//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Andil dalam membunuh  (Read 30306 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #150 on: 13 January 2013, 10:49:33 PM »
menurut saya: ya, tapi bukan karma karena mencelakai orang, tapi karma karena lalai
hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline ozma

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 22
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #151 on: 13 January 2013, 11:26:57 PM »
om rico, bagaimana caranya seseorang memegang besi panas secara tidak sengaja?
kecuali terpegang atau tersentuh, dan dalam pandangan saya, itu bukan kamma, tapi vipaka.
bukan sebab, tapi akibat.
sebab adalah sesuatu yang dapat kita dikendalikan / putuskan. (kalau seseorang memutuskan untuk memegang besi panas, berarti ada cetana disana, dia tau atau tidak tahu itu panas, disana tetap ada cetana untuk memegang, dan itu adalah sebab, bukan akibat)
akibat adalah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat dihindari. (kalau seseorang tidak mau memegang besi panas, lalu oleh temannya dilempari dan ternyata sudah menghindar tapi tetap kena, itu adalah akibat yang tidak bisa ia hindari)
kemudian yang dibold itu menurutku gak ada kaitannya dengan cetana, tapi lebih ke tahu dan tidak tau (samma ditthi / miccha ditthi), kita ambil contoh misalnya membunuh makhluk hidup, terlepas dari seseorang tahu atau tidak tahu itu adalah perbuatan salah, membunuh makhluk hidup tetap adalah tindakan salah yang akan membuahkan hasil yang merugikan, untuk orang yang tahu maupun yang tidak tahu, serta tidak mau tahu, pura2 tidak tahu, dsb.

saya sangat setuju dengan ini..
saya sangat meragukan istilah "niat" sebagai satu2nya pembentuk kamma..
karena pada kenyataannya banyak sekali tindakan yg tanpa niat buruk namun berakhir buruk..

semisal dalam kisah yg diutarakan di milinda panha

Quote
“Apa yang terlahir kembali itu, Nagasena?’
“Batin dan jasmani.”

“Apakah batin dan jasmani yang ini juga yang terlahir kembali?”
“Bukan, tetapi oleh batin dan jasmani inilah maka perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itulah maka batin dan jasmani yang lain terlahir kembali. Walaupun demikian, batin dan jasmani itu tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”

“Berikanlah ilustrasi.”
“Seperti halnya api yang dinyalakan seseorang. Setelah merasa hangat, mungkin orang itu pergi meninggalkan dalam keadaan menyala.
Andaikan saja api tersebut kemudian menjalar dan membakar ladang orang lain, lalu pemilik ladang itu menyeretnya ke hadapan raja serta menuntut orang yang menyalakan api tersebut.
Bila dia berkata, ‘Baginda yang mulia, saya tidak membakar ladang orang ini. Api yang saya tinggalkan itu berbeda dengan api yang membakar ladang orang ini. Saya tidak bersalah’, apakah dia patut dihukum?”

“Tentu saja, karena tak peduli apa pun yang dia katakan, api itu berasal dari api sebelumnya.”

“Demikian juga, O baginda, oleh batin dan jasmani ini perbuatan-perbuatan dilakukan, dan oleh karena perbuatan-perbuatan itu maka batin dan jasmani baru akan terlahir kembali; tetapi batin dan jasmani tersebut tidak begitu saja terlepas dari hasil perbuatan sebelumnya.”

Walaupun orang tsb tidak bermaksud membakar ladang, api tsb membakar ladang

IMO Niat mungkin menghasilkan kamma, tapi yang jadi faktor penentu adalah efek dari perbuatan itu, bukan sekedar niat saja
« Last Edit: 13 January 2013, 11:29:29 PM by ozma »

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #152 on: 14 January 2013, 07:19:14 AM »
saya sangat setuju dengan ini..
saya sangat meragukan istilah "niat" sebagai satu2nya pembentuk kamma..
karena pada kenyataannya banyak sekali tindakan yg tanpa niat buruk namun berakhir buruk..

