//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?  (Read 98451 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline tesla

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.427
  • Reputasi: 125
  • Gender: Male
  • bukan di surga atau neraka, hanya di sini
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #150 on: 09 February 2011, 08:49:53 PM »
Mo konsultasi ni...

Dlu pernah y sy ikut latihan meditasi. Jd dibimbing oleh Suhu. Disana kt diasingkan dr dunia luar, trus dilarang melakukan kontak antar sesama peserta, bahkan kontak mata. Dalam 1hr cm 5ikasi 2jam bwt sesi tany jawab/diskusi gtu. Nah, selama berlangsungny program ini, sy spt  mengalami keadaan "tanpa aku". Jadi, segala yg terjadi itu seperti melihat tapi tak merasa, emosi sangat tenang. namun smua indra menjadi lebih sensitif, spt terhadap hembusan angin, suara2 halus lingkungan, dll. Sampai ketika suatu saat kmi d jalan malam d hutan, sy bs merasakan panas tubuh teman2 dr jarak yg tidak dekat. Apa namany kondisi spt ini?

peacefull?
Lepaskan keserakahan akan kesenangan. Lihatlah bahwa melepaskan dunia adalah kedamaian. Tidak ada sesuatu pun yang perlu kau raup, dan tidak ada satu pun yang perlu kau dorong pergi. ~ Buddha ~

Offline Nabixl168

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 23
  • Reputasi: 1
  • Gender: Male
  • Manfaatkan Waktu Mu dengan Sebaik-baiknya
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #151 on: 24 April 2011, 09:17:17 PM »
 _/\_
jhana.........

kenapa pada bingung dan sulit di katakan......

jika sudah membaca arti jhana 1......

mengapa masih bingung.......

terapkan dalam kehidupan sehari-hari........

dalam proses mencapai jhana 1........

akan menerima makna dari jhana 1........

 _/\_
Manfaatkan Waktu mu dengan Sebaik-baiknya

Offline rooney

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.750
  • Reputasi: 47
  • Gender: Male
  • Semoga semua mahluk berbahagia...
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #152 on: 24 April 2011, 10:27:13 PM »
_/\_
jhana.........

kenapa pada bingung dan sulit di katakan......

jika sudah membaca arti jhana 1......

mengapa masih bingung.......

terapkan dalam kehidupan sehari-hari........

dalam proses mencapai jhana 1........

akan menerima makna dari jhana 1........

 _/\_

Jhana 1 diterapkan dalam kehidupan sehari-hari  ???

Offline icykalimu

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 121
  • Reputasi: 4
  • Gender: Male
  • from zero to hero
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #153 on: 13 May 2011, 11:12:45 PM »
"Quite withdrawn from sensuality, withdrawn from unskillful mental qualities, he
enters and remains in the first jhana: rapture and pleasure born from
withdrawal, accompanied by directed thought and evaluation. He permeates and
pervades, suffuses and fills this very body with the rapture and pleasure born
from withdrawal. Just as if a skilled bathman or bathman's apprentice would pour
bath powder into a brass basin and knead it together, sprinkling it again and
again with water, so that his ball of bath powder — saturated, moisture-laden,
permeated within and without — would nevertheless not drip; even so, the monk
permeates... this very body with the rapture and pleasure born of withdrawal.
There is nothing of his entire body unpervaded by rapture and pleasure born from
withdrawal."
...

