//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Pertanyaan tentang dunia Saha  (Read 18121 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline namarupa

  • Teman
  • **
  • Posts: 52
  • Reputasi: 2
  • Gender: Male
  • Lanjutkan!
Pertanyaan tentang dunia Saha
« on: 08 March 2013, 01:08:00 PM »
Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, dunia Saha adalah dunia yang kita tempati saat ini. Lalu ada pula dimensi lain yang disebut Buddha-Field. ada yang tau akan hal itu ?
Tetap Semangat!

Offline gryn tea

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.203
  • Reputasi: 34
  • Gender: Female
  • SABBE SANKHARA ANICCA
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #1 on: 08 March 2013, 01:12:10 PM »
Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, dunia Saha adalah dunia yang kita tempati saat ini. Lalu ada pula dimensi lain yang disebut Buddha-Field. ada yang tau akan hal itu ?

Info darimana ???

Trz klo info dr sutta

Refff pliz
Bagaikan sekuntum bunga yang indah tetapi tidak berbau harum; demikian pula akan tdk b'manfaat kata-kata mutiara yg diucapkan oleh org yg tdk melaksanakannya

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #2 on: 08 March 2013, 01:14:50 PM »
kata "saha" tidak terdaftar dalam KBBI, ini bahasa apa?

Offline gryn tea

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.203
  • Reputasi: 34
  • Gender: Female
  • SABBE SANKHARA ANICCA
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #3 on: 08 March 2013, 01:16:31 PM »
Iya

Gryn search di wiki jg gx ada
Bagaikan sekuntum bunga yang indah tetapi tidak berbau harum; demikian pula akan tdk b'manfaat kata-kata mutiara yg diucapkan oleh org yg tdk melaksanakannya

Offline dipasena

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.612
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
  • Sudah Meninggal
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #4 on: 08 March 2013, 01:19:39 PM »
dunia saha adalah istilah lain dari tanah buddha (buddha field) dalam pandangan mahayana.

dunia saha maksud nya dalah dunia dimana ada kemunculan buddha dan mengajarkan dhamma.

Offline dipasena

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.612
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
  • Sudah Meninggal
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #5 on: 08 March 2013, 01:21:18 PM »
kata "saha" tidak terdaftar dalam KBBI, ini bahasa apa?

ga jelas dr bahasa apa (kemungkinan sansekerta), tp klo ga salah di artikan sebagai samsara. jd maksud nya dunia samsara.

di forum tetangga, ada uraian tentang alam saha, sukhavati, nirwana

Quote
Saha --> nirmalakaya
Sukhavatti --> sambhogakaya
Nirvana --> dharmakaya

Dlm theravada hanya mengenal nirmalakaya (samsara/saha) dan dharmakaya (nibbana) shg tdk mengenal adany b.amitabha dg sukhavatti ny yg mrpk perwujudan sambhogakaya.
« Last Edit: 08 March 2013, 01:24:47 PM by dato' tono »

Offline namarupa

  • Teman
  • **
  • Posts: 52
  • Reputasi: 2
  • Gender: Male
  • Lanjutkan!
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #6 on: 08 March 2013, 01:24:07 PM »
referensi ? cpd  ^:)^ ada praktisi mahayana di sini ?
Tetap Semangat!

Offline Top1

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 429
  • Reputasi: 10
  • Hanya Sebuah Fenomena

Offline dipasena

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.612
  • Reputasi: 99
  • Gender: Male
  • Sudah Meninggal
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #8 on: 08 March 2013, 01:31:21 PM »
KEKUATAN GHAIB SANG TATHAGATA

...
...