semisal dalam kisah yg diutarakan di milinda panha

Walaupun orang tsb tidak bermaksud membakar ladang, api tsb membakar ladang

IMO Niat mungkin menghasilkan kamma, tapi yang jadi faktor penentu adalah efek dari perbuatan itu, bukan sekedar niat saja
Secara hukum negara kemungkinan besar orang itu akan mendapatkan hukuman, tapi tentu tidak serta merta begitu saja, dari pihak yang berwajib tentu harus melakukan penelitian apakah itu memang faktor kesengajaan ingin membakar ladang orang lain, ataukah hanya kelalaian saja ketika meninggalkan api dalam keadaan menyala.
Dan lagi, itu adalah hukum negara, kalo hukum kamma yah g tau deh, g ingin berspekulasi terlalu jauh.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #153 on: 14 January 2013, 08:05:04 AM »
saya sangat setuju dengan ini..
saya sangat meragukan istilah "niat" sebagai satu2nya pembentuk kamma..

bisa kasih contoh apa pembentuk kamma yg lain selain niat (cetana)?

Quote
karena pada kenyataannya banyak sekali tindakan yg tanpa niat buruk namun berakhir buruk..

ini sudah kita bahas panjang lebar di bbrp postingan diatas...
intinya kita seringkali rancu antara cetana (niat/batin pendorong suatu tindakan) dengan harapan (sasaran/goal) dan juga seringkali kesulitan menentukan mana yg kamma, mana yg vipaka dan juga kondisi2 biasa sebab akibat yg terkadang kita anggap sebagai vipaka. Bahkan menyebut Vipaka aj masih sering salah tersebut kamma.

Perlu kita luruskan, krn hal ini sangat penting. Jangan kita sampai salah beranggapan bahwa niat baik belum tentu menghasilkan kamma baik dan sebaliknya. Perlu kita renungkan dan pastikan bahwa: niat baik pasti kamma baik dan niat buruk pasti kamma buruk.

Persis seperti yg Buddha sampaikan.


Quote
semisal dalam kisah yg diutarakan di milinda panha

Walaupun orang tsb tidak bermaksud membakar ladang, api tsb membakar ladang

Cerita ini sesungguhnya untuk mengilustrasikan batin-jasmani sama/tidak dan pertanggungjawaban batin baru thp batin sebelumnya. Ilustrasi yg mirip misalnya tentang tidak mungkin bisa menyeberangi sungai yg sama untuk ke-2 kalinya. Semua contoh ini menunjukkan bahwa batin dan jasmani kita berubah setiap saat namun tetap ada tanggung jawab atas perbuatan sebelumnya.

Jika kita membahas apakah yg menyebabkan ladang terbakar?
maka jawabannya bisa: kecerobohan meninggalkan api menyala (kamma buruk), angin yg meniup api ke ladang, ladang sendiri yg mudah terbakar, tidak adanya hujan, sepinya orang2 disekitar, dstnya....

Jadi, sy cenderung menganggap "terbakarnya ladang adalah suatu kondisi sebab akibat saja"... kondisi begini terjadi disekeliling kita dan setiap detik mengalami perubahan....

Quote
IMO Niat mungkin menghasilkan kamma, tapi yang jadi faktor penentu adalah efek dari perbuatan itu, bukan sekedar niat saja

Buddhisme menitik beratkan pada NIAT yg melandasi suatu perbuatan,
Bukan pada hasil perbuatan

Sangat banyak sutta soal ini, mis: tanpa tau menginjak semut, maka tidak ada kamma pembunuhan.
Kalo menitik beratkan pada hasil-perbuatan, tentu akan kena kamma-pembunuhan toh?
Kenyataannya kamma kita tergantung niat kita, kalo nggak ada cetana, maka tidak ada kamma