Offline learner

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 225
  • Reputasi: 5
  • Gender: Male
  • ^^ ada yang baca buku, ada yang sibuk lepas ikatan
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #154 on: 31 January 2012, 01:36:53 PM »
Kisah Seorang Thera
yang Pernah Terlahir sebagai Pandai Emas

Ada seorang pemuda tampan, anak seorang pandai emas, ditahbiskan menjadi bhikkhu oleh Sariputta Thera. Sariputta Thera memberikan sebuah perwujudan mayat yang menjijikkan sebagai obyek meditasi bagi bhikkhu baru itu. Sambil membawa obyek meditasi itu, ia pergi ke sebuah hutan dan berlatih meditasi di sana; namun dia hanya mencapai sedikit kemajuan. Akhirnya ia kembali untuk kedua kalinya kepada Sariputta Thera untuk memohon petunjuk lebih lanjut. Meskipun demikian, ia masih saja belum mencapai kemajuan. Kemudian Sariputta Thera membawa bhikkhu muda itu menghadap Sang Buddha dan menceritakan semuanya tentang bhikkhu muda itu.

Sang Buddha mengetahui bahwa bhikkhu muda itu adalah anak seorang pandai emas, dan juga ia pernah terlahir di keluarga pandai emas selama 500 kali kehidupannya yang lampau. Kamudian Sang Buddha mengganti obyek meditasinya dari mayat yang menjijikkan menjadi obyek kesenangan. Dengan kekuatan batin Beliau, Sang Buddha menciptakan sekuntum bunga teratai yang sangat indah sebesar roda kereta dan meminta bhikkhu muda itu untuk menancapkannya pada gundukan tanah di luar vihara.

Bhikkhu muda tersebut memusatkan diri pada bunga teratai yang besar, indah dan harum, akhirnya ia pun dapat menyingkirkan segala rintangan. Ia dipenuhi dengan kepuasan yang menggembirakan (piti), dan selangkah demi selangkah ia mengalami perkembangan hingga mencapai pencerapan batin (jhana) keempat.

Sang Buddha melihatnya dari kuti harum Beliau dan dengan kekuatan batin Beliau membuat bunga itu layu seketika. Melihat bunga itu layu dan berubah warna, bhikkhu tersebut memahami ketidakkekalan alamiah bunga tersebut juga segala sesuatu termasuk semua mahluk. Hal tersebut menyebabkan timbulnya kesadaran terhadap ketidakkekalan, ketidakpuasan, dan tanpa inti dari semua hal yang berkondisi. Sesaat kemudian, Sang Buddha memancarkan sinar dan menampakkan diri di hadapan bhikkhu tersebut dan memberinya petunjuk agar segera memusnahkan nafsu keinginan (tanha).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 285 berikut :

"Ucchinda sinehamattano
kumudam saradikamva panina
santimaggameva bruhaya
Nibbanam sugatena desitam."

Patahkanlah rasa cinta terhadap diri sendiri,
seperti memetik bunga teratai putih di musim gugur.
Kembangkanlah jalan kedamaian Nibbana
yang telah diajarkan oleh Sang Sugata
(Beliau yang telah berlalu dengan baik, Buddha).

Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
(dhammapada bab xx. 13 (285))

apa mungkin jhana dicapai dengan mata terbuka? (meditasi tak selalu tutup mata?).

salam kenal semuanya
tidak perlu mencoba melakukan hal besar yang sangat rumit, lakukan saja hal sederhana dengan teliti dan benar

Offline learner

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 225
  • Reputasi: 5
  • Gender: Male
  • ^^ ada yang baca buku, ada yang sibuk lepas ikatan
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #155 on: 31 January 2012, 02:09:45 PM »
Kisah Tigapuluh Bhikkhu

Pada satu kesempatan, tiga puluh bhikkhu datang memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Y.A.Sariputta, yang mengetahui bahwa waktu itu adalah saat yang matang dan sesuai bagi para bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat, mendekati Sang Buddha dan bertanya, semata-mata hanya untuk kepentingan para bhikkhu tersebut. Pertanyaannya berbunyi demikian : "Apakah yang dimaksud dengan dua Dhamma ?"

Terhadap pertanyaan demikian, Sang Buddha menjawab, "Sariputta! `Meditasi Ketenangan dan Meditasi Pandangan Terang` adalah dua Dhamma tersebut."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 384 berikut :

"Yada dvayesu dhammesu
paragu hoti brahmano
athassa sabbe samyoga
attham gacchanti janato."

