//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Puisi-Puisi Buddhis  (Read 19617 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Puisi-Puisi Buddhis
« on: 23 March 2011, 08:59:25 PM »
Topik ini diinspirasi dari thread sebelah tentang puisi-puisi cinta.... :)

Hari ini saya mendapatkan inspirasi untuk menulis puisi bernuansa Buddhis tentang topik anatta dan paticcasamuppada. Kebetulan juga hari ini hari peringatan kelahiran Avalokitesvara Bodhisattva yang merupakan manifestasi dari sifat mahakaruna dari Sang Buddha. Jadi momennya sangat tepat untuk merenungkan dan menghayati kembali ajaran kebenaran Sang Guru Junjungan Agung kita.

Ayo para pujangga Buddhis tunjukkan pemahaman dan penghayatan Dhamma kalian atau pun apresiasi kalian terhadap Buddha, Dhamma, Sangha dalam kata-kata puitis....

Start with me:

Quote
Aku

Inilah aku, diriku, milikku
Dengan pandangan ini dunia berputar
Hasrat, keserakahan, kegelapan batin timbul darinya
Melekati setiap hal sebagai milik diri ini
Merasuk setiap pikiran yang belum tercerahkan

Ini bukan aku,diriku,milikku
Demikianlah yang bijak merenungkan
Hakekat keberadaan diri yang ilusif ini
Darinya pandangan terhadap setiap hal sebagaimana adanya timbul
Melepaskan batin dari ikatan-ikatan

Aku, diri, makhluk, personalitas
Hanyalah konstruksi bahasa sehari-hari
Menunjuk perpaduan unsur-unsur kehidupan
Tidak ada aku yang berdiri sendiri
Di antara unsur-unsur tersebut maupun di luarnya

Bagaikan sebuah mobil
Disebut mobil karena perpaduan bagian-bagiannya
Namun tiada mobil sejati dapat ditemukan
Di antara maupun di luar bagian-bagian itu
Hanya perpaduan unsur-unsur yang berperan

Perbuatan hanyalah fenomena sebab akibat yang saling bergantungan
Tiada diri yang melakukannya
Demikian juga penderitaan hanyalah penderitaan
Jalan hanyalah jalan, tiada yang menapakinya
Kebahagiaan pun tiada yang merasakannya

Ini bukanlah kehampaan
Selama sebab dan kondisi yang mendukung muncul
Fenomena tetap bertahan
Ketika akar sebab dan kondisi dicabut
Lenyaplah kumpulan bentukan-bentukan ini
Inilah jalan tengah antara kehampaan dan keberadaan

Memandang aku sebagai aku
Kebodohan membutakan mata semua makhluk
Tidak memandang aku sebagai aku
Kebijaksanaan menuntun tindak-tanduk sang bijak

Jika aku saja bukan aku, diriku, milikku
Bagaimana mungkin hal-hal di luar adalah milikku
Dengan menyelami ini, lepaskanlah kemelekatan
Bebaskan batin dari jala-jala konsep

Sungguh mendalam kebenaran tertinggi ini
Sayang ku tak bisa mencicipinya
Bagaikan makanan lezat disajikan oleh koki ahli
Hanya bau sedapnya tercium di seberang jalan
Tetapi tidak mengenyangkan perut

Butuh beribu kalpa kehidupan lagi
Sebelum akhirnya mata kebijaksanaanku terbuka
Sampai saat itu aku akan berjuang
Mengikis sedikit demi sedikit debu pandangan ini
Sembari membantu yang lain
Memahami ajaran mulia Sang Guru
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline bawel

  • Sebelumnya: Comel
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.755
  • Reputasi: 71
  • Gender: Male
  • namanya juga bawel ;D
Re: Puisi-Puisi Buddhis
« Reply #1 on: 24 March 2011, 04:08:24 PM »
ada puisi buddhis juga yah ;D.
saya coba meramaikan deh ;D.

perasaan oh perasaan...
kau begitu bawel dan comel :P
selalu membawa aku ke mana saja kamu suka
ketika kau ingin tertawa, kau menciptakan hal-hal lucu
ketika kau ingin menangis, kau ciptakan hal-hal sedih
ketika kau ingin marah, kau ciptakan suasana seperti pabrik baja
ketika kau ingin bingung, kau ciptakan sebuah peta buta
perasaan oh perasaan
mengapa kau tidak pernah lelah menggendong diriku pergi kemana saja
perasaan oh perasaan
kau memang rajanya dunia
kaulah penguasa di alam semesta ini
tapi sayangnya kau bukan siapa-siapa di dalam keheningan
kau tak bisa lagi menggangguku di dalam keheningan
kau hanya bisa memaki aku, teman mainmu dari dunia yang bising
dan akhirnya kau tinggalkan aku di dalam keheningan ini karena kau sudah tak berdaya lagi
perasaan oh perasaan
selamat tinggal ye ;D.

