//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: sila ke 3  (Read 25432 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: sila ke 3
« Reply #60 on: 17 July 2011, 12:48:06 PM »
Mungkin maksudnya: seorang pembunuh melakukan pembunuhan. Setelah membunuh, orang itu tertidur. Apakah menurut anda pembunuh itu melakukan pelanggaran atau tidak?

Apakab benar maksudnya seperti itu?
Jika iya, tentu saja (setelah) membunuh adalah pelanggaran sila ke-1. Dia tertidur setelah perbuatan membunuh. Bukan sebelum membunuh.

Btw, pembahasan jadi keluar dari topik pelacur, pelacuran dan sila-3.

benar itu yg saya maksudkan, sengaja saya bawa OOT sedikit untuk memberikan analogi lain yg nantinya akan saya kembalikan ke topik semula.

jika pembunuh itu melakukan pelanggaran karena tertidur setelah membunuh, bagaimana dengan pelacur yg berisitirahat setelah praktek? apakah pelacur itu melakukan pelanggaran atau tidak?

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
Re: sila ke 3
« Reply #61 on: 17 July 2011, 12:54:57 PM »
bisa bantu berikan contohnya bro, soalnya saya tidak melihat di musuhi lingkungannya? apa saya terlewat dalam membacanya?

Kalo mau bukti konkrit:
Coba anda suruh istri anda menyewa pelacur buat anda (kalo perlu threesome), kalo bisa dipamerin biar orang2 pada tahu, trus liat reaksi keluarga dan masyarakat sekitar. Kalo banyak yang memuji atau minimal diam2 saja, berarti kalimat tersebut salah.
(jangankan menyewakan, mendengar permintaan untuk disewakan saja sudah menimbulkan permusuhan)

Saya tidak tahu soal Uttara, saya hanya merespon pertanyaan anda dengan kalimat yang saya temukan, mencari sutta yang mengandung kalimat yang saya kutip tersebut adalah usaha saya untuk mempelajari topik, karena saya tidak berhasil mendapatkan sutta lengkapnya sendiri maka saya meminta bantuan rekan2 yang mungkin bisa membantu mendapatkannya.

Apakah anda bisa bantu dengan sutta yang berisi kisah Uttara, keknya menarik tuh.


Perjinahan, melakukan sendiri, menganjurkan, mengijinkan, ini membawa orang terlahir di alam neraka, di alam binatang, di alam setan; atau sekurang-kurangnya menjadikan orang itu akan dimusuhi oleh lingkungannya.
(Anguttara Nikaya VII, 4:4)

Ada yang bisa bantu Sutta lengkap yang berisi kalimat di atas?
yaa... gitu deh

Offline Huiono

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 492
  • Reputasi: 32
  • Gender: Male
  • Hmm...
Re: sila ke 3
« Reply #62 on: 17 July 2011, 01:02:25 PM »
benar itu yg saya maksudkan, sengaja saya bawa OOT sedikit untuk memberikan analogi lain yg nantinya akan saya kembalikan ke topik semula.

jika pembunuh itu melakukan pelanggaran karena tertidur setelah membunuh, bagaimana dengan pelacur yg berisitirahat setelah praktek? apakah pelacur itu melakukan pelanggaran atau tidak?
Pelanggaran atau tidak, kondisi pendukungnya sudah di jelaskan Tuwino. Apabila si pelacur tahu: pelanggan berada di bawah perlindungan orang tua atau sudah menikah/ bertunangan. Maka pelacur itu telah melakukan pelanggaran. Tetapi jika kondisi pendukung itu tidak ada. Maka pelacur itu tidak melakukan pelanggaran. Begitu juga jika pelacur itu dibohongi oleh pelanggan bahwa pelanggan sudah mandiri, masih lajang, padahal kenyataannya tidak, maka pelacur itu tidak melakukan pelanggaran.