Bila seorang brahmana telah mencapai akhir daripada dua jalan semadi
(pelaksanaan Meditasi Ketenangan dan Pandangan Terang),
Maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya.
Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan, ia bebas dari semua ikatan.

Tiga puluh bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

(dhammapada 384)

jadi cuma ada 2 macam meditasi ya? meditasi ketenangan dan meditasi pandangan terang saja.

nah jhana termasuk dimana?

tujuan jhana itu menenangkan atau menerangkan?
tidak perlu mencoba melakukan hal besar yang sangat rumit, lakukan saja hal sederhana dengan teliti dan benar

Offline William_phang

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 1.101
  • Reputasi: 62
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #156 on: 31 January 2012, 02:16:20 PM »

Secara umum cuma dikenal dua jenis meditasi - Yaitu Samatha dan vipasana....Jhana itu termasuk dalam Samatha (meditasi ketenangan).... meditasi samatha untuk mengembangkan konsentrasi, dengan konsentrasi yang baik baru bisa menembus realita apa adanya (vipassana)...

Offline sila dan citta cell

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 1
  • Reputasi: -1
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Seperti apakah Jhana itu ?
« Reply #157 on: 20 February 2012, 05:36:20 AM »
Emang di sini ada yang sudah mengalami Jhana ?
Share donk..
_/\_
Merem jam 7 bangun melek jam 10 pas 3 jam ga berasa kesemutan apalagi waktu hanya terasa sekedipan, yah sebenernya lg retret vippasana sih sama Romo Pernant di Vihara Siripada Villa Melati... Saking pingin ngerasain doank kayak apa sih yg namanya ngapus Panca Nivarana tuh jadi begitu tuh cuman jadi time-jumper doank... tapi ga enak juga ... jadi peka sama kofee baru minum seteguk kek mabuk BS... lalu balik ke Vippasana Dhura... lagi deh .... udah cuman gitu doank rasanya ga ada yg istimewa... tuh... malah vippasana yang susah banget... ga pernah masuk padahal dah sering aku convert nyapek piti lalu belok ke sati ga lanjut ke sukkha or ekagatha tapi malah lelah dan capek... so gagal deh... _/\_


Offline will_i_am

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 5.163
  • Reputasi: 155
  • Gender: Male
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #158 on: 20 February 2012, 03:21:34 PM »
orang yang bermeditasi dengan tujuan yang tidak benar, tidak akan mencapai perkembangan apapun dalam meditasinya, bahkan jika ia duduk selama setahun..

dalam pikiran orang skeptik, selalu saja ada pertanyaan yang muncul dalam pikiran; "apakah ini jhana I(atau nana)??"
15 menit kemudian ia berpikir "ini pasti jhana kedua", dst dst..
bagaimana orang dengan pemikiran seperti ini bisa maju dalam meditasi?

hiduplah hanya pada hari ini, jangan mengkhawatirkan masa depan ataupun terpuruk dalam masa lalu.
berbahagialah akan apa yang anda miliki, jangan mengejar keinginan akan memiliki
_/\_

Offline Sumedho

  • Kebetulan
  • Administrator
  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 12.404
  • Reputasi: 423
  • Gender: Male
  • not self
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #159 on: 21 February 2012, 06:19:49 AM »
Kisah Tigapuluh Bhikkhu

Pada satu kesempatan, tiga puluh bhikkhu datang memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Y.A.Sariputta, yang mengetahui bahwa waktu itu adalah saat yang matang dan sesuai bagi para bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat, mendekati Sang Buddha dan bertanya, semata-mata hanya untuk kepentingan para bhikkhu tersebut. Pertanyaannya berbunyi demikian : "Apakah yang dimaksud dengan dua Dhamma ?"

