//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Topics - seniya

Pages: 1 2 3 4 [5] 6 7 8 9 10
61
Spoiler: ShowHide


Salam Sejahtera,
Namo Buddhaya,

Kabar gembira dari Komunitas Meditasi Samatha-Vipassana Jambi yang telah mengundang Sayalay Dipankara untuk memberikan ceramah Dhamma pada:

Hari/Tanggal: Sabtu, 05 April 2014
Pukul           : 18.00 WIB s/d selesai
Tempat        : Gedung Atlantis (Sin Sin Restoran), Jl. Lombok RT. 19 Lrg. Kapak, Kebun Handil, Jelutung, Jambi.

Adapun tema ceramah Dhamma adalah Gratitude (Bersyukur).

Tiket masuk gratis - free. Tiket sudah dapat diambil saat ini....

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi: Mahacetiya Oenang Hermawan dengan sdr. Yanto (0812 1352 5354)

 _/\_

62
Sutra Mahayana / Bodhisattva Avalokitesvara dalam Gandavyuha Sutra
« on: 11 March 2014, 07:27:25 AM »
Berikut terdapat terjemahan [sebagian] dari makalah berjudul "Bodhisattva Avalokiteśvara in the Gaṇḍavyūhasūtra" yang meneliti sosok sang Bodhisattva agung dalam salah satu sutra Mahayana yang terkenal, Gandavyuha Sutra.

Bagian yang menarik dari artikel ini adalah hipotesis penulis bahwa gunung Potalaka yang merupakan tempat kediaman Bodhisattva Avalokitesvara yang terkenal yang disebutkan dalam sutra-sutra Mahayana adalah suatu tempat yang benar-benar ada di dunia ini, yaitu terletak di India Selatan!

63
Diskusi Umum / MOVED: astral projection
« on: 10 January 2014, 08:33:54 AM »

64
Personality / [Pic] Understanding the Introverted People
« on: 29 December 2013, 06:06:35 PM »
Understanding What It's Like To Be An Introvert: ShowHide


Guide to Understanding the Introverted People: ShowHide

65
Seremonial / Selamat kepada GM Morpheus
« on: 05 December 2013, 08:37:26 AM »
Selamat kepada nabi baru sdr. Morpheus. Semoga dapat bertugas dengan baik sesuai wahyu yang diberikan Tuhan DC

67
DhammaCitta PEDULI / Bantuan untuk Oma Shasika (Dana telah ditutup)
« on: 18 November 2013, 09:26:20 AM »
Namo Buddhaya,
 
Salah seorang member DC bernama ibu Devi (Oma Shasika) menderita tumor getah bening yang ganas (dari sebesar jempol menjadi kira-kira sebesar sekepalan tangan anak kecil dalam waktu 6 bulan). Ada benjolan di punggung yang menyebar ke payudara, juga di tulang bahu bagian depan dan di bawah rahang kanan bawah. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan karena beliau seorang janda yang tidak bekerja lagi dan dibiayai anaknya, mengingat umur beliau yang sudah lansia (50+ thn), dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk pengobatannya (operasi, kemo, perawatan pasca operasi, dst). Ybs sendiri sudah pernah biopsi dan direkomendasikan agar dioperasi oleh dokter. Selain itu beliau mengalami pembengkakan ginjal yang cukup serius.
 
Minggu kemarin (12 November 2013) berdasarkan info dari Aa Dhanuttono, tim DC diwakili Mas Tidar telah melakukan kunjungan ke rumah ibu Devi di Yogyakarta. Dari hasil kunjungan dan pembicaraan dengan Tuhan Sumedho, maka melalui ini kami bermaksud mengetuk hati para member DC dan para dermawan untuk mengulurkan tangan memberikan bantuan untuk pengobatan ibu Devi.

Transfer dana dapat dilakukan ke rekening DhammaCitta, yaitu :

Bank           : Bank Central Asia cabang Kebon Jeruk Raya, Jakarta
No Rek        : 6560 70 80 91
  (IDR)
Atas Nama   : BENNY
Swift Code & Alamat Bank: ShowHide
Swift Code    : CENAIDJA
Alamat         : KCP Kebon Jeruk Raya
                     Rukan Business Park Blok B 1-2
                     Jl. Meruya Ilir No. 88 Jakarta - Indonesia


tambahkan akhiran nominal transfer dengan angka 5. Contoh: Rp 100.005,-

Konfirmasi dana ke :
dana [at] dhammacitta.org­ atau
PM Elin, atau 0812 - 1000 7882 (SMS / Whatsapp)

Dengan format:
DCPeduli NamaDonatur JumlahDana NamaRekPengirim/­SetoranTunai
Contoh:
DCPeduli Andy & Keluarga 20.000 Andy Lau (Setoran Tunai)
DCPeduli Hendra 50.005 Hendra Susanto

Semoga dengan adanya bantuan donasi ini dapat meringankan beban keluarga ibu Devi dan semoga ibu Devi dapat menjadi lebih baik kondisi kesehatannya. Semoga jasa kebajikan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
 
Anumodana

_/\_
Laporan dana masuk di Reply #41..

[mod]Dana telah ditutup tanggal 17 Desember 2013[/mod]

68
Buddhisme Awal / Sekilas tentang Aliran-Aliran Buddhisme Awal
« on: 13 November 2013, 07:06:40 PM »
Sekilas Tentang Aliran-Aliran Buddhisme Awal

Tak lengkap rasanya, jika kita membahas tentang Buddhisme awal tanpa mengetahui aliran-aliran awal yang muncul pada masa tersebut. Walaupun Buddhisme awal menunjuk pada masa pra-sektarian, namun pemahaman akan aliran-aliran Buddhisme awal ini akan membantu mempelajari Buddhisme awal yang sumber-sumbernya berasal dari aliran-aliran awal ini.
 