Benar kata Ryu. Diskusi ini hanya putar-putar di tempat. Jika anda hanya main-main, sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Tetapi jika tujuan anda untuk mencari perspekstif lain, diskusi ini ada baiknya. Meski tidak sepenuhnya berguna.
"During times of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act"
                                                                                                   -George Orwell

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: sila ke 3
« Reply #63 on: 17 July 2011, 01:15:20 PM »
Kalo mau bukti konkrit:
Coba anda suruh istri anda menyewa pelacur buat anda (kalo perlu threesome), kalo bisa dipamerin biar orang2 pada tahu, trus liat reaksi keluarga dan masyarakat sekitar. Kalo banyak yang memuji atau minimal diam2 saja, berarti kalimat tersebut salah.
(jangankan menyewakan, mendengar permintaan untuk disewakan saja sudah menimbulkan permusuhan)

Saya tidak tahu soal Uttara, saya hanya merespon pertanyaan anda dengan kalimat yang saya temukan, mencari sutta yang mengandung kalimat yang saya kutip tersebut adalah usaha saya untuk mempelajari topik, karena saya tidak berhasil mendapatkan sutta lengkapnya sendiri maka saya meminta bantuan rekan2 yang mungkin bisa membantu mendapatkannya.

Apakah anda bisa bantu dengan sutta yang berisi kisah Uttara, keknya menarik tuh.

 saya hanya melihat pada sutta itu bro, disitu tidak ada di jelaskan , coba bro lihat yang ini,
Quote
Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih
dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati,
dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

Kisah Uttara Seorang Umat Awam

Uttara adalah putri dari Punna, seorang buruh tani yang bekerja pada pria kaya bernama Sumana di Rajagaha. Suatu hari, Punna dan istrinya berdana makanan kepada Sariputta Thera di saat beliau baru saja mencapai keadaan pencerapan mental yang dalam (nirodha sampatti).
Sebagai akibat dari perbuatan baik itu, mereka mendadak menjadi kaya.
Punna menemukan emas di tanah yang ia bajak, dan secara resmi raja menyatakan Punna sebagai seorang bankir yang besar.

Pada suatu kesempatan, Punna sekeluarga berdana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu selama tujuh hari, dan pada hari ketujuh, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka sekeluarga mencapai
tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Uttara, putri Punna menikah dengan anak Sumana. Keluarga Sumana bukan keluarga Buddhis, sehingga Uttara tidak merasa bahagia di rumah suaminya. Iapun bercerita kepada ayahnya, Punna, "Ayah, mengapa
ayah mengurung saya di kandang ini ? Di sini saya tidak melihat para bhikkhu dan saya tidak memiliki kesempatan berdana kepada para bhikkhu."

Punna menjadi menyesal dan ia segera memberi uang sebesar 15.000 kepada Uttara. Setelah mendapat ijin dari suaminya, Uttara menggunakan uangnya untuk menyewa seorang wanita untuk menggantikan dirinya memenuhi kebutuhan suaminya. Akhirnya ditetapkan bahwa Sirima, seorang pelacur yang sangat cantik dan terkenal, menggantikannya sebagai seorang istri selama 15 hari.

Selama waktu itu, Uttara memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Pada hari ke lima belas, saat ia sibuk menyiapkan makanan di dapur, suaminya melihat dari balik jendela kamar dan tersenyum seraya bergumam pada dirinya sendiri, "Betapa bodohnya ia.
Dia tak tahu cara bersenang-senang. Dia selalu menyibukkan diri dengan upacara pemberian dana."

Sirima melihat suami Uttara tersenyum pada Uttara, ia menjadi sangat cemburu pada Uttara, ia lupa bahwa dirinya hanya sebagai istri pengganti yang dibayar. Menjadi tak terkendali, segera Sirima pergi ke dapur dan mengambil sesendok besar mentega panas dengan maksud mengguyurkannya di kepala Uttara. Uttara melihatnya datang, namun ia tidak memiliki maksud buruk pada Sirima. Ia menyadari, berkat Sirimalah ia dapat mendengarkan Dhamma, berdana makanan, dan berbuat kebaikan lainnya, sehingga ia merasa berterima kasih pada Sirima.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa Sirima datang mendekat dan hendak menuangkan mentega panas ke arahnya, iapun berseru, "Bila aku memiliki maksud buruk terhadap Sirima, biarlah mentega panas ini melukaiku, tapi bila aku tidak memiliki maksud buruk padanya, mentega panas ini tak akan melukaiku."