Terhadap pertanyaan demikian, Sang Buddha menjawab, "Sariputta! `Meditasi Ketenangan dan Meditasi Pandangan Terang` adalah dua Dhamma tersebut."

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 384 berikut :

"Yada dvayesu dhammesu
paragu hoti brahmano
athassa sabbe samyoga
attham gacchanti janato."

Bila seorang brahmana telah mencapai akhir daripada dua jalan semadi
(pelaksanaan Meditasi Ketenangan dan Pandangan Terang),
Maka semua belenggu akan terlepas dari dirinya.
Karena mengerti dan telah memiliki pengetahuan, ia bebas dari semua ikatan.

Tiga puluh bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

(dhammapada 384)

jadi cuma ada 2 macam meditasi ya? meditasi ketenangan dan meditasi pandangan terang saja.

nah jhana termasuk dimana?

tujuan jhana itu menenangkan atau menerangkan?


Dalam sutta, ketenangan dan pandangan terang (samatha dan vipassana) adalah kualitas batin, bukan tehnik meditasi.

Utk mencapai jhana, dibutuhkan sila yang sempurna lalu kualitas batin ketenangan dan pandangan terang.

Quote
[9] "If a monk would wish, 'May I attain — whenever I want, without strain, without difficulty — the four jhanas that are heightened mental states, pleasant abidings in the here-&-now,' then he should be one who brings the precepts to perfection, who is committed to inner tranquillity of awareness, who does not neglect jhana, who is endowed with insight, and who frequents empty dwellings.

[10] "If a monk would wish, 'May I — with the ending of mental fermentations — remain in the fermentation-free awareness-release & discernment-release, having directly known & realized them for myself in the here-&-now,' then he should be one who brings the precepts to perfection, who is committed to inner tranquillity of awareness, who does not neglect jhana, who is endowed with insight, and who frequents empty dwellings.

Quote
‘‘Ākaṅkheyya ce, bhikkhave, bhikkhu ‘catunnaṃ jhānānaṃ ābhicetasikānaṃ diṭṭhadhammasukhavihārānaṃ nikāmalābhī assaṃ akicchalābhī akasiralābhī’ti, sīlesvevassa paripūrakārī ajjhattaṃ cetosamathamanuyutto anirākatajjhāno vipassanāya samannāgato brūhetā suññāgārānaṃ.

‘‘Ākaṅkheyya ce, bhikkhave, bhikkhu ‘āsavānaṃ khayā anāsavaṃ cetovimuttiṃ paññāvimuttiṃ diṭṭheva dhamme sayaṃ abhiññā sacchikatvā upasampajja vihareyya’nti, sīlesvevassa paripūrakārī ajjhattaṃ cetosamathamanuyutto anirākatajjhāno vipassanāya samannāgato brūhetā suññāgārānaṃ.

Akan tetapi belakangan2 kemudian mulai dikelompokkan jadi samatha bhavana dan vipassana bhavana, which is yg malahan bahkan jadi makin jauh dipisah, satu katanya utk jhana dan satu lagi untuk pencerahan. Padahan kedua itu merupakan kualitas yang dibutuhkan utk jhana dan pencerahan.


dalam Kimsukopama sutta http://dhammacitta.org/dcpedia/SN_35.245:_Kimsukopama_Sutta, dijelaskan bahwa, ketenangan dan pandangan terang merupakan "kaki" yg menjalani Jalan Mulia Berunsur 8 (yg salah satu unsurnya adalah Samma samadhi, yah si Jhana itu)
« Last Edit: 21 February 2012, 06:22:56 AM by Sumedho »
There is no place like 127.0.0.1

