//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??  (Read 9289 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Sunkmanitu Tanka Ob'waci

  • Sebelumnya: Karuna, Wolverine, gachapin
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.807
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
  • 会いたい。
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #15 on: 08 November 2009, 10:21:39 PM »
mungkin lebih tepat kalimat dengan cinta kasih mengharapkan agar bangsa ini selamat yang diucapkan dengan kata-kata?
HANYA MENERIMA UCAPAN TERIMA KASIH DALAM BENTUK GRP
Fake friends are like shadows never around on your darkest days

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #16 on: 08 November 2009, 10:22:34 PM »
[at] yanfei, ada gak doa2 tsb didalam paritta, tlng berikan paritta2nya bila ada?Thanks.
 [at] citadevi, jdi yg diposting sdr.Hartono tadi itu agar ikut berdoa keselamatan bangsa, itu berdoa pada siapa?
mungkin maksudnya begini seh bro.. doa di sini semacam metta bhavana, mengembangkan sikap metta agar bangsa ini terlepas dari bahaya. Karena berbalik lagi ke prinsip LoA, apa yang kita pikirkan itu ada kemungkinan akan terjadi.
Jadi jika kita memikirkan bangsa ini akan maju dan sukses, bisa jadi itu terjadi. :)

Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline yanfei

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 430
  • Reputasi: 12
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #17 on: 08 November 2009, 10:25:02 PM »
[at] yanfei...
Doa sulit jodoh, jadi mudah jodoh.
Doa insomnia, doa agar cepat tertidur.
Doa keselamatan bangsa.
Doa kelancaran rezeki.
Doa sembuh dr pnyakit.
Doa mudah pergaulan.
Doa agar dilindungi.
Doa selamat ketika melakukan perjalanan.
Doa dapat anak.
Doa terbebas dr pndritaan hdup.
Dsb.

Quote
Mengapa Membaca Paritta?

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Seiring dengan peradaban umat manusia, doa atau mantra telah dikenal dan berkembang bahkan sebelum munculnya agama-agama di dunia ini.

Manusia pra-agama berdoa guna memenuhi kebutuhan batin yang didera, diselimuti, dan dicengkram oleh perasaan-perasaan takut, khawatir, cemas, dan  pilu karena banjir, kebakaran, petir, angin topan, dan lain-lainnya. Mereka berdoa kepada dewa penunggu air, dengan harapan mereka terhindar dari korban bencana banjir; mereka berdoa kepada dewa api, dengan harapan mereka terselamatkan dari jilatan api; mereka berdoa kepada dewa langit, dengan harapan mereka terbebas dari sambaran petir dan gulungan angin topan, dan lainnya.

Setelah agama-agama di dunia lahir/muncul, ternyata berdoa bukanlah berkurang, justru semakin banyak ragamnya, bukan hanya untuk menghindarkan seseorang dari peristiwa yang menakutkan, menyeramkan, dan mengerikan seperti di atas, tetapi juga untuk hal-hal yang menyenangkan seperti pernikahan, kelahiran anak, menempati rumah, memulai usaha, dan lainnya, bahkan sampai hal-hal yang kecil sekalipun misalnya mau makan, mandi, tidur, atau mengerjakan tugas di sekolah, kantor maupun di rumah. Demikian penting doa dalam sejarah perjalanan kehidupan umat manusia.

Mengapa kita harus berdoa? Apakah doa itu? Apa bedanya doa dengan paritta? Pertanyaan itu sering muncul dalam kalangan masyarakat pada umumnya. Untuk mengetahui jawaban tersebut, pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu tentang diri manusia itu sendiri. Kehidupan umat manusia memiliki dua sisi, yaitu sisi batiniah dan lahiriah atau fisik dan batin. Kedua sisi kehidupan ini memerlukan faktor pengkondisi untuk perkembangan, kemajuan, dan kelangsungan proses hidupnya.

Sisi fisik membutuhkan penunjang seperti makanan dan minuman yang bergizi, bervitamin, dan berenergi, bahkan juga udara yang bersih dan tidak polusi, guna menjadikan badan kita sehat, kuat dan segar-bugar, sehingga jasmani kita tidak sakit-sakitan, lemah, lesu, loyo, dan badan kita dapat berfungsi baik dan normal.