::
« Last Edit: 14 January 2013, 08:06:48 AM by williamhalim »
Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #154 on: 14 January 2013, 08:39:01 AM »
om rico, bagaimana caranya seseorang memegang besi panas secara tidak sengaja?
kecuali terpegang atau tersentuh, dan dalam pandangan saya, itu bukan kamma, tapi vipaka.
bukan sebab, tapi akibat.
sebab adalah sesuatu yang dapat kita dikendalikan / putuskan. (kalau seseorang memutuskan untuk memegang besi panas, berarti ada cetana disana, dia tau atau tidak tahu itu panas, disana tetap ada cetana untuk memegang, dan itu adalah sebab, bukan akibat)
akibat adalah sesuatu yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat dihindari. (kalau seseorang tidak mau memegang besi panas, lalu oleh temannya dilempari dan ternyata sudah menghindar tapi tetap kena, itu adalah akibat yang tidak bisa ia hindari)
kemudian yang dibold itu menurutku gak ada kaitannya dengan cetana, tapi lebih ke tahu dan tidak tau (samma ditthi / miccha ditthi), kita ambil contoh misalnya membunuh makhluk hidup, terlepas dari seseorang tahu atau tidak tahu itu adalah perbuatan salah, membunuh makhluk hidup tetap adalah tindakan salah yang akan membuahkan hasil yang merugikan, untuk orang yang tahu maupun yang tidak tahu, serta tidak mau tahu, pura2 tidak tahu, dsb.

tepat sekali

namun contoh tersebut saya berikan pada Om Hadi, mengenai 'konsekwensi'. bahwa sentuh/tersentuh besi panas konsekwensinya adalah tangan melepuh.

Offline williamhalim

  • Sebelumnya: willibordus
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 2.870
  • Reputasi: 134
  • Gender: Male
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #155 on: 14 January 2013, 08:41:49 AM »
Betul, sesuai kesepakatan sebelumnya bahwa karma = niat, memang kelalaian jelas bukan karma pembunuhan (tidak relevan).

Tapi akibat yang dihasilkan dari kelalaian itu, itu yang sebenarnya dipermasalahkan (apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain).

Kalau lalai hanya berhubungan dengan batin ia sendiri, mungkin tidak masalah.

Kalau saya baca dari penjelasan di atas, sepertinya akibat lalai lebih pada sisi internal manusia tersebut (Anda tulis mengembangkan batin tidak bermanfaat).

Anda juga memberi contoh bahwa akibat eksternal yang ia terima (marah berbuah ditinju orang, kelainan seksual berbuah penyakit, dst), dari sudut pandang pelaku.
Ini saya sependapat (bahwa karma yang sesungguhnya memang adalah kondisi batin yang dirasakannya, karena setiap fenomena tidak berkondisi secara hakikat).

Tapi (saya yakin kita semua menyoroti), yang dibicarakan 'kan adalah dampak sosial, yakni korban-korban yang berjatuhan akibat fenomena batin yang kurang bermanfaat tersebut (kurang waspada atau lalai, sering marah, kelainan secara seksual). Bila diperjelas, kurang lebih seperti ini:
1. Batin kurang bermanfaat lalai membuahkan korban akibat ketidakwaspadaannya (contohnya korban laka-lantas).
2. Sering marah akibatnya orang lain jadi tersinggung atau merasa susah hati akibat dimarahi.
3. Kelainan seksual berbuah isterinya jadi ikut kena penyakit, dst.

Walau sudah ada jawabannya, saya coba minta sudut pandang Anda (bukan mau menyusahkan, hanya memperjelas saja).

Oke, salam bahagia untuk Anda. Terima kasih.  _/\_

Betul,

Karena kamma-vipaka adalah dari sudut si pelaku; ia yg berbuat, ia yg menanggung akibatnya..

Sedangkan berbagai kejadian yg timbul setelahnya, sy cenderung tidak melihatnya sebagai semata2 vipaka si pelaku, tapi hanya sebagai kondisi sebab-akibat yg wajar terjadi... yg penyebabnya mungkin kamma si pelaku, juga penyebab2 lainnya yg saling mengkondisikan...