Selagi Sang Sakyamuni Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang berada dibawah pepohonan permata itu sedang memperlihatkan kekuatan ghaibNya yang sempurna, sang waktu telah berlalu sebanyak ratusan ribu koti tahun penuh. Sesudah itu mereka menarik kembali lidahnya dan berbatuk bersamaan serta dengan berbareng mereka mengatupkan jari-jari mereka dengan kerasnya. Kedua suara ini memenuhi segala penjuru dunia-dunia Sang Buddha dan seluruh negeri-negeri mereka bergoncangan dalam enam cara. Para mahluk hidup yang berada ditengah-tengah dunia ini, para dewa naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kimnara, mahoraga, manusia dan yang bukan manusia serta mahluk-mahluk lainnya, dengan kekuatan ghaib Sang Buddha, mereka melihat didalam dunia saha ini ratusan ribu koti para Buddha sedang duduk diatas singasana-singasana singa dibawah pepohonan permata dan melihat pula Sang Sakyamuni Buddha bersama Sang Tathagata Prabhutaratna yang juga sedang duduk diatas Tahta Singa ditengah-tengah Stupa. Mereka juga melihat ratusan ribu koti Bodhisatva-Mahasatva dan keempat kelompok yang sedang mengelilingi Sang Sakyamuni Buddha dengan takzimnya.

Sesudah melihat ini, mereka semua sangat bersuka-cita karena telah memperoleh apa yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Pada saat yang sama pula, para dewa yang berada diatas langit bernyanyi dengan suara yang penuh sanjung :”Diseberang ratusan ribu koti asamkhyeya dunia yang tanpa batasan dan hitungan ini, adalah sebuah dunia yang bernama saha. Ditengah-tengahnya terdapat seorang Buddha yang bernama Sang Sakyamuni. Karena demi semua Bodhisatva-Mahasatva, saat ini Beliau mengkhotbahkan Sutra Kendaraan Agung yang disebut “Sutra Bunga Teratai Dari Hukum Yang Menakjubkan” Hukum yang membina para Bodhisatva dan yang senantiasa dijaga dan dipelihara oleh para Buddha dalam hatinya. Kalian harus mengikutinya dengan penuh kegembiraan hatimu dan kalianpun harus memuliakan serta membuat persembahan pada Sang Sakyamuni Buddha.”

Setelah mendengar suara dari atas langit, seluruh mahluk mahluk itu mengatupkan tangannya kearah dunia saha serta berseru demikian :”Namah Sang Sakyamuni Buddha ! Namah Sang Sakyamuni Buddha !” Kemudian dengan segala macam bebungaan, dedupaan,karangan-karangan bunga, tirai-tirai,begitu juga perhiasan-perhiasan pribadi, permata-permata dan benda-benda berharga, mereka menaburi dunia saha dari kejauhan. Benda-benda yang mereka taburkan dari setiap kawasan itu seperti gumpalan-gumpalan mega layaknya dan berubah menjadi tirai berhias permata yang menutupi semua tempat diatas para Buddha itu. Kemudian dunia-dunia dari alam semesta ini tergabung seluruhnya menjadi satu kesatuan sebagai satu lapang Buddha.
...
...



NB. dunia saha adalah istilah lain dari tanah buddha (buddha field) dalam pandangan mahayana.
« Last Edit: 08 March 2013, 01:48:12 PM by dato' tono »

Offline gryn tea

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.203
  • Reputasi: 34
  • Gender: Female
  • SABBE SANKHARA ANICCA
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #9 on: 08 March 2013, 01:33:19 PM »
Koz bisa byk Buddha dlm khidupan yg sama ??
Bagaikan sekuntum bunga yang indah tetapi tidak berbau harum; demikian pula akan tdk b'manfaat kata-kata mutiara yg diucapkan oleh org yg tdk melaksanakannya

Offline namarupa

  • Teman
  • **
  • Posts: 52
  • Reputasi: 2
  • Gender: Male
  • Lanjutkan!
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #10 on: 08 March 2013, 01:40:57 PM »
Ada satu artikel menarik dari :

http://www.fodian.net/world/Indonesian/Bab-XXIV.htm

yang penggalannya sbb:

...
Kemudian Sang Kamaladalavimalanakshatraragasankusumitabhigna menyapa Sang Bodhisatva Gadgadasvara : “ Janganlah engkau memandang rendah pada kawasan itu ataupun mempunya pikiran yang meremehkannya. Wahai putera yang baik ! Dunia saha dengan tempat-tempatnya yang tinggi dan rendah itu tidaklah rata, pun pula penuh dengan tanah, batu, perbukitan dan kotoran-kotoran. Tubuh dari Buddha itu pendek dan kecil serta seluruh Bodhisatvanya bertubuh kecil, sedangkan tubuhmu setinggi 42 ribu yojana dan tubuhku 68 ratus (6800) ribu yojana. Tubuhmu terdiri dari susunan yang paling sempurna dan dikaruniai dengan ratusan ribu kebahagiaan,pun pula tubuhmu bersinar cemerlang. Oleh karenanya, ketika engkau berada disana janganlah memandang rendah pada kawasan itu ataupun menaruh pikiran yang merendahkan Buddha itu maupun para Bodhisatva ataupun negeri itu sendiri.”
...
Jadi kesimpulan saya, dunia saha adalah dunia yang kita tempati. Lalu apakah benar, bahwa dunia saha ini terbagi 2, yang murni dan tidak murni ? Disini benar dalam arti sesuai dengan paham Mahayana.


