//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Show Posts

This section allows you to view all posts made by this member. Note that you can only see posts made in areas you currently have access to.


Messages - Sunyata

Pages: 1 2 3 [4] 5 6 7 8 9 10 11 ... 72
46
Rekan Sunyata yang berbahagia, bagi saya esensi dari penyebutan badut maupun belut adalah ketidakhormatan seseorang pada pihak lain, entah itu seorang individu yang dibicarakan, maupun teman diskusi yang bersangkutan.

Jika saja penyebutan badut, belut dan lain-lain bisa digunakan dalam forum resmi, rapat kenegaraan maupun diskusi-diskusi formal kemasyarakatan, termasuk dalam forum agama, maka saya rasa bukan masalah. Yang menjadi masalah, ketika suatu hal dianggap tidak lumrah, tapi tetap digunakan (dengan alasan tidak hormat / disrespect, dan lain-lain) maka sewajarnya saya mempertanyakan atau juga membantu mengingatkan.

Saya kira Anda juga cukup arif dan memiliki pergaulan luas, untuk mengetahui makna konotasi dari sebutan badut maupun nama binatang kepada seseorang, sehingga saya kira ini tidak layak diperpanjang. Kecuali, jika tentunya Anda menganggap sebutan itu wajar dan juga tidak menyalahi kaidah sopan santun dan saling menghargai, terutama ucapan benar dalam ajaran Buddha, saya pribadi mempersilakan Anda menentukan sikap dan pilihan hidup Anda. Mulut, pikiran dan anggota tubuh kita, kita sendiri yang menjaganya, bukan?

Salam bersih hati (pikiran), bersih ucapan dan tindakan.

Semoga berbahagia.  _/\_
Baiklah, Bapak Sunya. Saya tidak dapat menyalahkan anda jika anda ingin mengingatkan member lain. Juga sehubungan tradisi dan aktivitas tidak saya bahas lagi karena menurut anda, esensilah yg terpenting. Diskusi yg aneh memang, tapi saya akhiri saja.

Salam bahagia.

47
Seremonial / Re: Happy Birthday to Cumi Polos (Sacheng) ;D
« on: 10 May 2013, 07:48:53 AM »
Happy birthday om cumi.

48
Juga saat master Lu disebut badut anda lebih memerhatikan kata badut ketimbang esensinya. Mohon Bapak Sunya memberikan kejelasan sehubungan dengan esensi penting dan kata-kata hanya sarana untuk menyampaikannya.

Di sini Bapak Sunya juga memerhatikan kata-kata. Sudahkah Bapak Sunya menangkap makna yang disampaikan dalam tulisan tersebut? Alih-alih mempersoalkan kata-kata yang juga tidak prinsip sifatnya. :)

49
Mohon maaf, rekan Sunyata, saya lihat Anda lebih memperhatikan kata-kata daripada substansi dari sebuah tulisan. Jika memang Anda demikian teliti membaca kata per kata (bukan inti dan makna dari tulisan), mengapa Anda tidak menyadari bahwa saya tidak menulis seperti yang Anda beri tanda petik di atas?

Dalam komunikasi maupun dharma, bagi saya yang terpenting adalah esensi, substansi, inti dan maksud dari sebuah ayat, kutipan, tulisan maupun perkataan dari pihak yang kita dengar atau baca. Kata-kata adalah sarana, alat, bukan inti dari yang mau disampaikan.

Sudahkah Anda menangkap makna yang saya sampaikan dalam tulisan tersebut? Alih-alih mempersoalkan kata-kata yang juga tidak prinsip sifatnya. :)

Salam.  _/\_
Baiklah, itu kesalahan saya. Anda memang tidak menulis "ini bukan aktivitas Buddhis", tetapi "ini adalah aktivitas Buddhis", benar begitu?

Aneh memang, tapi ketika anda dipanggil belut anda lebih memerhatikan kata belut dari pada esensinya. Sekarang malah menasihati orang lain.