 Secara tradisional, dikatakan terdapat 18 aliran yang muncul akibat perpecahan pada komunitas Buddhis awal. Mulanya komunitas Buddhis awal terpecah menjadi 2 golongan besar: Mahasanghika dan Sthaviravada. Kemudian Mahasanghika terpecah menjadi 10 aliran, sedangkan Sthaviravada terpecah menjadi 8 aliran; ini terjadi sekitar 300 tahun setelah Parinibbana Sang Buddha. Pada tulisan ini kita akan membahas beberapa aliran awal yang penting.
 
 1. Mahasanghika
 
 Membicarakan asal-usul aliran Mahasanghika berarti kita harus melihat bagaimana perpecahan Buddhisme awal terjadi. Setidaknya ada 3 versi kisah perpecahan yang umum dalam teks-teks Buddhis:
 
 1. Versi Theravada (dalam komentar Vinaya Pitaka, Dipavamsa, dst):
 * Pelaku: Para bhikkhu Vajjiputtaka (suku Vajji)
 * Sebab: 10 aturan yang melanggar Vinaya (di antaranya penggunaan emas dan perak) [perbedaan Vinaya]
 * Tempat: Vesali
 * Waktu: 100 tahun setelah Parinibbana (masa pemerintahan Raja Kalasoka)
 * Keterangan: Para bhikkhu Vajjiputtaka dianggap melanggar dalam Konsili Kedua yang diadakan para Arahat. Kelompok Vajjiputtaka memisahkan diri dan membentuk konsili sendiri (Mahasanghiti) dan disebut Mahasanghika (komunitas/perkumpulan besar).
 
 2. Versi Sarvastivada (komentar Abhidharma Mahavibhasa, dst)
 * Pelaku : Bhikkhu Mahadeva
 * Sebab : 5 poin yang merendahkan Arahat [perbedaan Dhamma]
 * Tempat : Pataliputta
 * Waktu : masa pemerintahan Raja Asoka (100 tahun setelah Parinibbana menurut kronologi Sarvastivada atau 200 tahun setelah Parinibbana menurut kronologi Theravada)
 * Keterangan : Tidak disebutkan adanya konsili Buddhis, namun para Arahat (Sthavira) memisahkan diri dari kelompok Mahadeva (Mahasanghika) yang didukung raja dan melarikan diri ke daerah Mathura tempat berkembangnya aliran Sarvastivada.
 
 3. Versi Mahasanghika (dalam Sariputrapariprccha)
 * Pelaku : Bhikkhu sesepuh yang tidak disebutkan namanya
 * Sebab : Penambahan Vinaya [perbedaan tekstual]
 * Tempat : tidak disebutkan
 * Waktu : jauh setelah masa raja Asoka (tidak ada angka tahun yang disebutkan)
 * Keterangan: Para bhikkhu sesepuh (Sthavira) menambah Vinaya, sedangkan para bhikkhu lain yang berjumlah besar (Mahasanghika) mempertahankan Vinaya. (Menurut Dipavamsa dan komentar Pali, aliran Mahasanghika menganggap Parivara dari Vinaya Pitaka Pali, Abhidhamma Pitaka, Patisambhidamagga, Niddesa, dan beberapa Jataka adalah penambahan dan tidak diakui oleh mereka sebagai Buddhavacana)
 
 Para ahli umumnya lebih cenderung menerima kisah perpecahan versi Mahasanghika karena Vinaya Mahasanghika yang berjumlah lebih sedikit memang lebih tua usianya daripada Vinaya Sthaviravada. Namun kesimpulan ini masih banyak membutuhkan penelitian lebih lanjut.
 
 Beberapa ajaran Mahasanghika:
 
 1. Lima poin Mahadeva:
 * Seorang Arahat masih memiliki kekotoran batin yang bersifat fisik/kasar
 * Seorang Arahat masih memiliki ketidaktahuan yang menyangkut pengetahuan sehari-hari
 * Seorang Arahat masih memiliki keraguan tentang kemungkinan dan ketidakmungkinan
 * Realisasi seorang Arahat diperoleh dari orang lain.
 * Realisasi kebenaran mulia tentang dukkha dapat dicapai dengan menyerukan: "Oh, betapa menderitanya."
 
 2. Sang Buddha adalah makhluk yang melampaui duniawi, tidak hanya dalam hal pencapaian, tetapi juga segala aspek kehidupannya. Semua yang dilakukan Pangeran Siddhattha hanyalah "penampakan luar" saja. Beliau selalu dalam keadaan meditasi, mengajarkan Dharma hanya dalam satu kata, tubuhnya tidak pernah kotor (bahkan debu pun tidak bisa lengket pada tubuh Beliau), kehidupannya tidak terbatas, kekuatannya tidak terbatas.
 
 3. Terdapat banyak Buddha lain di sepuluh penjuru arah (8 arah mata angin + arah atas dan bawah). Dengan demikian terdapat banyak tanah Buddha di alam semesta ini selain tanah Buddha kita tempat Buddha Gotama muncul. [Poin 2 dan 3 ini juga dianut dalam ajaran Mahayana].
 
 4. Walaupun dikatakan dalam sumber Theravada bahwa Mahasanghika tidak menerima Abhidhamma sebagai ajaran Buddha, namun beberapa subalirannya memiliki Abhidhamma Pitaka masing-masing.
 
 Pusat Mahasanghika mulanya di Magadha, kemudian mereka berkembang di India utara dan barat laut. Beberapa subalirannya di antaranya:
 1. Gokulika berpusat di Varanasi dan Pataliputra.
 2. Ekavyaharaka dan Lokottaravada di Peshawar
 3. Bahusrutiya di Kosala.
 4. Caitika di Andhra, khususnya di Amaravati dan Nagarjunakonda
 5. Prajnaptivada di Madhyadesa.
 
 Umumnya para ahli menganggap Mahasanghika sebagai cikal-bakal Mahayana saat ini karena ada kesamaan ajaran. Namun demikian, kemunculan sutra-sutra Mahayana terjadi lama setelah perpecahan Buddhisme awal (yaitu sekitar 500 tahun setelah Parinibbana Sang Buddha) dan tidak semua subaliran Mahasanghika menerima sutra-sutra Mahayana sebagai ajaran Buddha. Vinaya yang digunakan dalam aliran Mahayana saat ini pun bukan berasal dari Mahasanghika.
 
 Vinaya Mahasanghika diterjemahkan ke bahasa Mandarin oleh Faxian pada abad ke-5 M. Beberapa manuskrip kuno yang berisi Vinaya Lokottaravada dan Mahaparinirvana Sutra versi Mahasanghika ditemukan di peninggalan reruntuhan vihara kuno di Bamiyan, Afghanistan. Melalui literatur kuno ini para ahli berusaha mempelajari seluk beluk aliran ini.
 
 Pada abad ke-7 M aliran Mahasanghika perlahan-lahan lenyap di India. Pada masa yang sama di Cina Vinaya Mahasanghika digunakan di Guanzhong (dekat Chang'an) dan Vinaya Sarvastivada digunakan di daerah sungai Yangzi dan daerah selatan, tetapi mayoritas bhikkhu Cina menggunakan Vinaya Dharmaguptaka. Akhirnya pada awal abad ke-8 atas perintah kaisar Zhongzong dari Dinasti Tang seluruh anggota Sangha Cina memakai Vinaya Dharmaguptaka. Di Tibet silsilah terakhir Mahasanghika adalah Atisha yang terkenal dan pernah berguru kepada Dharmakirti di Sumatera pada masa kerajaan Sriwijaya. Ketika Raja Tibet Ralpacan memerintahkan hanya Mulasarvastivada yang diperbolehkan di Tibet, Atisha tidak menahbiskan siapa pun lagi.
 
 Lihat juga Mahāsāṃghika dan Asal Mula Aliran Mahasangika Menurut Teks Sarvastivada
 

69
Sutta Vinaya / Studi tentang Citta dan Viññaṇa
« on: 02 November 2013, 08:09:06 AM »
Dalam bahasa Pali, kata “citta” sering diterjemahkan sebagai “pikiran” dan “viññāṇa” diterjemahkan sebagai “kesadaran”. Kata “citta” juga bersinonim dengan “mano” atau “manas” (yang juga diterjemahkan sebagai “pikiran”). Namun tulisan ini hanya akan membatasi diri membahas tentang istilah “citta” dan “viññāṇa”.
 
 Sebelum kita meninjau penggunaan dua istilah ini dalam ajaran Buddha, terlebih dahulu kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk melihat pengertian keduanya dalam kehidupan sehari-hari:
 
 pi•kir•an n 1 hasil berpikir (memikirkan): ia pandai menangkap ~ dan perasaan orang lain; 2 akal; ingatan; 3 akal (dl arti daya upaya): mendapat ~; 4 angan-angan; gagasan: ~ baru; 5 niat; maksud: tidak ada ~ akan berhenti bersekolah;
 
 ke•sa•dar•an n 1 keinsafan; keadaan mengerti: - akan harga dirinya timbul krn ia diperlakukan secara tidak adil; 2 hal yg dirasakan atau dialami oleh seseorang;
 
 Dalam hal ini, pikiran dan kesadaran menunjuk pada dua aspek yang berbeda dari fungsi mental atau keadaan batin itu sendiri; pikiran merupakan fungsi intelektual dan rasional dari batin, sedangkan kesadaran merupakan fungsi kognitif dan emosionalnya.
 
 Sekarang kita akan mengkaji penggunaan kedua istilah ini dalam kotbah-kotbah Sang Buddha (sutta), penjelasan dalam komentar kuno dan Abhidhamma, serta pendapat para sarjana Buddhis masa kini.

A. Menurut Sutta-Sutta
 
 Dalam sutta-sutta, kata “viññāṇa” lebih sering digunakan, terutama untuk menunjuk pada salah satu unsur (khandha) yang membentuk sistem fisio-psikologis kehidupan (pañcakkhandha). Beberapa kutipan kotbah Sang Buddha di bawah ini memberikan definisi kesadaran ini:
 
 “Dan apakah, para bhikkhu, kesadaran (viññāṇa) itu? Ada enam kelompok kesadaran: kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah, kesadaran-badan, kesadaran-pikiran (manoviññāṇa). Ini disebut kesadaran. Dengan munculnya batin-dan-bentuk (nāma-rūpa), maka muncul pula kesadaran. Dengan lenyapnya batin-dan-bentuk, maka lenyap pula kesadaran. Jalan Mulia Berunsur Delapan ini adalah jalan menuju lenyapnya kesadaran, yaitu, pandangan benar … konsentrasi benar.” (SN 22:56)
 
 “Kesadaran apapun juga, bhikkhu, apakah di masa lalu, di masa depan, atau di masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, hina atau mulia, jauh atau dekat: ini disebut kelompok unsur kesadaran (viññāṇakkhandha).” (SN 22:82 / MN 109)
 
 “Dan mengapakah, para bhikkhu, engkau menyebutnya kesadaran? ‘Ia menyadari (vijānāti),’ para bhikkhu, oleh karena itu disebut kesadaran. Dan apakah yang ia sadari? Ia menyadari rasa asam, ia menyadari rasa pahit, ia menyadari rasa pedas, ia menyadari rasa manis, ia menyadari rasa sangat pedas, ia menyadari rasa lembut, ia menyadari rasa asin, ia menyadari lunak. ‘Ia menyadari,’ para bhikkhu, oleh karena itu disebut kesadaran.” (SN 22:79)
 
 [Yang Mulia Mahā Koṭṭhita bertanya:] “’Kesadaran, kesadaran’ dikatakan, teman. Sehubungan dengan apakah ‘kesadaran’ dikatakan?”
 [Yang Mulia Sāriputta menjawab:] “’Kesadaran menyadari (vijānātī), kesadaran menyadari,’ teman; itulah mengapa ‘kesadaran’ dikatakan. Apakah yang disadari? Kesadaran menyadari ‘[Ini] menyenangkan’; kesadaran menyadari: ‘[Ini] menyakitkan’; kesadaran menyadari: ‘[Ini] bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.’; ‘Kesadaran menyadari, kesadaran menyadari,’ teman; itulah mengapa ‘kesadaran’ dikatakan.” (MN 43)
 
 Sedangkan istilah “citta” walau banyak digunakan dalam sutta-sutta, namun Sang Buddha tidak memberikan definisinya seperti halnya terhadap istilah “viññāṇa”. Berikut beberapa kutipan sutta yang membahas tentang citta:
 
 1. “Aku tidak melihat bahkan satu hal lain, O para bhikkhu, yang begitu kaku seperti halnya pikiran yang tidak terkembang. Pikiran yang tidak terkembang adalah sungguh kaku.
 2. “Aku tidak melihat bahkan satu hal lain, O para bhikkhu, yang begitu lentur seperti halnya pikiran yang terkembang. Pikiran yang terkembang adalah sungguh lentur.
 3.  “Aku tidak melihat bahkan satu hal lain, O para bhikkhu, yang mengarah menuju bahaya besar seperti halnya pikiran yang tidak terkembang. Pikiran yang tidak terkembang mengarah menuju bahaya besar.
 4. “Aku tidak melihat bahkan satu hal lain, O para bhikkhu, yang mengarah menuju manfaat besar seperti halnya pikiran yang terkembang. Pikiran yang  terkembang mengarah menuju manfaat besar.
 9. “Aku tidak melihat bahkan satu hal lain, O para bhikkhu, yang jika tidak dikembangkan dan tidak dilatih akan membawa penderitaan luar biasa seperti halnya pikiran. Pikiran jika tidak dikembangkan dan tidak dilatih akan membawa penderitaan luar biasa.
 10. “Aku tidak melihat bahkan satu hal lain, O para bhikkhu, yang jika dikembangkan dan dilatih akan membawa kebahagiaan luar biasa seperti halnya pikiran. Pikiran jika dikembangkan dan dilatih akan membawa kebahagiaan luar biasa.”
 (AN 1: iii, 1, 2, 3, 4, 9, 10; bandingkan juga dengan Dhammapada bab III Citta-vagga)
 
 “Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan pikiran di dalam pikiran? Di sini seorang bhikkhu memahami pikiran yang terpengaruh nafsu sebagai pikiran yang terpengaruh nafsu dan pikiran yang tidak terpengaruh nafsu sebagai pikiran yang tidak terpengaruh nafsu. Ia memahami pikiran yang terpengaruh kebencian sebagai pikiran yang terpengaruh kebencian dan pikiran yang tidak terpengaruh kebencian sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebencian. Ia memahami pikiran yang terpengaruh kebodohan sebagai pikiran yang terpengaruh kebodohan dan pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan sebagai pikiran yang tidak terpengaruh kebodohan. Ia memahami pikiran yang mengerut sebagai mengerut dan pikiran yang kacau sebagai kacau. Ia memahami pikiran yang luhur sebagai luhur dan pikiran yang tidak luhur sebagai tidak luhur. Ia memahami pikiran yang terbatas sebagai terbatas dan pikiran yang tidak terbatas sebagai tidak terbatas. Ia memahami pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi dan pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi. Ia memahami pikiran yang terbebaskan sebagai terbebaskan dan pikiran yang tidak terbebaskan sebagai tidak terbebaskan.”
 “Dengan cara ini ia berdiam merenungkan pikiran di dalam pikiran secara internal, atau ia berdiam merenungkan pikiran di dalam pikiran secara eksternal, atau ia berdiam merenungkan pikiran di dalam pikiran secara internal dan eksternal. Atau ia berdiam merenungkan sifat munculnya di dalam pikiran, atau ia berdiam merenungkan sifat lenyapnya di dalam pikiran, atau ia berdiam merenungkan sifat muncul dan lenyapnya di dalam pikiran. Atau penuh perhatian bahwa ‘ada pikiran’ muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan perhatian berulang-ulang. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apapun di dunia ini. Itu adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan pikiran di dalam pikiran.” (DN 22 / MN 10 Satipaṭṭhāna Sutta)
 
 “Para bhikkhu, Aku tidak melihat kelompok makhluk hidup lain yang begitu beragam seperti kelompok makhluk di alam binatang. Bahkan makhluk-makhluk di alam binatang itu telah diberagamkan oleh pikiran, namun pikiran bahkan lebih beragam daripada makhluk-makhluk di alam binatang itu.”
 “Oleh karena itu, para bhikkhu, seseorang harus sering merenungkan pikirannya sebagai: ‘Sejak lama pikiran ini telah dikotori oleh nafsu, kebencian, dan kebodohan.’ Melalui kekotoran pikiran makhluk-makhluk dikotori; dengan pemurnian pikiran makhluk-makhluk dimurnikan.” (SN 22:100)
 
 [Sang Buddha bertanya:] “Pikiran cenderung mengarah kepada pengetahuan dan penglihatan. Sekarang, bagi seseorang yang mengetahui dan melihat, apakah tepat mengatakan: ‘Jiwa adalah sama dengan badan’ atau ‘Jiwa berbeda dengan badan’?” [Pertapa Maṇḍisa dan Jāliya menjawab:] “Tidak, Teman.” (DN 6)
 
 “Tetapi, para bhikkhu, sehubungan dengan apa yang disebut dengan ‘batin’ (citta) atau ‘pikiran’ (mano) atau ‘kesadaran’(viññāṇa) [Cittaṃ iti pi mano iti pi viññāṇaṃ iti pi; di sini baik “citta” maupun “mano” bermakna sama/sinonim (pikiran), tetapi untuk membedakannya “citta” diterjemahkan sebagai “batin”] – kaum duniawi yang tidak terlatih tidak bisa mengalami kejijikan terhadapnya; tidak bisa menjadi bosan terhadapnya dan terbebaskan darinya. Karena alasan apakah? Karena telah sejak lama digenggam olehnya, pantas, dan dicengkeram sebagai: ‘Ini milikku, ini aku, ini diriku.’ Oleh karena itu, kaum duniawi yang tidak terlatih tidak bisa mengalami kejijikan terhadapnya; tidak bisa menjadi bosan terhadapnya dan terbebaskan darinya.”
 “Adalah lebih baik, para bhikkhu, bagi kaum duniawi yang tidak terlatih untuk menganggap jasmani yang terdiri dari empat unsur utama ini sebagai diri daripada batin. Karena alasan apakah? Karena jasmani yang terdiri dari empat unsur utama ini terlihat ada selama satu tahun, selama dua tahun, selama tiga, empat, lima atau sepuluh tahun, selama dua puluh, tiga puluh, empat puluh, atau lima puluh, selama seratus tahun, atau lebih. Tetapi apa yang disebut dengan ‘batin’ atau ‘pikiran’ atau ‘kesadaran’ muncul sebagai sesuatu dan lenyap sebagai yang lainnya siang dan malam. Bagaikan seekor monyet yang berkeliaran di hutan berpegangan pada satu dahan, melepaskan dan memegang dahan lainnya, kemudian melepaskannya lagi dan memegang yang lainnya lagi, demikian pula apa yang disebut ‘batin’ atau ‘pikiran’ atau ‘kesadaran’ muncul sebagai sesuatu dan lenyap sebagai yang lainnya siang dan malam.” (SN 12:61)
 
 Tampak bahwa dari beberapa kutipan sutta tentang citta di atas seakan-akan menyatakan bahwa citta berbeda dari viññāṇa, namun dari kutipan terakhir (SN 12:61) Sang Buddha menggunakan istilah “citta” dan “viññāṇa” (termasuk “mano”) untuk menunjuk pada hal yang sama.
 
 B. Menurut Komentar dan Abhidhamma
 
 Kitab komentar menganggap kedua istilah ini menunjuk pada hal yang sama:
 
 “Dikatakan di atas: ‘Apa pun yang memiliki karakteristik menyadari harus dipahami, semuanya bersama-sama, sebagai kelompok unsur kesadaran (viññāṇakkhandha)’. Dan apakah yang memiliki karakteristik menyadari itu? Kesadaran (viññāṇa); berdasarkan hal ini dikatakan: ‘Ia menyadari, teman, itulah mengapa ‘kesadaran’ dikatakan.’ (MN 43). Kata viññāṇa (kesadaran), citta (pikiran/batin), dan mano (pikiran) adalah satu dalam makna.” (Visuddhimagga XIV:82)
 
 “Citta, mano, dan viññāṇa adalah sinonim untuk pikiran (cittaṃ manoviññāṇaṃ ti cittassa etaṃ vevacanaṃ).” (Nettippakarana 54)
 
 Menurut Abhidhamma:
 
 “Apakah pikiran (citta) itu? Pemikiran di mana merupakan gagasan, pikiran, hati, yang jernih, gagasan sebagai landasan pikiran, kemampuan pikiran, kesadaran, kelompok unsur kesadaran, unsur yang sesuai mewakili kesadaran – inilah pikiran yang ada di sana.” (Dhammasangani I:6)
 
 Penjelasan Abhidhammattha Sangaha menyatakan: “Kelompok kesadaran (viññāṇakkhanda) di sini dimasukkan ke dalam kesadaran (citta), kata “citta” umumnya digunakan untuk menunjuk pada kelompok-kelompok kesadaran yang berbeda-beda yang dibedakan dengan yang menyertainya.”
 
 Beberapa kutipan kitab komentar dan Abhidhamma di atas menyatakan bahwa setidaknya dalam tradisi Theravada yang belakangan, citta dan viññāṇa menunjuk pada hal yang sama.
 
 C. Menurut Para Sarjana Buddhis Modern
 
 Mengikuti tradisi komentar dan Abhidhamma, Bhikkhu Nyanaponika memberikan definisi citta sama dengan viññāṇa dalam kamus istilah Pali-nya (Buddhist Dictionary: Manual of Buddhist Terms and Doctrines) sbb:
 
 Citta: “pikiran”, “kesadaran”, “keadaan kesadaran”, adalah suatu sinonim dari mano and viññāna.
 
 Mengomentari penggunaan ketiga istilah citta, mano, dan viññāṇa dalam SN 12:61 (lihat di atas), Bhikkhu Bodhi menulis:
 
 Sementara ketiga istilah menunjuk pada hal yang sama, dalam Nikāya sering kali digunakan dalam konteks yang berbeda. Sebagai generalisasi kasar, viññāṇa menyiratkan kesadaran pada bagian tertentu melalui organ indria (seperti dalam enam pembagian standar atas viññāṇa menjadi kesadaran-mata, dan seterusnya) serta arus kesadaran di bawahnya, yang mempertahankan kelangsungan personal melalui satu kehidupan dan merangkai kehidupan demi kehidupan (ditekankan pada 12:38-40). Mano berfungsi sebagai pintu perbuatan ke tiga (bersama dengan jasmani dan ucapan) dan sebagai landasan indria internal ke enam (bersama dengan lima landasan indria fisik); sebagai landasan pikiran yang mengkoordinasikan data dari lima indria lainnya dan juga mengenali fenomena batin (dhammā), kelompok objek khususnya sendiri. Citta menyiratkan pikiran sebagai pusat pengalaman pribadi, sebagai subjek pikiran, kehendak, dan emosi. Adalah citta yang harus dipahami, dilatih, dan dibebaskan. (catatan kaki no.154 dalam terjemahan Samyutta Nikaya buku 2 Nidana Vagga oleh Bhikkhu Bodhi)
 
 Sementara itu K. Nizamis menulis dalam terjemahannya atas sutta yang sama:
 
 Cukuplah untuk mengatakan bahwa saya tidak menyatakan bahwa citta, mano, dan viññāṇa adalah “hal” yang berbeda dan terpisah, tetapi bahwa ketiganya menunjuk pada fungsi dan sifat yang agak berbeda dan tidak dapat diturunkan dari “pikiran” seperti demikian. Menyatakan bahwa ketiganya “hanyalah sinonim” adalah, kasarnya, agaknya seperti menyatakan bahwa kata-kata “uap”, “cairan”, dan “es” semuanya adalah “hanya sinonim”. Secara pastinya, ketiganya menunjuk pada bentuk-bentuk “air”; tetapi sangat salah untuk menyatakan bahwa ketiganya oleh sebab itu hanyalah “bersinonim”. (SN 12.61 Assutava Sutta: The Spiritually-Unlearned)
 
 Dalam bukunya Satipatthana: Jalan Langsung Menuju Tujuan, Bhikkhu Analayo menulis:
 
 Dalam sutta-sutta Pali, citta biasanya mengacu pada “pikiran” dalam konteks konatif dan afektif, yaitu suasana hati atau keadaan pikiran. (hal. 254)
 Meskipun dalam sutta, kata “kesadaran” (viññāṇa) digunakan untuk mewakili kata “citta” secara umum, namun dalam konteks klasifikasi khandha, kesadaran adalah menyadari sesuatu. Tindakan menyadari ini terutama menyebabkan rasa “keterpaduan diri” (subjective cohesiveness) yaitu adanya “aku” yang hakiki dalam pengalaman. (hal. 297)
 
 Berdasarkan kajian dari berbagai sumber ini, dapat disimpulkan bahwa citta dan viññāṇa adalah dua hal yang serupa tetapi tidak sama, walaupun dalam terminologi Pali kedua istilah ini bersinonim. Karena ini bersifat kajian atau studi teoritis terhadap berbagai literatur Buddhis yang ada, kesimpulan ini belum tentu benar dan patut diselidiki kembali, mengingat para cendikiawan Buddhis masa kini pun masih berbeda pendapat dalam hal ini.
 
 Seperti yang dikatakan Sang Buddha dalam AN 8:2, setelah seseorang mempelajari (pariyatti) Dhamma serta menembusnya dengan pikiran dan pandangannya, ia melakukan praktek (patipatti) dan realisasi (pativedha) Dhamma dengan mengembangkan perenungan terhadap muncul dan lenyapnya unsur-unsur kehidupan (pañcakkhandha). Demikian juga, mempelajari tentang citta dan viññāṇa ini hanyalah langkah awal untuk mengembangkan praktek yang sebenarnya guna memahami sesungguhnya kedua fenomena kehidupan ini. Setelah lengkap ketiga unsur Dhamma (pariyatti, patipatti, dan pativedha) ini, barulah pemahaman yang benar atas keduanya diperoleh.
 
 Semoga bermanfaat _/\_

71
"Apakah yang satu itu? Semua makhluk bergantung pada makanan
 Apakah yang dua itu? Batin dan bentuk/jasmani
 Apakah yang tiga itu? Tiga jenis perasaan
 Apakah yang empat itu? Empat Kebenaran Mulia
 Apakah yang lima itu? Lima kelompok kehidupan yang dilekati
 Apakah yang enam itu? Enam landasan indera
 Apakah yang tujuh itu? Tujuh Faktor Pencerahan
 Apakah yang delapan itu? Jalan Mulia Berunsur Delapan
 Apakah yang sembilan itu? Sembilan tempat kediaman makhluk
 Apakah yang sepuluh itu? Ia yang diberkahi dengan sepuluh atribut disebut Arahant."
 
 Sepuluh pertanyaan di atas adalah isi bab 4 dari Khuddaka Patha, bagian dari Khuddaka Nikaya, yang berjudul Kumarapanha Sutta (Kotbah tentang Pertanyaan kepada Anak Kecil) atau dikenal juga sebagai Samanerapanha Sutta (Kotbah tentang Pertanyaan untuk Samanera).
 
 Sepuluh pertanyaan ini pertama kali diajukan Sang Buddha kepada Samanera Sopaka yang berusia 7 tahun, dengan maksud untuk menahbiskannya sebagai bhikkhu. Karena Sopaka walau masih berumur 7 tahun telah mencapai tingkat Arahant, ia dapat menjawab 10 pertanyaan ini dengan mudah dan tepat sehingga kemudian ditahbiskan sebagai bhikkhu. Sepuluh pertanyaan ini juga diajarkan Sang Buddha kepada Samanera Rahula, putra kandung Siddhattha Gotama, yang saat itu berusia 7 tahun.
 
 Dalam Dhammapada Atthakatha (komentar/penjelasan Dhammapada) dikisahkan seorang pertapa wanita bernama Bhadda Kundala-kesa (Kundalakesi) setelah mempelajari 1000 pokok perdebatan yang sulit berkeliling ke seluruh India untuk mencari lawan debat. Tiba di Savatthi, ia ditantang berdebat oleh Bhikkhu Sariputta yang dapat menjawab 1000 pertanyaannya. Ketika Sariputta berbalik bertanya kepada sang pertapa wanita: "Apakah yg satu itu?", ia tidak dapat menjawabnya. Oleh sebab itu, akhirnya Kundalakesi menjadi seorang bhikkhuni.
 
 Tampaknya 10 pertanyaan ini merupakan metode pengajaran umum yang digunakan Sang Buddha dan para siswa-Nya utk mengajar para anak kecil yang menjadi samanera tentang pokok dasar ajaran Buddha. Oleh sebab itu, adalah penting bagi kita umat Buddha walau bukan samanera/bhikkhu untuk mempelajari 10 pertanyaan ini. Maka tulisan ini akan membahas satu per satu makna 10 pertanyaan ini.

72
Sutra Hati atau Prajna Paramita Hrdaya Sutra merupakan salah satu sutra terpenting dalam aliran Mahayana. Ungkapan terkenal dari sutra ini adalah "bentuk adalah kekosongan dan kekosongan adalah bentuk" (yang kadang diterjemahkan menjadi "isi adalah kosong, kosong adalah isi"), telah menjadi dasar filosofi Mahayana tentang kekosongan (sunyata) selama berabad-abad.

Namun sayangnya, seperti kebanyakan sutra Mahayana lainnya, tidak banyak penjelasan isi sutra ini yang dapat kita temukan, selain dari beberapa karya penulis modern. Namun buku ini memberikan penjelasan Sutra Hati dari para komentator Mahayana India dan Tibetan. Walaupun komentar Sutra Hati ini ditulis jauh sesudah sutra itu sendiri muncul, namun bagi mereka yang ingin mendalami Sutra Hati pada umumnya dan filosofi Mahayana pada khususnya, buku ini adalah salah satu sumber yang bisa digunakan. Secara umum, cara komentar/penjelasannya sama seperti pada komentar Pali di mana kata per kata atau kalimat per kalimat dijelaskan satu per satu maknanya.

Daftar Isi

Part I: Indian Commentaries
Chapter 1: The Sutra
Chapter 2: The Title
Chapter 3: The Prologue
Chapter 4: The Question and the Answer
Chapter 5: Form is Emptiness; Emptiness is Form
Chapter 6: The Negations and Enlightenment
Chapter 7: The Mantra
Chapter 8: The Epilogue
Chapter 9: The Structure of the Sutra and the Structure of the Path

Part II: Tibetan Commentaries
Chapter 10: Commentary on the Heart Surra, Jewel Light llluminating the Meaning
Chapter II: An Explanation of the Heart Surra Mantra, llluminating the Hidden Meaning


Karena buku ini ada hak ciptanya, maka link PDF-nya tidak bisa saya sertakan di sini. Bagi yang minat silahkan PM.

73
Game / Criminal Case on FB
« on: 15 September 2013, 01:02:40 PM »
Ada yang main Criminal Case di FB? Minta bantuannya dong buat laporan untuk ke kasus selanjutnya ;D

75
Keluarga & Teman / Kenali 8 Tahap Perkembangan Psikologis Anda
« on: 31 July 2013, 06:20:34 PM »
Jadi ingat suatu artikel tentang tahap perkembangan psikologis manusia. Konon katanya usia 20-an s/d 30-an adalah tahap psikologis di mana seseorang mencari pasangan hidup dengan beban psikologis jika gagal maka akan merasa keterkucilan alih-alih keintiman yang diharapkan:

Kenali 8 Tahap Perkembangan Psikologis Anda

Bagaimana perasaan orangtua, ketika punya anak usia tiga tahun tapi belum bisa berjalan? Pastinya khawatir sekali. Atau ketika remaja putri berusia 17 tahun tapi belum menarche, ibunya pasti merasa cemas. Nah, bagaimana ketika ada anak usia remaja yang bingung dengan potensinya atau anak usia SD yang malas ke sekolah? Apakah orang tua merasakan kekhawatiran yang sama dengan keterlambatan perkembangan fisik?

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi mengenai pentingnya pemahaman terhadap fase perkembangan psikologis manusia. Barangkali selama ini kita abai dan tidak menganggap fase perkembangan psikologis sebagai sesuatu yang penting. Padahal dampaknya tidak sepele. Kegagalan memenuhi tugas perkembangan psikologis berakibat pada kegagalan mengembangkan potensi diri. Beberapa kasus post-power syndrome juga diakibatkan oleh adanya kemampuan psikologis yang tidak berkembang. Berikut adalah delapan tahap perkembangan psikologis dari pakar psikososial, Erik Erikson (1902-1994).

Kepercayaan atau Ketidakpercayaan (Trust versus Mistrust)

Untuk bayi baru lahir hingga usia 12 bulan, tahap yang harus dipenuhi adalah rasa percaya terhadap orang terdekatnya, khususnya ibu. Kelekatan fisik, pada tahap ini, adalah sesuatu yang sangat penting. Bayi mendapatkan rasa percaya dari sentuhan fisik dengan orang lain. Perasaan bayi amat sensitif dan ia berkomunikasi melalui tangisan. Terlalu lama merespon tangisan bisa membuat bayi merasa diabaikan. Sederhana kan syaratnya? Melalui penelitian jangka panjang, diketahui bahwa orang-orang yang paranoid, pencemas, dan abai terhadap lingkungan tidak mendapatkan kelekatan yang cukup baik selama tahun pertama kehidupannya.

Kemandirian atau Rasa Malu/Ragu-Ragu (Autonomy versus Shame and Doubt)

Setelah bayi merasa bahwa lingkungan dan orang di sekitarnya dapat dipercaya, ia akan mulai mengembangkan kemandirian. Bayi mulai menjelajahi lingkungan di sekitarnya dan memegang segala benda yang ia temui. Proses “memegang benda” semacam pernyataan dari si bayi kalau ia mampu mengenali lingkungannya. Kemampuan ini seharusnya diberikan apresiasi oleh keluarga. Jika tidak, ia akan tumbuh menjadi pribadi peragu dan pemalu. Tahap ini terjadi di usia 12-24 bulan.

Inisiatif atau Rasa Bersalah (Iniative dan Feeling Guilty)

Saya punya ponakan berusia 30 bulan. Tiap kali saya belikan mainan, pasti dibongkarnya. Lucunya, ketika ibunya kerepotan membersihkan rumah, dia merengek mau membantu menyapu rumah. Akhirnya dia dibelikan sapu kecil, pura-puranya bisa dipakai buat menyapu.

Usia 2-5 tahun adalah masa ketika anak mengembangkan rasa inisiatif. Mereka mulai tertarik dengan banyak hal. Seperti ponakan saya, senangnya utak atik mainan dan membantu ibunya di rumah. Meskipun si anak tak benar-benar membantu, berikan apresiasi atas inisiatifnya. Jika keluarga marah memarahinya, ia akan mempersepsikan diri sebagai orang yang patut disalahkan. Pada fase ini, anak sudah mulai mengerti nilai moral, meskipun mereka belum paham mana yang benar dan salah. Ponakan saya pernah melihat anak kucing yang kurus dan tidak terurus. Dia minta supaya saya memberikan ikan pada anak kucing itu. “Biar mama kucing nggak sedih” itu kata ponakan saya.

Ketekunan atau Rasa Rendah Diri (Industri versus Inferiority)

Memasuki masa sekolah dasar hingga usia sekitar 10 tahun, anak mulai belajar berinteraksi dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Pada fase ini, anak mengembangkan keterampilan sosial dan mulai menyenangi hal-hal spesifik. Fase ini adalah masa terbaik untuk mengembangkan kepercayaan diri anak dengan mengikuti berbagai kegiatan kelompok, perlombaan, dan aktivitas yang bisa menunjang bakatnya.

Tapi hati-hati, meskipun anak diikutkan dalam beragam perlombaan, jangan tuntut supaya anak menang. Biarkan mereka menikmati aktivitasnya, menang atau kalau tidak penting. Melalui kegiatan tersebut, mereka belajar menghargai kemampuan diri sendiri dan juga kemampuan orang lain. Jika tugas perkembangan fase ini tak terpenuhi, anak akan tumbuh jadi pribadi yang rendah diri dan merasa tidak berbakat.

Identitas atau Kebingungan Identitas (Identity versus Role Confusion)

Kenapa yang sering tawuran itu adalah anak SMA, bukan anak SD atau SMP atau orang dewasa? Selain sebagai penyalur energi yang meluap-luap, tawuran adalah manifestasi dari ego identitas kelompok remaja. Usia belasan hingga awal dua puluh tahun adalah masa pencarian identitas. Pada masa ini seorang remaja mulai berpikir tentang makna menang dan kalah. Kalau di fase sebelumnya, perlombaan adalah ajang belajar, di masa remaja, kompetisi adalah pembuktian identitas diri. Menang jadi bangga, kalah tidak terima.

Keberhasilan seorang remaja untuk melewati fase ini ditentukan dengan kemampuan orangtua beradaptasi dari seorang ayah/ibu menjadi seorang sahabat. Pernah lihat film Queen Bee? Tokoh Queen di film tersebut adalah gambaran remaja penuh bakat tapi merasa tidak diperhatikan orangtuanya. Dia ingin ayahnya berperan sebagai sahabat. Terminologi “galau” yang lekat pada remaja labil sebenarnya adalah bentuk dari kebingungan identitas yang mereka alami.

Keintiman atau Keterkucilan (Intimacy versus Isolation)

Fase usia awal 20-an hingga usia 30-an ditandai dengan tugas perkembangan mencari keintiman dengan seseorang. Pada usia ini, memiliki satu orang yang berharga lebih penting daripada nongkrong dengan teman geng yang jumlahnya segerombolan.

Biasanya, usia 20-an hingga 30-an adalah masa berkarier secara profesional. Kehidupan manusia dihabiskan dengan berkarier. Tanpa seseorang yang dekat secara emosional, sesukses apa pun seseorang, ia pasti merasa terasing. Manusia mulai membedakan definisi intim dengan keluarga dan intim dengan orang yang ia cintai. Tugas perkembangan manusia pada fase ini adalah menemukan seseorang untuk dijadikan pasangan hidup.


Membangkitkan atau Mandek (Generativity versus Stagnancy)

Di tahap ini (usia 35-50 tahun), umumnya seseorang sudah masuk kehidupan yang mapan. Nah, orientasi psikologis yang dicari bukan lagi tentang identitas atau masih meraba-raba kecocokan profesi. Perkembangan psikologis yang hendak dicapai adalah kemampuan berbagi dan memberikan manfaat bagi orang lain (terutama memberikan pembinaan bagi generasi di bawahnya). Ada juga orang yang mapan secara materi, tapi tak bermanfaat bagi orang lain. Jika gagal, kemungkinan besar manusia merasa dirinya tidak berguna dan tidak produktif.

Integritas atau Putus Asa (Integrity versus Despair)

Orang yang sepanjang usianya selalu berbagi dan memiliki integritas, akan mengevaluasi kehidupannya dengan bahagia. Tahap ini (usia di atas 60 tahun) adalah waktu ketika manusia menikmati keberhasilan psikologis yang sudah ia bangun sepanjang hidup. Jika ada yang merasa gagal, maka timbul rasa putus asa yang mendalam. Mnausia yang semasa mudanya populer dan punya kekuasaan tapi tak dibangun dari rasa percaya pada orang lain, siap-siap dihantam dengan post-power syndrome.

Perkembangan psikologis berkelindan dengan perkembangan fisik. Perkembangan fisik yang tak optimal bisa berpengaruh terhadap perkembangan psikologis, tapi ini tak selalu terjadi. Jadi, perkembangan fisik dan psikologis sama-sama penting untuk kita pahami.

Salam sehat

Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/12/20/kenali-8-tahap-perkembangan-psikologis-anda-517613.html

Hmmmm :-?

Pages: 1 2 3 4 [5] 6 7 8 9 10
anything