Misalnya kasus seseorang yg marah2 dan akhirnya ia dipukul.
'A memukul B' adalah suatu kondisi yg sedang terjadi, penyebabnya bermacam2, mungkin:
- A krn kecenderungan batinnya mengakibatkan ia mudah tersulut dan marah2 dgn kejadian sepele dan asal tuduh
- B yg dari pagi hatinya sedang dongkol, gampang tersulut oleh kemarahan A
- beberapa teman lain yg mengompori
- hari yg panas di tepi jalan menyulut kondisi semakin panas
- makanan yg dimakan si A atau B, mungkin minum alkohol, who knows?
Jadi, semua penyebab yg tidak kita ketahui ini saling menyulut menimbulkan pemukulan... Saya -kembali- memandang semua kejadian ini hanyalah sebagai "kondisi saja"

Jika semata2 disebut A yg marah2 sebagai penyebab perkelahian tsb, dalam kondisi lain, marah2 si A bisa jadi tidak menimbulkan perkelahian, harus ditunjang faktor lainnya baru kondisi tsb bisa terjadi...

Juga sama dengan sambil bbm-an, ceroboh menabrak orang... Bukan semata2 krn supirnya bbm-an, mesti ditunjang juga oleh faktor2 lainnya: ada yg menyeberang tiba2, kondisinya pas lagi bbm-an, mobil kencang, dstnya... Banyak kasus, sedang bbm-an (jelas kamma buruk) malah tidak menabrak orang kan?

Padahal, kamma buruk pasti menghasilkan vipaka buruk... Jadi, sy cenderung berpikiran kamma-vipaka akan berbuah pasti di batin masing2, suatu saat jika kondisinya pas, kamma akan berbuah... dalam bentuk penderitaan / kebahagiaan di batin masing2...

Bentukan2 / kejadian2 luar hanyalah kondisi2 sebab-akibat yg saling bergantungan yg selalu berubah...


Demikain pandangan saya, Salam Bahagia juga...


::


Walaupun seseorang dapat menaklukkan beribu-ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri (Dhammapada 103)

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #156 on: 14 January 2013, 10:03:37 AM »
Anehnya bagi penganut "kamma != niat" tidak ada yang jawab pertanyaan sederhana ini:

Niat Cunda adalah beri Buddha makanan yang terbaik.
Hasilnya sakit perut Buddha kambuh.

Ada karma buruk tertanam di sana?


Offline Rina Hong

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.256
  • Reputasi: -2
  • Gender: Female
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #157 on: 14 January 2013, 10:30:45 AM »
Hi Bro Rico,
kalau menurut saya,

bro harus pisahkan yg mana namanya membunuh, yang mana namany membeli, yang mana namanya mengirim.

membunuh itu menghilangkan nyawa,  membeli tidak menghilangkan nyawa, membeli hanya menelepon lalu memesan barang, dan mengirim hanya menelepon kurir untuk mengirimnya?

apakah ada tindakan membunuh dari membeli dan mengirim barang?

The four Reliances
1st,rely on the spirit and meaning of the teachings, not on the words;
2nd,rely on the teachings, not on the personality of the teacher;
3rd,rely on real wisdom, not superficial interpretation;
And 4th,rely on the essence of your pure Wisdom Mind, not on judgmental perceptions

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #158 on: 14 January 2013, 10:38:17 AM »
Saya pikir sebelum jauh-jauh masuk ke contoh kasus, seharusnya orang memahami dulu konsep hukum kamma itu apa. Hukum kamma itu BUKAN hukum sebab-akibat secara umum.

Ada maling ketangkep digebukin.
Sebab: jadi maling
Akibat: digebukin

Ini bukan hukum kamma, ini adalah sebab-akibat secara umum.

Dalam konsep kamma, perbuatan maling itu adalah kamma, yang buah kammanya tidak dapat diketahui dalam bentuk apa, dan kapan berbuahnya (apakah di kehidupan ini, berikut, atau berikut2nya). Konsep kamma hanya menjelaskan bahwa niat baik akan memberi akibat baik, niat buruk akan memberi akibat buruk.