Tetap Semangat!

Offline xenocross

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.189
  • Reputasi: 61
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #11 on: 08 March 2013, 01:55:44 PM »
Dunia Saha adalah Sistem dunia yg kita tempati sekarang.
Besarnya katanya "A thousand world-systems of four great continents, etc. comprise a 'small world-system.' A thousand small world-systems comprise a middle-sized world system, and a thousand middle-sized world-systems comprise a great world-system of a billion worlds, or literally a thousand times an thousand times a thousand worlds (Skt. trisahasramahasahasralokadhatu or broken into individual Sanskrit words tri-sahasra-maha-sahasra-loka-dhatu). "
Saha world (Skt. sahāloka; Wyl. mi 'jed 'jig rten) — the trichiliocosm where the present Buddha Shakyamuni has manifested. Khenpo Ngakchung writes: "the one thousand million-fold Saha world, is called the “world of no fear” not because it is very good. Rather, it is so called for its great evil. Sentient beings here are not afraid of desire, they are not frightened by anger and they have no fear of ignorance, which is why it is called the realm of the Saha world."[1]
http://www.rigpawiki.org/index.php?title=Saha_world


Tidak ada 2 Buddha yg bisa muncul bersamaan dalam 1 tanah Buddha. Jadi Hanya ada 1 Buddha, Sakyamuni, di periode ini di dunia Saha.
Tetapi di luar tanah Buddha itu, terdapat Buddha lain.
Quote
Konsep Tanah Buddha, walaupun dianggap penting dalam pemikiran Mahayana, bukan khas Mahayana saja. Mahavastu, yang merupakan teks Lokottaravada, menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali alam semesta atau sistem dunia yang tidak ada Buddha, karena para Buddha adalah sangat langka [kemunculannya], lebih jauh lagi, Mahavastu mencatat, tidak mungkin terdapat dua orang Buddha pada Tanah Buddha yang sama, karena ini mengimplikasikan bahwa seorang Buddha tidak dapat menjalankan tugas-Nya. Dan walaupun para Buddha sangat langka, tetapi pada keseluruhan alam semesta yang tidak terbatas terdapat tak terhingga Buddha dan tak terhingga Bodhisattva tingkat sepuluh yang akan menjadi Buddha. Ini membawa tak terhingga makhluk untuk mencapai pembebasan, tetapi tidak akan ada kemungkinan bahwa pada akhirnya semua akan terbebaskan dan tidak ada yang tersisa. Karena dengan tak terhingga makhluk, bahkan jika tak terhingga Buddha masing-masing membebaskan tak terhingga makhluk lainnya, akan masih terdapat tak terhingga makhluk yang tersisa (Mahavastu 1949–56: I, 96 ff.).

Manusia tinggal di dunia yang disebut Saha, yang dikatakan berada di selatan, di mana Buddha masa sekarang adalah Sakyamuni.[15] Gagasan Tanah Buddha mungkin muncul dari anggapan tentang pengetahuan Sakyamuni pada satu pihak, jangkauan perhatian-Nya, dan kemampuan dan pengaruh Beliau pada yang lain – medan aktivitas-Nya.[16]. Pengetahuan Sang Buddha (dan dari pandangan Mahayana, welas asih Beliau) sering dipandang tidak terbatas dalam Mahayana, walaupun kemampuan spiritual Beliau secara langsung menjangkau sebuah wilayah yang sangat luas namun terbatas, Tanah Buddha-Nya dalam pengertian pokok, wilayah pada pusat di mana Sang Buddha muncul.

