//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur  (Read 31664 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #120 on: 18 May 2011, 09:11:23 PM »
mungkin ilustrasinya begini ya bro.. kita bawa ke game aja.. biar lebih gampang ilustrasinya..

bro kalau terbiasa main game PS3 yang gambarnya wah dan tajam, mungkin kalau disodorin game sekelas nintendo yang kualitas 8 bit, bro bakal bosan dan nolak..

nah anggaplah bro sekarang berlatih dengan tekun di vihara, ibaratnya bro mendapatkan suatu kebahagiaan yang lebih.. bahkan lebih dari memainkan game ps3, nah apakah ketika bro ditawarin level pelacur yang bisa dianggap kebahagiaannya lebih rendah dari itu, bro bisa tergoyahkan ? saya rasa tidak.. yang penting dan awal dari memulai kebahagiaan adalah berlatih untuk menggapai kebahagiaan itu..

sekedar ilustrasi lain dari kisah Sang Buddha. saya ceritakan versi simpelnya tanpa pake nama ini itu biar gampang, di mana Sang Buddha pernah "membaptis" seseorang menjadi bhikkhu. Namun si bhikkhu tersebut masih terikat ama istrinya yang cantik jelita, dan menyesal menjadi bhikku. Sang Buddha pun tahu akan hal itu, dan memintanya agar rajin berlatih.. ketika dia rajin berlatih dan mencapai tataran pencerahan.. maka dia tidak lagi tertarik akan hal2 duniawi termasuk istrinya yang cantik dan jelita itu.. karena kebahagiaan dari pencapaian pencerahan adalah tertinggi..

Dan tempat berlatih bagi nubitol ya idealnya terlepas dari pengaruh duniawi dulu, jadi idealnya bro cobalah dulu berlatih di tempat yang terlepas dari duniawi, setelah mencapai pencerahan.. cobalah kembali mencari pelacur.. bisa jadi bro pun tidak berpikiran lagi untuk itu ;D

Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Satria

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 673
  • Reputasi: -17
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #121 on: 18 May 2011, 09:14:59 PM »
Bro, boleh tau obyek apa yg anda gunakan pada saat meditasi itu?

pada kasus yang saya ceritakan tersebut, saya menggunakan objek perut. kemudian setelah kurang lebih 5 menit, saya menggatinya dengan objek nafas. umumnya saya seringkali seperti itu, kolaborasi antara objek perut dan nafas. ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan saya terdorong untuk menggunakan objek perut. dan ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan saya terdorong untuk menggunakan objek nafas.

Offline Satria

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 673
  • Reputasi: -17
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #122 on: 18 May 2011, 09:55:09 PM »
mungkin ilustrasinya begini ya bro.. kita bawa ke game aja.. biar lebih gampang ilustrasinya..

bro kalau terbiasa main game PS3 yang gambarnya wah dan tajam, mungkin kalau disodorin game sekelas nintendo yang kualitas 8 bit, bro bakal bosan dan nolak..

nah anggaplah bro sekarang berlatih dengan tekun di vihara, ibaratnya bro mendapatkan suatu kebahagiaan yang lebih.. bahkan lebih dari memainkan game ps3, nah apakah ketika bro ditawarin level pelacur yang bisa dianggap kebahagiaannya lebih rendah dari itu, bro bisa tergoyahkan ? saya rasa tidak.. yang penting dan awal dari memulai kebahagiaan adalah berlatih untuk menggapai kebahagiaan itu..

sekedar ilustrasi lain dari kisah Sang Buddha. saya ceritakan versi simpelnya tanpa pake nama ini itu biar gampang, di mana Sang Buddha pernah "membaptis" seseorang menjadi bhikkhu. Namun si bhikkhu tersebut masih terikat ama istrinya yang cantik jelita, dan menyesal menjadi bhikku. Sang Buddha pun tahu akan hal itu, dan memintanya agar rajin berlatih.. ketika dia rajin berlatih dan mencapai tataran pencerahan.. maka dia tidak lagi tertarik akan hal2 duniawi termasuk istrinya yang cantik dan jelita itu.. karena kebahagiaan dari pencapaian pencerahan adalah tertinggi..