Sisi batin juga membutuhkan faktor pengkondisi. Karena batin merupakan hal yang non materi, maka kebutuhan batin adalah non materi yakni hal-hal yang bersifat spiritual dan dalam Buddhis adalah Dhamma. Keteduhan, ketentraman, ketenangan, kedamaian, keheningan, kasih sayang, kesabaran, kesadaran, dan lainnya adalah makanan batin. Guna mewujudkan dan menghadirkan hal-hal tersebut di atas, maka manusia membuat kalimat doa-doa sesuai kebutuhannya.

Apa bedanya doa dan paritta? Dalam paham Buddhis, doa merupakan ungkapan-ungkapan batin yang dipenuhi harapan, atau spirit dan motivasi. Bagaimana kita berdoa secara Buddhis? Karena kita menyakini adanya hukum kamma, maka cara kita berdoa sebagai berikut: semoga dengan kekuatan jasa baik yang saya lakukan pada saat ini, hari ini dan juga di waktu yang lain membuahkan kemajuan, kesejahteraan, kebahagiaan dan lain-lain sesuai apa yang kita harapkan, dan ditutup dengan ucapan semoga semua makhluk berbahagia, semoga Tiratana memberkahi.

Paritta adalah khotbah Sang Buddha yang berisikan uraian-uraian Dhamma. Paritta mempunyai dua sisi kekuatan yakni: pertama, kekuatan spiritual/magis atau energi psikis, keberkahan dan perlindungan. Kedua, kekuatan pelaksana, praktik, penyelaman dan penghayatan.

Sejak jaman Buddha Gotama masih ada di tengah-tengah umat manusia, paritta telah diyakini memberikan manfaat keberkahan dan perlindungan. Beberapa paritta yang sangat populer dalam masyarakat Buddhis adalah Ratana Sutta, Karaṇīyametta Sutta, Khandha Paritta, Aṅgulimāla Paritta, Mora Paritta, Bojjhaṅga Paritta, Maṅgala Sutta, Āṭānāṭiya Sutta, Abhaya Paritta dan lainnya.

Beberapa kisah tentang kekuatan paritta diantaranya: Ratana Sutta dibacakan Sang Buddha saat kota makmur Vesali terancam bencana kelaparan, wabah penyakit, malapetaka, dan gangguan makhluk-makhluk jahat. Bhikkhu Ananda diinstruksikan untuk mengulang membaca Ratana Sutta dan berjalan mengelilingi penjuru kota Vesali dengan memercikan air yang telah diberkahi. Dengan kekuatan keberkahan Ratana Sutta, kota Vesali terbebas dari bencana, wabah penyakit, dan pengaruh makhluk jahat.

Karaṇīyametta Sutta diajarkan oleh Sang Buddha kepada 500 bhikkhu yang mengalami kesulitan saat mereka berlatih meditasi di hutan karena gangguan makhluk penghuni setempat. Setelah mereka mengulang dan mempraktikkan cinta kasih (karaṇīyametta) dan kembali ke hutan untuk berlatih meditasi, mereka pun terbebas dari gangguan lagi serta memperoleh keberkahan dan perlindungan.

Bagaimana paritta mempunyai kekuatan spiritual/magis atau energi psikis? Bilamana paritta dibaca dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi, hikmat dan disertai keyakinan mantap, maka paritta akan memiliki energi batin yang luar biasa. Paritta akan kehilangan kekuatannya karena tidak ada keyakinan, perbuatan jahat, dan kamma berat masa lampau. Oleh sebab itu, saat kita membaca paritta harus disertai dengan pemahaman terhadap makna yang terkandung di dalamnya dan dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi, hikmat dan disertai keyakinan sehingga batin dan pikiran kita menjadi tenang, sejuk, teduh, tentram, damai, gembira, suka cita, dan bahagia. Seperti makna yang terkandung dalam Karaṇīyametta Sutta dimana yang mengajak kita untuk menuju pada kedamaian, kita harus menjadi orang yang jujur, tulus, lemah-lembut, tidak sombong, mudah dinasehati, bersahaja, berindria tenang, tidak tercela dan penuh cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas di manapun berada dan akan membawa seseorang tak terlahir dalam rahim manapun juga. Itulah sesungguhnya energi dan kekuatan nyata yang kita miliki karena paritta.