mengenai murni dan tidak murni:
Quote
Tanah Buddha yang tidak murni ini sesungguhnya Tanah Murni. Ia hanya kelihatannya tidak murni karena pikiran para makhluk yang berdiam di dalamnya. Jika terdapat gunung di dunia ini, dan semuanya rata di Tanah Murni, itu karena terdapat gunung dalam pikiran. Sakyamuni bukan Buddha yang tidak sempurna. Bagi Beliau semuanya adalah murni. Ketidakmurnian yang kita lihat adalah hasil kesadaran yang tidak murni, dan juga belas kasih Buddha dalam membuat sebuah dunia yang di dalamnya para makhluk yang tidak murni dapat berkembang (Thurman 1976: 18–19; cf. Rowell 1937: 142 ff.). Dengan demikian jalan sejati untuk mencapai Tanah Murni adalah dengan memurnikan pikiran kita. Dengan kata lain, kita telah berada dalam Tanah Murni jika kita mengetahuinya. Apa pun dunianya, jika ia dihuni oleh orang-orang dengan pikiran murni yang tercerahkan maka itulah Tanah Murni. Ini sangat mirip dengan konsep sifat Kebuddhaan/Tathagatagarbha bahwa kita sudah menjadi Buddha yang telah mencapai pencerahan sempurna jika kita menyadari kenyataannya, dan ini bukan hanya langkah [mencapai pencerahan] singkat dari gagasan Chan (Zen) bahwa Tanah Murni sesungguhnya hanya pikiran yang tenang, jernih, cerah, dan murni. Oleh sebab itu, Tanah Murni sesungguhnya bukan ‘kediaman surgawi’ namun di-demitologi-kan sebagai pencerahan itu sendiri.[21]
http://www..wi-hara.com/forum/mahayana/6589-tanah-buddha-buddhaksetra.html
Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa.
~ Mahavairocana Sutra

Offline Kelana

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.225
  • Reputasi: 142
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #12 on: 08 March 2013, 02:12:24 PM »
Saha loka / dunia saha itu adalah bumi.
Sedangkan Buddha-kshetra (Pali: Buddha Khetta) adalah wilayah/area/tanah. Sering dipahami keliru sebagai tanah Buddha kemudian disebut tanah suci, kemudian menjadi surga. Padahal berarti wilayah atau area dimana Buddha melakukan tugas-Nya.

Dalam teks-teks Mahayana, tidak jarang saat Sang Buddha membabarkan sutra, maka para Buddha, Bodhisattva, deva, dll  dari penjuru semesta pada berdatangan .  Oleh karena itu kita membaca seolah-olah ada Buddha lain yang ada di dunia ini. Selain itu, tidak jarang, dalam sutra Mahayana, Sang Buddha menggunakan kekuatan batinnya untuk memperlihatkan kepada pendengar akan keberadaan Buddha-Buddha lainnya. Imajinasi saya mengatakan seperti teleconference dengan banyak layar.
GKBU
 
_/\_ suvatthi hotu


- finire -

Offline sanjiva

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.091
  • Reputasi: 101
  • Gender: Male
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #13 on: 08 March 2013, 02:27:51 PM »
Dalam teks-teks Mahayana, tidak jarang saat Sang Buddha membabarkan sutra, maka para Buddha, Bodhisattva, deva, dll  dari penjuru semesta pada berdatangan .  Oleh karena itu kita membaca seolah-olah ada Buddha lain yang ada di dunia ini. Selain itu, tidak jarang, dalam sutra Mahayana, Sang Buddha menggunakan kekuatan batinnya untuk memperlihatkan kepada pendengar akan keberadaan Buddha-Buddha lainnya. Imajinasi saya mengatakan seperti teleconference dengan banyak layar.