Karena Uttara tidak memiliki maksud buruk terhadap Sirima, mentega panas yang dituang di kepalanya hanya terasa bagai air dingin. Sirima berpikir pasti mentega itu telah menjadi dingin saat dituangkan, maka ia bermaksud mengambil mentega panas yang lain. Saat hendak menuangkan mentega panas tersebut, pelayan-pelayan Uttara menyerang dan memukulnya keras-keras. Uttara menghentikan para pelayannya dan menyuruh mereka mengobati luka Sirima dengan balsam.

Akhirnya Sirima teringat akan kedudukannya yang sebenarnya, dan ia menyesal bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap Uttara, dan meminta Uttara mengampuninya. Uttarapun menjawab, "Aku memiliki seorang ayah. Aku harus bertanya kepadanya apakah aku harus menerima permintaan maafmu." Sirima berkata bahwa ia siap pergi memohon pengampunan pada Punna, ayah Uttara.

Uttara menjelaskan padanya, "Sirima, saat aku mengatakan 'ayahku', maksud saya bukan ayahku yang sebenarnya, yang membawaku pada rantai kelahiran kembali ini. Yang kumaksud 'ayahku' adalah Sang Buddha, yang
telah menolongku memotong rantai kelahiran kembali, yang telah mengajariku Dhamma, kebenaran sejati."

Sirima pun memohon untuk bertemu dengan Sang Buddha. Sehingga pada hari berikutnya direncanakan Sirima akan menyerahkan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.

Setelah bersantap, Sang Buddha diberitahu perihal Sirima dan Uttara.
Kemudian Sirima mengakui bahwa ia telah berbuat kesalahan terhadap Uttara dan memohon Sang Buddha apakah ia dapat dimaafkan, karena jika tidak, Uttara tidak akan memaafkannya. Kemudian Sang Buddha bertanya
kepada Uttara bagaimana perasaannya saat Sirima menyiramkan mentega panas ke arahnya.

Uttara pun menjawab, "Bhante, karena saya telah berhutang budi pada Sirima, saya tetap tidak naik darah, tidak memiliki maksud buruk padanya. Saya selalu memancarkan cinta saya kepadanya."

Lalu Sang Buddha berkata "Bagus, bagus, Uttara! Dengan tidak memiliki maksud jahat, kau telah mengatasi mereka yang berbuat kesalahan padamu. Dengan tidak melukai, kau dapat mengatasi mereka yang melukaimu. Dengan bermurah hati kau dapat mengatasi orang kikir, dengan berbicara benar kau dapat mengatasi mereka yang berbohong."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 223 berikut :

Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih
dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati,
dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran.

Sirima dan lima ratus wanita mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Source :

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=526
http://www.dhammapada.ws/
« Last Edit: 17 July 2011, 01:17:29 PM by wang ai lie »
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: sila ke 3
« Reply #64 on: 17 July 2011, 01:24:29 PM »
Kalo mau bukti konkrit:
Coba anda suruh istri anda menyewa pelacur buat anda (kalo perlu threesome), kalo bisa dipamerin biar orang2 pada tahu, trus liat reaksi keluarga dan masyarakat sekitar. Kalo banyak yang memuji atau minimal diam2 saja, berarti kalimat tersebut salah.
(jangankan menyewakan, mendengar permintaan untuk disewakan saja sudah menimbulkan permusuhan)

Saya tidak tahu soal Uttara, saya hanya merespon pertanyaan anda dengan kalimat yang saya temukan, mencari sutta yang mengandung kalimat yang saya kutip tersebut adalah usaha saya untuk mempelajari topik, karena saya tidak berhasil mendapatkan sutta lengkapnya sendiri maka saya meminta bantuan rekan2 yang mungkin bisa membantu mendapatkannya.