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Puisi-Puisi Buddhis
« Reply #2 on: 24 March 2011, 06:10:50 PM »
Itu hanya lah sebuah lembaran tipis,
bahkan sangat rentan terhadap pelapukan & perubahan.

Tp hampir smuanya menganggap itu suatu keindahan,
sangat menawan, sangat menarik,
perlu dirawat dengan berlebihan karena suatu aset yang berharga &
memperlakukannya secara berlebihan
bahkan ada kalanya memamerkannya.

Tapi apalah arti semua itu
dikala (waktu) belia sangat menarik dan menjadi daya tarik
dikala senja mulai menjelang, perubahan mulai datang
sebagian orang hanya menerima-nya dengan apa adanya
sebagian orang berusaha tetap memperindah
sebagian orang tidak menyadari perubahannya

Tapi semuanya itu akan tetap berubah menuju ke pelapukan
Tapi semuanya itu akan tetap berubah menuju ke hancuran
ITU hanya lah selembar kulit yang menempel . . .
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Puisi-Puisi Buddhis
« Reply #3 on: 11 April 2011, 07:18:02 PM »
Ber anjali  melafalkan sutra..
berniat membina diri yang kotor dan nista...
menghilangkan segala rasa ...
yang selalu terikat akan dunia...

berjalan tertatih dalam kebimbangan..
mencoba mencari pencerahan ...
mendalami segala sutra..
bermeditasi dalam dogma...

bersujud dihadapan boddhisatva..
berniat kembali ke jalan dharma...
melepaskan segala kemelekatan...
berdhana dan melatih kesabaran..
membina diri hingga hingga ajal...


 _/\_
« Last Edit: 11 April 2011, 07:21:57 PM by wang ai lie »
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Puisi-Puisi Buddhis
« Reply #4 on: 19 April 2011, 08:11:54 PM »
mengejar yang tak terkejar

Ada satu hal saudaraku,
walaupun dikejar dia akan selalu didepan.
Ketika dikau berjalan ataupun lari,
dia akan selalu didepan tanpa engkau bisa mengejarnya.

Tapi hanya ada suatu saat dia akan menhampirimu
dan ketika itu engkau sedang lengah. Apakah itu sohib ku ?

kematian
dia tak akan pernah terkejar
walau dikau mengejarnya sekeras apapun
dia slalu didepan kita

dia akan menghampirimu
disaat kau lengah ataupun dikau siap menyongsongnya
tak ada seseuatupu yang dapat membelokkan arah tujuannya
arah tujuannya selalu menghapirimu

walau engkau tak mengejarnya
tapi engkau dijemputnya
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: Puisi-Puisi Buddhis
« Reply #5 on: 19 April 2011, 08:34:33 PM »
ku pejamkan mata...
ku ikuti alur nafas saat ku buang...
dengan harap dengan lepasnya nafasku..
terbuang juga segala kebodohan batin ini..
kumulai kembali bersila dalam keheningan..
kosongkan pikiran dari ke'aku'an..
bersihkan hati dari segala kedengkian..
saat ku hirup nafasku aku berharap...
dapat mengikuti jalan dhamma...
lepas dari segala Dukkha...
dan dari kemelekatan..

Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: Puisi-Puisi Buddhis
« Reply #6 on: 26 April 2011, 09:08:06 PM »
Dimana air, bumi, api, & angin tidak ada tempat berpijak:
Ketika bintang-bintang tidak bersinar,
matahari tidak terlihat,
bulan tidak muncul,
kegelapan tidak ditemukan.