Dan pada kesempatan itu pula Buddha Sakyamuni mengajarkan manusia untuk memuja dan tempat memohon pertolongan kepada Buddha2 lain tersebut antara lain dengan menguncarkan nama2 Mereka.  Anehnya untuk Dia sendiri (Buddha Sakyamuni) tidak diajarkan untuk dipuja dan dimintai permohonan oleh umat manusia.  Jadi meskipun banyak mengajarkan untuk memuja Buddha2 lain, tapi tidak termasuk untuk Buddha Sakyamuni sendiri.  ::)
«   Ignorance is bliss, but the truth will set you free   »

Offline pengelana_abadi

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 653
  • Reputasi: 14
  • Gender: Male
  • walking on the path of Dhamma
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #14 on: 08 March 2013, 03:05:01 PM »
pusing bacanya...
^o^**May All living beings be always happy and kind**^o^

Offline namarupa

  • Teman
  • **
  • Posts: 52
  • Reputasi: 2
  • Gender: Male
  • Lanjutkan!
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #15 on: 08 March 2013, 03:56:49 PM »
ok, sudah cukup jelas. Jadi, dengan memurnikan pikiran, maka tanah murni akan terlihat. Apakah ada metode tertentu utk melihat atau terlahir di alam tsb, seperti metode mem-fokus-kan diri pada Buddha Amitabha, sehingga terlahir di alam Sukhavati ? Bisakah secara spesifik, memurnikan pikiran itu, seperti apa.
Tetap Semangat!

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #16 on: 08 March 2013, 06:59:54 PM »
ok, sudah cukup jelas. Jadi, dengan memurnikan pikiran, maka tanah murni akan terlihat. Apakah ada metode tertentu utk melihat atau terlahir di alam tsb, seperti metode mem-fokus-kan diri pada Buddha Amitabha, sehingga terlahir di alam Sukhavati ? Bisakah secara spesifik, memurnikan pikiran itu, seperti apa.

Menurut Mahayana, metodenya adalah dengan meditasi Buddhanusmrti (Pali: Buddhanussati):

Quote
Sutta Nipata dari Kanon Pali umumnya dianggap oleh para ahli sebagai teks Buddhis tertua yang masih ada. Pada akhir Sutta Nipata, pada bagian yang juga dianggap sebagai tingkatan paling tua dari teks tersebut terdapat bagian yang sangat mengharukan dan, saya pikir, percakapan yang penting. Seorang brahmin bernama Pingiya ‘sang bijaksana’ memuliakan Sang Buddha dalam kata-kata yang tulus:

“Mereka menyebutnya Buddha, Yang Tercerahkan, Yang Telah Sadar, yang melenyapkan kegelapan, dengan pandangan menyeluruh, dan mengetahui dunia ini sampai akhirnya.... Orang ini... adalah sosok yang aku ikuti.... Pangeran ini, secercah cahaya ini, Gotama, adalah satu-satunya yang melenyapkan kegelapan. Orang ini Gotama adalah semesta kebijaksanaan dan dunia pemahaman.”[1]

Pingiya ditanya mengapa ia tidak menghabiskan waktunya dengan Sang Buddha, guru yang mengagumkan tersebut? Pingiya menjawab bahwa ia sendiri sudah tua, ia tidak dapat mengikuti Buddha secara fisik, karena ‘tubuhku sedang melapuk’. Namun:

“tidak ada waktu sedikit pun bagiku yang dihabiskan jauh dari Gotama, dari semesta kebijaksanaan ini, dunia pemahaman ini... dengan kewaspadaan yang terus-menerus dan hati-hati, adalah memungkinkan bagiku untuk melihat-Nya dengan pikiranku sejernih [melihat dengan] mataku, siang dan malam. Dan karena aku menghabiskan malamku dengan menghormati Beliau, tidak ada, dalam pikiranku, sesaat pun jauh dari-Nya.”

Dalam percakapan yang luar biasa dan kuno ini Pingiya menunjukkan bahwa adalah memungkinkan melalui perhatiannya, melalui pemusatan pikirannya, agar ia terus-menerus berada di hadapan Sang Buddha dan terus-menerus menghormati Beliau. Pada akhir [teks ini], Sang Buddha sendiri menyatakan bahwa Pingiya juga akan menuju ‘pantai yang lain’ dari Pencerahan.

Penafsiran percakapan ini mungkin sulit. Seseorang pastinya tidak akan menganggap bahwa kita di sini memiliki sistem keyakinan yang sudah baku. Walaupun demikian, pujian Pingiya terhadap Sang Buddha dan penghormatannya agar dapat melihat Beliau dalam pikirannya tampaknya berhubungan dengan praktek buddhanusmrti, perenungan terhadap Buddha, sebuah praktek yang telah diketahui dari konteks lain dalam Kanon Pali dan dijalankan, sejauh yang dapat kita katakan, semua aliran Buddhisme.