Mengenai digebukin, itu adalah buah kamma lampau yang berbuah, namun kamma apa yang menyebabkannya digebukin, apakah di kehidupan ini, lampau, atau lampau yang jauh, kita tidak tahu. Konsep kamma hanya menjelaskan bahwa penderitaan adalah hasil dari niat buruk, kebahagiaan adalah hasil dari niat baik, di masa lalu.

Jadi bagaimana kita tahu satu perbuatan/kamma adalah baik atau buruk?
Tolok ukurnya adalah jika perbuatan didasari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, maka itu perbuatan buruk. Sebaliknya jika perbuatan didasari ketidak-serakahan, ketidak-bencan, dan tanpa-kebodohan-batin, maka itu perbuatan baik.


Orang-orang seringkali salah paham antara sebab-akibat dan konsep kamma sehingga melihat niat baik hasilnya belum tentu hasilnya baik dan niat buruk belum tentu hasilnya buruk.
Misalnya:
-Mau benerin kabel hasilnya orang mati -> niat baik hasilnya buruk
-Korupsi hasilnya jadi kaya -> niat buruk hasilnya baik

Pandangan salah demikian mengarahkan kita melihat 'hasil', bukan niat/pikiran yang melandasi suatu perbuatan. Ini adalah pandangan Nigantha Nathaputta.

Pandangan menurut Buddha sudah kita kenal dalam syair yang sangat terkenal:
"Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā manomayā;
Manasā ce paduṭṭhena, bhāsati vā karoti vā;
Tato naṃ dukkhamanveti, cakkaṃva vahato padaṃ."


Spoiler: ShowHide
(Fenomena dipelopori pikiran, dipimpin pikiran, dibentuk pikiran;
Dengan pikiran buruk, berucap atau berbuat;
Penderitaan mengikuti, seperti roda mengikuti jejak kaki*)

*Roda kereta mengikuti jejak kaki sapi yang menariknya.
« Last Edit: 14 January 2013, 10:41:19 AM by Kainyn_Kutho »

Offline hemayanti

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.477
  • Reputasi: 186
  • Gender: Female
  • Appamadena Sampadetha
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #159 on: 14 January 2013, 12:23:21 PM »
Anehnya bagi penganut "kamma != niat" tidak ada yang jawab pertanyaan sederhana ini:
Niat Cunda adalah beri Buddha makanan yang terbaik.
Hasilnya sakit perut Buddha kambuh.

Ada karma buruk tertanam di sana?
gak ada om, malah kamma baik.
"Sekarang, para bhikkhu, Aku mengatakan ini sebagai nasihat terakhir-Ku: kehancuran adalah sifat dari segala sesuatu yang terbentuk. Oleh karena itu, berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #160 on: 14 January 2013, 01:53:33 PM »
sudah sepuluh halaman lebih dan belum ada yang menyinggung niyama-niyama lainnya? ini baru menyentuh kamma niyama.

ayo diskusi di lanjutkan.

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #161 on: 14 January 2013, 02:16:24 PM »
gak ada om, malah kamma baik.

4.42. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: ‘Mungkin saja, Ānanda, Cunda si pandai besi merasa menyesal, dengan berpikir: “Adalah kesalahanmu, sahabat Cunda, karena kecerobohanmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan!” Tetapi penyesalan Cunda dapat diatasi dengan cara ini: “Itu adalah jasamu, sahabat Cunda, karena perbuatan baikmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan! Karena, sahabat Cunda, aku telah mendengar dan memahami dari mulut Sang Bhagavā sendiri, bahwa dua persembahan ini menghasilkan buah yang [136] besar, akibat yang sangat besar, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada persembahan lainnya. Apakah dua ini? Pertama adalah persembahan yang setelah memakannya, Sang Tathāgata mencapai Penerangan Sempurna, dan yang lainnya adalah yang setelah memakannya, Beliau mencapai unsur-Nibbāna tanpa sisa saat meninggal dunia. Kedua persembahan ini adalah yang lebih berbuah dan lebih bermanfaat dari semua persembahan lainnya. Perbuatan Cunda ini mendukung umur panjang, penampilan yang baik, kebahagiaan, kemasyhuran, alam surga, dan kekuasaan.” Demikianlah, Ānanda, cara mengatasi penyesalan Cunda.’
-Dari DN.16. Mahaparinibbanasutta-


Begitu "ceroboh" Cunda ini, namun apakah kammanya buruk? Sama sekali tidak, sebab niatnya sepenuhnya baik.