Dan tempat berlatih bagi nubitol ya idealnya terlepas dari pengaruh duniawi dulu, jadi idealnya bro cobalah dulu berlatih di tempat yang terlepas dari duniawi, setelah mencapai pencerahan.. cobalah kembali mencari pelacur.. bisa jadi bro pun tidak berpikiran lagi untuk itu ;D



saya mengerti maksud anda.

apa yang telah saya jalani, bukanlah suatu kemestian, melainkan memang itulah "jalan yang telah saya lalui".

apa yang telah pernah saya lakukan, telah berlalu dan tak dapat diulangi lagi. mendatangi pelacur dan tempat pelacur, bukanlah hal yang baik. itu adalah kesalahan saya. tapi, ditengah perbuatan salah yang belum bisa saya tahan tersebut, saya mencoba melakukan hal terbaik yang bisa saya lakukan.

mungkin ilustrasinya begini bro ...

dulu, ada seorang pemuda yang stress. karena diputuskan oleh kekasih yang dicintainya. setiap hari dia mabuk-mabukan dan tak mau mandi. ibunya sering menangis, karena di rumah pemuda ini sering mengamuk. ke mana-mana ia menenteng samurai, bermaksud ingin membacok seorang lelaki yang dianggap merebut pacarnya.  semua orang sudah menasihatinya. bahkan pada ahli agama juga sudah banyak menasihatinya, agar tidak insyaf. tapi pemuda itu tidak mau menerima nasihat-nasihat itu. padahal tentunya semua nasihat itu adalah nasihat yang baik.

suatu hari, pemuda yang bernama Parman itu datang kepada saya, dalam keadaan muram, dan tubuh yang dekil,  sambil berkeluh-kesah, "uh... hidupku sudah tidak berarti kini, dari pada aku hidup menderita begini, lebih baik aku mati bunuh diri saja."

tidak seperti orang tuanya dan para pemuka agamanya itu, saya malah berkata, "Bagus itu, bunuh dirilah dengan cara terbaik!"

"maksudnya bagaimana, bunuh diri dengan cara terbaik?" tanya Parman.

"Makan racun, gantung diri, menusuk diri, menceburkan diri ke sumur, menenggelamkan diri ke laut, mana yang menurut mu lebih baik?" tanya saya.

"Ah sama saja." Jawa Parman.

"maukah kamu aku tunjukan cara bunuh diri yang terbaik?" tanya saya.

dia terdiam. beberapa saat kemudian menjawab dengan lemas, "ya, saya mau."

sejak pertama hingga ke akhir, saya selalu mengamati dan mengarahkan mental pemuda ini. sampai pada tahap ini, saya telah berhasil menjadi "driver" mental pemuda tersebut. tinggal beberapa langkah saja.

"saya bisa menunjukan dua hal, pertama cara bunuh diri terbaik, yang kedua cara keluar dari masalah ini dengan cara terbaik. mana yang kamu pilih?" tanya saya.

"Jalan keluar bagaimana?" Parman balik nanya.

"kekasih mu itu. kau sangat sakit hati dengan kekasih mu itu kan. saya bisa tawarkan 2 jalan, pertama bagaimana agar kekasihmu itu kembali kepada pelukanmu, jalan kedua adalah bagaimana cara membalas dendam sakit hati mu itu." Demikian kata saya.

"Saya ingin kekasih saya itu kembali kepada saya." sorot pandang Parman mulai bersinar. "Bagaimana caranya?"

"aku akan mengajarkan sebuah mantra kepadamu. saya jamin 100 persen, bila mantra ini kamu bacakan, kekasihmu itu akan segera mencari dan kembali kepadamu. tapi ingatlah, bila ia kembali kepadamu, janganlah kau menyakitinya seperti dia menyakitimu" kata saya. "Apa kamu sanggup dengan persayratannya?"