Berdasarkan komentator Theravada Buddhaghosa, seorang meditator yang ingin menjalankan perenungan terhadap Buddha harus pergi ke tempat yang cocok guna mengasingkan diri:
“dan merenungkan sifat-sifat khas dari Sang Buddha... sebagai berikut: ‘Demikianlah Sang Bhagava yang adalah yang telah menyelesaikan, tercerahkan sepenuhnya, memiliki pandangan (yang jernih) dan tindak tanduk (yang baik), mulia, pengenal dunia, pemimpin yang tak tertandingi dari para manusia yang dijinakkan, guru para manusia dan dewa, yang telah mencapai pencerahan dan yang dirahmati’.”[2]

Sang meditator merenungkan sifat-sifat Sang Buddha secara teratur dan terperinci. Di antara hasil dari meditasi yang demikian adalah bahwa, dalam kata-kata Buddhaghosa, sang meditator:
Mencapai sepenuhnya keyakinan, perhatian, pengertian dan kebajikan.... Ia menaklukan rasa takut dan kengerian.... Ia merasa seakan-akan ia tinggal dalam kehadiran Sang Guru. Dan tubuhnya... menjadi layak dihormati seperti ruang pemujaan. Pikirannya cenderung menuju pada kediaman para Buddha.[3]

Jika tergoda untuk melakukan perbuatan salah, sang meditator merasa sangat malu seakan-akan ia berhadapan langsung dengan Buddha. Bahkan jika perkembangan batinnya berhenti pada titik ini, ia akan maju menuju ‘tujuan bahagia’.

Tiga poin yang patut dicatat di sini. Pertama, terdapat hubungan antara buddhanusmrti dengan pencapaian taraf [spiritual] yang lebih tinggi, sebuah tujuan yang bahagia, atau ‘kediaman para Buddha’. Kedua, melalui perenungan terhadap Buddha seseorang menjadi bebas dari rasa takut. Kita mengetahui bahwa dari sumber sutra Sanskerta bahwa buddhanusmrti dianjurkan terutama sebagai penangkal rasa takut. Takut, dan keinginan untuk melihat Buddha, di sini saya pikir, adalah perasaan yang penting selama berabad-abad, bahkan berdekade-dekade, setelah wafatnya Sang Buddha. Gandavyuha Sutra mengatakan untuk banyak umat Buddha ketika ia menyatakan:

“Adalah sulit, bahkan dalam waktu ratusan koti kalpa, untuk mendengar seorang Buddha mengajar;
Betapa semakin banyak melihat-Nya, penampakan-Nya menjadi penghapus utama semua keraguan....
Lebih baik terbakar selama berkoti kalpa dalam tiga keadaan yang menderita, walaupun mereka sangat mengerikan,
Daripada tidak melihat Sang Guru....
Lenyaplah semua penderitaan ketika seseorang telah melihat Sang Jina, Penguasa Dunia,
Dan menjadi mungkin untuk mencapai pengetahuan mendalam, dunia para Buddha yang tertinggi.”

Dan ketiga, melalui perenungan terhadapa Buddha, Buddhaghosa mengatakan, sang meditator akan merasa seakan-akan ia tinggal dalam hadapan Sang Buddha sendiri – sedemikian sehingga, bahwa rasa malu akan mencegahnya dari perbuatan jahat.[4]

Terdapat sebuah teks yang terdapat pada Ekottaragama milik Buddhisme awal, bagian dari kitab suci yang bertahan dalam terjemahan bahasa Cina, di mana diberikan sebuah kisah yang lebih rinci tentang perenungan terhadap Buddha daripada yang ditemukan dalam Kanon Pali. Dalam sutra ini, perenungan terhadap Buddha dikatakan membawa pada kekuatan batin dan bahkan pada Nirvana itu sendiri. Dalam ajaran Mahayana tentang para Buddha dan Bodhisattva yang tak terhingga banyaknya yang mendiami tak terhingga Tanah Buddha dari 10 arah mata angin (sebuah ajaran yang mungkin dipengaruhi oleh pengalaman buddhanusmrti), praktek perenungan terhadap Buddha mendapatkan kedudukan yang jauh lebih penting sebagai cara untuk berhubungan dengan para Buddha dan kediaman mereka. Saptasatika Prajnaparamita menjelaskan ‘Samadhi Perbuatan Tunggal’ di mana seseorang bisa dengan cepat mencapai pencerahan sempurna. Sang meditator:

“harus tinggal dalam kesunyian, membuang pikiran yang mengganggu, tidak melekat pada benda-benda, memusatkan pikiran mereka pada seorang Buddha, dan membaca nama-Nya denga tulus. Mereka harus menjaga tubuh mereka tetap tegak dan, dengan menghadap pada arah dari Buddha tersebut, bermeditasi terhadap-Nya secara terus-menerus. Jika mereka dapat menjaga perhatian terhadap Buddha tersebut tanpa henti dari waktu ke waktu, maka mereka akan dapat melihat semua Buddha dari masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang setiap waktu.”[5]

Pratyutpanna Sutra

Pratyutpanna Sutra pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Cina oleh Lokaksema mungkin sekitar tahun 179 M. Ini membuat ia salah satu terjemahan tertua sutra Buddhis ke dalam bahasa Cina. Ia berisi referensi literatur tertua yang dapat diidentifikasi datanya tentang Amitayus (= Amitabha) dan Tanah Buddha-Nya, Tanah Murni, di timur.[6] Di antara banyak ciri khas yang menarik dan tidak biasa dari sutra tertua ini adalah detail yang menggambarkan dan mendiskusikan pratyutpanna samadhi, yang tampaknya menjadi pesan penting sutra ini.

Dasar untuk menjalankan pratyutpanna samadhi adalah sila yang ketat. Seorang praktisi, umat awam atau viharawan, laki-laki atau perempuan, diminta untuk memenuhi sepenuhnya pelatihan sila sebelum memasuki pengasingan diri. Meditator kemudian mengasingkan diri di sebuah tempat terpencil dan menghadap ke arah di mana Buddha Amitayus berdiam. Ia memusatkan pikiran pada Buddha tersebut, dengan menghadap pada arah yang benar. Meditator melakukan apa yang telah kita bahas sebelumnya dalam praktek buddhanusmrti. Praktisi merenungkan Buddha tersebut langsung di hadapan:

“Para Bodhisattva harus memusatkan pikiran pada Sang Tathagata tersebut... yang sedang duduk di tahta Buddha dan mengajarkan Dharma. Mereka harus berkonsentrasi pada para Tathagata yang diberkahi dengan semua sifat yang mulia, gagah, menarik, menyenangkan untuk diperhatikan, dan dikaruniai dengan kesempurnaan tubuh [dst].”[7]

Selain itu kemulian tubuh dan kemampuan seorang Buddha dicatat dan direnungkan. Lebih jauh lagi, sang meditator diajarkan untuk tidak membiarkan timbulnya gagasan “diri” dalam cara apa pun selama tiga bulan, atau pun dikalahkan oleh ‘kemalasan dan kelambanan’ (yaitu tertidur), atau duduk ‘kecuali untuk buang air’ selama tiga bulan. Mereka harus berkonsentrasi pada Amitayus selama satu hari satu malam, atau selama dua, tiga, empat, lima, enam, atau tujuh hari tujuh malam, sehingga, ketika telah terlewati penuh tujuh hari tujuh malam, mereka melihat:

“Yang Dimuliakan Tathagata Amitayus. Jika mereka tidak melihat Buddha tersebut selama siang hari, maka Sang Buddha tersebut... akan mempelihatkan wajah-Nya kepada mereka dalam mimpi ketika mereka tidur.”