Offline Rico Tsiau

  • Kebetulan terjoin ke DC
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.976
  • Reputasi: 117
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #162 on: 14 January 2013, 02:54:00 PM »
4.42. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: ‘Mungkin saja, Ānanda, Cunda si pandai besi merasa menyesal, dengan berpikir: “Adalah kesalahanmu, sahabat Cunda, karena kecerobohanmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan!” Tetapi penyesalan Cunda dapat diatasi dengan cara ini: “Itu adalah jasamu, sahabat Cunda, karena perbuatan baikmu sehingga Tathāgata mencapai Nibbāna akhir setelah memakan makanan yang engkau persembahkan! Karena, sahabat Cunda, aku telah mendengar dan memahami dari mulut Sang Bhagavā sendiri, bahwa dua persembahan ini menghasilkan buah yang [136] besar, akibat yang sangat besar, lebih berbuah dan lebih bermanfaat daripada persembahan lainnya. Apakah dua ini? Pertama adalah persembahan yang setelah memakannya, Sang Tathāgata mencapai Penerangan Sempurna, dan yang lainnya adalah yang setelah memakannya, Beliau mencapai unsur-Nibbāna tanpa sisa saat meninggal dunia. Kedua persembahan ini adalah yang lebih berbuah dan lebih bermanfaat dari semua persembahan lainnya. Perbuatan Cunda ini mendukung umur panjang, penampilan yang baik, kebahagiaan, kemasyhuran, alam surga, dan kekuasaan.” Demikianlah, Ānanda, cara mengatasi penyesalan Cunda.’
-Dari DN.16. Mahaparinibbanasutta-


Begitu "ceroboh" Cunda ini, namun apakah kammanya buruk? Sama sekali tidak, sebab niatnya sepenuhnya baik.

berarti sama dengan si orang yang benerin kabel, dengan niat yang sungguh baik, namun layaknya cunda yang 'ceroboh'?

Offline K.K.

  • Global Moderator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 8.850
  • Reputasi: 268
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #163 on: 14 January 2013, 03:08:43 PM »
sudah sepuluh halaman lebih dan belum ada yang menyinggung niyama-niyama lainnya? ini baru menyentuh kamma niyama.

ayo diskusi di lanjutkan.

Kalau mau bahas ke konsep niyama lain, akan jadi sangat rumit sekali, karena memang semua hukum ini saling interaksi, sementara kamma niyama saja sudah tidak bisa 'dilihat', apalagi interaksinya dengan hukum lain. Paling seperti biasa, hanya bisa disederhanakan dalam konsep saja.


berarti sama dengan si orang yang benerin kabel, dengan niat yang sungguh baik, namun layaknya cunda yang 'ceroboh'?
Betul, persis sama.

Offline adi lim

  • Sebelumnya: adiharto
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 4.993
  • Reputasi: 108
  • Gender: Male
  • Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Re: Andil dalam membunuh
« Reply #164 on: 14 January 2013, 03:10:03 PM »
berarti sama dengan si orang yang benerin kabel, dengan niat yang sungguh baik, namun layaknya cunda yang 'ceroboh'?

dilihat dari bahasa yang sama, adalah YA
Seringlah PancaKhanda direnungkan sebagai Ini Bukan MILIKKU, Ini Bukan AKU, Ini Bukan DIRIKU, bermanfaat mengurangi keSERAKAHan, mengurangi keSOMBONGan, Semoga dapat menjauhi Pandangan SALAH.

 

anything