"saya sanggup, apapun persyaratannya. bahkan nyawa saya pertaruhkan!"

"Bacalah mantra yang aku ajarkan ini sebanyak seribu kali setiap malam. lakukan dalam 7 malam. selama membaca mantra, tubuhmu tidak boleh bergerak sedikitpun!"

Pemuda itu semakin bersemangat. ia komat-kamit menghapal mantra yang saya ajarkan. lama sekali hapalnya, maklum mantra yang saya ajarkan agak panjang. lagi pula, daya hapal si pemuda itu rendah, mungkin pengaruh dari minuman keras yang dia konsumsi.

"jangan lupa, " kata saya, "kau tidak boleh membaca mantra ini dalam keadaan badan yang kotor. kau harus membersihkan badanmu, dan tempat untuk baca mantra pun harus bersih! setelah 7 malam, temuilah saya lagi!"

Pemuda itu dengan bersemangat menyatakan siap melaksanakan semua perintah saya. saya teringat, bahwa para meditator yang berlatih meditasi di bawah bimbingan saya, banyak merasa malas dan bosan bermeditasi. tapi pemuda ini tampak bersemangat meditasi dengan melafal mantra. kenapa? karena ia terdorong untuk memenuhi suatu hasrat keduniawiannya, dan sudah tidak tahan dengan stress yang dia alami.

tiga hari kemudian saya bertemu dengan Parman. wajahnya tampak bercahaya, badan dan bajunya bersih dan harum. sangat berbeda dengan kondisinya pada 3 hari yang lalu. "Bagaimana, apa kamu sudah melaksanakan semuanya dengan baik?" tanya saya.

dengan malu dia menjawab, "sudah, tapi saya belum sanggup sampai ke seribu, baru sampai hingga 300 kali baca mantra, sayapun tertidur. pada malam kedua hanya sampai 500. dan tadi malam, hanya sampai 700. ngantuk berat."

"ketahuilah, kematian itu lebih berat dari pada beratnya rasa ngantuk yang kau hadapi! pertahankan dirimu, kalau perlu sampai mati, bukannya kau ingin mati?" tanya saya.

Parman tersenyum, "Tidak, saya tidak akan melanjutkan membaca mantra lagi."

"lha kenapa?" tanya saya.

"sekarang hati saya telah tenang dan damai. saya tidak marah, tidak dendam dan tidk stress. saya rela dengan apa yang terjadi. rela, dia bersama laki-laki lain." tampak dia menyatakannya dengan tenang dan tulus.

Sejak saat itu, pemuda tersebut insyaf, kembali kepada kehidupan yang sehat secara jasmani dan batin.

panjang lebar telah saya ceritakan, sekedar untuk menggambarkan tentang bagaimana saya melakukan "Politik Mental". apa yang saya lakukan terhadap pemuda tersebut saya sebut sebagai Politik Mental. Bagaimana seandannya waktu itu saya berkata, "jadilah anak baik, agar kau masuk sorga! iklaskan saja pacarmu itu?" maka ia tidak akan menerima nasihat itu. atau saya berkata, "maukah kau ku ajarkan meditasi, agar kamu dapat merealisasi nibbana?" saya harus memperhatikan "kekuata mental apa" yang bisa mendorong orang untuk bermeditasi. karena untuk mencapai konsentrasi tercerap itu dibutuhkan impuls batin. impuls batin ini tidak hanya bentuk-bentuk mental positif, tapi bisa jadi dari bentuk-bentuk mental negatif seperti misalnya rasa dendam, marah dan benci. Demikian pula saya melakuan politik mental terhadap diri saya sendiri.


Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.563
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #123 on: 18 May 2011, 10:02:46 PM »
sebenarnya telah saya jelaskan. tapi tak mengapa saya jelaskan kembali.

satu-satunya penyebab saya selalu gagal untuk menggunakan pelacur tersebut adalah karena "rasa kecanduan saya terhadap meditasi".

saya terbiasa menenangkan diri dengan cara bermeditasi. saya tidak pernah membiarkan hal-hal tertentu mengusik kedamaian batin saya. ketika terasa ada sesuatu yang menggelisahkan di dalam hati, maka saya tidak bisa menahan diri, segera pergi untuk bermeditasi sampai saya menjadi tenanng kembali.

pada saat saya hendak melakukan perbuatan tercela, saya berpikir "aduh, kali ini aku akan melakukan perbuatan tercela, padahal aku tau, apa akibat yang sangat buruk dari perbuatan ini, aku tahu apa akibatnya di dunia ini dan bagaimana pula akibatnya setelah aku mati nanti." akibat adanya pemikiran ini, maka hati menjadi gelisah. dan seperti telah saya katakan, setiap kali hati gelisah, saya tidak pernah membiarkannya, selalu dengan segera pergi untuk bermeditasi dan tidak berhenti sampai hati menjadi tenang. saya berpikir, "seandainya saya hendak menikmati tubuh si pelacur, tentu harus dalam keadaan hati yang tenang. sebab, tanpa ketenangan tidak ada kenikmatan duniawi yang benar-benar bisa dinikmati."

tetapi, akhirnya meditasi membuat saya ngantuk berat. bila tidak, saya akan masuk ke dalam konsentrasi yang dalam. setelah keluar dari konsentrasi itu, gairah sex saya menjadi hilang. saya tidak lagi bisa melihat tubuh pelacur itu sebagai hal yang menggarahkan, melainkan hanya melihat "mayat hidup" atau "tulang terbungkus daging", dan bila saya memandang ke arah perut si pelacur, terbayang pula kira-kira apa isi yang ada di dalam perut itu, hal-hal yang menjijikan. dan bila saya memandang ke arah vaginanya, tidak bisa lagi terangsang, karena selalu saja terbayang hal-hal yang lain, seperti misalnya terbayang bahwa tak lama lagi perempuan tersebut akan menjadi tua dan keriput, dan vagina itu akan menjadi "dower". akhirnya, saya seolah hanya melihat vagina yang dower itu saja, menjijikan, serta tidak melihat lagi hal-hal yang menggairahkan.

pada kasus yang saya ceritakan tersebut, saya menggunakan objek perut. kemudian setelah kurang lebih 5 menit, saya menggatinya dengan objek nafas. umumnya saya seringkali seperti itu, kolaborasi antara objek perut dan nafas. ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan saya terdorong untuk menggunakan objek perut. dan ada kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan saya terdorong untuk menggunakan objek nafas.


kalau begitu, dari penjelasan anda, maaf jika saya berterus terang bahwa saya tidak percaya pada kisah anda terlebih bagian hasil meditasi anda. menurut pengalaman dan juga menurut literatur, meditasi dengan obyek nafas (perut juga termasuk obyek nafas) tidak akan memberikan efek spt yg anda alami, efek spt yg anda alami seharusnya terjadi jika anda menggunakan obyek asubha.

Offline Satria

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 673
  • Reputasi: -17
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #124 on: 18 May 2011, 10:16:04 PM »

kalau begitu, dari penjelasan anda, maaf jika saya berterus terang bahwa saya tidak percaya pada kisah anda terlebih bagian hasil meditasi anda. menurut pengalaman dan juga menurut literatur, meditasi dengan obyek nafas (perut juga termasuk obyek nafas) tidak akan memberikan efek spt yg anda alami, efek spt yg anda alami seharusnya terjadi jika anda menggunakan obyek asubha.

saya tidak keberatan dengan ketidak percayaan anda. kepercayaan adalah hak masing-masing.

saya memahami bahwa di dalam budhisme adalah Meditasi Asubha, yaitu meditasi yang efeknya bisa mengurangi keserakahan terhadap hal-hal duniawi.