Kalau kondisi batin tersebut di atas terus kita jaga dan kembangkan, maka energi yang ada akan memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan badan jasmani. Energi juga memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar kita, dan akan menjadi kekuatan yang melindungi.

Apa bedanya Doa dengan Paritta? Doa merupakan ungkapan hati yang tidak ada tuntunan untuk kita jalankan, bahkan sering isinya hanya permintaan, permohonan, dan kala tertentu justru menimbulkan gejolak batin karena yang dimohon tidak terkabul. Namun, paritta saat dibaca pun telah memberikan berkah ketenangan, kedamaian, keteduhan, kesejukan, ketentraman, kegembiraan, dan kebahagiaan karena yang kita baca langsung menuntun untuk praktik, menghayati dan menyelami seperti dalam Karaṇīyametta Sutta, guna memperoleh kedamaian maka kita harus cakap, jujur, tulus, lemah-lembut, tidak sombong, mudah dinasehati, bersahaja, berindria tenang, tidak tercela, dan penuh cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas. Oleh karena itu, mari kita membaca paritta untuk ketenangan, ketentraman, keberkahan, dan perlindungan.

Oleh: Bhikkhu Dhammakaro
20 Januari 2008
http://www.dhammacakka.org/index.php?option=com_content&task=view&id=85&Itemid=113

mudah2 ini bisa dimengerti johsun

Offline Johsun

  • Sebelumnya Jhonson
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.503
  • Reputasi: -3
  • Gender: Male
  • ??
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #18 on: 08 November 2009, 10:35:07 PM »
 [at] forte,
brarti prinsip loA, apa yg dipikirkan bs sj terjadi ,dlm tahap kemungkinan.
Jadi apabila seseorang berdoa, dapat mengkndisikan pkirannya,dpt memanipulasi pkirannya, dapat membuat pkirannya jdi lebih terpusat pd hrapannya. Mka kesimpulannya sbnarnya doa itu adalah alat untk mmpengaruhi pikiran, benar gak?

CMIIW.FMIIW.

Offline Johsun

  • Sebelumnya Jhonson
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.503
  • Reputasi: -3
  • Gender: Male
  • ??
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #19 on: 08 November 2009, 10:38:33 PM »
 [at] yanfei, kalau bgtu thank atas postnya...Gw pahami dulu...
CMIIW.FMIIW.

Offline Johsun

  • Sebelumnya Jhonson
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.503
  • Reputasi: -3
  • Gender: Male
  • ??
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #20 on: 08 November 2009, 11:06:32 PM »
Quote
Mengapa Membaca Paritta?

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Seiring dengan peradaban umat manusia, doa atau mantra telah dikenal dan berkembang bahkan sebelum munculnya agama-agama di dunia ini.

Manusia pra-agama berdoa guna memenuhi kebutuhan batin yang didera, diselimuti, dan dicengkram oleh perasaan-perasaan takut, khawatir, cemas, dan  pilu karena banjir, kebakaran, petir, angin topan, dan lain-lainnya. Mereka berdoa kepada dewa penunggu air, dengan harapan mereka terhindar dari korban bencana banjir; mereka berdoa kepada dewa api, dengan harapan mereka terselamatkan dari jilatan api; mereka berdoa kepada dewa langit, dengan harapan mereka terbebas dari sambaran petir dan gulungan angin topan, dan lainnya.

Setelah agama-agama di dunia lahir/muncul, ternyata berdoa bukanlah berkurang, justru semakin banyak ragamnya, bukan hanya untuk menghindarkan seseorang dari peristiwa yang menakutkan, menyeramkan, dan mengerikan seperti di atas, tetapi juga untuk hal-hal yang menyenangkan seperti pernikahan, kelahiran anak, menempati rumah, memulai usaha, dan lainnya, bahkan sampai hal-hal yang kecil sekalipun misalnya mau makan, mandi, tidur, atau mengerjakan tugas di sekolah, kantor maupun di rumah. Demikian penting doa dalam sejarah perjalanan kehidupan umat manusia.

Mengapa kita harus berdoa? Apakah doa itu? Apa bedanya doa dengan paritta? Pertanyaan itu sering muncul dalam kalangan masyarakat pada umumnya. Untuk mengetahui jawaban tersebut, pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu tentang diri manusia itu sendiri. Kehidupan umat manusia memiliki dua sisi, yaitu sisi batiniah dan lahiriah atau fisik dan batin. Kedua sisi kehidupan ini memerlukan faktor pengkondisi untuk perkembangan, kemajuan, dan kelangsungan proses hidupnya.