Offline baikuntuksemua

  • Bukan Tamu
  • *
  • Posts: 3
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #160 on: 24 August 2012, 05:02:25 PM »
 _/\_
saya punya pengalaman sekali dalam bermeditasi tapi anehnya sampai sekarang saya coba berkali kali tidak dapat lagi pengalaman itu.dan saya minta petunjuk jika ada yang tahu apa yang saya alami itu,nih ceritanya,saya coba meditasi dengan diterangi lilin,detik demi detik saya coba pejamkan mata dan coba melihat cahaya lilin melalui pikiran,entah berapa lama saya meditasi tiba tiba pikiran saya seperti terbang dan saya coba memfokuskan kembali dengan membuka mata saya,tapi saya sangat terkejut apa yang saya lihat,sungguh asing tempat itu, semua penjuru tampa batas,saya melihat kedepan hanya kosong  ,tidak ada manusia atau benda sekalipun yang saya lihat hanya asap tipis jadi dasar pijakan ,tapi asap itu luas seperti  tak bertepi,jadi saya ketakutan dan coba memanggil orang tua saya dengan menjerit dan pada saat itu juga saya tersadar saya lari meninggalkan ruangan itu dengan lilin yang masih menyalah,nah jika ada yang tahu apa yang terjadi pada saya pada saat itu,mohon petunjuknya

Offline YONI

  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 108
  • Reputasi: 0
  • Semoga semua mahluk berbahagia
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #161 on: 27 February 2015, 03:58:13 PM »
Seperti apakah jhana itu? bagaimana menurut bro baruna?share donk bagi bagi pengalamannya disni ^:)^ _/\_

Offline baruna

  • Betet Klonengan Tukang Gossip
  • Sahabat
  • ***
  • Posts: 170
  • Reputasi: -8
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #162 on: 01 March 2015, 12:34:35 AM »
Seperti apakah jhana itu? bagaimana menurut bro baruna?share donk bagi bagi pengalamannya disni ^:)^ _/\_

sederhana saja. dekat dengan ketenangan.


« Last Edit: 01 March 2015, 12:39:21 AM by baruna »

Offline Candra Taruna

  • Teman
  • **
  • Posts: 56
  • Reputasi: -4
  • Gender: Male
  • Nice to be Important But More Important to be Nice
Re: Seperti apakah Jhana itu (Menurut Sutta) ?
« Reply #163 on: 11 September 2015, 11:44:17 PM »
Masih lanjut aja ini Post sampe sekarang..?  #:-S
Kebetulan saya lagi iseng, maka saya komentarin yacchhh ......

Sebenernya Intinya Jhana itu adalah Pemusatan, dari Jhana Pertama s/d keempat semuanya ada unsur Pemusatan, sedangkan unsur lainnya (Vittakha, Vicara, Piti, Sukkha) itu bervariasi dari Jhana pertama s/d keempat

Jadi Jhana itu harus ada Pemusatan, merupakan pewujudan dari Pemusatan

Kedalaman dan kondisi Jhana buat seseorang yang belum mengalami sendiri sangat sulit untuk dijelaskan, ini seperti juga akhibat Kamma, kedalaman jangkauan pikiran seorang SammaSamBuddha dan asal-usul Alam Semesta adalah Hal yang bila dipikirkan bisa Gila (Acinteyya Sutta - Anguttara Nikaya 4.77)

Inilah 4 hal yang para bhikkhu tidak seharusnya pikirkan, memikirkannya hanya akan membawa kepada kesedihan dan gila. Apakah ke 4 hal itu ?

(1) Isi pikiran seorang SammaSamBuddha, oh para bhikkhu,
memikirkan kualitas seorang Buddha adalah satu hal yang tidak seharusnya dipikirkan,
memikirkan ini hanya akan membuat sedih dan gila.

(2) Kondisi mental saat mencapai jhana, oh para bhikkhu,
memikirkan kualitas jhana adalah satu hal yang tidak seharusnya dipikirkan,
memikirkan ini hanya akan membuat sedih dan gila.

(3) Hasil akibat dari sebuah kamma, oh para bhikkhu,
adalah satu hal yang tidak seharusnya dipikirkan,
memikirkan ini hanya akan membuat sedih dan gila.

