//honeypot demagogic

 Forum DhammaCitta. Forum Diskusi Buddhis Indonesia

Author Topic: Bersama-sama Menjaga "Menappo" - Situs Muara Jambi di Kompas 02 Agustus 2007  (Read 2452 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

Offline markosprawira

  • KalyanaMitta
  • *****
  • Posts: 6.449
  • Reputasi: 155
Humaniora
Kamis, 02 Agustus 2007

SItus Muara jambi (2-HABIS)
Bersama-sama Menjaga "Menappo"
Ester Lince Napitupulu dan Irma Tambunan



Sejak awal nama daerah ini memang Muara Jambi. Akan tetapi, dalam bahasa masyarakat Jambi—yang leluhur mereka sebagian berasal dari Palembang dan Minang—sehari-hari, vokal /o/ pada banyak kata yang berakhiran /a/ dalam bahasa Indonesia sangat dominan sehingga kata "muara" juga dilafalkan "muaro". Tak aneh bila dalam percakapan sehari-hari, terutama belakangan ini, untuk merujuk pada situs Muara Jambi pun mereka melafalkannya Muaro Jambi; meski sejak awal kegiatan penelitian di situs ini ’nama resmi’ (sebagai situs) yang sudah tercatat dalam literatur internasional adalah Muara Jambi.

Kompleks percandian ini terletak sekitar 40 meter dari Kota Jambi. Di dalamnya terdapat lebih dari 80 buah reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno. Oleh masyarakat setempat, sisa-sisa reruntuhan candi itu disebut menappo.

Menurut Agus Widiatmoko dari Bagian Pemeliharaan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi, sulit untuk bisa menggali cerita atau mitos dari masyarakat mengenai situs purbakala ini. "Tidak ada budaya yang nyambung ke situ. Sepertinya budaya masyarakat berubah total ketika situs itu runtuh," kata Agus.

Meskipun masyarakat sulit untuk menemukan kaitan kehidupan dengan keberadaan candi-candi yang dulu diyakini sebagai pusat ajaran agama Buddha pada masa Kerajaan Sriwijaya tersebut, kepedulian masyarakat akan keberadaan sisa-sisa candi yang ada di sana tumbuh baik. Kekayaan purbakala yang masih tersembunyi di balik perkebunan dan hutan milik rakyat, yang masih berupa gundukan tanah berisi struktur bata kuno alias menappo itu, dijaga dengan baik.

Di tanah warga

Banyak menappo yang sudah teridentifikasi sebagai reruntuhan candi itu ada di tanah milik masyarakat yang dipakai sebagai kebun sayur-mayur atau perkebunan duku dan durian. Meski aktivitas warga ada di lahan yang terdapat menappo, mereka berusaha untuk tak merusaknya.

Bahkan, ada juga reruntuhan candi yang ditemukan di kawasan perusahaan kayu, yang kini sudah tidak lagi berproduksi, seperti di Desa Kemingking Luar dan Kemingking Dalam. Untuk masuk ke dalam kawasan perusahaan itu tidak bisa sembarangan karena dijaga oleh orang kepercayaan perusahaan. Namun, beberapa lokasi di dalam perusahaan itu, yang diyakini bekas reruntuhan candi, sudah dipagar dan diamankan BP3.

"Jika menappo-nya besar, berarti candinya dulu besar," ujar Zubaidi, sambil menunjukkan reruntuhan bata kuno yang tersembul di antara semak-semak yang di atasnya berdiri tegak pohon durian.

"Seandainya menemukan koin emas, dibawa ke pegadaian atau toko emas, pihak pegadaian pun tidak mau beli. Mereka sudah tahu jika tidak boleh beli barang langka. Warga akhirnya lapor ke Balai. Dari situ, biasanya emas ditaksir, nanti yang menemukan diberi ganti-untung. Begitu istilahnya," ujar Ridwan yang berjualan makanan di kompleks percandian ini.

Kesadaran warga bahwa daerah tempat tinggal mereka merupakan kawasan cagar budaya tumbuh karena pemerintah setempat sering kali melibatkan masyarakat. Jika ada pekerjaan yang ada kaitan dengan penelitian, pemugaran, atau acara-acara lain, masyarakat dilibatkan secara aktif. Untuk juru pelihara candi, setidaknya ada sekitar 30 warga yang direkrut.

"Warga berharap kompleks percandian ini bisa terkenal seperti yang ada di Pulau Jawa. Kami menjaga candi supaya nanti warga bisa merasakan
manfaatnya. Sekarang memang belum terlalu terasa. Tapi, mudah-mudahan
pemerintah daerah sungguh-sungguh mengembangkannya sehingga makin
banyak pengunjung yang datang," ujar Ridwan.

Saat ditanya apakah warga tidak keberatan jika pengembangan kompleks
percandian ini nantinya meminta pengorbanan dari masyarakat, Ridwan
mengatakan, pada dasarnya warga bersedia melepas perkebunan yang
menjadi gantungan hidup mereka. "Selama ini juga ada ganti rugi untuk
warga. Asal cocok, pasti warga tidak keberatan," ujarnya.

Harapan akan ada pengembangan situs purbakala ini juga disampaikan Ida (40) dan Yani (45). Meskipun dua ibu rumah tangga itu mengaku tidak terlalu tahu mengenai rencana pengembangannya ke depan, mereka menyambut baik upaya pemerintah untuk terus menghidupkan kawasan ini sebagai daerah tujuan wisata.

"Saya berharap warung di rumah bisa laku. Nanti saya bisa jualan makanan lebih banyak lagi," kata Ida, yang rumahnya tidak jauh dari pelabuhan kecil yang dibangun untuk warga yang datang menggunakan kapal dari Sungai Batanghari.

Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin mengatakan, untuk pengembangan kompleks
percandian ini memerlukan dana tak sedikit. Karena itu, terkait soal
ganti rugi tanah milik warga yang diperkirakan terkena pengembangan
dilakukan secara bertahap.

"Ganti-rugi untuk warga pasti ada, tetapi tidak bisa sekaligus. Sangat bergantung pada prioritas wilayah yang dikembangkan," kata Zulkifli.

"Kami terbantu dengan informasi dari masyarakat mengenai temuan-temuan benda purbakala yang tidak disengaja ditemukan di kebun atau halaman rumah, misalnya. Sebab, wilayah situs purbakala ini kan sangat luas. BP3 kan sudah puluhan tahun meneliti situs purbakala di sini. Jadi, petugas dan masyarakat sudah saling percaya dan bekerja sama," kata Kristanto.

Dalam pengembangan kompleks percandian ini, pemerintah daerah diimbau
hendaknya tidak hanya memikirkan besarnya pendapatan daerah yang bisa
didapat. Yang justru perlu diutamakan adalah bagaimana masyarakat
sekitar bisa benar- benar diberdayakan.

"Masyarakat harus bisa memperoleh manfaat yang besar dari peninggalan masa lalu itu, sekaligus juga tetap menjaga pelestarian dan nilai sejarahnya," ujar Kristanto.

Langkah ke arah itu memang sudah dirintis oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Muaro Jambi, yakni dengan membentuk kelompok masyarakat sadar wisata di sekitar percandian. Dalam kaitan ini masyarakat akan diajak serta mendukung wisata candi, dengan pengelolaan kebun buah durian dan duku sebagai pelengkap kunjungan wisata....

 

anything