Apakah anda bisa bantu dengan sutta yang berisi kisah Uttara, keknya menarik tuh.
Quote
Perjinahan, melakukan sendiri, menganjurkan, mengijinkan
muncul nya kisah uttarapun setelah melihat bro hendrako , yang di situ tertulis ada kata menganjurkan , mengijikan, dan saya pun teringat sutta yang menceritakan soal itu. disitu tidak di jelaskan detail apa mendapat di musuhi oleh lingkungan.  oleh sebab itu saya bertanya.
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: sila ke 3
« Reply #65 on: 17 July 2011, 01:32:14 PM »
btw bukannya topik ini sudah pernah di bahas?

benar sudah sih bro, hasilnya kalau di sini tidak melanggar sila, tetapi entah pada saat di BS mengatakan tidak melanggar  malah mendapat pernyataan seperti di atas...  jadi saya tanyakan di sini , yang benar sebenarnya gimana , takutnya saya salah mengerti dan salah menafsirkan. di bs ada bhikku mengatakan tidak melanggar tapi di delete keliatannya postingan itu ... tau dah yang bener yang mana
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline Mas Tidar

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.262
  • Reputasi: 82
  • Gender: Male
Re: sila ke 3
« Reply #66 on: 17 July 2011, 01:36:21 PM »
Ardi Cohara  [at] WAL: sy hrp anda buat wallpost baru yg khusus menanyakan perihal hal ini kpd para bhikkhu lainnya, selain samanera santacitto jk pendapat samanera santacitto masih blm dapat anda terima..Nmn sy harap anda tdk melegalkan praktek pelacuran dg pandangan/opini anda ini.. Ini menurut saya akan berdampak berbahaya bagi masa depan bangsa dan negara, dan generasi umat buddha pd khususnya..'Kita' juga akan mendapat 'malu'..
------------------------------​------------------------------​------------------------------​----------
untuk melanjutkan permintaan diatas , saya ingin bertanya kepada siapapun yang mengerti , memahami, mengetahui,mengenai sila3 yang berkaitan dengan "pelacur" .apakah pelacur melanggar sila ke 3. karena sebagian orang mengatakan melanggar dan sebagian lagi tidak, jadi yang benar yang mana. untuk para bhikku diharap berkenan memberikan petunjuknya. anumodana _/\_

selain menanyakan hal di atas , saya pun ingin bertanya kepada member DC , sebenarnya apa yang menentukan hal yang melanggar dengan sila ke 3 dan seperti pertanyaan di atas juga. lantas apakah (untuk yang saya bold) umat buddhis akan malu?


ikut nimbrung (pendapat pribadi):
- Ada kebenaran yang diakui oleh Negara
- Ada kebenaran yang diakui oleh adat isitiadat / budaya /lingkungan sekitar
- Ada kebenaran yang mengacu pada Dhamma

jadi 3 kondisi itu harus dipisahkan secara jelas.


dengan rujukan sila yang ditulis oleh Chloe Kwan di "Abhidhamma Study Group" http://www.facebook.com/groups/Abhidhammastudy?ap=1

C. Sila Ketiga : menahan diri dari pemuasan nafsu seks dengan cara yang salah


a. Ada empat faktor untuk dapat disebut berzinah

1) Ada obyek yang tidak patut digauli

2) Mempunyai pikiran untuk menyetubuhi obyek tersebut

3) Berusaha menyetubuhi

4) Berhasil menyetubuhi, dalam arti berhasil memasukkan alat kemaluannya ke dalam salah satu dari tiga lubang (mulut, anus, atau liang peranakan) walau-pun hanya sedalam biji wijen



b. Obyek dari pelanggaran Sila Ketiga

1) Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Ketiga oleh laki-laki

- Wanita yang telah menikah

- Wanita yang masih di bawah pengawasan atau asuhan keluarga

- Wanita yang menurut kebiasaan (adat istiadat) dilarang, yaitu :

    * Mereka dilarang karena tradisi keluarga, masih dalam satu garis keturun-an yang dekat

