara seperti dalam jataka, dan sepertinya ada beberapa percaya dengan memberikan bukti2 kepintaran monyet, burung yang bisa bicara.
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.406
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #27 on: 27 December 2011, 10:50:06 AM »
sepertinya memang yg inggris adalah atthakathanya, namun asli palinya memang sudah memuat tokoh2 ramayana itu: sita, rama, lakkhana, dkk.
jataka 461 ini dalam tipitaka pali:



kekna bisa ada 2 kemungkinan, kita ambil yg 1 dulu yah bro, kemungkinan ke 2 yah emang itu just later addition

kemungkinan 1, soal ada nya di text, belum ketemu bro

soalnya Rama nda ketemu disono adanya Rāma/Rāmo-> itu artinya joy, bukan nama orang
Sita jg, adanya Sītā -> ini artinya jalur tanah yg sudah di gemburkan
lakkhana juga artinya sifat/ciri

contohnya yg bait

Quote
84. Etha lakkhaṇa sītā ca, ubho otarathodakaṃ;
Evāyaṃ bharato āha, ‘‘rājā dasaratho mato’’.

ambil yg baris 1

terjemahan kasar bener

Quote
inilah ciri dari tanah yang sudah digemburkan, kedua sisinya(?) dialiri air

nda ketemu namanya sih bro, atau i missed something? cmiiw
There is no place like 127.0.0.1

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #28 on: 27 December 2011, 11:13:55 AM »
mungkin aja ada kemungkinan 1 dan 2 itu. atthakatha bisa jadi ngepas-ngepasin.
owe buta pali hehehe...
sayang samaneri sudah gak nongol di forum ini untuk diminta bantuan.

menurut link post pertama saya, itu artinya:
"Let Lakkhaṇa and Sītā both into that pond descend."
"Bharata says, king Dasaratha's life is at an end."

"Say by what power thou grievest not, Rāma, when grief should be?
Though it is said thy sire is dead grief overwhelms not thee!"

rada gak nyambung kalo kalimat pertamanya mengenai ciri tanah yg gembur.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.406
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #29 on: 27 December 2011, 11:27:57 AM »
maklum, cuma penerjemah super amatiran :D

kekna lebih masuk akal yg itu tuh, secara aye belon bisa bedain mana nama ama kata kerja/sifat. dan belum lagi SPO nya bisa puter2 didalamnya :hammer:

kita coba ambil alternatif 2 kali ini. personally sih buat aye sih just ignore it, put it aside for now  :)) masih banyak yg lebih worth di explore dulu
There is no place like 127.0.0.1

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #30 on: 27 December 2011, 12:43:50 PM »
maklum, cuma penerjemah super amatiran :D

kekna lebih masuk akal yg itu tuh, secara aye belon bisa bedain mana nama ama kata kerja/sifat. dan belum lagi SPO nya bisa puter2 didalamnya :hammer:

kita coba ambil alternatif 2 kali ini. personally sih buat aye sih just ignore it, put it aside for now  :)) masih banyak yg lebih worth di explore dulu
setuju, tapi konsekuensinya yg saya coba ketengahkan di sini, berarti seluruh isi tipitaka itu bisa dan wajar untuk diragukan, dalam arti dibaca dengan seksama, kritis dan netral, tidak dibaca dengan langsung menerima atau langsung menolak.
 
dan pertanyaan yg terakhir yg belum dijawab om indra:
"bagaimana halnya dengan beberapa perbedaan pendapat dan penafsiran sutta2 yg melahirkan berbagai macam metode meditasi? seperti anda ketahui, banyak perbedaan pendapat mengenai samadhi, jhana, vipassana dan sati, mulai dari definisinya, urutan2 sampai kepada praktiknya. masing2 pendapat mencoba menjelaskan berbasiskan sutta2 sendiri. apakah tool-tool itu bisa memisahkan mana yang otentik, mana yg tidak, mana praktik yg diajarkan Sang Buddha? kalau bisa, saya pikir tidak akan terjadi perbedaan pendapat tadi."
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.406
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #31 on: 27 December 2011, 01:10:58 PM »
agreed.

soal yg itu yg belon diklarifikasi ama si om indra, meskipun tidak bisa 100% mana otentik atau tidak, setidaknya bisa sedikitnya jadi panduan, yah karena kalau 100%, sumbernya sendiri harus dianggap 100% valid dulu
There is no place like 127.0.0.1