(4) Asal mula terjadinya alam semesta, oh para bhikkhu,
adalah satu hal yang tidak seharusnya dipikirkan,
memikirkan ini hanya akan membuat sedih dan gila.

Cuma disini saya usahakan bisa membantu memberikan sedikit gambaran dengan perumpamaan tentang bagaimana Jhana itu, anggaplah Ruang Pikiran anda itu pada awalnya adalah seperti sebuah Ruangan yang Kumuh penuh sampah² (ada Lampu, Kartu, Kaleng Bekas, barang rongsokan dlsb) dan anda ingin 'menyulapnya' menjadi Ruangan dengan Isi yang sama sekali baru, maka langkah yang pertama-kali anda lakukan adalah MENYAPU seluruh Sampah Tadi sehingga tidak berantakan dimana² mengumpulkannya pada sebuah Pengki lalu membuangnya sepengki demi sepengki (anggap sampahnya banyak banget), setelah sampah itu tersapu semua, maka anda Pel agar bener² bersih, kemudian anda letakan barang baru yang anda ingin letakan di dalam ruangan itu, Pada saat itu telah rampung dilakukan maka Ruangan Kumuh itu telah menjadi Ruangan yang sama-sekali Baru dan berbeda dengan Ruangan awal (yang kumuh), WALAU tidak terlepas kemungkinan si Ruangan bisa perlahan² menjadi kumuh lagi dengan berjalannya waktu jika tidak dibersihkan dan tingkat 'kebersihan' ini juga berbeda persepsinya bagi masing² orang, ada yang menganggap segini udah bersih, ada juga yang menganggap segini belum bersih dlsb

Ruang Kumuh penuh sampah² = Pikiran Awal yang belum terlatih

Sampah² = Semua Obyek Pikiran tidak berguna, Nivarana 5

Usaha mengumpulkan sampah pada suatu Pengki = berusaha mengembalikan pikiran yang lari, pelan² belajar memusatkan pikiran pada Obyek (perhatian yang terus-menerus, Usaha Benar 4)

Membuang sepengki demi sepengki (usaha melenyapkan Nivarana 5, Usaha Benar 4)

Usaha membersihkan Ruangan dari awal sampai akhirnya bersih = Usaha si Meditator yang terus-menerus, termasuk munculnya Nimitta 3

Isi yang sama-sekali Baru = Obyek Meditasi (semisal : Kasina 10)

Ruangan yang sama-sekali Baru dan berbeda dengan Ruangan awal = Kondisi Tercapainya Jhana (Pertama s/d Keempat)

Ruangan bisa perlahan² menjadi kumuh lagi = Jhana bisa jatuh atau lenyap karena kondisi tertentu

Tingkat 'kebersihan' ini juga berbeda persepsinya bagi masing² orang = Kemurnian suatu Jhana berbeda antara seseorang dengan orang lainnya (dan ini menentukan Kekuatan Bhatin/Abhinna dari si pencapainya)