Sisi fisik membutuhkan penunjang seperti makanan dan minuman yang bergizi, bervitamin, dan berenergi, bahkan juga udara yang bersih dan tidak polusi, guna menjadikan badan kita sehat, kuat dan segar-bugar, sehingga jasmani kita tidak sakit-sakitan, lemah, lesu, loyo, dan badan kita dapat berfungsi baik dan normal.

Sisi batin juga membutuhkan faktor pengkondisi. Karena batin merupakan hal yang non materi, maka kebutuhan batin adalah non materi yakni hal-hal yang bersifat spiritual dan dalam Buddhis adalah Dhamma. Keteduhan, ketentraman, ketenangan, kedamaian, keheningan, kasih sayang, kesabaran, kesadaran, dan lainnya adalah makanan batin. Guna mewujudkan dan menghadirkan hal-hal tersebut di atas, maka manusia membuat kalimat doa-doa sesuai kebutuhannya.

Apa bedanya doa dan paritta? Dalam paham Buddhis, doa merupakan ungkapan-ungkapan batin yang dipenuhi harapan, atau spirit dan motivasi. Bagaimana kita berdoa secara Buddhis? Karena kita menyakini adanya hukum kamma, maka cara kita berdoa sebagai berikut: semoga dengan kekuatan jasa baik yang saya lakukan pada saat ini, hari ini dan juga di waktu yang lain membuahkan kemajuan, kesejahteraan, kebahagiaan dan lain-lain sesuai apa yang kita harapkan, dan ditutup dengan ucapan semoga semua makhluk berbahagia, semoga Tiratana memberkahi.

Paritta adalah khotbah Sang Buddha yang berisikan uraian-uraian Dhamma. Paritta mempunyai dua sisi kekuatan yakni: pertama, kekuatan spiritual/magis atau energi psikis, keberkahan dan perlindungan. Kedua, kekuatan pelaksana, praktik, penyelaman dan penghayatan.

Sejak jaman Buddha Gotama masih ada di tengah-tengah umat manusia, paritta telah diyakini memberikan manfaat keberkahan dan perlindungan. Beberapa paritta yang sangat populer dalam masyarakat Buddhis adalah Ratana Sutta, Karaṇīyametta Sutta, Khandha Paritta, Aṅgulimāla Paritta, Mora Paritta, Bojjhaṅga Paritta, Maṅgala Sutta, Āṭānāṭiya Sutta, Abhaya Paritta dan lainnya.

Beberapa kisah tentang kekuatan paritta diantaranya: Ratana Sutta dibacakan Sang Buddha saat kota makmur Vesali terancam bencana kelaparan, wabah penyakit, malapetaka, dan gangguan makhluk-makhluk jahat. Bhikkhu Ananda diinstruksikan untuk mengulang membaca Ratana Sutta dan berjalan mengelilingi penjuru kota Vesali dengan memercikan air yang telah diberkahi. Dengan kekuatan keberkahan Ratana Sutta, kota Vesali terbebas dari bencana, wabah penyakit, dan pengaruh makhluk jahat.

Karaṇīyametta Sutta diajarkan oleh Sang Buddha kepada 500 bhikkhu yang mengalami kesulitan saat mereka berlatih meditasi di hutan karena gangguan makhluk penghuni setempat. Setelah mereka mengulang dan mempraktikkan cinta kasih (karaṇīyametta) dan kembali ke hutan untuk berlatih meditasi, mereka pun terbebas dari gangguan lagi serta memperoleh keberkahan dan perlindungan.