    * Mereka dilarang karena tradisi (peraturan) agama. Dalam tradisi Therava-da disebutkan : Upasika Atthasila, bhikkhuni di jaman dulu

    * Mereka dilarang karena hukum negara pada jaman dulu, misalnya selir raja

2) Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Ketiga oleh wanita

- Laki-laki yang telah menikah

- Laki-laki yang berada di bawah peraturan agama, misalnya bhikkhu, sama-nera



c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Ketiga yang harus juga ki-ta hindari

1) Berzinah (melakukan hubungan kelamin bukan dengan suami/isterinya)

2) Berciuman dengan lain jenis kelamin yang disertai nafsu berahi

3) Menyenggol, mencolek, dan sejenisnya yang disertai dengan nafsu berahi



d. Akibat dari melanggar Sila Ketiga

1) Mempunyai banyak musuh

2) Dibenci banyak orang

3) Sering diancam dan dicelaka
i
4) Terlahirkan sebagai banci/waria atau wanita

5) Mempunyai kelainan jiwa

6) Diperkosa orang lain

7) Sering mendapat aib/malu

8) Tidur maupun bangun dalam keadaan gelisah

9) Tidak begitu disenangi oleh laki-laki maupun perempuan

10) Gagal dalam bercinta

11) Sukar mendapat jodoh

12) Tidak memperoleh kebahagiaan dalam hidup berumah-tangga

13) Terpisahkan dari orang yang dicintai


disini uraian diatas mempertentangkan point b.1 & b.2 kecuali Pria yg belum menikah. si Pria dan "Teman Kencan"-nya tidak melakukan pelanggaran Sila ke 3.



mohon koreksi-nya kalau ada yang kurang
salam,
Saccena me samo natthi, Esa me saccaparamiti

"One who sees the Dhamma sees me. One who sees me sees the Dhamma." Buddha

Offline ryu

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 13.404
  • Reputasi: 429
  • Gender: Male
  • hampir mencapai penggelapan sempurna ;D
Re: sila ke 3
« Reply #67 on: 17 July 2011, 01:44:50 PM »
Ayo yg susah dapet jodo jangan2 akibat melanggar sila ke3 =))
Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh diri sendiri. Tetapi, perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain =))

Offline tuwino gunawan

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 272
  • Reputasi: 8
  • Gender: Male
Re: sila ke 3
« Reply #68 on: 17 July 2011, 02:21:49 PM »
kalau begitu, jika pelanggan lokalisasi diharuskan mengisi formulir yg berisi daftar pernyataan2 di atas, maka bisnis pelacuran menjadi sah menurut agama Buddha, begitukah?

pandangan pribadi saya : meskipun menurut dhamma pelacur tidak melanggar sila ke-3 (dengan syarat dan ketentuan yang berlaku), namun apabila melanggar hukum disuatu negara seyogyanya hukum negara dipatuhi.

Offline hendrako

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.244
  • Reputasi: 60
  • Gender: Male
Re: sila ke 3
« Reply #69 on: 17 July 2011, 03:57:28 PM »
muncul nya kisah uttarapun setelah melihat bro hendrako , yang di situ tertulis ada kata menganjurkan , mengijikan, dan saya pun teringat sutta yang menceritakan soal itu. disitu tidak di jelaskan detail apa mendapat di musuhi oleh lingkungan.  oleh sebab itu saya bertanya.

Pertama-tama, kisah ini berpusat pada tema penjelasan syair, bukan tentang pelacur:

Quote
Perjinahan, melakukan sendiri, menganjurkan, mengijinkan, ini membawa orang terlahir di alam neraka, di alam binatang, di alam setan; atau sekurang-kurangnya menjadikan orang itu akan dimusuhi oleh lingkungannya.
(Anguttara Nikaya VII, 4:4)

Tapi jelas terlihat pada kisah ini bahwa sekurang-kurangnya, pelacur itu sendiri (Sirima) telah menjadi musuh Uttara.

Quote
Kisah Uttara Seorang Umat Awam

Uttara adalah putri dari Punna, seorang buruh tani yang bekerja pada pria kaya bernama Sumana di Rajagaha. Suatu hari, Punna dan istrinya berdana makanan kepada Sariputta Thera di saat beliau baru saja mencapai keadaan pencerapan mental yang dalam (nirodha sampatti).
Sebagai akibat dari perbuatan baik itu, mereka mendadak menjadi kaya.
Punna menemukan emas di tanah yang ia bajak, dan secara resmi raja menyatakan Punna sebagai seorang bankir yang besar.

Pada suatu kesempatan, Punna sekeluarga berdana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu selama tujuh hari, dan pada hari ketujuh, setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, mereka sekeluarga mencapai
tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Uttara, putri Punna menikah dengan anak Sumana. Keluarga Sumana bukan keluarga Buddhis, sehingga Uttara tidak merasa bahagia di rumah suaminya. Iapun bercerita kepada ayahnya, Punna, "Ayah, mengapa
ayah mengurung saya di kandang ini ? Di sini saya tidak melihat para bhikkhu dan saya tidak memiliki kesempatan berdana kepada para bhikkhu."

Punna menjadi menyesal dan ia segera memberi uang sebesar 15.000 kepada Uttara. Setelah mendapat ijin dari suaminya, Uttara menggunakan uangnya untuk menyewa seorang wanita untuk menggantikan dirinya memenuhi kebutuhan suaminya. Akhirnya ditetapkan bahwa Sirima, seorang pelacur yang sangat cantik dan terkenal, menggantikannya sebagai seorang istri selama 15 hari.

Selama waktu itu, Uttara memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu. Pada hari ke lima belas, saat ia sibuk menyiapkan makanan di dapur, suaminya melihat dari balik jendela kamar dan tersenyum seraya bergumam pada dirinya sendiri, "Betapa bodohnya ia.
Dia tak tahu cara bersenang-senang. Dia selalu menyibukkan diri dengan upacara pemberian dana."

Sirima melihat suami Uttara tersenyum pada Uttara, ia menjadi sangat cemburu pada Uttara, ia lupa bahwa dirinya hanya sebagai istri pengganti yang dibayar. Menjadi tak terkendali, segera Sirima pergi ke dapur dan mengambil sesendok besar mentega panas dengan maksud mengguyurkannya di kepala Uttara. Uttara melihatnya datang, namun ia tidak memiliki maksud buruk pada Sirima. Ia menyadari, berkat Sirimalah ia dapat mendengarkan Dhamma, berdana makanan, dan berbuat kebaikan lainnya, sehingga ia merasa berterima kasih pada Sirima.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa Sirima datang mendekat dan hendak menuangkan mentega panas ke arahnya, iapun berseru, "Bila aku memiliki maksud buruk terhadap Sirima, biarlah mentega panas ini melukaiku, tapi bila aku tidak memiliki maksud buruk padanya, mentega panas ini tak akan melukaiku."

Karena Uttara tidak memiliki maksud buruk terhadap Sirima, mentega panas yang dituang di kepalanya hanya terasa bagai air dingin. Sirima berpikir pasti mentega itu telah menjadi dingin saat dituangkan, maka ia bermaksud mengambil mentega panas yang lain. Saat hendak menuangkan mentega panas tersebut, pelayan-pelayan Uttara menyerang dan memukulnya keras-keras. Uttara menghentikan para pelayannya dan menyuruh mereka mengobati luka Sirima dengan balsam.

Akhirnya Sirima teringat akan kedudukannya yang sebenarnya, dan ia menyesal bahwa ia telah melakukan kesalahan terhadap Uttara, dan meminta Uttara mengampuninya. Uttarapun menjawab, "Aku memiliki seorang ayah. Aku harus bertanya kepadanya apakah aku harus menerima permintaan maafmu." Sirima berkata bahwa ia siap pergi memohon pengampunan pada Punna, ayah Uttara.

Uttara menjelaskan padanya, "Sirima, saat aku mengatakan 'ayahku', maksud saya bukan ayahku yang sebenarnya, yang membawaku pada rantai kelahiran kembali ini. Yang kumaksud 'ayahku' adalah Sang Buddha, yang
telah menolongku memotong rantai kelahiran kembali, yang telah mengajariku Dhamma, kebenaran sejati."

Sirima pun memohon untuk bertemu dengan Sang Buddha. Sehingga pada hari berikutnya direncanakan Sirima akan menyerahkan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.

Setelah bersantap, Sang Buddha diberitahu perihal Sirima dan Uttara.
Kemudian Sirima mengakui bahwa ia telah berbuat kesalahan terhadap Uttara dan memohon Sang Buddha apakah ia dapat dimaafkan, karena jika tidak, Uttara tidak akan memaafkannya. Kemudian Sang Buddha bertanya
kepada Uttara bagaimana perasaannya saat Sirima menyiramkan mentega panas ke arahnya.

Uttara pun menjawab, "Bhante, karena saya telah berhutang budi pada Sirima, saya tetap tidak naik darah, tidak memiliki maksud buruk padanya. Saya selalu memancarkan cinta saya kepadanya."

Lalu Sang Buddha berkata "Bagus, bagus, Uttara! Dengan tidak memiliki maksud jahat, kau telah mengatasi mereka yang berbuat kesalahan padamu. Dengan tidak melukai, kau dapat mengatasi mereka yang melukaimu. Dengan bermurah hati kau dapat mengatasi orang kikir, dengan berbicara benar kau dapat mengatasi mereka yang berbohong."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 223 berikut :

Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih
dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan.
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati,
dan kalahkan kebohongan dengan kejujuran
.

Sirima dan lima ratus wanita mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Source :

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka_dtl.php?cont_id=526
http://www.dhammapada.ws/
yaa... gitu deh

Offline Indra

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 14.819
  • Reputasi: 451
  • Gender: Male
Re: sila ke 3
« Reply #70 on: 17 July 2011, 04:54:20 PM »
Pelanggaran atau tidak, kondisi pendukungnya sudah di jelaskan Tuwino. Apabila si pelacur tahu: pelanggan berada di bawah perlindungan orang tua atau sudah menikah/ bertunangan. Maka pelacur itu telah melakukan pelanggaran. Tetapi jika kondisi pendukung itu tidak ada. Maka pelacur itu tidak melakukan pelanggaran. Begitu juga jika pelacur itu dibohongi oleh pelanggan bahwa pelanggan sudah mandiri, masih lajang, padahal kenyataannya tidak, maka pelacur itu tidak melakukan pelanggaran.

Benar kata Ryu. Diskusi ini hanya putar-putar di tempat. Jika anda hanya main-main, sebaiknya tidak usah dilanjutkan. Tetapi jika tujuan anda untuk mencari perspekstif lain, diskusi ini ada baiknya. Meski tidak sepenuhnya berguna.

mungkin saya yg memang sudah mulai pikun, kita memang sudah sepakat sejak kemarin ketika anda mengatakan bahwa "jikasudah diantisipasi maka bukan pelanggaran" tapi entah karena apa, anda seakan2 masih tidak puas, jadi saya hanya melayani anda. dan seingat saya blm ada aturan forum yg mengharuskan bahwa diskusi haruslah bertujuan untuk mencari perspektip atau harus berguna menurut acuan anda. jika anda merasa tidak berguna anda bebas untuk tidak merespon

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: sila ke 3
« Reply #71 on: 17 July 2011, 09:17:39 PM »
Pertama-tama, kisah ini berpusat pada tema penjelasan syair, bukan tentang pelacur:

Tapi jelas terlihat pada kisah ini bahwa sekurang-kurangnya, pelacur itu sendiri (Sirima) telah menjadi musuh Uttara.