Dan setelah melihat Buddha tersebut, meditator dapat menghormati Beliau dan menerima ajaran [dari Beliau]. Penglihatan atas Buddha ini bukan dengan ‘mata dewa’, [karena] ia bukan hasil dari kekuatan batin. Meditator tidak perlu mengembangkan berbagai kemampuan supernormal seperti mata dewa yang, seperti yang kita bahas dalam bab sebelumnya, hanya dapat dikembangkan pada tingkat Bodhisattva ketiga [dari Dasabhumi atau 10 tingkat Bodhisattva dalam Mahayana], dan dipikirkan dalam teks lain sebagai alat di mana seseorang dapat melihat para Buddha dari 10 penjuru arah. Para Buddha yang dilihat dalam pratyutpanna samadhi dikatakan dapat dipahami dengan perumpamaan mimpi. Ini memungkinkan karena semua [fenomena] adalah kosong dari wujud yang hakiki, dan oleh sebab itu semuanya hanya [produk] pikiran [Mind Only = Hanya Pikiran, sebuah ajaran dalam Mahayana bahwa semua fenomena yang kita rasakan, amati hanyalah berasal dari pikiran kita].

Catatan:
1. Terjemahan oleh Saddhatissa 1985: vv. 1133, 1136. Cf. terjemahan oleh Norman (Sutta Nipata 1984).
2. Visuddhimagga 7: 2, dalam Buddhaghosa 1975, mengutip dari rumusan standar yang ditemukan dalam Kanon Pali [Buddhanussati]. Harrison 1992a: 228–31 berpendapat bahwa anusmrti [anussati] lebih baik diterjemahkan sebagai ‘commemoration’ (peringatan) daripada ‘recollection’ (perenungan).
3. Buddhaghosa 1975: 230. Cf. Harrison 1992a: 218.
4.Patut dicatat tentang ungkapan ‘tujuan bahagia’ dan juga ‘kediamana para Buddha’. Apa, atau, di mana, kediaman para Buddha? Seperti yang akan kita lihat, ‘Tanah Murni’ yang paling terkenal di mana dalam ajaran Mahayana seorang Buddha saat ini berdiam mengajar Dharma disebut Sukhavati, secara harfiah ‘Tempat Bahagia’. Di sanalah seseorang dapat tinggal dalam hadapan para Buddha, bebas dari rasa takut.
5. Terjemahan dalam Chang 1983: 110. Dari bahasa Cina. Cf. terjemahan oleh Conze 1973b: 101.
6. Ungkapan aktual ‘Tanah Murni’ diterjemahkan dalam bahasa Cina jingtu (ching-t’u; bahasa Jepang: jodo), dan ini tampaknya tercipta di Cina.
7. Perhatikan bahwa para Buddha adalah jamak; Amitayus di sini diberikan hanya sebagai contoh. Terjemahan dalam Harrison 1990: 68. Lihat juga Harrison 1978.

Sumber: Mahayana Buddhism, The Doctrinal Foundations 2nd edition oleh Paul Williams

Dari: http://www.wi ha ra.com/forum/mahayana/6587-buddhanusmrti-perenungan-terhadap-buddha.html
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa

Offline namarupa

  • Teman
  • **
  • Posts: 52
  • Reputasi: 2
  • Gender: Male
  • Lanjutkan!
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #17 on: 13 March 2013, 06:57:40 AM »
sangat menarik, tetapi, bagaimana hal ini dibedakan fenomena ini dengan vipassana upakilesa ? apakah ada tokoh kontemporer yang menekuni hal ini ?

PS.
Inilah yg saya lihat (Buddha) ketika melakukan praktek vipassana beberapa tahun yang lalu, dan saya kesampingkan sebagai vipassana upakilesa
« Last Edit: 13 March 2013, 07:02:49 AM by namarupa »
Tetap Semangat!

Offline seniya

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.469
  • Reputasi: 169
  • Gender: Male
  • Om muni muni mahamuni sakyamuni svaha
Re: Pertanyaan tentang dunia Saha
« Reply #18 on: 13 March 2013, 07:39:43 AM »
sangat menarik, tetapi, bagaimana hal ini dibedakan fenomena ini dengan vipassana upakilesa ? apakah ada tokoh kontemporer yang menekuni hal ini ?

PS.
Inilah yg saya lihat (Buddha) ketika melakukan praktek vipassana beberapa tahun yang lalu, dan saya kesampingkan sebagai vipassana upakilesa

Mungkin anda harus bertanya kepada praktisi Mahayana yang lebih mengerti tentang hal ini, karena saya bukan ahli meditasi juga :)
"Holmes once said not to allow your judgement to be biased by personal qualities, and emotional qualities are antagonistic to clear reasoning."
~ Shinichi Kudo a.k.a Conan Edogawa