Bagaimana paritta mempunyai kekuatan spiritual/magis atau energi psikis? Bilamana paritta dibaca dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi, hikmat dan disertai keyakinan mantap, maka paritta akan memiliki energi batin yang luar biasa. Paritta akan kehilangan kekuatannya karena tidak ada keyakinan, perbuatan jahat, dan kamma berat masa lampau. Oleh sebab itu, saat kita membaca paritta harus disertai dengan pemahaman terhadap makna yang terkandung di dalamnya dan dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi, hikmat dan disertai keyakinan sehingga batin dan pikiran kita menjadi tenang, sejuk, teduh, tentram, damai, gembira, suka cita, dan bahagia. Seperti makna yang terkandung dalam Karaṇīyametta Sutta dimana yang mengajak kita untuk menuju pada kedamaian, kita harus menjadi orang yang jujur, tulus, lemah-lembut, tidak sombong, mudah dinasehati, bersahaja, berindria tenang, tidak tercela dan penuh cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas di manapun berada dan akan membawa seseorang tak terlahir dalam rahim manapun juga. Itulah sesungguhnya energi dan kekuatan nyata yang kita miliki karena paritta.

Kalau kondisi batin tersebut di atas terus kita jaga dan kembangkan, maka energi yang ada akan memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan badan jasmani. Energi juga memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar kita, dan akan menjadi kekuatan yang melindungi.

Apa bedanya Doa dengan Paritta? Doa merupakan ungkapan hati yang tidak ada tuntunan untuk kita jalankan, bahkan sering isinya hanya permintaan, permohonan, dan kala tertentu justru menimbulkan gejolak batin karena yang dimohon tidak terkabul. Namun, paritta saat dibaca pun telah memberikan berkah ketenangan, kedamaian, keteduhan, kesejukan, ketentraman, kegembiraan, dan kebahagiaan karena yang kita baca langsung menuntun untuk praktik, menghayati dan menyelami seperti dalam Karaṇīyametta Sutta, guna memperoleh kedamaian maka kita harus cakap, jujur, tulus, lemah-lembut, tidak sombong, mudah dinasehati, bersahaja, berindria tenang, tidak tercela, dan penuh cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas. Oleh karena itu, mari kita membaca paritta untuk ketenangan, ketentraman, keberkahan, dan perlindungan.

Oleh: Bhikkhu Dhammakaro
20 Januari 2008
dan skilas stlah mmbca, hmm, distu ada tulis semoga tiratana memberkahi, pertnyaannya, apakah tiratana bs beri berkah???
« Last Edit: 08 November 2009, 11:11:56 PM by Johsun »
CMIIW.FMIIW.

Offline Forte

  • Sebelumnya FoxRockman
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 16.588
  • Reputasi: 458
  • Gender: Male
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #21 on: 08 November 2009, 11:10:01 PM »
[at] forte,
brarti prinsip loA, apa yg dipikirkan bs sj terjadi ,dlm tahap kemungkinan.
Jadi apabila seseorang berdoa, dapat mengkndisikan pkirannya,dpt memanipulasi pkirannya, dapat membuat pkirannya jdi lebih terpusat pd hrapannya. Mka kesimpulannya sbnarnya doa itu adalah alat untk mmpengaruhi pikiran, benar gak?


ya namun jika doa tidak terkabul oleh "tuhan" muncul ketidakpuasan bukan ?
padahal tidak terkabulnya "doa" itu menurut Buddhism karena kondisi kamma tidak mencukupi agar terkabulnya "doa" tersebut.
Jadi dalam hal ini tidak ada kaitannya dengan tuhan, jadi tidak perlu merasa tidak puas.. :D
Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedom—-to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. - Viktor Frankl

Offline Johsun

  • Sebelumnya Jhonson
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.503
  • Reputasi: -3
  • Gender: Male
  • ??
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #22 on: 08 November 2009, 11:28:43 PM »
 [at] forte, iy bner, sbnrny gw jg pcya hkum kamma pd masa kehdupan lampau, tpi tak dipungkiri doa bs membantu sikap mental seseorng dlm hdapi suatu problem kehdupan.
Dan doa jg bkan smata-mata buat diri pribadi dan terikat waktu dan tempat,dan sbnrnya doa dpt dpnjatkn untk mendoakn yg lain, juga tiada trikat waktu dan tempat, dan jg dpt dilakukan stiap saat. Itu pngrtian doa mnrtku.
« Last Edit: 08 November 2009, 11:30:16 PM by Johsun »
CMIIW.FMIIW.