Ketika seorang bijaksana,
seorang brahman melalui kebijaksanaan,
telah mengetahui sendiri,
kemudian dari bentuk & tanpa bentuk,
dari kenikmatan & sakit,
dia terbebaskan


http://dhammacitta.org/dcpedia/Ud_1.10:_Bahiya_Sutta_(Thanissaro)


mohon maaf kalau kutifan, 對不起 。。。
« Last Edit: 26 April 2011, 09:11:49 PM by Mas Tidar »
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.467
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Puisi-Puisi Buddhis
« Reply #7 on: 01 May 2011, 10:13:06 PM »
Sujudku

Ketika dalam duka, sepi, kekecewaan
Saat rasa takut menyerang
Maupun waktu suka cita
Aku selalu mengenang Ia
Yang menemukan sang jalan
Beserta perkumpulan para siswa mulia

Kepada Yang melihat semuanya
Penakluk semua musuh dari dalam
Ku haturkan salam penghormatanku
Agar muncul dalam pikiranku
Dari Dipankara pencetus jalan kesempurnaan
Sampai Sakyamuni sang guru dunia

Ku jatuhkan kepalaku di bawah kaki
Keduapuluh empat manusia agung dengan tigapuluh dua ciri ini
Mempersembahkan buah dari karmaku sendiri
Bunga cantik dari taman hatiku sendiri
Keharuman dupa dari tekadku
Membahagiakan semua makhluk tanpa kecuali

Penerangan sempurna para Yang tercerahkan ini
Adalah pelindungku dari segala bahaya
Baik dari dalam maupun luar
Semoga semua makhluk mendapatkan lindungan setara
Dan mencapai kesempurnaan yang tiada bandingnya

Dalam seribu satu cara
Kebenaran kuno telah diungkap-Nya
Ketidakpuasaan semua bentukan, sebab dan penghentiannya
Telah diputar dengan sempurna
Beserta jalan tengah 'tuk mencapai titik akhir
Rantai sebab akibat yang saling bergantungan
Mengikat para makhluk di lingkaran penderitaan ini
Dari ketidaktahuan akan kebenaran ini
Ilusi aku, diriku, milikku berakar

Kepada kumpulan kebenaran ini
Yang menyusun ketigapuluh tujuh unsur pencerahan
Aku berlindung dari semua kekotoran dunia
Menerapkannya sedikit demi sedikit dalam kehidupanku
Semoga semua makhluk memperoleh
Rakit tak bercacat ini
'Tuk menyeberangi lautan menuju pantai

Kepada Kondanna yang pertama melihat
Kepada Upatissa sang bijak
Kepada Kolita dengan kemampuan supranatural
Kepada Ananda penerus ajaran
Kepada Upali penjaga disiplin
Kepada Kassapa sang bapa
Kepada para putra mulia yang tak terhitung
Dari masa lalu dan masa sekarang
Ku munculkan dalam pikiranku

Aku persembahkan empat kebutuhan utama
Kepada perkumpulan para suci ini
Dengan sang Guru sendiri sebagai kepala
Semoga jasa perbuatan ini
Terlimpahkan kepada semua makhluk
Apakah jauh atau dekat, terlihat atau tidak
Semoga semua makhluk turut merasakan buahnya

Setelah sang cahaya semesta menguraikan ajaran
Ketika mereka yang telah menunaikan tugasnya
Menyampaikan kata-kata penghargaan
Aku membulatkan tekad sempurnaku
Semoga aku dapat memenuhi kesempurnaan
Mulai dari pemberian, kebajikan, pelepasan
Sampai ketetapan hati, cinta dan keseimbangan batin

Semoga aku dapat memberikan makanan
Kepada mereka yang kelaparan
Menyediakan air kepada yang kehausan
Menjadi naungan bagi yang kepanasan atau kehujanan
Menjadi pelipur lara bagi yang bersedih

Sang Guru tersenyum dan tidak berkata-kata
Seorang pertapa berjubah kuning muncul
Dialah Ajita sang pewaris tahta
Berkata padaku dengan suara lembut
Tercapailah segala cita-citamu
Pada akhir masa ini tekadkanlah
Untuk menjumpai Yang berbahagia

Saat itu engkau akan mengulangi tekadmu ini
Tak hanya di hadapan-Nya
Namun juga tak terhitung para tercerahkan yang mendatang
Kepada mereka engkau akan bersujud
Hingga akhirnya kau kan jadi sempurna
Menyempurnakan diri sendiri dan makhluk lain
Serta dikenang dunia 'tuk selamanya
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa