//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat  (Read 7284 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« on: 19 November 2017, 09:49:08 AM »
 :))

Judulnya mungkin lucu, tetapi si tukang marah/tukang debat, pasti jengkel. Ayo ngaku, kalau ....

Seperti halnya ketika seseorang yang bersemadi dengan nafas masuk dan nafas keluar sebagai objek, jika ia menahan nafasnya maka ia akan seperti tersendat, harusnya mengikuti nafas. Demikianlah jika "sadhu" diucapkan tiga kali = seperti kesendat. Seperti halnya kue (makanan) tersendat di tenggorokan, seperti itulah jika "sadhu" diucapkan tiga kali.

Sadhu, sadhu, sadhu, tersendatlah ia.
Tidak ada "kata" yang diulang tiga kali walaupun terpisah. Karena, itu dinilai cukup berlebihan.

kupu-kupu; tidak ada kupu-kupu-kupu. Karena, berlebihan jika 3 kali apalagi lebih.
Lari-lari; tidak ada lari-lari-lari.
Makan, makan; tidak ada makan, makan, makan.
Minum, minum; tidak ada minum, minum, minum.

Demikian pula, kata "sadhu", cukup diulang dua kali (maksimal). Jika lebih dari itu maka akan seperti judul = kesendat.

"Sadhu, sadhu." Artinya: "Bagus, bagus." "Nice, nice."

Sang Buddha biasanya hanya menggunakan 2 kali. Demikianlah.

Pertanyaan: Lalu bagaimana dengan pujian kepada Sang Buddha, yang diucapkan 3 kali?
"Terpujilah Sang Bhagava, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna,
Terpujilah Sang Bhagava, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna,
Terpujilah Sang Bhagava, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna."

Ini sudah kalimat, lagipula ini "pujaan". "Sadhu" adalah pujian (menyanjung), bukan pujaan.

Lalu bagaimana dengan Upin Ipin?
Hahaha, itu orang Malaysia, menurut saya juga kurang tepat (dalam bahasa Malaysia) makanya diucapkan cepat-cepat. Kenyataanya itu sebenarnya berlebihan, secara bahasa yang benar. Itu cuman kartun anak-anak. Anggap saja benar, tetapi tetap saja kesendat, kecuali diucapkan cepat-cepat.

Terimakasih.

Note: jangan dipindahkan.
« Last Edit: 19 November 2017, 09:56:48 AM by Gwi Cool »
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.851
  • Reputasi: 268
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #1 on: 20 November 2017, 12:47:31 PM »
Elemen studi Buddhisme Awal apa yang dibahas di sini?

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #2 on: 20 November 2017, 01:37:28 PM »
Elemen studi Buddhisme Awal apa yang dibahas di sini?
Terimakasih atas perhatiannya kepada saya, jika demikian, mau dipindahkan ke mana y? Atas dasar apakah dipindahkan ke tempat itu (tujuan)?
« Last Edit: 20 November 2017, 01:44:58 PM by Gwi Cool »
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #3 on: 20 November 2017, 04:44:05 PM »
 :))

Judulnya mungkin lucu, tetapi si tukang marah/tukang debat, pasti jengkel. Ayo ngaku, kalau ....

Seperti halnya ketika seseorang yang bersemadi dengan nafas masuk dan nafas keluar sebagai objek, jika ia menahan nafasnya maka ia akan seperti tersendat, harusnya mengikuti nafas. Demikianlah jika "sadhu" diucapkan tiga kali = seperti kesendat. Seperti halnya kue (makanan) tersendat di tenggorokan, seperti itulah jika "sadhu" diucapkan tiga kali.

Sadhu, sadhu, sadhu, tersendatlah ia.
Tidak ada "kata" yang diulang tiga kali walaupun terpisah. Karena, itu dinilai cukup berlebihan.

kupu-kupu; tidak ada kupu-kupu-kupu. Karena, berlebihan jika 3 kali apalagi lebih.
Lari-lari; tidak ada lari-lari-lari.
Makan, makan; tidak ada makan, makan, makan.
Minum, minum; tidak ada minum, minum, minum.

Demikian pula, kata "sadhu", cukup diulang dua kali (maksimal). Jika lebih dari itu maka akan seperti judul = kesendat.

"Sadhu, sadhu." Artinya: "Bagus, bagus." "Nice, nice."

Sang Buddha biasanya hanya menggunakan 2 kali. Demikianlah.

Pertanyaan: Lalu bagaimana dengan pujian kepada Sang Buddha, yang diucapkan 3 kali?
"Terpujilah Sang Bhagava, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna,
Terpujilah Sang Bhagava, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna,
Terpujilah Sang Bhagava, Sang Arahat, Yang Tercerahkan Sempurna."

Ini sudah kalimat, lagipula ini "pujaan". "Sadhu" adalah pujian (menyanjung), bukan pujaan.

Lalu bagaimana dengan Upin Ipin?
Hahaha, itu orang Malaysia, menurut saya juga kurang tepat (dalam bahasa Malaysia) makanya diucapkan cepat-cepat. Kenyataanya itu sebenarnya berlebihan, secara bahasa yang benar. Itu cuman kartun anak-anak. Anggap saja benar, tetapi tetap saja kesendat, kecuali diucapkan cepat-cepat.

Terimakasih.

Note: bukan humor.
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.851
  • Reputasi: 268
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #4 on: 21 November 2017, 03:19:23 PM »
Silahkan dikemukakan bahasan apa di sini yang merupakan Buddhisme Awal.

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #5 on: 21 November 2017, 04:45:01 PM »
Sama seperti jawaban saya sebelumnya.
Tambahan: yang jelas bukan humor.
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.851
  • Reputasi: 268
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #6 on: 21 November 2017, 04:53:48 PM »
OK, kalau sama seperti sebelumnya, berarti saya gabung saja.

Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #7 on: 21 November 2017, 05:02:32 PM »
OK, kalau sama seperti sebelumnya, berarti saya gabung saja.
rencana jahatmu gagal, tetapi dipaksakan.
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.851
  • Reputasi: 268
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #8 on: 21 November 2017, 05:14:31 PM »
Untuk sementara user di-banned tidak bisa posting sebab membuat thread sama berulang-ulang di board yang tidak sesuai.


Offline Gwi Cool

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -2
  • Terpujilah Sang Buddha
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #9 on: 22 November 2017, 06:50:31 PM »
Untuk sementara user di-banned tidak bisa posting sebab membuat thread sama berulang-ulang di board yang tidak sesuai.
Sekarang cukup jelas bagiku, dulu saya mengerti namun belum sempurna bahwa: (1) orang jahat tidak mungkin mengenal orang baik sebagai baik dan tidak mengenal orang jahat sebagai jahat, sebaliknya (2) adalah mungkin, orang baik mengenali orang jahat sebagai jahat dan orang baik sebagai baik.
Lakukanlah sesukamu, Tuan, guruku memintaku berbelaskasih dengan acuan (bukan isi) AN VII–73 (9). Saya tidak akan lagi menanggapimu, Tuan, lakukan apa yang Tuan anggap benar (sesuka hati).

“Orang bijak bagaikan gunung,
Ocehan, cacian hingga fitnah kosong,
Tak dapat menjatuhkan si bijak yang matang,
Ia kokoh dan hidup dengan tenang,
Bahkan jika ketenaran atau pujian datang,
Ia tidak menikmatinya karena akan diserang,
Oleh hal itu sendiri hingga menjadi sombong,
Tidak, ia hadir hanya berbagi kebaikan kepada banyak orang.”
Yang mau debat, saya diam, dan mengaku kalah karena saya hanyalah makhluk lemah, debat sama yang lain saja.
Mari berbicara Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir. Indah dengan pikiran penuh cinta kasih. Hobiku menggubah syair.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.851
  • Reputasi: 268
Re: Sadhu, sadhu, sadhu = kesendat
« Reply #10 on: 23 November 2017, 09:05:51 AM »
Lakukanlah sesukamu, Tuan, guruku memintaku berbelaskasih dengan acuan (bukan isi) AN VII–73 (9). Saya tidak akan lagi menanggapimu, Tuan, lakukan apa yang Tuan anggap benar (sesuka hati).
Anda bebas merespon opini member sini ataupun tidak, tapi harus ikuti aturan forum. Di sini bukan rumah anda pribadi di mana anda bisa merengek-rengek memaksakan kehendak. Berargumenlah dengan baik.


Quote
Sekarang cukup jelas bagiku, dulu saya mengerti namun belum sempurna bahwa: (1) orang jahat tidak mungkin mengenal orang baik sebagai baik dan tidak mengenal orang jahat sebagai jahat, sebaliknya (2) adalah mungkin, orang baik mengenali orang jahat sebagai jahat dan orang baik sebagai baik.
[...]

“Orang bijak bagaikan gunung,
Ocehan, cacian hingga fitnah kosong,
Tak dapat menjatuhkan si bijak yang matang,
Ia kokoh dan hidup dengan tenang,
Bahkan jika ketenaran atau pujian datang,
Ia tidak menikmatinya karena akan diserang,
Oleh hal itu sendiri hingga menjadi sombong,
Tidak, ia hadir hanya berbagi kebaikan kepada banyak orang.”

Sepertinya anda perlu bantuan, bisa mulai dari link ini: http://www.rsjmc.com/content/dokter-psikiater-dan-psikolog



 

anything