Offline Johsun

  • Sebelumnya Jhonson
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.503
  • Reputasi: -3
  • Gender: Male
  • ??
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #23 on: 08 November 2009, 11:34:41 PM »
Kesimpulan gw, jdi buddhisme sbnrnya gak mgajarkn doa melainkan paritta2...Yg mana paritta2 trtentu juga mengandung keberkahan, perlindungan, keselamatan,dsb, bgi mereka yg membacanya, dngan syarat adanya keyakinan dan adanya suatu dukungan karma baik...Jdi faktor keyakinan mempengaruhi kekuatan paritta untk bkerja dlm hal kberkahan, perlindungan,dsb.
CMIIW.FMIIW.

Offline Adhitthana

  • Sebelumnya: Virya
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.509
  • Reputasi: 239
  • Gender: Male
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #24 on: 08 November 2009, 11:40:33 PM »
^
^
tambahin  ;D

Faktor Kebenaran Parrita itu dan Prilaku moral yg baik (Sila)bagi yg membacakan berpengaruh besar terhadap
makna dari Parrita itu .....

  Aku akan mengalami Usia tua, aku akan menderita penyakit, aku akan mengalami kematian. Segala yang ku Cintai, ku miliki, dan ku senangi akan Berubah dan terpisah dariku ....

Offline hartono238

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 295
  • Reputasi: 8
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #25 on: 09 November 2009, 11:12:43 AM »
[at] citadevi, btul kita mesti brusaha...Tapi mengapa sdr.Hartono mengajak umat buddhist ikut bersama brdoa di thread info dan pengumuman?

nama saya disebut sih, kalau ngak disebut, saya ngak bakal ikut campur, kalau doa itu harapan kepada yang esa dalam kamus besar bahasa indonesia, itu karena kamus itu ada di negara pancasila, coba kalau saya ambil dari kamus di china "Doa adalah tindakan mengatasi dewa atau roh untuk tujuan penyembahan atau permohonan. [1] Spesifik bentuk ini dapat mencakup pujian, meminta bimbingan atau bantuan, mengakui dosa, sebagai suatu tindakan perbaikan atau ekspresi seseorang pikiran dan emosi . Kata-kata yang digunakan dalam doa dapat mengambil bentuk syafaat, sebuah nyanyian, mantra, kata-kata syukur, atau ucapan spontan dalam berdoa orang kata-kata. Berdoa dapat dilakukan di depan umum, sebagai kelompok, atau secara pribadi"

Offline Peacemind

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 970
  • Reputasi: 74
Re: Buddhist ada mengajarkan doa atau tidak??
« Reply #26 on: 10 November 2009, 07:35:50 AM »
Dalam agama Buddha, paritta, secara literal, bermakna "perlindungan". Beberapa paritta diajarkan oleh Sang BUddha sendiri, dan banyak paritta muncul belakangan. Paritta dibaca dengan tujuan untuk memberikan perlindungan pada si pembacanya dari bahaya2 tertentu. Sebagai contoh, Khandhaparitta dari Anguttaranikāya dibaca supaya seseorang tidak diganggu oleh ular, Dhajjagaparitta dari Samyuttanikāya dibaca supaya seseorang bebas dari ketakutan apabila berada di tempat2 sunyi, dan Āṭānatiyaparitta dari Dīghanikāya digunakan supaya seseorang tidak diganggu oleh yakkha atau makhluk halus.

Meskipun beberapa paritta yang dicontohkan di atas bertujuan untuk melindungi seseorang dari bahaya2 tertentu, kita bisa melihat bahwa paritta2 tersebut bukan hanya sekedar tulisan yang tidak bermakna atau tulisan2 yang menggunakn bahasa tidak  dimengerti seperti layaknya mantra2 kuno. Paritta di atas merupakan sebuah ajaran yang harus dipraktikkan oleh si Pembaca. Sebagai contoh, dalam Dhajjagaparitta, seseorang dianjurkan untuk memiliki keyakinan terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha. Keyakinan itulah yang sesungguhnya mampu melenyapkan ketakutan. Jika seseorang tidak memiliki keyakinan terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha, meskipun ia membaca Dhajaggaparitta puluhan kali pada saat ketakutan muncul, ketakutan tidak akan lenyap. Kalaupun lenyap, itu pun bukan kekuatan keyakinan terhadap Tiratana seperti yang seharusnya dimiliki seseorang ketika membaca paritta tersebut.

Kesimpulannya, paritta memiliki makna yang lebih luas dan berarti dibandingkan dengan doa pada umumnya.

Be happy.

 

anything