50
Anda tidak menangkap esensi tulisan. Makan petai, membaca surat kabar, mengemudi, mengakses forum Dhammacitta, semua adalah aktivitas Buddhis. Pengakuan yang Anda sebut terjadi karena ada upaya asosiasi (penyamaan) aktivitas Buddhis dengan ajaran Buddhisme. Contohnya, jika suatu hari setiap setelah khotbah dharma lalu umat diberi makan petai, maka akan muncul stigma (kesan) dimana makan petai adalah tradisi Buddhis, minimal setelah khotbah dharma. Ini juga terjadi pada saat jaman Orde Baru, dimana agama Buddha, Tao, dan Konghucu disatukan dalam satu wadah - agama Buddha, sehingga ada stigmatisasi bahwa tradisi tertentu merupakan ajaran agama tertentu, atau istilah mudahnya ketiga tradisi dan agama yang disatukan, jadi tercampur-aduk.

Sama halnya, jika Anda kurang mengerti contoh di atas, Anda bisa ambil contoh budaya duduk di lantai dalam mendengarkan khotbah. Ini juga bukan diajarkan secara baku, tapi turun temurun dari jaman Sang Buddha hingga sekarang. Yang terbaru, duduk dengan bantal setebal sekian sentimeter, ini juga budaya yang akan jadi stigma seiring dibiasakannya dalam waktu yang lama. Tentu boleh-boleh saja, jika suatu hari ada pelurusan dan klarifikasi dari umat Buddha, bahwa duduk di lantai, duduk dengan bantal meditasi, menyanyi setelah selesai khotbah, mengucapkan anumodana lebih sering daripada terima kasih, menggunakan bahasa Pali, dlsb adalah bukan tradisi Buddhis(me). Cuma, yang perlu diingat: Jangan menyampaikannya secara tidak sopan. Saya kira, Buddha Gautama sendiri tidak pernah menyebut tokoh aliran lain dengan sebutan-sebutan yang kurang pantas. Buddha Gautama, bahkan berpesan jika ajaran-Nya sendiri yang dijelekkan dan/atau dipuji, haruslah sang murid tidak terganggu (sedih, marah, senang, tinggi hati, dsb) atas hinaan/pujian yang diterimanya.

Berkata-kata tidak pantas hanya akan menjadi praktek ucapan dan pikiran yang buruk, terlepas dari yang dikatakannya benar atau tidak.

Menghakimi pencuri dengan dalih bahwa ia adalah pencuri, merupakan sebuah upaya pembenaran atas tindakan/perbuatan jahat.
Mengucapkan kata-kata tidak pantas pada kepercayaan yang dianut makhluk lain dengan alasan bahwa ia menyimpang dari ajaran Buddha dan mengaku-ngaku sebagai bagian dari ajaran Buddha, adalah upaya pembenaran atas sebuah perbuatan jahat dengan pikiran dan ucapan.

Secara substansi, tidak ada bedanya penghakiman pencuri dengan ucapan kurang pantas pada tokoh agama atau aliran lain. Dilihat dari sisi apapun tetap salah. :)

Salam. _/\_
Bapak Sunya, di post anda sebelumnya anda menulis "ini bukan tradisi Buddhis" dan di post ini anda menulis "ini bukan aktivitas Buddhis". Post saya di atas merespon  mengenai tradisi Buddhis yg anda sampaikan di post2 sebelumnya, bukan aktivitas Buddhis yg anda sampaikan di post ini. Mungkin tradisi dan aktivitas itu bersinonim? Jujur saya kurang tau.

51
Makan petai, membuat puisi, berdansa, menabung di bank, membaca surat kabar, juga tidak ada di tradisi Buddhis. Apakah ini dilarang dilakukan?

Sebagian makhluk punya kemelekatan tertentu, baik dari sisi batin maupun fisik (rupa).

Makhluk awam sering cenderung fanatik sempit pada kepercayaannya, sehingga hal-hal di luar kepercayaannya selalu ditolak walau belum diketahui kebenaran maupun ketidakbenarannya.

Jika saja ada di antara para skeptis Buddhis yang mempunyai kemampuan batin dan melihat arwah-arwah yang baru meninggal, melihat apa yang mereka butuhkan, baru mereka berkata (seharusnya), "Biar Papa saya tidak usah dikirimi apa-apa, ini tidak ada di tradisi Buddhis. Biar Mama saya berjalan tanpa alas kaki dan pakaian - dia tidak memerlukannya, cuma menambah kemelekatan saja. Biar saudara saya tidak memiliki tempat berteduh, kami tidak membakar rumah kertas karena tidak ada di tradisi kepercayaan kami."