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #32 on: 03 January 2012, 02:56:59 PM »
sepertinya pertanyaan terakhir blom konklusif dan belum terjawab. jadi thread ini diakhiri sampai di sini saja.
gak terlalu panjang, jadi kesimpulannya gak perlu :)
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #33 on: 03 January 2012, 05:17:06 PM »
sebenernya aye kek beginian kaga setuju =)) sama contoh seperti sutra berbakti yang di klaim, sehingga membuat umat budis percaya sehingga mencetak ulang terus sehingga seperti dipercaya itu ucapan buda.

soal ada dimajalah, dijadikan sumber dll saya pun ga tau, tapi setidaknya bila umat budis mau sedikit menyelidiki, dan mencari informasi mungkin bisa mencari tau sejarah2 tipitaka, juga para pemuka agama yang membabarkan dhamma juga setidaknya dibekali hal2 seperti ini sehingga memperkecil error informasi, tidak hanya berdasarkan percaya saja, dan rasanya fungsi forum DC juga khan untuk bisa memberikan informasi2 bagi yang ingin tau hal2 seperti ini ;D

Untung Saya pencari "kebenaran" bukan pencari "pembenaran", maka-nya cocok di forum DC ini. Hayoooo bongkar lagi, tetap kritis. Kalama Sutta.
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #34 on: 03 January 2012, 07:58:10 PM »
saya rasa asalkan umat diberikan pengetahuan bahwa itu bukan cerita yang sebenarnya, itu hanya pengajaran moral, tidak masalah, cuma anehnya kadang ya umat buda kebanyakan malah beriman pada sutta dan mempercayai 100% pada sutta sehingga percaya saja dongeng2 hewan bisa berbicara sebagai kebenaran karena itu ada di sutta ;D


sama seperti orang yang percaya karena ada tertulis kata kebenaran dan kesucian di kitab suci mereka maka percaya dan beriman 100 % kitab suci mereka yang paling benar dan paling suci

Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #35 on: 03 January 2012, 08:01:11 PM »
disini kita tidak berkuasa dan tuhan DC juga tidak berkuasa utk menurunkan derajat/pangkat koleksi cerita Jataka bukan bagian Tipitaka sesuai yang anda minta.

masalah setuju atau tidak setuju pendapat B. Dhammika, hanya pribadi yang menilai
jika memang menurut anda
pendapat B.Dhammika benar atau tidak benar  dan cerita Jataka adalah legenda Hindu kuno atau ucapan Buddha, semuanya sah sah saja.  :)

Andaikata pendapat B.Dhammika benar, menurut anda siapa yang berkuasa utk menurunkan derajat/atau mengeluarkan koleksi cerita Jataka bukan bagian Tipitaka  ???

Sah karena TUhan ADI LIM mengatakannya sah sah saja

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #36 on: 03 January 2012, 08:03:16 PM »

sama seperti orang yang percaya karena ada tertulis kata kebenaran dan kesucian di kitab suci mereka maka percaya dan beriman 100 % kitab suci mereka yang paling benar dan paling suci

masak iya ! :o, kitab mana tuh   ^-^
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #37 on: 03 January 2012, 08:05:12 PM »
Sah karena TUhan ADI LIM mengatakannya sah sah saja

monggo ! bilang tidak sah, ntar dikatakan bullying. :))
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline djoe

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 892
  • Reputasi: -13
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #38 on: 03 January 2012, 08:07:26 PM »
Untung Saya pencari "kebenaran" bukan pencari "pembenaran", maka-nya cocok di forum DC ini. Hayoooo bongkar lagi, tetap kritis. Kalama Sutta.

jika kebenaran yang dimaksud kebenaran menurut anda maka itu sama saja dengan pembenaran

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #39 on: 03 January 2012, 08:10:16 PM »
TS udah stop
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #40 on: 04 January 2012, 12:16:13 AM »
waduh, dijadikan tempat berantem...

kalo gitu saya simpulkan aja menurut saya sendiri:

* kemungkinan cerita jataka di atas original: satu per 1000 trilyun.