tapi apakah anda belum pernah membaca sabda sang Buddha yang berkata, "Apa manfaatnya bila konsentrasi berkembang? Semua nafsu ditinggalkan."

ketika Jhana tercapai, maka semua nafsu ditinggalkan (mengendap). dan dengan pikiran yang mendalam itu, yang tanpa nafsu, maka orang akan melihat seorang wanita itu tak lain hanyalah "tulang terbungkus daging" dengan pandangan yang tenang, bukan dengan pandangan yang jijik.

tetapi, batin itu berproses dengan cepat. setelah mencapai upekha (ketenangan batin), kualitas batin menurun secara cepat atau lambat, dan pemikiran-pemikiran terjadi. ketika pemikiran-pemikiran ini terjadi, maka saya merenungkan hal-hal tadi, seperti "singkatnya kehidupan", atau hal-hal yang menjijikan dari "selera rendahan".  perenungan tersebut sama saja dengan meditasi Asubha. dan apabila dilakukan stelah Jhana, efek perenungan tersebut akan menjadi sangat luar biasa.

saya menjelaskan sebisa mungkin, sesuai yang saya alami. percaya atau tidak percaya, saya tidak keberatan. silahkan!

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #125 on: 18 May 2011, 10:38:21 PM »
saya tidak keberatan dengan ketidak percayaan anda. kepercayaan adalah hak masing-masing.

saya memahami bahwa di dalam budhisme adalah Meditasi Asubha, yaitu meditasi yang efeknya bisa mengurangi keserakahan terhadap hal-hal duniawi.

tapi apakah anda belum pernah membaca sabda sang Buddha yang berkata, "Apa manfaatnya bila konsentrasi berkembang? Semua nafsu ditinggalkan."

ketika Jhana tercapai, maka semua nafsu ditinggalkan (mengendap). dan dengan pikiran yang mendalam itu, yang tanpa nafsu, maka orang akan melihat seorang wanita itu tak lain hanyalah "tulang terbungkus daging" dengan pandangan yang tenang, bukan dengan pandangan yang jijik.

tetapi, batin itu berproses dengan cepat. setelah mencapai upekha (ketenangan batin), kualitas batin menurun secara cepat atau lambat, dan pemikiran-pemikiran terjadi. ketika pemikiran-pemikiran ini terjadi, maka saya merenungkan hal-hal tadi, seperti "singkatnya kehidupan", atau hal-hal yang menjijikan dari "selera rendahan".  perenungan tersebut sama saja dengan meditasi Asubha. dan apabila dilakukan stelah Jhana, efek perenungan tersebut akan menjadi sangat luar biasa.

saya menjelaskan sebisa mungkin, sesuai yang saya alami. percaya atau tidak percaya, saya tidak keberatan. silahkan!

memang sulit dipercaya kalau mengendap sampai di pasar hitam =))

rata2 bro bayar berapa ? paling mahal bayar berapa ? trus diapain aja?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline Satria

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 673
  • Reputasi: -17
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #126 on: 18 May 2011, 10:41:22 PM »
memang sulit dipercaya kalau mengendap sampai di pasar hitam =))

rata2 bro bayar berapa ? paling mahal bayar berapa ? trus diapain aja?

emank bro JOhan mau nyoba?

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #127 on: 18 May 2011, 10:47:03 PM »
emank bro JOhan mau nyoba?

nah kalau yg gratis dan barangnya bagus ada gak ?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline Satria

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 673
  • Reputasi: -17
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #128 on: 18 May 2011, 10:57:56 PM »
nah kalau yg gratis dan barangnya bagus ada gak ?

tidak tahu

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #129 on: 18 May 2011, 11:00:07 PM »
tidak tahu

secara logika ada,

tinggal bro yg pesan/bayar dan meditasi....mata tutup rapet2

gw ikut dari belakang.... =))  (itupun kalau top quality...) gimana ?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline Satria