Bukan hanya dikalangan para pencapai sebagai orang biasa, bahkan diantara mereka yang tinggi² atau tertinggipun masih ada perbedaannya (maksudnya disini Pacekkha Buddha dan SammaSamBuddha), sedemikian maka Kemurnian Jhana ini akan menentukan Kekuatan Bhatin dari si Pencapai, dalam Hal ini Buddha pernah mengatakan : "Bahkan diantara yang tertinggipun ada perbedaan", yang membuat perbedaan ini adalah PARAMI, jadi bahkan dalam tingkatan SammaSamBuddha, Mereka yang melakukan Parami selama 16 Asankheyya Kappa + 100.000 Kappa pasti telah memurnikan arus tersebut (karena lamanya waktu penyempurnaan Parami) dan mempunyai Kekuatan Bhatin yang lebih Dasyath (termasuk Cahaya Tubuh yang dipancarkan), ketimbang Para Buddha yang mencapai KeBuddhaan dengan Parami 4 Asankheyya Kappa + 100.000 Kappa, Tetapi Buddha Gotama (yang mencapai KeBuddhaan dengan Parami 4 Asankheyya Kappa + 100.000 Kappa) mempunyai KELEBIHAN yaitu Beliau Lebih di Kebijaksanaan (Boddhisatta Pannadhika), itu sebabnya Beliau sanggup muncul di usia manusia paling rendah untuk munculnya seorang Buddha, yaitu 100 Tahun (dimana Moral saat itu sudah sangat merosot), sedangkan Buddha yang muncul di Usia panjang (seperti Buddha Mettaya kelak) mengajarkan Dhamma adalah lebih mudah, karena saat itu Moral sangat tinggi (seluruh Manusianya tidak melanggar Pancasila), ini juga salah-satu sebab Buddha Gotama mengajarkan Tehnik tercepat mencapai Kesucian (walau kering dari Jhana) yaitu : Satipatthana 4 (Vipassana), dalam mengajarkan Tehnik ini, Buddha Gotama mempertimbangkan usia Manusia yang singkat, maka diberikan Tehnik tersingkat yang akan dapat mencapai Hasil paling lama adalah 7 Tahun saja (jika dilaksanakan secara rutin dan tekun/gigih)

Penting untuk diketahui :

Pikiran hanya bisa berisi 1 (satu) Obyek saja pada suatu saat, jadi, jika benar si Pikiran telah Memusat pada 1 (satu) Obyek saja dan tidak ada yang lainnya atau lari² ke Obyek lainnya maka Ruang Pikiran hanya akan diisi PENUH oleh si Obyek, ini dikatakan oleh Vissudhi Magga sebagai "Seperti Berada di Dalam itu (Obyek)"
Jadi tegasnya : Ruang Pikiran terisi Penuh oleh si Obyek, TIDAK ADA hal apapun lagi, jadi karena terisi penuh oleh si Obyek, maka di Pemeditator akan 'merasa seolah-olah' BERADA DI DALAM Obyek tersebut

Onepointedness = Pemusatan = Ekagatta
adalah bukan berarti anda melototin si Obyek atau berpikir tentang si Obyek, itu bukan Ekagatta, tetapi bila semua Ruangan Pikiran isinya hanya si Obyek (tidak ada sisa lagi barang sedikitpun) maka kondisi Pikiran seperti itu yang dibilang pemusatan

Untuk mendukung tercapainya Jhana

- Harus melakukan Sila/Vinaya yang sempurna (sebelumnya Devadatta sendiri taat Vinaya sehingga Beliau bisa mencapai Jhana keempat)

- Melakukan Satipatthana 4, kegunaannya : menahan Emosi Jasmani, menetralkan Perasaan yang berlebihan, untuk memahami Ruang Pikiran, membaca Fenomena Pikiran, memperkuat konsentrasi

- Meditasi Pencerapan Terhadap Sinar didalam (Perception of Inner Light), kegunaannya : Membuat Semangat, Pikiran yang jelas menangkap Obyek, menyingkirkan Thina-Middha

- Mempertahankan dengan seimbang antara : Konsentrasi, Ketenangan dan Semangat

- Melakukan Meditasi dengan gigih (sehari 8 jam minimum) secara rutin setiap hari

- Berada dalam Kondisi tempat yang TIDAK berisik (Hambatan Utama Jhana Pertama adalah SUARA)

- Tidak dikagetkan atau menjadi kaget (ada dalam salah-satu uraian Sang Bhagava), karena kaget ini akan membuat buyarnya konsentrasi dan munculnya kondisi bhatin yang buruk

Demikian saya menerangkan Hal ini secara singkat tentang Jhana
Semoga ini dapat menjawab pertanyaan dan menjadi jelas serta bermanfaat bagi anda semuanya  _/\_

 

anything