* tipitaka merupakan hasil kompilasi mulai dari masa early buddhisme (sesudah Sang Buddha parinibbana) sampai pada masa konsili yang dipimpin moggaliputta tissa dan disponsori oleh raja asoka. bukan sulap, proses kompilasi ini berlangsung dalam beberapa gelombang, mulai dari sutta-sutta "tua" dari masa early buddhism sampai pada penambahan-penambahan yang lebih "muda". dalam hal ini, tentunya naskah-naskah yang lebih tua memiliki kemungkinan yang lebih besar sebagai ajaran yang mendekati ajaran yang diajarkan langsung oleh Sang Buddha, sedangkan bagian-bagian yang lebih muda --seperti jataka dan abhidhamma-- kemungkinan besar merupakan penambahan dan karangan belakangan setelah masa perpecahan

* jangan terpengaruh pada otoritas keajaiban-keajaiban maupun asumsi-asumsi --seperti kemampuan memori fotografis hasil jhana, gak bisa salah inget sampe ke abc...z dan titik-koma, pengucaran tanpa henti oleh sekian ratus arahat, bumi bergoncang dan dewa-dewi-brahma berseru gembira-- yang melatarbelakangi pembuatan buku-buku suci. bacalah buku-buku suci --termasuk seluruh isi tipitaka-- itu dengan seksama, kritis dan netral. jangan langsung menganggapnya sebagai kebenaran mutlak dan merasa yg sudah dibaca itu final

* pertanyaan yg belum konklusif dan blom terjawab tuntas:
"bagaimana halnya dengan beberapa perbedaan pendapat dan penafsiran sutta2 yg melahirkan berbagai macam metode meditasi? seperti anda ketahui, banyak perbedaan pendapat mengenai samadhi, jhana, vipassana dan sati, mulai dari definisinya, urutan2 sampai kepada praktiknya. masing2 pendapat mencoba menjelaskan berbasiskan sutta2 sendiri. apakah tool-tool itu (e.g. gotami sutta, dsb) bisa memisahkan mana yang otentik, mana yg tidak, mana praktik yg diajarkan Sang Buddha? kalau bisa, saya pikir tidak akan terjadi perbedaan pendapat tadi."
menurut sumedho: setidaknya ada panduan, gak bisa yakin 100% (dengan kata lain, gak bisa tau pasti --morp).
indra: (diem dan kasih thanks to sumedho, artinya setuju --morp).
menurut morpheus: gak bisa tau, sehingga tidak ada jalan lain, dicoba dan dipraktikkan, lalu bandingkan dengan pengalaman dan pengamatan anda sendiri, mana diantara teori2 itu yang cocok.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #41 on: 04 January 2012, 06:03:26 AM »
mulai lagi atau udah stop ?  :))
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #42 on: 04 January 2012, 09:36:49 AM »
sebelum berantemnya jadi panjang dan thread ini kotor, mending dikasih kesimpulan di awal2 sehingga pembaca thread ini gak perlu mengikuti berantem yg panjang lebar. slamet berantem...
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #43 on: 04 January 2012, 10:06:57 AM »

menurut morpheus: gak bisa tau, sehingga tidak ada jalan lain, dicoba dan dipraktikkan, lalu bandingkan dengan pengalaman dan pengamatan anda sendiri, mana diantara teori2 itu yang cocok.


dan akhirnya kan karena berdasarkan pengalaman sendiri, jadi tidak bisa dijustifikasi oleh orang lain, yang ujung-ujung-nya kembali lagi ke referensi yang di-pakai.
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #44 on: 04 January 2012, 10:19:33 AM »
dan akhirnya kan karena berdasarkan pengalaman sendiri, jadi tidak bisa dijustifikasi oleh orang lain, yang ujung-ujung-nya kembali lagi ke referensi yang di-pakai.
apa boleh buat, karena ternyata tipitaka sendiri sebagai referensi tidaklah reliable, mengandung errors / bugs dan bahkan melahirkan penafsiran2 yang berkontradiksi, maka harus dicross check, direnungkan, diteliti secara netral dan dibandingkan dengan praktik dan pengalaman sendiri.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #45 on: 04 January 2012, 10:24:44 AM »
apa boleh buat, karena ternyata tipitaka sendiri sebagai referensi tidaklah reliable, mengandung errors / bugs dan bahkan melahirkan penafsiran2 yang berkontradiksi, maka harus dicross check, direnungkan, diteliti secara netral dan dibandingkan dengan praktik dan pengalaman sendiri.