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 673
  • Reputasi: -17
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #130 on: 18 May 2011, 11:09:46 PM »
cum kalo saya renungkan, umat budhis itu kan terkenal dengan konsep "ehipashiko" nya, dimana kebenaran harus dibuktikan oleh diri sendiri, atau dengan slogan "datang dan lihat sendiri". tapi anehnya, selama diskusi di forum ini terkesan kental dengan statment "percaya" dan "tidak percaya".

saya sendiri dalam menilai statement-statement orang lain, tidak pernah atau hampir tidak pernah dengan ungkapan "percaya" atau "tidak percaya". Dari sekian ajaran sang Buddha, maka saya hanya memilih kebenaran yang pasti-pasti saja.  dan bukan kebenaran yang saya percayai. tetapi, sebagian ajarannya bukan berarti "tidak pasti" dan bukan berarti "saya tidak percaya padanya". Bila ada ajaran sang Buddha yang belum saya fahami kebenarannya, saya tidak memposisikan diri dalam status mental "percaya" atau "tidak percaya", tapi memposisikan diri dalam status mental "menghormati" serta berpikir "mungkin saya belum dapat memahami kebenaran maknanya".

demikian pula saya terhadap statement kawan-kawan di DC, saya tidak pernah memposisikan diri pada posisi "percaya" atau "tidak percaya" tapi pada posisi "membenarkan" atau "menyalahkan", bila sudah diketui pasti kebenaran atau kesalahannya. bila belum saya ketahui kebenarannya, maka saya memposisikan diri dalam usaha "menguji kebenaran". dari awal hingga akhir, tidak berhubungan dengan masalah "percaya" atau "tidak percaya".
« Last Edit: 18 May 2011, 11:18:10 PM by Satria »

Offline waliagung

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 417
  • Reputasi: 3
  • Gender: Male
  • SEMOGA SEMUA MAHLUK HIDUP BERBAHAGIA
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #131 on: 19 May 2011, 12:10:31 AM »
ya gitu kebanyakan ilusi yg di tonjolkan akhirnya jadi kenyataan

yg jelas-jelas yata malah di anggap ilusi..........

semua yg ada di dunia apapun benda atau bagian benda punya fungsi

tidak ada yg fungsinya hanya pajangan alam sudah memproses semua itu untuk keseimbangan

seluruh tatanan kehidupan yg hidup maupun yg mati....

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #132 on: 19 May 2011, 04:54:43 AM »
pelacur termasuk katagori mahluk hidup
Buddha menginginkan semua mahluk hidup berbahagia
umat Buddhist sedapat mungkin mengikutin ajaran Buddha

dari 3 point diatas, maka dari itu

LOGIKAnya umat Buddhist juga menginginkan pelacur hidup berbahagia
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

Offline PIKOCHAN RAPTOR

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 261
  • Reputasi: -2
  • Gender: Male
  • SSBS
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #133 on: 19 May 2011, 07:03:04 AM »
Selamat pagi semuaanya  :)
Ternyata setelah sy tidur td malam, diskusi di topik ini sdh berkembang sejauh ini   :P

Harapan sy hr ini:

 _/\_ Semoga semua makhluk yg masih single segera memperoleh pasangan hidup resmi yg saling mencintai lahir batin utk saling melengkapi kehidupanNya

 _/\_ SSBS
 [at]  Perjalanan seribu mil diawali dengan sebuah langkah.
 [at]  Sebuah batu permata tak bisa dipoles tanpa gesekan, seperti halnnya seorang manusia disempurnakaan dengan cobaan hidup.

Offline johan3000

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 11.553
  • Reputasi: 219
  • Gender: Male
  • Crispy Lotus Root
Re: apa pandangan kita sebagai umat buddhis terhadap pelacur
« Reply #134 on: 19 May 2011, 07:37:13 PM »
Apakah pelacur mengurangin kasus perkosaan ?
bagaimana pula usaha yg ikut berkembang dgn adanya pelacuran ?
Nagasena : salah satu dari delapan penyebab matangnya kebijaksanaan dgn seringnya bertanya

 

anything