Yang skeptis terhadap tradisi non-Buddhis, silakan hidup di dunia dengan 100% tradisi Buddhis. Sudahkah kalian menjalankannya?

Jika sudah mampu, silakan meninggal tanpa tradisi di luar Buddhis, pesanlah pada sanak-saudara kalian, bahwa seluruh prosesi pemakaman/kremasi hanya menggunakan tradisi Buddhis.

Demikian semoga teori dan praktek bisa sejalan.

Saya bukan aliran TBS, sama sekali tidak mengenal dan mengidolakan Master Lu. Bagi saya (Buddhis) semua tradisi yang bermanfaat bagi makhluk, selama memang dibutuhkan dan tidak merugikan secara signifikan, maka dapat dilakukan dengan dasar pertimbangan welas asih dan kebijaksanaan. Kemelekatan tidak mungkin dilepaskan secara ekstrim, tapi dengan jalan tengah; perlahan tapi pasti.

Jadi, siapa yang mau mati tanpa diiringi tangis keluarga, tanpa acara bernyanyi, tanpa kain putih dan tanpa permen serta makanan persembahan?

Mari, berikan komitmen Anda disini. Teori dan praktek harus sejalan. Bukan begitu?

Salam.  _/\_
Bapak Sunya, saya kira permasalahannya adalah seseorang mengaku tradisi bakar-bakar ini adalah bagian dari ajaran Buddha, padahal bukan. Jadi gak ada hubungannya sama makan petai karena tidak ada yg mengaku makan petai adalah ajaran Buddha.

Juga, Bapak Sunya, di sini member memberikan pendapat mereka dan tidak ada yg menulis bahwa mereka menolak tradisi bakar-bakar.

Lalu, Bapak Sunya, jika di sini member meluruskan bahwa suatu ajaran/praktik bukan ajaran Buddha, itu bukan berarti mereka menolaknya, tetapi mencegah agar ajaran Buddha yg sekarang tidak tercampuraduk lebih banyak lagi dengan tradisi dan kepercayaan lain, CMIIW.

52
Sains / Re: Evolusi
« on: 04 May 2013, 01:49:05 PM »
Spoiler: ShowHide

Spoiler: ShowHide


Foto-foto mudskipper. Kaki belakangnya kok gak ada ya?

53
Sains / Re: Evolusi
« on: 04 May 2013, 07:21:11 AM »
Apakah: sayap adalah bentuk evolusi dari tangan dan tangan dari kaki depan dan kaki depan dari sirip? Thanks before.

54
katanya sistem pendidikan saat ini membunuh kreativitas.

55
Personality / Re: arti mana kamu, try it
« on: 30 April 2013, 09:43:23 PM »
A: hot!
R: jago di ranjang.
D: suka menendang pantat org.
B: suka bergaul dan sex.
:))

56
Personality / Re: arti mana kamu, try it
« on: 30 April 2013, 09:40:34 PM »
S: suka membuat org tersenyum.
U: sangat sexy.
N: sulit jatuh cinta.
Y : bisa menjadi orang yg lucu dan >konyol secara bersamaan.
A: hot!
T: imut !!!
A: hot!

::)

57
Game / Re: Games Sambung Tiga Kata
« on: 30 April 2013, 06:35:38 AM »
manusia dan mengakibatkan

58
Sains / Re: Ternyata "Alien" Sudah di Bumi Membaur dengan Manusia
« on: 29 April 2013, 03:30:56 PM »
NO PICS = HOAX
IMO, tidak ada gambar belum tentu hoax, ada gambar belum tentu bukan hoax.

59
Kafe Jongkok / Re: Curhat Kamu
« on: 29 April 2013, 07:16:52 AM »
harus nunggu 720 jam semuanya...
kemarin baru bagi2 hadiah... ;D
Maksudnya oleh2 dari Sabang lho.

60
Game / Re: Games Sambung Tiga Kata
« on: 28 April 2013, 10:26:45 PM »
merasakan hatinya berbunga-bunga

Pages: 1 2 3 [4] 5 6 7 8 9 10 11 ... 72