kalau begitu, tidak-lah salah kalau pak Hudoyo hanya mengambil 2 sutta saja buat MMD-nya ? hihihihihi

Note : kita juga harus "bertanya" apakah kita benar-benar anak kandung dari orang tua kita ? Tahu dari mana ? kecuali yang sudah pada test DNA. hihihihihi
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #46 on: 04 January 2012, 10:32:43 AM »
bahkan kita juga harus "bertanya" apakah kita benar-benar anak kandung dari orang tua kita ? Tahu dari mana ? kecuali yang sudah pada test DNA. hihihihihi
quote di atas irrelevan dan out-of-context... secara probabilitas, sangat besar kemungkinan saya adalah anak kandung dari orang tua saya karena berbagai macam argumen, mulai dari earliest memory semasa childhood, saksi2 family-tetangga, foto2, kesamaan feature2 tubuh dan surat2 dokumen lahir.

berbeda halnya dengan tipitaka. dalam context ini, tipitaka pantas dibaca secara netral, tidak langsung diterima sebagai kebenaran mengingat bukti2 yang sudah dibicarakan di thread ini dan thread lain, antara lain mengingat tipitaka itu sendiri dikompilasi melalui proses yang panjang, jauh setelah Sang Buddha parinibbana disertai bukti2 evolusi sutta pitaka dari berbagai sumber early schools maka semua scholar sepakat bahwa tipitaka itu disusun dalam berbagai gelombang, mulai dari yg paling tua sampai ke penambahan2 yg lebih baru setelah jaman perpecahan. tidak ada yg namanya memori fotografis sejelas tape recorder merekam kata-demi-kata yang akhirnya dicetak menjadi tipitaka yang kita kenal sekarang. itu mitos saja.
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #47 on: 04 January 2012, 10:42:19 AM »
quote di atas irrelevan dan out-of-context... secara probabilitas, sangat besar kemungkinan saya adalah anak kandung dari orang tua saya karena berbagai macam argumen, mulai dari earliest memory semasa childhood, saksi2 family-tetangga, foto2, kesamaan feature2 tubuh dan surat2 dokumen lahir.

berbeda halnya dengan tipitaka. dalam context ini, tipitaka pantas dibaca secara netral, tidak langsung diterima sebagai kebenaran mengingat bukti2 yang sudah dibicarakan di thread ini dan thread lain, antara lain mengingat tipitaka itu sendiri dikompilasi melalui proses yang panjang, jauh setelah Sang Buddha parinibbana disertai bukti2 evolusi sutta pitaka dari berbagai sumber early schools maka semua scholar sepakat bahwa tipitaka itu disusun dalam berbagai gelombang, mulai dari yg paling tua sampai ke penambahan2 yg lebih baru setelah jaman perpecahan. tidak ada yg namanya memori fotografis sejelas tape recorder merekam kata-demi-kata yang akhirnya dicetak menjadi tipitaka yang kita kenal sekarang. itu mitos saja.

probabilitas-nya berapa persen ? hihihihihihi
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #48 on: 04 January 2012, 10:44:59 AM »
probabilitas-nya berapa persen ? hihihihihihi
ini pertanyaan serius atau bercanda?
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #49 on: 04 January 2012, 11:42:43 AM »
ini pertanyaan serius atau bercanda?

becanda bro....

Back to Topic...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline Choa

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 412
  • Reputasi: -12
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #50 on: 26 March 2012, 10:55:11 AM »
tidak tahu, tapi Bhikkhu Bodhi yg saya anggap sebagai salah satu terpelajar Buddhis yg cukup kompeten pun meyakini bahwa bagian Khuddaka Nikaya yg dianggap sebagai bagian dari Early Buddhism adalah hanya Dhammapada, Theragāthā, dan Therīgāthā, Suttanipāta, Udāna, dan Itivuttaka. bagian lainnya dianggap sebagai penambahan setelah perpecahan sekte-sekte.