ya memang benar bro itu penjelasan syair, hanya saja pertama lihat penjelasan itu teringat sutta yg pernah saya baca, bisa saya terima jika akibatnya langsung terjadi pada saat sirima menyiram mentega itu, hanya saja saya salah tangkap tentang lingkungannya , dalam pikiran saya lingkungan = warga sekitarnya

 back to topik : jadi menurut bro , jika saya mengatakan pelacur tidak melanggar sila selama faktor dan obyek tidak terpenuhi dan hal itu bukan berarti mendukung atau melegalkan pelacur . apakah jika saya berpendapat seperti itu salah ? karena member tersebut tetap mengatakan salah dan merembet kepada faktor "pencaharian salah" sedangkan dari segi it pun saya lihat tidak mempengaruhi. yang bener yang bijimana ya??
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

Offline kuswanto

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 399
  • Reputasi: 16
  • kematian bisa saja menghampiriku hari ini..
Re: sila ke 3
« Reply #72 on: 18 July 2011, 11:48:54 AM »
maaf oot sedikit, jadi pengen tau terminologi pelanggaran sila itu sendiri..

jika seseorang tidak pernah bertekad untuk menjaga pancasila buddhist.. maka ketika dia melakukan kegiatan membunuh, mencuri, asusila, bohong, dan mabuk2an. apakah dia termasuk kategori melanggar? (baik dia seorang buddhist atau agama lain)

saya jadi sedikit bingung nih, soalnya bukankah kita melanggar sesuatu jika kita mengambil janji atau sumpah atau tekad untuk tidak melakukannya.
contoh ketika attasila saya bertekad ke diri sendiri untuk tidak melanggar.. 5 sila + 3 sila lainnya, nah ketika misalnya saya tidak tahan untuk nonton tv dan saya melakukan aktivitas nonton tv tsb barulah saya melanggar. namun di lain hari ketika tidak mengucapkan tekad attasila dan hanya 5 sila saja tiap harinya maka kl saya nonton bola, makan 4 kl sehari dll saya tidak melanggar apapun.

jujur saya jadi sedikit bingung ketika pembahasannya mengenai apakah seseorang tsb melanggar sila ke 3 jika menjadi pelacur dan beraktifitas seksual dll nya itu..
karena menurut saya mungkin jika pelacur tsb adalah Buddhist, bertekad menjaga pancasila (termasuk sila ke 3). kemudian dia melakukan aktifitas seksual dengan orang yg salah(beristri), maka baru termasuk melanggar dunk..

pointnya..
jika kita mengambil peraturan dan melanggarnya = pelanggaran
jika tidak ambil peraturan, lantas apa yang dilanggar..

saya bukan melihat dari benar tidaknya suatu kegiatan melacur.. tetapi hanya kata "langgar" doank hehehe   ^:)^

Offline DragonHung

  • Sahabat Baik
  • ****
  • Posts: 963
  • Reputasi: 57
  • Gender: Male
Re: sila ke 3
« Reply #73 on: 18 July 2011, 01:07:57 PM »
Besi yang panas membara, buat orang dewasa yang tahu kalau di pegang juga bakalan melepuh.

Besi yang panas membara, buat anak kecil yang tidak tahu kalau di pegang juga bakalan melepuh.
Banyak berharap, banyak kecewa
Sedikit berharap, sedikit kecewa
Tidak berharap, tidak kecewa
Hanya memperhatikan saat ini, maka tiada ratapan dan khayalan

Offline wang ai lie

  • Sebelumnya: anggia.gunawan
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 3.204
  • Reputasi: 72
  • Gender: Male
  • Terpujilah Sang Bhagava,Guru para Dewa dan Manusia
Re: sila ke 3
« Reply #74 on: 18 July 2011, 01:13:36 PM »
Besi yang panas membara, buat orang dewasa yang tahu kalau di pegang juga bakalan melepuh.

Besi yang panas membara, buat anak kecil yang tidak tahu kalau di pegang juga bakalan melepuh.

translate please...  ;D

perumpamaan yang bagus bro, berkaitan dengan sila ke 3 kah?
Namo Mahakarunikaya Avalokitesvaraya, Semoga dengan cepat saya mengetahui semua ajaran Dharma,berada dalam perahu Prajna,mencapai Sila, Samadhi, dan Prajna,berada dalam kediaman tanpa perbuatan,bersatu dengan Tubuh Agung Dharma

 

anything