 [at] Kainyn,
ini sekaligus mengoreksi statement tadi mengenai Dhammapada (bukan Atthakatha), mohon diingatkan pada samaya mendatang.

jadi ada kemungkinan TIPITAKA dipalsukan?
atau jataka bukan kotbah sang Buddha, yang berarti keotentikan TIPITAKA
dipertanyakan disini

Offline dilbert

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.935
  • Reputasi: 90
  • Gender: Male
  • "vayadhamma sankhara appamadena sampadetha"
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #51 on: 26 March 2012, 11:18:43 AM »
jadi ada kemungkinan TIPITAKA dipalsukan?
atau jataka bukan kotbah sang Buddha, yang berarti keotentikan TIPITAKA
dipertanyakan disini

kadang bukti Buddha pernah hidup aja masih di-persoal-kan...
VAYADHAMMA SANKHARA APPAMADENA SAMPADETHA
Semua yang berkondisi tdak kekal adanya, berjuanglah dengan penuh kewaspadaan

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.403
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #52 on: 26 March 2012, 01:08:54 PM »
jadi ada kemungkinan TIPITAKA dipalsukan?
atau jataka bukan kotbah sang Buddha, yang berarti keotentikan TIPITAKA
dipertanyakan disini
kok malah nanya?
bukannya loe itu dah bisa melihat semuanya?
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #53 on: 26 March 2012, 02:20:07 PM »
kok malah nanya?
bukannya loe itu dah bisa melihat semuanya?
kalau tidak ditanyakan gak keren dong...  8)
pertanyaan kan bisa juga buat mancing....  :P
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #54 on: 26 March 2012, 05:22:15 PM »
kalau tidak ditanyakan gak keren dong...  8)
pertanyaan kan bisa juga buat mancing....  :P

mau mancing ikan atau mancing kodok ! =))
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #55 on: 26 March 2012, 07:24:57 PM »
jadi ada kemungkinan TIPITAKA dipalsukan?
atau jataka bukan kotbah sang Buddha, yang berarti keotentikan TIPITAKA
dipertanyakan disini

alamak!!! bodonya .... kisah2 jataka termasuk dlm kelompok atthakatha atau komentar, jadi memang bukan khotbah Sang Buddha. tanya sih boleh aja, tapi yg cerdas dikit napa? spy gak malu2in jadi guru arahat

Offline morpheus

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.750
  • Reputasi: 110
  • Ragu pangkal cerah!
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #56 on: 26 March 2012, 08:44:47 PM »
alamak!!! bodonya .... kisah2 jataka termasuk dlm kelompok atthakatha atau komentar, jadi memang bukan khotbah Sang Buddha. tanya sih boleh aja, tapi yg cerdas dikit napa? spy gak malu2in jadi guru arahat
sepertinya sudah dibahas di awal2.

jataka merupakan salah satu buku dari total 15 buku (18 menurut versi burmese) yang terdapat di khuddaka nikaya, tipitaka pali. jataka berisikan bait2 singkat. versi panjangnya yg berupa cerita ada di dalam atthakatha / komentarnya.

sumber:
http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/index.html
http://tipitaka.org/romn/cscd/s0513m.mul10.xml
* I'm trying to free your mind, Neo. But I can only show you the door. You're the one that has to walk through it
* Neo, sooner or later you're going to realize just as I did that there's a difference between knowing the path and walking the path

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #57 on: 27 March 2012, 05:38:26 AM »
alamak!!! bodonya .... kisah2 jataka termasuk dlm kelompok atthakatha atau komentar, jadi memang bukan khotbah Sang Buddha. tanya sih boleh aja, tapi yg cerdas dikit napa? spy gak malu2in jadi guru arahat

maaf, memang belum memakai kekuatan abina, jadi belum terdeteksi.
sekarang 'mancing' dulu =))
« Last Edit: 27 March 2012, 05:40:03 AM by adi lim »
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.406
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Ramayana dan Jataka
« Reply #58 on: 27 March 2012, 11:15:27 AM »
sepertinya sudah dibahas di awal2.

jataka merupakan salah satu buku dari total 15 buku (18 menurut versi burmese) yang terdapat di khuddaka nikaya, tipitaka pali. jataka berisikan bait2 singkat. versi panjangnya yg berupa cerita ada di dalam atthakatha / komentarnya.

sumber:
http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/index.html
http://tipitaka.org/romn/cscd/s0513m.mul10.xml


Tambahan soal KN http://dhammacitta.org/dcpedia/Khuddaka_Nikāya
There is no place like 127.0.0.1

 

anything